Tentang Kita Part 48

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 48 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 47

Pagi ini Rose sedang duduk diruang makan. Ia duduk sendirian setelah membantu Bi Imas untuk menyiapkan sarapan. Pandangannya di edarkan keseluruh sudut ruang makan.

“Hey, sendirian.. yang lain kemana?”

Rose menoleh mendapati Savira tengah duduk dibangku didepannya

“Belum bangun kayanya sih”

Savira mengangguk “artinya hanya kita berdua aja nih yang udah idup. Kuylah makan”

Savira menyedok nasi lalu mengambil beberapa lauk yang tersedia disana

“Kamu gak makan?”

Rose tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Ia melakukan seperti apa yang Savira lakukan. Mereka makan bersama dimeja makan. Beberapa kali mereka terlibat obrolan yang cukup berat. Tentang Savira yang menanyakan kepergian Rose beberapa lama itu. Rose hanya menjawab seadanya karena ia tidak ingin membahasnya lagi, Savira yang mengerti itu mengalihkan pembicaraan

“Kalian udah makan duluan, kok gak bangunin sih?”

Mereka berdua menoleh melihat Julia duduk dikursi paling besar

“Mau bangunin sih, tapi orangnya udah bangun eh malah lagi olahraga lagi”

Julia yang mengerti hanya menatap malas Savira. Ia mengambil piring dan lauk untuk makan. Rose yang mendengar itu hanya terkekeh geli. Apa yang dialami Savira sama seperti yang dialami Rose saat ia hendak mengetuk pintu kamar kakaknya tersebut ia mendengar suara kegiatan mereka didalam dan berakhir Rose yang mengurungkan niatnya untuk membangunkan kakaknya

*

Julia PoV

Aku sedang berbelanja bulanan disebuah supermarket. Sepertinya belanjaan bulananku akan menambah karena kehadiran Rose dirumah juga Ferdi yang juga tinggal dirumah. Oh ya, beberapa bulan sudah berlalu setelah Rose dan Arfi kembali bertemu. Banyak yang terjadi sebenarnya mulai dari Rose yang sudah wisuda, dan kabar terbesarnya adalah pernikahan mereka. Ya, Rose dan Ferdi telah menikah. Ferdi melamar Rose tepat dihari wisuda mereka. Namun sayang, Papah Bram dan Mamah Carrisha tidak hadir.

Aku pribadi merasa sedih dengan perceraian kedua orang tua Arfi. Setelah itu Papah Bram pergi keluar negri entah kemana. Aku tidak mau menanyakan hal itu pada Arfi. Membahas keluarganya adalah hal Tabu kini bagi Arfi

“Kamu belanja lama banget deh”

Aku menoleh melihat… astaga itu dikepalanya ada apaan sih. Anak ini aneh aneh deh

“Bentar lagi, kepala kamu itu pake apaan?”

“Oh ini, bagus gak?”

Bagus matamu soak! Bagus apanya Arfi melilit handuk baru dikepalanya dan menjadi pusat perhatian orang sekitar. Bikin malu ih

Setelah berbelanja kami langsung pulang. Aku agak sedikit risau jika harus lama lama jauh dari anakku. Oh ya btw Elaine kini sudah bisa merangkak dan mengucapkan beberapa kata saja seperti Papah, mamam yang maksudnya mamah selebihnya ia masih bweh bweh bweh dan bahasa bayi lainnya yang tidak aku mengerti

Sampai dirumah aku masuk ke dalam. Belanjaanku? Hmm dibawakan oleh anak buah Arfi langsung ke dalam. Aus sekali rupanya, minum air es enak nih sepertinya

Setelah menyegarkan dahagaku, Aku berjalan keruang tamu. Eh tunggu, kaya ada suara gak asing nih

“Bener banget, Julia kalau udah sampai puncaknya malah nyakar punggung gue beh perih cok!”

Hmm ini suara Arfi

“Hahaha sama Geng! Okta kalo mau muncrat bibir gue digigit abis! Anjir sariawan terus gue kaya anak kos yang makannya mie mulu”

“Nih ya kalau Gracia abis muncrat malah ngeremes pantat gue kalo dia lagi dibawah bangsat! Bool gue perih cok!”

Oke ini obrolan udah gak sehat banget

“Ehem..”

Aku muncul dari balik tembok menatap mereka. Mereka yang kutatap berpura pura mengalihkan pembicaraan setelahnya mereka melirikku. Aku tau itu terlebih Arfi, gerak matanya tidak bisa lepas dari pandanganku

“Kalo saham 2.5% itu sih kayanya menguntungkan juga ya”

“Gue sih niat invest pribadi aja”

“Gue gak ah, udah kaya males juga”

Aku melangkah pergi meninggalkan ketiga makhluk aneh. Btw sejak kapan dua makhluk aneh lainnya ada dirumahku. Ugh! Rumah ini terlalu besar sampai orang lain datang pun aku tidak menyadari kehadirannya

“Jul, sini deh..” aku menoleh begitu ingin menaiki tangga

“Kenapa Vir?”

Savira terlihat menatapku ragu ragu. Ada apa dengannya?

“Gue boleh minta tolong gak?”

“Tolong apa?”

“Gue ngidam mangga nih”

Aku tersenyum. Biasa hamil muda pasti ngidamnya yang asam asam

“Ya beli aja gak ada uangnya?”

“Ada, tapi eum…”

Alisku menaut

“Tapi apa?”

“Gue maunya Arfi yang ngupasin mangga buat gue”

Seketika mataku membulat sempurna. Aku mundur beberapa langkah

“Nggak!! Enak aja lo!!”

“Jul.. please lah sekali aja, gue gak tau kenapa tapi gue mau banget”

“Nggak! Bodo amat!”

“Tar anak gue ileran Julia”

“Mau ileran kek laleran kek bukan urusan gue! Enak aja lo suami gue disuruh suruh!”

Aku melangkah menuju ke ruang tengah dimana ketiga makhluk ajaib tadi. Jika begini aku harus berada di dekat dekat Arfi atau Savira akan bertindak nekat

“Jul.. ayolah, Fahrie juga ngizinin kok”

Aku masih diam mempercepat langkahku. Aku memang bersahabat dengan Savira tapi soal Arfi, aku tidak akan membaginya pada siapapun!

“Hay, gue denger Agus disini”

Langkahku terhenti begitu Gracia berdiri didepan pintu

“Iya disitu tuh orangnya”

Gracia tersenyum lalu melangkah mendekat ke arah Agus. Kutoleh juga ke sebelahku yang tiba tiba terdiam mematung

“Gue gak jadi sama Arfi deh, sama dia aja” ucap Savira

“Gracia?”

“Suaminya”

Aku mengusap wajahku kasar. Kurasa anak Savira akan ileran beneran karena Gracia tidak akan mau menuruti keinginan Savira dan meminjamkan suaminya walau sekedar untuk mengupas mangga

*

“Aaa…”

Savira duduk bersandar ditempat tidur sambil mengunyah mangga dimulutnya.

Dugaanku bahwa anak Savira akan lahir secara ileran terpatahkan. Ia mendapat apa yang ia mau. Dasar wanita aneh!

“Gracia, makasih ya udah minjemin Agus buat nyuapin gue”

Gracia tersenyum “iya gpp kok gue juga maklumin aja. Kalo lo mau suruh suruh suami gue juga gpp”

“Sayaaaaang~~”

Aku meringis melihat wajah memelas Agus. Gracia memang istri yang kejam padahal kupikir Gracia berubah menjadi kalem. Wajahnya berubah jadi kalem dan murah senyum tapi sifat kejamnya tidak hilang begitu saja

Savira menatapku dengan tatapan yang sulit diartikan ku balas tatapannya

“Gak kaya Julia pelit cuma minjem suaminya buat suapin aja gak boleh”

Say what?!!

“Bodo amat!!”

Aku menarik tangan Arfi kasar keluar dari kamar Savira. Dasar bodoh! Fahrie pernah mengatakan padaku saat Savira mengandung Theo dulu sifat nyebelinnya meningkat 100% . Saat Fahrie bercerita kuanggap itu adalah lelucon tapi sekarang aku mempercayainya

“Bweehhh bweehh mamam”

“Mamah sayang, bukan mamam” aku terkekeh begitu Elaine belajar menyebut Mamah

Ah lebih baik aku dikamar bermain bersama anak tercintaku membiarkannya tengkurep diatas tubuhku yang terbaring

Klek

“Kamu aku cariin dibawah malah disini”

Itu Arfi, ya tadi aku meninggalkannya begitu saja

“Lagi ngapain?” Tanyanya lagi

“Kamu lihat lagi ngapain?”

“Galak banget sih”

Kurasakan geli diarea dadaku. Ku toleh ke bawah lalu terkekeh kecil. Rupanya Elaine mencari sumber makanannya

“Laper ya, sini sini”

Aku berdiri lalu membuka bajuku dengan satu tangan. Menurunkan satu Bra penutup payudaraku tanpa menunggu lama Elaine menghisap putingku. Ugh, sedikit ngilu ia menghisapnya sangat kuat

Kulihat Arfi mengunci pintu kamar lalu kembali duduk disampingku

“Emang harus buka baju ya kalo mau nyusuin?” Tanyanya dengan tatapan polosnya

“Bajunya kekecilan kalo aku naikin, jadi aku lepas aja, kenapa? Kamu mau juga?”

Arfi tersenyum. Ekspresi polos wajahnya berubah menjadi tatapan mesum ke arahku

“Boleh.. aku sebelahnya ya?”

Aku terkekeh geli

“Buka aja nih pengaitnya”

Tanpa lama Arfi membuka pengait Braku. Ah lega sekali rasanya

“Sini dong, katanya mau nyusu juga”

Arfi tertawa kecil lalu bersimpuh dibawahku dengan kedua lututnya. Tanpa lama ia ikut menghisap payudaraku

Aku tertawa tawa kecil menahan geli. Oh ya ampun apa yang kulakukan. Ini terlihat konyol sekali

Arfi melepas hisapannya lalu mengecap ngecap mulutnya

“Kenapa?”

“Susunya keluar ketelen sama aku, rasanya aneh banget”

Aku tertawa melihat ekspresi wajah aneh Arfi

“Gak mau lagi nih?”

Tanpa menjawab Arfi hanya mengangguk lalu kembali ke posisi sebelumnya dan menghisap payudaraku.
Dasar gairah muda

“Sayang, pindah ke kiri, aku mau pindahin El ke kanan”

Arfi menurut ia melepas hisapannya lalu pindah ke kiri

Gemas sekali, coba lihat aku memiliki kedua bayi. Bayi besar dan bayi normal. Ku raih ponselku lalu memfoto mereka dengan satu tanganku. Aku terkekeh kecil melihat melihat hasil fotonya

“Ehem…”

Aku berdehem begitu kurasakan sentuhan halus dipangkal pahaku

“Nakal ih”

Arfi tidak menggubris ucapanku. Mulutnya masih sibuk menghisap hisap benda kecil dibagian payudaraku

Ku elus rambutnya lalu mencium puncak kepalanya. Menyandarkan kepalaku diatas kepalanya

“Isep yang kenceng sayang, enak”

Benar saja, kurasakan Arfi menghisap kuat kuat payudaraku membuat kepalaku pusing

“Sshh….aahhh…”

“Abis Elaine selesai, lanjut ya sayang” ucapku. Arfi hanya menganggukkan kepalanya dengan mulut masih berada didadaku

*

Aku menuruni tangga karena mendengar suara sedikit gaduh dibawah. Padahal sekarang jam menunjukkan pukul 10 malam

Sampai dibawah aku tidak melihat ada siapapun disini. Ah mungkin semua orang sudah pada tidur. Langkahku keluar menuju pintu

“Dik, tadi kamu lihat orang masuk kesini?” Tanyaku pada Didik dan dua anak buahnya

“Nggak Nya, ada yang mengganggu?”

Aku menggelengkan kepala lalu berpamit masuk ke dalam lagi. Aneh, beberapa menit sebelum aku turun itu aku mendengar suara seperti orang sedang berbicara dengan nada keras

“Non..”

“Astagah!! Bibi bikin kaget ih!” Aku yang terkejut langsung memutar tubuhku

“Maaf Non, Non nyari apa? Kok kaya orang bingung gitu”

Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal

“Bi, denger orang berdebat gak tadi?”

Si bibi malah tertawa

“Bukan orang berdebat Non, bibi tadi nemenin Non Savira nonton drama korea”

Menyesal aku rasanya turun ke bawah begini tau gitu tidur aja langsung kan

“Oh ya Bi, tolong bikinin kopi ya untuk Dikdik dan kawan kawannya semua”

“Siap Non”

Si bibi berlalu ke dapur. Entah dari mana asalnya tiba tiba Savira muncul dari ruang tivi

“Ngapain lo disini?”

Makhluk ini lama lama kok songong ya

“Ini rumah gue! Kok lo jadi songong sih”

Savira melipat kedua tangannya didepan dada

“Lo bilang rumah ini milik gue juga. Jadi gue punya hak dong untuk rumah ini jika suatu saat lo dan keluarga lo gue suruh angkat kaki dari sini”

Aku menatap malas ke arah Savira. Ucapannya tidak terdengar ancaman sama sekali bagiku. Bahkan ekspresi wajahnya pun tidak mendukung untuk menjadikannya pemeran antagonis. Iya, pemeran antagonis, lihat nih…

“Vir, lo gak cocok jadi pemeran antagonis tampang lo muka sedih”

Seketika Savira menghempaskan kedua tangannya dengan wajah memelasnya

“Ah lo mah Jul, sesekali kenapa sih muji akting gue”

Bener kan, sengklek dia emang. Fyi nih, sejak aku dulu bekerja di club malam sering kali aku melihat Savira itu sok drama dan berakting ala pemeran antagonis. Aktingnya cukup bagus namun sayang tampangnya kurang mendukung untuk memerankan tokoh antagonis. Mukanya yang kalem membuatnya sulit mendapat ekspresi jahat

“Tidur sono Vir, udah malem. Biasanya di RS jam segini udah tidur”

Savira hanya mendelik ke arahku

“Emang gue mantan penghuni RSJ! sialan lo ah”

Melihat wajah kesal Savira aku malah terkekeh.

Selangkah Savira melewatiku ia berbalik menatapku. Aku yang ditatap seperti itu membalas tatapannya

“Kenapa?”

“Lo abis main ya sama Arfi?”

Aku mengerjapkan mataku berkali kali. Padahal saat melakukan ‘kegiatan’ aku tidak mengeluarkan suara yang keras. Dan memang sengaja kutahan agar tidak terdengar sampai luar

“Kenapa emang?” Tanyaku

“Leher lo merah tuh, terus bagian bawah leher lo juga banyak merah merahnya” ucap Savira cuek lalu melewatiku begitu saja dan masuk ke kamarnya

Secepat kilat aku berlari keatas menuju kamarku dan melihat tubuhku dibalik cermin

Oh astaga! Kenapa aku tidak menyadarinya. Kaos yang ku kenakan kerahnya memang sedikit turun.
Ku lepas pakaianku, semakin membulat mataku begitu melihat banyak tanda cinta disana. Ya ampun, kenapa aku tidak sadar Arfi membuat sebanyak ini

Ku balik tubuhku lalu berjalan kekasur tanpa kembali mengenakan kaosku

“Ow.. ehmm.. kenapa sayang?” Suara serak Arfi khas bangun tidur. Ia terbaring dengan selimut menutupi tubuhnya. Aku yakin ia belum mengenakam sehelai benang pun dibadannya

“Kamu bikin kissmark ini banyak sekali”

“Ow.. maaf, besok juga hilang kok”

Aku menghela nafasku. Terpaksa besok aku harus mengenakan kemeja semi kaos untuk menutupi tanda kemerahan ini

Kupakai kembali kaosku dan ikut terbaring disamping Arfi. Kupandagi wajah sampingnya yang sudah tertidur pulas. Wajah tidurnya begitu damai

Cup

Aku tidak tahan jika tidak mengecup bibirnya sebelum kutidur. Ya anggap saja penghantar tidurku. Mengecup bibir Arfi menjadi rutinitasku entahlah apa sebutan yang cocok untuk itu tapi jika Arfi lembur dikantornya, sengantuk apapun aku akan terbangun juga jika belum mengecup bibirnya sebelum tidur

Berlebihan memang, tapi itu yang kurasakan.

Aku meletakkan kepalaku diatas dada Arfi. Bisa kudengar detak jantungnya yang berdetak teratur. Seperti musik Nina bobo untukku.
Mataku mulai berat. Tak butuh waktu berapa lama aku menyusul Arfi ke alam mimpi

***

Aku duduk disofa ruang tengah. Menikmati secangkir teh hangat memang sangat pas menemani sore hariku. Rumah ini jadi sepi sejak Savira dan keluarganya pindah beberapa tahun lalu.

Ya benar, Savira sudah memiliki rumah baru meski masih didekat sini juga. Tapi aku perlu acungi jempol untuk usaha Fahrie. Dalam beberapa tahun ia mampu mengumpulkan pundi uang yang lumayan banyak nominalnya

Fahrie memang membeli rumah didekat sini melalui sistem kredit. Kini honor Fahrie lebih dari cukup untuk membayar kredit rumah mereka serta biaya lainnya. Ditambah Theo kini sudah berkuliah diuniversitas cukup ternama. Kehidupan Savira benar benar berubah dan aku cukup senang dengan itu

Bagaimana denganku?

    

Aku masih sama, kehidupanku seperti ini saja. Bersama suamiku Arfi yang usianya dibawahku 3 tahun. Meski begitu wajahku tetap awet muda kok. Tentu saja biaya perawatan wajahku tidak murah. Serta biaya perawatan tubuhku. Ah itu keinginan Arfi, agar aku tetap terlihat seksi dan montok ia tidak keberatan mengeluarkan kocek yang tidak sedikit.

Biaya perawatan tubuh yang kumaksud bukan operasi plastik, suntik lemak dan lain lainnya. Aku tidak suka hal semacam itu. Tetapi aku memilih olahraga, gym dan kegiatan semacam itu. Terlebih aku tidak sendiri melakukannya. Bersama Savira dan Rose juga

Ngomong ngomong soal Rose, kini ia sudah berstatus istri. Ya, ia menikah dengan Ferdi, adik dari Iwan dan memiliki seorang anak perempuan bernama Filwah

Diusia ku yang tidak lagi muda seperti ini, kegiatanku hanya duduk, menonton tivi dan menunggu Arfi pulang. Semua pekerjaan rumah sudah ada yang mengerjakan. Bukan aku pemalas, sikap Arfi-lah yang terlalu posesif padaku

Aku benar benar diperlakukan seperti ratu baginya. Apapun keinginanku dipenuhi olehnya. Ia benar benar suami idaman

Arfi mengatakan padaku bahwa aku-lah orang yang melengkapkan kebahagiaannya. Apalagi saat aku melahirkan anak kedua kami.

Yups, kini Elaine memiliki adik laki laki yang kami beri nama Julio. Julio sendiri sudah menempuh sekolah menengah pertamanya. Tepatnya kelas tiga tahun ini ia akan lulus dan melanjutkan ke sekolah menengah atas

Bisa ditebak kan berapa usiaku kini? Usiaku kini sudah berkepala empat. Sudah cukup tua juga ya hmm

“Permisi…”

Aku menoleh ke arah sumber suara

“Oh Theo, ada apa?”

Theo melangkah masuk lalu mencium tanganku

“Maaf ganggu tante, aku ada janji sama Elaine. Kami mau menyelesaikan tugas bersama”

Aku menganggukkan kepala. Suara derap langkah terdengar begitu cepat

“Mam, El mau pergi sama Theo dulu ya, pamitin sama papah”

Tanpa ucapan apapun lagi Elaine menarik tangan Theo keluar. Ya ampun anak itu kok agresif sekali ya. Orang tuanya gak ada yang seagresif dia deh, keturunan siapa sih

Brukk

Aku menoleh ke belakang melihat Julio yang melempar tasnya lalu duduk dilantai

“Kamu kenapa dek?”

“Lio capek mah”

Aku berdiri menghampiri Julio

“Ya udah kamu mandi dulu, nanti mamah masakin makanan kesukaan kamu biar capenya hilang”

Julio menatapku serius

“Mamah kira Julio cape karena full day school ya?”

Lah bukannya emang iya ya

“Memang iya kan?”

“Bukan Mam….” Julia bangkit berdiri

“Julio tuh cape Mam berjuang, tapi perjuangan Lio gak dihargain”

Ini anak kesambet apaan sih

“Maksud kamu apa sih mamah gak ngerti” ujarku yang sudah kembali duduk disofa

“Julio udah berjuang hampir 6 bulan lamanya Mam, eh disia siain gitu aja. Dia malah milih jadian sama cowok bermotor butut itu!”

Oh jadi dia menceritakan perjuangan cintanya. Maksudku kenapa ini terjadi, Julio masih berusia belasan tahun dan sikapnya sok dramatisir seperti ini

“Julio capek mah, Julio kangen masa kecil yang gak kenal cinta”

Bodo amat! Anak gendeng!

Harusnya tadi kubiarkan saja dia duduk dilantai seperti orang gembel gitu. Heran ih anak gue gak ada yang beres gini kenapa sih

“Mam, mau kemana?” Tanganku ditahan Julio saat akan melangkah menuju ke kamarku

“Ke kamar”

“Katanya Mamah mau masakin Julio masakan kesukaan Lio”

“Melihat kamu kaya tadi mending mamah kasih kamu racun aja itu lebih cocok sama orang yang lebay kaya kamu”

Julio memanyunkan bibirnya. Sebenarnya lucu melihat Julio ngambek seperti ini. Wajahnya seperti wajah Arfi kecil

“Nanti kalau aku mati gimana?”

“Biarin aja” jawabku seolah acuh

“Mentang mentang bisa bikin lagi sama papah”

Aku membulatkan mataku menatap Julio. Yang ditatap hanya memberikan cengiran bodohnya. Ia mengambil tasnya

“Ngomong sembarangan ya kamu!”

“Hehehe bukannya mamah sama papah emang setiap hari ya buat adik untuk aku?” Ujar Julio dengan wajah tengilnya sambil menaik turunkan alisnya

“JULIO!!”

“Ampun mam!”

Julio lari menaiki tangga menuju kamarnya. Oke dia memang anak Arfi. Masih sekolah menengah pertama saja pikirannya sudah semesum itu sama seperti papahnya

*

Malam ini kami makan malam bersama dimeja besar. Aku jadi ingat saat makan malam pertamaku dengan Arfi. Sepi dan sangat romantis sekali. Arfi selalu menatapku dengan senyum manisnya.
Berbeda dengan sekarang, meja makanku seperti pertempuran perang dunia! Sifat Julio yang jail membuat semuanya heboh. Ia selalu usil terhadap kakaknya Elaine

“Lio! Itu punya kakak!”

“Kakak! Ngalah sama adik!”

Kan mereka mulai lagi. Julio dan Elaine memperebutkan ayam goreng paha diatas meja. Padahal ayam gorengnya banyak tetapi mereka memilih memperebutkan satu ayam saja

“Elaine, ambil lagi aja itu diatas meja ada banyak kok”

“Gak mau mam! Julio harus belajar menghargai kakaknya!”

“Julio, kamu ambil lagi itu ayam ya banyak juga gpp ambil aja semua”

“Gak mau mam! Kakak gak pernah ngalah sama Lio”

Aku menyandakan tubuhku melihat kedua anakku masih berdebat memperebutkan ayam sedangkan Arfi asik saja melahap makanannya

“Arfi!”

Seketika ia meletakkan alat makannya diatas meja

Brakk

Hening

“Kalau kalian masih ribut kalian lebih baik makan diluar!!” Bentak Arfi diakhir kalimat

Julio dan Elaine menggelengkan kepalanya cepat. Dan semua kembali makan dalam diam.
Aku hanya tersenyum melihat kedua anakku yang memasang wajah masamnya

*

Begitulah kehidupanku sekarang. Aku cukup bahagia meski Elaine dan Julio sulit akur tetapi mereka saling menyayangi dan melindungi. Belum lama ini Julio pulang dalam keadaan seperti habis dipukuli dan benar saja Elaine menjadi korban kejahatan preman. Saat itu Julio yang melindungi Elaine berkelahi dengan dua orang preman

Arfi mengetahui hal ini dan kalian bisa tau apa yang akan terjadi selanjutnya kan… kalian ingat anak buah Arfi bekerja seperti apa kan?

Satu hal yang dibisa dihilangkan adalah sifat Arfi jika sudah berkumpul dengan teman temannya. Berisik, gaduh, berantakan disana dan disini. Aku tidak mempermasalahkannya karena ada beberapa orang asisten rumah tangga dirumahku

Hanya saja suara berisiknya bisa menghancurkan gendang telingaku

“Jul, laki lo jadi lasak ya” ujar Savira

“Iya, makanya gue ngungsi ke atas sini”

Aku, Savira, Gracia, Okta dan Rose duduk dikursi balkon rumahku. Meninggalkan para suami laknat dibawah dengan keberisikan mereka

“Rose sekarang udah jalan berapa bulan?” Tanyaku yang melihat perut Rose membesar

“Masuk 5 bulan Kak”

Aku menganggukkan kepalaku

“Wih jadi dua anaknya sekarang ya, sama kaya gue” ujar Savira. Ya Savira kini memiliki dua anak dan dua duanya adalah laki laki

“Tiga kak”

Kami semua menoleh ke arah Rose

“Maksud kamu?” Tanya Okta

“Diperut aku ini hidup dua janin” ucap Rose sambil mengelus perutnya

“Gila! Tokcer banget laki lo! Jarang ada loh kembar gini gimana cara bikinnya?”

Gak usah ditanya lagi siapa yang mengatakan hal itu

“Tinggal goyang maju mundur aja sih susah amat lo”

“Yeee laki gue juga begitu tapi gue hamil satu kagak kembar”

“Mainnya jangan sekali keluar udahan, 4 jam nonstop”

“Itu mah namanya gue bunuh laki gue”

Kami semua tertawa mendengar obrolan absurd antara Gracia dan Savira. Mereka memang cocok dan juga tidak banyak berubah

Oh ya kehidupan Gracia kini lebih baik, ia memiliki dua orang anak perempuan yang hanya selisih satu tahun. Kini keduanya sedang menempuh pendidikan di luar negri

“Okta gimana?” Tanyaku

“Belum mulai program lagi kak”

“Jadi selama ini dianggurin gitu?”

“Vir!”

Savira hanya nyengir menunjukkan giginya yang putih itu

“Niatnya nanti setelah akhir tahun ini kita mulai program lagi deh. Kakak aku kasihan kecapean terus setiap pulang kerja aku gak tega mintanya”

Aku tersenyum. Okta juga banyak berubah tidak memiliki sifat kanak kanak seperti dulu

*

Dipagi hari seperti biasa aku menjadi orang pertama yang bangun dirumah ini lalu pergi mandi dan menyiapkan semua keperluan kantor Arfi. Setalah semuanya siap aku beralih menuju ke kamar kedua anakku

Pertama aku menuju kamar Elaine

“El bangun sayang.. ada kuliah pagi kan?”

“5 menit lagi mah”

“Theo dibawah udah nunggu..” setelah mengucapkan itu aku menjauh dari Elaine

Srreett

Benar saja, Elaine membuka selimutnya dan bangkit berdiri

“Waduh! Elaine telat mah”

Ia langsung berlari menuju kamar mandinya. Baiklah satu lagi deh,

“Julio, bangun sayang…”

“Nggak! Aku gak akan ninggalin kamu”

Gelo siah! Dibangunin malah ngigo

“Sayaang~ aku nunggu kamu dikamar mandi loh”

Seketika Julio bangun menyibak selimutnya.
“Mamah, ngapain dikamar Lio?”

“Bangunin kamu”

“Gak perlu Mam, Julio bisa bangun sendiri. Sekarang mamah awas Julio mau mandi”

Lah kurang ajar ini anak jadinya

Aku kembali ke kamarku melihat si biangnya anak anak masih terbaring nyaman dikasur

“Sayang bangun.. udah siang loh”

Arfi tidak bergerak sama sekali

Ku tempelkan bibirku dibibirnya. Setelah merasakan pergerakan bibirnya aku melepas ciumanku

“Kok udahan?”

“Mandi!”

“Cium lagi”

“Mandi!”

Arfi masih diam menatapku. Baiklah dia menantangku rupanya

“Mandi atau aku gak kasih kamu jatah sama sekali”

Seketika Arfi turun dari kasur lalu berlari ke kamar mandi

Begitulah kegiatanku disetiap paginya. Merepotkan memang tapi aku senang melakukannya. Karena aku adalah seorang ibu. Dan peranku sebagai ibu adalah mengabdi pada setan(?) Loh salah maksudku peranku sebagai ibu adalah menjaga hati keluargaku

Aku mencintai keluargaku. Disini tempat kebahagiaanku. Terkadang aku merasa kehilangan jika salah satunya tidak ada. Seperti Arfi yang sedang keluar kota dengan tujuan bisnisnya, atau Elaine yang pergi study tour dari kampusnya, atau juga Julio yang menginap dirumah temannya menyelesaikan tugas sekolahnya.

Tetapi saat mereka berkumpul rasanya aku ingin menelan mereka hidup hidup

*

Aku mengesap teh hangatku berdiri dibalkon kamarku menatap langit cerah siang ini. Aku bersyukur kehidupanku membaik, bahkan sangat membaik setelah menikah dengan Arfi. Kehidupanku yang dulu penuh dengan air mata kini penuh dengan kebahagiaan

Berkali kali aku selalu bersyukur pada Tuhan yang mengabulkan doa dari seorang wanita kotor sepertiku dulu. Aku hanya berharap bisa berhenti dari pekerjaan kotorku dan menjalani hidup normal. Tapi rencana Tuhan jauh lebih baik.

Oh ya, sedikit berita buruk Om Bram mertua sendiri telah tutup usia diumurnya yang ke 64 tahun. Semua harta perusahaannya diwariskan oleh Arfi. Serta anak pertama Rose. Ya, papah Bram mengakui Rose sebagai anak kandungnya meski bukan adik kandung Arfi. Kalian mengertilah….

Dan mamah Carrisha, bagaimana ya aku menceritakannya. Terakhir kami bertemu sekitar 5 tahun lalu. Beliau mengatakan tinggal di belanda dan telah menjalankan bisnisnya disana. Hanya itu yang kutahu

Tehku sudah habis. Matahari semakin tinggi dan suhu menjadi panas. Lebih baik aku kembali ke dalam dan tidur siang.

Jadi, begitulah kisahku, Julia Anantha si gadis lugu yang dulu ingin bekerja dikota demi membangun perekonomian keluarga justru terjebak dalam sisi kehidupan gelap ibukota. Nasibku burukku mengalir begitu saja dalam setiap doaku. Aku sempat merasa minder setiap mengadahkan kedua tanganku namun yang kudengar Tuhan maha bijaksana. Inilah jawaban dari doanya

Pertemuanku dengan pria 3 tahun lebih muda dibandingkan denganku membawaku ke dalam kehidupannya. Meski begitu tidak jarang kami masih diterpa masalah yang cukup rumit. Namun, keyakinanku menguatkan keluargaku

Hanya ini harta yang kumiliki. Kalian tau, semua hanya titipan dari sang kuasa. Jadi, aku akan menjaga semua titipannya termasuk anak dan suami yang kucintai dan kusayangi

Jadi, kuharap kalian juga menjaga apa yang menjadi milik dan titipan oleh kalian sebelum kalian merasa kehilangan. Karena tanpa disadari sebenarnya hal yang berharga terkadang tidak kita sadari sampai kita merasa kehilangannya

Tamat