Tentang Kita Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 7 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 6

“…jadi bagaimana apa anda berminat dengan penjelasan presentasi kami?”

“Pak arfi.. kami selalu percaya pada anda. Ide anda selalu hebat dan cemerlang”

“Terima kasih pak, tapi saya tidak bekerja sendiri..” ujar arfi menoleh pada kami. Ya ada aku, iwan, dan beberapa staf kami yang ikut meeting

“Tentu, baik pak. Kami tunggu kabar selanjutnya untuk proyek rumah impian kami ini”

“Baik pak..”

Kami melanjutkan dengan makan siang bersama client kami ini. Selesai dengan urusan kami akhirnya kami kembali ke kantor tapi tidak dengan aku dan arfi. Arfi memutuskan untuk pulang langsung, karena jam sudah menunjukkan jam 3 sore. Nanggung kalau harus kembali ke kantor.

Setelah sampai diapartemen aku membersihkan diri begitu juga dengan arfi.

“Kamu masak makan malam hari ini?” Tanya arfi

“Iya, tapi cuma sisa kemarin belanja aja. Aku masak ayam goreng sama sop” ujarku

“Ayam goreng sama sop? Gak nyambung sih ya” arfi duduk dibar kecil dapur ini.

Kalo sebutan orang sih bar kecil tapi arfi bilang dia gak suka menyimpan minuman alkohol jadi dia putuskan untuk jadi meja makan posisinya juga didapur jadi jika duduk dikursi bar kecil ini langsung bisa melihat kegiatan didapur seperti sekarang arfi duduk disana dan memperhatikanku memasak yang memunggungi dia. Eh gak tau juga sih dia merhatiin aku apa nggak hehehe

“Aku ngerti sekarang kenapa angelo menjadikan kamu aset berharganya” ucap arfi tiba tiba

“Kenapa?” Balasku masih sambil memasak

“Kamu…” ucap arfi menggantung. Entah apa yang mau dia ucapkan aku masih sibuk memasak

“…seksi” bisiknya tiba tiba dikupingku. Aku menghentikan kegiatanku mengerjapkan mataku berulang kali.

“Aku seksi? Aku pikir aku gendut” ujarku

“Menurutku kamu seksi, berisi dan gak kurus! Aku gk suka cewek kurus” dia menyandarkan punggungnya ditembok sebelah kitchen set

“Oh ya? Tipe cewek kamu seperti apa?” Ujarku yang sibuk menuangkan bumbu untuk sop tanpa menoleh ke arahnya

“Keibuan, pengertian, sabar dan paling penting gak banyak nuntut” aku tersenyum padanya lalu beralih pada masakanku. Ku ambil wajan dan kutuang sedikit minyak diatasnya untuk mnggoreng ayam

“Tadi katanya gak suka kurus, aku gk denger kamu sebutin itu barusan”

“Itu fisik, beda lagi. Jadi gak kurus yg aku maksud itu..” dia menggantung ucapannya

“Seksi, dan ukurannya gak kecil gak gede juga. PAS!!”

Aku terkekeh mendengarnya. Ku ambil serbet dan mengelap tanganku

“Kenapa laki laki selalu memilih wanita dengan ukuran. Padahal kami wanita gak dilahirkan tidak bisa memilih ukuran”

“Nah! Itu soal selera kan aku bilang barusan. Gak semua lelaki begitu juga sih..”

Kupindahkan sop ke meja dan kembali ke wajan yang berisi ayam goreng. Sedikit ku kecilkan apinya agar tidak terlalu garing

“Artinya kamu mesum kaya gitu sih ya kan?” Arfi hanya tertawa kecil

“Mungkin karena seleraku seperti itu jadi aku memilih membawamu dari angelo kan?”

Aku tertawa mendengarnya

“Jika aku tidak mempunyai bentuk tubuh seperti ini kamu gak akan membawaku begitu?”

“Jika kamu tidak mempunyai bentuk tubuh seperti ini tentu kamu gak akan terpilih bekerja ditempat angelo”

Ada benarnya juga sih. Arfi berjalan memutar bar kecil lalu mengambil minuman dikulkas

“Artinya kamu gak akan ketemu aku jika aku gk bekerja ditempat angelo”

“Yap, tapi di tempat lain”

Aku mengeritkan dahiku.

“Karena jika berjodoh gak akan kemana” sambungnya lagi. Ak meletakkan piring berisi ayam goreng diatas meja bar kecil

“Berarti meski bersama itu belum tentu berjodoh dong?” Tanyaku sambil menuangkan nasi ke piringnya

“Nggak juga. Kalo aku gak akan melepaskan orang yang sudah bersamaku. Akan kubuat dia menjadi jodohku” ujarnya bersemangat.

“Lalu, udah berhasil?” Aku menuangkan air ke gelas arfi. Sudah menjadi kebiasaanku menyiapkannya makan pagi, maupun malam.

“Akan..”

Aku menoleh padanya

“Akan?”

Dia meneguk air digelasnya

“Iya akan. Aku akan buat seseorang itu berjodoh denganku”

Mendengar kata seseorang membuat hatiku mencelos. Seseorang katanya? Siapa? Apa dia sedang dekat dengan orang lain. Aku memikirkannya tanpa terasa makanan dihadapanku menjadi tidak menarik untuk dikunyah bahkan ditelan

“Hey, malah bengong.. udah makan buruan abis itu kita ke balkon lihat bintang”

Aku tidak menghiraukan ucapan arfi. Lagipula selama ini aku gak punya hubungan apa apa dengannya. Lalu arti ciuman itu apa baginya? Ah sudahlah lupakan, lebih baik aku habiskan makananku

Selesai makan kami melihat bintang dibalkon. Arfi mengajakku ditemani dengan segelas teh kami masing masing. Tidak ada obrolan diantara kami. Sampai aku menghela nafasku

“Kamu pernah mencintai seseorang?” Aku menoleh menatapnya yang sedang menatapku juga. Kualihkan pandanganku ke depan lalu menggeleng pelan

“Belum? Bagaimana bisa?” Herannya dan aku hanya mengindikkan bahuku.

Jangan tanya ini arfi, perasaanku sekarang seperti perahu kehilangan arah. Aku baru saja menemukan cinta dari kenyamanan tapi aku terlalu takut jatuh terlalu dalam

“Tapi kamu pernah menyukai seseorang?” Tanyanya lagi.

“Pernah” jawabku cepat

“Siapa?” Aku menoleh padanya. Menatap lekat matanya

“Seseorang yang baik padaku. Dia cahaya redup yang kini berhasil kutemukan meski aku tidak tau dari mana sumber cahaya itu. Aku berusaha menggapainya namun aku terlalu takut jatuh”

Arfi diam memandangku. Selanjutnya dia menyandarkan tubuhnya

“Kamu tau, apa yang kamu rasakan hampir sama seperti apa yang kurasakan”

Aku menoleh padanya yang memandang jauh kedepan

“Aku mencintainya, sangat mencintainya. Dia mempunyai latar belakang yg buruk tapi aku tidak perduli dengan itu. Yang kuingin dia selalu ada untukku” jelas arfi. Entah seperti apa aku merasa dia sedang mendekripsikan hidupku

“Julia.. boleh aku memelukmu?” Tanyanya.

Aku menganggukkan kepala. Dia meraih tanganku untuk berdiri dan berpindah ke pangkuannya. Arfi memeluk tubuhku, seperti menyampaikan perasaannya yang terpendam. Perlahan aku membalas pelukannya. Lama kami terdiam akhirnya arfi melepas pelukannya menatapku

“Ada apa?” Tanyaku. Dia menggeleng

“Aku sudah lama tidak memeluk seorang wanita” aku tekekeh mendengarnya.

Posisiku kini duduk diatas pangkuannya dengan tubuhku yang menghadap tubuhnya. Ya kalian mengertilah hehehe

“Arfi.. boleh aku tanyakan satu hal”

“Apa?”

“Kamu menciumku, memelukku tapi sebenarnya kita berada distatus apa? Maaf jika aku menyinggungmu”

Arfi tertawa mendengar ucapanku. Tangannya meraih tanganku menuntunku untuk memeluknya. Kepalaku berada dibahunya begitu juga dengan kepalanya berada dibahuku.

“Tidak perduli kita berada distatus apa terpenting dari itu semua adalah kita saling memberikan rasa nyaman. Apa kamu nyaman bersamaku?” Tanyanya. Aku mengangguk tanpa melepas pelukan kami

“Begitu juga denganku.. kamu mau kita seperti ini selamanya?”

Aku langsung melepas pelukanku menatapnya. Dia terlihat heran menatapku

“Kita tidak berpacaran, kita tidak menikah.. kamu mau kita seperti ini selamanya?”

Lagi, arfi hanya tertawa. Aku yang masih menatapnya sebal memanyunkan bibirku. Dia ini mau enaknya aja rupanya

“Nggaklah bodoh. Kamu pikir aku habiskan masa lajangku begitu terus?” Detik berikutnya dia memegang pipiku dengan kedua tangannya dan mendekatkan dahi kami.

Kami saling pandang jarak dekat, jantungku berdetak kencang. Aku bisa merasakan hembusan nafas arfi

“Aku mencintaimu.. sungguh. Jangan pernah ungkit masa lalumu, kita melangkah bersama. Kamu mau mencintaiku?” Aku mengangguk cepat.

Air mataku menetes, tuhan inikah karuniamu? Inikah malaikat yang kau kirim untukku? Tuhan inikah jawabanmu atas doaku? Doa dari mulut seorang yang hina dan kotor. Kini kupercaya tuhan menjawab seluruh doa umatnya jika didasari dari hati yang paling dalam tidak perlu siapa kau dan apa latar belakangmu

“Hey, kenapa kamu nangis?” Arfi mengusap air mataku

“apa aku menyakitimu? katakan sesuatu julia” lidahku keluh, aku tidak bisa berbicara sedikitpun. Biarkan aku merasakan kebahagiaan ini

“Juliaa.. kamu okey?” Arfi memegang pundakku mengguncangkan tubuhku.

Tangisku semakin pecah, kupeluk lagi tubuh arfi dan menangis dipundaknya. Dia membiarkan ku menangis dan mengelus punggungku. Lama aku menangis arfinya ku lepaskan pelukanku.

“Ada apa?” Tanyanya. Aku menggeleng

“Aku juga mencintaimu..” ucapku pelan. Arfi tersenyum

“Terima kasih..” nggak arfi, aku yang berterima kasih seharusnya.

Arfi memelukku lagi, lama kami saling diam dalam pelukan seakan menyalurkan perasaan kami masing masing. Arfi melepas pelukannya dan menatapku

“Udah jangan begini posisinya.. sakit” ujarnya

Aku langsung bangkit dan berdiri

“Kenapa kok berdiri?” Loh kok dia malah balik nanya sih, tadi katanya sakit

“Kamu bilang tadi sakit” ucapku dia terkekeh

“Sakit nih, ketahan celana. Udah sini pangku duduknya miring” hih! Aku udah khawatir kukira kenapa ternyata masalah pribadinya huh! Aku kembali duduk dipangkuan arfi tapi posisi tubuhku kini miring ke kanan. Aku memperhatikan wajah samping arfi

“Kenapa lihatin aku begitu?” Aku tertawa kecil

“Perasaan kamu ke aku salah arfi.. kamu kan tau aku wanita–”

“Berisik! Gak ada yang salah sama perasaanku hatiku masih berfungsi dengan baik” ucapnya sewot memotong ucapanku.

Aku terkekeh mendengar jawabannya. Entah kenapa aku masih merasa tidak pantas disanding dengan malaikat berwujud manusia yang kini sedang memangku ku

“Kalau pun ada yang salah itu kamu!” Sambungnya

“Aku? Alasannya?”

“Saat kamu tanya tipe wanitaku seperti apa aku hanya mendeskripsikan kamu dimata aku” aku tertawa mendengar jawabannya lalu mengalungkan tanganku dilehernya. Menghirup dalam dalam aroma tubuhnya yang selalu menjadi candu bagiku

“Aku selalu merasa gak pantes dicintai sama kamu. Kamu notabanenya baik, dan aku bukan wanita baik baik” ucapku. Arfi hanya diam memandang ke depannya

“Udah ngomongnya?” Ucapnya.

“Kamu gak takut mencintai aku?” Tanyaku, arfi tersenyum remeh

“Aku gak pernah takut dengan perasaanku. Pengalaman buruk kamu adalah hal yg tidak kamu sukai. Denger julia, hidup ini keras beberapa orang rela melakukan hal yg bahkan ia benci untuk tetap bertahan hidup. Dan itulah yang kamu lakukan” ucapnya panjang lebar.

Aku terdiam meresapi ucapannya. Dia benar, aku sama sekali tidak ingin melakukan pekerjaan kotor itu. Baik, kita tambahkan satu lagi untuk arfi. Dia pandai menganalisa dan pemikirannya yang luas juga bijaksana

“Kamu sungguh sungguh berkata seperti itu?” Arfi menatapku sinis

“Jika aku gak bersungguh sungguh untuk apa aku mengajakmu tinggal bersamaku? Aku coba buktikan untuk melindungimu sebelum aku berani mengatakan perasaanku padamu..” jelasnya. Aku menunggu arfi melanjutkan ucapannya

“Terlebih menahan emosi dan menahan sesuatu dalam diriku saat melihatmu” pipinya bersemu mengalihkan pandangannya

“Melihatku? Aku kenapa?” Tanyaku kembali

“Aku pria normal julia. Dan kita tinggal seatap begini. Kamu pikir ini tidak menyiksaku? Terlebih saat melihatmu memakai celana pendek. Sungguh aku benci melihatnya tapi naluri lelakiku selalu ingin menikmatinya. Aku tidak ingin kamu jadi objek sex, aku mau memperlakukan kamu sebagai wanita dan membuat kamu merasakan lembutnya kasih sayang”

Aku tersenyum senang. Entah kesekian kali pria didepanku ini mampu membuatku merasa lebih hidup. Bahkan dia masih mampu menekan birahinya hanya untuk membuatku merasa bahwa tidak semua pria didunia ini buruk. Dia lelaki sejati, tidak bukan lelaki dia pria. Dan dia priaku arfi juanto.

Arfi menatap mataku, aku tau maksudnya aku memejamkan mataku tidak berapa lama kurasakan benda kenyal itu lagi. Bibirku dan bibir arfi kembali bersatu. Aku menekan leher arfi memperdalam ciuman kami. Bibir kami sudah basah oleh saliva kami. Aku membuka sedikit mulutku membiarkan arfi memainkan lidahnya didalam mulutku. Lidah kami saling bertemu. Ini memabukkan, berciuman dengan orang yang ku sayangi itu adalah hal terindah yang pernah menjadi mimpiku dan kini mimpiku terwujud

“Ssshhh…” aku mulai mendesah saat arfi mulai dengan liar melumat bibirku sedikit kasar. Tiba tiba dia melepas ciuman kami. Aku menatapnya kecewa.

“Sudah, nanti bisa keterusan bahaya” ah! Selalu saja prinsipnya itu.

Lagipula kenapa sih kalau keterusan, aku rela jika kami harus berakhir diranjang. Loh kok jadi aku yang agresif sih(?) Hehehe selanjutnya aku hanya tersenyum

“Bibir kamu bilang begitu tapi adik kecilmu sepertinya tidak sejalan dengan apa yang kamu ucapkan” ujarku menggodanya

“Kalo dia mah udah otomatis. Ngeliat aja udah berdiri apa lagi nempel nempel gini” balasnya sambil menunjuk ke dadaku yang menempel didadanya dengan dagunya

“Iya deh aku ngejauh” aku menjauhkan tubuhku tapi tidak bangkit dari pangkuannya

“Yah.. padahal kan enak gpplah si adik bisa dikompromiin kok. Sini deketan lagi” aku menoyor kepalanya sambil tertawa

“Tadi ada yang bilang mau memperlakukan aku sebagai wanita bukan objek sex siapa ya ingetin aku dong..” ujarku menyindirnya

“Hahaha iya sih, paling gak aku tau perasaanku terbalas sama kamu” loh apa nyambungnya ya.

Aku tidak mau ambil pusing, yang ku tau pria didepanku tidak akan melukai perasaanku. Semoga saja..

“Aku sih kasihan sama adik kamu. Belum lagi yang suka kamu buang di toilet. Nanti anak anak kamu jadi kecoa loh” dia memanyunkan bibirnya1

“Kalo dibuang di kamu nanti kamu jadi ndut” ucapnya sambil menirukan orang gendut dengan tangannya. Aku hanya tertawa dan dia pun ikut tertawa

“Aku ingin melakukan itu dengan cinta. Biarkan dia mengalir julia, aku tau cepat atau lambat pertahananku akan runtuh tapi sebelum itu aku yakinkan sama kamu bahwa kamu milikku tidak ada yang boleh mendekatimu, menyentuhmu, atau menjadi kebahagianmu. Karena kamu punya aku! Aku berhak atas kamu” ucapnya lagi aku tersenyum mendengarnya. Ku cubit hidung mancungnya

“ih posessif banget sih”

“Biarin.. akan aku hapus semua bekas laki laki yang pernah menyentuh kamu”

Ide jahilku muncul. Aku bertaruh setelah ini dia akan diam dan pipinya bersemu merah

“Tapi kamu belum hapus bekas yang dibawah” ucapku mengedipkan mataku satu.

Benarkan dia langsung diam dan.. hehehe ada semburat merah di pipinya. Lagipula hey kenapa dia terlalu takut sih melakukan itu

“Itu beda lagi. Akan ada waktunya..” ucapnya mengalihkan pandangannya

“Ya udah mulai dari ini aja dulu deh gak usah yang dibawah dulu” lagi aku menggodanya dengan membusungkan dadaku.

Dia terlihat menelan ludahnya, wajahnya kearah lain namun matanya melirik lirik ke arah dadaku. Hahaha entah kenapa aku senang sekali menggodanya

“Juliaa.. jahat banget sih kamu” dia mengusap wajahnya kasar.

Ukuran dadaku memang tidak terlalu besar tidak juga kecil. Tapi aku sedikit bangga karena dadaku cukup kencang dan padat. Hehehe

“Awas ah.. aku mau jinakin si adik dulu” ujarnya menyingkarkan tubuhku dari pangkuannya. Aku pun berdiri namun ku tahan tangannya ketika hendak pergi

“Apa lagi?” Tanyanya

“duduk aja biar aku yang jinakin sini” ucapku mengerling nakal

“Aarrghhh.. udah ah lepasin” dia mengempas tanganku kasar lalu berlari ke kamar mandi. Untuk para laki laki tentu tau apa yang akan arfi lakukan hehe. Aku tertawa keras melihatnya,

“Gak usah ketawa! Suatu saat kamu akan membayar semua ini juliaa” teriaknya dari dalam kamar mandi

“Aku tunggu!!” Balasku dengan teriakan juga.

Aku senang sekali menggodanya. Melihat wajah lucunya menahan sesuatu dari dalam tubuhnya adalah kesenangan sendiri bagiku. Jahat ya aku, ah lagian siapa suruh gak mau wkwk

Beberapa menit arfi kembali menghampiriku kini yang sudah duduk diruang tamu sambil menonton tivi. Wajahnya terlihat kesal, aku terus memperhatikannya

“Kenapa liat liat?” Heh jutek banget sih

“Aku gak lihatin kamu. Aku lagi kasihan aja sama adik kamu”

“Juliaaaarrgghh..” tawaku pecah saat dia kembali mengerah prustasi

“Iya iya maaf deh.. kamu masih mau nonton apa tidur?”

“Tidur”

Aku mematikan tivi dan pergi ke kamar di ikuti oleh arfi. Sampai dikamar arfi menoleh padaku.

“Ada apa?” Tanyaku

“Aku boleh tidur sama kamu disini?” Loh ini kan punya dia kenapa jadi dia yang izin sama aku? Aneh nih

“Boleh aja.. siapa yang larang juga?” Aku menggeser tubuhku memberikan arfi ruang

“sini tidur udah malem” sambungku. Arfi membaringkan tubuhnya menghadap langit langit kamar dan aku memunggunginya

“Juliaa..” aku baru aja mau merem dipanggil lagi, ada apa sih dia

“Ya?”

“Aku boleh peluk kamu?” Tanyanya lagi.

Aku menoleh kebelakang dan mengangguk

“sini peluk aku. Gitu dong kan jadi kaya pasutri kita” ujarku tidak butuh waktu lama sepasangan tangan sudah memeluk perutku.

Aku pun memejamkan mataku. Tapi kurasakan pergerakan diperutku perlahan naik ke atas dan menyentuh…

“Boleh kan? Sedikit aja” aku terkekeh.

“Boleh punya kamu ini kan” lagi aku memejamkan mataku tapi lagi lagi terusik karena arfi memanggilku lagi

“Julia, kamu yakin gpp”

Duh! Lagipula tangannya cuma dibawah dadaku bukan menyentuh ini namanya. Dia ini bodoh atau terlalu polos. Oke si pria random polos yang ingin merasakan ena ena. Hih! Kesal jika dia akan terus menggangguku. Ku ambil telapak tangan kanannya lalu ku letakkan didada kiriku. Dia sedikit terkejut bisa kurasakan dari pergerakan tubuhnya. Ia berusaha menarik kembali tangannya namun kutahan.

“Udah diam. Pegang aja ini punya kamu. Berhenti ngomong lagi. Aku mau istirahat”

Nah anteng kan. Kalo gini kan aku bisa tidur.

“Aku boleh elus elus sedikit kan” lagi dia berbicara membuatku terusik kembali. aku mencoba bersabar

“Hmmm..”

Tidak sampai 5 menit dia kembali mengeluarkan suara

“Julia.. kamu gak pakai bra ya”

“Kalo kamu ngomong lagi kamu yang akan hidup tanpa kuping sebelah” ujarku penuh penekanan.

Arfi diam, dan aku tidak langsung memejamkan mataku takut takut baru akan ku pejamkan mataku pria bodoh ini kembali bersuara. Aku bersumpah jika dia kembali bersuara akan ku tendang ia dari atas kasur. 10 menit sudah berlalu, kurasa dia memang tidak berniat mengeluarkan suara lagi.

Ku pejamkan mataku, tapi aku merasa pergerakan kecil diperutku. Arfi mengelus perutku menggelus perutku lembut dengan tangan kirinya dan tangan kanannya.. hehe dia mulai bermain disana. Sesekali memilin kecil putingku dari luar baju. Seperti bayi, bayi besar hehe ya sudahlah paling gak dia tidak menggangguku lagi. tidak lama aku terlelap ke alam mimpi

Bersambung