Tentang Kita Part 35

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 35 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 34

Julia PoV

Aku sedang menghapus make up diwajahku depan meja rias. Ya, aku baru kembali setelah pergi kondangan ke salah satu tetangga ku disini. Bukan disini sih, tapi di gedung. Aku menghadiri pernikahan anaknya kebetulan aku dan Savira diundang

Klek

“Halo sayang, udah kondangannya?” Tanya Arfi yang baru masuk ke kamar.

Ia terlihat lelah sekali meski ia memaksakan senyuman untukku. Ia mengecup pipiku sekilas lalu berjalan menghampiri tempat tidur baby El

“Mandi dulu sayang, kamu abis dari luar loh” ujarku. Arfi tersenyum lalu membuka kemejanya. Aku melihat dia duduk bersandar di sofa pojok kamarku. Wajahnya mengadah keatas, dengan segera aku menghapus make up ku lalu menghampiri Arfi. Ku pijat pundaknya, ia terkejut lalu menoleh menatapku. Aku tersenyum

“Kamu lelah banget hari ini. Biar aku pijit sebentar ya” Arfi hanya tersenyum membiarkanku memijit pundaknya. Aku beralih berdiri dibelakangnya memijat pundaknya, terkadang keningnya, dan kedua tangannya. Arfi membuka matanya menatapku

“Kenapa sayang?”

Arfi menggelengkan kepalanya “aku mau bicara sama kamu nanti, tapi aku mandi dulu ya” ia berdiri lalu berjalan ke kamar mandi. Aku menyiapkan pakaian santai untuknya. Beberapa menit Arfi keluar mengenakan handuk

“Ini baju untukku?”

“Iya”

Ia memakai baju, dan celananya. Maksudku ia benar benar memakai baju dan celananya didepanku. Membuka handuknya.. errrr

“Kenapa sih? Kaget banget kayanya”

Si bodoh ini kaya gak punya salah banget sih

“Aku kira kamu pake celananya dikamar mandi. Gak malu apa?”

“Ya buat apa, toh kamu juga udah lihat bentukannya seperti apa selain itu juga kan kamu pernah ngerasain ngapain lagi malu”

Errr.. dia benar juga sih. Aku mengalihkan pandanganku. Arfi meletakkan kepalanya dipangkuanku yang sedang duduk ditepi ranjang

“Kamu cantik”

Aku tersenyum menanggapinya, kurasakan pipiku menghangat meski Arfi sering ucapkan itu padaku tapi setiap kali ia memujiku ia tidak pernah gagal membuatku salah tingkah

“Kamu mau ngomong apa tadi?”

Arfi menarik nafasnya, tatapannya kosong menatap langit langit atas kamar. Hey, ada apa dengannya? Ada masalahkah?

“Aku ketemu kedua orang tuaku” ujar Arfi pelan. Aku terpaku mendengarnya, mataku mengerjap beberapa kali. Bayangan akan harga diriku direndahkan kembali terulang. Jantungku berdetak kencang. Aku terlalu bahagia hingga melupakan kedua orang tua Arfi yang mungkin saja kembali meminta anaknya untuk menuruti keinginan mereka

“Dan mereka ingin melihat cucu mereka. Mereka ingin melihat anak kita” aku kembali mengelus rambut Arfi lembut

“Lalu kamu jawab apa?”

“Aku melarang mereka datang kesini. Aku masih belum percaya mereka mengingat apa yang mereka perbuat sama kamu meski mereka ingin meminta maaf dan juga bertemu sama kamu”

Aku menautkan alisku “minta maaf? Sama aku?”

Arfi menganggukkan kepalanya

“Anehnya, Papahku tau rumah kita, dan lagi mereka tau kalo Savira dan Fahrie tinggal juga bersama kita”

Aku terkejut mendengarnya. Seingatku tidak pernah ada orang mencurigakan disekitar rumahku. Pasti mereka telah menyewa mata mata profesional. Aku yakin itu.

“Gimana menurut kamu?” Lagi, Arfi bertanya padaku. Aku tersenyum

“Mereka orang tua kamu sayangku, gak ada mereka, gak ada kamu artinya kamu gak akan bersamaku seperti saat ini. Kalo kamu tanya pendapatku, aku menerima mereka datang kesini apalagi dengan etikat baik”

Arfi bangkit duduk dikasur menatapku serius.

“untuk apa? Julia mereka itu udah merendahkan harga diri kamu, aku susah payah mengangkat harga diri kamu kembali tapi mereka menjatuhkannya.. aku–”

Cup

Ku kecup singkat bibirnya lalu tersenyum. Ku tangkup kedua pipinya, dudukku berpindah ke pangkuannya. Aku mengalungkan kedua tanganku dileher Arfi kembalu ku kecup bibirnya. Awalnya Arfi hanya diam kini ia membalas ciumanku, melumatnya bahkan kini lidahnya mencari lidahku

“Kamu tuh harus dicium dulu ya biar gak emosian. Heran deh”

Arfi hanya tertawa kecil. Matanya menyipit saat ia tertawa

“Iya iya maaf deh. Untuk keputusan kamu yang satu itu, aku pikirin deh. Aku akan pantau juga orang tua karena aku gak mau mereka bikin kamu sedih lagi”

Ku kecup pipinya “iya iya deh pahlawanku, eh bukan pahlawan keluarga kita” Aku tersenyum

“Hmm sayang, kamu belum boleh ya?” Tanyanya, aku menautkan alisku

“Belum boleh apa?”

“Itu loh..” alisnya dinaik turunkan. Oh aku ngerti

“Belum boleh, aku belum cek sih. Besok aku mau ke dokter Shinta nih sekalian cek”

“Dianter Savira?”

“Nggak sayang, dia kan ada penyuluhan karyawan baru gitu”

“Nggak bisa izin dia?”

Aku menggelengkan kepala “aku gak mau ganggu waktu kerja dia sayang”

Arfi menatapku serius.
“Percaya sama aku sayang, besok kan dianter pak Min”

Arfi menghela nafasnya “okeoke kalo ada apa apa kontek aku langsung ya?”

Aku mengacungkan jempolku.

“Bobo yuk”

“Yuk”

Aku tidur dengan memeluk lengan Arfi. Mencari tempat ternyaman untukku disana. Tak lama Arfi lebih dulu tertidur pulas hingga ia mendengkur halus. Aku tersenyum menatapnya. Mencium puncak kepalanya lalu tidur menyusul Arfi

***

05.00

Pagi sekali Juliq sudah terbangun akibat Baby El menangis. Ia menggendongnya lalu menyusuinya. Sedikit kesal karena Arfi tidak bangun untuk menemaninya

‘Bikinnya aja mau, giliran nangis tidur wae ih’ gumamnya. Namun ia tidak begitu marah atau kesal ia sadar ini adalah tanggungjawabnya sebagai Ibu.

Setengah jam berlalu, Baby El kini sudah tidur kembali. Julia meletakkannya diranjang tidurnya beralih membangunkan suaminya

“Sayang, bangun.. udah setengah 6 gak kerja kamu?”

“Eengghh.. setengah jam lagi” balas Arfi tanpa membuka matanya. Ia berbalik memunggungi Julia

“Hih! Jadi kesel”

Julia memutuskan untuk mandi dan bersih bersih. Setelah beres dengan urusan kamar mandinya ia melihat Arfi tengah duduk di tepi ranjang.

“Kamu mau mandi?”

“Iya, udah nenteng anduk gini masa mau macul” ujar Arfi melewati Julia begitu saja.
‘Jadi dia yang sensian sih’ batin Julia. Tidak mau ambil pusing ia segera menyiapkan pakaian kerja untuk Arfi

“Pagii eprybadeehh” sapa Julia dimeja makan yang sudah ada Savira dan Fahrie serta anak mereka

“Selamat morning untuk ibu ratu dirumah” balas Savira. Julia hanya tertawa lalu duduk disalah satu kursi meja makan

“Makan apa kalian?”

“Roti bakar, mau?”

Tidak menjawab Julia langsung mengambil roti dipiring dan memakannya. Fahrie harus rela roti bakar coklatnya yang dibuatkan oleh Savira dimakan oleh tuan rumahnya

“Heh itu mah buat suami gue.. punya lo ini nih” ujar Savira sewot

“Yaudah yang itu buat suami lo, tadi lo nawarin gimana sih. Gpp kan ya Fahrie”

Fahrie hanya tersenyum “iya gpp tenang aja” Savira mendelik malas lalu membuatkan roti untuk Fahrie

Arfi sudah bersiap berangkat ke kantor

“Aku berangkat dulu ya, nanti kamu cek up nya hati hati”

Julia mengangguk lalu Arfi mengecup sebentar kening dan bibirnya

“Pasangan hot memang” bisik Savira pada Fahrie

“Kamu mau aku kaya Arfi?” Savira mendelik

“Mereka mah enak ini rumah mereka lah kita numpang mana etis sih”

Fahrie hanya terkekeh mendengar jawaban istrinya

“Ayo Fahrie kita cabs” ujar Arfi berlalu di ikuti Fahrie. Ya kali ini sebelum Arfi ke kantor ia ingin mampir ketempat kursus Fahrie. Ia mau mengetahui sejauh apa Fahrie siap menerima tanggungjawab yang akan ia berikan nantinya

“Gue juga deh Jul, Nyonya Gracia nanti nungguin gue lagi doi mau dateng ke toko pagi ini”

“Oh iya ya, ya udah hati hati. Naik apa lo?”

“Taksi online bentar lagi juga sampe”

Mobil Avanza silver terlihat berhenti didepan pintu pagar rumah

“Nah itu dia, gue berangkat dulu ya” Savira berlalu meninggalkan Julia. Ia kembali ke dalam setelah Savira memasuki mobil taksi onlinenya.

“Siap siap dulu deh. Pagi pagi biar gak antri” monolog Julia. Ia segera naik ke atas berganti pakaiannya. Sedikit make up lalu…

“Sip sempurna. Ayuk dek kita cek up dulu ke dokter Shinta”

Julia menggendong Baby El turun. Sampai dibawah pak Min sudah menunggu majikannya, melihat majikannya membuka pintu Pak Min membuka pintu mobil mempersilahkan majikannya masuk

“Pak, kita ke rumah sakit anna medika ya” ujar Julia dari dalam

“Baik neng”

Mobil melaju meninggalkan area rumah. Ditengah perjalanan ia sangat gemas dengan baby El. Sesekali ia mencium pipinya yang gembul tentu tidak membangunkan baby El dari tidurnya.

“Lucu anet siihh.. anak ciapaa ciii ini..” ujar Julia mencubit pelan hidung baby El. Pak Min yang melihat itu dari spion dalam hanya tersenyum

Tiba tiba saja mobil yang dikendarai pak Min kehilangan keseimbangan. Namun sebisa mungkin ia mengendalikan mobilnya. Dan berhenti dipinggir sebuah jalan. Pak Min yang heran langsung melihat keluar

“Maaf neng, mobilnya bannya bocor nih kayanya. Mana sepi lagi”

Julia hanya diam mengerjapkan matanya

“Hmm gpp deh, saya naik taksi online aja. Nanti saya bilang Arfi untuk mengirimkan tukang service ke sini”

“Baik neng, maaf neng sekali lagi”

Julia tersenyum ” iya gpp pak tenang aja” disaat sedang menunggu taksi onlinenya Julia merasa Haus. Ia keluar dari mobil, melihat itu Pak Min yang diluar merasa heran

“Loh neng, kok keluar ada apa?”

“Saya mau beli minum pak haus”

“Sini neng biar saya aja. Si neng didalem aja. Biar gak cape”

Julia terdiam sejenak menatap pak Min selanjutnya ia tersenyum lalu memberikan uang lima puluh ribuan pada Pak Min

“Air putih aja Pak, si bapak kalo mau beli minum itu aja sekalian ya”

“Baik neng, ditunggu didalam neng”

Julia mengangguk lalu masuk kembali ke dalam. Ia kembali bermain dengan Baby El. Disaat sedang bermain pintu mobilnya dipaksa dibuka dari luar. Ia sedikit mengintip dari dalam. 4 orang lelaki berbadan kekar tengah menggedor dan memaksa membuka pintu mobil. Julia yang ketakutan hanya bisa memeluk baby El dengan erat

“Buka lo! Gue tau lo didalem. Kalo lo gak mau keluar gue bakar ini mobil” ujar salah satu orang diluar. Julia menangis didalam ketakutan

“Arfiii.. aku takut~~”

***

Dilain tempat, dikantor Arfi sedang sibuk membereskan satu persatu kontrak kerjanya dengan beberapa perusahaan lain. Ia menyusun dari proyek yang paling mudah dulu baru ke yang paling sulit. Rencananya ia akan mengadakan meeting dengan karyawannya siang ini. Arfi menghentikan kegiatannya sejenak melihat hapenya dimeja

‘Kok Julia belum ngasih kabar sih’ batinnya. Ia menggelengkan kepalanya mencoba berpikir positif. Tanpa disengaja, tangannya menyenggol gelas dimejanya hingga terjatuh dan pecah. Sedetik ia memandang pecahan gelas tersebut. Perasaannya tidak enak. Ia segera menelfon resepsionis kantornya

“Hallo, Prisil, tolong kamu suruh OB ke ruangan saya. Gelas diruangan saya pecah”

“…”

“Baik, terima kasih”

Ia membereskan berkas berkas dimejanya. Lalu meraih hapenya dan berdiri berjalan ke jendela ruangan kerjanya. Ia berniat menghubungi Julia. Saat hendak menghubungi Julia tiba tiba saja….

Brakk

“Fi, dilobby ada yang nyariin lo” ujar Iwan tergesa gesa. Arfi menautkan alisnya

“Siapa?”

“Gue gak tau, yang jelas mereka ingin ketemu sama lo”

Arfi menatap Iwan cukup lama

“Lebih baik lu temuin mereka. Gue gak tau siapa mereka tapi yang jelas mereka suruhan bokap lo dan mereka…”

Arfi menunggu ucapan Iwan yang menggantung

“Mereka? Mereka apa?”

“Mereka bilang Julia dan El berada bersama mereka”

Arfi membulatkan matanya. Jantungnya bergemuruh. Emosinya memuncak. Tanpa berpikir lagi ia segera pergi keluar menemui mereka sampai menabrak tubuh Iwan diambang pintu. Khawatir, jelas. Arfi tau siapa orang suruhan Papahnya. Mereka akan mematuhi apapun yang diperintahkan oleh papahnya termasuk mencelakai seseorang

“Kau sentuh anak dan istriku, akan ku buat kau menyesal seumur hidupmu, Bram Juanto” monolognya

***

Mobil Mercedes putih berhenti tepat diluar gerbang megah sebuah rumah bak istana. Seorang pria melangkah masuk kedalam menghiraukan sapaan para satpam dan pelayan disana. Mereka tau, orang itu adalah anak dari tuan rumah mereka yang tidak lain adalah Arfi Juanto, anak sulung Bram Juanto dan Carissha sasscha

Sampai didepan pintu, penjaga menghalangi Arfi

“Minggir, gue mau masuk!”

“Maaf tuan muda. Tuan Bram menyuruh kami untuk menyuruh anda tunggu diluar”

Arfi dibuat geram oleh mereka langsung memukul salah satu dari mereka. Saat akan melayangkan tinjunya lagi tangan dan kaki Arfi dikunci oleh beberapa orang dari belakang. Arfi mencoba berontak namun hasilnya nihil. Tubuh mereka terlalu besar dan kuat mustahil Arfi dapat lepas dengan mudah

“Hey hey ada keributan apa ini?” Bram keluar langsung melihat Arfi yang kaki dan tangannya dikunci oleh bodyguard

“Lepaskan dia, saya menyuruh kalian menghalangi bukan menguncinya seperti itu. Dia bukan maling disini!” Ujar Bram dengan sedikit membentak. Para bodyguard itu melepaskan Arfi lalu mereka menunduk memohon maaf padanya

Arfi menatap kesal ke arah Bram

“Welcome to your home, son” ujar Bram merentangkan kedua tangannya

“Berhenti berbasa basi. Dimana anak dan istriku”

Bram menatap manik mata Arfi dari jauh. Sorot matanya mengingatkan ia padanya dulu saat ia dan istrinya Carissha dipisahkan. Bram menentang keras orang tua Carissha yang menentang hubungan mereka. Kala itu, Arfi masih bayi dan orang tua Carissha memisahkannya dengan Bram

Arfi berjalan menghampiri Bram. Bram terdiam menatap apa yang ingin Arfi lakukan. Kedua bodyguard Bram bersiap berjaga takut takut Arfi akan bertindak kekerasan, namun Bram tau gelagat itu ia memberi kode pada kedua bodyguardnya untuk diam apapun yang terjadi. Arfi semakin dekat, Bram dapat melihat tangan anak sulungnya mengepal. Begitu mereka sudah dekat..

“Huaaaahh…”

Suara berat Arfi membuat Bram menutup matanya. Ia siap menerima pukulan meski itu dari anaknya sendiri. Bram terus memejamkan matanya, hingga beberapa detik ia tidak merasakan apapun. Ia mulai membuka matanya, tidak ada Arfi lagi didepannya

“Tuan, Tuan muda berlalu ke dalam begitu saja” ujar salah satu bodyguardnya. Bram tersenyum lalu ia berbalik masuk ke dalam. Hatinya merasa senang dengan tidak dipukul oleh anaknya, ia menganggap Arfi masih menaruh hormat padanya

“Dimana istri saya?” Tanya Arfi pada salah seorang pelayan

“Tidak tau tuan”

Arfi berjalan terus menelusuri ruangan ruangan dirumah besar tersebut. Namun ia tidak menemukan sama sekali Istri dan anaknya. Sampai ia berhenti disalah satu kamar. Ia menatap pintu kamar yang berwarna coklat itu. Tangannya terulur memegang knop pintu lalu memutarnya perlahan

“Julia…”

Kosong, tidak ada seorang pun didalam. Namun Arfi tidak langsung keluar. Ia memperhatikan sekelilingnya. Tidak ada yang brubah dari kamar itu. Sprey mobil berwarna biru, cat dinding berwarna biru muda, dan beberapa pajangan motor sport dan mobil sport masih bertengger manis disana.

Bahkan tidak ada debu sama sekali membuktikan kamar ini terjaga. Tatapannya teralih pada sebuah figura foto dimana terdapat fotonya, dalam gendongan Bram dan Octa yang masih balita berada dalam gendongan Ibunya, Carrisha. Ya, Arfi kini berada dikamarnya. Kamarnya saat ia masih berusia 5 tahun.

Saat hendak berbalik meninggalkan kamar tersebut, indra pendengarannya menangkap suara tidak asing baginya. Suara tertawa yang biasa ia dengar. Ia keluar menuju balkon kamarnya tatapanya langsung tertuju kebawah, di tepi kolam renang disebuah kursi santai sedang duduk bercerita dan tertawa dua wanita. Salah satunya adalah Julia, dan satunya lagi adalah Carissha, ibunya

“Sudah ketemu Istrimu?” Suara berat membuat Arfi menoleh kebelakang

“Ya” jawabnya singkat

Bram menghela nafasnya

“Kami merindukanmu Nak, kami banyak melakukan kesalahan. Meninggalkan kalian demi kesibukan kami. Kami pikir kerja keras kami untuk kalian karena apapun yang kalian minta akan kami penuhi. Bukti kasih sayang kami pada kalian. Ternyata kami salah…”

Arfi masih diam menatap Bram yang kini duduk ditepi ranjang dan mengambil figura foto dinakas

“Dimasa pertumbuhan kalian, seharusnya kami lebih banyak memperhatikan kalian. Itu wujud kasih sayang yang sebenarnya. Maafkan kami, kami pun banyak melewati sesuatu yang berharga yaitus saat tidak menyaksikan pertumbuhan kalian hingga dewasa kini”

Bram meletakkan figura foto itu kembali ke tempatnya

“Kamu tau, saat Papah melepas penat kelelahan bekerja papah menyempatkan ke kamar kamu dan adik kamu. Papah merindukan kalian. Apapun papah lakukan untuk melindungi kalian”

“Melindungi? Apa bodyguardmu membawa paksa istriku?”

Bram menoleh pada Arfi, ia tersenyum

“Aku tidak akan membiarkan siapapun melukai cucuku, anakku”

Arfi menautkan alisnya

“Dengar, aku menyuruh bodyguardku untuk mengikuti mobil istrimu. Hanya ini yang bisa papah lakukan untuk kalian. Ditengah jalan papah mendapat laporan bahwa mobil istrimu dijahatij oleh 4 orang. Yaaa.. papah menyuruh mereka untuk melawannya”

Arfi terdiam, apa benar cerita yang ia dengar ini

“Lalu kemana supirku yang mengantar istriku”

“Ah Pak Min ya, dia berada dirumah sakit. Lukanya tidak terlalu parah, namun bodyguardku terkena luka tusuk dipundaknya. Mereka berempat dan orangku hanya dua dibantu supirmu yang kurus itu”

Bram berdiri menghampiri Arfi. Ia menepuk pundaknya

“Papah sadar kesalahan papah, papah juga sudah meminta maaf pada istrimu atas kelakuan papah. Ini memang sulit, tapi papah akan menunggu kamu sampai mau memaafkan kesalahan papah. Temui istrimu sekarang bawa ia pulang. Soal supirmu, biar papah yang tanggung”

Bram berbalik berjalan meninggalkan Arfi yang terdiam

“Pah…”

Bram terdiam mendengar Arfi memanggilnya dengan sebutan Pah . Sudah cukup lama ia tidak mendengar suara itu memanggilnya papah. Ia berbalik

“Ya?”

“Terima kasih”

Arfi tersenyum, begitu pun dengan Bram. Detik selanjutnya hal yang tidak disangka sangka oleh Bram. Usahanya kini tidak sia sia. Arfi sedikit berjalan cepat lalu memeluk tubuh papahnya erat. Bram tersenyum, ia mengusap punggung anak sulungnya. Air mata Bram hampir menetes.

Jauh dilubuk hatinya ia sangat merindukan anak sulungnya dan kini ia bisa kembali memeluk anaknya. Bram Juanto, pengusaha sukses bahkan terkenal sampai ke dataran eropa yang terkenal dengan sikap dan sifatnya yang tegas kini meneteskan air matanya hanya karena pelukan dari anak sulungnya. Itulah cinta orang tua kepada anaknya. Sekeras apapun pada anaknya, akan hadir dimana hari ia akan merindukan anaknya

Arfi kembali masuk ke mobilnya di ikuti oleh Julia yang menggendong baby El. Setelah berbincang sedikit ia memutuskan untuk mengantar Julia ke rumah sakit guna cek up.
Julia melambaikan tangannya pada kedua orang tua Arfi begitu pun mereka. Dijalan Arfi hanya diam, ia tidak mengerti apa yang terjadi hari ini. Kekecewaannya, kebenciannya pada orang tuanya hilang dalam waktu sekejap

“Kamu gpp kan tadi?” Tanya Arfi

“Iya gpp, aku tadi sempet takut loh. Tapi kedua orang suruhan papah kamu menolongku hingga aku dibawa kerumah orang tua kamu”

“Sukur deh kalo kamu gpp. Aku khawatir banget tadi”

“Iya sukur El juga gpp. Untung ada dua orang suruhan papah kamu. Mereka terlibat perkelahian, pak Min aku suruh berlindung malah ikutan ribut jadi luka deh jidatnya”

“Lalu pak Min gimana?”

“Dia dibawa ambulance lebih dulu. Padahal salah satu bodyguardnya papah kamu kena tusukan dibahunya tapi mereka bilang gini ‘maaf, melindungi anggota keluarga Juanto adalah kewajiban kami meski taruhannya nyawa kami perlu memastikan anda aman lebih dulu jangan pikirkan kami’ gitu sayang”

Julia menirukan suara berat membuat Arfi terkekeh. Ia sedikit tersanjung dengan apa yang dilakukan oleh papahnya. Entah apa yang akan terjadi jika orang suruhan papahnya tidak ada disana

“Oh ya Fi, mobil kita juga kan pecah kaca jendelanya. Langsung dibawa ke bengkel sama orang suruhan mamah kamu. Jadi nanti kalo udah selesai langsung dianter kerumah. Orang tua kamu enak ya Fi, banyak orang suruhannya hehehehe”

Arfi mengacak rambut Julia

“Papahku minta maaf sama kamu?”

Seketika Julia terdiam. Ia memandang lurus ke depan membuat raut wajah Arfi berubah khawatir

“Julia..” ulang Arfi

“Papah kamu bahkan sujud dikaki aku, Fi” ujar Julia pelan. Arfi langsung menoleh ke arah Julia

“Yang bener kamu?”

Julia hanya menatap Arfi dengan tatapan serius menggambarkan ia tidak sedang berbohong

“Papah juga berjanji akan melindungiku dari Angelo dan orang orangnya yang Kemungkinan akan menggangguku. Jika saja Angelo berani menyentuhku, papah kamu gak segan membunuh mereka”

Arfi terdiam menatap lurus kedepan. Pasalnya ia bahkan tidak lagi memikirkan Angelo. Sedikitnya ia lupa siapa Angelo, orang yang terkenal mafia dinegara ini. Beberapa kali ia keluar masuk penjara tidak membuatnya jera

Arfi mengelus pundak Julia yang tengah menggendong baby El

“Sekarang kamu aman” ujar Arfi sambil tersenyum. Membuat Julia tersenyum juga

“Lalu, bagaimana hubungan kamu dan papah kamu?”

Arfi tidak menjawab pertanyaan Julia ia mengalihkan pandangannya ke depan sambil tersenyum lebar penuh arti

Mobil Arfi telah sampai dirumah sakit. Ia langsung menemani Julia hingga selesai menjalani cek up nya.

***

Beberapa hari setelah kejadian hari itu, Julia jadi sering menerima telfon dari Ibu mertuanya. Ia menanyakan gimana keadaan cucunya. Saat ditawari datang kerumah, Carissha, hanya menjawab ‘nanti mamah kerumah kalau anak mamah sama papah, itu pun jika Arfi mengizinkan’ Julia hanya diam saja menanggapinya. Begitu pun dengan Arfi, ia hanya kontek dengan papahnya melalui telfon. Mereka berbincang meski masih ada kecanggungan disana.

Julia telah selesai mengganti popok Baby El, Savira masuk bersama Theo anaknya.

“Lihat tuh dede El abis mandi.. udah wangi dia” ujar Savira pada anaknya. Theo menghampirinya lalu berdiri disampingnya baby El memperhatikan El yang sedang menendang nendang angin.

“Permisi non, Ada telfon dari nyonya besar..” ujar Bu Imas, Julia langsung turun kebawah untuk menerima telfonnya

“Titip anak gue Vir”

Savira hanya menganggukkan kepala

“Sini dek, lihat dede El nya dari sini” Theo beralih ke pangkuan Savira yang duduk ditepi ranjang. Theo memperhatikan dengan gemas setiap kali baby El bergerak

“Mamah, dia ngapain?” Tanya Theo polos

“Dia lagi olahraga. Kalo olahraganya bayi kaya gitu”

Theo hanya memperhatikan El kembali

“Mamah, Theo dulu kaya gini gak?”

Savira mencium puncak kepala Theo “iyalah sayang, kamu juga dulu sama segede gini. Mamah dulu ngerawat Theo dari sekecil ini sampai sekarang Theo sudah besar”

Selanjutnya membuat Savira terharu, Theo berbalik langsung memeluk Savira. Ia membalas pelukan anaknya, ‘ya ampun, anak gue pinter banget padahal kecilnya dikasih makan ikan asin sama nasi dan kecap doangan’ Savira membatin

“Savira… lo harus bantu gue!” Julia yang datang secara gaduh membuat ibu dan anak ini melepaskan pelukannya

“Heh kuping gue gak conge! Bantuin apaan sih sampe teriak teriak gitu?”

“Nyokap bokapnya Arfi mau datang kesini malam ini. Lo bantuin gue masak ya”

Savira memijit keningnya merasa kepusingan dengan sahabatnya itu yang bersikap berlebihan

“Yuk dek, Tante Julia nya lagi sedikit geser. Mamah bantuin tante dulu ya, kamu main dibawah. Yuk”

Savira menggendong Theo turun ke bawah begitu juga Julia membawa El dalam gendongannya kebawah biar dijaga oleh Bi Imas. Pasalnya Carissha ingin berkunjung kerumah mereka ingin mencicipi masakan dari menantu pertamanya

Dilain tempat, Arfi tengah mengobrol dibalkon ruangan kantornya dengan Bram. Awalnya Arfi sedikit terkejut dengan kedatangan Bram ke kantornya. Siapa tidak mengenal Bram Juanto, sontak membuat seisi kantor sedikit gaduh karena kedatangan Presiden Direktur dari perusahaan Juanto Group itu.

“Papah gak tau harus bangga atau menyesal” ujar Bram sambil meminum minumannya sedikit. Arfi masih diam menatap heran pada Bram

“Bangganya adalah papah bisa berdiri digedung kantor anak sulung papah sendiri. Menyesalnya adalah papah gak melihat proses kamu hingga kamu memiliki perusahaan yang cukup besar ini”

Arfi tersenyum menanggapinya. Ia mengesap minumannya. Jujur saja, hingga saat ini ia masih canggung dengan papahnya. Lebih dari 10 tahun ia berpisah dengan kedua orang tuanya membuatnya selalu kehabisan kata kata didepan orang tuanya. Melihat itu Bram mencoba mencairkan suasana

“Elaine Agatha Juanto, gimana menurut kamu?”

Lagi, Arfi hanya diam dengan sedikit senyum

“Papah dulu, waktu kamu lahir bahagianya luar biasa. Mamah kamu sampai kepusingan karena papah terlalu overprotective sama kamu. Hingga kamu beranjak umur 4 tahun apapun kamu minta papah akan belikan” Bram mulai bercerita, ia mengenang masa lalu nya yang menurutnya indah itu.

Bram merangkul Arfi namun karena tinggi badannya kurang ia harus sedikit berjinjit untuk menyamai tinggi badannya dengan Arfi

“Kamu sekarang juga sudah besar, sudah tinggi dan kekar badan kamu. Papah udah loyo, maafkanlah papahmu dulu. Papahmu udah tua, kamu tampol papah, urusannya kuburan”

Arfi sedikit terkejut mendengar penuturan papahnya

“Papah, jangan bilang gitu. Mana mungkin Arfi nampol papah”

Bram melepas pelukannya lalu tertawa menatap anaknya

“Loh benar kan, coba lihat lengan kamu ini, berotot besar. Papah udah alot begini”

Bram tertawa cukup keras, tak lama Arfi pun tertawa mengikuti papahnya. Bram merasa anaknya kini mulai membuka hati untuknya. Ia akan terus berusaha agar anak sulungnya bisa menerimanya dengan sepenuh hati

“Oh ya Nak, malam ini papah sama mamahmu ingin makan malam dirumah kamu”

Arfi terdiam sejenak memandang papahnya. Detik berikutnya ia tersenyum

“Tentu Pah, silahkan. Kami pasti senang menerima papah dan mamah”

Bram memeluk Arfi kembali. Pelukannya terlepas saat mendengar suara ketukan pintu

“Sorry, Fi, Om ganggu. Dibawah ada tamu dari Tanos Corp. Dia agak sedikit kecewa dengan apa yang kita berikan”

Arfi menghadapa Iwan dengan segera.

“Maksudnya gimana? Kemarin presentasinya mereka udah menyetujui, kontrak pun udah berjalan. Lalu apa masalah mereka? Kita baru akan mulai proyeknya loh”

“Gue kurang paham juga Fi, mereka bahkan meminta ganti karena mereka rasa hasil presentasinya yang kemarin kurang puas. Mereka mau membatalkan kontrak kerja dengan kita”

Arfi sedikit geram mendengarnya. Memang Tanos corp. adalah perusahaan yang sedikit neko neko. Mereka tidak segan membatalkan kontrak kerja yang mereka sudah buat dengan alasan yang tidak jelas. Sama seperti perusahaan Arfi kali ini.

“Dimana orang orang tanos itu, Wan?” Kali ini Bram ikut bicara

“Mereka ada diruang meeting Om”

“Fi, kamu tunggu sini. Biar papah sama Iwan dan beberapa staff kamu yang menanganani proyek Tanos corp ini”

“Eh, tapi Pah–”

“Kamu cukup diam disini, papah gak ingin anak papah dipermainkan seperti ini. Tanos perlu tau siapa anak pemilik perusahaan ini.. ayo Wan antar saya menemui mereka”

Arfi hanya diam tidak bisa menghalangi papahnya. Tidak banyak yang ia bisa perbuat. Ia menelfon salah satu staffnya

“Hallo, tolong kamu ikutin Pak Iwan, ia sedang bersama Pak Bram, papah saya sedang mengadakan meeting dengan Tanos Corp”

“…”

“Oke terima kasih, Yuni”

Arfi menutup telfonnya. Ia duduk dikursi kebesarannya. Hapenya bergetar, ia tersenyum menatap sebuah nama dilayar hapenya

“Hallo, kangen yaa?”

“Apaan sih Geer banget kamu, aku mau nanya nih”

“Nanya apa sih sayang? Kalo nanya aku cinta kamu apa nggak jawabannya pasti banget”

“Arfi, aku serius ih. Mamah sama papah mau makan malam dirumah kita”

Arfi hanya terdiam, ide jahil muncul dikepalanya

“Beneran? Artinya kamu harus masak enak loh, atau bisa bisa kamu dipecat dari daftar menantu mereka”

“Hah? Kamu beneran? Iya iya aku harus masak enak! Yaudah ih kamu malah nelfon aku apaan sih!”

Tuuutt

Arfi mengerjapkan matanya beberapa kali

“Lah kan dia yang nelfon tadi, jadi gue yang dimarahin” ia menggelengkan kepalanya heran dengan sikap istrinya yang begitu panik.

Ia tersenyum menatap layar wallpaper hapenya yang menampilkan fotonya dan Julia yang tersenyum. Bibir pink Julia yang selalu merekah adalah salah satu yang membuat Arfi selalu merindukannya. Ia memutar kursinya membelakangi meja kerjanya sambil terus menatap layar hapenya.

“Gila cakep banget istri gue..” monolognya

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48