Terjebak Arisan Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19

Terjebak Arisan Part 3

Start Terjebak Arisan Part 3 | Terjebak Arisan Part 3 Start

Episode 3

“Mang Kardi, Mas Ridwan sudah pulang belum??”

“Belum, Bu.”

Kemana sih suamiku!! Kok dia nggak ngabarin sih. Astaga ada 13 panggilan tak terjawab. Kok aku nggak tahu sih. Panggilan itu tertera di pukul 04.00.

“Ya ampun mas.. kamu kemana sih. Bikin khawatir saja!!” keluhku mencoba mengubunginya balik.

Tuuut tuuuut..

Sial. Nggak aktif lagi.Aku mencoba menghubungi beberapa nomor temennya. Mungkin Pak Edo tahu keberadaan Mas Ridwan. Tapi tak satupun yang menjawab telepon dariku.

Jangan-jangan dia bersama wanita simpananya. Tapi kenapa dia menelponku di waktu subuh??

Mas Ridwan…

Jangan membuatku khawatir dong!!

“Bu, gawat bu gawat!!!” teriak Mbak Tini dari arah dapur.

“Apa sih.. Mbak!!” ucapku tak kalah panik.

Degh

Degh

Degh

Aku berlari ke arah dapur. Kulihat Mbak Tini sedang memutar-mutar kompor.

“Anu… Ini gasnya abis. Padahal tinggal dikit lagi buburnya mateng.” kata Mbak Tini panik.

“Hiiiiiih.. kirain apa. Ya sudah, mbak beli gas dulu. Gpp deh buburnya setengah mateng. Nanti juga bakalan kumakan. Tapi aku mau mandi dulu.” ucapku.

“Ya sudah. Saya tinggal bentar ya mbak.” pamitnya.

Huh, Mbak Tini bikin panik saja. Setelah kepergian Mbak Tini, aku menuju ke kamarku. Kulepas seluruh pakaianku. Hmm, hari ini terasa panas sekali padahal ac di kamar sudah mentok di suhu paling rendah. Mungkin enak kali ya nanti sore berenang. Tiba-tiba ada sebuah pesan masuk di Grup Arisan.

Farah

Gaes… Nanti datang ya ke rumahku. Ada sedikit pesta kecil-kecilan. Oyah dress codenya pakaian renang. Karena ada game seru nantinya.

Tepat sekali. Di saat aku ingin berenang si Farah malah ngajakain berenang. Tapi acara apa nih???

Setelah mandi aku langsung melahap bubur buatan Mbak Tini. Hemmm… Maknyusss. Mantab bener nih Mbak Tini bikin buburnya. Sembari menghabiskan semangkuk bubur aku menonton berita di TV. Tiba-tiba tanganku menyentuh sesuatu yang aneh di sofa bukuku. Kok ada semacam lem yang mengering yah.. ihh.. jangan-jangan..

Pliss, jangan berpikiran aneh-aneh Res!!

“Hasssshh…!”

Sumpah ya… berita di TV kok isinya membahas tentang pemilu. Kuganti chanel tapi nggak ada tontonan yang menarik. Dan akhirnya aku berhenti ketika ada kartun Doraemon. Nah ini baru menghibur.

Aku ketawa sendiri hingga tak menyadari ada keberadaan Mang Kardi di belakangku. Ah sial… jangan-jangan Mang Kardi lagi curi pandang mengintip belahan dadaku. Saat ini aku sengaja memakai dress berbahan satin yang agak longgar di bagian dada. Dengan bawahan hotpants yang meperlihatkan paha mulusku. Memang seperti inilah kalo aku tidak keluar rumah.

“Lagi sibuk ngapain Mang?” tanyaku basa-basi.

“Eh a-anu bu.. saya lagi nyari kunci mobil buat ganti oli. Kalo nggak salah sih kemaren ada di sofa.” jawabnya agak gagap.

Duh.. aku kok negative thinking melulu sih. Gara-gara kejadian kemaren aku jadi agak sedikit parno dengan Mang Kardi. Tapi pandangan Mang Kardi kok fokus banget ke arah dadaku..

Dasar mata jelalatan!!!

Aku langsung beranjak dari tempat ku duduk. Dan seketika kutemukan kunci mobil yang dicari oleh Mang Kardi. Kok bisa ada disini sih…

“Tuh Mang kuncinya. Kok ada di sini sih?” tanyaku.

“Oh.. ada ya, Bu. Mungkin kemaren malem. Eh.. tidak. Mungkin saat saya habis nganter ibu kuletakan disitu. Soalnya kemaren kan saya buru-buru kebelet pipis.” jawabnya terpatah-patah.

Dari logatnya bicara sih aku tahu betul dia sedang berbohong. Kecurigaanku semakin dalam saat aku tertidur pasti Mang Kardi berbuat sesuatu padaku.

Sangat mencurigakan!

“Mang Kardi. Jujur padaku. Saat aku tertidur apa yang Mang Kardi lakukan terhadapku. Aku tak akan marah. Tapi kuharap Mang Kardi cerita dengan detail!” ucapku sedikit emosi.

Mang Kardi duduk di sampingku. Kepalanya terus merunduk dan dia mulai menceritakan kejadian semalam dengan wajah penuh ketakutan. Aku jadi merasa iba dengan raut wajahnya itu…

“Jadi begini Bu. Maafkan saya sebelumnya. Saya tak bermaksud kurang ajar terhadap ibu. Tapi saya sangat penasaran setelah melihat ibu telanjang kemaren. Ibu sangat cantik dan memiliki tubuh yang indah sempurna.”

Hmmmmm!! Ternyata benar dugaanku!! Wah dia bilang aku cantik dan sempurna??

Aku cukup tersipu dengan pujiannya secara terang-terangan. Emosiku yang memuncak perlahan mulai menurun. Kutarik dressku ke atas yang di bagian dada. Jujur aku agak risih dengan matanya yang fokus ke titik itu. Kemudian dia kembali melanjutkan ceritanya.

“Sungguh sejak awal saya bekerja di sini tak terbesit sedikitpun untuk melakukan ini. Saya sangat menghormati, terlepas dari kekaguman saya kepada ibu. Saya juga merasa kasihan kepada ibu yang jarang ada waktu bersama bapak maupun Gadis. Dan jika ibu tahu bapak jarang pulang bukan karena urusan pekerjaan. Selama ini bapak sudah tak seperti dulu.”

“Maksudnya tak seperti dulu?”

“Bapak sekarang hobinya berjudi dan sering mabuk-mabukan. Padahal saya tahu betul bapak dulu tidak seperti itu. Dia itu dulu rajin ngaji, rajin beribadah tapi namanya manusia ya gimana ya bu, manusiawilah.”

Manusiawi… aku cukup syok dengan penuturan Mang Kardi. Jadi selamanini Mas Ridwan membohongiku. Mulai dari foto-foto kemaren dan ditambah penuturan Mang Kardi semakin membuatku lemas mendengar kenyataan ini.

“Kenapa Mang Kardi tak pernah cerita. Harusnya Mang Kardi cerita!!”

“Maaf, Bu.”

“Lalu apa yang Mang Kardi lakukan saat aku tertidur semalam??!” tanyaku to the point sebelum dia mengalihkan cerita ke lainnya.

“Anu.. sebenarnya saya nggak sengaja Bu. Saat itu saya lewat dan saya lihat ibu tertidur pulas. Tapi melihat posisi tidur ibu memaksa saya untuk melakukan itu.

“Melakukan apa??”

“Maafkan saya bu. Saya cuma meremas payudara ibu. Saya penasaran dengan ukuran payudara ibu. Walau tak segedhe punya istri saya tapi punya ibu masih kencang. Saat itu ibu menggeliat dan seperti behalusinasi…”

“Halusinasi.. ??”.

“Ibu saat itu bilang. Terus Kevin remas yang kenceng!!”

Aku menutup mulutku. Memang aku kalo tidur suka mengingau. Suamiku pernah cerita jika aku mengigau minta dibeliin mobil. Sehingga sehari kemudian dia membelikanku sebuah mobil. Tapi jika mengigau dan menyebut nama orang lain apa jadinya nanti. Mendengar pengakuan Mang Kardi, aku dapatkan menyimpulkan jika soal Mang Kardi meremas payudaraku itu adalah hal yang manusiawi. Lelaki manapun akan melakukan hal yang sama. Tapi entah mengapa aku tidak marah sama sekali. Justru aku penasaran dengan aksi dia selanjutnya.

“Apa cuma itu yang Mang Kardi lalukan. Terus bagaimana kok alarm saya mati. Dan aku sama sekali tak mendengar bunyi alarm. Pasti Mang Kardi kan yang memantikan alarm?”

“Anu bu… Saat itu saya kaget bukan kepalang. Saya buru-buru matiin alarm. Kalo ngga saya bisa ketahuan sedang gerepein ibu. Sungguh saat itu saya pengen ngentotin ibu. Tapi saya takut nanti dilaporin polisi dan mendekam di penjara. Jadi saya sebisa mungkin menahan nafsu saya. Saya kagum dengan keindahan tubuh ibu. Kulit putih bersih tanpa cacat baunya wangi pula. Tapi saya merasa kasihan wanita secantik ibu kok diduain sama bapak.”

Masa cuma itu?? Dan lagi dia membuatku tersipu karena bikang aku cantik.

Sial. Dia sudah menang banyak. Aku cukup terasanjung dengan pujianya terhadap tubuhku. Di sisi lain aku tahu dia mencoba mencari kesempatan kedua dengan dalih perselingkuhan suamiku. Hatiku hancur mendengar itu. Namun disisi lain ada semacam dorongan untuk membalas perbuatan suamiku.

Jangan gila, Res!!

Untuk kasus Mang Kardi, jujur aku masih kecewa. Tapi entah kenapa aku tak bisa menunjukkan kekecewaanku padanya. Ekspresi Mang Kardi yang ketakutan justru membuatku merasa iba. Aku tahu dia selama ini sudah bekerja dengan baik. Tapi satu kesalahannya ini sudah sangat fatal. Dia berani menyentuh salah satu bagian tubuhku. Walaupun dia tak sampai memperkosaku saat itu juga.

“Oyah Bu. Saya heran kenapa Bapak berani menyelingkuhi ibu. Padahal kan…”

“Udah jangan bahas dia lagi. Aku sudah tahu semua. Lebih baik saya pura-pura tidak tahu daripada keluargaku hancur, Mang. Soal kejadian semalam aku harap jangan diulangi lagi. Aku tak akan melapor ke polisi karena Mang Kardi sudah jujur. Tapi ada syaratnya. Mang Kardi harus nurutin semua perintahku tanpa alasan apapun.”

“Siap Bu. Saya janji tidak akan mengulangi kembali kecuali ibu sendiri yang menarik ucapan ibu. Tapi ijinkan saya coli didepan ibu sekali lagi. Saya nggak tahan Bu.”

“Tidak!! Jangan buat saya berubah pikiran!!!”

“Sekali lagi, Bu pliss!!”

“Jadi kemaren Mang Kardi coli di depanku??” tanyaku baru menyadari dia membuat pengakuan baru.

“Ayolah Bu. Saya tidak pernah meminta macam-macam. Iya Bu, kemaren saya cuma coli didepan Ibu sembari nenen di payudara ibu. Tapi saya nggak berbuat lebih kok.”

Degh ..

Dia seberani itu?? Kupikir dia hanya meremas payudaraku. Tapi ternyata..

Ohh.. apa yang selanjutnya dia lakukan. Aku melotot tajam ke arahnya saat dia bangkit dari tempat duduknya.

“Ihhh.. astaga, Mang!! Ngapain buka CELANA!!!!”

Reflek aku menutup kedua mataku. Perasaanku tak enak. Baru kali ini kulihat penis Mang Kardi. Bentuknya aneh. Penis Mang Kardi agak sedikit bengkok dan hitam. Tapi helmnya berwarna merah mengkilap. Oh … Kenapa aku malah mengintip dibalik jemariku.

Kulihat Mang Kardi horny berat sambil mengurut penisnya di depanku. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Jujur aku bingung dan terpaku di tempatku. Kemudian aku hanya bisa membelakanginya.

“Lihat sini dong, Bu!!” katanya

“Kyaaa!!”

Mang Kardi malah berpindah tempat dan menjulurkan penisnya di depan wajahku. Aku yang tak sempat menutup mata hanya bisa menundukkan kepala.

Jangan lihat Res!!

“Bu Resti.. ohhh.. wajahmu sungguh ayu wahai bidadariku. Aku sangat mengangumimu Resti sayang. Oooouuhhh… Lihatlah ini sayang!!!”

Sungguh putingku serasa gatal melihat dia coli sambil menyebut namaku dan lagi aku tak memakai bra saat ini. Aduh…. Aku meremas sofa sambil mengatur nafasku yang semakin menderu seiring degup jantungku yang terus berpacu

Degh

Degh

Degh

“Bu janji ya. Jangan laporin ke polisi. Saya janji akan menuruti semua perintah ibu. Dan saya juga akan jaga rahasia ibu. Saya tahu semua aktivitas ibu dengan ibu-ibu arisan itu.”

Degh

Bagaimana Mang Kardi tahu, apakah dia juga tahu arisan seperti apa yang sedang aku ikutin? Duh.. aku ngeri jika sperma Mang Kardi menyemprot dan mengenai wajahku. Aduh…

“Iya. Tapi buruan dong Mang. Nanti gimana kalo ketahuan Mbak Tini??!” bukanya memarahinya aku seolah telah merestui aksi Mang kardi.

Tiba-tiba..

“Bu Resti cantik banget sih.. uh.. lihat nih penis saya bu. Jangan malu-malu gitu.” Mang Kardi menarik tanganku. Lalu meletakkannya di ujung penisnya. Ahh..

Wah… Keras banget!!

“Ihh… Mang jangan!!!” Aku sontak menarik tanganku.

“Ya sudah lihatin aja saja Bu!! Aku suka lihat wajah ibu. Jangan ditutupin. Bibir ibu seksi, hidung ibu mancung, pokoknya ibu yang tercantik dari semua wanita yang pernah saya temui.” dia terus melontarkan kata-kata mutiaranya.

Aku hanya bisa terdiam membisu menyaksikan gerakan tangannya yang maju mundur.

“Udahan dong Mang!! Malu kalo ketahuan orang!!” kataku sedikit gelisah.

“Nggak bisa Bu kalo ngga dibantuin. Tolong dong Bu. Sekali ini saja bantuin punya saya biar cepet keluar. Ouuhhhh..”

Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Jujur aku sendiri mulai gelisah. Darahku berdesir hebat, ada semacam dorongan nafsu yang terus menggedor-gedor akal sehatku. Kucoba bertahan namun rasa aneh ini terus menghasutku untuk berinisiatif melakukan sesuatu.

Jangan Res. Jangan rendahkan dirimu!

Aku merasa malu dengan diriku sendiri. Namun, di sisi lain hatiku ingin menyenangkan pria yang selalu baik padaku. Dia yang selalu memujiku dan selalu ada sat kubutuhkan.

Duh.. itu kok tambah semakin gedhe sih…

“Ih.. aku harus ngapain. Jangan aneh-aneh dong Mang.” aku gigit jari.

Mang Kardi masih menatap wajahku. Sambil tersenyum dia terus mehujaniku dengan kata-kata indah yang terus meracuni akal sehatku. Tiba-tiba..

“Ibu cukup lihat saja. Dan terseyum kepada saya. Itu sudah cukup Bu.”

Ahh.. apa maunya sih. Dia bukanya menyuruhku mengocok penisnya tapi malah justru menyuruhku melihatnya saja.

Aduhh.. Resti!! Bukankah itu lebih baik. Ayo berikan senyum termanismu!!

“Ayo cepat keluarin sayang.” kataku sembari tersenyum.

Tiba-tiba Mang Kardi menjerit dan semakin mempercepat kocokannya. Selang beberapa detik kemudian dia mengerang keras dan mengejang.

Croooot…

Croooot…

Astaga banyak sekali sprema Mang Kardi. Cairan itu mengenai dress miniku dan sebagian ada di pipiku. Aku masih tersenyum sekaligus takjub. Baru kali ini ada sperma lelaki lain yang menyentuh kulitku. Aku juga baru menyadari yang kukatakan tadi sebelum Mang Kardi berejakulasi. Aku memanggilnya sayang. Astaga Resti..

“Makasih Bu.. saya minta maaf. Permisi.”

Mang Kardi pergi begitu saja dan meninggalkanku yang tengah memantung. Aku tak percaya. Kejadian ini sungguh terjadi. Aku.. ohh… Aroma sperma Mang Kardi tercium kental di ujung hidungku.

“Gila! Apa yang kulakukan.” desisku sambil mengelap wajahku dengan tisue.

Setelah kejadian itu. Aku segera mencuci muka dan berganti pakaian. Tapi aroma sperma Mang Kardi yang masih melekat di pakaianku membuatku semakin gila. Saat kulepas seluruh pakaianku, aku merasa nafsuku semakin memuncak. Ahh.. pintuku lupa belum tertutup rapat. Apakah Mang Kardi akan mengintip lewat sana. Aduh mengapa aku malah berharap dia mengintipku…

Ahh… Hanya karena sperma kenapa aku jadi seperti ini. Aku hirup pakaianku dan menjilati sisa sperma Mang Kardi yang masih menempel. Asin dan gurih.. ah…

Aku tak tahan lagi. Kuremas payudaraku dan kupilin putingku yang sudah mengacung. Oh…

“Mang Kardi.. kau apakan diriku hingga aku jadi seperti ini.” kataku meracau sendiri.

Vaginaku semakin basah. Aku terangsang hebat hanya karena menyentuh cairan sperma lelaki lain. Ahh… Kumasukan jemariku ke dalam liang vaginaku. Ah… Nikmat…

Cppppak

Cppppak

“Ouuuhh.. iyyyaaahh… ” racauku terbawa nafsu.

Tak sampe 10 menit aku orgasme. Kurasakan spreiku sampai basah karena air cintaku. Dan baru kusadar, tanganku masih memegangi pakaian yang terokontaminasi spremanya Mang Kardi. Ohhh..

Tiba-tiba pintu terbuka..

Astaga aku masih telanjang…

“Ibu ngapain??”

“Mbak Tini??!”

Bersambung

END – Terjebak Arisan Part 3 | Terjebak Arisan Part 3 – END

(Terjebak Arisan Part 2)Sebelumnya | Selanjutnya(Terjebak Arisan Part 4)