Tentang Kita Part 31

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 31 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 30

“Arfi kamu demam?”

“Nggak, aku cuma pilek aja. Biasalah ini”

“Mau aku buatin teh?”

“Aku udah minum teh tadi saat kamu mandi. Biarin aja ini juga udah mendingan kok”

Aku menganggukkan kepala saja. Mengusap lembut kepala Arfi. Harum dari rambutnya masuk ke indra penciumanku

“Kamu keramas tadi?” Tanyaku

“Iya, rambutku bau soalnya apek”

Aku terkekeh mendengarnya. Jariku masih bermain dirambutnya. Arfi tersenyum menatapku

“Kamu pake baju gih, bugil gitu”

“Nggak, aku pake bra sama celana dalam doang gak bugil” ucapku menjulurkan lidahku. Arfi menarik pinggangku menciumi perutku yang membesar

“Oh ya fi, aku denger setelah seseorang melahirkan ia gak akan terlihat cantik lagi”

“Kata siapa?” Arfi mendongakan kepalanya menatapku. Tangan tangan nakalnya mulai menjelajah ke area area sensitifku

“Aku baca aja di buku begitu, nanti kan aku punya anak pasti menyusui nah ini nih..” aku menunjukkan dua buah dadaku dengan tanganku “bagian favorite kamu gak lagi kencang dan bagus katanya”

Aku menautkan alisnya “terus kenapa?”

“Yaa.. nanti kamu jadi suka jajan gak kalo aku begitu?” Ujarku pelan namun Arfi tertawa keras

“Mana mungkin Julia, oh maksudku mungkin aja cuma aku kan gak ingin jajan diluar gitu, kenapa sih kamu suka berpikir kaya gitu”

Aku memalingkan wajahku. Namun, kedua tangan Arfi sudah menyelungsup masuk ke balik Bra yang kekenakan. Bermainlah dia disana

“Usia kita kan terpaut jauh, udah pasti aku lebih tua duluan dibanding kamu” ujarku lirih.

Ya memang sekarang saja usiaku sudah 26tahun dan Arfi 23 tahun. Selisihnya 3 tahun, jarak yang cukup jauh menurutku. Arfi menarik pinggangku membuatku duduk dipangkuannya. Jadilah posisi kami berhadapan

“Kamu kan perempuan bisa perawatan, nah aku? Laki laki masa iya aku perawatan gitu?” Aku masih diam menatap mata Arfi.

Aku merasa sesuatu yang aneh disini, ku lirik ke bawah. Oh my god sejak kapan bra ku sudah terlepas pantas saja nafasku bebas gini

“Kamu gak usah mikirin kaya gitu ah, aku gak nuntut macem macem sama kamu kok, kaya aja aku banyak nuntut kamu harus cantik bla bla alah ribet banget” ucap Arfi membuatku tersenyum namun detik selanjutnya ia langsung menghisap salah satu payudaraku, ah ini mah emang dia yang lagi mau aja.

Aku membiarkan Arfi menghisapnya disana, sesekali ia berpindah dari kanan ke kiri begitu terus. Aku hanya mengelus kepalanya lembut.

“Isep terus sayang, enak..” ucapku pelan.

Aku mulai terbakar gairah. Lidah Arfi masih bermain diputingku itu membuatku seperti melayang. Tiba tiba Arfi melepaskan isapannya membuatku menoleh ke arahnya

“Kok dilepas”

“Nih lihat, dada kamu masih kenceng begini meski kamu hamil tua. Setauku juga saat perempuan hamil sudah tua dadanya gak sekencang ini loh” ujar Arfi tersenyum tapi tangannya masih berada diatas dua gundukanku

Aku meremas sendiri dadaku lalu menyodorkannya ke arah Arfi “isep lagi sayang, aku lagi mau” tanpa aba aba Arfi menghisapnya kali ini lebih kuat membuat desahanku lolos begitu saja. Aku mendorong pelan tubuh Arfi hingga ia berbaring

“Sayang, aku mauu~~”

“Hehehe buka dulu dong celananya”

Aku mengangkat sedikit pinggulku lalu ku tarik celana dalamku

“Udah~~”

“Punyaku belum”

Aku merengut kesal tapi aku tetap melakukannya melepas celana pendek Arfi. Begitu terlepas benda pusaka milik Arfi langsung mengacung bebas. Astaga ia tidak memakai CD? Ckck ku kecup sedikit ujungnya lalu aku bersiap memasukkannya kepunyaku

“Ahhh….”

“Sshhh…”

Sekali gerakan masuk semua benda pusaka Arfi. Wah benar memang wanita itu kuat, benda keras, besar dan panjang masuk semua ke dalam HAHA!!

Aku menggoyangkan pinggulku Arfi pun tidak tinggal diam. Ia menghisap dadaku secara bergantian

Brakk

Aku menoleh cepat ke arah pintu. Selanjutnya aku terguling ke samping tubuhku ditutupi oleh selimut oleh Arfi. Kepalaku menyembul dari balik selimut

“Okta! Ya ampun ngapain sih lari lari”

Oh jadi yang buka pintu itu Okta. Kebiasaan orang lagi enak juga

“Aku mau bangunin Kak Arfi sama Kak Julia, Rose!”

Dua anak laknat ini kenapa selalu bersama sih. Padahal yang satu kan sudah menikah tapi tingkahnya masih saja seperti anak anak

“Ketuk pintu dulu bisa kan! Ayo turun tuh kak Arfi sama Kak Julia juga udah bangun udah olahraga malahan” kurang ajar emang si Rose ini. Kalo ngomong suka gak ada remnya. Aku melihat Okta ditarik pergi sama Rose lalu pandanganku beralih ke arah Arfi kurasa miliknya masih menancap didalam punyaku

“Fi, udah aman kan?”

“Haaahh~~ yuk bangun deh, nanggung padahal tadi” Arfi bangun lalu menutup pintu segera. Aku memakai bajuku yang ku ambil dari lemari begitu juga dengan Arfi

“Yuk turun sarapan, mereka udah nungguin kayanya” ucapku melihat Arfi masih memasang wajah betenya

“Ganggu banget sih istirnya si Iwan ini” gerutunya

*

Kami makan bersama, tapi dimeja ini hanya ada kami bertujuh. Keluarga Iwan maupun Okta katanya memilih berjalan jalan ditepi pantai terlebih dahulu

“Makan yang banyak ya sayang” Iwan mengecup kening Okta. Pasangan baru wajar aja masih kasmaran dan masih lengket begitu kata kebanyakan orang sih

“Oh ya kak hari ini aku gak mau banyak gerak ah selangkangan aku sakit nih gara gara kakak semalam” kami semua menatap Iwan tidak terkecuali aku

“Hahahaha!!” Tawa kami pecah. Begitu lugunya Okta maksudku ia benar benar anak yang polos yang akan menceritakan pengalaman barunya pada siapapun

“Gile udah dieksekusi ternyata guys wkwkwk” Agus menimpali membuat kami tertawa kembali

“Kalian ketawain apa sih? Gak ada yang lucu juga” ujar Okta. Aku berhenti tertawa begitu juga dengan yang lain.
“Gimana Ta? Enak gak?” Tanyaku mengedipkan mataku sebelah

“Sakit kak! Awalnya Okta gak mau lagi tapi kata Kak Iwan nantinya akan jadi enak, eh bener deh kesananya enak meski masih agak sedikit perih sih. Kelaminku berdarah kak”

Aku menahan tawaku. Sungguh lucu sekali anak ini

“Kalau berdarah gitu tandanya harus melakukan lagi Ta, sampai gak berdarah lagi saat melakukannya”

“Emang gitu ya Kak Arfi? Kak Julia juga begitu ya dulu Kak?” Arfi yang berada disebelahku hanya mengangguk

“Kak, nanti abis makan kita lagi ya, biar punyaku gak berdarah lagi ya ya ya ya!!” Ujar Okta bersemangat Iwan hanya menatap Arfi dan aku malas. Aku hanya menahan tawaku

“Oh ya kak nanti kalo aku udah gak berdarah lagi aku mau kaya Kak Julia dan Kak Arfi kak, Kak Julia diatas Kak Arfi gitu kak tadi aku lihat ya Kak Julia?”

Aku menggaruk kepala belakangku “heheh iya” ya sudahlah hanya itu jawabanku ku yakin setelah ini aku dan Arfi yang akan menjadi bahan ledekan

“Gila, udah isi masih aja di isi lagi, awas overload loh bro hahaha” Kan benar kataku kali ini Iwan berhasil meledek kami berdua

“Kenapa sih? Okta gak ngerti deh..”

“Okta, itu namanya hubungan sexual. Biasa dilakukan suami istri. Kaya kamu sama Bang Iwan semalam. Gak usah dipublish hal seperti itu ya, masing masing pasangan memiliki caranya sendiri” ucap Rose. Okta hanya menganggukkan kepalanya

“Abis Okta gak tau Rose, Okta belum pernah merasakan hal kaya gini. Seperti semalam saat aku sama Kak Iwan ciuman terus Kak Iwan meraba raba dadaku, rasanya enak aku jadi ke enakan emmppp…”

“Sayang, cukup ya. Diem aja kamu ya gak usah bicara lagi” Iwan langsung menutup mulut Okta

“Kan udah Rose bilang tadi, gak usah diceritain hal semacem ini oke?” Okta hanya menganggukkan kepala. Heran deh dia ini nurut banget sama Rose

“Please ah gak usah bahas ranjang bisa gak sih? Disini ada perjaka nih wey!”

“Siapa suruh lo belom nikah?”

“Gue mah mau aja Bang, masalahnya ada dua. Pertama doinya mau gak kedua abangnya noh..” Ferdi melirik ke arah Arfi “ngasih restu kagak sama gue”

“Ya usaha lah lo kan laki. Bacot itu gak diperluin usaha yang penting”

“Bang Arfi, gue lamar ade lo minggu depan ya?” Ujar Ferdi. Harus kuakui nyalinya cukup besar juga

“Aduuuh duhduhduh..”

“Enak aja lo ngomong enteng banget! Itu kakak gue! Yang sopan kalo ngomong! Ngelamar asal jeplak aja lo!”

“I.. iya sayang, nanti kita atur lagi ya. Yang penting kan kamu mau sama aku kan?” Rose melepas jewerannya dikuping Ferdi. Ia menunduk dalam aku yakin ia sedang menyembunyikan rona merah diwajahnya

Sarapan absurd kamu selesai. Aku kembali ke kamarku mencari Arfi. Sejak sarapan ia langsung menghilang entah kemana

Klek

Loh? Arfi sudah dikamar rupanya

“Kamu nonton apa?” Tanyaku yang melihat ia sedang asik menatap layar didepannya. Aku duduk disampingnya

“Transformers 5 nih sayang, nonton sini sama aku” Arfi menepuk nepuk lantai disebelahnya. Ya kami menonton dilantai bersandar pada tempat tidur kami

Aku menyaksikan filmnya. Kupikir Arfi hanya senang dengan film Genre Horror/Thriller saja ternyata film yang berfantasi seperti ini pun ia suka

“Aku gak tau kamu suka film fantasi seperti ini juga..”

Arfi terkekeh lalu menoleh padaku “ini tuh seru sayang, filosofinya mengajarkan persahabatan, kesetiaan, dan perjuangan itu yang aku ambil dari film ini”

Aku menganggukkan kepala lalu bersandar ke dada Arfi menonton film bersama. Jujur saja aku terkesan dibagian saat robot berubah menjadi mobil atau pesawat dan sebaliknya. Proses editingnya pasti repot dan ini keren

“Uh mampus modar lu ditembak gak tuh hahaha”

Kan mulai nih pasti kicauan kicauan Arfi lainnya

“Gila! Keren banget si Optimus dipenggal gak tuh kepala musuhnya semua wkwk wanjir keren banget”

Yah, aku hanya mendengarkan saja bagiku sudah biasa jika Arfi menonton sebuah film dan ia akan berkicau seperti itu. Artinya film itu bagus untuknya dan perlu kalian tau jika Arfi menyukai suatu film ia akan menontonnya berulang kali diwaktu yang berbeda

“Nice ending gila, keren gak menurut kamu filmnya?”

Aku mendongakkan kepalaku menatap Arfi

“Keren aku suka bagian robotnya berubah jadi mobil atau sebaliknya”

“Berkualitas ya filmnya gak asal buat film. Aku suka film kaya gini”

Aku tersenyum menanggapinya

“Fi..”

“Yaa?”

“Aku mau nanas”

Arfi mengeritkan alisnya “emang ada yang jual?”

Aku duduk menatapnya “ada kok kemarin aku lihat, aku mau makan nanaas Arfiii~~ beliiin~~”

“Eh.. iya iya deh yuk, aku kira ngidamnya kamu udah expired”

“Heh! Emang gue makanan kaleng apa!”

“Aduh gusti galaknya juga nambah” gumam Arfi namun masih bisa kudengar

“Cepet Arfi beliin. Diujung perempatan dari sini itu ada toko buah. Buruaan!!”

“Iya! Galak bener dah macan betina satu”

“Arfii!!”

Arfi langsung lari keluar kamar. Namun sepertinya diluar ada seseorang aku bisa mendengar mereka ngobrol

“Mau kemana lu Fi?”

“Beli Nanas buat macan betina dikamar noh”

“ARFII AKU DENGER LOOH!!” Teriakku dari dalam

“Mampus! Udah ah gue cabut dulu” setelahnya aku tidak mendengar Arfi bicara dengan siapapun. Kurasa ia sudah benar benar pergi.

Klek

“Jul–”

“Apa?!” Sautku ketus

“Eng.. Gak jadi deh..”

Yang tadi itu Iwan. Ah iya aku lupa bilang pada Arfi kalau aku ingin nanas madu. Ah biarin kalo dia salah beli aku suruh beli yang baru

Aku menyandarkan tubuhku dikasur sambil membaca beberapa majalah fashion yang tersedia disini.

Klek

Aku menoleh ke arah pintu

“Ini nanasnya..” ujar Arfi mengangkat sebuah bungkusan

“Yaudah potongin” ucapku tanpa mengalihkan pandanganku kembali ke majalah

“Loh, tapi kan–” aku menatap sinis ke arah Arfi. Ia terlihat menelan ludahnya

“Iya iya aku potongin bentar, yaelah gini amat ya derita ngehamilin perempuan” gumamnya melangkah keluar. Aku terkekeh saja mendengarnya sambil melanjutkan bacaanku

*

Aku menatap jauh ke arah pantai. Angin menerpa wajahku membelai rambutku lembut. Entah apa yang kupikirkan aku tidak pernah menyangka bisa hidup sejauh ini. Maksudku, nasibku berubah, perjalanan hidupku berubah. Aku yang hanya wanita malam dengan harga diri rendah yang bisa ditebus dengan nominal kini bagaikan sang putri istana yang mengenakan gaun

“Kak Julia..”

Aku membalikkan tubuhku menatap seorang gadis yang berjalan menghampiriku. Ia tersenyum, senyumnya manis menurutku. Dia adalah Okta

“Iya, ada apa?”

Okta kini berdiri disebelahku. Ia memandang jauh ke pantai lepas disana

“Aku mau cerita sedikit, boleh gak?” Tanyanya. Aku sedikit heran gak seperti biasanya. Biasanya ia akan langsung bercerita tanpa minta izin terlebih dahulu.

“Boleh, mau cerita apa?”

“Ini soal kak Gre, lebih tepatnya bagaimana aku harus bersikap padanya” Okta menatapku serius. Selama aku mengenalnya aku belum pernah melihat tatapannya seserius ini

“Aku belum bisa melupakan kejadian itu. Bagaimana aku menghormatinya bahkan aku anggap ia sebagai kakakku sendiri. Tapi yang ia lakukan malah sebaliknya. Aku sudah memaafkannya tapi aku sendiri gak bisa membohongi diriku sendiri dan menutupi rasa kecewaku padanya” manik mata Okta mulai berair. Aku merasakan kesedihan yang mendalam disana. Kurangkuh tubuh jangkungnya dan ku peluk ia.

“Aku tau ini sulit, bahkan jika aku diposisi kamu sekalipun aku tidak bisa memaafkan kedua orang tersebut. Tapi tindakanmu itu lebih baik dibanding aku. Kamu memaafkan mereka, yang jadi pertanyaanku adalah kenapa kamu mudah memaafkan Iwan?” Ucapku

“Begini, jika dipikir logika saat itu kak Iwan selalu dalam keadaan mabuk. Sedangkan Kak Gre? Ia gak mabuk kan Kak? Artinya ia sadar sepenuhnya lalu kenapa dia membiarkan kak Iwan melakukannya. Ini masih sulit kuterima”

Aku menarik nafasku dalam “Memang begitu, tapi kamu tau Gracia itu sudah kecanduan obat perangsang jadi tanpa perangsang sekalipun nafsunya akan besar.. maaf jika aku sedikit menceritakan hal pribadi mereka. Tapi kurasa kamu perlu tau itu”

“Itu yang membuatku sulit. Aku menemukan jawaban atas rasa sakitku. Aku harus mencintai kak Iwan lebih dari sebelumnya. Karena aku hanya manusia biasa tak sepantasnya tidak memaafkan kesalahan sesamanya. Aku pun pasti akan berbuat salah dan mengecewakan seseorang nantinya”

“Jadi aku harap saat aku melakukan itu, akan ada orang mau memaafkanku juga. Tapi wajar gak jika rasa kecewa ini selalu ada kak?” Lanjutnya

“Wajar banget. Semua itu akan hilang kok. Ada waktunya, yang kamu harus lakukan adalah membuka hati dan melapangkan dada. Ini sulit memang tapi aku yakin kamu bisa. Bahkan diantara kami pun hanya kamu yang bisa melakukan hal sebesar ini” aku tersenyum padanya memberi semangat untuknya. Okta tersenyum padaku lalu memeluk tubuhku

“Kak, bayi nya namanya siapa nih?”

“Aku belum nentuin namanya, jenis kelaminnya juga aku belum nentuin”

“Hmm.. aku iri loh sama Kakak dan kak Arfi”

“Iri? Iri kenapa?”

“Kakak menemukan kebahagiaan tanpa harus menelan pil pahit dulu. Kalau aku kan harus menelan pil pahit mentah mentah” Kini Okta meluruskan pandangannya ke depan tanpa menatapku

“Kamu bisa bicara seperti itu karena kamu hanya melihat yang sekarang. Hidupku jauh lebih baik setelah bertemu dengan Arfi. Yah, masing masing hidup orang itu memiliki jalannya masing masing kamu gak bisa menilai hidup kamu lebih buruk atau menilai hidup orang lebih beruntung dari kamu”

“Pada dasarnya syukuri aja apa yang kamu punya. Intinya berjalan terus tanpa melihat kebelakang tapi mengingat apa yang pernah kamu lalui untuk dijadikan pelajaran kedepannya” lanjutku

“Aku salah ya kak gak ngasih kak Iwan ML dulu?”

Aku menoleh cepat ke arah Okta “bu.. bukan gitu, maksudnya yaa, gimana ya.. kan kalian udah menikah nah jadi kalian bisa saling berbagi cerita. Lebih terbuka gitu” alah ngomong apa aku sih, aku tidak pandai menasihati orang sepertinya. Tapi tidak berpengaruh sepertinya pada Okta ia tersenyum menanggapi ucapan ngawurku tadi. Entah dia benar mengerti atau tidak

“Okta.. kamu dicariin sama Iwan”

Aku berbalik melihat siapa yang memanggil Okta. Rupanya Gre dengan senyum menghampiri kami

“Ta.. dibawah tadi–”

“Kak Julia aku duluan ya..” Okta berlalu begitu saja melalui ku dan Gre. Gre yang melihat itu hanya bisa diam mematung selanjutnya ia menghela nafasnya kasar lalu menatapku. Aku mengerti tatapan itu

“Sabar ya.. semuanya butuh proses kok” ucapku Gre hanya menganggukkan kepalanya

“Turun yuk, semuanya kumpul dibawah tuh” Aku mengangguk lalu berjalan mengekor dibelakang Gre

Saat kumpul pun semua terjadi biasa saja. Namun, Okta sepertinya masih menghindari Gracia. Terlihat beberapa kali Gre menimpali ucapan Okta namun Okta mengalihkan pembicaraannya.

Beberapa kali pun Gre terlihat ingin membantu Okta yang terjadi Okta menolaknya atau bahkan meninggalkannya tanpa ucapan apapun. Aku pun merasakan kesedihan yang sama dengan Gre, kekecewaan Okta masih belum dihapusnya meski kini statusnya sudah menikah dengan Iwan

Aku berjalan menuju kamarku dilantai dua. Hah, ku pikir masalah itu sudah berlalu. Yah, sulit memang sih. Itu bukan sesuatu yang mudah dilupakan. Sampai dikamar aku mendengar suara gemercik air

“Fi.. kamu mandi?”

“Iya sayang, kamu mau mandi bareng aku?”

“Nggak, udah malem masuk angin”

“Yaudah nanti aku yang masukin aja”
Aku tidak membalas ucapan Arfi yang mesum itu. Ku buka lemari lalu mengambil pakaian untuk tidur. Aku melepas semua pakaianku termasuk pakaian dalamku

Klek

“Wah, kamu udah siap aja sih”

Aku mendengus sebal “aku mau ganti baju bukan mau gituan”

“Oh kirain aja kan. Beb, ambilin bajuku dong”

Aku mengambil celana pendek untuk Arfi lalu memberikannya

“Bajunya mana?”

“Gak usah pake baju aku mau sandaran di dada kamu”

Arfi hanya tersenyum penuh arti ah sudahlah dia mah memang begitu. Saat aku membalik badanku hendak memakai pakaianku Arfi menahan tanganku. Ia memeluk tubuhku dari belakang

“Gini aja yaa..”

“Nanti aku sakit, ini dingin Arfi”

“Yaudah daster hamil aja ya”

Aku menghela nafasku jika sudah begini mau tidak mau aku harus menurutinya. Gak salah juga sih lagi pula aku juga membawanya.
Lalu kami berbaringan. Nggak, Aku duduk bersandar pada kepala ranjang dan Arfi yang tiduran dipangkuanku.

“Fi kamu merhatiin gak Okta selalu menghindari Gre tadi”

“Bukan tadi aja kali sayang, kan memang selalu begitu”

“Sejak kapan?”

Arfi menggeser posisi kepalanya lalu menatapku

“Sejak awal Okta sadar juga begitu kok. Herannya sih kenapa dia masih kecewa sama Gre padahal kan Gre juga melakukan itu sama Iwan”

“Tadi aku sempet ngobrol sama Okta sih, dia berasumsi gini Iwan kan mabuk berarti gak sadar nah Gre kan sadar kenapa gak nolak gitu sih intinya”

“Bener dugaanku berarti selama ini Okta pasti juga mikir kesitu. Aku kadang mikir gitu loh beb, mau apapun itu namanya perselingkuhan pasti lebih diberatkan ke perempuannya. Kan kasihan ya perempuannya”

“Kamu gak akan kaya gitu kan?”

Arfi mengelus pipiku dengan ibu jarinya lalu tersenyum “Mudah mudahan aku gak akan seperti itu. Aku cukup hanya dengan kamu”

Aku tersenyum sambil mengelus puncak kepala Arfi “kamu dulu jatuh cinta sama aku karena aku punya wajah seperti Mozza?”

Sejenak Arfi terdiam menatapku detik berikutnya ia tersenyum kembali

“Alasan aku mencintai kamu gak sesederhana itu. Ya memang kamu memiliki wajah yang mirip dengannya, jauh dari itu kamu memiliki sifat yang sejuk menurutku. Anehnya aku gak bisa marah sama kamu”

“Oh ya? Hehe jadi seneng nih aku”

“Iya, jujur aja saat itu aku bingung harus berkata apa ke kamu. Aku sampai berlatih untuk menyatakan cinta ke kamu tapi gagal akhirnya aku malah nembak kamu dengan cara yang gak banget”

“Hehehe aku cukup terkesan tapi loh. Menurutku kamu lebih jujur dibanding laki laki yang nembak dengan bunga”

“Iya aku emang gk pernah bisa romantis. Apa yang ada dikepalaku aja aku lakukan gitu hehe”

Aku tersenyum menatapnya yang tersenyum melihatku. Arfi meraih tanganku lalu mengecupnya berulang kali

“Aku mencintai kamu Julia, aku berusaha untuk kamu karena hanya kamu alasan kebahagiaanku”

Entah kesekian kalinya Arfi selalu mengatakan hal ini padaku. Aku tersenyum nanar memandangnya. Air mataku menetes mengenai kening Arfi

“Kamu kok nangis sayang?” Dengan ibu jarinya ia mengusap air mataku

“Aku bahagia banget bisa menikah sama kamu. Menjadi milik kamu, kamu satu satunya didunia ini yang aku percayai”

Arfi tersenyum lalu bangun dan duduk didepanku “jangan nangis dong, aku kan jadi merasa bersalah sama kamu udah bikin kamu nangis”

Aku mengusap kembali air mataku “bobo yuk sayang” ajakku namun Arfi hanya tersenyum lebar “kamu mau ya?” Tanyaku yang hanya melihat Arfi tersenyum lebar

“Nggak, aku jarang dipanggil sayang sama kamu”

Seperkian detik aku terdiam. Memang benar sih aku biasa memanggilnya dengan sebutan namanya langsung. Sedangkan ia selalu memanggilku dengan sebutan romantis

Aku memeluk tubuh samping Arfi. Ku kecup pipinya sekilas membuatnya menoleh padaku

“Genit deh cium cium”

“Apa sih, aku cium punya ku ini”

“Hooo.. aku merasa disayang banget nih jadinya”

“Nyebelin deh! Kamu kan emang kesayangannya aku. Ini.. ini.. ini tuh milik Julia Anantha seorang. Gak boleh ada yang menyentuhnya” ujarku menunjuk pipi, kening dan bibirnya. Arfi melebarkan senyumnya sambil terkekeh

“Manja banget cii istri akooh nih.. cini cini dimanjaaa”

Aku mengeratkan pelukanku menenggelamkan kepalaku dicaruk lehernya Arfi. Kemudian Arfi mengangkat daguku membuatku menatapnya. Ia mendekatkan wajahnya dan detik berikutnya kurasakan bibir kenyal Arfi menyentuh bibirku. Tanpa lumatan kami berciuman cukup lama

“Goodnight Sweety.. have a nice dream”

“Night too my tiger”

Kami akhirnya tidur masih dalam keadaan berpelukan. Mimpi indahku selalu tentangnya. Arfi Juanto. Suami yang juga penyelamat dalam hidupku. Terima kasih tuhan kau ciptakan ia untukku

***

“Kamu hati hati berangkatnya ya.. kalo udah sampai kantor kabarin aku. Sama dijalan jangan ngebut ya”

“Iya bawelku, istriku sayang”

Cup

“Aku berangkat dulu ya sayang. Love you~”

“Love you too”

Aku kembali masuk ke dalam rumah setelah melihat mobil yang dikendarai Arfi keluar dari area rumah. Aku tersenyum senang pasalnya Arfi mencium bibirku dipagi hari.

“Duh, kesenengan banget sih udah dapet morning kiss”

Aku menoleh ke atas. Oh ternyata Rose

“Biarin aja.. sirik banget sih kamu” ujarku melangkah sambil memeletkan lidahku

“Yee udah tua juga gak pantes kaya gitu”

Aku tidak mendengarkan apalagi yang diucapkan Rose. Seperti itulah aku dan dia saling meledek bahkan kami terkesan seperti seumuran jika sudah bercanda. Apa acaraku hari ini? Sepertinya tidak ada. Kegiatanku sehari harinya hanya membereskan rumah saja. Ah lebih tepatnya hanya bagian kamarku saja yang aku bereskan hehe.

Beres dengan pekerjaanku, aku pun pergi mandi. 20 menit sudah kuhabiskan dikamar mandi. Cuacanya mendung airnya jadi dingin. Gak nyambung sih tapi memang begitu beberapa hari ini selalu hujan

Tok tok

“Iya masuk gak dikunci kok”

Klek

“Non, mau dibikinin teh Anget atau mau sesuatu?” Tawar bi Imas padaku. Aku memikirkan sesuatu. Tapi kali ini aku memang tidak menginginkan sesuatu

“Susu biasa aja Bi”

“Siap. Ditunggu ya Non”

“Oke makasih Bi”

Bi Imas termasuk pelayan yang baik dirumah ini. Dia selalu menawariku sesuatu untukku bahkan tidak sungkan ia membelikan buah untukku dengan uangnya saat ia kepasar. Katanya sih buah baik untuk ibu hamil. Tentu, setelahnya uangnya akan diganti oleh Arfi hehehe

Tok tok

“Masuk”

Klek

“Non, susunya.. diminum selagi hangat” Bi Imas masuk lalu menaruh gelas susunya di nakas

“Makasih Bi”

“Bibi keluar dulu ya, mau masakin buat Non Rose dibawah”

Aku menganggukkan kepala saja. Ku ambil gelas susu itu lalu meneguknya hingga setengah. Heran biasanya aku akan mual jika minum susu. Hmm sepertinya anak dalam kandunganku sudah memiliki rasa pengertian.

Berbeda dari sebelumnya saat usia kehamilanku menginjak 3 bulanan. Perutku selalu lapar tapi saat melihat makanan saja aku langsung mual. Sungguh menyiksa sekali. Ah mataku mulai mengantuk. Kupejamkan mataku lalu tertidur

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48