Terjebak Arisan Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19

Terjebak Arisan Part 5

Start Terjebak Arisan Part 5 | Terjebak Arisan Part 5 Start

EPISODE 5

Hari ini hari Senin. Hari yang paling dibenci orang-orang, orang malas pada umumnya. Sebaliknya ini adalah hari yang sangat menyenangkan bagiku. Hari di mana otak dan pikiran kembali fresh, siap untuk melakukan aktivitas. Maka dari itu gunakan waktu liburmu sepuas mungkin agar kau siap menyambut hari baru yang penuh warna. Jadi keiinget kan kemarin malam.

Seperti biasa aku selalu tak bosan menyiapkan sarapan buat suami dan anakku. Meski ada Mbak Tini yang membantuku, soal menu sarapan harus memakai resepku. Kulihat Gadis tampak lebih ceria karena boneka yang kubelikan kemaren malam . Saat itu aku sengaja menyuruh Mang Kardi yang beli. Harusnya aku menyuruhnya menjemputku dahulu tapi Bu Dania saat itu merebut hapeku.

Jika Gadis ceria, berbeda dengan suamiku. Dia lebih menjadi pendiam. Padahal aku belum sama sekali membahas soal menghilangnya dia selama dua hari ini. Aku tahu dia sedang mencari alasan. Apapun itu aku akan terima meski kutahu dia menyiapkan kebohongan yang sudah tak bisa ditutupin. Dan aku tak tahu dia pulang jam berapa. Beruntung kemaren aku tidur bersama Gadis jadi dia tidak akan tahu jika semalam tubuhku bau alkohol.

Aku berharap keluargaku masih bertahan. Setidaknya setahun ini akan menjadi cobaan paling berat di dalam hidupku. Dan satu orang yang bisa mengacaukan segalanya hanyalah Mang Kardi. Meski kuyakin dia tak akan berani membocorkan rahasiaku. Tapi aku harus selalu waspada dengan segala bentuk garak-geriknya di rumahku. Aku curiga, selain mengangumi tubuhku dia pasti mencoba mencari keuntungan yang lain.

Setelah suami dan anakku berangkat. Aku segera menyiapkan keperluan meeting hari ini. Selain itu nanti ada customer yang kata Dina akan tiba jam 10. Masih di ruang kerjaku, tiba-tiba pintu ruangan di ketuk oleh seseorang.

Tok Tok Tok

“Siapa??” tanyaku.

“Saya Bu. Ini katanya Bu Resti minta dibikinin kopi.”

“Masuk aja Mbak. Oya. Tolong bilangin Mang Kardi segera panasin mobil. Saya mau berangkat lebih awal.” kataku.

Ternyata Mbak Tini. Oh.. Jika ingat dia , aku sangat malu sekali. Dia pernah memergokiku sedang bermasturbasi. Dan yang tak bisa kulupakan adalah saat dia bercinta dengan Mang Kardi.

“Pakai apa manasinnya?” tanya Mbak Tini membuyarkan lamunananku.

“Astaga, Mbak Tini. Pokoknya sampaikan saja pesanku ini. Dia sudah tahu semua.” jawabku kesal.

“Baik bu. Saya permisi.”

Setelah kelar menyiapkan beberapa materi untuk meeting nanti. Aku bersantai sejenak dengan secangkir kopi Toraja tanpa gula. Ini adalah kopi lokal favoritku.

Tit Tut Tit Tut [Dering Ponsel]

Semoga minggu depan anda yang mendapatkan arisan ya, Bu Resti.

Kevin

Kevin ??

Dari mana dia bisa tahu nomorku??

***​

Aku sangat senang sekali. Meeting hari ini berjalan dengan lancar dan mereka kagum dengan sistem kelola perusahaan yang aku kemukakakan. Dengan begini aku bisa lebih santai ketika audit plant nanti.

“Anda keren sekali, Bu. Mantab betul pokoknya. Customer sangat senang dan kemungkinan tender ini perusahan kita yang akan menang.” puji Farah.

“Terima kasih Bu Farah. Tapi tergantung nanti plant bisa lolos audit dari mereka apa engga. Pihak HR mah cuma pendukung. Oyah katanya ada karyawan baru. Kapan dia akan datang?” tanyaku.

“Mungkin hari Kamis nanti, Bu. Orangnya masih muda dan tampan loh Bu. Bisa-bisa ibu berpaling deh sama Kevin.” jawabnya.

“Permisi waktu istirahat sebentar lagi tiba.” kataku mengalihkan pembicaraan .

“Jangan pernah menolak sebuah peluang jika itu menguntungkan. Itu adalah pesan Bu Resti yang selalu terngiang di pikiranku. Benar begitu kan, Bu Resti.”

Sial si Farah. Dia seperti toxic di kehidupanku. Padahal ini di tempat kerja. Bisa-bisanya dia berkata seperti itu. Untung tidak banyak orang di ruangan. Aku hanya khawatir dia akan membongkar rahasia itu. Farah!!

Selama jam istirahat kuhabiskan waktuku di warung nasi padang yang tak jauh dari kantor. Aku dan Dina biasa makan di sana.

Tak banyak yang kulakukan seusai istirahat. Selain mainan hape aku cuma kepoin status instagram temen-temen SMA. Wah ternyata aku sudah tau. Tapi masih ada aja yang nge-DM minta kenalan. Dasar anak millenial!!

Hari ini terasa pegal sekali tubuhku. Mungkin gara-gara berenang semalam aku jadi agak sedikit meriang. Kusuruh Mang Kardi menjempuyku lebih awal .Huft!

Aku dan Mang Kardi masih diem-dieman. Gatau dia kenapa bisa sampe diem begitu. Kalo aku mah masih emosi gara-gara dia memasukkan obat perangsang di buburku kemarin.

Tak terasa hari sudah malam. Mas Ridwan dan Gadis pulang bersamaan. Akhir-akhir ini kulihat suamiku sangat berbeda. Aku mencoba bersikap biasa. Setelah makan malam tidak obrolan yang keluar dari mulutnya. Aku tahu banget ada yang dia sembunyikan.

“Ada masalah apa di kantor?” tanyaku basa basi.

“Nggak. Nggak ada kok. Besok aku ke Bandung. Mungkin sampe 5 hari. Kamu gpp kan aku tinggal.” ujarnya

“Tumben ngomong dulu. Bukannya sudah biasa kamu tinggalin aku?” kataku menusuk

“AKU SEDANG TIDAK INGIN BERDEBAT! TOLONG DONG KAMU NGERTIIN AKU!!” dia membentakku.

“Hah?”

Sungguh tak terkira olehku dia berani membentakku. Padahal aku tanya baik-baik. Dianya malah ngegas. Aku mengaharapkan sebuah kasih sayang tapi dia beri sebaliknya. Aku hanya butuh dia bersikap lembut seperti Kevin.

Ah.. kenapa si Kevin lagi..

“AKU MAU TIDUR CEPAT. BESOK PAGI BERNGKAT!” bentaknya lagi.

“YA SUDAH BIASA AJA. NGGAK USAH NGEGAS!!” balasku terpancing emosi.

Aku melempar guling. Aku keluar kamar dan menenangkan diriku di ruang tengah. Kusetel TV dan menonton drama korea kesukaanku. Semoga bisa menjadi obat pelipur lara. Malam ini sungguh terasa menyakitkan. Suamiku sudah berubah. Hiks..

Aku tak kuasa menitiskan air mata. Bahkan drama korea pun tak bisa menghiburku. Adegan demi adegan justru semakin menambah lara di hatiku. Bagaimana mungkin seoranag ibu rumah tangga yang baik hati ditinggalin suaminya hanya karena perubahan fisik. The Birth Of Beauty. Sungguh film yang menyayat hati. Aku tak bisa membayangkan jika aku yang hobi makan bisa jadi gendut nantinya. Dan suamiku pasti akan…

Ahhhh.. tidak!!

Tak terasa sudah pukul 11 malam. Aku tak mau tidur bersama suamiku. Mending tidur dengan Gadis. Ini bukan kali pertama aku bertengkar dengannya. Tapi setelah mengatahui perselingkuhannya belum lama ini hatiku sangat terisak. Huuuu…

*Kamu sepuluh aku sebelas*

*Kamu selingkuh aku balas*

Tiba-tiba terbesit pikiran negativ yang terlintas di pikiranku. Haruskah aku membalasnya??

Kevin??

Atau Mang Kardi?? Ih gamau mending Kevin lah!!

***

3 hari kemudian,

Pukul 13.00,

Sudah dua hari ini aku merasa jadi cewek jomblo. Gadis kutitipkan kepada ortu karena pekerjaan di awal bulan yang lagi over. Bahkan kemaren waktu May Day yang harusnya libur, aku harus melakukan training ISO.

Sebenarnya training ini dilakukan minggu kemaren. Entah kenapa diundur kemaren pas hari buruh. Dan katanya hari ini akan kedatangan karyawan baru. Kata si Dina sih karyawan tersebut udah ditraining Bu Farah pagi tadi. Aku mah cukup lihat hasil trainingnya saja. Selanjutnya tinggal tes psikis saat wawancara minggu depan. Baru deh aku kerjain tuh karyawan baru. Hehehe..

Tak terasa sudah pukul 16.00. Seperti biasa aku ajak Dina ke Mushola. Setelah ibadah aku bereskan meja kerjaku. Hari ini aku balik lebih awal. Maka dari itu kusuruh Mang Kardi menjemputku lebih awal.

Malam Jum’at adalah malam yang harusnya indah. Di mana aku dan suamiku bisa bercengkerama bahkan bercinta. Tapi akhir-akhir ini tak pernah kudengar lagi dia bercerita tentang pekerjaanya ataupun mencoba menggodaku. Menyapa pun sudah tak pernah. Ingin sekali ku menghubunginya. Tapi aku takut justru akan mengganggu pekerjaanya.

Tit Tut

Kabar baik kan Mah? Sungguh hari ini adalah hari paling sibuk untukku. Bahkan nanti malam ada meeting dengan direksi mengenai pembangunan infrastruktur yang dipesan oleh pemerintah

Suami

Baru saja aku memikirkan dia. Dia sudah WA jika dia memang lagi sibuk. Okelah kalo begitu. Fix, malam ini aku harus tidur dan istrirahat.

Tiba-tiba ada WA masuk. Dari siapa nih??

Apa kabar Resti. Aku tak bisa tidur nih. Mau ngga ngobrol sebentar

Kevin

Belum sempat aku membalasnya Kevin menelponku. Aku bingung..

Angkat

Enggak

Angkat

Enggak

Angkat aja deh..

Sejam lebih aku dan Kevin ngobrol. Aku yang tadi ngga mood tiba-tiba jadi semangat gara-gara gombalan receh pemuda ini. Huh! Dasar anak muda jaman sekarang!!

Dan ternyata Kevin orangnya romantis. Dia pandai bernyanyi dan suaranya indah banget. Laki banget…

Hatiku berbunga-bunga ketika dia memuji kecantikanku. Ah … memang sih aku cantik. Tapi kok suamiku jarang di rumah ya.. huhuhu..

Tak terasa aku mulai menguap. Tapi Kevin masih tak berhenti mengoceh. Aku hanya bisa dengarkan ocehannya sambil memejamkan mata. Ohh Kevin…

Jika saja aku masih muda..

***​

Hari ini hari Jum’at. Aku berangkat lebih awal. Aku sengaja membawa mobil sendiri. Karena nanti si Farah mengajak karokean. Sebelum berangkat tadi kulihat wajah Mang Kardi sedikit kecewa. Biarin lah si bapak mesum itu sekali-kali tak di sampingku. Habis dia semakin berani sih memanfaatkan peluang demi mencicipi tubuhku.

Aku tak bisa banyangin saat Mang Kardi tadi pagi aku kerjain. Aku sengaja hanya memakai handuk lalu berjalan melewatinya yang sedang menyeduh kopi di dekat dapur. Saat dia menyeruput kopinya aku sengaja jatuhkan handukku. Dan..

Bam!!

Wkwkwk

Kopi Mang Kardi tumpah mengenai celananya. Apa jadinya saat penisnya ngaceng karena melihatku telanjang. Hahaha..

Mampus!!

Ah Resti kenapa kamu semakin binal !!

Aku tersenyum jika mengingat kejadian tadi. Aku tahu ini salah tapi aku sangat menikmati sekali sensasi telanjang di depan pria selain suamiku. Ouhmm..

Ouuh. Udah Res!! Fokus kerja!!

Pekerjaan hari ini sungguh membosankan. Hingga menjelang pulang aku hanya sibuk mainan Hago. Dan karyawan baru yang katanya dijadwalkan akan mengikuti psikotes denganku tiba-tiba berhalangan hadir karena sakit. Kan sueee !!!

Tiba-tiba ada WA masuk.

Kevin??

Aku tersenyum. Dia mengajakku dinner sepulang kerja. Tapi nanti malam kan Farah ngajak karaoke. Ah.. aku batalin sajalah.

Memang akhir-akhir ini aku sering chatingan dengan Kevin. Aku yang awalnya bercanda minta diajak nonton, eh ternyata dia beneran ngajakin.

TEEEEEEEET [Sirine]

Tak terasa sudah waktunya pulang. Terpaksa aku harus keluarin mobil sendiri di parkiran. Sesampe di parkiran aku hubungin si Kevin.

“Aku sudah pulang, Kevin. Kamu di mana.” kataku menelponnya.

Si Kevin bilang kalo nanti ketemunya habis Maghrib aja. Dan dia menyuruhku berdandan. Dasar si Kevin bilang aja mau ngjak kencan. Huuuh!

“Baiklah. Nanti kujemput.” jawabku.

Tiba-tiba Farah masuk ke ruanganku. Untung aku sudah kelar nelpon si Kevin. Bisa berabe kalo Farah tahu.

“Jadi kan Karaoke?”

“Maaf, Ya. Tiba-tiba aku harus ke butik. Ada masalah di sana.” jawabku bohong

“Ya sudah. Sampai ketemu besok di arisan ya, Res.”

“Hmm..”

***​

Bioskop,

“Gimana?? Aku sengaja pilih tempat duduk di sini.” ucap Kevin.

“Yah lumayan. Agak jauhan sih tapi no problam, aku bawa kacamata.” balasku.

Tiba-tiba tangan Kevin memegang erat tanganku. Dia berbisik lirih di telingaku.

“Hari ini kamu wangi banget. Dan jika kamu tahu banyak cowok yang lihatin penampilanmu.”

“Ah kamu ini.”

Memang sih, aku dandannya kelewatan. Abis gimana lagi yang ngajak jalan masih muda. Aku takut disangka tante girang. Makanya aku dandan agak modis dikit. Biar kea selebgram hijaber. Aku memakai kaos putih yang kudobel dengan rompi panjang. Sedangkan bawahanku pakai celana jogger yang agak ketat. Dihh.. udah kea perawan aja nih.

Selama nonton Kevin sangat fokus pada filmnya. Justru aku yang fokus melihat wajahnya yang tampan. Ah.. dia manis benget.

“Lihat filmnya jangan lihatin aku melulu.” Kevin menoleh ke arahku.

Aku memalingkan wajahku ke film. Aku malu banget. Ihh..

Tiba-tiba..

Cup

Ahh.. sial. Ini kan tempat umum.

“Nakal yah.” desisiku.

Aku menoleh dan seketika dia melumat bibirku. Aku sedikit panik tapi jari telunjuknya memberikanku kode ‘Jangan panik.’

Aku hanya bisa pasrah diciunm Kevin berkali-kali. Mulai dari punggung tangan, pipi, kening, dan bahkan kepalaku bersandar di bahunya. Ah.. lama kelamaan nafsuku bangkit. Kevin tidak hanya melumat bibirku, dia memasukkan lidahnya ke dalam mulutku.

“Ada yang liat, stop!” bisikku.

Jantungku berdebar kencang. Duh..

Kevin mulai meraba pahaku. Dia semakin berani menelusupkan tangannya dari bawah kaosku. Ahh…

“Cukup Vin, nanti ketahuan orang.”

“Hihi. Biarin habis kamu nafsuin sih.”

“Ahh.. ” Kevin semakin berani meremas payudaraku meski ada cup bra yang menghalangi tanganya.

Aku mendesah lirih. Kututup mulutku tapi dia malah menjilati tanganku. Ouh.. lidahnya serasa hangat. Jari-jariku basah karena air liurnya. Dasar jorok!!

Belum cukup sampai di situ Kevin berusaha melepas pengait bra yang ada di depan. Aku menahan tangannya, tapi dia memaksa dan berhasil membuka cup bra tersebut. Putingku serasa mengeras ketika ibu jari dan telunjuknya memilin putingku. Ashhh…

Aku menggeliat..

“Habis ini ke pantai yuk.” ucapnya.

“Tapi shoping dulu yak.” balasku meringis.

“Tapi jangan lama ya.” katanya.

Aku hanya mengangguk. Sungguh malam ini rasanya aku seperti kencan bersama Kevin. Mulai dari makan malam, nonton film, dan dia mau ajak aku ke pantai. Aku bahagia sekali karena dia orangnya asik meskipun sedikit agak mesum sih. Intinya aku suka dengan cara dia memperlakukanku. Tak terasa filmnya sudah usai.

“Wah ironman mati ya, gak seru!” dengus Kevin kesal.

“Enggak, ironman masih ada di sampingku.” kataku menghiburnya.

“Ih.. berani ya gombalin brondong.” katanya sambil mencubit hidungku.

Ketika shoping aku bingung mau beli apa. Kevin pun juga kelihatan capek ngikutin langkahku. Aku menghampirinya lalu menggandeng tangannya.

“Ke pantai sekarang yuk.” ajakku.

Kevin hanya tersenyum lalu merangkul pundakku. Ihh.. malu tau dilihatin banyak orang. Tapi bodoh amat apa kata orang. Yang penting aku hepi..

Selama perjalanan ke pantai Kevin bercerita tentang masa SMA nya yang konyol. Ternyata dia orang yang humoris. Dan lagi aku suka selera musiknya. Ternyata dia sangat romantis. Alunan musik Callum Scott menghiasi perjalanan kami. Satu lagi yang tak bisa kuhindari. Tanganya suka banget meremas payudaraku. Dasar mesum !!

Aku tak bosan melihat wajah tampannya. Hidung itu lho kok bisa mancung banget. Apa dia keturunan arab kali yak..

Saat dia tersenyum..

Ah.. ingin sekali aku memanggilnya sayang..

Apakah aku sedang jatuh cinta ??

***​

Pantai,

Tak sampe satu jam kami tiba di pantai. Meski sudah cukup larut, suasana pantai masih terlihat ramai. Khususnya di sebuah cafe berlogo bintang. Bahkan ada live music di sana.

Aku dan Kevin menuju ke cafe tersebut. Kevin menawariku minuman. Aku yang tak tahu menunya hanya ngikut aja sesuai pesanannya. Aku duduk di meja no 21. Di sana aku cukup kagum dengan penyanyi wanita yang melantunkan lagu favoritku ‘Tere – Awal Yang Indah’.

“Hay, nih minumannya.” kata Kevin

“Wah minuman apa nih?” tanyaku.

“Udah minum aja sayang.”

Degh..

Kenapa hati ini selalu bergetar saat dia memanggilku sayang. Kevin…

Kevin membelai pipiku. Ihh so sweet. Entah kenapa hatiku berbunga-bunga. Dia tampan dan romantis banget. Saat itu aku dan Kevin ngobrol tentang Doraemon. Astaga, ternyata kita punya selera kartun yang sama.

“Ada yang mau menyumbangkan lagu?” suara MC membuyarkan obrolan kami.

“Ada! Ini cewek pandai bernyayi!!” sahut Kevin menujuk ke arahku.

“Ihh. Apaan sih Vin! Aku ngga bisa ber..”

“Udah ayo aku temenin.”

Kevin menarik tanganku dan membawaku ke atas panggung. Astaga aku malu banget. Kevin memberikanku sebuah mic. Aduh..

“Lagu apa yang bisa?”

“Ngga bisa Vin..”

Tiba-tiba Kevin mulai bernyanyi. Itu kan lagunya The Greatest Showman.

Setelah selesai menanyikan lagu itu, Kevin menggandeng tanganku ke pantai. Kemudian kami duduk mengahadap laut.

“Bahkan di kegelapan malam pun aku masih bisa melihat kecerahan di wajahmu.”

“Udah ih nge-gombalnya. Aku lempar ke laut nih.”

“Yakin bisa??”

“Kevin!! Hahaha!!”

Kami seperti anak kecil berlari di pantai sambil kejar-kejaran. Dan saat Kevin menangkapku, aku terjatuh dan berguling di atas pasir.

Aku dan Kevin tiduran di atas pasir sambil melihat bintang-bintang di langit malam.

Indah sekali…

Kevin..

Terima kasih sudah membawaku ke tempat ini..

Aku menoleh ke samping. Kulihat dia masih memandang langit. Tapi lama- kelamaan dia sadar juga kupandangi sedari tadi. Dan akhirnya kami berciuman..

Mmmmmmmmhhhhh..

***​

Kevin melempar tubuhku ke atas ranjang. Aku tersenyum. Dia lalu melepaskan semua pakaiannya hingga telanjang. Kulihat betapa sempurnanya tubuh Kevin. Ohh..

Penis Kevin sudah tegak berdiri padahal aku belum menyentuhnya. Aku bangkit lalu menghampirinya. Kubelai dada bidangnya dan sedikit memilin putingnya. Hahaha.. penisnya mengangguk-angguk seolah berkata ” Aku mau..”

“Kamu nakal. Kamu sudah nyulik istri orang lalu kamu telanjang di depannya. Kurang ajar kamu, Vin.” kataku.

“Tapi kamu menikmatinya kan? Tampak senyum lebarmu tak bisa membuat alasan untuk menolak penis ini.”

“Dasar!! Auuuh!!”

Kevin mendorongku ke ranjang. Sebuah ciuman mendarat di bibirku. Aku yang sudah terbakar nafsu hanya bisa pasrah mengikuti permainannya. Jujur, aku masih sadar dan tahu yang kulakukan ini salah. Tapi aku tak bisa membohongi hatiku. Aku menginginkan pria ini. Pria yang lebih muda dariku.

Maafkan aku, suamiku. Aku tak bisa menolak ini. Aku sudah jatuh hati pada pria ini.

“Ohmmm… ” Aku membuka mulutku

Sejurus kemudian lidah Kevin mulai menyeurak di dalam mulutku. Aku tak mau kalah. Kugigit mesra lidahnya dan kuhisap dalam. Tangan Kevin mulai meraba dadaku. Aku segera meraih penisnya dan mengocoknya perlahan. Gedhe, panjang, dan keras. Suka banget!!

“Ohh.. bagus sayang.”

Kevin mulai menarik ujung kaosku. Ia meraba perutku yang rata. Terasa geli dan lembut sekali belaiannya. Aku tak berhenti menatap matanya yang syahdu. Tampan sekali kamu Kevin. Oh..

Kevin sudah berhasil melepas kaosku. Kini hanya ada bra yang menutupi bagian atas tubuhku. Kevin masih terus merangsangku. Dia menyuruhku duduk lalu dia memeluku dari belakang.

“Resti, aku suka sama kamu.”

“Ohh.. ” Ingin kubalas perasaanya tapi lidah Kevin terlebih dahulu mendarat di pundakku.

Aku terus mendesah menikmati jilatan kucingnya disekujur badanku. Mulai dari pundak, punggung, lalu lidahnya berpindah ke arah ketiakku. Geli sekali tapi rasanya sungguh luar biasa. Tak pernah aku merasakan foreplay senikmat ini. Ah…

Kevin melepas pengait bra dari depan kemudian ia lepas kedua tali penyangga di pundakku. Aku terhenyak ketika dia meremas kedua payudaraku. Ohh..

Kevin membalikan tubuhku. Dengan cepat dia perosotkan celana beserta celana dalamku. Kini hanya jilbab yang menjadi satu-satunya kain yang kupakai. Ohh.. aku telanjang. Dia bisa meliahat vaginaku yang sudah sangat lembab ini. Aku malu tapi aku mau dia menyentuhku.. dan.. ahh..

Kevin sangat paham apa yang kupikirkan. Kepalanya langsung terbenam di anatara dua pahaku. Dan lagi.. kutak bisa menolak lidah seksinya itu menjamah kulit di area vitalku. Mulai dari pinggang turun ke selakanganku. Ohh.. aku mengejang hebat di titik itu. Nikmat tiada tara yang belum pernah kurasakan. Lidah itu mulai mencari celah di kemaluanku. Dan…

“Kevin.. ohh enak banget sayang. Iyyyaaaaaaaah!!!” aku menjerit saking enaknya.

Srrruphhh..

Kevin menghisap kemaluanku dengan rakus. Aku hanya bisa mencengkram sprei. Tak lama kemudian aku merasakan gelombang kenikmatan itu hampir tiba. Dan Kevin pun paham lalu mengusap perlahan vaginaku dengan jarinya, dan sedikit demi sedikit ia percepat gerakan jarinya. Mulut kevin segera mengunci bibirku yang terus menganga…

“Ahhhhmmmm……”

Cuuuuurrr…

Aku bisa kencing sehebat ini. Ohh….

Kevin mengecup keningku lalu memberikanku air mineral. Setelah itu aku melepas jilbabku. Rambutku yang panjang kuikat ke atas.

“Kamu belajar dari mana. Tadi itu enak banget sayang.” aku mendekat ke dada Kevin

Aku raih penisnya yang masih tegak. Aku ingin penis ini masuk ke dalam vaginaku. Ihh..

“Resti, jika kamu mau kamu harus bayar dulu.” katanya.

“Barapapun itu sayang.” aku sudah terlanjur horny.

“Bayar pakai hatimu saja sayang. Hihi.”

“Ihh gombal melulu ya..aku gigit nih!”

“Eh jangan.. katanya mau dibikin enak.”

“Ya udah masukin.”

“Yakin nih.”

“Heem..”

“Cium dulu dong.”

Ihh .. Kevin semakin menaikan libidoku. Aku jadi lebih agresif. Aku dorong tubuhnya lalu kulumat bibirnya. Ahhmm..

“Love you..” bisiknya.

“Love you too..” balasku.

Kevin membalik tubuhku sejurus kemudian dia emut putingku. Ohhh..

“Sayang enak banget ih… “

“Serius??”

“Ahhhh… Terus kevin!!”

Saking nikmatnya aku tak sadar Kevin sudah menaruh penisnya di depan lubang vaginaku. Ahh.. penis itu mulai masuk.

Aku resmi selingkuh. Ouuhh…

“Iyyyaaahhhhh!!!!”

“Ahhhhh sempit sekali sayang!!”

“Penismu yang kegedhean sayang.”

Sllleeepp

Plak

Plak

Plak

Dadaku bergoncang karena gejotan si Kevin. Ahhh.. gilak!!

“Uuuuuuhhhh… Enaaak banget !!!”

“Teriak yang kenceng sayang!!”

“AAAAAAAAAHHHHH!!!!”

Kevin membalik tubuhku ke samping. Kemudian dia tusuk vaginaku sembari meremas payudaraku. Bibirnya mendesah lirih di sebelah telingaku. Ouuhh..

“Kevin.. ahh..”

“Resti.. uuhh. Tubuhmu indah banget Resti.”

Plak

Kevin menampar pantatku. Ahh .

Plok

Plok

Plok

Selang beberapa menit kami berganti gaya. Aku di atas dan Kevin di bawah. Batang penis Kevin yang keras membuat vaginaku cukup ngilu. Selain keras penis Kevin juga gedhe. Ouhh.

“Oouhh… Uuhh…”

“Terus Res. Goyangin pantatmu. Uhh!!” racau Kevin.

“Gantian kamu di atas!!” kataku.

Tanpa menjawab Kevin langsung menubruk tubuhku. Payudaraku diremas sambil sesekali dia mengemut putingku. Uuuuhh..

Kevin juga tak berhenti menggenjot vaginaku. Tubuhku mengejang. Kurasakan kemaluanku berkedut. Kucengkram pantat Kevin semakin masuk ke dalam.

“Aku mau keluar Vin!!”

“Aku juga. Keluarin di mana?”

“TERSERAH !!! AHHHHHH!!”

“OUHHHH!!”

Aku memejamkan mata. Kurasakan perutku hangat. Sepertinya Kevin keluarin spermanya diluar. Ouh..

Setelah itu kami bercinta lagi di kamar mandi. Di bawah gururan shower hangat, Kevin menggenjotku sambil berdiri.

Aku orgasme untuk ketiga kalinya. Sementara Kevin menyemprotkan spermanya yang kedua ke wajahku. Ouuh..

Setelah mandi aku dan Kevin mengeringkan tubuh sembari minum teh hangat. Tubuh kami masih telanjang di bawah satu selimut. Aku mulai ngantuk..

“Tidur yuk.”

“Yuk.”

Tak terasa kami bercinta hingga subuh. Uhh.. badanku terasa lemas. Aku tidur sambil memeluk Kevin.

“Makasih ya Sayang.” bisiknya di telingaku.

Aku tak menjawabnya. Aku sudah lemas. Ouuhh..

Aduh.. selingkuh ternyata seindah ini…

Bersambung

END – Terjebak Arisan Part 5 | Terjebak Arisan Part 5 – END

(Terjebak Arisan Part 4)Sebelumnya | Selanjutnya(Terjebak Arisan Part 6)