Terjebak Arisan Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19

Terjebak Arisan Part 2

Start Terjebak Arisan Part 2 | Terjebak Arisan Part 2 Start

Episode 2

AKHIRNYA aku sampe juga meski di jalan tadi agak kikuk sama Mang Kardi. Saat aku masuk di kediaman Bu Rosita, kulihat sudah banyak yang datang. Penampilan mereka sungguh luar biasa. Seperti wanita sosialita pada umumnya. Tapi kulihat ada beberapa yang sepertiku. Berjilbab namun trendy..

Ada orang lama dan beberapa orang baru. Salah satu yang membuatku terkejut adalah kehadiran Dina. Ngapain Dina berada di sini ? Kalo ada dia..

Jangan-jangan…

Deg.

Kevin ??

Sumpah, ini kan acara ibu-ibu. Ngapain anak milenial itu bisa sampe kesasar kemari. Belum hilang rasa terkejutku. Kevin malah duduk di antara ibu-ibu lainnya. Keherananku dibuyarakan oleh Farah.

“Eh, Resti. Ngapain bengong. Ayo duduk. Ada yang sesuatu yang spesial nih. Pokoknya kamu harus ikut. Sekali kamu duduk artinya kamu tidak boleh berdiri sebelum menyetujui perjanjian arisan kali ini.”

“Maksudmu apa sih, Farah!!” kataku.

Dan parahnya Farah memaksaku duduk di sampingnya. Kulihat yang laen tertawa. Aku tak tahu ada apa ini sebenernya. Kok nggak seperti arisan sebelumnya. Ya, tentunya karena kehadiran pemuda bernama Kevin itu menjadi pembeda.

“Udah jangan dilihatin nanti juga kebagian kok.” celetuk Farah.

“Hah??” sial aku ketahuan oleh Farah saat memandangi Kevin.

Belum hilang rasa bimbang ini, tanganku sudah terselip sebuah pulpen. Wait, aku harus baca isi perjanjian itu. Tapi sial, si Kevin terus memandangiku. Aku jadi merasa gimana gitu dilihatin cowok itu. Astaga!! Kok bisa kebuka lagi sih dadaku ini. Aku benerin posisi jilbabku yang agak tersingkap. Untung dress ini ngga sampe ngelihatin belahan payudaraku. Bisa untung banyak tuh orang. Huh!!

Srrreeeet

“Bagus. Gitu dong!!” ucap Farah.

Ahhhh… Kok… aku tanda tanganin sih… Padahal aku belum baca. Dan surat itu tiba-tiba sudah ditarik saja oleh Farah. Kemudian giliran yang laen. Aku masih penasaran dengan isi perjanjian itu. Gara-gara Kevin aku jadi sembrono gini ih… Semoga nominal arisan masih sama kea dulu. Bisa tekor gaji aku kalo arisannya dengan nominal banyak.

“Baiklah. Semua sudah tanda tangan. Saya harap kalian menjaga rahasia ini baik-baik. Dan kalian sudah menyetujui hingga perjanjian ini berakhir di tahun depan. Selamat menikmati permainan ini. Dan setiap yang ketempatan saya harap tidak ada alasan dan tukeran. Pokoknya semua happy yah.” jelas Bu Dania

“Apaan sih!! Ga jelas banget!!” gerutuku dengan nada pelan.

Sementara itu kulihat Bu Rosita menarik tangan Kevin. Kemudian mereka menuju ke sebuah kamar. Gila! Ngapain mereka??

“Cie yang sudah DP pertama langsung sikat aja nih ye…!!” sorak yang laen.

Jujur aku masih bingung. Sebenarnya ada apa ini. Aku mengambil kertas perjanjian itu. Sungguh kepalaku serasa digodam oleh palunya “Thor”. Apa ini sudah gila?? Di mana hati nurani mereka. Ini sungguh SESAT!!

“AKU NGGAK JADI IKUT!” kataku dengan nada tinggi.

Semua mata tertuju padaku. Biarin, aku sangat kecewa. Di mana moral mereka semua. Aku seolah sedang dijebak di sebuah permaianan gila para emak-emak. I say No!!

“Kamu sudah tanda tangan dan kamu harus mengikuti peraturanya. Jika tidak itu artinya kamu harus mengganti uang dari donatur. Lagipula ini dijamin kerahasiaannya sayang.. Intinya jika kamu sampe ML itu adalah bonus. Selebihnya keputusan ada di kamu. Kapan lagi bisa kencan sama cowok-cowok tampan yang bisa kamu suruh apa saja. Hahahahaha..” jelas Farah.

“ENGGAK MAU FARAH!!”

“Sssssst… Tenangkan dirimu cantik. Ijinkan saya menjelaskan sesuatu kepadamu.” sahut Bu Dania.

“Aku tak mau dengar apapun itu. Terima kasih atas jamuannya. Permisi!” aku segera beranjak dari tempat duduk lalu berjalan ke arah pintu luar.

“STOP. Jika kamu keluar itu artinya kamu sudah mengingkari perjanjian ini. Tentunya kamu sudah baca kan konsekuensinya jika kamu melanggar? Shit, Resti. Dengarkan dulu penjelasan saya.” ucap Bu Dania, kali ini nadanya terdengar sangat emosi.

“Aku tak akan menghianati suamiku. Kalo arisan biasa aku ikut. Tapi untuk peraturan yang no 5…. Hassssh…. Sungguh kalian ini apaan sih.. Aku tak akan sudi menjalani hukuman seperti yang tertulis. Jika mendapatkan arisan, itu sama halnya aku menyediakan tempat untuk perzinaan. Ini bukan menguntungkan tapi malah merugikan!” balasku sangat keberatan.

“Nominalnya dua lali lipat. Dan tentu kita tidak akan menghukum di luar batas normal. Karena hukumannya kan simpel, Res…. Tentu kamu sudah pernah melakukannya bukan. Tenang saja sih…. semua RAHASIA. Orang luar tidak ada yang tahu. Donatur yang bertanggung jawab.” sahut Farah.

“Aaaah.. tapi aku tak sudi jika mereka memaksaku melakukan hubungan badan!” ucapku masih keberatan dengan rules yang dibuat oleh Bu Dania.

Mereka mungkin tampan. Seperti halnya si Kevin. Tapi mana mungkin aku kencan sama seorang Gigolo!! Si Farah menjemputku balik ke tempat duduk. Dia merangkul tubuhku kemudia n mendekatkan mulutnya ke telingaku.

“Kan keputusan ada di kamu. Kamu hanya perlu menikmati pijitan para jagoan. Dan tentunya kamu akan pengen pada waktunya. Ayolah… ” bisiknya di telingaku merendahkanku.

“Bu Resty. Jadi begini, kita kan wanita yang terhormat dan kalangan orang-orang sibuk. Dan lagi, saya sangat paham orang-orang kea kita ini sangat jarang mendapatkan kasih sayang dari suami. Meski saya sendiri belum menikah tapi saya sangat tahu betul yang ibu-ibu rasakan. Suami-suami ibu adalah orang kaya dan sangat. Satu lagi, hampir jarang berada di rumah. Apa kalian tak pernah menduga mereka juga punya wanita simpanan di luar sana? Saya kenal betul dengan suami anda, Bu Resti. Seperti hal nya dengan suami ibu-ibu yang lain. Mereka di belakang kita aja punya wanita simpanan. Jadi, bukanah ini cukup fair! Maaf ya, Bu Resti. Suami anda di belakang anda itu seperti ini. Tapi saya mohon jangan salahkan dia.

Walau bagaimanapun itu sudah kodrat jadi orang sibuk, kaya, dan tentunya jarang di rumah. Bukankah itu cukup adil dengan posisi kita sebagai seorang sosialita?? Anda bisa lihat sendiri kelakuan suami anda. Ibu-ibu yang lain juga bernasib seperti anda. Awalnya kita diem tapi ini tidak adil. Kita juga butuh kepuasan batin! Apakah yang saya ucapkan benar-benar terjadi di kehidupan anda sekarang? Kesetiaan itu adalah dimana kita bisa menerima kenyataan tanpa alasan apapun di antara kedua belah pihak. Jika berakhir dengan perceraian kesetiaan itu tidak artinya. Kecuali jika ingin hidup susah.” jelas Bu Dania tampak serius.

Jleeeb… Aku sungguh tak percaya. Suamiku dibelakangku seperti ini. Selama bicara tadi Bu Dania memberikan foto-foto perselingkuhan suamiku. Dari mana dia mendapatkan itu semua. Hatiku bagai teriris-iris jutaan belati. Kok begini sih kelakuan Mas Ridwan.. hiks..

“Baiklah. Aku ikuti permainan kalian. Awas saja rahasia ini tersebar. Aku tak akan memafkan kalian.” kataku agak ragu.

Jujur, ini bukan kemauanku. Tak ada cara lain lagi. Mengetahui suamiku seperti itu dibelakangku kupikir cukup impas jika aku juga mendapatkan kepuasan batin. Tapi hati ini… Hatiku terlalu cinta sama Mas Ridwan. Berdebat dengan Mas Ridwan malah hanya akan menimbulkan perceraian. Tapi kenapa dia menghianatiku???

Kuputuskan sudah, aku akan mengikuti permainan mereka. Nasi sudah jadi bubur. Menangis pun tak akan merubah keadaan. Memang benar yang orang tuaku katakan. Jangan terlalu mengejar harta, harta akan membutakan mata dan hati kita. Dan kenyataan itu sekarang terjadi pada kehidupanku sekarang. Demi keutuhan keluargaku, terpaksa aku juga akan mengkhianatimu Mas Ridwan. Maaf!

“Sayang. Jangan gitu dong. Kita nanti happy bareng. Mmuuuach.”

Farah??!

Dia waras nggak sih!! Huhuhu. Dengan pedenya di mengecup bibirku. Aku sangat malu diketawain yang laen. Jangan-jangan dia suka sesama jenis. Hiii… Takut…

“Cium lagi ya. Seksi banget bibirmu say!” ujar Farah genit.

“Gamau ih…gua bukan lesbong. Tolooong!!”

Dia malah menggelitiki pinggangku. Aku tak bisa menahan geli sampe air mataku keluar.

“Hahahahaha.. udah cukup Farah. Geli tauuu!!!!!” omelku sembari menghindari jemari usilnya.

Aku yang sempat down jadi sedikit terobati karena perlakuan Farah. Aku bisa membaca perlakuannya. Dia bernasib sama sepertiku. Dan dia butuh sandaran untuk membuatnya terus bertahan.

Beruntung Farah hanya sekali menciumku. Setelah itu acara dilanjutkan dengan pengumpulan dana pertama. Gila. 10 juta dalam dalam kurun waktu dua minggu sekali. Untung saja aku masih punya bisnis boetiq. Tapi kan lumayan hadiahnya dua kali lipat. Meski ada satu bonus yang sangat tidak kusuka. Ahh… Kok jadi kebayang wajah si Kevin lagi sih….

Baru kusadar Kevin menghilang bersama Bu Rosita cukup lama. Aku jadi penasaran dengan ‘DP’ apa yang dimaksud. Kok tidak ada wacana seperti itu di perjanjian tadi. Ahh.. kok aku kepo sih. Jangan-jangan mereka….

“Kupandangi wajahmu kok panik gitu. Kamu kenapa?” tanya Bu Dania.

“Ehmm. Boleh numpang toilet, Bu Dania?”

“Ya, silahkan ada di sebelah sana ya.”

Sejujurnya aku panik bukan karena kebelet pipis tapi pengen lihat apa yang dilakukan si Kevin dan Bu Rosita.

Aku berjalan ke arah yang dituju oleh Bu Dania. Memang ada toilet. Tapi tujuanku bukan itu. Jadi, untuk mengelabui mereka, kututup pintu toiletnya. Kemudian aku mencari kamar yang dituju oleh Bu Rosi dan Kevin. Ada sebuah kamar yang tak tertutup rapat. Hemm… Aku mendekat ke kamar tersebut.

Deg

“Astaga!!” aku kaget bukan kepalang. Aku membungkam mulutku agar suaraku tak terdengar oleh mereka.

Kegilaan apa lagi ini. Kok Bu Rosi sama Kevin begituan. Ih.. ini namanya perselingkuhan berkedok arisan. Aku nggak mau! Aku g mau ikut arisan seperti ini! Tapi bagaimana aku mencari uang segitu banyaknya jika aku mengingkari perjanjian ini. Belum hilang rasa terkejutku tiba-tiba tubuhku merasakan sesuatu yang aneh. Mataku yang fokus dengan kegiatan mereka seolah telah mengirim sinyal ke setiap saraf motorik di dalam otakku. Ahh.. si Kevin tampan banget sih. Beruntung banget Bu Rosi.. aduh kenapa juga aku pikirin mereka. Jangan terpengaruh Res!!

Aku bisa melihat dengan jelas Bu Rosita keenakan menikmati jilatin lidah Kevin di kemaluannya.

“Aaaaaahhh.. terusss sayang!!” desah Bu Rosita.

Kevin terus mencumbui kemaluan Bu Rosita. Sesekali tanganya meremas payudara wanita bertubuh gemuk itu. Aduh.. pasti enak banget tuh. Aku menggigit jari sambil meremas payudaraku sendiri. Ahh.. aku kok jadi tambah horny jika terus melihat mereka. Sesekali aku menoleh kebelakang takut ada yang memergokiku sedang mengintip mereka.

“Masukin sayang. Aku udah nggak kuat!!” teriak Bu Rosita

Ya ampun punya Kevin gedhe banget. Bentuknya juga bagus tak seperti punya suamiku yang pendek dan tak se-tegak punya Kevin. Tapi di lain hatiku berkata

Udah Res.. nanti kamu ketahuan. Ah.. tapi ini nanggung banget. Berkali-kali aku terlena dengan pikiranku sendiri. Dan aku masih bertahan melihat percumbuan mereka.

Penis Kevin melesat dengan mudah di meki Bu Rosita yang tembem. Kemudian Kevin memaju mundurkan pinggulnya. Bu Rosita berteriak histeris. Astaga pasti yang lain denger nih…

“Kyaaaaa !!!”

Aku tak mau ketahuan mengintip. Aku segera berlari kecil menuju ke toilet. Cukup lama di toilet aku remasin payudaraku. Ya Tuhan, aku kok gini sih Sayup-sayup kudengar komentar ibu-ibu di depan. Wah mereka pasti lagi nonton percumbuan Kevin dan Bu Rosita. Aku jadi semakin horny. Kutarik dressku hingga ke perut lalu kuturunkan celana dalamku. Sambil berjongkok aku kocok kemaluanku.

“OOOOOOHHHHHHH!!!!” suara Bu Rosita sampai terdengar. Suara tersebut diikuti tawa cekikikan ibu-ibu.

Aku pun tak kuat lagi. Kusemprotkan air cintaku. Ohhh… Lega rasanya…

“Hah.. hah.. hah..” nafasku terengah-engah. Tubuhku jadi berkeringat. Untung ada tisue.

Ternyata benar saat aku keluar toilet. Aku memergoki Farah yang sedang meremas payudaranya. Aku pura-pura nggak tahu dan berjalan ke ruang tengah. Tapi tiba-tiba Farah memanggilku.

“Eh Resti. Sini. Lihat tuh ada yang main kuda-kudaan.”

“Hah? Aku pusing Farah. Pengen segera pulang.” tolakku.

Kupercepat langkah kakiku. Aku nggak mau lihat mereka. Meski di dalam hatiku aku penasaran dengan kegagahan Kevin yang mampu membuat Bu Rosita keluar begitu cepat. Dan sampe sekarang mereka juga belum selesai. Plisss Resti. …. Singkirkan pikiran kotormu!

Aku duduk kembali di ruang tengah. Selang beberapa menit kemudian. Bu Rosita kembali dengan pakaian lengkapnya. Aku pura-pura mainan hape.

“Sungguh luar biasa si Kevin. Ah.. puas banget!!!” ujar Bu Rosita tak kenal rasa malu.

Aku mengernyitkan dahiku. Entah mengapa aku sedikit cemburu dengan dia. Ah.. sudahlah bukan hakku untuk cemburu. Setelah pendataan dana pertama, aku ijin pulang lebih awal karena memang tidak ada acara berikutnya. Walaupun begitu, aku bisa menebak mereka akan lebih lama disini. Bu Dania pun mengijinkanku pulang dengan alasan kesehatanku lebih penting. Padahal aku muak dengan mereka. Aku merasa terjebak di arisan berondong.

***

Selama perjalanan pulang aku masih syok memikirkan nasibku nanti. Akankah aku akan mengkhianati suamiku. Tapi dia saja tega mengkhianatiku. Hiks…

Bagaimana jika aku melanggar perjanjiaan itu. Tentu aku akan jatuh miskin seketika. Lapor polisi pun percuma. Bu Dania adalah orang yang kebal hukum. Sungguh aku menyesal tapi tidak ada cara lain untuk kabur dari masalah ini. Selama rahasia itu terjaga aku bisa melanjutkan kehidupanku seperti biasa. Tapi siapa yang bisa jamin. Sebeeeeel !!

“Ada apa Bu kok mukanya kusut banget. Entar cantiknya ilang loh!” celetuk Mang Kardi.

“Aku sedang tak ingin diajak bicara. Fokuslah menyetir Pak.” balasku.

Kruuuuyuuuk..

Di saat seperti ini perutku terasa lapar. Kusuruh Mang Kodir untuk mampir ke McD. Ini adalah kebiasaan burukku. Aku paling ngga betah jika harus menahan lapar.

Setelah membeli makanan di McD, aku segera pulang. Sesampainya di rumah , aku ngemil makanan sembari nonton drakor.

Melihat artis drakor membuatku teringat si Kevin. Tampan, kekar, dan murah senyum. Ah.. mengapa bayangan si Kevin tak bisa menghilang dari pikiranku.

Tak terasa jam dinding sudah menujukkan pukul 11 malam. Suamiku juga belum pulang jam segini. WA-nya pun juga nggak aktif. Kemana sih dia!! Aku kan lagi pengen!! Huh!!

Lama kelamaan mataku tak kuat. Apalagi perutku yang kekenyangan membuatku terus menguap. Mau pindah ke kamar juga rasanya berat banget berdiri. Aku terlalu pewe di sofa bulu ini.

Kevin…

Ehmm.. kamu manusia apa malaikat sih. Tampan banget…

.

.

Krriiiiiiingg

Astaga!! Aku tertidur di sofa. Ouhmm… Ini jam berapa ya. Wah sudah jam 8 pagi. Kok alarmku yang pertama nggak bunyi sih… Loh.. kimonoku kok berantakan gini. Perasaan kemaren malem aku ikat. Jangan-jangan…. Stop! Akhh… nggak boleh menuduh Mang Kardi tanpa bukti. Mungkin tali kimonoku terlepas sendiri saat aku tertidur.

Aku berjalan ke dapur. Kulihat Mbak Tini sudah tiba. Kok dia juga ngga ngebangunin aku. Mbak Tini adalah pembantu di rumahku. Orangnya baik dan tekun bekerja. Hari ini dia sudah balik lagi setelah seminggu pulang kampung karena coblosan pemilu.

“Eh Bu Resti. Maaf, Bu. Saya tadi baru tiba. Melihat Bu Resti pules banget tidurnya, saya nggak tega bangunin ibu. Aku langsung belanja dan buatin sarapan buat ibu.” kata Mbak Tini.

“Masak apa Mbak?” tanyaku.

“Bubur ayam nih. Karena di rumah saya lihat tidak ada bapak, jadi kupikir masak bubur saja sudah cukup. Ini bubur kesukaan ibu lho..”

“Waaah.. jadi laper. Yasudah saya pergi mandi dulu mbak. Oh, iya. Masa bapak belum pulang??”

“Belum Bu.”

“Mang Kardi, Mas Ridwan sudah pulang belum??”

“Belum, Bu.”

Kemana sih suamiku!! Kok dia nggak ngabarin sih. Astaga ada 13 panggilan tak terjawab. Kok aku nggak tahu sih. Panggilan itu tertera di pukul 04.00.

“Ya ampun mas.. kamu kemana sih. Bikin khawatir saja!!” keluhku mencoba mengubunginya balik.

Tuuut tuuuut..

Sial. Nggak aktif lagi. Aku mencoba beberapa nomor temennya. Mungkin Pak Edo tahu keberadaan Mas Ridwan.

Jangan-jangan dia bersama wanita simpananya. Tapi kenapa dia menelponku di waktu subuh??

Mas Ridwan…

Jangan membuatku khawatir dong!!

“Bu, gawat !! Bu gawat!!!” teriak Mbak Tini dari arah dapur.

Bersambung

END – Terjebak Arisan Part 2 | Terjebak Arisan Part 2 – END

(Terjebak Arisan Part 1)Sebelumnya | Selanjutnya(Terjebak Arisan Part 3)