Terjebak Arisan Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5Part 6Part 7
Part 8Part 9Part 10Part 11Part 12Part 13Part 14
Part 15Part 16Part 17Part 18Part 19

Cerita Dewasa Terjebak Arisan Part 10

Cerita Dewasa Terjebak Arisan Part 10

Episode 10

POV RIDWAN

SEBULAN YANG LALU

“Mas!! Kamu belum tidur?? Besok pagi kita ada jadwal meeting dengan Pak Darmono, loooh!” teriak serorang wanita membuyarkan lamunanku.

“Eh, Dini? Kau juga belum tidur. Aku masih menikmati rembulan dan secangkir kopiku. Sebentar lagi aku menyusul.” kataku sembari mengangkat secangkir kopi di meja.

Dini, adalah sekertaris pribadiku. Dia adalah wanita pertama yang berhasil menggodaku. Parasnya yang cantik telah melunturkan imanku. Selain energic, dia adalah wanita yang pintar dan tegas. Padahal baru 3 bulan dia bekerja denganku. Hassh ..

“Cepatlah! Aku sudah nggak sabar nih!!” Dini merengek lalu menarik lenganku.

“Kamu berani menyuruh bossmu?” tanyaku.

“Katamu di luar kantor aku adalah pacarmu. Apa kau lupa, ha?!” Dini selalu punya jawaban dan sungguh dia adalah wanita yang sulit dikendalikan.

Dini mendorong tubuhku ke tempat tidur. Kutatap matanya yang sudah terbakar hawa nafsu. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Kubiarkan dia menguasaiku sepenuhnya.

“Ouhhhmm..” Dini langsung menindihku lalu melumat bibirku.

“Jangan lama-lama yah. Besok kita harus bangun pagi.” kataku menahan bibirnya.

“Quickly, don’t worry.” ucapnya.

Dini lalu melucuti semua pakaianku hingga tak tersisa. Dia mulai meraba dada bidangku kemudian menjilati bawah telingaku. Sensasi ini tak pernah kudapat dari Resty. Dan semua wanita memiliki caranya masing-masing dalam merangsang lelaki. Kupikir Dini menguasai segala aspek itu.

“Ouhh..” aku melenguh pelan saat lidahnya hinggap di puting kiriku.

Srrupph…

Cup

Cup

Cup

Cup

Kecup demi kecup dia berikan di kulit perutku lalu turun ke arah selakanganku. Tangannya yang lembut mulai membelai pelan dua bolaku. Penisku langsung ereksi maksimal. Keremas rambutnya ketika dia mulai mengulum dua biji pelerku. Asssshh…

Basah.. dan dingin.. rasanya nikmat sekali..

“Idih.. semakin gedhe nih otong.” ucapnya lalu membelai pelan penisku dari batang lalu ke ujung.

“Ahh ..”

Clit.. clit.. clit..

Sungguh kurang ajar, dia menjilati ujung penisku. Dini Megayana, wanita ini memang super. Dia adalah tipe wanita yang bisa menyenangkan pria.

“Sekarang kamu rebahan.” pintaku pada Dini.

Dini menuruti permintaanku, kini merangkak menuju ke tubuhnya. Sejenak kutatap tiap lekuk tubuhnya. Sungguh, dia lebih pantas jadi model majalah dewasa. Wajahnya saja bikin nafsu. Andai, Resty setuju aku menikah lagi. Ah..

“Ouuhh… Pelan-pelan. Aku ingin menikmati sentuhanmu.” katanya

Ku belai lembut pipinya lalu kulumat hidung mancungnya. Dia memejamkan mata menikmati cumbuanku. Kuelus daun telinganya sambil mengecupi bibir tipisnya. Lidah kami saling beradu dan menyatu bersama nafsu yang menggebu.

“Ssshh.. “

Tanganku mulai melucuti kimononya. Kutemukan daging empuk yang membusung indah dengan puting mengeras yang berwarna coklat muda. Kujilati puting Dini hingga dia mendesah kencang.

“Ouuhhh….”

Kutarik kimono Dini kebawah. Kukecup perlahan leher jenjang Dini. Dia merem melek matanya menikmati rangsangan lidahku.

“Cumbu aku sayang. Ahhh..” bibirnya tak berhenti ngedumel.

“Kamu selalu menggairahkan. Nikmati saja jangan berisik ah..” ucapku

Kuremas pelan payudara Dini. Kemudian aku jilatin lagi dua putingnya yang sudah mengeras. Memang sekretaris pribadiku ini selalu membuatku bergairah. Putingnya yang pink sungguh menggemaskan.

“Ouhh.. sudah. Aku sudah nggak tahan. Ayo masukin punyamu. Katanya suruh quick!!” ocehnya

Aku tersenyum lalu membuka pahanya. Kuurut pelan penisku hingga ereksi maksimal kemudian kuarahkan ke dalam vaginanya. Nyesss…

Perlahan kugenjot tubuh Dini. Penisku mulai terasa nyaman dengan pijatan sandwich miliknya. Setiap vagina memang memberi sensasi masing-masing. Dini tak seperti istriku. Dia lebih mudah becek hingga juniorku lebih mudah menumbuk vaginanya.

Plok

Plok

Plok

Plok

“Anjiir ashhhh… Pelan aku nggak kuat sayang.” dia sudah hampi sampai

Justru semakin cepat aku semakin bersemangat. Biarlah, karena aku harus segera menuntaskan permainan ini. Aku takut jika berlamaan tak akan ada waktu untuk kita istirahat.

“Aku tak mau keluar sendiri. Ayo bersamaan!”

Tanpa kuduga, Dini mendorongku. Kini dia mengambil alih permainan. Mulutnya langsung menciumi bibirku tanpa menghentikan goyangan pantatnya yang dahsyat. Ouhh..

Tak hanya itu, Dini berkali-kali menyerang puting dan leherku berkali-kali. Sungguh, rangsangan itu akan membuatku keluar lebih cepat.

Plok

Plok

Plok

Plok

“Kyyaaaaaahhh!!!”

“Ashhhh.. !!!”

Hosh Hosh Hosh…

Kupejamkan mata sambil memeluk tubuhnya yang berpeluh keringat.

***

Pagi harinya, aku terkejut dengan sebuah kamera di samping tas Dini. Perasaan Dini tak membawa kamera sebelumnya.

“Sayang. Buruan Mandi!” mulutnya kembali berkoar.

“Astaga, kamu sudah rapi? Oke, aku segera mandi.”

“Kebiasaan! Sarapan udah siap tuh. Makanya, kalo dibangunin langsung bangun. Jangan entar-entar!” maki Dini

“Iyaaaa.”

Rencanaku berjalan dengan mulus. Dini berhasil mengatur jadwal pertemuanku dengan Pak Darmono. Dengan begini selangkah lagi aku akan dipromosikan naik jabatan. Tapi bagaimana mudahnya cara Dini bertemu dengan Pak Darmono.

“Semoga kerja sama kita berjalan dengan lancar ya, Pak Ridwan.” Pak Darmono menyalamiku

Sebelum keluar dari ruangan Pak Darmono, Dini ditarik tangannya oleh Pak Darmono. Aku yang sudah terlanjur keluar memilih pergi ke toilet.

Malamnya aku dan Dini langsung balik ke Jakarta. 2 Jam perjalanan dia tidur membekap di pundakku. Sesampainya di Jakarta, aku langsung antar dia ke apartemennya. Melihat dia yang kecapean aku langsung balik ke rumah.

Sesampainya di rumah, kulihat Resty sudah tertidur lelap. Aku tahu dia kemaren cerita kalo dia sedang sibuk ngurus butik dan urusan kantornya. Lebih baik kusuruh Resty fokus pada butiknya saja. Jika proyek nanti tembus. Aku tak akan membiarkan bidadariku ini kelelahan bekerja.

***

2 Minggu berlalu sangat cepat, Aku dan Resty semakin jarang mengobrol. Karena tiap pagi Dini sudah memberondongiku schedule yang padat.

Sebelumnya, hubunganku dengan Resty berjalan dengan baik-baik saja. Tapi semenjak peristiwa itu. Entah mengapa, aku merasa malu, dan sangat bersalah kepadanya. Sebagai suami yang selalu mendidiknya, sejak dia terjerumus di dunia gemerlap masa mudanya, perlahan aku mampu merubah Resty menjadi ibu rumah tangga yang lebih baik. Dan karirnya kini pun semakin meroket. Aku sangat bahagia dan bersyukur memiliki istri secantik dan sebaik Resty.

Akan tetapi, akhir-akhir ini aku merasa semakin jauh dengannya. Mungkin karena faktor pekerjaan yang memaksaku sering meninggalkan rumah. Semoga saja Resty tak pernah tahu jika selama di luar kota aku telah mengkhianatinya.

Andai saja aku tak tergiur dengan Dini, mungkin rumah tanggaku akan baik-baik saja. Ahh.. nasi sudah menjadi bubur. Ternyata selingkuh itu indah asal tidak ketahuan. Aku berharap demikian.

Lagipula, kerja sama dengan Pak Darmono adalah sebuah peluang bagiku untuk naik jabatan. Dengan demikian aku aku bisa investasi di PT. IHH. Sebuah pabrik yang lagi naik daun. Aku tahu mereka akan berkembang pesat. Dan terakhir kudengar di berita, mereka berhasil mengungkap dalang pernyelundupan narkoba oleh gangster dari Jepang. Wow, kupikir perusahaan mereka bukan perusahan sembarangan. Dan pastinya pemerintah mendukung perusahaan itu sepenuhnya. Maka dari itu semakin besar peluangku jika berinvestasi di perusahaan mereka.

Tapi sayang, aku mengalami kesulitan untuk mendirikan proyekku selanjutnya. PT. OHH, pabrik baja terbaik itu sampai sekarang belum memberikan kepastian yang pasti. Padahal aku sangat kenal sekali dengan jajaran direksinya. Salah satunya adalah Ayah dari sahabat Resty, Farah.

Ohh.. Farah. Andai saja dulu dia tidak mencari gara-gara denganku. Mungkin tidak akan sesulit ini menaklukan Bapak Mahendra Kusuma. Apa aku harus mendekati Farah. Kudengar dia masih single. Hemm, tapi wajahnya masih saja awet muda. Sebelas dua belaslah sama Resty. Wanita selalu menggairahkan. Ahh… Kenapa aku semakin tua semakin nakal. Atau aku telat nakal?

Sore ini aku berencana ke rumah mertuaku. Tak butuh memakan waktu yang lama perjalan dari kantor ke rumah mertuaku.

Tapi sayang sekali, mertuaku sedang tidak ada di rumah. Hanya ada Fitri, Semakin hari Fitri semakin cantik dan pandai berdandan. Wajar saja dia sekarang sudah dewasa.

“Hay. Fit. Kakakmu belum ke sini?”

“Kok tanya saya sih Mas, kamu kan suaminya.”

“Terus Gadis mana? Bukannya Resty sudah nitipin dia di sini.”

“Oh, Gadis sama Ayah dan Ibu ke rumah Paman.”

Sungguh aku cukup terkesima melihat penampilan Fitri. Pakaiannya sekarang lebih terbuka. Bisa-bisanya dia nggak malu memakai pakaian itu di depanku. Pahanya putih mulus, dadanya tercetak jelas dengan tanktopnya yang ketat. Dan lagi, sepertinya aku tak menemukan garis di bajunya, atau jangan-jangan dia ngga pake beha! Oh.. membayangkan saja penisku langsung ereksi.

“Hallo Mas.” Fitri membuyarkan lamunanku.

“Iya Fit.. Eh . Kamu makin cantik aja sekarang. ” kataku basa-basi.

Cukup lama aku ngobrol dengan Fitri. Mulai dari kuliahnya sampe status hubungannya saat ini. Ternyata adik iparku ini orangnya cukup poluler di kalanganya. Bahkan dia dengan pedenya menceritakan padaku jumlah mantannya.

Kok bisa beda nih kakak dan adek. Karena aku tahu betul ada berapa mantan Resty. Hanya ada si brengsek Edgar. Edgar sering membawa Resty ke diskotik. Peritiwa Edgar tertangkap buser karena terbukti menjadi pengedar narkoba buser semakin membuat hubunganku dekat dengan Resty. Tak butuh waktu yang lama aku segera meminangnya meski saat malam pertama sungguh aku kecewa, orang sebaik Resty ternyata jebol juga. Awalnya aku merasa pilihanku salah, namun sekarang aku mulai percaya jika dia sudah berubah dan lebih dari ekspetasiku. Justru sebaliknya aku yang telat nakal. Maafkan aku, Istriku.

“Eh Mas, mau minum apa. Lupa, aku belum nawarin minum. Hehehe.”

“Apa aja deh.”

Fitri bangkit lalu menuju ke dapur. Kulihat bongkahan pantatnya yang seksi. Ah.. apa dia juga gak pake celana dalam. Hampir tak kutemukan garis di hotpantsnya. Atau mungkin dia pake G-String. Fitri.. Fitri..

“Nih Mas..”

“Awas !!!”

Bruaaaaak

Sungguh teledor, Dia berjalan tak lihat-lihat. Dia menginjak mainan Gadis lalu terpeleset ke belakang. Untung dia jatuh di atas karpet. Aku menghampirinya.

Degh

Degh

Jantungku berdegup cepat. Air minuman yang di bawa Fitri tumpah mengenai pakaiannya. Alhasil putingnya yang menonjol terlihat jelas.

“Bantuin Mas. Aduh.. kakiku sepertinya terkilir.” jeritnya

Mendengar suara Fitri, aku segera membantunya berdiri. Aku papah Fitri di atas sofa. Tapi empuknya lengan Fitri pada remasan tanganku membuat nafsuku berdesir. Ah.. jangan terbawa nafsu.

“Kamu gapapa?”

“Makasih, Mas. Kakiku sepertinya terkilir deh.” Fitri memelas sambil mengurut kakinya.

“Sini biar kulihat.” Aku sedikit ngerti tentang pijit sendi.

Kriiiiek.. klek ..

“Ahhhhhhhhhhh!!!”

“Auuhh..” Sakit banget. Sumpah, Fitri menggigit pundakku. Memang sih, pijit sendi memang sakit, tapi reflek Fitri terlalu berlebihan. Pundakku jadi korban deh.

“Ehmm. Maaf.. aku gak tahan sakitnya.” dia meminta maaf lalu berdiri.

“Gpp kok. Tuh lihat, kamu sudah bisa berdiri lagi kan.”

“Eh, kok bisa? Mas? Tadi padahal sakit banget loh.” Fitri malah lompat-lompat. Fokusku jadi berubah. Dua payudara Fitri berguncang, apalagi terlihat banget putingnya akibat bajunya yang basah.

“Anu, lebih baik kamu ganti baju dulu.” ucapku.

“Astaga, maaf mas!!” dia langsung menuju ke kamarnya.

Alih-alih menutup pintu kamar, dia sepertinya sengaja tak menutupnya. Apakah Fitri sengaja?

Rasa penasaran menuntunku ke arah kamar Fitri. Dan seketika mataku terbelalak menatap dua bukit kembarnya. Bahkan tak hanya ganti baju, dia melepaskan celana pendeknya.

“Eh, Mas Ridwan kenapa??”

“Anu…”

“Mas.. jangan mas!! Aku adik iparmu!”

Entah setan apa yang merasukiku. Kudorong tubuh Fitri ke tempat tidurnya. Nafsu sudah membutakan mataku.

“Toloooong!!”

Aku tak peduli jika ada yang mendengar teriakan Fitri. Aku hanya ingin menikmati tubuhnya. Kuciumi bibirnya meski dia berkali-kali menolak dan mendorong dadaku.

“Sekali ini saja, plis!” aku memelas tapi tidak dengan nada pelan.

Kuremas kedua payudara Fitri secara bergantian. Perlahan kubenamkan wajahku diantara dua payudaranya. Dia menjambak rambutku. Kuturunkan satu tanganku lalu kumasukan jari-jariku menembus lubang vaginanya. Dia sudah basah disitu.

“Mass.. ahh…”

“Ayolah, kamu juga menikmati ini.”

“Ini sudah keterlaluan Mas! AKU INI ADIKMU!!!”

Fitri mendorong tubuhku, dia mencoba menutupi ketelanjangannya dengan selimut. Kulepas semua pakaianku hingga telanjang, penisku sudah ereksi maksimal. Kuperhatikan sudut matanya melirik perlahan dengan malu-malu. Kukocok penisku sambil berjalan ke arahnya.

“Kamu nggak mau ini?”

“ENGGAK!!!”

“MATAMU TIDAK BISA BERBOHONG!!”

Aku tarik selimut Fitri dengan paksa lalu kubuka kedua pahanya. Dia mulai menitikan air matanya. Tapi tidak ada penolakan sedikitpun pada tubuhnya.

“Huhuhu… Mas. Kasihan Kak Resty!!”

“Asal kau tak bilang kepadanya kita aman.”

Bersamaan dengan itu, penisku sudah tenggelam pada lubang vaginanya. Inilah saat-saat yang kutunggu. Aku telah menyetubuhi adik iparku yang cantik ini.

“Kyaaaaa!!! Mas…. Sudaaah cukuuuup!!!”

“Belum, Fit!!!”

Plok

Plok

Plok

Plok

Sudah setengah jam lebih aku menggejot tubuh Fitri. Dia yang dari awal menolak-nolak. Kini justru dia yang malah ketagihan. Berbagai gaya kami lakukan. Tapi saat kami sudah sampai pada puncaknya…

“Mass… Aku keluaaaar!!”

“Hoooooh!!!”

Kulihat dia ketakutan setelah sebagian spermaku memenuhi lubang vaginanya. Kemudian dia segera menuju ke kamar mandi lalu mencuci kemaluannya. Kuikuti Fitri.

“Mas!! Kenapa?? Hiksss!!”

Kupeluk tubuhnya di bawah guyuran shower. Kuelus rambutnya lalu kubisikan kata-kata manis agar dia tak membongkar semua peristiwa ini.

“Aku, akan tanggung jawab jika kamu hamil nanti. Tapi selama belum tahu hasilnya. Plis, jaga rahasia ini!!! Aku sayang kamu Fitri.”

Cup…

(Terjebak Arisan Part 9)Sebelumnya | Selanjutnya(Terjebak Arisan Part 11)

Banyak Novel lain di Banyak Novel

Banyak Game lain di Banyak Game