Terjebak Arisan Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19

Terjebak Arisan Part 7

Start Terjebak Arisan Part 7 | Terjebak Arisan Part 7 Start

EPISODE 7

Dasar kurang ajar sekali tuh Mang Kardi. Semua pakaian dalamku disembunyiin di mana nih… Mana kamar Mbak Tini dikunci lagi… Bener-bener menyebalkan!!!

“Kenapa nasibku jadi seperti ini.” batinku.

Tak terasa sudah jam 7 malam. Itu artinya aku harus berangkat. Tapi masa aku harus memakai baju tanpa daleman. Duh.. gak ada pilihan lain. Aku memakai gamis satin tanpa pakaian dalam. Ah.. memakainya saja sudah membuatku terangsang. Kenapa akhir-akhir ini aku jadi mudah horny ya.. Bagaimana kalo nanti ketahuan orang di jalan. Pasti tambah horny lagi aku entar..

Ahh. Resti..

Setelah berdandan aku memakai jilbabku. Kemudian aku pesan jasa ojol. Harusnya aku pesan mobil saja. Tapi daripada terjebak macet aku memilih ojol. Cukup terjebak arisan sudah membuatku pusing.

Mungkin ini sudah jadi jalan hidupku. Toh selama ini aku merasa lebih enjoy tanpa beban. Aku baru sadar jika beban hidupku adalah suamiku. Dia selalu melarangku berpakaian seksi atau bahkan main dengan pria lain. Sekarang dia yang malah berkhianat. Huh, kamu pikir kamu saja yang bisa berkhianat.

“Ojol! Ojol!” teriak seorang dari luar rumah.

Aku segera berlari dan memgambil tasku. Aku segera menemui lokasi ojol tersebut. Ternyata bapak-bapak. Sial dapet orang tua melulu. Sudah kuduga tukang ojol itu langsung menatap pakaianku.

“Wah cantiknya. Mau kemana neng?” tanyanya.

“Sesuai aplikasi ya, Pak.” balasku.

“Ini helmnya. Langsung saja naik Neng.” ucapnya seraya memberikan helm.

“Iyah, Pak.” jawabku.

Beruntung aku segera naik. Jadi tak ada kesempatam lebih lama untuk bapak itu memandangi tubuhku. Ngga heran sih jika banyak orang terkesima dengan paras ayu wajahku tapi kali ini aku melarang bapak ojol ini karena dia nanti bisa tahu jika aku tak memakai daleman. Baru duduk saja putingku sudah mengeras. Mungkin karena ada lawan jenis di depanku. Padahal aku tak tetarik sama sekali. Akan tetapi lirikan nya lewat kaca spion membuatku salah tingkah.

Selama perjalanan, ojol ini ternyata ramah dan cara mengemudinya pun benar dan tidak mencari kesempatana saat melintas di polisi tidur. Padahal ini kesempatan baginya merasakan genjetan dadaku . Ahh kenapa aku yang berpikiran begitu. Huft.

Sungguh aku merasa bosan dan ngantuk. Dia lancar sekali mengemudikan motornya. Hembusan angin semakin membuat payudaraku mengencang. Kok dia masih fokus nyetir aja sih. Gatau apa yak jika penumpangnya ini cantik luar biasa. Ahh. Kenapa aku jadi kepedean gini… Lama-lama kupeluk nih bapak ojol. Teganya dia mencuekan diriku. Sial!

Ketika di lampu merah, tak sedikit yang memandangiku. Aku mencoba menutupi payudaraku dengan tas. Dan setelah motor kembali berjalan aku yang jadi salting sendiri. Aku salut jika bapak ini benar-benar menjaga jarak denganku. Mungkin dia melihat diriku berjilbab. Andai dia tahu, aku sudah tidak sesuci yang dia kira.

Ciittttt ..

“Kyaaaa!!” aku kaget saking paniknya kupeluk erat bapak itu.

“Maaf, sudah sampe Neng.” dia menoleh dan tersenyum kepadaku.

Aku masih belum melepaskan tanganku. Bahkan saat ini aku sadar jika dadaku menempel ke punggung driver ojol ini. Ahh.. hangat dan aromanya wangi. Pasti bapak ini pakai banyak parfum nih.

“Aduh. Jadi menang banyak saya neng. Makasih ya sudah dipeluk gini. Nyaman banget. Hihi.” katanya cemgengesan.

“Ehh. Anu.. abis bapak sih ga bilang-bilang mau berhenti.” kataku mengendurkan tanganku tapi masih belum turun dari motornya.

“Iya neng. Tadi sudah bayar lewat online ya?”

“Iya pak. Makasih ya.” aku turun.

“Makasih juga buat itunya.” ucapnya frontal.

Brensek, ternyata semua lelaki sama saja. Oke, sampai di mana keberanianmu, bapak tua. Dasar munafik!

“Oh. Iya anggap aja rejeki bapak.” kataku mencoba tersenyum.

Aku penasaran dengan reflekku seperti ini. Apa yang akan diperbuat bapak ini. Aku masih menunggu dan menatapnya sayu. Kelihatannya bapak ini kekar dan perkasa. Ahh.. lamunan apa ini. Sungguh seperti inikah diriku sebenarnya. Moralku seakan sudah tutup usia.

“Ehm. Kalo boleh neng. Saya boleh tanya engga?”

“Tanya apa bapak?”

“Sini neng. Agak mendekat saya penasaran ama..”

“Ama apa bapak?” tanyaku semakin mendekat. Lebih tepatnya aku penasaran apa yang akan dilakukannya.

“Eneng nggak pake bra?”

“Enggak.”

“Serius?”

“Serius. Pegang saja kalo ngga percaya.”

Sungguh nafsuku meledak-ledak. Entah sengaja mempermainkanku atau benar-benar tak tahu, yang jelas bapak ini sudah membuatku kehilangan kehormatan sebagai wanita dengan ijinku sendiri. Ya, aku merestuinya demi gejolak nafsu sesaat. Tapi sebenernya aku takut jika bapak ini benar-benar akan melakukannya.

Degh

Degh

“Yakin boleh neng?” ucapnya celingak celingkuk.

Suasana sangat mendukungnya. Komplek perumahan Farah memang sepi karena rata-rata di dominasi orang-orang high class. Dan jujur aku pengen banget disentuhnya. Di sentuh orang jelek seperti dia. Ahhh…cepat lakukan.

“Boleh sayang.” kataku memanja.

Nyut..

Ohh…

Dia meremas beneran. Lalu menarik tanganku ke deket pohon di pinggir jakan. Jantungku berdebar kencang. Ini pengalaman baru yang mendebarkan.

“Mau dibawa kemana saya bapak.”

“Bantuin Bapak sayang. Bapak sudah lama tak menumpahkan sperma. Pliss.” ucapnya segera mengeluarkan penisnya.

Wow. Jumbo !!

“Ya ampun. Ini di tempat umum!!” kataku keberatan.

“Sepi neng. Ayolah udah keluar penis saya. Gedhe kan??” tiba-tiba dia mengarahakan tanganku menyentuh penisnya. Asshh..

Astaga, uratnya kekar banget. Pasti bapak ini tipe pekerja keras. Aduh.. kok aku jadi horny nih. Penisnya bikin vaginaku merasa gatal. Ahh..

“Dikocokin saja ya. Saya ngga mau tubuh saya kotor.” kataku.

Aku mengocoknya perlahan. Ya ampun, semakin gedhe lagi. Kulihat bapak ini tersenyum ke arahku. Dia memandangi payudaraku.

“Kalo lain waktu boleh ya sayang.” rajukanya sambil meremas payudaraku.

“Boleh bapak.” jawabku yang sudah terbawa nafsu.

Ouuhh.. remasan tangannya sudah membutakan akal sehatku. Aku terangsang hebat. Jika tidak ada acara mungkin aku sudah mengijinkanmya sekarang juga . Kupegang penisnya yang luar biasa besarnya. Ahh.. dia dengan penisnya ini pasti bisa memuaskan semua wanita.

“Makasih sayang. Mmmuuuah.” Bapak ini mencium bibirku yang masih tertutuo rapat.

Aku tak bisa menolak ciuamannya yang secara tiba-tiba. Lidahnya menyeruak ke dalam mulutku. Aroma rokok tercium, mirip bau mulut Mang Kardi. Itu semakin menambah nafsu birahiku.

Jemari tangan bapak ini mencari reselting di dadaku. Kemudian dia menariknya kebawah. Sejurus kemudian ia memasukan tangan kanannya. Yups, dia mendapatkannya. Putingku mengiinginkan itu. Ouuuh ..

“Asshh . Bapak. Ahh.. nanti kalo ketahuan orang gimana. Cepat keluarin pak.” Kataku sambil mendesah.

“Tenang neng. Gak bakalan ada yang tahu. Uh.. tanganmu halus banget. Mana bisa bapak bertahan lama. Aku kecup yah utingnya. Ahhmmm.”

Belum sempat aku mengijinkannya dia sudah mengemut payudara kananku. Alhasil gamisku jadi semakin turun hingga ke pundakku. Ahh.. gila. Ini sungguh nikmat sekali. Lidahnya yang begitu panas membuatku membuat selakanganku semakin basah. Ahhh.

Merembes nih..

“Ouhhh. Pak awas kontolnya… di arahin got ya nanti kena baju saya. Ahhhh… Emut terus.” erangku tak karuan

“Arahin saja. Jangan sampe bengkok. Yang pegang kan kamu sayang. Oouhh.” balasnya.

Aaaaaaaahhhhhhh.. sial aku nggak kuat lagi. Kukocok semakin kencang dan akhirnya bapak ini memuncratkan spermanya. Huh. Untung nggak kena baju. Tapi bapak ini semakin dalem menghisap payudaraku. Ouh..

“Pak.. ahh.. aku nggak kuat pengen pipis.”

Sontak kuangakat gamisku biar ngga basah. Dan sungguh luar biasa air cintaku muncrat. Dan seketika Bapak itu melongo melihat gundukan vaginaku yang memancarkan air mancur. Ouhh..

“Neng. Ouhm. Makasih ya. Mmmuuach.” ucapnya sembari mengusap vaginaku dan mengecup bibirku.

Aku terdiam dan masih belum menutup area vitalku. Ahh.. aku telanjang di muka umum. Dan gila rasanya. Aku bisa orgasme senikmat ini. Ouh…

Bapak ini mengelap penisnya dengan saputangan di lehernya. Kemudian dia memeluk erat tubuhku. Tangannya meremas kedua pantatku.

“Udah ya, Pak.” aku melepaskan pelukannya.

“Saya narik dulu ya. Lain kali kalo kangen bapak wa saja. Tadi saya udah misscall nomor eneng.” dia kembali ke motornya lalu pergi dengan tersenyum puas.

Kenapa setelah kejadian aku baru menyadari jika ini salah. Lantas kemana akal sehatku tadi. Kenapa aku mudah terpengaruh dengan nafsu sesaat ini. Ya, ampun… penampilanku jadi acak-acakan gini.

Setelah itu aku segera menuju ke rumah Farah. Kurapikan kembali bajuku. Kulihat sekeliling masih sepi. Syukurlah..

“Hari ini kamu benar-benar telah berubah jadi binal!”

Edan kamu Resty!!

***​

Ketika masuk ke dalam rumah Farah masih sedikit ya datang. Entah apa mereka akan datang atau hanya segini yang menandatangani arisan. Padahal yang datang kemaren cukup banyak. Kok hanya segini.

“Sayang. Kamu datang juga. Asyik. Malam ini kita bakalan pesta meriah. Yuk duduk sini.” ucap Farah memanggilku.

Farah mengahampiriku. Dia berdandan cantik sekali malam ini. Dengan balutan dress panjang warna cream dan sepatu high hell semakin membuatnya terlihat elegan.

“Baru segini yang dateng?” tanyaku.

“Nanti yang lain nyusul. Kamu kok terlihat lesu gitu abis ngapain?”

“Ehhm. Anu..”

Badanku masih lemas. Aku merasa lapar. Tapi tiba-tiba serorang memelukku dari belakang. Aku menoleh.

“Kevin?”

Tubuhku yang lemas berangsur sembuh seketika. Anak ini gantengnya ngga ketulungan. Dia bahkan meremas pantatku. Tanganya pasti tahu jika aku tidak memakai CD.

“Eh sayang ngga pake cd?” tuh kan bener sesuai dugaanku.

“Biar punyamu masuknya gampang. Hihi.” bisikku.

“Ih makin nakal yah. Wangimu kok beda. Ehm gpp. Masih wangi pokoknya” ucapnya sedikit membuatku panik.

“Cie. Yang sudah makin lengket. Bisa bercinta nih malam ini kalo dapat arisan. Hehehe.” celetuk Farah membuatku malu.

“Yey.. apaan sih Farah. Yuk dimulai acaranya.” kataku.

“Wah..ada yang nggak sabar nih. Kalo kalian mau mulai langsung saja buka baju terus live show gitu. Hahahah.” jawabnya ngelantur.

“FARAH !! Aku laper. Mana suguhannya ini. Arisan kok nggak ada suguhan sama sekali.” sahutku

“Suguhannya ya cowok-cowok ganteng itu kak. Hihi ” sahut Dina.

Astaga Dina. Apakah dia juga semakin binal sepertiku.

“Makasih. Tapi aku beneran laper sayang.” kataku mencubit pipinya.

Kulihat Bu Dania hari ini tampil seksi sekali. Mungkin dia juga ngga pake bra sepertiku. Belahan payudaranya sampe kelihatan hingga bawah. Dress model seperti itu sangat seksi. Apalagi kalo aku yang makai. Huhu. Sayang suamiku sok alim. Padahal itu elegant banget bagi seorang wanita.

“Dony. Dari tadi lihatin tetek aku. Sini sayang kalo mau nenen.” panggil Bu Dania

Gila. Mereka terlalu frontal sekali. Aku malu jika harus seperti mereka. Apalagu aku sekarang sedang memakai jilbab. Tapi Dina terlihat enjoy dan berpelukan dengan Galang tanpa rasa risih sedikitpun. Dina paling pinter berdandan. Gamisnya terlihat mencetak bentuk tubuhnya. Wah, apakah benar segedhe itu payudara Dina.

Farah pun juga selalu mempesona saat berpakaian. Kali ini dia nyaris telanjang dengan dress punggung terbuka dan bawahannya terbelah dibagian pahanya. Aku bisa mencuri pandang celana dalamnya yang mudah terkspose.

“Sayang. Ada makanan di dapur. Makan dulu gih biar staminanya strong.” ucap Bu Rosita.

Bu Rosita cukup mengejutkanku. Dia bahkan sudah telanjang. Kok dia nggak malu ya. Astaga tubuhnya masih kencang meski sudah berumur. Salut dengan perawatan ibu ini.

“Aaaa. Ibu kok sudah telanjang aja. Hihi. Kaget sumpah.” kataku

“Udah dibikin lemes sama Kevin.” balasnya.

Degh.

Tubuhku langsung kaku mendengar penuturannya. Aku merasa cemburu. Kevin kenapa ngga dulu aku dulu. Kenapa dia malah memilih Bu Rosita.

“Hihihi. Ibu Rosita ini memang hebat empot ayamnya. Aku sampe muncrat. Hahaha.” sahut Kevin

Respon Kevin semakin membuatku panas. Apa dia pikir hanga Bu Rosita yang bisa. Tunggu aja aksiku nanti. Akulah yang tercantik dan terbaik di sini. Entah kenapa aku merasa dilecehakan oleh mereka. Mungkin karena penampilanku yang polos ini. Hah! Kalian saja nggak tahu. Baru saja aku melayani bapak-bapak di muka umum. Asal kalian tahu aku lebih binal dari kalian. Dan akulah juaranya.

Huh. Aku harus mengendalikan emosi. Aku akan ikuti permainan ini. Dan lihatlah siapa diriku sebenarnya. Aku tak mempedulikan obrolan mereka. Pas banget saat emosi nafsu makanku semakin banyak.

***

Setelah makan. Aku kembali berkumpul ke ruang tengah. Kulihat Galang dan Dina sudah bercinta dengan liarnya. Astaga. Padahal kan belum dikocok arisannya.

“Baiklah sambil kalian ngewe. Mari kita kocok arisannya.” ucap Farah membawa sebuah botol berisi kertas yang digulung-gulung.

“Ouuhh.. aku keluar!!!” teriak Dina.

Gila si Dina. Mulutnya mengaum seperti singa betina. Dia melolong sambil memeluk tubuh galang erat. Payudaranya yang berukuran 34 B menekan dada athletis Galang.

“Parah kalian. Dasar anak muda. Buruan merapat. Biar kalian tahu siapa yang dapat arisan.” ujar Bu Dania.

Galang dan Dina merangkak mendekat ke meja. Kukihat cairan sperma Galang masih menetes dari ujung penisnya. Aku menelan ludah.

“Gedhe juga punya Galang.” batinku

Farah mulai mengocok botol sambil mengeluarkan satu gulungan kertas. Dan satu gulungan terjatuh. Farah segera memungutnya lalu matanya menatap ke arah Bu Rosita.

“Selamat. Yang dapet adalah Bu Rosita. Selamat ya, Bu. Uang bisa diambil sekarang tau setelah acara selesai. Baiklah. Apa yang ingin ibu lakukan malam ini?” tanya Farah memberikan gulungan tersebut kepada Bu Rosita

Kulihat raut gembira di wajah Bu Rosita. Dia terpingkal-pingkal saking senengnya hingga dua payudaranya ikut bergincang.

“Hahahaha. Alhirnya dapet perdana. Yess!” ucap Bu Rosita sangat senang sekali.

Seperti perjanjian sebelumnya. Yang dapet arisan harus melakukan live show. Sepertinya malam ini aku hanya duduk sebagai penonton. Okelah kalo begitu. Aku ikuti saja permainan ini. Tapi tiba-tiba ada tangan yang meremas pahaku.

“Dion. Ada apa?” tanyaku kaget

“Hanya kamu yang masih komplit pakaiannya. Dilepas saja jilbabnya seperti Dina.”

“Ehh. Tapi yang dapet arisan kan Bu Rosita. Bu Dania juga masih komplit kok .” kataku protes.

“Aku mau kalian pesta semua. Harus telanjang semua. Bagaiamana?” pernyataan Bu Dania membuatku tepot jidat. Ide gila macam apa ini. Huuh..

“Setuju!!” ucap Farah paling keras

Kekonyolan apa lagi ini. Aduh. Semakin ruwet ini arisannya. Kulihat Bu Dania mulai melepaskan semua pakaiannya. Di susul oleh Kevin dan Dion. Astaga mereka berdua kok sudahbngaceng aja. Aku merinding. Ahh..

“Ayo Resti. Jangan malu-malu tapi mau gitu dong.” ucap Bu Dania yang sudah melepas pakaiannya.

“Ralat. Aku pengen gigolo nari dan menggoda kita. Kea di film-film gitu. Bagaimana.” ralat Bu Rosita.

“Setuju!” ucapku sendirian.

Semua pandangan mengarah kepadaku. Sial. Aku malu sekali. Bisa jadi bahan ejekan si Farah nih. Huuuuu..

“Baiklah. Jika Resty setuju saya juga setuju.” ucap Farah lalu tersenyum.

Sungguh mendebarkan. Kami para wanita duduk manis di sofa. Kemudian Dion, Kevin, dan Galang menari sambil telanjang mengitari kami. Iringan musik EDM semakin menambah suasana jadi panas. Ehmm..

Melihat penis Kevin membuat nafsuku menderu. Ouh.. kemaluanku merasa gatal. Kulihat Kevin menggoyangkan penisnya ke arah wajah Farah. Kenapa ngga ke aku saja sih, Vin. Farah yang disodori penis segera melahap jamur Kevin dan mulai mengoralnya.

Sruuuph sruppph..

“Ouuhh. Resty kamu harus melakukannya juga. Ouuhh..” desah Farah.

Kupalingkan wajahku. Jujur aku cemburu tapi mataku masih melirik mereka yang semakin panas. Tangan Kevin melucuti dress Farah hingga ke perut.

Kulihat di sampingku, Bu Rosita mulai menggoda Dion dengan meremas kedua payudaranya. Dion pun tergiur dan mulai mendekat ke arah Bu Rosita.

Sementara itu, Galang yang baru saja keluarin spermanya dengan Dina mulai mengurut penisnya. Dia dibantu oleh rangsangan dari tangan Dina. Aku dan Bu Dania hanya bisa meninton. Tapi kulihat Bu Dania mulai berdiri dari sofa dan mendekat ke arah Dion.

“Resty jangan diem aja sih. Ayolah.” ujar Bu Dania.

Aku mulai panas sendiri. Perlahan kuremas payudaraku sendiri. Sambil menatap penis Kevin yang keluar masuk ke mulut Farah.

Tubuh Farah ternyata sangat indah. Payudaranya mirip sepertiku. Tapi putingnya lebih runcing milik Farah. Ahh.. aku sudah tak tahan lagi. Kulepas jilbabku lalu ikat rambutku ke belakang. Kevin menetapku lalu tersenyum. Akubl tersipu dan memalingkan wajahku.

Kuperhatikan Bu Rosita sudah mengulum kontol Dion. Sedangakn Bu Dania sedang menciumi puting Dion. Ahh.. mereka sangat liar sekali. Dina dan Galang pun juga sudah semakin lengket. Mereka berpelukan sambil terus berciuman.

Aku tak kuat lagi. Aku mulai mendekat ke arah Kevin. Farah tersenyum kepadaku. Kevin meraih tanganku lalu menarik reselting di bajuku.

“Kamu manja sekali. Minta dibukain baju segala. Hihi.” katanya.

Aku hanya diam dan mencoba tersenyum. Jantungku berdebar semakin kencang ketika baju gamis yang kupakai diturunkan Kevin sampai melewati mata kakiku. Ahhh.. aku sudah telanjang seutuhnya.

Kevin segera meremas kedua payudaraku. Asshh.. Farah yang masih mengoral penis Kevin sesekali menampar pantatku. Nafsuku sudah meledak. Aku cium bibir Kevin penuh nafsu. Lalu jilati seluruh wajahnya. Ahhmmm…

“Semakin liar sekali kamu sayang.” bisiknya di telingaku.

Bibir Kevin langsung mengulum telingaku. Ahh.. kurasakan nikmat sekali di leherku. Lidah kevin menari lalu turun ke punggungku. Assshh.. jemari tangannya mulai meraba daerah kemaluanku. Aku semakin merapatkan tubuhku.

“Aaahhh.. masukin jarimu sayang.” kataku

Kevin mengabulkan permintaanku. Dia masukkan ketiga jarinya mengobel kemaluanku. Assshh.. Kulihat Farah melepaskan penis Kevin. Dia berdiri lalu berpindah ke belakangku. Aaahh.. lidah Farah menjilati ketiak dan payudaraku.

Kami bertiga saling merangsang satu sama lain. Aku dan Farah bergantian mengoral penis panjang milik Kevin. Bahkan Farah sampai menjilati lubang anus Kevin. Aku belum berani sampai situ.

Sesekali kulihat Bu Rosita dan Dion sudah bercinta. Bu Dania malah masturbasi sendiri. Bu Rosita bergoyang di atas tubuh Dion. Sementara itu Gakang dan Dina juga sedang bergaya doggy style sambil berdiri menghadap tembok.

“Yuk di mulai. Kalian rebahan. Akan aku tusuk secara bergantian.” suruh Kevin.

Aku dan Farah segera menungging di atas sofa yang cukup lebar ini. Ahh.. Kevin menusukku duluan. Penisnya sampai mentok. Ahh…Farah Meremas payudaraku dari samping. Giginya sesekali menggigit pelan putingku.

Plak

Plak

Plak

“Terus sayang. Ahhhhh!!” racauku menikmati tusukan penis Kevin.

“Oouhh.. payudaramu

Kevin semakin menaikkan temponya. Aku merintih kencang. Aku sudah tak kuat lagi. Vaginaku sudah sangat becek. Farah menjambak rambutku lalu mencium bibirku. Dalam waktu bersamaan aku mendapatkan orgasmeku yang pertama.

“Aaaaaaaaahhhh.” aku terkulai lemas.

Penis Kevin masih berdiri tegak, kini giliran vagina Farah yang ditusuk oleh Kevin.

Plak

Plak

Plak

Plak

Baru sebentar Kevin meminta Farah berdiri. Penis Kevin masih menancap, kemudian kaki Farah diangkat satu. Kevin lalu memaju-mundurkan penisnya lagi.

Plak

Plak

Plak

“Iiiiiyyyyaaaah … !!” Farah mendesah kencang.

Tak lama kemudian Farah ikutan tumbang di sampingku. Dia mendapatkan orgasmenya lebih cepat dariku. Nafasnya masih terangah. Dia tersenyum ke arahku. Aku membalasnyabdengan kedipan mata. Kevin lalu menuju ke tempat Bu Dania. Aku dan Farah kini jadi penonton sembari memulihkan tenaga.

Tak kusangka Kevin sekuat ini. Dia bisa bertahan cukup lama. Pasti dia memakai obat kuat. Penisnya mengkilap dan sangat mempesona. Ahh..

“Uuuhh…” Bu Dania menggeliat ketika Kevin meremas kedua payudaranya.

Kevin langsung menciumi puting coklat Bu Dania. Lidah Kevin menyapu bersih semua badan Bu Dania yang bercampur keringat. Bu Dania hanya bisa merem melek menikmati cumbuan Kevin.

“Gigol gue satu ini sungguh menyebalkan. Jangan buat gue kekuar cepat Kevin. Gue pengen penis lo menusuk memek gue. Ahhh.. cukup…” Bu Dania meronta tak kuat menahan rangsangan di lehernya.

Kevin seperti kerasukan iblis, dia terus menyerang leher Bu Dania dengan lidahnya. Nafsuku kembali bangkit melihat mereka.

“Mmmmmmuuach.”

“Mmmmmmuaach.”

Kevin terus mengecup leher Bu Dania hingga banyak tanda merah yang membekas. Bu Dania mengerang hebat hingga menitikan air mata. Vaginanya sudah sangat becek, air cintanya sampai merembes membasahi sofa. Tapi Kevin masih belum puas dengan leher Bu Dania. Ia masih terus menghisap leher Bu Dania.

“Aaaaaaacccchh.. aku keluar Kevin. Tidaaaaaaaak!!!”

Padahal Kevin belum mnyentuh vagina Bu Dania sama sekali. Kevin tersneyum lalu mencium bibir Bu Dania. Kemudian dia beralih ke Dina. Dina masih dientot oleh si Galang. Tapi Kevin tak peduli. Dia bersimpuh di samping tubuh Dina. Tanganya langsung meremas payudara anak buahku itu.

“Oouh.. Kevin. Kau sudah hatric masih menggodaku? Dasar rakus kau Kevin. Ahhh.. jangan disitu. Kyaaaaaaa”

Dina berteriak. Kali ini yang diserang Kevin adalah daerah pusar Dina. Sepertinya Kevin sudah mengetahui spot ling lemah Dina. Dina langsung lemaes karena dalam waktu bersamaan Galang memompa vagina lebih kencang.

Hanya Bu Rosita dan Dion yang masih tersisa. Kali ini Kevin lebih memilih istirahat. Dan anehnya penisnya masih ereksi sempurna. Aku pengen lagi. Ih…

Bu Rosita terlihat sudah meraih klimaksnya. Dan dia juga membuat Dion muncrat di dalam vaginanya.

“Baiklah kita istirahat bentar gaes. Resty, kalo kamu mau lanjut boleh kok. Hihi. Malam ini masih panjang, sayang.” ucap Farah bangkit dari duduknya.

Aku memeluk kakiku. Apa yang sedang kulakukan di sini. Aku wanita berjilbab terlibat pesta berondong dengan ibu-ibu sosialita. Ingin rasanya kumaki diriku sendiri. Tapi aku bisa apa. Aku hanya bisa mendesah ketika mereka menyuguhkan kenimatan tiasa tara ini. Sungguh aku telah berubah. Atau kembali menjadi seperti dulu lagi. Mas Ridwan harusnya menjagaku, tapi kenapa. Ahh..

“Kenapa jadi murung gini, sayang.?”

“Kevin? Kamu ngapain ke sini?”

“Kita naik ke lantai atas. Minuman sidah siap. Kamu masih kuat kan sayang?”

Ouhh . Kevin meraba payudaraku. Putingku langsung mengeras seketika. Kuoerhatikan semua sudah naik ke lantai 2. Apakah akan ada acara mabok-mabokan lagi?

“Vin..ahh… Gedhe banget punyamu ini. Aku mau .”

“Simpan dulu tenagamu. Di atas ada yang lebih gedhe dari ini. Dia sudah menunggumu di atas..” semprotnya sebekum aku selesai bicara.

“Dia siapa??” tanyaku kepo.

“Kamu akan tahu sendiri.” jawabnya.

Bersambung

END – Terjebak Arisan Part 7 | Terjebak Arisan Part 7 – END

(Terjebak Arisan Part 6)Sebelumnya | Selanjutnya(Terjebak Arisan Part 8)