Tentang Kita Part 44

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 44 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 43

Ruangan begitu besar dan megah di isi oleh orang orang dari kalangan atas. Bergaya modern – Classic sangat artistik. Minuman minuman kelas dunia tentu tersaji di meja mereka. Para pengusaha besar seperti Juanto tentu ada disana. Mewakili Juanto, Bram memperkenalkan menantu dari anak pertamanya dengan bangga dihadapan para tamu undangannya

“Dia adalah pewaris kerajaan perusahaan Juanto Group, dia adalah Arfi Juanto dan Istrinya”

Pemuda tampan memperlihatkan dirinya dari mimbar besar dihadapan para tamu undangan. Tangannya menggandeng istrinya, begitu harmonis pasangan tersebut. Banyak pasang mata tertuju pada mereka. Tepukan tangan meriah didapatkan olehnya

Setelah Arfi berpidato panjang, banyak yang kagum apa yang Arfi sampaikan. Di usianya yang terbilang masih sangat muda pemikirannya sudah sangat brilliant. Kekaguman para tamu undangan membuat Bram sangat bangga dengan anaknya sekaligus haru. Ia merasa menterlantarkan anak yang kini dikagumi oleh orang banyak. Ia juga merasa tidak memberikan didikannya, apa yang Arfi ucapkan itu yang didapat murni dari pengalamannya.

Kini Arfi dan Julia bergabung dengan Bram serta Carissha. Rose disana, tentu ia tidak akan meninggalkan acara besar keluarganya seperti ini. Mereka duduk satu meja dengan beberapa tamu undangan Juanto

“Menantumu cantik Bram, andai anakku seberuntung anakmu” ucap pria yang duduk disamping kiri Bram. Bram hanya tertawa bangga

“Saya terkesan dengan kamu Arfi, usia kamu sangat muda. Saya sempat meragukan apa kamu bisa memimpin Juanto Group tapi setelah mendengar pidato kamu barusan, keraguan itu lenyap”

Mereka terus mengobrol. Tidak jarang mereka membicarakan soal perusahaan dan kerja sama yang akan mereka lakukan kedepannya.

“Baik Juanto, kita akan adakan meeting untuk kelanjutannya. Kami pamit menemui tamu lainnya” ujar Pria yang memiliki rambut lebih dominan putih. Mereka bertiga berdiri lalu pergi menyisakan Bram, Carissha, Rose, Arfi serta Julia.

Ditengah tengah makan malam mereka, seseorang menarik bangku lalu duduk. Julia terkejut sekaligus panik melihat siapa yang datang. Ya, ia sangat tau siapa orang itu meski penampilannya sudah agak berubah. Kini dia botak, dan ada sedikit tatto ditangan kanannya. Ia tersenyum kecut menatap Bram

“Selamat malam Pak Bram. Anda tentu mengenal saya, terlebih… wanita disana”

Pria tersebut melirik Julia yang duduk disamping Arfi. Arfi menatap geram orang itu. Berbeda dengan Bram, ia terlihat santai

“Silahkan dinikmati hidangannya. Hey, ada apa, Angelo?” Ujar Bram

Ya, dia adalah Angelo.

“Terima kasih, tapi saya ke sini hanya ingin melihat kesuksesan anakmu Pak Bram. Tapi… kelihatannya semua akan tau siapa wanita disamping anakmu, Bram”

Bram mengunyah steak dagingnya dengan santai

“Hey ada apa ini? Bukankah kita teman, Angelo”

Angelo tertawa kecut

“Teman? Tidak ada yang namanya teman setelah keluar dari penjara, Bram. Dan kamu tau kan siapa yang memenjarakanku?”

Bram mengunyah kembali steak dagingnya. Tidak ada yang bersuara kecuali Bram dan Angelo

“Siapa memang?”

“Gak usah terus drama Bram. Orang itu tepat dihadapanku”

Semua terkejut, lalu menatap Bram tidak terkecuali Julia. Ia memang masih belum mengerti apa yang terjadi disini. Yang ia tau adalah ia bertemu dengan Arfi dan setelahnya ia tidak kembali ke club itu lagi

Bram membersihkan mulutnya.

“Lalu apa mau mu, Angelo?”

Angelo tertawa cukup keras membuat beberapa orang disekitar sana melihat ke arah mereka

“Beri aku uang 5 milyar dan bebaskan club ku serta pasokan minuman keras juga keamanan club malamku yang dulu dimana anakmu menemukan istrinya”

Arfi terlihat geram menatap Angelo

“Too much Angelo, kita buat kesepakatan bagaimana?”

“Baik, kesepakatannya adalah turuti keinginanku maka rahasia menantumu aman, jika tidak mereka akan tau siapa menantu dari Juanto family”

Bram menyandarkan tubuhnya melipat tangannya. Masih dengan senyum mengembang dibibirnya

“Ayolah Bram, berhenti tersenyum. Atau kesepakatan lain, dirikan clubku kembali lalu kembalikan aset berhargaku, ya! Kembalikan Julia padaku!”

Brakk

“Apa maksud lo..”

Carissha serta Julia menenangkan Arfi yang berdiri hendak memukul Angelo

“Tenang anakku, ini bukan hal sulit. Kau tau Angelo, ini tidak mudah. Dia sudah menjadi bagian dari keluargaku aku tidak bisa melepaskannya kembali. Melindunginya adalah kewajibanku”

Bram melirik ke arah Julia lalu beralih ke Arfi disebelahnya. Ia melipat tangannya diatas meja

“Kuterima kesepakatan pertamanya”

Angelo tersenyum lebar, ia merasa telah mengalahkan Bram saat ini. Bram menyuruh asistennya mengambil cek. Ia mengisi nominal yang Angelo inginkan lalu menyerahkan padanya

“Ini uangnya, cairkan kapanpun kau mau Angelo. Aku teman yang baik bukan?”

Angelo tertawa mencium cek yang diberikan Bram. Angelo berdiri hendak melangkah

“Lain kali akan ada nominal yang lebih besar demi menutupi aib keluargamu, Bram”

Angelo melangkah meninggalkan meja makan Juanto. Julia tertunduk dalam lalu menatap Bram

“Pah, maafin aku. Karena aku, kalian jadi punya aib seperti ini”

Bram tertawa kecil

“Dengar Julia, apapun kamu dan dari mana kamu, kamu tetap cintanya anak saya. Saya gak akan biarkan kamu terluka. Membayar semua perbuatan saya terhadap Arfi juga merupakan kewajiban saya melindungi kamu. Kamu gak usah merasa seperti itu ya”

Air mata Julia menetes. Ia tidak tau apa yang harus diperbuat olehnya

“Pah, izinkan Arfi pah…”

Carissha yang mengerti menoleh cepat ke arah Arfi. Julia menatap Rose yang duduk didepannya dengan tatapan seolah bertanya apa maksudnya. Rose yang mengerti hanya menggelengkan kepalanya

“Jangan kotori tangan kamu untuk orang kotor seperti dia anakku, hey kalian kesini sebentar”

Dua orang bodyguard menghampiri Bram

“Bereskan dia, apapun yang terjadi. Saya ingin malam ini malam terakhir baginya lalu ambil ceknya kembali. Itu untuk kalian”

Kedua bodyguard itu mengangguk lalu beranjak pergi. Bagi Juanto family ini adalah hal wajar tapi tidak dengan Julia yang terbengong dengan ucapan Bram. Ia menatap Arfi, Arfi hanya tersenyum mengangguk

Julia mengerjapkan beberapa kali matanya. Apa ini biasa dilakukan oleh mereka. Menyingkirkan orang yang mengganggu keluarga mereka. Ia kini tau siapa Juanto family sebenarnya. Dan ia berdiri diantara mereka

*

Julia PoV

Aku tidak menyangka apa yang kudengar barusan. Begitu mudah untuk papah atau tuan Bram ini melenyapkan nyawa seseorang. Aku terus memikirkan hal itu. Disisi lain, aku merasa aman memang. Hal yang mengganjal pikiranku saat aku teringat dengan ucapan Arfi “Pah, izinkan Arfi pah” lalu Papah menyaut “Jangan kotori tangan kamu untuk orang kotor seperti dia anakku..”

Mereka bagaikan mafia difilm film yang ku tonton. Melenyapkan nyawa seseorang demi urusannya sendiri. Masih terlalu dini bagiku untuk mengerti ini semua. Tapi hal yang membuatku mengerti adalah Arfi dan keluarganya bukan orang sembarangan.

Jika aku orang lain setelah mendengar ucapan Arfi dan Papah barusan aku memilih menjauh dari keluarga ini karena terlalu mahal bayarannya untuk berurusan dengan keluarga ini. Nyawa tjoy! Dan saat kutanyakan hal ini pada Arfi seputar hukum yang berlaku, Arfi hanya tertawa dan menjawab “ini sering terjadi Julia, demi kebaikan kita juga. Soal hukum, hmm kurasa papahku punya caranya sendiri agar lolos dari jeratan hukum” oh my god.

“Hey..”

Aku menoleh ke belakang melihat siapa yang menemuiku. Oh Papah, ya papah Bram.

“Loh kok disini Pah, tamu didalam bagaimana?” Tanyaku sambil tersenyum. Bukannya menjawab Papah Bram tersenyum padaku

“Ada beberapa point yang akan saya sampaikan sama kamu. Boleh minta waktunya?”

Aku terdiam sebentar, lalu tersenyum

“Boleh pah, ingin bicara apa?”

Papah Bram mendekat padaku, ia menatapku. Tatapan mata yang tidak asing bagiku, aku tau itu. Aku sering melihat tapi bukan pada Papah Bram melainkan anaknya, Arfi. Mereka mirip sekali

“Point pertama, saya ingin sampaikan maaf saya sebesar besarnya sama kamu atas ulah saya yang dulu. Menghina kamu, merendahkan kamu bahkan menjatuhkan harga diri kamu. Saya terlalu memikirkan pandangan orang lain pada keluarga ini. Namun, kelihatannya Arfi terlalu mencintai kamu, akan tetap buruk jika orang lain juga tau seorang Arfi menikahi wanita sepertimu imbasnya tetap akan pada saya. Tapi itu sudah lewat, saya tidak akan mengulang kesalahan yang sama”

Aku diam mencerna ucapan Papah Bram. Ia tetap terlihat tegas dan cukup gagah di usianya yang tidak lagi muda.

“Mau kan kamu maafin saya?”

Aku mengangguk senyum “tentu Pah, itu bukan hal sulit”

“Terima kasih, lalu point kedua berkaitan dengan point pertama. Arfi sangat mencintai kamu, saya tau anak saya seperti apa, dia keras kepala dan tidak akan melepas dengan mudah apa yang sudah dia dapatkan. Itu sebabnya saya minta tolong sama kamu, tolong jaga dia cukup perasaannya saja. Saya tidak mau melihat ia terluka hatinya melihat apa yang ia korbankan untuk kamu. Mengerti kan?”

Ini sepertinya agak sulit. Bagaimana tidak, dalam sebuah hubungan masalah seperti apa dan dalam bentuk apapun akan selalu menghampiri. Aku teringat saat masalah Reno, apa ini sebabnya Arfi tidak memberitahukan kepada kedua orang tuanya. Karena ia melindungiku, aku mengerti sekarang. Tapi permintaan Papah Bram terdengar bukan sebuah permintaan atau ucapan biasa melainkan ancaman bagiku

“Mengerti Pah, Julia akan berusaha menjadi istri dan bagian keluarga ini dengan baik. Maafin Julia jika suatu saat nanti Julia melakukan kesalahan”

Papah Bram tertawa kecil lalu menatapku kembali

“Apa ucapanku barusan terdengar ancaman bagimu?”

Aku tidak menjawab hanya tersenyum semanis dan sebisaku. Sejujurnya iya, tapi aku tidak mungkin mengatakan itu

“Baik, point ketiga adalah…”

Papah Bram mengalihkan pandangannya sejenak lalu kembali menatapku

“Kamu sudah pasti mengerti ucapan saya dan Arfi dimeja sewaktu Angelo datang bukan?”

Sudah kuduga ia pasti akan membahas soal ini. Namun aku belum mengerti kemana arahnya dan apa yang ia ingin katakan.

“Jika kamu memang kurang paham, saya akan jelaskan. Singkatnya saya gak akan segan melenyapkan siapapun yang mengganggu keluarga saya, melukai keluarga saya fisik maupun hati dari anggota keluarga saya”

Strike! Benar dugaanku. Mereka bisa disebut sebagai mafia atau aku saja yang baru mengerti kehidupan kalangan orang atas seperti ini. Dan kini aku berdiri diantara mereka

“Lalu….” ucapku menggantung

“Rahasiakan ini, jangan sampai orang luar keluarga ini tau. Biarkan mereka menduga tapi mereka tidak akan kuat tanpa bukti dan saksi”

Papah Bram selangkah maju mendekatiku

“Bagaimana pun kamu adalah orang luar, secara kebetulan menikah dengan anakku, bagian dari keluarga ini. Itu artinya kamu mengambil bagian merahasiakan hal ini dari publik. Jika itu terjadi karenamu, saya tidak akan segan melenyapkan saksi ataupun bukti yang ada” ujar Papah Bram berbisik diantara kami.

Aku meneguk ludahku. Tatapan Papah Bram lebih tegas dan serius dari sebelumnya. Kuyakin ia tidak akan main main dengan ucapannya.

“Baik Pah, aku mengerti” hanya itu yang dapat ku ucapkan. Setidaknya itu adalah kalimat yang ingin dia dengar

Papah Bram tersenyum lalu mundur dua langkah dariku kembali pada posisi semulanya. Seorang pelayan lewat membawa minuman. Papah Bram mengambilnya dua gelas dan memberikannya padaku satu

“Minum dulu, biar kita sedikit santai” ia meneguk minumannya sedikit. Aku tau semua minuman disini beralkohol. Aku pun meminumnya sedikit untuk menghormati Papah Bram

“Tenang saja Julia. Sebagai gantinya saya menjamin keamanan untuk kamu sebagaimana saya menjamin keamanan untuk anak saya sendiri. Bukannya saya tadi bilang saya akan melindungi anggota keluarga saya dan kamu sudah saya anggap bagian dari keluarga saya”

Aku hanya tersenyum “terima kasih Pah. Saya mengerti” ucapku. Papah Bram hanya mengangguk lalu mengalihkan pandangannya lurus ke depan

“Ada hal lagi yang ingin saya sampaikan sama kamu”

“Apa itu pah?”

“Sekali lagi saya minta maaf atas perbuatan saya. Saya tau beberapa waktu lalu kamu dan Arfi mengalami perselisihan karena seseorang”

Aku mengerti arah pembicaraannya. Ini pasti Reno

“Iya pah”

Papah Bram kembali menghadapku dan menatapku. Tatapannya biasa tidak setegas tadi

“Saya juga bilang kan tadi, saya akan melenyapkan siapapun yang melukai fisik dan hati anggota keluarga saya?”

Aku mengangguk. Sungguh jika Papah Bram ini hanya orang biasa aku tidak bisa percaya ini.

“Hanya itu, saya harap kamu mengerti dengan ucapan saya. Ayo masuk”

Papah Bram melangkah masuk ke dalam tapi aku masih terdiam ditempatku. Aku menatap gelas yang ku genggam menarik nafasku dalam dalam dan menghembuskannya. Artinya Reno sudah tidak ada lagi didunia ini. Aku tidak menanyakan lebih detail, aku yakin Papah Bram memiliki perasaan yang sensitif. Lebih baik kutelan rasa penasaranku. Yang perlu kulakukan adalah melakukan hal yang diucapkan oleh Papah Bram sebaik mungkin.
*

Aku berjalan diantara kerumunan orang mencari cari keberadaan Arfi atau anggota keluarga Juanto lainnya. Dengan segelas Wine ditanganku dan dress merah yang kukenakan membuatku menjadi pusat perhatian beberapa pemuda disini. Aku yakin mereka anak dari para pengusaga besar disini. Tatapan mereka membuatku risih, jika saja aku menggandeng Arfi tentu mereka tidak akan melakukan hal seperti ini

“Ehem.. nyari siapa?”

Aku berbalik badan. Pemuda dengan rambut klimis, kemeja putih dibalut jas biru dongker yang selaras dengan celananya.

“Siapa ya?”

“Bagaimana kalau kita berkeliling sambil ngobrol ngobrol sedikit”

Aku mengingat ucapan Papah Bram. Jika Arfi melihatku disini apalagi jika papah Bram atau Mamah Carissha sendiri yang melihatku dengan pria lain. Agak ngeri kalo inget ucapan Papah Bram padaku

“No, thanks. Aku harus menemukan keluargaku”

Aku berbalik meninggalkan pemuda itu dengan langkah agak cepat. Namun heelsku sepertinya tidak mendukungku.

“Biar ku bantu mencari dimana keluargamu, boleh?”

Ujar pemuda itu menghalangi jalanku. Aku sedikit melirik ke kanan. Aku tersenyum setelah mendapati Papah Bram, Mamah Carissha, Rose serta Arfi disana. Namun, hanya Rose dan Mamah Carissha yang melihat ke arahku

Ide jahilku muncul sekaligus aku ingin tau seberapa terkenal dan ditakuti keluarga Juanto ini.

Aku mengubah arah jalanku sedikit ke kanan melewati pemuda didepanku. Namun ia terlalu mudah masuk ke dalam jebakanku. Derap kakinya terdengar olehku, aku semakin dekat dengan Rose dan Mamah Carissha. Senyumku mengembang saat hanya tinggal beberapa langkah lagi aku menghampiri Rose, kubalikkan tubuhku. Pemuda itu berhenti mendadak melihatku

“Ada apa mengikutiku terus? bukankah tadi ku katakan aku tidak perlu bantuanmu untuk mencari dimana keluargaku”

Pemuda itu menatapku heran

“Hey aku hanya menolongmu, Nona. Disini ramai banyak orang kau akan kesulitan menemukan keluargamu. Apa itu berlebihan?”

“Aku tidak suka jika ada seorang pria yang tidak kukenal mendekatiku, itu membuatku terganggu. Pergilah..”

Pemuda itu terdiam menatapku. Aku tertawa dalam hati. Rasa penasarannya yang akan kupancing

“Nona, kau gadis cantik dan manis. Kau tidak tau kau berada dimana sekarang ini. Biarkan aku melindungimu”

Aku berbalik lalu melangkah ke arah meja dimana keluarga Juanto berada. Semua menatapku dan pemuda itu. Tidak terkecuali Arfi

“Maaf membuat kalian menunggu, disini banyak orang aku agak sulit menemukan kalian. Tapi pria ini mengangguku”

Aku menunjuk ke arah pemuda itu berdiri. Dia terlihat panik, tatapannya menuju ke arah meja bundar dimana disana keluarga Juanto berada

“Apa benar begitu Julia, pria ini mengganggumu?” Tanya Papah Bram

“Aku sudah memberitahu padanya aku ingin jalan sendiri namun ia menghalangi jalanku dan mengikutiku sampai kesini”

“Eum.. maaf Om bukan maksud saya seperti itu. Saya hanya tidak tau dari keluarga mana Wanita ini. Saya hanya ingin memastikan ia bertemu keluarganya”

“Dia milikku, dan dia istriku. Kau telah mengganggu istri” Arfi berdiri menghampiri pria itu.

“Katakan pada Ayahmu untuk tidak akan mengikuti acara semacam ini lagi. Jika aku melihatmu dimana pun itu dalam waktu 1 bulan ini. Kau tau kan apa akibatnya berurusan dengan Juanto Family!”

Pemuda itu mengangguk takut lalu pergi melangkah pergi menjauh mengundang gelak tawa Papah Bram

“Duduk Julia. Ini kursimu, dan tempatmu adalah disisi kiri Arfi”

Arfi menarik kursi untuk ku duduki. Jadi posisinya adalah Papah Bram berada dikursi tengah paling besar, sisi kiri Papah Bram adalah Arfi, di sisi kanan Papah Bram adalah Mamah Carissha. Disebelah kanan Mamah Carissha adalah Rose. Aku berada disisi kiri Arfi

“Welcome to my family, baby” bisik Arfi pelan

Aku tersenyum. Senyum dipaksakan karena aku tidak tau harus berkata apa. Mereka bersulang aku pun melakukan hal yang sama

“Hey, kali ini aku boleh kan minum minuman beralkohol?” Bisik Arfi sambil mengedipkan matanya sebelah

“El dirumah sama siapa Julia?”

“Sama Savira Mah”

“Kamu masih menyusui?”

“Masih pah, cuma kemarin ke dokter Shinta dia bilang mulai coba susu formula aja. Tapi tetep jangan terlalu sering”

Selebihnya kami hanya mengobrol ngobrol santai. Terlihat mereka seperti keluarga normal jika begini. Namun itu tidak seperti yang terlihat, kini aku tau rahasia keluarga ini. Menyeretku untuk mengambil bagian dalam keluarga ini.

Papah Bram yang ikut mengundangku ke acara besar ini, mengenalkanku pada beberapa client besarnya, serta obrolan Papah Bram denganku barusan ku anggap sebagai ucapan selamat datang di Juanto Family . Yups, aku menoleh ke sampingku. Arfi tengah meledek Rose adiknya, ku pandangi terus wajah samping Arfi. Senyumku tertarik lebar, jika ini memang perjuangan untuk mencintaimu, apapun akan kutempuh.

Tunggu, hey! Ini seru sekali. Ingat wajah pemuda yang barusan ketakutan karena menggangguku, ia langsung pergi begitu tau aku bagian dari keluarga Juanto. Hmm aku mulai menyukai ini, hehehe

Saat kami melangkah keluar dari gedung ini pun beberapa pelayan yang kami lewati membungkuk memberi hormat pada kami. Papah Bram dan Mamah Carissha bergandeng tangan didepan kami. Ah tidak didepan kami sebenarnya adalah Rose dan aku berada dibelakang dengan tangan kananku menggandeng tangan kiri Arfi.

Pintu utama dibuka kan dan kembali kami mendapat sambutan dan ucapan selamat malam dari para pelayan. Kami semua memasuki mobil, Papah Bram dan Mamah Bram serta Rose memasuki mobil lebih dulu. Pintu ditutup oleh pelayan, namun Mamah Carissha menurunkan kaca jendelannya melambai pada kami. Aku membalasnya

Tak lama mobil serupa datang menghampiri kami. Pintu dibuka kan oleh pelayan, aku dan Arfi masuk ke dalam. Mobil melaju begitu pintu tertutup.
“Kamu cantik banget malam ini”

Aku tersenyum

“Ah kamu selalu cantik bukan hanya malam ini. Boleh aku mencium kamu?”

Aku terkekeh geli karena bahasanya yang baku

“Kaku banget sih, sini suaminya aku, lakukan apa yang kamu mau lakukan”

Arfi melakukan sesuatu dengan jok mobilnya membuat jok yang ia duduki sedikit mundur serta sandarannya turun. Posisi relax

“Sini duduknya sama aku”

Aku tertawa kecil. Dengan perlahan aku pindah ke pangkuan Arfi. Bersandar pada dadanya, ku buka kancing kemejanya 3 buah. Ku kecup kulit dadanya

“Kangen banget sama aku?”

“Hampir setiap saat” ujarku.

Arfi tersenyum lebar, bibirnya yang segar membuatku gemas ingin menggigitnya. Ku sambar bibir Arfi, menikmati ciumannya dibibirku. Aku tidak khawatir saat kami melakukan ini karena ada pembatas antara supir dan penumpangnya.

Jadi supir kami tidak akan melihat, lagian apa yang mau dia lakukan. Sudah tentu ia akan membiarkan kami melakukan apapun meski dalam mobil. Aku yakin supirnya terlalu takut untuk melarang kami. Ya, takut karena ia pasti ingat ia bekerja pada keluarga siapa

Arfi sedikit menyingkap dressku membuat. Membuat pahaku terlihat, tapi aku tidak perduli. Yang kulakukan adalah terus mencium bibir lembut Arfi. Lidah kami saling bertemu, ciuman kami semakin panas sampai tidak sadar dress bagian bawahku sudah tersingkap hingga kebagian perutku

Aku melepas ciuman kami karena kehabisan nafas. Nafasku tersenggal senggal begitu juga Arfi. Tangan Arfi mengelus lembut bagian pahaku. Membuatku mendesah pelan

“Kamu tau, sejak kenal kamu aku jadi suka warna Pink, Biru muda, krem, dan hitam. Terlebih jika ada gambar teddy bear atau bunga ditengahnya”

Aku terkekeh, aku menjawil hidungnya. Mesum sekali dia ini. Aku mendekatkan ke kupingnya, menggigit pelan daun telinga bagian bawahnya sambil berbisik

“Aku bertaruh kamu akan lebih suka warna merah muda merekah yang berada didalamnya”

Ku tatap Arfi yang tersenyum mesum padaku. Tangannya kini beralih mengelus bagian dadaku dari luar dressku. Kembali ku cium pinggiran bibirnya sebentar. Ku jilat bibirnya sedikit

Mobil berhenti tepat didalam pekarangan rumah kami. Aku merapihkan dressku yang berantakan.

“Kamu gak usah jalan sayang”

“Eh?!”

Arfi menggendongku hingga keatas. Beruntung malam ini Savira dan Fahrie sudah tidur, mungkin karena rumah sudah sepi.

Arfi meletakkanku dikasur, setelah melihat keadaan El sudah tertidur nyenyak. ku kalungkan tanganku dileher Arfi. Kami kembali berciuman. Aku melebarkan kedua pahaku, tanganku melepas kemeja yang dikenakan Arfi. Arfi meremas bagian dadaku sebelah kanan. Ku buang sembarang arah kemeja Arfi. Ku raba dengan tanganku otot otot tubuh Arfi

Ku lepas ciuman kami. Nafas kami tersenggal senggal. Tatapanku beralih ke bawah melihat ikat pinggang yang Arfi kenakan. Seolah mengerti tatapanku, Arfi menegakkan tubuhnya lalu membuka celananya. Ia juga membuka celana dalamnya.

“Sekarang giliran kamu, Julia”

Kutarik bagian belakang kepala Arfi dan kami kembali berciuman. Saling menghisap bibir kami satu sama lain.

“Arfi, tunggu.. dress ini menghalangi kamu kan? Tunjukkan kekuatan kamu sayang”

Arfi tersenyum, ia membuka paksa dressku namun tidak menyakitiku. Ia robek bagian tengahnya hingga bawah. Ia lempar ke sembarang arah dress merah yang sudah sobek Goodbye dress 20juta. Oh sungguh sensasi ini sangat memabukkan. Arfi menciumi leherku, ia menghisapnya disana mungkin meninggalkan kissmark disana.

“Aku buka ya?”

Aku menganggukkan kepala. Saat ia akan merobek Bra ku. Aku menahan tangannya

“Ini bisa dibuka sayang”

Klik

Kulempar ke sembarang arah bra ku. Ku raih kepala bagian belakang Arfi ke arah dadaku. Ia menghisap disana, bergantian di ke dua dadaku.

Tiba tiba Arfi menghentikan kegiatannya. Ia beralih mencium bibirku

“Kamu bikin aku lapar, Julia”

“Aku siap menjadi hidangan utama kamu malam ini, sayang”

Dan ya, malam itu menjadi malam yang panjang bagi kami. Kami menikmati malam itu hingga jarum jam menunjukkan pukul 12. Tapi gairahku masih memuncak, aku ingin Arfi malam ini. Kegiatan kami berlanjut hingga 2 jam selanjutnya. Setelahnya kami sama sama kelelahan.

Keringat membanjiri diseluruh tubuh kami. Kami tertidur dengan posisi berpelukan tanpa memakai pakaian sehelai pun. Kami terlalu lelah untuk sekedar berjalan ke lemari dan memakai pakaian. Mataku mengantuk, aku tertidur sambil memeluk lengan kekar Arfi yang memeluk tubuh polosku dari belakang

*

Aku membuka mataku begitu jam menunjukkan pukul 7 pagi. Ah sepertinya aku telat bangun, sungguh malam tadi adalah malam yang panjang dan melelahkan. Aku bangun lalu memunguti baju baju ku, bukan hanya bajuku tapi baju Arfi juga. Ah sial Dress 20 juta ku harus robek begini, ini akan berakhir dipembuangan sampah. Huft!

Setelah aku membersihkan diri dan memakai pakaianku, aku hendak membangunkan Arfi yang masih melayang dialam mimpi. Niatku terhenti saat mendengar dering dari hape Arfi dinakas beberapa kali. Ku ambil hapenya lalu ku periksa. Siapa yang mengirimi pesan ke orang pagi pagi begini. Kalo perempuan awas aja sih

Mataku terbuka lebar, tanganku bergetar, aku terduduk lemas dipinggir ranjang tempat tidurku melihat isi pesan dihape Arfi. Sebuah foto yang sangat ku kenal, itu adalah foto Angelo. Ya, Angelo dengan wajah penuh luka dan…. mati.

Pergerakan dibelakangku membuatku terkejut segera aku menoleh ke belakang melihat Arfi yang mengerjapkan matanya berkali kali.

“Kamu gak bangunin aku sayang?”

Aku diam menatap Arfi tidak bergeming. Pagi ini terlalu mengejutkan bagiku. Oh Arfi Arfi kenapa kamu selalu membuat kejutan yang tidak pernah aku pikirkan. Ia melihat hapenya yang berada ditanganku lalu tersenyum

“Kamu meriksain hape aku?”

Aku tidak menjawab langsung ku peluk tubuhnya dan menangis disana. Aku merasa ketakutan, tapi entah apa alasannya. Arfi mengusap punggungku

“Arfi, ini ada pesan dari Papah kamu. Beliau ngirim pesan gambar”

Arfi melihat hapenya sebentar lalu menatapku tersenyum sambil mengusap puncak kepalaku

“Kamu akan terbiasa soal ini. Mencintaiku sulitkah bagi kamu?”

Aku menggelengkan kepalaku

“Jika tidak, hal tersulitnya adalah menerima kehidupanku. Kini kamu tau kan kehidupan asliku, kehidupan keluargaku”

Aku menghapus air mataku lalu menatap Arfi. Ia tersenyum, matanya mengecil jika tersenyum

“Ajari aku untuk terbiasa akan hal ini. Bagaimana pun aku nggak ingin ninggalin kamu. Apapun yang terjadi”

Arfi kembali memeluk tubuhku. Menenangkanku, tak seberapa lama ia melepas pelukannya

“Aku akan melindungi kamu dari apapun. Itu janjiku sama diriku sendiri bukan?”

Aku tersenyum lalu mencium bibir Arfi. Ku lumat sedikit bibir bagian bawahnya lalu ke lepas ciuman kami

“Mandi gih, kamu jorok deh masih telanjang gini”

“Yee telanjang juga karena siapa boss?”

Aku terkekeh

“Ya udah mandi, ngantor kan?”

“Iya, aku mandi dulu”

Arfi berjalan hendak masuk ke kamar mandi

“Tumben nggak ngajak mandi bareng”

“Nggak ah sering dapet penolakan. Lagian belum keisi lagi, semalem dikuras abis”

Aku tertawa mendengarnya. Arfi menutup pintu kamar mandinya. Hmm ah iya aku harus ganti sprey, mengganti sarung bantal dan juga sarung guling. Aromanya gak sedap sekali, campuran antara keringat dan…. ah udahlah ya gak usah diceritain setiap keluar dikeluarinnya diluar(?)

*

    

Arfi PoV

Siang ini seharusnya gue menghabiskan makan siang gue dikantor tapi kayanya itu hanya ekspetasi gue. Sekitar jam 11 siang tadi gue memesan ayam bakar beserta nasi dan sambalnya. ayamnya biasa aja, apalagi nasinya Nah yang istimewanya tuh sambalnya, enak bener yakin dah sumpah. Tapi asli emang enak, gue sampe nagih setiap makan pake sambalnya.

Tapi itu hanya ekspetasi gue seperti tadi gue bilang karena gue harus ke kantor bokap gue. Entah, katanya ada yang ingin disampaikan sama beliau. Btw gue sedikit khawatir dengan kondisi Julia, nggak, bukan dia sakit tapi lebih ke kejiwaannya.

Mungkin Julia biasa hidup dalam tanda kutip dulunya, namun kini dia harus mengenal lagi sisi kehidupan lainnya, kehidupan keluarga gue. Bisa dibilang seperti mafia, awalnya gue menolak dan selalu ingin menciptakan hidup yang damai tanpa perbuatan keji didalamnya, tapi mengemban nama Juanto dibelakangnya, memaksa gue untuk ikut andil melakukan perbuatan tersebut, gak sering bahkan terbilang jarang tapi pernah.

Catet pernah!

Mungkin kalian belum tau alasannya, begini.. singkatnya, jika berdiri diatas terus mengalahkan pesaing maka ada pesaing yang terima dan ada yang nggak, melakukan cara apapun untuk menjatuhkan papah gue termasuk mengambil langkah melenyapkan nyawa. Nah hubungannya sama gue adalah nama belakang gue juga Juanto. Tidak tertutup kemungkinan gue juga akan jadi sasaran, untuk itu demi keselamatan gue, gue melakukan apapun termasuk mengalahkan para pengincar gue dengan cara apapun. Yaa boleh dibilang hukum rimba, dimakan atau memakan.

Gue duduk dikursi depan bokap gue, dia nuangin minum lalu memberikan sama gue

“Julia udah tau Fi, papah yang ngasih tau dia. Cepat atau lambat dia juga akan tau. Untuk itu papah ambil langkah untuk memberitahunya lebih dulu sebelum ia terkejut dan membuka mulut”

Ada rasa senang saat bokap bilang gitu. Artinya bokap gue udah nerima Julia dalam keluarga gue sampai dia mau memberitahu rahasia keluarga gue

“Yang perlu kamu lakukan adalah buat istri kamu itu terbiasa akan hal ini. Suruh ia untuk berjaga jaga dalam ucapan pada siapapun”

Gue mengangguk, bokap meneguk minumannya lalu tersenyum ke arah gue.

“Dia gadis yang baik meski kamu menemukannya ditempat yang gak baik. Papah percaya dia mencintai kamu tulus. Meski papah pernah meragukan itu”

Gue tersenyum lalu meneguk minuman gue sedikit

“Terima kasih pah, pesan gambar yang papah kirim itu yang baca pertama kali adalah Julia pah”

Raut wajah papah sedikit terkejut

“Oh ya? Apa tanggapannya?”

“Dia bersikap biasa, tapi emang ada rasa ketakutan dari sorot matanya. Arfi bisa pastikan dia akan terbiasa untuk ini”

Bokap menyandarkan tubuhnya pada kursi

“Papah gak bisa toleransi jika memang dia adalah kunci dari semua yang kita lakukan. Papah tidak ingin melakukan hal yang sama ke Julia, cukup Mozza. Maafin papah”

Gue tersenyum getir. Hmm ya memang secara teknis Mozza dulu meninggal karena kecelakaan. Tapi jauh dari itu sebenernya adalah Mozza dibuat kecelakaan. Dan pelakunya adalah orang suruhan bokap gue. Kenapa? Karena Mozza incaran pesaing bisnis bokap gue dan hanya dia kunci bukti untuk menjatuhkan bokap gue ke penjara.

Gue berkorban perasaan dan kebencian gue meningkat saat itu sama bokap gue. Itulah sebabnya gue gak ingin dekat dengan keluarga gue tapi sejauh gue melangkah selalu ada orang yang siap menjatuhkan bokap gue melalui gue, tanpa orang bokap gue, gue gak akan bisa melindungi diri gue sendiri. Kejam? Memang

“Julia berbeda dengan Mozza pah, dia tipe perempuan penurut berbeda dengan Mozza selain itu dia istri sah Arfi”

“Papah menjamin keselamatannya, konsekuensinya adalah dia harus tau apa akibat dari orang yang telah menganggunya. Jadi, tujuan papah memberitahu sisi gelap kita ke Julia adalah agar Julia mengerti siapa kita”

Gue mengangguk patuh. Biar pun gue perang dengan bokap gue dulu, tapi ternyata bokap gue kali ini benar benar menepati ucapannya, dia memikirkan keselamatan Julia. Untuk itu dia memberitahukan sisi gelap keluarga gue ke Julia agar Julia tau dsn menutup mulutnya rapat rapat.

Tapi gue sebagai lelaki jika memang suatu saat Julia menjadi target bokap gue karena dia melakukan kesalahan yang berakibat fatal ke keluarga gue, gue gak akan tinggal dia. Gue akan melindungi Julia. Pasti!

“Hanya itu yang ingin papah sampaikan, sepertinya Julia juga mengerti apa yang papah sampaikan padanya kemarin”

“Iya pah, dia juga cerita ke Arfi pah”

Bokap gue meneguk minumannya hingga habis

“Papah akan menemui kamu dengan Orang kepercayaan papah untuk melindungi kalian nanti. Dia bersedia melayani keluarga kita dengan taruhan nyawa. Dan untuk Julia, masukkan ia ke dalam group tertutup kita. Agar ia terbiasa, dan soal keamanan digroup tersebut kamu mengerti kan harus melakukan apa?”

“Ngerti pah”

“Nice..”

Gue meneguk minuman gue hingga habis. Selanjutnya hanya obrolan ringan antara gue dan bokap gue sampai ke obrolan intim

“Papah sepertinya akan punya cucu baru ya?”

“Maksudnya pah?”

“Coba kamu ngaca, kenapa leher kamu merah merah begitu, jangan salahkan nyamuk yang tidak bersalah”

Gue mengambil hape gue dan membuka kamera depannya.

Holyshit! Ini mah merah karena nyamuk gede! Iya gede, yang gede gede semuanya terus emoy emoy

“Untuk itu Arfi maupun Julia belum program ke dua pah”

“Hubungan kalian harmonis juga, saling mengisi dan melengkapi termasuk dalam urusan ranjang. Papah gak salah menitipkan kamu sama Julia kemarin”

Ada hal yang Julia gak ceritain kemarin ke gue. Bukan nggak tapi belum kayanya

“Arfi berharap terus begitu pah”

“Kamu jangan permalukan papah, buat istrimu juga puas diranjang. Kita laki laki jangan egois dengan hanya kita puas lalu selesai permainan. Kamu juga harus membuat istri kamu meneriaki nama kamu kencang kencang bila perlu. Itu tips dari papah agar rumah tangga kamu tetap harmonis”

Gue hanya tersenyum mengangguk. Bokap gue usianya aja yang tua ternyata tapi isi dan pikirannya soal ranjang masih konek sangat bagus. Mungkin ini alasan bokap gue mau merogoh kocek untuk biaya perawatan nyokap gue selain dia ingin memanjakan istrinya ia juga ingin istrinya terlihat cantik dan sexy.

Oh jelas, pria selalu ingin wanitanya seperti itu. Pantes nyokap gue meski usianya 3 tahun lagi genap 50 tahun tapi masih kencang depan belakang. Gak rugi bokap ngeluarin duit buat nyokap, mungkin dia sadar apa yang dia keluarkan itu untuk dirinya sendiri. Hmm sepertinya sesekali gue harus nanya ke nyokap atau minimal bilang ke nyokap agar dia ngajak Julia saat perawatan tubuh.. perlu ini sih.

**

Arfi PoV

Gue menaburkan bunga diatas dua buah makam. Ini makam mertua gue, tapi gue belum pernah bertemu dengan mereka. Hanya melihat fotonya aja.

Setelah gue dan Julia berdoa kami memutuskan untuk beranjak.

“Mah, pak Julia pulang ya. Kapan kapan Julia kesini lagi”

Lalu Julia membalik tubuhnya ke sebuah makan disebelah kami

“Dek, Kakak pulang ya..”

Gue merangkul pundak istri gue memberinya kekuatan serta meyakinkan dia kalau dia tidak hidup sendirian. Kami melangkah keluar dari taman pemakaman keluarga. Kalo dilihat sih gak seperti pemakaman, karena banyak rumput ilalang, pagar yang rusak dan yah masih banyak lagi kerusakan yang ada.

“Minum dulu yuk”

Julia mengangguk. Gue membeli dua buah botol minuman berasa buah supaya Julia agak segeran dikit setelah meminumnya

“Nih, kamu mau rasa apa?”

“Mangga”

Julia mengambil botol minuman dari gue dan yang diambil rasa stroberi. Kan tadi dia mau mangga ya? Ah biarin deh, orang sedih bebas. Gue duduk disebelahnya meminun minuman rasa mangga.

“Bentar deh, aku ambil dompet dulu ya dimobil kamu tunggu disini”

Julia menganggukkan kepalanya. Gue berlari kecil menuju mobil gue yang terparkir diluar. Setelah dapat gue dengan segera kembali ke tempat Julia berada, tapi Julia gak lagi sendiri. Gue mendekat perlahan

“Aku turut berduka loh atas kepergian kedua orang tua kamu dan adik kamu”

“Iya terima kasih Mel, kamu sekarang kerja atau gimana?”

“Aku masih kaya dulu loh, masih ngurus kebon bapak aku. Eh anakmu namanya siapa?”

“Oh ya, namanya Elaine Agatha. Baru jalan 4 bulan loh”

Obrolan ringan sepertinya gak masalah kalau gue hampiri mereka

“Ehem..”

Gue tersenyum sama kedua gadis didepanku. Biar gimana gue harus tetap bersikap ramah

“Oh ya Mel ini suami aku, kenalin sini”

Gue menjulurkan tangan gue menjabat tangan temennya Julia ini

“Melissa”

“Arfi”

Selebihnya kami hanya ngobrol ngobrol ringan sebelum kami memutuskan untuk kembali ke jakarta. Gak bagus juga bawa bayi lama lama di area kuburan gini. Kami berpamitan pada teman Julia ini lalu dengan segera mobil meninggalkan area kuburan dan kembali ke ibu kota

*

Hari baru datang, seperti biasa gue sibuk dengan pekerjaan gue dikantor. Gue melihat berkas berkas laporan karyawan gue. Laporan keuangan, pendapatan serta pengeluaran dan juga proyek proyek yang sudah diselesaikan maupun sedang diselesaikan.

Oh ya, kantor gue ini gak sembarangan menerima proyek meski banyak juga yang ingin kerja sama dengan perusahaan gue. Tapi jika terlalu banyak menerima proyek kasihan nantinya karyawan gue bisa kerja keras bagai qouwda. Gue gak sembarangan juga nerima proyek kalo udah banyak proyek yang sedang dikerjakan gue akan menolak perusahaan yang akan bekerja sama dengan gue. Gitu aja sih

Tok tok

Grek

“Fi sorry nih, coba lu cek ini. Ada yang gak beres”

Iwan meletakkan beberapa kertas dimeja gue dan gue mengambilnya. Gue baca semua secara rinci tulisan dikertas itu.

“Kenapa wan? Ini gak ada yang aneh”

“Awalnya gue mikir kesitu. Coba tengok, bu Amira, 4 hari sakit terus. Sedangkan diperusahaan kita 2 hari sakit aja langsung dapat dana perawatan kan bila dia memang perlu perawatan intensif”

Hmm bener juga Iwan

“Terus biaya perawatannya udah diberikan?”

“Harusnya udah, dan ini coba lo lihat deh”

Gue mengambil dua kertas berbeda dari tangan Iwan. Keterangan sakit lambung dan surat rujukan ke rumah sakit dari klinik. Apa salahnya.. eh tunggu, loh?

“Ini surat rujukan yang berbeda dari klinik yang beda juga Wan, tapi atas nama Amira dan sakit yang sama. Loh loh kok gini”

“Gak beres kan? Lo lihat deh dana yang dikeluarkan perusahaan buat Amira ini dikertas yang ini”

Gue membaca kertas yang berbeda dari sebelumnya. Hmm benar ada yang gak beres

“Wan, kumpulin semua staff diruang meeting. 15 menit lagi gue kesana”

“Siap boss”

Iwan bergegas keluar ruangan gue. Gue memakai kembali Jas gue lalu menyusul Iwan keluar menuju ruang meeting

Sampai diruang meeting semua staff penting diperusahaan gue sudah berkumpul. Gue duduk dikursi paling besar

“Oke maaf mengganggu kerja kalian. Ada yang ingin saya luruskan disini. Sebelumnya, Gio dan Rina saya ingin lihat rekap keuangan bulan ini”

“Baik pak”

Rina dan Gio adalah staff keuangan diperusahaan gue. Mereka memberikan buku agenda catatan keuangan perusahaan gue. Gue baca selama bulan ini aja

“Wan sini coba lihat”

Iwan menghampiri gue dan membaca agenda pengeluaran serta pencairan dana sebesar 15 juta untuk biaya perawatan rumah sakit atas nama bu Amira.

“Dana yang dikeluarkan perusahaan untuk ibu Amira kenapa ada dirumah sakit Giovan Hospital?” Tanya Iwan

“Saya nerima dari Bu Okta bahwa bu Amira itu dirujuk ke rumah sakit Cempaka Mas. Bukan Giovan Hospital”

Brakk

Iwan menggebrak meja meeting dan meletakkan kedua kertas yang berbeda. Sontak seisi ruangan melihat secara bergantian kertas tersebut

“Kalau begitu, siapa yang memalsukan surat rujukan tersebut pak, kami menerima bahwa bu Amira dirawat di Giovan Hospital dan memerlukan dana sebesar 4 juta”

“Ya saya sendiri yang menandatangani surat pencairan dananya untuk Bu Amira. Kalau begitu ada penjelasan lain?” Ujar gue

“Ini kak, surat biaya perawatan asli dari administrasi dimana Bu Amira dirawat”

Okta menyerahkan kertas biaya administrasi dari rumah sakit dimana Amira dirawat

“ini bukti konkrit. Artinya ada penggelapan dana disini. Coba cek, yang mendanai biaya ini adalah Okta. Bukan perusahaan kita. Dan dana perusahaan kita berada dikertas Giovan Hospital. Siapa yang dirawat disana?” Ujar Iwan

Seisi ruangan terdiam

“Gio kamu menerima surat ini dari siapa?”

“Dari pak Tyo, staff kelengkapan Pak”

Gue menatap Iwan disebelah gue dengan tatapan bertanya

“Gue pikir cuma staff keuangan dan management yang diperluin Fi” bisik Iwan

“Baik, meeting selesai. Gio buku ini saya pinjam nanti saya kembalikan ke kamu lagi. Terima kasih selamat siang”

Mereka keluar ruangan meeting satu persatu menyisakan gue Iwan dan Okta

“Kenapa gak lu kumpulin semua staff disini”

“Ruang meetingnya gak muat bapak”

Gue mengurut dahi gue sendiri. Ada benernya juga sih karena yang biasa meeting itu staff administrasi dan management aja.

“Okta kamu tau yang mana Tyo itu?”

“Tau kak, ”

“Ini suratnya kamu simpen ya Ta, Ini perlu penyelidikan lebih lanjut kayanya, Dan kamu Okta tolong pantau terus Amira dirumah sakit. Kalau ada biaya yang harus dikeluarkan langsung bilang ke saya”

“Oke Kak siap”

“Kita mulai penyelidikan setelah Amira keluar Wan”

“Siap Fi”

“Oke deh, oh ya Wan, pulang lo kerumah gue bisa?”

Iwan menatap gue

“Bisa, ada apa Fi?”

“Dateng aja kita bicarain disana oke”

“Gue ajak Okta ya?”

“Iyeee…”

“Asiiiikk Okta mau main sama dede El. Kak, Kak Julia waktu usia kandungannya 3 bulan dia ngidam apa kak?”

Gue beranjak dari duduk gue segera keluar. Sebelum keluar gue sempet menjawab

“Ngidam jus lidah buaya”

Mampus dah tuh makan tuh jus lidah buaya kaya apaan tuh rasanya. Gue yakin abis ini Iwan pasti ngedumel sama gue.

*

Sepulang kerja gue duduk diteras rumah gue. Menikmati teh anget buatan Julia harusnya Julia juga bersama gue tapi nenek nenek itu ngebawa Julia dan anak gue entah kemana. Nenek tau kan? Nyonya Carissha, nyokap gue sendiri. Kejem emang setelah seharian kerja gue balik enaknya ditemenin bini kan ini malah bini gue diculik, yang nyulik nyokap gue sendiri.

Fahrie terlihat memasuki pekarangan rumah dan dia markir motor di garasi belakang. Gak seberapa lama dia menghampiri gue

“Gak didalem Fi?”

“Lagi ngadem aja. Gimana disana? Betah?” Tanya gue. Fahrie melepas sepatunya, mengendurkan kancing kemejanya lalu duduk disamping gue

“Lumayan, gue dibimbing apik disana. Dan leader gue Pak kusmanto mulai mempercayakan gue untuk menangani beberapa proyek”

Gue mengangguk paham lalu mengesap teh gue

“Teh bro?”

“Ya makasih Fi, eh ya ada yang mau gue tanyain”

Gue meletakkan cangkir teh gue lalu menatap Fahrie

“Apa tuh?”

Fahrie mengambil kertas dari dalam tasnya lalu menunjukkan sama gue. Gak perlu gue baca gue tau isinya

“Fasilitas Juanto Group kan ini?”

Fahrie menganggukkan kepala

“Fasilitas apa yang lo dapet?”

“Begini Fi, gue disitu belum ada posisi terus gue udah dapet fasilitas? Apa itu gak terlalu cepat ya?”

Gak heran Fahrie berpikir begitu, secara Fahrie juga memang tipikel orang yang kerja keras lalu kerja kerasnya yang dibayar dengan pantas bukan hanya menuntut tanpa mau melakukan apa apa

“Disini ada beberapa point. Dan mungkin lu sedang menjalani uji coba. Seharusnya lu udah ada penempatan karena honor lu udah jalan disini”

Gue menjelaskan sistematis perhitungan karyawan diperusahaan bokap gue. Yaa yang setau gue aja sih itu juga karena meski pun perusahaan bokap gue dan gue itu kini berada disatu naungan namun tetap rules yang ada jelas berbeda dengan perusahaan gue

“Satu itu juga, gue selalu nerima cek yang nominalnya lumayan besar untuk orang yang disebut trainning loh Fi”

Gue melirik Fahrie sejenak

“Bokap gue pasti punya rencana sendiri. Dia akan jauh melihat potensi dan karakter orang yang dia pekerjakan. Untuk saat ini seharusnya lu udah diposisikan jika lu masih dalam masa trainning itu artinya akan ada posisi besar yang akan lu terima”

Fahrie menganggukkan kepala saja. Kayanya dia ragu penjelasan gue barusan

“Terus soal fasilitas itu, gimana ya gue bilangnya”

“Nanti gue bilang ke bokap gue soal ini. Akan gue cari solusi untuk memantaskan seperti yang lu inginkan”

“Gak usah Fi”

Gue menoleh cepat ke arah Fahrie menatapnya seolah bertanya kenapa

“Gue bilang begini cuma ingin minta saran sama lu. Urusan itu, biar gue yang menghadap langsung atasan gue disana. Karena sebelum Pak Bram masih ada atasan diatas gue”

Gue menghembuskan nafas

“Oke, kalo gitu nih . Fasilitas yang menurut gue cocok buat lu ada kendaraan dsn tunjangan kesehatan. Itu aja yang lu terima dan itu saran dari gue”

Fahrie mengangguk lalu mengambil kertas itu kembali memasukkannya ke dalam tasnya

“Gue masuk dulu deh, mau mandi”

Gue mengangguk lalu mengesap teh anget gue kembali sampai habis. Setelah habis gue beranjak masuk ke dalam, langkah gue terhenti saat pintu pagar rumah gue terbuka. Masuklah motor pannigale ke pekarangan rumah gue. Orang itu melepas helmnya lalu beranjak menghampiri gue

“Duduk dulu Wan”

Ya dia adalah Iwan karena gue yang suruh dia dateng kerumah gue untuk membicarakan hal penting

“Lu gak ngajak Okta?”

“Motor gue tipe jomblo sukses. Mau duduk dimana Okta lu pikir?”

Eh iya juga ya, motornya Iwan hanya punya satu jok aja

“Ya udah gpp gk usah dibawa bini lu juga lebih bagus malahan”

Iwan mendengus kesal gue tertawa pelan

“Jadi gini Wan, seharusnya sih secara formil ya cuma gue rasa itu gak perlu deh kalo ke lo”

“Lo ngomong apaan sih?”

“Hahaha sabar atuh lah, gue mau ngomongin soal fasilitas yang akan lo terima nantinya dan tolong ini dari perusahaan bukan dari gue”

Iwan menautkan alisnya menatap heran ke arah gue

“Berupa apa? Kaya semacem penghargaan gitu?”

“Bukan begok, penghargaan apaan lu, lu aja gak ada harganya”

“Yee sianying.. yaudah buruan apaan”

“Fasilitas yang lo dapet itu seperti kendaraan, tunjangan kesehatan, dan dana bantuan”

“Dana bantuan kaya apaan tuh?”

“Dana bantuan adalah dana yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk karyawan yang membutuhkan bantuan dana contohnya untuk membeli rumah, sekolah anak, lahiran bahkan kematian anggota keluarga karyawan”

Iwan menganggukkan kepalanya. Dengan tangannya menopang dagu menatap ke depan seolah sedang berpikir. Gue bilang seolah loh ya, karena gue tau kapasitas isi dari kepala si Iwan

“Gue gak ngerti deh”

Sianjir bener kan

“Udah deh besok aja dikantor lo baca sendiri suratnya. Lo tanda tanganin udah beres deh”

“Kalo ujung ujungnya dikantor kenapa gue disuruh ke sini si setan”

“Gue pikir lo ngerti sama penjelasan gue barusan congek”

“Iye iye gue ngerti. Yang jadi pertanyaan gue semua karyawan dapet fasilitas itu?”

“Ya kagaklah oncom bangkrut gue kalo semua karyawan dapet juga OB gitu dapet mobil. Lo kira beli mobil pake air ujan. Cuma staff aja yang kerja udah lebih dari 5 tahun”

Iwan tertawa keras. Rasanya ingin gue tendang kursi disebelah gue biar dia jatoh nyungsep ke tangga

“Jujur aja ya gue itu udah seneng bisa kerja sama lo dan lo juga banyak bantu gua. Fasilitas semacam ini sih kayanya gak perlu deh buat gue Fi”

“Ini kebijakan perusahaan Wan. Lo gak bisa nolak. Besok ambil mobilnya digarasi kantor. Mobil lo kan dijual tuh buat nikah jadi besok lo dapet yang baru”

Iwan malah tertawa, sinting ni anak gue rasa

“Kalo gak lamborghini gue gak mau ya”

Gue lempar sendal gue ke mukanya Iwan namun sayang usaha gue sia sia karena Iwan bisa menghindarinya :'(

“Gue yang bossnye aja gak punya mobil gituan lo lagi”

“Ya beli lah, boss masa gak mampu. Makanya pas masih bujang tuh duit dikumpulin jangan buat jajan terus. Nusuk lobang sono sini akhirnya dapet bekas tusukan orang juga kan lo. Karma!”

“Eh anjing gue main ke club juga gak pernah tusuk tusukkan gila! Emang gue lo. Gak usah bacot lo, gue punya foto lo lagi nete, gue kasih ke Okta mampus lo”

Seketika Iwan terdiam kaku. Tubuhnya membeku dan gue tersenyum senang

“Please lah Fi, gue bercanda aja anjir lu mah serius sih”

Gue tertawa keras menertawakan wajah ketakutan Iwan. Air pelipisnya turun kaya abis lari muterin GBK 5 kali. Anjir, segitu takutnya dia sama Okta. Hmm bisa dijadiin senjata nih

“Makanya lu jangan bacot tolol. SSTI juga lu anying”

“Yeee sempak lu. Lagian rajin amat sih lo nyimpen foto begituan. Mana gue lagi”

“Karena gue tau akan berguna hal hal semacem kaya gini. Kalo gue kasih unjuk ke Okta apa yang akan terjadi”

“Mampus gue begok”

“Kok mampus. Kan itu masa bujang lo juga belom pacaran sama Okta kan”

“Ya kan tetep aja.. arrghhh udahlah becanda lo jelek banget taik”

Gue malah tertawa melihat Iwan mengacak rambutnya gusar. Dibalik itu semua gue tau Iwan sangat mencintai Okta meski Okta terkadang, bukan terkadang lagi emang dia sikapnya kaya anak tumbal dajjal gitu ngeselin gak ada obatnya

“Oh ya Fi, waktu Julia mengandung lo pernah berhubungan gak sama Julia?”

“Berhubungan apaan?”

“Main gitu”

“Main apaan?”

“Ngent*t begok!”

Gue tertawa keras lagi

“Ya pernahlah anjir! Lo kira selama Julia hamil gue gak berhubungan gitu”

“Ya kali aja lo pake sabun”

“Si bangsat, kenapa lo nanya gini?”

Iwan menarik nafasnya dalam lalu menghembuskannya secara kasar

“Beberapa kali Okta ngajakin gue berhubungan cuma gue gak mau. Okta cuma gue puasin pake jari gue doang. Gue juga cuma oral aja sampai keluar selebihnya kita foreplay doang”

“Gak lo masukin gitu?”

“Kagak nyet, gue takut Okta keguguran”

“Makanya lo pelan pelan diatur ritme dan iramanya serta temponya juga”

“Itu gue ngent*t apa marching band jir?”

“Gue bilangin yang bener tolol. Lo konsul lah begok sama dokter kandungan”

“Gue nanyanya apaan masa gini Dok saya boleh ngent*t gak sama istri saya kalo lagi hamil gitu?”

Pluk

Mampus kena tuh sendal gue mendarat dijidatnya

“Bahasanya kagak gitu lah tolol. Berhubungan intim gitu bilangnya”

Iwan mengusap jidatnya yang kena lemparan sendal gue.

“Gue kasihan sama Okta, nafsunya semenjak hamil jadi makin gede Fi, tiap malem minta terus. Gue mah oke aja cuma gue khawatir isi perutnya kan”

“Ya gitu aja, asal pelan pelan mainnya sih. Julia juga gitu waktu hamil tangannya gerayangin badan gue mulu. Dielus elus si otong kan jadi mau dia. Main dah gua jadinya”

Disaat gue lagi ngomong Fahrie keluar sambil membawa teh 3 gelas. Wah ngeteh lagi, Fahrie emang pengertian ini

“Thanks Bro. Sini duduk kita lagi bahas ngent*t nih”

Plak

“Anjir apaan sih pala gue main keplak aja”

“Lo gak waras. dia ini belum terkontaminasi jangan lo racunin”

“Alah bangsat tinggal sama biangnya iya kali gak terkontaminasi”

“Haha tenang tenang. Gue terbiasa kok bahas ginian namanya juga laki” ujar Fahrie yang sudah duduk dikursinya

“Noh denger. Eh btw bro lo kan udah punya anak duluan nih, nah waktu istri lo hamil dulu lo sempet main gak sama dia?”

Fahrie menatap gue bingung. Jelas aja si Fahrie ini orang kalem berbeda sama Iwan dan gue yang laknat mana mau dia bahas masalah ginian

“Pernah, malah lebih sering. Lebih hot juga. Istri gue jadi sering orgasme”

Holyshit! Gue kira Fahrie gak akan ngejawab pertanyaan Iwan tapi dia malah membuka secara gamblang urusan ranjangnya

“Masa sih? Jadi no problem ya kalo lagi hamil kita main?”

“Gpp Wan, kalo udah usia 8 atau 9 bulan itu baru yang harus diwaspadai sih. Kalo masih dibawah 6 bulan mah sikat aja asal pelan pelan aja” balas Fahrie

“Noh gue bilang juga apa gak percaya lo sama gue”

“Musrik percaya sama lo. Lo kan pensiunan iblis”

Pletak

“Aw..”

“Ngasal lo kalo ngomong”

Dan kami mengobrol ngobrol terus dengan bertemakan laknat. Kaya gak ada rasa canggung kita semua menceritakan hal hal soal ranjang kami masing masing, mulai dari Fahrie yang bercerita kalau Savira lebih suka foreplay sebelum main, gue dengan cara bermain kasar tapi lembut yang disukai Julia dan Iwan yang menirukan desahan Okta saat orgasme.

Emang ini kawan gue gak ketolong lagi dah pokoknya. Fahrie gak lagi canggung bahkan dia mulai menyebut kata kata seperti Anjir, sialan, bangke, dan lain lain meski masih sangat jarang terdengar. Itu sih bagus menurut gue artinya Fahrie gak merasa canggung lagi. Berarti cowok laknat yang tadinya cuma gue, Iwan dan Agus akan nambah satu lagi, yaitu Fahrie. Yakin banget gue

*

Siang ini harusnya gue mengadakan meeting bersama para staff gue karena bu Amira yang kemarin bermasalah itu udah keluar dari rumah sakit dan hari ini dia udah bisa kembali bekerja. Tapi dengan saran dari Iwan yang katanya lebih baik gue membicarakan dulu dengan bu Amira sebelum mengadakan meeting

Tok tok

“Masuk..”

Klek

“Permisi pak, ini Bu Amira sudah datang” ujar salah satu staff Iwan. Karena memang Iwan dan Okta yang gue tugaskan untuk menyelidiki kasus penggelapan uang kesehatan tersebut

“Suruh dia masuk, terima kasih Putri”

“Baik Pak, sama sama pak”

Gak seberapa lama Bu Amira datang masuk ke dalam ruangan gue. Dia duduk didepan gue, wajahnya yang masih pucat khas orang baru sembuh sakit tapi meski begitu ia tetap tersenyum

“Ada apa pak memanggil saya?”

“Gini Bu Amira. Ada hal yang ingin saya tanyakan sama Ibu Amira”

“Silahkan pak..”

“Berdasarkan informasi yang saya dapat kemarin selama beberapa hari ibu masuk rumah sakit dan dapat perawatan intensif apa benar?”

“Maaf pak saya tidak memberitahukan bapak untuk itu, benar pak saya memang sempat dirawat dirumah sakit beberapa hari”

Gue membaca kertas keterangan yang diberikan oleh Iwan dan Okta

“Kalo boleh saya tau nama rumah sakit tempat ibu dirawat itu apa ya?”

“Saya dirawat di rumah sakit Cempaka Mas pak”

Benar bukti ini kuat, gue memberikan surat administrasi pembayaran perawatan rumah sakit bu Amira

“Apa ini benar bukti pelunasan administrasi pembayaran perawatan selama ibu dirawat?”

Bu Amira mengambil kertas yang gue berikan. Dia membacanya dengan saksama

“Benar pak ini atas nama saya kemarin. Dan ini ada cap rumah sakitnya”

Gue mengambil kembali kertas bukti pembayaran tersebut menyimpannya didalam file

“Maaf pak kalau boleh saya tau ada apa ya pak?”

“Begini bu Amira. Kemarin saya mendapat dua kertas surat rujukan nominalnya pun berbeda. Ini coba ibu cek”

Gue memberi surat rujukan berwarna pink tersebut. Bu Amira terlihat mengeritkan alisnya

“Maaf pak, saya tidak pernah membuat surat rujukan seperti ini. Saya masuk rumah sakit kemarin karena memang dokter menyarankan saya untuk dirawat dan anak saya menyetujuinya pak”

Gue masih berpikir siapa yang membuat surat rujukan ini dan biaya yang dikeluarkan sebesar 15 juta padahal biaya perawatan yang Okta tanggung kemarin hanya 4 juta.

“Bapak bisa tanyakan langsung ke Bu Okta. Beliau juga bersama saya kemarin dan beliau juga yang membawa dana kesehatan dari kantor”

“Baik Bu, terima kasih untuk informasinya. Tunggu sebentar ya”

Gue menelfon Iwan dan Okta serta staff keuangan untuk segera masuk ke dalam ruangan gue. Gak seberapa lama mereka masuk ke dalam

“Gio, kamu yakin pak Tyo yang memberikan kertas rujukan ini ke kamu”

“Benar pak saya yakin sekali”

“Wan gimana menurut lu nih?”

“Langsung aja Fi brantas”

“Sebentar pak, maaf jika saya lancang. Tapi sebenarnya ini ada masalah apa ya?”

Gue menarik nafas gue tersenyum pada Bu Amira

“Surat dana kesehatan Ibu dipalsukan. Jadi ini adalah surat rujukan yang palsu atas nama ibu Amira sebesar 15 juta dan perusahaan sudah mengeluarkan dana tersebut. Lalu saya menerima ini surat administrasi rumah sakit yang real sebesar 4 juta dan itu menggunakan uangnya Okta Bu”

“Sebentar deh pak, memang waktu itu saya diantar oleh pak Tyo bagian kelengkapan. Tapi saya belum membuat surat untuk dana perusahaan pak”

Gue menatap Iwan dan Okta bergantian.

“Udah fix Fi, bener kata Gio dia nerima jelas surat dana kesehatan itu dari Tyo karena dia tau Bu Amira yang dirawat. 15 juta lagi coy!” Ujar Iwan

“Oke sekarang juga lu pecat dia. Hari ini juga suruh dia pulang dan bilang sama dia gue kasih waktu 3 hari buat balikin dana yang dia gelapkan kemarin”

“Kak, menurut pantauan Okta ini bukan pertama kalinya loh dia melakukan ini. OB juga pernah dia gelapkan dana kesehatannya. Padahal OB itu biaya klinik sendiri Kak”

Gue berdiri berjalan menghampiri Iwan

“Sekarang lu pecat dia Wan, Gio coba kamu lihat catatan biaya kesehatan karyawan atas nama Tyo atau yang memberi surat rujukannya Tyo. Berapa biayanya dan atas nama siapa saja. Kita akan bawa kasus ini ke pengadilan”

Gue harus tegas, gak boleh ada yang korupsi diperusahaan gue! Apalagi merugikan orang lain demi kepentingan pribadinya!

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48