Tentang Kita Part 4

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 4 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 3

Victory!!!

“Udah ah aku gak mau main lagi”

“Kenapa?”

“Disampah terus males”

“Tapi kan menang naik rankingnya”

“Tetep aja harusnya aku kill banyak”

“Lagian siapa suruh kamu pake support”

“Tau ah aku laper masak sana kamu”

Aku memandangnya jengkel. Laki laki masa ngambek hanya karena main game. Tubuhnya yang disandarkan disofa sambil memanyunkan bibirnya. Aku terkekeh melihatnya

“Kenapa kamu lihatin aku begitu?”

“E.. eng.. engga kok”

Damn! Kenapa aku jadi gugup begini. Ah lebih baik aku pergi kedapur untuk memasak perutku juga sudah lapar.
Masakan pun jadi tak butuh waktu lama karena aku hanya memasak pasta pagi ini

“Oh ya arfi btw kemarin pak shami ngasih aku berkas ini dia suruh aku untuk kasih lihat kamu dulu”

“Aku udah lihat”

“Aku kan belum ngasih berkasnya”

“Aku udah lihat copyannya kemarin dikantor”

Aku hanya menganggukkan kepala. Sudah 3 hari aku bekerja dikantornya arfi. Perusahaannya bergerak dibidang periklanan selama bekerja disana aku belum menemukan kesulitan namun aku agak sulit berbaur dengan karyawan lainnya.

Awalnya kupikir mereka tau latar belakangku tapi semua itu hilang saat aku mendengar gosip yang berhembus dikantor sana. Ada yang bilang aku istrinya arfi, calonnya arfi ataupun pacarnya arfi yang notabene nya adalah direktur yang terkenal dingin, cuek dan sedikit angkuh. Namun gak sedikit juga yang bilang arfi itu peduli dan baik.

“Hari ini kita datang siang gpp?”

“Gpp..”

“Oh oke”

“Oh ya, hari ini kamu survey tempat syuting yang akan kita adakan untuk proyek PT. Nasional damai yang udah kita sepakati kemarin”

Aku hanya menanggukkan kepala

***

Sudah hampir jam makan siang aku menunggu seseorang dilobby. Katanya orang ini yang akan mengantarku kelokasi syutingnya. Entahlah aku tidak tau siapa

Tiba tiba saja ada yang menepuk pundakku

“Julia kan?”

Sejenak aku memperhatikan pria tegap didepanku. Dia mengulurkan tangannya padaku

“Ehm sorry gue iwan orang yang disuruh arfi nganterin lo”

Aku menyambut tangannya

“Julia..” dan tersenyum

“Lebih baik kita langsung aja deh sebelum boss besar jadi punya selera makan orang. You knowlah” ucapnya sambil terkekeh aku pun tertawa juga.

Akhirnya aku dan iwan pergi menuju lokasi syutingnya. Tak butuh berapa lama akhirnya sampailah kami ditempat tujuan. Tempatnya lumayan asri aku sampai kagum dikota sibuk seperti ini masih ada tempat seasri ini

“Emm jul.. gue nemuin sutradaranya dulu deh. Mau ada yang direvisi soal kemarin. Lo boleh keliling sambil survey sekalian lo catet apa yang harus dibutuhkan buat syuting besok”

Aku mengacungkan kedua jempolku dan iwan pun berlalu meninggalkanku. Aku berjalan sambil membawa buku catatanku sesekali aku melihat kelengkapan dicatatanku. Kurasa tidak ada yang harus direvisi tempat dan angle disini baik

Sebuah notifikasi chat masuk aku segera membukanya

“Udah dimana?”

Ternyata arfi yang mengirimiku pesan. Kubalas dengan cepat

“Dilokasi”

Tak sampai semenit notif chat masuk kembali

“Jangan lama lama! Cepat kembali”

Aku hanya membaca pesan dari Arfi. Tak lama notif chat kembali masuk

“Oh ya, kalo diajak makan siang sama iwan tolak! Bilang udah ada janji sama aku makan siang ini”

Aku terkekeh membacanya sejak kapan dia seposesive seperti ini

“Ah! Kebetulan sebelum kesini aku memang berniat mengajak makan direstoran favoritku”

Aku kirim pesan singkat itu dan langsung ada tanda read disana. Cepat sekali apa dia sedang tidak ada kerjaan

Ting

“Kenapa harus sama iwan? Kenapa gak ajak aku?”

Aku tertawa sendiri melihatnya. Kutebak dia sedang cemburu hehe hey siapa dia memangnya mencemburuiku seperti ini

“Terakhir ku ajak kan kamu nolak. Kupikir iwan sedikit hamble jadi gak masalah kan?”

Pesanku tidak dibalasnya. Kulihat dari kejauhan iwan berjalan ke arahku sedang menghubungi seseorang

“Iya fi ini gue juga udah kelar kok”

“…”

“Iya langsung balik gue”

“…”

“Hah? Makan siang? Ngg..” iwan melirik kearah ku.

Aku berjinjit menyamai tingginya untuk membisikkan sesuatu. Semula dia tidak percaya apa yang kukatakan tapi aku menganggukkan kepala dan tersenyum menyakinkannya

“Eh.. itu iya sih gue emang tadi rencana lunch sama doi lu siang ini kan kasian udah laper juga doi lu”

“…”

“Ya terus kalo bukan doi lu kenapa lu harus marah gue makan siang bareng dia sih?”

Sambungan terputus bisa kutebak pasti arfi memutuskannya sepihak. Eh kaya hubungan(?) Aku tertawa membayangkan wajah jaim arfi tapi tidak dengan iwan. Dia terlihat khawatir

“Gpp wan tenang aja. Urusan Arfi biar gue yang urus” ucapku

“Ya tapi gue gak enak nih sama arfi”

“Gak.. Palingan dia cuma marah gak bakal sampai dipecat kok lo.. yuk ah balik”

Aku melangkahkan kaki menuju mobilnya iwan yang diikutin oleh iwan. Dalam perjalan balik tidak ada obrolan diantara kami. Aku sibuk melihat berkas berkas yang kubawa. Hebat ya aku lulusn SMA aja bisa bekerja dibidang seperti ini dan dikantor sana hanya aku yang paling rendah.

Ada sih lulusan sepertiku tapi berakhir di office boy hehehe beruntunglah aku. Sebenarnya mudah saja kerjaku hanya tinggal melihat daftar hasil meeting Arfi yang sudah disepakati dan aku yang terjun ke lapangannya.

Ini atas keinginanku sih, daripada dikantor aku bosan hanya diam dan mengetik paling tidak disini aku bisa keluar dan menghirup udara segar dibanding duduk didepan layar seharian

“Emm jul.. boleh gue nanya sesuatu sama lo?”

Aku menoleh

“Boleh aja asal gak berbau privasi” balasku. Jujur saja aku bukan tipe orang yang suka dikepoin untuk urusan privasi

“Eng.. Arfi gak pernah cerita kalo lo deket sama dia gak kaya biasanya. Dia selalu cerita apapun sama gue”

“Termasuk ukuran celana dalamnya?”

Iwan terkekeh mendengar jawabanku

“Perlu lo tau kita pernah patungan untuk beli celana dalam”

Aku membelalakkan mataku selanjutnya aku tertawa keras iwan pun sama

“Jadi gimana? Bisa gue tau ceritanya dari lo gak? Yaaa~ lo saring aja sih kalo hal privasi gak perlu lo ceritain” ucap iwan sambil fokus ke depan.

Jujur aku bingung harus cerita seperti apa. Jika aku jujur itu memalukan bukan cuma itu Arfi juga akan marah pastinya

“Well, gue sama arfi gak sengaja ketemu aja disebuah club gitu”

“Club?”

Aku menganggukkan kepala

“Semenjak dikhianatin pacarnya dia gak pernah lagi gue denger pergi ke club”

Aku mengertikan dahiku

“Pacarnya? Farin?”

Iwan menoleh padaku cepat dan menganggukkan kepala. Jadi benar wanita yang datang itu pernah menjalin hubungan sama Arfi

“Gue cuma heran aja gak biasanya arfi seantusias begini sama orang baru. Kecuali..” ucap iwan menggantung

“Apa?” Aku menoleh pada iwan dan dia tersenyum penuh arti

“Kecuali dia suka sama lo”

Aku mengalihkan pandanganku ke depan mencoba menampik semua apa yanh diucapkan iwan. Aku belum siap jika itu terjadi. Hatiku bergembira jika memang itu benar tapi pikiranku tidak sejalan dengan hatiku. Tidak. Dia tidak boleh jatuh hati padaku secepat ini.

Aku wanita kotor dan dia adalah pria penuh kebaikan dihatinya. Tapi tidak bisa dipungkiri aku ingin terus bersamanya. Oh tuhan apa yang harus aku lakukan?

Lama berkutat dengan pikiranku tak terasa mobil iwan sudah memasuki area kantorku lagi. Aku turun dilobby dan segera kembali keruanganku sedangkan iwan dia memarkirkan mobilnya di basement

“Permisi..” aku menyembulkan kepala dibalik pintu

“Masuk”

“Ini daftar yang kemarin kamu buat. Aku udah survey dan gak ada yang perlu direvisi”

Arfi menerima berkasku dan mengeceknya kembali.

“Bagus.. terima kasih kamu bisa keluar” cih! Aku langsung berbalik dan melangkah keluar.

Saat akan keluar pintu terbuka dan seorang wanita berjalan terburu buru hingga menabrakku

“Heh! Ngapain dibelakang pintu ganggu aja!” Ingin ku sumpel mulutnya menggunakan heelsku. Aku segera menyingkir tanpa mau berdebat dengan wanita gila ini

“Baby… aku kangen tau”

Tubuhku membeku kakiku tetiba tidak mau melangkah dari sana. Dia bilang apa? Baby? Aku menoleh kebelakang pandangan yang ku dapat sungguh memilukan. Ada apa denganku kenapa ini? Harusnya itu baik dan normal bukan? Bukankah tadi aku yang tidak ingin membiarkan diriku jatuh hati padanya tapi sekarang dadaku sesak melihat wanita tadi melingkarkan tangannya dipinggang arfi.

Arfi tidak menggubris wanita disebelahnya tapi tidak juga menolak perlakuan wanita tersebut. Kuputuskan melangkah keluar dan menutup pintu itu. Kulangkahkan kaki ku menuju toilet. Ku percepat langkahku menghiraukan orang orang yang menatapku aneh.

Mataku memanas kurasa akan ada sesuatu keluar dari sana. Ditoilet ku sandarkan tubuhku pada dinding disalah satu bilik toilet. Aku memejamkan mataku sekuat tenaga untuk tidak mengeluarkan cairan bening tapi bayang bayang perlakuan wanita barusan sangat jelas dalam pikiranku.

Pertanyaan dalam diriku terus menjalar keseluruh pikiranku. Ada apa denganku? Dan siapa aku? Kakiku bergetar tak lagi sanggup menopang berat tubuhku. Kurasakan pipiku basah

Aku menangis

***

Sudah seminggu sejak kejadian itu aku menyibukkan diriku dengan pekerjaan. Diapartement pun sama aku hanya melakukan seperti yang biasa kulakukan. Memasak saat kami pulang bekerja, merapihkan ruang tamu dan kamar tidur. Selebihnya aku hanya menyibukkan diri. Begitu juga dengan Arfi dia terlihat acuh dengan perubahan sikapku. Dasar gak peka!

Ting

Sebuah pesan masuk. Ku lihat ponselku. Rupanya iwan mengirimiku pesan

“Gak usah sibuk banget buuuk~ ini udah malem” aku tersenyum membacanya segera ku balas pesannya

“Ini bukan sibuk tapi menyibukkan diri namanya wkwk”

Tak lama kembali masuk pesan diponselku

“Tau deh yang dicuekin dan tak terbalas”

Aku lama lama kesal ya dengan orang ini. Lama kami saling bertukar pesan akhirnya kuputuskan untuk pergi tidur. Kulihat sofa tempat Arfi biasa tidur entah kenapa rasanya sulit sekali untuk tidak menaruh perhatian padanya.

Aku gelengkan kepalaku cepat membuang semua pikiranku berusaha meyakinkan hatiku bahwa aku hanya ditolongnya bukan berarti dia menginginkanku dalam hidupnya. Tak lama aku pun tertidur

***

Seperti biasa dipagi ini aku memasak sarapan dan menyajikannya dimeja makan. Tanpa menunggu arfi aku langsung menyantap sarapanku

“Selama seminggu ini kamu bersikap aneh. Gak biasanya kamu diam”

Aku menoleh pada arfi yang sedang membenarkan posisi dasinya

“Aku cuma kecapean”

“Kalo mau bisa ambil cuti dan istirahat beberapa hari”

“Gak perlu. Masih banyak yang harus aku handle”

“Ada iwan sama shani yang bisa handle kerjaan kamu kalo kamu cuti”

“Aku terbiasa tanggungjawab”

Aku menjawabnya dengan dingin dan singkat. Dan dia hanya memperhatikanku. Aku masih acuh dan terus memakan makananku.

“Kamu kenapa? Ada yang salah?”

“Gak ada yang salah Arfi”

Aku segera beranjak dari dudukku. Tapi tanganku tertahan

“Ini bukan kamu. Hanya ada dua. Pertama kerjaan kedua aku”

Aku mengeritkan dahiku dan menatapnya datar. Dia mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang

“Shani.. tolong bilang sama pak iwan saya dan bu julia tidak bisa hadir ada urusan keluarga”

“…”

“Baik. Terima kasih”

Arfi menatapku kembali. Apa apaan sih dia ini selalu menggunakan alasan seolah aku juga terlibat didalamnya

“Satu hari ini aku ingin menghabiskan waktu sama kamu. Ganti baju kamu”

“Arfi.. nggak gini”

“Apanya?”

“Aku mau nanya sama kamu”

“Silahkan”

Aku menarik nafas dalamku

“Yakin gak marah?”

“Ya”

“Siapa farin dan siapa wanita yang seminggu lalu datang ke kantor?”

Arfi menatapku datar

“Dia itu yang namanya farin. Mantan kekasihku. Kupikir kamu bisa menyelamatkanku dari tingkah si gila seminggu yang lalu tapi kamu malah pergi”

“Emang dia apain kamu?” Tanyaku antusias

“Dia memelukku. Aku berusaha mengacuhkannya tapi dia menggoda ku terus akhirnya aku harus meninggalkannya diruanganku untuk waktu yang lama”

“Kamu gak lagi bohong kan?”

“Kalo aku berbohong tentu kamu kemarin pulang sendiri dan aku lebih memilih cek in dihotel bersamanya”

Oh aku mengerti yang dimaksud menggodanya. Aku diam sesaat. Aku teringat sesuatu dan mengambil dompetku untuk mengambil sesuatu didalamnya

“Siapa dia?” Kutunjukkan sebuah foto pada arfi. Arfi diam memandang foto itu lalu tersenyum

“Dia mozza. Dia kekasihku…dulu” jawabnya

“Dulu? Apa yang terjadi padanya?”

“Tuhan lebih sayang padanya” arfi memalingkan wajahnya kedepan aku masih diam menatapnya

“Aku sangat mencintainya. Aku masih mengingat senyumnya. Dia yang berharga bagiku 3 tahun lalu aku masih bahagia bersamanya”

Arfi meraih foto itu dan melihatnya. Suasana menjadi melow begini. Aku mendekat padanya dan mengelus punggung tangannya

“Dan saat aku bertemu denganmu diclub ku pikir kamu itu dia. Wajah kalian sangat mirip. Entah dorongan dari mana aku merasa perlu melakukan sesuatu untukmu. Dan itulah yang kulakukan pada malam itu”

Aku masih diam mendengar ceritanya tanpa berniat mengeluarkan suara sedikitpun

“Hey julia kamu pernah bilang kan mau membalas apa yang aku perbuat untukmu?” Tanyanya menoleh padaku

“Apa yang perlu ku lakukan?”

Arfi menatapku lekat. Dapatku lihat matanya yang kecoklatan itu

“Bantu aku untuk melupakan masa laluku. Ku yakin kamu bisa. Hanya karena melihatmu aku hampir…” ucapnya menggantung

“Aku pernah memiliki hubungan dengan wanita lain tapi itu gak bikin aku lupa dengannya. Tapi selama bersamamu aku hampir tidak pernah lagi merenung dimalam hari”

Ia mengelus pipiku. Kami saling pandang

“Mau kan?” Tanyanya lagi.

Aku hanya menganggukkan kepala. Entah gimana aku kehabisan kata kata. Menatapnya sedekat ini membuatku sulit mengungkapkan sesuatu. Aku seperti terhipnotis dan waktu berlalu sangat lama. Ia mengelus pipiku dan memajukan wajahnya mendekati wajahku. Dengan jarak sedekat ini aku bisa merasakan hembusan nafasnya. Wajahnya semakin dekat dengan wajahku dan dia menciumku sekilas lalu tersenyum.

“Terima kasih..” bisiknya

Aku masih belum bisa mengartikan apapun disini. Yang kutahu arfi barusan mencium bibirku. Kemarin dia meleburkan hatiku dan kini dia membuat dadaku penuh dengan kupu kupu. Oh tuhan kenapa semudah itu dia melakukannya membuat ku melayang lalu menjatuhkannya. Atau aku yang terlalu mengaguminya. Entahlah aku tidak mengerti semua itu kubiarkan semuanya berjalan sesuai takdir yang ada

***

“Ini tehnya diminum dulu”

Arfi menyodorkan teh hangat padaku. Aku menatapnya datar

“Terima kasih..” ucapku. Aku mengambil tehnya dan mengesapnya sedikit

“Gimana keadaan kamu? Udah agak baikan?” Tanyanya

“Jauh lebih baik dari kemarin kemungkinan besok aku udah bisa kerja lagi”

Arfi menempelkan punggung tangannya didahiku

“Badan kamu masih anget, lusa adalah waktu yang tepat untuk kamu kembali bekerja”

“Nggak arfi.. besok juga, aku hari ini cuma tinggal..”

“Gak lagi julia.. kamu terlalu suka memaksakan diri. Kali ini aku gak akan biarkan kamu mengambil keputusan” ucap arfi memotong ucapanku.

Aku mendelik padanya, tidak tau kah dia aku merasa khawatir jika berlama lama dirumah dan membiarkan ia bekerja terlebih saat aku tau mantannya itu sering datang ke kantornya arfi. Huh! Eh kenapa perduli ya, apa sih jadi gini huft!

***

Dua hari berlalu dan kini aku sudah bisa duduk dimejaku, bekerja seperti biasa menyiapkan apapun yang diperlukan arfi yang notabanenya adalah boss besarku

“Umm.. sorry, julia gue perlu berkas yang meeting kemarin deh. Masih ada?” Aku menoleh kesebelah mejaku. Dia miya teman kerjaku

“Oh ada.. bentar ya” Aku memeriksa berkas kemarin yang iwan berikan padaku

“Eh btw jul, lo ada hubungan apa sama boss besar kita nih?”

Aku menghentikan kegiatanku. Diam sejenak lalu melanjutkan pencarianku

“Ini berkas yang lo mau.. ntar kopiannya kasih ke gue lagi ya”

Miya mengambil berkas yang dia inginkan setelah mengucapkan terima kasih dan dia pergi begitu saja. Tapi pertanyaan miya tadi merasuk ke pikiranku. Aku menggelengkan kepala cepat lalu melanjutkan kerjaanku

Jam sudah menunjukkan waktu makan siang. Aku pergi keluar untuk mencari makan karena siang ini arfi sedang menghadiri meeting sampai sore baru dia kembali itu jadwalnya. Sampai dilobby aku bertemu dengan seseorang yang kukenal. Mantannya arfi!

“Well, ketemu lagi..” ucapnya dengan wajah sok dijudesin.

Aku hanya menatapnya. Dia bilang ketemu lagi? Siapa yang mau ketemu dia lagi-_- lagipula ini kan kantor

“Arfi nya ada?”

Aku mendelik padanya

“Gak ada. Dia meeting”

“Hmm kamu gak lagi sembunyiin dia kan?”

“Untuk apa?”

Aku hendak melangkah pergi meninggalkannya

“I know who you are..”

Aku berhenti melangkah berbalik badan dan menatapnya

“Apa maksudmu?”

Dia hanya tertawa remeh

“Kamu ini… barang kesayangan angelos bukan?”

Aku membelalakan mataku. Entah apa yang harus aku ucapkan. Aku kaku lidahku keluh

“Kenapa diam? Seorang pelacur bisa bekerja diperusahaan besar seperti ini.. Atau kamu suruhan angelos juga?”

Ingin sekali aku menampar pipinya. Kulihat beberapa karyawan memperhatikan kami. Jatuh sudah harga diriku dimata karyawan semua. Bukan cuma aku tapi arfi juga pastinya dan itu semua salahku

“Kuperingatkan kamu untuk cepat angkat kaki dari sini dan menjauh dari arfi.. kasihan arfi harus menjalin hubungan dengan wanita KOTOR sepertimu..”

Cukup! Dia benar! Air mataku tidak lagi terbendung. Aku berbalik badan hendak keluar namun tubuhku menabrak seseorang

“Seingatku ini kantorku dan hanya aku yang memberi perintah disini.. termasuk mengusirmu dari sini, Farin”

Aku mendongakkan kepalaku. Arfi..

Aku masih dalam pelukannya. Dia menatap karyawannya satu persatu yang sedari tadi memperhatikanku

“Tidak ada yang bisa menilai pantas atau tidaknya seseorang bekerja disini selain saya.. kalian dengar semua?”

Para karyawan disini hanya menganggukkan kepala

“Pak, apakah benar yang diucapkan wanita itu terhadap bu julia pak?” Tanya seorang karyawan disana

“Benar.. bagi dia. Tidak bagi saya. Satu hal lagi, saya perlu tegaskan bu julia ini calon istri saya dan kami akan menikah dijepang”

Tegas dan lantang tapi aku membelalakkan mataku cepat

“Well, jika memang iya, bisa kamu cium calon istrimu ini? Buktikan ucapanku salah pada kalian”

“Bukan perkara sulit. Kami terbiasa melakukan itu”

Arfi meraih daguku dan mendekatkan wajahnya. Semakin dekat wajahnya dengan wajahku. Aku memejamkan mataku.

Ini gila! Logikaku berkata ‘hentikan dia atau kau mempermalukan dirimu sendiri’ tapi hatiku seperti menutup pendengaranku dan mengabaikan logikaku.

***

Sepulang dari kantor aku berusaha merilekskan diriku. Setelah kejadian kejadian aneh hari ini aku merasa memerlukan sesuatu untuk mencairkan moodku. Es krim! Ya aku membeli es krim. Tidak, aku bukan membelinya, tapi aku memborongnya. Dengan langkah riang aku kembali menuju mobil.. ehem arfi

“Banyak banget.. Mau jualan?”

Aku hanya diam sambil menaruh semua es krimku di jok belakang. Ku ambil satu lalu membukanya

“Mau?” Tawarku

“Gak usah makasih.. malam ini kita mau makan apa?”

“Awpa awjah..”

“Apa?”

Aku menelan es krim yang ku gigit barusan

“Apa aja..”

“Pasir mau?”

“Campur semen sama air dimasak setengah mateng.. bukan ide yang buruk kamu mau aku buatin untuk makan malam?” Ucapku kesal penuh penekanan.

Kesal juga bicara sama orang ini.

Eh hey! Tunggu.. arfi tersenyum, sangat tipis.. aku dapat melihat itu. Apa aku baru saja membuat guyonan baginya.

Sungguh ini pertama kalinya arfi tersenyum mendengar guyonan receh seperti itu biasanya dia hanya akan berkata ‘gila’ . Hmm kemajuan yang baik

Arfi memilih restoran yang tidak terlalu mewah. Cukup sederhana dan kami duduk dimeja yang hanya diperuntukan dua orang saja. Ditengahnya ada lilin dan meja kamu berada di indoor restoran ini dipinggir kolam ikannya. Oh andai arfi kekasihku sungguh romantis pria ini, eh gimana? Hehehe

“Kamu yang pilih meja disini?” Tanyaku pada arfi yang sibuk membolak balikkan buku menu. Tak berapa lama dia memesan pesanannya.

“Ya, kenapa gak suka?” Jawabnya cih! Sinis banget sih

“Aku suka, tempat ini romantis tau..”

“Begitu menurutmu? Aku memilih disini karena suasananya hening dan tenang”

Aku mengerucutkan bibirku. Tak berapa lama pesanan kami datang. Kami menikmati makan malam ini.

Diperjalanan pulang aku maupun arfi tidak membuka pembicaraan. Aku sibuk dengan ponselku dan dia fokus menyetir

“Emm julia, ada yang perlu bicarakan”

Aku menoleh padanya

“Bicara aja, apa?”

“Tapi nanti aja diapart, bukan ide yang bagus bicara lagi dijalan”

Aku memicingkan mataku. Dia ini kenapa sih?

Sesampainya apartement dan selesai bersih bersih arfi mengajakku bicara di meja makan

“Aku gak tau harus gimana bilangnya ke kamu..”

Aku terus menatap arfi. Dia mengalihkan pandangannya

“Orang tua aku ingin aku segera menikah..”

Keingintahuanku semakin besar. Dadaku bergemuruh, apa aku akan diusir olehnya atau gimana?

“Julia, maukah kamu..”

Aku menelan ludah. Dia menatapku lekat dan aku membalas tatapannya

“Maukah kamu berpura pura menjadi istriku?”

1 detik

2 detik

3 detik

4 detik

5 detik

“What?!!” Aku terlonjak kaget mendengar ucapannya. Ini jauh dari ekspetasiku. Dia pikir menikah itu hal main main?

“Sungguh, aku tau ini konyol tapi hanya kamu yang bisa menolongku.. please julia, anggap ini adalah balas budimu kepadaku” ucapnya memohon

“Arfi.. dimana isi kepala kamu? Kamu pikir menikah main main? Oh aku ngerti kenapa kamu bilang hanya aku yang bisa melakukannya, karena bagimu aku adalah wanita malam iya? Nggak arfi.. aku gak mau”

“Bukan itu julia.. aku memintamu begini bukan karena kamu mantan wanita malam.. tapi karena….” ucapan arfi menggantung, tunggu apa dia bilang? Mantan wanita malam? Emang ada ya? Ah lupakan! Back to topic

“Karena apa?” Ucapku lantang. Dia mengalihkan pandangannya

“Karena hanya kamu wanita terdekatku..” ucapnya berbisik. Ide jahil muncul dikepalaku

“Apa? Aku gak denger..”

“Aku udah mengucapkannya tadi..” ucap arfi dengan keras

“Loh, aku gak denger gimana?” Aku membalasnya tidak kalah keras

“Karena kamu wanita yang paling dekat denganku! Kamu yang mengerti aku! Kamu yang bisa buat aku nyaman!” Ucap arfi berdiri.

Sadar akan ucapannya dia terdiam. Aku yang menatapnya heran ikut terdiam detik berikutnya dia berbalik badan hendak melangkah namun ku tahan

“Beri aku waktu 3 hari.. akan ku beri jawabannya” ucapku.

Arfi hanya mengangguk dan pergi meninggalkanku.

Permainan apalagi ini. Uh sial sungguh aku tidak suka dalam keadaan seperti ini. Tinggal dan mengurusi seorang pria yang tegas tapi kekanak kanakan dan sekarang aku harus berpura pura menikah dengannya. Jelas keadaan akan berbeda. Bukan itu, yang aku takutkan adalah keluarga besar arfi tau latar belakangku. Aku hanya menjaga nama baiknya. Apa dia tidak pernah berpikir kesana? Aku memijit kepalaku, andai saja orang tuaku tidak pergi untuk selamanya tentu aku lebih memilih pulang ke kampung halamanku mengurusi ternak atau kebun

***

Pagi ini aku disibukkan beberapa berkas dan data yang harus aku agendakan segera. Aku menyusunnya menjadikan sebuah catatan dikemas dalam folder dilaptopku. Hey, meski dulu pekerjaanku kotor bukan berarti aku tidak mengerti dengan tekhnologi.

Aku pernah mengenyam pendidikan hanya karena mungkin nasib membawaku kesana membuatku harus mencicipi kerasnya dunia. Beberapa tokoh besar kantor ini pun pernah memuji pekerjaanku yang rapih, teliti dan cepat. Jelaslah otakku yang cerdas baru bekerja sekarang kalau dulu kan yang bekerja bukan otakku tapi… sudah tidak udah dibahas! Hehehe

Tok tok tok

“Masuk..”

Klek

Oh rupanya iwan. Informasi aja iwan ini asissten dirpres disini. Dirpresnya kalian gak usah tanya. Pria dingin yang tinggal seatap denganku.

“Sibuk?” Tanyanya.

“Dikit.. ada apa?”

“Aku cuma mau minta tolong sama kamu. Kalo sempet sih.. ini berkas dari pak shami bisa kamu agendakan juga gak? Copyannya kasih ke aku nanti. Gimana?”

“Bisa.. letakkan disana. Tapi aku gak janji hari ini, hari ini…”

“Gak perlu buru buru aku ngerti kok. Sebelumnya makasih ya”

Aku hanya menggangguk dan tersenyum. Aku disibukkan kembali dengan kerjaanku

“Aku bagi permennya ya” ucap iwan

“Ambil aja” ucapku tanpa mengalihkan pandanganku dari layar laptopku

“Manis permennya, kaya kamu. Tapi sayang nih…” ucap iwan menggantung membuatku menoleh padanya

“Sayang kenapa?”

“Cieee~~ manggil aku sayang, aku gpp kok sayang”

Wtf!

Aku memutar malas mataku tapi aku tertawa juga. Iwan bisa menghiburku juga rupanya.

“Ekheem..!!”

“Ada jadwal saling ngobrolkah?”

Kami menoleh ke sumber suara. Oh dia, si laki laki random. Siapa lagi kalo bukan arfi

“Ada.. gue yang bikin. Duduk sini fi” ucap iwan

“Lu ngeledek gue? Bangkunya cuma satu”

“Ya kita pangkuan..” iwan menaik turunkan alisnya tengil membuatku merasa geli melihatnya.

Baik, kalo arfi adalah cowok random dan iwan adalah kelamin random. Dia bisa jadi pria.. bisa juga waria. Mantul sekali kedua sahabat ini

Arfi keluar dari ruanganku dengan wajah masam. Sebelum keluar dia menatap mataku tajam. Dari sorot matanya sih kayanya dia marah. Tapi marah kenapa?

“Dia marah tuh..” ucap iwan.

“Marah kenapa?”

“Karena lu..”

Aku menaikan alisku sebelah. Iwan beranjak dari bangkunya berjalan kesampingku.

“Dia suka sama lu. Perlu lu tau, arfi orangnya cuek kalo orang cuek tiba tiba peduli sama seseorang itu artinya…” iwan menggantung ucapannya

“Pak iwan.. maaf dipanggil sama pak arfi diruangannya, permisi” ucap seorang karyawati.

“Kena oceh nih gue ganggu kesukaannya. Hahaha gue keluar dulu ya jul” iwan pergi dari ruanganku dan kali ini dia menutup pintunya.

Aku terdiam sementara sebelum aku menggidikan bahuku dan kembali menyibukkan diriku dengan kerjaan

Bersambung