Tentang Kita Part 33

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 33 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 32

Author Pov

“Eemmgghhh…”

Erang Julia merasakan sakit diperutnya

“Loh sayang, kamu kenapa?”

“Eummghhh.. Arfiii sakiiiittt!!”

Arfi yang panik segera menghubungi rumah sakit. Julia terus memegangi perutnya, keringat bercucuran dari pelipisnya pasalnya ia baru kali ini merasakan sakit dan nyeri secara bersamaan diperutnya

“Ada apa Kak?” Rose datang bersama Savira dan Fahrie dibelakangnya

“Istri gue kayanya mau melahirkan deh.. gue harus apa nih gawat gawat!” Arfi terus berlarian kesana kemari.

“Fi istri lo mau melahirkan bukan mau mati!” Saut Savira “kita bawa kerumah sakit sekarang” Savira segera merangkul tubuh Julia untuk dibawanya kebawah

“Sakiiitttt Viirrr!!”

“Eeeeehhh… iyaaa gak narik rambut gue juga monyooong ah elah ni orang kok ngeselin sih” Namun Julia tetap menarik narik rambut panjang Savira membuat kepala Savira miring kesamping

“Den, ambulancenya udah dateng” ujar Bi Imas sambil membantu merangkul Julia

Julia dibawa masuk ke dalam ambulance. Arfi dan yang lainnya ikut menyusul menggunakan mobilnya. Namun, ditengah jalan mereka menyadari keanehan

“Heh! Kok gue jadi sama lo sih?!” Sewot Savira disamping kemudi. Arfi menoleh ke samping lalu mengerem mendadak membuat Rose yang duduk dibelakang harus rela kepalanya terbentur jok

“Adoooh ribet banget sih kalian. Ikutin aja itu sana keburu jauh cepet!” Sargah Rose yang masih mengelus jidatnya yang kejedot jok mobil. Arfi kembali menjalankan mobilnya

“Laki gue disono noh jadi sama bini lo kan” ujar Savira bersedekap dada

“Gue juga tau gue tadi panik ini gak sadar gue malah nyetir mobil gini”

“Makanya kalo bikin jangan asal! Pokoknya kalo anak lo mirip laki gue, gue adopsi!”

“Enak aja lo! Susah susah gue bikin juga itu. Gue operasi plastik mukanya!”

“Gak mensyukuri lo namanya! Susah bikin apaan lo! Enal gitu bikinnya!”

Mereka terus berdebat sampai dirumah sakit

“Dok, pasien melahirkan anak atas nama Julia Anantha. Cepet!”

“Sabar gile aje nih orang”

“Maklum kak, anak pertama” bisik Rose disebelah Savira

“Ruang mawar nomor 134” ujar suster itu. Namun sebelum tuntas ucapan suster itu Arfi sudah lebih dulu lari meninggalkan loby rumah sakit. Savira dan Rose hanya menghela nafas kasar

“Pasti nyasar dia tuh” ujar Rose membuat Savira menganggukkan kepalanya. Dan benar saja Arfi yang terlihat celingukan dilorong rumah sakit terlihat gusar.

“Nomor 134 Fi..” ujar Savira yang menghampiri Arfi bersama Rose. Begitu sampai ia langsung masuk ke dalamnya. Arfi memakai pakaian yang sudah di instruksikan

“Sayang, sakiiittttthhhh….” teriak Julia yang kini menggenggam tangan Arfi erat

“Sabar ya sayang sabar…” keringat bercucuran didahi Julia. Melihat itu Savira mengusap dahi Julia setiap kali keringatnya keluar

“Ayoo bu.. dorong terus, bayinya mau keluar nih”

“Hummmmmppphh….”

Segenap perjuangan Julia mengeluarkan isi dalam perutnya selama 9 bulan belakangan ini tidak sia sia. Tangis bayi pecah terdengar dalam ruangan itu. Suster membawa bayi itu untuk dibersihkan sedangakn dokter dan beberapa suster lainnya membantu Julia mulai dari menjait kewanitaannya, membersikan darah juga membersihkan anggota tubuh Julia dari darah, mengganti pakaiannya dengan yang baru.

“Fi, oii kenape lu?” Tanya Savira yang melihat Arfi menyandarkan tubuhnya dengan kepala mengadah ke atas

“Oi, istri lu tuh samperin gih abis ngelahirin juga” sambung Savira. Tanpa menjawab Arfi bangkit lalu menghampiri Julia. Ia mengusap keringat didahi Julia

“Anak kita..” ujar Julia dengan senyum membuat Arfi tersenyum. Seorang suster menghampiri mereka

“Silahkan Bu, berikan asi pertamanya”

Julia menyusui asi untuk pertama kalinya. Sesekali ia mengusap bayinya

“Siapa namanya?” Tanyanya tanpa mengalihkan pandangan dari bayinya. Tidak mendapat jawaban dari sang suami membuatnya menoleh ke arah Arfi

“Sayang, kita kasih nama siapa dia, dia perempuan”

“Ah.. hmm Namanya adalah Elaine Agatha” Julia tersenyum

“Nama yang bagus, Halo baby El welcome to the world full of peace and love. We love you” Julia sedikit mengecup bayinya lalu tersenyum hingga meneteskan air mata.
“Ehem.. selamat yaaa buat kehadiran anak pertama kalian” Ucap Savira, lalu Rose dan Fahrie masuk ke dalam

“Wah, lucu banget. Namanya siapa Kak?”

“Namanya Elaine Agatha, cantik ya dia” jawab Julia selesai menyusui. Baby El diberikannya pada suster untuk dipindahkan ketempat yang sudah disediakan dalam satu ruangan itu

Rose, Fahrie dan Savira ikut melihat dimana baby El diletakan. Sebuah ranjang khusus bayi tersedia disana

“Hmm, kalo diperhatiin idungnya kaya si Julia ya” ujar Savira

“Bener, matanya kaya bapaknya nih kayanya kecil gitu, alisnya juga tapi bibirnya lebih ke Julia sih”

“Perpaduan banget ya ckck hebat bikinnya” celetuk Rose membuat Savira dan Fahrie menoleh ke arahnya

“Biarin anak muda” bisik Fahrie, Savira hanya mengangguk

Arfi terlihat masih setia disamping bansal Julia yang masih terlihat belum pulih setelah melahirkan

“Terima kasih ya sayang telah menghadirkan kebahagiaan baru untuk kita” Arfi mengecup kening Julia cukup lama.

Julia hanya mengangguk lemah, pasalnya ini adalah yang pertama baginya. Pengalaman yang cukup menguras tenaganya pertarungan antara hidup dan mati. Arfi? Ia hampir pingsan saat Julia berhasil mengeluarkan baby El dari perutnya.

Ia melihat perjuangan istrinya untuk menghadirkan kebahagian diantara mereka. Ia bersumpah akan selalu melindungi dan mencintai istrinya juga menyayangi anak mereka. Arfi membimbinf kepala Julia agar terbaring

“Kamu istirahat ya sayang, sekali lagi terima kasih” Arfi mencium kening Julia kembali namun agak sedikit lama. Julia yang kelelahan segera menutup matanya

“Keluar yuk, kayanya istri lu sama anak lu butuh istirahat, lagian udah ada suster juga yang jaga tuh” ujar Savira

“Hmm, sekalian gue mau ngurus administrasi juga”

Mereka meninggalkan ruangan. Sebelumnya Arfi telah mencium kening anaknya dan mengucapkan selamat malam tepat dikuping kanan bayinya

***

“Semalem lo belom ke rumah sakit geng?”

“Belom cuy, gue abis dari rumah mertua gue semalem. Arfi ngabarin sih”

“Gre semalem nanya ke Savira, anaknya lahir jam 2 pagi katanya permpuan lagi”

“Oh ya? Mudah mudahan anak gue laki biar dijodohin sama anaknya Arfi hahaha”

Obrolan absurd antara Iwan dan Agus yang kini dalam perjalanan menuju rumah sakit bersalin dimana Julia melahirkan. Berbeda dengan Agus dan Iwan, Okta terlihat belum bersahabat dengan Gracia yang sama sama duduk dijok belakang bersamanya. Okta lebih memilih menyibukkan diri dengan smartphonenya dan Gracia menatap keluar jendela.

Bukan tidak berbicara, beberapa kali Gracia mencoba membuka topik pembicaraan dengan Okta namun Okta hanya menanggapinya dengan anggukan atau gelengan. Beberapa kali Okta hanya menjawab singkat seperti Ya, No problem, terima kasih setidaknya hanya itu ucapan yang sering didengar Gracia

“Halo, selamat pagi” ucap Agus yang memasuki lebih dulu ruangan

“Selamat ya Fi, dan Julia juga. Semoga anaknya berbakti pada kedua orang tuanya” ujar Gracia yang menyalami Arfi dan Julia

“Thanks thank u yaa..” ucap Arfi bergantian dengan Julia

“Mana dede bayinya, gue mau lihat coba” ujar Gracia lagi

“Dia ada di kasur bayi tuh, baru gue susuin tadi. Lagi bobo” ucap Julia

“Jangan pada gaduh nanti anak gue bangun!”

“Sewot amat sih yang udah jadi bapak”

Mereka bersamaan melihat baby El. Komentar mereka beragam mulai dari yang gak masuk akal sampai diluar nalar logika manusia biasa

“Gila geng, anak lu kok mirip manusia ya?” Celetuk Iwan membuat Arfi dan Julia menggelengkan kepalanya dan masih beraneka ragam lagi komentar komentar aneh yang diberikan oleh mereka

“Kalian bertiga aja?” Tanya Julia

“Berempat sama Okta, tadi diluar dia ketemu sama Rose. Jadi Okta pergi sama Rose” balas Gracia. Arfi memberi tatapan prihatinnya dan Julia hanya menggelengkan kepalanya.

***

Beberapa hari kemudian Julia kini sudah diperbolehkan pulang pasca melahirkan. Tapi kini Julia hanya terbaring dikasurnya, bukan dia malas jika ia keluar dari kamar untuk melakukan sesuatu tentu sang suami, Arfi akan mengoceh panjang lebar dan baginya itu adalah hal yang menyebalkan.

Arfi yang masih sangat protektif dengan keadaan Julia memutuskan cuti selama seminggu dari kerjanya membuat Iwan mendapat pekerjaan extra tapi demi temannya itu ia rela melakukannya.

“Sayang, makan dulu yuk, aku buatin bubur nih pake sayur sawi loh biar air susu kamu bagus” ujar Arfi membawa nampan berisi semangkuk bubur, dan segelas air putih

“Kamu atau bi Imas yang buat?” Julia menaikkan alisnya satu. Mendengar ucapan Julia membuat Arfi mendengus

“Dibantu Bi Imas..” ujarnya malas

“Dibantu apa kamu yang bantu” kembali Julia meledek Arfi. Arfi menaruh nampannya dinakas lalu memberikan satu suapan untuk Julia

“Apapun itu, yang aku tau ini baik untuk kamu.. ayo buka mulutnya Aaaaa…” Julia terkekeh lalu memasukan satu suapan bubur ke mulutnya

“Aku kan gak sakit sayang, kok makannya bubur”

Arfi mengaduk buburnya lalu memberikan suapan berikutnya ke Julia

“Tadi kan aku udah bilang, aku tau yang terbaik untuk kamu”

Julia menelan bubur dimulutnya “mau tau hal yang lebih terbaik dari yang kamu anggap terbaik untukku?” Arfi menghentikan kegiatannya lalu menatap Julia. Julia mendekatkan wajahnya tepat ditelinga kanan Arfi lalu berbisik

“Kamu”

Kemudian Julia kembali bersandar pada sandaran kasurnya. Arfi tersenyum mengulurkan tangannya menghapus sisa makanan dibibir Julia dengan ibu jarinya

“Buka mulutnya lagi, 3 suapan lagi habis nih”

“Gak mau.. aku udah kenyang Fii”

“Abisin sayang, tinggal dikit lagi”

Julia menjauhkan tubuhnya sambil menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Arfi menghembuskan nafasnya pelan lalu menaruh mangkok dinakas beralih mengambil air minum untuk Julia

“Yaudah nih minum dulu” Dengan segera Julia meneguk air digelas hingga abis

“Aahh… udah abis deh, makaaciii suamiikuu tercintaaaa~~” kedua tangannya terulur kedepan. Arfi hanya tertawa pelan lalu dengan segera ia memeluk Julia, mencium keningnya, kedua pipinya dan berakhir di bibirnya. Sedikit lama mereka berciuman hingga Julia melepaskan ciuman mereka

“Kamu mandi dulu gih..” ujar Julia

“Emang aku bau jigong ya?”

“Dikit” Arfi hanya mendengus pelan mendengar jawaban Julia. Ia beranjak membawa nampan dinakas dan keluar begitu saja membuat Julia tertawa. Seperginya Arfi ia turun dari kasurnya hendak menghampiri babynya yang tengah tertidur pulas diranjang bayi

“Halo baby El, ululululu gemes banget sih bobonya” Julia sedikit membungkukkan tubuhnya mengecup baby El diranjangnya

“Bobo yang nyenyak ya sayang” Julia mengelus puncak kepala baby El

Klek

Julia menoleh ke arah pintu lalu ia tersenyum mendapati Arfi yang tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecilnya. Arfi hanya mengenakan celana pendeknya tanpa mengenakan kaos membuat tubuh atletisnya terlihat. Too sexy menurut Julia

“Wangi banget sih suami aku, mau kemana?”

Arfi yang duduk ditepi ranjang tersenyum melihat Julia

“Jaitan diperut kamu udah gak sakit lagi?” Alih alih menjawab pertanyaan Julia ia malah balik bertanya. Pertanyaan yang menurutnya tidak perlu ia jawab karena hari ini dan beberapa hari kedepan Arfi tidak akan kemana mana ia hanya akan dirumah menemani istrinya

Julia duduk disamping Arfi “masih dikit kalo aku terlalu mengangkat sesuatu yang berat atau berjalan terlalu cepat. Rasanya masih ngilu, tapi aku bangga”

Julia menoleh ke Arfi tangannya mengelus pipi kanan Arfi “aku bisa melahirkan dengan normal dan juga melahirkan anak selucu baby El”

Arfi mengalihkan pandangannya ke depan membuat Julia menautkan kedua alisnya. Ia tatap beberapa saat wajah samping suaminya tersebut

“Hey, ada apa?”

Arfi hanya menggelengkan kepalanya lalu menoleh menatap Julia

“Aku hanya takut”

Lagi, Julia menautkan alisnya keheranan

“Takut? Untuk apa?”

Arfi menarik nafasnya dalam, ia meraih sebelah tangan Julia mengecupnya beberapa kali lalu memeluknya dari samping membuat Julia semakin keheranan melihat tingkah Arfi seperti orang bersalah

“Hey, kamu kenapa sih? Ada apa, katakan”

“Aku hanya takut, melihat kamu seperti kemarin” lirih Arfi. Julia kembali menautkan alisnya detik selanjutnya ia tersenyum lalu menangkup kedua pipi suaminya untuk menatapnya

“Aku baik baik aja sayang, itu kan udah kewajiban aku sebagai istri justru aku merasa menjadi wanita sempurna karena bisa menghadirkan kebahagian ditengah tengah kita”

Arfi masih diam tidak. Pasalnya ia sedikit trauma melihat Julia melahirkan kemarin. Melihat perjuangan Julia menahan sakit saat mengeluarkan Baby El terlebih melahirkan adalah hal taruhan antara hidup dan mati. Baginya jika tau Julia akan sangat kesakitan saat melahirkan tentu ia tidak akan mau membuat Julia hamil. Arfi bodoh memang. Ia sangat mencintai Julia, tidak! Ia terlalu mencintai Julia

“Bahkan kalo kamu mau kita bisa mulai untuk program yang ke dua setelah aku sembuh total ya”

Arfi menatap tajam Julia dia sedikit menjauhkan tubuhnya membuat Julia terkejut

“Nggak! Cukup satu! Aku gak ingin kamu kesakitan kaya kemarin!”

Julia mengerjapkan matanya beberapa kali. Bagaimana bisa ada lelaki seperti Arfi yang tidak ingin istrinya kesakitan karena melahirkan pikirnya. Julia kembali menangkup wajah suaminya untuk menatapnya. Tatapan tajam Arfi berubah menjadi datar, Julia tersenyum melihat itu. Ia tau, sangat tau suaminya sangat mengkhawatirkannya

“Aku gpp sayang, buktinya aku sehat kan sekarang. Gak ada yang perlu kamu khawatirkan selama kamu disamping aku” Julia terus meyakinkan Arfi namun yang di dapat hanya penolakan.

Arfi tetap pada pendiriannya, satu anak cukup baginya. Traumanya belum bisa ia hilangkan dengan mudah itu yang membuatnya terus menolak keinginan Julia untuk melakukan program kedua setelah ia sembuh total

“Ya udah deh, saat usia baby El 3 tahun oke kita mulai program ke dua, gimana? Aku udah pulih banget tuh” Bujuk Julia

“Nggaaakk Juliaaaa.. satu aja cukup. Aku gak mau lihat kamu kesakitan lagi apalagi setelah kamu sehat total. Lagian Baby El juga cukup bagiku”

Julia hanya menghela nafasnya menghadapi sifat keras kepalanya Arfi yang menurutnya berlebihan

Tiba tiba Rose masuk ke dalam langsung menghampiri ranjang bayi dimana terdapat Baby El sedang tidur. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya, mengecup pipinya pelan lalu berbalik menatap kedua kakaknya kini

“Maaf bukan mau ganggu debat kalian ya, aku kesini hanya mau melihat adik aku” ujar Rose tanpa dosa

“Pokoknya aku gak mau tetep. Satu aja cukup bagiku. Kamu juga jadi gak cape ngurus anak banyak banyak” ucap Arfi beranjak melangkah keluar kamar. Rose menatap Julia seakan bertanya ada apa..

“Kakak kamu trauma kakak melahirkan, katanya gak mau bikin kakak kesakitan karena melahirkan” jelas Julia. Rose hanya menggelengkan kepalanya yang kini tubuhnya ia sandarkan pada dinding sebelah ranjang baby El

“Aku gak tau kalo aku punya kakak seaneh dia sih”

Julia hanya terkekeh mendengarnya “tapi kemarin kata dokter kakak kuat gak melahirkan secara normal?” Tanya Rose kembali

“Kuat, itu sebabnya aku rasa gak perlu melakukan operasi untuk melahirkan kemarin. Tapi setelah kakak melahirkan, Arfi terlihat lemas dan pucat. Mungkin dia jadi trauma sekarang”

“Dibiarin aja dulu kak, mungkin dia baru pertama kali melihat orang melahirkan secara langsung. Itu wajar terlebih kak Arfi cinta banget sama kak Julia”

Julia hanya tersenyum menanggapi ucapan Rose. Tetap saja menururnya Arfi berlebihan

Tiba tiba Baby El terbangun. Ia sedikit menggeliat didalam ranjangnya

“Kak, boleh aku gendong Baby El nya?” Tanya Rose, Julia hanya tersenyum lalu mengangguk

Rose menggendong baby El dengan sangat telaten. Ia sangat berhati hati saat menggendong Baby El. Sesekali ia mencium pipinya yang terlihat gembul

“Lucu banget sih kak, jadi pengen punya deh” Ujar Rose membuat Julia membulatkan matanya detik selanjutnya ia tertawa

“Gih minta dilamar cepet sama Ferdi”

“Ah tapi nanti Ferdi kaya kak Arfi lagi trauma melihat aku melahirkan”

Mereka tertawa bersama “mereka itu para lelaki lemah memang”

“Betul”

Mereka tertawa bersama dengan masih baby El dalam gendongan Rose. Tanpa disadari ada yang menguping pembicaraan mereka dibalik pintu kamar karena pintunya tidak tertutup secara rapat. Sambil mengelus dadanya ia berucap

“Gusti~~ dianggep cowok lemah gue sama istri sendiri, sekarang ade gue ikut ikutan jelek jelekin gue”

Ia kembali mengintip dari celah pintu yang tidak tertutup rapat

“Yeelah diketawain lagi gak tuh gue. Kagak tau apa mereka kemaren gue mau pingsan itu. Bodo ah masih trauma gue nanti kalau trauma gue udah hilang baru deh tusuk tusuk lagi”

Sadar akan ucapannya ia terdiam sejenak

“Apanya yang ditusuk tusuk Fi.. pffttt ya anulah, iya kali gue sama tangan hehe bodo dah jadi ngawur gini gua. Kemek aja ah gue laper”

Arfi beranjak pergi dari tempat ia mengintip turun kebawah menuju meja makan. Yang orang lain tau Arfi adalah seorang yang kaku dan seriusan namun Sedikit yang tau sifat asli Arfi tetapi sepertinya tidak ada yang tau sifat gila Arfi seperti tadi. Hanya dia dan tuhan yang mengetahuinya. Ya setidaknya untuk saat ini, hanya untuk saat ini.

***

Savira memasuki mobil sedan putih begitu juga dengan Fahrie. Mereka membawa cukup banyak barang keperluan bayi. Mulai dari popok, pakaian, botol susu dan masih banyak lagi

“Semuanya udah beb?” Tanya Savira saat mobil mulai meninggalkan area parkiran

“Beres, semuanya aku taro dibagasi”

Savira hanya menganggukkan kepalanya. Mobil mercedes putih mulai meninggalkan area parkir menuju rumah Arfi dan Julia. Sampai saat ini mereka masih tinggal bersama dirumah Arfi dan Julia. Beberapa kali baik Savira maupun Fahrie ingin meninggalkan rumah mereka namun Julia menolaknya keras dengan alasan rumah gue cukup besar untuk kita tinggalin, Vir.

Tenang aja sih membuat mereka merasa tidak enak. Savira yang kini bekerja sebagai penjaga toko roti milik Gre, sedangkan Fahrie sedang Arfi persiapkan untuk mengerjakan project lain dari perusahaannya sebuah iklan beranimasi yang akan dipegang oleh Fahrie nantinya

“Btw, menurut kamu mereka terlalu baik gak sih sama kita?” Fahrie membuka suaranya membuat Savira menoleh ke arahnya sebentar

“Untuk ukuran kita bisa dikatakan iya, apa boleh buat mereka maksa kita untuk menerima kebaikan mereka. Sejujurnya aku juga gak ingin selalu menerima kebaikan mereka. Mereka itu terlalu baik”

Fahrie menganggukkan kepalanya membenarkan ucapan istrinya. Ia memutar kemudi berputar arah

“Tadi aja kalo aku gak maksa untuk membelikan barang barang ini Arfi gak akan mau menyuruhku atau sekedar minta tolong sama aku. Orangnya gak mau ngerepotin orang sih dia udah baik tapi merasa biasa aja deh kayanya dia”

“Sama aja kaya bininya, dunia berputar ya beb. Padahal dulu Julia itu sering curcol sama aku tiap malem. Hidupnya menderita banget, sekarang hidupnya jauh lebih baik dari sebelumnya”

“Bener, kamu harus juga bersyukur karena berteman sama dia. Belum lagi sekarang 3x seminggu aku kursus animation gitu suruhan Arfi. Meski dibawah naungan perusaahan Arfi tapi aku yang pegang jadi aku harus sungguh sungguh”

Mobil mereka sudah memasuki area perumahan. Hanya tinggal beberapa gang lagi mereka akan sampai dirumah Arfi

“Kamu juga kalo Julia butuh apa apa tolong bantu. Itung itung kita balas budi gitu deh dia kan abis melahirkan tuh”

Fahrie memutar kemudinya

“Tiap hari kalo aku pulang atau sebelum aku kerja juga aku suka bantu beb, gak usah dia melahirkan juga aku bantu. Aku juga gak mau useless dirumahnya”

Mereka sampai dikediaman Arfi, Fahrie memasukkan mobil ke garasi. Arfi menyambut mereka karena dia pun sedang mengobrol dengan Julia di bangku terasnya

“Wah thank you thank you ya, jadi repotin kalian nih. Sini sini gue bawa keatas barangnya” Ujar Arfi menghampiri Fahri saat ia sedang membuka bagasi belakang

“Gak usah Fi, lo tenang aja sih”

“Gpp, sans aja.. yuk gue bawa”

Arfi membawa beberapa bungkusan dari dalam bagasi mobilnya dibantu dengan Fahrie sampai ke dapur. Lalu mereka kembali ke teras menemui istri mereka diteras

“Fahrie Thank u ya udah mau direpotin sama keperluan gue” ujar Julia begitu melihat Fahrie bersama Arfi keluar

“Iya gpp gue seneng kok membantu. Oh ya ini konci mobilnya Fi” Arfi mengambil kunci mobilnya dari Fahrie lalu mengantonginya

“Fi, kayanya mereka butuh kendaraan deh” Ujar Julia begitu Arfi duduk disebelahnya. Arfi menatap Julia

“Eh.. gak usah Fi, gpp kok santai aja sih gak usah berlebihan sama kita” ucap Savira menolak halus tawaran Julia dan Arfi. Karena mereka sangat tau apa yang diusulkan oleh Julia sudah pasti Arfi akan menurutinya

“Gpp buat operasional kalian aja. Fahrie juga kan belum rutin jadi mungkin buat nganter lu kerja aja Vir”

“Gue bisa naik ojek online.. tenang aja hehe eh btw udah malem yuk tidur gue sama Fahrie duluan yaa.. byeee~~” Savira langsung menarik tangan Fahrie masuk kedalam. Julia dan Arfi saling tatap

“Mereka itu masih aja kaya sama siapa aja ya.. padahal aku kasihan kalo setiap hari Savira harus naik ojek online. Belum lagi Fahrie yang harus pergi ketempat kursusnya naik angkot”

Arfi menyandarkn tubuhnya pada sandaran kursi

“Tapi kamu tetep jadi beliin mereka kendaraan Fi?” Arfi menoleh ke arah Julia

“Menurut kamu gimana?”

Julia mengetukkan jari telunjuknya di dagunya “kalo menurut aku sih oke aja. Mungkin mobil biasa aja kali ya kaya Avanza atau innova gitu?”

Arfi menganggukkan kepalanya “boleh, nanti aku coba hubungi pak Fian deh”

Julia mengerutkan dahinya merasa asing dengan nama yang disebutkan oleh Arfi

“Pak Fian siapa sayang?”

Arfi harus mengela nafas pelan karena sifat ke kepoan istrinya yang tinggi

“Dia itu kenalan dealer aku. Aku kalo mau beli mobil sama dia”

Julia menganggukkan kepalanya. Ia menguap. Arfi terkekeh melihat itu baginya Julia sangat menggemaskan terlebih pipinya yang gembul akibat mengandung kemarin. Meski sudah melahirkan ternyata efek dari mengandung ditubuh Julia masih membekas

“Yuk tidur udah malem juga nih” ajak Arfi menggenggam tangan Julia. Namun Julia belum juga beranjak dari duduknya membuat Arfi mengerutkan dahinya

“Gendooongg” pinta Julia manja dengan merentangkan kedua tangannya

“Kan udah bukan bawaan bayi lagi”

Mendengar itu Julia melipat kedua tangannya didepan dadanya lalu mengembungkan pipinya. Arfi mencubit pipi Julia gemas lalu berjongkok didepan Julia

“Ayoo aku gendong belakang..”

Tanpa menunggu lama Julia langsung melompat ke punggung Arfi. Hampir Arfi kehilangan keseimbangannya. Jika bukan karena istrinya mungkin Julia sudah Arfi jatuhkan kebelakang

‘Anjir berat banget, padahal isi diperutnya udah keluar deh. Fix ini mah bini gue nambah gendut’ batin Arfi tapi meski begitu ia tetap menggendong Julia sampai ke kamarnya. Sampai di kamar Rose sedang menggendong Baby El

“Dia udah tidur Dek?” Tanya Arfi saat sudah menurunkan Julia dari gendongannya. Rose sedikit menatap mereka aneh namun ia tidak ambil pusing

“Udah kak, ini mau Rose tidurin di ranjangnya” selesai menidurkan Baby El Rose segera pamit ke kamarnya. Arfi menoleh ke Julia yang sudah menutupi tubuhnya dengan selimut. Ia sedikit tersenyum, ia mengecup kening Julia dan ikut berbaring disebelah Julia dengan segera ia memejamkan matanya menyusul Julia

Bersambung