Terjebak Arisan Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19

Terjebak Arisan Part 4

Start Terjebak Arisan Part 4 | Terjebak Arisan Part 4 Start

Epidode 4

“Ibu Ngapain ???”

“Mbak Tini???”

Aku segera menutupi tubuhku dengan kain sekenaku. Sambil mengatur nafas aku perlahan bangkit dari ranjang dan mengahampiri Mbak Tini yang masih berdiri mematung.

“Maafkan saya, Bu. Permisi.”

Belum sempat aku menanyakan sesuatu dia sudah pergi. Kutengok keluar tidak ada Mang Kardi. Sial… Kenapa bukan Mang Kardi yang mengintip tadi…

“What do you think, Res??”

***

Hingga detik ini aku belum mendapat kabar dari Mas Ridwan. Tak terasa sudah hampir sore hari. Liburanku hanya ditemani drama korea dan bermasturbasi gara-gara sperma sopirku. Shit!

Tak lama kemudian adzan Ashar berkumandang. Astaga, aku sudah melawatkan dua waktu ibadahku.

Resti ada apa denganmu??

Tiba-tiba hanphoneku berdering.

Mas Ridwan

“Oh begitu. Ya sudah, Mas. Hati-hati dijalan.”

Setelah menutup telepon baru kusadari memang dia kali ini berbohong. Tak biasanya dia seperti ini. Aku hafal betul tabiatnya seperti apa. Jika dia bilang akan dinas ke luar kota pasti dia ngomong sama aku sebelum berangakat. Tapi ini…

Baru kali ini kurasakan ada keretakan di rumah tanggaku. Mungkin ini adalah saat terberat di hidupku. Aku harus kuat dan menjalaninya. Sebisa mungkin aku akan mempertahankan pernikahan ini. Semua pasti bisa dibicarakan.

Oyah, aku baru ingat sudah ada janji dengan Dina dan Farah untuk berenang sore ini. Setelah membalas WA dari Farah aku segera menyiapkan pakaian renangku. Waduh, kemana yak… Perasaan aku punya setelan hijab swimwear. Duh..

Aku WA si Farah jika pakaian renangku tidak ada. Farah membalas jika dia punya hijab swimwear. Asik. Bisa renang!!

Kata Farah nanti acaranya sampe malem. Duh, Farah bikin acara apaan yak. Kalo sampe malem aku harus dianter Mang Kardi. Aku takut bawa mobil sendiri kalo malem.

Setelah mandi kilat aku segera menemui Mang Kardi. Wah, pasti lagi molor nih dia. Seperti biasa Mang Kardi pasti sedang tidur di pos depan. Terpaksa aku menyuruh Mbak Tini untuk membangunkannya. Aku takut jika dia tiba-tiba bangun meluk aku. Bisa mandi untuk ketiga kalinya nanti aku. Tapi di dapur tak kutemukan keberadaan Mbak Tini. Huh.. kemana sih Mbak Tini.

Aku berjalan menuju ke kamarnya. Tiba aku mendengar suara sesuatu. Seperti suara Mbak Tini…

“Oohh.. terus Mang!!!”

Degh..

Mang?? Mbak Tini sama siapa nih. Aku yang sudah sangat kepo berjalan mengendap ke sumber suara tersebut. Ternyata benar suara iti dari kamar Mbak Tini.

Degh

“Mang Kardi dan Mbak Tini??”

Sungguh apa yang kusaksikan ini membuatku terkejut. Di balik jendela kamar Mbak Tini, aku melihat Mbak Tini sedang bergoyang di atas tubuh Mang Kardi. Mereka bercinta dengan sangat liar. Mbak Tini mendesah kencang tanpa rasa malu sedikitpun. Padahal di rumah ini masih ada aku, majikan mereka.

“Kontolmu enak banget Mang!! Manteb Mang!!! Selama di kampung inilah yang kurindukan!!” racau Mbak Tini.

Jadi selama ini mereka memiliki hubungan gelap. Astaga!! Darahku berdesir. Jantungku berdegup kencang menyaksikan pergulatan tubuh yang sangat kontras.

Mbak Tini ternyata memiliki tubuh yang indah. Bahkan tak ketemukan lemak di tubuhnya. Tubuhnya ramping dan kulitnya putih bersih. Dadanya yang kecil sangat proposional dengan tubuhnya. Dan satu lagi, Mbak Tini terlihat seksi ketika bercinta.

“Tini, makasih yah. Sudah membantuku tadi pagi. Harusnya sekarang aku sudah ngentot sama Resti. Tapi gpp, kamu juga cantik kok sayang. Ahhh!!” ucap Mang Kardi.

Jadi, semua ini rencana mereka. Pantesan aku merasa gerah dan horny banget setelah makan buburnya Mbak Tini. Kurang ajar!!

“Ahh.. aku mau keluar!!!” teriak Mbak Tini.

“Aaaahhhh.. aku juga!!!” balas Mang Kardi.

Plop

Sperma Mang Kardi meluber memalui celah vagina Mbak Tini. Aku segera pergi sebelum ketahuan mereka. Tapi betapa sialnya diriku sesat sebelum aku membalikkan badan, Mataku bertemu dengan mata Mang Kardi.

“Bu Resti!!!” teriaknya memanggilku.

Tak lama kemudian mereka keluar secara bersamaan. Dan serempak mereka memasang wajah mirip kepiting bakar.

“Saya tidak butuh penjelasan kalian. Mang Kardi segera siapin mobil. Antar aku ke rumah Bu Farah.” kataku langsung meninggalkan mereka.

“Bu Resti tunggu. Saya bisa jelaskan.”

Mang Kardi menarik tanganku. Aku diam dan berusaha tak mengalihkan pandanganku ke arahnya. Aku tahu dia sedang telanjang. Astaga dadaku terus berdebar.. penisnya bergelantungan dengan sperman yang masih menetes.

Duh jangan dilihatin, Res!!

“Bu maafin kami ya…” ucapnya memelas.

Aku hanya mengangguk lalu menarik tanganku kembali. Aku berjalan cepat dan membuang pikiran-pikiran negatif gara-gara mereka. Aku bisa saja memecat keduanya tapi Mang Kardi punya rahasiaku dan aku masih membuyuhkannya untuk memantau suamiku. Sialan!!!

***​

Selama perjalanan Mang Kardi berusaha menjelaskan kejadian dia sama Mbak Tini. Tapi aku memilih bisu dan fokus pada layar hanphoneku.

Mang Kardi mengatakan jika benar dia memasukkan obat perangsang di bubur ayamku tadi pagi. Dan kisahnya bersama Tini juga ia ceritakan semuanya. Aku semakin benci dengan Mang Kardi. Aku menahan amarah. Ternyata dia tak jauh beda dengan lelaki lain. Mesum !!

Pukul 16.00 aku tiba di rumah Farah. Aku langsung masuk dan kulihat Farah berada di teras sedang menyiram tanamannya.

“Loh mana yang lain??” tanyaku pada Farah.

“Baru saja datang. Mereka ada di belakang. Oyah, sopir kamu suruh masuk sekalian. Aku tadi masak banyak loh. Daripada dia nungguin di luar kan kasihan. Lagian kamu manja banget sih nggak ke sini sendiri.” ucap Farah.

“NGGAK USAH. Biarin dia di luar!!” bentakku.

“Gpp. Bu, saya mau ngopi aja di luar. Nanti biar ibu Resti saya jemput.” sahut Mang Kardi merasa tersindir. Salah sendiri sudah bikin aku emosi!

“Oh gitu. Ya sudahlah. Yuk masuk, Res. Jadi sebenarnya acaranya nanti malam. Aku terpaksa nggak bilang dulu ke kamu. Soalnya kamu pasti akan menolak datang. Sebenernya hari ini adalah acara ulang tahunku.” ucap Farah pelan.

“Ya ampun kamu Ultah?? Happy Birthday ya sayang!!” kataku memeluknya.

Tak lama kemudian aku masuk. Farah menyusulku dari belakang. Di dalam sana sudah ada Dina, Bu Dania, Bu Rosita, dan beberapa cowok yang tak kukunal. Hatiku berdebar lagi.

Siapa mereka? Kok ada cowok sih…

“Cantik. Sini duduk. Acaranya masih lama. Kita ngobrol dulu.” panggil Bu Rosita.

Degh.

“Oyah, Kak. Kenalin nih temen Dina. Dia katanya pengen kerja di perusahaan kita. Tapi dia bingung masukin lowongannya. Kali aja kakak bisa bantu.” sahut Dina menghampiriku.

“Lisna. Salam kenal kakak.”

“Resti.” balasku tersenyum

Lisna menurutku orangnya cukup menarik. Dari segi penampilan dia terlihat dewasa. Wajahnya mirip Dina. Untung si Lisna tidak berhijab. Jadi, tidak sulit aku membedakan keduanya. Secara tubuh mereka juga sama-sama langsing dan tinggi seperti model. Mungkin mereka juga seumuran.

“Baiklah yuk semua ngumpul. Kita santai saja dulu sambil menunggu yang lain datang.” kata Farah

“Emang siapa lagi yang belum dateng?” tanyaku.

“Nanti kamu juga tahu sendiri.”

Aku hanya mengernyitkan dahiku. Hingga Maghrib menjelang, aku cukup bosan dengan obrolan mereka tentang barang-barang branded. Akhirnya aku ijin untuk menunaikan ibadah. Dina dan Lisna memyusul dari belakang. Ternyata Lisna juga rajin beribadah meski dia belum berhijab.

Setelah ibadah, aku kembali ke ruang tengah. Di sana ada beberapa cowok yang sedang duduk bersama Bu Rosita. Sungguh kelakuan Bu Rosita memang keterlaluan. Dia tidak malu dipeluk oleh beberapa lelaki yang bukan mahromnya.

“Oyah, Kalian sini. Ini brondong gue. Namanya Dion. Dia cakep kan? Hihi.” panggil Bu Rosita.

“Hmmm.” aku hanya berdeham menanggapinya.

Selain Dion ada satu lelaki yang tidak aku tahu namanya. Dia sangat pendiam dan lebih sibuk dengan handphonenya.

“Namanya Galang. Dia baru lulus SMA. Orangnya agak pemalu. Kok mata kamu lihatin dia melulu?” semprot Farah mengagetkanku.

“Apaan sih Far!!”

“Selamat malam semuanya!”

Degh

Suara ini..

Dia..

Aku menengok ke belakang.

Astaga!!

Kevin??

“Hallo sayang. Cantik sekali malam ini.”

Kevin meraih tanganku lalu mencium punggung tanganku.

Cup

Sungguh aku malu sekali. Kevin mencium tanganku di depan orang banyak. Ditambah olokan si Farah yang tak berhenti membuat pipiku semakin merah.

“Cieee, yang udah ketemu brondongnya. Hihi.” sorak Farah membuat yang lain ikut mengolokiku.

“Baiklah sekarang sekarang saatnya party time !!” seru Farah mengangkat tangannya.

Aduh, alunan musik EDM mulai bergema. Aku jadi ingat masa laluku yang telah kukubur dalam-dalam. Mengapa aku kembali ke dunia seperti ini. Dan ternyata orang yang bernama Galang adalah seorang DJ. Dia sekilas memandangku lalu mengedipkan satu matanya.

Meski yang lain banyak yang minum, aku terus berusaha menolak ajakan mereka. Aku memilih duduk di ranjang kayu dekat kolam renang. Dina yang kukenal alim di kantor dengan pedenya dia mengangkat gelas berisikan alokohol. Astaga Dina. Padahal dia tadi kan..

Sabar Res, Jangan terpengaruh!!

Inikah wujud asli mereka ??

Sungguh aku semakin tak betah di sini. Lisna ternyata peminum juga. Aduh!! Hanya aku yang minum Es Jeruk. Sengaja tadi aku pesen ke Farah jika aku tak minum alkohol. Biarin lah mereka!! Huft!!

“Resti. Kamu yakin ga mau coba. Alkoholnya rendah sayang.” bujuk Farah.

“Tidak, Farah. Kamu tuh ya. Aku nggak suka party-party gini. Kalo bukan karena ultahmu aku sudah pulang dari tadi.” tolakku.

“Dikit aja sayang.” dia belum menyerah.

“Ja… Ahhmmm..glek-glek.”

Farah sungguh tega sekali. Aku dicekokin minuman itu. Air haram itu terasa panas dikerongkonganku.

Ya, Tuhan… Maafkan aku.. hiks.. ?

“Farah. Ihh…” aku memasang muka sebal dan hampir menangis. Tapi tiba-tiba..

Cup..

Sebuah kecupan mendarat dipipiku. Farah lalu meninggalkanku. Dia menuju ke podium dan merentangkan kedua tanganya sambil berjoget.

“Hello gaes. Yuk sekarang kita ganti baju renang semuanya…!!” ucapnya semakin membuatku terkejut.

Tanganku diseret oleh Farah menuju ke kamarnya. Dia menyuruhku pakaian renang khusus wanita berjilbab. Tapi pakaian itu terlalu ketat dan transparant. Warnanya hitam satin dan jika aku tak pakai bra pasti nyeplak banget tuh puting jika basah. Duh bayangin aja kok darahku jadi berdesir gini yah.

Aku cukup kesusahan ketika memakai pakain itu. Jujur ini sulit masuk karena aku masih pakai bra. Farah membantu menarik reselting di punggung. Cukup susah juga dia melakukannya. Lalu kupakai celana setelannya yang hanya sebatas betis. Yang tak kusuka adalah pakaian ini terlalu ketat. Sial mana roknya pendek banget. Ini mah pakaian anak remaja. Duh Farah!!

“Nggak usah pakai ini. Entar kesempitan jadi sakit kamunya.” Farah melepas bra yang kupakai.

“Tapi ini terlalu..”

“Memang lebih baik ngga usah pakai bra sayang. Uhh. Indah sekai payudaramu masih kencang.”

“Auu.. kok diremas sih.”

“Lihat tuh putingmu nonjol. Terangsang yah. Pipinya sampe merah gitu. Hihi.” ledek Farah.

Sungguh aku malu sekali. Aku tak berani keluar kamar. Tapi setelah Farah selesai berganti pakaian dengan pakain renang model two piece, dia menyeretku keluar.

“Aku malu tauk!!”

“Yang lain juga nggak malu masa malu sih. Lihat aku cuma bikini doang aja pede. Hehehe.” ucapnya.

“Hassshh.” aku segera memakai headcoverku.

“Rambut yang indah mengapa harus ditutupin.” celetuk Dion melewatiku.

Pesta di mulai. Semua berdansa mengikuti alunan musik. Sementara aku hanya duduk berdiam diri di sofa paling pojok sambil mainan hago. Bodoh amat kalian mau party aku tak akan terpengaruh. Sudah cukup segelas alkohol tadi.

Aku mau telpon mang Kardi tapi aku lagi kesel sama dia. Habis nyebelin sih. Bisa-bisanya Mang Kardi selingkuh dengan Mbak Tini. Padahal mereka kan sudah punya pasangan masing-masing. Ckck..

“Hey. Ayo dong. Ini ulang tahunku. Hargain aku dong.” panggil Farah.

“Kamu juga harusnya juga hargain aku Far. Aku tidak minum dan tidak suka dengan party-party gini.” balasku

“Apa nggak denger??”

“Sudah sana. Aku di sini aja. Percuma aku ngomong kamu nggak denger!!” kataku dengan nada lebih tinggi.

“Apaan sih. Kamu ngomong apa sayang. .. Sini yuk. Taroh dulu handphonenya!” Farah kembali menyeretku.

“Sini biar aku yang bawa.” sahut Bu Dania merebut hapeku.

Aku di bawa keluar. Di tepi kolam renang kulihat Dina dan Kevin berciuman. Dina sudah melepas jilbabnya. Dasar anak itu!

Dan bahkan dia tak malu memakai biki ni mirip Farah. Tak jauh berbeda si Lisna juga asik bergoyang sambil membawa sebotol wine. Bikininya cukup membuatku terperangah, dia memakai bikini model one piece yang teramat seksi. Sementara itu Bu Rosita memakai bikini model sepertiku hanya saja punya dia tak seketat punyaku.

“Hayolah Resti. Kita enjoy bareng. Kita kan sudah jadi keluarga.” ujar Bu Dania dari belakang yang hanya memakai bikini model tanktop, Tanktini namanya.

“Ayo minum lagi sayang. Biar ngga dingin kalo mau renang”

Aku dipaksa meminum minuman itu lagi. Lagi dan lagi hingga berapa gelas aku sudah tak ingat. Dan lama kelamaan aku hanyut dalam musik yang dimainkan oleh Galang. Aku ikut berdansa bersama mereka. Ohh.. apa yang kulakukan… aku serasa terbang dan bebas..

“Ohh.. ” aku terkejut. Sebuah tangan kekar menariku.

Kevin??

“Sayang, kamu cantik sekali. Lepas saja head covernya. Aku penasaran dengan rambutmu.” bisiknya sambil memeluk leherku.

Perlahan tangan Kevin menarik headcover punyaku. Dan rambutku yang panjang tergerai. Aduh.. aku bingung tak bisa menolaknya. Dia terus memandang wajahku dari dekat. Astaga, anak ini tampan banget sih!! Aku tak berkedip menatap bola matanya yang mirip bule. Hidungnya mancung dan kumisnya tipis menyambung sampe ke jamban dan jenggotnya. Lelaki ini macho banget. Darahku berdesir berada didekatnya.

“Maaf, aku mau berenang saja.” ucapku melepas tangannya.

Aduh.. jalanku jadi sempoyongan gini. Keseimbanganku goyah. Tiba-tiba sebuah tangan menahanku hingga tak jadi terjatuh. Dan itu adalah tangan Kevin. Duh tatapanya..

“Hati-hati sayang. Yuk aku bantu nyebur.” dia memapahku ke dalam kolam renang.

Perlahan dia mulai menenggelamkanku ke dalam air. Kakiku segera meraih pijakan. Untung kolamnya hanya sebatas dada. Jadi aku tak perlu takut tenggelam. Si Kevin juga mulai terbenam di air dan dia kembali mendekatiku. Duh ini anak naksir sama aku kali yak..

“Sayang. Kamu bisa berenang??”

“Enggak. Ajarin dong.”

Astaga apa yang kuucapkan. Aku kan bisa berenang. Duh.. aku kok jadi gini sih. Ucapanku membuat Kevin tersenyum dan lantas dia kembali memeluk leherku. Jantungku berdebar. Apakah dia akan menciumku.. oh.. kenapa aku berhalusinasi seperti itu..

Bibir Kevin semakin dekat..

Ah…

Dia..

Aku memejamkan mata. Kemudian tiba-tiba sebuah daging terasa di bibirku..

Aku tak tahan lagi..

Ahmm..

“Kok aneh?”

Aku merasa malu. Ternyata itu bukan bibir Kevin. Tapi jari telunjuknya yang kukecup. Duh..

“Hey kalian mesra amat sih. Hahahaha” celoteh Farah.

Selama berenang aku dan Kevin saling kejar-kejaran. Entah mengapa aku bisa tertawa lepas walaupun sesekali dia mencolek pantat dan payudaraku. Dan yang paling membuatku kesal dia sok cuek. Padahal aku tahu dia sengaja. Tapi dia pura-pura nggak sengaja.

“Ihh. Jangan cari kesempatan!!” hardikku.

“Apaan sih. Aku kan cuma berenang dan nggak tahu kamu di depanku.” dalih Kevin.

“Ihh.. alesan aja.” aku mencubitnya.

“Nakal ya berani colek-colek aku sekarang.” Kevin mendekat.

Wuuuuush…

“Ihh.. nyebelin!!” dia berusaha membalas cubitanku.

Aku lempari dia pakai air tapi dia malah menyelam dan tiba-tiba kurasakan tangan kekar mengangkat tubuhku ke atas. Aku panik tapi tiba-tiba.

Mmmmmmmhh..

Dia menciumku. Kita berciuman..

“Ahhmm…”

Aku melotot. Dia terus memejamkan matanya dan melumat bibirku. Saat aku ingin membalas tiba-tiba dia menarik kepalanya ke belakang. Duh..

“Ciee. Kalian ciuman ya tadi. Aku rekam loh. Hahaha” ujar Bu Dania dari tepi kolam.

Aku malu sekali. Kudorong dada Kevin dan aku segera naik lalu mengentas tubuhku di ranjang kayu. Aku heran.. apa sih maunya tuh cowok. Bikin kesel saja. Huh!!

Kuperhatikan Kevin tak menyusulku. Justru dia menedekati Dina. Dan anehnya aku merasa cemburu sama mereka. Dasar lelaki!!

“Sayang jangan cemberut gitu dong. Nih minum lagi.” celetuk Farah menyodorkan segelas wine.

Aku langsung meminumnya. Dia tuangkan lagi gelasnya. Dan akh kembali meminumnya. Kepalaku terasa pusing. Aku sudah on banget. Duh.. kok aku jadi mabuk gini.

“Udah Res. Kamu udah sempoyongan.”

Aku tak peduli. Aku terus meminta Farah menuangkan gelasnya. Dan kembali aku meminum gelas yang sudah dituangkannya.

“Hoek.. “

“Tuh kan jangan diterusin. Se-enjoynya aja. Besok kan kerja.”

“Oh iya, besok kan masuk kerja ya. Hahahaha.” balasku ngelantur.

Aduh. Otak ini sudah terkontaminasi minuman haram itu.

Aku mabuk.

Aku mabuk.

Aku mabuk.

Aku merasa nyaman sekali. Tubuhku terasa enteng menikmati musik EDM. Aku dan Farah bergoyang bersama. Dan tiba-tiba sebuah tangan merangkulku. Wah siapa cowok ini?

“Itu Dion sayang. Dia asik kok orangnya.”

“Hay kakak cantik.” sapa Dion.

“Kakak cantik?? Hahahaha. Farah kau dengar itu?? Dia memanggilku kakak cantik. Hahahahahah.” aku tertawa mendengar gombalan receh si Dion.

Kulihat Farah berbisik lirih dengan Dion. Aku tak bisa mendengarnya. Tiba-tiba Dion mengajakku berdansa. Aku tak menolaknya.

“Yuk, kita dansa bareng kakak cantik.”

“Iya adek tampan.”

Tangan Dion bersandar di bahuku. Tanganku disuruh memegang pinggangnya. Tapi tanganku malah mencengkram celana kolornya. Sedikit kutarik. Astaga dia nggak pake celana dalam!!

“Ihh kakak nakal ya..”

Aku tersenyum dan hanya bisa geleng-geleng. Tapi tanganku malah usil menurunkan sedikit celananya hingga lekukan selakangannya terlihat. Tiba-tiba dia membalik tubuhku. Dia peluk tubuhku dari belakang. Wah dadanya keras banget. Punggungku bisa merasakan hangatnya dada cowok ini.

“Shh… Ahh…”

Si Dion mulai nakal juga. Hihi. Dia mengedus leherku dan membuatku mendesah lirih. Tiba-tiba tanganya menarik tanganku. Kemudian dia arahkan tanganku ke bawah.

“Auuuh.. apa ini gedhe banget.” Kataku pura-pura tak tahu.

Aduh…. aku kok jadi nakal gini sih…

“Itu kontol kakak.” ucapnya

“Ihh jorok.”

Bukannya melepas benda itu aku malah mengurutnya di balik celana kolornya. Ahh.. Dion kembali mengedus leherku. Ohh… Dia mengecupnya…

Sruupph…

Tubuhku mengejang..

“Ahhhh … Adek tampan kamu ngapain… Uhhh…” rintihku menikmati jilatan lidahnya di leherku.

“Lihat saja yang lain sudah panas. Masa kita enggak.”

“Ahhh… Yang lain ngapain??” tanyaku

“Lihat di sana.. Si Farah sama Galang bermesraan di atas.”

“Mereka ngapain??” tanyaku lagi.

Aku tak mau melihat yang lain. Aku pejamkan mataku dan menikmati cumbuan dari Dion. Ahh.. dia pandai sekali bisa menemukan titik sensitivku.

Sruuuuuph

“Mereka sudah telanjang semua. Aku lepas ya pakaianmu yah, kak??”

“Apa?? Telanjang??”

Mendengar kata telanjang membuatku semakin horny. Dion yang belum kuijinkan pun tiba-tiba sudah menarik reselting di punggungku.

Resti, ini sudah terlalu jauh. Hentikan ini…

Akal sehatku berbisik lirih. Tapi gelora nafsuku sudah memuncak. Tanganku pun sudah masuk ke dalam celana Dion. Ahhhm…. Sembari menurunkan burkini, Dion menjilati pudakku. Ahhmmm.. Tangan Dion mulai berani menyentuh payudaraku. Ahh.. tidak..

“Kamu ngapain Dion??”

Aku segera membalikkan tubuhku. Musik EDM masih menyala. Kuperhatikan sekitar sudah sepi. Kemana yang lain??

Ahh.. kulihat Dion sudah menanggalkan celana kolornya. Penisnya yang panjang mengacung tegak. Sedangakan aku sendiri sudah hampir telanjang. Beruntung aku langsung balik badan sebelum pakaian ini melewati payudaraku.

“Kenapa??” tanyanya balik.

Aku bingung harus menjawab apa. Kepalaku terasa pusing sekali. Segalanya terasa bergoyang. Aku mundur ke belakang dan ingin rasanya pulang. Tapi tiba-tiba..

Bughh..

Kevin??

“Hey kalian berdua ngapain rebutin si Resti. Satu-satu dong. Ahhh… Terus Galang yang kenceng!!!” teriak Farah dari atas.

Farah sudah telanjang sepenuhnya. Di belakang Farah ada Galang yang bergerak maju mundur. Dasar mereka tak tahu malu !! Ahh…

Dion menarik pakaianku hingga satu payudaraku terlihat. Aku panik dan segera menaikkannya kembali. Tapi tangan Dion lebih cepat lalu meremas payudar kananku.

Nyet

“Wao kencang kea ABG. Hihi” ujar Dion memilin putingku.

“Kyaaa!! Lepasin!!” aku menjerit tapi tubuhku malah semakin rapat.

“Udah lepasin saja sayang.” Kevin menarik tanganku lalu menurunkan pakaian dengan.

Aku seutuhnya sudah telanjang dada di depan dua cowok tampan ini. Mereka memandangku bagai binatang buas. Bukannya takut aku malah berharap mereka menerkamku..

Ohh… Aku terangsang hebat. Putingku sudah mengacung tegak. Tapi kenapa mereka diam?

“Dion yuk Pulang. Waktu kita sudah habis. Biarkan si Resti cantik ini penasaran. Hahaha.” ucap Kevin.

“Wah. Jadi nganggur nih kontol. Kakak cantik kalo ada sejuta boleh kok rasain kontol ini.” balas Dion memakai celananya lagi.

“Apa??”

Menedengar mereka tiba-tiba nafsuku yang sudah melambung ke langit jatuh seketika. Mereka seperti mengerjaiku. Aku malu sekali. Tapi tiba-tiba..

“Ohhh… “

Kevin mendorongku, tanganya meraih leherku lalu seletika dia menciumku. Nafsuku bangkit lagi.. ah..

“Mmmppppph…” kita berciuman.

“Oh yeah.. ahhaa.. uhh. ” desaku ketika bibir Kevin menyapu leherku lalu turun ke dadaku.

Aku mengejang, ini nikmat banget. Ah…

sruuupphh…

Kevin meremas payudaraku sambil memilin putingku. Tanganku meraih kepalanya. Bukanya kujauhkan kepala itu justru semakin kubenamkan agar dia bisa puas menikmati payudaraku. Ahmmm…

“Aku juga dong.”

Tiba-tiba Dion ikut mencomot payudaraku yang satunya. Ohh.. tubuhku diapit dua cowok tampan yang sedang menyusu di payudaraku. Tangan mereka juga semakin berani meremas pantatku. Aku sudah lupa dengan statusku. Aku ingin dihajar dua cowok tampan ini. Tapi aku kan sudah bersuami. Oh …

Nikmatin saja Resti.. kamu sudah kalah

Oh.. bisiskan iblis mulai menghujani akal sehatku. Pengaruh alkohol semakin membuatku hanyut dalam permainan mereka.

“Di lanjut saat Arisan ya Bu. Ibu belum ada kontrak dengan kami. Anggap saja itu bonus dari kami.” ujar Kevin membuatku terperangah.

Mereka berdua kemudian pergi. Aku bingung. Sebenarnya mereka kenapa sih…

“Wah kalian berdua jahat banget! Galang lima menit lagi yah. Aku transfer 1 juta lagi. Nanggung banget ini.” racau Farah melihat diriku

“Ok. Deal.” balas Galang.

Kulihat Farah terlentang. Sementata Galang menusukkan penisnya dari depan. Sembari meremas payudara Farah, Gang maju mundur. Aku hanya terpaku menatap mereka. Tiba-tiba Bu Dania menepuk pundakku.

“Duh, kasihan kamu. Farah nggak cerita ya? Sudah yuk kita ganti pakaian. Besok kita harus kerja.” ucap Bu Dania membetulkan pakaianku.

Aku hanya bengong sambil dipapah oleh dia. Sesekali aku menoleh ke belakang. Farah dan Galang masih bertempur panas.

Setelah berganti pakaian aku dan yang lain langsung pulang. Kulihat Mang Kardi masih setia menungguku di depan. Padahal aku kan belum menguhubunginya.

“Jam berapa Mang?”

“Jam 10 malam Bu.”

Astaga. Lama sekali tadi pestanya. Aku segera masuk ke mobil. Mang Kardi langsung tancap gas.

“Kok ngga pake jilbab Bu?”

“Panas mang.. oh iya. Mas Ridwan sudah pulang belum?”

“Belum Bu. Katanya sih besok pagi Bu.”

“Huh. Pasti dia selingkuh lagi!!”

Aku sandarkan kepalaku ke belakang. Tiba-tiba kursiku terjungkal ke belakang.

Oh Resti. .

Malam ini kamu sungguh nakal..

Beruntung mereka tak mengerjaimu saat itu juga..

Terima kasih buat hari ini. Aku bahagia meski ada hasrat yang belum tersalurkan…

Bersambung

END – Terjebak Arisan Part 4 | Terjebak Arisan Part 4 – END

(Terjebak Arisan Part 3)Sebelumnya | Selanjutnya(Terjebak Arisan Part 5)