Tentang Kita Part 36

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 36 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 35

Keadaan dirumah Arfi tidak terlalu sepi. Karena ada beberapa keluarga disana yang sedang menikmati makan malam. Julia yang masih kikuk takut takut masakannya tidak enak hanya diam khawatir saat Bram menyuapkan makanan ke mulutnya

“Loh, Mah.. kamu kasih resep masakan kamu ke Julia kah?” Tanya Bram memecah keheningan

“Nggak loh pah, kenapa memangnya?”

“Coba kamu rasakan, ini masakan mirip kamu sekali”

Carissha menyuapkan makanan ke dalam mulutnya

“ah iya ya.. Mamah gak pernah ngasih resep apa apa Pah ke Julia, mamah cuma bilang mau makan malam disini, udah”

Julia menundukkan kepalanya. Bram menatap Julia yang menundukkan kepalanya

“Hey Julia, ada apa kamu nundukin kepala gitu, wajah papah seramkah sampai kamu nunduk gitu?”

Julia mengangkat kepalanya memberanikan diri menatap Bram. Sedikit senyum ia sunggingkan

“Arfi, kamu dalam tanggungjawab besar. Kamu harus jaga istri dan anak kamu. Papah gak mau denger mereka terluka karena kelalayan kamu” ucap Bram. Arfi hanya menganggukkan kepalanya

Savira menepuk paha Julia, memberikan kode padanya untuk menanyakan bagaimana rasa masakannya. Julia menelan ludahnya

“Eum.. pah, mah, gimana rasa masakannya..”

Bram menatap Julia “masakanmu enak. Sangat enak, kamu harus bertanggungjawab jika papah menginginkan masakan kamu lagi”

Julia bernafas lega, lalu tersenyum senang.

“Aku gak jadi dipecat jadi menantu papah mamah” bisik Julia ke Arfi. Bram yang mendengar itu meletakkan alat makannya

“Dipecat? Menantu? Siapa yang bilang gitu?”

Julia dan Arfi terkesiap mendengar nada ucapan Bram yang meninggi

“Hayo katakan siapa yang bilang seperti itu..”

“Eum.. Arfi pah, kata Arfi kalo Julia masakannya gak enak Julia dipecat jadi menantu papah mamah”

Bukan hanya Bram yang menatap Arfi, seisi meja makan pun menatap Arfi.

“Eum… itu, hehe..”

“Kamu ini usilnya gak ilang ya Arfi, sejak kecil kamu selalu usil. Dulu usilin adiknya, sekarang istrinya” semprot Carissha

“Bener bener kamu Arfi memang, anak papah paling usil ya kamu” Bram ikut berucap. Arfi hanya meringis

“Kamu juga sama Pah, memang kamu kira kamu gak usil sama Mamah?” Mendengar itu Bram langsung terdiam menatap istrinya

Pasangan Fahrie dan Savira hanya diam sesekali berbicara jika mereka diajak bicara atau hanya tertawa saja.

Bram meletakkan alat makannya setelah makanan dipiringnya habis semua. Ia menatap anaknya yang duduk tepat didepannya. Pandangannya beralih pada Julia yang tengah menoleh ke Savira yang duduk disebelahnya. Arfi yang melihat Bram memperhatikan Julia mengikuti arah pandangannya.

Bram menyandarkan punggungnya pada sandaran kursinya. Ia mengambil buah anggur lalu memakannya.

“Julia…” panggilnya membuat Julia menoleh kepadanya. Ia mengambil beberapa buah anggur untuknya

“Ambil ini, kamu sudah selesai makannya kan?”

Julia tersenyum lalu mengambil buah anggur dari tangannya Bram. Meski ia kurang suka anggur tapi akan sangat baik jika ia menerima apapun pemberian dari mertuanya tersebut

“Ada yang ingin disampaikan Pah?” Tanya Arfi. Bram hanya melirik ke arah Arfi sebentar lalu kembali memperhatikan Julia

“Mulai detik ini, kamu.. Julia Anantha karena kamu dinikahi anak saya jadi nama kamu sekarang adalah Julia Anantha Juanto” ujar Bram, Carissha yang berada disebelah Bram hanya memberikan potongan buah apel padanya.

Julia yang sedikit terkejut bingung harus apa, ia menoleh ke arah Arfi. Pandangannya beradu dengan Arfi, detik selanjutnya Arfi hanya menganggukkan kepalanya

“Saya pernah buat kamu menderita atas kelakuan saya. Untuk itu, saya akan menjamin hidup kamu. Apapun yang terjadi dengan kamu kini, adalah tanggungjawab keluarga Juanto. Terlebih kamu sudah melahirkan penerus keluarga Juanto” Bram berdiri lalu menghampiri kursi Julia. Ia berdiri diantara Arfi dan Julia tangannya merangkul pundak Arfi dan Julia

“Saya pernah menghina kamu karena kehidupan kelam kamu yang belum tentu kamu inginkan. Oleh karena itu, siapapun yang menghina kamu, akan menjadi urusan saya”

Tatapannya kini beralih ke Arfi. “Kamu juga jaga istri kamu dan jaga nama baik keluarga, ya Fi”

Arfi tersenyum menganggukkan kepalanya. Bram kembali ke tempatnya semula

“Ah ya.. saham kamu akan papah kembalikan sebesar 60% itu”

Arfi menghentikan kegiatannya yang sedang mengunyah apelnya menatap Bram didepannya. Bagaimana bisa, perusahaannya kini sudah kembali seperti semula sejak sahamnya diambil 60% oleh Bram waktu lalu. Ia berhasil mengembalikan keseimbangan perusahaannya. Jika Bram mengembalikan sahamnya itu artinya perusahaannya akan sangat banyak modal dan beberapa anak perushaan akan kembali dipegang oleh Arfi

“Terima kasih pah, tapi Arfi berpikir bagaimana saham itu digunakan untuk mengembangkan perusahaan yang akan Arfi bangun baru”

Bram menatap Arfi tidak percaya, ia tersenyum bangga dengan anaknya

“Kamu dengar itu Carissha, dia bukan hanya anakku, tapi dia adalah reinkarnasiku, katakan perusahaan seperti apa yang akan kamu bangun?”

Carissha hanya tersenyum menanggapi ucapan Bram

“Ehm.. Julia, Savira.. ikut mamah, kita kebelakang saja membiarkan para pebisnis ini berbicara tentang perusahaan dan saham mereka, yuk”

Julia dan Savira mengikuti langkah Carissha yang berjalan ke taman belakang rumah mereka

“Begini pah, Arfi sedang pengembangkan perusahaan yang bergerak dibidang periklanan animasi, dan kandidatnya adalah Fahrie. Ia menguasai beberapa Animasi selanjutnya ia hanya tinggal mendalaminya, bahkan Fahrie sekarang sedang menjalani kursus animation creator pah”

Bram menatap Fahrie tersenyum. Ia mengambil hapenya dalam sakunya dan menghubungi seseorang

“Dennis, tolong siapkan satu tempat kosong untuk seseorang”

“…”

“Ya, dia orang saya, dia saudara saya”

“…”

“Benar, animation creator sepertimu dan saya ingin kamu bimbing dia”

“…”

“Baik”

Bram menutup telfonnya. Arfi menatap Bram tidak mengerti

“Fahrie bisa bekerja besok ditempat papah Fi, itung itung ia belajar animation creator juga”

“Tapi pah–”

“Kamu gak usah khawatir papah akan merebut orang kamu, ah ya maaf papah perlu ralat ucapan papah. Fahrie besok bisa bekerja diperusahaan kamu. Karena beberapa tahun ke depan papah akan pensiun dan kamulah pewaris semua perusahaan papah”

Arfi membulatkan matanya. Ia tidak menyangka apa yang dikatakan oleh papahnya. Ia mana siap jika harus memimpin lebih dari 10 cabang perusahaan. Belum lagi perusahaan yang diluar negri termasuk beberapa investasinya juga.

“Pah, Arfi belum siap untuk itu. Arfi ingin berhasil dikaki Arfi sendiri. Biarkan dunia ini mengenal Arfi tanpa embel embel Juanto yang melatarbelakangi kesuksesannya”

Bram tersenyum makin lebar dengan anaknya tersebut

“Kapan kamu siapnya?”

Arfi hanya terdiam tidak bisa menjawab pertanyaan Bram.

“Pokoknya Arfi mau ingin membesarkan perusahaan Arfi sendiri dulu”

“Baik jika itu mau kamu. Tapi hal yang tidak boleh kamu tolak lagi adalah papah akan mempublish jika perusahaan kamu termasuk perusahaan Juanto Group. Biar gimana pun kamu juga yang akan memimpin seluruh perusahaan papah nantinya”

Arfi menghela nafasnya. Lalu ia menganggukkan kepalanya.

“Nah Fahrie, besok kamu bisa datang ke kantor saya. Minta supir Arfi mengantarnya. Mereka tau dimana kantor pusat Juanto Group berada”

“Baik Pak”

“Pak?” Ulang Bram. Fahrie yang bingung harus memanggil apa hanya menatap Arfi. Yang ditatap malah menggindikkan bahunya

“Panggil saya, Om. Istri kamu manggil saya Om. Kenapa kamu manggil saya pak?”

Fahrie hanya tersenyum lebar “baik Om, dan terima kasih”

Selanjutnya mereka mengobrol ringan beberapa kali Bram meledek dan membuka aib Arfi saat ia masih kecil tentu mengundang gelak tawa Fahrie dan Bram. Arfi hanya menatap keduanya sebal. Begitulah suasana keluarga Juanto yang baru. Jauh dilubuk hatinya Arfi merasa senang. Perasaannya menghangat, tidak bisa dipungkiri ia pun merindukan kedua orang tuanya hanya saja dulu kerinduan itu tertutup kebencian dan kekecewaan

***

Siang itu Arfi dan Julia sedang menikmati makan siang bersama disuatu restoran. Ya, Julia memintanya untuk menemuinya direstoran favoritenya. Awalnya Arfi menolaknya karena banyak pekerjaan yang harus ia selesaikan, namun jika Julia mengeluarkan jurus ngambeknya Arfi bisa apa, mau tidak mau ia harus memenuhi keinginan istri tercintanya

“Jadi El dirumah sama siapa?” Tanya Arfi. Julia membersihkan sisa makanannya dengan tisu

“Sama Savira, kebetulan dia dirumah siang ini”

Arfi hanya menganggukkan kepalanya

“Oh ya Fi, Aku masih gak menyangka hubungan kita sama orang tua kamu membaik loh”

Arfi tersenyum “sama aku juga, aku harap akan terus begini”

“Lusa kita diundang oleh mamah dinner disana. Gimana menurut kamu?”

Arfi memasukkan potongan daging kemulutnya

“Papah juga bilang begitu, btw hari ini aku dapat kabar Fahrie trainning loh ditempat papahku”

“Oh ya? Wah ini berita bagus, Savira udah tau belum?”

Arfi hanya menatap malas ke arah Julia sambil memotong daging steaknya

“Baru hari ini aku terima kabarnya, kamu gak denger apa tadi. Lagian aku ngabarinnya gimana? Aku gak punya nomer Savira juga, Fahrie juga udah pasti ngasih tau Savira lah”

Julia merengutkan bibirnya “Fahrie kan gak punya hape, mereka make hape kan berdua. Hapenya dipegang Savira”

Mendengar itu Arfi menghentikan kegiatannya menatap Julia

“Jaman sekarang gak punya hape? Serius kamu?”

Julia hanya menganggukkan kepalanya

“Kenapa kamu gak ngomong ke Savira untuk beliin dia hape. Penting loh alat komunikasi. Kamu kan pegang uang”

Julia menarik nafasnya “aku memang pegang uang. Aku juga baru tau kalo mereka pake hape berdua, terus kemarin aku baru melahirkan mana aku mikirin mereka sih, lagian meski aku megang uang aku gak akan belanjain apapun tanpa seizin kamu atau minimal kamu tau”

Tangan Arfi terulur mengusap pipi Julia lembut. Ia menatap Julia lembut dengan senyumnya

“Terima kasih ya, tapi kalo hal semacam ini kamu beliin aja gpp bilangnya belakangan sama aku pun gk masalah. Kamu ngerti kan?”

Julia menganggukkan kepalanya “aku kan cuma mau jadi istri yang baik untuk kamu, yang patuh sama kamu”

“Iya iya, yaudah makannya abisin deh. Abis itu aku anter kamu pulang ya”

Julia menganggukkan kepalanya. Mereka menghabiskan makan siang bersama. Setelahnya Arfi mengantar Julia pulang karena Julia datang menggunakan taksi online. Meski Arfi sudah melarangnya namun Julia tetap keras kepala berhubung Pak Min masih belum pulih. Alasannya simpel ia hanya ingin makan siang bersama Arfi.

Haah wanita memang sulit dipahami, terkadang dikhawatirkan tapi seolah mereka bersikap tidak akan ada hal buruk yang akan terjadi pada mereka hmm…

***

Ditaman belakang, Julia sedang asik menjemur bayinya. Bukan menjemur dijemuran melainkan ia tengkurepkan bayinya di pankuannya membiarkan sinar matahari terkena kulit bayinya. Itu bagus untuk tulang bayi.

“Jul, sorry sebelumnya, gue jadi tau hubungan mertua lu dan lu itu kurang baik dulu” ucap Savira, Julia hanya tersenyum menanggapinya.

“Iya dulu, karena lu tau kan orang tua Arfi gak setuju anaknya nikah sama gue yang notabanenya perempuan tanda kutiplah”

Savira menganggukkan kepalanya

“Terlebih Papah tau siapa Angelo sebenarnya”

Kini Savira menoleh cepat ke arah Julia menatapnya serius

“Bener dugaan gue, waktu kita makan malam disini gue kaya gak asing sama wajahnya Om Bram ini. Setelah lu bilang gini gue baru inget, gue pernah ngelia dia di club bersama Angelo”

Julia hanya diam sesekali mengelus punggung anaknya

“Angelo sangat hormat sama Om Bram ini. Itu artinya Om Bram bukan orang sembarangan Jul. Lu pahamlah Angelo gak akan hormat ke sembarang orang kan?”

“Iya, gue tau kok. Gue udah cukup seneng hubungan gue dan Arfi sama keluarganya membaik. Terlebih orang tuanya Arfi mau nerima gue”

Savira ikut tersenyum mendengarnya.
“Tapi mereka tajirnya kelewatan deh Jul”

Julia menoleh ke Savira “kelewatan gimana?”

“Waktu gue lewat ruang tengah mau ke kamar waktu itu gak sengaja gue denger percakapan mereka. Mereka lagi bicarain uang sebesar 15 triliun Jul. Gila gak tuh”

Julia tertawa cukup keras “lo akan denger hal lucu lainnya dari gue nih”

Savira menatap Julia serius

“Oke gini, waktu di club lu tau kan tarif gue semalem berapa. Jangankan semalem gue diitungnya perdua jam”

“Kalo gak salah inget tarif perdua jam lu itu 15juta ya?” Ujar Savira mengingat. Julia mengangguk

“Dan ini akan bikin lu keheranan, Arfi membeli gue selama satu bulan full. Gila gak tuh. Anak pengusaha minyak aja beli gue 3 hari 200juta ditolak sama Angelo. Arfi malah sebulan, gilanya lagi dia mudah banget dapet izin dari Angelo”

“Mungkin Angelo memandang nama belakang Arfi Jul, Juanto. Mengingat Angelo hormat banget sama Om Bram. Yakali dia gak tau nama belakang Om Bram kan”

Julia terdiam. Ia memandang lurus ke depan, selanjutnya ia menoleh ke arah Savira

“Baru ke pikir gue”

“Ah lo nya aja Jul yang pe’a. Udah ya gue mau otw dulu ke tempat kerja. Nanti boss Gracia marah”

Savira hendak beranjak namun tangannya ditahan oleh Julia membuat Savira menoleh ke arahnya heran

“Gracia gimana sama lo?” Tanya Julia membuat Savira menaikkan alisnya satu

“Maksud gue, dia gak main bossi kan sama lu gitu?” Mendengar itu Savira malah tertawa

“Haduh Jul.. Jul. Bossy? Gracia? Sama gue? Gue malah ngaduk adonan roti sama dia lo tau gak, sampe bikin bingung karyawan sana”

Julia melepas genggaman tangannya masih menatap Savira

“Dia itu bisa ngambek sama gue kalo gue datengnya telat karena dia mau ngobrol sama gue. Kerja gue tuh nemenin dia doang tau gak lu kalo ada dia ditoko”

Julia tersenyum senang lalu menganggukkan kepalanya. Tapi Savira malah duduk kembali disamping Julia membuat ia keheranan

“Lu gak jadi otw mbak?” Tanya Julia

“Gue bingung nih mbak”

“Why?”

“Sok english lu”

Julia memutar bola matanya malas

“Kunaon?” Tanyanya ulang

“Kemarin Gre ngasih gue 5 juta. Padahal gaji gue harusnya kan cuma setengah dari itu. Gue pikir dia ngasih double sama bulan ini. Tapi bulan ini dia ngasih 3.5 juta”

“Terus kenapa?”

Savira mendesah berat “iyalah, gue gak biasa nerima yang lebih dari hak gue. Apalagi gue gak merasa kerjaan itu berat. Terlebih kalo Gracia ditoko gue gak kerja sama sekali cuma nemenin dia. Malah kadang nemenin shopping”

Julia terdiam, ia memakaikan pakaian bayinya

“Lu udah nanyain?”

“Iya gue mau nanyain, gue bawa duitnya lebihnya dari bulan kemarin sama bulan ini nih kata Fahrie biar lebih sopan nanyanya gitu kali aja dia ngasih emang kelebihan”

Julia menganggukkan kepalanya. Ia tau siapa Gracia gak mungkin seorang Gracia memberi upah lebih pada karyawannya tanpa alasan. Ia tersenyum

“Lebih baik lu tanyain saat mood dia baik. Gue rasa dia begitu karena dia merasa senang sama lu, nyaman berteman sama lu, jadi anggeplah itu bonus. Memang sih gak salah nanyain dulu”

Savira menatap lurus ke arah depan. Ia sedikit terkejut saat hapenya berdering

“Mampus, Gracia kan nelpon gue. Bentar Jul”

Julia menganggukkan kepalanya. Ia memberikan minya telon dipunggung dan sekujur tubuh bayinya. Lalu memakaikan pakaian untuk bayinya

Savira kembali dan duduk disebelahnya kembali

“Kenapa?”

“Gracia marah tadi dia bilang dia udah ditoko, gak ada gue”

“Terus gimana?”

“Ya dia mau kesini jemput gue sebagai hukumannya. Kan gimana gak enak gue, gue yang dihukum tapi gue yang dijemput”

Julia terkekeh pelan. Menurutnya Savira belum tau sifat asli Gracia. Meski wajahnya terlihat judes Gracia memiliki hati yang baik dan penyanyang. Savira akhirnya pergi setelah Bi Imas memberitahu kalau Gracia menunggunya diluar. Setelah itu Julia masuk kedalam menidurkan baby El diranjangnya

***

Arfi menarik nafasnya dalam sebelun ia turun dari mobilnya. Ia sedikit menatap keluar jendela dimana pandangannya langsung tertuju lobby sebuah salah satu perusahaan besar diasia. Sedikit ia rapihkan kemejanya sebelum ia turun.

“Pak, nanti saya kabari lagi. Pak Wahyu pulang aja duluan”

“Pak baik”

Ia melangkahkan kakinya keluar langsung menuju lobby perusahaan. Langkahnya terhenti saat kedua satpam lobby menghalangi jalannya

“Saya ingin bertemu Bram Juanto, ia mengundang saya” ujar Arfi tanpa menatap kedua satpam tersebut membuat mereka saling pandang. Tidak heran jika mereka tidak mengetahui siapa Arfi, karena ini kali pertamanya ia menginjakkan kakinya diperusahaan Juanto Group tersebut

“Maafkan kami pak, sebelumnya Pak Bram belum mengkonfirmasi pada kami bahwa ia akan menerima tamu hari ini”

Arfi menatap mereka satu persatu. Ia menghela nafasnya pelan

“Kalau begitu sampaikan padanya saya menunggunya dibawah”

Salah satu dari mereka ke dalam, tak lama satpam tersebut kembali

“Kami sudah memberitahukan pada respsionis untuk mengkonfirmasi langsung pada Pak Bram”

Arfi yang mendengar itu hanya mengangguk. Ia berbalik badan menatap taman didepan kantor tersebut. Ia teringat saat kecil dulu dimana ia bermain ditaman itu dengan Papahnya. Ia tersenyum kecut, pantas saja ia tidak dikenali saat itu usianya baru 5 tahun kini ia kembali diusianya yang ke 23 tahun. Banyak perubahan mungkin yang terjadi dalam dirinya begitu pikirnya

Sebuah mobil sedan putih berhenti tepat didepan lobby lalu menurunkan seorang wanita tak lain adalah Carissha. Carissha yang melihat Arfi hanya berdiri dilobby langsung menghampirinya

“Kamu kok gak langsung masuk, kenapa disini?” Tanya Carissha, Arfi hanya melirik pandangan pada kedua satpam yang berjaga dipintu lobby. Bersamaan itu Bram keluar menghampiri mereka

“Kalian sudah sampai, Papah udah nunggu kamu loh Fi”

Tentu kedua satpam itu saling pandang heran

“Maaf membuat papah menunggu, tampaknya mereka belum mengenal Arfi dengan baik” ujar Arfi melirik kedua satpam yang berdiri dibelakang Bram. Bram yang mengerti langsung berbalik badannya melihat kedua penjaganya

“Lain kali saya gak ingin dia tertahan dilobby saat dia datang kesini, kenalkan, dia anak saya. Arfi Juanto yang akan mewarisi perusahan Juanto Group”

Satpam itu hanya menundukkan kepala “maaf kami tidak tau hal itu. Sekali lagi maafkan kami” ujar mereka membungkuk. Arfi hanya menganggukkan kepalanya, selanjutnya ia hanya masuk kedalam bersama Bram dan Carissha

Bram mengajak mereka berbicara bertiga, sebelumnya Bram mengenalkan Arfi pada staff dan petinggi perusahaannya

“Jadi ada apa pah ngundang Arfi kesini?”

Bram meletakkan gelas minumnya ia beralih menatap Arfi

“Apa salah papah mengajak kamu bicara disini, papah hanya ingin ngobrol sama kamu”

Arfi mengesap minumannya

“Oke oke langsung to the point aja” Bram mengambil kontrak kerja yang belum ia tanda tangani. Arfi mengerutkan dahinya

“Ini adalah kontrak kerja yang baru,, papah mau kamu yang menandatanganinya”

“Ini kan pah, perusahaan Asing” ujar Arfi menatap Bram. Bram menganggukkan kepalanya tersenyum

“Ambil ini, sekarang ini jadi proyek kamu. Sedikitnya papah mau kamu mengurus ini”

Arfi menatap kontrak kerja itu ragu. Sebelumnya ia belum pernah bekerja sama dengan perusahaan asing

“Papah yakin kamu bisa, papah udah menyelidiki perusahaan kamu, dan papah yakin kamu berpotensi untuk menyelesaikan proyek ini”

“Tapi kan mereka memberikan kontrak ini ke perusahaan papah”

Bram menyandarkan tubuhnya ke kursi kebesarannya

“Perusahaan papah perusahaan kamu sama saja. Lagian papah udah bilang ke mereka bahwa perusahaan kamu juga anak perusahaan papah”

Arfi menggenggam kertas kontrak kerjanya. Ia membacanya dengan saksama. Disana hanya tertulis bahasa asing. Bram berdiri lalu merangkul pundak Arfi

“Papah yakin kamu bisa. Papah udah terlalu tua untuk memimpin perusahaan ini. Kini saatnya kamu, papah ingin menikmati masa tua dengan bermain dengan cucu papah yang lucu”

Arfi tersenyum, lalu ia menganggukkan kepalanya. Carissha yang melihat itu mengelus pundak Arfi memberinya semangat. Sedikit rasa terharu dalam hatinya. Pasalnya baru kali ini ia merasakan kasih sayang orang tua yang pernah hilang

“Dimana Arfi harus tanda tangan?”

Bram dan Carissha tersenyum senang. Ia memberikan ballpointnya kepada Arfi dan menunjukkan dimana ia harus tanda tangan.

Hape Carissha berdering menandakan ada panggilan masuk. Ia sedikit menjauh untuk menerima panggilan itu. Tak lama ia kembali dengan senyum

“Kamu sibuk gak Fi hari ini?” Tanya Carissha

“Agak kosong sih Mah, kenapa?”

“Kami ingin bertemu dengan cucu kami dirumah. Ayo istri kamu udah menunggu dirumah”

Arfi menautkan alisnya heran. Carissha yang melihat itu mengerti keheranan anaknya

“Julia dan El ada dirumah papah mamah, barusan sampai. Dijemput tadi sih. Mamah yang suruh”

Arfi mengerjapkan matanya beberapa kali. Lalu menganggukkan kepalanya. Mereka berjalan ke lobby bersama. Beberapa kali mendapat sapaan hormat dari para karyawan disana. Mereka pergi kerumah kediaman Bram bersama. Diperjalanan tidak ada hentinya Bram mengingat masa kecil Arfi yang ttentu saja memalukan baginya.

Ia hanya merengut setiap kali Bram dan Carissha membicarakan hal memalukan baginya. Yah, seperti itulah orang tua, tidak perduli seberapa besar anaknya sekarang ia akan selalu menganggap anaknya adalah anak kecilnya yang lucu.

Julia PoV

Aku sedang menggendong bayiku, sesekali ku ayunkan ia dalam gendonganku. Ia tertidur nyenyak setelah ku susui. Oh ya, kalian sudah tau kan nama anakku, tentulah, namanya El atau Elanine Agatha Juanto lengkapnya. Sebetulnya hanya Elaine Agatha namun karena hubungan Arfi dan orang tuanya membaik bahkan jauh lebih baik jadinya ditambahkan embel embel Juanto dibelakangnya.

Kuletakkan ia diranjang bayi. Rasanya sudah cukup aku menimangnya pinggangku terasa pegal setelah lebih dari setengah jam aku menimangnya

“Bobo yang nyenyak ya sayang..” ucapku sembari mencium pipinya yang gembul.

Kalau diperhatikan anak ini lebih mirip Arfi, perbandingannya denganku adalah 70 : 30 . Nah aku 30 nya. Lihat saja, alisnya, matanya, hidungnya. Hmmm mungkin aku terlalu mencintai Arfi hingga saat aku digoyang oleh Arfi dan benihnya masuk kedalam jadilah seperti ini ia lebih mirip papahnya. Tunggu, itu artinya Arfi tidak terlalu mencintaiku dong(?)

Kurasakan sepasang tangan memeluk pinggangku

“Harum banget sih, istrinya siapa?” Ujar Arfi yang memelukku dari belakang

“Istrinya orang”

“Istri aku dong, aku kan juga orang”

Aku terkekeh lalu berbalik badan memeluk tubuhnya dari depan

“Kangen banget sih sama aku hmm?” Ujarku yang sudah mengalungkan kedua tanganku dilehernya

“Bangetlah, kamu tuh kangen-able. Apalagi kangen…” Arfi menaik turunkan kedua alisnya. Aku merengut sebal padanya padahal aku juga merindukan sentuhannya

“Kamu mandi gih sana, bau apek” segera Arfi mengangkat kedua tangannya lalu mencium kedua ketiaknya secara bergantian

“Hehehe dikit, aku mandi dulu bentar ya”

Aku menganggukkan kepala. Arfi pergi ke kamar mandi dan aku menyiapkan pakaian untuknya. 15 menit Arfi telah menyelesaikan urusan kamar mandinya

“Sayang, ada yang mau aku omongin”

Aku duduk ditepi ranjang bersebelahan dengannya

“Apa yang mau kamu ngomongin?” Tanyaku, Arfi beranjak lalu mengambil beberapa lembar kertas dari tas kerjanya yang ia letakkan disisi lain kasur

“Kamu baca deh”

Aku meraih kertas itu, membacanya perlahan. Mataku membulat sempurna lalu beralih menatap Arfi.

“Ini beneran?” Tanyaku, Arfi hanya menghela nafasnya menatap lurus ke depan

“Segala fasilitas Juanto Group berlaku untuk kamu, segala bentuk keamanan, transportasi serta saham yang dimiliki papah kamu jatuh sama kamu?” Ujarku. Arfi menatapku lalu menganggukkan kepalanya.

Ini gelaseh, bayangin jika ini semua diberikan pada Arfi atau setidaknya Arfi juga bisa menikmati fasilitas dari keluarga Juanto. Pesawat pribadi, mobil, rumah, apartement, hotel, bahkan kapal fery pribadi

“Kamu baca lagi belakangnya deh” ujar Arfi. Aku membalik kertas itu lalu membacanya. Kembali aku menggelengkan kepalaku

“Pulau pribadi Fi? Aku gak pernah tau seberapa kaya harta keluarga kamu”

Arfi hanya menatapku “sejujurnya aku lebih suka hidup diatas kerja kerasku, bukan dari pemberian orang tuaku”

Aku melipat kembali kertas itu. Berjalan keluar menuju balkon dan menatap lurus ke depan. Ada perasaan khawatir dan cemas dalam hatiku. Aku kembali mengingat statusku dengan Arfi. Aku hanya wanita kotor yang kebetulan dicintai olehnya. Dan kini aku lebih tau siapa Arfi. Ia bukan orang sembarangan, harta keluarganya begitu banyak.

Kini aku mengerti saat itu Papahnya Arfi bilang aku hanya akan menggerogoti harta kekayaan Arfi. Mataku berkaca kaca mengingat itu. Aku terkejut saat Arfi memeluk tubuh belakangku dan menenggelamkan wajahnya dicaruk leherku. Segera kuhapus air mataku yang akan menetes.

“Aku sayang kamu, jangan tinggalin aku”

Kamu ngomong apa hey, seharusnya aku yang berkata seperti itu sama kamu. Aku yang kini takut kamu tinggalin aku Fi. Ku elus tangan yang memeluk perutku

“Arfi, kamu orang yang luar biasa dan kamu bukan berasal dari keluarga yang sembarangan.. Aku cuma takut Fi” air mataku mulai menetes. Arfi membalikkan tubuhku, menggenggam kedua pundakku dan menatap mataku dalam

“Harus berapa kali aku bilang sama kamu. Kalo pun ada harta yang aku punya paling berharga adalah kamu dan anak kita”

Aku menghapus air mataku. Arfi merangkuh tubuhku. Kubalas pelukannya dengan erat. Aku sangat takut, sangat takut kamu pergi dari aku Fi.

“Kamu gak usah khawatir, hilangin rasa cemas kamu. Kamu nafasku, aku bisa acak acakan hidup kalo gak ada kamu. Kamu sumber kekuatan aku” ujar Arfi sambil mengelus punggungku. Ia melepas pelukannya dan menatapku

“Hey, udah ya jangan nangis lagi”

“Kamu janji gak akan ninggalin aku?”

Arfi tersenyum, senyumnya sangat menawan

“Iya janji sayang, udah ya jangan nangis. Udah tua kok nangis sih”

Songong nih anak. Segera ku cubit perutnya

“Aduuh duhhh..iya iya ampun sayang ih galak banget sih”

“Biarin kamu ngeselin sih! Pake bilang bilang tua segala”

“Emang kenyataannya”

“Apa kamu bilang?” Aku melototkan mataku

“Eh. Engg.. enggak sayang hehehe”

Arfi menatapku, perlahan ia mendekatkan wajahnya pada wajahku. Tak berapa lama kurasakan benda kenyal milik Arfi dibibirku. Ia melumatnya lembut, kubalas ciumannya dengan lembut juga. Arfi mengangkat pinggulku, aku melingkarkan kedua kakiku dipinggangnya. Kutekan leher belakang Arfi memperdalam ciuman kami.

“Sshh…”

Desahanku lolos begitu saja. Ciuman kami semakin memanas. Ku acak rambutnya. Tanganku beralih meraih kaos Arfi lalu menariknya keatas. Arfi melepas ciumannya ia menatapku tersenyum begitu aku sudah melepaskan kaos oblongnya. Kuraba otot dadanya yang selalu membuatku kagum

“Kamu gak cape gendong aku kaya gini terus?”

“Kamu enteng kok” balasnya, tanganku terus bergerilya diotot otot sispeknya. Ugh, sungguh menganggumkan sekali

“Aasshhhh…” lagi aku mendesah saat Arfi mulai menciumi leherku.

Kurasa ia meninggalkan tanda merah disana. Ciumannya turun ke dadaku melucuti pakaian yang ku kenakan. Beruntung balkon rumah kami berhadapan dengan tembok pembatas perumahan sebelah yang menjulang tinggi jadi aku tidak perlu khawatir ada yang menonton kegiatan kami. Gairahku terbakar sempurna saat Arfi mulai menghisap salah satu dadaku sedangkan tangan satunya ia gunakan untuk meremas dada sebelah kiriku

“Aahhh.. shhhh… ennhaakk shayaanghh”

Arfi makin bersemangat bermain dengan dadaku, dapat kurasakan ia menghisapnya lebih kuat dari sebelumnya. Tidak hanya diputingnya, ia bergerilya menjelajahi seluruh bagian dadaku dengan lidahnya, sesekali ia menghisapnya dan meninggalkan tanda kemerahan disana

Arfi duduk di kursi balkon dan kini aku menjadi duduk dipangkuannya. Ia melepas isapan didadaku lalu menyambar bibirku, melumatnya dengan lembut dan lidah kami saling bertemu

“Kamu milik aku, sekarang, terus, selamanya!” Bisiknya dikupingku namun kedua tangannya berada di dadaku. Kugigit telinganya pelan sambil berbisik

“Bawa aku ke surga kamu malam ini, Honey”

Arfi tersenyum “As you wish, Dear”

Kembali ia mengecup pipiku lalu turun ke leherku. Kurasakan benda milik Arfi dibawahku melesak ingin dibebaskan. Ku ambil alih permainan dengan mengecup bibirnya, beralih ke lehernya. Kutinggalkan beberapa kissmark lalu turun ke dadanya

“Aahhh..” aku tersenyum saat berhasil membuat Arfi mendesah. Aku turun dari pangkuannya lalu jongkok didepannya. Ku elus benda pusaka milik Arfi dari luar celana

“Buka aja sayang” ujar Arfi. Tentu aku tidak menurutinya, ide nakalku keluar. Ku gigit celana Arfi lalu menjilati pusakanya dari luar

“Sshhh… shhyaaangghhh”

Hahaha! Aku berhasil membuatnya mendesah lebih keras. Ku tarik celananya perlahan. Begitu celananya terlepas keluarlah benda pusaka yang bertanggungjawab atas kelahiran El dari rahimku

Perlahan ku elus batangan besar tersebut, lalu mengecup ujungnya. Sedikit kumainkan dengan lidahku membuat Arfi semakin menggelinjang hebat hihihi

Ku masukkan milik Arfi ke mulutku hingga basah semua dengan air liurku. Puas dengan menghisap milik Arfi, aku melepas celana dan celana dalamku lalu aku kembali duduk dipangkuan Arfi dengan mengarahkan miliknya ke dalam milikku

“Aahhh..”

“Sshhhh..”

Desahan kami lolos bersama seiring masuknya milik Arfi ke dalam milikku. Ku cium bibir Arfi demi menghilangkan rasa sakitku. Lalu kugoyangkan pinggulku naik turun begitu pun dengan Arfi yang mengikuti pergerakan pinggulku.

“Ahh… shhh.. enaakkh sayanghhh”

“Hmmm shhhh… terusshh Arfiihhh”

Racau kami semakin tidak jelas, desahan desahan lolos dari mulut kami. Ini pertama kalinya kami melakukan selain dikasur kamar kami. Ya, kami melakukannya dikursi balkon kamar kami.

Seketika Arfi mengubah posisinya jadi aku dibawah dan dia berdiri. Ia mencabut miliknya. Lalu bermain dengan milikku menggunakan lidahnya. Ia menghisap kuat bagian sensitifku membuatku meremas rambutnya

“Sssshhh…aahhhhhh…” desahku panjang menandakkan aku mencapai klimaksku. Arfi menjilati semua cairanku dibawah sana lalu ia kembali berdiri dan mengarahkan miliknya ke milikku.

“Aahhh….”

Ia menggerakkan pinggulnya dengan gerakan cepat. Gairahku kembali terbakar

“Fasshterrr babee..”

Arfi menggerakkan pinggulnya lebih cepat. Kini ia juga bermain dengan dadaku. Menghisapnya secara bergantian kanan dan kiri

“sayaangghh aku mau keluarrhh”

“Keluarin diluar sayanghh”

Seketika Arfi mencabut miliknya. Dan menumpahkan cairannya diperutku. Nafasku tersenggal senggal. Arfi ambruk diatas tubuhku. Ku cium pipinya, menghirup aroma tubuhnya lebih dalam

“Mau lanjut gak?” Tanyanya seketika. Aku tersenyum

“Hayukk.. tapi dikamar ya, remuk nih pinggang aku kalo disini”

Arfi tersenyum lalu mengangguk. Ia menggendong tubuh polosku ke dalam. Dan kami melanjutkan kegiatan kami untuk kedua kalinya. Entahlah mungkin akan terus belanjut hingga ketiga atau ke empat kalinya. Hihihihi

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48