Terjebak Arisan Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19

Cerita Dewasa Terjebak Arisan Part 9

Cerita Dewasa Terjebak Arisan Part 9

EPISODE 9

POV FARAH

5 JAM YANG LALU,

“Hahahahahahahahaha .”

Aku tak bisa berhenti tertawa melihat liarnya Resty, rekan kerja sekaligus sahabatku. Sementara itu Bu Dania dibuat tak berdaya oleh brownis-brownis keren yang perkasa. Tapi malah Resty yang tiba-tiba K.O diatas kemaluan Bu Dania. Sungguh pemandangan yang konyol.

Tiba-tiba tanganku ditarik oleh Arok. Dia lelaki perkasa. Ohh… Masihkah aku kuat melayaninya. Tapi sayang sekali, Galang juga mendekat ke arahku. Tidak. Ahh… Mereka berdua menyerangku secara bersamaan.

“Tunggu.. jangan keroyokan dong.” kataku mencoba melepaskan tangan Arok.

“Farah, jangan kabur dong.” sergap Galang.

Galang memeluk tubuhku dari belakang. Dia lalu meremas payudaraku. Aku diapit oleh kedua pria muda yang tangguh. Ohh.. Giliran lidah Arok menjamah leher dan telingaku.

“Ssshh.. ohhh..” desahku.

Aku merangkak mundur ketika Galang menyentuh vaginaku. Entah mengapa vaginaku lebih sensitiv dari biasanya. Jangan-jangan.. oh itu tidak mungkin. Dia meletakkan sebuah botol berisi cairan ke dalam tasnya setelah sedikit memamerkannya kepadaku.

Sepertinya dugaanku kali ini benar. Bu Rosita pasti usil nih. Dia terlihat tersenyum ke arahku sambil bermanja ria dengan Kevin.

Sementara itu Dina yang sedari tadi cukup nyaman berdansa dengan Dion mulai memanas. Dina begitu bernafsu mengecupi puting lelaki kekar berjenggot tipis itu. Ahh.. aku sendiri sudah tak kuat dengan kocokan jari tangan Galang yang semakin cepat mengoyak lubang vaginaku

Clok Clik Clok Clik Clok

Arok merapat ke wajahku lalu dia mencium bibirku. Kubalas lumatan Arok yang penuh nafsu. Air liur kami sampai menetes ke dagu. Tangan Arok pun juga aktif meremas payudaraku. Ohh..

10 menit kemudian, aku disuruh menduduki paha Arok. Kemudian kumasukkan vaginaku di atas tugu panjang miliknya. Asshh.. sleeep

Belum lama aku menggenjot, punggungku dipaksa membungkuk oleh Galang. Sejurus kemudian Galang memasukkan penisnya ke dalam lubang anusku. Oh.. aku mendapatakan double penetrasi yang sungguh nikmat.

Aghhh…

Plak

Plak

Plak

Irama tumpukan badan kami membaur bersama hentakan musik EDM yang masih berputar. Untung rumahku didesain dengan tembok yang kedap suara. Meski terletak di perumahan yang padat aku yakin tetangga sebelah tidak akan mendengar.

Kulihat Resty mulai bangun lalu merangkak ke arah Bu Rosita dan Kevin. Bu Rosita membantunya naik ke sofa. Tapi si Kevin malah usil meremasi payudara Resty. Dari arah toilet kulihat Bu Dania berjalan sehabis membuang air kecil. Dia tertawa melihatku di sodok dua penis jumbo.

“Ohhhh… Tidak.. !!” aku menjerit ketika mulut Arok mengemut putingku yang menggelantung tepat di atas wajahnya.

PLAK

PLAK

PLAK

PLAK

PLAK

PLAK

“Farah, aku keluar. Anusmu sempit banget. Nggak tahan akunya. Ahhhh” erang lemah Galang lalu mencabut penisnya.

Lalu,

Crot crot..

Sial. Galang menumpahkan spermanya ke wajahku. Untung aku segera merem. Cairan kental Galang sebagian menetes di dada Arok. Wkwkwkw..

“Kampret. Netes di dadaku. Ihh!!” protes Arok.

Arok yang sedikit kesal lalu membalik tubuhku. Kali ini dia yang di atas. Arok memepercepat sodokannya. Aku tak bisa menahan suaraku. Aku menjerit tak karuan.

“Kyyyyaaaahhhhhh. “

Plak

Plak

Plak

Plak

Plak

“Ohhhhh ohhhh…”

Plak

Plak

Plak

Plak

“Ohh. No!! Aku hampir keluar!!” erangku

“Tahan sebentar sayang. Barengan!”

Plak

Plak

Plak

Arok semakin mempercepat sodokannya. Aku sudah tak kuat lagi dan akhirnya aku melolong kencang ketika menyemburkan cairan cintaku. Arok meremas pantatku dan sepertinya dia menumpahkan spermanya di lubang vaginaku. Ohh … Cairanku menyatu dan meleleh di dinding penisnya Arok.

“…”

Aku sudah sangat lelah. Aku duduk di sofa bersama Dina. Sementara itu. Kulihat Resty ditarik oleh Bu Rosita. Resty kembali on dan meminum lagi minuman yang kurasa sudah dikasih sesuatu oleh Bu Rosita. Kurasa itu sangat keterlaluan. Kasihan si Resty. Tapi aku salah. Justru Resty kembali berdiri dan menggandeng Arok, Kevin, Galang, dan Dion.

“AYO KALIAN PUASIN AKU LAGI!!!” teriak Resty.

“Sungguh gila.” batinku

Kevin menarik tangan Resty kemudian diarahkan ke penisnya. Resty langsung mengocok penis Kevin. Dion dan Galang langsung merapat ke tubuh Resty. Dion mengendus leher Resty dari belakang kemudian disusul serangan lidah Galang ke area dada dan ketiak Resty. Sedangkan Arok cukup nyaman melihat kelakuan mereka. Aku bisa membayangkan senikmat apa digerayangin dibagian itu. Ahhh..

Aku tak percaya jika Resty lebih dariku. Mereka bercinta dengan berbagai gaya. Aku sudah tak bisa menahan kantukku. Seakan suara bising menjadi dongeng pengantar tidurku di samping tubuh indah Dina.

***​

POV RESTY

Aku merasakan tubuhku pegal-pegal seperti habis marathon 17-an. Tiba-tiba ada sesuatu yang meremas payudaraku. Perlahan kubuka mataku. Ya ampun… Ngapain si Farah mainin toket aku.

“Farah.. ohhh.. cukup Farah!” kataku

“Eh, kamu bangun. Maaf ya bangunin kamu. Habis kamu nyenyak banget tidurnya. Lihat nih. Sudah jam berapa?”

“Astaga!!!! Gue harus cabut sekarang. Gue harus jemput si Gadis.” aku segera berkemas dan mengambil pakaiaku.

Tapi..

“Pake saja bajuku. Tapi ya adanya terbuka semua. Hahaha.”

“Ahsial. Yasudah gue mandi sekalian.”

“Ya iyalah . Masa lo mau ke rumah ortu lu bau alkohol kea gitu. Parah! Hahaha.”

“Anjing lu..”

“Anjay. Resty yang asli mulai keluar. Hahaha.”

“Lo yang bikin gue kea gini. Ya beginilah gue. Lo tahu lah..”

“Gue nggak lupa kok. Dan gue lebih suka gaya lo yang apa adanya gini.”

“Thanks beb. You are my best friend.”

“You are welcome. Gue akan bantu lo hadapi masalah lu nantinya.”

“Masalah apa ya??”

“Sudah lupain. Mandi sono!!!”

Ohhh…. Resty…

Entah adrenalin apa. Aku serasa kembali jadi remaja. Di mana ada alkohol, party, dan lelaki.

“Gue seperti balik ke dunia gue”ucapku dalam hati.

Setelah mandi, aku memakai pakaian Farah. Sebuah dress tanpa lengan dengan rok sepaha. Ahhh.. merinding. Dah lama gapake pakaian seperti ini. Aku berpamitan pada Farah. Awalnya Farah menawarakan diri untuk mengantarku. Tapi aku pengen naik ojol. Siapa tahu dapet anu.. hihihihi…

***​

Sial banget! Kali ini gue naik ojol dengan sopir terburuk dan seagresif ini. Ini namanya bukan memberi kesempatan tapi malah rugi dagangan. Menang banyak tuh Ojol. Dasar. Udah jelek, tonggos, enggak banget!!

Sungguh itu sangat memalukan. Dia sengaja menggaruk punggungnya tapi malah mencoba meremas payudaraku. Dan bodohnya alu membiarkan tangan kasarnya. Sempat aku protes tapi dia bilang tidak sengaja. Padahal itu sengaja!!

Cukup. Lupain!!! Aku muak!!!

Sesampainya di rumah aku dihadang oleh Mang Kardi dengan gaya manggut-manggutnya. Duh, ngapain nih si Sopir mesum! Kepala belum adem udah dipikin terbakar lagi?? Monyet!!

“Wow, udah berani tampil beda sekarang. Bu Resty??” Mang Kardi langsung menarik pinggulku lalu meremas pantatku.

“Hentikan. Kamu nggak sopan, Mang!!”

“Nggak sopan? Kamu yang lebih nggak sopan. Pakai pakain terbuka ditempat umum. Dilihat Bu Haji noh!!”bisik Mang Kardi.

Astaga, apa kata tetangga. Aku segera masuk dan menuju ke kamarku. Kudengar langkah kaki mengikutiku. Apes bener, si sopir sialam ini terus membuntutiku. Sesampenya di depan kamar aku berhenti.

“Mau ngapain? Aku capek mau istirahat. Nanti sore antar aku jemput Gadis.” kataku

“Siap, Bu Resty. Anda tentu tidak lupa bukan? Anda harus mengikuti perintah saya jika…”

“Tapi beri aku waktu istirahat!! Aku tidak lupa ,sopir mesum!!” ucapku memotong perkataannya.

Akhirnya dia mengalah dan meninggalkanku. Sungguh aku tidak mood jika dia menagih tubuhku. Ini sudah kelewatan. Di sini tuan rumahnya aku, tapi kenapa malah sebaliknya. Dan Mas Ridwan kemana? Suami yang harusnya jagain istrinya malah pergi tanpa alasan. Dia anggap aku ini apa?!

***​

Cukup lama aku tertidur. Sehabis Ashar, aku mandi kemudian memakai pakaian santai tanpa daleman. Setelah itu aku menuju ke ruang kerjaku. Sebuah foto pernikahan cukup besar membuat hatiku teriris. Seharusnya aku tak menerima pinanganmu saat itu. Harusnya aku bersama dia. Bukan Ridwan!

“Permisi Bu, saya mau bersih-bersih.” tiba-tiba Tutik mengangetkanku.

“Silahkan. Oya, bilang ke Mang Kardi untuk siapkan mobil.” kataku.

“Siap, Bu.” balasnya.

Aku menuju ke kamarku lalu merias wajahku. Tiba-tiba dari belakang Mang Kardi masuk dan membelai rambutku.

“Wah, sudah mandi dan wangi nih, Res?? Cocok!” aku tahu betul dia sedang meminta sesuatu dariku.

Aku tak tahu harus bagaimana agar terlepas dari sopir biadab ini. Tangannya mulai mengelus pundakku.

“Maaf, aku sedang datang bulan. Percuma kamu menggodaku.”

“Sial. Baiklah. Kita jemput Gadis.”

Ternyata mudah sekali membohonginya. Maka dari itu, aku bisa memakai celana dalamku. Tak lupa aku memakai pembalut buat jaga-jaga kalo dia nanti memeriksaku.

***​

Menjelang sore hari, aku dan Mang Kardi pergi menjemput Gadis. Sungguh hal tak terduga, di sana ada Mobil suamiku. Kok bisa??

“Kok ada mobilnya Mas Ridwan??”

“Saya tidak tahu, Bu.” jawab Mang Kardi.

Aku segera menuju ke dalam rumah. Tak kutemukan Gadis, Fitri dan kedua orang tuaku. Kemana mereka??

Fitri adalah adikku. Dia masih kuliah di salah satu Universitas Negeri di kota ini. Tumben, suasana rumah tampak sepi. Kemanakah mereka semua?

“Ibu…??”

“Ayah…??”

“Fitri…??”

“Gadis…??”

Akhirnya aku memutuskan naik ke lantai dua. Sayup-sayup kudengar suara wanita di atas. Kupercepat langkah kakiku.

Degh,

Degh,

Degh,

Apa yang kulihat ini ??

Fitri dan Mas Ridwan??

Mereka….

“Aaaaaaahh…. Mas Aku sampe!!!”

“FITRI!!!!” Aku berteriak histeris menyaksikan mereka.

“Resty??”

“Kakak??”

Bersambung

(Terjebak Arisan Part 8)Sebelumnya | Selanjutnya(Terjebak Arisan Part 10)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game