Tentang Kita Part 34

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 34 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 33

Disalah satu restoran jepang, Ferdi dan Rose tengah makan siang bersama. Jarang memang melihat pasangan ini akur. Rose meminum Es teh manisnya lalu menatap Ferdi

“Jadi kapan kita balik ke belanda lagi?” Tanya Rose. Ferdi yang masih mengunyah menjawab seadanya

“Tewsewah kamuuwh awjah”

Rose hanya menautkan alisnya heran

“Terserah kamu aja” ralat Ferdi setelah ia menelan makanan dimulutnya

“Cutinya masih ada 3 minggu lagi, aku gak mau kelewat nanti absensi aku jelek kaya muka kamu”

Ferdi melongo mendapat jawaban ngasal dari Rose. Pasalnya Rose jarang sekali menjayus karena Rose adalah tipikel orang serius. Ferdi tersenyum mungkin artinya Rose bisa menerima sepenuhnya dirinya dan menganggap dirinya bukan lagi orang asing

“Oh ya, Anaknya bang Arfi gimana?”

“Fine, sehat malahan”

Ferdi menganggukkan kepalanya “tapi kata bang Iwan Kakak kamu itu cuti ya? Jadi kerjaannya dipegang abangku. Dia sampai kelelahan, bahkan kalo dirumah Okta suka protes karena saat Okta minta malah abangku udah tidur duluan”

Rose menghentikan kegiatan makannya, mengelap mulutnya dengan tisu lalu menatap Ferdi

“Okta minta? Jatah?”

Ferdi menganggukkan kepalanya sambil mengunyah makanannya. Sejenak Rose terdiam membayangkan bagaimana Okta yang polosnya tidak pernah mengetahui hal berbau ranjang kini malah ketagihan gitu pikirnya

“Diana…”

Rose mengangkat kepalanya menatap Ferdi. Tatapan Ferdi berubah menjadi serius, tangannya terulur meraih sebelah tangan Rose dimeja makan. Rose masih diam menunggu apa yang akan dilakukan Ferdi padanya

“Aku ingin lebih serius lagi sama kamu, atau minimal aku ngelamar kamu menemui orang tua kamu”

Rose sedikit terkejut dengan pernyataan Ferdi. Disisi lain ia senang orang yang ia cintai melamarnya namun disisi lain ada hal yang belum diceritakan olehnya ke Ferdi tentang orang tuanya yang entah berada dimana. Pasalnya, sejak ia berumur 7 tahun, ia hanya tinggal bersama Kakaknya Arfi. Rose menarik tangannya perlahan membuat raut wajah Ferdi kecewa

“Aku belum siap” ucapnya lirih

“Aku mencintai kamu Octa Rosediana, aku ingin membuktikan kalo aku serius sama kamu” ujar Ferdi namun Rose masih menundukkan kepalanya

“Oke aku tau aku memang masih kuliah dan belum berpenghasilan tapi aku janji akan segera menyelesaikan kuliahku dan bekerja demi bersama kamu. Aku janji Rose”

Rose nenatap manik mata Ferdi. Tidak ada kebohongan disana hanya ada ketulusan. Ia menarik nafasnya lalu menatap Ferdi kembali

“Aku masih nyaman seperti ini. Maafin aku, akan ada saatnya aku yang minta kamu untuk seriusin hubungan kita. Sementara kita jalanin dulu kaya gini ya, kita baru pacaran 6 bulan. Masih terlalu dini untuk kamu melamar aku”

Ferdi tersenyum getir lalu ia menganggukkan kepalanya

“Lebih semangat lagi, aku menunggu kamu diujung pintu kemenangan kamu. Teruslah berusaha untukku. Biaya pernikahan gak murah loh karena ini hanya sekali dan aku hanya ingin menikah sama kamu”

Senyuman Ferdi makin mengembang. Seperti mendapat energi baru ia sangat bersemangat

“Kalo begitu minggu depan aku ke belanda lebih dulu”

Rose mengerutkan dahinya

“Karena aku masih ada beberapa tugas belum diselesaikan disana. Jadi saat masuk semester baru tugasku sudah beres semua”

Rose membulatkan matanya “selama di indo kamu gak bawa tugas tugas kamu gitu?” Ferdi hanya menggelengkan kepalanya dengan cengiran khasnya.

Rose memijit keningnya sendiri ia merasa pusing harus berbuat apa agar sifat malas pacarnya hilang. Namun dalam hatinya ia tersenyum senang akan kesungguhan Ferdi barusan. Sedikit ia berdiri dari kursinya lalu membungkukkan tubuhnya ke depan

Cup

Ciuman singkat didaratkan dibibir Ferdi membuat Ferdi terkejut bukan main. Selama mereka berpacaran mereka belum pernah ciuman, mencium pipi bahkan mencium kening pun jarang, sangat jarang. Mereka paling sering bergandengan tangan saja. Ferdi memegang bibirnya sendiri

“Penyemangat untuk kamu” ucap Rose tersenyum. Ferdi masih diam kaku mencerna apa yang barusan terjadi. Ia menggelengkan kepalanya cepat. Sudut bibirnya tertarik keatas berlawanan arah

“Sip! Makasih sayang! Duuuh jadi gak sabar pengen nikahin”

Rose hanya tersenyum membuat Ferdi tersenyum lebih lebar. Dalam hatinya Ferdi tersenyum senang sekali ia berjanji dalam dirinya akan menepati janjinya

***

Pagi ini adalah hari ke 4 pasca kepulangan Julia setelah melahirkan dan Arfi masih menemani Julia dirumah. Tidak sepenuhnya menemani sih buktinya pada pagi ini Arfi sedang berada digarasi dan mulai mengoprak ngaprik motornya. Dia pikir kapan lagi bisa berlama lama dengan motor motor kesayangannya

Disaat sedang memanasi mesin motornya Fahrie datang menghampiri Arfi dengan senyumnya yang mengembang

“Gak sarapan dulu Fi?”

“Oh, ya nanti saya sarapan.. emang udah siap?”

“Belum sih, Emm sorry kalo boleh tau usia kita selisih berapa sih, kalo umur saya itu 25 tahun” Ujar Fahrie takut takut Arfi tersinggung dengan ucapannya. Arfi menoleh ke arahnya

“Saya masih 23 tahun” ujar Arfi santai membuat Fahrie membulatkan matanya sekaligus takjub dengan kesuksesan yang Arfi raih diusianya yang sangat muda

“Kenapa?”

Fahrie menggaruk kepala belakangnya yang tidak gatal. Ia ingin menyampaikan sesuatu namun ia ragu mengucapkannya. Arfi yang melihat gelagat Fahrie pun mengerutkan dahinya

“Anu Fi, kayanya kita terlalu formal sih.. emm maksud saya, kita kan teman anggaplah begitu.. gimana ya jadi bingung..” Arfi yang melihat Fahrie gugup pun makin keheranan melihat tingkahnya

“Oke saya ngerti.. maksudnya bahasa kita itu terlalu formal begitu? Jadi maunya pakai gue-lo aja gitu?”

Fahrie terlihat kikuk “itu sih kalo gak keberatan hehe.. eh tapi ini saran dari Istri saya loh biar lebih akrab aja”

Arfi menatap Fahrie serius selanjutnya ia tertawa cukup keras

“bro bro gini aja kok gugup ngomongnya. Kalo saya sih menghormati yang lebih tua tapi kalo supaya lebih akrab sih.. it’s okey”

Fahrie tersenyum menganggukkan kepalanya “jadi sekarang kita gue elo an aja nih?”

Arfi yang berjalan ke arah motor satunya lagi hanya tertawa pelan

“Yaa oke” jawabnya

Fahrie memperhatikan motor Arfi. Menurutnya motor Arfi ini terlalu besar bahkan Fahrie jarang melihat motor seperti ini

“Btw ini motor Cc nya berapa Fi?”

Arfi menoleh ke belakang

“Itu seribu Cc Bro, kenapa? Mau test ride?”

Fahrie menggelengkan kepalanya cepat. Bukan ia tidak bisa mengendarai motor kopling hanya saja motornya tidak sebesar ini. Ada rasa takut dalam hatinya takut takut jatuh karena ia belun ada sama sekali pengalaman mengendarai Moge seperti ini

“Lu harus coba bro, rasakan sensasinya deh. Pernah kan naik motor kaya gini?”

“Belom bro, dulu minjem punya boss aja nganter anaknya itu juga gak segede gini. Cuma 250Cc”

Arfi berjalan ke arah Fahrie lalu merangkulnya. Fahrie cukup terkejut dengan perubahan sikap Arfi padanya. Jika sebelumnya Arfi bersikap dewasa dan serius kini ia bersikap lebih humble dan friendly

“Kalo gitu sesekali coba motor gue yang itu. Namanya Zio seribu Cc juga cuma versi naked bike lebih friendly gak nunduk. Nyaman deh pokoknya”

Fahrie hanya menganggukkan kepalanya merasa tidak enak jika ia menolak terus tawaran Arfi

“Hoi kalian! Dicariin buat sarapan juga.. gih naik buruan” ujar Savira lalu berbalik berjalan lebih dulu

“Ayo bro, keburu ngamuk nanti para betina kita”

Fahrie terkekeh pelan. Ia tidak menyangka sikap Arfi ternyata cukup humble. Mereka sarapan bersama sesekali saling meledek. Dimeja makan ada Arfi dan Julia tentunya, Rose juga Savira dan Fahrie.

Kehidupan Arfi dan Julia membuka lembaran baru kini sebuah nama muncul dibawa nama keluarga mereka. Elaine Agatha, sebuah anugrah dari sang kuasa yang dititipkan kepada mereka. Arfi selaku kepala keluarga bertekad melindungi dan memperjuangkan anak dan istrinya dimata kedua orang tuanya. Perjuangan baru saja akan dimulai baginya. Apapun itu ia siap menghadapi segala rintangan didepannya

***

Setelah menghabiskan waktu cutinya Arfi kini kembali disibukkan dimeja kerjanya. Ia mengurus beberapa dokumen dan file penting serta menandatangani beberapa file kerja sama dengan perusahaan lain

Klek

“Sorry, ganggu bro, ini daftar karyawan yang udah gue buat. Kali aja lo mau revisi ulang”

Iwan menghampiri meja kerja Arfi membawa selembaran berisi nama karyawannya yang perlu direvisi. Beberapa karyawannya sudah terlalu tua untuk bekerja untuk itu mereka perlu merekap ulang karyawannya. Kejam memang, namun sebagai gantinya Arfi memberikan kesempatan bagi karyawan yang diputus kerjakan dengan mengganti anak, atau saudaranya untuk bekerja diperusahaannya tanpa melalui test lagi

“Pak Imron masih oke gue rasa sih, pak Ilham juga masih sigap. Gini deh mereka berdua kandidat diperusahaan yang akan gue kembangkan nanti”

Iwan mengeritkan alisnya mendekat dengan melipat kedua tangannya dimeja menatap Arfi serius

“Perusahaan? Baru lagi?”

Arfi menatapnya, tak heran Iwan sahabatnya tidak mengetahui pasalnya Arfi memang belum memberitahukan pada siapapun kecuali orang rumahnya. Bisnis barunya bergerak di bidang iklan animasi yang akan dipegang langsung oleh Fahrie

“Gue berencana mengembangkan perusahaan baru. Masih dibidang periklanan tapi berupa animasi”

Sedikit kecewa Iwan menghembuskan nafas kasarnya

“Kenapa bukan gue?”

“Lo itu disini sama gue” Arfi menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursinya “partner ter-the best gue itu lo, nantinya jika gue mengembangkan dua perusahaan, lo yang gue andelin untuk yang disini”

Iwan sedikit tersanjung dengan ucapan Arfi. Ia tersenyum sedikit rasa kecewanya lenyap begitu saja

“Kok kedengerannya gue yang bakal dibabuin sama lo ya”

Arfi terkekeh lalu berdiri merangkul sahabatnya

“Gue sebagai sahabat yang baik Wan, kapan lagi lo punya sahabat yang ngebabuin gini kan?”

Mereka tertawa bersama. “Ujung ujungnya gue lagi kan”

“Hahaha anyway, ada yang mau gue bicarain sama lo”

“Apa tuh? Nitip kerjaan lagi?”

Arfi melempar Iwan dengan kertas yang digenggamnya

“Bukan dodol, lu kan udah nikah sekarang jadi gue perlu naikin gaji lu”

Iwan menatap serius ke arah Arfi. Arfi kembali ke kursi kebesarannya dan duduk menatap Iwan serius

“Honor lu sekarang jadi 1% dari omset kita”

Terkejut! Iwan sangat terkejut dengan pernyataan Arfi menatap sahabatnya tidak percaya

“Serius lu?”

Arfi menganggukkan kepalanya. Membayangkan saja honor Iwan kini tidak lagi menggunakan nominal bulanan, kini ia menerima 1% besarnya omset perbulan dari perusahaan. Itu artinya gajinya perbulan tidak menentu nominalnya

“Gila kalo 1% berarti gue bisa nerima sekitar 100 sampai 150 juta sebulan?”

Arfi menganggukkan kepala “itu cukup kan Wan?”

Iwan terdiam menatap Arfi. Ada keheranan dibenaknya kenapa Arfi sebaik itu padanya

“Kok lu berani kaya gini Fi ke gue, kalo boleh tau apa alasannya selain gue sahabat lo?”

Arfi menarik nafasnya “gue tau rasanya berjuang, perihal kemarin saat pernikahan lo kurang dana sampai lu mau jual motor membuat gue berpikir apa gue kurang mensejahterakan pekerja gue, sedangkan gue bisa dibilang hidup mewah karena para pekerja gue juga yang ikut andil memajukan perusahaan gue”

“Terlebih lo, sahabat gue yang bener bener kita mulai perusahaan ini dari nol. Akan sangat adil bagi gue kalo honor lu segitu”

Iwan cukup terharu, air matanya hampir menetes namun ia tahan. Ia menatap sahabatnya, pikirannya mengkilas balik dimana saat hanya dia dan Arfi membangun perusahaan ini mulai dari ruko kecil, yang hanya dia dan Arfi bekerja didalamnya sampai berkembang pesat hingga saat ini

“Bahkan gue mau juga lu direktur di perusahaan gue yang satunya juga. Jadi pentolan gitulah lu sama si Fahrie”

“Thanks Fi, lo emang sahabat gue yang terbaik. Eh nggak, lo udah gue anggep saudara gue”

Arfi tersenyum kecil “btw gimana Okta? Dia baik aja kan kok dia gak masuk ke daftar karyawan yang perlu direkap sih? Kan dia nyebelin tuh”

Iwan mendengus kesal “sialan lo! Bini gue tuh kecil kecil sekarang”

“Hahaha kecil? Tinggi gitu kok”

“Gue gak lagi ngomongin fisik ya..”

“Tau deh tau, yang pedofil mah beds gitulah”

Iwan melempar bola kertas ke arah Arfi “anjirlah, meski gitu masih peret banget loh. Nikmat memang”

Kini Arfi yang mendengus merasa tersindir oleh sahabatnya, namun ia tidak merasa tersinggung

“Meski gue bukan yang pertama. Tapi pas dipuncak masih berdarah loh pas sama gue”

“Lah bisa gitu? Clientnya dulu bocah SD kali Fi”

“Bisa jadi kali tuh. Belom pada sunat”

Mereka tertawa lepas. Tanpa disadari mereka saling membuka aib masing masing tanpa ada rasa canggung sama sekali

***

Savira sedang berjalan sambil mendorong trolli belanjaan. Wajahnya masam merengut sesekali berguman tidak jelas

“Vir, menurut lu bagusan warna pink apa biru muda?”

Savira hanya melirik sedikit “biru” lalu menjawabnya asal

“Hmm oke”

Lain dari jawaban yang diberikan Savira, Julia malah menaruh sarung tissue tersebut ke belanjaannya berwarna pink

“Gue suka warna pink tau, ayo let’s go!”

Julia melenggang melangkah meninggalkan Savira yang tengah menahan emosinya sampai ke ubun ubunnya

Selesai berbelanja mereka kembali ke mobil dengan belanjaannya diletakkan dibagasi

“Pak, kita makan siang dulu ya..” ujar Julia kepada Pak Min supirnya

“Lo mau makan apa Vir?”

Savira hanya memandang keluar jendela tanpa memperdulikan Julia. Julia yang gemas langsung mencubit kedua pipi Savira

“Adooooh apaan sih sakit Juliaaaaarrgghhh”

“Ya lagian sih gue nanya gak dijawab.. lo mau makan apa?”

“Makan lo!”

Senyum Julia menyeringai, ia menatap Savira dengan tatapan menggoda sedikit ia singkap kerah kemejanya hingga memperlihatkan pundaknya. Sadar sedang diperhatikan Savira menoleh ke arah Julia yang sedang menatapnya dengan tatapan….

“Lo gila Julia, anak lo dirumah tuuuuhhh.. kurang puas apa lo sama laki lo buseet gue masih normaaaalll”

Savira mendorong pundak Julia menjauh membuat Julia tertawa keras. Savira hanya menatap kesal ke arah Julia

“Aduh gue sampe nangis gini ketawa nya”

“Puas lo?!”

“Okeoke sorry gue bercanda aja. Abis lo bete banget gitu sih jalan sama gue”

“Lo pikir aja sendiri”

“Hahaha iya iya deh sebagai gantinya hari ini mau makan apa lo? Gue traktir deh”

Savira terdiam sejenak. Sampai saat ini pun dirinya merasa selalu dipenuhi keperluannya oleh Julia terlebih saat ia dan keluarganya tinggal dirumahnya

“Gue ngikut lo aja mau makan apa aja gue masuk kok” ujar Savira, Julia mengetukkan jarinya di dagunya nampak berpikir

“Yuraku mau? Kalo gak salah ada temen gue yang pengen banget makan diyuraku dulu suka curhat sama gue” Julia menaik turunkan alisnya

“Rese lo ah. Makan yang murah aja sik” ucap Savira. Ya memang untuk makan disalah satu restoran jepang itu menjadi keinginan lama Savira saat masih bekerja di tempat Angelo. Namun, keinginannya selalu diurungkan mengingat harganya yang terlalu mahal baginya.

“Pak, tolong ke restoran Yuraku ya.. kita makan siang disana. Si bapak juga makan ya”

“Emm gak usah neng, Bapak tunggu diluar aja”

“Pokoknya makan, si bapak belum makan siang kan”

“Aduh neng, bapak makan warteg aja deh”

“Si bapak mau saya kurangi gajinya?” Tubuh pak Min menegang mendengar ancaman Julia ia tidak dapat menolak tawaran majikannya tersebut. Ia merasa tidak enak pasalnya Pak Min baru saja meminjam uang untuk menyekolahkan anaknya hingga kini ia belum ganti uang tersebut bahkan gajinya saja tidak dipotong sama sekali

“Saya makan, siapapun yang jalan sama saya harus makan oke pak”

“Baik Neng”

Savira yang melihat itu sangat kagum dengan kebaikan Julia. Ia tau persis kehidupan Julia dulu, dirinya sempat ragu untuk menegur Julia awal pertemuannya disebuah mall setelah mereka berpisah lama. Dalam pikirannya penampilan Julia berubah jauh lebih baik terlebih ia bersama seorang lelaki, sudah dipastikan itu adalah suaminya apalagi melihat perut Julia yang membuncit saat itu.

Hatinya ragu menyapanya namun pikirannya tidak sejalan dengan hatinya. Siapa yang tau dari awal sapaan singkat itu kini dia dan keluarganya bisa tinggal bersama Julia. Andai saja saat itu ia tidak bertegur sapa dengan Julia ia tidak tau nasibnya dan keluarganya sekarang. Yang ia tau pasti Julia malaikat untuknya dan keluarganya

***

Seorang pria mengenakan kemeja putih dibalut jasnya terlihat sedang nenunggu seseorang. Tatapannya yang dingin membuat siapapun enggan menegurnya. Dia adalah Arfi, berada disebuah caffe milik keluarganya atau lebih tepatnya usaha yang dibangun dan diurus oleh Ibunya. Sebuah tepukan dibahunya membuatnya sedikit terkejut lalu menoleh ke belakang

“Maaf tuan muda, Nyonya dan Tuan sudah menunggu diatas. Mari saya antar”

Ia sedikit mengeratkan kepalan tangannya. Sikap semau mau dan memerintah orang tuanya masih sama saja seperti dulu. Arfi mengikuti langkah sang pelayan itu sampai ke sebuah ruangan. Ia melihat ibunya disana mengenakan dress putih, sangat cantik diusianya yang tidak lagi muda.

“Ah.. kami sudah menunggumu, apa yang membuatmu tertahan, anakku?” Ujar Tuan Bram. Sikapnya sedikit berbeda dari terakhir ia bertemu dengannya. Senyum menghiasi dibibirnya menyambut anaknya namun Arfi masih dengan tatapan dinginnya

“Ada apa? Saya tidak punya banyak waktu” mendengar itu Bram lalu menyuruh Arfi duduk diantara mereka

“Kamu udah makan Nak?” Arfi hanya menganggukkan kepalanya sebagai jawaban dari nyonya Carissha yang tidak lain adalah ibunya. Ada sedikit kerinduan dimatanya

“Kamu tidak berubah nak, apa kamu masih menganggap kami sebagai musuhmu? Sampai pernikahanmu kami tidak ada disana untuk memberi restu?”

Arfi menatap datar orang didepannya “itu tidak perlu, saya terbiasa tanpa kalian” ujarnya dingin membuat Bram menarik nafasnya. Ia tau ini tidak akan mudah

“Fi, kami mengundang kamu kesini karena kami ingin minta maaf atas apa yang kami lakukan beberapa waktu lalu, dimana istrimu itu?”

Arfi menoleh menatap Carissha “bukankah kalian hanya mengundangku? Untuk apa kalian menanyakannya? Cukup bagi saya kalian mempermalukannya sekali dan saya tidak akan membiarkan kedua kalinya”

Bram dan Carissha saling menatap. Mereka mendesah pelan menghadapi sifat keras kepala anak sulungnya

“Dengar, Adikmu Octa 3 bulan lagi akan wisuda. Kami berniat pergi kesana bersama dan mengajakmu dan istrimu” ujar Bram tersenyum lebar. Mendengar itu Arfi sedikit terkejut namun segera ia bersikap biasa

“Terima kasih, itu tidak perlu. Saya bisa pergi kesana sendiri”

“Ah ya.. dengan dua temanmu serta anaknya bukan?”

Arfi semakin terkejut dengan ucapan Bram kini. Pikirannya bertanya tanya dari mana ia tau kehidupannya sejauh ini

“Kenapa? Kamu heran papah bisa tau sejauh itu?” Bram menyandarkan tubuhnya pada sandaran kursi lalu melipat ke dua tangannya

“Apa yang tidak bisa dilakukan oleh seorang Bram Juanto menurutmu? Apapun aku bisa dapatkan itu, Anakku” Bram tersenyum meremehkan. Arfi tersenyum kecut

“Ada hal yang tidak bisa kau lakukan Tuan Juanto, merangkul anak anakmu dikala usiamu menua nanti”

Carissha hanya diam meringis melihat anak dan suaminya saling merendahkan. Namun dalam hatinya ia tersenyum dapat melihat anak sulungnya lagi dan sifat anaknya yang tidak jauh dari sifat suaminya. Pikirannya melayang mengingatkan padanya kala Bram memperjuangkannya dihadapan kedua orang tua Carissha. Mereka menjalani tanpa restu kedua orang tua Carissha namun kini mereka bisa bersama karena Bram yang berjuang untuknya. Hal itu sama persis dengan sifat anaknya kini

“Istri saya sudah menunggu dirumah, selain itu saya merindukan anak saya. Permisi” ujar Arfi beranjak. Ucapannya membuat Bram dan Carissha terkejut. Ada hal yang dilewatkan olehnya.

“Tunggu..” Bram menahan tangan Arfi saat ia hendak berbalik

“Kamu bilang anak? Kamu memiliki anak?”

Arfi hanya tersenyum kecut “ku pikir kau sudah mengetahuinya Tuan, bukankah Bram Juanto akan mendapatkan apapun yang ia inginkan, apa kau tidak menginginkannya?”

Bram berdiri menghadap Arfi lalu memeluknya dengan erat. Arfi terdiam tanpa membalas pelukan ayahnya

“Anak bodoh! Kenapa tidak bilang dari tadi anakmu menunggumu dirumah hah? Ayo kami ingin melihat cucu pertama kami” ujar Bram meraih tangan Istrinya

“Tidak perlu repot repot. Saya tidak membayangkan hal buruk terjadi disana dan saya tidak menginginkan itu”

“Apa maksudmu?”

Arfi tersenyum remeh

“Nak, izinkan kami melihat cucu kami”

Arfi menggelengkan kepalanya “saya sudah menciptakan kedamaian yang baik disana. Jangan buat usaha saya sia sia, permisi” Arfi melenggang pergi begitu saja membuat Bram dan Carissha menatap punggungnya yang semakin menjauh.

Bram menyentuh dada kirinya dengan tangannya, kali pertamanya ia merasakan kesedihan dan kesakitan secara bersamaan. Melihat itu Carissha segera mengelus pundak suaminya mencoba memberi ketenangan

“Sudah.. kita usaha lain waktu, biarkan ia seperti ini dulu”

“Tidak Carissha, ia akan membuka hatinya untuk kita. Hey, bukankah dia mirip denganku dulu? Kamu ingat kan?”

Carissha tersenyum melihat suaminya tersenyum “dengan cara apa Ayahku membuka hatimu dulu?”

Bram tersenyum “Yah, sepertinya ini karma untukku. Aku harus berterima kasih sama Tuan Yulius karena caranya akan kucoba dengan anakku sendiri”

Mereka tersenyum bersama lalu meninggalkan tempat tersebut kembali kerumah mereka

***

“Santai Bosskuw kita memang ada metode buyback kok”

“Gue mau tuker tambah deh Cong, ada Z800 gak?”

“Boss ini bajingan emang, baru masuk boss pas banget mau disikat langsung hahaha”

Mereka masuk ke dalam showroom motor second. Ya, mereka adalah Arfi dan Fahrie. Fahrie yang telah selesai kursus animation creator nya memutuskan ikut dengan Arfi sore hari ini

“Cong, menurut lu gue mending ambil ZX636 atau Z800?”

“Woah kalo itu sih sesuai selera kita gimana costumer aja”

Arfi menganggukkan kepalanya. Ia ingin membeli satu unit lagi berjenis motor sport namun dirumah sudah ada si Zetty a.k.a Z10r miliknya.

“Sama Z800 nambah berapa gue?”

“Sama lu 20 juta aja deh..”

“Murah amat dah?”

“Lu aja yang gila 1000cc tuker sama 800cc ya murahan dikitlah, lagipula lu kan bukan orang baru yang beli disini”

Ditengah perbincangan antara Arfi dan Acong pemilik Showroom motor tersebut, Fahrie berkeliling melihat lihat stok motor disana. Ia dibuat kepusingan pasalnya baru pertama kali ini ia melihat sekumpulan motor bermesin besar berbagai jenis. Matanya tertarik dengan salah satu jenis motor italy. Demi mengobati rasa penasarannya ia mencoba menaiki motor tersebut

“Pendek juga..” gumamnya pelan. Sosok motornya hanya terlihat besar namun tidak dengan tingginya. Fahrie yang hanya memiliki tinggi 165cm itu menapak sempurna saat menaiki motor tersebut

Fahrie terkejut saat ia merasakan rangkulan dipundaknya

“Beli bro.. cocok” ujar Arfi

“Eh? Hehe iya gampang nanti aja”

“Lu suka?” Tanya Arfi yang melihat Fahrie menatap motor berjenis naked italy didepannya

“Gue kasih spesial harga kalo lu ambil dua boss.. ini 795 ducati monster. Sama lu 210 aja sekalian nambah Z800nya”

Fahrie menoleh cepat. Ia tidak menyangka motor didepannya dibandrol dengan harga fantastis baginya. ‘200juta? Mendingan gue beli rumah’ batinnya

“Gimana?”

Fahrie yang bingung dengan pertanyaan Arfi hanya menatapnya

“Maksud gue lu mau gak?” Jelas Arfi. Tentu ia menginginkan motor sekeren itu. Namun perasaannya tidak enak bila harus membuat Arfi harus mengeluarkan uang lebih banyak untuknya lagi

“Gak usah Fi, nanti bini gue ngamuk lagi kan lu tau sendiri. Ini mah gampang kok” ujarnya sambil tersenyum kikuk. Arfi mengangguk lalu berjalan lebih dulu

Selesai urusan tukar-tambah nya beres. Arfi dan Fahrie bergegas pergi dari showroom. Diperjalanan Fahrie kebingungan karena ini bukan jalan biasa menuju rumah Arfi.

“Nah kita sampai, lu gak lagi buru buru kan?”

“Eh? Ah nggak kok santai aja Fi, btw kita ngapain nih?”

Arfi meletakkan helmnya ditanki motornya

“Gue mau ganti knalpot dulu. Ini exhaustnya masih standaran soalnya. Kurang asik aja. Yuk masuk dulu”

Fahrie mengekor dibelakang Arfi. Ini adalah sebuah tempat assesories untuk motor motor besar seperti milik Arfi. Beberapa dari mereka menyapa Arfi tampaknya mereka sudah kenal lama.
“Btw gue ngajak temen gue nih, kenalin doi Fahrie namanya”

Fahrie tersenyum lalu menyapa beberapa orang disana. Arfi mulai menegoisiasi barang apa yang ia inginkan. Beberapa part untuk memodifikasi motornya ia beli dan langsung ia instal dimotor barunya itu

“Berapa semuanya, Dik?”

“Nih semuanya..” Dika, pemilik usaha assesories motor tersebut memberikan struk pada Arfi

“Oke, nih debit aja gue bayar”

Selesai membayar, Arfi dan Fahrie meninggalkan toko assesories tersebut. Tidak memakan waktu lama akhirnya mereka sampai dirumah disambut dengan Julia dan Savira yan tengah duduk dikursi taman

“Baby!” Panggil Julia saat Arfi sudah melepas helmnya dan memarkirkan motornya.

“Apa?” Sautnya tanpa menghampir Julia. Ia sibuk memperhatikan motor barunya. Sesekali ia tersenyum puas membuat Fahrie ikut memperhatikan motornya Arfi

“Apanya yang diganti? Sama aja ini tuh” ujar Julia malas

“In Z800 yang tadi Z1000 beda Cc sayang, tapi masih sama sama pabrikan kawasaki juga”

Julia hanya menganggukkan kepalanya tak paham dengan penjelasan Arfi dan ia juga tidak berniat memahami apa yang Arfi jelaskan

“Aku udah buatin masakan untuk kamu. Nanti makan berdua ya sama Fahrie” ujar Julia

“Iya buruan makan keburu malem tuh” kini Savira menimpali

“Hmm kita tadi..”

“Eh bro, coba lu lihat sini deh” ujar Arfi tiba tiba memotong ucapan Fahrie. Arfi mengajak Fahrie berjongkok disisi lain dari motornya membuat istri mereka menatap heran

“Yaudah makan kamu nanti, jangan motor diurusin terus.. Fahrie juga ya”

Arfi hanya mengacungkan jempolnya mereka berdua pun pergi meninggalkan suami mereka

“Ada apa sih Bro?” Tanya Fahrie heran

“Denger bro, jangan pernah bilang kita makan diluar kalo Julia masak. Bisa bisa kita yang dimakan sama dia”

Fahrie terlihat menelan ludahnya

“Masa sih?”

“Kalo gak percaya lu coba aja, tapi gue gak tanggungjawab ya dan gue gak akan ngaku pernah makan diluar malam ini”

Fahrie mengerjapkan matanya berulang kali

“Lu tau gak Fi artinya apa?”

“Apa?”

“Rumah lu ada dua macan betina..” bisik Fahrie membuat keduanya bergidik ngeri

“Arfiiii!!!”

“Fahrieeee!!”

“Mampus kan macan betina kita manggil kita. Buruan yuk”

“Ayo gue gak mau jadi daging panggang malam ini” ujar Fahrie

“Pak Roby tolong masukin motor saya ya, nih kuncinya” Arfi memberikan kunci motornya pada Satpam rumahnya lalu bergegas masuk

Dimeja makan Arfi maupun Fahrie tidak sama sekali bergairah untuk makan. Selain perut mereka yang masih kenyang masakannya pun sama dengan apa yang mereka makan diluar tadi. Yaitu nasi goreng

“Lu kenapa ajak gue makan tadi diluar sih?” Ujar Fahrie berbisik pelan

“Gue gak tau kalo Julia masak dirumah”

Fahrie terpaksa menelan nasi goreng ke tenggorokannya. Tidak jauh dari Arfi, beberapa kali ia melirik ke belakang dimana Savira dan Julia sedang duduk sambil mengobrol menunggu suami mereka selesai makan. Berharap mereka meleng lalu Arfi bisa membuang nasi goreng dipiringnya ke tempat sampah. Perutnya sudah begah!

“Sayang, diabisin ya nasi gorengnya.. jangan dibuang”

Arfi hanya mengangguk tersenyum saat ia kepergok sedang melirik kebelakang. Tidak lam terdengar suara tangis bayi dikamar atas, segera mereka berdua berlari menuju ke kamar atas, kamar Arfi dan Julia

“Sekarang!!”

Arfi bangkit berdiri membawa piringnya ke dapur mengambil plastik lalu memasukkan semua nasi gorengnya. Melihat itu Fahrie melakukan hal yang sama. Mereka menuju pintu belakang lalu melempar bungkusan itu keluar jauh melewati pagar belakang. Seusai itu mereka tos bersama

“Gila perut gue begah, Bro”

“Sama gue juga.. asem kekenyangan gue”

“Sekarang kita cuci piring supaya mereka gak curiga” ujar Arfi yang diangguki oleh Fahrie

“Sayang.. loh udah abis makannya?”

“Udah dong sayang” ujar Arfi tersenyum lebar sembari mencuci piringnya

“Tumben kamu Fahrie makannya cepet” kali ini Savira berucap sedikit curiga dengan suaminya

“Sambil ngobrol jadi gak terasa deh udah abis” tidak jauh dari Arfi, Fahrie sambil mengelap kering piringnya pun memberikan cengiran bodohnya

Savira hanya menganggukkan kepalanya lalu pergi meninggalkan mereka bersama Julia. Melihat situasi sudah aman mereka tertawa bersama.

“Hahaha! Aman bro!”

“Yoi.. kalo tau gue makan gak abis bisa digetok kepala gue sama Savira”

“Apalagi gue, digigit kuping gue iya..”

Mereka masih tertawa, Arfi lebih dulu menghentikan tawanya. Ia termenung sejenak

“Meski galak gitu, gue bisa cinta banget sama bini gue loh” ujar Arfi

“Sama.. namanya juga cinta Fi, gue juga sama suka dianiaya sama Savira tapi gue masih aja cinta sama dia”

“Waktu bini gue hamil aja, gue harus sabar sabar parah. Dikerjain gue sama dia gak tuh. Kacau balau dah sampe semaleman gak tidur besoknya ngantor gue”

“Savira waktu hamil dulu, ngidam jenggutin rambut gue seharian bahkan Fi, gila gak tuh”

Mereka menggelengkan kepalanya

“Biar gitu, mereka tetep yang berharga dalam hidup kita bro”

“Yoi bro”

Mereka menempelkan tinju mereka. Dilain tempat tanpa mereka sadari Savira dan Julia menguping pembicaraan suami mereka

“Gue bilang juga apa laki gue gak mungkin makan secepet itu, bener kan dibuang” ujar Savira

“Si Arfi memang bandit nih. Ngajak ngajak Fahrie juga lagi sekarang”

“Biarin ah tapi, yang penting mereka udah makan. Cape gue ngomel terus”

“Sama, meski ngeselin gitu sikapnya, gue tetep cinta sama laki gue Vir”

“Lo kira gue nggak?”

Julia berbalik menatap Savira kesal “lo cinta sama laki gue?”

Savira memutar bola matanya malas “maksudnya gue cinta sama laki gue juga bukan sama laki lo”

“Yuk ah mereka dateng tuh… ntar ketauan kita ngupingin mereka”

Akhirnya mereka pergi dari tempat mereka menguping. Memang dasar wanita memilik tingkat kekepoan tinggi. Yah, meski gak semua wanita seperti itu sih

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48