Tentang Kita Part 42

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 42 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 41

Julia PoV

Pagi pagi sekali aku sudah bangun dan bersiap pergi ke bandara. Aku tau hari ini Arfi akan flight dan aku harus mengejarnya. Aku harus mencegahnya meninggalkanku. Sudah ku tetapkan hatiku untuk memperjuangkan pernikahanku ini

“Loh mau kemana Jul pagi pagi banget?”

“Gue mau ke bandara, mau ngejar Arfi. Gue titip El ya sama lu, nanti mandiin sama jemur. Udah gue susuin kok dia”

Savira hanya menganggukkan kepala.

“Eum.. Jul, mau gue anter?”

Aku berbalik menatap Fahrie, lalu tersenyum

“Gak usah. Makasih gue berangkat ya”

Aku berjalan menuju mobilku dan Pak Min sudah bersiap berdiri disamping mobil

“Pak ke bandara langsung ya”

“Baik neng”

Mobil langsung meninggalkan area rumah. Kuharap jalanan lancar pagi ini karena mengingat jalan yang akan kulalui adalah jalanan yang sudah menjadi langganan kemacetan ibu kota. Dan benar saja, mobilku tidak bergerak sedikitpun. Ramainya mobil dan motor yang melalui jalan sini membuat jalanan ini macet parah. Gak heran sih karena jalur sini itu jalur menuju ke kawasan industri. Jelas aja macet parah dijam berangkat kerja.

Kulirik jam ditanganku, sudah jam 9 itu artiinya sejam sudah mobilku terjebak dalam kemacetan. Ku gigit ujung jariku menghilangkan panik. Kuharap aku masih sempat sebelum Arfi benar benar pergi.

Akhirnya mobilku masuk ke area bandara. Begitu berhenti aku langsung lari keluar mencari Arfi. Aku tau ia akan flight dibandara ini karena sekretarisnya kemarin yang mengatakan itu padaku. Begitu banyak orang membuatku sulit mencari dimana Arfi.

Langkahku terhenti saat melihat siluet tubuh seorang wanita dari belakang. Aku mengenalinya, kuhampiri ia tapi wanita itu keburu berdiri dan berbalik menghadapku. Dia menatapku sekilas lalu menghampiriku

“Kamu terlambat. Baru aja pesawatnya Arfi lepas landas” ujarnya membuatku kembali harus terdiam. Ah sial! Kenapa selalu terlambat! Aku bodoh! Aku terus merutuki kebodohanku

“Ini, dia titip ini ke aku buat kamu. Aku gak tau apa yang terjadi diantara kalian tapi kurasa kamu perlu mengejarnya. Jelaskan apa yang harusnya kamu jelaskan. Jangan pernah lepaskan dia kalo kamu mencintainya”

Dia adalah Shinta, Shinta berlalu melewatiku setelah ia mengucapkan itu. Aku membuka kertas yang diberikan Shinta dan membaca isinya

Aku pergi dalam beberapa waktu. Kamu baik baik ya, jaga El. Setelah aku kembali kita akan selesaikan masalah kita.

A ♡ J

Kututup kembali surat itu lalu menoleh kebelakang

“Shinta!!”

Shinta menoleh ke belakang, tidak hanya Shinta namun beberapa orang juga memperhatikanku.

“Terima kasih!!”

Lagi aku berteriak bagaikan dihutan. Orang orang mungkin menatapku aneh. Tapi aku tidak perduli, Shinta hanya tersenyum dan mengangguk lalu ia melanjutkan jalannya kembali.

Aku pulang dengan perasaan lemas. Merenungkan semua yang Savira maupun Shinta ucapkan. Ku genggam surat itu dengan erat. Aku harus menyusul Arfi, ya harus!

***

Julia PoV

Ini sudah kesekian kalinya aku datang ke sini 3 minggu terakhir. Aku melakukan ini karena aku ingin pergi menyusul Arfi. Aku menemui Shinta.

Tok tok tok

“Masuk…”

Aku membuka pintu lalu melangkah masuk dan duduk dikursi depam meja Shinta

“Langsung aja?” Tanyanya.

Aku mengangguk senyum. Yaa aku melakukan proses pengambilan air susu ku. Entah dengan cara apa aku tidak mengerti dan lagipula aku terlalu malu unuk menceritakannya. Ini ide Shinta, dia memang cemerlang sekali isi kepalanya dan aku menyetujuinya. Setelah selesai dengan urusanku, aku kembali duduk dikursi.

“Kapan kira kira kamu perginya?” Tanya Shinta padaku

“Mungkin 3 hari dari sekarang”

Shinta hanya menganggukkan kepalanya. Ia melangkah pindah lalu duduk disampingku

“Kamu itu lebih beruntung daripada aku”

Aku mengeritkan dahiku

“Beruntung? Kenapa gitu?”

Shinta menoleh ke arahku, dia menatapku dengan senyum. Aku tau itu senyum yang menutupi kesedihan

“Aku bercerai dengan suamiku 5 tahun lalu. Usiaku saat itu 20 tahun dan aku telah mengandung anakku. Suamiku selingkuh dengan mantan kekasihnya. Rupanya ia belum menyelesaikan hubungannya dengan mantan kekasihnya. Aku yang saat itu masih berusia muda langsung menggugat cerai dia”

Shinta kembali menoleh ke arahku

“Kamu tau gak alasan suamiku dulu deketin mantannya lagi karena apa?”

Aku menggelengkan kepala

“Karena suami kamu”

Kali ini aku yang keheranan sedikit terkejut. Apa hubungannya mantan suaminya dengan suamiku? Tunggu, jangan bilang Shinta selingkuh dengan Arfi. Wah kok jadi ribet banget percintaan mereka

“Gak seperti yang kamu pikirkan kok. Aku emang udah deket sama Arfi sejak dulu. Tapi kami gak pernah menaruh perasaan apa apa”

“Terus yang buat suami kamu selingkuh dengan alasan suamiku apa?”

Shinta berdiri menatap jendela

“Suamiku gak suka dengan kedekatanku dengan Arfi. Aku yang saat itu menganggap Arfi adalah adikku sendiri membantah perintahnya untuk menjauhi Arfi. Itulah yang membuat suami aku selingkuh secara gak langsung. Memang gak masuk akal sih, tapi itulah namanya perasaan. Saat perasaan masuk ke dalam hati kamu, dia gak akan mentoleransi kedekatan kamu dengan siapa pun yang berlawan jenis dengan alasan apapun”

Aku terdiam mencerna ucapan Shinta. Kok kasusnya hampir sama denganku ya? Tidak! Aku dan Arfi tidak boleh seperti Shinta dan suaminya. Aku akan memperjuangkan pernikahanku.

“Untuk itu, aku bilang sama kamu. Kejar Arfi jelaskan apa yang mau kamu jelaskan. Yakinkan dia kalo hanya dia pemilik kamu seorang. Aku tau Arfi kok. Saat ada masalah dia akan pergi menenangkan pikirannya beri dia waktu tapi bukan juga kamu diamkan dia untuk waktu yang lama. Kamu pun juga harus berusaha untuk hubungan kamu dengannya, ia akan sangat menghargai usaha kamu. Percaya sama aku”

Untuk pertama kalinya, Shinta tersenyum lebar padaku. Biasanya ia akan selalu menekuk kedua alisnya. Wajah kesalnya yang selalu ia pamerkan, kali ini berbeda. Ia begitu cantik dengan wajah tersenyumnya yang tentu aja lebih cantikan aku sih(?) *loh

Semangatku membara. Setelah berbicara dengan Shinta aku berpamitan pulang dengannya. Senyumku mengembang, jika sebelumnya aku mendapat pelajaran dari Shinta bahwa wanita itu harus punya harga yang tinggi, sikap jutek sangat diperlukan bagi wanita kali ini dia mengajarkanku untuk menghargai perasaan suami. Ya begitulah secara tidak langsung yang kuterima

“Jul, lo otw kapan?”

“Lusa, Vir. Gue titip ya anak gue”

“Iye sip santai aja sih”

Pagi ini aku sedang berada di meja makan bersama Savira. Fahrie tidak ikut sarapan karena kesehatannya terganggu. Ia dibiarkan istirahat oleh Savira

“Jadi berapa lama lo disono?”

Aku yang hendak memasukan makananku ke mulut jadi menoleh ke arah Savira

“Entah, sampai Arfi mau gue ajak pulang”

Ku lanjutkan kegiatanku yaitu memasukan makanan ke mulutku hem ini enak juga. Sayur bayem sama nugget. Tunggu deh, yang masak siapa nih

“Ini lo yang masak Vir?”

“Oh jelas aja bukan, Bi Imas yang masak”

Yeeh si panjul aku kira dia yang masak. Disaat kami sedang menikmati sarapan kami, Savira kembali bertanya padaku

“Jul, Arfi kan udah mau sebulan tuh gak pulang. Emang lo gak merasa gatel?”

Aku menautkan alisku. Gatel? Aku gak ada keturunan buduk deh, apalagi penyakit kulit

“Nggak, gue mandi bersih kok”

“Aduh bukan itu maksud gue. Selama suami lo pergi kan lo tidur sendirian. Emang lo gak merasa pengen gitu apa?”

Si anjir malah bahas ginian. Perasaanku benar saat aku memutuskan makan sarapan hanya berdua dengan Savira. Dia ini orangnya random banget

“Mana kepikiran gue kesitu jir, gue aja kemaren hampir dicerein sama Arfi. Lo gila apa masih mikirin goyangan”

Savira terkekeh, lalu melahap suapan terakhirnya dipiring

“Ya kan kali aja. Soalnya disini kan laki cuma Fahrie..”

Aku mendelik ke arah Savira lalu melempar sendok bersih ke arahnya. Namun Naas, Savira berhasil menghindari sendoknya akhirnya sendok itu jatuh ke bawah 🙁

“Sue lu, gue bercanda doang…”

“Lo sinting bercandaannya. Gue gak ngapa ngapain aja udah terancam rumah tangga gua”

Savira makin tertawa keras mendengar itu

“Yaudah lo kawin lagi”

Si anjir enteng banget itu mulut

“Eh jangan kawin deng, nikah lah, kawin mah lo tiap hari dulu kan?”

Wah beneran nih si Savira minta disambit balok yang deket pos satpam. Btw itu balok punya siapa ya? Dan yang anehnya lagi itu balok buat apaan? Oke lupakan soal balok

“Vir lo mau gue usir dari sini?”

“Eh? Hehehe bercanda doang sih elah lu baperan amat”

“Candaan lu gak lucu”

Aku berdiri dan melangkah naik keatas menuju kamarku meninggalkan si cewek sinting yang tertawa puas dibawah. Aku bersiap karena hari ini aku mau ke tempat mertuaku, ya kerumah papah Bram dan mamah Carissha. Kok jadi aneh ya sebutannya

Setelah siap, aku menggendong El dan turun ke bawah

“Eh lo mau kemana Jul?”

“Gue mau ketempat mertua gue. Mau minta alamat Arfi disana”

“Tunggu sini bentar”

Savira berlari masuk ke kamarnya. Itu anak ngapain sih. Awas aja sampai cuma hal gak penting dia lakukan sih bener bener aku usir dia dari sini

Savira kembali sudah mengganti pakaiannya

“Ayo berangkat”

Dia jalan mendahului ku dan masuk ke mobil. Lah kok jadi dia duluan sih yang masuk. Aku mengetok kaca jendela mobilku

“Apaan?”

“Lu ngapain masuk duluan?”

“Gue nganter lo lah, udah cepetan masuk kita ke tempat om Bram”

Aku menggelengkan kepala tidak mengerti jalan pikiran Savira. Tapi biarin aja deh aku segera masuk ke dalam dan mobil pun jalan meninggalkan rumah

*

Aku sudah sampai dirumah mertuaku, langsung saja aku masuk ke dalam. Beberapa pelayan dan penjaga menyapaku namun aku hanya membalasnya dengan senyum sekilas

“Igun, bapak ada dirumah?” Tanyaku saat aku bertemu dengan salah satu pelayan rumah ini

“Ada non, sebentar saya panggilin”

Aku mengangguk lalu duduk disofa ruang tengah. Lagi asik asiknya duduk tiba tiba kepalaku ada yang memukul pelan

“Heh gue ditinggal diluar”

Duh! nih anak berisik banget sih

“Ya lo kelamaan sih, duduk aja sini”

Savira duduk disebelahku. Tiba tiba El menangis, sepertinya ia terusik karena suara Savira tadi. Aku segera menyusuinya dengan sebelumnya aku memperhatikan ke sekeliling dulu. Bahaya kalo ada orang lain.

“Buset Jul, lu nyusuin disini”

Aku hanya menganggukkan kepalaku

“Susu lu aslinya gede juga Jul”

Aku langsung membalikkan badanku memunggungi Savira

“Heh segede gedenya punya lu gue gak bakalan nafsu kali !”

“Yakali aja lo terangsang lihat dada gue”

Ditoyornya kepalaku dari belakang. Anjay ini anak bener bener ngeselin

“Ada mah lo yang belok. Lo kan udah hampir sebulan gak disentuh sama laki lo”

Aku hanya mendelik menoleh ke belakang. Setelah El sudah tenang, aku menutup kembali software ku. Iya ini kan perangkat lunak, karena memang lunak huehehehe

“Halo Julia, Savira apa kabar?”

Sapa papah mertua ku yang sedang menuruni tangga menghampiriku

“Woaah cucu papah yang lucu ini sedang tidur nyenyak banget sih. Ada apa Julia dan Savira datang pagi pagi begini?”

Aku tersenyum. “Gpp pah, kangen aja sama papah nih. Makanya kesini deh” ujarku

Papah mencondongkan tubuhnya ke arahku dan membisikkan sesuatu padaku

“Kamu jangan bilang kangen sembarangan. Nanti mamah dengar dia bisa cemburu”

Ucap papahku yang tentu saja bercanda. Aku dan papah tertawa sedangkan Savira hanya diam memandang kami.

Setelah ngobrol ngobrol. Kami berpamitan karena hari juga semakin siang. Yang tentu saja aku sudah mendapatkan informasi yang aku perlukan. Oh ya, ternyata Arfi tidak menceritakan apapun yang terjadi diantara kami. HuftFi

*

Arfi Pov

Hidup disini tenyata gak semudah yang gue bayangin. Gila aja, kerjaan disini padet banget. Ya meski gue masih dalam tahap trainning dan gue gak mengajukan kalo gue bakalan selamanya diperusahaan bokap gue yang disini. Alasannya mudah, Julia. Ya karena jauh dari dia gak bikin gue sanggup melupakannya. Beban gue malah nambah antara rasa kecewa dan kangen. Kangen banget gue sama dia, udah hampir sebulan gue tinggal disini.

“Permisi, ini berkas yang harus bapak pelajari”

Seorang wanita masuk ke dalam ruangan gue. Lah dia kok bisa bahasa indo

“Terima kasih, eh bentar deh. Kok kamu bisa bahasa indo?”

Dia hanya tersenyum

“Saya orang indo pak, asli cimahi kok. Cuma dipindah tugaskan aja kesini. Bulan depan saya pindah ke indo lagi”

Gue hanya mengangguk. Cimahi? Ahelah itu kan tempat kelahirannya istri gue. Kenapa sih kayanya dunia ini gak ngizinin gue untuk jauh dari
Julia. Saat gue mau berusaha melupakannya sejenak malah ada orang yang sekota sama istri gue. Huft!

Jam pulang kantor telah tiba. Eh kok kaya lagu anak anak sih, yaudahlah ya. Gue langsung menuju apartement gue yang kebetulan gak begitu jauh juga dari kantor. Sampai di apartement gue langsung bersih bersih. Selesai bersih bersih gue duduk dibangku balkon apartemen gue. Gue ambil hape gue dan memandang wallpaper hp gue.

“Aku kangen kamu tau” monolog gue.

Ya gue kangen banget sama Julia. Kangen pelukannya, manjanya, tingkahnya yang lucu juga kangen goyangannya. Oke harusnya gak usah gue ucap yang satu itu. Lupakan.

Beberapa hari belakangan ini Julia gak lagi ngirimin chat atau spam telfon lagi. Terakhir dia cuma bilang gini kalo gak salah inget ‘aku akan berjuang. Tunggu aja’ setelah itu dia mematikan telfonnya. Kata kata ambigu itu terus gue pikirin sampai saat ini. Apa maksudnya coba. Berjuang apa yang dia maksud

Bel apartement gue berbunyi. Gue berjalan hendak membuka pintu apartement gue. Siapa sih yang ganggu jam istirahat gue.

Ting tong

Ting tong

Sabar oi gila kali lu pikir gue langsung flicker gitu nyampe? Lah kenapa jadi bahas game(?) Mana itu game udah gue uninstall lagi

“Iya sabar.. bentar”

Gue buka pintu apartemen gue dan seketika gue membeku. Kaki dan tangan gue seketika berat untuk digerakkan. Pandangan gue terpaku memandang orang didepan gue. Dia, orang yang gue kangenin. Sekarang ada didepan gue berdiri dengan koper besarnya ditenteng ditangannya. Pertanyaan gue adalah dari mana dia tau gue disini

“Fi.. aku kangen, boleh aku peluk kamu?”

*

Gue menatap orang didepan gue. Jujur, gue gak tau harus ngapain sekarang. Setelah gue membawakannya minuman gue hanya diam memandang dia yang juga menatap gue

“Fi.. kamu masih marah?”

Bodoh! Gimana bisa gue marah. Yang ada gue marah sama diri gue sendiri. Gara gara ulah konyol gue jadi lo harus nyusul kesini

“Aku kesini karena aku mau berjuang”

Gue menautkan alis gue

“Berjuang?” Tanya gue dan dia menganggukkan kepala. Mau tau apa kesan gue saat melihat dia kaya gitu? Lucuk! Sumpah

“Berjuang buat apa?”

“Berjuang buat mempertahankan pernikahanku, dan yang terpenting memperjuangkan kamu”

“Aku?”

Julia malah berpindah duduk ke samping gue. Dia menggenggam tangan gue menatap mata gue. Oke ini kayanya serius

“Fi, aku minta maaf sama kamu. Aku gak ingin kamu terus salah paham. Paling gak izinkan aku menjelaskan ke kamu”

Gue menarik nafas gue

“Oke, jelasin”

Julia terlihat memejamkan matanya

“Gini, Reno itu emang mantan aku. Pantes gak sih aku sebut mantan kalo aku sama dia itu cuma saling suka aja. Kita gak sampai pacaran karena kedekatan kita ditentang orang tuanya. Cuma itu, setelah itu orang tua Reno menjauhkanku dengannya. Aku udah buang semua tentang Reno, karena…..”

Gue menoleh ke arah Julia menunggu dia melanjutkan ceritanya

“Orang tua Reno memaki maki orang tuaku. Aku melihat itu saat aku baru pulang sekolah. Meski Reno membelaku tapi apa daya seorang anak SMA sepertiku maupun Reno? Saat itu aku sadar kasta adalah segalanya”

Julia menundukkan kepalanya. Ingin sekali gue peluk tapi ada satu pertanyaan yang ingin gue lontarkan

“Terus kenapa saat dia datang kamu nerima dia?”

Julia menoleh

“Karena aku gk pernah merasa punya salah sama dia. Aku memang benci kedua orang tuanya, tapi ngga dengan Renonya. Reno baik kok sama aku dulu, meski orang tuanya begitu”

Gue menghembuskan nafas kasar gue. Ada perasaan keki dihati gue

“Tapi kayanya sekarang aku gak bisa nerima dia lagi”

Gue menoleh ke arah Julia cepat

“Kenapa? Bukannya tadi kamu bilang gak benci sama Reno?”

Julia malah tersenyum menatap gue

“Meski pun aku gak ada masalah sama Reno tapi suamiku gak suka aku deket sama laki laki lain. Biar gimana aku harus nurutin suami aku karena hidupku kini aku serahkan sama dia. Gak ada laki laki yang paling baik didunia ini selain suami aku. Karena hanya suami aku yang bertanggungjawab sama aku dunia maupun akhirat”

Jujur, gue mengerjapkan beberapa kali mata gue. Ini Julia asli? Seumur umur gue baru pertama kali denger kata kata indah dari istri gue. Apa ini istri gue yang sebenarnya? Jadi kemarin kemarin siapa dong?

“Jadi kamu udah gak ada perasaan apa apa sama Reno?”

Julia menggelengkan kepalanya

“Dihati aku cuma kamu. Cuma kamu yang mampu bikin aku nangis kejer kaya kemarin, cuma kamu yang bisa bikin aku galau, dan cuma kamu yang bisa bikin aku rela nempuh jarak ratusan bahkan ribuan kilometer untuk bisa sampai kesini”

Gue membelai pipi kanan Julia. Gue terharu dengan ucapannya. Mengusap pipinya lembut dengan ibu jari gue

“Maafin aku Fi, harusnya aku bersikap tegas kemarin. Tapi kamu gak usah khawatir dia gak akan aku terima lagi dirumah kita. Dan aku minta satu hal sama kamu”

“Apa?”

“Aku kan milik kamu. Kalo Reno datang lagi boleh aku sebut dia sebagai pengganggu? Dan yang terganggu aku. Lalu tindakan apa yang akan kamu ambil kalo istri kamu terganggu? Aku berlindung sama kamu, suami aku”

Gue tersenyum makin lebar. Beneran ini seperti gue jatuh cinta lagi untuk pertama kalinya

“Dia gak akan ganggu kamu lagi. Aku janji sama kamu”

Julia mengangguk. Dia menggenggam tangan gue yang berada dipipinya

“Fi..”

“Ya?”

“Kamu belum bilang mau maafin aku?”

Gue terkekeh pelan. Gue rangkuh tubuh Julia lalu memeluknya dengan erat. Pundak Julia bergetar, gue merasakan bahu gue basah. Ya, Julia kembali menangis dalam pelukan gue. Entah untuk kesekian kalinya gue buat dia nangis lagi. Gue usap punggungnya

“Aku maafin kamu”

    

*

Setelah lama kami berpelukan, mencurahkan rindu dalam dada. Gue melepas pelukan gue.

“Kita makan yuk? Kamu pasti belum makan kan?” Ucap gue

“Aku masakin buat kamu ya”

“Gak usah kita makan diluar aja, aku tau restoran enak disini dan aku yakin kamu pasti suka”

Julia menggelengkan kepalanya

“Aku tetep akan masakin buat kamu. Bentar, aku bersih bersih dulu ganti baju baru aku masak ya”

Julia berdiri lalu melangkah masuk ke kamar mandi. Buset tu orang kaya udah lama aja tinggal disini tau banget denahnya

Beres Julia ganti baju dia ngajak gue kedapur. Katanya sih mau masakin. Gue udah bilang gak usah, karena gue gak ingin istri gue cape selain itu….

“Kulkas kamu kosong gak ada bahan makanan yang bisa dimasak ini”

Gue tersenyum aja duduk dimeja makan menatap Julia yang terlihat kesal

“Kan aku bilang makan diluar aja”

“Kamu sini deh lihat kulkas kamu”

Gue berjalan ke arah Julia

“ada apaan? Gak ada apa apa”

“Coba nunduk tuh lihat”

Gue menunduk untuk melihat lebih dalam isi kulkas gue

Cup

Terkejut! Iya. Julia mengecup kening gue tiba tiba setelahnya dia malah nyengir nyengir gak jelas

“Kalo gak gitu aku gak bisa nyium kening kamu. Udah yuk makan diluar” ucapnya berjalan melewati gue. Lah somplak tuh anak. Tapi gue gak tau kalo Julia bisa bersikap semanis itu

*

Akhirnya gue ngajak Julia makan disebuah restoran deket deket sini. Males juga kalo harus jalan jauh jauh. Gue memesan beef steak sedangkan Julia memesan chicken steak.

“Kamu kesini, nanti El gimana?”

“Aku titip sama Savira selain itu…” Julia mendekatkan tubuhnya membuat gue melakukan hal yang sama. Dia membisikkan sesuatu membuat gue membulatkan mata gue

“Diperes gitu?”

“ih Arfi jangan teriak teriak berisik nanti kedengeran

“Kedengeran juga emang mereka ngerti bahasa kita?”

Julia terlihat memperhatikan sekeliling lalu menatap gue kembali dengan cengiran anehnya. Mungkin dia baru sadar kalo sekarang ada di salah satu kota….. eum, kasih tau gak ya? Hehehe

Ya udahlah ya lupain soal anak gue. Sejenak loh, gak selamanya. Soalnya kalo selamanya bahaya. Susah tuh gue bikinnya. Belom lagi Julia harus ngeden ngeden dulu. Bukan ngeden di WC, yakali ah masa anak gue keluar dari lobang yang belakang(?)

Selesai makan gue kembali ke apartement bersama Julia. Gue lurusin kaki gue naik ke atas meja tivi. Gile pegel juga ya.

“Fi?”

Gue menoleh melihat Julia udah mengenakan piyama tidurnya. Buset cepet banget dia gantinya

“Kenapa?”

“Kamu akan tetep tinggal disini?”

Oh gue ngerti. Gue tersenyum jahil

“Eum.. kayanya sih iya. Aku ngurus perusahaan papahku disini kayanya deh”

Julia menundukkan kepalanya. Ia juga meremas ujung pakaiannya. Gue menahan tawa gue

“Tapi…”

Dengan cepat Julia menatap gue

“Tapi? Tapi apa?”

“Tapi boong hehehehe”

Jduk

Aw!

Gile kepala gue diketok sendok. Sakit oi ! Tar dulu deh, ini istri gue sejak kapan jadi pesulap kok tiba tiba bisa megang sendok sih perasaan tadi tangannya gak megang apa apa.

“Sakit tau..”

“Lagian kamu nyebelin sih!”

“Harusnya mah seneng aku pulang malah diketok”

“Tadi kamu ngeselin sih. Aku ketok deh pake sendok. Aku juga gak tau itu sendok dari mana”

Lah bujuk. Jangan jangan istri gue keturunan cenayang, atau dia jelmaan nyai?

Gue menatap ke layar tivi mati depan gue.

“Aku pulang lusa kok. Itu rencananya emang sih. Tapi, makasih ya kamu sampai repot nyusulin aku kesini” ujar gue menoleh ke samping. Julia tersenyum. Ah memang senyumnya selalu manis.

“Makasih ya sayang udah maafin aku” ujarnya ceria

Gue tersenyum “kalo abis dimaafin harus ngapain?”

“Peluk!!”

Dengan cepat Julia memeluk gue. Gue balas pelukannya. Lama kami berpelukan akhirnya Julia melepas pelukannya menatap gue

“Kenapa?”

Julia menggelengkan kepalanya. Gue makin menatapnya aneh yang ditatap malah nundukin kepala sambil meremas ujung bajunya lagi

“Hey, kamu kenapa?”

Julia menatap gue, lalu membisikkan sesuatu dikuping gue. Ehem…

Gue tersenyum lebar. Kalo dipikir pikir iya udah lama juga nggak(?)

“Yuk, mau sekarang?” Tanya gue, Julia malah berpindah kepangkuan gue.

Gue langsung menggendongnya ke kamar. Ngapain ke kamar? Ya olahraga dong biar otot otot gak tegang dan butuh refleksi juga ini otot. Terutama otot yang dibawah(?)

*

Author PoV

Dirumah yang megah dengan dua buah pilar didepannya menambah terlihat megah. Taman diluarnya besar ada air pancur didalamnya, serta garasi yang besar yang dapat menampung lebih dari 7 mobil didalamnya. Benar benar rumah yang besar.

“Hari ini Arfi dan Julia pulang Mah?” Tanya Fahrie yang sedang memakai kemejanya.

“Iye pah, udah mendarat di indonesia malahan pah” balas Savira

“Aku seneng mereka bisa rujuk lagi. Berantemnya mereka serem bawa bawa perceraian”

Savira duduk ditepi ranjang lalu menatap Fahrie

“Kalo orang kaya seperti Arfi gitu mudah banget bilang cerai ya pah, mungkin mereka pikir bisa membeli apapun dengan uangnya. Padahal gak ada nominal untuk membeli kebahagiaan”

Fahrie menoleh melihat Savira yang berubah menjadi sendu. Ia duduk lalu mengusap kepala istrinya tersebut

“Aku takut pah, nanti kamu kaya Arfi. Kita berantem dikit kamu gugat aku cerai” sambung Savira

Fahrie tersenyum lalu mencium puncak kepala Savira.

“Orang itu kan beda beda. Mudah mudahan aku gak akan kaya gitu. Aku bekerja keras untuk kamu dan Theo. Cukup bagi aku melihat kamu pergi kerja malam pulang pagi, banyak hujatan yang kita terima dulu. Jadi tanpa kalian aku tidak punya alasan untuk melakukan hal ini”

“Aku seneng punya suami kaya kamu pah, inget ya pah, kesederhanaan adalah kunci utama kebahagiaan kita. Meski nanti kita udah sukses, kita gak boleh sombong”

Fahrie tersenyum

“Kamu benar, terlebih kepada keluarga Julia. Mereka sering bantu kita banyak Mah, papah rela jika nanti papah jadi bawahannya Arfi. Dia banyak bantu kita terlebih mereka menyayangi anak kita juga kan?”

“Iya pah, orang baik selalu ada didekat orang baik juga pah. Gracia aja begitu tau aku jagain anaknya Julia dia ngasih libur aku. Kayanya Julia banyak berbuat baik sama orang pah, dia inspirasi aku”

Fahrie mengangguk “mereka memang cocok jadi panutanque hehehe”

Bruakk

“Monyong monyong.. apaan tuh pah dibawah” latah Savira yang tentu saja membuat Fahrie menjauhkan wajahnya. Jelas karena latahnya Savira itu nyembur ludahnya ke wajah Fahrie

“Istri gue kadang kadang doang lempeng” Fahrie hanya menatap Savira yang berlari mengecek ke bawah. Kita lihat apa yang terjadi

Savira membelalakkan matanya begitu melihat rombongan makhluk sirkus. Ralat, rombongan teman teman Arfi maupun Julia. Ya, mereka adalah Gracia, Agus dan Okta, Iwan.

“Vir.. ini tuan rumah kemana?”

Teriak Gracia yang melihat Savira menuruni tangga

“Bacotnya gede amat nih anak” gumam Savira

“Belom nyampe bossque”

“yaaah~~ aku kan mau ketemu kakak Julia mau minta tips hamilnya” saut Okta yang sudah duduk disofa dengan kaki dilipat. Savira yang melihat itu hanya mengelus dada.

‘Ini tamu kenapa pada biadap sih’ ucapnya membatin

Fahrie yang baru turun pun keheranan melihat orang orang unik ini. Bagaimana tidak, Gracia yang membawa banyak makanan lalu dibukanya satu persatu sedangkan Okta memakan makanan yang dibuka oleh Gracia. Agus dan Iwan menghampiri Fahrie yang berdiri diam.

“bro bengong aja”

“Kita main aja yuk?”

“Eh?!”

Tanpa kata kata lagi digiringnya Fahrie oleh kedua makhluk laknat itu ke taman belakang. Entah permainan apa yang mereka maksudkan. Kita biarkan saja dulu Fahrie, biarkan dia terbiasa dengan tingkah gila mereka semua. Karena hanya Fahrie yang belum terkontaminasi gilanya

Julia PoV

Hatiku sangat senang bisa duduk dimobil taksi. Bukan seneng karena naik taksi melainkan dengan siapa aku naik taksi. Yaps, aku dan Arfi juga supir taksinya menuju rumahku.

“Didepan belok kiri pak” ujar Arfi dengan tangannya masih ditautkan ditanganku

“Maap pak, kiri itu tembok”

“Oh ya? Yaudah kanan pak”

Lagi lagi supir taksinya melirik pada kami melalu spion dalam

“Maap lagi pak, jalanannya cuma lurus pak gak ada belokan”

“Yaudah kalo gitu lurus aja pak gak usah belok belok”

Supir taksinya hanya menggelengkan kepalanya. Ini kok Arfi jadi konslet gini sih. Aku rasa supir taksi didepanku sudah geram dengan sikap Arfi, bagaimana pak Min ya supir pribadi Arfi. Pantes aja pak Min kepalanya botak, aku curiga mungkin sikap Arfi yang melatar belakanginya

Taksi berhenti didepan rumahku, aku bisa lihat ada dua mobil lainnya selain mobil kami. Ini mobil Agus dan Iwan, oh mereka dirumahku. Tapi tunggu, motor matic? Ah.. dia lagi, mau apa dia

Aku menoleh ke arah Arfi yang menatap lurus ke depan. Aku tau dia sedang melihat Reno yang duduk dimotornya.

“Yuk turun” ajaknya, namun aku menahannya

“Kamu bayar aja taksinya, biar aku urus dia”

Arfi menatapku detik berikutnya ia mengangguk lemah. Ku kecup bibirnya singkat lalu keluar dari taksi

“Hay, nyari siapa ya?”

Reno melihat lalu berdiri. Ia tersenyum, aku mengakui senyum Reno menawan tapi senyum Arfi memabukkan. Dan aku senang dibuat mabuk(?)

“Aku nungguin kamu, temen kamu larang aku masuk. Kasih tau sama temen kamu kalo aku itu tamu kamu”

Heh? Sejak kapan Reno jadi songong begini

“Oh ya? Artinya temen aku melakukan tugasnya dengan baik”

Reno sedikit terkejut dengan ucapanku

“Maksud kamu aku dilarang datang kesini?”

“Maaf, iya.. dan jangan pernah temui aku lagi”

Seketika wajah Reno memerah. Bukan merah karena digombalin tapi dia nahan emosi

“Belagu amat kamu Julia. Inget kamu dulu itu orang miskin dan cuma aku yang suka sama kamu”

Aku menahan sesakku, bukan karena ucapan Reno namun dadaku sesak karena, lagi dan lagi aku merasa terhina. Bayangan akan ucapan Shinta terlintas dipikiranku

“Dulu kan? Bukan sekarang. Denger Reno, banyak perubahan yang kamu lewati tentang aku. Aku bukan Julia yang dulu lagi”

“Lalu bagaimana dengan perasaanku ke kamu”

“Maaf Reno, itu hanya perasaan milik kamu. Aku gak lagi memilikinya sudah lama aku buang perasaan itu”

Reno menghampiriku, aku menatap matanya tajam

“Akan aku ingat ini Julia. Aku sumpahin kamu gak akan dapet cowok sekeren dan sebaik aku! Inget itu!!”

“Kayanya sumpah kamu gak akan terjadi sama aku karena aku udah mendapatkan laki laki yang jauh lebih baik dari kamu”

Bugh

Aku terkejut saat Arfi mendorong pundak Reno lalu dia berdiri didepanku

“lo bisa pelan pelan gak kalo ngomong sama perempuan?”

Reno berdiri lalu mengampiri Arfi.

“Lo siapa?”

“Gua, suaminya Julia. Dan lo udah ganggu istri gue. Harusnya lo udah gue lenyapin saat awal lo kesini”

Reno terlihat syok dia menoleh ke arahku yang berdiri dibelakang tubuh Arfi

“Lebih baik lo pergi dari sini dan jangan pernah lo balik lagi atau lo akan berurusan sama keluarga Juanto”

Reno yang mendengar kata Juanto langsung mundur dan menstarter motornya. Ia pergi dengan motor maticnya. Aku menatap Arfi dengan senyum

“Yuk masuk, kalo dia balik lagi aku akan bunuh dia” ucap Arfi menggandeng tanganku melangkah masuk

“Kenapa gak dimutilasi aja?”

“heh, kamu kaya dicerita sebelah”

“Hah? Apa?”

“Eng.. enggak”

Lah Arfi kenapa? Tadi dia bilang cerita sebelah? Oh aku disamakan dengan Julia dicerita sebelah hmm.. kalo begitu dia AW nya dong? Terus Okta jadi K*C gitu? Wkwk kok gak jelas sih

*

Aku melangkah masuk tetapi saat didepan pintu Arfi mencolekku

“Hapeku geter, ini pasti papah. Aku ke samping dulu bentar ya”

Cup

Arfi mencium keningku

“Pak imran, tolong bawakan koper nyonya ke dalem ya” perintah Arfi pada pak imran setelahnya ia berlalu.

Aku membuka pintu rumahku, dan…. astaga-_- ini apa apaan sih.

Pandanganku langsung tertuju pada Iwan dan Okta yang sedang main kuda kudaan. Okta menaiki punggung Iwan dan Iwan berkeliling memutari area sofa diruang tengah. Berbeda dengan Gracia yang…. loh Gracia kemana?

“Sstt.. Julia, sini”

Aku menoleh ke arah tangga mendapati Savira yang memanggilku

“Pak, kopernya taro depan kamar aja ya nanti saya yang bawa masuk” ujar ku pada pak Imran

“Baik Nya”

Aku melangkah mendekat ke Savira

“Ada apaan, lu kenapa ngumpet dibawah tangga gini?”

Bukannya menjawab Savira menarikku ke dalam lalu menutup pintunya. Kalian tau kan ruang penyimpanan dibawah tangga, biasanya sih dijadikan gudang, ada juga yang menjadikannya rak sepatu. Kalo aku gak menjadikannya apa apa. Karena memang barangku masih sedikit.

“Tamu lu sengklek semua ya, kalo Gracia mah biasa gue lihat. Ini dua makhluk itu ditambah lakinya Gracia juga ikutan sengklek”

“Emang mereka ngapain? Maksud gue si Gracia sama lakinya”

“Lo lihat aja noh ke kolam renang belakang. Gue kira mereka lagi berenang tapi mereka lagi…. udah ah lo lihat sendiri aja sono”

Savira mendorong tubuhku pelan lalu ia kembali menutup pintunya bersembunyi diruang penyimpanan itu.

Aku yang penasaran langsung melangkah menuju taman belakang. Ku cari keberadaan dua orang gila ini. Mataku menangkap mereka berdua sedang dikolam renang.

Eh tapi kok…. ah dasar pasangan hot gak lihat tempat banget. Dikolam pun dilakuin juga. Masuk angin sukurin lu! Rutukku pada mereka. Aku kembali melangkah masuk namun saat badanku berbalik hendak melangkah aku melihat Arfi berdiri diam mematung. Kuhampiri ia

“Fi, kamu ngapain?”

Ia sedikit terkejut lalu mengerjapkan matanya berkali kali

“Ah.. eng… enggak kok. Kok kamu disini, udah nelfonnya?”

Lah kok jadi terbalik gini

“Harusnya aku yang nanya sama kamu, kamu lihatin apa sih?”

“Eum.. gak ada kok. Yuk masuk”

Arfi meraih tanganku namun ku tahan. Aku membalik badanku mengikuti arah pandang Arfi barusan. Oh jadi ini yang membuat dia diam terpaku

“Eum.. sayang”

Aku melirik padanya

“Apa?!!”

Arfi terkejut. Sangat terkejut mendengar bentakanku. Pantes dia diem disini rupanya lagi live streaming adegan Agus Vs Gracia. Ngapain sih coba ih!

“Mata kamu tuh jelalatan banget sih, gak puas apa sama aku? Ngapain lihatin mereka? Hah!?”

“Aww… sakit sayang, iya iya nggak. Mereka aja yang gak tau tempat tau”

Aku kesal menjewer kuping Arfi. Kalo melihat dari sudut Arfi memandang ke arah mereka jelas saja tubuh polos Gracia bisa terlihat dengan jelas. Itu yang membuatku kesal padanya. Lagian ini pasangan gendeng ngapain disini juga sih hih!

“Ayuk masuk!”

“Aaww… addududuuhh iyaa sayanh jangan ditarik dong”

Aku tidak mengindahkan ucapannya aku terus menarik kuping Arfi hingga masuk ke dalam

Sampai dikamar aku mengganti semua pakaianku. Arfi hanya duduk ditepi ranjang memperhatikanku. Ah, lebih baik aku menyusui El saja deh.

“Sayang?”

Aku melirik sekilas pada Arfi sambil menyusui El

“emang kamu harus telanjang gitu ya kalo mau nyusuin bayi?”

Ya memang sedkit aneh juga, aku belum memakai pakaianku sehelai pun. Tapi tenang, pintu kamar sudah ku kunci kok. Karena ada Okta dirumahku jadi harus mengantisipasinya mengingat Okta ini suka main nyelonong wae ke kamar orang. Ngomong ngomong soal Okta, jika aku lihat anak itu membuatku sulit membedakan antara bodoh dan polos

“Ya emang kenapa?”

“Gpp sih, tapi kan…”

Aku ingin terkekeh namun ku tahan. Pandanganku tertuju ke daerah selangkangan Arfi. Dia berusaha menahan, eum mungkin sakitnya karena punya nya berdiri tegak dibalik celana.

Selesai menyusui aku kembali menidurkan El diranjangnya lalu memakai pakaianku lengkap agar aku bisa mengurangi penderitaan Arfi dengan juniornya itu.

“Turun yuk, kita makan. Aku udah pesen makanan dibawah udah dateng kayanya sih” ujar Arfi. Aku menganggukkan kepala.

Dibawah tidak ada lagi yang bermain kuda kudaan, dan pasangan mesum pun sudah duduk disofa dengan rapih. Wih berasa hidup dengan orang normal sekarang (?)

“Weoy! Kok lu dari atas Fi, kapan nyampenya?”

Aku maupun Arfi tidak ingin membalas ucapan Agus. Kami duduk disofa depan orang orang yang (kembali) normal ini

“Kakak, dulu waktu hamil kakak makannya apa aja?”

Pasir, semut, batu koral lu aduk terus lu blender tiap pagi lu gadoin tuh gituan

Ingin banget jawab kaya gini. Tapi nanti bahaya. Bahaya lah Okta mah polos tapi bego juga nanti kalo dia lakuin beneran gimana?

“Kaya biasa aja, aku sih gak rewel saat hamil dulu”

“Uhuk…”

Aku mendelik ke arah Arfi. Yang ku tatap malah makan biskuit dengan santainya

“Kak Julia dulu ngidamnya apa?”

“Emang kenapa?”

“Okta mau ikutin ngidamnya kaya Kak Julia”

Lah ngidam kok ngikutin sih. Aku menatap malas pada Okta tapi melihat wajah Okta yang sumringah menunggu jawabanku membuatku tidak tega. Ku alihkan pandanganku pada Iwan disebelahnya. Ia memberiku isyarat untul tidak mengatakan hal yang rumit. Emmm.. aku jadi punya ide jahil

“Aku dulu ngidamnya sate padang dan kamu harus makan itu jam 2 pagi. Terus rujak serut subuh subuh, sama bubur manado asli manado loh ya, ah bubur ayam juga pake ayam kampung tapi.. sama apalagi beb?” Ujar ku menoleh ke arah Arfi

“Jus sirsak pake garem, mangga muda asli dari pohonnya dipetik diujung tuh yang rumah ada anjingnya, sama melihat suami makan sate 40 tusuk jam 11 malem” Arfi menimpali. Ingin sekali aku tertawa

“Nah itu tuh, itu aku alami saat usia kehamilanku 6 minggu”

“Wah!! Pas banget usia kehamilanku juga 6 minggu kak!”

Aku hanya tersenyum. Iwan meringis lalu menyandarkan tubuhnya disofa

“Jul, emang lo hamil sampe segitunya?” Ujar Savira disebelahku

“Nggak kok, gue mah penyanyang suami. Tadi itu cuma drama aja hukuman karena mereka berantakin rumah gue”

Savira ikut terkekeh pelan. Aku menoleh ke arah Arfi yang sedang berbisik bisik dengan Fahrie juga, aku rasa mereka membicarakan hal yang sama

“Aku udah catet semuanya, nanti malam aku mau ngidam ah! Kakak ikutin kemauan aku semuanya ya! Ini kan karena kakak hamilin aku. Kakak harus tanggung jawab! Aku udah buat daftar ngidamnya!”

Iwan semakin lemas wajahnya pucat seperti mayat membayangkan kehidupannya akan sangat berat kedepannya.

“Gresay?”

“Apa Gussay?”

“Maafin kesalahanku ya selama ini, nanti kalo kita menikah terus kamu hamil jangan siksa aku kaya yang dilakukan oleh Julia dan Okta ya?”

Gracia tersenyum membelai pipi Agus. Agus tersenyum bangga karena dipikirnya Gracia akan jauh lebih pengertian dibanding aku dan Okta. Mungkin..

“Aku gak akan kaya Julia dan Okta kok sayang”

Lagi lagi Agus menampilkan senyuman bangganya. Arfi hanya melempar kulit kacang padanya.

Cih..

“Permintaanku cuma satu kok sayang” ujar Gre masih membelai pipi Agus. aku sedikit jijik melihatnya

“Apa itu sayang?”

“selama aku hamil aku mau kita liburan di disney land” ujar Gre membuat Agus menjadi pucat seperti Iwan. Senyum bangganya hilang entah kemana

“MAMPUS!!!”

ujar kami serempak kecuali Okta. Dan kami tertawa bersama.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48