Tentang Kita Part 41

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 41 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 40

Beberapa hari telah berlalu. Sikap Arfi masih belum berubah terhadap Julia. Namun Julia cukup senang karena beberapa hari belakangan ini Arfi sering dirumah dan pulang tepat waktu meski sikapnya masih agak dingin.

Julia masuk ke kamarnya, ia tersenyum begitu melihat punggung Arfi yang sedang menggendong El

“Mmuaah mmuaahh mmuaahh hehehe” ucap Arfi menirukan bahasa bayi.

Mungkin El punya bahasa tersendiri untuk bicara diumurnya yang belum genap satu tahun. Julia masih betah diambang pintu menatap punggung suaminya itu

“Papah sayang sama El sama Mamah juga. El cepet gede ya biar kita jalan jalan liburan ya.. minum susu yang banyak biar sehat biar kuat”

Arfi terlihat mencium El dengan gemas

“Maafin papah ya masih suka emosi sama mamah. Mamah kamu nakal suka deket deket laki laki lain. Kan papah gak suka, apalagi mantannya. Nanti kalo El udah gede terus mamah nakal El cubit aja ya terus bilang ke mamah, mamah jangan deketin cowok lain nanti papah marah loh gitu yaa.. hehehe”

Arfi terus berceloteh seolah El mengerti bahasa orang dewasa. Ikatan batin anak dan orang tua memang kuat, meski El belum dapat mengerti yang Arfi ucapkan namun ia diam dalam gendongan Arfi dan menatapnya seolah mengerti apa yang Arfi katakan. Lain dari itu, Julia berusaha mengapus air matanya yang jatuh. Ia berjalan mendekati Arfi

“Fi, mau aku buatin teh hanget?”

Arfi menoleh ke arah Julia. Ia tersenyum lalu berdiri meletakkan El dalam ranjangnya membiarkan anaknya bermain disana

“Gak usah, makasih ya. Aku tadi kangen El aja. Mau ngobrol sama dia. Dia lucu juga”

Julia tersenyum getir

“Aku ke bawah dulu ya sebentar”, ujar Arfi berlalu namun Julia menahan tangannya membuat Arfi menoleh

“Terakhir kamu bilang sebentar, kamu gak kembali ke kamar. Berakhir di aku yang tidur sendirian disini. Kamu menghindar dari aku?”

Arfi tersenyum lalu mengusap pipi Julia lembut

“Kenapa kamu baru menyadarinya? Saat itu aku bilang sebentar dan ternyata aku pergi sudah setengah jam berlalu kamu gak nanyain waktu sebentarnya aku? Sekarang aku bilang sebentar kenapa kamu nanyain sebentarnya aku?”

Julia menatap Arfi. Ia berusaha menahan air matanya yang akan menetes

“Oh mungkin saat itu berbeda. Kamu punya teman yang bisa diajak ngobrol. Tapi sekarang nggak, apa perlu aku panggil dia untuk menemani kamu supaya kamu gak bosen sementara aku menyelesaikan pekerjaanku dibawah?”

Arfi melangkah dari sana meninggalkan Julia yang masih mematung akibat ucapan Arfi. Saat Arfi menghilang dari kamar Julia menangis, kakinya tidak mampu lagi menopang berat tubuhnya. Ia menangis meremas bagian dadanya. Terasa begitu nyeri sekali. Hanya dengan ucan Arfi mampu membuat Julia merasakan sesak dirongga pernafasannya

***

Pagi harinya Arfi sudah berada dimeja makan. Ia sedikit berbincang dengan Fahrie, sesekali Savira menimpali ucapan mereka. Mereka terlihat sudah akrab. Bukan tidak tau, Fahrie dan Savira memilih diam dan tidak terlalu mencampuri urusan tuan rumah tersebut.

Julia duduk berhadapan dengan Arfi. Arfi yang melihat mata Julia sembab hanya menarik nafasnya dalam. Ia tau, istrinya pasti menangis semalaman. Dan itu membuatnya sangat merasa bersalah, namun disisi lain ia tidak bisa melupakan rasa kecewa yang Julia perbuat padanya. Hanya waktu, ya.. dia hanya butuh waktu

***

Gracia berjalan dikantor hendak masuk ke dalam setelah jam makan siang berakhir. Langkahnya terhenti saat ia menangkap sileut orang yang ia kenal

“Loh itu kan Arfi… sama siapa tuh? Akrab banget”

Gracia melihat Arfi sedang berbicara dengan seseorang wanita. Wanita itu adalah Shinta. Ia berbicara mengenai jadwal cek up El pada Arfi. Gracia hanya mendengar itu, namun yang ia tidak mengeri adalah kenapa harus datang ke kantor jika memang hanya membicarakan jadwal cek up anaknya. Gracia menggelengkan kepalanya lalu beranjak dari sana

***

Tepat pukul 6 sore Arfi pulang. Ia memasukkan mobilnya ke dalam garasi. Namun ia tidak sendirian, ia bersama Shinta yang akan mengecek kesehatan rutin El dirumahnya. Arfi juga sebelumnya sudah memberitahukan pada Julia bahwa ia akan pulang bersama Shinta untuk menjalankan jadwal cek up rutin El

“Gue udah cek kesehatannya. Coba kalo tidur Ac nya jangan terlalu dingin deh, terus kalo bisa dibeliin baju hangat ini anak lo. Kedinginan ini sih, biasa kok” ujar Shinta selesai mengecek kesehatan El

“Tapi anak gue gak sakit serius kan?”

Shinta melepas stetoskopnya lalu menatap Arfi

“Nggak kok. Nanti gue kasih resepnya lu tebus ya”

Arfi mengangguk

“Eum.. Shinta, boleh minta tolong lagi?” Tanya Julia. Shinta berbalik menatap Julia dengan senyum

“Katakan saja..”

“Gini, dibawah anaknya temenku baru keluar dari rumah sakit. Kemarin dia jatuh dari tangga, tolong periksain kesehatannya juga ya”

Shinta mengangguk. Mereka bertiga meninggalkan kamar dan turun kebawah menuju kamar Savira

“Vir, ini dokter Shinta. Dia mau meriksain kesehatan Theo, boleh?” Ucap Julia

“Oh boleh silahkan, anaknya baru aja tidur tuh”

Mereka masuk ke dalam kamar Savira. Shinta memeriksakan kesehatan Theo. Dahinya berkerut

“Pernafasannya agak kurang lancar” ujar Shinta

“Terus gimana dok, ada obatnya?”

Shinta menggelengkan kepalanya “gak usah pake obat. Kalo pake obat dosisnya akan tinggi kasihan anak kamu. Lebih baik setiap pagi kamu rebusin air panas, taro disebuah wadah lalu suruh anak kamu hirup uapnya sampai air itu menjadi hangat. Minimal 3x ya rutin”

Savira menganggukkan kepalanya. Setelah tugas Shinta selesai mereka mengajak Shinta makan malam terlebih dahulu sebelum mengizinkan Shinta pulang.
Setelah makan malam, Shinta pamit pulang

“Mau gue anter lagi?” Ucap Arfi

“Gak usah, ade gue bentar lagi sampe kok. Kebetulan dia juga lagi main disekitaran sini” ujar Shinta dengan senyum ramah. Tidak hanya Julia, Savira dan Fahrie pun memperhatikan sikap Shinta kepada Arfi

“Tuh motor ade gue. Gue pulang ya. Semuanya, makasih ya aku pamit dulu”

“Iya hati hati ya Shinta”

“Makasih bu Dok”

Shinta hanya menganggukkan kepalanya. Ia menaiki motor matic adiknya lalu pergi dari sana. Arfi langsung melangkah masuk ke dalam saat Julia akan mengeluarkan suaranya. Melihat gelagat itu, Julia kembali murung. Tepukan dibahunya membuatnya menoleh ke samping

“Sabar ya, butuh waktu. Gue yakin kok Arfi masih sayang sama lo”

Julia mengangguk tersenyum. Senyum yang dipaksakan olehnya

***

Pagi ini setelah Julia memandikan El juga melakukan hal hal yang biasa ia lakukan pagi hari. Ia terdiam dipinggir kolam ikan miliknya. Kolam yang Arfi buatkan untuknya dan benar benar Arfi yang membuatnya. Mulai dari menggali tanahnya, menyemennya hingga membeli ikan yang Julia inginkan. Semua Arfi yang lakukan. Ucapan yang Arfi katakan dulu adalah ‘aku ingin bikin kamu seneng dengan usahaku. Ya meski hanya kolam ikan tapi aku buatnya sungguh sungguh kok’

Julia menebar makanan untuk ikan ikannya. Ia duduk ditepi kolam memandangi ikan ikannya yang melahap makanan yang ia berikan.

“Woy, bengong mulu lu. Da paan sih, cerita kenape sama gue”

Julia segera menghapus air matanya yang akan jatuh membasahi pipinya. Ia tersenyum pada Savira

“Yee malah senyum, lu naksir sama gue ya sering senyumin gue? Jadi curiga gue nih”

Savira terus berusaha menghibur Julia. Ia tau, sangat tau permasalahan yang sedang dihadapi Julia. Namun ia tidak tau penyebab masalah yang dihadapi Julia. Beberapa kali Fahrie mengobrol dengannya, dan Fahrie berkata bahwa teman laki lakinya Julia adalah penyebab Arfi berubah. Namun Savira tidak ingin menafsirkan sesuatu terlalu cepat

“Kok lo gak kerja?” Julia bertanya

“Nggak, gue dikasih libur hari ini”

Julia hanya mengangguk. Mereka terdiam sibuk dengan pikiran mereka masing masing

“Vir.. lo pernah ketemu sama temen, atau mantan lo saat lo sekolah dulu?”

Savira menoleh ke arah Julia menatap wajah samping gadis itu

“Pernah, kenapa?”

“Fahrie tau?”

“Tau”

Julia menoleh menatap wajah samping Savira

“Terus tanggapan Fahrie apa?”

“Biasa aja.. lagian kan gue ketemunya juga gak sengaja. Pas gue ketemu mantan gue juga malah Fahrie ngobrol sama dia”

Julia menatap wajah Savira. Merasa diperhatikan Savira menoleh dan pandangan mereka beradu

“Kenapa lu nanya ginian sama gue? Ini masalah lu sama Arfi?” Tanya Savira. Julia menghembuskan nafasnya

“Iya, disaat Fahrie biasa aja waktu lo ketemu mantan lo, Arfi berbeda. Dia kaya gak suka bahkan dia terlihat menghindari gue. Gue sebelumnya gak tau sampai gue denger sendiri kalo dia memang cemburu dan kecewa sama gue cuma karena gue ngobrol sama mantan gue”

Savira terkekeh mendengar cerita Julia

“Lo bilang cuma? Heh Julia, laki lo aja sama laki gue udah beda. Nama aja udah beda meski mereka sama sama punya batangan. Sorry harusnya lo bisa lebih menghargai perasaannya”

“Maksud lo?”

Savira menatap Julia ia juga menghadapkan tubuhnya menghadap ke Julia

“Lo harusnya bisa menghormati perasaan laki lo. Ya mungkin Arfi emang gak suka sama lo yang deket sama mantan lo. Lo cerita gak sama mantan lo kalo lo udah nikah?”

Julia menggelengkan kepalanya

“Nah ini begonya elu. Gimana gak laki lo uring uringan. Gue yakin mah Arfi begitu karena dia cemburu”

Julia menundukkan kepalanya. Apa yang diucapkan Savira benar.

“Lo udah pernah coba jelasin ke Arfi?”

Julia kembali menggelengkan kepalanya

“Gue takut”

Savira mengerutkan dahinya

“Nah satu lagi nih kebegoan lu juga. Harusnya saat pertama kali Arfi berubah sikapnya ke elu, lu tuh langsung coba jelasin. Gak mungkin kan orang berubah tanpa sebab”

Lagi, Julia terdiam. Seperti ada yang menohok tenggorokannya. Semua yang diucapkan Savira benar. Hanya karena ia terlalu takut menatap Arfi dengan tatapan dinginnya. Andai ia tidak terlalu sepengecut itu tentu masalah ini tidak akan berlarut larut

“Arfi itu masih muda Jul, lo jangan mengantu sistem wanita selalu menang. Pada dasarnya wanita kalo ditinggal lakinya bisa apa? Kaya lo nih, lo biarin itu salah paham merasuk ke dalam pikiran Arfi terus nanti suatu saat dia ninggalin lo tiba tiba gimana?”

Julia tersentak mendengar ucapan Savira

“Lo mah nakutin gue”

“Yee namanya laki, apalagi laki lo masih muda, ganteng, tajir lagi, siapa yang gak mau sama dia. Gue aja nih kalo belum punya Fahrie udah gue tikung lu mah Jul”

Julia mendelik ke arah Savira yang sedang tertawa. Detik berikutnya ia mencipratkan air kolam ke wajah Savira

“Eh basah oi ! Gue becanda kali emang gue perempuan apaan. Ya udah tuh pencerahan dari gue dipikirin ya. Ati ati lo ntar Arfi malah kesemsem sama dokter muda yang kemarin bahaya loh”

“Hah? Shinta maksud lo?”

“Nah iya Shinta. Jangankan gue, Fahrie aja bilang gini kok Dokter tadi kalo menatap Arfi beda ya, dia juga senyum terus ke Arfi gitu. Ati ati lo Jul”

Pikiran Julia melayang saat Arfi menceritakan kedekatannya dengan Shinta dulu. Rasa cemas mulai menghantuinya, bayangan akan kehilangan Arfi merasuk ke dalam pikirannya

“Gak! Nggak boleh ada yang ngambil Arfi dari gue! Arfi milik gue!”

Savira terkejut tiba tiba saja Juliq berteriak histeris

“Gila lo teriak teriak”

Disaat mereka sedang saling mencipratkan air kolam, Bi Imas datang menghampiri mereka

“Maaf Neng, ada tamu didepan”

Julia menoleh

“Siapa Bi?”

“Gak tau neng, katanya mau ketemu sama neng Julia”

Julia mengangguk lalu berdiri keluar menemui tamunya. Sampai diteras ia tidak melihat siapapun. Ia melangkah keluar hingga pos satpam. Pandangannya menggelap, ia terkejut berusaha berontak namun tenaganya kalah

“Ayoo tebak aku siapa?”

Tubuh Julia menegang, ia tau siapa suara itu. Harapan kecilnya pudar sudah, ia berharap yang melakukan itu adalah Arfi, namun dugaannya salah. Matanya kembali melihat karena orang itu telah melepas tangannya yang menutupi mata Julia. Dia adalah Reno

“Oh kamu, ada apa?” Ucap Julia sedikit sinis. Pasalnya ia mulai tidak suka kehadiran Reno kesini

“Aku cuma kangen kamu. Gak boleh ya? Atau kamu lagi sibuk” ucap Pria didepannya tanpa ada rasa bersalah. Julia membelalakkan matanya. Ia menepis tangan Reno saat akan mencubit pipinya.

“Reno, aku—”

“Ada tamu kenapa diluar? Suruh masuk aja” ujar seseorang membuat Julia terdiam.

Kali ini ia tidak mungkin salah. Ia tau suara siapa ini, ia berbalik perlahan dan benar saja Arfi sedang berjalan ke arahnya

“Bercandanya mesrah banget, kaya di film india” ucap Arfi kembali saat melewati Julia dan Reno.

Reno hanya menatap Arfi bingung. Berbeda dengan Julia, air keringatnya sudah membasahi pelipisnya. Ia berlari mengikuti Arfi tidak menghiraukan panggilan Reno. Sesaat Julia masuk, Savira keluar dari pintu samping menemui Reno

“Mendingan lo balik deh. Dan kalo bisa jangan kesini lagi”

Reno menatap Savira heran

“Lo siapa lagi merintah gue?”

Savira yang kesel menarik nafasnya

“Pak Imran, tolong bawa laki laki ini keluar dan jangan biarin dia masuk lagi” ujar Savira.

“Baik Mba”

Pak Imran langsung membawa Reno keluar meski Reno memberontak.

Julia mencari keberadaan Arfi. Dikamar tidak ada, ia terus mencari Arfi ke seluruh ruangan dirumahnya. Langkahnya terhenti saat ia menemukan Arfi yang tengah duduk ditaman belakang rumahnya. Ia berjalan mendekat

“Kenapa ke dalem? Bukannya harusnya kamu nemenin tamu kamu?”

Langkahnya terhenti saat Arfi lebih dulu membuka suaranya padahal Arfi belum menoleh ke arahnya. Julia menahan sesak di dadanya.

Arfi berbalik badan lalu berjalan melewati Julia. Ya ia hanya melewatinya, Julia memejamkan matanya. Semua ucapan Savira berputar dikepalanya. Rasa takutnya pun menghantuinya. Julia berbalik mengejar Arfi.

“Arfii ! Tunggu!”

Arfi menghentikan langkahnya. Ia berbalik menatap Julia

“Apa?”

Julia berlari langsung memeluk tubuh Arfi erat. Ia menangis dalam pelukan Arfi. Tangisannya semakin pecah saat ia menyadari bahwa Arfi tidak membalas pelukannya.

Julia PoV

Aku terus memeluk tubuh yang selama ini aku rindukan. Aku tau ia tidak membalas pelukanku. Setidaknya aku bisa memeluknya

“Sudah cukup, kamu jangan nangis lagi ya”

Arfi menghapus air mataku. Namun sia sia, air mataku terus menetes. Aku menatap wajah Arfi. Wajah yang selama ini selalu menemani tidurku namun beberapa hari belakangan ini wajah ini tidak dapat lagi ku pandangi sebagai penghantar tidurku

“Cukup ya, jangan nangis lagi”

Aku menggenggam tangan yang ia gunakan untuk menghapus air mataku. Ku kecup tangan kokohnya yang biasa ia gunakan untuk memelukku.

“Maafin aku Fi, maafin aku. Jangan cuekin aku gini. Aku sayang kamu Fi”

Arfi hanya tersenyum. Ia sedikit menjauhkan tubuhnya lalu berbalik hendak meninggalkanku. Tidak, aku tidak mau ia pergi meninggalkanku lagi

“Arfi kamu mau kemana?”

Arfi berhenti sejenak, lalu kembali melanjutkan langkahnya. Aku berlari mengejarnya menahan tangannya

“Kamu mau kemana?”

“Aku mau ke kantor, ini masih jam 11 siang”

Aku melepas tanganku

“Nanti kamu gak lembur kan? Aku mau makan malam sama kamu” ucapku

“Aku rasa aku hanya kesini saat aku merindukan El. Selain itu tidak ada alasan aku kesini lagi”

Jantungku seperti berhenti berdetak, kaki ku gemetar. Air mataku hampir menetes. Aku tidak percaya ini, Arfi akan mengucapkan itu padaku

“Tapi Fi, ini rumah kita. Ini impian kita dan kebahagiaan kita disini”

Arfi melirik padaku, tatapannya tajam menatapku. Air mataku tidak lagi bisa kutahan

“Kupikir begitu, tapi aku salah. Aku rasa aku tidak cukup percaya diri dalam sebuah saingan percintaan. Aku lebih memilih mundur jika aku dalam situasi tersebut. Jadi–”

“Nggakk Arfi ! Aku sama Reno gak ada apa apa! Aku mencintai kamu!! Aku cuma sayang kamu!!”

Arfi berbalik menatapku

“Lalu kenapa kamu gak pernah cerita sama aku? Aku dengerin obrolan kamu saat dilorong rumah sakit saat itu, lalu kamu diantar pulang sama mantan kamu itu juga, saat malam hari itu pun kamu menerimanya disini, dan tadi kamu bercanda mesrah disini! Dirumah ini yang kamu sebut sebagai kebahagiaan kita! Apa itu pantas kamu sebut tempat ini kebahagiaan kita?!!”

Air mataku mengalir deras, aku melihat Arfi dengan tatapan marahnya. Setelahnya ia memejamkan matanya lalu berbalik

“Lusa aku akan pindah ke german mengurus perusahaan papahku disana. Aku akan mengurus semuanya, jangan khawatir aku akan terus menafkahi El. Dan rumah ini akan aku hibahkan untuknya. Selamat tinggal”

Arfi pergi meninggalkanku. Kaki ku terasa kaku. Otakku memerintahkanku untuk mengejar dan menahan Arfi namun ototku semuanya kaku tidak dapat ku gerakan. Detik selanjutnya aku kehilangan kesadaranku.

Arfi Pov

Toktoktok

Klek

“Loh? Lu ngapain kesini Fi?”

Gue terdiam diambang pintu menatap orang didepan gue. Dia menatap gue heran karena tiba tiba gue ke apartementnya terlebih ini bukan jam yang baik untuk bertamu.

“Sini masuk dulu”

Tangan gue ditarik ke dalam apartementnya. Gue duduk, lalu orang itu membawakan air putih dan memberikannya ke gue

“Gue kehabisan sirup, adanya air putih.. jadi ada apa lo dateng kesini tengah malem?” Tanyanya lagi.

Coba tebak gue ada dimana? Bener, ini diluar akal sehat gue. Kaki gue menggiring gue ke apartement Shinta jam 11 malam! Gila gak tuh! Harusnya gue kerumah Iwan kalo aja dia gak lagi dirumah mertuanya. Atau gue kerumah Agus kalo aja dia gak lagi liburan di omnia, Bali. Gracia? Jangan deh, ntar dia minum obat gituan lagi malah guenya makin ribet kan mengingat bentuk tubuh Gracia sama Julia itu 11 12. Bahaya kalo gue khilaf.

“Gue tanya malah bengong”

Gue mengerjapkan beberapa kali mata gue

“Ah.. sebenernya gue gak ada tujuan dateng kesini, Mba”

Ya gue emang terbiasa manggil Shinta dengan sebutan Mba’ karena emang dia lebih tua dibanding gue dan mukanya yang kaya mba mba.

“Ya terus lu ngapain kesini?”

“Emang gue gak boleh kesini?”

“Ya…” Shinta melirik jam dindingnya. Ya gue tau ini udah ampir tengah malam “kenapa lu gak pulang istri lu nungguin”

Udah gue duga pasti Shinta bakal nanyain hal kaya gini

“Gue lagi ada masalah sama istri gue”

Shinta mengerutkan dahinya menatap gue

“Cuma laki laki yang pengecut saat ada masalah dengan istrinya dia malah lari dari masalahnya. Harusnya lo bicarain masalah lo, bukannya malah lo kabur”

Shinta emang bener, dan gue juga emang udah ada niatan untuk membicarakan masalah gue. Gak mungkin gue membiarkan Julia terlantar karena Ego gue. Eh tapi itu bisa dibilang ego bukan sih, kan Julia duluan yang bikin gue kecewa

“Harusnya emang gitu, tapi gue butuh waktu. Masalah pertama belom selesai udah ada masalah lagi dengan tema yang sama”

“Nah itu masalahnya, harusnya dari awal masalah lo langsung bicarain sama istri lo bukannya diem. Pikiran orang itu beda beda Fi gak bisa lo samain”

Gue terdiam. Shinta yang sekarang lebih terlihat kaya nyokap gue. Atau perlu gue ubah panggilannya bukan mba lagi tapi Mah… jangan! nanti malah salah paham orang.

“Pulang lo sono selesaiin masalah lo”

Gue menggeleng

“Gue perlu waktu”

“Terus lo mau sampai kapan disini? Aneh aja sih lakinya malah yang minggat masa”

“Malam ini aja kok. Besok siang gue ke kantor lembur disana dan paginya lagi gue flight ke jerman”

Shinta terlihat terkejut mendengar ucapan gue. Detik berikutnya dia mencoba bersikap biasa aja sambil mengalihkan pandangannya.

“Yaudah lo tidur di sofa ya? Apartement gue cuma satu kamar doang”

Gue mengangguk. Gue udah menganggap Shinta ini kakak gue sendiri. Meski gue sering banget lupain dia wkwk nah apa jadinya kalo gue tidur sekamar sama Shinta? Gak akan terjadi apa apa kan gue tidurnya dibawah palingan dan dia dikasur. Eh? Kok kaya keinget masa lalu ya(?)

Gue udah mengganti baju gue dan bersiap untuk tidur di sofa. Di sofa loh, bukan dikamar hehe

“Loh, lo belom tidur Shin?”

Shinta menoleh ke arah gue lalu mematikan tivinya. Yah padahal gue mau nonton tivi. Dia beranjak

“Gue nungguin lo kali aja lo nyasar malah masuk ke kamar gue duluan”

Songongnya gak ilang ini anak

“Weelah, gue kira apaan. Lagian kalo kita sekamar juga gak akan terjadi apa apa. Lo udah tua”

Shinta menghentikan langkahnya lalu berbalik menatap gue. Mampus gue nih

“Alah yang 26 tahun aja disikat juga. Apalagi gue yang 25 tahun. Tuaan juga bini lo!”

Eh dia ada benernya juga yak

“Beda setahun doang lu sama doi”

“Tetep aja mudaan gue. Kencengan gue!”

Brakk

Anjir segala dibanting itu pintu. Oh ya gue lupa bilang kalo Shinta ini sensitif untuk soal usia dan juga bentuk tubuh. Jadi Shinta ini orangnya ingin selalu terlihat muda dan sekseh.

Pernah ada cowok yang ngeledekin Shinta itu tua dan akhirnya dia disiram jus pas dimukanya. Rugi kan tuh, iyalah rugi orang itu jus gue. Itu terjadi saat gue dan Shinta masih duduk dibangku kuliah. Gak ngerti lagi dah sama itu manusia

Gue ngecek Hape gue. Buset banyak banget panggilan gak terjawab dan pesan yang gak gue baca. Tapi gue abaikan itu semua. Gue cukup ngecek email yang masuk dari sekretaris gue. Setelahnya gue matiikan hape gue dan tidur.

***

Pagi harinya tidur gue terganggu karena punggung gue kaya ada yang neken neken ini. Bentar deh, kok gue jadi tengkurep diubin gini sih. Gue mencoba bangun tapi badan gue terasa berat kaya ada yang nahan. Gue nengok ke belakang sebisa gue

Si anjir ngapain si Shinta malah dudukin badan gue

“Woi ini badan gue bukan sofa!”

Shinta langsung bangun, akhirnya gue berdiri juga. Gila si Shinta ramping doang ternyata beratnya mah tetep aja berasa

“Mandi lo sono” perintahnya langsung ninggalin gue.

Aduh merentek nih pinggang gue. Dan itu kenapa gue bisa tidur dibawah sih jadinya. Tunggu deh, oh iya gue semalem mimpi metik mangga terus jatuh dari pohonnya. Harusnya kan pas dimimpi jatoh gue langsung kebangun kok gue malah nggak ya. Lelap banget gue tidur hmm!

Gue udah bersiap pergi ke kantor. Karena waktu udah menunjukkan jam 10 pagi. Gue melihat Shinta lagi bicara sama anaknya di ruang tengah

“Nanti mamah anter dede kerumah nenek ya, dede jangan nakal loh disana. Pulang mamah jemput lagi, kita makan malam diluar oke”

“Iya mah..”

Pemandangan selanjutnya bikin gue iri. Shinta memeluk anaknya dengan penuh kasih sayang. Oh ya fyi nih, Shinta itu Single parents dia dan suaminya udah cerai sebelum anaknya lahir. Gue gak tau pasti kenapa Shinta cerai karena sampai saat ini Shinta gak pernah cerita apapun sama gue. Dan gue gak mau menanyakan hal itu karena itu bakalan bikin dia inget sama perceraiannya lagi.

“Shin, lo naik apa ke rumah sakit?” Tanya gue saat gue rasa adegan drama antara Shinta dan anaknya udah selesai

“Naik motor gue”

“Gue anter aja yuk. Kasihan anak lu tuh kepanasan ntar”

“Udah biasa. Lo ke kantor aja”

Namun gue tetep maksa untuk nganter Shinta ke rumah sakit

“Gue harus kerumah orang tua gue dulu sebelum ke rumah sakit. Gue sendiri aja gpp ntar lo telat”

“Kagak! Udah ayo cepetan lama lo”

Akhirnya Shinta setuju dengan tawaran gue yang tentu aja gue juga berjanji untuk menjemput dia setelah pulang dari rumah sakit. Ya gpplah, itung itung biar gue dikasih nginep lagi nanti malem kan. Sebenernya gue bilang lembur itu alasan aja kemarin biar dikasih tidur disini semalem. Fyi lagi nih, selain Shinta itu gak suka dibilang tua dia juga pelit orangnya. Bukan pelit tapi perhitungan, jadi kesannya dia asik dengan dunianya sendiri. Ya gitulah dia, dan alasan kenapa gue bisa cocok berteman sama Shinta itu karena gue memiliki sifat yang sama dengan dia.

Akhirnya gue sampai dirumah sakit dimana Shinta bekerja setelah mengantar anaknya terlebih dahulu ke rumah orang tuanya

“Jam 5 inget jangan telat!”

Gue hanya mengacungkan jempol gue lalu melajukan mobil gue ke kantor. Sampai dikantor gue melihat Julia duduk dilobby sendirian. Gue tarik nafas gue lalu melangkah menghampirinya, baru beberapa langkah tangan gue ditarik sama Melita. Melita itu sekretaris gue dia juga temen sekampus gue dulu.

“Ini udah jam berapa oi ! Para staff udah nungguin lo tuh, cepet ah kita ada meeting”

Tangan gue terus ditarik berlawanan arah dari tempat duduk Julia. Karena keributan yang diciptakan oleh sekretaris sepeleng gue membuat Julia melihat ke arah gue. Gue cuma menoleh sebentar dan tatapan kami beradu beberapa detik sebelum gue benar benar belok ke lorong arah ruangan meeting

Meeting pun selesai gak berlangsung lama karena memang semua persiapan sudah matang. Ini proyek besar soalnya. Gue berharap masih ada Julia dilobby. Yah, harapan gue sirna sepertinya, dia udah gak ada padahal meeting tadi cuma setengah jam kurang. Gak bisa dibohongin gue emang kangen sama dia, iya dia Julia gue.

***

Gue diperjalan akan menjemput Shinta. Seperempat jalan lagi sampai di rumah sakit tapi masalahnya ini udah jam setengah 6. Yak gue telat banget. Shinta abis ini bakalan bunuh gue deh

Mobil gue memasuki tempat parkir rumah sakit dan gue bisa lihat Shinta udah duduk dilobby rumah sakit. Begitu lihat mobil gue Shinta langsung menghampirinya

Brug

Buset selow atuh nutup pintunya.

“Hay Shinta yang awet muda dan seksinya ngalahin artis artis eropa”

Shinta melirik gue tajam membuat gue kesusahan menelen ludah gue. Anjir itu mata apa pisau sih

“Jalan buruan!”

Iya iya deh. Gue langsung menjalankan mobil gue ke arah rumah orang tua Shinta

“Gak usah kerumah orang tua gue. Anak gue nginep disono malam ini”

Gue memutar stir ke arah kiri karena kalo ke kanan itu arah rumah orang tua Shinta.

“Lo udah makan Shin?”

Shinta malah menatap gue tajam. Yaelah gue salah apa nanyain makan doang

“Belom!”

Gak usah bentak anjir! Kesel lama lama gue kalo gak inget dia ini Shinta berarti gue lupa ingatan(?)

“Kita makan dulu gimana? Biar pulang langsung enak”

Lagi lagi Shinta natap gue. Astaga copot itu mata lama lama

“Enak?” Tanyanya. Gue menyadari satu hal. Kata enak jadi ambigu saat lo tinggal berdua sama cewek dan bukan istri lo

“Maksud gue enak gak keluar lagi, langsung istirahat gitu”

Shinta menghembuskan nafasnya. Gue jadi degdegan gini sih. Mungkin Shinta bersikap gitu karena menjaga agar tidak terjadi hal hal yang tidak di inginkan.

“Belok kiri didepan”

Gue langsung memutar stir gue ke arah kiri. Jelas ini bukan jalan menuju apartement Shinta. Baru gue mau buka mulut tapi gue urungkan karena nanti yang ada malah Shinta natap gue tajam lagi, jadi gue urungkan. Lama lama gue buat acara tivi nih dengan slogan ‘kita kupas tuntas setajam tatapan Shinta’ anjir maksa banget itu slogan.

“Didepan berenti”

Gue langsung ngerem ditempat yang Shinta tunjuk. Tapi lagi lagi Shinta natap gue tajam

“Kenapa?”

“Pinggirin mobil lo tuh disitu gak ditengah juga!”

Brug

Shinta langsung keluar dan dia banting pintu mobil gue. Tadi dia bilang berenti disitu ya gue berenti aja dia gak bilang suruh dipinggirin kan. Emang gue salah(?)

Setelah memarkirkan mobil gue dengan baik dan benar gue mengikut Shinta yang masuk ke dalam sebuah kedai. Kedai pecel lele.

“Pesenan lo gue samain aja ya?”

Gue hanya mengangguk gak berani membantah. Anjirlah tersiksa banget gue. Mau pulang masih sakit hati, bertahan disini malah tersiksa. Kalo dirumah macan betina kalo disini singa betina. Apa bedanya, sama aja gue yang tersiksa.

Selesai makan gue dan Shinta langsung menuju apartement Shinta. Langsung aja gue bersiap tidur begitu sampai diapartementnya Shinta.

Gue membaringkan tubuh gue menghadap ke langit langit. Pikiran gue melayang membayangkan wajah Julia dan anak gue. Gue kangen mereka tapi gue belum bisa ketemu sama mereka. Besok gue harus flight ke jerman untuk beberapa waktu. Sebenernya ini gue yang mau sih, dan gak harus juga gue kesana. Gue beralasan ke bokap untuk mempelajari perusahaan diluar negara ini. Sedikit masuk akal.

Kembali gue terbayang wajah Julia yang menangis terakhir kali gue ketemu dia. Gue ambil hape gue. Lagi dan lagi disana banyak panggilan tidak terjawab dan chat yang belum gue buka dari kemarin. Gue geser tombol hijau disalah satu nomor dan menempelkan hape gue dikuping gue. Gak seberapa lama sambungan gue langsung terhubung ke empunya nomer disebrang sana

“Hallo…”

“Hallo, Arfi.. kamu dimana?”

Suaranya serak banget. Gue yakin dia abis nangis ini. Yakin banget gue

“Aku dirumah temen. El gimana?”

“Kenapa kamu gak pulang. Dia baik baik aja”

Gue terdiam dengan membiarkan sambungan gue terus terhubung

“Arfii aku kangen”

Hati gue teriris mendengarnya. Ingin banget rasanya gue memeluk tubuhnya. Tapi tiba tiba aja bayangan saat Julia ngobrol dan bercanda dengan mantannya itu kembali terbayang dibenak gue

“Besok aku flight jam 10. Aku pamit ya. Jaga El baik baik”

Sambungan terputus sepihak. Julia memutukan sambungannya. Gue menghembuskan nafas gue kasar lalu pergi tidur.

Bersambung\

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48