Tentang Kita Part 46

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 46 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 45

Aku berdiri menatap pantulan tubuhku dicermin. Rambutku yang sudah memanjang sepertinya. Hmm bagaimana jika rambutku panjang. Sudah lama sekali sejak tinggal dikota aku tidak pernah memanjangkan rambutku. Kini panjang rambutku sudah sepundak lebih dikit. Ku buka handuk yang membelit tubuhku, ya sejak mandi aku belum memakai pakaianku.

Oh astaga, ada bekas lipatan diperutku, apa berat badanku naik? Mungkin setelah selesai menyusui nanti aku akan mengatur pola makanku biar gimana aku tidak ingin egois, Elaine masih membutuhkan nutrisi yang cukup

“Kamu ngapain telanjang gitu?”

Aku melihat Arfi dari pantulan cermin. Ia menghampiriku lalu mengecup pundakku. Tangan nakalnya mulai bermain disekitaran dadaku lalu meremasnya

“Hey hey hey siapa yang akan ke kantor hari ini?”

Cup

“Kamu selalu menjadi favoriteku”

Aku membiarkan Arfi memainkan tangannya di kedua dadaku. Meski ia memakai celana aku tetap bisa merasakan sesuatu mengeras menekan belakangku. Aku membalik tubuhku menghadap Arfi dan mengalungkan tanganku dilehernya

“Kamu tau, ia sangat suka saat disentuh oleh pemiliknya. Kemarilah sayang”

Tanpa menunggu Arfi membungkukkan tubuhnya sedikit dan menghisap kedua gundukan milikku secara bergantian. Aku menggigit bibir bawahku. Ku kecup kening Arfi sekilas. Beberapa saat kemudian ia melepasnya lalu mengecup keningku

“Sudah cukup sayang, Kamu tau, siang ini aku ada meeting dengan client besar. Dan aku gak ingin kamu mengacaukan hariku”

Aku terkekeh

“Kemarilah sayang, biar ku perbaiki simpul dasi kamu”

Aku membenarkan posisi dasi Arfi. Merapihkan kerahnya yang sedikit berantakan

“Sempurna” ucapku

Arfi menarik nafasnya dalam dalam

“Hey, ada apa, ada yang mengganggu kamu?” Tanyaku

“Gak ada. Aku hanya gugup, hari ini aku ada pertemuan dengan client besar. Dan client ini juga pernah bermitra dengan perusahaan papahku”

Aku menangkup wajahnya agar ia menatapku

“Hey, kita pernah bicarain ini. Kamu pasti bisa, aku yakin itu. Kamu hampir menyelesaikan semuanya dengan sempurna. Dan sekarang tunjukan pada mereka kemampuan kamu”

Arfi tersenyum lebar menularkan senyumnya padaku.
Cup

“Makasih ya, aku mencintai kamu”

“Sudah seharusnya begitu”

Arfi mendengus kesal aku malah terkekeh melihatnya

“Pakai baju kamu. Jangan sampai aku kehilangan konsentrasiku karena pagi ini”

“Hehehe ada hadiah untuk kamu malam ini sayang”

“Julia, kamu bukan hanya istriku. Tapi kamu pengaruh buruk bagiku. Dan parahnya aku gak sanggup menolak kamu”

Aku tertawa mendengarnya lalu berjalan ke lemari mengambil pakaian lalu memakainya. Arfi terlihat sudah selesai mengenakan sepatunya. Ia tampan. Sangat tampan. Setelahnya kami turun ke bawah untuk sarapan

*

Author PoV

Rose berjalan disekitaran taman kota. Ia duduk disalah satu bangku taman melamun memikirkan hal yang terjadi padanya belakangan ini. Es krim yang ia pegang mulai mencair. Tetesan itu membasahi celana yang ia kenakan. Bukan, itu bukan tetesan dari es krim yang mencair melainkan air matanya yang mencair yang menetes.

Ya, di bangku taman dibawah pohon rindang adalah spot terjauh dari keramaian dan juga tempat yang bagus untuk menangis bukan?

Beberapa lama Rose menangis, ia menghapus air matanya sendiri. Memejamkan matanya beberapa saat. Ia tertawa dalam hati, ya ia menertawakan dirinya sendiri

“Dasar cengeng..” monolognya sendiru sambil membuang batang es krim ke dalam tempat sampah didekatnya

Ia kembali merenung. Teringat dengan ucapan Julia kala itu. Terbesit dalam pikirannya jika tidak ada orang yang mau menerimanya paling tidak masih ada Julia dan Ferdi yang mau bersamanya. Hal yang ia takutkan bukanlah dari orang tuanya melainkan kakaknya, Arfi. Ia sangat menyayangi Arfi, ia mau melakukan apapun demi kebahagiaan kakaknya itu.

“Aku harus kerja. Setidaknya aku memiliki penghasilan untuk diriku sendiri”

Rose beranjak dari sana. Segenap tekad dibawanya pergi dalam hati untuk melawan dunia. Pikirnya ia harus bekerja terlebih dulu baru ia akan menceritakan yang sebenarnya pada Julia. Ya itu rencana yang ada dalam kepalanya

Lama ia berkeliling, sebuah toko Kue yang cukup besar menggantungkan tulisan

“Di cari karyawan untuk posisi Kasir dan pelayan. Pria / wanita. Kirim CV ke toko ini langsung”

Rose memfoto toko kue tersebut. Senyumnya mengembang. Setidaknya ia menemukan titik cerah dari usahanya.

*

Arfi PoV

“Tadi itu amazing banget. Keren banget lo sumpah. Wibawanya dapet kalo gue cewek gue udah naksir lo” ujar Iwan. Tentu dia bilang begitu karena cuma ada gue dan dia yang lagi berjalan keruangan kami masing masing selesai meeting.

“Thanks you Wan, tapi semua juga berkat dukungan, kerja keras, dan kerja sama kita semua Wan”

Akhirnya gue berpisah diujung lorong. Iwan berbelok ke kiri dan gue ke kanan.

“Eh Fi, bentar”

Gue berbalik badan

“Apaan?”

“Malem sibuk? Kalo nggak kita ke basecamp kuy ajak bini masing masing biar tau masa muda kita dulu”

“Masa muda? Gue mah emang masih muda kali. Iya deh ntar gue ajakin Julia juga kalo dia mau ya”

“Si bang sate 50 tusuk lo. Ya oke deh gue cabs dulu byee~~”

Astajim. Kenapa gitu coba deh. Iwan berbalik badan dengan gaya ngondek dibuat buat. Gue menggelengkan kepala sebelum gue melangkah menuju ruangan gue.

Mengurus dokumen penting dan berkas berkas dimeja gue emang membuat gue jadi pusing. Belum lagi harus terus menatap layar laptop didepan gue. Sesekali gue memejamkan mata gue lalu memijitnya dengan kedua jari gue. Gue raih hape gue lalu menghubungi seseorang. Vidcall sama Julia kayanya bukan ide yang buruk juga

“Hallo, kamu lagi ngapain?”

“Loh, kamu gak ada kerjaan emangnya?”

Bukannya ngejawab malah balik nanya nih anak

“Lagi istirahat sejenak dulu mata aku pegel nih”

Dari sebrang sana gue mendengar air mengalir

“Julia, kamu lagi ngapain?”

“Oh sorry, aku lagi di kamar mandi”

“Kamu lagi pup?”

“Aku lagi mandi sayang, ntar dulu aku sabunan”

Julia meletakkan hapenya berdiri jadi gue bisa melihat apa yang sedang dia lakukan. Dilayar hape, gue melihat Julia sedang menggunakan sabun ke seluruh tubuhnya. Ia membersihkan tubuhnya dengan telaten. Mulai dari dadanya, perut, kedua ketiaknya, kedua tangannya dan….

Astaga. Julia membersihkan kakinya dengan satu kaki ia letakkan di bathup. Begitu dengan kaki satunya. Ia cukup lama membersihkan ke dua kakinya. Bukan masalah membersihkan kakinya, masalahnya adalah Julia membelakangi layar hapenya. Jadi saat ia membersihkan kakinya sedikit bungkuk gue bisa melihat….. ahsudahlah. Gue menyesal kenapa gue malah vidcall Julia siang ini

“Maaf ya lama. Kamu masih lama pulangnya?”

Mau nya gue sekarang langsung pulang. Kalo perlu teleportasi langsung nyampe dikamar mandi

“Lumayan. Eum.. ya udah deh aku lanjut kerja ya bye~~”

Gue langsung menutup sambungan dan meletakkan hape gue dimeja. Ya ampun sakit boss dicelana keteken ini. Laknat memang, entah dia melakukan itu dengan sengaja atau nggak sama aja gue juga yang salah malah vidcall kalo aja gue telfon biasa gak akan kaya gini jadinya. Lagian ngapain sih mandi aja bawa hape. Duh!

Tok tok tok

“Ya silahkan masuk…”

Klek

Gue mengerutkan dahi melihat siapa yang masuk. Dia adalah Maudya, sekretaris gue. Mau apa dia

“Silahkan duduk, Ada apa Dya?”

Maudya duduk lalu tersenyum sama gue. Kenapa nih anak?

“Saya mau mengucapkan selamat pak sama bapak atas presentasi dan kontrak kerja sama perusahaan asing tadi”

Gue menautkan alis gue lalu duduk bersandar pada kursi gue

“Ya, terima kasih untuk ucapan kamu. Kamu tau sebenarnya kamu tidak perlu melakukan ini. Bukannya kamu juga udah diberikan tugas lain dalam proyek ini?”

“Saya rasa perlu saya perlu melakukan ini. Memberikan ucapan selamat secara langsung atas sebuah prestasi itu bukan hal yang berlebihan. Terlebih bapak adalah pemimpin yang terkenal pekerja keras”

Oke gue udah mulai gak nyaman dengan ini. Jujur aja, gue menghargai ucapan selamatnya dia tapi tetep aja menurut gue dia berlebihan jika sampai datang ke ruangan gue hanya untuk melakukan hal semacam ini

Gue mengambil beberapa map di atas meja gue

“Saya boleh minta tolong sama kamu?”

“Boleh pak, ada yang perlu saya lakukan”

“Tolong berikan ini pada Pak Iwan. Suruh dia cek beberapa file didalamnya sekarang”

Maudya mengambil map yang gue berikan padanya lalu ia berdiri tapi dia gak beranjak dari tempatnya membuat gue menatapnya

“Ah.. eum.. ma..maaf pak, saya permisi”

Lah, kenapa lagi dia tuh. Bodo amat ah. Btw map yang gue suruh Maudya kasih itu bukan file penting. Itu cuma alasan gue biar Maudya keluar dari ruangan gue aja.
Telfon dimeja gue berdering, ini pasti Iwan

“Kena–”

“Lo apaan sih, ngasih kertas kertas gambar cewek bugil gini ke gue. Mana gue disuruh cek sama sekretaris lo lagi”

Kan bener gue bilang juga apa

“Yee udah ah ribet lo. Lo harusnya makasih sama gue, kali aja lo butuh bacol siang siang kan”

“Bangsat gue udah punya bini ngapain manual jir.. eh tapi yang ini leh ugha nih..”

Gue tutup telfonnya. Gak perlu ngeladenin orang kaya Iwan. Sebenernya gue gak heran kalo Okta itu hamil lebih cepat gue yakin mah digenjot tiap malem atau tiap saat? Anjir kalo iya tipis itu kulit digesek terus. Kenapa gue bilang gitu, secara Iwan dari masa bujangnya orang yang paling sering berimajinasi. Gak jauh jauh imajinasinya ke arah hal hal yang bikin dosa makin banyak.

Gue yakin mah sampai sekarang pun Iwan masih demen merhatiin moleknya badan perempuan dimana pun dia berada. Well, gue gak mau munafik, gue pun sama. Karena selera gue sama Iwan bisa dibilang hampir sama dalam hal perempuan.

Pokoknya kalo gue sama Iwan lagi ngobrol sepenting apapun obrolannya kalo yang gede lewat auto nengok, auto ngelirik, auto di pause itu obrolan. Emang laki laki laknat. Pikiran langsung melayang ke arah “Sabun GIV” . Tau apa artinya, tau kan sabun GIV? Mengkel, tembem, dan gemesin. Itulah istilahnya. Mungkin itu alasan gue sama Iwan berteman sampai sekarang. Sama sama sengklek cuma beda karakter aja

Tok tok tok

“Ya, masuk”

Maudya kembali masuk ke dalam ruangan gue. Dia membawa beberapa berkas. Mungkin berkas yang gue minta tadi pagi

“Pak, ini berkas yang ingin bapak rekap kembali”

“Baik, terima kasih. Letakkan disana”

Gue kembali memfokuskan diri gue ke laptop. Berasa ada yang merhatiin pandangan gue kembali ke melihat Maudya yang masih duduk

“Ada apa lagi?”

“Gak ada pak, ini saya bawakan makan siang. Bapak belum makan siang kan?”

Iya juga sih, laper juga. Karena selesai meeting tadi gue langsung membereskan proposal gue dan kembali ke ruangan gue.

“Ya taro aja disitu, terima kasih ya” ucap gue

“Dicicipin dulu pak, bapak kan pekerja keras. Gak mungkin dimakan kalo kerjaan belum selesai”

Ini maksudnya apaan sih. Kok maksa banget. Mau gak mau gue mengambil kotak makan itu membukanya lalu mencicipinya. Nasi goreng kaya biasa, tapi rasanya lumayanlah. Telurnya yang setengah matang kesukaan gue didalamnya

“Bapak suka telur ceplok setengah matang kan”

Gue menganggukkan kepala sambil mengunyah

“Tanpa garam kan?”

Gue kembali menganggukkan kepala

“Dan nasi goreng yang dimasak menggunakan margarin tanpa minyak goreng”

Lagi lagi gue menganggukkam kepala. Udah cocok belom gue jadi bonekaan pajangan dashboard mobil?

“Terima kasih makan siangnya ya. Ini enak, saya rasa pacar kamu akan bahagia memiliki kamu yang pandai memasak”

“Saya belum punya pacar pak”

Oh jomblo dong, kasihan deh lo

“Oh, mungkin jodoh kamu nantinya..”

Maudya tersenyum sambil memeluk kotak makannya dengan satu tangannya ia gunakan menggenggam sendok yang tadi gue gunakan untuk makan.

“Saya permisi pak..”

Ia beranjak dari duduknya keluar ruamgan gue. Itu anak kenapa ya, apa mungkin dia suka sama gue. Ya kali ah, kalo iya gue buat skandal aja sekalian kan lagi ngetrend tuh. Usia Maudya juga masih 22 tahun. Lebih muda setahun dibanding gue.

Pikiran gue melayang jika gue menikah lagi lalu memiliki istri muda. Gimana ya perlakuan Julia sama istri muda gue. Eh ngomong ngomong soal Julia gue barusan makan masakan perempuan lain. Mampus kalo Julia tau gue yang dijadiin makan siang sama dia. Gak gak gak! Dia gak boleh tau, anjirlah gue tolol banget gak kepikiran sampai sana asal makan aja tadi

*

Brakk

Gue terkejut mendengar pintu dibanting. Gue langsung menuju pintu melihat Rose yang sedang terengah engah. Julia Langsung saja hampiri dia

“Kamu kenapa Rose?” Tanya Julia. Gue membantu Julia membopong Rose ke sofa ruang tengah

Julia memberikan air putih padanya. Ia meneguknya sedikit

“Kak..”

“Apa?”

“Aku kecopetan di angkot”

Gue terkejut. Ini kali pertama kalinya Rose mengalami hal seperti ini. Lagian kenapa harus naik angkot sih?

“Tapi kamu gpp?” Tanya Julia

“Aku gpp kak, cuma hapeku dicopet tadi terus pencopetnya ngejar aku juga mereka mau rampok hape aku sama kalung aku”

“Kamu tadi abis dari mana dan kejadiannya dimana?” Tanya gue

“Dijalan K.H Gigs 154 kak”

Gue beranjak menaiki tangga menuju kamar gue. Yang gue cari adalah hape.

“Hallo?”

“…”

“Adik saya kecopetan, dijalan Gigs 154. Cari pelakunya! Tangkap! Bawa dia ketempat biasa!”

“…”

“Baik, terima kasih!”

Gue menutup sambungan telfon itu lalu kembali ke bawah. Rose kelihatannya udah membaik. Ia gak lagi terlihat stres. Jelas aja ade gue stres ini kali pertamanya ia mengalami hal kaya gini. Gue berjalan keluar menemui orang gue. Ya orang gue. Sekiranya lumayan jauh dari rumah gue mengumpulkan bodyguard gue semuanya. Bodyguard yang bertugas melindungi anggota keluarga gue

“Kalian tau kenapa saya kumpulin kalian disini?”

Mereka menggelengkan kepala

“Adik saya, Octa Rosediana barusan kecopetan diangkot. Kenapa itu bisa terjadi?”

Gue menatap satu persatu bodyguard gue. Mereka semua menundukkan kepala

“Jawab!!” Teriak gue

“Maaf tuan, saat itu bukan unit kami yang bertugas melindungi Nona muda”

Gue memejamkan mata gue menekan seluruh emosi gue

“Bawa orang yang bertugas menjaga adik saya. SEKARANG!!”

2 diantara dari mereka pergi menggunakan mobil sedan hitam yang memang difasilitaskan dari keluarga gue. Sekitar 20 menit merka kembali dengan 3 orang berbadan cukup besar

“Kalian yang bertugas menjaga adik saya hari ini?” Tanya gue

“I..iya tuan..”

“Kalian tau apa yang terjadi dengan adik saya hari ini?”

“Ng.. nggak tuan”

Keterlaluan!

Bugh

Gue pukul salah satu dari mereka

“Bangun!”

“Adik saya kecopetan diangkot! Seharusnya itu tidak terjadi jika kalian melakukan tugas kalian dengan baik!”

“Maaf tuan.. kami melihat mobil nona muda terparkir di mall. Itu sebabnya kami tidak tau nona muda mengalami peristiwa buruk”

Ade gue ninggalin mobilnya dimall. Itu artinya ade gue sengaja melakukannya. Tapi untuk apa?

“Tugas kalian menjaga adik saya, bukan mengikuti mobilnya. Kalian bergerak 2 orang. Seharusnya salah satu dari kalian tidak akan melepas pandangan terhadap adik saya!”

Gue merogoh benda yang berada dipinggang gue lalu mencondongkan tepat ke kepala bodyguard gue. Gue bersiap menarik pelatuk pistol gue

“Hey kalian, tahan dua orang ini. Ini adalah hukuman bagi siapa saja yang tidak menjalankan tugas dengan baik”

“Maafkan saya tuan. Hukum saya, tapi jangan bunuh saya. Saya memiliki istri dan anak”

Gue gak perduli. Bisa aja saat itu ade gue dalam bahaya atau parahnya ade gue bisa lehilangan nyawanya juga karena mereka

Jari telunjuk gue bergerak hendak menarik pelatuk pistol gue

“Arfiii!!!”

Gue menoleh ke arah sumber suara. Julia berlari lali berdiri didepan kedua bodyguard gue. Kini ujung pistol gue tepat didepan kepala Julia. Nafasnya tidak teratur terlihat dari dadanya yang naik turun.

“Tembak! Muntahin isi pistol kamu sekarang!”

Gue memejamkan mata gue. Menurunkan pistol gue lalu menjatuhkannya. Gue lemah, gue tatap Julia. Gue belom pernah merasa selemah ini. Terlebih saat memberi hukuman kepada bodyguard gue. Tapi perempuan itu bisa bikin gue mengurungkan niat gue. Air matanya yang melemahkan gue. Emosi gue seketika berlarian entah kemana

“Apa itu tindakan kamu? Ini yang kamu suka kamu lakukan terhadap para penjaga kamu? Arfi mereka juga manusia! Kamu bukan tuhan mereka! Nyawa mereka bukan berada ditangan kamu! Mereka punya kehidupan Fi! Bagaimana jika itu terjadi sama aku?”

“Tapi mereka melakukan kesalahan. Mereka lalai dalam tugas mereka”

“Mereka manusia Arfi! Hukuman pantas diberikan bukan berarti kamu berhak atas nyawa mereka!” Julia mendorong pundak gue. Air matanya mengalir deras

“Aku kecewa sama kamu!”

Julia berbalik

“Kalian pulanglah! Jadikan ini pelajaran bagi kalian! Bertugaslah lebih baik lagi! Ini perintah dari Nyonya muda Juanto!”

“Terima kasih nyonya, terima kasih banyak! Kami berhutang sama nyonya”

Mereka membubarkan diri. Julia berbalik menatap gue. Dia mengambil pistol yang gue jatohkan. Gue berusaha merebutnya tapi tangannya lebih cepat dari gue. Gue tau Julia keberatan memegang pistol itu jika gue terus berusaha merebutnya salah salah Julia bisa menekan pelatuknya. Dan itu yang gue gak mau

Dia menodongkan pistol itu ke arah dada gue. Dengan berderai air mata kedua tangannya bergetar memegang pistol. Detik berikutnya hal yang sangat mengejutkan. Julia menodongkan pistolnya dikepalanya

“Kamu diem Arfi! Atau aku tekan pelatuk pistol kamu”

“Julia jangan.. aku gak mau kamu kenapa napa”

“Kenapa? Kata kamu kita satu kan, kalo aku mati apa kamu akan mengakhiri nyawa kamu dengan pistol yang sama denganku?”

Gue terdiam. Jujur, gue gak tau harus melakukan apa otak gue beku! Yang ada dalam pikiran gue adalah bagaimana caranya menjauhkan senjata itu dari tangan Julia. Tangan Julia bergetar, air matanya mengalir deras.

“Aku cinta kamu Julia. Serahkan senjata itu sama aku ya, jangan sentuh benda berbahaya ini”

“Senjata ini juga bisa membahayakan kamu kan? Lalu kenapa kamu sentuh benda ini? Kamu mau aku merasakan kesedihan yang mendalam jika terjadi sesuatu sama kamu karena benda berbahaya ini. Lebih baik kamu lebih dulu yang merasakannya”

Gue terduduk lemes dengan kedua lutut gue dilipat kebelakang

“Aku mohon. Lepasin benda itu. Aku mencintai kamu Julia. Jangan ya, kita berjanji saling menjaga, kita berjanji membesarkan El, kita berjanji membangun keluarga kecil kita” air mata gue keluar dari sudut mata gue. Jujue aja ini kesedihan mendalam yang pernah gue alamin melihat orang yang gue cintai menodongkan senjata gue dikepalanya sendiri. Gue gak bisa membayangkan jika aja Julia ceroboh sampai menarik pelatuknya lalu peluru itu akan menembus kepala Julia

Prakk

Julia melempar pistol itu ke sembarang arah. Tubuhnya ambruk kalo aja gak gue tahan tubuhnya udah pasti tubuhnya akan terjatuh ke tanah. Julia kehilangan kesadarannya. Gue gendong tubuh Julia pulang kerumah

Sampai dirumah, diruang tengah udah ada Iwan, Agus, dan Fahrie lengkap dengan para wanitanya serta ade gue. Gue tinggalkan mereka langsung menuju ke kamar gue membaringkan tubuh Julia. Sekembalinya gue ke bawah, Agus menarik tangan gue keluar begitu juga Iwan.

*

Brakk

Anjir ngilu sialan.

“Heh! Lo gunain kekuasaan lo lagi?”

Agus menginjak bahu gue. Tatapan marahnya jelas terlihat. Udah lama gue gak lihat Agus semarah ini

“Mereka, gagal melindungi ade gue”

“Gagal lo bilang? Ade lo dirumah fine fine aja. Kehilangan benda bukan hal berat buat lo gue yakin! Tapi sekarang istri lo lihat dirumah?”

Gue menyingkirkan kaki Agus dengan tenaga yang ada gue pukul perutnya membuat Agus mundur beberapa langkah dari gue. Gue berdiri

“Istri gue begitu karena mencoba melindungi mereka yang gak berguna! Mereka gagal menjalankan tugas mereka!”

Bugh

Bangsat! Cuih.. ludah gue penuh darah. Si Iwan sialan mukul gue. Masih kaya biasa, pukulannya yang paling sakit diantara kita tapi tadi dia gak menggunakan seluruh tenaganya saat mukul gue, kalo iya mungkin gue udah pingsan sekarang

Sreet

Bugh

Anjing! Gue merasakan nyeri diperut gue terkena pukulan Agus. Kini Agus mencengram kerah baju gue

“Karena keegoisan lo Gue yakin si Julia jadi syok! Otak pake begok!”

Bugh

Ohok

“Jangan lo gunain kekuasaan lo doang! Bodyguard lo jumlahnya banyak tolol! Apa jaminan mereka gak akan berontak sama lo!”

Bugh

Uhukk

“Kalo mereka berontak, mereka bukan cuman akan nyelakain lo! Keluarga lo termasuk anak dan istri lo!”

Bruakk

Tubuh gue terpental beberapa meter. Agus melempar tubuh gue. Gue menjaga kesadaran gue.

“Meski bokap lo tajir melintir dan siap membalas siapapun yang melukai anggota keluarganya. Gimana kalo mereka lebih dulu nyelakain lo sama keluarga lo! Mereka keluarga lo lebih dulu!”

Tubuh gue kembali diangkat oleh Agus. Gue kehabisan tenaga untuk sekedar menahan pukulan Agus. Apa yang dia ucapkan memang benar. Gue melihat Iwan hanya diam berdiri melihat gue dan Agus

“Lo ngerti gak apa yang gue omongin! Kalo sampe Julia atau anak lo kenapa napa karena mereka dendam sama lo. Inget Fi, gue yang akan membunuh lo pake tangan gue sendiri”

Agus bersiap memukul gue lagi. Gue pejamkan mata gue bersiap menerima pukulannya. 5 detik berlali tapi gue gak merasakan apapun. Gue buka mata gue sedikit

“Cukup Gus, mati anak orang kalo lo pukulin terus”

Iwan menahan tangan Agus yang akan hendak memukul gue.

Brakk

Srakkk

Bajingan! Lagi lagi Agus melempar tubuh gue sampai terseret beberapa meter.

“Sekarang mending kita tengok Julia. Kalo keadaannya parah kita bawa kerumah sakit”

Agus berlalu lebih dulu. Iwan mengangkat tubuh gue mengalungkan tangan gue dilehernya.

“Lo sendiri yang suka nasihatin gue kalo apa apa jangan menggunakan emosi, nah sekarang lo sendiri gimana? Begok sih lo”

Gue menatap Iwan dari samping.

“Thanks Wan”

“Bacot begok. Agus sampe marah gitu gue jadi takut gila. Waktu gue ngentot sama Gracia aja dia gak sampai segitunya”

Gue hanya diam sambil melangkah pelan. Rumah gue sudah terlihat.

“Artinya Agus peduli sama sahabatnya. Kalo emang bener yang dikatakan Agus. Gak cuma dia, tapi gue juga akan matiin lo Fi”

Gue hanya tersenyum. Iwan membawa gue ke kamar tamu.

“Gue mau ketemu Julia” ucap gue pelan

“Setelah lo bikin dia syok lo mau ketemu dia? Dimana hati lo?”

Iwan berjalan keluar menutup pintunya dan menguncinya dari luar. Brengsek. Gue sama sekali gak bisa bergerak, tubuh gue lemes semua. Beberapa kali gue muntah darah akibat pukulan Agus. Nyeri diperut gue dan rasa perih dibibir gue bahkan pukulan Agus gal ada artinya dibanding luka dihati Julia karena gue. Ini pertama kalinya dia melihat sisi lain dari diri gue.

Itulah yang membuat dia syok berat. Agus dan Iwan udah terbiasa dengan perbuatan gue seperti tadi bahkan lebih. Gue memejamkan mata gue, pikiran gue melayang dimana saat Julia menodongkan pistol ke kepalanya sendiri. Gue kepalkan tangan gue

“Goblok! Gue tolol!” Terial gue.

Gak perduli siapa yang mendengar. Gue terus merutuki diri gue. Akibat perbuatan gue hampir aja melukai Julia. Lagi dan lagi, gue mengingkari janji diri gue sendiri untuk melindungi Julia.

Laki laki bangsat!

*

Gue duduk diruang tunggu menopang tangan gue diatas lutut gue. Disinilah gue sekarang. Rumah sakit! Siapa yang sakit? Istri gue! Karena siapa? Karena laki laki bangsat yang gunain emosinya doang. Siapa? Gue!!

Beberapa kali gue memejamkan mata gue. Ingin rasanya gue lampiaskan emosi gue kemanapun, ke siapapun rasanya. Anjing!! Selalu begini! Gue sendiri gak mampu menguasai diri gue sendiri.
Hape gue berdering begitu melihat nama yang tertera gue langsung angkat telfon itu

“Ya?”

“…”

“Tahan, besok saya kesana”

“…”

“Baik, terima kasih”

Gue tutup sambungan telfon gue

“Hey lihat si jagoan yang haus darah”

Gue menoleh ke samping. Agus dan Iwan berdiri hanya beberapa meter dari tempat gue duduk. Iwan duduk disisi kanan gue dan Agus disisi kiri gue

“Dimana tempatnya?” Tanya Agus

“Lo gak perlu gak tau” jawab gue datar

“Bajingan!”

“Gus Gus.. tahan. Ini rumah sakit oke. Jangan tolol”

Gue hanya terdenyum kecut saat Iwan berusaha menghentikan pukulan Agus ke muka gue

“Heh! Lo cukup ngomong dimana tempatnya? Gue denger percakapan lo sama orang lo barusan” ucap Iwan

Gue tatap Iwan dengan sinis. Pandangan gue beralih ke depan

“Mau ngapain? Mau cegah gue untuk gak melakukan apapun sama orang yang nyopet ade gue?”

Iwan dan Agus mencengram pundak gue. Mereka mendempetkan tubuh gue ke tembok belakang gue

“Ade lo ade gue juga begok. Gue berhak menghukum orang yang berniat nyelakain ade gue juga” ucap Agus pelan

“Ngerti lo sekarang jing?” Tanya Iwan.

Ingin gue pukul rasanya kedua orang ngehe ini. Seenak enaknya ngatain gue terus. Tapi hati gue sedikit seneng mereka mau menganggap ade gue juga ade mereka

“Gedung Bellsosh lantai 13. Besok jam 9 pagi” ucap gue

Mereka melepaskan cengkraman dipundak gue.

Ting

Seorang wanita memakai baju dokter putih menghampiri kami

“Atas nama Julia”

“Ya dia temen gue Dear, gimana kondisinya?”

Dear? Sayang gitu maksudnya?

“Untuk beberapa waktu sih butuh istirahat dulu. Jangan diganggu. Dia sedikit mengalami syok berat. Biarin aja dulu”

“Istri saya sudah sadar?” Tanya gue. Si Dear ini beralih memperhatikan gue

“Tadi udah, cuma saya berikan suntikan tidur untuknya. Tenang, gak ada efek sampingnya. Hanya untuk membuat dia lebih relax aja malam ini”

Gue menganggukkan kepala

“Suatu kebanggan saya bisa melayani keluarga Juanto. Anda yang bernama Arfi bukan? Putra sulung dari Bram Juanto?”

Gue terdiam sesaat

“Iya, benar. Dan di dalam itu istri saya”

Dear ini tersenyum mengangguk lalu berpamitan pergi. Gue kembali duduk bersama dua orang laknat

“Juanto, kebanggan, rasa hormat lu dapetin itu semua. Gue berpikir betapa beruntungnya andai gue jadi lo” ujar Agus

“Gak seperti yang lo bayangkan. Selalu akan lo temuin hal sulit meski kelihatannya itu menyenangkan” ujar gue

“Jadilah diri sendiri anjir. Lo berdua lemah sialan. Laki apaan sih, ada apa dengan diri lo sendiri emangnya? Merasa kurang beruntung? Goblok lu semua” ucap Iwan.

Gue saling tatap sama Agus lalu menganggukkan kepala. Gue tarik kepala Iwan lalu gue jepit dilengan gue. Agus jitakin palanya Iwan. Mampus dah lu!

“Anjir lu pada sekongkol banget mau jitakin gue”

Gue tertawa kecil

“Geng…”

Agus mengulurkan tangannya ke arah gue. Gue menaikan satu alis gue

“Anggap sebagai ucapan maaf..”

Gue tersenyum kecut. Tangan gue terulur ke depan bukan mau menyalami tangan Agus tapi gue hempas tangannya

“Sialan lo ah kaya gitu aja segala pake bilang ucapan maaf, udah berapa lama lo temenan sama gue emangnya?” Ucap gue

“Gue bersumpah kalo tau akan diginiin mending kemarin gue tonjokin lu terus”

Gue tertawa begitu juga dengan Agus.

“Jangan gitu lo Fi, hargai permohonan maafnya Agus ke lo tuh” ucap Iwan

“Alah sialan, maaf buat apaan, pukulannya gak ada yang sakit gitu”

“Sialan loh anak ini”

Kami tertawa bersama melupakan dimana tempat kami berada. Gue terdiam lebih dulu. Pikiran gue melayang ke Julia. Apa yang akan dia katakan saat dia sadar nanti.

“Pulang geng. Biar gue yang jaga disini. Anak lo dirumah kan?” Ujar Agus menepuk bahu gue

“Kalo ada apa apa gue langsung kabarin lo” timpal Iwan. Gue tersenyum kecil

“Gue balik duluan. Kalo ada apa apa sama istri gue. Kasih tau gue”

Agus mengacungkan jempolnya. Gue berjalan meninggalkan mereka pulang menuju rumah gue.

Sampai dirumah, diruang tamu gue bertemu dengan Fahrie dan Savira. Mereka menghampiri gue

“Gimana Julia keadannya?”

“Masih perlu pemulihan. Besok sih juga udah sadar”

“Sukur deh kalo gitu. Besok gue kesana deh pagi pagi udah izin sama Gracia juga”

Gue mengangguk lalu berpamitan keatas menuju kamar gue. Sebelum sampai kamar gue dilantai dua kaki gue terhenti saat mendengar isak tangis dari kamar Rose. Pintunya gak tertutup rapat, gue bisa mendengar jelas apa yang ia ucapkan

“Kak Arfi melakukan itu semua karena aku. Karena kecerobohanku, bahkan sampai kak Julia pun harus menanggungnya”

Gue gak ngerti apa yang diomongin ade gue. Gue dorong sedikit agar gue bisa masuk ke dalam kamarnya.

“Meski aku bukan adik kandung kak Arfi..”

Kaki gue terhenti saat hendak menghampirinya. Apa yang gue denger barusan, Rose bukan adik kandung gue. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini

“Dek, kamu ngomong apa barusan?”

Rose langsung berbalik terkejut menatap gue yang hanya berdiri dibelakangnya beberapa meter. Air matanya mengalir deras dipipinya. Ingin rasa gue cubit kedua pipinya seperti dulu sambil mengakatakan Jangan nangis adiknya Arfi gak boleh nangis dan gak boleh dibuat nangis

“Kenapa kamu bilang gitu barusan?” Tanya gue kembali. Rose berdiri menutup mulutnya dengan sebelah tangannya. Ia kembali terisak. Gue rangkuh tubuhnya lalu memeluknya

“Katakan itu bohong. Katakan itu lelucon. Itu bukan kebenarannya kan? Jelasin sama kakak, Rose”

Rose melepas pelukan gue. Matanya yang sembab menggambarkan ia menangis sejak gue pergi kerumah sakit hingga kini.
Rose menggelengkan kepalanya lemah. Ia mundur beberapa langkah.

“Maaf kak…”

“Maaf? Untuk apa?”

“Memang, sebenarnya.. aku bukan.. adik kandung.. kakak…”

Bagai disambar petir siang hari. Gue terdiam cukup lama. Pikiran gue entah kemana, tubuh gue berdiri disini tapi nggak dengan jiwa gue. Serasa mati begitu mendengar ucapan Rose.

Nggak! Gak mungkin kalau dia bukan adik gue. Pasti ada yang salah. Gue harus memastikan itu

“Kamu tetep disini, kakak gak mengizinkan kamu keluar rumah alasan apapun!”

Gue berjalan keluar menghubungi semua orang gue untuk menjaga rumah gue. Sekarang gue dalam perjalanan menuju rumah orang tua gue. Bukan karena ingin bertemu orang gue. Tapi mencari surat yang membuktikan kalau ucapan Rose hanya omong kosong belaka.

****

Jam 8 pagi. Matahari sudah terbit tinggi. Gue duduk dibalik kemudi gue terdiam dipinggir jalan setelah tadi pagi pagi buta gue kerumah bokap gue. Untungnya gak ada orang tua gue dirumah jadilah gue bebas masuk ke dalam mencari sesuatu yang gue cari

Menyesal? Iya! Gue mendapatkan apa yang gue cari. Tapi sesuatu hal membuat gue terdiam ditepi jalanan kosong seperti ini. Ini soal adik gue, ya benar. Gue berhasil mengambil kartu keluarga gue yang lama. Satu nama yang hilang disana

Octa Rosediana

Adik gue yang selama ini gue sayangi, bahkan gue cintai karena satu satunya keluarga gue yang nerima gue apa adanya. Hanya dia sumber ketawa dan senyum gue saat gue memilih berpisah dengan orang tua gue. Hanya dia yang menguatkan gue harus terus berjuang. Dan perjuangan gue saat itu hanya untuknya, agar dia bisa bersekolah tinggi.
Duk

Gue benturkan kepala gue ke stir mobil. Gue mengepalkan tangan gue. Kenapa bokap gue menyembunyikan ini. Lalu siapa orang tua Rose sebenarnya. Dari mana Rose berasal. Pikiran itu terus berputar dikepala gue.

Beberapa pelayan sana mengetahui kebenaran ini hanya sampai Rose bukan adik kandung gue. Selebihnya mereka tidak mengetahui apapun. Gue harus pulang sekarang, ya gue harus bertemu dengan Rose

Julia PoV

Kubuka mataku perlahan. Dimana aku, ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Tunggu, ini rumah sakit. Apa yang terjadi denganku? Aku tidak bisa mengingat apapun selain saat aku menangis dan memegang pistol Arfi semalam. Hanya sampai situ ingatanku selebihnya aku kehilangan kesadaranku, mungkin.

Aku duduk bersandar pada kasur. Pikiranku melayang disaat Arfi dengan kejamnya menodongkan pistol tepat dikepala penjaganya. Ada rasa sesak di dadaku saat ku ingat itu. Inikah laki laki yang kucintai, inikah laki laki yang selalu memberiku kelembutan, ia memiliki sisi lain dari yang biasa kulihat. Bukan, dia bukan berubah, hanya saja aku yang baru tau ada sifat aslinya yang tidak ia tunjukan dihadapanku

Glek

Pintu rumah ruanganku terbuka, Savira masuk menggendong Elaine menghampiriku

“Sukurlah lu udah sadar. Ini anak lo susuin dulu kasihan dari kemarin gak nyusu”

Aku mengambil alih Elaine dari gendongan Savira lalu menyusuinya. Savira duduk disamping bansalku.

“Gimana keadaan lo?”

“Membaik, siapa yang bawa gue kesini?”

“Laki lo, siapa lagi emangnya”

Aku hanya terdiam memperhatikan Elaine yang sedang menyusu padaku. Aku berharap Elaine kelak tidak akan mewarisi sifat buruk papahnya. Tidak, aku yang akan mengajarkan padanya kelembutan dan pemaaf

“Arfi mana?” Tanyaku

“Tadi saat gue mau kesini sih dia baru pulang”

“Baru pulang?”

Savira menganggukkan kepalanya

“Dia dari mana lo tau?”

“Dia gak bilang, cuma semalem sempet pulang abis itu pergi lagi. Gue gak tau kemana”

Lagi lagi aku hanya terdiam.

“Ternyata Arfi yang kelihatannya cuek dan galak itu punya sisi kelemahan ya?” Ujar Savira, aku menoleh ke arahnya. Menatapnya seolah bertanya maksudnya?

“Iya, saat dia bawa lo balik kerumah tuh dia nangis. Gue gak tau pasti apa yang terjadi sama kalian. Yang gue tau lo pingsan”

Arfi nangis? Jika aja Savira tau apa yang dilakukan oleh Arfi aku tidak menjamin ia mau bertahan tinggal dirumahku. Seseorang dengan sebuah senjata dengan peluru yang siap dimuntahkan kemana pun si empunya mau tinggal bersama mereka. Alasan itu cukup kuat untuk mereka pergi dari rumahku.

Aku kembali mengancingkan bajuku. El tertidur dalam gendonganku

“Vir, lo tau Arfi berasal dari keluarga apa?” Tanyaku

“Juanto kan? Yang punya perusahaan Juanto Group itu. Fahrie sih yang cerita sama gue”

Savira tidak tau kebenaran Arfi dan keluarganya.

“Kenapa lo nanya gini sama gue?” Tanya kembali. Aku hanya menggelengkan kepalaku

“Kalo lo atau Fahrie menemukan ke ganjilan dari Arfi maupun anggota keluarganya tolong jangan disebut atau diucapkan dipublik. Lo ngomong langsung sama gue”

Savira menatapku aneh. Aku yakin setelah ini ia akan banyak bertanya soal apapun tentang Arfi

“Kedengarannya keluarga Arfi kaya keluarga mafia ya yang punya banyak musuh”

Analisa lo cepet Savira. Tapi kurang tepat, Juanto Family juga punya jaringan khusus bagi siapa saja yang berurusan dengan keluarga mereka maka akan menerima hukuman yang berat. Mereka gak segan melenyapkam nyawa seseorang

“Bukan, emang kita di italy. Udah pokoknya jalanin aja gitu. Maksud gue kan lo orang luar. Tau sendiri orang tuanya Arfi gak terlalu terbuka sama orang luar. Gue menjaga imej lo aja sih”

Savira mengangguk pelan. Setidaknya hanya itu yang bisa kukatakan dengan baik agar keadaannya kondusif. Kuharap Savira tidak akan mengetahui sisi lain dari keluarga Arfi. Dan kupikir Savira cukup beruntung untuk itu

“Jul..”

“Hmm?”

“Lo tiap malem disentuh sama Arfi ya?”

Heh? Nanyanya jadi beginian

“Kenapa lo nanya nanya?”

“Perasaan gue aja atau emang ukuran dada lo nambah gede ya”

Aku menatap malas Savira. Otaknya sableng ucapan ucapan gak bermutunya pun akan keluar

“Gue merasa segini aja dari dulu”

“Nggak Julia..” aku menjauhkan tubuhku saat Savira berdiri hendak memegang kedua buah dadaku

“Lo gila ya?”

“Apaan sih gue cuma mau mastiin aja. Kita kan pernah mandi bareng nah gue pernah lihat dada lo. Ukuran dada lo sekarang kayanya makin gede makin putih juga lagi”

Savira kembali duduk dikursinya

“Vir, please atuh ah. Ada masalah genting lo malah bercanda”

“Santai aja Julia. Bawa rileks aja, gak usah tegang. Dengan begitu lo bisa mikirin solusi dari masalah lo dengan enak”

Aku menatap Savira dari sudut ekor mataku. Emang dia begitu orangnya dari dulu. Paling nyantai dan selalu ceria. Hoby ketawa juga malahan

“Tapi gak ngomongin dada juga Savira. Gue aja yang punya gak merasa nambah gede atau perubahan lainnya tuh”

“Ya karena lo yang punya. Kan gue merhatiin lo, gini gini gue sahabat yang perhatian loh. Sampai ukuran dada aja gue tau”

“Kok jadi takut sih gue berduaan sama lo disini”

Puk

Adoh kurang ajar. Muka gue dilempar lap buat bersihin muntahan pasien. Lapnya bersih sih cuma pas banget kena mukaku

“Gue masih normal jir, masih doyan besar panjang! Bukan yang rata belah tengah!”

Aku terkekeh melihat wajah kesal Savira

“Kaya aja punya si Fahrie besar panjang” ucapku meledek

“Yee gue kasih tau sama lo ya, kalo gak besar gue gak akan mendesah, kalo gak panjang bakal susah jadi si Theo!”

“Ya udah dong gak usah ngegas juga”

Untung aja diruangan ini hanya aku yang dirawat. Suara Savira ini gak bisa banget di redam. Saringan tenggorokannya udah lepas kali

“Lo sih, tapi gue mau deh punya dada kaya lo, bulet kenceng gede lagi. Bagi tipsnya dong”

Apalagi sih Vir..

“Gak ada. Rahasia ranjang gue! Hanya Arfi yang bisa melakukan itu”

“Pelit lo. Gak empren sama gue”

“Bodo amat!

“Yaudah ntar gue intipin kamar lo kalo lo karaokean malem sama Arfi”

Anjay niat banget ni anak

“Vir, gue gak tau kenapa dada gue bisa gede gini. Ini alami kali atau apalah gue gak mikirin”

Savira hanya menatapku dengan senyuman mesumnya.

“Kalo dada lo segede gini kira kira berapa ya harga lo andai masih kerja sama Angelo”

Brakk

“Saviraaaa…!!!”

*

Sore hampir berlalu pertanda malam akan datang. Tapi seseorang yang ku tunggu belum kunjung menemuiku hari ini. Kata dokter aku diharuskan istriahat total paling lama 3 hari. Ini membuatku harus menginap disini. Sepi dan sendirian, aku benci suasana seperti ini. Elaine dibawa pulang oleh Savira sekitar pukul 3 sore ia berjanji akan kesini lagi malamnya.

Kamar ini terlalu sepi, pikiranku melayang saat usiaku masih kecil. Aku yang saat itu baru berusia 7 tahun sangat dijauh oleh teman sebayaku. Entah karena apa, aku tidak tau. Tapi mereka menatapku seolah aku adalah biang rusuh. Beberapa dari mereka mengecapku sebagai pembawa sial.

Kesialan apa yang mereka terima hingga aku dijauhi. Ku pejamkan mataku menahan air mata yang akan keluar. Dasar cengeng, bisa gak sih gak nangis. Kurasa judul cerita ini cocok diganti dengan Kisah si Air mata hmm dramatisir sekali

Grekk

Aku sedikit terkejut. Savira datang, ia tidak sendirian. Agus, Gracia, Iwan, Okta bahkan Fahrie pun datang

“Gimana keadaan lo? Membaik?” Tanya Savira

“Tadinya, karena lo dateng jadinya gue drop lagi nih”

“Oke gue pulang.. bubar bubar!” Seru Savira. Aku hanya tertawa

“Ini ada buah dari gue sama Agus” aku tersenyum pada Gracia

“Thanks u ya”

“Kak Julia, melahirkan lagi? Kapan hamilnya?”

“Sayang, Julia nggak hamil. Julia sakit. Biasa kalo udah tua mah sakit sakitan”

Ingin rasanya ku sambit Iwan dengan apel yang Gracia berikan.

“Oh, wah berarti kak Julia senior kita ya..”

Ya ya ya ya aku tidak lagi mendengarkan percakapan kedua orang aneh ini. Tatapanku beralih pada Savira yang sedang menggendong Elaine. Bukan itu, hanya saja Theo terlihat cemburu jika Savira terlalu memperhatikan Elaine. Aku tertawa dalam hati, mungkin ia merasa ibunya akan direbut oleh anak bayi dalam gendongan ibunya.

“Vir, sini anak gue, biar gue gendong”

Savira memberikan Elaine padaku

“Eh eh eh tunggu, kalo lo mau nyusuin biar ini para lelaki gue suruh keluar dulu”

Aku menatap datar Savira

“Gue juga tau nenek. Gue cuma mau gendong anak gue. Btw bapaknya kemanain nih?”

Mereka terdiam saling pandang

“Gue gak tau. Katanya Arfi ada urusan kecil sama adiknya. Ya entahlah, yang jelas urusan soal adenya kecopetan itu udah lewat”

Aku menganggukkan kepala. Lalu urusan apa lagi memangnya. Selanjutnya aku ikut mengobrol ngobrol dengan mereka.
Krek

Kami terdiam begitu pintu ruang rawatku terbuka. Seseorang berdiri diambang pintu menatapku. Dasi yang ia pakai sudah terlihat kendur, bajunya berantakan, serta ia tidak lagi mengenakan jas kerjanya.

Aku terus membalas tatapannya. Ia melangkah mendekat. Menggenggam tanganku begitu ia berdiri disampingku. Kami saling menatap lama. Tangannya mengelus lembut pipiku

“Guys, kita keluar yuk. Beri waktu buat mereka”

Entah siapa yang mengucapkan itu yang jelas mereka semua berjalan keluar meninggalkan kami sendiri.

“Gimana keadaan kamu?” Tanya Arfi pelan. Sangat pelan hampir tidak terdengar

“Seperti yang kamu lihat. Fisikku hampir pulih, tapi disini…” aku menunjuk ke dadaku dengan sebelah tanganku yang bebas genggaman Arfi.

Arfi menggenggam tanganku lebih erat. Ia memejamkan matanya lalu mengecup keningku

“Maaf..”

Ia memeluk tubuhku dari samping. Kulihat satu tetesan membasahi sarung bayi Elaine yang berada dipangkuanku. Kubiarkan beberapa saat sampai Arfi melepaskan pelukannya. Ia menatapku, dipipinya ada bekas air matanya yang turun

“Ini pria yang kemarin menodongkan pistolnya ke kepala orang? Kenapa hmm? Kok kamu nangis”

“Air mata seorang pria itu jujur. Menggambarkan kesedihannya yang mendalam dan betapa terpukulnya ia”

“Itu yang kamu rasakan?”

Arfi mengangguk kecil tangannya masih belum melepas tanganku

“Kamu benar soal air mata pria itu jujur. Dan satu hal lagi, penyesalan pria itu juga jujur, tapi entah kenapa pria selalu melakukan hal yang sama”

“Karena pria adalah makhluk yang didasari dengan logika tinggi dan emosi”

Ku tatap dalam kedua mata Arfi. Memang dia lah laki laki terbaik yang pernah aku kenal. Dan sewajarnya manusia tidak ada yang sempurna. Disisi baik pasti ada sisi buruknya. Dan disaat itulah aku tidak ingin menjadi orang yang egois dengan hanya menerima kebaikan seseorang saja tanpa mau menerima keburukannya

“Lihat deh, Elaine, dia anak yang lucu. Aku setiap kali melihat Elaine seperti lihat kamu kecil” ujarku

“Kamu pernah lihat masa kecilnya aku?”

Aku menoleh tersenyum

“Rose nunjukkin foto kecil kalian sama aku”

Arfi terdiam cukup lama. Pandangannya kosong mengalihkan ke arah lain. Sikapnya sama seperti Rose beberapa waktu lalu. Eh tunggu, apa ini ada kaitannya dengan apa yang Rose katakan padaku malam itu.

“Fi, kamu ketemu sama Rose kemarin?”

Arfi mengangguk pelan

“Ada masalah?”

Arfi menatapku cukup lama, aku tau ia sedang ada masalah. Ku tangkup pipinya dengan sebelah tanganku

“Hey, apa masalah kamu? Katakan padaku”

Arfi menggelengkan kepalanya. Ia mencium keningku cukup lama

“Lupain masalahku, maksud aku kita akan bicarakan ini nanti setelah kamu dirumah, kesehatan kamu pulih”

Aku menggelengkan kepalaku

“Aku gak akan pulih kalo masih ada beban pikiran. Suamiku ada masalah, bahkan aku tidur pun gak bisa nyenyak sayang”

Arfi menarik nafasnya dalam. Ini masalah berat, pasti. Aku tau Arfi dan sifatnya, seenggaknya belum seluruhnya aku mengerti, tapi akan dan harus.

Arfi duduk dikursi sebelah bansalku. Ia mengecup tanganku berulang kali.

“Tetaplah bersama aku, apapun yang terjadi. Aku akan menciptakan keluarga harmonis bersama kamu”

Ku elus puncak kepalanya.

“Apapun yang terjadi, bagaimana pun kamu, sedalam apapun kamu jatuh aku akan tetap bersama kamu membesarkan buah cinta kita ini”

Arfi tersenyum lebar, ia berdiri sedikit lalu mengecup bibirku sekilas

“Terima kasih ya, maafin aku atas kesalahanku kemarin. Aku sadar amarahku yang membuat kamu berada disini–”

“Sstt… udah ya jangan dibahas yang udah lewat. Cukup dijadikan pelajaran aja bagi kamu dan aku. Gak usah menyalahkan diri kamu segitunya. Aku mencintai kamu, sisi baik dan buruknya kamu aku harus menerimanya. Jadi katakan, apa yang menjadi beban pikiran kamu?”

Arfi kembali menarik nafasnya dalam

“Orang tua ku akan bercerai”

Aku mengerjapkan mataku berkali kali. Papah Bram akan bercerai dengan mamah Carissha? Tapi karena apa? Hubungan mereka baik baik aja bahkan.

“Lalu adikku…” sambung Arfi

“Ada apa dengan Rose?”

“Dia bukan adik kandungku”

Ini sungguh diluar perkiraanku. Bukankah mereka bersama sejak kecil? Lalu siapa orang tua Rose sebenarnya, tepatnya bagaimana orang tua Arfi bertemu dengan Rose, merawatnya hingga seperti saat ini

“Tunggu Fi, bukannya kamu udah dari kecil bersama Rose?”

“Ya memang, aku gak curiga saat dulu. Orang tuaku memainkan perannya sangat baik. Mereka menutupi semua ini sampai aku tau saat aku melihat kartu keluargaku. Disana tidak ada nama Octa Rosediana”

Ku elus pundak Arfi berusaha memberinya ketegaran. Meyakinkan padanya jika aku terus berada disampingnya disaat ia dalam keadaan terpukul seperti ini adalah hal terbaik yang bisa aku lakukan

“Aku gak tau harus apa. Aku menyayangi Rose adikku, oke dia bukan adik kandungku setidaknya baru saat ini aku tau, tapi aku sangat menyayanginya seperti adikku sendiri. Aku udah gak perduli dia anak siapa dan dari mana dia berasal”

Brukk

Aku terkejut saat sepasang tangan lain memeluk tubuh Arfi dari belakang. Itu adalah Rose. Ia menangis menenggelamkan wajahnya dipunggung Arfi

“Rose sayang kakak, Rose gak mau kakak ninggalin Rose begitu tau Rose ini bukan adik kandung kakak. Kak.. Rose tetep adik kecil kakak yang suka kakak marahin, yang suka bikin kakak kesel. Rose gak mau kehilangan hal seperti itu kak”

Arfi memutar tubuhnya lalu memeluk adiknya itu. Aku yang melihat seperti itu mengingat adikku dulu. Ia sangat manja padaku. Aku sering membelanya disaat ia sedang dibully oleh teman sebayanya, tidak jarang saat aku membelanya mereka memukuliku bersama adikku juga karena jumlah mereka yang banyak.

Eh kenapa jadi aku yang menangis begini, ah dasar cengeng. Setidaknya aku senang dengan kakak beradik ini yang terjalin tidak mempermasalahkan hubungan darah.

*

Beberapa hari berlalu, aku sudah diperbolehkan pulang kerumah. Pagi ini seperti biasa. Aku mengurusi kebutuhan Arfi sebelum ia berangkat ke kantor. Oh ya, kini Rose bekerja ditoko Roti milik Gracia, dinilainya Rose berpotensi, ia ditempatkan di kantor pusatnya sebagai Human Resort Departement atau biasa disebut HRD

“Dadah sama papah sayang” aku mengayunkan pelan tangan Elaine melambai pada Arfi yang sudah duduk dimobil dengan kaca jendela terbuka melambaikan tangannya ke arah kami

Mobil Arfi keluar dari rumah dan aku bersiap masuk ke dalam

“Jul, gue berangkat ya”

“Oke hati hati Vir”

Savira mengacungkan jempolnya lalu pergi bekerja. Kerjaan Gracia masih yang lama tapi ada sedikit perubahan. Ia menjadi leader ditempatnya. Cukup baik

Aku ke atas menidurkan Elaine lalu kembali ke bawah setelah Elaine tertidur nyenyak. Diteras ada satu orang penjaga yang kukenali wajahnya. Malam itu dia ada disana,

“Hey kamu. Kesini” teriakku. Lelaki berbadan tegap menggunakan kaos hitam itu berjalan cepat ke arahku

“Ada yang bisa saya bantu nyonya?” Tanyanya. Aku duduk di kursi teras

“Gak ada. Saya ingin menanyakan sesuatu sama kamu”

“Nanya apa nyonya, silahkan”

Aku sedikit berpikir mau mulai dari mana pertanyaanku. Sudah cukup lama aku ingin menanyakan hal ini namun aku belum memiliki kesempatan karena biasanya orang orang Arfi atau para penjaga itu jarang menampakan wajahnya

“Nama kamu siapa?”

“Nama saya Dikdik nyonya”

“Oke, saya ingin bertanya, bagaimana teknis kalian bertugas karena saya dengar dari kalian itu terbagi sampai beberapa kelompok”

Pria itu cukup terkejut dengan ucapanku

“Teknisnya kami sama. Menjalankan perintah yang diberikan oleh Tuan muda. Biasanya kami terbagi menjadi 2 orang setiap bertugas. Kami sendiri beranggotakan 20 orang. Dan saya adalah ketua dari mereka semua”

Kebetulan, kalau begitu aku bisa lebih banyak tau darinya

“Sedikit flashback, kurang rasanya jika kamu bercerita tanpa mengetahui latar belakang kamu, sebentar… Bi Imas!”

“Iya Nya?”

“Bikinin minum, kamu mau minum apa Dikdik?”

“Gak usah Nya terima kasih”

“Buatkan dia kopi hitam, saya teh anget tanpa gula”

“Baik Nya”

Bi Imas berlalu

“Duduk sini samping saya jangan dibawah begitu”

Dikdik terlihat ragu tapi ku tatap ia seolah aku memberinya perintah yang tidak bisa dibantah. Ia duduk disamping kursiku.

Bi Imas datang membawa dua gelas minuman berbeda yang diletakkan dimeja antara kursi kami

“Jadi Dikdik, bagaimana kamu bisa bekerja dibawah perintah Arfi. Awalnya bagaimana?”

“Gini, dulu saya adalah pejahat. Saya dulu hampir merampok mobil Tuan saat melewati jalan sepi. Saya serang mobilnya, yang punya mobil keluar. Tatapannya datar menatap saya yang bersiap menyerangnya. Saya panik, saya serang dia, dengan mudahnya dia menghindarinya melempar tubuh saya sampai terbentur oleh batu jalanan”

Aku mengesap tehku sedikit

“Diminum kopinya” ujarku. Dikdik mengesap kopinya lalu diletakkan kembali ke meja

“Lanjut”

“Saya pingsan malam itu. Saya sadar saat dirumah sakit dan yang lebih terkejut lagi, Tuan Arfi berdiri disamping saya. Ia bertanya pada saya tujuan saya merampok. Saya menjawab untuk bayaran sekolah anak saya. Saat itu, Tuan meeogoh kantongnya menuliskan sesuatu disana lalu memberikan saya kertas itu. Kertas itu adalah cek dengan nominal yang besar”

Aku menganggukkan kepala “terusin cerita kamu”

“Uang dari Tuan saya cairkan saya bayarkan utang anak saya sekolah. Sampai saat ini anak saya bisa duduk dibangku sekolah menengah atas karena bantuan Tuan Arfi. Sejak saat itu saya berjanji akan melindungi Tuan Arfi. Saya mencari alamatnya namun saya hanya menemukan kantornya. Saya temui beliau untuk mengucapkan terima kasih. Saya tawarkan diri saya untuk menjadi bodyguardnya, saya dan 10 anak buah saya”

“10? Kata kamu 20 orang?”

“Ya 9 orang itu adalah orang Tuan besar Bram”

Aku menganguk. Kesimpulannya adalah orang penjaga Arfi dan papah Bram berbeda namun mereka memiliki tugas yang sama.

“Nyonya..”

“Ya?”

“Saya dan beberapa anak buah saya kemarin berhutang budi sama nyonya. Biarkan saya membalas budi saya pada nyonya. Katakan siapapun yang mengganggu ketenangan nyonya pada saya atau urusan apapun yang mengusik nyonya”

Aku terdiam menatap wajah Dikdik. Dia orang baik, keadaan yang memaksanya menjadi seorang kriminal. Sama sepertiku hanya berbeda latar belakang

“Saya ucapkan terima kasih tawaran kamu. Akan saya pikirkan, oh ya ngomong ngomong…”

Aku mengambil selembar uang dari saku ku

“Belikan susu anak saya. Saya kehabisan susu. Kamu pergi ke apotek diujung jalan sana bilang sama mereka susu formula untuk Elaine Juanto”

“Baik nyonya. Beri saya waktu 15 menit. Saya akan kembali”

Didik berlalu keluar dengan mobil sedan hitamnya ia pergi. Jujur saja aku memang tidak terbiasa memberi perintah. Tidak sampai 15 menit mobil Dikdik kembali terparkir didepan pagar rumah. Ia menghampiriku dengan sebuah bungkusan ditangannya

“Ini susu seperti yang nyonya perintahkan”

Aku mengambil bungkusan tersebut

“Terima kasih ya, oh ya pak Min lagi gak masuk ya? Saya gak lihat dia pagi ini”

“Benar nyonya. Ia sedang sakit itu sebabnya Tuan muda menyuruh saya untuk tetap disini berjaga jaga kalau nyonya membutuhkan sesuatu”

Aku menganggukkan kepala

“Oh ya Dikdik, bisa antar saya nanti siang. Saya ingin pergi ke rumah sakit untuk cek up anak saya”

“Siap Nya.. saya menunggu perintah”

Dalam hati aku meringis. Menurutku mereka berlebihan sekali cara mereka menghormati majikannya. Hey, aku kan hanya majikan tapi mereka memperlakukanku seperti dewa. Atau akunya saja yang belum terbiasa dengan situasi dan perlakuan mereka terhadapku. Lalu kenapa dulu aku tidak pernah melihat mereka saat aku dan Arfi tinggal diapartement

“Dikdik, kamu bilang kamu sudah jadi bawahan Arfi sejak lama. Lalu kenapa saya gak pernah lihat kamu dari awal saya kenal Arfi?”

“Nyonya mungkin tidak mengetahui saya. Tapi saya dan para anak buah saya tau dan mengenal nyonya”

Aku menautkan alisku

“Kalian mata matain saya begitu?”

“Atas perintah Tuan muda demi keselamatan dan keamanan Nyonya pada saat itu”

“Lalu kenapa baru sekarang terlebih setelah malam itu kalian sering terlihat disekeliling saya”

“Kami hanya menjalankan perintah nyonya. Tuan muda bilang nyonya tidak boleh tau keberadaan kami saat itu. Agar nyonya tidak merasa risih, begitu nyonya”

Aku menganggukkan kepala. Oh jadi Arfi memperlihatkan siapa dirinya yang sebenarnya secara perlahan lahan. Baik, baik. Dia ada benarnya juga jika aku mengetahui kemana pun aku pergi ada yang sedang memperhatikanku tentu aku akan risih, dan waswas. Mungkin itu yang tidak diinginkam oleh Arfi

“Saya ke atas dulu. Nanti 15 menit sebelum saya berangkat saya kasih tau kamu lagi”

“Siap Nyonya”

Aku berbalik lalu masuk ke dalam. Belum sampai dalam aku mendengar Dikdik menghubungi seseorang

“Nyonya Julia ingin pergi ke rumah sakit untuk mengecek keadaan anaknya. Tugas kita mengamankan daerah yang akan dilalui oleh beliau. Saya sendiri yang mengantar beliau sampai tujuan”

“…”

“Baik..”

Aku melihat dari kaca jendela Dikdik mengakhiri telfonnya dan dia berlalu. Aku hanya bisa menarik nafasku dalam lalu menghembuskannya secara kasar.

‘Ini berlebihan…’

*

Aku senang mendapat kabar gembira setelah cek up barusan. Elaine kondisinya sangat baik, selain itu berat timbangannya pun naik. Aku memberi kabar baik itu pada Arfi ia pun senang mendengarnya. Sekarang aku sedang dalam perjalanan pulang

Hapeku berdering tanda panggilan masuk. Kupikir Arfi menghubungiku ternyata Savira

“Yaps, aya naon?”

“…”

“Hah? Tapi lo gpp?”

“…”

“Aduh, gue abis pulang cek up Elaine sih. Ini aja masih dperjalanan pulang gue. Gracia juga diambil dompet sama hapenya?”

“…”

“Mobil juga? Gila niat amat kenapa gak kalian aja sekalian dibawa juga”

“…”

“Canda gue, oke nanti gue jemput. Btw lo berdua lagi dimana?”

“…”

“Hmm oke deh”

Aku menutup sambungan telfonku. Menatap lurus ke depan. Savira dan Gracia tadi terkena musibah, mereka kerampokan dijalan. Syukur mereka tidak kenapa napa. Barang berharga mereka diambil semua beserta mobilnya. Ah iya, aku jadi ingat tawaran Dikdik tadi pagi

Ku ambil hapeku lalu mengirim pesan pada Savira. Tak butuh waktu lama Savira membalas pesanku. Aku tersenyum. Semoga ini bisa membantu

“Dikdik, saya boleh minta tolong sama kamu?”

“Silahkan Nyonya”

“Berapa nomer hape kamu?”

Dikdik menyebutkan nomer hapenya. Aku mengirim ulang pesan yang dikirim oleh Savira padaku ke nomer Dikdik

“Nanti begitu sampai rumah kamu cek hape kamu. Ada pesan dari saya. Tolong kamu cari siapa pelakunya”

“Baik Nya..”

“Oh ya, kamu biasa kan disuruh oleh Arfi mencari seseorang lalu menangkapnya?”

“Benar Nyonya”

“Temukan pelakunya, jangan lukai dia cukup lumpuhkan saja”

“Siap laksanakan Nyonya”

“Oh ya satu lagi, bisa kamu suruh anak buah kamu untuk jemput kedua temen saya?”

“Bisa nyonya..”

“Suruh anak buah kamu jemput mereka dijalan Maroko nomor 54 pertigaan depan toko Ikan. Dua orang wanita berbaju pink sama kemeja coklat itu temen saya. Oh ya, cukup 1 orang aja”

“Siap laksanakan Nyonya”

Aku mengambil hapeku menghubungi Savira kembali

“Vir, nanti ada yang jemput kalian. orang naik mobil sedan hitam. Itu taksi online yang gue pesen untuk kalian oke”

“…”

“Ya sama sama”

    

Aku menutup sambungan telfonku. Ku alihkan pandanganku keluar jendela. Aku tidak menyangka hidupku akan seperti ini. Disisi lain memang hal semacam ini dapat membantu seperti yang di alami Savira dan Gracia. Satu hal yang mengganjal dalam pikiranku apa mereka sejenis premanisme? Atau hal kriminal lainnya? Ah aku masih belum bisa menyimpulkan kesana tapi inilah kenyataan dalam hidupku sekarang.

Sampai dirumah Dikdik mengumpulkan beberapa orang didepan teras rumahku. Aku berdiri didepan mereka semua. Jujur saja ada perasaan tidak enak karena memang bukan ini yang ada dalam bayanganku setelah hidup bersama Arfi

“Nyonya Julia ingin meminta kita mencari pelaku yang merampok kedua temannya. Mereka mengambil mobil, handphone, dan dompet didaerah jalan Maroko nomor 54 pertigaan depan toko Ikan lokasi kejadiannya. Cari pelakunya sekarang!” Ujar Dikdik lantang. Untung aja gak ada Savira kalo ada ia akan menanyakan banyak hal padaku

“Heh kamu! Kesini!” Aku terkejut begitu Dikdik menunjuk salah satu anak buahnya.

“Kamu denger apa yang saya jelaskan barusan?”

“Denger boss”

“Kamu tau apa yang harus kamu lakukan?”

“Tau boss”

Bugh!

Eh eh loh kok dipukul? Dikdik memukul perut anak buahnya sendiri hingga ia terjatuh

“Kok kamu pukul dia?” Tanyaku

“Dia bertindak yang gak seharusnya dia lakukan Nyonya”

Aku mengeritkan dahiku. Perasaan dari tadi mereka diem aja gak ada yang bergerak deh

“Berdiri kamu!!”

Dikdik mencengkram pundak anak buahnya tersebut hingga ia berdiri

“Apa yang kamu lihat? Jawab!!”

Kalo begini terus anakku bisa bangun nih mendengar suara lantang Dikdik. Tapi anehnya Elaine tidak terganggu sama sekali

“Saya gak lihat apa apa boss”

Bugh

Aduh. Harus banget apa pake kekerasan begitu?

“Bangun!!”

Dikdik kembali mencengkram pundak anak buahnya

“Ngaku kamu!!”

“Maaf boss saya khilaf. Baru kali ini saya melihat nyonya dan dia cantik”

“Apa yang kamu lihat?!!”

Dikdik masih mencengkram kuat kerah baju anak buahnya

“Da.. dada boss”

Bruaakk

Aduh kasihan banget sih ini orang dilempar lempar. Tapi hey! Ada apa dengan dadaku sih, ku lirik sedikit ke bawah. Hah! Memang benar yang dikatakan Savira sepertinya, dadaku cukup besar terlebih aku mengenakan kaos yang cukup ketat tapi gak terlalu ketat juga sih

“Beri dia pelajaran”

Eh?!!

“Tunggu tunggu..” sargahku

“Jangan apa apain dia. Kasihan. Saya yang salah memakai baju terlalu ketat. Sudah cukup kamu memberi dia pelajaran barusan”

“Tapi Nya, dia melakukan hal yang gak sopan apalagi itu sama nyonya sendiri”

“Saya bilang sekali lagi sama kamu Dikdik. Ini saya yang salah. Saya rasa dia juga udah menyesali perbuatannya. Untuk kedepannya jangan ada perbuatan seperti itu lagi”

“Baik Nya.. bangunkan dia” perintah Dikdik pada anak buahnya yang lain

Aku tidak tega jika melihat orang harus dipukuli dan disakiti siapapun itu. Selain itu, bukan kesalahan dia mutlak juga, oke baik memang hal seperti tadi tidak harus terjadi. Aku tau itu, tapi aku juga melakukan kesalahan disini yaitu memakai pakaian yang cukup ketat dibagian dada.

Hah! Jika begini aku harus mencari pakaian yang agak besar. Karena aku juga tidak ingin bagian tubuhku menjadi konsumsi mata pria pria lain meski hanya dari luar pakaian. Karena yang berhak atas aku luar dalam hanya Arfi seorang. Btw aku jadi ingat mandi sore aku harus berendam agar wangi sebab aku menjanjikan sesuatu pada Arfi malam nanti. Sesuatu yang sudah lama tidak kami lakukan

“Obati dia ya, kalo perlu kerumah sakit bawa aja. Saya masuk dulu”

Aku berbalik melangkah ke dalam. Kulihat notifikasi chat dari Savira

“Gue udah sampe dirumahnya Gracia. Gue disini dulu Jul sampai Agus datang. Gracia kayanya syok berat”

Kuhembuskan nafasku. Ku letakan Elaine dikasur tidurnya. Semoga anak buah Dikdik bisa menemukan pelakunya. Ini juga akan kubicarakan pada Arfi nanti.
*

Author PoV

Seorang gadis menatap langit diteras rumahnya. Langit biru cerah seperti biasa menjadi hal favorite dari gadis. Ia duduk di ayunan belakang teras rumah, rumah seseorang yang selama ini ia yakini adalah kakak kandungnya.

Pelukan, kasih sayang, dan perhatian kakaknya berputar terus dikepalanya. Seseorang yang melindunginya, bertanggungjawab atasnya dan bersama selalu sejak usia mereka dini adalah kenangan yang sulit dilupakannya

“Aku harus pergi dari sini.. aku harus mencari siapa orang tuaku dan dari mana aku berasal”

Ia beranjak dari sana lalu menghubungi seseorang. Persiapannya selesai, kebetulan rumahnya kosong tanpa ‘penjaga’ itu melancarkan aksinya untuk pergi dari sana.

Ia berjalan menenteng tas kopernya. Sebuah mobil SUV putih terparkir disebuah gerbang perumahan besar. Wanita itu menghampiri mobil tersebut lalu masuk ke dalamnya

“Aku gak tau secantik itu wajah kamu saat mengenakan masker dan helm itu” ujar pria disampingnya

“Gak usah berisik. Jalan aja buruan” balas wanita yang kini sudah melepas helm serta masker yang ia gunakan agar tidak mudah dikenali

“Iya iya galak banget sih kamu. Untung cinta. Kita mau kemana?”

“Kita kabur aja” ujar wanita itu enteng

“Hah? Mau ajak aku kawin lari? Nggak deh jangan Rose. Aku mending ngadepin kakak kamu atau papah kamu sekalian deh” ujar pria itu yang mendapat tatapan tajam dari gadis yang disebut Rose tersebut

“Eum.. maksud aku, aku ikut kemana aja kamu pergi”

“Siapa yang suruh kamu ikut?”

Ferdi, pria yang kini sedang duduk dibalik kemudi menoleh cepat ke arah Rose disampingnya

“Terus?”

“Iya jalan terus sampai bandara”

Ferdi mengerjapkan matanya berulang kali lalu kembali fokus menatap ke depan. Ia tidak tau mau kemana dan mau apa kekasihnya tersebut yang bisa ia lakukan adalah melindunginya serta memastikannya agar Rose baik baik saja. Jika tidak, urusannya akan menambah rumit terlebih Ferdi tau perihal retaknya hubungan kedua orang tua Rose serta kenyataan antara Rose dan Arfi

“Kamu yakin balik ke belanda lagi?” Tanya Ferdi begitu mereka sampai di bandara

“Iya, menurut info yang aku dapet ibu kandungku orang belanda. Kalo aku beruntung dia masih bekerja dikantor papahku dibelanda”

Ferdi menghembuskan nafasnya kasar. Ia menatap kasihan wajah kekasihnya. Begitu berat cobaan yang sedang ia alami.

“Kalo ada apa apa atau kamu menemukan kesulitan kabarin aku. Aku nyusul kamu langsung”

Rose menganggukkan kepalanya. Ia berbalik lalu berjalan meninggalkan Ferdi. Ferdi hanya menatap punggung kekasihnya menjauh. Perasaannya berat melepas kekasihnya. Ia sadar Rose perlu waktu untuk menenangkan dirinya sendiri.

“Ferdi..!! Setelah kita merayakan wisuda bersama aku ingin kamu ngelamar aku!!”

Ferdi tersenyum lebar

“Ya!! Tentu!!”

Rose tersenyum lebar lalu berbalik melanjutkan jalannya begitu juga dengan Ferdi yang kembali berjalan ke parkiran.

Begitu sampai basement pengelihatan Ferdi menjadi gelap, kepalanya ditutupi oleh karung. Ia merasakan pukulan mendarat diperutnya membuatnya tersungkur merasakanya nyeri

“Masukin dia ke bagasi!! Kita bawa dia ke tuan muda!!”

Ferdi merasakan tubuhnya diangkat lalu dibanting dengan kasar masuk ke dalam bagasi.
Bruk

Gelap, ya Ferdi tidak melihat apapun selain kepalanya ditutupi oleh karung kedua tangannya pun di ikat. Ia tidak tau apa yang terjadi yang pasti ia tau mereka yang membawanya pergi pasti orang orang Arfi, dan jika sudah menyangkut Arfi pasti juga berkaitan dengan Rose itu artinya Arfi sudah tau Rose pergi dari rumah namun sayangnya pesawat yang ditumpangi oleh Rose sudah lepas landas beberapa menit yang lalu

**

Dalam ruangan yang cukup besar Arfi duduk santai disebuah sofa besar. Ia menyandarkan punggungnya dengan kedua kakinya diatas meja Sambil meneguk minumannya.

“Permisi tuan, kami mendapatkan orang terakhir yang bersama nona muda” ucap seseorang dibelakang Arfi. Lagi, Arfi meminum minumannya sampai habis

“Bawa dia kesini” perintahnya tanpa menoleh kebelakang. Anak buahnya pergi lalu kembali membawa seseorang yang berada di dalam karung

Brukk

Arfi memperhatikan seseorang yang berada didalam karung tersebut. Ia berpikir siapa berani menculik atau menyembunyikan adik seorang Arfi Juanto. Meski kenyataannya adalah Rose bukan adik kandungnya, namun Arfi tetap menganggap ia adalah adik kecilnya yang selalu ingin ia sayangi dan ia lindungi. Tanpa hubungan darah, tidak akan mengubah pendirian dan kasih sayangnya pada Adik satu satunya itu

“Buka ikatannya, keluarkan ia”

Beberapa anak buahnya melepaskan karung tersebut. Arfi terkejut melihat siapa orangnya. Ia membanting gelasnya hingga pecah. Tangannya mengepal menahan emosinya. Jika saja ia tidak ingat bahwa orang ini adalah adik dari sahabatnya tentu ia akan menghabiskan nyawanya malam ini juga. Ya, dia adalah Ferdi, adik laki laki Iwan.

“Kenapa lu!! Lu kemanain ade gue!!” Teriaknya. Kedua anak buahnya Arfi memegang kedua tangan Ferdi.

“Adik lo sendiri yang ngelarang gue mgasih tau dimana dia berada sama siapapun termasuk lo”

Arfi menatap geram Ferdi. Kedua tangannya mengepal sangat kuat, ia menarik nafasnya dalam dalam

“Gue harus tau dimana dia berada! Dia adik gue! Dia tanggung jawab gue!”

Ferdi menggelengkan kepalanya lemah

“Gue udah berjanji sama adik lo orang yang gue cintai untuk gak memberitahukan dimana dia berada”

Arfi menjambak rambut Ferdi hingga kepala Ferdi mengadah ke atas

“Kalo ada apa apa sama adik gue lo yang abis sama gue” ucap Arfi penuh penekanan. Ferdi terkekeh membuat Arfi menatapnya heran

“Dia gak akan kenapa napa. Dia akan baik baik aja gue tau dia. Gue kenal dia. Harusnya lo percaya sama adik lo sendiri kalo dia bisa jaga dirinya sendiri”

Arfi berdiri masih menatap Ferdi

“Dia satu satunya yang gue punya dikeluarga gue. Dan gue gak mau dia juga merasa kehilangan seperti yang gue rasakan. Gue ingin jadi bantalan hidupnya agar saat ia terjatuh ia gak akan merasakan sakit. Untuk itu penting bagi gue untuk tetap berada didekatnya”

Ferdi tersenyum kecil. Sangat kecil. Pria dihadapannya adalah pria yang ia kagumi melebihi Iwan, kakaknya sendiri. Untuk pertama kalinya dalam hidup Ferdi ia melihat sisi lemah Arfi. Lain hal yang diceritakan Rose terhadapnya soal kakaknya yang overprotectif padanya. Hal itu membuatnya risih. Kini ia tau alasan kenapa Arfi tidak ingin melepas Rose jauh dari pandangannya.

Pandangan Ferdi mengelilingi disekitar ruangan tersebut. Lebih dari 15 orang berbaju hitam dan berbadan tegap berdiri mengelilinginya. Ia tersenyum kecut ‘jadi mereka yang selalu mengawasi Rose gue’ batin Ferdi. Bukan tidak tau, beberapa kali ia menaruh curiga setiap ia pergi dengan Rose ia selalu melihat 2 orang berbadan tegap.

“Gimana kalo kita buat kesepakatan?”

Arfi melirik Ferdi yang kedua tangannya masih dipegang oleh anak buahnya Arfi

“Apa?”

“Gue gantiin kedua penjaga lo untuk jagain Rose”

Alis Arfi menaut, matanya menyipit menatap Ferdi. Ia tidak tau jika Ferdi tau bahwa kemana pun Rose pergi kedua anak buahnya selalu mengawasinya

“Gak usah heran. Penampilan anak buah lo mencolok meski berada dijarak yang aman. Tapi gue tau siapa lo dan keluarga lo” sambung Ferdi. Arfi tampak berpikir. Baru pertama kali ini ia dibuat bernegosiasi oleh orang lain

“Cuma gue yang tau kemana adik lo pergi. Oke gue kasih tau dia nyari ibunya, di belanda. Kalo lo pikir akan mudah menemukan adik lo dengan anak buah lo ini lo salah. Belanda itu luas, bung”

“Boss biar saya habisin aja ini orang dari tadi songong banget!” Ujar salah satu anak buah Arfi. Arfi memberi isyarat kepada anak buahnya untuk tetap diam ditempatnya

“Kalo lo gagal?” Tanya Arfi yang berjongkok didepan Ferdi. Ferdi tersenyum kecut

“Satu satunya yang gagal disini lo. Lo dengan anak buah lo gak mampu menjaga Rose untuk tetap dirumah. Buktinya dia bisa nembus keluar negri… Arrgghh…”

Kedua tangan Ferdi ditarik paksa oleh kedua anak buah Arfi berlawanan arah. Lagi, Arfi memberi isyarat untuk tetap diam

Arfi memejamkan matanya, menarik nafasnya dalam

“Lepasin dia” perintah Arfi. Arfi kembali duduk lalu menuang minuman kegelasnya mengesapnya lalu menatap Ferdi

“Lo cinta sama ade gue?”

Ferdi menghampiri Arfi lalu mengambil gelas yang berada ditangannya Arfi dan meminumnya hingga habis.

“Pertanyaan lo terlalu bodoh meski lo udah gue anggep abang gue sendiri. Lo pikir gue rela dibawa sama orang orang lo ini tanpa perlawanan”

Arfi menautkan alisnya mendengar nada bicara Ferdi yang terlihat menahan amarah

“Kalo gue mau anak buah lo bisa habis sama gue meski mereka berdua. Gue membiarkan diri gue disekep kaya tadi demi ketemu dan bernegosiasi sama lo”

Arfi memberi isyarat kepada para anak buahnya untuk tetap diam. Jelas ini memancing kemarahan para anak buahnya Arfi yang berada dalam ruangan tersebut melihat apa yang dilakukan Ferdi pada tuan mereka.

“Negosiasi lo bilang?”

Ferdi menganggukkan kepalanya

“Lo udah tau alesan gue menjaga adik gue begitu ketat”

“Dengan nyawa gue sendiri akan gue jaga adik lo. Dia bukan cuma orang yang berharga dalam hidup lo tapi dalam hidup gue juga”

Arfi menuangkan minumannya kegelas lalu meminumnya sampai habis

“Gue gak bisa percaya lo…”

Ferdi menatap geram pada Arfi. Ingin rasanya menumpahkan amarahnya lalu memukul wajah Arfi sekarang juga

“Tapi…. gue gak punya pilihan”

Kali ini Ferdi manautkan alisnya

“Maksud lo, bang?”

Arfi menatap Ferdi serius. Ia mencengkram kedua pundak Ferdi

“Pergi! Lindungi adik gue! Apapun yang terjadi gue tagih janji lo untuk melindunginya dengan nyawa lo!”

Ferdi tersenyum lebar. Ia memeluk Arfi sebentar lalu melepaskannya kembali. Ferdi melangkah meninggalkan Arfi, namun langkahnya terhenti lalu membalik badannya

“Tadi gue bilang negosiasi kan, kalo gue berhasil jaga adik lo itu artinya gue dapet restu menikahi adik lo sekembalinya gue dari belanda”

Arfi tersenyum tipis. Ferdi melanjutkan langkahnya keluar. Arfi kembali menuangkan minumannya ke dalam gelas

“Boss, perlu saya awasi anak muda tadi?”

“Hanya ada dua bandara internasional yang digunakannya. Bagi tim kamu untuk berjaga dikedua bandara tersebut. Jika sudah menemukan orang tadi, ikuti dia, pastikan anak buah kamu bisa pergi keluar negri”

“Baik boss”

Anak buah Arfi pergi berlalu hanya ada beberapa anak buah Arfi yang tersisa didalam sana. Satu orang datang menghadap Arfi

“Lapor boss, nyonya Julia ingin ketemu sama boss. Ia menunggu boss direstoran favoritenya katanya”

“Kok kamu bisa tau?”

“Saya tau dari Dikdik boss. Dikdik sms saya barusan”

“Dikdik sama Julia?”

“Iya boss. Dia sekarang menjaga Nyonya”

Arfi tertawa dalam hati. Pasalnya Julia selalu protes padanya bahwa kemanapun ia pergi selalu dijaga oleh kedua penjaga Arfi belakangan ini.
Arfi menambahkan es ke dalam gelas anggurnya lalu mengesapnya sedikit

“Maaf boss, Dikdik juga bilang sama saya untuk menyampaikan pesan nyonya Julia ke boss kalau si boss jangan kebanyakan minum alkohol”

Arfi membalik badannya. Ia tersenyum cukup lebar. ‘Dasar cerewet’ batinnya.

“Buang sisa minuman ini, Taher. Kasih tau sama Dikdik saya segera kesana sekarang”

“Baik boss”

Arfi mengenakan jasnya lalu keluar dari bangunan yang cukup megah lalu mengendarai mobilnya sendiri

*

Julia PoV

Aku memainkan sedotan jusku. Sudah lebih dari setengah jam aku menunggu disini. Menunggu dia, siapa lagi kalo bukan Arfi. Btw ini sudah gelas yang ke dua. Aku melirik ke arah meja Dikdik yang berada dua meja dari mejaku. Dikdik berdiri tersenyum padaku lalu pergi dari sana. Aku menaikkan alisku

“Maaf lama, tadi ada urusan sebentar”

Kutarik pandanganku ke depan. Laki laki berjas hitam duduk didepanku. Dia orang yang kutunggu. Arfi si pria yang selalu memiliki urusan. Pantesan Dikdik pergi tadi, rupanya boss besarnya sudah datang

“Hmm..”

“Kamu jangan marah gitu. Aku ada urusan beneran tadi”

“Aku khawatir sama Rose tau” ujarku. Namun Arfi malah tersenyum sambil membalik buku menu dihadapannya. Aku memicingkan mata, tumben gak serius saat aku bicarakan Rose

“Arfi, kamu mabuk ya?”

Arfi menoleh cepat ke arahku

“Nggak, soal Rose aku udah gak begitu khawatir. Besok pagi mungkin ia sudah bersama orangku”

Aku menautkan alisku. Cepat sekali gerak anak buahnya Arfi atau mereka memang banyak. Gak heran sih, buktinya Mobil Gracia, handphone dan dompetnya sudah berhasil ditemukan dalam waktu satu hari setengah sejak kejadian beserta pelakunya. Pelakunya? Diserahkan kepolisi, itu pun aku yang memberikan suara, jika tidak aduh! Aku tidak ingin Arfi menghilangkan hidup orang lagi

“Cepet banget anak buah kamu nemuin Rose”

“Bukan anak buahku, lagian Rose sekarang mungkin ada dibelanda”

“Hah?!!” Aku sedikit berteriak membuat para pengunjung disini menatap ke arah kami

“Kamu apaan sih teriak teriak gitu” ujar Arfi menatapku

“Ya kamu katanya bukan anak buah kamu. Terus siapa? Apalagi Rose dibelanda”

“Ferdi. Dia yang menjaga Rose dibelanda”

Ini makin gak masuk akal. Aku menatap Arfi yang masih memilih dibuku menu. Arfi menatapku

“Itu yang tadi ada urusan aku ketemu Ferdi. Ferdi nawarin diri untuk jagain Rose selain itu cuma dia yang tau kemana Rose. Aku gak punya pilihan selain percaya sama dia tapi aku ngirimin 2 orang untuk jagain mereka si Pelong sama Dimas orang kepercayaan aku juga”

Oke ini baru masuk akal. Aku mengambil buku menu dari tangan Arfi lalu menuliskan jenis makanan disana

“Pelayan..”

“Saya pesan ini aja…”

“Baik, ditunggu sebentar ya”

Aku mengangguk. Kulipat kedua tanganku diatas meja sambil tersenyum menatap Arfi. Arfi menatapku dengan tatapan herannya

“Kenapa?”

“Aku kan belum mesen”

“Udah aku pesenin punya kamu”

“Aku kan belun milih”

“Aku samain sama aku pesenannya”

“Kan–”

Aku melotot ke arah Arfi. Ia hanya mengalingkan pandangannya ke arah lain tanpa mau meneruskan ucapannya.

“Julia kan?”

Aku menoleh ke samping kanan keluar Restoran. Aku mengenali pria besar didepanku. Ia adalah security tempat aku bekerja dulu.

“Pak, Manarul?”

Pak Manarul menghampiriku lalu menyalamiku.

“Gimana kabarnya kamu?”

“Saya baik pak, bapak gimana?”

“Saya baik, tapi udah gak kerja disana lagi. Udah tutup neng” ujar pak Manarul memelankan suaranya diakhir kalimatnya.

Ku lirik Arfi yang tengah menatap Pak Manarul dengan tatapan menyelidik. Sadar akan lirikanku, pak Manarul menoleh ke sampingnya. Ia sedikit terkejut melihat siapa yang duduk didepannya.

“Kamu kan… anak sulung Juanto” ujar Pak Manarul, Arfi hanya diam menatap Pak Manarul didepannya. Pak Manarul kembali menatapku

“Neng, ini client kamu?”

Arfi berdiri dari tempat duduknya berjalan ke samping

“Arrghhh…”

Aku terkejut saat Arfi mencengkram kuat pundak pak Manarul hingga pak Manarul terjatuh kelantai dengan kedua lututnya

“Jangan bicara seperti itu didepan istri saya”

Arfi masih mencengkram kuat pundak pak Manarul, wajah pak Manarul memerah menahan sakit bahkan ia tidak sanggup mengeluarkan suara sedikit pun. Aku bergidik ngeri melihat itu.

“Fi.. udah..”

Arfi melepas cengkramannya. Pak Manarul terduduk lemas dibawah. Beruntung posisi kamu dipojok ditutupi oleh dinding toilet ditengah restoran ini.

“Pergi dari sini..”

Pak Manarul kesulitan berdiri. Ia masih merasakn nyeri dipundaknya

“Fi, pak Manarul itu orang baik. Ia gak tau apa yang terjadi sama aku dsn hidup aku kesininya. Maafin dia ya”

Arfi menatapku dengan serius lalu ia memejamkan matanya menghembuskan nafasnya kasar. Aku membantu Pak Manarul berdiri

“Maaf pak, dia sekarang suami saya. Hidup saya juga jauh lebih baik” ujarku

“Gpp neng, bapak yang minta maaf sama suami neng” pak Manarul beralih menatap Arfi lemah

“Maafin saya pak, saya gak tau kalau neng Julia ini istri bapak. Maafin kesalahan saya”

Ada tatapan ketakutan yang mendalam dari sorot mata Pak Manarul melihat Arfi. Arfi berdiri lalu merangkulkan tangan Pak Manarul dipundaknya membantunya untuk berdiri

Arfi menjentikkan kedua jarinya. Tak lama Dikdik datang menghampiri kami

“Bawa bapak ini pulang. Jika ia masih sakit obati ia dulu”

“Baik tuan”

Tangan Pak Manarul beralih ke pundak Dikdik lalu Dikdik membawa pak Manarul pergi. Aku dan Arfi kembali duduk tak lama pesanan kami datang. Ku tatap Arfi yang sedang mengaduk makanannya

“Kenapa kamu lihatkn aku begitu?” Tanyanya

“Tenaga kamu kuat banget, badan pak Manarul itu yang paling gede loh diantara security lainnya dulu tapi dia bisa tumbang dengan satu tangan kamu begitu”

Arfi berhenti mengaduk makanannya beralih menatapku. Ia meletakkan alat makannya lalu mendekatkan wajahnya ke arahku

“Aku emang kuat tapi yang lebih kuat lagi itu kamu. Yang besar, kuat dan panjang aja masuk semua ke kamu”

Aku memutar bola mataku malas. Ku ambil sendok disampingku

Tuk

“Aduh, kok aku diketok sih”

“Supaya otak kamu gak mesum lagi”

“Mesum apaan, kenyataan kok”

“Diem ah, cepet makan” ujarku. Aku mengaduk makananku lalu mencicipinya. Aku beralih melihat Arfi yang sedang menatapku

“Kenapa lihatin aku?”

“Kamu tau gak semua anak buahku itu tunduk patuh sama aku. Orang berbadan besar kaya pak Manarul aja bisa aku taklukan. Tapi aku kalahnya sama kamu yang lemah”

Aku menautkan alisku sambil mengunyah makananku. Arfi memasukkan makanannya ke dalam mulutnya

“Mungkin orang diluar sana menggunakan berbagai cara untuk menjatuhkan aku. Itu aja sulit tapi kamu bisa ngalahin aku dengan mudah hanya dengan satu cara”

“Apa?”

Arfi meletakkan sendok dan garpunya. Ia melipat kedua tangannya diatas meja menatapku serius

“Kamu ninggalin aku. Aku akan sangat lemah dan hanya kamu yang bisa mengalahkan aku dengan cara itu. Setiap orang pasti punya kelemahan dan kelemahan terbesarku itu ada di kamu”

Aku mengunyah makananku

“Kamu tau, aku ingin menjadi bagian dari hidup kamu dan sampai saat ini aku masih belajar untuk itu. Menjadi yang terbaik itu perlu usaha kan?” Ujarku. Arfi tersenyum sambil mengunyah makananku

“Kamu gak perlu usaha apapun untuk menjadi yang terbaik. Kamu udah berhasil sayang. Jika tadi aku bicara soal kelemahanku, kamu tau apa yang menjadi kekuatanku?”

“Apa?”

“Kamu”

Aku menautkan alisku

“Kok aku lagi?”

“Ya, aku bisa menjatuhkan orang yang berbadan besar seperti pak Manarul gitu karena kamu. Dia mengatakan hal yang gak seharusnya dikatakan olehnya didepan kamu. Itu membuatku marah”

“Adalah Julia yang membuat Arfi kuat dan adalah Julia yang membuat Arfi lemah. Perlu kamu tau itu dua fakta dalam hidupku”

Aku tersenyum lebar. Betapa bahagia aku mendengar ucapan Arfi malam ini. Ini restoran umum tapi aku merasa seperti sedang dinner berdua. Arfi membuatnya penuh cinta, ia banyak membuat kupu kupu berterbangan hanya dengan kalimat kalimatnya.

“Aku udah habis, kamu abisin makannya cepetan” ujar Arfi memasukkan suapan terakhirnya ke dalam mulutnya.

Tanganku terulur mengelus punggung tangannya. Arfi menatapku

“Malam ini malam yang indah. Banyak bintang dilangit. Yakin kamu mau langsung istirahat begitu sampai rumah?” Ujarku dengan senyum. Arfi menautkan alisnya sedetik kemudian ia tersenyum

“Tentu, kita akan nikmatin malam kita”

“Ya..” aku mendekatkan tubuhku pada Arfi

“aku ingin melihat kekuatan kamu malam ini, sayang” sambungku

“Kamu tau, akhir akhir ini aku banyak mengalami masalah dan itu rumit. Tapi kamu selalu punya cara untukku agar aku melupakan masalahku”

Arfi tersenyum, ku kecup bibirnya sekilas. Oh sungguh aku mencintai laki laki 3 tahun lebih muda usianya dibanding aku. Mereka akan berkata aku gila. Tapi seorang pun gak akan tau apa yang membuatku gila dan siapa. Cinta dan Arfi datang membuat pikiranku irasional. Menerima cintanya adalah hal yang paling membuatku bahagia

Aku tau Arfi banyak mengalami masalah belakangan ini. Untuk itu, malam ini aku ingin memberikan hal yang mungkin mampu membuatnya melupakan masalahnya sejenak. Semoga

*

Arfi PoV

Gue terbangun saat mendengar suara gemercik air dari kamar mandi. Hmm istri gue udah bangun duluan rupanya setelah tempur semalam sampai jam 2 pagi dini hari. 4 jam kami melakukan hubungan intim. Berlebihan? Heh, setiap orang punya caranya sendiri bukan? Lagi pula kami sudah lama tidak melakukan itu. Hanya masalah dan masalah yang gue alamin belakangan ini.

Gue gak memikirkan orang tua gue terlalu dalam, gue terbiasa dengan hal seperti itu. Masalah yang ada dalam kepala gue adalah adik gue. Ia pasti tertekan apalagi saat tau kalau kami bukan saudara kandung.

Sungguh, gue gak ingin dia berpikir begitu gue tau dia bukan adik kandung gue lalu gue akan membuangnya atau menjadikannya teman biasa. Tidak sama sekali. Gue akan tetep menganggap dia adik kecil gue sampai kapanpun

“Kamu udah bangun, tumben. Belum aku bangunin”

Julia duduk ditepi kasur sisi kanan gue.

“Hey, kok melamun. Ini hari yang baru loh harus semangat. Semalem kan udah dikasih vitamin”

Gue tertawa kecil lalu mencium pipi dan bibirnya

“Terima kasih ya semalam. Aku cuma mikirin adikku aja. Ferdi belum ngasih kabar lagi sama aku”

“Anak buah kamu udah ketemu Ferdi tapi kan?”

“Mereka udah nemuin Ferdi sejak dibandara. Anak buahku Pelong ngasih kabar sama aku semalem tapi mereka kehilangan jejak Ferdi saat transit di bandara”

Julia tersenyum. Matanya menyipit jika tersenyum lebar seperti itu dan gue suka!

“Percaya sama Ferdi dan Rose. Mereka pasti bisa jaga diri. Dan aku yakin bukan hal sulit bagi Ferdi menemukan Rose”

Gue mengangguk ragu. Gak ada yang bisa gue lakukan selain mempercayai apa yang diucapkan oleh istri gue, Julia.

“Aku mandi dulu deh, hari ini juga aku ada meeting. Doain aku ya”

“Pasti..”

Gue beranjak membuka pintu kamar mandi. Ada pikiran yang mengganjal dalam pikiran gue saat didepan pintu kamar mandi. Gue berbalik badan melihat Julia yang udah membuka handuknya dan sedang memilih pakaian dilemari

“Kamu gak ngajak aku mandi bareng tadi?” Tanya gue. Julia menoleh ke arah gue

“Kamu tadi kan tidur. Emang belum puas semalem?”

Gue gak menjawab tapi melangkah mendekat ke arah Julia yang masih memegang pakaian ditangan kanannya

“Kamu nakutin deh kalo kaya gini” ujarnya saat tubuh gue sudah menghimpit tubuh Julia dilemari. Julia masih menatap gue, gue tatap dalam matanya

“Aku ingin kamu” bisik gue ditelinganya. Gue tau cara kaya gini bisa bikin Julia naik. Ia menggigit bibir bawahnya. Gue tersenyum

“Tapi ini udah jam 6, Arfi kamuhhshhhh…”

Tanpa mau mendengar ucapan Julia gue melancarkan aksi gue. Gue kecup sedikit demi sedikit leher jenjangnya. Tangan kanan gue, gue gunakan untuk mengelus sekitaran dadanya dan tangan kiri gue, gue gunakan untuk mengelus pangkal pahanya

Julia memejamkan matanya. Baju yang ia genggam terjatuh ke lantai berganti mengalungkan leher gue. Perlahan gue angkat tubuh Julia tanpa melepaskan kecupan kecupan kecil gue dilehernya.

“Kamu bikin aku mandi dua kali”

Gue tersenyum

“Anggap aja ini hukuman karena kamu gak bangunin aku”

Julia menggigit bibir gue. Cara ini gak pernah gagal sama sekali. Dan ya, pagi itu gue mendapatkan yang gue inginkan dari Julia. Mungkin gue hyper, entahlah. Perasaan ini cuma gue rasain saat didekat Julia. Hanya dengan caranya menatap gue diatas kasur cukup membangkitkan gairah gue.

Mendengar dia berteriak menyebut nama gue membuat gue makin semangat seolah gue menjadi monster yang gak kenal lelah, stamina gue selalu terisi meski tubuh gue udah banyak mengeluarkan keringat. Ya mungkin juga faktor dari bentuk tubuh Julia, buah dadanya yang cukup besar, bulat dan kencang serta bentuk pinggul bagai gitar spanyol, belum lagi bentuk bokongnya yang padat dan berisi. Ditambah kulitnya yang putih mulus.

Sebelumnya Julia gak seseksi ini, keseksiannya bertambah ketika ia sudah melahirkan. Hmm ini baru dikatakan dalam segi fisik, belum sikapnya yang keibuan, bener bener idaman gue beruntung bisa menjadi pendamping hidupnya meski usia gue 3 tahun lebih muda dibanding dia

*

Selesai meeting gue kembali ke kantor. Jam makan siang sudah lewat itu artinya gue gak bisa makan siang ini karena ada deadline yang harus gue kerjakan secepatnya. Kontraknya mengharuskan gue bekerja cepat, dan ini sangat melelahkan. Kenapa? Karena gue gue harus membagi pikiran gue. Yang pertama ke pekerjaan dan ke dua adalah masalah adik gue. Sampai siang ini gue belum menerima kabar dari Ferdi. Awas aja sih sampai dia mengingkari janjinya sama gue

Tangan gue menari cepat diatas keyboard laptop gue. Menyusun data data yang gue perlukan untuk proyek selanjutnya. Mereka hanya memberi waktu 3 bulan untuk menyelesaikan proyek ini. Hape gue berdering tanda ada sms masuk. Gue lihat hape gue ada pesan dari Ferdi dengan segera gue membukanya

“Gue udah sama ade lo. Gak usah khawatir. Dia aman sama gue. Secepatnya gue bawa balik dia”

Gue tersenyum tipis. Kepercayaan gue ternyata gak di sia siakan sama Ferdi. Adik kakak itu memang bisa gue andalkan

Ting

“Dan lo gak perlu nyuruh 2 anak buah lo ngikutin gue. Gak bisa lo percaya sama gue? Tapi sorry, gue rasa anak buah lo harus gue tinggalin di bandara transit sebelum sampai dibelanda”

Anak sialan emang. Gue tersenyum kecut membaca pesan kedua Ferdi. Segera gue mengetik pesan balasan untuk Ferdi

“Anak buah gue udah di belanda. Mungkin mereka juga udah tau keberadaan lo. Mereka jadi bawahan lo sementara lo disana. Itu yang gue tugaskan sama mereka”

Send

Perasaan gue sedikit lega saat mengetahui adik gue udah bersama Ferdi. Gue berharap banyak sama adik laki laki Iwan itu untuk menjaga adik gue dan membawanya pulang. Gue tau adik gue mencintai Ferdi. Itu sebabnya gue biarkan Ferdi berada disisinya selagi ia tertekan akan masalah gue dan dia.

Ting

“Makasih. Tapi gak usah repot repot. Suruh anak buah lo pulang. Khawatir kalo sampai Rose tau dia bakal tertekan. Ingat, gue kesini mau nenangin pikiran dia dan mencoba bawa pulang dia. Jangan gagalin usaha gue”

Gue termenung membaca pesan dari Ferdi. Mungkin memang seharusnya gue percaya sama Ferdi. Tanpa berpikir lagi, gue menghubungi kedua anak buah gue disana untuk segera kembali ke indonesia. Ini semua gue lakukan untuk adik gue

*

Hari yang lelah sudah berlalu. Bersyukur pekerjaan gue hampir 20% selesai. Bukannya gue mau sombong memang gue pekerja yang ulet dan giat. Padahal waktunya masih ada 3 bulan lagi. Lebih cepat lebih baik, meski cepat detail serta ketelitian tetap diutamakan karena kepuasan klient tetap yang nomor satu. Hmm kepuasan klient? kalo ngomong kesitu jadi inget Julia yang dulu.

“Terima kasih pak, oh ya, gimana apa pak Min udah sehat total?” Tanya gue sama Pak Min supir pribadi gue begitu udah sampai dirumah.

Telat emang, tapi ya seenggaknya mending telat kan daripada gak sama sekali. Itu juga baru kepikiran tadi

“Total pak! Saya terima kasih pak atas dana untuk biaya pengobatan saya”

Gue mengangguk sambil tersenyum. Setiap orang yang bekerja sama gue emang selalu gue sediakan fasilitas dana untuk kesehatan, serta dana untuk keluarganya juga. Gue cuma gue ingin bersikap adil dan bijaksana aja

“Oke sama sama pak. Saya masuk dulu pak”

“Baik pak”

Gue melangkah masuk. Diruang tengah gue bertemu dengan Savira yang sedang bermain dengan Theo. Kemana Fahrie, biasanya sama Fahrie. Begitu melihat gue Savira hanya tersenyum lebar, bukan senyum lebih pantes disebut nyengir. Gue hanya senyum sambil menganggukkan kepala sekali dan berjalan naik ke atas kamar gue

Klek

Pandangan gue tertuju kekasur dimana Julia terbaring dengan Elaine yang tengkurep diatas tubuh Julia sambil menyusu. Pantes dia gak nyambut gue pulang ternyata anak gue lagi nenen. Gue menghampiri dia dan duduk ditepi ranjang.

“Tuh papah udah pulang kan mamah belum nyiapin apa apa buat papah kamu nih”

Gue tersenyum aja melihat Elaine gak mau melepaskan mulutnya dari sumber susunya. Gue mengelus puncak kepala anak gue lalu mengecupnya

“Dia udah bisa ngeludah Fi, lucu deh tuh dada aku banyak ludahnya” ujar Julia

“Oh ya, makin pinter dong. Udah bisa ngeja omongan?” Tanya gue

“Belum baru gitu gitu aja. Tapi aku seneng soalnya lucuk. Tuh lihat kalo nyusu gak mau dilepas lepas padahal gak di sedot sama dia cuma di emut emut doang”

Gue tertawa pelan mendengarnya. Melihat kembang tumbuh anak gue makin besar bikin gue bangga sekaligus seneng. Gue berharap apa yang tejadi sama gue gak akan dialami oleh anak gue nantinya. Untuk itu gue ingin menciptakan keluarga yang harmonis. Gue kecup kening Julia sebentar lalu beralih ke anak gue

“Anak papah udah pinter ya sekarang, udah bisa apa?”

“Brrrrmmm brrrmmmm….”

Gue dan Julia tertawa melihat anak gue meniup niupkan bibirnya membuat air ludahnya menyembur nyembur keluar dari mulutnya

“Apa sayang hmm? Papah gitu”

“Brrmmm brrrmmm”

Lagi anak gue cuma menyembur nyemburkan ludah dari mulutnya mengundang tawa gue dan Julia kembali

“Aku mandi dulu sebentar ya, nanti aku kesini lagi” ujar gue sambil membuka kancing kemeja gue

“Oh ya Fi, tadi ada undangan untuk kamu dimeja tuh”

Gue manautkan alis gue lalu berjalan ke meja kecil samping ranjang tidur Elaine. Undangan resmi kayanya ini, tapi dari siapa? Perasaan gue gak pernah ada janji sama siapapun. Perasaan gue mengatakan kalo ini undangan dari Agus. Tapi apa secepat itu dia menikah dengan Gracia. Bukannya dia baru akan menikah setelah menyelesaikan sidang sidangnya dulu

“Ini dari siapa sayang?” Tanya gue

“Aku gak tau, tadi Bi Imas aja yang nitipin itu ke aku. Yang nganter naik mobil putih katanya untuk kamu”

“Kamu belum lihat isi undangannya dari siapa?”

Julia berhenti bermain dengan Elaine beralih menatap gue

“Kata yang nitipin itu undangan khusus buat kamu. Jangan dibuka sebelum kamu menerimanya”

Gue melihat undangan itu lalu Membukanya. Didalamnya ada surat undangan lagi. Disitu tertulis Arfi Juanto / Juanto Family. Ini pasti dokumen penting yang hanya boleh dibuka sama gue atau anggota keluarga gue. Pandangan gue beralih ke Julia yang sudah kembali bermain dengan anak gue. Gue tersenyum kecil lalu beralih ke undangan tersebut, membuka lipatannya pelan pelan. Gue baca dari kepala suratnya, belum selesai gue baca gue udah tau isi dari surat undangan ini

Ini surat undangan dari pengadilan. Gue diwajibkan datang ke pengadilan karena sebentar lagi orang tua gue akan benar benar bercerai. Gue menarik nafas dalam lalu menghembuskannya. Gue lirik Julia yang masih asik bermain dengan Elaine. Kini malah Julia menirukan Elaine dengan bibirnya yang dikatupkan dan ditiup tiupkan. Gue tertawa kecil, paling nggak Tuhan masih sayang sama gue disaat keadaan seperti ini gue memiliki kedua malaikat yang selalu mampu membuat gue tersenyum.

Gue melipat kertas undangan itu lalu menyimpannya dilaci. Gue menghampiri Julia yang masih menirukan apa yang Elaine lakukan. Elaine memiliki pipi gembul yang hampir sama dengan Julia. Gue mencubit pelan hidung Julia

“Aduh.. kamu mah jahat aku lagi ngobrol sama Elaine juga”

Gue makin terkekeh melihat Julia mengembungkan pipinya

“Ngomong apa? Kamu dari setadi cuma brrmm brrrmm doang juga”

“ih aku lagi belajar bahas bayi tau. Itu bahasa bayi”

Gue yang gak bisa menahan tawa gue akhirnya pecah begitu aja

“Oke coba sini gantian aku ngomong sama Elaine”

Gue mendekatkan wajah gue sama Elaine

“Brrmmm brrmmm brrmm”

“Ah kamu mah nyembur nyembur ludahnya gitu” protese Julia sama gue

“Kan kamu juga gitu”

“Ya tapi aku nyemburnya ke badan aku sendiri kamu kan ke badan aku”

Gue yang gemas malah mencubit kedua pipi Julia, mengunyelnya ke kanan ke kiri

“Awwrfii swaakkiitttt iihh”

Gue melepas cubitan gue. Julia menatap gue dengan sinis bukannya takut gue malah tertawa dibuatnya

“Awww.. awww…. sakit iyaaa iya ampun”

Julia mencubiti perut gue dengan kukunya. FYI nih, Julia memiliki kuku yang tajam dan runcing. Katanya sih karena ikut perawatan yang diajak nyokap gue. Haaahh *sigh*

“Udah ah aku mau mandi dulu” gue berdiri lalu melanjutkan membuka kancing kemeja gue sampai bawah

“Gak ngajak mandi bareng lagi kaya tadi pagi?” Ujar Julia masih terbaring dengan kepala Elaine yang menelungsup diantara kedua dada Julia. Ya ampun itu anak nyari apaan?

“Nggak usah. Makasih, stoknya udah diabisin dari semalem”

Julia tertawa, gue berjalan ke balkon mengambil handuk lalu meletakkan pakaian kotor gue diranjang.
“Tadi pagi ngeliat si kembar ini langsung mau, sekarang lihat si kembar kok nolak. Gak ada bedanya kan?” Ujar Julia, gue membalik badan gue

“Sekarang si kembar lagi dipinjem sama Elaine. Aku gak mau jadi papah yang egois karena aku tau Elaine juga suka sama si kembar milik kamu”

Gue berbalik masuk ke dalam kamar mandi membiarkan Julia tertawa cukup keras. Menggantung handuk gue dibelakang pintu kamar mandi lalu gue duduk diatas closet yang tertutup. Menutup wajah gue dengan kedua tangan gue lalu mengusapnya dengan kasar. Gue menoleh ke samping kanan gue melihat pantulan diri gue sendiri dikaca

“Sayaaangg.. kamu masih mandi? Kok gak kedengeran suaranya?” Teriak Julia

“Yaa.. aku masih mandi. Perutku mules”

“Kok gak bunyi bunyi?”

Songong. Selama ini yang sering bunyi kan dia-_- ya emang Julia kalo sedang berurusan dengan toilet apalagi saat sedang duduk dicloset membuang sisa sisa olahan perutnya berkali kali gue mendengar suara suara merdu yang keluar dari lubang belakang Julia.

Kalo mungkin perempuan lain ditahan tahan supaya gak mengeluarkan suara merdunya berbeda dengan Julia. Bahkan dia gak sungkan membuang anginnya saat bersama gue. Entah itu bersuara atau hanya baunya aja yang tiba tiba ke endus sama indra penciuman gue. Unik memang istri gue tapi gue bahagia

*

Rose PoV

“Jadi kamu disuruh sama kak Arfi nyusul aku?”

“Agak aneh kedengerannya, kalo biasanya kamu nyebutnya Kakak aku sekarang jadi Kak Arfi gitu”

“Kamu jangan mengalihkan pertanyaan. Jawab aja”

Ferdi tersenyum melihatku

“Nggak, aku kesini kemauan aku sendiri tanpa disuruh siapa siapa”

“Masa?”

“Kamu gak percaya sama aku?”

“Kok gampang banget nemuin aku nya?”

“Karena aku cinta kamu”

“Apa hubungannya?”

Ferdi meletakkan sendoknya diatas piring kuenya yang sudah habis

“Hubungannya adalah soal perasaan. Perasaan aku terikat sama kamu pasti aku mudah menemukan kamu dimana pun kamu deh”

Aku menatap pria didepanku ini dengan tatapan malas.

“Ya udah aku pergi lagi, besok kamu cari aku lagi kalo ketemu berarti kamu beneran cinta sama aku”

Aku beranjak dari kursi ku tapi tangan Ferdi menahan tanganku

“Jangan, itu hanya salah satu bukti aku cinta kamu. Bukti lainnya adalah aku gak bisa jauh dari kamu”

Aku duduk kembali dikursiku, meminum jusku sedikit. Aku masih menatap Ferdi curiga. Jujur saja, aku belum siap kembali menemui kakakku dengan fakta yang baru kuketahui belakangan ini. Itu sangat berat, banyak hal yang ku lalui dengan kak Arfi. Kini memori itu perlahan harus kuhapus. Cepat atau lambat aku dan Kak Arfi pasti akan terpisah.

Cara terbaik adalah dengan menjauh dari kehidupan kak Arfi, terdengar egois memang caraku ini. Tapi hanya aku yang mengerti hatiku sendiri saat ini. Dan pria bodoh yang kucintai ini, paling nggak aku memiliki sedikit waktu untuk tidak bersedih tapi kuyakin ia tidak akan meluangkan waktuku untuk bersedih meski sebentar, kenapa? Karena ia pasti akan selalu bertindak konyol dan bodoh.

Itu membuatku kesal, tapi dibalik semua itu aku mengerti ia bersikap seperti itu agar aku tidak berlarut larut memikirkan masalahku. Dari mana aku tau? Sejak aku ceritakan masalah Ehem orang yang ku kira selama ini adalah orang tuaku dan kakak kandungku Ferdi bersikap lebih bodoh lagi.

Entah bagaimana ia melakukannya seperti saat aku sedang menangis tengah malam ia menelfonku hanya untuk menceritakan kaosnya sobek, aku yang tersulut emosi akhirnya memarahinya. Rasa sedihku berganti rasa kesalku kepada Ferdi dan akhirnya malam itu aku bisa tertidur.

“Ferdi…”

Ferdi mengangkat kepalanya menatapku

“Apa?”

“Kamu janji akan nikahin aku kan?”

Ferdi melongo mendengar ucapanku. Kedua matanya membulat, mulutnya terbuka cukup lebar

“Kenapa kaget gitu? Apa kamu gak mau nikahin aku? Aku sih gak masalah” Ujarku mengalihkan pandanganku, lalu kembali melirik Ferdi dari sudut mataku

Brakk

Kan bodoh banget dia. Menggebrak meja dengan kedua tangannya begitu membuat orang orang melihat ke arah kami

“Aku akan nikahin kamu! Pendirian aku gak akan pernah berubah! Aku ingin punya keluarga kaya bang Iwan sama Kak Arfi juga! Punya anak yang lucu…..”

Ferdi terus bercelotehria, aku hanya memperhatikan ocehannya yang melayang ngambang entah kemana. Tapi ada kesungguhan dari sorot matanya soal menikahiku. Sudut bibirku tertarik tipis berlawanan arah. Paling nggak aku memiliki orang yang gak akan membiarkan aku kesepian dalam kesedihan

“Udah ah berisik kamu! Kita makan yuk, aku laper”

Ferdi berhenti bicara lalu menatapku

“Siap! Kamu mau makan apa?”

“Cari aja sepanjang jalan ini ada banyak restoran”

Aku beranjak dari tempat dudukku di ikuti oleh Ferdi berjalan disampingku. Ia terus bercerita tentang pernikahan dan hal yang akan dilakukan oleh aku dan dia setelah menikah. Aku membiarkannya bercelotehria sepanjang jalan. Kedua tanganku kumasukkan kedalam saku jaketku.

Cuaca sore ini memang sedang dingin sekali meski aku memakai pakaian tebal. Apa Ferdi gak merasakan kedinginan, ah ya bagaimana bisa. Ia adalah orang lasak yang selalu bergerak kesana kesini tanpa mau diam. Sudah pasti tubuhnya selalu hangat karena ia terlalu banyak gerak.

Jika melihat Ferdi, aku jadi ingat kak Arfi saat umur kak Arfi masih 14 tahun. Kak Arfi selalu bercerita apapun yang ia alami selama ia berada dirumah padaku. Ku lirik Ferdi yang masih bercerita. Lagi, bibirku tertarik berlawanan arah. Ya, aku mencintainya, aku yakin ia akan selalu berada disampingku menjagaku seperti kakaku menjagaku dulu.

Ku rangkulkan sebelah tanganku memeluk lengannya dan menyandarkan kepalaku dibahunya. Ferdi terkejut aku tau dari gestur tubuhnya. Memang sejak awal pacaran kami jarang sekali melakukan kontak fisik, bergandengan tangan saja gak pernah. Meski begitu Ferdi tetap mencintaiku tanpa bosan

“Udah ayo jalan, kenapa jadi tegang gitu sih”

Aku tersenyum. Ferdi berhenti bercerita. Hehe lucuk juga ya, akhirnya setelah sekian lama aku tau cara membuat pria disampingku ini diam tanpa kata sama sekali. Aku masih menyandarkan kepalaku dipundak Ferdi dan memeluk lengannya sembari jalan. Nyaman, itu yang kurasakan. Kuharap aku bisa melakukan ini terus, ah tidak! Tepatnya merasakan kenyamanan ini terus