The Baby Maker Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa The Baby Maker Part 1 – BanyakCerita99

Kenalkan namaku Nasrul, orang-orang memanggilku Aseng karena aku mirip Cina. Aku sih biasa aja dipanggil begitu, karena memang dari kecil panggilanku itu. Padahal aku ini Ajo tulen alias orang Minang asli.

Bapak dan Ibuku asli dari kampung di Pariaman-Sumatera Barat sana. Itu karena kulitku putih yang kuwarisi dari ibuku yang juga berkulit putih bersih. Dari kecil aku tumbuh dan besar di kota Medan. Menikah dan punya anak tiga–yang ganteng dan cantik.

Pada saat cerita ini terjadi, aku bertempat tinggal di pinggiran kota Medan yang berbatasan dengan kabupaten tetangga, Mabar tepatnya nama daerah ini. (Yang orang Medan pasti tau Mabar dimana). Kupilih berdomisili disini karena dekat dengan tempatku bekerja saat itu, di pabrik yang ada di sekitar sini.

Kawasan Industri Medan hanya berjarak sepuluh menit berkendara motor dari tempatku tinggal. Sebagai seorang staff administrasi senior di pabrik ini, aku sudah membangun rumah sederhana untukku tinggal dengan istri dan anak-anakku.

Rumah kami berada di dalam gang di tepi jalan yang ramai. Sudah 15 tahun kami bermukim disini dari semenjak belum terlalu banyak orang membangun rumah sampai sekarang penuh sesak. Sesak oleh rumah tinggal baik milik sendiri maupun untuk disewakan.

Rumah kami walau tidak terlalu mewah, tetapi satu-satunya yang memiliki halaman luas. Bayangkan saja, halaman itu cukup untuk dibangun satu rumah lagi, kok. Banyak yang menyarankan untuk membangun rumah petak saja untuk disewakan atau kos-kosan.

Tapi jangan dululah, halaman rumahku yang luas untuk anak-anakku bermain saja, pikirku. Apalagi anakku masih kecil-kecil, dimana nanti mereka bermain dengan teman-temannya? Di jalanan gang? Berbahaya karena motor ramai berlalu-lalang di sini, terkadang mobil juga seliweran keluar masuk.

Cerita ini akan dimulai dari lahirnya anak keduaku beberapa tahun lalu. Anak perempuan yang cantik dan berkulit putih bersih dengan rambut hitam legam tebal seberat 3.5 kg bernama Salwa.

Anak pertamaku sudah berumur 4 tahun saat itu dan ia senang sekali menjadi abang Rio. Ada kebiasaan yang kulakukan pada semua anak-anakku, kugendong mereka keliling seputaran rumah saat pagi sebelum pergi bekerja dan sore saat pulang kerja.

Mulai berumur 4-5 bulan anak-anakku kubawa berkeliling menyapa tetangga dan mengenal lingkungannya. Anakku yang tampan dan cantik terkenal di gang yang lumayan panjang ini karena sedari bayi sudah wara-wiri depan-belakang mengukur panjang jalanan gang yang sudah dibeton pemerintah.

“Cantik sekali Salwa… Udah mandi… Jalan-jalan sama papa pagi-pagi…” sapa tetanggaku, seorang ibu yang sedang menyapu halaman rumahnya.

“Salwa cantik… Mau kemana pagi-pagi?” sapa tetangga lain yang sedang menyiapkan anaknya yang akan berangkat sekolah.

Salwa anak bayiku tertawa-tawa senang sepanjang perjalanan kala dijawil atau dielus pipinya oleh para penyapanya. Jadi sepanjang gang yang panjangnya kurang lebih 300 meter itu banyak sekali fans Salwa yang menyapanya tiap pagi atau sore. Kadang abangnya, Rio ikut bareng karena pengen dibelikan jajanan di warung.

“Salwa… gendong-lah? Biar nular…” pinta seorang ibu hamil muda anaknya yang keempat.

Anaknya laki semua, susun paku istilah orang Medan sini yang menandakan kalau semua umur anaknya hanya beda satu tahun aja atau berdekatan. Ia berharap kalau sering-sering menggendong Salwa anaknya akan lahir perempuan juga. Kalau cantik itu belum pasti. Itu tergantung dari bibitnya… Bener gak, bos?

Prilaku ini juga ditiru wanita-wanita lain yang belum dikarunia anak. Kadang istriku memanfaatkan keadaan ini dan menyerahkan Salwa untuk dimomong mereka saat ia sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan rumah tangga. Kalau dihitung kasar aja ada sekitar 5-6 pasangan menikah yang belum dikaruniai anak. Padahal rata-rata mereka sudah menikah 3 tahun lebih.

Contohnya wanita satu ini. Bernama Aida. Suaminya bernama Agus. Sama-sama berumur 26 tahun yang sudah menikah selama 4 tahun. Baru dua tahun ini mereka berdua mengontrak sebuah rumah di gang ini. Suaminya, Agus bekerja di Kawasan Industri yang sama denganku, hanya beda pabrik saja. Ia sekarang sedang menggendong bayiku Salwa dengan riangnya. Mungkin membayangkan senangnya punya bayi cantik dan sehat sendiri. Yang lahir dari rahimnya sendiri.

“Bang Aseng… Kalo bosan dengan Salwa… kasikan Aida aja, ya?” cetusnya yang kutangkap sebagai candaan biasa.

“Ah… Ada-ada aja kau, Da… Masak anak sendiri mau dikasikan orang… Buatlah sendiri…” kataku mencoba bermain dengan candaanya.

“Gak jadi-jadi, bang Aseng… Udah empat tahun kami kawen… Gak hamil-hamil awak…” (awak adalah kata pengganti untuk aku) jawabnya sambil terus mengayun-ayun pelan Salwa di gendongannya. Dikecupnya ubun-ubun Salwa berulang-ulang.

“Ah… Mana si Agus? Masuk shift malam dia? Gas terus-lah ini kalau dia udah pulang nanti…” kataku sambil ketawa-ketiwi bercanda terus.

“Entar-entar lagi pulang dia, bang… Mana sempat lagi dia, bang… Tros tidor dia itu nanti…” keluhnya tapi menciumi gemes pipi Salwa. “Capek kali katanya dia… Padahal tak beratnya kerjanya… Cuma nengok-nengok sebentar operator mesin… tidornya dia abis itu sampe Subuh…” lanjutnya.

Agus sebagai Supervisor mesin produksi. Ia pernah cerita kalau tak ada masalah, mesin-mesin di pabriknya cukup di-handle para operator saja sudah cukup. Jadi dia punya banyak waktu santai. Cukup santai sampe badannya juga melar.

“Eh… Ngomong-ngomong soal kerja… Awak permisi juga-lah, Da… Mau masuk kerja juga…” kataku setelah melirik jam tangan, memberikan gesture tubuh untuk meminta Salwa kembali.

Karena Salwa yang masih kecil, 5 bulan waktu itu, lehernya belum terlalu kuat untuk menopang kepalanya, Aida menyandarkan kepala Salwa di dadanya. Ia belum terlalu paham teknik menggendong bayi karena belum pernah punya kali, ya? Aku agak kesulitan untuk mengambil Salwa dari gendongan Aida tanpa menyentuh…

Tau dong kalau gendong bayi gimana? Salah satu tangan harus masuk di ketiak bayi dan satu tangan lainnya menahan bokongnya.

…Tanpa menyentuh dada Aida tentunya. Dadanya tidak terlalu besar. Paling hanya cup B. Tapi aku jamin kalau dia hamil dan melahirkan, ukurannya pasti melonjak drastis.

Salwa berhasil berpindah tangan kembali padaku dengan sedikit insiden kecil ujung jariku menowel sedikit dadanya, lebih tepatnya bra-nya. Mudah-mudahan gak kerasa.

“Da-dah, bu Aida…” kataku pamitan pada wanita itu dengan melambaikan tangan mungil Salwa.

“Da-dah Salwa… Nanti sore gendong lagi, ya?” jawabnya riang dengan muka berseri-seri sambil mengayun-ayunkan tangannya melambai pada anakku.

Untung dia gak ngerasa towelan kecil tadi jadi gak ada masalah, pikirku.

Saat aku melintasi depan rumah Aida, kulihat motor Agus sudah ada di teras kecil rumahnya. Berarti dia sudah pulang. Aida ada di depan sambil menyapu dengan sapu ijuk. Ia mengangguk dan tersenyum lebar padaku. Kubalas senyumannya.

Skip-skip

Pulang kerja dengan motor Supra X 125-ku kulihat istriku sedang berjalan-jalan dengan kedua anakku di gang ini. Rio sedang asik makan es lilin sedang Salwa digendong oleh Aida lagi. Istriku sedang ngobrol-ngobrol dengannya.

“… langsung jadi… padahal waktu di pelaminan kakak lagi halangan, loh…” bisa kutebak apa yang mereka bicarakan. Pastinya sedang membicarakan masa-masa kehamilan Rio, anak sulungku. “Ini orangnya…” kata istriku tertuju padaku yang sudah berada di dekatnya.

“Jadi kakak subur kali-lah ya? Langsung jadi gitu…” komentar Aida memandang istriku dan aku bergantian. Rio langsung naik ke motor bagian depan minta jalan-jalan sore.

“Mungkin juga… Senggol langsung jadi… Mungkin bapaknya juga yang subur kali, nih… Ini Salwa juga cepat… Buka spiral… bulan depannya langsung jadi juga…” kata istriku dengan nada yang sedikit bangga kalau ia tidak ada masalah dengan mendapatkan keturunan. Mudah-mudahan memberi motivasi agar Aida terus berusaha dengan suaminya.

Salwa sudah berpindah tangan kembali pada istriku dan ia sudah nangkring di jok belakang motor. “Jalan-jalan!” teriak Rio yang minta keliling-keliling sore ini. Kami berpamitan pada Aida.

“Kalo dipikir-pikir… banyak juga ya yang belom punya anak di gang ini ya, pa…” kata istriku ketika kami melintas di gang sebelum keluar dan mencapai jalan aspal di depan sana.

“Iya… Itu Aida udah empat tahun katanya…” jawabku berhenti di mulut gang dengan lampu tangan motor berkedip ke kanan. Menunggu kesempatan untuk masuk arus kendaraan lainnya.

“Fitri juga tuh… Ini kan dia dengan laki keduanya… Dengan yang pertama dulu sempat keguguran sekali waktu di Jawa dulu… Abis itu sampe sekarang… sampe ganti laki juga belum hamil-hamil… Lima tahun…” cerita istriku tentang tetangga kami yang menyewa rumah tak jauh dari rumah kami. Gosip diantara ibu-ibu kadang lebih akurat.

“Kalo Iva?” tanyaku tentang wanita tinggal tepat dipertengahan gang. Ia membuka warung. Anaknya masih berumur tiga tahun, tapi anak pungut dari saudaranya. Ia dan suaminya sudah menikah lebih lama dari kami berdua.

“Udah sembilan tahun ato sepuluh gitu…” jawab istriku tak ingat pasti info itu.

“Trus si Lita juga… Enam tahun… Laki-nya kebanyakan meranto (merantau, bekerja di kota lain)… Gimana mo buat anak?” cerocosnya di jok belakang.

Salwa sudah tidur terkena angin sepoi-sepoi sore ini dan Rio masih duduk dengan anteng di depanku.

“Kalo Asri sama Wiwit ampir sama, ya? Mungut anak dulu baru dapat anak sendiri…” begitulah obrolan kami sepanjang jalan-jalan sore ini. Pulang-pulang bawa gorengan dan seplastik penuh jajanan untuk Rio.

Beberapa hari kemudian.

Masih dengan rutinitas yang sama seperti hari-hari berikutnya, pagi dan sore aku tetap membawa Salwa jalan-jalan keliling gang ini saja. Bahkan sampai ke ujung belakang gang yang masih ada sawah-sawah di pinggiran jalan tol. Ia melonjak-lonjak girang melihat kawanan kambing dan bebek. Disini masih sedikit rumah karena lebih banyak sawah sehingga lumayan sepi.

“Eh, Salwa… Maennya sampe kemari ya?” sapa seseorang yang melintas dari belakang mengendarai motor matic merah.

“Iyaa bu Aida… Salwa maennya jauh sampe kemari…” jawabku menyapanya yang niat banget pake berhenti demi menyapa Salwa.

“Liat bebek… Liat embek…”

Awalnya ia ragu-ragu akan terus berkendara atau terus bercengkrama dengan Salwa, malah turun dari motornya setelah mematikan mesinnya. Aku kurang begitu memperhatikan apakah ia lirik kanan-kiri melihat situasi dahulu sebelumnya dan ia sudah minta menggendong Salwa aja.

Dibawanya bayiku mendekati kawanan bebek yang sedang berada di genangan air sawah yang sudah panen.

“Aku pengen kali-lah, bang…” katanya meningkahi suara kwek-kwek bebek yang bising abis itu.

Aku kurang paham apa katanya sehingga aku mendekat. Atau aku salah dengar mungkin. Ia sedang menciumi ubun-ubun Salwa, membaui aroma minyak rambut bayi yang wangi.

Aku masih tersenyum wajar saat aku sudah di dekatnya dan ia mengulangi kalimat tadi dengan tambahan, “Aku pengen kali-lah, bang… punya anak kayak Salwa…”

Jelas aku kaget. Bukan sekali ini kudengar ia mengatakan itu, tetapi pandangannya kali ini berbeda. Ada tatapan mengharap disana.

“Banyak-banyak berdoa aja-lah, Da… Namanya juga rezeki, kan dari Tuhan semua…” jawabku berusaha bijak. Kebetulan aja Tuhan ngasih kemudahan pada kami berdua tetapi tidak pada mereka.

“Yang persis kayak Salwa ini aja, bang… Harus kayak Salwa…” katanya dengan nada memelas.

“Mana mungkin bisa sama, Da… Kalo gak mirip kau… yaa… nanti mirip lakikmu-lah…” kataku agak lucu.

Anakku memang sangat mirip-mirip antara Rio dan Salwa. Mungkin juga nanti adik-adiknya yang lain. Warna kulitnya, perawakannya walaupun masih bisa dilihat berbeda karena laki-laki dan perempuan.

Dari kedua anakku jelas keduanya menurun dariku karena aku berkulit putih sedangkan istriku lebih sawo matang cenderung gelap. Kalau mau mirip banget dengan Salwa yaa jelas tidak mungkin. Mungkin putih-putihnya bisa kali, ya secara Aida itu putih juga tetapi suaminya berkulit gelap, lebih gelap dari istriku malah.

Aida menggendong Salwa mendekat. Kukira ia akan mengoperkan Salwa padaku, malah mengatakan ini, “Dari bang Aseng aja… Pasti anaknya nanti mirip Salwa, kan?” ujarnya mengejutkan.

Kaget tentunya yang kurasakan. Kalau kuingat seperti ada denging di telingaku saat kudengar kalimat itu.

“Dari bang Aseng aja…” Aida mengangguk beberapa kali untuk memastikan kalau ia benar-benar bermaksud mengatakan itu.

Matanya berbinar-binar penuh pengharapan.

“Hamili, Aida bang…”

***

Pusing kepalaku memikirkan tawaran menggiurkan dari Aida kala itu. Sangat menggiurkan sekali malah. Aida itu bodinya memang aduhai betul. Tingginya sekitar sebahuku dengan rambut pendek seleher memamerkan keindahan kulitnya yang putih mulus.

Tubuhnya tidak terlalu montok dan dadanya terlihat sangat sekal dengan bokong yang juga pas dipandangan apalagi digenggaman.

Tawaran untuk menghamilinya jelas membuat semua imej yang selama ini mengisi pikiranku berubah menjadi bayangan dirinya yang sedang telanjang bulat sedang mendesah-desah menerima genjotanku. Wah… Indah sekali bayangannya. Air liurku beberapa kali kuseka dengan punggung tanganku.

Aku bukannya orang yang suci-suci amat. Sudah lama kutinggalkan dunia semacam ini. Kalau bisa dibilang setelah berkeluarga dan punya anak, ini adalah masa-masa tobatku. Tobat dari segala macam kubangan seperti ini. Masa aku harus nyebur lagi karena satu tawaran dari perempuan bernama Aida. Aida yang bahenol. Putih dan menggairahkan…

Kan? Bayangan perempuan itu lagi yang nangkring di otakku. Bayangan ia yang sedang berbaring dengan pasrah, kaki terbuka lebar mempersilahkanku masuk dan menghamilinya.

Apa semudah itu menghamilinya? Dengan istriku memang sangat mudah. Terlalu mudah malah. Bayangin aja, saat di pelaminan dulu ia dalam keadaan menstruasi sehingga aku uring-uringan di malam pertama gak bisa nyoblos. Sekalinya sudah bisa eh, dianya langsung tekdung anak pertamaku. Apa mungkin bisa semudah itu dengan Aida nantinya, kalau aku setuju dan mengambil tawarannya?

Kenapa lakinya tidak pernah berhasil menghamilinya? Mereka berdua sudah pernah konsultasi ke dokter dan dua-duanya tidak ada masalah sebenarnya. Lalu mulai ada masalah ketika Agus mendapat promosi di pekerjaannya dan mulai mengalami kenaikan berat badan juga karena kenaikan taraf ekonomi. Agus jadi doyan makan. Hubungan intim mereka mungkin jadi sedikit terganggu.

Okelah Aida tidak hamil-hamil juga olehku, tapi kan itungannya kami berdua sudah selingkuh ya? Gimana kalau dia baper? Gimana kalau dia macam-macam dan ember? Bodo amat dengan keluarganya. Lah gimana keluargaku? Aku sudah cukup nyaman dengan keadaanku sekarang ini. Keluarga yang bahagia dan aman serta tentram.

Masa aku harus mempertaruhkannya karena satu perempuan itu saja? Lagipula aku tidak merasa kurang dengan istriku, ia bisa melayaniku dengan baik dalam segala bidang. Dari mengurus rumah, anak sampai ranjang semuanya baik, tak ada yang kurang. Lalu kenapa aku merusaknya dengan perempuan lain?

“Bang Aseng… Jadi, bang?” tanya Aida lagi ketika aku berjumpa dengannya sore itu.

Padahal aku sudah menghindar dari melewati rumahnya. Tapi perempuan ini gigih amat sampe bela-belain nyari aku dan Salwa yang sedang berjalan-jalan di gang sebelah sore ini. Di depan sebuah tanah kosong luas yang hanya ditanami pohon-pohon pisang kami bertemu. Aku tak mungkin menghindar.

“Eh… Aida… Gimana ya?” jawabku bingung.

Padahal aku sudah memutuskan untuk menolaknya. Tapi begitu ketemu orangnya, casing-nya yang bagus begini malah menggoyahkan iminku. Apalagi imanku memang cukup lemah. Wajah cantik menawannya malah membuat si Aseng junior-ku cenut-cenut pengen test drive. Tanpa bisa kutolak Salwa sudah berpindah tangan kepadanya.

“Mau-lah, bang Aseng…” pintanya kembali dengan muka memelas. Duh aku jadi membayangkan wajahnya gimana kalau sedang digenjot keenakan?

“Aku gak sampe ati, Da…” jawabku coba-coba. “Aku kenal sama lakikmu… Itu kan namanya udah selingkuh… Gak bisa-lah aku, Da…” tolakku sehalus mungkin.

“Tolonglah, bang… Aku udah pengen kali punya anak loh, bang…” rengeknya. Tubuhnya sampai menunduk-nunduk dan kemudian menciumi rambut Salwa.

“Tapi gak kek gini caranya, Aida… Apa nanti kata orang kalau ketauan? Rusak kita semua…” tolakku terus.

“Si Agus udah gak akan mungkin bisa, bang Aseng… Kami udah nanya ke orang tua (orang pintar, dukun)… Katanya dia udah diobatin orang yang gak senang dia jadi superpaisor… Dibuat orang itu gak bisa punya anak dia, bang…” jelas Aida tentang permasalahannya.

“Hah? Didukunin orang lakikmu?” kagetku.

“Iya, bang…” jawabnya. Ada sedikit titik air mata di sudut matanya.

“Kesitu dulu kita…” ajakku ke tengah lahan kosong kebun pisang itu.

Di tengahnya ada gubuk kecil yang kerap dipakai bermain judi di malam hari. Aida duduk memangku Salwa dan aku duduk tak jauh darinya. Kalau di sini aku bisa ngobrol dengan aman dengannya tak terganggu orang yang lalu lalang dan memperhatikan interaksi kami.

“Cemana ceritanya? Kok bisa kelen ke dukun nanya gitu? Bukannya ke dokter?” tanyaku tentu kepo.

“Udah capek kami ke dokter, bang… Yang sekali konsultasi dua ratus ribu sampek lima ratus ribu pun pernah…” jawabnya.

“Kami coba-coba-lah ke orang tua… Taunya betul, bang… Si Agus dibuat orang biar gak bisa punya anak… Didoainlah kami sama orang tua itu… Tapi gak sembuh juga… Kami cari orang tua lain… kek gitu juga, bang…” jelasnya panjang lebar.

Agus didukunin orang? Memang aura pria itu tidak sehat. Seperti ada sesuatu yang terus mengikutinya. Aku sudah lama menyadarinya sekitar 6-7 bulan ini kala kami bertemu di saat gotong-royong lingkungan. Tapi aku tidak menyangka kalau itu adalah guna-guna atau sejenisnya. Biasanya kalau sudah begini, bisa menjalar kemana-mana.

“Waktu ke orang tua itu… apa katanya?” tanyaku untuk memastikan.

“Biasalah, bang… Udah sembuh katanya… Udah dibuang katanya… Buktinya gak berhasil juga…” jelasnya lebih rileks sekarang. Ia mengelus-elus lengan Salwa.

“Jadi sebetulnya kalian aslinya gak ada masalah kan ya?” tanyaku lagi berharap dia tau apa maksud pertanyaanku yang satu ini.

“Sekarang iya… Sekarang jadi loyo Agus, bang… Sebentar aja dah keluar… Mana dikit… Encer lagi…” katanya tanpa malu.

Ini aib suaminya. Masa diumbar ke lelaki lain. Setelah itu ia baru sadar dan menunduk dengan menutup mulutnya dengan tangan. Ini malah menjelek-jelekkan lakinya sendiri.

“Yaah… Begitulah…” kataku dan melirik pada dadanya yang disandari kepala Salwa.

Kalau kulihat-lihat, sebenarnya mudah saja menyingkirkan guna-guna yang melekat pada mereka berdua ini. Kenapa kukatakan pada mereka berdua? Karena dukun itu menyerang dengan guna-guna ini sepaket dan berdasarkan keadaan saja. Sepaket artinya pada suami dan juga istrinya. Itu berarti ada pada Agus dan Aida.

Sesuatu yang mengikuti Agus juga ada di diri Aida walau lemah. Mengenai keadaan, ya guna-guna ini hanya bekerja saat mereka sedang bersenggama saja. Jadi sesering apapun mereka melakukan seks dalam pernikahan mereka, guna-guna yang menggunakan kekuatan jahat ini menghalangi mereka untuk menghasilkan keturunan.

Mungkin ini yang kurang dipahami oleh dukun yang berusaha menyembuhkan mereka. Pikiran picik mereka kurang menyadari kalau lawan mereka berpikiran lebih panjang dan penuh perhitungan.

Alhasil guna-guna ini sulit disembuhkan dengan tuntas. Dipikirnya guna-guna itu sudah dibuang dan tak tau kalau bisa balik lagi begitu mereka berdua melakukan hubungan suami-istri. Kasarnya; jin, media guna-guna ini memakan semua sperma milik Agus!

“Jadi… Gimana, bang? Aku udah gak tau lagi harus bagaimana? Aku gak mau anak dari laki-laki laen-loh… Cuma dari abang Aseng aja…” katanya lagi mengulang tawaran menggiurkannya itu.

“Apa lakik-mu tau?” tanyaku paok-paok bodoh. Bego malah.

“Ya enggak-lah, bang! Cari mati namanya itu…” jawabnya manyun sampai bibirnya maju. Pengen rasanya menggigit bibirnya itu.

“Ish…” pekiknya kecil menghindar karena aku hampir mencubit bibirnya itu karena gemes. Mencubit dengan lima jari. Mencomot mungkin kali tepatnya ya?

“Abang getek (genit)… Maen cubit-cubit…” rajuknya dan memeluk erat Salwa.

“Yah… dicubit dikit aja gak boleh… Gimana mau masuk?” kataku. Ups! Mampus muncungku. Udah betulan getek pulak.

“Betul, bang? Kalok betul kukasih-pun semua, bang…” berseri-seri mukanya mendengar kalimatku sebelumnya. Ia memegangi dada kirinya. Sedikit meremas.

“Gak, Da… Maen-maennya aku…” tolakku kaget.

Kenapa ia menanggapinya begitu. Udah kepengen betul-lah betina satu ini.

“Betol loh aku, bang… Gak maen-maen aku, bang… Tengok-lah ini…” tanpa ragu dinaikkannya sebelah kaos yang dipakainya dan menunjukkan sebelah dadanya yang masih terbungkus bra warna biru langit.

Glek!

Bulat nian itu sebelah dada! Putih, padat dan kelihatannya empuk sekali. Tidak-tidak! Cepat-cepat aku membuang pandanganku beralih dari sebelah dada Aida ke rumpun pisang kepok yang pohonnya tinggi-tinggi dan berdaun lebar.

Indah sekali tetapi.

“Tengoklah ini, bang…” lirih bisik Aida lagi. Aarrhh… Puting itu! Puting indah berwarna coklat muda dan mencuat keras.

Walau hanya sekilas pandang, tetapi ternyata Aida berani mengeluarkan sebelah payudaranya dari cup branya. Waaah… Bahaya nih!

“Salwa pun mau, bang…” tambahnya lagi.

Dengan sangat kurang ajarnya, Aida menjejalkan payudaranya pada mulut Salwa. Itu anak bayi yang mangap-mangap aja gak tau papanya lagi panas dingin dikasih tontonan begini.

Maen sedot aja Salwa padahal pasti gak akan ada susu yang keluar dari sana.

“Geli, bang… Lidah Salwa kasar… Lidah papanya pasti lebih enak, nih…” goda Aida terus.

Mati aku! Aseng junior udah menggeliat dari tadi dan selangkanganku terasa hangat.

“Da… Aida! Jangan gitulah… Gak tahan aku, Da…” kataku dengan suara serak dan menggeleng-geleng tak tahan beneran ini.

“Bang Aseng… Liat ini, bang… Enak, bang…” desahnya sambil meremas payudaranya yang sedang diunyel-unyel Salwa yang berharap mendapat ASI dari sana.

Kurang, Aida juga mengeluarkan sebelah payudaranya, kaosnya sudah bergulung dibawah lehernya. Sepasang payudaranya sudah menjadi tontonan segar sore yang terasa sangat gerah bagiku dan Aseng junior. Tanganku sudah gatal ingin menjamah dan meremas-remas dua buah gunung indah itu.

Nyamuk-nyamuk di kebun pisang bak menjadi malaikat penolong bagiku. Karena gigitannya sukses membuat Salwa menangis karena tangan dan kakinya bentol merah digigit nyamuk.

“Duh Salwa… Cayank… Gigit nyamuk, ya?” sadar Aida melihat tangisan Salwa karena gigitan nyamuk membuat tangan dan kaki mungilnya gatal.

Masih dengan nafas memburu, kusambar Salwa dari dekapan Aida dan beranjak menjauh. Pulang.

“Bang Aseng… tadi kenak, loh…” kata Aida mengingatkanku kalau saat aku mengambil Salwa darinya, kedua tanganku sempat, tanpa sengaja menyenggol kedua benda indah kenyal yang tumbuh menggantung indah di dadanya itu.

Sebelum aku sempat balik kanan, ia meremas kedua dadanya dan aku kabur dari kebun pisang laknat itu. Setan-setan kurang ajar di sana jejingkrakan girang melihat kejadian barusan.

Sampe rumah aku kena semprot omelan istriku karena tangan dan kaki Salwa bentol-bentol digigit nyamuk kebanyakan maen di kebun. Aish! Kalaulah istriku tau sama siapa aku di kebun tadi?

***

Nyot! Nyot!

Dua benda kenyal itu sukses membuat jantungku ser-seran. Teror Aida terus berlanjut. Ia memanfaatkan kebiasaanya dalam meminta Salwa untuk kugendong.

Orang-orang satu gang sini bahkan sepertinya sudah maklum sekali kebiasaannya itu dan menganggapnya biasa karena juga ia tidak sendiri di kerumunan kecil ibu-ibu yang kumpul minum jamu dari pedagang jamu keliling ketika aku dengan agenda rutinku membawa Salwa keliling gang.

Kembali lagi ke ‘Nyot! Nyot!’ tadi.

Saat mengoper Salwa ke Aida, ia bahkan dengan sengaja menyentuhkan kedua gundukan payudaranya pada lenganku. Kejadian itu terjadi begitu cepat karena kondisinya cukup rapat agar aman saat proses pemindah-tanganan itu berlangsung. Betina satu itu tersenyum lebar dan aku asli salah tingkah.

Salah tingkah merasakan kenyal nan empyuk itu tertekan lenganku walau sekejap saja. Seakan memberi sinyal ‘Ini loh yang akan abang dapatkan kalau menerima tawaranku, bahkan lebih hebat lagi berkali-kali lipat’.

Aku sudah melihat isi dalam bra yang ia kenakan, tau betapa bulat sepasang gunung itu, tau warna puting susunya bahkan tau dimana posisi tai lalat yang ada di bawah payudara kanannya yang berjumlah dua biji berdekatan. Detail aku hapal semua!

“Makanya, Da… Buat anak cepat… Taunya gendong Salwa terus, huh…” ledek salah satu ibu yang lumayan rumpi di gang ini.

“Maunya loh, kak… Tau belom dikasih-kasih nih…” jawabnya melirikku sebentar. Sindiran halus. Aslinya belom dikasih anak samaa Tuhan, tetapi sebenarnya belom dikasih enak samaku.

“Iya cuma goyang-goyang aja masak ga bisa, sih?” sambar ibu lain yang cukup vulgar. Kalau sesama ibu-ibu semua, mungkin omongan mereka lebih parah dari ini.

Mereka pada tertawa mendengar guyonan ini. Termasuk nenek penjual jamu ini.

“Ih… Udah jungkir-balik aku, buk… Gak dikasih juga… Padahal dah pengen kali aku punya anak kek si Salwa ini…” jawabnya lagi sambil tubuhnya bergoyang-goyang membuai Salwa membelakangiku. Yang kulirik malah goyangannya. Mampus!

“Nih, nduk jamu-mu… Wes cepet mbayek…” kata sang nenek penjual jamu bersepeda mengangsurkan sebuah gelas berisi cairan entah jamu apa.

Aida buru-buru mengembalikan Salwa padaku. Ia agak menunduk sedikit dan hasilnya aku dapat menyaksikan sedikit belahan dadanya dari kerah rendah berkancing terbuka baju daster bahan batik yang dikenakannya. Yang sudah kulihat jelas kemaren. Me-refresh memoriku akan keindahan kedua gunungan itu.

Dan satu finishing touch. Ahh… Tangannya yang tiba-tiba dengan nakal mengelus Aseng junior-ku yang terstimulasi pemandangan barusan. Semuanya berlangsung dengan cepat.

Seolah itu semua terjadi dengan alami dan ia tidak menunjukkan perubahan air muka dan ekspresi sedikitpun, ia menerima gelas jamu itu lalu meminumnya. Lanjut obrolan para emak-emak lagi. Aku cepat-cepat melipir menjauh untuk menenangkan si Aseng junior yang berontak.

***

“Pah… Titip Salwa bentar ya… Mama mau beli telor di grosir depan…” kata istriku sudah memegang kunci kontak motor.

Anak sulungku senangnya cuma makan nasi pake telor. Bisa diceplok atau dadar, pokoknya telor.

“Ya… Ti-ati…” jawabku singkat.

Rio langsung nangkring di jok depan, ikut mamanya belanja telor. Pastinya minta jajanan lagi. Salwa hanya bengong ngeliatin mamanya nyetarter motor dan dadah-dadah padanya.

Salwa dalam posisi duduk di baby walker beroda dan aku mengawasinya sambil mainan game HP di teras rumah yang berhadapan dengan halaman luas kami. Selayaknya di pinggiran kota begini, rumah jarang berpagar seperti yang kuterapkan pada rumah tinggalku ini.

Lagi asik-asik maen HP terdengar suara perempuan itu lagi dan begitu kutoleh, ia sudah berjongkok di depan Salwa. Entah dari mana ia datangnya.

“Salwaaa… Ketemu lagi…” katanya tetap dengan nada cerianya. Ia membuat wajah-wajah lucu untuk sekedar membuat Salwa memperhatikannya.

Tapi bukan wajah lucunya yang membuatku melotot menatapnya, melainkan posisi jongkoknya itu loh. Ampun, mak!

Sekali-kali ia melirik padaku dan mengangkat alis kirinya memberi kode. Dari posisi jongkoknya aku bisa melihat semua isi dalam bagian rok daster itu. Paha putih mulusnya yang padat mengangkang hingga aku bisa melihat permukaan celana dalam berwarna krem-nya yang tebal tembem abis.

Bahannya cukup tipis hingga sinar matahari sore cukup menerangi pemandangan indah yang spektakuler. Ingin kubernyanyi…”Disana… tempat lahir beta…” dengan suara nge-bass dan nyeruduk nyungsep di situ kalau gak ingat-ingat.

Sambil terus bercengkrama dengan Salwa, Aida beberapa kali dengan sengaja menggaruk pahanya hingga ujung rok dasternya semakin bergulung naik. Makin mendidih kepalaku melihat atraksi itu. Aku makin gak konsen mengendalikan game racing di HP-ku ini. Mataku berpindah-pindah chanel dari layar HP ke CD Aida. Halah!

“Bang Aseng? Pin BBM-nya berapa?” tanya Aida mengerti kegelisahanku. (Kejadian ini sudah lama, beberapa tahun yang lalu ya. Jadi masih pada maenan BBM) Ia merogoh ke dalam dadanya dan memegang sebuah HP. Tiba-tiba aku berharap aku bertukar tubuh dengan HP dengan banyak tombol itu.

“Aa…” aku terbengong untuk beberapa saat. Lama aku mencerna maksudnya karena masih fokus pada segitiga; sempak, belahan dada dan HP!

“Pin-nya, bang? Biar gampang kita komunikasinya… Liatin apa sih?” ulang Aida masih terus memamerkan aset yang ditawarkannya dari bukaan kerah daster.

Ia tersenyum simpul pada hasil jeratannya. Kenapa si Agus kimak itu gak bisa ngebuntingin betina satu ini sampek aku yang jadi kena getahnya. Kimak-kimak!

Kusebutkan pin BBM-ku dan langsung dapat ping darinya. Kusimpan kontak Aida dan kuberi nama ‘Aida tetangga’. Selesai urusan dengan HP dan pemandangan itu kembali tersaji dengan kurang ajarnya di depan mataku. Ia apit-buka kakinya sambil terus bermain dengan Salwa. BAJINGAAAN!

Terjadi kerutan di bahan katun lembut CD itu saat kakinya mengatup yang merupakan belahan isi sempak itu dan mengetat kembali kala ia membuka kakinya lebar. Kalau HP jaman itu sudah canggih teknologi kameranya seperti sekarang pasti sudah ku-zoom perbesar maksimal, andzink!

Aida tersenyum-senyum kembali penuh kemenangan atas berhasilnya ia menggodaku dengan aset-asetnya. Ia sama sekali tak melihatku saat mengerjaiku. Seolah ia hanya fokus bermain dengan Salwa dan tak sengaja melakukan ini semua. Diciumnya berulang-ulang pipi dan bibir Salwa. Dan siksaan berikutnya datang menghempas berikutnya.

Tangan kirinya yang berada di sisi luar dari gang yang ada di kanannya menelusup masuk. Masuk ke dalam CD-nya dan melakukan garukan erotis. BUJANK! PUKIMAK!

Tonjolan jari-jemarinya nampak bergerak-gerak perlahan menggaruk belahan isi surga dunia itu. Dari posisinya bergantian jari telunjuk dan jari tengahnya bergerak ritmis melakukan garukan. Aida tampak menggigit bibir bawahnya sambil terus bercanda dengan Salwa.

Aku ternganga tentunya. Pemandangan ini terlalu erotis untuk mataku yang tiba-tiba kering. Gawat! Jangan sampe mata minusku kambuh lagi gara-gara ini. Dulu sewaktu SMP aku sempat berkaca mata minus dan sembuh ketika SMA.

“Ahhss…” desahnya lalu mengeluarkan jarinya dari CD.

Ujung kedua jarinya melata perlahan seumpama slow motion dari paha, perut, dada, leher dan berakhir di depan hidungnya. Dihirupnya aroma bekas garukannya tadi.

“Uhmm…” dengan penuh perasaan, lalu dimasukkan kedalam mulut. Dicecap dengan lidah. Seksi sekali. Semuanya dalam keadaan mata terpejam. Lalu ia membuka matanya yang berbinar-binar bahagia.

Ingin rasanya aku melompat dan menerkamnya. Melakukan apa yang ada di kepalaku saat itu juga. Hanya aktifitas di jalanan gang yang membuatku tetap waras dan urung melakukannya. Mataku belum segelap itu.

Aida lalu mengangkat Salwa dari duduknya di baby walker. Kedua tangannya masuk di kedua ketiak Salwa dan keempat pasang jarinya menahan kepala bagian belakang bayiku agar tidak terdongak ke belakang. Ah… Aida makin pintar menggendong bayi sekarang. Kayaknya sudah cukup pantas untuk memiliki bayi sendi…ri.

Apa? Kuenyahkan fikiran itu. Setidaknya kucoba.

Tanpa dinyana, ternyata perempuan itu sudah ada di depanku. Diserahkannya Salwa padaku. Ada yang basah-basah.

“Salwa ngompol, tuh… Gantiin celananya… Hihihi…” gelak Aida lucu.

Pantesan ia menggendong Salwa begitu, tidak menempel ke tubuhnya seperti biasa. Rupanya bayiku pipis.

“Humph…” aroma ini? Dua jari kiri Aida menempel di bawah hidungku.

Sontak aroma-aroma sedap semerbak menyeruak masuk ke rongga hidungku dan langsung disambar oleh kelenjar pembau yang ada di belakang mataku. Hinggap dan diproses oleh otakku sebagai bau vagina segar!

“Hihihiii… Enak, bang Aseng… Gatel tadi… Pengen digaruk… Bang Aseng gak pengen ngegaruk?” godaan setan ini semakin luar biasa binal.

Ia mengemut dua jarinya itu dan membuat gestur binal-binal kucing gimana gitu. Aku geleng-geleng kepala.

Jakunku naik-turun berulang kali karena aku meneguk ludah berkali-kali karena aku kehausan sekarang. Haus oleh yang enak-enak sekarang. Mama Salwa pulang akan langsung digas pol ini nanti sebagai pelampiasan. Aku langsung permisi masuk ke dalam untuk mengganti celana Salwa yang basah.

Aida melirik-lirik ke bawah pada Aseng juniorku yang sudah membuat sebuah piramid horizontal di celanaku.

Sore-sore itu, istriku terheran-heran karena gak biasanya aku minta jatah. Biasanya juga malam atau pagi hari sebelum Subuh. Karena kedua anak kami masih terjaga, harus main quickie aja. Gaya debog pisang istilah istriku.

Istriku tidur menyamping sambil menyusui Salwa, hanya menaikkan rok dasternya, lepas celana dalam, buat basah sebentar dan coblos. Di ruang tamu depan terdengar acara TV yang sedang ditonton Rio yang duduk anteng dengan jajanannya sementara kami di dalam kamar sedang ngos-ngosan.

“Papa kenapa? Tumben sore-sore minta mensek (Istilah kami kalau bersenggama. Plesetan dari main seks) Ngebayangin siapa?” tanyanya belum bersih-bersih.

Istriku hanya menurunkan kembali rok dasternya menutupi kakinya. Sebuah handuk kecil kami gunakan untuk sekedar mengelap sisa pergumulan kami. Ia sudah memakai kontrasepsi spiral tak lama setelah nifasnya selesai.

“Yaa ngebayangin kamu-lah, ma… Siapa pulak yang papa bayangin?” ngelesku gak berani menatap wajahnya. Aku memperhatikan Salwa yang masih menyusu pada mamanya. Nyot-nyot dikenyot-Nyot!

“Napa? Mau nyusu juga? Mau jadi saudara sepersusuan Salwa?” guyon istriku menyadari aku memperhatikan dadanya yang sedang dikenyoti Salwa.

Aku malah teringat kala Salwa mencoba menyusu pada payudara Aida yang tak ber-ASI. Mengingat itu Aseng junior menggeliat bangun lagi. Hal itu disadari istriku. Ia sudah paham tabiatku. Aku meremas-remas pelan payudara yang tidak disedot Salwa. Padat dan penuh dengan ASI. Makanan bergizi bagi bayiku.

“Udah, pa… Masuk aja lagi… Minggu depan mama mulai halangan lagi, loh… Puas-puasin aja sekarang…” kata istriku menarik kembali rok dasternya ke atas hingga menampilkan kembali bagian bawah tubuhnya yang masih polos.

Masih ada bekas permainanku sebelumnya disana. Pastinya akan melancarkan jalan masukku. Aku posisikan diriku kembali di depan istriku yang masih berbaring menyamping menyusui Salwa. Bayi kami sepertinya tak keberatan tempat tidur yang kami bagi bersama ini berguncang-guncang karena ulahku.

Kupuas-puaskan menikmati istriku sore ini. Lahan yang halal dan sah untuk kugarap sesuka kemauanku. Istriku juga lumayan menikmatinya walau sedikit menahan suara desahan karena ada Salwa disampingnya yang sudah tertidur. Total 4 kali ngecrot aku sore itu. Sebelum azan Maghrib aku dan istriku sudah mandi wajib.

Skip-skip

Lelah karena aktifitas seharian, istriku dan kedua anakku sudah masuk kamar jam setengah sembilan. Aku masih di depan TV gonta-ganti channel mencari acara yang menarik. Ada pilihan film di stasiun TV swasta yang sudah diputar 3724 kali dan acara variety show yang lumayan monoton dengan penonton bayaran yang cantik-cantik.

Ping!

Salah satu kontakku mengirimi Ping. Malas-malasan kuliat siapa? Jam 22.12 WIB. ‘Aida tetangga’ yang mengirim pesan ping. Belom tidur dia?

Mulai komunikasi kami lewat BBM.

Aseng: blm tidor da?

Aida: blom bg aseng lge kepanasan ni.

Aseng: napa? rusak kipas angin klen

Aida: gatel bg pengen digaruk

Aseng: apa yg digarux

Gak lama ia mengirim gambar yang merupakan penampakan dada utuh Aida tanpa penutup sehelaipun. FAKK! Tanpa sadar tanganku merayap mencari jalinan kerjasama dengan Aseng junior.

Aseng: apa tu? krg jelas

Tak lama masuk gambar satu lagi foto celana dalam yang mungil banget berwarna pink yang dikenakannya. Sontak aku mengelus-elus Aseng junior yang mendadak manja pengen disayang.

Aseng: lucu itunya. Lg?

Tanpa ba-bi-bu masuk foto ketiga yang lebih bombastis. Tepian celana dalam pink mungil itu ditarik kesamping dan menampakkan isinya yang kurindukan. Vaginanya mungil juga, belahannya agak merekah lembab. Ada titik genangan cairan bening di sekitarnya, kemungkinan keringat.

Rambut hanya tumbuh di atas gundukan pubic seperti kumis Hitler. Makin kencang kubelai Aseng junior yang tercekik sampai ia megap. Urat-urat kebiruan muncul disekujur tubuh Aseng junior.

Dan seolah melengkapi keindahan malam itu, masuk foto berikutnya. Dibukanya belahan vagina Aida hingga kelihatanlah semua keindahan masterpiece itu. Aku bisa meresapi gerinjal lekukan daging yang merupakan labia minora yang bermahkotakan klitoris mungil di atasnya.

Cairan basah yang menggawangi lubang mungil yang mengintip terpaksa karena dibuka paksa oleh tangan pemiliknya. Lubang anusnya sedikit gelap dengan kerutan-kerutan halus di sekitarnya. Kulit halus dan putih selangkangannya serupa latar yang paling tepat untuk semua ini. Ini sempurna.

Aku bahkan tidak pernah sedeg-degan seperti ini melihat kelamin wanita walau tak secara langsung, hanya lewat media.

Aida: gantian pls

Kukirimkan dua foto dengan interval setengah menit. Foto pertama sewaktu aku mencekik Aseng junior hingga urat-urat kasarnya bertonjolan. Foto kedua merupakan muntahan putih Aseng junior yang melumuri sekujur tubuhnya.

Aseng: crot utk yg k5

Lama Aida tidak membalas chat dariku. Ada sekitar dua menit, yang kuhabiskan dengan memelototi ulang foto-foto berharga pribadi milik tetanggaku itu. Aseng junior tak kunjung lemas karena ia tetap tegak mengacung dielusanku.

Aida: udh 5x? lemez dong

Aseng: mlm ini br 1x td sore 4x

Aida: kuat y ngayalin Aida y?

Aseng: Aida g tgg jwb

Aida: kan ad kakk smpe 4x lg hhh

Aseng: imut

Aida: apnya imut?

Aseng: cdny wkwk

Aida: gd y

Aseng: gak ada ato apa

Aida: GEDE

Aseng: woi capslock!

Aida: kmari bg kutunggu

***

Kubiarkan Aida menunggu karena aku tidak akan datang malam itu. Aku tidak meneruskan chat dan kuhapus semua history chatting barusan agar tidak ketahuan istriku. Kumatikan TV, lampu-lampu, memastikan semua jendela dan pintu terkunci dan kemudian masuk kamar.

Sampe kamar kudapati semua orang tercintaku sudah tidur nyenyak. Istriku tidur diantara Rio dan Salwa. Tempat tidur king size ini harus dibagi untuk 4 orang. Aku harus rela desak-desakan dengan Rio yang tidurnya berantakan.

Daster istriku tersingkap hingga perut dan sebelah payudaranya menggantung keluar dari pakaiannya tak sempat dimasukkan habis menyusui Salwa. CD-nya terlihat menggodaku tapi aku tak sampai hati membangunkannya untuk melayani birahiku akibat chatting barusan dengan Aida. Ia sudah cukup lelah mengurusi rumah dan dua anak kami.

Aida-Aida… Perempuan sesak segera beranak itu betul-betul membuatku blingsatan gak karu-karuan. Rayuan dengan tubuhnya berekskalasi dari yang paling ringan sampai yang hardcore punya. Terakhir ia mengirimiku foto jarinya yang menusuk masuk lubang vaginanya. Melihat itu aku sampai ngecrot sekali lagi.

Beberapa kali ada jeda ia berhenti chatting yang kutangkap kalau ia sedang fokus masturbasi seperti yang kulakukan. Ngakunya ia sedang sendirian di rumahnya karena suaminya, si Agus masuk malam.

Sebenarnya suaminya masuk jam 11 malam tetapi pergi lebih cepat satu jam demi dedikasi posisinya sekarang ini. Pulangnya juga dilambatkan satu jam. Ia terus mendesakku agar ke rumahnya dan memenuhi tawarannya karena tak ada orang lain di rumahnya kecuali dirinya sendiri yang sedang memuaskan hasrat.

Tawaran yang sangat menggiurkan. Sepanjang malam aku bisa menggagahi perempuan yang sudah pasrah kuapakan saja. Gang ini juga sudah sepi jam-jam segini jadi tidak akan ada yang tau siapa yang keluar masuk rumah Aida. Kepalaku panas memikirkan kemungkinan-kemungkinan ini.

Aseng juniorku yang udah ngecrot berkali-kalipun sepertinya senang dan ngaceng gak udah-udah. Kimak kali memang junior nih. (kimak: makian orang Medan. Singkatan dari pukimak, yang kurang lebih artinya memek mamak. wkwk)

Aku kembali ke depan TV tanpa menyalakannya. Hanya duduk saja dan menghayalkan Aida. Malam sudah semakin larut dan tak ada ping masuk karena data HP kumatikan. Tapi aku yakin kalau Aida mengirim ping berulang kali untuk menarik perhatianku. Malah ketiduran.

Bangun-bangun aku malah memimpikan Aida. Aku menganggapnya mimpi buruk karena aku ketauan oleh istriku sedang menggenjot Aida di ruang tamu rumahku. Tapi istriku cuma berdiri di depan pintu dan melihat saja tanpa ekspresi apapun, hanya datar. Ekspresi datar itu yang merupakan bagian terburuknya karena kalau istriku sedang marah, ia akan diam saja seperti itu.

Kimaknya lagi, sempakku terasa lengket. Aku mimpi basah! Kimak-kimak. Udah tua segini masih mimpi basah? Padahal aku sudah berapa kali ngecrot sebelumnya kan? Setauku ya… seseorang pria itu akan mengalami mimpi basah kalau cadangan spermanya tak kunjung keluar dalam jangka waktu tertentu. Pria lajang misalnya, apalagi anak remaja yang masih puber yang belum mengenal seks. Lah aku udah beberapa kali ngecrot begini kenapa masih bisa mengalami mimpi basah? Aneh?

Apa gara-gara terlalu kepikiran Aida yang seksi ya? Sampe-sampe kebawa mimpi basah ya? Di mimpi tadi, aku sudah melihat semua tubuh polos telanjang Aida dan kami bercinta gila-gilaan yang diakhiri aku ngecrot di dalam vaginanya. Aku betulan ngecrot saat itu yang berbekas di sempakku saat ini.

Imej tubuh telanjang Aida mungkin adalah kumpulan berbagai informasi yang sudah kudapatkan selama ini. Baik tampak langsung ataupun sekedar foto. Jadi alam bawah sadarku mengeja-wantahkannya sebagai bunga tidur. Indah kali bunga tidurnya. Tubuh telanjang Aida maksudnya. Tapi tetap lebih serem ekspresi istriku, ding.

Skip-skip

Sudah kembali pagi dan Salwa tak mau tau apapun selain jalan-jalan pagi. Sesudah dimandikan dan wangi, ia langsung merengek minta jalan-jalan. Aku harus siap-siap dengan jawaban kalau bertemu Aida kali ini. Ia pasti akan menjegatku di depan rumahnya.

Tumben pintu rumahnya masih tertutup. Belum bangun dia? Padahal aku sudah menyiapkan berbagai macam alasan kalau-kalau ia merajuk padaku. Bagus-lah kalau begitu. Salwa dan aku melintas di depan rumahnya.

Tumben juga gang ini sepi. Biasanya sudah ramai jam segini bagi yang akan berangkat sekolah dan kerja. Juga beberapa penjual sarapan pagi keliling. Hanya ada kami berdua di gang ini.

Tok-tok!

Terdengar ketukan di kaca jendela di kiriku.

Di jendela kaca rumah Aida. WHAT THE FAKK!

Aida berdiri di balik jendela kaca rumahnya dengan rapat hingga tubuhnya tergencet nyeplak di kaca tersebut dalam keadaan telanjang bulat. Matanya menatap sayu dan menggigit ujung jarinya. Kedua puting payudaranya tergencet indah di kaca berikut pangkal pahanya.

Vagina mungilnya mengintip indah dengan jembut kumis Hitler-nya. Kemudian direnggangkannya kedua kaki nya lalu satu tangannya yang lain melebarkan bibir kemaluannya. Dengan jari telunjuk dan jari manis ia melebarkan labia mayora. Jari tengah menggosok-gosok itil lalu terbenam masuk. Dikocok beberapa kali dengan melenguh keenakan. Beberapa kali kocokan dan dicabut. Cruut! Cairan bening menyemprot dan terpercik di kaca jendela transparan.

Aida terengah-engah…

Apa ini?

“Kenapa, pa?”

“Heh? Kenapa?” tanyaku.

“Salwa udah siap mandi… Minta jalan-jalan tuh…” kata istriku.

Kuusap mukaku. Kimak! Gara-gara tidur lagi abis mandi aku malah bermimpi aneh lagi tentang Aida. Yaa… lengket lagi.

Setelah ganti sempak dan celana abis bersih-bersih, aku melanjutkan rutinitas pagi dengan membawa Salwa jalan-jalan keliling gang. Sebenarnya aku penasaran juga apa mungkin kejadian seperti di mimpi tadi menjadi nyata. Tapi itu tidak mungkin karena aktifitas gang ini sudah ramai seperti biasanya.

Pada berangkat sekolah bagi anak-anak dan berangkat kerja bagi orang dewasa. Seorang penjaja tahu bermotor lewat dengan teriakan khasnya “TAA-HUUUU!”

Seorang ibu memanggil tukang tahu itu dan si abang penjual berhenti. Ibu-ibu lain juga mengerubungi penjual tahu itu untuk membeli tahu putih termasuk Aida. Ia sudah melirikku dengan mulut manyun yang lucu. Ingin rasanya kucomot bibir manyunnya itu. Ibu-ibu itu menyapa Salwa dan menjawil pipinya. Ada juga yang menciumi pipinya yang tembem kayak donat dikasih gula putih halus. Aroma segar bayi yang baru mandi pasti jadi kegemaran siapapun.

Tak kurang Aida juga. Tahu yang baru dibelinya di sebuah piring ditaruhnya begitu saja di teras rumah. Seperti biasa, ia langsung meminta Salwa untuk digendong. Tapi sebelum Salwa berpindah tangan, tangannya dengan kurang ajar meremas si Aseng junior. “Akhh…” pelan keluhku kaget. Untung ibu-ibu lain dan penjaja tahu sudah pada bubar.

“Kenapa gak ke rumah tadi malam?” lirih tanya Aida dengan mata mendelik-delik lucu. Mulutnya mengatup-ngatup kek ikan mas koki.

“Gak-lah! Gilak aja…” jawabku spontan.

“Tapi aku dah pengen kali, bang…” katanya masih lirih. Ia berusaha menggapai ke bawah lagi ke arah Aseng junior. Dengan taktis aku menghindar.

“Mintak-lah sama lakikmu sana… Aku gak bisa, Da…” jawabku sebenarnya ragu-ragu.

“Abang inilah… Udah kukasih pun… Udah rela kali aku, bang… Mau ya, bang?” rayunya dengan menghiba.

“Nanti malam lagi ya, bang? Plis…” katanya mendekap erat Salwa.

Aku jadi takut kalau anak bayiku dibejeknya kuat-kuat karena kesal dengan bapaknya yang tak kunjung mengabulkan keinginannya. Keinginan mesumnya.

“Gak bisa aku, Da… Takut aku… Takut ketauan aku…” jawabku asal aja. Yang penting aku bisa terbebas dari rayuannya. Rayuan maut.

“Kalo takut ketauan di sini… kita ketemuan di luar aja, bang…” usulnya jenius. Jenius kampret. Kalau itupun aku tau caranya. Tapi masalahnya aku gak mau. Atau belum mau. Yang mana yang benar?

“Gak, Da… Aku gak bisa, Da…” tolakku terus dan mencoba beralasan dengan melihat jam tanganku, meminta Salwa kembali.

Tapi Aida menolak mengembalikan Salwa semudah itu. Ia menggerakkan tubuh Salwa sehingga tubuh bayiku mendusel-dusel dadanya. Kimak! Perempuan ini gak pake bra. Teteknya gondal-gandul karenanya terlihat dari bahan katun daster bermotif bunga yang dipakainya.

Beberapa kali aku juga bisa melihat pentilnya ngecap karena sudah menegang. Salwa mewakiliku menjamah tubuhnya.

“Aku gak pakek apa-apa nih bang dibalik dasterku… Abang mau liat?” tawarnya kurang ajar. ANJIAANK!

Cepat-cepat aku menggeleng, ia malah mundur dan masuk ke teras rumahnya yang satu batu bata lebih tinggi dari jalanan gang. Ia menggodaku terus. Senyumnya lebar. Anak bayiku hanya bengong ngences aja bisanya gak bisa nolongin papanya yang kesusahan. Anakku cantik… Tolongin papa-lah?

“Da… Jangan, Da…” panik aku melihatnya membawa masuk Salwa sampai di belakang pintu rumahnya.

Teras rumahnya kecil hanya cukup untuk memarkir sebuah motor dan jejeran pot bunga koleksinya. Aida masih memeluk erat Salwa. Keadaan memang sepi kala itu.

Nekat! Perempuan ini sudah nekat. Dengan satu tangan ia menarik rok dasternya ke atas dan satunya tetap mendekap Salwa, alhasil aku sukses melihat apa saja yang ada tersembunyi di dalam sana. Sebagian kecil perut rata dan pusarnya, pangkal pahanya dan kumis Hitler itu.

Melotot mataku melihat pemandangan erotis dadakan itu. Ia benar-benar tak memakai apa-apa lagi dibalik dasternya seperti yang dikatakannya tadi. Indah, melenakan dan sekaligus menakutkan. Bentuk segitiga dengan lepitan kemerahan di tengah apitan kedua pangkal pahanya sukses membuatku keringat dingin.

Indah nian. Amboi… Ingin betul aku sekedar mengelus… membelai… atau membukanya… membasahinya dengan lidah.

Dengan cepat ia kembali menurunkan rok dasternya dan kembali kakinya tertutup takala sebuah motor melintas, seorang bapak membonceng dua anaknya pergi sekolah. Ia tersenyum lebar dan maju ke depan tanpa rasa bersalah sedikitpun. Diserahkannya Salwa kembali padaku tanpa bisa kucegah sedikitpun.

Ia memberikan bonus, menyentuhkan kedua payudaranya yang tanpa bra itu ke lenganku. Aku dapat merasakan keras putingnya yang menegang. Lembut dan kenyal melebur menjadi satu. Daging empuk itu terasa adem dan nyaman.

“Dadah, Salwa cantik… Nanti malam jumpa lagi ya…” katanya melambaikan tangannya padaku. Dengan kaku aku balik kanan dan ngacir pulang.

Tak nyaman yang kurasakan saat ini karena si Aseng junior sedang baris-berbaris pagi ini. Dia ngacung!

Skip-skip

Di kantor aku baru berani menghidupkan data HP-ku dan berebutan masuk berbagai ping, teks dan beberapa buah foto yang dikirim Aida tadi malam. Foto beberapa sudut kemaluannya yang sepertinya habis orgasme karena becek bukan buatan.

Ia membuka lebar-lebar bibir kemaluannya tanpa malu-malu lagi. Lubang sempit itu seperti memanggil-manggilku untuk mencicipinya.

Jam 9.30 pagi masuk satu foto baru.

Ini seperti sebuah foto perbandingan karena dua buah foto dijadikan satu. Ia bela-belain mengedit foto ini. Aku baru sadar apa maksud foto ini setelah beberapa saat kupelototi. Di kanan adalah foto Aseng junior yang masih berlumuran sperma dan di kiri adalah foto kemaluan Aida yang juga berlumuran sperma.

Aida: liat encer kan?

Bangsat! Ia memfoto hasil persenggamaannya dengan lakiknya dan membandingkan kualitas spermaku dengan Agus. Itu artinya Agus yang baru pulang kerja pagi ini ditodong ML dan ini hasilnya. Encer sih. KIMAK!

Aida: encer gini g bisa buat bunting

Aida: kecil lg

Hampir kubanting HP-ku.

Entah untuk berapa lama akan kubiarkan Aida terus menerorku. Yang gilanya aku suka dengan teror seperti ini. Kalo orang Medan bilangnya ‘Ngeri Ngeri Sedap’. Sering dengar istilah ini kan? Yang dulu pernah dipopulerkan politisi yang memang berasal dari Medan.

Gimana caranya aku menghentikan teror ini? Kalau kubiarkan, mungkin akan bertambah parah atau mungkin juga berhenti karena Aida bosan karena tak kunjung kutanggapi tawarannya. Bagaimana kalau ia tak kunjung bosan dan terus berharap. Ia akan terus menerorku dengan teror erotis lainnya.

Kalau berhenti atau ia mengalihkan terornya pada pria lain… Sayang juga! Barang bagus gitu. Belum tentu pria lain akan menolaknya. Tak terbayangkan kalau ada pria lain yang menggenjot Aida dan memanfaatkan keadaan rumah tangganya walau tak pasti bakal hamil. Pastinya pria itu akan bersenang-senang banget.

Abis-abisan menggarap perempuan cantik itu dengan berbagai gaya… Arrggghh! KIMAK!

Pria itu pasti akan terus-terusan menggarap Aida sampe… sampe kapan? Aku juga kurang yakin kalau guna-guna itu bekerja pada pria lain. Kalau teori awalku benar, guna-guna itu hanya terikat pada Agus-Aida, seharusnya kalau Aida mendapat setoran sperma dari pria lain; ia akan hamil.

Lalu bagaimana kalau sebenarnya guna-guna ini melekat per individu? Pada Agus dan pada Aida. Bagaimana kalau ada guna-guna lain yang bertujuan untuk melemahkan sang pria? Karena Agus mengalami penurunan stamina seksual yang bertujuan untuk melemahkan mental dan harga dirinya.

Bagi pria hal ini adalah masalah kehormatan. Dengan begitu, rasa dengki pengirim guna-guna berhasil mengganggu Agus yang sudah mencapai posisi bagus dalam pekerjaannya ini. Kemudian merembet ke pekerjaan dan kemudian ke pernikahannya. Malah bisa ke kesehatan dan nyawa!

Dan… ikut melemahkan si pria ini juga. Korban kedua jatuh. Agus dan pria ini. Lalu Aida akan menyasar ke pria lainnya dan terus menerus seperti virus yang tak berkesudahan. Waduh! Sampe segitunya. Eh! Entah hapa-hapa yang kupikirkan nih?

Kukirimkan pesan baru pada Aida dan ia menanggapinya.

***

Tepat pukul 22.30 WIB aku bergerak keluar dari rumahku. Seperti biasa gang ini pada jam segini tetap sepi dari yang lalu lalang. Apalagi cuaca terasa dingin karena hujan sehabis Maghrib tadi. Di beberapa tempat masih ada genangan air sisa hujan. Istri dan anak-anakku sudah pulas tidur dari tadi.

Kutelusuri gang sepi ini sebentar untuk mengecek sikon (situasi dan kondisi). Aman… Benar-benar sepi dan senyap. Di depan sana, di jalan raya masih berseliweran kendaraan. Di beberapa rumah masih terdengar suara TV yang sedang ditonton penghuninya tetapi lebih banyak sudah mematikan lampu dan terbuai di empuknya kasur.

Lampu teras rumah Aida padam dan aku langsung berbelok masuk. Dengan cepat aku membuka pintu yang tak terkunci itu kemudian masuk dan menggerendel kuncinya. Ruangan depan ini juga gelap dan aku masuk lebih ke dalam. Ada dua kamar di rumah ini, ruang TV, dapur merangkap ruang makan dan juga kamar mandi. Hanya satu kamar itu saja yang lampunya menyala sesuai perjanjian kami.

Kuketuk pintu kamarnya dua kali dan langsung kubuka kemudian masuk. Aida ada di atas ranjangnya, berbaring menyamping membelakangiku, berselimut. Kututup kembali pintu dan mendekat. Pinggul yang menonjol di balik selimut yang menarik perhatianku pertama kali.

Ini pinggul perempuan yang sehat yang seharusnya bisa memelihara janin-janin di rahimnya. Semua potensi itu dikacaukan oleh manusia culas yang memanfaatkan pihak yang tak bertanggung jawab. Perempuan sehat yang seharusnya mendapatkan kebahagiaan karunia anak. Memeliharanya di kandungannya, melahirkan, dan membesarkan sang anak hingga besar.

“Aida…” bisikku lirih. Cukup untuk didengar Aida harusnya.

Aida berbalik dan yang pertama kali kutangkap adalah air matanya. Air matanya berlinangan di pipi putihnya. Matanya sedikit memerah. Apa ini? Pergolakan batin? Menyesal? Tentu dia masih bisa membatalkan ini semua.

“Kenapa Aida? Jadi?” tanyaku pelan memastikan keinginannya. Aku bisa mundur sewaktu-waktu ia kehendaki.

“Tentu jadi, bang…” jawabnya lirih berbisik juga.

“Kenapa menangis? Aku tidak mau ada keterpaksaan… Kita berdua harus sama-sama iklas…” bisikku lagi.

“Aida hanya senang, bang… Akhirnya Aida bisa punya anak juga…” katanya masih menjaga volume suara. Walaupun pelan tetapi suara selirih apapun di suasana sunyi seperti ini menjadi sangat jelas. Semoga tak terdengar sampai keluar.

“Mudah-mudahan jadi ya, Da… Semoga…” kataku kikuk.

Mataku melirik kanan kiri mempelajari kamar yang sehari-harinya menjadi domain Agus. Sekarang menjadi jajahanku karena aku akan menggagahi istrinya. Kamar standar dengan ranjang spring bed 6 kaki, sebuah meja rias, lemari pakaian 4 pintu, cermin, beberapa gantungan baju dan beberapa kotak sepatu di lantai.

Ada aroma wewangian samar, kemungkinan Aida menyemprotkannya tadi. Penerangan cukup dengan lampu LED 45 watt di kamar berukuran 4×4 meter ini.

“Mm… bang?” desis Aida bingung harus apa. Aku juga bingung mau ngapain.

Kalau dengan istriku di rumah aku bisa aja langsung melucuti semua pakaianku dan pakaiannya lalu gas. Tapi dengan Aida?

“Awak buka baju dulu ya, Da…” kataku masih pelan dan mulai menarik ke atas kaos yang kukenakan.

Mata Aida nanar menatap tubuhku. Tubuhku sekarang sudah lumayan berisi dengan berat 65 Kg. Cukup ideal-lah dengan tinggiku yang hanya 1.65 Meter. Dulu waktu remaja, aku tergolong kurus. Sekarang aku bertelanjang dada di depan Aida yang masih berbaring di ranjangnya bertutup selimut. Ia tersenyum lebar senang. Air matanya sudah dihapus dari tadi. Hanya ada rona bahagia di wajahnya.

“Aida sering intip-intip bang Aseng kalo sedang buka baju kek gini loh…” ia terkikik geli dan menutup mulutnya dengan dua tangan.

Mungkin ia sudah mulai terangsang. Aku terkadang kebablasan dan buka baju saat menyapu halaman rumahku. Sebuah pohon mangga golek setinggi 3 meter di halaman rumah penyumbang sampah terbanyak yang harus rutin dibersihkan.

“Bang Aseng putih kali… kek Cina betulan…” ungkapnya kembali terkikik lucu.

“Gantian-lah…” kataku berusaha menutupi kegugupanku. Aku juga pengen liat kan?

Aida langsung menyibak selimut yang menutupi tubuhnya selama ini. JREENG!

WADAW! Ia tak memakai apa-apa dibalik selimut itu. Tubuh seksinya langsung menyerbu mataku di bawah lampu terang 45 watt ini. Tangannya cepat menutupi bagian dada dan selangkangannya. Ia masih malu-malu rupanya. Tenang… Aku tau solusinya.

Kuambil tepi selimut itu dan kutarik kembali hingga menutupi kembali tubuhnya. Aida memberi mimik protes campur bingung dengan perlakuanku.

“Kok ditutup lagi, bang?” tanya Aida heran. Hanya sebatas bahu-leher-kepala dan dua tangannya yang ada di luar selimut.

“Aida masih malu, kan? Gini aja…” kataku mendekat dan menunduk masuk ke dalam selimut yang ada di bagian kakinya.

Kudengar nafas terkesiap kaget Aida melihat aksiku. Sekarang ada gundukan besar di bagian bawah kaki Aida karena tubuhku menelusup masuk ke dalam selimut. Ia tidak siap dengan ini. Aku tidak bisa melihat ekspresi wajahnya karena gelap keadaannya. Kita mulai prosesnya…

Memasuki alam lain, begitu dua buah bakiak kayu merah dengan banyak tempelan stiker norak kujejak. Seketika aku sudah tidak ada di dalam kamar Aida lagi. Sebuah bekas bangunan mirip gudang dengan dinding-dinding yang masih berdiri merana. Banyak bekas tanaman merambat tumbuh di sepanjang dinding tinggi dan sebuah pohon yang tak terlalu besar yang sudah meranggas mati. Beberapa nisan kayu nampak mencuat sembarangan di sekitar akarnya. Gelapnya malam terlihat dari bagian atap bangunan yang sudah lama menghilang, hanya menyisakan beberapa batang kayu galangan yang sudah lapuk dimakan cuaca. Tak ada bintang terlihat maupun bulan. Karena ini dimensi yang berbeda.

Berhadap-hadapan denganku kini seorang tua berumur sekitar 60-an dengan sebilah klewang berkarat kemerahan sepanjang 90 cm. Ia baru saja membuka matanya menyadari kehadiranku. Jarak kami ada sekitar 6 meter dihalangi nisan-nisan kayu itu. Aku berdiri tegak bertelanjang dada dengan bakiak kayu andalanku.

“Apa maumu? Keluar dan jangan kembali!” hardiknya dengan suara serak dan kuat.

Ada bau amis begitu ia membuka suara. Bau itu terasa berasal dari karat yang menggerogoti klewang panjang yang terlihat berbahaya itu. Kalau harus bertarung melawan senjata itu, tergores pasti kena tetanus!

“Bapak yang mengirim sengkolo pada Agus dan Aida?” tanyaku masih baik-baik.

Di kanan dan kiri orang tua itu muncul dua sosok mahluk serupa pocong bermuka hitam begitu ia menaburkan semacam bunga rampai. Kain pembungkusnya lusuh dengan banyak bercak darah menghitam dan lumpur.

“Kau paham… Jadi menjauhlah…” katanya memberi peringatan keras padaku dengan melotot.

Wajah kasarnya mengetat dan urat-urat di wajahnya bertonjolan. Disabetkannya klewang karat itu dan kedua pocong itu berkelebat cepat melayang ke arahku. WHUSH! Menyambarku cepat bermaksud memberi peringatan agar aku cepat-cepat pergi. Aku cukup berkelit menghindari gertakan itu. Kedua pocong kembali ke posisi awalnya.

Merogoh kantung celanaku dan mengeluarkan beberapa lembar daun, ada empat lembar di tangan kananku.

“Tolong bapak cabut kembali sengkolo itu dari Agus dan Aida… Kasian mereka berdua, pak… Pengen kali orang itu dua punya anak…” kataku sambil memposisikan keempat helai daun itu di antara jari-jari tangan kananku dengan bantuan tangan kiri.

“Kalau aku gak mau… kau mau APA?!” gertaknya balik.

Ah! Udah kenyang kali aku dengan mop-ngemop (mop: gertak) kek gini. Udah tua pun masih maenan ke gitu juga. Di Medan ini kalau kalah ngemop udah diitung kalah. Ya gak, lae?

“Begadoh-lah kita, KIMAK!” tak kupandang lagi kalau dia sudah tua.

Sudah kupanggil kimak pulak uwak-uwak tua itu. Aku mulai bergerak maju. Kletak-kletuk! Suara ketukan bakiak kayu yang kupakai terdengar nyaring seiring langkah lariku yang cepat. Keempat helai daun di jari kananku sudah kusebarkan.

Dukun kimak itupun sudah memerintahkan kedua pocong itu bergerak sementara ia siap menyambutku dengan tebasan klewang karat itu.

Sebentar saja aku sudah mencapai Wak kimak yang lumayan kaget aku bisa bergerak cepat dan sampai di depannya, kuambil satu bakiak kanan dan kupakai di tangan kanan untuk menangkis klewang panjang yang menyambar cepat membabat leherku.

KLAKK!

Kaki kiriku yang masih berbakiak naik ke atas mengincar dagunya. Ia masih bisa berkelit sehingga aku harus berputar setinggi pinggang untuk serangan berikutnya. Urung kulakukan tendangan susulan karena pocong pertama berusaha menubrukku. Wak kimak mundur beberapa langkah.

Sebuah benda hijau panjang menahan pocong itu. Itu daun Utara yang bertugas melindungiku. Sambaran sesuatu lainnya segera menyambar cepat pocong yang terhenti tadi. Ada sobekan yang terjadi pada kain pembungkus pocong.

Lipatan tebal tersayat beberapa gulungan. Benda hijau lainnya sukses mengoyaknya, dia adalah daun Selatan sebagai penyerang. Pocong itu terbanting ke tanah tapi bangkit melayang kembali.

Pocong kedua melayang tak jauh dari Wak kimak sedang diserang daun Barat dan daun Timur. Keempat daun itu adalah perubahan daun yang tadi kukepit di antara jari-jariku. Wak kimak kebingungan dengan metode bertarungku. Dikiranya hanya dia yang bisa mengendalikan semacam pocong-pocong miliknya. Punyaku ada 4 lagi, lebih banyak. Kupakai kembali bakiak ke kaki kanan. Serangan baru akan dimulai.

Aku kembali berlari cepat dengan bunyi bising bakiak kayu ini lalu melompat kencang. Kedua bakiak tertinggal di tanah di posisi pijakan lompatku. Tubuhku berdesing cepat meluncur ke arah Wak kimak. Ia tersenyum seolah sudah menang dan segera membabatkan klewang panjangnya.

KTUK!

Kaget Wak kimak karena klewangnya hanya membabat benda padat berupa bakiak kayu sebelah kiriku yang segera terbanting jatuh di depannya sementara aku bebas, terbuka menyarangkan sebuah tendangan telak dengan bakiak kanan ke rahang kirinya.

Wak kimak terjajar mundur tak jauh, tak bisa jauh karena tangan yang memegang klewang itu kutahan dibagian pergelangannya dengan tangan kiri sementara bakiak kanan sudah berpindah lagi ke tangan kananku. Dengan remasan kecil klewang itu terlepas dari genggamannya.

PLAK! PLAK! PLAK!

Tiga kali tamparan menggunakan bakiak itu kembali menghantam kepala bagian kirinya. Dua kali ke telinga dan satu kali rahang. Saat ia limbung, kukutip bakiak kiri yang berada di tanah dan bersiap melakukan serangan pamungkas. Kedua bakiak di kedua tanganku terangkat tinggi. “GUGUR GLUGUR!”

Seakan sebuah gunung jatuh menghimpit Wak kimak kala dua buah bakiak ini kudampingkan dan terarah menggencet, menimpa dan luruh dengan seluruh kekuatannya menekan lawan kala jurus GUGUR GLUGUR menghantamnya telak. Lawan yang kesekian kalinya sukses kalah karena sepele dengan senjata ampuhku ini.

Kugosok-gosokkan kedua bakiak merah itu ke pelipisku sebagai tanda terima kasihku atas bantuannya kali ini. Wak kimak terkapar di tanah. Tangan dan kakinya berkejat-kejat tak kuasa menahan kesadarannya. Kedua pocong muka hitam itu juga sudah tinggal tulang-belulang saja disayat-sayat keempat daunku.

Kain pembungkus keduanya kupak-kapik kek kena mesin potong rumput. Begitu kupakai lagi kedua bakiak itu di kakiku, empat daun itu kembali ke tanganku dengan ukuran normalnya. Setelah sempat menjadi pedang daun, balik menjadi daun dan mengering lalu hancur.

“A-apa-kah itu… ba-bak-bakiak Bulan Pencak yang tersohor?” tanya Wak kimak tersengal-sengal yang masih terkapar di tanah dingin nan kotor. Tubuhnya sedikit mengepulkan asap tipis. Beberapa helai bunga rampai berserakan di kakinya.

“Ah… Wawak kenal rupanya dengan stiker Nirvana ini (band Nirvana-nya Kurt Cobain)… Metal juga wawak, ya?” kataku berkelakar tentang stiker yang menempel di sekujur bahan bakiak yang dikenalinya sebagai bakiak Bulan Pencak. Stiker Nirvana dan daun ganja ada di sebelah kanan, Bob Marley dan lambang Peace di bakiak kiri.

“Ribak Sude rupanya… Ah…” lalu ia tak sadarkan diri.

Klewang panjang berkarat dan tulang-belulang pocong muka hitamnya menghilang tanpa bekas. Sepasang pocong muka hitam itu ternyata yang selama ini mengikuti Agus dan Aida di setiap kehidupan seks mereka.

Satu bertugas memakan semua sperma yang dihasilkan Agus untuk menghamili Aida dan mempengaruhi keadaan kesehatan fisik dan mentalnya. Yang satunya mencegah ada yang dapat menghamili Aida dan meningkatkan kesehatan mental suaminya.

Perlahan kegelapan dingin nan angker tempat pertarungan tadi berubah menjadi kegelapan hangat dibalik selimut milik Aida. Guna-guna yang menyerang Agus dan Aida sudah berhasil kutumpas. Aku sudah bisa melihat sepasang kaki mulus putih milik Aida menjulur pasrah di depanku.

“Misi selesai…” bathinku. Kukecup lutut kiri Aida dan ia bergidik geli.

Tidak ada jeda waktu antara pertarungan tadi dengan keadaan yang sebenarnya karena itu semua terjadi di alam yang sama sekali berbeda… Gitu, deh.

***

“Ngapain sih, bang?” ia terkikik geli merasakan pekerjaanku di balik selimut itu.

Bibirku mematuk-matuk naik ke pahanya dan sekarang ada di depan vagina indahnya. Disibaknya sedikit selimut untuk melihatku di selangkangannya.

“Alo apa kabar yang di dalam sana?… Aku mau nitip anakku di sini ya? Boleh, kan?” kataku berbicara pada vaginanya.

Salah ya? Harusnya Aseng junior yang ngobrol dengan miss Vaginawati Aida ini.

“Hi-hihihi…Akh!” Aida yang tadinya terkikik geli sontak mendesah kala lidahku menyapu panjang sampai kena kumis Hitler itu.

Rasanya enak kali. Seger-seger kecut! Refleks dilebarkannya kedua kakinya hingga vaginanya merekah terbuka. Langsung terasa kelembaban itu dan aromanya melenakan sekali. Aromanya berbeda dengan milik istriku, lebih segar dan ada sedikit aroma bunga. Mungkin produk sabun pembersih miss-V yang digunakannya.

Lidahku langsung bermain-main bak ketemu teman lama yang bersua kembali. Kucucup-cucup isi liang kawin Aida hingga punggungnya melengkung menahankan rasa nikmat yang melanda tubuhnya dan dadanya membusung. Perempuan ini mendesah-desah seksi sesekali tubuhnya bergetar, dadanya juga ikut bergetar.

Kujangkaukan tanganku meraup kedua gunung itu. “Ahmm…” desahnya bertambah. Nyaman sekali empuk daging payudara Aida. Kuremas-remas kenyal massa dada itu dengan gemas sambil terus mulut dan lidahku bermain di kemaluannya.

Itilnya kemudian menjadi titik fokusku. Lidahku berulang-ulang menyentil daging kecil yang hanya kulihat dari foto sebelumnya. Gelinjang liar kaki Aida menggapai-gapai lebar dan kini sudah nemplok di bahuku hingga ia dengan mudah menjejalkan kemaluannya yang gatal terus digaruk mulutku.

Tanganku bekerja ambideks meremas dan memilin payudaranya. Gelinjang gelinya terkadang membuat tubuhnya menjengat tinggi pertanda ia mendapat orgasmenya. Tapi aku terus mencucup isi kemaluan itu mengeluarkan semua cairan yang terkandung di dalamnya.

“Bha-ang… Bhaang Asheengg… Enaak kali, bhaang… Pintar kali abhaang…” saat usai mengejang orgasme kembali, memujiku.

Tak kira-kira ia bersuara. Tapi kalo dah keenakan mana perduli lagi apapun.

“Gak pernah akhu kek gih-ni… bhaang…” desahnya menjengit berkali-kali kala kedutan kenikmatan itu bak setrum listrik susulan.

“Paok (bodoh) kali si Agus tuh ya? Bikin kau keenakan pun tak pande…” bisikku lirih sembari memanjat naik.

Sekalian kulepaskan celana yang masih menutupi tubuh bawahku sekaligus sempak. Si Aseng junior sudah megap kesempitan di dalam kandangnya.

“Abang pun paok juga…” jawabnya. Eh marah pulak dia kuejek lakiknya.

“Kenapa gak dari kemaren-kemaren kemarinya… Kan aku bisa kek gini dari kemaren juga…” lanjutnya. Eh bukan marah karena lakiknya kuejek rupanya. Mantap lah.

“Iya-ya… Paok kali abang…” kataku tetap berbisik dan memposisikan Aseng junior di posisinya. Ibarat bola, Aseng junior adalah striker-ku. Siap menusuk jantung pertahanan lawan. Tapi…

“Aida… Ada syarat yang mau abang ajukan ke Aida… Kita lanjut kalok Aida setuju syarat ini…” kataku berhenti dengan manuver Aseng junior. Aku sudah memikirkan hal ini dan kurasa ini saatnya.

“Ah abang… Pakek syarat-syaratan… Apa si bang?” Aida tak sabar ingin lanjut. Padahal aku tinggal cuss…

“Pertama… Semua yang kita lakukan ini gak boleh pake perasaan… Abang cuma murni mau nolong Aida aja… Bukan si Agus atau siapapun… Paham?” jelasku akan syarat pertama. Aida mengangguk. “Jadi setelah ini… diluar sana kita tetap seperti biasa aja… Kek tetangga yang baik biasanya…” Ini tentang hubungan.

“Kedua… Ini hanya antara kita berdua aja… Tidak ada orang lain yang boleh tau atas alasan apapun… Mengerti?” lanjutku ke syarat kedua. Ia mengangguk lagi takzim.

“Jadi kita tidak akan membicarakan ini ato memberitau orang lain… Siapapun…” Ini mengenai kepercayaan.

“Yang ketiga… Jikalau memang Aida bisa hamil… Jagalah anak ini baik-baik… Ini akan menjadi anak Aida dan Agus… Bisa?” kataku menatap tajam matanya. Ini syarat yang paling penting. Kembali ia mengangguk yakin.

“Walau secara biologis mungkin ini anakku tetapi akui ini sebagai anak lakikmu…” Ini mengenai masa depan.

“Ya… udah… Segitu aja… Masok abang ya, Da?” bisikku begitu semua sudah kuungkapkan. Lagi pula kurasakan kepala Aseng junior sudah di kotak pinalti, udah one the one dengan kiper, tinggal melesak masuk aja dan mencetak gol.

Aida hanya perlu mengangguk membolehkan. Kuposisikan tanganku di bawah ketiaknya, ia mengangkat tangannya. Kuciumi ketiak kirinya. Wangi sisa deodoran. Kujilati ketiak mulus tembem itu dengan rakus hingga Aida berjengit geli. Pinggangku sudah bergerak pelan dan Aseng mematut bola mencari posisi tendang yang tepat.

“Uhmm…” desah Aida merasakan benda tumpul panjangku masuk perlahan.

Aseng junior sudah berhasil menjebol gawang lawan. Hangat terasa dari selebrasi kemenangan. Eforia kegembiraan tiba-tiba membahana di kupingku kala kurasakan dinding kemaluan Aida mengapit batang Aseng junior yang tenggelam dalam gawang lawan. Kaki Aida mengapit pinggangku, kedua tangannya memeluk leherku dan diciuminya leherku. Pelan-pelan kugerakkan pinggangku dan Aida melenguh pelan.

“Besar kali, bang… Penuh tempek-ku, bang…”

“Enak, kan?” tanyaku lirih tetap bergerak pelan.

“Enak, bang…” jawabnya menatapku dalam sekali. Bibirnya membuka memintaku menciumnya. Lupa mungkin dia.

“Maaf, Da… Aku tidak bisa menciummu… Nanti kita bisa perasaan (baper kalau istilah sekarang) karna udah kek gini… Hubungan kek gini gak bisa pake perasaan… Nanti kita berdua bisa rusak… Ini syarat pertama tadi…” kataku tegas.

Walaupun aku tega melakukan ini di belakang istriku, aku masih punya prinsip ini untuk hanya mencium istriku.

“Iya-ya, bang…” jawab Aida ingat syarat pertamaku tadi tapi tak kurang memperat kepitan kakinya di pinggangku, memintaku terus menggenjotnya.

Pinggangku lentur memompanya naik turun. Liang kawin Aida semakin basah dan pergerakan keluar masuk Aseng junior makin lancar. Enak sekali terasa.

“Ini gantinya… Kalo ini boleh…” kubenamkan mukaku di dada kirinya.

Putingnya menjadi awal incaranku. Kusedot-sedot gemas tetek itu. Puas dengan yang kiri pindah ke kanan. Begitu terus. Tubuh kami erat menyatu. Kulit ke kulit. Kulit halus dan mulusnya mulai berkeringat seperti juga aku. Pasti karena selimut ini. Kubuka tutupan selimut dan kami di udara terbuka sekarang. Terasa lebih sejuk sekarang.

Gesekan kulitku ke kulit Aida terasa nyaman sekali. Memeluk wanita lain selain istriku sekarang tak menjadi beban pikiran saat ini. Yang ada rasa nyaman saja karena lembut kulit perempuan ini.

Apalagi rasa enak yang dirasakan Aseng junior yang masih keluar masuk dengan teratur di lubang kawin di selangkangannya. Aida mendesah-desah keenakan.

“Enak, bhang… Lebih cepat, bhaang…” desahnya tak sabar.

Aku tak bisa lama-lama bercinta. Dimulai dari penetrasi sampai ngecrot paling 15-20 menit saja. Gak muluk-muluk sih. Tapi itu sudah memuaskanku dan istriku. Tapi Aida menyatakan kalau ini sudah cukup lama. Agus pasti peltu nih. Masuk-goyang-goyang-crot. Aida sudah orgasme lagi tadi.

Kuperbaiki posisiku. Kedua tangan menahan tubuh, lutut menahan bagian bawah dan mulai kugerakkan pinggangku lebih cepat dan bertenaga. Batang Aseng junior juga kugesek-gesekkan ke bagian klitoris Aida untuk rangsangan tambahan. Perempuan itu mendesah-desah lagi. Semakin cepat dan cepat. Aseng junior udah gak kuat menahan diri.

“Daa… Daa… Keluar aku Daa!! Bunting kau, Aida! Bunting! Hamil!” erangku tertahan.

Crot-crot-crot! Enak kali, boy! Kalau memang Aida bisa hamil, aku mengharapkan benihku ini dapat membuahi indung telur Aida dan membuatnya menjadi hamil beneran.

“Akkhh…” Aida memelukku erat sekali yang ternyata ia pun mencapai puncak kenikmatannya alias orgasme menerima semburan ejakulasiku.

Tanpa dapat dielakkan ia menciumi pipiku. Kuyakin itu tak sengaja. Kubiarkan saja karena aku masih menikmati desir-desir nikmat ngecrotku barusan. Enak seperti biasanya. Lama aku dan istriku berdiskusi harus pakai kontrasepsi apa. Istriku lebih pro aku memakai kondom dan tak mau suntik KB juga spiral. Aku berdalih kalau pakai kondom gak enak dan lebih menganjurkannya pakai spriral. Akhirnya ia mengalah dan memilih spiral.

Tubuhku lunglai di atas tubuh Aida. Begitupun juga Aida lemas tak berdaya. Aseng junior yang sudah membongkar muatannya di dalam kemaluan Aida masih kejet-kejet keenakan. Masih ada enak susulan yang dirasakannya kala ia memeras sisa-sisa spermaku yang kukedutkan.

Kucabut pelan-pelan Aseng junior dari sarang barunya. Sejumlah besar sperma mulai meleleh keluar. Kuambil sebuah bantal dan kuselipkan di bawah bokong Aida hingga posisi perutnya lebih tinggi dari dadanya. Ia paham dan membiarkanku. Kakinya masih membentang lebar dengan lemas. Sperma itu bertahan di dalam sana.

Nafasnya masih ngos-ngosan dan matanya nanar menatapku kemana kubergerak.

Aku memeluknya dari samping ketiak kanannya. Kuciumi sisi tepi teteknya yang montok indah. Kuremas-remas juga. Lalu tanganku membelai-belai perutnya.

“Semoga jadi ya, Aida… Jadi anak yang Aida pengenin…” bisikku di ketiaknya.

Aida mengatur nafasnya dan meraba kemaluannya. Dirasakannya basah lengket spermaku yang menggenangi liang kemaluannya. Dilihat sebentar.

“Semoga aja, bang… Makasih ya, bang… Abang udah mau ngabulin keinginan awak ini… Abang gak nyesal, kan?…. Karena awak gak nyesal sedikitpun, bang…” bisik Aida. Kami bertatapan di posisi ini.

“Kenapa Aida yakin kalau abang bisa memberi anak ke Aida…” tanyaku. Aku belum pernah menanyakan ini sebelumnya dan sekarang baru kepikiran.

“Awak gak boong nih ya, bang… Awak sering kali mimpi kek gini sama abang Aseng… Trus ada anak awak yang mirip kali kek Salwa… Bukan cuma sekali dua kali mimpinya, bang… Berulang-ulang sampe awak jadi kepikiran terus…” jelasnya. Mimpi?

“Sangking kepikirannya, awak jadi sering nyegat abang yang lagi gendong Salwa… Awak gendong Salwa dah kayak ngegendong anak awak sendiri rasanya…”

“Ya udah… Kalau Aida memang bisa hamil… hamil-lah Aida nih…” kataku mengelus-elus perutnya di bawah pusar.

“Emang bisa langsung jadi, bang?” tanyanya malah gak yakin.

“Kan Aida yang percaya kalau bisa langsung hamil… Kalau dikasih Tuhan… jadi ya jadi…” kataku mengelus kumis Hitler.

“Tapi kan abang berulang-ulang juga sama kakak, kan? Kalok gitu… Lagi-lah bang…” kata Aida menyadari karena lututnya menyenggol Aseng junior yang bangkit lagi. Ini karena aku mengelus-elus gundukan tembem itu.

Aku yang juga baru nyadar kalau si Aseng junior bangun lagi, bangkit dan memposisikan tubuhku di depan tubuhnya.

“Tunggu, bang… Gini aja kalo gak bisa ciuman…” kata Aida membalik tubuhnya dan memposisikan dirinya menjadi menungging.

“O-mak… Mantap kali nih, Da…” mataku terbelalak melihat bokong Aida yang menjulang menghadap ke arahku.

Pantatnya yang montok, putih dan padat itu berkilat karena keringat pergumulan kami sebelumnya. Kuremas kedua buah pantat itu dengan gemas sampai lubang kawin dan lubang pantatnya ikut terbuka menutup.

“Mantap, bang? Cepatlah…” katanya tak sabar.

Digoyang-goyangkannya pantatnya sedikit. Aseng junior tambah menegang keras melihat pemandangan ini. Seksi kali kuliat pose Aida kali ini. Lubang kawin Aida yang masih berlumuran spermaku tadi berkilat-kilat terkena cahaya lampu. Kudekatkan kepala Aseng junior dengan arahan tangan kanan dan langsung terbenam kepalanya. Hangat kali.

“Aahh…” keluh Aida sampai kepalanya terangkat dari sebelumnya bersandar di kasur kala menunggu proses masuk. Aseng junior meluncur masuk dengan lancar.

Sejumlah cairan kental didalam liang meluber keluar, tetapi pasti banyak yang terdorong masuk ke rahimnya. Kupegangi kedua pinggul Aida untuk penopang tubuhku dan kumulai genjotan. Enak kali, boy! Kepitan liangnya menjepit erat Aseng junior. Aida gelisah menerima gerakan awalku. Dan pompaanku mulai teratur keluar masuk.

“Bhaang… Ehnaak khaali, bhaanng…” erangnya gelisah.

Kepalanya mendongak-menunduk bergantian merasakan lesakan teratur genjotanku. Di pangkal batang Aseng junior mulai berbuih putih sisa spermaku. Lubang pantatnya berkedut-kedut lucu menerima gempuran keluar-masukku.

“Aah… ahh.. ahh…” gemetaran tubuhnya tak kuasa menahan kenikmatan gelombang orgasme dan tubuhnya ambruk tak lagi dalam posisi merangkak.

Ia sekarang tengkurap di atas ranjang. Aseng junior membal karena terlepas dari sangkarnya. Bahunya naik-turun dengan nafas memburu. Mulutnya membuka lebar mencari udara sebanyak-banyaknya.

Kulebarkan kakinya, kutaruh bantal di perutnya dan kuposisikan Aseng junior untuk masuk kembali dari belahan pantatnya. Bisa masuk dan terasa sangat menjepit sekali. Kutekan perlahan dan Aseng junior tenggelam kembali begitu Aida mulai pulih dari orgasmenya barusan.

Terus kugenjot Aida di posisi ini sampai aku ngecrot lagi. Istirahat sebentar dan mulai lagi dengan posisi aku berdiri di lantai dan Aida berbaring di tepi ranjang dengan ganjalan bantal kembali di bawah pantatnya.

Ia sangat senang mencoba posisi-posisi ini karena katanya dengan Agus ia tak pernah sempat ekplorasi berbagai macam gaya karena sudah keburu loyo dan capek. Terakhir kalinya aku ngecrot di posisi Aida berbaring miring. Lututku ngilu sekali merasakan nikmatnya ngecrot di posisi ini. Terasa sekali kenikmatan itu meluncur bebas di urat syaraf.

Kupeluk tubuhnya erat-erat dari belakang sambil nafas ngos-ngosan. Aseng junior terkulai lemas dengan puas karena sudah 4 kali ngecrot dengan bebasnya di liang kawin Aida. Malam ini puas sekali pokoknya.

Tanganku lemah memerah tetek Aida dan Aida membelai-belai Aseng junior. Mungkin berharap masih bisa bangun. Kupepet tubuhnya hingga ia tidak bisa berbuat lebih pada Aseng junior. Aku hanya bisa menciumi harum rambutnya yang bercampur dengan keringat.

“Udah banyak kali masuk bibit anakku… Mudah-mudahan ada yang jadi ya, Aida?” bisikku masih mempermainkan pentil susunya perlahan.

Aku tidak menjelaskan padanya tentang pertarunganku dengan dukun kimak yang sudah mengguna-gunainya dan Agus. Kalau mereka sesungguhnya sudah sembuh kalau guna-guna itu dianggap sebagai penyebab mereka tak kunjung dikaruniai anak.

“Mudah-mudahan ya, bang… Ini seharusnya masa suburku… Mudah-mudahan jadi anak… Anak dari bang Aseng… yang mirip Salwa…” lirih ia berkata.

***

Selama empat hari berturut-turut aku terus menyambangi rumah Aida di tengah malam. Suaminya yang kerja shift malam tak tau kalau biniknya kutunggangi sampai ku-encrotin berulang-ulang. Apalagi saat ini istriku juga sedang palang merah alias sedang menstruasi dan sering kurang enak badan karenanya.

Tapi berkat adanya Aida, aku masih ada tempat menyalurkan nafsu. Biasanya aku keluar dari rumah Aida pada pukul 4.30 pagi dengan terlebih dahulu menganalisa keadaan sekitar. Kalau sudah yakin aman, baru aku keluar dan pulang ke rumahku.

Hanya bisa empat hari saja karena pada hari kelima sudah hari Minggu dan Agus tidak bekerja di hari Minggu. Di kesehariannya, kami bertingkah seperti biasa. Aida tetap ramah dan meminta menggendong Salwa kala kubawa berkeliling seperti biasa. Kami tetap bercanda-canda normal seperti biasa seperti dengan tetangga lainnya.

Empat hari yang sangat luar biasa (empat malam lebih tepatnya), karena kami berdua mengeksplor kebinalan seksual Aida. Ia lebih ekspresif dalam menunjukkan kebinalannya. Berbagai macam gaya bercinta kami peragakan dan coba. Kebanyakan ide eksplorasi berasal dari perempuan itu.

Ia tidak malu-malu menyepong Aseng junior padahal seumur-umur belum pernah melakukan itu pada lakiknya. Sebagai ganti gak bisa berciuman denganku katanya. Ia juga tak ragu melakukan mandi kucing padaku. Dijilatinya sekujur tubuhku. Dari ujung kaki sampai telinga. Merinding disko tubuhku karena gelinya.

Lalu kugenjot kemudian ia dengan posisi berdiri menghadap cermin di dinding. Pantatnya sedikit ditunggingkan sedikit untuk memudahkanku memasukinya. Aseng junior memompa lancar karena beceknya liang kawin Aida. Keluar masuk dengan cepat sembari kuciumi lehernya. Aku gak berani melakukan cupang di sana karena khawatir nanti berbahaya dicurigai. Lagipula aku sampai sekarang tidak mengerti dimana serunya mencupang. Cuma sekedar merah-merah aja. Kerokan aja lebih bagus.

Ekspresi Aida yang sedang kugenjot dari belakang sangat binal. Mulutnya menganga dengan uap udara yang mengembun di cermin dengan mata sayu hanya kelihatan putihnya saja. Sangat menikmati sekali proses penghamilan dirinya ini.

Aku senang-senang aja melakukan ini semua. Bisa ngecrot dengan bebas di bini orang yang berharap bisa kuhamili. Bukan mauku ini semua. Salahin aja Agus yang gak bisa memuaskan Aida dan tak kunjung bisa menghamilinya. Ditikung tetangga gak salah, kan? Aseng junior hampir mencapai batasnya. Sudah hampir 15 menit kugenjot Aida di posisi berdiri begini. Lututku sudah lemas karena harus sedikit menekuk.

Perutku beradu dengan pantat seksi telanjang Aida dan kedua tanganku berpegangan, meremas-remas kedua teteknya. Aida mengaduh-aduh keenakan dan gemetaran pertanda orgasme. Dijatuhkannya tubuhnya ke arahku untuk kutampung. Kelamin kami terlepas ketika kuseret ia kembali ke ranjang.

Sebelum kuarahkan Aseng junior masuk kembali ke Aida yang kuposisikan sedang berbaring telentang, kakinya bergantung di tepi ranjang. Kusedot vaginanya lalu kujilat sekilas merasakan segar cairan orgasmenya, lalu Aseng junior meluncur masuk lagi.

“Akh… bhaanng… Ehna-akk kali, bhang…” desahnya tubuh melengkung hingga dadanya semakin membusung.

Kupegangi pinggulnya dan mulai kupompa lagi karena aku sudah hampir mencapai batasku. Aseng junior sudah terasa geli-geli enak. Bentar-bentar lagi bakal muntah, bongkar muatan di dalam liang kawin Aida untuk pertama kalinya di malam keempat ini.

“Daa… Hamil, Daa… Hamil, Daaa… Ugh… uh…” kejatku dengan menekan sedalamnya.

Beberapa kali Aseng junior berkedut menyemprotkan muatannya jauh ke dalam rahim Aida. Aku selalu berharap satu saja spermaku bisa berhasil membuahi indung telur Aida dan bakal menjadi janin. Entah yang malam sebelumnya atau malah malam ini.

Bantal menjadi pengganjal kembali untuk menahan posisi bokong Aida agar spermaku tidak keluar dari liang kawinnya dan merembes masuk ke rahimnya. Di masa subur Aida ini, semua harus dioptimalkan. Kalau bisa memilih, Aida lebih pengen bayi perempuan agar sama persis dengan Salwa.

Tapi kalau laki-laki juga tak mengapa karena bakalan ganteng juga seperti Rio. Sedapatnya apa aja pokoknya intinya. Mau perempuan atau laki-laki pokoknya bayi. Aida mengelus-elus perutnya. Ngakunya dia berdoa setiap kali mengelus perutnya agar cepat jadi hamil dan berisi janin.

Aku berbaring di sampingnya dengan nafas terengah-engah. Diambilnya tanganku dan diciuminya berulang-ulang. Jenis yang ini masih kubiarkan karena masih dalam batas wajar. Aseng junior yang dalam keadaan setengah ngaceng kubersihkan dengan handuk kecil yang disediakan Aida. Sambil terus mengusap perutnya, Aida mengocok Aseng junior lagi agar kembali bangun.

“Besok kita stop dulu kan, Da?” kataku mengingatkannya kalau besok Agus, suaminya ada di rumah seharian.

“Iya… Cepat kali hari Minggu, ya?” katanya sedikit kesal. Kami hanya bisa melakukan ini saat Agus kerja di shift pertama yang masuk pada jam 11 malam dan pulang jam 8 pagi. Rotasi kerjanya hingga ke shift ini 3 minggu lagi kalau begitu.

“Minta sama lakikmu-lah besok-besok… Sapa tau dia udah bisa…” kataku asal-asalan menikmati kocokan Aida yang gemas dengan sesekali meremas.

“Walah… Paling goyang bentar-crot… Apa enaknya…” katanya kesal.

“Eits… Aida… Gak boleh gitu… Ingat perjanjian kita… Gak boleh pake pe-ra-sa-an…” kataku mengingatkannya akan syarat pertamaku yang gak boleh baperan padaku.

“Si Agus cuma kurang olah raga-nya itu… Biar gak apa kali… Aida ajaklah dia olah raga… Sepot-sepot (sport, olahraga) pagi-lah kelen bedua… Biar makin sehat dia… Aida pun bisa tambah seksi…” kataku modus dan meremas teteknya sebelah.

“Ish… Gak pernah mau loh dia, bang… Capek kali aku ngasih tau dia supaya olah raga… Badannya aja yang dibesar-besarinnya… Kontolnya pun makin kecil kutengok…” katanya makin gemas meremas Aseng junior. Aku makin belingsatan. Sakit cuy! “Ini yang paling paten kurasa…” ditariknya Aseng junior-ku ke arahnya, mengarah ke mukanya sementara ia tetap berbaring dengan ganjalan bantal di bokongnya.

Lidahnya langsung menari-nari dengan lincahnya menjilati kepala Aseng junior. Padahal baru pada malam kedua ia debut melakukan ini, malam keempat sudah sampai taraf ahli. Disedot-sedotnya hanya pada bagian kepala helm saja membuatku merasa linu. Aku sampai harus meremas rambutku merasakan nikmatnya.

“Enak kali, Da… Dimana kau belajar itu? Enak kali kurasa…” pujiku. Ia hanya tersenyum sebentar lalu kembali menyedot.

Kesempatan berikutnya ia sudah memasukkan batang Aseng junior dalam-dalam di mulutnya sambil mata terpejam. Aku sangat yakin kalau dia belajar dari nonton bokep. Hanya karena dari sana jurus nikmat seperti ini mudah diperoleh.

Lidahnya keluar menjulur untuk mengakomodir besar batang Aseng juniorku yang bisa mencapai panjang 15 cm kalau ngaceng berat seperti saat ini. Istilahnya deep throat. Wah! Paten kali lah pokoknya Aida ini. Paok kalilah pokoknya si Agus itu.

Cara berikutnya, kugenjot mulut Aida pelan-pelan. Kupegangi bagian rahangnya dan pinggangku maju mundur selagi kukangkangi dadanya. Ia masih mengganjal bokongnya dengan bantal. Masih dalam program meresapkan spermaku ke dalam rahimnya.

“Daa… Enak kali, Daa… Semua lobangmu enak kali, Daa…” Ia menghisap Aseng juniorku gak tanggung-tanggung. Udah kek vacum cleaner kurasa.

“Udah-lah… Nanti keluar pulak di mulutmu… Sayang… keluar disini aja…” kataku buru-buru mencabut Aseng junior dari mulutmu.

Mulutnya belepotan liur yang dibiarkannya. Wajahnya tambah seksi begitu. Kuposisikan kepala Aseng junior ke liang kawinnya yang masih terbuka dengan genangan sperma. Dengan keadaan berdiri, mulai kupompakan Aseng junior yang masuk dengan lancar karena keadaan cukup becek.

Kudorong Aida hingga kami sekarang ada di tengah ranjang yang sudah kusut. Kugasak terus Aida dengan menggenjotnya dengan goyang sedang. Tiap sodokanku dalam hingga pahaku selalu membentur pangkal pahanya.

Ini kutujukan untuk mendorong semua spermaku sebelumnya agar berkumpul semuanya di dalam rahim. Untuk menambah rangsangan, aku menyusu pada teteknya. Kusedot dan remas bergantian yang kiri dan kanan dengan gemas. Aida mengerang-erang membanting kepalanya ke segala arah.

Dan limit-ku datang dan harus segera membongkar muatan kembali. Dengan sodokan dalam, kubenamkan kembali semprotan-semprotan bibitku ke sanubari rahimnya. Hangat spermaku memenuhi kembali ruang pembentukan janin itu. Kami berdua terengah-engah dalam ekstasi kenikmatan kedua malam itu.

Saling berbaring, memuji dan bercanda kami setelah itu. Sangat sayang aku sudah berjanji pada diriku sendiri kalau aku tak boleh menciumnya. Padahal ekspresi yang paling tepat setelah bercinta seperti ini adalah lewat ciuman. Aida-pun merasakannya sejak pertama kali kami bersentuhan. Tapi harus tepat janji. Itu prinsip.

15 menit kemudian, setelah berhasil membangkitkan Aseng junior dengan kocokan tangan halusnya, Aida pengen mencoba posisi baru. Padahal posisi ini tidak direkomendasikan kalau dalam program hamil. WOT alias Wadon On Top.

Tapi namanya juga pengen, apalagi entah kapan kami bisa melakukan ini lagi. Aida duduk di atas pahaku. Cairan sperma yang terdeposit di dalam liang kawinnya meluncur keluar sesuai gravitasi. Beberapa lelehan kental mendarat di pahaku ketika ia beringsut maju untuk menduduki selangkanganku.

Aida menutupi kemaluannya dengan tangan untuk mencegah cairan kental berhargaku keluar percuma lebih banyak dan ia berjongkok mengangkang. Dipegangnya Aseng junior dan diarahkannya ke mulut liang kawinnya untuk penyumbat. Enak seperti biasa.

Hangat dan becek juga lengket. Seluruh batang Aseng junior sukses terbenam dalam sampai mentok. Aida mendongak karena belum pernah merasakan liang kawinnya dijejali sampai mentok seperti ini. Tanpa bisa dicegah juga spermaku mengucur deras dari sela-sela liang kawinnya karena posisi WOT ini. Aida tak perduli dan mulai bergerak.

“Aashh…” desahnya ketika gerakan naik-turun pertamanya terjadi, ujung kepala Aseng junior-ku menggerus mulut rahimnya.

Enak sekaligus nyeri mungkin ngilu baginya. Kubantu rangsangan dengan meremas teteknya dan memilin pentilnya. Dicobanya bergerak lagi dan ia mendesah lagi. Alternatifnya ia bergerak maju mundur mengulek batang Aseng junior di liang kawin sempitnya.

Ini lebih masuk akal baginya dan ia mengulanginya kembali tanpa masalah. Ulekan Aida semakin menggila hingga ia sudah mirip joget dangdut fenomenal itu. Ngebor, boy!

Tak terperi yang kurasakan saat ini. Enak kali, boy! Melawan gerakan ngebor fenomenal itu, aku hanya bisa meremas merasakan kenyal kedua tetek Aida bersamaan. Gerakan Aida makin liar dan cepat. Putaran ngebor makin acak saja.

Kadang berputar searah jarum jam, sekali waktu melawan arah jarum jam, terkadang pula hanya maju mundur saja menggerus Aseng junior makin pening. Ia juga mendesah-desah keenakan seperti yang juga kurasakan. Kalau begini limit waktuku tidak akan bisa normal lagi. Padahal ini belum ada 10 menit Aida bergoyang.

“Akhh… Aahh… Akhh…” erang Aida menegang.

Kaki dan pahanya yang ada di samping perutku menggeletar seperti kesetrum. Tubuhnya luruh ke depan menerpaku. Untung tadi aku meremas teteknya hingga aku bisa menahan tubuhnya dari menimpaku tak terkendali. Kepalanya ada di samping leherku dan teteknya menekan dadaku. Liang kawinnya berkedut-kedut pertanda orgasmenya. Nafasnya terasa menerpa leherku keras hingga terasa hangat sekali.

Kuelus-elus punggungnya yang lembab oleh keringat.

“Lagi, bang…” katanya menyandarkan pipinya di dadaku dan aku menggerakkan pinggulku naik turun.

Aseng junior merangsek keluar masuk di liang kawin Aida yang becek. Kali ini aku yang mengatur temponya setelah tadi hampir jebol pertahananku karena gerakan ngebor yang dahsyat tadi. Untung Aida dapat duluan.

“Mmm… mmm…” gumam Aida merasakan lesakan Aseng juniorku yang perlahan teratur menggenjot liang kawinnya. Kuciumi ubun-ubunnya yang tepat di depan mataku.

“Cup…” dengan cepat dan tiba-tiba Aida mematuk bibirku dengan bibirnya lalu ia balik membaringkan pipinya ke dadaku lagi. Waduh!

“Eh! Aida curi-curi, ya?” kataku kaget lalu meremas kedua buah pantatnya gemas.

Ia terkikik geli karena ulahnya barusan. Kuremas-remas terus buah pantatnya dan Aseng junior terus menggenjot makin cepat. Aida meremas bisepku dan juga mengecupi kulit dadaku. Sekali waktu lidahnya terjulur dan menggelitiki putingku hingga aku bergidik geli.

Mengetahui aku kegelian, Aida terus menggelitiki puting dadaku dengan lidahnya. Terasa dingin dan geli abis dipermainkan Aida. Ia menemukan mainan baru.

Aku makin blingsatan geli di puting dadaku hingga gerakan genjotan Aseng junior jadi tidak teratur. Aku tak tahan dan berusaha bangkit menghindar. Dan duduk adalah salah satu pilihan hingga kini posisi aku memangku Aida.

Aseng junior tetap terendam dalam di dalam liang kawinnya dan posisinya lebih tinggi dariku jadi teteknya ada di depan mataku. Membalasnya adalah dengan mengulum puting teteknya sebagai ganti perlakuannya tadi. Ia mendesah-desah keenakan.

Diremas-remasnya rambutku dengan gemas. Ia menciumi rambutku dan memeluk kepalaku berkali-kali sementara ia bergerak naik-turun pelan hingga pertemuan kelamin kami tetap terpompa walau pelan. Kubantu menggerakkan tubuhnya juga.

Lalu mata kami bertemu sementara genjotan yang terjadi minimal sekali. Gerakannya sangat lembut dan syahdu sekali. Kaki Aida melingkar di pinggangku, tangannya melingkar di bahuku. Tanganku memeluk pinggangnya dan kaki melebar menahan tubuhnya.

Entah bagaimana mulanya kami malah saling mengulum bibir hanyut dalam suasana yang sangat indah sekali. Saling pagut dan kulum bibir yang kami lakukan. Lidah saling dihisap bergantian melakukan tukar menukar ludah yang terjadi berikutnya. Melupakan janji dan syarat…

“Ahh…” kami berdua mencapai puncak kenikmatan itu bersama-sama.

Spermaku menyemprot ke dalam liang kawinnya menambah becek. Hangat yang kami berdua rasakan dan kami berpelukan dalam rasa rindu yang sangat indah. Kami tak memperdulikan lagi apakah yang kami lakukan kali ini akan menghasilkan janin nantinya.

Kami hanya saling berpelukan dan saling mengulum bibir seperti rindu. Berguling-guling bergantian siapa yang berada di bagian atas memberikan ciuman terbaiknya.

Malam itu terakhir kalinya kami berkesempatan habiskan berdua karena kudengar kabar dari tetangga juga kalau Aida sedang tidak enak badan karena mual-mual dua minggu kemudian. Banyak yang memberi selamat padanya karena akhirnya ia berhasil juga hamil walau masih sangat dini sekali.

Katanya ia sudah tes pakai test-pack yang dibeli di apotik dan juga sudah periksa ke bidan. Hasilnya memang positif Aida hamil. Wah. Aku memang joss ternyata ya? Bisa langsung hamil beneran si Aida-nya.

Bagus, deh Aida hamil. Aku turut senang dan bahagia dengannya. Tapi aku mengekspresikannya biasa-biasa aja di depan orang-orang tetapi di dalam sini aku berteriak girang kalau itu anakku yang ada di dalam rahimnya.

Aku yang selama empat malam selalu menyiramkan bibitku ke dalam perut perempuan cantik dan seksi itu. Dalam empat malam aku berhasil menghamilinya sebagai ganti lakiknya yang gak becus melakukan tugas reproduksi itu.

“Akhirnya hamil juga ya Aida… Kasian udah lama ga punya anak… Akhirnya kesampean juga…” kataku berbincang sore itu dengan istriku yang sedang memakaikan baju pada Salwa yang bersiap untuk jalan-jalan sorenya keliling gang.

Tak kutemui Aida yang biasanya akan mencegat di depan rumahnya karena sedang berbaring terus di kamarnya karena sedang tidak fit kondisinya. BBM-ku juga tak dibalasnya yang mencoba menanyakan kabarnya. Sampe segitunya keadaannya.

Tapi memang begitu adanya. Namanya juga lagi berbadan dua. Selamat deh untuk Aida yang keinginannya terpenuhi. Semoga bisa menjaga anakku dengan baik ke depannya. Adik Salwa itu kan?

***

Setengah rumah di gang ini adalah rumah sewa dan setengahnya lagi rumah pribadi. Tepat di samping rumahku, ada dua pintu rumah yang disewakan. Beberapa hari lalu ada penyewa baru yang menempati salah satu rumah itu.

Penghuninya adalah sepasang suami istri dengan satu anak yang baru kelas 2 SD. Aku jarang sekali bertemu sang suami yang katanya semacam supir truk antar kota gitu. Yang kutau kalau umur keduanya itu lebih tua dari kami.

Awal-awal mereka tinggal di gang ini, hubungan mereka bertetangga masih biasa-biasa aja karena belum terlalu terbuka atau kurang supel gimana gitu karena bila sang istri yang lebih banyak di rumah sedang berbelanja hanya sekedar sapa saja dengan jiran tetangga.

Terutama dengan kami yang tepat di sebelah kiri rumahnya. Istriku juga tidak terlalu perduli dengan keberadaan keluarga itu karena ia sibuk dengan pekerjaannya yang sudah memakan waktu; mengurus rumah.

O-iya, perut Aida semakin lama semakin besar. Memasuki bulan ketiga ini sesekali ia kelihatan keluar rumah. Keadaannya masih kurang fit pasca hamil ini. Bawaannya masih sering lemas dan maunya tidur mulu. Ia hanya berbincang di depan rumahnya dengan tetangga yang menanyakan kabarnya.

Aku yang lewat menggendong Salwa pun hanya ngobrol sekenanya. Ia tak sanggup menggendong Salwa katanya. Maklum deh… Ada adik Salwa di dalam perutnya. Ia hanya bisa tersenyum lebar kalau kukatakan itu.

Mengingat hubungan 4 malam-ku dengan Aida, aku jadi kangen dengannya. Tapi apa daya karena keadaan Aida bahkan tak ada gairah untuk itu. Mungkin-mungkin juga lakiknya-pun tak dapat jatah beberapa bulan ini. Sementara aku sudah cukup dengan istriku saja.

Apa aku nyari sasaran baru aja? Di gang ini ada perempuan-perempuan lainnya yang belum kunjung dikaruniai anak walau sudah berumah tangga cukup lama. Lucu juga kalau Rio dan Salwa punya banyak saudara yang tak mereka ketahui. Hi-hi-hi. Gilak!

“Mei-Mei… Mau kemana, Mei-Mei?” tanya seorang perempuan yang punya warung di gang ini.

Katanya anakku mirip anak Cina sangking putihnya dan matanya agak sipit makanya dia manggil Salwa dengan sebutan Mei-Mei.

“Jalan-jalan bu Ipa…” jawabku mewakili anakku.

Namanya Iva. Dia masuk dalam golongan MILF di gang ini. Entah ini strategi dagang atau memang ia senangnya begitu, Iva ini sukanya berpakaian ketat-ketat atau pendek sehingga tubuhnya yang masih langsing ini terekspos setiap saat dan waktu.

Terkadang ia hanya memakai celana pendek dan kaus ketat kala menjaga warungnya. Lain waktu ia memakai long dress ketat yang mempertontonkan lekuk tubuh aduhai. Kurang hot? Pakai kaos tanpa lengan dan celana legging ketat.

Tubuh langsingnya ini tentu saja jadi makanan setiap mata laki-laki karena ia belum pernah turun mesin walau anaknya satu. Ya, itu bukan anak kandungnya. Anak angkat karena ia tak kunjung beranak walau sudah 7 tahun menikah. Anaknya masih berumur 3 tahun dan sering bermain di warungnya itu.

Jadi tetek mancung, lengan mulus, dan kaki jenjangnya adalah pemandangan ekstra di warung ini. Banyak yang beli jadinya, ya beli rokok-kaum adam tentunya. Atau beli benda remeh sekadarnya untuk cuci mata. Para lelaki jadi rajin berbelanja di sana. Apalagi ia orangnya memang ramah.

“Mei-Mei cepat gede yaa… Nanti beli jajan di tempat ibu…” katanya tersenyum lebar.

Adem ngeliat casing perempuan cantik begini. Anak sulungku sering beli jajanan di warungnya ini. Aku juga yang termasuk sering cuci mata disini dengan alasan beli jajanan Rio. Lanjut lagi Salwa jalan-jalan lagi keliling lingkungannya ini. Sapaan-sapaan lain terus berulang sampai di tengah gang.

Salwa sangat senang berada di sekitar rumah dipertengahan gang ini karena terdengar bunyi-bunyi burung yang bersahut-sahutan. Ada dua rumah di sini yang memelihara burung. Kedua rumah itu berhadapan dan menggantung kandang burungnya di depan rumah. Selaksa konser beberapa ekor burung saling pamer kebolehan meneriakkan suara indahnya.

Anak bayiku yang semakin berkembang besar menggapai-gapai senang pada burung-burung berisik itu. Ada love bird, murai, kacer dan beberapa yang tak kutau jenis apa. Mereka seperti tak peduli dengan suara mobil yang sedang dipanaskan di garasi rumah itu. Terus saja berkicau dengan girangnya. Aku harus menepi dengan Salwa karena mobil itu mundur keluar. Aku menyapa pengemudinya sebentar dan ia lanjut jalan.

“Eh, ada Salwa…” sapa polda rumah tipe minimalis ini.

Fitri namanya, panggilannya Pipit. MILF lainnya di gang ini. Ia tak kalah seksi dengan Iva di warung tadi. Seragam sehari-harinya adalah kaos ketat pendek dan celana ketat. Rambutnya dicat kemerahan kadang pirang. Lain kesempatan baru kutahu karena untuk menutupi rambutnya yang mulai ditumbuhi uban. Tapi ia jarang-jarang keluar rumah. Lebih sering ngadem di rumah saja.

“Belum pergi kerja, bang?” sapanya. Jarang-jarang kami ngobrol karena ia jarang keliatan.

“Belum, Pit… Bentar lagi… Dekat aja jadi gak usah buru-buru…” jawabku.

“Iya… Bang Imran harus pergi pagi supaya gak kena macet di kota…” katanya tentang suaminya yang baru berangkat tadi. “Udah berapa bulan ini Salwa, bang?” tanyanya mengalihkan pembicaraan.

“Minggu depan sembilan bulan… Baru mulai belajar merangkak…” jawabku sambil mengayun-ayun Salwa.

Padahal mataku sekali-kali melirik gundukan besar di tubuh langsing perempuan di depanku ini. Menurut berita yang beredar di kalangan mamak-mamak dan disampaikan lewat istriku kalau Pipit ini sudah menikah dua kali.

Pada pernikahan pertamanya dulu di Jawa sempat hamil tapi keguguran, bercerai lalu hijrah kemari untuk bekerja dan menikah lagi dengan suaminya yang sekarang. Sakit cukup parah dan berhenti bekerja sampai sekarang. Dan poin utamanya belum hamil lagi sampai sekarang.

“Lucu ya, Salwa… Cepat gede ya…” katanya mengelus pipinya.

Tangan yang menjulur ke arah kami itu putih dan mulus sekali. Rambut kemerahan di kepalanya sangat pas dengan warna kulitnya yang putih. Membuatnya semakin bersinar cerah. Padahal perempuan ini belum mandi loh. Aku tau dia belum mandi karena ada belek di kedua matanya yang mungkin lupa dibersihkan.

Pastinya karena tidak ada anak kecil di rumah, istana kecil ini pasti sepi dan santai. Ia hanya perlu menyiapkan sarapan dan pakaian suaminya untuk pergi bekerja. Sisa pekerjaan rumah lainnya bisa menanti kapan mau.

“Da-dah bu Pipit… Salwa mau jalan-jalan lagi…”

Sesudah merasakan hangatnya Aida, pikiranku jadi nakal sekali. Setiap perempuan dalam kriteria MILF menjadi target khayalanku. Untungnya tidak ada tipe-tipe nekat dan berani seperti Aida waktu itu lagi. Ia terang-terangan minta dihamilin hanya karena sering memimpikan bercinta denganku dan punya anak dariku. Ia yakin dengan mimpi itu. Kami jalanin dan malah berhasil hamil dianya.

Kembali ke rumah, mamanya Salwa sedang menjemur pakaian yang ada di halaman depan dan ngobrol dengan seseorang. Rio sedang mengikat sesuatu di sepedanya, seutas tali yang disambung ke mobil-mobilannya. Istriku rupanya sedang ngobrol dengan tetangga baru itu.

Walaupun sudah berumur yang kutaksir sekitar 35-40, perempuan itu masih cantik dengan tubuh semoknya. Apalagi kedua bemper depan-belakangnya sungguh aduhai besar. Kulitnya putih dan tingginya sedikit dibawah istriku. Giginya ada dua gingsul di kiri-kanan sehingga kalau berbicara terlihat manis karena seperti tersenyum karena tepi mulutnya tertarik ke atas selalu. Sepertinya ia habis mengantar anaknya sekolah.

Salwa rewel karena haus makanya kudekati istriku untuk mengatasinya. “Ma… Salwa nih… Minta nenen…” kataku mengangsurkan bayi kami.

“Ini yang kedua?” tanya perempuan bernama Yuli ini tentang Salwa.

“Iya, bu… Entar lagi sembilan bulan…” jawab istriku menyambut Salwa dan menyiapkan ASI-nya. Sementara ember jemuran pakaiannya masih berisi banyak. Karena sungkan meninggalkan teman ngobrolnya tadi, istriku menyusui Salwa sambil berdiri. Aku melipir mendekati Rio yang tak jauh dari mereka. Menemaninya bermain di halaman luas kami ini.

Dari sekian banyak yang mereka obrolkan, ngalor-ngidul kesana-kemari, yang kutangkap dari nguping (gak sengaja nguping) pembicaraan mereka adalah kalau perempuan ini sudah menikah tiga kali. Wow. Dia sudah merasakan tiga batang junior laki-laki secara sah kalau begitu.

Anak perempuan yang sekarang sudah kelas 2 SD itu adalah anak bawaan dari suami pertamanya yang meninggal yang artinya juga bukan anak kandungnya sendiri. Dari suami kedua tak juga mendapat anak dan suami yang ketiga ini baru berlangsung setahun kurang saja. Suaminya sepuluh tahun lebih tua darinya dan dia adalah istri kedua. Rumit yah?

Pasca obrolan pagi itu, tetangga kami yang bernama bu Yuli itu semakin akrab dengan istriku. Terkadang sore-sore ia suka duduk-duduk di teras rumahku berbincang bersama kami setelah selesai dengan tugas rumahannya. Ia suka memakai daster tanpa lengan dengan corak bunga-bunga.

Kalau kamu pada ngerti daster tanpa lengan itu gimana pasti pada tau kalau coakan lubang tangan itu lebar ampun kali. Sampe bisa liat kulit tubuh samping dan tali beha yang membalut tubuh gitu, kan? Jadi ketiak dan tali behanya adalah pemandangan wajib. Fardhu Ain! Hi-hi-hi.

Seperti sore ini, pulang kerja, bu Yuli sudah bertandang di teras rumahku, duduk di kursi bersama istriku yang sedang menyisir rambut Salwa. Rio dan anaknya sedang bermain engklek di halaman. Mimi namanya, mengajari Rio bermain engklek.

Ngobrol-ngobrol dengan istriku dengan gerakan-gerakan tangan yang sedang menunjukkan arah membuatku bisa melihat ketiak mulus di balik lengan gempal putihnya. Lalu tali beha-nya yang berwarna hitam sangat kontras dengan kulit putih tubuhnya. Wah…

Mandi sore dan ganti baju, aku baru keluar lagi dengan rutinitas soreku bersama Salwa. Bu Yuli masih duduk di teras dengan istriku. Aku duduk sebentar menemani mereka karena Salwa belum selesai didandani. “Abang belum pulang, bu Yuli?” tanyaku tentang suaminya.

“Dia pulangnya kalok gak Sabtu… ya Minggu… Gitulah kalau supir truk antar kota…” jawabnya.

“Oh… Jadi pulangnya seminggu sekali gitu, bu?” pahamku. Truk yang dibawanya adalah truk sembako. Jadi seminggu itu dia bisa keliling provinsi ini bahkan sampai keluar provinsi.

“Sampe kurang jatah jadinya…” sindir istriku lalu tertawa-tawa bersama bu Yuli.

Entah udah apa saja yang mereka gosipkan sampe dia gak sungkan bercanda seperti itu. Kek udah kenal lama jadinya sampe bercanda hal sensitif begitu. Mungkin karena sebenarnya istriku supel atau malah bu Yuli yang suka curhat sampe masalah ranjangpun dia beberkan.

“Ih… Kering-la pokoknya…” sambut bu Yuli tertawa-tawa menyambutnya. Hedeeh.

Skip-skip

Kunci kelanggengan rumah tangga adalah komunikasi. Komunikasi yang lancar itu berbanding lurus dengan lancarnya pemasukan dan pengeluaran. Komunikasi terbaik dilakukan setelah seks.

Jadi abis ngos-ngosan abis ngegenjot dan ngecrot, jangan langsung tidur. Belai-belai istri dulu, cium-cium kecil, ajak ngobrol pasti deh komunikasi mudah terjalin dan kalau ada masalah akan dapat solusi yang tepat karena akan lebih plong. Lah, abis ngecrot kan? Jadi jujur.

Istriku curhat tentang kesehariannya ngurus anak dan rumah. Tentang harga-harga yang bertambah mahal. Gaji naik cuma dua ratus ribu, harga-harga naiknya sampai delapan ratus ribu. Namanya juga curhat.

Tentang gosip-gosip yang santer di infotainment sampai yang lokal di seputaran gang aja. Dari si anu yang saudaranya beli mobil baru sampai si fulan yang keponakannya ketangkap nyabu. Bu Parmi yang akan berangkat umrah sampai Pak Suwito yang jual ruko dengan harga murah. Lalu tentang tetangga, bu Yuli itu juga mengalir kek air keran.

“Jadi lakik baru bu Yuli itu dari istri pertamanya pun gak bisa punya anak… Dia ngarepnya dari bu Yuli bisa dapat anak kan… udah ada si Mimi itu… Gak taunya si Mimi itu bukan anak kandungnya bu Yuli… Cuma anak bawaan dari suami pertamanya yang duda… Nah entah lakik ketiganya ini yang mandul atau bu Yuli yang mandul-pun gak tau…” cerita istriku ember.

“Yang ngejodohi bu Yuli sama lakik ketiganya ini rupanya istri pertamanya itu… Rupanya keluarga lakiknya kaya raya di kampungnya sana… Bapak-mamaknya masih hidup sampe sekarang… Karena dia anak tunggal kalo dia bisa punya anak… dikasih dia semua harta yang di kampung itu…” sambung istriku.

“Kek sinetron kurasa ceritanya…” komentarku.

“Itulah… Cemana orang mau percaya kalau keluarga lakiknya orang kaya di kampung sana kalok di sinipun mereka nyewa rumah… Trus lakiknya kerja jadi supir truk…” sambut istriku rupanya tak terlalu termakan cerita yang mirip bualan.

“Ya-udah… Hati-hati ajalah… Biasanya kalo dah kek gitu… ujung-ujungnya nanti mau minjam duit-nya itu…” kataku malah suudzon.

Tapi ini hanya pembicaraanku dengan istriku untuk mewanti-wantinya agar tau batasan bergaul dengan orang baru dikenal. Apalagi ekonomi memang lagi sulit jadi apapun bisa dilakukan dan bisa terjadi.

***

“Bu Ipa?” panggilku pada pemilik warung/kede.

Di Medan sini warung disebut kede. Jadi kede Iva ini hanya warung kecil yang jual rokok, jajanan anak, gula, kopi sampai pulsa. Jadi sore ini aku mau beli pulsa di kede si bu Iva ini. Lumayanlah dari pada harus keluar dari gang dan beli di counter, bisa cuci mata ngeliatin pameran Iva yang suka berpakaian ngepas. Salwa masih menyusu sama mamanya. Nah itu dia si Iva keluar.

Iva muncul di kede yang menyatu dengan rumahnya. Ia tampak segar karena baru mandi. Rambutnya digelung dengan penjepit dan masih tanpa polesan make-up sedikitpun sehingga tampak sangat alami cantiknya. Harum sabunnya tercium wangi sampai ke hidungku.

Senyumnya mengalahkan penampilannya yang memakai baju model baby doll imut. Pakaian tak berlengan berwarna putih bergambar hati tulisan HEART besar sebatas sampai di atas lutut sungguh pas dipakainya. Megang baju itu tanpa dipakai kita udah mikir yang macem-macem apalagi dipakai oleh tubuh seseksi Iva ini. Meleleh abang, dek… Enak kali-lah jadi lakikmu. Tiap hari bisa menjamah tubuh itu.

“Beli pulsa, Pa…” kataku padanya.

“Yang berapa, bang?” tanyanya menyiapkan HP-nya untuk mengirim pulsa pesananku.

“Yang limpul, Pa…” jawabku menyebutkan pesanan pulsaku. (limpul: lima puluh, lima puluh ribu) “Nomornya…” lanjutku menyebutkan nomor HP-ku sebagai tujuan kiriman pulsanya. Ia mengkonfirmasi nomor tadi dengan mengulangnya.

“Untuk maen internet, bang?” tanyanya selagi menunggu pulsaku nyantol ke HP-ku. Pulsaku masih melayang di awang-awang.

“Iya… Maen fesbuk… BBM-an… Baca berita… Yang gitu-gitu…” jawabku masih menunggu getaran SMS masuk di HP-ku sambilku memandangi casing Iva yang rupawan. Entah ngences entah nggak aku itu.

“Pin abang berapa? Nanti kalok abang mau beli pulsa lagi… biar tinggal awak kirim aja…” tawarnya. Ia menyiapkan sesuatu kemungkinan ia mau ngescan barcode gitu dari HP BB-nya. Benar juga. Kuizinkan ia ngescan pin BB-ku. Tak lama masuk notifikasi kalau pulsa tadi sudah masuk dan kubayar sesuai tarifnya.

“Fesbuk abang apa namanya?” tanya Iva lagi selagi ia mengumpulkan uang untuk kembalian pulsaku tadi.

“Fesbuk mamanya Salwa yang ada…” kusebutkan nama fesbuk-nya dan ia sibuk mencari di browser HP-nya. Padahal aku juga punya akun fesbuk sendiri tapi segan kuberitau dia. Aku sedang menikmati pemandangan lengannya yang terbuka. Sedikit lipatan ketiaknya kemudian menjadi fokusku.

“Yang ini, bang?” tunjuknya pada layar HP-nya. Foto profilnya adalah Rio tertawa sedang memeluk Salwa yang masih bayi kecil.

“Iya… Yang itu…” jawabku sekenanya karena aku sedang menjilati kaki mulusnya dengan mataku. Kakinya mulus tanpa cacat. Enaknya jadi lakikmu, Va. Lamunku entah melayang kemana-mana.

***

Loh? Sepi? Biasanya dua rumah ini ramai dengan suara burung sahut-sahutan.

Klek! Panjang umur. Yang punya rumah keluar.

“Kemana semua burungnya, Pit? Kok sepi kali?” tanyaku sambil masih maen HP membalas pesan temanku.

Ia melongok ke arah atas atap teras dimana 3 kandang burung biasa bertengger.

“Iya-yah… Waduh! Ilang!” serunya kaget sendiri.

Benaran ilang. Tak ada burung di dalam ketiga kandang itu. Begitu juga dengan dua kandang di rumah seberang.

Heboh langsung jadinya gang ini dengan kabar pencurian burung. Sekali embat sang maling menggondol 5 ekor burung yang berharga cukup lumayan. Menjelang sore tadi memang gang ini lumayan sepi karena para penghuninya kebanyakan berada di dalam rumah atau belum pulang kerja.

Jadi kemungkinannya dimaling sekitar jam 3-4 sore. Pipit yang biasa ngendon di dalam rumah tidak tau keadaan diluar apalagi pemilik rumah di seberang itu tidak ada di rumah. Sasaran empuk memang.

Kalau dihitung kasar aja, 3 burung milik suami Pipit sudah 5 jutaan kala itu. Ditambah lagi dua burung milik rumah di seberangnya. 7 jutaan raib tak berbekas.

Yang paling menyesal tentu saja Pipit karena dia ada di rumah seharian tapi tidak bisa menjaga burung peliharaan suaminya. Gimana mau menjaga burung yang masih tersisa di antara dua kaki suaminya. Enggak! Yang terakhir itu ngawur. Betul-loh. Itu pande-pande-ku aja.

Ada tetangga yang ngotot mengajak suami-istri malang itu untuk ke orang pintar untuk melacak keberadaan si pencuri burung laknat dan rakus itu. Kangkung-Genjer-Kangkung-Genjer. Lah aku malah ketiban apes juga dilibatkan karena sebagai orang pertama yang mengetahui hilangnya 5 burung tersebut. Apes.

Pipit dan suaminya beserta pemilik 2 burung tadi sebenarnya sudah pasrah saja kehilangan burung-burung tadi, tak taunya mereka malah terpengaruh dan setuju ke orang pintar yang sudah digembar-gemborkan kesaktiannya. Orang itu entah marketing si dukun atau anak dukun itu? Entah.

***

“Wes hewes-hewes. Bablas angine!” selesai sang dukun yang katanya sakti mandraguna dengan mantra ampuhnya.

Ia sudah membakar kemenyan di bokor tanah liat dengan arang yang masih membara. Ada kain hitam yang jadi alas bokor menyan, berlapis dengan ulos, batik, sarung cap gajah bengkak dan entah kain apa lagi yang dijadikannya alas. Ini dukun apa merangkap jualan kain?

Kami ada di daerah Kampung Bahari di Belawan. Malam-malam kami sampai ke sana dipandu oleh pak Jumadi, marketing dukun tadi dengan menumpang mobil milik Imran, suami Pipit. Kami hanya berempat yang pergi ke rumah dukun ini. Aku, pak Jumadi, Pipit dan suaminya.

Tempatnya jaooh kali, mak! Gak mau aku datang kemari lagi. Bukan jauh dari Mabar ke Belawannya. Gak bisa masuk mobilnya, cuy. Mobil hanya bisa diparkir di depan gang dan selebihnya kami berjalan kaki.

Jalan kaki melewati gang-gang kecil dan sempit yang cuma bisa dilewati satu kereta/motor. Bau dan kotor khas daerah tepi laut. Melewati banyak jemuran ikan asin, genangan air pasang dengan banyak sampah. Lengkap sudah. Udah itu sampe di dukunnya-dukun sok sakti pulak. Hadeeh.

“Ini belom jauh barangnya (burungnya) nih… Masih dekat disimpannya barang ini… Masih menunggu kesempatan dipindahkannya…” teori sang dukun sambil memelototi telur ayam kampung yang sudah dipecahkannya.

Kuning telur itu berubah merah seperti darah. Telur ayam kampung itu kami yang bawa sendiri berjumlah 5 buah. Bagaimana mungkin bisa jadi merah?

“Mbah? Bisa gak diputar giling aja malingnya ini… Supaya bingung dia…” usul pak Jumadi.

Pipit dan suaminya liat-liatan seperti terkesan dengan kesaktian sang dukun yang meyakinkan. Sang dukun sedikit komat-kamit dengan mantranya. Paling dia baca doa makan sama doa masuk WC diulang-ulang.

Sang dukun ini belum terlalu tua tapi sudah dipanggil mbah. Paling-paling masih 50-an tahun saja. Rambut dan jenggot serta kumisnya masih hitam semua belum ada uban sudah mau dipanggil mbah. Mbah gundulmu!

“Bisa-bisa… Mudah itu… Kita matikan-pun dia bisa…” kata dukun itu manggut-manggut mengacak-acak kuning telur merah itu dengan ujung jarinya.

“Jangan sampe mati-la, mbah…” potong Imran kaget. Masak gara-gara maling burung aja sampe mati. Kalau burungnya yang satu lagi yang dimaling mungkin dia setuju.

“Biar aja mati, bang… Enak aja dia maling-maling…” Pipit malah setuju kalau sang maling dibuat mati saja. Wah! Pipit ternyata temperamen tinggi juga. Kesal kali mungkin dia karena sudah maling burung di rumahnya. Sementara dia ada di TKP saat itu sedang nonton TV.

“Gini aja… Mbah akan pakai Aji Putar Giling… Mbah akan usahakan untuk membuatnya mengembalikan semua barang yang sudah diambilnya… Sukmanya akan kebingungan dan mengembalikan barang itu… Tunggu saja dua tiga hari ini…” katanya menutup sesi konsultasi. Karena masih banyak pasien lain yang sudah menunggu di luar sana. Kami aja tadi ngantri juga kok.

Kami harus berjalan kaki lagi untuk mencapai mobil Imran yang diparkir jauh disana. Melewati semua kekumuhan tadi kembali. Pipit yang paling menderita karena ia harus menutupi hidung dan mulutnya dengan sapu tangan yang sudah ditetesi minyak kayu putih. Berkali-kali ia akan muntah tapi tak jadi keluar mencium aroma aneh lingkungan ini.

“Kenak berapa tadi?” tanyaku pelan dengan merapat pada Imran.

“Kata pak Jumadi seiklasnya… Jadi kukasih cepek aja…” bisik Imran. Yah… Udah burung ilang 5 juta, koyak lagi cepek. Apes-apes. Kujamin tak balik burungnya yang ilang. Malah tambah rugi pulak lagi.

Sampai di mobil kami harus berhenti sebentar karena Imran dan pak Jumadi harus membeli bunga sajen sama rokok. Rokok sebenarnya bagian untuk pak Jumadi yang asem belum ngebul dari tadi.

Pipit yang masih mual minta menunggu saja di tepi jalan karena bau AC mobil tambah membuatnya mual. Aku menemaninya sementara mereka berkendara mencari bunga. Kata pak Jumadi ada yang berjualan bunga 24 jam di sekitaran Belawan.

“Masih kesal, Pit?” tanyaku agar saat menunggu tak begitu terasa.

“Iya, bang… Kesel banget-banget aku… Bisa-bisanya Pipit di dalam rumah… burung bisa dicolong… Kebangetan banget tuh maling… Mending dimatiin aja sekalian sama mbah itu…” katanya sembari duduk ditepi trotoar karena masih mual perutnya.

Ini lakiknya paok atau bego ya? Binik cantik semlohay begini ditinggal begitu aja ditepi jalan. Untung masih aku jagain. Digondol maling lagi tau rasa tuh orang. Lebih baik aku aja yang gondol…

“Gak baik-loh, Pit ke dukun-dukun gituh… Abang sebenarnya gak mau ke dukun kek gini… Banyakan gak bagusnya…” kataku beneran. Ini informasi standar. Di semua agama, percaya pada dukun itu sama dengan menduakan Tuhan. Akur?

“Biarlah, bang… Kesel banget aku… Udah kepalang tanggung… Sekalian nyebur aja… Berdosa-berdosa-lah” katanya cukup mengejutkanku. Ternyata Pipit ini termasuk perempuan pemberani. Ia bahkan tak takut akan dosa. Mungkin masa lalunya cukup kelam.

“Sori nih, Pit… Abang gak bermaksud ngorek-ngorek nih… Ada banyak masalah di rumah tangga kalian kan? Pipit juga punya banyak masalah… Masa lalu pastinya…” kataku mulai menjalarkan racunku. Ada jalan nih. Kesempatan emas.

Ia melirikku sebentar lalu terdiam menatap aspal di depannya. Coba dengan cara ini…

“Itu tadi dukun penipu… Kalian jangan asal percaya dengannya. Terutama kau Pit… Dia hanya tau sedikit ilmu saja udah berani buka praktek…” kataku.

“Pak Jumadi mengarahkan kita ke dukun ini karena dia itu saudaranya… Yang ngambil semua burung itu anaknya Pak Jumadi… Jadi sampe kapanpun burung itu gak akan ketemu kalau pake arahan dukun tadi… Datangi aja rumah anaknya yang di gang XXX… pasti burung kalian semua ada di sana…” kataku membeberkannya.

Kaget Pipit mendengar penuturanku barusan. Pasti dia heran darimana aku tau semua itu. Aku berpesan kepadanya untuk hanya menyampaikan ini pada suaminya nanti kalau mereka sudah tinggal berdua saja. Dan satu pesan terakhirku, “Kalau gak takut dosa… Ada jalan untuk masalahmu, Pit…” kuberikan secarik kertas padanya.

Bersamaan, mobil Imran merapat untuk menjemput kami dan beranjak pulang ke Mabar. Lewat tol biar cepat.

Keesokan harinya, kelima ekor burung itu sudah kembali berkicau seperti biasa di kandangnya. Yah benar. Semua sudah kembali. Hebat, kan?

Ppt: Makasih ya bg Aseng

Aseng: Sm-sm pit cm nolong aj

Benar lagi. Kertas yang kuberi pada Pipit itu pin BB-ku untuk menghubungiku kalau perlu arahan lebih lanjut. Dan benar saja tengah malam ia nge-ping BB-ku. Ternyata-eh-ternyata, setelah sampai di rumah, Pipit cerita pada suaminya kalau ia dapat penerawangan entah dari mana kalau ia tau siapa pelaku maling burung itu sebenarnya.

Langsung mereka mendatangi rumah anak pak Jumadi yang kelang dua gang dari sini. Dari luar rumah saja sudah terdengar suara burung sahut bersahut bising yang dikenali Imran sebagai burung piaraannya.

Dengan tanpa membuat keributan, mereka bertamu ke rumah yang memang pecinta burung itu dan mengklaim semua burung yang sudah dimaling itu. Gak bisa berkutik dan bermaksud damai, burung-burung itu kembali berpindah tangan ke pemilik aslinya. Kasus selesai.

Pak Jumadi gak keliatan batang idungnya selama beberapa hari setelah kejadian itu dari lingkungan ini. Kalo istilah orang sini, sporing alias melarikan diri sementara. Dia punya beberapa anak, kemungkinan ia sporing ke tempat anaknya yang lain.

Sore pulang kerja, di meja makan ada satu kotak bolu gulung Meranti yang terkenal enak seantero Medan. Kata istriku pemberian dari Pipit dan suaminya sebagai ucapan terima kasih. Istriku pahamnya kalo ini ucapan terima kasih karena sudah menemani mereka pergi ke dukun di Belawan itu seperti yang kebanyakan orang tau. Padahal cerita aslinya tidak sesimpel itu. Cukup kami aja yang tau.

Ppt: jd sebenarnya bg Aseng bisa yg gitu2 jg?

Aseng: gitu2 gimana?

Ppt: Gitu2 pinter gitu

Aseng: dikit

Pembicaraan kami berlanjut online lewat BBM. Aku curi-curi waktu di saat setelah makan siang karena kerjaan lebih kendor saat itu.

Ppt: jd utk mslh Pipit bisa?

Aseng: apa mslh y? yg blm pny anak?

Ppt: itu yg utama ap krn Pipit byk dosa?

Aseng: merasa bdosa gk

Panjang lebar ternyata pembicaraan kami lewat chatting itu. Dia bisa lebih supel dan terbuka kalau berbincang tidak secara langsung begini dan mencurahkan semua uneg-uneg yang dipendamnya selama ini. Ada begitu banyak masalah terjadi di hidupnya.

Ia terlihat seperti perempuan biasa aja yang adem ayem saja dengan kesehariannya ternyata di balik itu semua ia punya segudang masalah. Kutenggarai kalau masalah-masalah hidupnya ini mengkristal dan menggerogoti kesehatannya sendiri diam-diam.

Pertama; hubungannya dengan keluarganya tidak harmonis. Sudah bertahun-tahun ia tidak pernah berhubungan dengan ibu-bapaknya yang ada di Semarang. Apalagi dengan sanak-saudaranya. Itu dimulai dari kehidupan liarnya ketika remaja dengan pacar-pacarnya. Video mesumnya pernah sempat beredar saat SMA yang disebar oleh mantan sakit hati.

Agak mereda sebentar hingga tamat SMA. Berlanjut lagi hingga kembali menggila hingga hamil entah dengan siapa, pacar yang mana. Ia sampai harus melakukan siasat licik dengan menjebak satu pacar yang kehidupan ekonominya lumayan untuk menikahinya.

Menikah tetapi keguguran di bulan kelima. Merasa lepas dari tanggung jawab, sang suami menceraikannya. Malu, Pipit melarikan diri hingga sampai ke Sumatera sini. Sempat bekerja dan menikah lagi dengan Imran; suami keduanya saat ini. Detail kebinalannya selama itu tidak perlu kuceritakan tentunya.

Selama chatting dengannya, aku juga sempat mencari video yang viral bertahun-tahun lalu itu. Pernah dengar tapi tak sempat mencari video pemersatu rakyat Indonesia itu. Ubek-ubek internet malah nemunya di Por**ub.

Emang oke punya Pipit waktu masih muda. Goyangannya sudah seperti profesional, emutannya yahud ditambah tampangnya memang sangat mendukung. Itu waktu remaja sudah begitu, tambah lagi sekarang. Lebih semok dengan ukuran dada yang semakin besar.

Kutanya apa Imran tau tentang masa lalunya yang begitu kelam? Jawabnya tidak. Ia tidak menceritakan detail sampai jelas. Hanya cerita pernah ML sama pacar beberapa kali, wajar. Itu kasus biasa. Apalagi statusnya memang janda yang pernah hamil tapi keguguran.

Selama pacaran dengan Imran mereka juga sudah sering ML dan akhirnya menikah walau belum berhasil hamil sampai sekarang. Aku juga menanyakan proses nikahnya dengan Imran karena sudah pasti ia tidak punya wali yang bisa menikahkannya. Ia tidak punya sanak saudara satupun di Medan sini. Ternyata pakai wali wakil saja bisa oleh KUA. Aku gak begitu paham.

Ppt: gmna bang?

Aseng: satu-satu selesaikan masalah Pipit. PERTAMA minta maaf sm bpk ibu di kampung. Telepon mereka sekarang juga. Nnt kita ngobrol lg. bisa?

Saat bekerja meng-input data dan memeriksa kerjaan bawahan, aku berkali-kali berfikir cara membereskan masalah Pipit ini. Aku sampai harus membuat coretan di kertas tentang langkah-langkah yang harus dilakukan beserta analisa rencana B atau C kalau rencana awal tak berhasil. Perempuan itu punya terlalu banyak masalah pelik di hidupnya yang harus dibenahi satu persatu.

Ih. Kok jadi peduli kali aku sama masalah Pipit? Padahal niat awalnya cuma pengen iseng-iseng menitipkan benihku pada perempuan yang tak kunjung hamil itu. Pernah berhasil dengan Aida membuatku ingin beralih pada Pipit juga. Trus nanti yang lain juga. Gitu? Coretanku di kertas sudah kek benang kusut.

***

Aseng: bu Iva. Beli pulsa lg 50K

Iva: yg kemaren dah abis?

Cepat juga ia membalas pesanku. Padahal ini udah jam 11 malam loh. Fast respond juga penjual pulsa ini.

Aseng: iya bu Iva. bisa bu?

Iva: bentar lg sampe tuh. 😉

Aseng: belom tidur bu? (iseng-iseng ngajak ngobrol)

Iva: belom. kiki lg demam jd rewel

Aseng: oh. sori bu ganggu sy y

Iva: gk la ini kiki lg tidur kok

Aseng: toni mana?

Iva: k t4 mamak sakit jg

Aseng: kambuh lg

Iva: biasa d

Jadi yang sakit ini adalah ibunya Iva. Toni yang sebagai menantu yang malah sering mengurus mertuanya. Ibunya Iva sempat tinggal bersama mereka sejak ayahnya meninggal tapi karena ada sedikit masalah dengan tetangga, akhirnya ibunya ini sekarang tinggal dengan adiknya Iva. Tak jauh.

Sakit yang diderita ibu Iva cukup kompleks. Penyakit jantung komplikasi sama kesurupan. Nah loh? Dan Toni-lah yang kebagian tugas membawakan dukun langganan mereka untuk mengatasi kesurupan rutin ibunya seperti malam ini.

Sering kali-lah kudengar orang pergi ke dukun? Cam gak ada solusi laen selain ke dukun. Capek-capek dokter itu belajar tahunan plus spesialis lagi. Ujung-ujungnya ke dukun juga orang ini. Paok kali kurasa.

Aseng: da sampe bu pulsa y

Iva: abisnya chatting ato nyari bokep

Aseng: bokep? gak la ngapain bokep

Iva: cepat x abis kuota y

Aseng: bisnis bu banyak x urusanku

Iva: bisnis tuyul seken (bekas)

Aseng: WKWKWK

Jadi panjang obrolan kami malam itu. Untunglah ada teman chatting malam-malam begini karena yang dulu (Aida) sudah gak pernah lagi atau gak sanggup dia karena masalah kesehatannya. Pipit juga belum kunjung menghubungi lagi. Jadinya modusin si Iva ini-lah.

Iva yang supel dan enak diajak ngobrol cukup ngocol kalau diajak bercanda. Ia mengirim foto-foto lucu yang kerap beredar dengan tulisan yang dari dulu sampe sekarang lazim dipakai sebagai meme. Aku balas juga dengan gambar-gambar lucu lainnya. Jadinya malam itu kami perang gambar.

Saling berbalas gambar, terkadang ada gambar yang menjurus-jurus ke porno dikit juga. Wajar-lah, sudah pada dewasa ini.

Kupancing dia dengan minta foto cantiknya dengan mengirim fotoku yang berlagak alay. Gak pake lama ia segera membanjiriku dengan foto-foto selfie dan foto full body juga. Di atas tadi sudah diceritain tentang Iva kan tentang bodi dan cara berpakaiannya? Indah-indah semua fotonya.

Ada foto yang menonjolkan belahan dada. Foto yang menonjolkan kemulusan kaki jenjang. Foto yang menonjolkan kemolekan sekal bokongnya. Banyak foto cantik wajahnya. Cuma semua masih berpakaian lengkap sih. Aku jadi muas-muasin mata dengan memelototi koleksi fotonya. Cantik dan seksi abis. Keknya Iva suka pamer nih. Moga-moga eksibis? Ngarep.

Aseng: cantik-cantik bu aku smp ngences liat y. sempat jd model ya?

Iva: model kaos kaki. WKWK

Aseng: bener loh bu cantik semua loh ini jd model cocok loh bu kek masih gadis

Iva: mmg masih gadis yee…

Aseng: org gk percaya klo dibilang emak-emak kalo begini mah

Iva: iya sering loh kiki dikira ponakanq

Aseng: pusing nih bu liat semua

Iva: pusing yg atas ato bawah

Aseng: atas bawah bu suwer kewer kewer

Iva: sukurin

Aseng: gimana ni bu? bu Iva sih

Iva: kan ada yg di kamar

Aseng: lg palang merah bu (padahal enggak)

Iva: sabun ada? WKWKWK

Aseng: sabun mana sabun

Bertambah satu lagi bahan khayalanku. Setelah Aida, kemudian Pipit dan kini Iva masuk dengan pesonanya. Cenat-cenut Aseng junior membayangkan menikmati dua perempuan itu.

***

“Papa Rio?” tegur seseorang di depan gang.

“Eh. Bu Yuli… Mau kemana bu?” kataku saat akan berangkat kerja dengan motor kesayangan.

“Mau ke ATM… Boleh numpang gak?” pintanya.

“ATM bank apa?” tanyaku lagi. Di depan bundaran pintu masuk Kawasan Industri tempatku bekerja ada banyak jejeran ATM dari beberapa bank. Mungkin salah satunya kupikir. Lumayan bantu-bantu tetangga. Dia menyebutkan satu nama bank yang ada. Angkut deh.

Mabar di waktu berangkat sekolah dan kerja tentu ramai seperti di daerah lainnya. Angkot, kendaraan pribadi, motor ditambah lagi kendaraan berat. Penuh tumpek-blek jadi satu memenuhi jalan. Aku tentu harus konsentrasi penuh mengendarai motor jangan sampai terjadi lakalantas. Tarik gas-rem-masuk gigi-turun gigi-rem lagi-gas terus rem.

Nyot!

Nyot-nyot!

Tiga kali daging empuk berukuran besar itu nemplok di punggungku yang walau berlapis jaket, terasa sekali kenyalnya. Tiba-tiba kek ada spotlight terang dari surga menyinariku. Merasa sangat diberkahi gitu merasakannya. Empuk lagi besar.

“Sori-sori bu… Jalannya macet…” kataku tersadar karena aku ngerem mendadak berkali-kali karena sebuah angkot tiba-tiba berhenti langsung menepi.

Posisi duduk bu Yuli di jok belakang menyamping karena ia memakai gamis dengan rok lebar. Ada lagi yang berasa banget, pinggul besarnya yang duduk nemplok di jok belakang motorku. Pinggulnya mendesak erat punggung bawah dan sebagian bokongku. Berasa sesak karena sempit terasa motorku tiba-tiba. Biasanya kalau bonceng istri dan kedua anakku aja gak sesempit ini keadaannya.

“Iya, gak pa-pa…” kata bu Yuli maklum.

Ia tak melindungi bemper depannya bahkan setelah insiden tadi. Dan sekali-dua kali terjadi lagi. Aku gak sengaja loh ya. Ini murni karena kondisi jalan. Tos untuk pak sopir. Sering-sering begitu ya. Kalo aku lagi sendirian jangan kek gitu ya? Piis.

Pertengahan jalan, perjalanan mulai lancar. Kami terlibat obrolan basa-basi aja.

“Kiriman dari abang, bu Yuli?” tanyaku.

“Iya papa Rio… Dia lagi di Sidempuan… Mungkin minggu ini gak pulang jadi cuma bisa ngirim duit aja…” katanya.

“Oh… Lagi di Sidempuan… Jauh tuh…” kataku menimpali.

“Katanya papa Rio aslinya bukan orang Medan ya?” tanya bu Yuli.

“Lahir besarnya ya di Medan, bu… Cuma orang tua orang Minang sana…” jawabku.

“Awalnya awak kira papa Rio orang Cina… Tumben ada orang Cina mau kawin sama orang Jawa tinggalnya di dalam gang… Gak taunya orang Padang… He-he-he…” kata Yuli seperti yang sudah-sudah. Sudah gak keitung lagi orang yang berpikiran seperti itu. Gimana kalau aku belajar bahasa Hokkien trus ngaku Cina sekalian aja. WKWK.

“Eh… Ada polisi, papa Rio!” kaget bu Yuli tiba-tiba.

Malah lebih kaget lagi aku karena ia mencengkram pinggangku. Lebih tepatnya posisi dimana kantong kanan samping celana panjang berada. Sedikit lagi ia sudah akan mencengkram area bertahta Aseng junior. Wajar kalau dia kaget karena ia tidak memakai helm walau aku sendiri pakai. Bu Yuli khawatir gara-gara ia numpang jadinya aku kena tilang.

“Bukan polisi itu bu… Cuma ngatur-ngatur jalan dia pake rompi ijo kek polisi punya…” kataku menenangkannya.

Selamat Aseng junior dari mendapat betotan maut emak-emak montok ini. Tapi cengkramannya tak mengendur. Ia seperti mengumpetkan kepalanya di bahuku. Mendengar kalau yang dilihatnya tadi ternyata bukan polisi, ia melongokkan kepalanya mengintip. Nyot! Bemper depannya kembali menekan punggungku.

“Oh… Kirain polisi… Kaget aku…” katanya. Bempernya tetap nempel walau tidak seketat tadi.

Di jejeran ATM di depan bundaran KIM 2, kuturunkan bu Yuli.

“Papa Rio minta nomer HP-nya dong?” pintanya sambil mengeluarkan ponsel miliknya dari tas. Wow.

Pada masa itu HP BB yang dimilikinya harganya sekitar 11 jutaan gitu. Kaget aku melihatnya. HP-nya mahal tapi rumahnya ngontrak. Entah macam apa keluarga ini?

Kusebutkan nomor HP-ku yang segera dicatatnya. “Gak sekalian pin-nya bu Yuli?” tawarku menunjukkan barcode-ku untuk di-scan-nya. Ia juga men-scan-nya dan kami terhubung kemudian. Lalu aku lanjut masuk ke gawean.

***

Dua hari kemudian baru Pipit menghubungiku kembali di malam hari. Ia sudah menghubungi keluarganya. Terutama kedua orang tuanya yang sudah tua dan sakit-sakitan di sana. Mereka saling bertangisan lewat sambungan telepon karena sudah saling kangen karena bertahun-tahun tak berkabar.

Berjam-jam mereka saling menelepon menanyakan kabar Pipit dan mengkabarkan keluarganya yang ada di kampung. Ada yang sudah meninggal, ada yang sudah menikah dan beranak. Ada yang pergi dan ada yang datang.

Aseng: gmna perasaan Pipit skrg?

Ppt: lbh lega bg bahagia jg

Aseng: bagus dong

Ppt: langkah selanjutnya bg?

Aseng: ttp silaturahmi temanya. langkah KEDUA minta maaf kepada semua yg sudah menyakiti Pipit

Ppt: ??

Aseng: heran kan?

Ppt: iya bingung

Aseng: coba aj dulu nnt pasti paham

Ppt: termasuk mantan2 nih?

Aseng: nah itu tau coba dulu

Ppt: jgn2 nnt yg ketiga minta maaf sm yg sdh Pipit sakiti lg?

Aseng: anak dukun y?

Ppt: ish bg Aseng godain Pipit mulu ini beneran kn?

Aseng: ya beneran toh mbakyu Pipit yg beneran ayu cam kue putu ayu mlaku2 alias mlayu

Ppt: bg Aseng iso ngomong jowo toh?

Aseng: lah bojoku wong jowo kok

Ppt: bg Aseng lucu

Aseng: kek apa? badut?

Ppt: bagong (babi hutan/member Punakawan 48, gendut cebol)

Aseng: WKWKWK

Kali ini chatting-an kami lebih luwes dari sebelumnya yang cenderung serius dan mellow. Ini lebih ke ledek-ledekan teman. Rupanya Pipit cukup lucu juga dengan selera humornya. Humornya lebih ke satir mungkin karena pengalaman hidupnya.

Ia lebih banyak berdiam di dalam rumah nonton TV seharian daripada sosialisasi dengan tetangga. Sekedar keluar untuk berbelanja cemilan karena belanja bulanannya lebih sering ke supermarket. Sangat jarang melihat dia keluar rumah dengan motor, lebih sering bareng suaminya dengan mobil.

Setelah malam itu, jeda kembali obrolan kami. Mungkin ia sedang berusaha menghubungi orang-orang tertentu yang masuk dalam kriteria yang sudah pernah menyakitinya atau malah yang pernah disakitinya. Barisan para mantan pastinya. Ini mungkin akan makan waktu lama.

***

Yuli: Papa Rio numpang lg boleh?

Aseng: boleh bu

Yuli: di dpn gang aj

Aseng: ok

Bu Yuli kembali minta nebeng lagi ke ATM di dekat bundaran KIM 2. Karena searah kukabulkan aja. Lagi pula aku juga mau ambil duit juga di ATM, nguras yang masih tersisa di rekening.

Kembali kami ngobrol sepanjang jalan dan aku mendapat setoran templokan bemper besar bu Yuli selama perjalanan. Apalagi selagi melintasi jalanan yang berlubang. Berasa banget besar dan kenyalnya.

Ternyata dia harus bolak-balik ke ATM karena harus membeli motor yang penting untuk mobilitasnya sehari-hari. Bu Yuli kupersilahkan menggunakan ATM pertama kali sementara aku menunggu di belakangnya. Iseng kuintip saldo tabungannya saat ia cek saldo karena ia tidak terlalu tinggi.

Makjang! Itu duit ratusan juta di rekeningnya. Kenapa mereka gak beli rumah aja? Malah ngontrak rumah kecil yang setahun cuma tiga juta lima ratus. Heran aku. Setelah itu bu Yuli balik lagi naik angkot dan aku lanjut ke kerjaan.

Sekitar jam 10 pagi. Jam kerja yang lagi repot-repotnya, ia nge-ping. Ternyata bu Yuli sedang bingung dan minta pendapatku. Bagusan mana antara 2 motor matik Honda dan Yamaha? Dia mau beli cash katanya. Eneng-eneng wae.

Dikirimnya foto kedua motor itu padaku untuk kupilih. Foto B*at dan M*o menyala di layar HP-ku. Ini urusannya apa sama aku? Bingung kali aku sama tingkah perempuan satu ini. Kenapa gak nanya pendapat lakiknya, ini malah nanya sama lakik orang.

Dia terus memohon bantuanku karena suaminya tidak bisa dihubungi karena sedang berada di pelosok daerah sana. Dia tidak tau harus minta tolong siapa lagi karena semua saudaranya di kampung dan kebutuhannya ini mendesak. Ini tipe-tipe perempuan gampang tersesak nih. Sesak boker, gak ada WC, kolam ikan-pun jadi. Sesak kawin, gak ada jantan, terong-pun jadi. He-he-he.

***

“Bu Sandra masih di Jakarta, kan?” tanyaku pada asistennya.

“Iya, bang. Kenapa? Kangen ya?” jawabnya. “Udah dua hari… lusa baru balik…”

“Cocok lah… Makasih…” kataku langsung balik kanan dan meninggalkan tempat kerjaku.

Bu Sandra adalah factory manager di sini dan divisiku ada tepat di bawahnya. Kalau dia tidak ada di tempat, kalau ada urusan seperti permisi meninggalkan pekerjaan sementara yang harus sepengetahuannya bisa lebih bebas. Aku mempermisikan diriku sendiri juga bisa. Isi formulir dan cabut.

Kupacu motorku menuju show-room motor dimana bu Yuli sudah menunggu di daerah jalan Krakatau. Jam segini daerah ini sedang macet-macetnya tau? Tapi aku bisa sampai di sana sekitar setengah jam kemudian karena sudah motong-motong jalan.

Masih dengan kostum yang sama seperti ke ATM tadi kujumpai bu Yuli yang menunggu di depan show-room. Ia pake masker ijo harga seribuan itu. Ia senang karena aku bisa meluangkan waktu menemaninya membeli motor.

Bak seorang suami pengganti, aku membeli sebuah motor matik B*at di dealer itu secara kontan. Suami yang sayang istri, motor dibeli atas nama istri tercinta. Bu Yuli berseri-seri selama proses itu. Ia sudah merasa senang karena sudah memiliki motor walaupun belum langsung bisa dikendarai. Motor dijanjikan akan diantar ke rumah hari ini juga, paling lambat sore hari karena kebetulan sedang ada stok yang tersedia.

“Makasih ya Papa Rio… Udah mau membantu saya membeli kereta ini… Saya gak ngerti sama sekali urusan yang kek gini-gini…” katanya sewaktu kami keluar show-room menuju motorku yang terparkir.

“Ya, bu Yuli. Bantu-bantu tetangga dikit…” kataku. Aku harus mengantarnya pulang dulu lalu balik lagi ke kantor.

“Udah mau jam 12… Kita makan dulu, yuk?” ajaknya.

“Aa…” bimbang dong. Tatapan matanya sangat mengharap aku memenuhi ajakannya. Ini pasti bagian dari ucapan terima kasihnya.

Masih di seputaran jalan Krakatau, aku berbelok masuk ke restoran Padang yang terkenal enak. Bu Yuli banyak duit, kan?

“Papa Rio rencananya mau punya berapa anak?” tanyanya ketika menunggu pelayan datang menyusun makanan secara buffet.

Kami sudah duduk berdampingan dengan manis di sebuah meja besar yang sedianya untuk 4 orang. Ia pakai kembali masker ijo itu.

“Belum tau, bu… Mungkin 3 atau 4-lah…” kataku pendek. Aku juga belum kepikiran. Tapi melihat kondisi ekonomi sekarang, punya banyak anak akan sangat merepotkan.

“Kemarin cerita sama orang rumah (istri)… Mimi itu bukan anak kandung ibu Yuli?” tanyaku setelah meneguk segelas air putih hangat.

“Begitulah, Papa Rio… Ribet masalahnya ini…” katanya lalu duduk bersandar dari yang awalnya melipat tangan di atas meja.

“Mimi itu anak suami pertama saya… Jadi bukan anak kandung saya… Dari suami kedua gak dapat anak dan sekarang yang ketiga… Keluarga mereka pengen kali mendapat anak dari saya… Kami dijodohkan sama istri pertama suami saya… Jadi ceritanya saya ini cuma madu… Mereka udah menikah dua puluh tahun gak dapat anak juga… Masalahnya… saya gak cerita kalau Mimi itu bukan anak kandung saya… Ribet, kan?” malah curhat.

“Makanya sekarang saya pusing kali sampe minta pindah jauh-jauh saja dari keluarganya di kampung… Keluarga mereka itu kaya raya… Kebun rambung (karet) sama sawitnya luas… Bingung gimana caranya…” lanjutnya lagi dengan berkali-kali menghela nafas.

“Jadi ceritanya ibu Yuli sama abang gak subur ato gimana?” tanyaku.

“Kami pernah periksa… sehat-nya kami berdua… Tapi gak tau juga… Punya banyak duit gak jamin bisa bahagia, kan?” katanya malah menyinggung tentang kekayaan dan bahagia. Aku teringat isi rekening gendutnya.

“Ya… sering-sering berdoa aja-lah bu Yuli…” kataku standar. Para pelayan rumah makan ini sudah selesai menggelar semua menu andalan mereka di meja kami. Cacing perutku udah jemping-jemping (salto) minta dendeng balado, gulai gazebo, dan kawan-kawannya semua.

“Kalian berdua keknya subur kali, ya? Langsung jadi kalo buat anak…” katanya sambil mengambil sepotong rendang ke piringnya. Masker dibuka.

“He-he-he… Kek kucing bu Yuli… Sekali senggol langsung jadi…” jawabku asal-asalan menyiram nasiku dengan kuah gulai cubadak (nangka muda).

“Gimana kalo saya bayar 100 juta… 50 juta kontan sekarang juga dan sisanya kalau saya bisa hamil…” bisik bu Yuli sedikit memiringkan condong tubuhnya yang duduk di sampingku. Nyess…

Apa istilah yang pas untuk menggambarkan keadaanku saat itu. Mencelos? Kalok orang Medan bilang menggeletar ginjal awak dibuatnya. Entah apa yang merasuki… Udah kek lagu viral itu. Entah gimana cara pikir perempuan satu ini? Gak sampe akalku dibuatnya. Lemah jantungku dibuatnya. Terduduk lemas dibuatnya. Aseng junior yang paling juara.

“Gimana Papa Rio?” desaknya. Kan suka tersesak dia, kan? Ini sesak beranak sekarang.

Bersambng

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9