Tentang Kita Part 5

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 5 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 4

Malam hari saat aku selesai bersih bersih aku memandangi diriku didepan cermin. Bengong seperti ini jadi kebiasaanku setiap malam. Memikirkan hal random dan terkadang memikirkan tingkah serta ucapan arfi yang penuh kejutan dan aneh. Terkadang dia menjadi begitu peduli tapi tidak jarang dia bersikap seolah tidak kenal padaku. huft!

Nah loh! Apaan tuh kan. Aku segera keluar dari kamarku dan melihat apa yang terjadi. Aku mencari sumber suara itu

“Kamu ngapain jungkir balik gitu?” Tanyaku melihat arfi dengan posisi kaki diatas dan kepalanya.. ah gak karuan deh dia ini

“Bangunin aku dulu kek” sewotnya

Aku meraih tangan arfi dan mengeluarkannya dari tumpukan kardus yang menimpa tubuhnya. Lagian ngapain sih kardus sebanyak ini disimpen

“Aku tadi nyari sepatu olahraga aku. Minggu aku mau cfd”

“Minta tolong dong makanya..”

“Tadi kan kamu lagi dikamar abis mandi nanti aku masuk kaya kemarin malem lagi” ucapnya memanyunkan bibirnya.

Ingin sekali aku ketawa, maksudku inikah dirpres yang terkenal dingin dan cuek. Lucuk>.<

Oh ya FYI aja kemarin malam saat aku selesai mandi dan hendak memakai pakaianku arfi masuk main nyelonong aja ke kamar. Aku yang memunggungi arfi hanya bisa melihatnya yang berdiri diambang pintu melalui cermin. Begitu pun dia yang memandangi pantulan tubuhku dari pantulan cermin.

Buru buru dia menutup pintu dan keluar. Aku yang diam bingung harus apa kenapa dia bersikap seolah tidak pernah melihat tubuh polosku saat dia membawaku pulang dari club beberapa bulan lalu kan aku juga tidak mengenakan apapun dihadapannya cuma dia hanya bersikap dingin tapi sekarang kenapa dia seolah baru pertama kali melihatku begini.

Sudahlah biarkan tuhan dan arfi yang tau

“Makasih ya, udah dibantuin cari” ucapnya dan aku menganggukkan kepala

“Aku pikir orang perfeksionis kaya kamu gak akan lupa naro benda dimana”

Dia menoleh padaku cepat. Ada apa? Apa aku salah berucap

“Menurutmu aku perfeksionis?”

Aku hanya mengangguk ragu. Dia mengalihkan pandangannya kedepan. Aku beranjak menuju kulkas mengambil susu dingin yang kubeli tadi dan kembali duduk disebelah arfi.

“Kamu mau?” Tawarku

“Itu susu ya?”

“Bukan, ini air becekan dalam kemasan”

“Dari kemasannya aja ada tulisan susu. Dasar bodoh”

“Lalu kamu sebut apa dirimu yang udah bisa baca masih nanya hah?” Ucapanku sedikit meninggi

“Nggak.. makasih, abisin aja” ucapnya terkekeh. Aku menghabiskan susuku dan membuang sampahnya ketempat sampah

“Arfi aku mau nanya sesuatu boleh?”

“Tanya aja” ucap arfi tanpa menoleh ke arahku

“Berapa usia kamu?” Dia menoleh padaku

“Kenapa, apa itu penting bagimu?”

Ah, iya juga sih cuma penasaran aja

“Aku cuma penasaran aja” balasku

“Usiaku 23 tahun”

What?!! Aku terkesiap dari posisiku menatap arfi langsung

“Ada apa?”

“Umur kamu 23?” Tanyaku dan dia mengangguk mengalihkan pandangannya

“Itu artinya–”

“Kita beda 3 tahun, ya kan?” Ucap arfi langsung menarik kakiku membuatku tersandar disofa dan dia menidurkan kepalanya di pahaku.

Hal yang selalu aku lupa tanyakan adalah usia kami yang berbeda 3 tahun. Kupikir hanya berbeda setahun tapi ternyata terpaut cukup jauh

“Hey julia, apa kamu nyaman tinggal disini?”

Aku menunduk dan menatapnya sambil mengelus puncak kepalanya.

“Kupikir begitu.. Aku tidak punya tempat tinggal lagi”

“Kuharap selamanya begitu.. kamu mau tau rahasia kecilku?”

“Apa?”

Arfi menghela nafasnya sebelum ia memulai bercerita

“Soal club seventh heaven bukan tanpa alasan aku menebusmu dari sana. Aku tau akan terjadi penggrebekan itu sebabnya aku membawamu malam itu”

Aku masih diam setelah mendengar penjelasan arfi. Air mataku ingin menetes. Inikah orang baik yang kau kirim tuhan

“Tapi alasannya apa?” Tanyaku

“Sebelum bertemu denganmu aku pernah bermimpi melihat seorang gadis. Kupikir dia angel, tapi setelah kuhampiri ia dalam mimpiku, ternyata dia bukan angel.. dan saat pertama aku melihatmu. Aku berpikir pernah merasa bertemu denganmu, bodohnya aku baru mengingatmu dalam mimpiku saat kamu sudah di sentuh oleh pria tolol itu. Kupikir ini jawaban atas rasa penasaranku. Itu kamu”

Kini aku tidak harus apa, pria yang kini tidur dipangkuanku tersenyum senyum gak jelas. Aku pun tersenyum melihatnya. Dia meraih tanganku dan meletakkan didadanya.

“Aku mau tidur sebentar, nanti jam 9 bangunin aku ya. Kita makan keluar”

Aku menganggukkan kepala. Lalu dia pejamkan matanya. Baru sebentar dia memejamkan matanya kembali ia buka matanya

“Oh ya, jangan berhenti ngelusin kepala aku supaya tidurku nyenyak”

Lagi, aku mengangguk. Oh tuhan.. aku menyerah, menyerah atas perasaan ini. Aku relakan hatiku untuk pria yang kini terlelap dipangkuanku. Selama ini aku berusaha menolak perasaanku takut akan tidak terbalas perasaanku tapi kini aku biarkan arfi masuk kedalam hatiku.

Aku hanya ingin merasakan bahagia meski hanya sebentar. Aku terus mengelus puncak kepalanya sesekali mengelus pipinya.

Selesai makan malam kami kembali ke apartemen. Aku ngantuk sekali atau pengaruh perut kenyang ya hihihi. Tapi perlu kuakui memang tadi itu masakan enak. Bagaimana tidak, menunya favoriteku, steak dipanggang setengah matang. Humm lezat sekali dan yang lebih lezatnya arfi mau membelikanku lebih dari 1 porsi. Kurasa timbanganku akan naik jika arfi terus menuruti keinginan makanku

Waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aku memutuskan untuk tidur meski besok hari libur. Hey, apa salahnya jika tidur lebih awal. Baru akan terbaring dikasur pintu kamar terbuka dan aku melihat…. lihat apa itu kotak besar masuk ke kamarku. Aku diam masih memperhatikan

“Heh bantuin kek berat nih” oh arfi.. ngapain dia dan apa yang dibawa

“Ini apa sih?” Tanyaku sambil menggotong benda besar yang dibawanya

Bruk

“Ini tuh kasur, aku beli kemarin baru dateng hari ini”

Aku mengeritkan dahiku. Untuk apa dia beli kasur

“Ayo bantu aku buka paketnya”

Cukup aneh sih beli kasur dibungkus kardus ini. Jadi penasaran kasur apa sih?

Setelah selesai membantu arfi, arfi keluar dan kembali sambil membawa beberapa bantal sofa dan gulingnya

“Dah sana tidur ngapain kamu lihatin aku begitu” aku masih diam tidak bergeming melihat arfi yang sudah membaringkan tubuhnya dikasur barunya

“Heh? Masih ngelihatin?” Aku tersadar dari lamunanku.

Aku beranjak dan segera tidur. Namun, saat aku baru mememjamkan mataku terasa pipiku seperti di colok colok oleh benda asing

“Eh? Ngapain kamu?” Tanyaku.

Ya arfi mencolok colok pipiku dengan jarinya. Tajem jarinya ih padahal kukunya pendek

“Aku gak bisa tidur” ucapnya aku pun membalik tubuhku menghadapnya

“Kupikir kasur baru itu nyaman bisa bikin orang cepat terlelap ternyata gak berlaku sama kamu” dia memanyunkan bibirnya. Lucuk hih! >.<

“Gak ngaruh kasurnya kali. Namanya juga belom ngantuk”

“Oh ya? 2 hari lalu juga kamu bilang gitu tapi kamu lelap aja tuh tidurnya” ucapku menyindirnya.

Dua hari yang lalu arfi tidur bersamaku memang. Jangan berpikir macam macam dulu, kami memang seranjang tapi tidak ada yang kami lakukan selain berpelukan. Tidak, arfi yang memelukku dari belakang tepatnya

“Yee itu mah beda lagi..” arfi menjatuhkan tubuhnya dikasurnya aku tertawa mendengar ucapannya.

Aku menggeser posisi tidurku kini menjadi di pinggir kasur jadi dengan begini aku bisa melihat wajah arfi yang mengadah menatap langit langit kamar

“Hoby banget mandangin langit langit. Menarik banget ya?” ucapku

“Dari pada mandangin kamu nanti ada yang naik” aku mengeritkan dahiku. Ah mulai berani dia

“Makanya mandangin akunya pas lagi cantik jangan mandangin akunya pas lagi….” aku mengerling nakal ke arahnya.

Dia hanya menatapku sebal, tapi terlihat pipinya bersemu kemerahan hahaha dia lucu

“Huh! Gak sengaja aja segala diomong juga” balasnya. Oke permainan berlanjut

“Ya untung gak sengaja sih.. kalo aku sengajain bisa berapa kali kamu pergi ke kamar mandi hmm?” Strike!!

“Aku cuci muka juliaaa bukan aneh aneh seperti kamu pikirkan”

“Percaya deh. Didunia ini jangan disia siakan apalagi dibuang percuma ya fi..” ucapku terkekeh dan dia menatapku

“Aku beli kasur ini bukan tanpa tujuan julia, tapi kalo begini akan jadi sia sia juga nih.. jangan buat sesuatu jadi sia sia seperti yang kamu ucapkan” aku tersenyum

“Itu bukan sia sia namanya tapi mubazir. Kamu udah punya kasur yang luas dan cukup buat berdua kenapa harus beli lagi?”

“Aku udah pernah jelasin sama kamu” ucapnya penuh penekanan dan aku hanya terkekeh saja

“Okey tapi aku tidur dipinggir sini aja ya”

“Biar apa?”

“Biar kalo jatuh kekasur kamu empuk, kalo pinggir sebelah sana jatuh kan sakit”

“Aaarrgghh…!!”

Arfi beranjak bangun dari tempat tidurnya dan berjalan keluar. Tapi sebelum dia benar benar keluar aku menahannya

“Aku hanya bercanda.. tidurlah” ucapku. Dia menatapku lalu menurut.

“Julia, boleh aku minta tolong”

Aku menatapnya lalu mengangguk

“Malam ini aku belum ngantuk, bisa kamu elus kepalaku? Mungkin itu bisa membuatku tidur”

Aku tersenyum dan mengiyakan keinginnnya

“Tadi aku gk boleh tidur dipinggir biar gk jatuh ke kasurmu” ucapku pelan sambil mengelus kepalanya yang terbaring dibawah kasurku

“Itu resiko kamu deh” ucapnya sambil memejamkan mata

“Iya deh aku tanggung kalo emang itu resiko ku sendiri”

“Kedengerannya kaya beban banget sih.. jatuh juga gpp paling ke tusuk aja” ucap arfi terkekeh masih tetap memejamkan matanya.

Mulai nakal deh dia. Aku mencubit hidungnya pelan. Seketika dia membuka matanya dan mengelus hidungnya menatapku sebal

“Apa? Aku gak salah kan? Kamu yang nantangin tadi”

Loh kok jadi aku? Hmmm

“Dikasih gak mau, maunya manfaatin kesempatan. Laki laki apa kamu?”

“Laki laki yang akan nikahin kamu! Dah ah gak usah dielus aku mau tidur” ucapnya lalu membalikkan tubuhnya.

Aku terdiam seketika. Menikah katanya? Aku? Dia sedang bercanda.. iya pasti sedang bercanda. Pikiran anak umur 23 tahun pasti menganggap menikah mudah hanya sekedar ucapan. Arfi memang mapan bahkan sangat mapan untuk usianya yang masih muda.

Ini bukan sekali atau dua kalinya dia bicara begitu tapi sering kali saat kami berbicara berdua. Tapi pernahkah dia berpikir siapa wanita yang dia ajak bicara soal pernikahan?

Aku merebahkan tubuhku mendekatkan wajahku dengan wajah samping arfi. Terdengar dengkuran halus rupanya dia sudah terlelap. Ku kecup pipi kirinya. Lalu ku bisikkan sesuatu dikuping kirinya ‘Good night my tiger’ . Aku tersenyum dan pergi menyusul arfi ke alam mimpi.

***

“Hah.. hah.. hah.. hah..”

“Arfi tungguin kek cape nih”

Pagi ini aku diajaknya jogging, biar seperti anak kekinian katanya. Ya benar disini lebih banyak anak yang ingin dibilang kekinian dari pada ingin sehat. Lihat saja mereka ada yang pakai baju kemeja dan jeans, ada yang ngevlogging juga, bahkan ada juga yang cuma ngobrol sambil godain perempuan perempuan disini.

Parah kan? Memang gak ketolong mereka. Aku sendiri? Jangan ditanya.. aku berlari terus ngejar si pria random itu. Larinya sih pelan cuma gak berhenti.
Tunggu, kemana dia perginya? Ah menyusahkan saja lebih baik aku beli minum dulu deh

“Airnya satu pak” ujarku pada tukang minuman. Lebih sehat kan minun air putih abis olahraga.

“5ribu mba”

“Nih.. kembalinya ambil aja pak”

“Uangnya pas mba.. yah cakep cakep dengkul”

“Bercanda aja pak serius banget deh kaya hubungan aja” gurauku

“Emang si mba hubungannya diseriusin?” Ujar tukang air itu membuatku berhenti tertawa.

Kampret! Tukang air itu pergi berlalu melaluiku. Ahh leganya dahaga ini, air putih ini enak apalagi jika diminum lewat mulut, nikmat sekali(?)

“Hay.. boleh duduk sini kan?”

Aku menoleh ke sumber suara. Seorang pria duduk disampingku. Dia menatapku tersenyum. Kenapa nih dia

“Gak ada larangannya kan?”

Dia terkekeh,

“Lucu juga kamu sih.. Andrian” ujarnya mengulurkan tangannya ke arahku. Well, kenalan aja kan

“Julia..” ujarku menyalaminya

“Waw, nama yang bagus seperti aktris aktris wanita yang berperan antagonis..”

Aku hanya tersenyum sedikit sesekali meneguk minumanku. Aku tidak berniat meladeni orang disebelahku.

“Kalo dilihat dari wajah kamu, kayanya kamu bukan orang sini ya?” Tanyanya aku menoleh padanya

“Bukan, aku orang sana kan tinggalnya disana bukan disini”

Dia tertawa mendengar jawabanku. Kenapa? Aku tidak sedang melawak kan

“Kamu lucu deh, seneng bisa kenalan sama kamu.. maksudku kamu bukan berasal dari kota ini. Biar aku tebak hnm..” ku lirik dia disebelahku. Ugh arfi kemana sih

“Sukabumi? Ah bukan.. bogor.. gak cocok deh, lebih ke garut..”

Aku semakin males meladeninya. Cukup saja arfi yang random jangan ditambah dia lagi. Atau orang sini semuanya random ya

“Bandung!!” Teriaknya membuat orang disekitar kami menoleh pada kami

“Aku bener kan?” Ujarnya kembali. Aku mengangguk pelan dan meneguk minumanku

“Bener kan? Hehe kamu punya wajah yang lucu, putih, halus dan.. cantik”

“Terima kasih..” sungguh aku ingin melangkahkan kakiku dari sini.

Atau aku tendang saja ya orang ini. Aku bunuh dan kutusukkan berkali kali perutnya menggunakan pisau. Stop!! Ini bukan cerita disebelah, aku berbeda peran dengannya.

“Kamu kenapa gak pergi olahraga, aku lihat kamu belun berkeringat” ucapku

“Wah, kita baru kenalan sebentar tapi kamu udah memperhatikan aku sedetail itu”

Baik, habis sudah kesabaranku. Aku beranjak pergi tapi tangannya menahanku.

“Boleh minta nomermu?” Ucapnya yang masih menahan tanganku.

“Supaya kita bisa ketemu lain waktu” sambungnya

“Aku gak bawa hape dan aku gak hafal nomerku”

Dia terlihat mengambil secarik kertas dan pulpen yang entah dari mana dia dapatkan. Atau dia pesulap ya

“Ini nomerku.. kamu bisa hubungi aku kapanpun” dia memberikanku secarik kertas itu

“Yakin banget aku hubungin kamu?”

“Aku gak akan lepasin kalo kamu gk hubungin aku sekarang”

Loh? Kok dia maksa sih

“Hape kamu dikantong celana tuh jeplak kelihatan jelas”

Damn! Aku lupa celana training yang kupakai ini sedikit ketat dibagian pinggang dan paha. Melihat keadaan disini sudah sepi dia bisa melakukan apapun padaku. Lebih baik aku mengalah. Aku merogoh sakuku mengeluarkan hapeku dan mengetikkan nomornya dihape. Saat akan menekan tombol hijau tiba tiba saja hape ditarik…

“Gak perlu..” suara khas ini. Suara arfi

“Hey bung, dia incaranku.. carilah yang lain”

Arfi mendekat pada si pria yang bernama andrian ini. Dia menatap lekat matanya. Lama lama mereka ciuman nih deket banget natapnya.

“Lepaskan dia…”

Andrian masih enggan melepaskan tanganku

“sekali lagi gue bilang.. lepasin tangan lo dari istri gue!!”

Bugh

Aku terkejut, arfi memukul si andrian ini membuatnya terjatuh. Pukulannya cukup keras ku rasa hingga si andrian ini sulit berdiri kembali.

“Anggep itu hukuman buat lo karena udah ganggu punya orang. Ingat itu keparat!!”

“Arfii!!”

Aku tidak suka dia berkata kasar seperti itu. Ini bukan arfi yang kukenal. Ya memang dia random dan cuek. Tapi baru saja aku lihat sisi lain dari arfi, yaitu kasar. Arfi menatapku seolah bertanya ada apa. Aku segera menarik tangannya menjauh dari sana

Saat sudah dimobil aku menghembuskan nafasku kasar. Arfi melajukan mobilnya dengan kencang. Yah, the kagak sans bawa mobil nih orang. Aku memperhatikan wajah sampingnya yang masih terlihat masih kesal.

“Arfi kamu–”

“Diam!!” Bentaknya.

Aku kembali bungkam. Aku yang belum pernah dibentak secara kasar oleh arfi hanya diam. Dadaku sedikit sesak, aku palingkan wajahku ke jendela. Mataku menghangat sepertinya cairan bening akan keluar.

Sekuat tenaga aku menahannya tapi sesak didadaku tidak bisa lagi kutahan. Aku menangis. Rasa kecewa dan takut menghantuiku, inikah arfi yang sesungguhnya

Mobil masuk ke parkiran, arfi terus menarik tanganku sepanjang perjalanan.

“Arfii.. sakit.. tangankuu”

Dia tidak menghiraukanku, tanganku merah digenggamannya. Dia terus menarik tanganku kasar sampai ke apartementnya. Lalu dia melemparku ke sofa membuat punggungku bertabrakan kasar dengan sandaran sofa. Lalu dia berjalan ke meja, meremas kepalanya secara kasar. Dia ini kenapa?

Aku masih menangis dalam diam memegang pergelangan tanganku yang merah. Aku berjalan ke arahku namun sedikit berbeda tatapannya kini melemah. Dia berlutut didepanku dan menjatuhkan kepalanya dilututku

“Maaf.. aku minta maaf.. aku sangat menyesal.. aku mohon maafin aku” ujarnya.

Tangisku terhenti, arfi meminta maaf? Lagi, aku melihat sisi lain dari arfi yang belum pernah aku lihat. Dia mengangkat kepalanya menatapku

“Kamu mau maafin aku?”

Aku masih diam. Kini dia beralih duduk disampingku. Meraih pergelangan tanganku.

“Ini karena aku ya, aku minta maaf.. tadi itu aku kebawa emosi, aku cuma gak suka kamu dekat dengan orang lain maupun didekatin orang lain.. aku cuma, cuma…” ucapan arfi menggantung beralih menatapku

“Tapi udah gpp kan? Masih sakit? Tunggu bentar ya”

Arfi meraih ponselnya dan menghubungi seseorang.

“Hallo.. shinta, lo masih bertugas gak?”

“…”

“Gue kesana sekarang..”

“Ayo aku bawa kamu ke rumah sakit biar gak memar” aku menggeleng kuat. Dia menatapku

“aku gpp arfi, ini cuma merah aja bentar lagi hilang kok, kamu gak usah khawatir”

“Nggak nggak julia, aku perlu memastikan kalo kamu baik baik aja. Aku cuma gak mau–”

Aku memotong ucapannya dengan meletakkan jariku dimulutnya.

“Aku gpp, aku cuma syok aja lihat kamu yang kasar, aku memang belum pernah melihat kamu kasar seperti tadi” ucapku

Arfi menundukkan kepala. Dia menggenggam kedua tanganku. Selanjutnya dia bersandar pada sofa dengan satu tangannya masih menggenggam tanganku.

“Aku mau ganti baju dulu ya”

Arfi mengangguk aku pun beranjak ke kamarku. Mengganti pakaianku dengan pakaian biasa. Saat hendak keluar aku mendengar sesuatu. Arfi masih duduk bersandar disofa. Dia meracau gak jelas. Aku berusaha mendekat perlahan tanpa suara

“Bang*at!! Laki laki bego gue!! Fu*klah!!”

Dia kenapa sih ngomong sendiri gitu. Aku masih diam ditempat. Posisi sofa itu membelakangiku

“Tanggungjawab apa? Lindungin apaan gue? Boro boro dari lindungin dia dari orang lain lindungin dari diri gue sendiri aja gue gak mampu. Shit!!”

Bisa kulihat dia meremas wajahnya kasar. Dia kenapa sih? Arfi masih duduk disana dan aku masih belum bergerak dari posisiku

“Nggak.. apapun yang terjadi gue harus lindungin dia dari siapa pun termasuk diri gue. Anji*g!!”

Aku ingin menghentikannya yang terus berbicara kasar tapi entah kenapa kakiku enggan melangkah

“Gue orang emosian susah neken emosi gini! Apa yang harus gue lakukan gue baru aja bikin dia nangis. Arfi begoooo!!!”

Dia kembali membanting tubuhnya ke sandaran sofa

“Andai lo tau gue cinta sama lo julia, gue sayang sama lo. Gue cuma cemburu tadi. Ah bangke! Kenapa gue pengecut gini sih!! Nggak! Gue harus buktiin dulu sama dia kalo gue bisa lindungin dia baru gue ungkapin perasaan gue semuanya”

Aku terdiam mendengarnya, ini arfi kan? Dia berkata begitu sadar atau nggak ya? Atau aku salah denger? Arfi mencintaiku? Tunggu, aku lihat arfi beranjak dari sofa menuju pintu keluar. Segera ku berjalan cepat ke arahnya

“Arfi, mau kemana?”

Arfi menoleh padaku.

“Aku mau keluar sebentar cari angin. Kamu udah gpp kan?”

Yah ditinggal, ada perasaan tidak rela. Aku mengangguk saja. Arfi segera keluar dan menguncinya dari luar. Huh payah

Perutku lapar lebih baik aku masak mengobati perutku yang keroncongan ini

Bersambung