Terjebak Arisan Part 12

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19

Cerita Dewasa Terjebak Arisan Part 12

Cerita Dewasa Terjebak Arisan Part 12

Episode 12

POV RESTY

Kecewa. Itulah yang kurasakan sekarang. Orang yang aku cinta telah berkhianat di depan mataku sendiri. Jadi selama ini, foto-foto dari Farah itu benar adanya. Tapi kenapa Fitri juga jadi korban dari Mas Ridwan. Sungguh aku tak tahu apa yang aku lakukan nanti. Apakah aku harus menggugat cerai Mas Ridwan? Lantas bagaimana aku dengan kehidupanku nanti? Pola kehidupanku sudah berubah. Apalagi sekarang aku terjebak dalam arisan brondong. Aku sudah berjalan di jalan salah. Ya, Tuhan …

Andai waktu bisa kuputar kembali. Aku lebih baik bersama dia. Orang yang telah merenggut kesucianku. Andai orang tuaku tak menolak dia, mungkin aku akan bahagia bersama dia. Sanjaya, di mana kamu sekarang?

Lalu untuk apa, Mas Ridwan merubahku jadi lebih baik saat itu jika sebenarnya dia lebih busuk. Dia dulu berkata Sanjaya lah yang busuk. Dia seolah jadi pahalawan lalu menikahiku.

Memang aku pernah merasakan kebahagiaan bersama dia. Tapi semakin ke sini aku tak lain hanya sebagai istri lemah yang mudah diselingkuhi. Kamu salah, Mas. Aku juga bisa selingkuh lebih parah dari kamu. Baiklah, jika itu maumu. Aku tak akan mengijinkanmu menyentuh lagi.

Aku benci kamu, Mas!!

Mang Kardi membawaku pulang. Sesampenya di rumah. Kukemasi seluruh barangku. Aku butuh refreshing. Kuhubungi Farah untuk menemaniku berlibur ke Bali. Setidaknya seminggu ke depan pikiranku jadi lebih tenang. Nomor Fitri pun aku block sementara, aku tahu dia akan meminta maaf. Tapi untuk sekarang emosiku belum stabil untuk berbicara dengannya.

“Sore ini kita berangkat. Kamu dan Tini ikut saja. Oh, ya. Jangan bilang ke Mas Ridwan.”

“Siap, Resty. Eh Bu Resty.”

Mang Kardi sudah tak memiliki kartu troofku lagi. Dia sepenuhnya kendaliku. Dia tahu perselingkuhan suamiku sejak awal tapi akulah yang menangkap basah mereka. So, niat burukmu tidak akan terwujud.

Dasar sopir mesum! Sekarang kamu lah budakku.

“Aku tahu apa yang ada di pikiranmu. Kau tak bisa menekanku lagi. Dan kau tak bisa menyentuhku seperti biasanya. Hey, pria mesum! Apa kamu paham? Aku bisa saja menjebloskan kamu ke penjara atas dasar pemerasan dan pelecehan selama ini. Tapi sekarang kamu sudah kalah telak! APA KAU PAHAM? JAWAB AKU, MANG!!!” emosiku sudah di ubun-ubun

“Paham, Bu. Tapi tetap saja. Anda tidak akan bisa menjebloskan saya di penjara. Saya masih punya banyak kartu JOKER. Anda orang terpandang. Dan saya punya banyak koleksi video anda saat terlibat arisan berondong. Seharusnya anda tidak melupakan POINT penting ini! Tapi tenang saja, saya tidak akan setega itu asalkan kau berikan aku asupan gizi setiap hari. Dan ijinkan aku mencicipi para emak-emak yang haus kontol-kontol panjang itu. Aku lebih cerdik dari kamu, BU RESTY!! Oh, iya. Sebaiknya kamu jangan sekali-kali mencoba menyingkirkan saya. Atau kamu tahu akibatnya!” dia balik mengancamku.

Degh..

Aku cukup terkejut dan tak bisa berkata apa-apa. Sebenarnya dia ini siapa?? Dia hanyalah mantan residivis. Tapi kemampuannya seperti Ninja saja. Heran aku! Apa yang harus kuperbuat. Sial!!

“Baiklah. Kau menang!” aku sudah tak tahu lagi. Dia menang banyak.

Satu-satunya orang yang menyelamatkanku hanyalah Sanjaya. Di mana dia sekarang??

Sanjaya..!!!

“Baiklah. Harusnya kamu mempercayaiku. Aku janji akan menolongmu dari jurang ini. Aku berhutang besar kepada orang tuamu. Tapi, sayang jika wanita secantik kamu dianggurin. Hahaha.” dia meremas payudaraku

“Aku sedang tidak MOOD!!. Plis!! Kali ini saja jangan sentuh aku dulu. Bercintalah dengan Tini. Aku butuh istirahat. Aku mohon mengertilah !”

“Bercinta dengan wanita yang tak bernafsu juga tidak nikmat. Oke, istirahatlah. Apa kita jadi berlibur?”

“Enggak.!!”

Mang Kardi bisa menolongku? Apa yang akan dia lakukan. Kubaringkan tubuhku di tempat tidur. Kupakai headset lalu ku mainkan lagu lewat i-phoneku.

Tak lupa kuhubungi Farah jika aku sudah tak mood berlibur. Pasti ujung-ujungnya party sex. Kepalaku pusing kebanyakan alokohol. Vaginaku pun masih ngilu karena pesta semalam.

.

.

.

“Gilaaaaaaaa!! Enak banget kontolmu Kardi!!” suara Tini.

.

.

.
Dasar mereka bercinta liar sekali. Apa mereka sengaja memancingku. Huft!

.

.

***

‚Äč
5 Hari Kemudian,

Aku masih melakukan aktivitas seperti biasanya. Dan sudah kutebak, Mas Ridwan tak berani pulang ke rumah. Cepat sekali bertemu dengan hari Jum’at.

Hari ini tak ada aktivitas, engga tahu lalo besok. Katanya sih arisannya mau dimajuin sama Bu Dania. Kalo jadi, besok arisan di rumah Bu Rosita. Ah, merinding deh bayanginnya. Pasti ketemu lagi sama Kevin dan yang lain.

Mang Kardi menjemputku lebih awal. Dia mengajaku ke suatu tempat. Katanya ada sesuatu yang ingin dibicarakan.

“Sebenarnya kita mau ke mana, Mang?” tanyaku.

Buset, dah. Hari ini wajahku kucel banget. Sepertinya aku butuh refreshing. Daripada Mang Kardi muter-muter ngga jelas. Lebih baik kusuruh dia anterin aku ke SPA. Rencananya sih mau glowing sekalian, biar ngga cepet keriput karena stress diselingkuhin suami.

“Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu. Apa kamu ngga kebertan?”

“Gpp sih. Tapi ketemu di SPA Gogo aja ya. Aku mau sekalian glowing.”

“Wajah kamu sudah bening gitu mau diapain lagi. Baiklah, nanti aku kabarin dia. Oh ya, sekalian dong aku mau pijit nih.”

“Potong gaji ya. Kau tahu sendiri kan.. Ridwan tak akan lagi ngasih uang bulananku.”

“Aku harap setelah bertemu dengan orang ini kamu tidak akan kesusahan, Resty. Percayalah. Aku akan menolongmu. Aku tak sejahat yang kau kira, tapi memang aku ini mesum. Hahahahaha.”

“Dasar!!”

Kasihan juga melihat dia yang jauh dengan istrinya. Tapi seminggu ini diabisa tahan nggak nyetuh tubuhku. Apa karena dia jijik aku sedang dalam masa menstruasi. Padahal aku cuma berbohong. Dasar lelaki, paham bener masalah ginian.

[SPA GOGO]

Setelah memasuki ruang spa, aku langsung menuju ke ruang tunggu. Mang Kardi pun tak mau lepas dariku. Jika ada orang yang melihat mungkin aku sedang jalan dengan om-om. Secara wajahku masih terlihat kea ABG. Bukannya sombong memang seperti itu kenyataannya.

“Langsung ke bilik no 2 ya, Mbak.” seorang therapist cowok mengantarku ke bilik.

“Baik.” ucapku sambil melambaikan tangan ke arah Mang Kardi

Setahuku sih, di sini SPA khusus cewek. Tapi kebanyakan therapisnya cowok. Tapi setelah melihat katalog ternyata ada yang cewek juga. Sebelumnya aku ngga pernah ke sini. Aku biasanya pijit di spa khusus cewek. Ternyata di sini SPA campuran. Apa jangan-jangan di sini juga ada service plus-plusnya juga. Entahlah, yang jelas aku milih therapis cowok buat mastiin. Tapi kalo beneran ada gimana dong. Wah, parah bener nih SPA rekomendasi dari Bu Dania. Tapi ini kan SPA mewah. Gak mungkin ah…

Aku masuk ke ruang ganti. Ada sebuah notice jika aku harus menanggalkan semua pakaianku lalu diganti dengan pakaian sejenis bikini yang sangat transparant. Aduh, harusnya aku pilih therapis cewek. Gawat, udah masuk malu juga kalo ngga jadi pijit.

“Sialan , ini mah kelihatan banget.” aku bercermin. Jelas banget dua titik di payudaraku. Apalagi garis vaginaku pun tercetak jelas karena ketatnya celana dalam ini.

Saat aku keluar, jantungku berdegup kencang. Antara malu dan terangsang, aku berjalan ke matras. Tapi syukurlah, ternyata therapis cowok itu tak melihat ke arahku sama sekali. Apa dia bodoh? Kedua tangannya merengantangkan handuk lebar.

“Pakai handuk ini kemudian rebahan, ya Mbak.” ucapnya sopan.

Degh,

Gila, therapis ini cakep juga. Rahangnya lebar, bulunya banyak. Dia memakai seragam lengkap. Tanpa mengintip sedikitpun ke arah tubuhku, dia malah membelakangiku.

“Jika sudah rebahan bilang ya, Bu.” ucapnya lagi

Duh, Resty. Kenapa harus berpikiran kotor sih. Gak mungkin lah mereka macem-macem. Dia bekerja sesuai SOP. Harusnya aku sudah paham. Hanya saja pikiranku terlalu liar untuk mendefinisikan therapis cowok untuk cewek. Pasti ujung-ujungnya.. ah… Cukup!

“Sudah Mas.”

“Tengkurap dulu ya, Mbak.” katanya.

Therapis itu murah senyum. Dia mulai mengambil botol berisi oil. Oil itu lalu di usapkan ke kedua telapak tangannya. Aku memejamkan mataku sambil dengerin musik relax. Aku bisa tertidur nih kalo suasananya seperti ini.

Uhhh…

Darahku berdesir ketika tangan hangat menerpa kulit betisku. Aku meringis, kok disitu geli yah.. ahhmm… enak banget pijitannya.

“Ahhh… Geli Mas..” ucapku sambil mendesah.

“Geli enak kan Mbak ..” bisiknya di telingaku. Bibirnya sangat dekat dengan telingaku. Aku sampe merinding.

Sejauh ini dia cukup profesional. Dia memijat seluruh badanku. Tangan dan kaki udah semua. Tiba-tiba…

Degh..

Saat dia menyentuh leherku. Aku tak tahan untuk mendesah keenakan. Sialan bener nih therapist. Aku sampe lemes saking enaknya. Apalagi dia sepertinya sengaja menggelitikiku dengan jari-jarinya. Entah teknik apa itu, sebelumnya alu tak pernah diginiin. Apa pengaruh beda kelamin? Bisa jadi.

Degh..

Ini yang paling nikmat, saat dia mendorong punggung belakangku.

Kreetteeek..

Buset, mantab!!

Tangan therapist itu turun ke pahaku. Di sana aku merasakan tangannya menyingkap handuk hingga ke atas pinggulku. Aduh.. dia pasti bisa melihat bongkahan pantatku. Biarin aja lah, itung-itung bonus kerja keras.

“Baru pertama kali ya, Mbak?” tanyanya

“Iya, dipijit cowok baru pertama ini.” jawabku.

Therapist itu mulai memijat pahaku. Ahmm, kalo bukan ditempat pijat bisa aku gampar nih cowok. Kurang ajae bener!! Pantat aku di remes-remes.

*Santuy, Resty. Dia seorang profesional. Nikmatin aja dan biarkan saja dia meng-explore seluruh tubuhmu*

Bisikan setan mulai mempengaruhi pikiranku. Entah lah, sejatinya aku sangat menikmati. Pijatannya santai, enggak keras enggak lembek.

“Dibuka ya, Mbak.”

Tanpa menunggu persetujuanku dia langsung membuka seluruh handukku. Kemudian dia mulai memijat daerah pinggul dan punggungku. Berkali-kali tangan itu hampir menurunkan tali behaku.

Degh..

“Santai aja, Mbak. Semua aman kok.” Therapist itu menurunkan tali behaku.

“Iya, Mas. Ahhhmm..” aku menahan desahanku.

Sumpah! Aku sange banget anjiir!! Tanganya bukan lagi memijat tapi mengelus pundakku lalu mengitari leherku. Aku hampir ngos-ngosan menahan desahanku.

“Lepasin saja suaranya jangan ditahan-tahan gitu. Hehehe.” dia menyadari apa yang kurasakan. Dasar!

Cklek..

Wah.. dia melepas pengait behaku. Apakah dia akan melepaskannya??

“Wah, lepas juga ini beha. Hihi. Wah, suami mbak pasti beruntung memiliki istri secantik mbak dan seseksi mbak.” dia mulai menggombal.

Aku sudah pasrah. Behaku sudah dilepas olehnya. Dia lalu mengoleskan lagi oil ke punggungku. Kurasakan oil tersebut merembet ke ketiakku hingga payudaraku.

“Sekarang balik badan ya, Mbak. Kemudian duduk bersila untuk sesi selanjutnya. Atau minum dulu?” tawarnya membantuku duduk.

Degh..

Gila!!

Dia pasti melihat payudaraku. Ahhh!!!

Aku berusaha menutupi payudaraku sekenanya. Jujur, aku malu tapi sange banget diperlakukan seperti ini.

“Mbaknya polos banget. Hihi.” sial dia mengejekku.

“Aku malu mas..” ucapku lirih.

“Kalo udah biasa nggak akan malu kok. Justru malah ketagihan. Hehe.” dia ngeles sambil menutup mulutnya.

Jaim bener nih, cowok!

“Tangannya dinaikin, Mbak.” suruhnya .

Apa???

Enak di kamu dong MAS THERAPIST!!

Dia naik ke matras lalu duduk di belakangku. Tangannya memegang kedua tanganku lalu menyuruhku untuk segera merentangkan tangan.

“Aku dibelakang. Nggak kelihatan kok.” ucapnya

Ah.. alesan. Bo’ong banget kalo dia nggak ngintip. Tiba-tiba tanganya meremas payudaraku.

Nyet..

“Ahhhhhhh.. mas.. anu.. aduh..”

“Anu apa? Ini supaya payudara kamu tetep kenceng dan sintal, Mbak. Nggak mau kendor kan?” dia pandai sekali berbicara. Mau pegang aja sok alesan!!

“Iya deh. AKU PASRAH MAS!!” aku sudah muak protes melulu.

Dia tak hanya meremas namun juga memilin putingku. Tanganku ingin melepasakn tanganya tapi dia terus membisiki telingaku dengan suara desahannya. Aku terbuai. Ahh..

“Ahhh.. enak kan mbak?? Nikmati saja sampe puas!!” bisiknya mulai meracuni pikiranku.

Dia semakin merapatkan tubuhnya. Lidahnya menjilati leher belakangku lalu mencaplok telingaku. Ashhh…

“Auuhhh.. mas.. geli banget sumpah!!”

“Iyyyahh.. ahhh. Geli enak kan mbak??”

“Iyyyahhh. Enak sumpah. Aduuh.. gatel banget dibawah.”

Gila…

Gara-gara ucapanku, tanganya langsung menerobos ke dalam celana dalamku. Di dalem sana jarinya mulai mengobel vaginku.

“Tahu banget sih yang gatel disitu. Ahhh…”

Dia lalu berdiri. Dalam sekejap dia melucuti seluruh pakaiannya. Astaga!!

“Mbak, udah siap?”

Aku menatapnya kosong. Cukup terkesima dengan otot sixpacknya apalagi penisnya yang super besar. Lebih besar dari punya Kevin.

“Mas, gedhe banget.” aku menutup mulutku.

Dia mulai mengocok penisnya. Semakin dikocok batang penis itu makin bertambah gedhe lagi. Wah…

“Mendesahlah yang kencang, Mbak. Aku akan memberikan service paling memuaskan untukmu. Semoga ketagihan dan mampir lagi ke sini ya.” tangan Therapis itu merentangkan kedua kakiku. Kepalanya langsung tenggalam di selakanganku sembari melucuti celana dalamku.

Srrrruuuppphhh…

“AAAAAAAHHHHHHHHH… AUUUUUUHH MASSSSSS!!!” aku mendesah sekencang-kencangnya…

Lidahnya yang hangat menerobos lubang vaginakum. Bibirnya ikuti menyedot dalem banget. Aiishhh..

Tanganku reflek menjambak rambutnya. Lidahnya sangag liar menari-nari didalem vaginaku. Ahhhh…

“SUMPAH INI ENAK BANGET MAS!!!”

Aku tak peduli dengan suaraku. Aku benar-benar sudah tak bisa kontrol lagi. Hawa nafsu sudah sepenuhnya menguasaiku. Aku kebelet pipis…

“MAS AKU HAMPIR SAMPE!!!”

Dia malah menyedot vaginaku lebih dalem. Lidahnya memutar seperti bor.

Gila!!

Assssshhhh!!!

“AKU SAMPE MASSSSS!!! SUMPAH GILA!!!”

Suuuuuurrr….

Aku sampe dibuat squirting tak berdaya. Air cintaku membasahi wajahnya.

“Top!” diaengacungkan jempol ke arahku

Aku ambruk menikmati sisa orgasmeku. Sial nih, cowok. Baru jilat meki saja sudah membuatku squirting. Aku menatapnya bangga. Dia masih berdiri dia sampingku. Penisnya pun masih ereksi sempurna.

Entah siapa yang membimbingku, tanganku meraih penisnga. Kuat, kekar, dan panjang. Buset, aku cukup terkesima. Aku bangkit dari tidurku lalu mengulum penisnya. Padahal dia tak menyuruhku. Inisiatifku sudah mengijinkanku. Bodo amat lah!!

Sruuupphh .

Ini adalah sosis terenak yang masuk kedalam mulutku. Baunya khas, dan tidak bau amis. Dia merawatnya dengan baik. Apalagi tidak ada rambut di sekililingnya. Ahh. Kujilati seluruh area disekitae penisnya ini. Buah zakarnya pun tak luput dari mulutku.

“Masukin dong, Mas.” pintaku.

“Ada bonusnya kan, Mbak?”

“Aku beri lebih nanti. Ayo lah masukin!” aku ngedumel, gak biasanya aku seperti ini.

Tiba-tiba…

Sleeep…

“Auuhh. Pelan sayang!!!” aku kaget saat dia tiba-tiba masukin penisnya ke dalam vaginaku

Plak

Plak

Plak

Plak

Aku sampe ngos-ngosan disodok penis jumbo seperti ini. Therapis ini berbakat sekali muasin wanita. Aku sampe teriak-teriak sakin enaknya.

“AAHHHHH… TELLLLUUUUUSSS!!!”

Sepeluh menit kemudian dia minta berada di bawah. Aku pun menurutinya. Kini giliran aku yang kerja. Sial bener kan. Bisa cepet keluar kalo aku di atas

Plasss

“Goyangkan pantatmu sayang!” dia menepuk pantatku..

Oke!!

Rasain ini!!

Dia mulai memanggilku sayang. Ahh.. dia sepertinya dia mulai suka denganku. Baiklah, sayangku. Hari ini aku milikmu. Kamu hebat, aku bangga padamu sayang!! Hahaha.. gila!! Aku seliar ini. Kenapa aku jadi seperti ini. Inikah aku sesungguhnya???

Plak

Plak

Plak

Plak

Aku mendapatkan orgasmeku kedua. Tapi aku masih ingin dan ingin lagi disodok penisnya. Sampe pingsan pun alu ingin tidur dipelulan cowok gagah perkasa ini

“KYYYYYYYYYAAAAAAHHHHHHHH!!!!”

“SAYANG AKU KELUAR YAHHH!!!

Bersamaan dengan semprotan pejuhnya di wajahku, aku squirt lagi sampai seluruh matras basah. Aku tak menyangka dia tepat waktu saat melepaskan penisnya tapi kenapa dia semprotkan ke wajahku. Ahh.. lengket tapi…

Nyam…

Ehh..

Gurih dan lezat ternyata…

“Mmmmuuuach..” kumasukkan jariku yang ada pejuhnya.

Dasar, therapis ini memang mantab banget. Aku bahagia dan capek lagi .. huhuhu…

Kami berciuman saat mandi bersama. Aku minga nomor WA nya. Dia pun tak henti-hentinya menggosok tubuhku dengan sabun. Aku hampir naik lagi tapi kutahan. Bisa tekor ATM aku nantinya. Ahh…

“Thanks, Jimmy.” kataku..

Dia mencium bibirku sesaat sebelum keluar dari pintu bilik. Ah.. kampret dah. Behaku sampai aku berikan ke dia. Alhasil aku ngga pakai beha, apalagi baju aku ketat banget. Jilbabku pun hanya sebatas leher. Aduh.. bisa dikerjain sama Kardi nih entar.

BTW. Apa kabar Mang Kardi?? Wah sial, aku juga harus bayar tagihan pijitnya. Kalo sampe dia ngewe bisa mahal nih. Aduuuh…

“Sudah, puas Resty?”

“Mang Kardi??”

Bersambung

(Terjebak Arisan Part 11)Sebelumnya | Selanjutnya(Terjebak Arisan Part 13)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game