Tentang Kita Part 47

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 47 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 46

Arfi PoV

Gue menatap keluar jendela mobil gue yang melaju dijalanan jakarta yang sepi. Ya siapa yang mau melewati jalanan ibu kota sedini hari mungkin. Bukan gue menuju suatu tempat, tapi gue diperjalanan pulang kerumah. Sejak jam pulang kerja berakhir, gue gak langsung pulang.

Beberapa tempat perlu gue datangi, salah satunya adalah rumah besar milik bokap gue. Beliau ingin bertemu dengan gue membicarakan hal tentang perceraiannya. Nyokap gue entah kemana, bokap gue bilang sejak perdebatan beberapa waktu lalu, nyokap pergi entah kemana. Bokap gue gak mau menghalangi kepergian nyokap gue dengan beberapa alasan.

“Terima kasih pak, maaf jadi ngerepotin pak..” ujar gue

“Ah sama sama, gak usah sungkan sama saya pak”

Gue tersenyum lalu berjalan masuk ke dalam. Begitu sampai diruang tengah, gue melihat Julia tertidur di sofa. Air sirup dimeja pun hampir penuh, gue yakin es nya sudah mencair. Gue elus puncak kepala istri gue lalu mengecupnya. Ini udah jam 3 pagi, kebodohan lain yang gue temukan dalam diri gue adalah telat memberi kabar atau lebih buruk adalah gak sama sekali memberi kabar. Hape gue lowbat seharusnya sebelum mati gue ngasih tau ke Julia bahwa gue akan pulang telat supaya dia gak nungguin gue kaya gini

“Eengghh…”

Terusik dengan pergerakan tangan gue dikepalanya, Julia membuka matanya

“Arfi kamu udah pulang.. ini minum dulu aku udah…. yah, esnya mencair, sebentar aku buatin lagi ya”

Gue tahan tangan Julia yang akan beranjak dari duduknya

“Aku minum kok. Gpp ini seger”

Gue meminum minuman yang dibuatkan Julia entah berapa jam yang lalu. Rasanya hambar, seperti sirup kebanyakan air dan udah gak dingin lagi. Gue gak mau ngerepotin Julia lagi, cukup hari ini gue buat dia sampai tertidur disofa karena menunggu gue.
“Kamu dari mana?” Tanya Julia, gue menatap Julia cukup lama. Matanya yang sayu memperlihatkan ia masih sangat mengantuk.

“Tidur yuk” ujar gue

“Kamu dari mana Arfi, jawab dulu”

Julia menahan pergelangan tangan gue. Helaan nafas panjang keluar begitu aja

“Aku abis ketemu papah, kamu tau. Mereka akan bercerai dalam waktu dekat ini”

“Apa?! Kok bisa, bukannya mereka baik baik aja?”

Gue menoleh ke arah Julia

“Terkadang yang terlihat baik baik aja gak selalu sebaik yang terlihat. Aku gak tau persis apa masalahnya dan bagiku itu bukan urusanku. Mereka memiliki jalan masing masing. Kini tugasku hanya menjaga kamu dan anak kita serta melindungi adik aku”

Memang gue gak begitu perduli dengan orang tua gue. Kalau pun gue datang ke persidangan mereka, gue gak akan ngajak anak dan istri gue. Ngomong ngomong soal adik gue, siang ini gue mendapat kabar bahwa Rose dan Ferdi dibelanda berjualan puding, entahlah apa yang dipikirkan mereka berdua yang jelas menerima kabar bahwa adik gue baik baik aja adalah kabar yang selalu gue ingin dengar

Tatapan gue beralih ke Julia yang menggenggam pergelangan tangan gue dengan kedua tangannya

“Tangan aku kenapa dipegangin? Gak bakalan copot juga”

Julia mencekal tangan gue. Tatapan khawatirnya kini berganti memperlihatkan wajahnya yang ngambek dengan kedua pipinya digembungkan menatap ke arah lain

“Udah tua gak usah ngambek ngambek gak pantes juga”

“Apaan sih! Aku tuh khawatir sama kamu. Dimana mana tuh anak bakalan down mentalnya begitu mendengar orang tuanya bercerai”

“Dimana emang?”

“Arfiiii….!!”

Duh gustii~ istri gue kalo teriak gak inget waktu. Ini jam 3 pagi, malah teriak bukannya ibadah.

“Kamu kenapa sih? Hoby kok teriak teriak”

“Kamu nyebelin banget sih”

Gue melirik Julia dengan ekor mata gue. Alisnya yang cukup tebal itu manaut menatap gue kesal, kedua tangannya dilipat didepan dadanya. Gue makin gemes melihatnya

“Kamu gak usah khawatir. Itu kan masalah orang tua ku, kita gak usah ikut campur. Aku udah punya kehidupan baru, kamu dan Elaine adalah hidupku. Sumber kebahagiaanku” ucap gue menatap Julia

“Tapi kan….” gue tersenyum sambil menggenggam tangan Julia meyakinkan dia bahwa gue baik baik aja

“Selama ada kamu, Elaine dan kalian sehat semua, hal semacam itu gak masalah bagiku. Percaya deh” lagi gue meyakinkan Julia.

Wajar jika ia terlihat khawatir dengan gue mungkin baginya hubungan gue dan kedua orang tua gue yang baru membaik kini harus dihadapkan kenyataan yang pahit. Hey! Gue bukan anak usia 18 tahun yang akan goyah hanya karena perceraian seperti ini, lagi pula gue udah terbiasa tanpa mereka.

Yang lebih membenani gue adalah Rose, ya adik gue itu, apa dia tau jika orang tua, eh bukan, orang yang selama ini dianggap orang tuanya akan bercerai? Entahlah, jika dia belum tau gue sendiri yang akan memberitahukannya dan memeluknya nanti. Langkah yang bagus membiarkan Rose tetap dibelanda pikir gue.

*

Rose PoV

“Kamu yakin ini akan berhasil? Kalo gagal gimana?”

“Kalo gagal kita bangkrut”

Aku menatap malas pria didepanku. Enteng sekali dia bicara dan mudah sekali dia berucap bangkrut. Ya, selama dibelanda ku tinggalkan semua fasilitas ehem keluargaku termasuk dari Kak Arfi. Aku tidak membawa apapun kecuali pasporku.

“Kenapa ya, bodohnya kamu itu gak hilang hilang. Kita ini lagi serius loh” ucapku menatap pria yang kini sedang membereskan etalase.

Ya kami sedang merintis usaha dengan modal seadanya, aku menjual mobilku, apartementku disini ya karena aku sudah lulus hanya tinggal menunggu wisuda jadi kurasa tidak apa jika ku jual itu semua. Begitu juga Ferdi, ia menjual mobil, motor besarnya, dan rumahnya.

Tapi semua itu belum cukup untuk modal usaha kami. Jadilah usaha yang kami dirikan hanya usaha kecil yang merintis. Modal paling besar kami adalah nekat. Aku tidak punya basic berdagang begitu juga dengan Ferdi. Entahlah ini akan berhasil atau tidak

“Selesai! Aku ambil bahan adonan pudingnya dan kamu jaga ditoko ya” ujar Ferdi

“Kenapa kita gak ambil berdua?”

“Kamu kangen banget sama aku ya ditinggal sebentar aja gak rela”

Aku memutar bola mataku malas berjalan meninggalkan Ferdi mengambil jaketku. Cuaca sedang sangat dingin belakangan ini

Setelah mengambil bahan adonan untuk membuat puding dan beberapa jenis kopi. Aku dan Ferdi memutuskan untuk langsung kembali ke toko. Toko itu pun kami sewa, dan jika kalian tanya kami tinggal dimana, ya di toko ini. Kebetulan tokonya memiliki 2 lantai jadi lantai atas kami gunakan untuk istirahat. Tetapi kamarnya hanya satu, itu mengharuskan Ferdi tidur diluar. Ia tidak masalah dengan itu.

“Kita mulai masak besok pagi, aku rasa hari ini cukup melelahkan. Kita harus siapin tenaga untuk besok bukan?” Ujarku diangguki Ferdi

“Kamu mau makan apa malam ini?” Tanyanya. Sejak siang tadi memang aku belum makan apa apa. Ini sudah pukul 8 malam

“Aku masak aja, kita harus hemat kan?” Ucapku. Ferdi menghampiriku menggenggam tanganku

“Apa yang mau kita masak? Puding? Tau kopi? Kita hanya beli itu seharian ini”

Benar juga katanya, uang kami sudah habis untuk modal usaha sampai aku lupa menyisihkan sedikit untuk kami makan

“Udah kamu ganti baju, ikut aku aja. Aku ada tempat makan enak yang murah”

Aku menatap Ferdi meneliti

“Kamu punya uang dari mana? Bukannya kamu bilang tadi udah dipakai semua?”

“Nanyanya nanti aja. Ganti baju aja sana oke. Kali ini percaya sama aku”

Ucapan yang selalu kudengar darinya. Apa aku terlihat meragukannya? Lebih baik aku mengikuti kemauannya sejauh ini belum pernah terjadi hal hal diluar keinginanku jika bersama Ferdi

*

“Nah sampe.. duduk deh”

Ferdi menarik bangku mempersilahkan aku duduk. Aku melihat daftar menu disana. Hmm cukup terjangkau, tapi seterjangkau harganya jika tidak memiliki uang sama sekali juga akan terasa mahal

“Kamu udah nentuin mau pesen apa?” Tanya Ferdi yang duduk didepanku

“Aku ini aja deh” ucapku sambil menunjuk paketan makanan yang harganya paling murah”

Ferdi mengangguk lalu membawa buku menunya. Aku menoleh keluar jendela. Apa kabarnya kak Arfi disana, apa dia sudah mengetahui jika aku tidak ada dirumah atau bahkan di indonesia. Apa dia mencariku, atau dia mengkhawatirkanku? Ah mikir apa aku ini, jelas saja ia akan bersikap biasa saja memangnya aku ini siapa baginya.
“Kamu mikirin apa sih? Belakangan ini sering melamun terus”

Aku menarik pandanganku lurus ke depan

“Aku mikirin apa kita akan berhasil tanpa bantuan dari kakak kakak kita”

Ferdi mengembuskan nafasnya

“Aku denger cerita, maaf, dari abangku, mereka sebelum sesukses sekarang banyak rintangan yang mereka lalui, jatuh bangun biasa, kakak kamu kan partnernya abang aku. Kita gak akan tau kalo kita gak coba, semangat kita pasti bisa aku yakin banget”

Ya memang sebelum memulai sesuatu pasti akan sering jatuh bangun. Tapi ini adalah modal terakhir yang kami miliki. Jika gagal, ya ludes semua. Tapi aku tidak ingin terlihat pesimis didepan Ferdi. Ia selalu optimis dan membagi semangatnya padaku secara tidak langsung.

“Semoga aja kita terus berhasil dan harus berhasil. Minimal balik modal aja itu udah bagus menurutku”

“Kamu benar, jangan pesimis lagi. Sejak kamu memutuskan untuk meninggalkan semua yang kamu punya dan berdiri dikaki kamu sendiri gak ada yang bisa kamu lakukan selain usaha dan optimis”

Aku tersenyum sambil menganggukkan kepalamu. Pesanan kami datang. Kami pun menikmati hidangan bersama. Jujur saja ini memang makanan sederhana. Jika di indonesia ini bisa diartikan seperti nasi ayam dan kangkung ditambah minumnya es teh manis. Seperti itulah ibaratnya

*

Arfi PoV

Gue terbangun karena mendengar getaran hape gue di nakas deket tempat tidur gue. Gue melihat siapa yang menghubungi gue dini hari kaya gini

“Iwan…” gumam gue. Langsung aja gue angkat itu telepon sebelumnya gue turun dari kasur agar Julia tidak terganggu

“Ada apa Wan?”

“…”

“Hah?!” Gue menoleh ke arah Julia. Julia masih anteng tidur memeluk gulingnya

“Lo dimana?”

“….”

“Oke gue juga otw”

Gue tutup sambungan telepon. Gue bersiap pergi ke kantor sebelumnya gue kecup kening Julia yang masih nyaman tertidur. Mungkin saat ia bangun, gue gak ada disampingnya esok.

“Loh pak, mau kemana jam segini?” Tanya satpam rumah gue

“Saya ada urusan, tolong bukain pintunya ya”

Gue berjalan ke garasi mengambil mobil gue. Sengaja gue gak menghubungi pak Min karena gue gak mau mengganggu waktu istirahatnya. Gue menggunakan mobil Julia karena mobil gue dibawa pulang sama Pak Min supir gue

Hape gue bergetar kembali

“Ya hallo Wan?”

“….”

“Bentar lagi, sekitar 10 menit lagi”

“…”

“Yoo..”

Ini pertama kalinya kantor gue ke bobolan. Ya benar, kantor gue mengalami kerampokan. Untuk kehilangan atau kerugian gue belum tau.

“Jadi gimana? Apa aja yang hilang?” Tanya gue begitu sampai dilobby kantor gue. Disini terdapat beberapa staff dan manager. Gracia juga datang untuk mengecek ruangannya biar bagaimana posisi Gracia dikantor gue cukup vital juga. Sudah pasti ruangannya banyak berkas penting perusahaan

“Gue udah cek, laptop gue hilang. Bukan laptop utama sih, cuma data pengeluaran keuangan aja” ujar Iwan

“Kalo lo Gracia?”

“20 juta duit yang simpen dilaci gue raip. Gue bisa ganti kok kalo segitu Fi”

“Gak usah, ini musibah. Gak ada yang tau. Soal duit itu lo gak usah khawatirin. Yang penting data data perusahaan aja”

“Target utama fix duit Fi, Tadi beberapa staff juga ada yang kehilangan duitnya. Nominalnya gak besar, gue udah suruh Fery bawahan gue untuk mendata kerugian apa aja dikantor kita”

Gue menganggukkan kepala. Bisa bisa kantor gue dirampok. Pintu utama aman dan tadi kata polisi mereka lewat pintu belakang. Pintu belakang itu pintu besi terlebih dikunci. Jika mereka lewat belakang tentu akan menimbulkan suara gaduh.

Gue duduk disofa lobby. Tanpa sengaja melihat ke atas. Jendela fentilasi rusak, gue memicingkan mata gue. Ah! Fix mereka lewat atas bukan lewat pintu belakang. Segera gue berjalan keluar

Ada bekas kaki tangga diRumput disamping pintu lobby. Lobby kantor gue cukup tinggi. Jika memang orang biasa akan berpikir ulang untuk melewati fentilasi. Benar, dugaan gue pelakunya orang kantor gue juga. Karena hanya orang kantor yang mengetahui pasti struktur gedung ini. Dan dia memutuskan lewat fentilasi karena ia tau setelah fentilasi dijebol maka ada sedikit tembok sekitar setengah meter untuk berjalan sampai ke lantai dua.

“Wan, tadi dugaannya lewat pintu belakang ya?” Tanya gue

“Iya Fi, pintu belakang kebuka soalnya”

Memang pintu belakang jarang digunakan sama sekali. Itu artinya pintu belakang hanya alibi supaya terlihat mereka melakukannya lewat belakang. itu memperkuat dugaan gue kalo yang menjadi pelakunya adalah orang kantor gue sendiri

“Pak Arfi, ruangannya aman. Mereka gak sampai membobol ruangan Pak Arfi. Sepertinya mereka sadar akan CCTV disana” gue menoleh ke belakang. Loh Maudya ada disini juga

“Oh ya, syukurlah kalo gitu. Terima kasih ya Maudya”

“Sama sama pak”

CCTV ruangan gue? Dipintu ruangan gue itu memang ada CCTV nya, tapi ukurannya sangat kecil dan memang sengaja gue buat seperti itu agar tidak mudah diketahui orang selain itu jalan menuju ruangan gue dibiarkan menyala 24 jam bertujuan agar cctv ruangan gue mampu merekam siapapun yang lewat sana diluar jam kantor. Ini makin memperkuat dugaan gue kalau pelakunya sudah mengetahui dengan jelas keadaan kantor gue. Gue gak boleh bertindak gegabah kalau begini

“Wan, ini gue serahin sama lo. Kalo udah beres, pulang aja kasihan mereka masih jam 2 udah dikantor”

“Oke Fi siap”

Gue berlalu keluar menuju parkiran mobil gue lalu kembali kerumah. Ada yang perlu gue periksa karena gue gak bawa laptop gue. Gak percuma gue memasang cctv yang bisa gue akses langsung dari laptop gue terutama pintu utama lobby, ruang meeting, ruangan gue dan beberapa ruangan lainnya yang menurut gue penting.

Pelakunya pasti sudah menyiapkan hal ini sejak lama mengingat keamanan kantor gue cukup sulit untuk ditembus. Tunggu, keamanan? Kemana para security itu, hal yang gue lupakan yaitu bagian sektor security kantor gue, sejak tadi gue gak melihat unit mereka sama sekali. Baik, akan gue jadikan itu dugaan juga. Kenapa? Karena biasanya gue gak mengizinkan security masuk sampai lantai yang memiliki ruangan vital, seperti ruangan Gracia. Kecil kemungkinan mereka melakukan itu.

Sampai dirumah Julia udah menatap gue kesal lalu melipat kedua tangannya didepan dada. Gue tau pasti dia kesel karena gue gak pamit sama dia. Padahal ini masih pagi buta.

“Maaf ya, tadi aku ada masalah dikantor” ujar gue. Tatapan Julia berubah

“Aku nyariin kamu pagi pagi. Masalah apa dikantor kamu?”

Gue menghela nafas kasar gue

“Aku ceritain didalem aja yuk”

*

Ferdi PoV

Hari ini bisa dibilang lumayan penghasilan berdagang gue, eh maksudnya kita. Kita? Ya iya gue sama doi gue. Kenapa bisa? Karena dibelanda jarang ada jualan puding apalagi gue memasukan resep indonesia. Mereka pasti belum pernah merasakan puding seperti ini, dan perlu lo tau orang sini itu seneng merasakan sesuatu yang baru jelas aja puding gue habis meski baru setengah hari

“Gimana? Cape gak dagang ginian?” Tanya gue sama Rose

“Nggak, aku seneng kok” ujarnya membereskan piring piring kotor. Gue tersenyum

“Ya udah sini aku aja yang beresin, kamu duduk dulu sana”

Tapi Rose gak tetap mengambilin piring piring kotor itu lalu dibawa ke belakang

“Kamu udah cape, kamu aja yang istirahat” ujarnya dari dapur.

Ya emang sih, Rose hanya bertugas menerima pesanan dan uangnya. Gue bertugas mengantar, dan membuat pesanannya. Meski pudingnya udah jadi tapi beberapa menu ada yang gue Mix jadi kan gue harus meraciknya lagi.

Hape gue bergetar tanda panggilan masuk. Gue lihat nama yang tertulis disana. Gue keluar dan segera menerima panggilan tersebut

“Ya hallo bang, ada apa?”

“…”

“Dia baik, kami baru aja menjalankan bisnis dan hari ini hari pertama kami”

“…”

“No, gue belum bahas apapun. Ada kabar apa?”

“…”

“Hah? Terus gimana?”

“…”

Gue menoleh ke dalam memastikan bahwa Rose tidak ada disekitar gue

“Oke, sorry gue gak bisa bawa Rose pulang dalam jangka waktu dekat ini”

“…”

“Secepatnya gue kabarin”

Panggilan diputus oleh bang Iwan. Kabar baru yang gue terima adalah kantor tempat kerja abang gue dan bang Arfi dibobol maling. Gue gak tau kerugian apa yang ditanggung perusahaannya pertanyaan dalam otak gue adalah itu maling nekat bener ngebobol salah satu perusahaan keluarga Juanto.

Oh iya, itu adalah kabar kedua yang gue terima. Sebelumnya gue nerima kabar bahwa orang tua mereka akan bercerai. Dan parahnya kedua berita tersebut belum sampai ditelinga Rose. Rose tau orang tuanya bertengkar tapi gue rasa dia belum tau bahwa orang tuanya akan menjalani sidang pertamanya 3 hari kedepannya.

“Hay, kok diluar?” Sapa Rose ceria. Gak biasanya dia ceria, biasanya wajahnya seriusan terus

“Siang ini mataharinya sedang bagus. Biasanya kan cuaca dingin”

Rose menganggukkan kepala

“Aku buatin puding untuk kamu sama tehnya. Masuk aja yuk kita makan bareng”

Rose berlalu masuk ke dalam. Bukannya semua pudingnya udah habis ya. Hmm berarti Rose memang menyisakan pudingnya untuk gue dan dia

Gue jadi kepikiran sama bang Arfi. Kasihan dia pasti banyak beban pikiran. Orang tuanya yang akan bercerai, mengetahui fakta bahwa Rose bukan adik kandungnya, padahal bang Arfi sayang banget sama Rose, dan sekarang kantornya mengalami musibah.

Gue hanya mengela nafas berharap semoga keadaan disana baik baik aja. Tapi gue juga gak bisa menyembunyikan hal ini terus sama Rose. Akan gue cari waktu yang pas untuk membicarakan hal ini

*

Author PoV

Dua orang pria dan satu wanita sedang duduk berdiskusi sambil meminum minuman mereka. Ia adalah Arfi, Iwan dan Gracia. Mereka membicarakan hal yang terjadi pada kantor mereka.

“Total kehilangan uang kita adalah 47juta diantaranya uang yang gue simpem 20 juta, Maudya 17 dan Ruangan Reno bawahan gue sebesar 10 juta ikut diraip juga” ujar Gracia. Arfi meneguk minumannya

“Gimana orang orang lu Fi?” Tanya Iwan yang sedang menuang minumannya

“Orang gue udah bergerak, tinggal tunggu waktu aja mereka pasti tertangkap” ujar Arfi membuat kedua temannya menganggukkan kepala

“Lebih dari itu, gue ingin tau siapa yang menjual gambar kantor kita sampai mereka berani masuk ke dalam” sambung Arfi menarik perhatian kedua temannya

“Menurut penyelidikan polisi kemarin mereka melalui pintu belakang lalu menyebar ke ruangan ruangan dan mendapatkan uangnya” ucap Gracia

“Terus teori yang lo sampaikan sama gue kemarin gimana Fi?” Tanya Iwan

“Teori gue adalah pelaku perampokan kemarin salah satunya orang kita. Dia kunci utama perampokan kemarin. Dia tau saat itu satpam kantor kita berkeliling ke belakang, melalui jendela atas ada celah untuk jalan langsung menuju lantai dua” ucap Arfi serius

“Soal pintu belakang yang terbuka bagaimana?” Tanya Iwan

“Itu pengalihan agar terlihat bahwa satpam kantor kita lalai dalam tugasnya. Dan kejadian sebenarnya adalah pukul 1.35 dini hari bukan pukul 2.00 dini hari. Dan dijam saat itu satpam kantor kita berkeliling ke gudang belakang kantor kita” ujar Arfi kembali membuat Gracia dan Iwan menganggukkan kepala

“Jadi maksud lo ini bukan perampokan dadakan? Tapi sudah direncanakan?” Tanya Gracia

“Cukup lama” saut Arfi

“Dari mana lo bisa menyimpulkan teori ini?” Tanya Iwan. Arfi menyandarkan tubuhnya pada sofa

“Mudah, ada taman kecil disamping tangga lobby yang diatasnya terdapat fentilasi jendela, mereka menggunakan tangga untuk sampai kesana karena ada bekas kaki tangga ditanah sana”

“Terus soal yang lo patahin teori polisi bahwa mereka melalui pintu belakang gimana?” Tanya Gracia

“Pintu belakang kita jarang digunakan, gue menemukan jejak bekas genggaman tangan disana karena gagang pintu belakang kita berdebu. Karena memang pintu belakang kantor kita terbuka kedalam bukan keluar. Sedangkan gagang diluarnya tidak ada bekas genggaman tangan. Itu artinya pintu itu memang dibuka dari dalam”

“Oh gue ngerti, jika emang gitu, berarti pintu belakang itu dibuka setelah mereka merampok dong?” Tanya Gracia

“Dan mereka gunakan juga untuk melarikan diri, kawat besi diatas tembok belakang gudang juga rusak. Teori lo bener Fi” ujar Iwan.

Gracia menuangkan minuman ke gelasnya serta kedua gelas Iwan dan Arfi yang sudah kosong.

“Jadi gimana menurut lo, gue harus minta bantuan sama Agus?” Tanya Gracia kembali

Arfi menggelengkan kepalanya pelan “gak usah, gue sendiri yang akan menemukan pelakunya. Oh ya Wan, jika memang polisi gak bisa nemuin pelakunya gpp tutup aja kasus ini biarkan kasus ini hilang dengan sendirinya” ujar Arfi meminum habis minumannya. Ia berdiri melangkah keluar menyisakan Gracia dan Iwan didalam

“Lo gak keluar juga?” Tanya Gracia membuat Iwan menoleh ke arahnya

“Kenapa?”

“Ya udah gue yang keluar kalo gitu” Gracia mengambil jaketnya, memakainya lalu bergegas keluar. Sebelumnya ia meminum habis minumannya

“Gue gak mau nanti lo sama gue keulang lagi. Anti Iwan Iwan club”

Iwan terkekeh mendengar itu. Gracia berbalik lalu melangkah keluar

“Gracia…” panggil Iwan membuat Gracia menoleh ke belakang

“Apa?”

“Hubungan lo sama Agus gimana?”

Gracia manautkan alisnya. Iwan berdiri berjalan mendekat ke arah Gracia

“Jangan salah paham. Setelah masalah itu, gue berharap hubungan kalian kembali membaik” ujar Iwan menatap Gracia

Gracia tersenyum kecil

“Sangat baik. Itu sebabnya gue akan menjaga hubungan gue agar selalu membaik. Oh ya, gue akan melangsungkan pernikahan dengan Agus di medan”

Iwan mengangguk “bagus deh, gue dapet undangannya?”

“Pasti. Cuma ada yang berbeda buat lo sendiri. Biaya transport lo dan kebutuhan lo disana lo tanggung sendiri Agus gak mau nanggung biaya lo. Katanya lo udah nyicipin gue soalnya”

Iwan tertawa

“Sialan. Kapan pernikahan lo dilangsungkan?”

“Secepatnya, doain aja semoga lancar”

Iwan mengangguk kedua tangannya dimasukan kedalam saku celananya. Gracia melangkah meninggalkan Iwan diruangan itu. Iwan menutup pintu ruangan itu lalu menguncinya

Saat sampai diluar ia melihat dua orang berbadan tegap

“Hey, kalian. Kemari sini” panggilnya. Kedua orang itu menghampiri Iwan

“Ada apa manggil kami?”

“Kalian orangnya Arfi kan?”

Kedua orang tersebut saling pandang. Selanjutnya salah satu dari mereka menarik kerah kemeja Iwan hingga Iwan terangkat ke atas

“Beresin aja kali” ujar satunya

“Tunggu.. Arfi gak pernah cerita kalo gue temennya?”

Pria yang mencengkram kerah kemeja Iwan mengendurkan cengkramannya hingga kaki Iwan dapat menyentuh tanah kembali

“Gue Iwan, sahabat dari boss lo berdua”

Mendengar itu pria tegap yang mencengkram kerah kemeja Iwan segera melepasnya lalu mundur beberapa langkah

“Maafkan kami, kami tidak tau. Kami hanya mengenal nama tidak dengan wajah anda”

Iwan membenarkan kerah kemejanya yang sedikit berantakan.

“Gpp, lain kali gue akan bilang ke boss kalian untuk mengenalkan siapa saja teman teman dekatnya” ujar Iwan melangkah menuju mobilnya yang terparkir disebrang jalan

Kedua pria tegap tadi bisa saja menghabiskan nyawa Iwan dengan tangan kosong jika saja ia tidak mengatakan bahwa ia adalah teman Arfi tadi. Mungkin Arfi menyebut nama teman temannya pada orang orangnya namun ia tidak memberitahukan wajah teman temannya pada orang orangnya.

“Hebat juga orang orang Juanto, ditampol sama dua orang kaya tadi ICU bisa gue. Iya kalo ICU kalo mokad langsung gimana” batin Iwan saat ia sudah meninggalkan area gedung pertemuan

*

Arfi PoV

Gue memarkirkan mobil gue dipekarangan rumah. Turun, lalu menghampiri Julia yang sedang duduk kursi teras rumah

“Kamu dari mana?” Tanya gue sama Julia

“Aku abis belanja bulanan nih” jawabnya. Tapi gue gak melihat belanjaannya sama sekali

“Permisi nyonya, tuan, belanjaannya mau ditaro dimana?” Gue menoleh ke samping. Ya ampun, Dikdik nenteng nenteng belanjaan menggunakan tangan kanan dan kirinya. Maksud gue, orang berbadan tegap dan berotot seperti Dikdik disuruh bawa belanjaan dapur. Dikdik ini bisa dibilang salah satu orang kepercayaan gue untuk menjaga keamanan. Tukang pukul, bahkan gak segan gue membekalinya sebuah pistol, dibeberapa keperluan dia juga pernah gue suruh menyingkirkan orang yang mengusik gue dan dia ini ketua dari orang orang gue. Sekarang dia disuruh bawa belanjaan sama istri gue. Gak salah ini

“Taro belakang aja, bilang Bi Imas rapihkan belanjaan saya ya. Makasih Dik” ujar Istri gue santai

“Baik Nya, permisi Tuan”
Dikdik berlalu berjalan melewati garasi yang langsung menuju dapur. Gue melihat Julia yang menatap gue

“Kenapa? Tanyanya. Gue hanya menggelengkan kepala. Gue duduk dikursi sebelah Julia

“Arfi.. beliin aku baju dong” gue menoleh ke arah Julia

“Ya beli aja, uang kamu abis?”

“Nggak, aku mau belinya sama kamu. Kamu yang beliin aku”

Tak lama Bi Imas datang membawa dua gelas teh hangat. Lalu bi Imas berlalu pergi kembali ke dapur

“Iya iya nanti kita beli ya” gue mengambil gelas teh gue lalu meminumnya sedikit

“Sama BH ya”

Gue hampir tersedak minuman gue sendiri untung gue segera menelannya.

“Bh? BH kamu kenapa emangnya?”

“BH aku kekecilan, kayanya menyusut deh. Aku suka sesek. Beliin juga ya?”

Mana ada benda menyusut ada mah barang lo makin gede Julia. Bener kan gue bilang juga apa, dadanya Julia makin gede ukurannya beda saat pertama kali gue ketemu dia. Selain itu badannya juga makin seksi semenjak melahirkan

“Iya iya, kapan kamu mau beli?”

“Kalo kamu gak sibuk aja ya, lagian kalo BH aku bisa beli dipasar kok”

Gue ingin tertawa mendengar kepolosan istri gue. Sebelumnya gue belum pernah pergi ke pasar sama sekali. Mungkin riwayat keluarga gue pun sama, sorry bukannya sombong. Meski kehidupannya jauh membaik istri gue ternyata tetap menjadi pribadi yang low profile. Jadi bangga

“Kamu atur aja ya sayang, aku ikut kamu aja”

Julia tersenyum lebar, matanya menyipit jika tersenyum bahkan seperti merem

“Aku ke dalem dulu ya, siapin kamu buat mandi”

Gue mengangguk. Julia masuk ke dalam. Tak lama Dikdik keluar menghampiri gue

“Lapor Tuan, hari ini saya mengantar nyonya belanja diswalayan, nungguin nyonya makan siang dengan Savira dan mereka berdua pergi ke salon” ujar Dikdik

“Nyonya makan siang dan ke salon kamu megangin belanjaannya?”

“Kalo dapet bangku saya letakan disamping kanan dan kiri saya tuan. Kalo berdiri iya terpaksa saya pegangin”

“Gak pegel?”

“Pegel tuan”

“Berapa anak buah kamu yang ikut?”

“Gak ada tuan, saya bertugas sendiri”

Gue menyandarkan tubuh gue dikursi. Kasihan juga Dikdik disuruh melakukan hal yang seharusnya bukan tugasnya. Sepertinya istri gue salah mengartikan posisi Dikdik dan anak buah gue lainnya

“Itu bukan tugas kamu kan? Kenapa kamu gak berusaha menolaknya?” Tanya gue

“Maaf tuan, itu bukan kapasitas saya. Saya hanya menerima perintah dari keluarga tuan lalu menjalankannya sebaik mungkin”

Gue menghela nafas gue

“oke saya bangga sama kamu Dikdik. Teruskan. Oh ya pesenin kopi untuk semua anak buah kamu. Biar saya yang bayar. Rokok anak buah kamu masih ada?”

“Siap tuan. Masih tuan”

“Jika kehabisan rokok atau dana lainnya yang kamu dan anak buah kamu butuhkan bilang ke saya atau nyonya. Saya juga udah kasih tau perihal ini ke istri saya juga”

“Baik tuan. Terima kasih tuan”

Gue mengangguk lalu Dikdik pamit pergi sama gue. Gue tersenyum kecil, mengingat sikap Julia ke anak buah gue. Terkadang anak buah gue disuruh beli susu ke apotek untuk anak gue. Bayanginnya aja lucu orang berbadan besar menggunakan kaos hitam polos serta berkalung dilehernya masuk ke apotek beli susu bayi.

Tapi bagus anak buah gue gak ada yang menentang atau menolak setiap perintah yang diberikan oleh gue maupun istri gue. Untuk itu kewajiban gue juga sebagai pemimpin mereka memberikan fasilitas dan menjamin hidup mereka serta keluarga mereka aman dan damai

*

Rose PoV

Aku akan kembali, tapi aku tidak tau kapan. Aku belum siap untuk semuanya. Aku mengetahui Orang yang selama ini kuanggap orang tuaku yang akan bercerai dalam waktu dekat ini. Sedih? Pasti!

Harapanku wisuda dengan indah dan dihadiri oleh kedua orang tuaku terlebih kakakku kini hilang semua. Aku bukan siapa siapa bagi mereka. Pertanyaanku adalah kenapa papahku atau om Bram mau membiayaiku. Baik, aku memang anaknya, lalu siapa ibu kandungku? Dan apa hubungannya dengan papahku. Bagaimana dengan kak Arfi jika ternyata aku adalah anak dari seorang selingkuhan papahnya.

Dia akan marah? Dia akan membenciku? Dia akan menjauhiku karena aku adalah penyebab kerusakan rumah tangga orang tuanya.

Ini yang aku siapkan, aku akan kembali untuk menjelaskan ini semua. Ferdi bilang apapun itu aku harus hadapi. Ia berjanji akan melindungiku dari siapapun termasuk kak Arfi.

Aku berjalan keluar kamarku melihat Ferdi terbaring kasur tikar dilantai. Ia tidur sangat nyenyak. Mungkin lelah setelah seharian ia bekerja, jujur saja memang Ferdi lebih banyak bermain peran diusaha kami mulai dari belanja, melayani sampai menghidangkan ke para tamu. Aku? Aku hanya membantu memasak, menerima pesanan dan menerima pembayaran.

Aku sempat protes dengan tugasku yang terlalu ringan dibanding dengan dirinya namun ia menolak. Ia senang melakukan itu meski ku tau ia hanya berpura pura. Aku tau ia sangat lelah, tapi aku memilih mengalah dan tidak ingin berdebat lagi dengannya karena dia sudah cukup lelah dengan bagiannya.

Kunaikkan selimut menutupi lehernya. Ku pandangi wajah tidurnya. Laki laki tangguh, apa ini yang pernah dirasakan oleh Kak Julia saat bersama kak Arfi dulu?

Aku tersenyum mengingat semua kejadian yang kami alami belakangan ini. Bisnis kamu menghasilkan untung meski tidak banyak. Lumayan untuk kebutuhan kami disini.
Aku menarik nafasku. Ku beranikan untuk mengecup kening kekasihku sekilas.

“Goodnigh, sleep well dear” bisikku ditelinganya sebelum aku kembali ke kamarku dan tertidur menyiapkan tenaga untuk esok hari

***

Aku berjalan didalam ruangan gelap dan sepi. Sebuah bangunan yang aku kunjungi katanya adalah ini tempat eksekusi, markas besar dan sebutan lainnya.

Brakk

Seisi ruangan terkejut akan kehadiranku. Diantaranya ada Dikdik dan Dhimas yang cukup familiar padaku. Aku menghampiri mereka

“Dimana Arfi?” Tanyaku. Mereka hanya diam tidak menjawab. Sebuah pistol tergeletak dimeja. Sekitar lebih dari 10 orang berbadan besar berada disini.

“Dik…” aku menatap Dikdik tajam

“Tuan, ada dilantai atas nyonya”

Aku langsung berjalan keatas mengecek setiap lantainya. Jujur saja aku baru pertama kalinya datang ke tempat ini. Anak buah Dikdik yang tentunya juga anak buah Arfi yang memberitahuku.

“Tangkap dia!! Bawa dia kesini!! Satu atau dua lubang dikepalanya cukup memberikannya pelajaran atas perbuatannya”

Suara menggema itu terdengar satu lantai diatasku. Aku mempercepat langkahku menuju tangga agar sampai di lantai selanjutnya. Sampai diatas aku menyusuri lorong mencari dimana Arfi berada.

Ruangan dengan pintunya yang dibiarkan terbuka, aku melihat Arfi sedang duduk dilantai dengan satu kakinya menopang kaki lain miliknya.

“Beraninya dia mencuri dikantor, dengan ini dia akan tau pernah berurusan dengan–”

“Arfi Juanto!!” Ucapku lantang membuat semua yang berada diruangan ini menoleh padaku tidak terkecuali Arfi. Ia menatapku terkejut

“Kamu…”

“Ya aku, kenapa? Terkejut aku bisa tau tempat ini?” Aku melangkah mendekatkan ke arah Arfi. Beberapa botol minuman berserakan dibawah, gelas yang pecah dan satu senjata seperti yang kulihat dibawah

“Jangan Julia, itu berbahaya” ujarnya saat aku meraih pistol yang berada di meja dekatku

“Kamu masih bermain dengan ini?” Tanyaku.

“Ini nggak seperti yang kamu pikirkan, denger, aku hanya memberikan pelajaran bagi siapa yang telah merugikanku, percayalah”

“Dengan melubangi satu atau dua dikepalanya? Oh ya, aku percaya, sangat percaya itu, kalau begitu buat aku percaya ia masih hidup setelah ada satu atau dua lubang dikepalanya”

Arfi terkejut dengan ucapanku. Tak lama Dikdik dan satu orang lagi datang menghampiri Arfi melewati ku begitu saja

“Maaf tuan, saya pikir Nyonya orang terkecuali yang dilarang masuk kesini”

Arfi menatap bengis ke arah Dikdik. Keterlaluan! Setelah ia mengingkari janjia ia masih memperlihatkan amarahnya. Aku istrinya! Aku tidak boleh kesini?

“Aku istri kamu kan? Aku gak boleh kesini?” Tanyaku. Arfi hanya diam saja menatapku

“Jawab Arfi!!”

“Boleh.. boleh kok”

Aku tidak tau harus berbuat apa. Aku kecewa dengannya yang mengingkari janjinya padaku. Ia berjanji tidak mau melukai orang lagi

“Kenapa, kenapa kamu harus jadi seorang pembunuh Arfi?” Tanyaku melihatnya. Ku rasa air mataku akan menetes

“Aku gak bunuh dia, aku memberikannya pelajaran. Aku bersumpah aku tidak akan melukai seseorang jika mereka tidak mencari urusan denganku”

Bodoh! Ucapan terbodoh yang pernah kudengar dari Arfi

“Kamu membunuhnya Arfi.. itu yang kamu lakukan!”

Arfi menghampiriku. Ia mengusap air mataku.

“Udah ya jangan nangis, iya iya aku gak akan bunuh dia. Mau kamu gimana sekarang? Hmm”

Aku menghapus air mataku sendiri. Menatap manik mata Arfi yang menatapku. Tatapannya berubah tidak lagi bengis seperti tadi

“Tangkap aja dia, serahkan pada polisi”

Aku melihat Arfi terkejut dengan ucapanku. Detik selanjutnya dia menghela nafasnya

“Kalian dengar tadi, batalkan semua rencananya. Tangkap orangnya saja, saya memiliki bukti, jebloskan dia kepenjara”

Satu persatu anak buah Arfi pergi keluar dari ruangan. Aku menyandarkan kepalaku di dada bidang Arfi

“Kita kesitu yuk”

Aku menyandarkan kepalaku didada bidang Arfi.

“Fi..”

“Ya?”

“Mau kamu janji satu hal sama aku?”

“Apa itu?”

“Jangan selalu gunakan kekerasan. Aku gak suka”

Tidak ada jawaban dari Arfi. Aku mendongakan kepalaku melihat Arfi yang menatap lurus ke depan. Tangannya yang tadi digunakan untuk mengelus puncak kepalaku pun terhenti

“Kamu keberatan?” Tanyaku

Arfi melihatku sebentar lalu beralih menatap lurus ke depan

“Bukan, aku hanya merasa malu dan bodoh”

Aku menatap wajah samping Arfi

“Bodoh dan malu, kenapa?”

Kini matanya beralih menatapku. Tatapannya sinis, bukan. Memang seperti itu cara ia menatap seseorang. Tatapan serius

“Setiap kali kamu memergokiku, menegurku aku selalu merasa malu dan bodoh. Aku selalu menganggap janjiku itu mudah dilakukan nyatanya cukup sulit dengan kebiasaanku–”

Cup

“Udahlah, berhenti bicara. Memang kebiasaan itu sulit dihilangkan. Tapi mulai sekarang cobalah untuk terbuka padaku, kita bisa mencari solusi dari masalah kamu”

Arfi menggenggam tanganku erat. Ia menempelkan keningnya dikeningku

“Aku coba untuk itu namun sulit untuk mengontrol emosiku, tindakanku, dan kebiasaan burukku”

Tidak heran jika sangat sulit mengubah sisi buruknya. Arfi seorang laki laki yang tumbuh besar tanpa bimbingan orang tua tentu mempengaruhi jalan pikirannya serta tindakannya. Apa yang menurutnya benar akan ia lakukan terlebih Arfi hidup bergelimang harta juga memiliki cukup banyak anak buah yang setia padanya membuatnya menjadi orang yang sombong

“Mulai sekarang katakan padaku semua masalah kamu oke. Jangan gunakan kekuasaan kamu untuk memerintah anak buah kamu untuk melakukan kekerasan”

Arfi membelai pipi kananku, mengecupnya lalu menatapku

“Ayo kita pulang”

Aku mengangguk

Diperjalanan hanya keheningan yang tercipta. Aku tau jika sudah begini Arfi memilih menyendiri, merenungi apa yang ia perbuat. Entahlah, aku hanya berharap Arfi dapat mengubah kebiasaannya dan menjadi Arfi yang bijaksana bukan hanya untuk aku dan El tapi dalam menghadapi masalah yang ada

“Aku keatas dulu ya”

Aku mengangguk begitu sampai dirumah

“Arfi kenapa Jul?” Tanya Savira padaku saat aku duduk diruang tengah

“Biasa, mau istirahat kerjaannya banyak”

Savira menganggukkan kepala. Kami menonton tivi bersama. Aku tidak sungguh sungguh menonton tivi pandanganku lurus ke depan namun kosong. Aku memikirkan Arfi

“Hoeekk…”

Savira berlari ke belakang dan aku mengikutinya.
“Lo sakit Vir?”

“Hoeekk… nggak tau, tadi pagi, Hoeekk… juga gue muntah begini”

Aku mengurut tengkuk leher belakang Savira. Ia muntah beberapa kali, wajahnya terlihat pucat

“Gue anter kerumah sakit yuk…”

“Gak usah Jul, gue masuk angin biasa aja ini mah. Bikinin gue teh anget aja ya”

Songong nih anak merintah tuan rumah

Aku menyuruh Bi Imas membuatkan teh anget untuk Savira. Savira kembali berbaring disofa ruang tengah

“Tadi pagi pas gue bangun tidur juga gue tiba tiba mual Jul, gak tau kenapa. Itu muntahan gue yang ketiga kalinya seharian ini”

Aku hanya menganggukkan kepalaku

“Lo udah tes kesehatan?”

“Buat apaan?”

“Ya kali aja lo hamil gitu”

Savira terkejut lalu duduk di sofa menatapku. Aku mengerjapkan mata berkali kali

“Hamil? Gue?”

Aku menganggukkan kepala. Kenapa dia ini, apa salah kalo Savira hamil. Aku sering mendengar desahan desahan dari kamarnya saat aku terbangun dini hari karena haus

“Theo aja masih kecil udah hamil lagi gue. Rencana gue sama Fahrie itu kalo Theo minimal berumur 12 tahun lah anak gue aja masih umur 7 tahun Jul”

“Ya lo bikinnya rajin gak?”

“Iya sih… ya tapi kan tetep aja gue keluarinnya diluar kok”

Fahrie yang datang melihat kami duduk bersama di ruang tengah langsung menghampiri kami

“Ada apa ini?”

“Pah! Kamu keluarinnya diluar kan?” Ujar Savira mencengkram kerah Fahrie yang baru saja duduk di sebelahnya

“Keluarin.. a.. paa?”

“Spermaa kamu! Keluarinnya diluar kan?”

Aku memijit kepalaku. Ini kok orang begini amat ya. Teriak teriak lagi

“Sayang, El nangis nih”

Eh? Aku menoleh ke sebelahku melihat Arfi menggunakan singlet dan celana pendeknya sambil menggendong El

“Sini sini anak mamah haus ya..” aku mengambil alih El dari gendongan Arfi

“Mereka kenapa?” Bisik Arfi

“Savira kayanya hamil, tapi dia gak terima”

Arfi menautkan alisnya

“Mereka kan udah menikah, terus kenapa masalahnya?”

“Aku gak tau, biarin aja. Besok aku mau ke dokter ya periksain kesehatan Savira”

“Coba aja tanya Shinta”

Aku menatap Arfi. Agak kesel sih saat Arfi menyebut nama Shinta.

“Kenapa?” Tanyanya

Dasar robot! Gak peka banget! Aku mengalihkan pandanganku ke El yang sedang menyusu padaku, tapi aku tutupi dengan sehelai kain karena masih ada Fahrie disini meski ia sedang di unyeng unyeng Savira

*

    

Ke esokan paginya aku mengantar Savira ke klinik dimana Shinta bekerja. Iya, Shinta dipindah tugaskan menjadi di klinik namun kata Arfi sebenarnya Shinta itu dikeluarkan dari rumah sakit tempat ia bekerja karena digantikan oleh dokter baru. Terpaksa Shinta harus bekerja di klinik kecil yang sederhana tapi masih diperkotaan

“Dokter Shintanya ada?” Tanyaku pada bagian resepsionis

“Ada, beliau ada diruangannya dari sini lurus lalu belok kiri pintu paling pojok itu ruangan dokter Shinta”

Aku hanya tersenyum mengangguk lalu berjalan ke ruangan Shinta. Ku ketuk pintu beberapa kali

“Ya masuk..”

Klek

Shinta yang sedang duduk di kursi sambil membereskan beberapa alatnya sedikit terkejut melihatku

“Loh kamu, kok cek up nya kesini?”

Aku tersenyum “gak ditawarin duduk nih?”

“Oh ya ampun, silahkan duduk”

Aku duduk dan Savira duduk disebelahku

“Gini, temen aku kemarin mual sampai muntah 3x dalam sehari. Aku mau cek kesehatan dia. Mungkin aja dia hamil”

Shinta mengangguk “silahkan tiduran disana”

Savira berjalan ke bansal lalu membaringkan tubuhnya. Dengan beberapa tahap Savira diperiksa oleh Shinta

Beberapa saat Shinta telah selesai memeriksa Savira

“Kamu benar, temen kamu ini hamil muda. Usia kandungannya 2 minggu”

Savira cukup terkejut mendengar itu

“Saya hamil dok?” Tanyanya, Shinta menganggukkan kepalanya sekali

“Tapi…”

Melihat gelagat itu aku berniat meneruskan ucapan Savira

“Dia ngaku sih kalo main sama suaminya keluarnya diluar Shin, soalnya ada target, temen aku ini mau hamil lagi saat usia anaknya menginjak 12 tahun”

Shinta menganggukkam kepalanya

“Begini, gak selamanya teori mengeluarkan sperma diluar itu mencegah kehamilan. Karena bisa saja sperma keluar tanpa dirasa oleh suami kamu. Ada orang yang bisa hamil padahal masih perawan”

Aku menautkan alisku “bagaimana bisa?”

“Tentu, jika sperma lelaki itu mengenai atau masuk ke dalam bibir vagina saja, itu bisa kemungkinan terjadi kehamilan meski kelamin si pria gak dimasukin dan tidak memecahkan selaput dara” jelas Shinta

Aku menoleh ke arah Savira. Tepukan lembut mendarat di bahu Savira

“Target boleh, tapi ini rezeki dari sang kuasa. Kamu harus bersyukur dan gak boleh menyesalinya. Banyak orang yang konsultasi dan melakukan berbagai cara agar cepat hamil kamu bisa hamil secara normal itu anugrah loh” Shinta tersenyum pada Savira

Senyumnya manis menghiasi bibir merahnya yang tipis

“Dokter benar, gak seharusnya saya bersikap begitu. Ini terjadi gak sesuai rencana aja makanya saya begini, baik terima kasih dok atas nasihatnya” ujar Savira diangguki oleh Shinta

Shinta kembali duduk ditempatnya

“Tumben kamu gak sama Arfi?”

Aku mendelik ke arah Shinta

“Aku kesini mau konsultasi temen aku yang hamil bukan aku yang konsultasi”

“Iya iya aku ngerti gak usah cemburu gitu sih aku cuma nanya aja”

Aku menarik nafasku dalam. Memang sih jika aku cek up lebih sering ditemani Arfi. Shinta gak salah menanyakan itu, tetapi aku sebagai istrinya dan wanita dihadapanku ini pernah memiliki perasaan untuk suamiku mana bisa aku tidak cemburu

“Ini susu yang aku rekomendasikan untuk kamu, diatur pola makannya sama banyakin makan sayur ya itu baik untuk bayi kamu”

Savira mengangguk. Tunggu deh…

“Waktu aku hamil kamu gak bilang gitu ke aku?”

“Karena aku tau Arfi akan menjaga dan mengatur kamu”

“Tau banget tentang Arfi”

Shinta menarik nafasnya dalam. Sejujurnya aku takut dengan Shinta. Nyaliku menciut jika ia sudah mengeluarkan tatapan tajamnya

“Denger nyonya Juanto, sebelum Arfi ketemu kamu ia lebih dulu bertemu denganku. Jadi wajar jika aku mengetahui sifatnya”

“Woy woy woy kalian kenapa jadi berantem sih! Soal Arfi lagi, gak ada yang berantemin soal suami gue apa disini?”

Ini si Savira ngaco banget sih, mau banget gitu suaminya jadi bahan beranteman orang

“Udah itu aja kan?” Shinta duduk bersandar dikursinya. Aku menganggukkan kepala

“Terima kasih ya Shinta udah membantu” ujarku

“Hey, gak ada yang gratis”

Aku terdiam sejenak

“Ah iya, jadi berapa biayanya?” Jawabku. Aku mengeluarkan dompet dari tasku

“Aku gak ngomongin uang, bayarannya dengan memperbolehkan aku dinner bersama suami kamu ya?” Shinta menaik turunkan alisnya. Aku menatapnya geram lalu menarik tangan Savira keluar dari ruangan Shinta. Belum aku melangkah jauh terdengar suara ketawa yang cukup keras. Iya, itu suara ketawa Shinta. Dasar wanita sinting! Bisa bisanya dia berkata seperti itu, tunggu sampai aku adukan sama Arfi nanti, lihat saja!

*

Arfi baru saja selesai mandi dan bersih bersih. Ia tengah mengeringkan rambutnya yang basah dengan hanya memakai boxernya memperlihatkan tubuhnya yang atletis itu. Ugh!

Aku meletakkan El yang tertidur setelah kususui. Arfi tersenyum melihatku

“El tidur?” Tanyanya. Aku mengangguk, kurentangkan tanganku memeluk tubuh Arfi yang tanpa baju ini. Kuhirup dalam dalam aroma tubuhnya. Arfi milikku! Gak ada yang boleh mengambilnya!

“Kenapa sih? Kangen banget kayanya ya”

Aku tidak menjawab masih menenggelamkan seluruh wajahku dibahunya

Kulepas pelukanku melihat Arfi yamg tersenyum padaku. Ia mengecup bibirku sekilas membuatku tersenyum senang

“Kenapa hmm?”

Aku duduk dipinggir kasurku

“Aku tanya kamu kenapa gak dijawab jawab sih?”

Arfi duduk disampingku masih dengan kegiatannya yang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil

“Tadi aku anter Savira konsultasi ke Shinta, rupanya Savira hamil”

“Kamu mau El punya adik? Aku mah siap”

Aku mendelik pada Arfi menjauhkan tubuhku padanya

“Kenapa sih kamu aneh deh”

Aku memukul Arfi menggunakan guling

“Kamu tuh aneh! Aku lagi cemburu!”

“Cemburu kenapa?”

“Makanya dengerin aku dulu cerita”

“Kamu ceritanya kelamaan”

Aku memberikan Arfi tatapan tajamku membuatnya mengerjapkan matanya berkali kali

“Iya iya maaf, ya udah cerita deh kamu”

Aku melipat kedua tanganku lalu terduduk dikasur

“Tadi aku abis anterin Savira konsultasi ke Shinta, eh selesainya dia malah nanyain kamu”

Arfi menatapku, memasang wajah bengongnya yang menurutku malah kaya orang begok

“Terus kenapa?”

What?!! Dia tanya kenapa? Gusti~~

“Ya aku cemburu!”

Arfi beranjak dari duduknya menjemur handuk basahnya dibalkon lalu kembali duduk

“Apa yang mesti kamu cemburuin sih?”

“Kan dia pernah suka sama kamu! Ya aku cemburulah, kamu tuh punya aku!”

Ia meraih tanganku, menciumnya lalu menatapku

“Kamu gak usah khawatir aku akan tetap milik kamu, jangankan Shinta artis kaya Cinta Laura aja kalo suka sama aku udah pasti aku tolak”

Aku tersenyum lalu mendekatkan diriku memeluk Arfi

“Beneran?”

“Tentu aja nggak”

Bugh

*

Aku menunggu seseorang dikursi tunggu. Hari ini El sepertinya demam, tubuhnya panas dan juga dia menangis terus semalam. Terpaksa aku harus membawanya kesini, ke tempat yang aku tidak suka. Bukan tempatnya tapi orangnya. Tentu aku tidak sendirian, aku ditemani suami tercintaku yang paling menyebalkan!

“Maaf ya bikin kalian nunggu lama, tadi ada penyuluhan dulu sebentar, yuk masuk”

Kami masuk ke dalam ruangan yang sekali lagi kukatakan ruangan yang tidak kusukai sejak kemarin. Ya ini adalah ruangannya Shinta.

Arfi duduk lebih dulu lalu aku menyusul duduk disebelahnya

“Eh perasaan aku belum suruh kalian duduk”

“Oke gue berdiri lagi”

Shinta tertawa. Tuhkan! Akrab banget mereka

“Bercanda ih gue, duduk duduk. Jadi ada apa nih kesini lagi”

“Anak gue sakit mbak, panas gitu. Kayanya demam deh. Bisa lo periksain gak?”

Tatapan Shinta beralih ke El yang ada dalam gendonganku

“Coba baringkan disana Julia, biar aku periksain”

Aku mengikuti instruksi Shinta. Ku baringkan El secara perlahan. Shinta mulai memeriksa El

“Nyusunya gimana?”

“Nyusunya mau, tapi gitu rewel jadinya kalo bangun pasti nangis” ujarku

“Dipakein baju hangat gak kalo tidur?”

“Dipakein, kaki tangannya ketutup ditambah selimut”

Shinta membuka mulut El dengan dua jarinya

“Ini biasa, pertumbuhan kok. Wajar sih, nanti aku kasih obat diminumnya setelah kamu susuin ya, malam dan pagi. Ada obat tidurnya biar istirahat jadi gak rewel”

Aku mengangguk lalu kembali menggendong El

“Sakit gitu bahaya gak Mbak?” Tanya Arfi

“Bahaya kalo gak segera diobatin”

“Hah? Serius lu, buruan obatnya apaan? disini ada gak?”

“Berisik! Ini klinik oncom! Bukan kamar lo!”

Aku bisa melihat Shinta menatap Arfi tajam dan sinis. Aku melirik Arfi disebelahku yang juga menatap Shinta sinis. Mereka saling melemparkan pandangan sinis

“Ini resep obatnya, bisa kamu tebus nanti diapotik ya. Kebetulan disini gak ada”

Aku menerima secarik kertas dari Shinta berupa resep obat yang akan kutebus

“Terima kasih ya Shinta”

“Iya sama sama…”

Brakk

Aku terkejut menoleh ke belakang. Shinta berdiri dari duduknya. Wajahnya menegang

“Kenapa kamu gak kasih tau aku kalo kamu pindah kesini?” Ujar Pria itu yang sudah berdiri disampingku. Arfi memindahkan posisiku menjauhi pria tersebut

“Bukan urusan kamu!”

“Tentu ini urusan aku! Aku harus tau tentang kamu!”

“Denger Putra! Aku bukan lagi istri kamu! Pergi dari sini atau aku panggil keamanan untuk mengusir kamu dari sini?”

“Kenapa? Kamu ingin aku pergi? Karena ada pria yang kamu sukai kan? Dia…”

Pria itu menatap Arfi yang berdiri didepanku

“Dia udah merusak pernikahan kita Shinta! Kamu lebih memilih dia! Kamu mencintainya Shinta!”

“Putra!! Arfi gak melakukan apapun! Kamu yang selingkuh dari aku Putra! Lebih baik kamu pergi Putra!”

Aku yang terdiam hanya berusaha melindungi El sekaligus aku berlindung dibalik tubuh Arfi. Aku memang tau masalah antara Shinta dan mantan suaminya itu terkait Arfi.
Brakk

Plak

Pria itu mendorong tubuh kecil Shinta serta menamparnya sekali. Aku meringis melihatnya.

“Arfi kamu gak bantuin Shinta” bisikku

“Kamu yang bilang aku gak boleh mencampuri apapun itu yang berkaitan sama Shinta biar kamu gak cemburu”

Astaga ini anak kaku banget sih

“Arfi lihat itu Shinta jatuh didorong. Bantuin ih!”

Arfi menoleh ke arahku lalu menganggukkan kepalanya. Aku memejamkan mataku terakhir kulihat Arfi memukul wajah pria itu dan menjauhkan tubuh pria itu dari tubuh Shinta

Beberapa menit aku memejamkan mata akhirnya ku buka mataku. Pandangan pertama yang kulihat adalah Shinta yang memegang lengannya yang terluka dan Arfi yang berdiri diam melihatku

“Kenapa kamu merem gitu?” Sebuah suara membuatku membuka mataku. Aku mengerjapkan beberapa kali. Sudah tidak ada pria pembuat onar itu

Tatapanku beralih ke Shinta yang sedang mengobati lukanya sendiri

“Gendong El dulu nih aku mau bantuin Shinta”

Aku memberikan El pada Arfi lalu membantu Shinta mengobati lukanya dilengannya. Lukanya berdarah cukup panjang namun tidak dalam. Semacam terkena goresan benda tajam. Shinta merintih kesakitan saat aku mengobati lukanya tapi ia tidak berusaha menolak

“Selesai..” ujarku

“Terima kasih ya Julia udah bantu aku bersihin luka aku”

“Gak ada yang gratis..” ujarku membuat Shinta menatapku

“Bayarannya dengan kamu yang gak boleh menanyakan apapun soal Arfi didepanku” sambungku yang disambut senyuman Shinta

“Iya, coba kamu menghadap sana deh”

Aku memutar tubuhku membelakangi Shinta yang duduk dibansal

“Julia, Arfi baik baik aja kan? Dia masih ganteng kan?” Bisiknya dikupingku. Aku segera membalik tubuhku menatap kesal Shinta. Apa apaan dia, perjanjiannya baru disepakati tadi tapi dia sudah melanggarnya. Shinta tertawa cukup keras

“Ada apa? Aku gak salah kan? Tadi kamu bilang jangan tanyakan apapun soal Arfi didepan kamu, tadi kan aku dibelakang kamu” ucap Shinta masih dengan tertawa kecil

Aku menatap Shinta yang masih tertawa. Kubiarkan ia sampai berhenti tertawa

“Shinta, aku pamit dulu! Kamu nyebelin!” Ujarku mengambil tasku di kursi lalu berjalan menghampiri Arfi

“Udah?”

“Ayo pulang!”

Aku berjalan keluar lebih dulu yang di ikuti Arfi dibelakangku. Aku tidak memperdulikan ucapan ucapan Arfi yang berbicara pada El menanyakan ada apa denganku. Moodku sedang tidak bagus untuk bercanda. Ugh! Shinta nyebelin!

*

Author PoV

Pagi ini dirumah Arfi tepatnya samping rumahnya, ada sebuah ruangan yang cukup besar dan tertutup. Hanya Arfi dan Julia yang mengetahui ini. Itu pun Julia secara tidak sengaja menemukan tempat ini. Hmm sepertinya Arfi memang penuh dengan misteri

“Teman dari istri saya kecopetan dijalan Kenanga III kemarin. Dia lagi mau cek up kandungannya eh dompetnya hilang. Dia bilang ke istri saya kalau ada dua orang yang ngikutin dia sebelum masuk ke klinik” ucap Arfi berdiri didepan semua anak buahnya

“Dan tugas kalian mencari pelaku pencopetnya, bawa dia ke gedung tapi jangan dipukul apalagi di aniaya” sambung Arfi memberi perintah pada anak buahnya

Sekitar 15 orang anak buah Arfi berdiri berjajar didepan Arfi. Masing masing anak buah Arfi adalah pentolan dari beberapa daerah yang berarti mereka masing masing memiliki anak buah

“Kalian sudah mengerti?”

“Boss, kalau kita ketemu pelakunya terus dia ngelawan gimana?” Tanya salah satu anak buah Arfi

“Bilang saya mau ketemu sama dia. Udah itu aja, kalo dia masih gak mau juga bikin pingsan aja tapi jangan digebukin”

“Baik boss”

Arfi menganggukkan kepalanya

“Oke secepatnya kabarin saya”

Para anak buah Arfi membubarkan diri. Arfi kembali ke dalam rumahnya menemui Julia

“Gimana?”

“Aku udah instruksiin, kamu ada digroup aku kan?”

“Ada, nomer masing masing anak buah kamu juga ada”

Arfi duduk meminum tehnya

“Nanti kamu kirimin apa aja yang ada di dalem dompetnya Savira, termasuk jumlah uangnya”

Julia menganggukkan kepalanya mengerti. Arfi menggandeng tangan Julia keluar.

“Sayang, kita belanja bulanan aja yuk” tanya Julia saat mereka sudah duduk diteras rumah

“Emang keperluan bulanannya habis”

“Kalo nggak habis aku gak minta”

Arfi meminum tehnya lalu menatap Julia yang memanyunkan bibirnya

“Oke tapi cium dulu”

Arfi tersenyum penuh arti, Julia menatapnya sebal

“Kamu mah istrinya minta ditemenin belanja aja pake syarat segala sih” kesal julia namun ia tetap mendekatkan dirinya dan mendaratkan bibirnya dibibir Arfi.

Beberapa menit mereka berciuman Julia melepas ciumannya

“Udah ah nanti dilihat orang.. ayuk temenin aku belanja”

Julia berdiri dari duduknya lalu terdiam menatap dua orang anak buah Arfi yang berdiri diam didekat tembok pintu masuk

“Kalian ngapain disitu?”

Arfi menoleh ke belakang

“Maaf Nya, kita mau laporan”

“Laporan apa?” Tanya Arfi

“Anu.. ini boss dompetnya sama pencopetnya sudah ada di tangan orang kita. Mau dibawa kesini sekarang?”

Julia tidak percaya ini. Tidak ada sampai satu hari dompet Savira yang dicopet bisa kembali

“Pastikan gak ada yang hilang isi dompetnya. Sepeser pun” ujar Arfi

“Udah bos, dijamin gak ada yang hilang sepeser pun. Pencopetnya mau dibawa kesini atau….”

“Jangan, saya berubah pikiran. Bawa aja ke kantor polisi”

“Baik bos”

“Eh tunggu…”

Arfi berdiri menghampiri kedua anak buahnya

“Kalian berdiri disini sejak kapan?”

Mereka saling tatap lalu kembali menatap Arfi

“Sejak si bos dan nyonya….” salah satu anak buah Arfi menyatukan kedua tangannya. Itu membuat pipi Julia memerah, tidak salah mereka melihat apa yang dilakukan oleh Arfi dan Julia

“Kalian sudah menikah?” Tanya Arfi kembali. Mereka menggelengkan kepala

“Kenapa?”

“Kalau saya udah ada calonnya tapi dia gak tau” ujar salah satu anak buah Arfi

“Bagus, kamu cepet cari jodoh biar bisa kaya saya. Kissing kissing apalagi kalau malem bisa goyang”

Arfi tertawa begitu juga dengan kedua anak buah Arfi. Tentu saja itu membuat Julia kesal

“Arfi!!”

Seketika Arfi terdiam begitu juga dengan anak buahnya

“Kalian berdua sana pergi! Kamu Arfi! Masuk ke dalam!” Ucap Julia yang tentu saja langsung dilakukan oleh Arfi dan kedua anak buahnya

“Nyonya ternyata galak juga ya, Bos Arfi aja sampai takut”

“Iya, saya aja takut sama bos Arfi, eh bos Arfi takut sama Nyonya. Makanya kita jangan macem macem sama Nyonya, abis bisa bisa kita”

“Kamu benar”

Begitu obrolan kedua anak buah Arfi yang sudah dalam perjalanan menuju ke suatu tempat dimana dompet dan pencopet dompet Savira berada

Dugaan Arfi ternyata benar, Julia tidak hanya memintanya menemani berbelanja tapi juga nonton bioskop. Bukan soal bioskopnya, tapi lebih ke film apa yang dipilih oleh Julia

Julia memilih film bertema anak ABG jaman sekarang. Begitu didalam theater pun kebanyakan dari mereka anak anak remaja yang membawa pasangan masing masing bahkan ada yang masih memakai seragam putih abu abu. Tentu ini membuat Arfi sangat malu tapi ia tidak bisa berbuat banyak saat Julia mengancam “kamu gak mau nemenin aku, aku gak mau nemenin tidur kamu” cukup ampuh untuk membuat Arfi melakukan apapun yang diinginkan istrinya itu.

Menahan malu itu lebih baik bagi Arfi dibanding harus menahan sesuatu yang kental yang ingin selalu dikeluarkan jika tiba saatnya. Dan sesuatu itu hanya bisa keluar lebih nikmat jika dilakukan bersama Julia. Gak usah diperjelas kalian sudah pasti paham kan?

Mobil hitam berhenti didepan gerbang, satpam pun membuka pintu gerbang membiarkan mobil hitam itu masuk. Tidak lupa, satpam tersebut membukakan pintu untuk tuan dan nyonya

“Loh pak, Ahmad mana?”

“Maaf Den, Ahmad lagi tidur siang, Tono lagi dibelakang buang air”

Dia adalah Arfi, ia menatap bangku kayu panjang yang terletak di depan pos satpam melihat seseorang yang tertidur disana. Arfi menarik nafasnya lalu menghampiri orang itu

Brakk

Orang yang tengah tidur tersebut langsung terbangun saat Arfi menendang bangku kayu nya hingga terjatuh

“Saya suruh kamu jaga rumah saya! Bantu pak Imron! Bukan tidur!!”

Suara keras Arfi membuat Julia yang sudah berdiri didepan pintu menoleh ke arah pos satpam. Ia menyerahkan belanjaannya semua pada Bi Imas dan Savira yang ikut keluar

“Harusnya kamu yang bawain belanjaan istri saya bukan pak Imron! Pak Imron cukup bukain gerbang rumah saya!”

“Permisi bos, maaf saya dari belakang, ada apa ini?” Satu lagi anak buah Arfi datang

“Kasih tau sama temen kamu, jangan tidur saat kerja. Kalo mau santai suruh dia ke pantai sekalian cuti selamanya!”

“Iya bos”

“Kamu! Saya gak ingin melihat kamu tidur saat jam kerja, ngerti!”

“Ngerti bos”

Bugh

Arfi memukul anak buahnya dengan satu tangan tepat di perutnya membuat anak buahnya tersungkur merasakan nyeri diperutnya

“Arfi!! Kamu apaan sih main pukul pukul aja”

Julia membantu membangunkan anak buah Arfi yang tersungkur jatuh. Melihat itu Arfi pergi dari sana.

“Kamu gpp? Lain kali jangan tidur lagi ya” ujar Julia lembut

“Iya Nya, maafin saya”

“Iya gpp”

Julia melihat ada sedikit darah yang keluar dari dahi Ahmad akibat Arfi menendang bangku kayu yang membuat Ahmad langsung jatuh ke tanah

Julia berdiri mengeluarkan dompetnya dan mengambil uang lima puluh ribuan

“Tono, ini uang nanti kamu belikan obat betadine atau apa gitu buat luka Ahmad ya”

“Gak usah Nya, saya gpp kok ini salah saya juga” Ujar Ahmad

Julia tersenyum

“Gpp kamu kerja disini itu artinya tanggungjawab saya juga apalagi itu karena perbuatan suami saya. Ambil ini”

Mereka masih enggan mengambil uang dari tangan Julia

“Mau ambil atau saya laporin ke suami saya karena kalian membangkang sama saya?” Tatapan Julia seketika berubah

“Nggak Nya, iya iya, terima kasih ya Nya”

Julia tersenyum lalu berbalik meninggalkan Ahmad dan Tono. Mereka kembali duduk dikursi kayu panjang. Pak Imron kembali dari dalam ikut duduk bersama mereka

“Kamu kenapa?” Tanya Pak Imron

“Dia abis dipukul sama bos Arfi karena tidur dijam kerja” ujar Tono

“Pak Imron kenapa gak bangunin saya sih tadi, saya jadi kena pukul kan masih nyeri tau”

Imron tertawa kecil sambil menggelengkan kepalanya

“Saya mana tau si Aden mau pulang daripada bangunin kamu kelamaan nanti saya yang dimarahin duluan kamunya aja lagian tidur”

“Jadi ini uang mau diapakan?” Tanya Tono

“Itu uang dari siapa?” Tanya Imron

“Dari Nyonya Julia, buat ngobatin kepala saya yang berdarah nih kejedot tanah”

Tono dan Imron tertawa mendengar itu

“Kalian kenapa ketawa? Emang lucu? Saya kesakitan kalian ketawa”

“Udah udah mending si Ahmad dibeliin betadine yang tiga ribuan aja, selebihnya beliin kopi sama udud kalo cukup” usul Imron

“Setuju” Tono bersemangat

“Saya yang kesakitan kalian yang nikmatin sama sama sih”

Lagi, Tono dan Imron kembali tertawa.

Dibalkon depan lantai dua Arfi sedang memperhatikan kedua anak buahnya dan pak Imron di pos satpam. Senyum kecil tercetak dibibir Arfi melihat Ahmad yang ternyata baik baik saja meski di pukul olehnya

“Aku salah gak ngasih uang ke mereka buat beli obat Ahmad yang kamu tendang bangkunya sampai jatuh?”

Arfi berbalik melihat Julia melangkah mendekat ke arahnya. Arfi tersenyum

“Nggak kok, aku rasa mereka gak akan belikan obat seperti yang kamu maksudkan, tapi… coba kamu lihat aja sini”

Julia berdiri disamping Arfi melihat ke arah pos satpam dimana Tono, Ahmad dan Imron sedang menikmati kopi mereka. Sesekali Tono meneteskan obat merah ke luka Ahmad tentu hasilnya sangat berantakan, obat merahnya menetes hingga pipi Ahmad mereka kembali tertawa

“Badan mereka berdua gede tapi keliatan konyol ya” ujar Arfi

“Kaya siapa?”

Arfi melirik ke arah Julia

“Aku gak konyol Julia”

“Bukan aku yang ngomong ya..”

Arfi hanya mendengus kesal membuat Julia tertawa kecil detik berikutnya ia mencium pipi Arfi

“Kamu gendutan nih, pipinya jadi tembem jadi gemes aku” ujar Julia

“Tapi masih ganteng kan?”

“Kapan pernah ganteng kamu?”

Lagi, Arfi mendengus kesal dibuat oleh Julia

“Gpp gpp dibilang jelek yang penting dicintai sama Julia Anantha”

Julia tersenyum lalu mengalungkan tangannya dileher Arfi mereka kembali berciuman. Arfi melumat bibir Julia lembut. Tangannya tidak tinggal diam dan mulai bergerak ke area sensitif Julia membuat Julia melepas ciumannya dan mendesah pelan

“Arfi, aku kangheenn..”

Arfi tersenyum lebar. Langsung saja ia menggendong ala bridal style tubuh Julia ke kamarnya.

Dikamar permainan mereka berlanjut. Hingga mereka tanpa sehelai pakaian yang menempel pada baju mereka.

“Siap hidangan utamanya sayang?”

“Arfiiihh.. cehpetaanhh..”

Perlahan Arfi mendorong benda pusakanya memasuki liang milik Julia. Hanya sekali dorong milik Julia mampu melahap seluruh benda pusaka milik Arfi yang terbilang cukup besar untuk ukuran orang asia(?)

Julia menjambak rambut Arfi. Desahannya lolos begitu saja seiring gerakan pinggul Arfi yang mengocok liang kewanitaannya. Arfi juga bermain di area dada Julia, ia menghisapnya secara bergantian. Julia melingkarkan kedua kakinya memeluk pinggul Arfi yang bergerak diselangkangannya

Akibat permainannya, Julia mencapai klimaksnya hingga beberapa kali. Benar benar permainan yang memabukkan.

Setelah permainn yang cukup melelahkan. Kini mereka berdua terbaring dengan Julia yang memeluk lengan Arfi. Mereka masih dalam keadaan tanpa sehelai benang pun ditubuh mereka

Hape Arfi berbunyi segera ia mengangkatnya agar tidak mengusik tidur Julia

“Ya apa?”

“Gue sama ade lo udah ditanah air lagi. Kemungkinan besok kita akan ketemu sama lo. Sebelum itu malem ini gue mau ketemu sama lo dulu”

“Oke, lo kasih tau aja dimana tempat dan jamnya”

“Nanti gue sms. Sekalian gue mau balikin anak buah lo yang ngikutin gue dan Rose melulu”

“Gue gak cukup percaya sama siapapun kalau adik gue akan baik baik aja tanpa gue”

“Hehehe iya iya deh. Sayang banget sama ade lo. Sekalian gue mau ngadain kesepakatan”

“Kesepakatan apa?”

“Nanti malem kita bicarain. Udah ya, gue nemuin Rose dulu diluar”

Tadi adalah Ferdi yang menelfon Arfi. Hati Arfi sedikit senang karena Rose sudah kembali ke indonesia. Ia perlu berterima kasih pada Ferdi yang berhasil membawa adiknya kembali

“Siapa sayang?”

“Eh? Biasa, laporan anak buahku”

Julia menatap Arfi dengan mata sayu khas orang bangun tidur. Arfi kembali mencium bibir Julia, kedua tangan Julia pun dikalungkan ke leher Arfi memperdalam ciuman mereka. Sepertinya mereka akan memulai ronde baru sebelum Arfi pergi menemui Ferdi nanti malam

Hah! Benar benar darah muda yang membara. Btw si Arfi doyan makan daging kambing sama telor setengah mateng kali ya, kuat amat. Atau emang doyan? Oke, Arfi yang kuat Julia yang doyan. Benar benar pasangan yang serasi dan panas tentunya.

***

Siang ini Fahrie telah selesai dengan makan siangnya. Meski penampilannya kini berdasi Fahrie tidak sungkan untuk makan di warteg untuk mengisi perutnya yang kosong. Bukan tidak mampu melainkan Fahrie tengah sibuk menabung untuk membelikan rumah baru bagi Savira dan Theo. Terlebih kini Savira tengah mengandung anak kedua mereka.

Fahrie berjalan di trotoar jalan karena jarak antara kantor dan wartegnya cukup jauh. Melewati halte tempat orang menunggu bis datang Fahrie masih berjalan hingga beberapa puluh meter lagi

Saat langkahnya akan melewati sebuah gang tiba tiba saja tubuhnya ditarik ke dalam gang yang sepi

“Dompet, hape, semuanya!”

Dua orang berbadan besar menggunakan baju hitam mengampit tubuh Fahrie di tembok. Fahrie menoleh sedikit ke bawah melihat benda tajam siap menembus kulit perutnya jika ia melakukan perlawanan. Ia tidak punya pilihan

Fahrie menyerahkan hape dan dompetnya. Begitu didapat apa yang di inginkan, kedua pria berbadan besar tersebut melempar tubuh Fahrie ke samping dan meninggalkannya. Fahrie bangun yang sempat tersungkur hendak teriak tapi di urungkannya saat melihat dua pria berbada besar lainnya menghampiri dua orang yang menodong Fahrie barusan

“Balikin hape dan dompetnya!” Ujar salah satunya dengan tegas

“Tapi bang…”

“Dia itu tinggal sama putra sulung Bram Juanto. Kalian macam macam saya habisin kalian!”

“Iya bang..”

Kedua tukang todong tadi menghampiri Fahrie lalu memberikan kembali dompet dan hapenya

“Maaf mas, saya gak tau kalo situ anggota kerabat anak dari Juanto, sekali lagi maafin kami mas”

Fahrie yang bingung sambil mengambil hape dan dompetnya. Pandangannya beralih kepada dua orang yang berbadan tidak kalah besar yang berdiri beberapa meter darinya. Mereka menghampiri Fahrie

“Kalau operasi itu lihat lihat! Kalau saya denger anggota, kerabat atau siapapun yang masih berhubungan dengan Juanto ditodong kalian yang saya cari!! Pergi!!”

“Iya bang, maaf bang…”

Kedua orang yang menodong Fahrie lari dengan cepat

“Pak Fahrie gak kenapa napa?”

Fahrie menggelengkan kepalanya

“Saya Arifin, dan ini Nur. Kami ditugaskan untuk melindungi Pak Fahrie oleh Bos Arfi”

“Terima kasih ya..” ucap Fahrie sambil mengganggukkan

“Ayo, kami antar pak Fahrie kembali ke kantor”

Fahrie mengangguk lalu berjalan ditengah diantara Arifin dan Nur. Ia bersyukur ke dua anak buah Arfi datang menolongnya tadi, jika tidak mungkin ia sudah menjadi korban todong.

Pertanyaan baru muncul dalam kepalanya, kenapa Arfi begitu di takuti oleh orang berbadan besar seperti mereka. Apa mereka dibayar untuk melakukan penjagaan pada siapapun yang masih berkerabat dengan nama Juanto seperti yang dikatakan Arifin.

Ini bukan pertama kalinya, Dompet Savira yang hilang pun dapat kembali kurang dari satu hari. Itu sangat mengagumkan sekaligus membuatnya penasaran. Ada banyak hal yang ingin ditanyakan olehnya ke Arfi namun ia masih sangat malu menanyakan hal semacam itu.

Terlalu pagi baginya untuk mengetahui terlalu banyak soal Arfi dan keluarganya. Baginya Arfi sudah banyak menolongnya, membalas kebaikan Arfi saja ia belum mampu kini siapa dirinya yang hendak mengetahui banyak soal Arfi dan keluarganya.

Sampai dikantor Fahrie mengerjakan pekerjaan seperti biasanya. Sudah setengah jam berlalu sejak ia kembali ke kantor. Hapenya berdering kecil tanda ada pesan masuk. Ia melirik sedikit ke layar hapenya. Nama Savira tertera disana dengan segera ia membuka pesan yang dikirimkan Savira padanya

“Tadi kata Julia, kamu hampir jadi kena todong ya dideket kantor? Makanya kalo makan siang jangan jauh jauh. Aku khawatir :(”

Senyum kecil disunggingkan oleh Fahrie. Ia segera membalas pesan dari istrinya tersebut

“Iya, puji Tuhan aku masih dilindungi. Kok Julia tau?”

Tak seberapa lama pesan dikirim oleh Fahrie, hapenya kembali berdering kecil

“Julia dapet kabar dari Dikdik anak buahnya Arfi yang barusan kerumah. Arifin sama Nur kan yang nolong kamu”

Fahrie terdiam sejenak. Rasa penasarannya makin besar

“Iya, aku kerja dulu ya”

Tidak ada lagi pesan balasan dari Savira. Fahrie mendengus sedikit kesal.

Itu membuat Fahrie berpikir bahwa Arfi memiliki anak buah dan tersebar dimana mana. Atau masing masing dari mereka hanya mematai matai setiap kerabat dan anggota keluarga Juanto. Fahrie masih belum paham dan mengerti tentang itu. Sepertinya rasa penasarannya harus ia kubur dalam dalam

*

Ferdi menuang minumannya ke gelas melihat pria didepannya duduk santai.

“Gak usah cemberut gitu kakak ipar, kemarin batal karena ade lo juga”

Pria didepan Ferdi adalah Arfi. Arfi mendengus kesal pasalnya Ferdi membatalkan pertemuannya kemarin malam karena Rose tidak ingin Ferdi meninggalkannya sendirian di apartementnya

“Terus apa rencana lo selanjutnya?” Tanya Arfi. Ferdi menuangkan kembali minumannya, kali ini ia juga menuangkan minuman ke gelas Arfi

“Sebelumnya sorry, gue nanya nih orang tua lo udah cerai?”

“Udah, sidang pertama. Masih ada sidang kedua nanti”

Ferdi menganggukkan kepalanya

“Gue akan bawa Rose menemui lo tapi gak dirumah. Bukan pertemuan pribadi”

Alis Arfi menaut

“Maksud lo?”

“Dalam pertemuan itu bukan cuma lo gue dan Rose. Tapi kita semua, itu bikin suasana jadi lebih hangat”

Arfi masih menatap Ferdi dengan tatapan tajamnya. Sedikit pun Ferdi tidak gentar ditatap seperti itu oleh Arfi

“Gini, gue akan atur semuanya. Soal acara dan tempat di apart gue. Lo tinggal nunggu kabar gue aja. Gue gak ingin Rose tertekan dengan kehadiran lo sendiri. Ini semua gue udah pikirkan, dan 99% akan berhasil”

“Jika 1% nya membalik keadaan gimana?”

Ferdi menatap Arfi remeh

“Apartement gue segede apa? Kalau emang begitu melihat lo Rose akan kembali menghindar apa gunanya lo disebut kakak kalau lo gak bisa menghadirkan ketenangan bagi ade lo hm?

Arfi menyandarkan tubuhnya dikursi. Ia meminum habis Wine digelasnya

“Terus gimana dia saat di belanda?” Tanya Arfi

“Dia baik, tapi gak sebaik saat didekat lo…”

Ferdi meminum Wine nya

“Dia tersenyum hanya karena bibirnya bisa tertarik berlawanan arah tapi hatinya nggak. Beberapa malam dia selalu ngelindur memanggil nama lo. Dia merindukan lo, sangat”

Hati Arfi menghangat mendengar itu. Ia pun sama merindukan Rose dan sikap riangnya meski Rose terbilang gadis yang jutek. Tapi tidak jarang Rose bersikap sangat manja pada Arfi

“Gue kangen sama sifat manjanya” ucap Arfi mengalihkan pandangannya

“Itu juga hal yang gak pernah gue lihat dari Rose selain sama lo”

Mereka saling terdiam beberapa menit sampai akhirnya Ferdi berdiri

“Gue balik dulu kasihan Rose sendirian di apartemen”

Arfi menganggukkan kepalanya. Ferdi berbalik dan melangkah pergi

“Ferdi..!”

Langkahnya terhenti lalu berbalik

“Apa?”

“Gue percayain sepenuhnya ade gue sama lo”

Arfi tersenyum dan itu adalah senyum pertama yang Arfi sunggingkan padanya. Ferdi mengacungkan kedua jempolnya lalu berbalik melangkah meninggalkan Arfi

Sampai di parkiran Ferdi menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada yang mengikutinya lalu langkahnya cepat masuk ke dalam mobil Mercedes benz merah miliknya

Bugh

“Gimana?” Tanya seseorang

“Semua berjalan lancar. Gak ada yang berubah, kakak kamu masih sangat menyayangi kamu”

Dia adalah Rose yang menunggu Ferdi didalam mobil.

“Aku tau itu dan aku juga begitu. Lalu bagaimana dengan kita?”

Ferdi menoleh lalu tersenyum lebar ke arah Rose

“Kita akan menikah setelah ini”

Senyuman Ferdi menular pada Rose. Ferdi merentangkan kedua tangannya yang disambut oleh Rose.

Awalnya pertemuan ini adalah rencana Ferdi, namun karena ke bodohan Ferdi, Rose mengetahui semua rencananya. Malam itu saat Ferdi sedang bicara dengan Arfi via telfon Rose mendengar semuanya.

Rose sempat marah itulah mengapa Ferdi membatalkan pertemuannya dengan Arfi dimalam sebelumnya. Setelah menjelaskan segalanya, bersyukur Rose mau mengerti namun dengan syarat sedikit perubahan di rencana Ferdi.

Mobil berjalan meninggalkan tempat pertemuannya dengan Arfi dengan Rose yang memeluk lengan Ferdi. Senyum Ferdi tidak pernah luntur. Sedikit lagi gadis yang ia cintai akan menjadi miliknya selamanya.

*

Arfi terduduk dipinggir pantai. Suara gemuruh ombak tidak mengusiknya sama sekali. Pandangannya jauh menatap matahari yang sebentar lagi akan tenggelam.
Ia meneguk minuman kalengnya hingga habis setelahnya ia buang ke tempat sampah. Ia melangkah meninggalkan tempatnya. Pandangannya teralih pada seorang anak kecil yang bermain pasir dengan kedua orang tuanya.

Suasana begitu hanya, sang ayah menggendong pundak anaknya dan berlarian diatas pasir bersama sang ibu.
Arfi mengalihkan pandangannya lalu melanjutkan langkahnya. Saat hampir sampai dimobilnya, kembali pandangannya teralih ke tukang es krim dipinggir jalan

“Kak! Aku mau es krim coklat!” Teriak seorang anak kecil perempuan kepada kakak laki lakinya

“Uangnya belum cukup, kakak ngamen dulu ya bentar kamu tunggu disini” jawab sang kakak laki laki dengan menenteng gitar kecilnya

“Gak mau kakak! Aku mau sekarang”

Sang kakak terus membujuk adiknya namun sang adik terus merengek minta dibelikan es krim.
Langkah Arfi menghampiri mereka berdua

“Hey, kalian mau es krim?”

Keduanya menatap Arfi heran. Sang anak perempuan kecilnya pun memeluk sang kakak takut

“Om siapa?” Tanya sang kakak laki laki

“Saya Arfi. Kalian mau es krim yang disana? Ayo saya belikan, kita makan es krim bersama”

Namun keduanya masih enggan bergerak dan menatap Arfi takut

Arfi tersenyum

“Oke kalian tunggu sini”

Arfi berjalan meninggalkan kakak beradik itu menuju tukang es krim. Lalu kembali bersama tukang es krimnya yang mendorong gerobaknya

Arfi mengambil es krim coklat lalu djilat sedikit atasnya

“Saya suka es krim coklat. Kalian suka rasa apa?” Tanya Arfi berjongkok dihadapan mereka

“Ak..aku coklat… om” jawab anak kecil yang masih betah berada dibelakang sang kakak

Arfi tersenyum lalu mengambil es krim coklat dan diberikan pada anak kecil tersebut

“Kalau kamu apa?”

“Ah gak usah om, adik saya senang juga udah cukup bagi saya”

Arfi tersenyum. Ia berdiri lalu berbicara pada tukang es krim tersebut lalu kembali berjongkok dihadapan mereka

“Satu gerobak es krim ini milik saya sekarang, dan saya memberikan semuanya pada kalian berdua”

Betapa terkejutnya mereka berdua. Arfi hanya menganggukkan kepalanya. Ia senang menyukai sang kakak laki laki yang ingin membuat adiknya senang. Itu mengingatkannya pada Rose, adiknya.

“Nama kalian siapa?”

“Aku Feri om dan adik saya Fera”

Arfi mengangguk. Mereka memakan es krim bersama dipinggir trotoar. Meski pembicaraan masih didominasi oleh Arfi yang selalu bertanya dengan mereka berdua

“Hey kalian!!”

Arfi terkejut, kedua anak itu berdiri terlihat panik melihat siapa yang memanggil mereka

“Gue gak suruh lo berdua enak enakan! Mana setoran buat gua!”

Arfi berdiri menatap pria bertato tersebut

“Maaf bang, aku belum–”

“Dia gak akan pernah nyetor apapun sama lo lagi” ucap Arfi lalu melangkah mendekat. Ia berdiri didepan kedua kakak beradik lalu menatap pria bertato didepannya

“Beraninya, lo siap–” Pria bertato tersebut menatap Arfi. Sedikit rasa gentar dirasakan olehnya. Ia tau, sangat tau siapa Arfi.

“Mereka jadi tanggungjawab gue dan akan gue bawa mereka ke panti. Jadi lo gak usah repot ngurus mereka” ucap Arfi penuh penekanan

Arfi berbalik menggandeng kedua anak kecil tersebut ke dalam mobilnya lalu pergi meninggalkan begitu saja pria bertato tersebut

Baginya, lebih baik ia kehilangan kedua anak kecil tersebut dibanding harus berurusan dengan anggota keluarga Juanto. Itu sama saja mencari mati begitu pikirnya

“Heh! Si kembar beda kelamin kemana?” Pria lain datang bertanya

“Mereka dibawa orang pergi”

“Kok lo biarin, takut lo?”

Pria bertato itu menoleh ke temannya itu

“Kalo lo mau ambil lagi si Fera Feri itu silahkan gue gak ikut campur. Mereka di bawa sama orang Juanto”

Pria bertato tersebut pergi meninggalkan temannya yang berdiri diam

“Ogah!”

*

Author PoV

Arfi berjalan dilorong apartement sambil menggulung lengan kemejanya. Ia terlihat santai berjalan sambil sesekali tersenyum ketika ada pelayan apartement yang berpapasan dengannya. Ya, ini adalah apartementnya sebelum ia memutuskan untuk pindah kerumah

Sedangkan yang lain sudah berada diapartementnya tidak terkecuali Julia yang sedang menggendong Elaine

“Kak, Kakakku dateng gak ya? Kata Ferdi dichat gak dibalas” Tanya Rose yang duduk disebelahnya. Kekhawatiran itu pun sama yang dirasakan oleh Julia. Pasalnya ia sudah menghubungi Arfi sejak sore tadi namun belum ada kabar darinya

Julia tersenyum “pasti dateng kok, jangan khawatir ya” hanya itu yang bisa dikatakan oleh Julia untuk menghibur Rose

Ferdi datang membawa 3 gelas minuman lalu duduk disofa depan Julia dan Rose

“Jangan khawatir, jakarta macet. Mungkin kamu kebiasaan dibelanda ya melihat jalanan kosong gitu”

Rose menekuk bibirnya menatap malas pada Ferdi

Ting tong

“Nah itu pasti Arfi”

Ferdi buru buru berlari ke arah pintu dan membukanya. Tak lama Ferdi kembali membawa dua kotak pizza

Rose berdiri lalu berjalan ke kamar. Ia kecewa karena kakaknya tak kunjung datang. Ferdi pun merasakan apa yang dirasakan Rose. Ia sudah memberitahu pada Arfi untuk datang pukul 4 sore namun hingga malam pun Arfi tidak menunjukkan batang hidungnya. Bahkan hapenya mendadak sulit dihubungi

“Ah sialan!” Geram Ferdi

Julia hanya diam sambil mencoba terus menghubungi Arfi. Hasilnya sama, tetap nihil. Arfi tidak membalas maupun menelfonnya balik

Ting tong

“Kali ini biar aku aja, kamu tunggu sini”

Julia meletakkan El pada keranjang bayi lalu berjalan ke arah pintu

“Permisi, service room. Ini jadwal untuk membersihkan kamar”

Seseorang berbadan tegap dengan suara serak berbaju biru serta topi dan masker yang dikenakan berdiri didepan Julia. Julia mempersilahkan ia masuk untuk membersihkan apartementnya

“Masih belum bisa dihubungi kak?”

Julia menggelengkan kepalanya. Ferdi berpikir apa yang salah. Terakhir ia bertemu dengan Arfi, pria itu menyetujui rencananya. Ferdi berencana mengatakan pada Arfi bahwa kehadiran Arfi diapartementnya malam ini tanpa sepengetahuan Rose, tetapi ini juga rencana Rose agar ia bisa mendapat restu dari kakaknya

Tanpa mereka ketahui, Arfi sudah lebih dulu tau rencana adik dan kekasihnya tersebut. Ia hanya tersenyum begitu mengethainya

Klek

“Permisiii…epribadih home”

Suara gaduh kembali terdengar dari pintu. Beberapa orang aneh masuk ke dalam apartementnya. Ya mereka adalah Iwan, Okta Gracia dan Agus.

“Kok kalian kesini, Arfi mana?” Tanya Julia

Mereka saling pandang

“Lo gak tau Jul, Arfi kan….” tangan Gracia disikut oleh Agus

“Arfi kenapa?”

“Ah lo gak bisa banget jaga rahasia Gracia”

Ferdi yang mendengar itu ikut menghampiri mereka

“Bang Arfi kenapa Bang?” Tanya Ferdi pada Iwan. Iwan hanya menggelengkan kepalq

“Arfi kenapa! Jawab!”

Mereka semua terdiam. Julia memandang merek satu persatu. Mereka hanya menundukkan kepalanya

Brakk

“Pelayanan macam apa ini?” Rose keluar kamarnya sedikit berlari

“Hey kenapa sayang?”

“Petugas pembersih kamar ini duduk disisi kasurku saat aku tertidur. Begitu ku buka mataku dia menatapku sangat dekat”

“Bajingan!”

Ferdi menghampir petugas pembersih itu hendak memukulnya

“Eh eh eh tahan dulu bossku”

“Apa lagi bang? Jelas dia mau merkosa pacar gue”

Julia memperhatikan petugas pembersih tersebut dari bawah hingga atas. Ia memicingkan matanya, ia memiliki postur yang mirip dengan Arfi. Terlebih ia memalingkan wajahnya begitu tau Julia menatapnya secara intens

“Kita laporin aja sama management apartemen ini biar dipecat dia” ucap Rose

“Pecat apaan sih elah” Gracia berjalan lalu berdiri disamping petugas pembersih itu

“Lo gak tau dia Julia?” Tanya Gracia kembali. Julia kembali memperhatikan petugas tersebut. Ia membulatkan matanya begitu mereka beradu tatap beberapa detik. Ia tau, ia mengenali alis mata pria itu

“Maafkan saya, saya gak bermaksud–”

“Arfi…”

Semua terdiam saat Julia menyebut nama Arfi. Ia melangkah mendekat ke arah petugas itu lalu menatapnya lekat. Petugas itu membuang pandangannya ke arah lain

Detik selanjutnya Julia terkekeh

“Kamu ngapain pake baju beginian sih? Bajunya kegedean lagi”

Rose menghampiri petugas itu

“Udah buka Fi ah ketauan drama lo tolol”

Pluk

Iwan membuka topi yang dikenakan Arfi. Rose terdiam melihat Arfi yang kini berdiri dihadapannya.

“Kak… Rose kangen”