Tentang Kita Part 45

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 45 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 44

Julia PoV

Aku sedang membeli belanja untuk kebutuhan El. Seperti popok, botol susu, dot bayi dan kain untuk tempat tidurnya. Sebenarnya kain dan botol tidak harus diganti hanya saja aku ingin anakku tetap steril. Aku tidak kepikiran awalnya sampai Mamah Carissha memberitahuku agar melakukan ini. Oh ya, aku tidak sendirian aku ditemani oleh Savira.

“Jul, gue beli ini ya?”

Aku menoleh ke arah Savira lalu menganggukkan kepala. Dia meletakkan apa yang ingin dibelinya dikeranjangku. Setelah kurasa cukup aku langsung menuju kasir untuk membayarnya

“Kita pulang apa makan dulu nih?” Tanyaku saat kami sudah keluar dari swalayan dalam mall tersebut

“Makan dulu deh, dessert gitu gimana? Sini biar El gue yang gendong”

Savira mengambil alih El dari gendonganku. Kami sama sama mencari tempat yang cocok untuk makan siang kami. Yaa bukan makan siang sih lebih tepatnya ngemil aja. Maklum namanya juga wanita hehe

“Lo suka es krim?”

“Suka, kenapa?”

“Kita kesitu aja makan es krim mau?”

“Boleh”

Akhirnya langkah kami menuju tempat penjual es krim. Memesannya dua buah gelas dengan porsi ekstra dan buah ceri diatasnya serta saus coklat lumer disekelilingnya. Hmm yumii~~

“Eh ya Jul, Arfi itu romantis kagak sih orangnya?”

Aku memasukkan satu sendok es krim ke mulutku

“Kenapa lo nanya nanya gitu?”

“Gue mau tau aja, soalnya menurut segi pandang gue nih ya. Cowok kaya Arfi itu seriusan deh orangnya”

Gak sepenuhnya dia salah juga emang bener yang dia katakan juga

“Emang dia seriusan orangnya. Lebih tepatnya ambisius orangnya”

“Nwah iwtuh dwia ywang guwe mawkswud”

Aku menatap malas Savira

“Naon sih Vir?”

“Nah itu dia maksud gue. Ambisius gitu. Tadi gue lagi ngunyah es krim dulu”

“Tapi dia romantis juga kok. Ada saatnya aja sih”

“Kalo Fahrie kan mukanya datar tuh susah juga ditebaknya. Meski gitu dia tergolong laki yang lumayan romantis sih, kalo Arfi gue kadang suka segen negornya mukanya serius soalnya Jul”

“Tegor aja gpp, tapi jangan teriak teriak juga negornya”

“Gue masih bisa bedain rumah lo sama hutan wey! Btw El bobo ya?”

Aku menoleh ke samping. El kuletakkan disofa kedai es krim yang aku kunjungi dan sofanya lumayan empuk jadinya aku tidurkan dia disofa yang tentu kanan dan kirinya aku letakkan juga guling

“Nyenyak kayanya, lo mau tau bukti Arfi romantis?”

“Apa?”

“Nih si Elaine. Kalo Arfi gak romantis gue gak akan melahirkan El”

Savira malah tertawa

“Gue kira si El lahir karena Arfi keceblos gitu”

Aku melempar Savira dengan sendok es krimku tapi emang dasarnya Savira yang jorok dan cablak dia malah tertawa padahal rambutnya terkena es krim akibat lemparan sendokku tadi. Aku jadi ikut tertawa melihatnya tertawa lepas. Masih ingat dalam pikiranku saat pertama kali aku mengenalnya, dia orang yang ku cap baik pertama dikota saat itu.

Dia yang menolongku dan memberikanku tempat tidur beberapa hari dirumahnya sebelum aku berhasil mencicil apartementku dengan uang kotor. Dia yang perduli padaku, ia mau menggunakan uangnya untuk biaya perawatan kala aku sakit waktu itu.

“Vir… Thanks ya”

Savira menghentikan tawanya beralih menatapku

“Buat apa?”

“Lo orang pertama yang gue cap sebagai orang baik di kota dulu. Jujur aja Vir gue sama lo. Itu sebabnya gue gak lupain semua jasa lo saat gue dibawah dulu, sekarang mungkin gue diatas dan gue mau lo sahabat gue ikut menikmati apa yang gue dapatkan”

Savira terdiam cukup lama menatapku. Hey, ada apa dengannya apa aku salah mengucapkan itu atau dia merasa aku rendahkan?

“Vir?”

Savira menggelengkan kepalanya, ia mengusap air matanya lalu tersenyum ke arahku.
“Lo tau gak kadang pemikiran konyol gue nih ya, kalo suatu saat lo kenapa napa atau lo mengalami kelainan ginjal gue siap Jul donorin ginjal gue buat lo. Lo udah banyak banget bantu gue, Fahrie bahkan anak gue”

Aku tertegun dengan ucapan Savira. Keadaan menjadi melow begini. Hmm baiklah aku harus mencairkan suasana

“Thanks juga kita sama sama aja. Btw kalo gue kelainan ginjal juga ginjal lo gak akan masuk di gue yang ada makin penyakitan gue nya”

“Yeee somplak lu pikir gue minum dan makan sampah apa sampe sekotor itu ginjal gue”

Kami sama sama tertawa. Tak terasa es krim kami sudah sama sama habis. Akhirnya kami memutuskan untuk pulang kerumah

*

Author PoV

Di rooftop rumah Arfi dan Julia, Iwan, Okta, Savira dan Fahrie sedang menikmati malam hari bertabur bintang diatas langit. Istri mereka terlihat mengobrol berbeda tema dengan para suami mereka. Terlebih Arfi sedang membicarakan tindakan apa yang harus dia lakukan perihal masalah penggelapan dana kesehatan salah satu staff diperusahaan milik Arfi.

Okta yang mendengar perbincangan tersebut ikut nimbrung dalam pembicaraan

“Kak, Okta boleh ngasih pendapat?”

Mereka bertiga menoleh ke arah Okta. Savira dan Julia ikut diam

“Apa pendapat kamu?” Tanya Iwan

“Gini, perihal pak Tyo yang menggelapkan uang kesehatan itu ada baiknya kita beri dia peringatan dulu. Secara kita gak tau uangnya digunakan untuk apa, Okta sih ingin tau bagaimana kehidupan sesungguhnya pak Tyo ini”

“Mana bisa gitu sih, dia kan bekerja juga udah lebih dari 5 tahun udah pasti ada tunjangan kesehatan juga. Lalu buat apa dia menggelapkan uang sebanyak 15 juta padahal yang dipakai 4 juta doang. 11 juta dibawa lari sama dia itu”

Julia yang melihat suaminya bernada tinggi langsung mengambil tempat duduk disamping suaminya dan mengelus pundaknya memberikan ketenangan untuknya

“Ini bukan soal uangnya Okta, soal cara yang dia lakukan. Dia itu merugikan perusahaan loh. Udah gitu dia ambil uangnya tapi dia gak melunasi biaya administrasi bu Amira”

Okta menundukkan kepalanya. Julia yang belum mengerti arah pembicaraan ini hanya diam saja, belum saatnya ia menanyakan hal apa yang sedang dibicarakan yang pasti ia tau ini adalah masalah serius hingga suaminya bicara dengan nada cukup keras tadi

“Gue udah nelfon Agus dan konsul masalah yang kita alamin. Dia bilang itu pantas untuk di adilin. Beberapa saksi seperti bu Amira akan ikut dalam pengadilan” ujar Arfi

Fahrie yang ingin membuka mulutnya enggan dilakukannya. Ia tau kapasitas bicaranya disini. Savira mencolek Fahrie menanyakan apa yang sedang terjadi namun Fahrie hanya menggelengkan kepalanya mengibaratkan itu bukan urusannya

“Begini, usul gue seperti awal, kita udah pecat dia, data diri dia kita pegang. Dan tuntutan kita itu adalah pengembalian uang perusahaan sebesar 15 juta itu dalam waktu 3 minggu”

“Kok 3 minggu, gue kemarin bilang 3 hari!”

“Lo gak bisa nuntut terlalu keras, kita kasih waktu buat dia juga. Lo tau persis jabatan dan honornya dia berapa. Sorry gue disini ambil ucapan Okta untuk apa uang sebesar itu dia ambil kalo gak dia terdesak banget kan. Lo tenang aja ini biar gue yang urus!!”

Suara lantang Iwan membungkam Arfi. Arfi hanya kesal menatap Iwan lalu pandangannya ia buang ke sembarang arah

“Lo tetep boss gue secara teknis. Masalah seperti ini harusnya gak sampai dikuping lo. Itu sebabnya biar gue yang tanganin ini sampai beres. Urusan kaya gini harusnya gak sampai bikin lo ikut mikirin solusinya cukup gue selaku wakil direktur dan Okta sekretaris wakil direktur”

Arfi melirik Iwan yang duduk dikursi sampingnya. Ia hembuskan nafasnya kasar

“Lo yakin bisa atasin ini semua?”

“Yakin”

“Yakin Kak!”

Okta ikut nyaut membuat Arfi menatapnya sekilas. Ia condongkan tubuhnya ke depan melipat tangannya diatas pahanya

“Oke gue percayain sama kalian. Tapi inget dia harus tetep ngembaliin uang yang diambilnya. Langsung masukin ke kas kantor”

“Oke siap!!”

Jawab Iwan dan Okta bersamaan. Arfi menoleh ke sampingnya. Julia tersenyum manis membuat luapan emosi Arfi mereda

“Gimana kalo kita games? Gamesnya adalah bicarain kejelekan pasangan masing masing ya dimulai dari Julia” ujar Savira

“Hmm boleh boleh aku mau duluan dong”

Semu mata tertuju pada Okta. Mereka saling pandang lalu akhirnya mereka serempak menganggukkan kepala

“3 aja yaa kebiasaan buruknya loh” ujar Savira

“Asik!! Kakak kalo dirumah itu suka kentut sembarangan, pipis gak disiram, sama suka pegang pegang dada aku kalo tidur”

Semua mata tertuju sama Iwan. Iwan hanya mengurut dahinya saja melihat kelakuan istrinya itu

“Ngomongnya sama gue khawatir kalo lagi hamil tapi mah foreplay jalan terus” ledek Arfi

“Itu iseng anjir, gue yakin juga lo sering nyet!”

Arfi tertawa keras

“Napa lo tawa tawa juga?” Sinis Iwan pada Fahrie

“Ingetin gue deh Fi kemarin yang katanya gak mau mancing mancing nafsu istrinya siapa sih?” Ucap Fahrie kini ikut meledek Iwan. Iwan hanya pasrah saja, aibnya terbongkar sudah dan kini dia dijadikan bahan ledekan oleh semua temannya

“Okeoke nextlah, Julia sekarang”

“Lah katanya pasangan, harusnya kan gue dong?”

“Perempuan dulu Iwan, baru yang lelakinya nanti” Savira tersenyum penuh arti.

“Oke gue, eumm kamu jeleknya apa beb?” Julia malah bertanya sambil menoleh ke Arfi

“Terserah kamu aja”

Mendapat jawaban seperti itu membuat Julia kesal

“Arfi itu cuek banget orangnya, genit sama suka megang megang tete gue dari belakang kalo tidur”

Plak

“Anjir lu, sakit pea!!”

“Apa lo! Lo aja sama kaya gue kan! Pensiunan iblis mau bener gayaan lo!” Ujar Iwan sambil tertawa balas meledek Arfi. Arfi hanya mendengus ke arah Julia yang ditatap hanya tersenyum manis

“Gila gila gokil abis. Gak geli apa emang Jul?”

“Ya geli lah, tapi yaa nikmatin aja enak juga sih”

“Berarti Kak Arfi orangnya gak romantis dong ya Kak Julia?”

“Kamu salah, justru Arfi romantis kalo gak romantis gak akan jadi si Elaine tuh katanya” bukan Julia yang menjawab melainkan Savira

Mereka semua tertawa

“Cocok lo berdua dapet nominasi pasangan hot tahun ini”

Tawa mereka semakin pecah saat Iwan kembali meledek Arfi

“Biarin sih! Bini gue ini kenape lo pada?” Sanggut Arfi

“Hahaha okeoke next gue ya, eumm apa ya”

Savira terlihat berpikir sambil menatap Fahrie. Yang ditatap hanya diam saja

“Kayanya sih sebelas dua belas sama Arfi. Mereka setipe kali ya atau jangan jangan mereka kembar?”

Sontak membuat Arfi dan Fahrie saling pandang. Mereka mengerjapkan mata mereka berkali kali

“Ngasal kamu kalo ngomong”

“Hahaha iya iya, abis kamu cuek juga, genit sih nggak cuma suka lihatin body cewek kalo jalan sama, nah kalo Iwan sama Arfi cuma megang kalo dia langsung nyedot”

“Anjir! Gile lebih parah dong wkwkwk” Iwan menimpali sambil tertawa

“Wkwk tanpa basa basi langsung saja sedot bossquee”

Mereka semua tertawa kecuali Okta yang hanya tertawa kecil. Mungkin Okta belum mengerti apa yang mereka ucapkan atau ini bukan selera humor Okta? Maybe

“Aku lagi disalahin, kamu nya aja yang kalo tidur gak pernah pake Bra sama CD”

“Gila lo Vir gak pake CD kalo tidur? Kacau kacau” ujar Julia. Savira hanya nyengir saja

“Yaa biar Fahrie bisa main sepuasnya sebelum ke permainan klimaksnya gitu”

“Bangke, kodenya gitu amat ya boleh boleh”

“Ya udah sih kenapa gitu biarin ajalah ini kan cara gue. Lagian kan enak kalo gak enak gak akan nagih”

“Setuju! Apalagi kalo dari belakang sambil dipeluk beuh mantep gue suka gaya kaya gitu tuh”

“Legit banget sih rasanya ya, brrr jadi ngebayangin deh gue hahaha”

Para suami mereka hanya menatap satu sama lain. Mereka merasa para istri terlalu membuka secara gamblang urusan ranjang mereka masing masing. Namun apa daya mereka hanya bisa diam membiarkan para sang istri berdelusi. Kini mereka tau, nafsu dan hasrat wanita lebih besar ketimbang suami gitu pikir mereka

“Okta kok diem aja?” Tanya Julia

“Okta bingung mau ngomong apa, kalian pada bicarain soal ranjang Okta harus bilang apa?”

Julia diam menatap Savira didepannya. Ia menyadari usia Okta terpaut jauh dengan mereka mungkin itulah yang membuat Okta sulit mengimbangi pembicaraan mereka

“Maafin kami yaa” ucap Savira. Namun para suami masih pada diam.

“Bukan gitu Kak Savira, kalian kan bicara soal gaya dimasukin hadap belakang. Aku sama kakak pernah coba gaya itu”

Semua mata tertuju pada Okta yang menggantung ucapannya

“Terus kenapa?”

“Kak Julia sama Kak Savira enak meski hadap belakang kak Arfi sama Kak Fahrie bisa masuk. Kalo Kak Iwan masukin hadap belakang akunya gak berasa cuma ujungnya doang yang masuk dikit banget”

Sedetik kemudian mereka semua terdiam.

“Ppfftttt……”

“Huahahahahahahahaha kecil banget punya lu anjir”

“Pake minyak lintah gih sono biar bisa ganti ganti gaya HAHAHAhaha”

“Aduh sumpah sampe nangis gue ketawa ini”

“Diurut sono Wan sama mak erot gih”

Mereka semua terus menertawakan Iwan atas kepolosan istrinya. Iwan hanya mendengus sebal

“Bacot lu semua!”

***

Arfi PoV

Gue membuka pintu rumah gue dengan perasaan gak karuan. Setelah gue dari rumah orang tua gue, as always, baru sampai pintu utama gue mendengar mereka ribut dan berakhir dengan ancaman nyokap akan menggugat cerai bokap gue, lemes dengernya sih. Gue pikir mereka udah berubah mengingat usia mereka yang udah tua.

Ternyata gue salah, usia mereka tua tapi emosi mereka gak mentoleransi itu. Masing masing dari mereka tetap pada egoisnya sendiri. Gue gak tau apa yang mereka ributkan karena setelah mendengar hal itu gue langsung cabut dari sana. Trauma, ya gue trauma.

Sejak gue kecil nyokap selalu ribut dengan bokap hingga saat ini, itu juga salah satu penyebab gue pergi dari rumah saat usia gue menginjak umur 7 tahun. Gue diasuh nenek dan kakek gue. Saat usia gue berumur 10 tahun gue bawa Octa ade gue ikut bersama gue. Menginjak umur 20 tahun gue telah menuntaskan pendidikan gue dan kakek gue menitipkan perusahaannya sama gue.

Gue yang saat itu belum mengerti apapun akhirnya gue gagal mendirikan perusahaan yang kakek titipkan sama gue. Gue mencoba berusaha kembali dan disaat itu gue membangun perusahaan periklanan baru bersama Iwan hingga kini perusahaan itu terus berkembang

Gue melangkah masuk ke dalam setelah tadi gue berdiam diri dengan menatap pintu garasi disebelah pintu utama. Biasanya gue membiarkan pintu itu terbuka supaya gue bisa memandang si Zetty disana. Tapi kali ini stres gue gak hilang juga

“Sayang! Aku nungguin kamu dari tadi. Kamu kok lama pulangnya, lembur ya pasti? Cape kan. Sini sini duduk sama aku” ujar Julia saat gue sampai diruang tengah. Kayanya dia sedang nungguin gue dari sore sih emang gue pulang agak telat dari biasanya. Gue tersenyum senang melihat wajah khawatir istri gue

Gue duduk disamping Julia, Dia melepas dasi gue dan membuka 3 buah kancing gue dari atas

“Maaf ya aku gak ngasih tau kamu dulu kalo aku pulang telat”

Julia yang merengut menekuk bibirnya. Kini dia duduk bersimpuh dengan kedua kakinya dilipat diatas sofa sebelah gue. Gemes deh

“Gemes banget sih kamu, disini yang muda siapa ya?”

“Apaan sih ah bahas umur. Aku tuh khawatir sama kamu. Telfon gak diangkat kebiasaan”

Pandangannya dialihkan ke depan. Gue menyingkap rambut sampingnya hingga ke belakang kupingnya lalu mencium pipinya yang gembul itu

“Jangan marah dong, kan aku udah pulang sekarang”

“Iyaa.. tadi aku bikinin kamu minum tapi es nya keburu cair kamu kelamaan. Aku bikin baru dulu ya kamu pasti haus kan, bentar”

Gue menahan tangan Julia saat dia akan beranjak lalu menariknya kepelukan gue. Gue rasa dia sedikit terkejut gue merasakannya dari gerakan tubuhnya yang menegang. Tapi gak berlangsung lama, kemudian dia membalas pelukan gue

“Kamu kenapa? Ada masalah dikantor?” Tanyanya saat sudah melepas pelukan kami. Julia kembali duduk dengan kaki dilipat kebelakang menghadap gue

Gue merapihkan poni Julia yang sedikit berantakan

“Kamu chu banget sih”

Tapi dia malah mendengus kesal

“Aku ingin jadi istri yang berguna untuk kamu. Mendengar keluh kesah kamu. Setiap aku tanya kamu seolah bersikap aku gak perlu tau apa yang menjadi beban pikiran kamu” ucapnya pelan tanpa menatap gue. Gue menarik nafas lalu menghembuskannya. Gue raih tangan Julia lalu mengecupnya

“Seperti yang kamu tau belakangan ini kan emang dikantor aku ada kasus penggelapan dana itu loh, aku merasa gagal aja” ujar gue. Julia menatap gue dengan tatapan menteliti seolah gak pernah apa yang gue ucapkan

“Cuma itu?”

Gue menganggukkan kepala

“Gak ada yang lain?”

Kalo ini gue menggelengkan kepala. Jujur aja, gue belum siap kalau harus menceritakan masalah soal ke dua orang tua gue. Trauma lama kembali gue rasakan gue perlu waktu untuk menceritakan itu pada siapapun. Maafin aku Julia.

“Setiap orang kan berbeda dan setiap keinginan, hasrat, serta egois orang berbeda. Ada yang bisa menghargai kebaikan orang ada juga yang menganggap kebaikan orang itu hanya angin lalu. Untuk itu ada aturan yang berlaku, menurut aku kamu gak gagal menjadi pemimpin”

Julia menangkup wajah gue menatap wajahnya

“Kamu adalah pemimpin terbaik. Jika memang ada satu oknum yang berbuat salah tugas kamu untuk menghukum atau menindak lanjutinya. Mereka butuh kamu, mereka berlindung sama kamu, mereka yang mendukung keinginan kamu menjadikan perusahaan itu perusahaan idealis, mereka yang bekerja beriringan bersama kamu, jadilah lelaki yang tegas seperti yang aku kenal”

Julia tersenyum sangat manis. Gue memang banyak mengalami hal buruk belakangan ini tapi seenggaknya gue masih punya penawar atas rasa kecewa gue yang sedang gue alami

Julia berdiri menggunakan lututnya diatas sofa. Padahal kalo orang lain udah dimarahin sama dia jangankan orang lain, gue aja suka kena oceh kalo gue duduk terlalu keras menjatuhkan pantat gue ini sofa kesayangan doi coy. Yaudahlah ya biarin aja suka suka dia

Julia memeluk gue, mencium pipi gue. Setelahnya dia menatap gue dengan senyum. Senyum yang sangat gue suka, matanya mengecil saat tersenyum lebar menampilkan giginya yang kecil kecil rapih dan putih bersih.

“Can I….”

“Of course, is your mine. Now and forever” balas Julia sambil menyentuh bibirnya sendiri dengan jarinya. Senyum lebar masih tercetak jelas disana

Gue mencium bibir lembut Julia, sedikit melumat bibir bawahnya mencoba menikmati seluruh cinta yang diberikan oleh Julia. Julia berdiri dengan lututnya diatas sofa memperdalam ciuman kami. Tangan Julia kini mulai masuk ke dalam dada gue, gue membiarkan ia melakukan apapun. Akal sehat gue melupakan tempat dimana kami bermesrahan seperti ini. Pikiran gue terus mendorong gue untuk melakukan lebih gak perduli dimana kami berada.

Gue rangkuh pinggang Julia hingga dia terduduk dipangkuan gue tanpa melepas ciuman kami. Kami melepas ciuman kami

“Aku mencintai kamu Arfi. Hanya kamu yang bisa menghilangkan akal sehatku, menenggelamkanku kedalam jauh dari kesadaranku”

Gue tersenyum, kini dahi Julia menempel pada dahi gue. Dari sini gue bisa menatap dalam mata Julia. Mata coklat indah yang sama seperti dimiliki oleh Elaine anak gue. Bulu matanya yang lentik menambah keindahan setiap kali gue menatap kedua buah matanya

“Kamu gak perlu melakukan apapun untuk membuat aku jatuh cinta. Bahkan kamu gak perlu jatuh untuk menarik kekhawatiranku. Aku akan selalu berada didepan kamu gak akan aku biarkan siapapun melukai kamu”

Julia tersenyum simpul. Pipinya memerah terlihat jelas sama gue dengan jaral sedekat ini. Detik berikutnya Julia mencium bibir gue kembali, ia mengalungkan leher gue memperdalam ciuman kami. Gue tau Julia tersenyum meski dalam ciuman kami

“Wadooohh salah masuk ogut!”

Dengan segera Julia melepas ciuman kami lalu turun dari pangkuan gue

“Bener ini mah nominasi pasangan terhot”

Gue merapihkan kemeja gue mengancingkannya kembali.

“Kalian dari mana?”

“Gue abis beli makanan Jul tadi sama Fahrie juga. Sorry yee ganggu lo yang lagi pemanasan tadi”

“Apaan sih, Arfi tadi baru balik kerja kali”

“Buset abis balik kerja langsung digas aja hahaha emang ya beda kalo suaminya pernah ngegym mah, staminanya awet euy”

Ditengah tengah perdebatan antara Julia dan Savira tatapan gue beralih ke Fahrie yang tengah menggendong Theo. Fahrie menoleh ke arah gue dengan senyum senyum takut. Eh kenapa?

“Sorry Fi, gue pikir kalian tadi dikamar abis gue pulang gak ada suara sama sekali didalem hehehe”

Gue mengerjapkan mata gue

“Ya gpp bro, gak kedengeran juga lu pulang”

“Gila ya.. suara motor itu sampe hampir bikin budek gitu gak kedengeran lu bilang? Ner bener emang kalo lagi nikmat mah jangankan suara motor kaya gitu pesawat mendarat juga gak bakal kedengeran”

Savira mendapat lemparan kacang oleh Julia karena ucapannya. Gue mulai terbiasa dengan sikap Savira yang seperti itu meski gitu dia tetap orang baik cuma kadang kadang aja emang otaknya agak sengklek.

“Aku ganti baju, mandi dulu ya. Abis itu kita makan sama sama oke”

Julia tersenyum gue mengecup keningnya dan segera beranjak menuju kamar gue diatas. Sebelum gue benar benar ke atas Savira masih usil dengan celetukan celetukannya

“Gila romantis banget sih Pah mereka”

“Kan gue bilang kalo laki gak romantis si Elaine gak akan jadi!!”

Nah itu mah gue yakin istri gue yang ngomong. Dia kan kalo teriak kedengeran sampe lantai dua rumah gue. Sumpah kalo rumah gue dari batako gue rasa udah lama rubuh. Oke itu lebay. Udah ah gue mau mandi dulu, abis itu makan laper!

*

Author PoV

Hape Arfi berdering sesaat ia akan mengenakan jasnya. Ia melihat siapa yang menelfon dijam pulang kantor seperti ini. Alisnya terangkat saat melihat nama yang tertera dilayar hapenya

“Ya hallo napa geng?”

“Salam dulu cuk, kebiasaan lo”

“Salam. Dah tuh, kenapa deh?”

“Malem sibuk gak?”

“Emang kenapa Gus?”

“Gue mau kerumah lu, ajak Iwan sama Okta. Pokoknya malem lu harus ada dirumah”

“Eh ujung piramid tadi ngapain nanyain sibuk apa nggak kalo maksa juga mah”

“Hahahaha see you tonight yaa.. byee~~”

“Geli bangsat..”

Tapi sayang, Agus memutuskan telfon sepihak seperti hubungan(?) *lah

Klek

“Lu mau balik Fi?”

“Kagak gue mau pulang”

“Apa bedanya oncom?”

“Beda nih balik”

Arfi membalik badannya untuk beberapa saat lalu ia kembali membalik badannya menghadap Iwan

“Kalo pulang tuh gini, awas lo gue mau keluar”

Arfi menggeser tubuh Iwan yang menghalangi pintu keluar ruangannya namun Iwan menahan tangan Arfi membuat Arfi berbalik melihatnya

“Jangan balik dulu, main smackdown yuk bentar sama gue”

Arfi menghentak tangan Iwan lalu terbirit birit lari. Iwan pun mengejarnya, disepanjang lorong Iwan terus mengejar Arfi

“Sini lo jangan lari mau gue R.K.O lo” teriak Iwan sambil berlari mengejar Arfi. Mereka menuruni tangga membuat karyawan yang kebetulan lewat tangga harus menyingkir karena ulah mereka

“Ogah, di R.K.O sama lo ketek lo bau!” Teriak Arfi begitu sampai dilobby. Iwan berhasil menangkap Arfi dari belakang, mereka terjatuh bersama dilobby membuat semua pasang mata yang berada disana melihat ke arah mereka. Ini adalah pemandangan yang langka bagi beberapa golongan karyawan namun pemandangan biasa bagi mereka yang memang menjadi staff Arfi atau Iwan. Memang kerap kali Arfi dan Iwan bersikap seperti kekanak kanakan saat sedang bersama. Itu adalah hiburan tersendiri bagi para staff

“Heh kalian malu maluin deh” sebuah teguran menghentikan kegiatan guling gulingan kedua pria yang katanya dewasa ini.

Mereka bangkit dan berdiri. Membenarkan kemeja, jas serta dasi mereka. Setelah itu mereka saling merangkul, berbalik badan dan pergi begitu saja. Yang menegur mereka adalah Gracia. Gracia hanya menggelengkan kepalanya saja tidak bagi beberapa karyawan yang baru saja melihat keunikan kedua pimpinan mereka hanya melongo. Sesaat pintu lobby tertutup kembali terbuka Arfi dan Iwan masih dalam posisi saling merangkul menghampiri Gracia yang masih diam ditempat

“Gracia..”

“Malam kerumah Arfi disuruh Agus”

“Oke.. goodbye staff kesayangan gue”

“Mmuuaaacchhh”

Kembali Arfi dan Iwan berbalik lalu berjalan keluar masih dengan saling merangkul

“Ngomongnya kompak bener, fix mereka mabuk. Fix banget”

Saat Gracia keluar dari kantor ia segera memesan taksi online. Namun, siapa yang ingin pick penumpang dicuaca hujan deras seperti ini. Beberapa kali Gracia mencari driver berharap menemukan driver untuk mengantarnya pulang. Namun hasilnya nihil, ia melirik jam ditangannya. Waktu menunjukkan hampir jam 6 sore

Sebuah mobil merah menghampiri Gracia. Ia tidak asing dengan mobil itu, bahkan Gracia sangat mengenal milik siapa mobil itu. Kaca jendela sebelah kiri diturunkan memperlihatkan siapa yang duduk dibalik kemudi

“Masuk Kak”

Beberapa detik Gracia terdiam. Baginya ini adalah mimpi. Orang yang selalu menghindarinya karena kesalahannya sendiri kini menghampirinya.

“Kak Gracia mau masuk gak? Keburu sore”

Tersadar akan lamunannya sendiri ia mengerjapkan matanya beberapa kali

“Ah iya aku masuk”

Gracia kini sudah duduk nyaman disamping orang yang mengemudikan mobil. Sesekali ia melirik orang disampingnya namun yang dilirik hanya fokus kejalan, sesekali mengikuti lirik lagu yang sedang diputar diradio. Terlihat sangat santai berbeda dengan Gracia yang hanya menghadap ke depan sambil sesekali melirik orang disebelahnya. Banyak pertanyaan timbul dikepalanya. Orang itu adalah Okta.

Tiba tiba saja Okta menepikan mobilnya lalu berhenti. Gracia langsung menoleh ke sampingnya

“Kak Gracia, aku lelah. Gantian ya kakak yang nyetir” Okta langsung melepas seatbeltnya

“Ah.. iya oke”

Mereka bertukar posisi kini Gracia menyetir dan Okta sibuk mengotak ngatik radio dimobilnya.
“Nah ini nih, kak Gracia suka lagu ini?”

“Hmm suka kok, ini enak lagunya”

Okta tersenyum meski Gracia tidak tau lagu seperti apa yang sedang di Play oleh Okta karena baru intronya saja. Sebuah permainan piano disusul dengan beberapa permainan gitar dan drum dari lagu tersebut mulai memasuki pendengaran Gracia. Tiba tiba Gracia tersentak saat mendengar Scream dari vocalis lagu tersebut. Aliran musiknya berubah menjadi metal

“Enak ya kak, aku suka lagu kaya gini”

“Em.. iya, enak.. aku juga suka. Hehe judulnya apa?” Ujar Gracia menyembunyikan keterkejutannya sambil mengangguk ngangguk pelan menirukan Okta

“Ini nama bandnya Avenged Sevenfold judulnya Critical Acclaim kak”

Gracia hanya tersenyum sambil fokus ke depan. Ia mencoba bersantai sambil membiasakan indra pendengarannya dengan aliran musik Okta. Belum lagi saat Okta ikut menirukan teriakan dari lagu tersebut

Jika boleh memilih lebih baik Gracia pulang menggunakan taksi online dibanding harus satu mobil dengan Okta. Jika saja ia tidak mengingat hubungannya dengan Okta tidak dalam baik baik saja tentu ia akan turun sekarang juga dan memilih naik bus.

Seperti biasa, jalanan jakarta penuh dengan manusia yang ingin kembali kerumahnya masing masing setelah bekerja. Seperti itu juga Gracia harus mendengarkan musik dan teriakan teriakan Okta didalam mobil. Ia mencoba bersabar sambil tersenyum sesekali menganggukkan kepalanya berusaha menikmati musik Okta yang menurutnya gak karuan itu.

Dalam hatinya ia terus berdoa agar jalanan bisa secapatnya lancar atau paling tidak Okta tertidur dijalan itu lebih baik baginya. Namun, sepertinya doanya tidak terwujud jalanan begitu macet hampir satu jam mobil mereka diam ditempat dan satu jam juga Gracia mendengarkan lagu metal yang diputar oleh Okta.

Ia melirik Okta yang asik mengangguk nganggukkan kepalanya mengikuti alunan musik, senyum simpul tercetak dibibir Gracia. ‘Paling nggak dia anak yang baik mau nganterin gue pulang meski tingkahnya jauh dari akal manusia biasa’ mobil didepan mereka bergerak Gracia pun melajukan mobilnya

*

Julia PoV

Malam ini mereka semua berkumpul dirumah Arfi, tepatnya diooftopnya. Mereka mengadakan sedikit pesta kecil karena Agus kembali ke jakarta yang sebelumnya ia berada di Medan mengurus beberapa sidang disana.

“Oke langsung aja ya, gue sama Gracia akan melangsungkan pernikahan di salah satu hotel dijakarta. Gue minta doanya untuk kalian semoga acara berjalan lancar sampai selesai”

“Amin”

Ucap mereka bersamaan. Julia yang penasaran sebenarnya kenapa setiap acara seperti ini selalu diadakan dirumah Arfi secara tidak langsung juga rumahnya juga

“Bentar, ada yang mau gue tanyain sebenernya deh sama kalian” semua mata tertuju padaku

“Nanya apa kamu?” Tanya Arfi

“Gini saat Okta dan Iwan mau menikah dibicarakan dirumah ini, kali ini Gracia dan Agus juga sama. Sebenarnya ada apa ya setiap acara besar selalu dimulai dari rumah Arfi?”

Mereka terdiam sesaat menatap Julia Iwan sedikit terkekeh

“Gini Nyonya Juanto biar gue jelasin mewakili semuanya ya. Karena setiap kita ada masalah Arfi selalu nengahin kita. Dia selalu punya ide, gagasan dan solusi yang baik serta Arfi itu orang yang care banget sama sahabatnya” ujar Iwan, Julia melirik Arfi yang duduk disebelahnya dengan tatapan datar ke Iwan

“Meski gue pengacara tapi otaknya Arfi lebih briliant dibanding gue. Dia mampu menyusun apapun dalam keadaan genting sekalipun. Lo percaya gak gue kadang sebelum sidang suka cerita dan minta solusi sama Arfi” timpal Agus

“Jadi sebenarnya apa hubungannya sama pertanyaan gue tadi?” Tanya Julia kembali

“Hubungannya adalah kita itu banyak membutuhkan Arfi jadi saat ada apa apa jawabannya satu pasti Arfi. Nah kita itu kebiasa apa apa kerumah Arfi untuk membicarakan suatu hal sampai cuma nongkrong biasa dulu. Yaa kebawa sampai saat ini”

Julia menganggukkan kepalanya mendengar penjelasan Agus tadi

“Jadi sebenarnya kalian itu berteman sejak kapan?” Kali ini Fahrie bersuara

“Kalo gue sama Arfi sejak kelas 8 atau 2 SMP gitu. Ketemu Agus itu saat kuliah kita dulu” ujar Iwan

“Pantes ya kalian deket banget. Diantara kalian siapa yang paling sering emosian?” Tanya Fahrie kembali

“Nih dia…” tunjuk Agus ke Iwan

“Iya kakak emang emosian orangnya. Masa aku dimarahin karena makan rujak malem malem” ujar Okta

“Yee itu mah emang kamu nya yang bandel”

Okta menjulurkan lidahnya ke Iwan. Julia kembali melirik orang disampingnya. Sepertinya Arfi gak tertarik dengan pembicaraan seperti ini. Ia hanya menatap datar ke depan

“Kak kak kalo yang paling playboy siapa?”

Julia menoleh ke depan melihat Agus dan Iwan yang saling pandang

“Kalo gegayaan playboy itu nih si Iwan demen godain perempuan tapi nasibnya selalu miris”

“Ah anjir lu Gus.. buka aib banget”

“Mirisnya kenapa Gus?” Tanya Julia

“Iwan godain cewek dimana aja malah ceweknya minta kenalan sama Arfi”

Kami semua tertawa. Tapi tidak dengan Julia. Julia malah melirik ke arah Arfi.

‘Jadi memang dari dulu ya dia memiliki daya tarik tersendiri terlebih sifatnya yang dingin dan cuek membuat wanita yang dijumpainya penasaran dengannya’ batin Julia

“Perempuan yang minta kenalan sama kamu terus kamu ladenin gak?” Tanya Julia. Arfi pun menoleh padanya

“Nggak, ceweknya jelek semua” ujar Arfi dengan datar

“Oh jadi cewek paling cantik itu Julia ya Fi?”

“Nggak juga Vir”

“Lah terus gimana dong?”

Julia melirik sinis ke arah Arfi ia mengubah posisi duduknya dengan bertumpu dengan kedua lututnya

“Yang cantik itu banyak, bukan gue mau sombong yang lebih muda, cantik atau seksi bisa gue dapetin. Tapi kali ini beda, dari mata, ke otak lalu ke hati”

“Nah tuh kan Arfi mulai keluar sabdanya” ujar Iwan. Julia mengesap minumannya sedikit sambil melirik orang disampingnya

“Bentar deh, kok lo dari mata, otak terus ke hati. Bukannya ke hati dulu baru ke otak ya?”

Julia masih menunggu jawaban Arfi. Ia tau jika sudah begini Arfi akan mengatakan kejujuran yang paling jujur yang ia rasakan, itu menyebalkan bagi Julia. Karena ia akan membuka secara gamblang apapun yang ia rasakan saat bersamanya begitu pikir Julia

“Iyalah, pertama gue melihat dia, dia cantik malam itu. Balutan dress yang dia gunakan saat itu menarik semua pandangan laki laki. Lalu naik ke otak, berpikir apa dia bisa gue dapetin, apa dia milik seseorang, dan parahnya gue berpikir bagaimana bisa bawa dia pulang dari sana malam itu”

“Bangsat gila bahasa lo. Dibawa pulang coy haha dikarungin apa lo kantongin jir?”

“Yee bacot! Mau lanjut kagak nih?”

“Okeoke sorry, lanjut pak” saut Iwan

“Nah setelah gue bisa melakukan dua hal tersebut. Baru deh jatuh ke hati Kali ini dia gak cuma berhenti dipandangan gue tapi berlabuh ke hati gue. Karena hati itu mata yang paling jujur, hati bisa melihat yang gak terlihat oleh mata, termasuk cinta”

“Owwwwwww….”

“Edan gilaaa coooyy….”

“Aaaaakkk jadi iriiiiii”

“Romantis amat sih, malam ini mulai program adenya Elaine nih kayaknya”

Sorak dan tawa mereka bersatu serta celetukan celetukan yang absurd. Julia tersenyum simpul ia merasakan kedua pipinya memanas akibat ucapan Arfi. Arfi yang stay cool hanya melirik ke arah Julia sambil tersenyum tipis detik berikutnya ia merangkul pundak Julia memberikannya ciuman singkat di keningnya.

“Fix 3 bulan lagi jadi nih adenya si Elaine yakin gue”

“Tau dari mana lo?” Ujar Gracia

“Iyalah, kan Julia bilang ke gue kalo Arfi gak romantis gak akan jadi si Elaine tuh gitu.. nah ini romantis, fix malem ini berbuat mereka”

“Wanjir gitu ya syaratnya. Hmm oke 3 minggu dari sekarang gue tarohan pasti si Julia melendung lagi”

“Jadi punya dua bayi dong”

    

Mereka semua malah tertawa keras. Seperti tidak ada batas diantara mereka, saling meledek bahkan tidak jarang mereka saling merendahkan yang tentu hanya bercandaan saja

“Kakak, aku mau punya dua bayi dong” ujar Okta

“Sayang, yang ini aja belum lahiran masa kamu mau bayi lagi”

“Oh iya ya.. abis ini lahir kita bikin bayi lagi ya, aku mau punya dua bayi”

Iwan hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya mendengar permintaan konyol istrinya tersebut

“Lagian lo pada dengerin aja Savira, dia kan kompor” ujar Julia

“Apaan lo yang ngaku sendiri sama gue”

“Itu perumpamaan lagian kalo Arfi mau juga gue pasti mau kok” ujar Julia mengedipkan matanya satu ke Arfi

“Anjas, udah udah cukup nanti mereka melakukan disini. Bahaya kita malah jadi party sex”

Blak

“Sakit begok”

“Ngomong lo ngaco begok”

Iwan mengelus dahinya karena terkena lemparan gelas plastik oleh Arfi. Okta yang melihat itu ikut mengelus bekas lemparan Arfi

“Tapi kalo pribadi gue sebenernya gue iri sama Arfi sekaligus gue jadiin dia panutan gue, jujur aja. Dia bisa meraih kesuksesannya di umurnya sangat muda” ujar Fahrie. Mereka semua mengiyakan apa yang di ucapkan Fahrie

“Iya loh, gue aja gak akan begini kalo gak dia jadiin gue partnernya saat itu” timpal Iwan

“Yang penting kerja keras, punya rencana, berani ambil resiko, sama tekad”

“Yah nenek gue juga sering bilang gitu Fi” balas Agus

“emang gue bisa berdiri diatas kaya gini karena diem dan molor aja. Banyak hal pahit yang gue telen sebelum gue sampai saat seperti ini”

“Hal pahit? Apaan aja tuh kalo kita boleh tau?” Tanya Fahrie. Arfi menarik nafasnya menatap satu satu temannya

“Gue nentang orang tua gue umur 16 tahun karena berbeda ideologi. Gue keluar dari rumah, lulus sekolah gue kerja apa aja tanpa gengsi karena menopang nama Juanto. Kerja jadi sales, kerja di spbu pernah gue demi buat bayar kuliah, makan sehari sekali, tidur gue di gudang pernah. Tidur dirumah Iwan paling sering gue, dirumah Agus juga pernah. Gue ngumpulin duit akhirnya gue ngontrak”

Julia memperihatikan wajah suaminya dengan saksama dari samping. Ia merasakan beratnya perjuangan suaminya kala muda terlebih ia tau hubungan antara Arfi dan orang tua nya membaik baru akhir akhir ini tapi Julia tidak menyangka segitu beratnya perjuangan Arfi dulu

“Gue tau perjuangan lo besar dulu. Maksud gue, gue gak tau kalo gue ada diposisi lo itu gue juga akan berhasil kaya lo”

“Kan gue bilang tekad. Gue lulus kuliah diwarisin usaha kakek gue tapi gagal. Gue kehilangan satu satunya warisan dari kakek gue. Akhirnya gue rebuild itu usaha kakek gue, gue ajak Iwan untuk membangun usaha periklanan. Itu perusahaan gue percaya gak cuma dua orang tadinya gue sama Iwan yang kerja. Ruangannya Iwan noh segede kamar mandi tamu segitu doang. Ruangan gue cuma segede kamar mandi kamar gue. Kecil banget deh. Kita jual iklan pertama kita dibayar cuma 75ribu. Ngerjainnya 3 hari tau gak. Noh tanya Iwan”

Iwan yang ikut menerawang hanya menganggukkan kepalanya pelan.

“Belom lagi kita yang diketawain tau gak, kita dibilang sok sokan bangun usaha iklan. Gak sanggup nyewa artis, tempat wah banyak banget hujatan lainnya. Tapi Arfi selalu memberikan tekad sama gue dia terus support gue bikin gue semangat lagi sampai detik ini gue menjabat wakil presiden direktur”

“Banyak asam garam yang udah gue telen. Memang perjuangan itu jarang terlihat kaya orang ngelihat gue diusia 23 tahun ini udah memimpin perusahaan. Mereka bilang hidup gue enak, masa depan terjamin, punya duit gak ada nominalnya, emang bener tapi sebelum itu berapa banyak pengorbanan yang udah gue lakuin, berapa banyak hinaan serta orang orang yang merendahkan gue dulunya. Sekarang orang yang merendahkan gue noh, jadi staff kelengkapan diperusahaan gue”

Iwan tertawa mendengar ucapan itu

“Bener bener, si Rio ya? Hahaha katanya anak pengusaha dulu kan waktu abis lulus kuliah beh gayanya mentereng banget sekarang disuruh suruh malahan”

“Iyalah, cara balas dendam sama orang yang udah ngerendahin lo adalah dengan cara membuat dia jadi lebih rendah lagi dibanding lo. menurut gue itu cara bales dendam paling baik”

“Gue jadi tersentuh mendengar cerita lo. Gue gak tau saat gue melanjutkan S2 gue perjuangan kalian besar juga” ujar Agus.

“Ya begitulah, sampai sekarang hidup gue bisa kaya gini segalanya kecukupan gak lepas juga dari jasanya Arfi. Kalo gak ada dia mungkin saat itu gue udah lepas dari usaha iklan kita dulu”

“Keberhasilan dimiliki oleh orang yang pantang mundur. Istirahat boleh, bersiap berlari lebih kencang untuk sampai didepan. Gue punya motor, istri, mobil, rumah gak luput dari hinaan orang juga. Gue jadiin tekad itu semua”

“Nah yang ini gue gak tau deh, pribadi lo Fi kalo itu” ujar Iwan

“Kenapa tuh kalo boleh kita tau?” Lagi, Fahrie bertanya

“Motor, gue dulu kerja jalan kaki, gue ditolak sama cewek karena gue jalan kaki sekarang gak nanggung 1000cc gue beli itu motor. Mobil? Gak usah diceritain, orang dulu menghina gue kalo gue gak akan punya tempat tinggal sekarang seRT bisa tinggal dirumah gue. Gue beli semua omongan orang yang merendahkan gue dengan keberhasilan!”

Mereka bertepuk tangan atas apa yang Arfi ucapkan. Julia menoleh ke Arfi lalu menyandarkan kepalanya dibahu suaminya. Mengelus pergelangan tangannya

“Kalo istri kenapa?” Tanya Julia membuat semua orang yang bersorak kembali terdiam

“Kamu, orang pada beli kamu setiap malam kan? Demi sama kamu mereka merogoh kocek yang gak sedikit. Kamu diperjual belikan tanpa mereka perduli air mata kamu. Tapi sekarang….”

Julia menatap lekat mata coklat milik Arfi

“Kamu aku beli dengan nominal yang gak akan ada orang bisa menawarnya lebih tinggi dibanding aku. Kamu hidup sama aku sekarang, dan gak ada yang bisa menghina, bahkan merendahkan kamu lagi!”

Air mata Julia hampir menetes dari pelupuk matanya menatap wajah sang suami. Ia mengelus rahang kokoh Arfi lalu memeluknya dengan erat. Semua orang disana menyaksikan dengan senyum. Mereka setuju perjuangan Arfi dan Julia untuk hidup bahagia tidak mudah

Diusapnya air mata Julia oleh ibu jari Arfi. Arfi mengecup singkat bibir Julia

“I love you..”

“Love you too…”

“Lo jadi orang inspiratif banget Fi. Asli. Lo berdua membuktikan kalo hidup itu benar benar ada hikmahnya asal mau terus berusaha. Gila gue salut” ujar Gracia

“Sama, gue merasa menyesal suka ganggu saat lo berdua lagi mau ena ena. Maafin gue ya”

Julia hanya tertawa mendengar itu, air matanya tidak lagi menetes

“Jadi gimana? Kita menang kan nominasi pasangan terhot tahun ini?” Ujar Julia

“Bukan tahun ini lagi, selamanya lo berdua mah” timpal Savira

“Nah kalo si Julia nya menang nominasi Macan terhot” ujar Gracia setelah ia mengesap minumannya

“Macan apa sayang?” Tanya Agus

“Macan itu Mama cantik sayang, dia kan udah mama mama sekarang”

Pluk

“Wadaw..” Gracia mengelus kepalanya yang terkena lembaran botol plastik oleh Julia. Agus tertawa melihat itu

“Tapi gue tetep sekseeehh kaaaann” ujar Julia

“Wooo seksian gue lah, gue belom melahirkan nih masih kenceng semua spare part gue” ujar Gracia tidak mau kalah

“Enak aja lo, gue tetep paling top lo gak lihat gue kaya model gini. Body dapet, face apalagi” kali ini Savira ikut nimbrung

“Anak lo aja udah gede. Padetan gue lah tetep”

“Apaan sih gre, laki gue gak pernah nolak kalo sama gue ketagihan malahan”

“Lah gue tiap malem apa lo?”

“Basi lo baru tiap malem, gue kalo kepengen kapanpun suami gue. oke siap terus”

Okta dan Iwan hanya diam menyaksikan ketiga wanita ini berdebat tidak mau kalah.

Mereka terus berdebat yang berujung ke urusan ranjang. Agus, Fahrie dan Arfi hanya menyandar pada kursi santai mereka sambil dalam hati berucap

‘Mereka mulai lagi…’

****

Rose PoV

Aku baru kembali dari belanda setelah menyelesaikan studyku disana. Dengan senyum sumringah aku melangkah keluar dari bandara. Oh ya, aku tidak mengabari siapapun kecuali ferdi, ya dia kekasihku. Aku memintanya menjemputku hari ini.

“Hallo? Udah dimana?”

“…”

“Oh oke aku kesana”

“…”

Aku menutup telfonku langsung melangkah keluar sambil menenteng koperku. Diluar aku langsung berjalan menuju mobil berwarna putih milik Ferdi

“Hay, long time no see yaa?” Ujarnya begitu aku masuk ke dalam

“Apaan deh kamu duluan seminggu ke indonesia kan, kalo gak karena ngurusin makalah sidang juga aku bareng kamu”

Ferdi melajukan mobilnya

“Iya sih, yaelah jangan marah gitu dong makin suka aku”

“Ya udah aku marah terus deh biar kamu suka terus”

“Ah bisa banget deh kamu, kita makan dulu apa gimana?”

Aku berpikir sejenak melirik jam dipergelangan tanganku. Hampir jam makan siang sih kalo terus jalan kerumah sudah pasti lewat jam makan siang baru sampai rumah. Hmm

“Makan siang aja dulu deh”

“All right baby, lets go”

Setelah sampai direstoran kami memilih menu makanan yang ada disana. Tidak lama pesanan kami datang

“Kakak kamu belum dikasih tau?”

Aku mengunyah makananku lalu menelannya

“Belum, biar surprise aja gitu”

Ferdi menganggukkan kepalanya

“Bang Iwan gak nanyain kan kamu keluar gini?”

“Ya nggaklah, emang masih kecil apa. Lagian dia asik sama mainan barunya sekarang”

Aku menghentikan kegiatanku

“Mainan?”

“Iya, kak Okta itu mainan barunya. Aku tekanan batin kalo udah malam mereka teriak teriak”

Aku menatapnya malas lalu melanjutkan makanku. Setelah selesai makan, kami memutuskan untuk langsung menuju rumah orang tuaku. Hmm.. terakhir ke indo saat pertemuan keluarga besar besaran saat itu dan malam itu juga aku flight lagi ke belanda

“Sampai.. yuk turun. Aku tunggu disini apa ikut masuk?” Tanya Ferdi

“Kamu parkir didalam aja, nanti aku panggil ke dalem”

“Kok jadi degdegan ya ketemu calon mertua”

Aku tak menghiraukan ucapan Ferdi selanjutnya aku masuk kedalam untjk menemui orang tuaku. Aku tidak sabar melihat wajah terkejut mereka saat aku datang. Tanganku terulur hendak membuka pintu namun terhenti. Ku dengar Papah dan Mamah sedang bertengkar hebat didalam. Kebiasaan sekali udah tua masih aja bertengkar seperti itu

“Saya suami kamu! Saya yang memenuhi kebutuhan kamu!”

“Oh ya? Saya bisa memenuhi kebutuhan saya sendiri mulai saat ini! Saya pergi!!”

Lagi, dan lagi.. harus ku dengar ucapan dari mamah yang akan pergi meninggalkan papah saat mereka bertengkar

“Kamu mau kemana!!”

“Gak perlu kamu tau!!”

“Carissha tunggu!!”

Derap kaki mamah terdengar mendekat pintu dimana aku berdiri diam disana

“Sebentar lagi Octa wisuda! Kita bisa merayakannya terlebih dulu setelahnya kamu boleh bebas kemana pun kamu mau!”

Langkah kaki mamah sepertinya berhenti. Aku masih setia berdiri dibalik pintu yang masih tertutup inj

“Saya gak perduli!! Saya cape terus bersandiwara didepan anak anak seolah kita hidup rukun!”

Jantungku berdegub dengan kencang. Mataku membulat sempurna mendengar ucapan Mamah. Jadi, selama ini….

“Saya juga gak perduli lagi dengan Octa. Dia kan anak kamu! Bukan anak saya! Dia bukan lahir dari rahim saya! Dia lahir dari hasil perselingkuhan kamu dengan sekretaris kamu!”

Kaki ku melemas rasanya bobot tubuhku kini kian memberat. Tanganku gemetar, mataku mulai dipenuhi cairan bening yang akan turun membasahi pipiku.

Grek

Pintu terbuka, mamah menatapku terkejut. Ia mengerjapkan matanya berkali kali

“Loh, kamu gak masuk sayang?”

Usaha yang bagus. Setelah apa yang sudah kudengar ia masih bersikap semanis ini. Terlambat aku sudah mengetahui semuanya Mah, jika saja aku datang 20 menit lebih lambat mungkin usaha mamah akan berhasil menipuku

“Kamu kok gak ngabarin papah sih sayang, kan bisa dijemput tadi”

“Anak kita udah bisa bikin surprise loh sekarang pah”

Aku masih diam ditempatku. Mereka sangat pandai dalam bersandiwara. Terlebih mamah, apa yang barusan ia katakan untuk tidak lagi memperdulikanku.

“Terkejut?” Tanyaku pada mereka.

“Tentu, kalau tau kamu mau pulang kan mamah sama papah bisa menyiapkan segala sesuatunya untuk menyambut kamu”

Aku tersenyum kecut

“Kalian sudah menyiapkan semuanya tanpa aku ketahui sekalipun”

Mereka terdiam saling pandang. Oh ayolah hentikan drama bodoh kalian! Aku mundur beberapa langkah

“Maksud kamu apa Nak?” Tanya mamah

“Mah Pah, siapa aku sebenarnya? darimana aku berasal dan siapa orang tuaku?”

Mereka terkejut haha! Basi! Aku mendengarnya Mah, Pah. Semua fakta yang kalian sembunyikan selama ini. Terpukul? Jelas! Itu artinya kedua orang yang kuhormati ini bukan orang tuaku lalu kak Arfi bukan kakak kandungku? Entah apa yang akan dia lakukan begitu tau adik perempuannya yang ia kasihi selama ini bukan adik kandungnya.

“Maksud kamu gimana Nak, ayo masuk kita bicarakan dulu”

Tidak! Aku tidak ingin berbicara apapun pada kalian

“Nggak pah, makasih. Aku pamit dan terima kasih semuanya”

Aku berlari keluar gerbang menemui Ferdi menghiraukan panggilan panggilan kedua orang tuaku. Aku menangis sejadi jadinya sambil terus berlari

*

“Ini diminum dulu deh, cuma ada air bening maaf ya” Ferdi memberikanku air bening a.k.a air putih. Ya bahasa bahasa dia ajalah.

“Thanks..”

Aku mengambil gelas itu lalu meminumnya sedikit.

“Kak Arfi tau soal ini?”

Aku menggelengkan kepala

“Kamu gak ngasih tau dia?”

“Belum saatnya, aku masih belum siap jika kak Arfi tau aku bukan adik kandungnya. Dia akan meninggalkanku, aku ini orang lain baginya Fer, aku bukan siapa siapanya”

Ferdi memeluk tubuhku. Aku menangis didalam pelukannya

“Tenang tenang. Masih ada aku. Kamu bisa tinggal diapartementku kalo kamu mau”

Selama ini hanya kak Arfi yang mengasihiku, eh tunggu, dulu dia mengajakku untuk tinggal dirumah kakek jangan jangan dia sudah mengetahui kebenarannya? Aku tidak bisa berpikir dengan jernih untuk saat ini. Pikiranku kalut, huh! Thanks u very well Mah, Pah ini kejutan yang sangat hebat!

“Aku ke depan dulu ya, ada bang Iwan pulang kayanya”

Aku menganggukkan kepala, Ferdi keluar kamar meninggalkan aku yang masih termenung. Tak lama Ferdi kembali dengan tergesa gesa

“Ada apa?” Tanyaku

“Gawat. Dibawah ada Kak Arfi sama Kak Julia juga”

Memang ada hal yang ingin aku tanyakan pada Kak Arfi perihal ini. Keyakinanku mengatakan ini belum saatnya

“Kita temuin aja mereka. Anggap gak ada apa apa. Hanya kamu dan aku yang tau soal ini oke”

“Kalo papah mamah kamu ngasih tau ke kak Arfi gimana?”

Aku tersenyum getir

“Itu menjadi urusanku, yuk kebawah temuin mereka”

Aku dan Ferdi turun ke bawah. Mereka ternyata sudah kumpul diruang tengah. Disana juga ada kak Gracia dan bang Agus. Seketika mereka terdiam, semua pandangan menuju padaku. Ku tarik nafas dalam, aku harus bersikap biasa. Ya sebisa mungkin

“Kakaaaaaaaak”

Aku berlari menuju Kak Arfi lalu memeluknya erat. Aku bersikap manja seperti yang kak Arfi kenal aku tidak ingin menunjukkan kesedihanku. Sedikit saja aku salah bersikap atau berekspresi Kakaku itu pasti curiga padaku. Berlanjut dia akan menjadi detektif dadakan dan mulai menanyakan hal hal detail lainnya. Aku tidak ingin itu terjadi

“Kamu pulang kok gak ngasih tau kakak?”

“Kan surprise” jawabku yang masih melingkarkan tanganku diperut kak Arfi

“Wah lu apain adenya temen gue Fer?”

“Apaan sih lo bang, dia tadi tuh…”

Bodoh!! Aku menatap sinis pada Ferdi. Semua diruangan ini menunggu jawaban Ferdi

“Tadi apa?”

“Tadi tuh gue jemput dirumah orang tua lo bang Arfi, sans aja gue jagain ade lo kok gak akan gue apa apain kecuali kepepet”

Bletak

“Kalo ngomong jangan ngasal lo!”

Aku melepas pelukanku beralih menatap ke arah kak Julia. Ia hanya menatapku, sedikit senyum dibibirnya. Aku tau dia sedang mencari sesuatu padaku, maksudnya ia mencari apa yang terjadi padaku. Aku harus waspada sama kak Julia jika ia benar mencurigai ada sesuatu yang terjadi padaku

“Rambut kamu ganti warna?”

“Oh iya kak, agak coklat gitu. Cocok gak sama aku?”

“Bagus kok..”,

Jawaban dan tatapannya sangat berbeda arti. Cukup peka juga orang ini. Dari air wajahnya yang ku baca tatapannya seolah menyelidik dan sedang mencari tau sesuatu. Ku alihkan pandanganku ke arah kak Gracia. Menghindari tatapan menyelidik dari kak Julia Tunggu, eh itu gak salah…

“Kak Gracia kenapa make baju pink gitu?”

Kak Gracia melihat ke bawah lalu tersenyum setelahnya

“Bagus kan? Ini Agus yang bikin loh”

Ku seret pandanganku ke orang sebelah Kak Gracia. Pria berkulit sawo matang sedang menampilkan senyuman bangganya. Berapa lama sih aku dibelanda sampai sampai Kak Gracia yang ku kenal sebagai fashionable ini berubah jadi alay. Lihat, baju kaos yang dikenakannya berwarna pink terang dengan tulisan ‘milik Agus’ berwarna hitam itu.

Oh astaga, begitu juga bang Agus yang mengenakan kaos berwarna Biru muda bertuliskan ‘milik Gracia’ . Aku hanya menggelengkan kepalaku

“Okta bikin minum dulu ya sebentar”

“Sayang, minta bikinin sama mba Rini aja sih”

“ih kakak ini kan tamu kita wajib disuguhin sama tuan rumahnya”

Kulihat Okta beranjak dari duduknya menuju dapur. Kak Arfi terlihat berbincang dengan pria alay didepannya yaitu bang Agus. Aku pamit ke belakang menuju toilet. Selesai dengan urusan kamar mandi, aku mengambil minum didalam lemari es

“Ada yang kamu sembunyikan?”

Aku terkejut, aku mengenal suara ini. Kuputar tubuhku menghadap si empunya suara

“Atau ada yang mau kamu ceritakan untuk beberapa orang saja yang boleh mengetahuinya?”

Dugaanku benar, dia memang mencari sesuatu yang kusembunyikan. Dia adalah Kak Julia. Kini dia bersandar pada dinding pemisah antara ruang makan dan dapur. Tatapannya seperti biasa dan senyumannya selalu terpatri disana

“Sembunyikan? Gak ada kak. Emang kelihatan seperti lagi nyembunyiin sesuatu ya?”

“Bukan seperti deh, kayanya memang ada yang kamu sembunyikan, iya kan?”

Aku diam. Bodoh! Aku hampir menyelesaikan sarjana psikologi ku tapi aku tidak berbakat sama sekali menyembunyikan kekecewaanku. Ah! Aku jatuh terlalu dalam dan sakit, mungkin ini yang melatar belakangi kenapa aku sulit menyembunyikan kekecewaanku

Tepukan dipundakku membubarkan lamunanku. Kak Julia tersenyum manis. Matanya menyipit jika tersenyum, sama seperti kak Arfi hanya saja ia memiliki alis yang lebih tebal

“Kalo kamu gak mau cerita gpp, tapi kakak harap suatu hari kamu bisa ceritain itu. Jangan bilang kamu baik baik aja. Terkejut kakak tau apa yang kamu rasakan? Gak perlu sarjana psikologi untuk mengetahui orang yang kita sayangi sedang kecewa atau bahkan terluka hatinya”

Kak Julia berbalik lalu pergi meninggalkanku. Aku menunduk dalam, kutahan air mataku yang akan keluar. Orang yang disayang? Apa kak Julia tetap menyayangiku jika tau aku bukan adik kandung dari suaminya?

*

Arfi PoV

Gue mengaduk bubur dimangkok gue. Sebenernya makan bubur dipagi hari bukan hal baik untuk gue, ah bukan bubur aja tapi memang gue gak terbiasa sarapan. Perut gue bisa mules, minum teh atau kopi cukup ganjel perut gue sampai jam makan siang.

“Kamu kaya orang lagi ngambek di aduk aduk dong buburnya gak dimakan?”

Kalo gak ini bubur buatan Julia gue ogah banget makan

“Biar rata sayang”

“Kirain gak suka”

“Suka kok” jawab gue dengan senyum lebar.

Ya emang semalem Julia nanya ke gue kalo sarapan suka dibuatin apa, karena gue saat itu keadaan ngantuk dan cape banget abis…. ah gak usah diceritainlah hehe. Jadilah gue jawab ngasal dan kalimat yang keluar dari ucapan tanpa otak adalah ‘bubur aja’ . Shit! Urusannya ngantor bolak balik terus nih ke kamar mandi

“Aku buatin kaya gitu setiap pagi mau?”

Seketika kegiatan gue terhenti saat akan memasukkan sesendok bubur ke mulut gue. Mampus, jawab apa gue nih…

“Ini enak sayang, tapi aku gak sampai hati jika kamu harus bangun lebih awal lalu ngurus Elaine, terus pergi buat bubur untuk aku. Kamu cape banget” ucap gue dengan wajah sememelas mungkin. Tapi kayanya Julia gak terpengaruh sama ucapan gue, dia mendekatkan dirinya duduk disamping kursi gue sambil tersenyum

“Ini tuh tugas istri, tugas istri itu melayani suami. Aku ingin jadi istri yang baik untuk kamu”

Gue tersenyum. Senyum yang dipaksakan. Lebih dari itu gue gak mengucapkan apapun. Tidakkah dia sadari sekiranya cukuplah bagi dia melayani gue diranjang aja. Segera gue habiskan bubur gue lalu pergi ke kantor.

Gue yakin 30 menit atau lebih perut pasti bereaksi dan gue gak mau ke kamar mandi dirumah bisa bisa Julia mengira ada yang salah dengan masakannya. Gue gak mau itu terjadi biar gimana pun Julia buatin ini dengan sebaik mungkin dan sepenuh hati untuk gue

“Aku udah tampan belum?” Tanya gue diambang pintu sebelum gue benar benar pergi

“Hampir..”

Julia merapihkan kerah kemeja gue dia juga membetulkan posisi dasi gue gak lupa memakaikan jas untuk gue. Kan gue bilang juga apa, Julia istri idaman nih.

“Sempurna”

Gue tersenyum senang pagi pagi mendapat perlakuan seromantis ini

“Ah ya, nanti aku lembur pulang jam 8 aku. Gpp kan?”

Tatapan Julia berubah. Wajahnya menjadi sendu. Eh kenapa?

“Kamu kenapa?” Tanya gue khawatir

“Kantor kamu kan banyak perempuannya. Terus kamu pulang malem”

Gue masih mencerna ucapan Julia. Sebelumnya gak pernah ada masalah dengan kantor gue yang memang lebih banyak karyawan perempuannya dibanding lelakinya. Julia memalingkan wajahnya gue jadi salting sendiri ini

“Sekretaris kamu cantik”

Gue mengerjapkan mata gue berkali kali. Gue paham sekarang apa yang dia maksud

“Pffttt….”

“Kok kamu ketawa sih?!”

Gue gak bisa menahan tawa gue dan akhirnya gue tertawa lepas

“Hahahaha kamu cemburu?”

“Siapa yang cemburu”

“Ya kamu itu, kamu cemburu sama Maudya?”

“Siapa lah itu namanya. Kalo kamu lembur kan dia lembur juga dong otomatis. Namanya lembur gak semua karyawan kan, kantor jadi sepi..”

Kali ini gue berhenti tertawa beralih menatap Julia. Ini bukan cemburu biasa kalo diterusin bisa bisa jadi masalah nih. Julia kalo ngambek repot, iya repot banyak diemnya. Ditanya gak bakal nyaut, tapi meski ngambek dan diam sejuta bahasa dia tetep perhatian. Cuma ya gitu, diem aja

Gue elus pipi Julia dengan ibu jari gue

“Hal yang paling aku rindukan itu kamu, kalo aja bisa aku meninggalkan semua tanggung jawabku hanya untuk bisa menghabiskan waktu sama kamu tentu aku akan lakukan itu”

“Jangan! Kasihan karyawan kamu lainnya nanti”

Gue tersenyum lebar

“Nah itu kamu tau, aku pemimpin. Aku bertanggung jawab atas mereka semua. Percayalah, waktu terasa cepat saat aku bersama kamu, dan terasa lambat saat aku merindukan kamu. Parahnya kamu gak biarin aku sedetik pun untuk tidak merindukan kamu”

“Janji ya sama aku kamu gak akan macem macem?”

“Nggak sayang, satu aja macemku itu kamu kok”

Julia tersenyum lebar lalu berjinjit mengecup bibir gue sekilas

“Nanti aku mau ke Shinta ya, biasa cek up Elaine”

“Oke, sama pak Min aja ya dianter”

Julia menganggukkan kepalanya. Gue pun berangkat diantar supir gue menuju kantor. Perjalana gue gak semulus yang gue bayangin. Baru beberapa kilo dari rumah perut gue berontak. Anjas, kalo begini gue cuma berharap agar jakarta dipagi ini gak macet supaya gue bisa cepet sampai kantor dan melepas semua yang gue tahan diusus besar gue

Badan gue sedikit terhuyung ke depan. Mobil mengerem

Yak! Mampus gue deh, harapan gue untuk cepat sampai kantor gak akan terwujud. Antrian kendaraan udah padat meramaikan jalanan ibu kota. Apa mesti gue keluar lalu mencari kerikil terus gue kantongin supaya gue gak mules lagi. Anjir! Itu mitos saat gue masih sekolah dasar coy! Gusti~~ kejamnya ibu kota~~

*

Setelah melalui hari yang sangat sangat ngeselin bagi gue akhirnya gue pulang kerumah. Dan gue pulang lebih awal dari yang gue ucapkan sama Julia. Jam setengah 8 gue udah sampai dirumah. Hmm gak sabar lihat wajah senangnya Julia

Begitu masuk, gue langsung menuju ruang tengah biasa Julia menunggu gue. Loh? Kosong. Julia kemana? Apa iya dia masih di rumah sakit cek up Elaine? Gak mungkin kan..

“Vir, Julia kemana ya?” Tanya gue sama Savira saat dia melewati ruang tengah sambil membawa jus pare(?) Dari mana gue tau? Dari bau nya, gue yakin itu pare dan Julia juga pernah bilang Savira ini suka minum jus pare ditambahin kecap. Jangan tanya sama gue, tanya sama orangnya langsung kalo mau tau rasanya kaya apaan.

“Dikamarnya, lo udah ke kamar?”

Gue menggelengkan kepala lalu meninggalkan Savira begitu aja menuju ke kamar gue

Klek

Ah, Julia pasti abis mandi nih. Harum bener kamar gue kalo dia abis mandi. Melihat Julia yang sedang tertidur Gue melangkah menuju kasur dan duduk ditepinya.

“Sayaaaangg…” bisik gue. Dengan segera dia membalik tubuhnya menatap gue sinis. Mampus nih anak kenapa lagi dah

“Kamu kenapa gak jujur sama aku!”

Jujur? Jujur soal apaan? Bentar deh, perasaan gue gak buat skandal sama sekretaris gue. Ya iya gimana mau buat skandal orang Maudya gue suruh pulang kaya biasa jam kantor pulang. Dikantor cuma ada pak Heri, Iwan, Dodi dan Ahmad. Anjir laki semua, ya kali gue buat skandal

“Jujur ke..napa?”

Julia terduduk nenatap sinis ke gue

“Kamu gak biasa sarapan kan?!”

Hah? Mampus tau dari mana dia, emang semenjak menikah gue gak ngasih tau kalo gue itu gak biasa sarapan pagi. Kalopun sarapan biasanya diatas jam 9 baru bisa masuk makanan dan perut gue gak bertingkah kaya tadi pagi

“Nggak.. kok sayang”

“Jangan bohong kamu!!”

Anjay, kalo aja gue homo nih dan dihadapan gue bukan Julia melainkan Julio udah gue ajak gelut nih. Baru pulang kok dibentak, beliin anak sembarangan. Ah sialan nih malah iklan mana ngaco lagi. Btw Julia tau dari mana nih, nyokap? Gak mungkin nyokap gue lagi ribut gitu sama bokap mana mau ngurusin anaknya. Nah itu juga kejelekan orang tua gue. Lagian nyokap gue juga jarang malah gak pernah bikinin sarapan

“Kamu tau dari mana?”

“Dari Shinta!!”

Terkutuklah lo Shinta. Ngapain sih cerita cerita. Eh tapi, si Shinta emang tau kalo gue dibuatin sarapan. Ah emang anying kalo perempuan udah ketemu pasti ngoceh mulai dari hal yang gak penting sampai gak penting banget meski gak semua perempuan kaya gitu juga sih

“Sok tau si Shinta. Gak usah didengerin malah aku tadi saat makan bubur dari kamu otak aku cemerlang. Kerjaan aku beres buktinya aku pulang lebih cepet kan?”

“Emang iya?”

Gue tersenyum lebar sambil menganggukkan kepala semangat berharap Julia percaya sama ucapan gue. Bodo amat deh sama nasib gue ntarnya gimana, kayanya gue perlu bikin toilet diruangan kerja gue sendiri supaya gak bolak balik. Dan saat diperjalanan gue akan sisipkan batu kerikil dikantong gue jaga jaga biar gak mules bodo dah mau dibilang orang begok juga yang penting Julia gue gak ngambek

“Kamu baru pulang sayang?”

Gue mah udah pulang dari tadi lu nye aja yang marah terus. Apa kalo Julia marah dia berubah jadi amnesia ya?

“Iya nih, aku mandi dulu ya. Abis itu kita makan mau?”

Julia mengangguk tersenyum. Gue menoleh ke ranjang tempat tidur Elaine.

“Elaine gimana tadi pas kamu cek up?”

“Dia sehat kok. Dikasih vitamin juga tadi”

Gue mengangguk. Dengan segera gue beranjak ke kamar mandi membersihkan diri gue supaya gue bisa gendong gendong anak gue sebelum gue pergi makan dengan Julia

*

Julia PoV

Pagi ini aku menyiapkan pakaian Arfi untuk bekerja, seperti dasi, jas, serta celananya aku yang memilihkan untuknya. Aku memilih berdasarkan pendapatku bagus saja bukan berarti aku itu orang yang mengerti banyak soal fashion. Sejauh ini apa yang kupilihkan untuk Arfi, ia tidak pernah protes ataupun komplein padaku. Memang itu cocok atau emang Arfinya yang tidak begitu perduli dengan apa yang ia kenakan.

Kini aku beralih ke empunya hatiku yang masih asik dengan mimpinya. Hehehe

“Sstt.. sayang, bangun kuy” bisikku tepat ditelinganya namun Arfi sama sekali tidak terusik. Ku belai pipinya dengan jari telunjukku. Mengusapnya pipinya lembut hingga ke rahangnya yang kokoh dan sedikit ditumbuhi bulu bulu halus disana. Kumisnya yang tipis dengan bibirnya yang sedikit merah segar. Oh ya ampun, berkali kali aki jatuh cinta sama kamu jika aja kamu tau Arfi

Cup

“Eenghhh..”

Dasar, kalau dicium bibirnya aja baru bangun. Aku jadi merasa seperti alarm paginya

“Bangun sayang, udah pagi nih”

Arfi membuka matanya yang masih sayu itu khas bangun tidur

“Morning kiss, baby”

Aku tersenyum

“Tadi kan udah”

“Tadi itu aku masih terlelap. Gak ngerasain morning kiss kamu”

Aku mencubit hidungnya lalu ku cium bibirnya sekilas

“Cukup. Ayo bangun kamu mandi dan siap siap. Aku kebawah buatin sarapan untuk kamu”

Arfi mengerjapkan matanya berulang kali. Lalu tersenyum dan berdiri melangkah menuju kamar mandi. Aku pun turun menyiapkan sarapan untuknya.
Setelah sarapan siap aku kembali menuju kamarku diatas. Dibawah tadi rupanya Savira juga sedang menyiapkan sarapan untuk Fahrie bedanya ia memasak mie instan saja.

“Wih udah ganteng suaminya aku.. pacarnya siapa sih?”

Arfi berbalik dari lemari kaca lalu tersenyum

“Bukan pacar tapi simpenan tante Julia”

“Hahaha kurang ajar gak gue kasih loh”

“Jangan atuh masa manual sih kan cape tangan”

Aku hanya tertawa. Kami terbiasa bercanda seperti ini. Aku berjalan ke ranjang Elaine karena Elaine sepertinya terusik dengan tertawa kami

“Halo anaknya mamah, ululululu kaget ya”

Aku mencium pipi Elaine beberapa kali. Lalu duduk ditepi ranjang untuk menyusuinya. Ku buka beberapa kancing kaos polo ku. Elaine menghisap payudaraku cukup kuat padahal usianya belum genap satu tahun. Ugh! Seperti papahnya ini sih

“Nyusu nya Elaine banyak gak sayang?” Tanya Arfi padaku. Ia membungkukkan tubuhnya dengan kedua tangannya bertumpu pada lututnya

“Lumayan, banyak sih nggak ya. Cuma ya sering aja sehari harinya gitu”

Arfi hanya menganggukkan kepalanya. Aku beralih menatap Elaine yang masih anteng menghisap kesukaannya. Kali ini ia membuka matanya tidak tertidur seperti biasa.

“Lihat apa sayang hmmm.. lihat apa anak mamah?” Ucapku melihat Elaine yang hanya memandang kosong. Hmm mungkin selaput matanya belum terbuka sempurna. Begitu yang kudengar dari orang orang sih

Pandanganku teralih ke Arfi yang masih bertahan dengan posisinya.

“Kamu lihatin apa?”

“Lihatin Elaine nyusu”

Alisku terangkat satu

“Lihatin Elaine apa lihatin yang di isep sama Elaine?”

“Hehehehe… senangnya berbagi sayang apalagi sama anak sendiri”

Aku memutar bola mataku malas. Dasar mesum, berbagi apanya ini kan punyaku. Ya setidaknya disaat pikiranku normal, tidak normalnya kapan? Tidak normalnya saat aku dibuat terbang melayang oleh Arfi. Hehehe ngerti kan?

Elaine tertidur kembali aku dan Arfi turun kebawah untuk menemani Arfi sarapan.

Aku sedikit terkejut karena adanya Rose dimeja makan. Sebelumnya ia memang sudah kembali dari belanda dan menetap disini sampai hari wisudanya. Tapi bukannya ia tinggal diapartement Arfi yang lama. Aku meneliti wajahnya, senyumnya terus mengembang. Aku merasakan ada hal yang disembunyikan olehnya

“Kamu mau sarapan bareng?” Tanya Arfi pada Rose. Hmm orang ini gak ada basa basinya

“Boleh kak, mumpung aku masih bisa kerumah kakak”

Alisku menaut mendengar ucapan Rose. Aku melirik ke arah Arfi disebelahku yang sedang meniup buburnya. Aku beralih melihat Rose yang duduknya didepanku persis. Pandangan kami sempat bertemu beberapa detik sebelum ia mengalihkan pandangannya ke arah lain. Savira dan Fahrie nampaknya tidak ingin ikut campur dan memilih diam meski kami makan satu meja.

Aku tau Rose sedang dalam masalah, atau buruknya ia sedang merasakan kekecewaan yang dalam. Rose memang telah menyelesaikan pendidikannya dinegri kincir angin sebagai sarjana psikologi, namun aku juga perempuan. Dan aku tau perempuan pandai menyembunyikan rasa kecewanya, tapi ada titik dimana ia tidak mampu menyembunyikan semuanya disaat hatinya terlalu sakit. Dan aku yakin, ini yang sedang dirasakan Rose

Malam harinya suasana rumahku berbeda. Kenapa? Karena ramai pake banget. Bukan orangnya yang banyak, jumlah orangnya hanya Iwan, Okta, Gracia, Agus tapi mereka berempat cukup membuat rumahku terlihat seperti acara hajatan!

Bagaimana tidak, Agus dan Iwan jika disatukan mereka bagai reaksi kimia yang meletup letup. Belum lagi Okta yang suka menjerit jerit. Naon si ih! Berisik! Padahal waktu masalah Gracia dulu, Iwan dan Agus berantemnya perang dingin, tapi saat akurnya….

“Goceklah begoookk”

Aku terkejut karena teriakan Iwan. Kamar tidurku diatas jika saja anakku terbangun karena teriakan mereka awas aja sih. Gue gusur lo semua! Eh tunggu harus cek Elaine keatas deh takutnya dia bangun

“Mau kemana?” Tanya Arfi

“Keatas, lihat Elaine soalnya dia tidur takut kebangun” aku melirik Iwan didepanku tapi ia malah asik nonton piala dunia. Heran deh dirumahnya gak ada tivi apa.

Setelah memastikan Elaine tidak terusik tidurnya aku kembali ke bawah.

“Jul, Elaine pindahin aja ke kamar gue. Biar lo gak bolak balik”

Aku setuju dengan saran Savira. Kembali keatas lalu menggendong Elaine ke kamar Savira. Kamar Savira sih lumayan jauh dari ruang tengah.

“Udah?”

“Sip thanks u ya”

“Santai aja sih..”

Aku dan Savira kembali ke ruang tengah. Ya ampun, itu kulit kacang, kaleng minuman berserakan dimana mana. Arfi hanya duduk santai disofa bersama Fahrie sedangkan ketiga makhluk absurd itu duduk dibawah. Meja ruang tengah pun mereka gusur jadi ke pojok ruangan ini. Mereka bertiga adalah Iwan, Okta dan Agus.

“Kamu gak berisik nonton bolanya?” Tanyaku

“Siapa yang nonton”

Aku menaikkan alisku satu

“Aku kira kamu nonton”

“Aku gak terlalu suka nonton bola”

Aku diam. Oh rupanya Arfi gak suka nonton bola ya, pantes dia diem aja mau gol kek pinalti kek wajahnya datar aja. Ck

“Goooolllllll….!!!

Aku menutup kupingku. Ingin rasanya aku berteriak sambil menendang kepala belakang mereka berdua. Posisiku enak sekali nih duduk disofa sedangkan mereka didepanku. Tendang jangan nih?

Melihat itu Arfi sama sekali tidak terusik. Dia malah asik dengan game moba di hapenya. Kulirik sedikit, bener kan. Petir, badai, gempa gak akan bereaksi jika Arfi sudah memiringkan hapenya. Baik, kita lihat cara ini apa dia akan mengalihkan perhatian atau tidak..

“Fi, aku mau cerai”

“Haaah?!!!!”

Aku kembali menutup kupingku. Seisi ruangan ini menoleh ke arah Arfi seketika suasana jadi hening. Arfi menatapku dengan tatapan sulit diartikan

“Kamu main hape terus, aku di diemin”

“Aduh, iyaiya bentar tanggung nih. Jangan gugat aku ya, bentar bentar”

Saat Arfi hendak memainkan gamenya. Fahrie menahannya

“Lepas aja gpp, gue bisa handle ini. Pasti menang kok. Lordnya udah di base lawan”

Hooo mainnya sama Fahrie. Ehem. Main gamenya sama Fahrie. Oke jadi ada nobar, ada juga yang mabar. Pantesan Arfi dan Fahrie anteng aja gak terusik sama sekali dengan tingkah ketiga makhluk aneh didepanku.

“Harusnya masuk nih, kalo kagak sih parah”

“Iye kesempatan nih”

Aku melihat tivi memperlihatkan seorang pemain sedang berancang ancang melakukan tendangan pinalti.

“Waaaahhh…..!!”

“Aaaaa….!!”

“Berisik!!!!”

Sukur! Ade adean macan keluar. Mereka terdiam, bukan terdiam tapi tetap berekspresi kecewa bisik bisik. Orang gila emang susah

Rose melewati ruang tengah. Dia menuju teras belakang rumah. Hmm ini kesempatanku untuk ngobrol sama Rose dibanding dengan mereka. Baru beberapa langkah aku berjalan terdengar suara Arfi

“Lagi?”

“Ayo, nanggung 1 lagi bintang gue jadi 500 nih”

“Gas”

Bodo amat ah sama Arfi yang akan memulai gamenya bersama Fahrie. Savira juga ngobrol sama Gracia. Jadi gak masalah jika aku tinggalkan mereka

Aku melihat Rose duduk di ayunam teras belakang rumah. Ia melamun sambil menggerakkan kakinya sedikit ke tanah menggoyangkan ayunan.

“Hay.. ganggu gak?”

Rose sedikit terkejut dengan kedatanganku. Detik berikutnya dia tersenyum

“Nggaklah, duduk sini kak”

Aku duduk disebelah Rose.

“Kakak kesini gpp? Bukannya lagi nonton sama mereka didalem kak?”

“Gpp biarin aja.. kamu lagi nyari ketenangan?”

Rose terkekeh mendengar pertanyaanku

“Aku emang gak terlalu suka keramaian kak, terbiasa tenang dan menyendiri gini”

Arfi banget sih ini. Adiknya woy!

“Maaf kalo aku terlalu ikut campur, aku mau nanya apa kamu lagi ada masalah?”

Rose menundukkam kepalanya menatap rumput sambil tetap menggoyangkan ayunan dengan kedua kakinya

“Gak ada kak, lagi pula itu jika ada itu urusanku. Bukan urusan orang lain. Bukannya setiap orang memiliki masalahnya masing masing” jawab Rose tidak menatapku

“Bukannya setiap orang juga bisa berbagi masalahnya dengan orang terdekatnya, itu cukup ampuh untuk meringankan beban masalah meski hanya sedikit”

Rose terdiam. Ia kembali menundukkan kepalanya

“Kakak punya adik?”

Aku terkejut dengan pertanyaan yang ia lontarkan padaku. Tumben dia menanyakan seputar keluargaku. Aku menduga ini pasti ada kaitannya dengan keluarga

“Punya, tapi dia udah diatas sekarang”

Rose menoleh cepat ke arahku

“Maaf kak, bukan maksud aku–”

“Gpp santai aja, tumben kamu nanyain tentang keluarga aku?”

“Eh?!” Rose terkejut lalu kembali menundukkan kepalanya

“Maaf kak”

“Iya gpp Rose, aku cuma mau bilang sama kamu apapun masalah kamu cobalah untuk berbagi pada orang lain, atau orang yang kamu sayangi. Itu bisa mengurangi sedikit beban masalah dipikiran kamu. Jika memang terlalu berat dan sulit untuk diceritakan, pergilah kamu bersama orang yang kamu sayangi. Having fun sama mereka itu juga dapat–”

Brug

Aku terkejut tiba tiba Rose memelukku. Ia menenggelamkan wajahnya dipundakku dan menangis disana. Aku mengelus, punggungnya disana mencoba memberi ketenangan padanya meski aku tidak tau apa yang sedang ia alami

Rose melepas pelukannya, ia menghapus air matanya

“Maaf kak aku jadi cengeng gini”

Aku merapihkan poni rambut Rose yang menutupi wajahnya

“Manusia perlu nangis. Entah sendiri atau bersama orang lain. Ia hanya perlu melepas semua beban dalam pikirannya salah satunya dengan menangis”

“Kak Julia sayang aku?”

“Tentu..”

Rose menatapku dengan mata masih berkaca kaca. Aku memberikan senyuman terbaikku untuknya. Memastikan aku selalu ada disampingnya adalah cara terbaik yang bisa ku lakukan. Ku rangkul pundak Rose merapatkannya dengan pundakku.

“Aku kalo kangen sama adikku, suka duduk disini sambil menatap bintang dilangit. Menitipkan rinduku pada bintang bintang disana, tapi sekarang udah jarang mungkin adikku disana sedang ngiri”

“Loh kenapa kak?”

Aku menoleh ke arah Rose

“Karena aku sedikit melupakannya dengan kehadiran kamu. Aku udah anggep kamu adik aku. Aku gak nyangka dipertemuan kita yang awalnya salah paham dulu diapartement kini malah aku jadi sayang sama kamu”

Rose tersenyum sedikit dengan rona merah dipipinya.

“Kak, apa kakak akan terus menyayangi aku apapun statusku?”

Aku menoleh cepat ke arah Rose

“Kasih sayang gak mengenal status Rose. Ini perasaan pribadi aku sendiri seperti layaknya seorang kakak ke adiknya meski kamu bukan adik kandung aku”

“Meski aku bukan adik kandung kak Arfi?”

Aku tersentak mendengarnya. Detik berikutnya bersikap biasa. Ku peluk Rose beberapa saat.

“Misalnya kak” sambung Rose

“Mau kamu adik kandung atau bukan sama Arfi. Itu gak berpengaruh untukku. Yang mempengaruhinya adalah pertemuan kita, dan kasih sayangku ke kamu. Aku dan kamu bukan sedarah tapi aku mampu menyayangi kamu seperti adik kandungku. Ini perasaanku ke kamu Rose, sebagai seorang kakak”

Rose mulai meneteskan air matanya lalu merangkuh tubuhku ke dalam pelukannya. Ada apa dengannya, kenapa ia bertanya hal semacam itu. Dugaanku pasti benar, ini ada kaitannya dengan keluarga atau lebih spesifiknya berkaitan dengan kedua orang tuanya. Jika memang benar, kenapa Arfi hanya diam dan bersikap biasa saja. Bahkan seperti tidak ada masalah sama sekali.

Belum saatnya aku mengetahui semuanya. Perlahan pasti Rose akan menceritakan masalah dan apa yang ia rasakan. Arfi? Sebaiknya ia yang menceritakan hal ini padaku.

“Kak?”

“Ya?”

“Jangan kasih tau sama kak Arfi ya soal obrolan random kita ini. Janji?”

Aku tersenyum

“Iya, janji. Sstt.. ini menjadi rahasia kita berdua” ucapku. Rose tertawa, aku senang melihat tawa Rose kembali.

“Hoy kalian!! Kita mau makan ayo cepet!!” Aku menoleh ke belakang, Iwan yang berteriak rupanya.

Dia seneng banget sih teriak teriak. Ingin ku putuskan urat dilehernya lalu memenggal kepalanya. Stop stop stop! Story ini bukan tentang psycho dan darah yang muncrat kemana mana.

Aku dan Rose berjalan bersama ke dalam rumah menyusul Iwan. Ku pelankan langkahku membiarkan Rose berjalan lebih dulu. Aku menatap punggungnya. Aku tidak boleh gagal lagi menjadi kakak. Aku harus melindungi Rose apapun yang terjadi

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48