Tentang Kita Part 6

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 5

Hari sudah berganti malam namun arfi tidak kunjung menunjukkan batang hidungnya. Kemana dia dan angin apa yang dicari sampai malam begini lagian angin kok dicari siapa yang buang juga. Aku masih anteng menonton televisi, acara tivi sekarang gak ada yang bagus.

Penuh dengan sinetron seperti anak muda dengan moge dan balapan serta berebutan pacar sampai sinetron yang mengisahkan pelakor. Aku sebenarnya tidak pernah menyukai sinetron, kenapa? Karena menurutku terlalu drama. Seperti sinetron pelakor ini hampir suaminya ketauan selingkuh akhirnya ada saja yang membuat suaminya gagal ketauan. Kan gregetan banget. Hih kesel pokoknya!

Teng

Jam menunjukkan pukul 10 malam. Kabar buruknya adalah arfi belum pulang. Aku meraih ponselku dinakas sebelah sofa, membuka aplikasi chat dan mencari kontak arfi. Saat sudah berada didalam menu chat berkali kali aku menulis lalu kuhapus lagi. Aku ragu menanyakannya, aku takut mengganggunya tapi rasa khawatirku lebih besar. Dengan tarikan nafas aku beranikan diri menuliskan pesan untuknya

“Arfi..”

“Kamu dimana? Udah makan?”

Aku membaca pesan yang ku kirim. Delieve artinya hapenya aktif. 5 menit 10 menit setengah jam! Tidak ada balasan darinya. Aku terus memegang ponselku. Berulang kali aku membuka aplikasi chat dan tanda delieve disana masih belum berganti tanda bahwa sudah dibaca.

Aku sangat khawatir hampir tengah malam dan aku belum dapat kabar tentangnya. Apa aku telfon saja ya. Tapi kalo dia marah gimana? Ah bodo amat deh paling gak aku memastikan dia baik baik aja

Aku berusaha menghubunginya sudah ke tiga kali aku menghubunginya tapi hasilnya nihil. Aku lelah sendiri, ku baringkan tubuhku disofa berharap terbangun saat arfi pulang. Baru saja aku memejamkan mata terdengar suara kunci pintu terbuka

Klek

Aku bangun dan langsung berlari ke arah arfi. Aku memeluknya erat, menghirup aroma tubuhnya. Eh, tunggu.. aroma apa ini. Aku melihat arfi yang… Astaga! Dia mabuk!

Tubuhnya lunglai berjalan terhuyung. Aku merangkulnya dan menuntunnya ke kamar. Ku baringkan tubuhnya dikasur. Sepertinya dia tidak sadarkan diri, mulutnya sangat bau alkohol. Aku mengganti pakaiannya dan menggantinya dengan pakaian rumahan. Aku juga membasuh wajahnya dengan air hangat dan handuk sekedar untuk membersihkan wajahnya. Ku rapihkan rambutnya yang sedikit berantakan. Aku memandanginya yang terlelap, satu jariku mengelus pipinya lembut.

Ada apa denganmu? Kenapa kamu pergi ke bar? Apa masalahmu sebenarnya, tidakkah kehadiranku cukup untuk menjadi tempat keluh kesahmu bukan sebuah botol bir disana. Ada rasa sesak didadaku melihat orang yang ku sayangi seperti kehilangan arah.

Ya, aku menyayanginya, sangat menyayanginya aku membiarkan perasaan itu merasuk ke hatiku dan membasahi seluruh jiwaku membuatku memantapkan hati bahwa aku mencintainya. Aku ingin disampingnya terus, pria yang beberapa bulan lalu kutemui diclub dan karenanya juga aku bisa kembali merasa dikasihi.

Tanpa kusadari air mataku kembali menetes dengan segera aku hapus menggunakan tanganku. Tidak ingin mengganggunya aku beranjak keluar. Well, malam ini mungkin aku tidur disofa karena kasur arfi yang biasa digunakan dibawah belum di pompa dengan angin. Berisik suaranya kalau harus aku memompanya jadi lebih baik aku tidur diluar.

Nggak buruk juga, sofanya empuk. Tidur disini semalaman tidak akan membuatku sakit badan esoknya. Sudahlah pikiranku sudah tenang kini, arfi sudah kembali dan aku bersiap tidur tidak lupa aku mengunci pintu apartement sebelum tidur.

***

Sinar matahari memasuki jendela kamar. Aku mengerjap beberapa kali. Namun aku masih mengantuk dan enggan membuka mataku lebar lebar. Ini kan hari minggu lagian, tubuhku juga terasa berat untuk bangun apa ini pengaruh dari gravitasi kasur yang lebih besar dari biasanya di minggu pagi.

Ku tarik lagi selimutku hingga menutupi leherku. Wait wait.. selimut? Aku tidak ingat aku bawa selimut saat tidur disofa semalam dan ini empuk sekali. Ada yang salah denganku, sarafku mungkin sudah tidak berfungsi karena tidur disofa. Ku raba dengan tanganku ku buka sedikit mataku.

Benar, ini kasur.. itu artinya, aku menggeser sedikit tubuhku terasa berat sekali dan melihat kebawah. Tidak ada, arfi tidak tidur dibawah sana. kenapa aku bisa dikasur semalam kan disofa.

Apa arfi memindahkanku kesini. Berarti arfi tidur disofa. Mataku membuka sempurna lalu ku singkap selimut yang menutupi tubuhku. Saat akan bangun tubuhku terasa berat sekali. Ini sih bukan gravitasi lagi namanya tapi seperti menggendong orang lain.

Eh, sepasang tangan memeluk perutku posessif. Aku menoleh kebelakang perlahan. Mataku membulat, arfi? Dia tidur bersamaku semalam dan dia bertelanjang dada.. apa artinya aku dan dia semalam…

Arfi tiba tiba mengerang sedikit. Aku masih diam dengan posisi arfi memelukku dari belakang. Nafasnya bisa kurasakan dibelakang leherku. Jantungku berdegub dengan kencang. Ah sial pagi pagi udah kaya jogging aja jantung ini. Setengah jam dengan posisi seperti ini secara sadar akhirnya arfi melepaskan pelukannya.

Dia mengubah posisi tidurnya. Aku duduk dikasur masih berpikir apa benar aku melakukannya semalam. Tapi pakaianku masih sama seperti semalam tidak berubah sama sekali. Aku memang menggunakan tengtopku dan celana pendek. Itu pakaian tidurku.

“Heh, kenapa kamu bengong pagi pagi?”

Suara arfi menyadarkanku dari lamunanku. Arfi bangkit dari tidurnya dan duduk disampingku.

“Semalam, terima kasih ya..” ucapnya didepanku tersenyum.

Jadi benar semalam itu kami melakukannya tapi kenapa aku tidak merasakannya. Arfi beranjak dari kasur dan memungut kaos yang semalam kugantikan untuknya dilantai. Gak salah lagi, aku benar benar melakukannya. Dia melakukan itu kepadaku. Sebelum dia keluar aku bertanya padanya

“Arfi.. semalam kita berhubungan ya?”

Tanyaku polos. Dia menoleh padaku lalu mengeritkan dahinya. Kenapa? Apa aku salah?

“Berhubungan apa?”

Malah balik nanya gimana sih. Oh ya aku lupa arfi ini orang yang suka memanfaatkan kesempatan. Aku berdiri menghampirinya. Mendekatkan tubuhku padanya hingga tubuhnya menabrak pintu dibelakangnya

“Apa yang kamu lakukan semalam padaku?”

Dia hanya diam menatapku

“Kamu ngomong apa sih?”

Bikin kesel aku kembali menghimpit tubuhnya hingga tidak ada jarak diantara tubuhku dan tubuhnya

“Julia.. jangan begini…”

Kuraskan sesuatu benda mengeras dibawah sana. Mungkin akibat dadaku yang ku rapatkan dengan dadanya. Hihihi

“Katakan saja arfi.. aku gak marah kok kalo kamu emang ngelakuin itu.. tapi, kamu egois gak ngebiarin aku ngerasain juga” ucapku sedikit mendesah

“Kamu sakit julia.. pergi mandi sana itu bisa menyegarkan pikiranmu” ucapnya namun tidak berusaha melawan.

“Bagaimana kalau kita mandi bersama” ucapku nakal.

Sungguh aku senang sekali menggodanya. Ada semburat merah dipipinya dan dia terlihat menahan sesuatu hehehehe lucu sekali

“Apa?! Jangan gila kamu?” Dia memalingkan wajahnya

“Kita sudah melakukan hal gila bukan?” Aku terus menyerangnya dan menghimpit tubuhnya dengan tubuhku. Aku ingin tertawa keras sekali melihatnya seperti menahan sesuatu

“Apa maksudmu sih?” Orang ini benar membuatku kesal.

“Kamu semalam melakukan apa sama aku? Kenapa susah banget ngaku sih”

Aku menjauhkan tubuhku dan berkacak pinggang menatapnya kesal

“Ngaku? Aku harus ngaku apa? Oh aku tau.. ngaku kalau kamu mengigau begitu?”

Aku terdiam. Ngigau katanya.

“Kamu semalam mengigau julia, aku menggendongmu ke kasur tapi kamu memelukku membuka bajuku kasar membuatku bingung harus apa..”

Aku membulatkan mataku.

“Apa itu benar?”

“Ya, dan kamu menciumi kasar dadaku, nih lihat merah merah karena kamu” dia membuka bajunya kembali menunjukan beberapa bekas tanda merah didadanya.

Aku tidak menyangka melakukan itu padanya. Aku rasa dia benar aku sudah gila

“Sudahkan, aku harus ngaku apa lagi? Ah lebih baik aku mandi” ujarnya membuka pintu dan menghilang dibalik pintu. Tak berapa lama pintu kembali terbuka arfi menyembulkan kepalanya ke dalam

“Ngomong ngomong tawaranmu soal mandi bareng masih berlaku? Kalau ya, aku tidak keberatan” ucapnya dengan senyum tengilnya. Aku tertawa lalu kuhampiri dia

“Boleh asal adik kecilmu gak boleh berdiri. Kalau sampai berdiri aku gigit sampai habis”

“Itu mah lu bunuh gue namanya. Masa depan gini gini nih. ah cubluk!” Dia pergi ke kamar mandi aku tertawa keras.

Ah! Senang rasanya arfi sudah membuka dirinya dan menjadi dirinya sendiri yang tidak banyak orang tau. Ternyata sifatnya humoris juga tapi kadar ngeselinnya masih gak berkurang sama sekali.

***

Beberapa setelah hari dimana arfi mabuk kami tidak lagi canggung untuk saling meledek satu sama lain. Lagi, arfi memberiku kejutan baru. Dia menjadi orang yang jauh lebih baik dari yang kukenal.

Tidak kaku dan formal bahkan tidak jarang candaan kami berunsur dewasa tentu kami hanya bercanda begitu juga dengan arfi yang mensikapi ulahku hanya guyonan semata. Karena apa? Karena arfi masih tidur dibawah dan aku dikasur hehehe ngerti kan;)

Sikap arfi yang humoris lebih ke nyebelin ternyata hanya berlaku saat kami sedang berdua saja. Aku merasa orang yang paling mengenalnya dan tau arfi yang sesungguhnya. Jika dikantor atau didepan orang banyak dia kembali bersikap dingin seperti sekarang aku sedang berada diruang meeting bersamanya dan beberapa staf kantor kami

“.. jadi kami akan melakukan tinjauan ke lokasi langsung dan kami akan mengiklankan perumahan permata hijau setelah rampung 60%..” jelas salah satu staf kami

“Untuk pembangunan perumahan iu sendiri sudah rampung sekitar 40 sampai 50%..” sambungnya sambil menunjukkan diagram dipapan dengan presentase pengerjaan proyek periklanan pembangunan perumahan permata hijau. Bingung kan bacanya, ya aku hanya baca judul diagramnya saja hehe

“Baik, bagaimana dengan bannernya?” Tanya arfi pada salah satu staf

“Kami sudah mengalokasikan sekitar radius 10 km dari lokasi dan ada 14 titik yang menurut saya akan menjadi pusat perhatian disana. Dengan ukuran 3×5 meter kurasa cukup besar terlihat” jelasnya. Mereka saling berdiskusi untuk tender baru. Aku? Akan ada waktu aku yang menjelaskan nanti

“Julia..” tuhkan namaku disebut. Oke giliranku

“PT. Madju Alam Jaya sudah mensepakati dan menyerahkan seluruhnya pada kita. Soal periklanan dan bannernya, serta periklanan yang akan kita jalankan setelah rampung 60% juga sudah disepakati”

Aku membalik kertas kerjaku

“Dengan banner 14 titik yang kita lokasikan juga sudah disetujui. Aku sendiri kemarin yang mengantar mereka menuju ke titik dimana banner akan kita tempatkan”

“Dan kita akan mengadakan kembali meeting dengan PT. Madju Alam Jaya membicarakan konsep periklanannya nanti setelah 60% pembangunannya rampung”

Panjang kan penjelasanku, perlu kalian catat aku bicara sepanjang itu hanya dengan satu tarikan nafas. Tidak, bukan ngomon cepat tapi berantakan dan sulit dimengerti. Aku menjelaskannya dengan pelan agar mereka mengerti

“Itu artinya tidak ada masalah dengan tender rumah impian ini. Kita akan kembali mengadakan meeting dan aku ingin lihat proposal serta konsep periklanan kalian. Tolong selesaikan 3 hari sebelum kita meeting kembali”

“Siap pak..”

“Baik.. silahkan kembali keruangan kalian masing masing, terima kasih telah datang dan maaf menggangu waktu kalian”

Kami pun beranjak dari tempat duduk kami dan berjalan keluar menuju ruangan kami masing masing. Saat sudah diruanganku dengan segera aku menyalakan komputerku dan menyusun laporan serta jadwal meeting berikutnya. Kulirik jam tanganku, hah panter perutku laper rupanya jam sudah menujukkan pukul 12 siang. Aku membereskan pekerjaanku lalu beranjak keluar mencari makan

“Hay.. ketemu lagi kita”

Aku menoleh, Oh iwan rupanya

“Kan kita sekantor iwan gimana sih” aku memutar bola mataku malas

“Meski sekantor kalo gak jodoh mah gak bakalan ketemu jul”

“Kalo kamu terus ketemu sama orang seisi kantor artinya kamu berjodoh sama orang seisi kantor ini begitu?”

Dia hanya tertawa mendengar ucapanku. Tidak terasa aku sudah berada diloby. Mataku menangkap seseorang yang tidak asing sedang menatapku

“Oke gue sampe sini aja deh sebelum gue ditelen hidup hidup sama doi lu tuh HAHAHAHA” ucap iwan berlari meninggalkanku.

“Kamu nungguin aku?” Tanyaku saat aku sudah berada didepannya

“Cukup lama..”

Aku terkekeh mendengarnya. Tuhkan dia judes lagi jawabnya dan tatapannya datar lagi

“Mau nemenin aku makan?” Tanyaku

“Boleh tapi aku gak ikut makan. Aku kenyang makan cemburu”

“Hah? Makan apa?” Samar samar aku mendengar ucapan diakhir kalimatnya karena dia memelankan suaranya

“Gak ada.. ayo kita pergi” kan, dia menarik tanganku lagi sampai ke parkiran.

Memang gak begitu jauh sih parkirannya cuma jadi bahan tontonan orang orang sekitar kami. Kaya apaan aja deh dilihatin gini ih! Ini juga kebiasaan banget narik narik orang

***

Sampai disebuah restoran sea food yang menjadi pilihan arfi aku langsung makanan

“Gurame bakarnya satu, minumnya es teh manis aja ya mas” ucapku pada pelayan “kamu apa fi?”

“Aku gusepi aja” mulai kan konsletnya

“Oh yaudah aku pergi biar kamu sepi”

“Eh eh.. iyaiya ih pundung wae sih eneng teh. Bawal goreng aja jangan garing ya mas” setelah pelayan itu menulis pesanan kami ia pergi

“Kamu orang sunda?” Tanyaku

“Kita kan pernah satu sekolah julia”

Hah? Satu sekolah? Kapan?

“Kamu lupa?” Tanyanya lagi

“Bentar deh, kamu bilang aku ada di mimpi kamu. Lalu sekarang kamu bilang kita pernah satu sekolah”

“Iya, aku yang dulu cuma inget muka kecil kamu aja. Lalu mimpi itu, aku kan bilang aku pikir kita pernah ketemu dan wajahmu gak asing bagiku”

Tunggu, aku masih sulit mengerti apa yang sedang terjadi disini. Aku menatap arfi mengingat wajahnya. Tidak ada satupun ingatanku tentang wajahnya arfi

“Aku baru pertama kali melihatmu saat diclub sana”

Arfi tertawa kecil mendengarnya. Dia mengeluarkan dompet dan menunjukkan foto seorang anak kecil disana

“Ini kamu?” Dia mengangguk

Demi apa aku memang mengenal anak laki laki difoto ini. Aku ingat dia seorang anak kecil yang cengeng dulu dan pendek. Tidak mungkin, kini aku percaya the power of puberty. Arfi yang ada difoto dulu anak pendek yang hitam dan cengeng selalu menyendiri. Jika ku bandingkan dengan arfi yang sekarang. Kalian tidak akan percaya. Dia tinggi, putih, keren dan.. sudahlah, pokoknya jauh banget. Eh tunggu,

“Kalau begitu, angel itu..” ucapku ragu

“Iya, dia kakak kelas kita saat kita SD kita kelas 5 dan dia kelas 6”

Aku tidak begitu mengenal Angel tapi yang kutau saat sepulang sekolah arfi a.k.a arfi kecil dulu selalu dibully dan yang nolongin itu angel. Wah namanya berarti malaikat hatinya pun malaikat juga. Sulit kupercaya seperti de javu saja. Aku mengembalikan fotonya dan makanan pesanan kami pun datang

Kami memakan makanan kami tanpa suara. Seperti biasa arfi lebih dulu menghabiskan makanannya. Speed makannya dia seperti kecepatan internet di NASA ngebut euy!

“Kamu lama banget makannya”

“Biarin.. diem deh jangan ganggu!” Ucapku menepuk tangan arfi yang ingin mencicipi gurame ku.

Tidak akan kubiarkan siapapun menyentuh makanan kesukaanku. Akan ku lindungi meski harus mempertaruhkan nyawanya arfi. *Loh(?)

***

Selesai makan kami kembali ke kantor. Bekerja seperti biasa sampai jam menunjukkan waktunya pulang.

“Kamu mau langsung pulang atau makan dulu?” Tanya arfi saat aku sudah memasuki mobilnya

“Kita ke swalayan aja deh. Aku yang masak. Kamu mau dimasakin apa?”

“Coba gulai ikan boleh tuh kayanya” ujar arfi sambil menyetir

“Ikan apa maunya?”

“Aduh nanya lagi.. ikan cere, ikan guppy ikan neon ikan–”

“Gulai ikan hiu mau gak? Kan gede tuh bisa buat setahun”

“Boleh aja kalo bisa masaknya mah”

“Oke kamu jadi umpannya ya”

“Anjay.. itu mah gue yang digulai sama hiunya”

Dan kami tertawa bersama. Tidak ada lagi canggung diantara kami saat kami berdua. Mobil arfi sudah memasuki area swalayan. Aku dan arfi membeli kebutuhan untuk memasak ikan goreng. Loh kok jadi di goreng, karena arfi gak mau jadi umpan hiu nya(?). Hehehe

“Udah semua kan?” Tanyaku memastikan

“Ya nggaklah, masa barang barang di swalayan tadi aku beli semua”

Tahan.. tahan.. sabar sabar

“Maksudku belanjaan kita loh arfii. Kamu bawa semuanya kan?” ucapku tersenyum. Senyum dipaksakan supaya aku tidak kebawa emosi

“Tadi iya aku bawa..”

“Lah terus kamu taro mana? Bukannya tadi kamu duluan bawa belanjaan ke mobil”

“Iya aku emang duluan kemobil bawa belanjaan. Tapi sampai mobil aku taro dijok belakang tuh.. gak aku bawa bawa lagi…”

“Aarghhhh… julia kamu laper banget ya?” Aku gigit tangan arfi yang memegang setiran. Makhluk satu ini sungguh menguji kesabaranku.

“Biarin aja! Kamu ngeselin banget sih jadi orang”

“Lah kamu rakus banget jadi orang sampe digigit tanganku gini.. jadi serem” ucapnya sambil mengelus elus selangkangannya. Hih mesum!

Mobil arfi keluar dari area parkiran swalayan dan menuju apartement. Saat masih diperjalanan pun sifat ngeselinnya arfi masih aja diperlihatkan. Kalo saja aku sedang memegang palu besar tentu saja tidak aku pukul kepalanya. Ya iyalah masa aku mau melukai orang baik seperti arfi, terlebih dia orang yang kusayangi hehe selain itu aku julia anantha bukan julia elaine seperti cerita disebelah wkwk

Ngiiiitt

Buugh

Takk

“Wadaaaww.. gila apa itu ibu ibu ya..”

“Aduh.. kepalaku kejedot sakit nih”

“Tuh salahin ibu ibu tuh gila apa dia..” bahaya nih kalo emosinya naik lagi. Segera ku elus punggungnya berusaha menenangkannya.

“Udahlah fi.. kita gpp ini dan gak ada yang terluka juga kan. Yuk jalan lagi” arfi mengangguk dan memasang seatbeltnya kembali begitu pun denganku. Eh tunggu, loh kok ini..

“Fii.. seatbeltku rusak masa nih.. copot pentolannya” ucapku. Arfi berusaha menahan tawanya

“Kamu bilang apa tadi?”

“Pentolannya copot..”

“Wahahahahahaha..”

Lah dia malah ketawa. Apa yang lucu, lagian apa sih ini namanya. Aku masih diam saja, melipat tanganku didada. Arfi masih tertawa keras dan aku menatapnya sinis

“Oke oke.. aduh air mataku sampe keluar gini, yaudah yuk sini aku pangku aja”

Pangku? Aku terdiam memandang arfi

“Kenapa diam? Udah buruan sini yee lama aku laper nih”

Arfi memundurkan jok mobilnya memberikan ruang untukku duduk dipangkuannya

“Ayo cepetan deh julia.. masih sempet aja bengong gitu” ujarnya lagi menarik tanganku. Kebiasaan kan-_-

“I.. iya iya bentar dong aku kan pake rok”

Arfi menoleh cepat ke arahku. Kenapa? Rok kantor kan ini emang dia gak sadar seharian ini kan emang aku pake rok.

“Heh? Jadi gak?” Tanyaku yang melihat arfi hanya diam

“Eh.. iya jadi sini deh”

Aku melepas high heels ku dan beralih ke pangkuan arfi. Aku mencari posisi enak dipangkuan arfi lalu arfi memasang seatbeltnya lalu ia melajukan mobilnya

“Kamu tetep bisa menyetir meski aku kaya gini kan?”

“Masih, tenang aja cuma kurang konsen nih kayanya”

Aku tertawa kecil “kenapa?”

“Gimana mau konsen aku harus memperhatikan jalan atau…” arfi menundukkan kepala namun matanya masih memandang lurus ke jalan. Aku tau yang dimaksudnya

“Hehehe salah sendiri suruh aku duduk dipangkuan kamu gini”

“Keamanan yang utama julia..”

“Kenapa gak suruh aku duduk dibelakang hmm?”

“Jangan dong, nanti aku gak bisa kaya gini” aku memukul dadanya pelan tapi tetap tertawa.

“Modus ih”

“Aku gak modus, modus kan modal dusta sedangkan modalku banyak hanya untuk tinggal sama kamu”

Aku terdiam sedikit ku dongakan kepalaku sekedar melihat arfi. Dia terseyum dengan masih matanya fokus kedepan.

“Arfi…”

“Ya..”

“Terima kasih ya” ucapku tulus. Ia tidak membalas ucapanku tapi kuyakin ia sedang tersenyum memandangku saat aku ucapkan terima kasih padanya

“Arfi…”

“Apalagi..”

“Dibawahku seperti ada yang mengganjel nih”

Arfi terkekeh pelan

“Biarin aja. Masih aman kok gak akan nembus juga bukannya tadi aku bilang keamanan yang utama” ucapnya. Aku ikut terkekeh juga

“Kapan kapan jangan mengutamakan keamanan kalo urusan ini sama aku ya” arfi hanya terkekeh kecil.

Entah ia anggap ucapanku ini serius atau tidak. jujur, ini ucapan yang keluar dari mulutku secara spontan anehnya aku tidak merasa menyesal telah mengucapkannya. Aku menyandarkan kepalaku didada bidang arfi.

Dewi keberuntungan memang berpihak padaku, diluar turun hujan dan jalanan yang kami lalui macet. Macet parah, hingga mobil kamu terdiam. Mungkin terdengar aneh, tapi aku menikmati macet ini.

Tiba tiba arfi mengelus kepalaku

“tidurlah, macetnya masih jauh kayanya. Nanti kalo udah diapart aku bangunin” aku hanya mengangguk.

Ku tenggelamkan wajahku dicuruk lehernya sebelah tanganku ku gunakan untuk mengelus rahang kokoh arfi yang sedikit ditumbuhi bulu. Ku usap menggunakan ibu jariku. Kurasakan pergerakan kecil dikepalaku, arfi menundukkan kepalanya memandangku.

Aku juga mendongakan kepalaku menatapnya, arfi mendekatkan wajahnya dan aku memejamkan mataku. Tidak butuh waktu lama aku merasakan benda kenyal menempel dibibirku. Ya, kami berciuman tanpa nafsu.

“Tidur ya.. goodnight” ucapnya lagi. Kurasakan mobil arfi mulai bergerak seiring terpejamnya mataku dan segera ke alam mimpi

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48