Tentang Kita Part 43

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 42 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 42

Aku bangun dipagi hari. Woah! Rasanya menyenangkan sekali sungguh! Ku buka jendela agar ku bisa menghirup sejuknya udara dipagi hari. Lalu aku kembali duduk di tepi ranjang. Orang yang kucintai sedang tidur dengan nyenyaknya seakan tidak ingin mimpinya segera berakhir. Ku belai pipinya dengan jariku, mengelus lembut hingga alisnya sampai ke rambutnya

Aku mengecup pipinya sekilas. Senyumku mengembang. Ah bahagia sekali aku dia kembali bersamaku disini. Hal yang paling menyenangkan adalah saat memperjuangkannya. Aku terkekeh geli sendiri, jika ku ingat laki laki yang berusia 23 tahun ini ternyata pencemburu yang baik, emosinya mudah meledak, dan egois.

Ya sangat egois menurutku, kenapa? Karena ia tidak ingin apa yang sudah dimilikinya didekati oleh orang lain. Aku merasa sangat beruntung dimilikinya, tugasku sekarang adalah menjaga perasaan yang ia telah titipkan padaku

“Eengghh..”

Arfi mulai membuka matanya, ia mengerjap beberapa kali sebelum akhirnya tersenyum padaku

“Aku ganggu kamu ya?”

Arfi tersenyum makin lebar

“Aku kira aku masih dalam mimpiku melihat bidadari surga disini”

Aku terkekeh geli lalu ku cium pipinya

“Gombal banget sih kamu, belajar dari mana?”

“Dari kamu”

“Aku? Kok aku sih”

“Karena setiap melihat kamu aku gak pernah kehabisan kata kata untuk mengungkapkan keindahan kamu dimata aku”

Arfi bangun lalu terduduk meraih tanganku dan mengecupnya.

“Jadilah milikku selamanya, aku gak akan melepas kamu, aku akan menjadi suami yang baik untuk kamu…”

Arfi menghentikan ucapannya karena tangisan El. Dengan segera aku menyusuinya. Arfi yang kini sudah berjongkok didepanku membelai pipi El lembut

“Dan papah yang baik untuk Elaine Agatha”

Aku tersenyum senang, eugh.. tunggu..

“Aduh duh..”

“Kamu kenapa sayang?”

“Gpp sayang, ini El ngisepnya terlalu kuat. Ngilu ujungnya punyaku”

Ya ampun ngilu banget padahal belum ada giginya deh ini anak. Eh tapi gpp kali aja siapa tau ada yang meragukan kalau ini anaknya Arfi, aku punya bukti, ya buktinya dia menghisap dadaku terlalu kuat sampai buatku ngilu, sama seperti papahnya huehehehe

Setelah El tertidur aku meletakkannya di tempat tidurnya.

“Kamu mandi dulu gih sana, aku mau ajak kamu kesuatu tempat” ujar Arfi

“Gak bisa siangan aja Fi, aku males mandi pagi ini”

Arfi yang sedang mengeringkan rambutnya beralih menatapku aneh

“Jorok banget kamu, mandi sana pokoknya. Udah bau juga”

Aku mencium kedua ketiakku sendiri. Enak aja gini gini aku anti bau ya, aku selalu memakai deodoran juga parfum serta baju baju yang kupakai menggunakan pelembut yang harumnya 24 jam. Btw itu pengharum apa pos ronda deh

“Aku gak bau”

“Bau kamutu, udah mandi sana ih”

“Bau apa, harum gini”

“Bau pe*u kamu”

Aku menatap malas ke Arfi

“Punya lo ini berarti muncrat kemana mana”

Aku melangkah cepat menuju kamar mandi. Dia menyebalkan sekali sih baru aja terlihat romantis udah nyebelin lagi. Kadar nyebelinnya lebih besar dibanding romantisnya

Selesai mandi aku melihat Arfi sedang… tunggu dia ngapain naik naik ke kasur gitu

“Fi kamu ngapain?”

“Yah!!”

Astajim. Orang ini kenapa sih

“Kunaon sih?”

“Kamu udah keburu keluar kamar mandi deh, ini sih pakunya susah dicari”

Aku yang penasaran apa yang dilakukannya akhirnya mendekat ke arahnya. Aku sedikit terkejut melihat apa kulihat ini. Sebuah figura besar mungkin lebarnya setengah meter kira kira. Figura itu adalah fotoku dan Arfi saat melangsungkan pernikahan. Kupikir Arfi tidak pernah memikirkan hal semacam ini

Akhirnya aku membantu Arfi memasang figura foto tersebut tepat diatas tempat tidur kami. Ini adalah foto pertama kami dirumah ini kurasa.
Brug

Aku menoleh ke samping. Arfi membawa sebuah kotak kardus yang entah apa isinya

“Ini apa Fi?”

“Nanti kamu akan lihat”

Arfi membuka perlahan kotak kardusnya mengeluarkan semua isinya.

“Fi, ini foto foto kita kan?”

“ya iya siapa lagi emang yang ganteng itu coba lihat tuh”

Aku menatapnya malas. Pede banget Pak anda! Eh tapi emang iya sih hehe

Aku mengotak ngatik semua barang yang ada didalam kotak kardus Arfi. Aku tertarik melihat sebuah kotak lagi didalamnya yang bertuliskan “all about her” ku buka perlahan tanpa sepengetahuan Arfi

“Sayang, foto ini aku taro sini aja ya?”

Aku mendongak melihat Arfi meletakkan foto berukuran kecil dinakas dekat lampu tidur

“Iya bagus disitu aja”

Ia lalu tersenyum dan melanjutkan kegiatannya yang entah apa aku lebih tertarik dengan kotak ini. Ku buka pelan lalu melihat isinya

Woaah.. ini fotoku semuanya, aku melihatnya satu satu. Banyak sekali fotoku, bentar deh. Ini kan foto candidku saat aku diajak ke taman dulu oleh Arfi. Dan saat itu kami belum meresmikan hubungan kami dan masih banyak foto ku lainnya.

Aku menoleh ke depan, Arfi sudah tersenyum melihatku

“Banyak ya foto kamu nya dibanding foto aku?”

Aku hanya mengangguk lalu tersenyum.

“Ini foto aku mau pajang diseluruh rumah ini. Karena ini rumah punya kita berdua”

Aku berdiri lalu menghampiri Arfi dan memeluknya erat. Aku melepas pelukanku setelah cukup lama lalu mencubit hidungnya.

“Kamu apaan sih sok lucu monyong monyong gitu sih”

“Sakit tau idungku dipencet gitu”

Aku hanya tertawa lalu ku kecup hidungnya.

“Udah yuk, kamu sia siap deh sekarang”

“Kita mau kemana Fi?”

Toktoktok

“Julia, Arfi ada tante Carissha dibawah nunggu kalian”

Teriak yang kutau itu adalah suara milik Savira.

“Iya bentar” jawabku

“Mamah ngapain kerumah? Tanya Arfi padaku

“Nggak tau aku, temuin aja deh”

Aku segera menemui Mamah mertuaku dengan segera bersama Arfi

“Haloo Julia… menantu kesayangan mamah”

Mamah memelukku mencium kedua pipiku bergantian. Lalu beralih ke Arfi. Beliau melakukan hal yang sama ke Arfi seperti yang ia lakukan padaku

“Mamah mau ketemu El, kangen banget”

“El ada diatas Mah, mamah mau ketemu?”

“Mau banget, mamah keatas ya”

“Bentar mah”

“Kenapa Fi?”

“Mamah mau lama gak disini?”

“Oh iya, sampai papah kamu jemput mamah”

“Arfi sama Julia mau keluar mah, maksudnya titip El dulu selagi kita pergi mah, keberatan gak mamah?”

Mamah malah menghampiri kami berdua. Aku juga tidak tau tujuan Arfi yang sebenarnya, dia tidak bicara apapun padaku.

“Kalian mau Qtime bareng?” Tanya mamah padaku. Aku hanya beralih menatap Arfi

“Iya mah, Arfi mau ajak Julia keluar dulu”

“Ajak deh, kalian butuh itu waktu buat berdua pasti Arfi sibuk terus kan. Mumpung kamu ada waktu Fi ajak istri kamu deh”

Arfi tersenyum senang lalu menggenggam tanganku. Mamah berjalan ke atas mungkin menuju kamarku.

“Fi kita mau kemana sih?”

“Kamu ikut aja pokoknya ya, mau naik motor apa naik mobil?”

“Naik apa aja kalo sama kamu aku seneng kok. Yaudah aku ganti baju dulu ya”

Aku berbalik tapi tanganku ditahan oleh Arfi.

“Gak usah, kamu pake baju itu aja yuk ah ambil jaket aku ambil helm buat kamu”

“Eh?!”

Aku terdiam Arfi pergi begitu saja meninggalkanku. Nggak ngerti lagi deh si Arfi ini mau ngapain sih sebenarnya

Setelah berpamitan kami langsung pergi meninggalkan rumah. Arfi mengendarai motornya dengan kecepatan sedang.

“Peluk dong!”

Aku yang sedang melihat ke sekeliling dan masih bertanya tanya Arfi akan membawaku kemana terkejut karena mendengar teriakannya. Belum sempat kujawab Arfi sudah menarik pergelangan tanganku membuat tubuhku menabrak tubuhnya serta helmku menabrak helmnya.

Kok jadi gak nyaman gini sih duduknya, aku duduk berada ditengah tengah jok motor begini, maksudku motor Arfi kan jok depan dan jok belakangnya terpisah. Nah karena aku sambil memeluknya jadilah aku duduk diantara jok depan dan jok belakang. Belum lagi motornya yang memaksa Arfi mengendarainya dengan posisi mendunduk aku yang memeluknya juga jadi menunduk mengikut tubuhnya. Jangan tanyakan bagaimana, rasanya sangat tidak nyaman. Ah cinta kenapa membuat semuanya jadi sulit sih.

Setelah melewati 3 tikungan ke kiri, 4 tikungan ke kanan serta 2 kali melewati gang rumah orang demi mencari jalan alternatif dan 2 kali juga hampir dipukulin warga. Loh? Iyalah, motor Arfi suaranya besar sekali bikin kuping orang budek apalagi yang sakit gigit. Kurasa jika ada yang sedang melahirkan anaknya langsung brojol begitu Arfi lewat. Skip lah soal motor Arfi

“Kita ke pantai Fi?” Tanyaku saat Arfi sudah memarkirkan motornya didekat pasir pantai

“Yups, sini yuk”

Ada apa dengannya. Mengajak pasangan ke pantai mungkin salah satu pilihan terbaik saat ingin menikmati romansa berdua. Ya berdua, tapi ada satu masalah disini. Ini tuh jam 10 pagi. Dan matahari sangat terik. Duh!

Aku mengikuti langkah Arfi. Yaiya karena tanganku digandeng olehnya. Semula banyak pertanyaan yang timbul dalam benakku, namun semua hilang saat aku sudah berada disuatu tempat. Waw, viewnya bagus sekali, Arfi mengajakku ke bukit yang tidak terlalu tinggi sih, namun pemandangannya cukup bagus disini.

Disini juga ada semacam saung namun cukup besar. Melihat bagaimana ombak menabrak karang besar dapat terlihat dari sini. Selain itu angin laut membuat udara disekitar sini menjadi sejuk.

“Duduk dulu, aku pesenin minum ya”

Aku mengangguk Arfi berlalu. Aku masih menikmati pemandangan laut lepas didepan mataku.

“Hay, nih diminum dulu”

Arfi kembali sambil membawa dua buah minuman yang kutau itu berjenis es sirup kelapa dan membawa gitar akustik. Gitar?

“Kamu bawa gitar buat apa?” Tanyaku saat Arfi mengotak ngatik gitarnya

“Aku mau ngamen”

Anjay

“Kamu banting setir jadi pengamen?”

“Selingan aja, aku mau nyanyi nih”

Aku sampai terkekeh melihatnya memanyunkan bibirnya. Gemes ih. Cium boleh gak(?)

“Ya udah nyanyi, aku gak tau kamu bisa main gitar”

“Dulu kan aku punya band”

“Oh kamu jadi gitarisnya”

“Aku drummernya”

Lah koplak juga(?) Arfi mulai memainkan gitarnya. Menggenjreng genjrengkan hatiku(?) Oke salah, dia hanya mengatur senar senar gitarnya agar mengeluarkan suara seperti yang ia inginkan, maybe.

“Udah nih, siap ya aku mau nyanyi. Lagu ini spesial buat kamu”

“Emang lagu apa Fi?”

“Itu loh yang lagi viral, istrinya iqbal emang lagi syantik”

Aku hampir saja tersedak minumanku

“Aku pulang ya Fi”

“Eh eh bercanda ih. Duduk lagi dong”

“Kamu kelamaan”

“Iya iya bentar”

Arfi terlihat menarik nafasnya sambil memejamkan matanya, setelahnya ia menatap mataku. Eh eh.. kok jantungku jadi berdegub kencang gini.
Arfi mulai memainkan gitarnya masuk ke dalam intro lagunya. Aku masih memperhatikannya sekaligus penasaran lagu apa yang ia ingin nyanyikan

“Woke up to the sound of pouring rain
The wind would whisper and I’d think of you
And all the tears you cried, that called my name
And when you needed me I came through

I paint a picture of the days gone by
When love went blind and you would make me see
I’d stare a lifetime into your eyes
So that I knew that you were there for me
Time after time you there for me

Remember yesterday, walking hand in hand
Love letters in the sand, I remember you
Through the sleepless nights through every endless day
I’d want to hear you say, I remember you oh oh

We spent the summer with the top rolled down
Wished ever after would be like this
You said I love you babe, without a sound
I said I’d give my life for just one kiss
I’d live for your smile and die for your kiss

Remember yesterday, walking hand in hand
Love letters in the sand, I remember you
Through the sleepless nights through every endless day
I’d want to hear you say, I remember you

We’ve had our share of hard times
But that’s the price we paid
And through it all we kept the promise that we made
I swear you’ll never be lonely

Woke up to the sound of pouring rain
Washed away a dream of you
But nothing else could ever take you away
‘Cause you’ll always be my dream come true
Oh my darling, I love you

Remember yesterday, walking hand in hand
Love letters in the sand, I remember you
Through the sleepless nights through every endless day
I’d want to hear you say, I remember you

Remember yesterday walking hand in hand
Love letters in the sand I remember you
Through the sleepless nights, through every endless day
I’d wanna hear you say I remember, I remember you, oh yeah”

Aku menutup mulutku begitu Arfi menyelesaikan lagunya. Ia menyingkirkan gitarnya lalu meraih tanganku untuk berdiri. Dari tempat kami berada Arfi menunjukkan sesuatu

Lagi dan lagi, aku kembali menutup mulutku dengan tanganku, kali ini aku tidak sanggup menahan air mataku. Perasaan bahagia bercampur haru. Dari tempat kami berdiri aku bisa melihat bagaimana namaku dan Arfi terukir disebuah batu besar. Dengan berbentuk love menghiasi nama kami. Aku memeluk erat Arfi menumpahkan segala kebahagianku disana. Air mataku sampai membasahi baju yang ia kenakan

“Udah dong nangisnya, bisa lepek nih baju aku”

Aku melepas pelukanku seketika lalu mencubit perut Arfi

“Aw.. kejem banget sih kamu aku dicubit terus”

“Biarin!”

Aku menghampus sisa air mataku, namun tanganku tertahan oleh tangan Arfi. Tangannya kini menggantikan tanganku menghampus sisa air mataku dipipiku.
Cup

“Udah ya, jangan nangis dong. Kalo begini aku jadi ingkari janji sama diriku sendiri”

“Janji apa?”

“Aku kan janji sama diriku sendiri untuk tidak membuat air mata kamu menetes lagi. Sekarang kamu malah nangis lagi”

Aku tersenyum, ku kalungkan kedua tanganku dilehernya. Tanpa menunggu lama aku mencium bibirnya, ku nikmati apa yang menjadi milikku sekarang, merasakan lembutnya cinta menyentuh hatiku. Lama kami berciuman, aku lebih dulu melepas ciuman kami.

“Oh ya hampir aku lupa, bentar”

Arfi melangkah keluar saung, eh? Apa lagi nih. Tak lama ia kembali dengan membawa sebuah kotak persegi.

“Kamu ngadep belakang dulu”

Aku mengikuti perintahnya. Arfi memasangkan kalung dileherku. Kalung yang indah, bahkan sangat indah

“Ini aku beliin buat kamu. Harusnya sih beberapa bulan yang lalu tapi karena kalungnya aku ingin design sendiri jadi lama deh jadinya”

Kembali aku memeluk Arfi sampai ia agak mundur kebelakang karena aku menabrakkan tubuhku padanya.

“Terima kasih Arfi…terima kasih. Aku sayang kamu” ujarku saat sudah melepaskan pelukanku

“Iya sama sama. Kalungnya kamu suka?”

Aku melihat kalung yang kini menjadi menghias leherku. Kalung berliontin hati dengan ukiran huruf J ditengahnya dengan Font berjenis Script : Jacoba . Nah huruf J nya seperti itu. Bagus sekali

“Suka, suka banget apalagi dari kamu. Ini pasti mahal ya Fi?”

“Murah kok”

Aku pikir harga kalungnya mahal secara ini kalung emas berikut liontinnya. Apalagi dia bilang harus memesannya dulu, harga murah baginya itu mungkin angka 0 setelah titik pertama dalam nominal berjejer 6 digit atau mungkin lebih.

“Berapa harganya?”

“Kamu gak perlu tau. Yang penting kamu suka itu aja udah bikin aku seneng”

“Aku seneng banget soalnya ini dari kamu tapi kalungnya tipis banget aku takut putus”

Arfi malah terkekeh ia mengacak rambutku. Sudah lama aku tidak menerima perlakuannya seperti ini

“Ini tuh emasnya 24 karat loh. Kaya lagunya Bruno Mars.. 24 karat magic in the air…~~”

Yeh si Arfi malah jadi nyanyi sih. Tunggu, 24 karat? Yakin. Mahal ini pasti. Jika aku dibelikan barang mewah oleh Arf terkadang aku bingung, antara senang atau beban. Senangnya, yaa perempuan mana yang gak seneng dibeliin perhiasan sih, dan bebannya aku harus menjaga barang mewah seperti itu. Jujur saja aku memang perempuan yang tidak terbiasa dengan barang barang mewah disekelilingku.

“Kan bagus kamu tuh, beli 2 atau 3 lagi kalung 24 karat kaya gini abis itu kamu nyanyi deh kaya gini.. 24karat magic in the air~~”

Oke aku kenal lagu ini dan pernah mendengarnya. Lagunya memang enak didengar

“Head to toe so players..” ujarku menyaut sambil menyanyikan sepotong lirik lagu tersebut

“24 karat 24 karat magic” ucap Arfi menyambungkan sambil menggerak gerakkan badannya. Wah ngajak lanjut dia, hehehe ini pasti seru, oke aku lanjutkan

“What that’s sound” sambil berlagak bagai memamerkan kalung dileherku

“24 karat 24 karat magic”

“Come on now”

“24 karat 24 karat magic”

“Don’t fight the feeling, invite the feeling”

“Just put your pingky rings up to the moon”

“Just put your pingky rings up to the moon”

Kami tertawa bersama setelah menyanyikan lirik secara bersama. Aku yakin jika ada orang yang melihat kami pasti akan mengira kami adalah pasangan gila. Iyalah, bermodalkan suara yang pas pasan dan berlagak seperti gerakan di video clip bruno mars – 24K yang dibuat buat sendiri oleh kami

“Aku bahagia banget hari ini, ah enggak aku selalu bahagia tapi ini adalah kejutan terbesar dalam hidupku. Terima kasih ya Arfi”

Arfi tersenyum lalu mengecup keningku

“Aku berusaha selalu membahagiakan kamu sebisa aku. Menjadi suami yang baik dan papah yang baik juga untuk El”

Aku senang dengan nada bahasanya yang terkesan apapun ia selalu usahakan dan tidak mengumbar janji.

Setelah menikmati waktu bersama. Kami memutuskan untuk pulang. Selain karena waktu semakin siang aku tidak ingin meninggalkan El sendirian lebih lama lagi

Sampai dibawah beberapa pemuda menghampiri kami

“maaf mas gitarnya”

“Oh iya, makasih ya dan ini.. uang tip untuk kalian”

Mereka berpamitan lalu pergi begitu aja. Aku pikir memang dia sudah menyiapkan sebuah gitar untuk membawa sebuah lagu tadi untukku. Ternyata dia hanya meminjam gitar sama pengamen lewat. Wah tertipus saya.

“Pegangan yang erat. Aku mau pelan pelan aja nih bawa motornya”

“Kalo pelan pelan ngapain harus pegangan erat emang kamu balon?”

“Yeee kan aku mau modus. Iyain aja sih biar modusku berhasil”

Aku kembali ke posisi tidak nyamanku diatas motor ini. Yaps, memeluk Arfi dan membiarkan bokongku berada ditengah tengah jok depan dan jok belakang. Ugh..!

Akhirnya masa masa yang menyenangkan bisa kembali datang. Bisa berdiri tegak dan..

Kretek

Ahh.. enaknya pinggangku kembali normal. Lebay memang sih tapi coba aja rasain goncengan sama motor yang kata Arfi ini motor Sport.

“Yuk masuk, kamu kenapa masih disini”

“Aku nungguin kamu”

Lalu Arfi menggandeng tanganku masuk ke dalam. ih possesif banget sih, mau pamer kemesrahan ya, hmm dasar anak ABG (?)

“Saya gak mau tau!! Kamu harus lunasin semua hari ini!! Jangan mentang mentang kamu tinggal sama majikan baru lalu kamu seenaknya aja!!”

Buset baru sampai teras aku udah mendengar suara menggelegar seperti itu. Jelas itu bukan suara Mamah,

“Ada siapa didalem?” Tanya Arfi padaku

“Yee aku gak tau kan aku belum masuk”

“Oh iya juga ya” balas Arfi menggaruk kepalanya dengan masih menggandeng tanganku

“Denger Savira!! Hutang kamu dan suami kamu yang berguna itu udah banyak!! Banyak!! Kamu harus lunasin sama bunganya!!”

Klek

Aku bersama Arfi masuk kedalam disambut dengan wanita dengan umur sekitaran 50 tahunan mungkin. Dia menatap ke arah kami. Maksudnya ke arah aku dan Arfi. Jadi kaya berasa punya salah disini

“Eum Jul.. gue bisa jelasin semuanya” ujar Savira namun wanita tua itu menghampiri kami

“Kamu majikan dia? Pembantu kamu ini punya utang banyak sama saya!! Kamu harus bertanggung jawab atas ini atau saya akan bawa polisi kesini!!”

Aku yang tidak terima dengan perlakuannya yang menunjuk nunjuk wajah Arfi seperti itu melangkah maju

“Maksud anda apa ya?” Ujarku masih berusaha sopan. Biar gimana aku disini adalah tuan rumahnya.

“Kamu gak usah ngebelain pembantu kamu itu!! Dia dan suaminya punya banyak hutang sama saya!! Kamu harus melunasinya jika tidak ingin ada polisi datang kesini!! Mengerti!!”

Ibu ibu ini gak punya jantung apa. Udah keriputan tua gitu masih aja bentak bentak orang. Gue jorokin jatuh lo. Icemosi saya. Eh tunggu deh..

“Pembantu?” Aku beralih menatap Savira.

“Siapa pembantu?” Tanyaku ulang

“Dia! Dia ngaku dia adalah pembantu yang bekerja dirumah ini. Itu sebabnya saya bicara ini sama kamu selaku majikannya!”

Lagi, aku menatap Savira. Apa yang dia katakan? Pembantu? Aku sama sekali tidak memperlakukannya sebagai pembantu disini. Apa yang dia lakukan disini atas dasar keinginannya. Apa karena aku meminta pertolongannya lalu dia sebut dirinya adalah pembantu dirumah ini?

“Maaf saya telat”

“Nah! Ini suami yang gak berguna itu! Mana bayar hutang kamu! Atau saya tuntut kamu ke polisi!”

Fahrie datang lalu menghampiri Savira. Savira terlihat menangis dipundak Fahrie.

“Fi, kamu bisa atasin ini? Aku mau ke atas dulu” ucapku.

Sungguh aku merasa kecewa dengan sahabatku sendiri yang menyebut dirinya pembantu disini. Aku tidak pernah memperlakukannya seperti itu. Kenapa dia merasa seperti pembantu.

Arfi mengangguk. Aku berbalik menghadap wanita didepanku

“Suami saya akan menyelesaikan masalah anda. Bicara dengannya, saya permisi dulu”

Aku langsung melangkah meninggalkan mereka menaiki tangga menuju kamarku. Tak lama hpku bergetar, aku menganggkat panggilan tersebut.

“Halo mah?”

“…”

“Iya mah, kami udah dirumah”

“…”

“Oh iya mah gpp, nanti aku sama Arfi jemput El kesana”

“…”

“Gpp mah, biar aku aja ya yang kesana”

“…”

“Iya mah”

Panggilan berakhir, ku letakkan hapeku dinakas. Ku tarik nafasku untuk menenangkan diriku. Lebih baik aku mandi agar bisa menenangkan pikiranku sedikit.

*

    

Arfi PoV

Gue duduk berhadapan dengan wanita tua yang marah marahin istri gue. Dia masih aja natap Savira dan Fahrie yang duduk disebelah gue dengan tatapan kesalnya.

“Bu, tabungan kami gak cukup untuk membayar semua hutang dan bunganya. Saya bayar setengahnya dulu gimana?”

 

“Nggak bisa! Denger Fahrie hutang kamu udah berjibun! Jika malam ini saya gak mendapatkan sepeserpun dari kamu saya pastikan besok kalian digiring polisi”

Gue penasaran berapa banyak hutang Fahrie sama makhluk kaya gini sih.

“Berapa hutang teman saya sebenarnya?”

Akhirnya gue buka mulut juga dari pada dia teriak teriak terus mati disini lagi nanti.

“Kamu temannya dia?”

Gue hanya menatap wanita didepan gue

“Katakan saja berapa nominalnya” ujar gue sombong. Ini orang soalnya sombong duluan. Dia mengeluarkan buku catatannya dari dalam tas yang dibawanya.

 

“Semua utangnya, 21 juta, belum sama bunganya”

Yaelah gue kira sampe harus bayar pake Poundsterling ternyata masih rupiah kok. Kecil!

“Sebutkan saja berapa nominalnya”

 

“Belagu banget kamu, kamu mau lunasin semua utangnya?”

Gue berdiri lali berjalan ke ruang kerja gue. Mengambil selembar cek disana, gue tulis nominal disana dan gue tanda tangani lalu kembali ke ruang tengah

“Segini cukup untuk membayar semua hutang teman saya beserta bunganya?”

Wanita itu sedikit terkejut detik berikutnya dia bersikap biasa. Ia mengambil cek itu dari tangan gue lalu berdiri dengan angkuhnya. Cih!

“Bawa cek itu pergi, ambil uangnya dan jangan pernah kembali kesini lagi” ujar gue saat wanita itu melewati gue

 

“Saya gak yakin, jika teman kamu itu berhutang lagi pada saya, itu yang membawa saya kesini lagi”

 

“Saya pastikan mereka tidak akan berhutang pada anda”

Wanita itu menatap gue sejenak, lalu tatapannya beralih ke Fahrie dan Savira

“Harusnya mereka malu dengan diri mereka. Mereka menganggap anda majikan mereka sedangkan anda menganggap mereka teman dan membebaskan hutang mereka. Saya permisi”

Wanita itu berlalu pergi keluar. Gue ikut melangkahkan kaki gue keluar menemui satpam rumah gue.

“Pak, kalo ada tamu yang gak dikenal tolong tahan dulu disini. Jangan bolehin sembarangan orang masuk!”

Pak Irwan menatap gue takut takut

“Maaf pak tadi ibu itu ingin bertemu dengan ibu Savira. Dan ibu Savira sendiri memperbolehkan dia masuk. Awalnya ibu itu baik baik dengan ibu Savira sampai akhirnya mereka berdebat didalam lalu bapak dan nyonya pulang”

Gue menghembuskan nafas gue mengangguk. Lalu berjalan masuk kembali. Julia pasti kecewa dengan apa yang diucapkan Savira barusan dapat gue lihat dari tatapannya yang berubah terlebih saat si nenek sihir tadi bilang bahwa Savira disini adalah pembantu. Gue tau Julia gak akan sesombong itu dan menganggap temannya adalah pembantu.

Karena memang kenyataannya gak begitu, begitu juga dengan gue yang menganggap mereka teman disini. Gue maupun Julia menghormati mereka, entah apa yang ada dalam pikiran Savira sampai dia mengucapkan kata kata itu

“Fi, tunggu gue bisa jelasin tadi” ujar Savira saat gue melewati ruang tengah

 

“Gak usah, sebaiknya lo jelasin sama Julia besok”

 

“Tapi Fi, gue minta maaf sama lo”

 

Gue akhirnya duduk disofa ruang tengah berhadapan dengan Savira dan Fahrie

“Lo gak perlu minta maaf sama gue. Lo gak salah sama gue kok”

 

“Tapi kami perlu ucapkan terima kasih sama lo. Dan maaf karena mengacaukan suasana rumah lo. Ini salah kami. Benar benar salah kami. Kami malu sama diri kami sendiri” ujar Fahrie

 

“Gue gak ambil pusing kok soal ucapan kalian. Memang sih sedikit kaget dengan ucapan Savira tapi gue yakin kalian punya alasan sendiri untuk itu”

 

“Tapi gue udah bawa masalah ke rumah lo kaya tadi Fi, gimana gue ngejelasin ke Julia nanti” ucap Savira

 

“Yang penting kita bisa diselesaikan. Nominal bukan masalah besar kok santai aja. Dan lo pasti punya cara untuk menjelaskan sama Julia. Gue ke atas dulu ya”

Gue beranjak berdiri lalu naik ke atas menuju kamar gue. Saat baru akan membuka pintu ternyata pintu terbuka lebih dulu…

jduk

Bangke! Dagu gue rontok deh ini, btw gue gak inget ada tembok dibalik pintu deh. eh tunggu, emang bukan tembok sih.

“Kamu ngapain sih nabrak aku”

Bener kan bukan tembok, mana ada tembok bisa ngomong gini. Suaranya kaya Julia lagi.. eh emang Julia deh.

 

“Kamu yang nabrak aku”

 

“Apaan sih kamu yang nabrak!! Sakit nih kepala aku. Bisa bisa amnesia aku!”

Duh gusti~ lebay banget deh sumpah. Dia enak kejedot kepalanya bisa amnesia. Masuk akal, lah gimana nasib dagu gue? Masa iya dagu gue amnesia atau parahnya rahang gue yang amnesia. Gimana cerita anjay-_-

“Minggir malah disitu sih”

Gue menyingkir memberi jalan macan betina ehem.. bodo dah kalo lagi gitu diemin aja mending masuk ke kamar. Oh ya gue belom bales chat nyokap gue. Beliau bilang El di bawa kerumahnya, dan gue yang akan menjemputnya bersama Julia nanti. Yaudah nanti kan, tiduran dulu ah

“Arfiiiii…!!!!”

Bajirut! Baru 2 detik gue tiduran udah diteriakin aja lagi sama macan betina. Gue segera bangkit menghampirinya yang entah dimana. Kalo gak gue samperin bisa bisa diamuk gue. Dikoyak badan gue, anjir itu bini gue apa leak

Klek

Jduk!

Anjas! Fix abis ini rahang gue yang amnesia(?) Tapi kali ini beda rahang gue bertabrakan sama helm. Ya helm, Julia make helm gue dibawa bawa keatas tuh. Ngapain coba ni anak gak puas apa tadi pake helmnya

“Kamu ngapain sih pake helm dirumah”

 

“Aku lagi goreng ikan terus baru inget mau jemput El dirumah mamah”

 

“Ya terus kamu ngapain pake helm?”

 

“Aku lagi goreng ikan takut nyiprat kena muka ku. Aku juga pake jaket kok”

 

Anjir helm AGV gue sama jaket Pull And Bear yang gue beli di Aussie dibuat goreng ikan sama bini gue. Mau protes, mau banget tapi ntar gak dikasih jatah brabe kan urusannya. Gue telen mateng mateng aja deh

Tiba tiba tercium bau gosong dari arah dapur.

“Aaaa!!! Ikan gue gosong!!”

Bajing– eh gak boleh ngatain bini sendiri, ralat.
Bajigur!!

Kon–ci !!

Bang–baso!!

Mem–ble”

Gila itu pita suara terbuat dari apaan sih. Gue rasa bukan pita suaranya bukan pita tapi alumunium. Gila nyaring banget

Gue turun nyusul Julia ke dapur. Sampai didapur bi Imas lagi sibuk memisahkan antara fosil ikan dan penggorengan.

“Bi buang ajalah sama penggorengannya, percuma nanti jadi bolong juga”

Akhirnya Bi Imas membuang penggorengan itu besertan fosil ikan itu. Mudah mudahan jutaan tahun ke depan akan ada yang menemukan fosil ikan yang dibuang ini lalu menelitinya. Hmm menarik juga.

“Ayuk kamu ganti baju siap siap jemput El”

“Kamu emang udah siap siap?”

“Kamu gak lihat aku udah pake helm begini?”

“Kita naik motor?”

“Naik mobil lah”

Anjasmara, ngapain pake helm kalo naik mobil. Takut ditilang apa?

Gue cuma bisa mengusap wajah gue kasar lalu melangkah ke kamar ganti baju. Mau gue balikin lagi ucapannya tadi, tapi nanti bakal panjang, iya kalo gue gak kenapa napa, kalo tiba tiba kuping gue copot atau gue mendadak stroke kan bahaya

Brug

“Yuk berangkat”

Gue menatap lurus ke depan tanpa mau memperdulikan Julia disamping gue. Bodo dah dia jadi nyebelin kalo lagi nahan kesel. Gue tau dia kesel sama Savira karena ucapan si nenek lampir tadi, eh tar dulu deh bukannya dia tadi nenek sihir. Yaudah digabung aja nenek lampir yang bisa nyihir.

Diperjalanan gue diem aja. Cuma suara lantunan musik dari mobil gue aja yang terdengar. Julia sibuk dengan game hapenya. Senyumnya terus mengembang gue yakin dia menang terus pasti yakin gue

“Beb, kamu menang push rank ya?” Tanya gue memecah keheningan

“Push rank? nggak aku lagi geser geser menu aja nih lucuk ada foto El nya”

Sumpah gue nyesel nanya tadi. Tau gitu gue diemin aja deh dia geser geser itu menu hapenya sampe lepas itu jarinya. Eit, jangan sampe lepas juga horror banget dong

Akhirnya setelah satu bulan, salah. Satu jam perjalanan gue sampe di istana orang tua gue. Gila gede bangao ya. Gak berenti kagum gue sama gedenya ini rumah. Julia turun lebih dulu, gue memarkirkan mobil gue di.. dipekarangan aja deh gak lama ini. Julia ketemu nyokap gue, mereka cipika cipiki pipi gue berdiri disamping Julia. Dan akhirnya nyokap gue gandeng Julia masuk ke dalam. Yaksip! Gue gak dilihat, gue butiran air hujan, gue tetesan debu. Anjay kebalik gitu. Bodo ah gue masuk aja

*

Julia PoV

“Tadi mamah abis susuin El loh Julia, dia gak cengeng banget ya”

Aku menatap mamah kagum seakan tidak percaya apa yang diucapkannya. El disusuin oleh mamah, emang masih ada air susunya. Sadar akan tatapanku, Mamah menunjukkan botol susu El

“Bukan pake susu mamah, pake susu kamu yang ini nih, Savira ngasih ini ke mamah sama botolnya”

Nah ini baru bener. Aku hampir aja salah paham. Aku duduk dimeja ruang tengah bersama Arfi.

“Mah, papah kemana?” Tanya Arfi

“Papah kamu keluar negri, biasa bisnis”

Arfi hanya menganggukkan kepala. El sudah berada dipangkuanku. Dia tertidur kembali

“Lucu deh, mamah jadi mau punya bayi lagi”

Arfi terkejut, aku hanya diam mematung. Buset orang usianya hampir 50 tahun mau punya bayi lagi. Emang masih kuat digoyang?

“Makan dulu yuk mamah hari ini gak masak”

Ngapain nawarin kalo gitu sih

“Mamah kan emang gak pernah masak ya bukannya?”

Yak sekaran anaknya nyautin

“Eee.. jangan kurang ajar kamu Arfi kamu bisa gede gini emang siapa yang ngasih makan?”

“Tapi kan mamah gak bisa masak”

Strike! Perasaan aku mengatakan kalo ini akan menyenangkan. Sambil menggoyangkan gendongan ku pada El aku menyaksikan antara anak Vs ibu. Hmm kaya acara tivi aja

“Tapi kan mamah yang suruh pelayan masak untuk kamu”

“Ya berarti Arfi gede karena perintah masak dari mamah dong”

“Kamu kok jadi kurang ajar gini sih?”

Sewot mamah yang sudah menatap Arfi dengan ganasnya. Bentar lagi mamah akan bisa masak nih tapi gak tau rasanya kaya apa, yang bisa kupastikan dagingnya pasti keras dan aku akan menjanda(?)

“Arfi kan jujur apa adanya Mah”

“Kamu pulang sana Arfi ! Mamah gak mau ketemu kamu!”

Tuhkan, beneran marah ini mah. Arfi tertawa lalu beranjak meraih tanganku untuk berdiri

“Heh! Siapa yang suruh bawa Julia? Mamah nyuruh kamu doang denger gak?!”

“Yakan Lia istri Arfi mah”

Heh? Lia? Apaan -.-

Mamah berdiri melepaskan tanganku dari tangan Arfi

“Julia tetep disini nemenin mamah! Kamu aja sana yang pulang!”

Arfi meraih tanganku kembali

“Arfi udah bilang Julia istri Arfi mah”

“Julia juga menantu mamah!”

Part dua dimulai nih sekarang aku yang menjadi objek rebutan mereka. Mereka terlibat cekcok mulut tidak lagi memperebutkan tanganku. Duh duh berasa Artis direbutin gini

“Mamah gak akan punya menantu kalo Arfi gak nikah sama Julia”

“Yaudah anak mamah sekarang Julia bukan kamu lagi”

Mantaps!! Rose jadi adik kandungku, coret nama Arfi di kartu keluarga ganti jadi Julia

“Anak pertama mamah kan laki laki harusnya”

“Julia dioperasi ganti nama jadi Julio”

Heh? Wtf! Yang satu ini aku gak setuju. Oke sekarang pikirkan gimana caranya survive dari sini.

Tiba tiba saja El menangis. Mungkin El tidak rela jika ibunya menjadi bapaknya sekaligus. Aku menyusui tapi berkumis. Hii ngeri ngebayanginnya.

Ditengah perdebatan mereka aku berjalan mundur pelan pelan. Mudah mudahan saja mereka tidak menyadariku. Aku bisa bernafas lega saat sudah keluar dari rumah. Eh tunggu mau naik apa pulangnya tadi kan bareng Arfi kesini

“Mau kemana Non?”

Aku berbalik, ah siapa nih namanya. Entahlah tapi kuyakin dia adalah salah satu pelayan rumah ini

“Saya mau pulang Pak, bisa anter?”

“Bisa non, tunggu sini saya ambil mobil dulu”

Huft! Untung botak itu gak banyak nanya. Tak lama mobil Lexus abu abu metalic menghampiriku

“Silahkan Non”

Si botak itu membuka kan pintu untukku

“Tuan muda gak ikut non”

“Ah.. Arfi lagi nanti dia pulang sendiri saya mau ambil susu buat anak saya dulu”

“Baik non”

Mobil pun meninggalkan area rumah. Oh iya aku lupa memberitahukan alamat rumahku

“Oh ya pak, rumah saya itu….”

“Saya tau non, kita lewat tol aja biar cepet” ujar pak botak itu memotong ucapanku. Tau dari mana dia?

“Saya bekerja sama Tuan Juanto hampir 23 tahun, saat tuan muda masih kecil waktu itu. Jadi, saya tau semua tentang keluarga Juanto termasuk alamat non dan tuan muda juga alamat Nona muda Octa dibelanda sana”

Buset paten juga ya. Aku hanya mengangguk pelan. Aku merogoh kantong celanaku mencari hapeku. Loh eh? Kemana hapeku?

Astaga ketinggalan tadi ku titipkan hapeku sama Arfi. Yaudah deh biarin aja. Aku memandang keluar jendela. Sebuah motor sport melewati mobilku. Ya ampun itu kan Okta sama Iwan panas panas gini naik motor buset deh. Motor Iwan berlalu lagi aku dengar suara motor sejenis dengan Arfi melewati mobilku yang cepat. Aku tau itu Gracia ya berarti didepannya itu Agus. Mau kemana mereka? Eh ngapain mikirin.

Mobil yang kutumpangi mulai memasuki jalan tol. Mataku terasa berat. Ku pejamkan mataku sejenak, padahal semalam aku tidur lebih awal. Ah iya sekarang aku tau alasan kenapa Arfi menyebutku Pelor alias nempel molor. Baru juga sandaran sama jok mobil, udah ngantuk aja. Ya udah deh tidur aja masih jauh juga..

Mamah tidur dulu ya Nak, kalo mau susu buka aja sendiri tapi ati ati bukanya nanti om botak lihat bangun bangun kita bisa di rumah sakit

Muehehehehe

***
Arfi PoV

Pagi pagi gue bangun karena mendengar suara sedikit gaduh dibawah. Setelah mandi gue memutuskan untuk turun kebawah melihat apa yang terjadi. Btw, istri gue kemans nih, tumben pagi pagi udah hilang. Dari kemarin hobynya ngilang, tau tau udah dirumah aja. Ck!

Gue turun lalu pandangan gue disuguhkan dengan Savira yang membawa koper besarnya beserta Theo digendongnya, juga Fahrie yang membawa tas mereka. Entar deh, mereka mau kemana

“Kalian mau kemana?” Tanya gue saat sudah menghampiri mereka. Gue toleh ke arah Julia yang bersedap dada. Kemana lagi ni anak

“Hey, kalian mau liburan?” Tanya gue ulang

“Mereka mau minggat!”

Oke bahasa minggat terlalu kasar. Gue pun terkejut saat Julia mengucapkan itu. Jadi terkesan majikan beneran kan gue.

“Fi, kami berterima kasih sekali sama lo dan Julia yang udah memperbolehkan kami untuk tinggal disini. Tapi kami rasa, kami gak cukup pantas lagi menerima kebaikan kalian terus, cukup bagi kami kemarin itu—”

“Gue udah bilang gak usah dibahas yang kaya gitu. Kalian kenapa sih selalu memandang nominal? Memang nominal itu berharga tapi ada yang gak bisa dibeli dengan nominal! Kekeluargaan!!”

Gue sampe mengerjapkan beberapa kali mata gue saat Julia berteriak diakhir ucapannya. Untung gue berada dijarak cukup aman coba kalo sebelahnya bisa bisa budexxx pake X kuping gue

“Jadi gini loh, maksudnya Julia itu kesalahan kalian adalah ngakuin gue sama istri gue majikan kalian. Ya itu garis besarnya kekecewaan yang dirasakan Julia. Kan lo Savira udah dianggep saudara sendiri sama Julia juga kan?” Ucap gue.

Savira melepaskan genggaman kopernya lalu melangkah mendekat ke Julia

“Gue emang salah disitu. Justru gue malu sama lo, lo udah baik tapi gue ngecewain lo. Untuk itu gue merasa gak pantes untuk menerima kebaikan lo lagi termasuk tinggal disini”

Savira menggenggam kedua pundak Julia. Tapi keliatannya Julia enggan membalas tatapan Savira, buktinya dia malah ngeliatin gue. Eh, entah ngeliatin gue apa pandangannya kosong ke arah gue

“Gue kecewa sama lo. Seumur umur baru pertama kali gue kecewa sama lo dan ini parah. Denger Savira, kalian juga tuan rumah disini dan bukan pembantu”

Savira mundur beberapa langkah

“Oke hukum gue kalo emang lo merasa kecewa sama gue. Tumpahkan semua rasa kesel lo sama gue. Lo boleh gampar gue”

Plak

Anjas. Beneran digampar sama bini gue. Sakit banget kayanya tuh sampe kedengerannya nyaring

“Semuanya Julia, gue siap nerima lagi gamparan lo kalo memang itu bisa bikin lo maafin gue”

Plak

Plak

Plak

Anjay digampar bolak balik. Oke oke cukup bisa patah lehernya itu kalo digamparin bolak balik.

Gue melangkah hendak memisahkan Julia tapi tangan gue ditahan Fahrie

“Biarin aja Fi, ini urusan mereka. Urusan persahabatan mereka” ujar Fahrie.

Lah geblak ni orang bini nya digamparin malah dibiarin aja. Gue mengangguk aja, pak Irwan pun hanya diam saat Julia menunjukkan tangannya ke arahnya. Pak Irwan aja ceming langsung. Emang ye cewek kalo lagi ngamuk horror banget

Tatapan gue beralih lagi ke arah Julia dan Savira mereka…. anjay

“Eh ini lu yakin gak mau dipisahin anjir, itu bini lu sama bini gue sampe gelut gitu gile”

“Biarin aja Fi, kita duduk aja sini. Biarin mereka menyelesaikan masalah mereka. Bini lo juga biar keluar semua emosinya abis itu kita bicarain masalahnya”

Gue ikut duduk diubin teras dan menonton adegan real gelut wanita Vs wanita. Istilahnya apa ya gue lupa, tapi beneran bini gue sama Savira udah guling gulingan. Mereka saling berdebat yang entah apaan gue gak denger suara mereka kaya speaker kondangan. Kresek kresek

Setengah jam mereka gelut akhirnya mereka sama sama tidur terlentang dirumput taman teras. Nafas mereka gak beraturan keliatan dari gerakan dada mereka yang naik turun dengan cepat.
Savira lebih dulu bangun di ikuti Julia. Mereka saling tatap. Adu jotos lagi gak nih. Lain dari asumsi gue, mereka malah berpelukan. Anjay! Pelukan kaya teletubies. Serius gue gak boong

setelah mereka ribut gitu abis itu pelukan. Baik, positif aja mungkin begitu cara mereka menyelesaikan masalah.

“Mereka baikan sendiri kan?”

“Iya ya, cuma kan baju bini gue ampe robek gitu bro”

“Lu gak lihat itu baju Savira noh melar gitu lehernya”

Gue manggut manggut aja. Mereka terlihat seperti ngobrol kalo dari arah sini. Gue gak tau mereka ngobrolin apa yang jelas mereka saling senyum. Mereka berdiri lalu menghampiri kami

“Kalian ngapain duduk dibawah?”

“Nungguin kalian selesai berantem” balas Fahrie

“Kita gak berantem kali, cuma kalo lagi salah paham aja emang suka gitu”

Anjas. Bodo dah ya. Eh btw ini si Savira jadi minggat kagak nih

“Pah bawa masuk lagi kopernya, kita gak jadi pergi”

“Loh emang kenapa mah?”

Ngiutt

Mampus Fahrie dicubit sama Savira dan Julia. Gue kecip aja melihat itu, biru itu pasti perutnya walau dicubit dari luar baju. Mereka melenggang masuk ke dalam meninggalkan gue dan Fahrie yang bengong

“Sorry ya Fi kejadian hari lalu, sejujurnya gue mau ngakuin kalo disini gue temen dari tuan rumah gue merasa gak pantes aja. Gue terlalu banyak menerima kebaikan dari lo”

“Yah, lain kali jangan gitu. Lo denger kan tadi kata Julia apa. Dan gue juga sama gak merasa keberatan kok kalo lo juga tuan rumahnya disini”

“Thanks Fi, tapi maaf kayanya gue gak bisa kaya gitu deh. Karena yaa seperti yang gue bilang tadi kan”

Gue hanya tersenyum aja menanggapi Fahrie. Gue sih gak masalah mau si Fahrie nganggep dirinya apa disini kek bodo amat yang penting dia bukan rampok aja.

“Btw perut lo biru itu gue rasa deh”

“Pasti, kuku Julia tajem juga samaan kaya Savira”

“Yeeh gak tau lu, nih lengan gue abis dicakarin kalo main sama bini gue”

“Gue juga sama. Punggung gue abis nih diremes remes sama Savira kalo lagi main”

Kami tertawa karena obrolan absurd kami yang malah membongkar masalah ranjang kami.
Baru akan melangkah masuk suara motor menggema terdengar sama gue. Lah si Iwan itu kan, langsung aja gue menghampiri dia

“Kenapa bro? Gak ngantor emangnya?”

Iwan melepas helmnya lalu menatap gue

“Bokap lo ngasih instruksi hari ini Juanto Group cuti bersama. Entah kenapa deh alasannya. Bokap lo langsung yang nelfon gue”

Gue mengerjapkan mata gue berkali kali

“Seneng banget gue gila ditelfon bokap lo. Sadap! Orang nomer satu di Juanto Group coy!”

Anjas, seneng sih seneng gak usah meluk meluk gue anjir. Pak Irwan menatap gue, Fahrie, Savira dan…

“Ini gak seperti yang kamu bayangkan. Aku bisa jelasin ini…”

*

Setelah anak laknat itu pulang gue duduk ditaman belakang berdua sama Julia. Katanya sih dia mau ngajak gue ngomong. Gue cemas setelah ini Julia bakal gugat cerai gue. Nah kalo surat cerai kan ada alasan mengapa mengajukan bercerai nanti Julia nulisnya ‘karena suami saya gak normal dia menyukai sahabatnya yang notabane nya lelaki’

Gue menggelengkan kepala gue berkali kali

“Kamu kenapa? Pusing?”

“Ah.. eng.. nggak kok. Yang tadi itu emang si Iwan aja yang gak normal, dia itu absurd memang, aku normal kok aku masih suka perempuan buktinya aku nikahin kamu kan, bener deh” ujar gue tapi Julia malah natap gue aneh

“Aku gak bahas hubungan kamu sama Iwan aku juga gak cemburu kok”

Gaddameh! Hubungan dong katanya. Somplak

“Aku mau ngomong sama kamu soal ini masalah Savira kemarin”

Haah~ leganya.. tapi tetep aja gak enak dibilang hubungan katanya

“Kamu mau ngomong apa sayang?”

“Gini, Savira kan kemarin bermasalah sama orang luar. Dan masalah itu sampai kerumah kita. Aku takut itu membuat kamu jadi gak nyaman biar gimana kan Savira itu temen aku, aku merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi sama dia dirumah ini”

“Aku gak masalah soal itu, aku juga anggep Savira dan Fahrie yaa temen aku juga. Jadi bagiku gak ada masalah. Ya walau dalam masalah itu artinya masalah kita juga”

“Ya tapi kan dia temen aku. Aku gak enak aja ke kamu. Aku rasanya kaya bawa orang tapi malah ngebuat rusuh disini, itu aja sih”

Gue merapatkan duduk gue sama dia, gue rangkuh kepalanya agar bersandar dipundak gue

“Denger sayang, punyaku punya kamu juga. Hartaku harta kamu juga, jadi kamu gak usah merasa kalo ini semua adalah punyaku. Masalah kamu ya masalah aku, siapapun yang tinggal disini dan jika memang dia punya masalah ya artinya itu juga masalah buat kita. Kita hadapi bersama”

“Aku merasa gak enak aja. Maafin aku ya sayang”

Julia menenggelamkan kepalanya dicaruk leher gue. Gue genggam tangannya

“Gak usah minta maaf sayang. Gpp kok ya, btw kamu tau gak utangnya si Savira sama nenek lampit itu berapa?”

“25 juta totalnya sama bunganya, kemarin kamu kasih berapa?”

Gue sedikit terkejut, anjay gue ngasihnya kelebihan dong berarti

“Aku kasih 50 juta. Aku gak tau nominalnya berapa”

Tiba tiba Julia menatap gue. Aduh, salah nih gue

“Banyak banget. Kamu bukannya nanya dulu. Kebiasaan banget sih. Jangan buang buang uang ah Arfi. Eh denger ya, meski uang kamu banyak harta kamu berlimpah tapi kamu harus tetep bersyukur dan menghargai apa yang kamu punya. Jangan dibuang buang gitu”

Untuk pertama kalinya, kuping gue mendengar nasihat soal uang dan harta. Gue gak pernah dinasihatin seperti ini sebelumnya bahkan bokap gue dulu saat gue kecil apapun dibeliin sampe rollercoaster didalem rumah pun ada. Eh btw rollercoaster dirumah kemana ya kemarin gue gak lihat. Apa dijual sama bokap gue?

“Iya sayang, maafin aku ya.. sini senderan lagi sama pundak aku”

Gue mengelus tangan Julia. Alus banget coy! Kaya jalan tol baru, eh bukan sih. Kaya bedak bayi!

“Eh iya, kamu mau ikut aku gak hari ini? Hari ini kan kamu libur tuh..”

“Kemana?”

“Aku ada tempat yang udah lama gak aku kunjungin. Nah kalo kamu keluar uang banyak untuk yang satu ini aku gpp deh”

Gue penasaran apa yang dimaksud istri gue ini

“Hmm emang apa sayang?”

“Nanti aja kamu tau”

Nah ini nih yang gak gue suka dari Julia. Sok misterius gitu anjay. Tapi biarin deh.

“Dorr!!!”

Anjir! Lagi enak enaknya pacaran anak dajjal dateng

“Kak Julia pacaran mulu ih sama kak Arfi. Udah punya anak juga”

Gue dan Julia saling tatap. Dajjal mana yang jatuhin anaknya dirumah gue nih woy!

“Kamu sama siapa kesini Okta?”

“Aku sama kakak aku. Itu dia diluar lagi nyari standar buat motornya”

Bazeng si Iwan pasti ngacak ngacak garasi gue. Awas aja sampe si Zetty diturunin dari standarnya gue tendang motornya Iwan sampe jatoh

“Aku keluar dulu ya nemuin anak laknat diluar” pamit gue sama Julia. Julia menganggukkan kepala

“ih kak Arfi masa kakak aku dipanggil anak laknat. Kakak aku gak laknat kak Arfi !!”

Bodo ah gue tinggal aja di manusia satu. Mending gue keluar sebelum terjadi apa apa dengan motor gue. Sampai ruang tamu gue melihat Savira dan Fahrie memakai handuk. Nggak salah, mereka make handuk satu berdua.

“Kok kalian make anduknya gitu?”

“Monyong monyong..”

“Eh eh eh..”

BGST!! dengan segera gue menutup mata gue lalu berjalan cepat melewati dua orang itu. Sekiranya aman gue buka lagi mata gue. Bajirut ngapain sih si Fahrie make anduk berdua sama Savira.

Mereka melilitkan handuknya ditubuh mereka lalu berjalan. Bayangin coba, kaya lomba balap karung tapi satu karung berdua. Nah kaya gitu deh kurang lebihnya mana segala handuknya dilepas sama si Savira karena dia kaget gue tegur.
Rumah gue kenapa isinya orang aneh semua gini sih.

“Fi lu gak ada Paddock lagi?” Ujar Iwan saat gue udah di teras rumah gue

“gak ada, kenapa emang?”

“Pinjem jir satu buat motor gue nih”

“Budek apa conge lu gue bilang gak ada. Standar miring sih gaya lu pake paddock segala”

“Muka gue udah standar, otak gue udah miring masa motor gue standar miring sih”

Naon sih ah si Iwan gak jelas banget. Gue memperhatikan motor Iwan. Keren banget sih, gue suka. Motor Iwan itu motor Italy, itu loh yang pernah sempet mau dijual, Ducati pannigale1199 jadi pengen punya. Eh ngomong ngomong soal Ducati jadi inget bokap gue. Bokap gue punya Pannigale V4 kan ya.

“Wan bokap gue punya Pannigale V4 dirumahnya?”

Jduk

Mampus apaan tuh

“Yang bener lu?”

“Yee ngapain boong gue. Ada noh dirumahnya”

“Please Fi, ajak gue. Gue mau test ride. Boleh pinjem gak?”

Oh ya fyi nih, Iwan demen banget banget sama motor pabrikan Italy itu. Apalagi yang seri V4 itu seri terbaru dari pannigale. Jelas aja dia ngebet banget pengen test ride.

“Kapan kapan gue ajak kesono deh”

“Ntaps! Thanks bro”

Saat Iwan merentangkan tangannya gue udah menghindar duluan. Daripada terjadi yang nggak nggak ntar malah dikira homo bahaya gue. Reputasi ketampanan gue bisa rusak nanti. Anjir wkwk

*

“Terima kasih sayangku cintaku Okta ku”

“Sama sama kakakku, suamiku tercinta yang paling Okta sayang”

Jijik sumpah gue dengernya. Nafsu makan gue ilang seketika beneran. Gue dan sekeluarga lagi makan siang dan dua anak laknat ikut nimbrung makan juga disini. Huft!

Beres makan siang gue keluar buat manasin motor gue. Udah lama tuh si Zetty gak dipanasin

Lagi asik asiknya dengerin suara yang menurut gue merdu bahkan melebihi merdunya suara raisa, apalagi istrinya iqbal.. jauuuhh

“Jadi kapan gue bisa test ride sama V4 bokap lu?”

Gue menoleh ke arah sumber suara

“Tunggu dia dirumah, bokap gue lagi keluar negri”

“Yah, eh btw sunmori minggu ini Agus ngajakin motoran eropa jangan jejepangan terus bosen”

“Boleh, tuh gue bawa HP4 palingan”

“Sip, gue mau dokumenter nanti, lu HP4 gue Panni Agus RSV4 nya. Anjas gue ngebayanginnya keren”

Gue mematikan mesin motor gue setelah dirasa cukup lalu menghampiri Iwan yang berdiri didepan garasi gue

“Lo ada kenalan orang dealer Ducati gak?”

“Lo mau nambah Unit?”

Gue hanya mengangguk dan Iwan tertawa

“Boss mah Beds sih, ada ada, second atau baru?”

“Tergantung harga kalo selisihnya beda dikit gue beli baru aja mendingan”

“Dasar ngitung anjir”

Iwan merogoh kantongnya mengeluarkan hapenya lalu menunjukkan sesuatu ke gue

“Ini punya temen gue, namanya Rio. Panni 1299 dia tahun 2015 Km jalan 3000an. Soal harga gue belom nanyain kalo mau sekalian survey aja”

Gue melihat foto didalam hape Iwan

“Itu 1299?”

“Iye, ada lagi sih cuma beda warna aja. Kaya gini nih fotonya”

Kaya gini nih fotonya”

Anjir cakep banget ya. Jadi mau gue, kira kira berapa duit ya, udah gitu Julia ngizinin gak ya secara barusan dia bilang jangan boros boros uang. Mesti mikir nih gue ngerayu Julia biar bolehin beli ini motor. Ya, Harus!

“Kalo barunya berapa duit itu wan?”

“Kurang paham sih gue, yang pasti bea nya mahal cuy, ini motor impor kan soalnya”

Gue menganggukkan kepala aja

“Eh Wan, ini sih rencana aja ya, lu jangan ngomong sama Julia dulu”

Iwan mengeritkan alisnya menatap gue. Lalu dia terlihat menarik nafasnya

“Hmm saya mencium bau bau SSTI disini, Roby”

BGST!! Oke mau ngajak main main dia. Dia pikir dia doang kali yang gila gue juga bisa

“Jadi, setiap malam tubuh saya suka panas, dibagian punggung, lalu seketika tubuh saya menegang. Beberapa detik setelah menegang saya terkulai lemas” ujar gue

Iwan kembali bergaya seperti pembawa acara disalah satu tivi swasta. Dia menghirup sambil menggerak gerakkan tangannya depan hidungnya

“Itu tandanya kamu abis membuang ingus macan didalam goa. Goa nya berhutan tidak?”

“Tidak”

“Oh berarti botak ya, pinter juga istri kamu merawat asetnya”

Gue malah tertawa, Iwan juga tertawa bersama gue. Gue gak tau seberapa lama gue temenan sama Iwan hingga gak ada hal tabu diantara kami. Jadi berasa homo gue

“Wan, kita udah berapa lama temenan?”

Iwan menghentikan tawanya lalu nampak berpikir. Gaya banget nih anak kaya ada aja isi kepalanya

“Gak tau”

Kan bener, isi kepalanya Iwan refil gini gaya gayaan mikir

“Kayanya kita udah kelamaan deh bertemannya” ujar gue

Iwan menatap gue serius

“Fi gue denger kalo berteman kelamaan akan ada benih benih perasaan loh”

Kan, mulai homo nih orang. Gue menatap Iwan serius. Entah siapa yang mulai kami mulai mendekatkan wajah kami.

“Muka lu kaya gagang keranda mayat”

“Muka lu kaya centong baso”

“Mulut lu bau ketek belatung”

“Mulut lu juga bau kaya jigong kecoa”

Kami terdiam beberapa saat masih dalam keadaan saling menatap. Wajah gue dan Iwan hanya berjarak sekitar 10 centian deh

“Kita ngapain bego kaya homo begini deket deketan”

“Ya lu ngapain malah natap gue balik kaya gini”

“Lu deg degan kagak?”

“Kagak, kalo lo nanya jijik iya”

“Sama bego”

“Heh kalian ngapain?”

Gue yang terkejut seketika merangkul pundak Iwan membelakangi Julia sambil menjauhinya. Iya tadi itu Julia

“Jadi kalo menurut gue sih Wan, mending diambil aja proyek itu. Bagus juga buat lu kan jadinya lu bisa belajar”

“Nah iya Fi, jadi besok gue coba survey ke lokasinya ya, kan kali aja ada rekomendasi baru”

“Bener, emang lu temen gue yang paling bisa diandelin deh”

“Haha yoi, btw proyek apa bego?”

“Hahaha gak tau tolol” gue menoleh ke belakang. Udah gak ada Julia disana

“Tadi ada Julia coek, tar disangka kita homo beneran lagi”

Gue mengambil kunci motor gue

“Fi?”

“Oit apaan?”

“Jantung gue sekarang deg degan kalo lihat lu”

“Anjir!!”

Gue langsung lari ninggalin garasi. Suara keras Iwan tertawa sampai terdengar diteras gue. Bodo amat gila dia memang, sekarang gue perlu memastikan kalo Julia tadi gak melihat apa yang gue lakukan sama Iwan. Anjay(?)

*

Julia PoV

Beberapa barang ku ambil dari raknya lalu ku letakkan didalam trolli ku. Ya malam ini aku sedang berbelanja ditemani oleh…. loh Arfi kemana?

Aku mengitari pandanganku mencari sosok yang hilang tersebut(?) Kebiasaan deh suka ngilang tiba tiba. Ku dorong trolli ku sampai ke barisan rak berikutnya. Pandanganku tertuju pada sebuah tulisan bertuliskan diskon 70% . Hmm sepertinya naluri wanita ku mengatakan aku harus mengeceknya. Mungkin ada barang bagus, dan tentunya murah

Beberapa kali ku mencari baju yang bagus dalam tumpukan baju tersebut. Entah sudah berapa baju yang ku buka dari lipatannya namun aku belum menemukan baju yang bagus seperti yang inginkan.

“Pantesan 70% jelek jelek bajunya”

Aku langsung saja meninggalkan tempat itu tentu dengan mbak mbak yang kesal padaku. Bagaimana tidak, aku membuka lipatan baju disana tidak terhitung jumlahnya demi menemukan baju yang menurutku bagus. Namun hasilnya nihil. Sabar ya Mbak~

Saat sampai dibarisan rak berikutnya aku melihat Arfi sedang memilih minuman. Kuhampiri dia

“Loh kamu disini. Belanjanya udah?”

“Aku yang harusnya nanya sama kamu. Udah yuk bayar”

“Aku beli ini ya”

Aku memperhatikan minuman yang dia ambil

“Ini beralkohol gak?”

Arfi menggelengkan kepalanya. Namun itu tidak cukup membuatku percaya padanya. Ku ambil minuman yang sama dengan Arfi

“Ini alkoholnya 10% ya. Nggak, taro lagi. Kalo mau yang Zero alkohol aja”

“Yah yang, sesekali yaa”

“Nggak Arfiiii”

“Ck ah, tapi kan–”

Aku memberikan tatapan tajamku padanya “tapi apa?!!!”

“Tapi minuman ini gak enak, kamu bener enakan yang zero alkohol”

Arfi meletakkan minumannya lalu mengambil yang zero alkohol dan meletakkannya di trolli belanjaanku

“Yuk bayar kalo kamu udah selesai belanjanya”

Arfi mendorong trollinya menuju kasir aku mengikutinya dari belakang. Aku memang tidak suka jika Arfi meminum minuman menghandung alkohol. Bagiku itu seperti mengingatkanku pada kejadian dimana aku dan Arfi bertengkar dan berakhir dia yang selalu pulang dengan mulut bau alkohol. Itu sangat tidak menyenangkan

Selesai membayar kami langsung keluar untuk pergi makan

“Kamu mau makan apa?”

Tanya Arfi begitu kami sudah keluar dari salah satu supermarket besar.

“Gimana kamu aja, seafood aja yuk”

“Gimana kamu tapi seafood gimana sih kamu”

Aku terkekeh geli

“Iya iya aku mau seafood. Bawaan bayi nih”

Seketika tubuh Arfi menegang dibalik setiran. Hey, ada apa dengannya

“Kamu kenapa kok tegang gitu”

Arfi tetap fokus ke depan dengan duduknya yang ia tegakkan. Ia mengerjapkan beberapa kali. Ada apa dengannya

“Fi, kamu sehat?”

Arfi menghembuskan nafasnya

“Emang kamu isi lagi?”

Oh aku mengerti kenapa dia panik seperti tadi

“Nggak. Kita kan udah jarang main. Gimana mau isi lagi. Lagian nanti nanti aja ya kalo mau ngisi lagi aku belum siap hamil dulu”

Arfi tersenyum aku tau meski ia menatap ke depan

“Tapi mainnya gak nanti nanti kan?” Ujarnya menaik turunkan alisnya

“Eum.. kapan aja kamu mau kok sayang. Jangan bikin aku melendung dulu ya”

“Siap bu boss”

Akhirnya kami sampai di sebuah restoran seafood dijakarta. Aku memesan beberapa menu disana, seperti biasa menu cumi selalu menjadi favoriteku

“Savira gak kita bungkusin?”

“Gak usah. Dia udah makan ketoprak tadi pagi”

“Lah pagi? Ini udah malem neng”

“Arfi, dia kan udah gede pasti juga beli makan kalo laper”

Arfi hanya menganggukkan kepalanya. Menyebalkan bisa bisanya disaat seperti ini dia malah memikirkan Savira.

“Hay Dear! How are you, Long time no see, yes?”

Aku mengadahkan kepalaku melihat wanita didepanku. Bukan, dia bukan menyapaku melainkan menyapa milikku. Ya milikku, Arfi. Tapi ada yang mengganggu pendengaranku, Eumm apa ya? Ah ya.. sebutan Dear untuk Arfi.

“Oh hallo, i’m fine as you see”

Arfi menyapa balik wanita disebelahnya lalu wanita yang belum kuketahui namanya duduk disebalah Arfi. Dari penampilannya dia wanita yang cukup cantik, rambutnya yang blonde keriting ke bawah, dress hitam selutut dan perhiasan anting, gelang serta kalung yang dikenakannya menggambarkan kalau dia bukan wanita sembarangan. Dia siapa sih?

“Aku menempuh pendidikan di Aussie, kamu tau aku benci keluar negri tapi papahku memaksaku, as always”

“Itu pasti berat. Aku mengerti apa yang kamu rasakan”

“Yaa. Eh ya btw kapan kita riding bareng lagi?. Aku kangen diboncengin bareng kamu lagi. That’s was fun”

Arfi sedikit melirikku. Rasa laparku semakin lapar bahkan aku ingin menelan wanita didepanku hidup hidup

“So sorry Listya, that’s my wife”

Wanita yang bernama Listya tersebut melihatku sedikit terkejut

“Hey! Kamu menikah tanpa mengundangku? Melupakanku adalah hal mudah bagimu ya?”

Arfi tertawa. Ah apa yang mereka sedang bicarakan sih, melupakan? Ada hubungan apa diantara mereka sebelumnya

“Aku kehilangan kontak kamu Tya, itu membuatku sulit memberi kabar padamu, maaf soal itu”

“Fine, never mind. Sudah berapa lama kamu menikah? Istri kamu cantik juga”

“Cukup lama. Dari pernikahan kami, kami dikaruniai anak”

Listya memperhatikanku, dia juga tersenyum padaku. Cukup manis senyum di bibir tipisnya

“Aku Listya Hulton”

Aku menyambut uluran tangan Listya.

“Julia”

“Kamu harus berhati hati dengan suami kamu Julia”

“Loh kenapa?”

“Tidakkah kamu lihat dia sangat tampan. Kami dulu berpacaran cukup lama saat sekolah menengah atas, dan berpisah karena aku tidak tahan dengan para fans wanitanya. Too much Julia”

Aku hanya menganggukkan kepala. Pandanganku tertuju pada Arfi yang sudah nyengir nyengir gak jelas gitu. Huh!

Listya memandangiku dari atas sampai bawah. Aku menatapnya balik dengan tatapan seolah bertanya ada apa?

“Nothing, Arfi kamu selalu memilih wanita setipe ya. Selera wanita kamu gak berubah”

“Eum.. hehe ya begitulah”

“Kamu tau Julia, semasa sekolah Arfi ini baik, terlalu baik pada siapapun. Bahkan sering membuat wanita merasa Geer meski dia orang pendiam. Jika kamu menikah dengannya itu artinya kamu bukan tipe perempuan pencemburu sepertiku”

Dia tertawa sendiri. Ya tertawa sendiri, dia yang cerita dia yang tertawa. Aku hanya tersenyum tipis dan Arfi tersenyum kikuk dengan pandangan khawatir ke arahku. Pencemburu katanya? Aku sedang cemburu saat ini Listya, tapi sayangnya aku tidak akan mudah melepas Arfi sepertimu!

Pesanan kami datang, seorang pelayan meletakkan semua pesanan kami dimeja

“Baik, sepertinya waktuku selesai, senang bertemu kembali denganmu Arfi. Kangenku terobati sepertinya, next time kita meet up lagi okay, Good bye dear”

Listya pergi meninggalkan kami. Arfi memberikan cengiran bodohnya lagi. Aku menutup mataku sambil menarik nafasku. Tidak baik membahas masalah saat sedang makan, lagipula ini bukan masalah juga sih

“Yuk makan”

Aku menganggukkan kepala dan akhirnya kami makan bersama. Setelah makan kami memutuskan untuk pulang. Selain waktu yang menunjukkan sudah malam. Aku juga khawatir dengan El dirumah. Memang El adalah bayi impian para ibu ibu lainnya, dia tidak cengeng sekalipun saat baru bangun tidur. Dia benar benar anak Arfi, aku berharap agar ada sifatku juga dalam diri El jangan hanya papahnya saja yang dominan. Kan bikinnya aja bareng(?)

*

Brug

“Wey selow cuy. Ada apaan sih?”

“Gue lagi kesel”

Savira meletakkan majalahnya dimeja

“Kesel kenapa?”

Aku menegakkan tubuhku lalu menceritakan semua kejadian yang aku alami. Sesekali Savira menimpali namun dia lebih sering diam mendengar ceritaku

“Gitu.. menurut lu gimana?”

“Menurut gue sih nih ya, Lu santai ajalah kenapa pusing sih”

Aku menatap malas orang disebelahku. Ingin rasanya aku getok pake sepatu tapi sayang sepatunya udah ku lepas tadi diluar

“Cerita sama lo gak ada faedahnya” ujar ku

“Lo yang cerita gak berfaedah. Apa yang mesti lo takutin sih Arfinya juga santai aja. Dengerin gue ya panjul, Arfi orangnya gak neko neko, gak banyak macem juga. Anaknya diem gitu juga. Model kaya Arfi nih gak akan pernah berpaling, kecuali lo nya yang ngecewain dia. Kalo lo jaga perasaannya gak akan dia kemana mana. Percaya sama gue deh”

Aku mencerna ucapan Savira. Benar juga sih, selama ini dia tidak pernah melirik cewek manapun cuma sering kali cewek cewek yang melirik padanya. Ya itu juga bagian yang menyebalkannya. Eh tunggu..

“Kok lo tau banget sih soal Arfi?” Tanyaku

“Gimana kalo gue ubah pertanyaannya gue balikin ke lo, kok lo gak tau banget sih soal Arfi? Mau apa lo?”

Sialan juga Savira ini. Iya juga sih, lagi lagi Savira benar

“Lo percaya aja sama suami lo. Bukan berarti lo lepas dia banget banget tetep lo kontrol namanya laki kan. Tapi sih Arfi mah kalo godaan kecil kecil gak akan ngubah prinsipnya. Laki lo kan orang yang berprinsip teguh”

“Kok lo.. maksud gue, lo kan belom tinggal lama disini bisa nyimpulin gitu yaa karena…..”

Aku menaikkan alisku satu “karena apa?”

Savira mendekatkan wajahnya padaku lalu membisikkan sesuatu

“Karena gue suka sama suami lo”

Mataku membulat, seketika aku menjauhkan tubuhku lalu ku pukul kuat kuat dia menggunakan bantal sofa hingga terguling ke arah berlawanan dan jatuh ke lantai

“Gila lo yee sampe kejedot ubin gini kepala gue. Amnesia gimana nanti?”

“Lo yang gila mau rebut laki gue. Gak membalas kebaikan gue selama ini. Dasar lo pager makan tanaman”

“Salah lo pea! Yang bener tuh air susu dibalas air mani’ ”

“Heran deh gue yang kerja didalem kamar lo yang kotor otaknya”

“Daripada lo idung lo yang kotor!!”

“Saviraa!!!”

“Juliaa!!”

“Arfi !!”

“Fahrie!!”

“Bi Imas”

Bentar deh, ini kenapa jadi rame mana menyebutin nama nya masing masing kaya absen kelas.

“Kalian ngapain ikutan juga? Gak lihat kita mau berantem?”

“Arfi, katanya Savira mau rebut kamu dari aku. Jangan mau ya? Savira itu jorok suka makan sambil ngeden di wc”

“Apa lo bilang? Cakepan juga Fahrie kali! Lihat dong suami gue ada kumis tipisnya sama bewoknya sedikit. Laki lo gak maco!”

“Heh laki gue badannya sixpack, sayang buka bajunya lihatin sama mereka otot perut kamu”

“Tung…”

Breett

Aku melepas baju Arfi paksa hingga robek dibagian lehernya

“Tuh lihat laki gue sering ngegym”

“pantesan laki lo kaya homo. Suka ngegym sih. Disono kan banyak cowok cowok keker tapi ngondek”

“Enak aja lo! Laki lo noh badannya kerempeng kaya triplek lurus aja gitu”

“Biarin aja yang penting dia ganteng kaya artis korea”

“Laki gue kaya artis amerika”

“Kok lo gak mau kalah sih?”

“Mau lo apa?”

“Dari tadi lo nyolot banget bikin gue naik darah terus gue jadi laper! Gue mau makan!”

“Yaudah lo makan aja sono, gue udah makan!”

“Oke!!”

Aku berbalik meninggalkan Savira lalu menarik tangan Arfi ke atas menuju kamarku.

Sampai dikamar Arfi memakai baju yang ia ambil dari lemari. Soalnya baju tadi sudah sobek parah. aku melipat tanganku didepan dadaku sambil bersandar pada kasur

“Kamu kenapa sih? Sensi banget deh” Tanya Arfi padaku. Aku enggan membalasnya. Tatapanku masih lurus

Cup

Arfi mengecup keningku membuatku luluh. Ku rentangkan tanganku, detik berikutnya Arfi memelukku erat.

“Udah ya jangan marah marah lagi”

Kulepas pelukanku

“Kamu udah gak ada perasaankan sama Listya?”

Arfi malah terkekeh

“Kamu cemburu?”

“Arfiii jawab ih!”

Bukan menjawab ia malah mencubit hidungku

“Gak ada sayang, aku juga kaget tadi bisa ketemu dia”

Aku menatap menyelidik ke arah Arfi

“Terus kenapa kalian putusnya?”

“Kenapa ya? Aku lupa persisnya sih. Cuma dulu dia itu marah marah mulu terus egois juga”

“Egoisnya kenapa?”

Arfi duduk disebelahku

“Jadi gini loh, dulu aku gak boleh berteman sama cewek, Listya bakal marah kalo aku deket cewek padahal cewek itu yang deketin aku. Tapi giliran dia temenan sama mantannya dulu biasa aja. Aku tegor alasannya teman. Egois kan? Itulah penyebab putusnya aku sama dia”

Aku menganggukkan kepala

“Yang mutusin kamu?”

“Dia yang mutusin aku. Katanya aku marah marah gak jelas. Ya bodo sih ya, aku tinggal aja dia. Aku sih simple kalo gak bisa diatur ya udah aku lepas. Karena aku menghormati dia tapi dia gak menghormati aku buat apa”

“Terus hubungan kamu gimana? Tadi keliatannya akrab banget kaya gak ada masalah”

“Sebelum kelulusan SMA sih dia minta maaf sama aku juga. Kalo dia udah menyadari ya udah aku anggep clear sih”

“Terus kalo dia mau balikan sama kamu, kamu mau?” Pertanyaan mainstream sebenernya tapi aku perlu memastikan juga

“Kalo aku mau mah dari dulu aja. Dia suka ngajak balikan terus aku gak mau”

“Alasannya”

Arfi membaringkan tubuhnya

“Aku bukan orang yang kaya gitu, bagiku kalo putus ya udah putus aja selesai. Gak ada kata balikan sih”

“Kenapa gitu? Kamu cinta sama dia?”

“Pada saat itu iya, sampai dia mutusin aku pun aku masih nyimpen perasaan itu. Tapi aku lebih memilih membunuh perasaanku dibanding aku harus balikan lagi sama dia. Harga diri jatuhnya sih, biar gimana cara dia saat itu nyembarangin aku gak menghargai perasaanku. Itu lebih gentle bagiku”

Aku terdiam menatap wajah Arfi yang menatap lurus ke atas. Aku membaringkan tubuhku disamping Arfi. Arfi merangkul tubuhku dan aku memeluknya dari samping

“Mudah mudahan kita gak akan pernah berakhir ya, aku takut nanti kamu gituin aku kaya kamu ke Listya”

“Itu kan dulu masih bujang jadi putus yaudah end aja. Kalo sekarang kan beda. Kita udah punya El darah daging kita. Sebisa mungkin jangan sampai dia jadi broken home. Gak enak, aku kan pernah ngerasain meski orang tuaku gak cerai tapi aku anak yang kurang perhatian orang tua dulu nya. Makanya aku gak mau itu terjadi sama anak aku”

Ku kecup pipi Arfi. Aku beruntung memiliki Arfi. Dia pria ku yang bijaksana. Tak lama Arfi menoleh ke arahku, bibir kami saling terpaut. Sesekali desahanku lolos saat Arfi menghisap bibir bawahku. Arfi berpindah posisi kini ia berada diatasku tanpa melepas ciumannya. Ciumannya kini turun ke leherku.

Puas ia menciumi seluruh tubuhku, tak terasa aku maupun Arfi sudah tidak mengenakan sehelai kain ditubuh kami.

“Boleh malem ini sayang?” Bisiknya dikupingku sambil mejilati daun telingaku. Gairahku memuncak, mana mungkin aku menolaknya malam ini. Terlalu lemah aku untuk menolaknya

“Boleh sayang”

Bagian bawahku sudah sangat basah, lidah Arfi membuat ulah disana. Kulipat kedua kaki ku memeluk pinggangnya

“Arfiiihh masukkhiiinn”

Tidak lama kurasakan benda besar dibawah sana melesak masuk perlahan

“Ahhh….shhhhh”

Arfi menggerakkan pinggulnya perlahan, namun kelamaan dia bergerak dengan cukup cepat. Malam itu kami bermain lagi. Cukup lama aku tidak disentuhnya. Kurasa malam ini aku akan tidur dengan nyenyak. Ya kurasa jika pinggangku tidak pegal pegal

 

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48