Tentang Kita Part 30

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 30 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 29

Tok tok tok

Klek

“Loh Julia? Ada apa?”

“Gue kesini ada urusan sih sekalian bertamu aja”

“Masuk sini..”

Aku melangkahkan kaki memasuki rumah Savira

“Urusan apa?” Tanya Savira sekembalinya ia dari dapur membawa minuman dinampan

“Sebelumnya gue mau nanya Fahrie besok Free gak?”

Savira menautkan alisnya menatapku. Aku memutar bola mataku malas

“Ini ada undangan Vir, besok lo dan Fahrie diundang ke pernikahan temen gue” Savira mengambil undangan itu lalu membacanya

“Firgiawan Dan Okta? Siapa tuh gue belom pernah denger”

“Ya makanya besok Fahrie free gak, sekalian sama lo nya juga”

“Gue gak tau sih, orangnya diwarung bentar gue sms dulu”

Savira mengambil hapenya dinakas.

“Bentar ya, si Fahrie lagi jalan warungnya deket kok”

Aku menganggukkan kepala

Klek

“Nah ini dia orangnya, masuk pah sini ada urusan katanya”

“Hah urusan apa? Aku perasaan gak berbuat apa apa deh”

“Kamu terlibat penggelapan uang”

“Sumpah aku cuma ngilangin 1500 setoran angkot kemarin. Aku bisa ganti kok”

Mereka ini ngomong apaan sih, aku hanya melongo melihat perdebatan mereka yang menurutku aneh juga gak beda jauh sama teman teman Arfi. Tuhaan kenapa aku selalu dikelilingi orang seperti ini sih

“Jadi kenapa Jul lo nyariin laki gue? Jangan harap laki gue mau ya lo goda”

Hmm.. si tokek kalo ngomong suka gak pake lidah kali ya. Gantengan juga Arfi kemana mana deh

“Niat banget, udah enak sama brondong gue mah..”

“Jiaahh.. yaudeh ada apaan jadinye nih?”

“Gini loh, gue ada proyek nih buat Fahrie tadinya sih yang punya hajat mau kesini tapi karena urusannya mepet jadi gue wakilin aja deh”

“Elah ribet, to the point aja kenape sih”

Medok banget betawinya nih orang

“Sans gitulah, hmm Fahrie sebelomnya bisa kan ngedit video? Semacem dokmenter gitu”

“Bisa.. bisa.. saya, tapi perlengkapannya saya gak ada”

“Soal perlengkapan gampang, yang penting bisa dulu”

Fahrie menganggukkan kepalanya cepat

“Gini temen saya butuh orang buat edit videonya diacara pernikahannya besok. Jadi, kamu diminta edit videonya aja. Besok bisa dateng?”

“Oh baik, bisa saya”

“Oke soal transportasi juga udah diatur besok ada yang jemput didepan gang sana sedan hitam. Soal baju nih udah disediain juga”

Aku memberikan bungkusan kepada Savira

“Jadi pake itu kalian berdua ya, btw soal harga gak usah dipikirin ya sebut aja yang punya hajat bilang gitu”

Fahrie mengangguk berbeda dengan Savira yang menatapku penuh arti. Aku menatapnya balik

“Kalo pervideo 1 milyar gimana?”

“Itu mah bukan bayaran tapi nodong oncom!”

Savira tertawa. Ini Fahrienya kalem kenapa mau sama Savira yang cablak kaya gini sih.
“Oh ya kalo bisa juga besok kan akadnya, nah resepsinya sehari setelahnya dibali 3 hari disana. Bisa ikut juga?”

“Hah? Bali? Serius lu?”

Aduh gila kuping gue mau mengundurkan diri ini kalo denger teriakan gini terus. Lebay banget sih si Savira nih

“Iyee.. gak usah teriak juga gila!”

Savira hanya memberikan cengirannya “ya maap, jadi kalo kita bisa itu diajak ke bali gitu? Nginep gitu?”

“Iya yakali lo pp jakarta-bali coy”

“Pah.. bisain aja. Kapan lagi kebali kan, ditanggung semua biayanya. ya ya ya ya ya mau ya bisa yaa”

Ini kok jadi pemaksaan gini sih. Si Fahrie juga diem aja lagi lehernya diunyeng unyeng gitu

“I..iy.. iyaa.. tapi bilang ke pak Bambang apa?”

“Ah gampang itu mah.. Iya Jul, bisa gue sama suami gue ikut besok!”

Buset semangat banget deh

“Eh tapi, anak gue gimana?”

“Kandangin dulu” ucapku enteng

“Sialan lo. Susah nih bikinnya gue tau gak lo mesti nungging nungging gue”

Aku terkekeh mendengarnya

“Ya lo ajaklah gimana sih lo yakali ditinggal 3 hari gak berperikeibuan lo”

“Nah itu baru ide bagus” ucap Savira sambil tersenyum lebar.

Selesai dengan urusan disini aku langsung pamit pulang. Perasaan dulu saat aku melangsungkan pernikahan gak seribet ini deh. Aku baru menyadari satu hal, pernikahan yang dilangsungkan hanya satu kali seumur hidup dan itu perlu dokumentasi agar suatu hari nanti bisa dilihat dan dikenang kembali. Itu yang tidak ada dalam penikahanku.

Aku merenung selama perjalanan kerumah menatap keluar jendela mobil. Sungguh menyenangkan jika umur pernikahanku sudah menginjak 10 tahun atau lebih dan membuka foto, video pernikahanku itu pasti menyenangkan.

Ah bicara apa aku ini, sudah untung dinikahi masih menuntut saja. Kurang bersyukur apa aku dinikahi oleh Arfi pria yang bertanggungjawab dan mau menerimaku apa adanya. Ku gelengkan kepalaku menghapus pikiran pikiran negatif

***

“Aku pulaaang…”

Suara Arfi terdengar dilantai bawah. Dengan segera ku hampiri ia yang menenteng tasnya dan duduk disofa bersandar. Aku duduk disebelahnya meraih tangannya lalu ku kecup

“Cape sayang? Gimana hari ini kerjanya?” Tanyaku sambil melepas dasi kemejanya lalu berjongkok hendak melepas sepatunya

“Oh iya, ini minum air putih dulu aku udah siapin buat kamu” ucapku setelah melepaskan sepatunya dan memberikan segelas air putih dingin padanya. Ia meraihnya lalu meminumnya setelahnya ia menatapku dengan senyum

“Kenapa kamu lihatin aku sambil senyum gitu?”

“Ribuan kali aku tersenyum saat melihat kamu dan kamu masih nanya soal itu?”

Aku memiringkan kepalaku

“Lelahku hilang saat menerima perlakuan kamu tadi, stres dikepalaku lenyap saat mencium aroma tubuh kamu, dan keringatku pun pergi saat meneguk air putih dari kamu”

Lalu Arfi tiduran dipangkuanku. Aku membelai rambutnya halus. Dari sini dapat kulihat wajah lelahnya. Ia memalingkan wajahnya ke arah perutku

“Hallo sayang, papah udah pulang nih, gimana kamu hari ini didalam perut mamah? Baik baik ya disana sayang, sehat terus” lalu ia mengecup perutku

“Kamu laper? Mau aku masakin apa?”

Arfi bangkit dari pangkuanku lalu duduk menghadapku

“Malam ini kita makan diluar ya, aku mandi dulu kamu siap siap”

“Kamu cape Fi, nanti kamu sakit aku gak mau kamu sakit. Besok juga kan acara Iwan pasti kamu bergadang malamnya dan paginya kita Flight ke bali.. kita makan dirumah aja ya biar bisa istirahat”

“Tapi aku ingin makan malam sama kamu diluar, lagipula aku udah janji sama Iwan kerumahnya mau cek motornya kan”

“Kita kerumah Iwan aja ya, makan malamnya biar dirumah supaya kamu gk terlalu cape” Aku menatapnya memohon. Sungguh aku tidak ingin ia terlalu lelah dan akhirnya sakit. Arfi bukan tipe orang yang pandai menjaga kondisi tubuhnya untuk itu aku perlu memperingatinya agar ia tetap terjaga kesehatannya

“Iya deh, aku mandi dulu ya. Oh ya, sama kamu masaknya yang mudah aja. Aku ingin telor ceplok untuk malam ini”

Aku tersenyum mengangguk. Arfi mencium keningku lalu beranjak

“Kamu mandi dulu, air hangatnya udah aku siapin”

Arfi berbalik menatapku. Kenapa? Apa aku salah?

“Kamu siapin itu semua untuk aku?”

Aku menganggukkan kepalaku tersenyum. Arfi menjatuhkan tubuhnya duduk bersimpuh dilantai aku dengan segera menghampirinya. Kenapa dia ini

“Arfi, kamu kenapa?”

Ia menatapku dengan tatapan yang sulit aku artikan. Detik selanjutnya ia mendekap tubuhku erat

“Aku bahagia banget bisa nikahin kamu. Aku sayang banget sama kamu” ucap Arfi masih memelukku. Aku hanya mengangguk membalas pelukan Arfi

“Woah woah.. ada drama apa nih peluk pelukan dilantai gitu”

Arfi melepas pelukannya beralih menatap Rose yang baru turun ditangga

“Ganggu banget sih, kenapa ya selalu ganggu gitu”

“Ganggu apaan sih? Ini tuh–”

“Tempat umum kalian aja yang gak tau tempat.. gitu? Ah udah hafal” ujar Arfi memotong ucapan Rose. Sebelum terjadi perdebatan yang akan memakan waktu panjang aku segera melerai mereka

“Kamu mandi dulu ya, aku mau masakin buat kamu”

Arfi tersenyum dan berdiri membangunkanku. Lalu ia pergi mandi

“Rose udah makan?”

“Belom Kak, kalo mau masakin sih gpp”

“Telor ceplok mau?”

“Batal, aku masak sendiri aja”

Aku terkekeh. Rose ini memang tidak suka telor ceplok atau makanan yang berbahan telor. Entah kenapa katanya trauma dulu saat ia memakan telor jerawatnya tumbuh subur diwajahnya dari situ ia tidak ingin memakan makanan yang ada telornya. Berbeda dengan Arfi. Ia apa aja dimakan asal enak. beruntung aku memiliki suami seperti dia yang tidak rewel untuk urusan makan.

***

Kurasa penampilanku sudah sempurna. Dengan dress biru panjang khusus untuk ibu hamil dan Arfi yang memakai Jas biru dengan celana selaras dengan jasnya. Wah ini mecing banget temanya apa biru biru gini? Langitkah? Hehe

“Udah? Yuk berangkat” Arfi menyembulkan kepalanya. Aku menganggukkan kepala

Begitu sampai diacara pernikahan Iwan banyak tamu undangan berdatangan. Beberapa dari mereka juga kerabat bisnis Arfi. Acara dimulai Iwan terlihat gugup terlihat dari keringat yang mengucur didahinya. Tunggu, aku belum melihat dua orang disini, kemana Rose dan Ferdi, bukannya Ferdi seharusnya berada disebelah kedua orang tua Iwan

“Fi, Ferdi sama Rose kemana?”

“Harusnya Rose udah disini, dia kan berangkat duluan. Aku juga nyariin ini”

Tak lama acara dimulai, sang penghulu memberi aba aba kepada Iwan dan menyalami tangannya.

“Saya terima nikahnya Okta binti Derry suswanto dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!”

“Sah?”

“Sah!”

Akhirnya, Iwan melewati masa lajangnya. Tak lama Okta terlihat menuruni tangga. Ia sangat cantik hari ini. Aku tersenyum menatapnya.

Grakk

Aku menoleh ke arah pintu masuk. Semua tamu pun menoleh ke arah sana. Ferdi datang dengan nafas tersenggal

“Rose bang.. Rose..hah hah hah”

Arfi berdiri menghampiri Ferdi

“Rose? Kenapa dengan Ade gue?”

“Rose.. masuk rumah sakit!”

***

Tanganku ditarik oleh Arfi membuatku berjalan dilorong rumah sakit dengan cepat mengikutinya. Begitu tau Rose masuk rumah sakit karena suatu insiden dijalan Arfi langsung menuju rumah sakit ini. Beruntung Rose hanya pingsan karena terkena pukul dibagian belakang kepalanya Ferdi dengan cekatan membawanya kerumah sakit

Grakk

“Rose..”

Arfi mematung melihat adiknya berbujur lemah dibansal rumah sakit. Tidak ada luka fisik sepertinya hanya pingsan saja.
Grak

“Gimana keadaannya, bang?”

Arfi menatap tajam ke arah Ferdi lalu berjalan cepat menghampirinya menarik tangannya keluar ruangan. Aku yang cemas jadi mengikutinya takut takut Arfi tidak bisa mengontrol emosinya

Brakk

“Ugh..”

Dilemparnya Ferdi ke tembok dan Arfi mengunci pergerakan Ferdi. Yang aku lakukan hanya diam tidak tau harus berbuat apa

“Katakan, apa yang terjadi sama ade gue?”

Ferdi hanya menatap Arfi sinis

“Katakan!!”

Sreet

Iwan yang datang langsung menarik tangan Arfi membuat Arfi sedikit tersentak

“Sorry Fi, ini rumah sakit, lo harus tau etika”

“Cih..” Aku membantu membenarkan kemeja panjang Arfi. Tak lama Agus dan Gre datang menghampiri kami

“Fer, ceritain pada kami dengan jelas” ujar Iwan. Ferdi lalu duduk dan menatap Arfi tajam sekilas lalu beralih ke Iwan

“Gue janjian ketemu ditempat kak Okta sama Rose. Gue udah bilang sama Rose untuk nunggu gue biar gue yang jemput dia tapi dia nolak”

“Perasaan gue emang udah gak enak, gue akhirnya memutuskan untuk menyusul kerumah Rose. Kata pak Min..” Ferdi menatap Arfi kembali “Rose udah pergi..”

“Perasaan gue makin gak enak tanpa pikir panjang gue gas mobil gue langsung melewati jalan ke arah rumah kak Okta.. bener aja, dipersimpangan sepi gue curiga sama mobil yang diam dipinggir jalan”

“Awalnya gue cuek namun teriakan dari suara yang gue kenal membuat gue langsung berhenti disitu juga. Dan kalian tau apa yang terjadi dengan Rose disana?”

Kami semua menatap Ferdi serius

“Apa?” Tanya Arfi

“Rose hampir digauli sama sopir taksi online itu. Gue bersyukur kaca jendela gue gak gue tutup jadi gue bisa denger teriakannya.. gue hampir kalah pada saat itu namun Rose berusaha menolong gue itulah sebabnya dia terkena pukul dibagian kepalanya hingga pingsan”

“Gue marah, gue sangat marah gue abisin itu sopir taksi online gue gak perduli entah apa yang akan terjadi sama gue, setelah gue berhasil melumpuhkan sopir itu, gue bawa Rose ke rumah sakit buru buru. Mendengar Rose dalam kondisi baik hanya terluka kecil gue langsung ke tempat kak Okta saat itu”

Aku diam memperhatikan Ferdi, lagi lagi Arfi salah paham dan ia tidak bisa mengendalikan emosinya jika terkait dengan orang yang disayanginya

“Tangan lo terluka baju lo juga sobek itu, lo perlu bantuan medis”

“Gak usah. Ini gak ada apa apanya dibanding Rose yang terbaring disana. Lo gak usah khawatirin gue bang” ujarnya pada Arfi

“Oh ya, gue minta maaf sama lo bang, karena gue pernikahan lo jadi berantakan gini harusnya–”

“Pernikahanku gak berantakan kok. Kamu datangnya telat kalo mau berantakin semuanya tapi kamu datang saat tamu undangan berucap sah jadi sekarang aku sudah menjadi suami istri sama Kak Iwan”

Kami semua menoleh ke arah Okta yang berjalan ke arah kami.

“Kok kamu nyusul kan aku udah bilang tunggu dirumah aja.. para tamunya gimana coba..”

“Kak, saat aku dirawat Rose merawatku, memberiku makan 3x sehari, mengingatkanku minum obat, dan dia juga yang menasihatiku untuk membuka hatiku kembali sama kamu dan memaafkan segalanya. Dia juga yang menyuruhku untuk meminta Kakak menikahiku.. sekarang saat dia dirumah sakit seperti ini aku masih mementingkan tamu undanganku? Manusia macam apa aku ini Kak”

“Jika kakak mementingkan tamu undangan dirumah silahkan kakak pulang tapi aku mau disini menemani Rose” ujar Okta berjalan masuk ke dalam ruangan tempat Rose dirawat. Iwan menghela nafasnya panjang lalu menyandarkan tubuhnya.

“Wan, biar gue yang disini jagain ade gue, lo temuin tamu undangan aja gak enak sama mereka” Iwan menoleh langsung ke arah Arfi

“Lo gila? Abangnya si Rose itu udah banyak bantu gue sekarang gue mentingin pribadi gue sendiri? Manusia macam apa gua?” Iwan berjalan masuk meninggalkan kami semua. Kenapa jadi samaan sama Rose ucapannya sih

“Gus, Gre..”

“Not”

“Gre..”

“I’m stay here..”

“Fer..”

Ferdi menggelengkan kepalanya. Mereka bertiga masuk ke dalam ruangan Rose. Aku duduk disamping Arfi

“Kamu sih marah marah duluan tadi”

“Aku kaget aja Rose kena musibah gini.. dia hampir diperkosa, jika itu terjadi aku benar benar gagal menjaga adikku” Arfi menundukkan kepalanya aku mengusap lembut bahunya memberinya ketenangan

“Udah yuk kita tengok Rose aja ke dalem”

“Yuk”

Sampai didalam ternyata Rose sudah sadar kini ia duduk dibansalnya dan bercanda dengan yang lainnya. Lah anak ini kuat juga ternyata

“Dek, kamu udah sadar? Kamu gpp kan?”

Rose menatap Arfi sinis “kamu siapa?” Tanyanya membuat Arfi mematung menatap Rose begitu juga denganku yang terkejut

“Kamu gak inget dia siapa Dek” tanyaku, Rose menggeleng kuat tatapannya beralih ke Iwan

“Bang, mereka berdua siapa?”

Iwan yang ditanya seperti itu hanya bingung

“Kamu lupa sama Kakak?”

“Emang kakak ini siapa?” Tanya Rose balik. Buruk. Ini benar benar buruk. Arfi berjalan menghampiri Rose

“Kakak ini kakak kamu Rose, Arfi.. kamu lupa?”

“Arfi? Maaf aku gak inget apa apa”

Arfi menunduk dalam menutupi kesedihannya lalu berjalan ke arahku

“Yuk kita pulang” bisa kulihat tatapan matanya mengisyaratkan ia amat sedih dan kecewa. Arfi menggandeng tanganku hendak berjalan keluar namun langkah kami terhenti saat aku mendengar gelak tawa

“Hahahahahaha…”

“Gilasih parah..hahahaha”

Mereka tertawa keras membuat aku dan Arfi berbalik menatap mereka heran

“Kakak, sini dong peluk Rose” Rose merentangankan tangannya. Hah? Ini prang? Wah nerbener mereka nih

“Gak lucu candaan kalian tau gak!” Bentak Arfi seketika semua terdiam. Ia lalu berjalan melangkah ke Rose

“Denger, ada kalanya kamu tidak harus bercanda dikeadaan seserius ini. Saya menghawatirkan kamu Rosediana! Kamu tau kesedihan saya saat kamu tidak ingat dengan saya? Menurutmu itu lucu hah?!”

“Fi udah ya, jangan marah lagi. Mereka bercanda aja Rose juga gak amnesia betulan kan”

“Gak bisa! Mereka terlalu konyol! Mereka anggap semua ini lelucon hah?!”

Aku melihat satu satu orang disini, mata Arfi menatap tajam. Ia sangat marah, sangat sangat marah

“Kak, ini ide aku, jangan marahin mereka”

“Ya ini memang kamu yang salah Rosediana! Kamu sudah keterlaluan!! Dan kalian semua bertingkah seperti anak kecil yang menganggap kekhawatiran sebagai lelucon? Itu lucu bagi kalian? Jawab!!” Bentak Arfi keras aku sampai terkejut mendengarnya

“Maafin Rose kak”

“Maafin kita bro”

Aku menggenggam tangan Arfi kuat. Kulihat Arfi menatap satu satu orang disini. Mereka hanya menundukkan kepalanya. Selanjutnya aku mendengar suara Arfi menahan tawanya

“Hahahahaha… kalian lucu, seperti itu kah muka takut kalian? Hahahahah”

Aku menghempaskan tangan Arfi yang kugenggam. Sial! Kukira marah betulan, ini sih emang dasarnya kakak adik yang sengklek otaknya

“Ah simpak lah lu geng, gue kira marah beneran lu”

“Tau lu, dapet banget lu akting marah”

Arfi hanya tertawa sendiri tanpa ada yang tertawa bersamanya. Aku aja malas tertawa. Keadaan seperti ini masih saja kakak adik ini membuat hal hal bodoh semacam ini

“Kak..”

“Ya”

“Maafin Rose kak”

“Maafin kenapa?”

“Soal kekhawatiran Kakak, Rose janji gak akan seperti itu lagi”

Arfi mengelus kepala Rose lembut selanjutnya ia mencium keningnya. Hah aku lelah berdiri aku pun duduk disofa panjang ruangan. Apa apaan ini sangat jauh dari ekspetasiku. Kupikir pernikahan Iwan dan Okta akan sangat berkesan namun sama saja dengan pernikahanku. Yah, apapun pernikahannya harus tetap disyukuri

***

Kami melewati border pass. Ini adalah kedua kali pengalamanku menaiki pesawat. Menyenangkan memang apalagi bagian favoriteku adalah saat pesawat menembus awan. Berbekal kamera aku akan mengambil beberapa foto dipesawat

“Kamu udah gak ada yang ketinggalan?”

“Gak ada, semua perlengkapan udah aku masukin ke koper semua kok”

“Aku masukin? Heh?”

Aku terkekeh “iya deh, yang masukin suamiku tercinta semua kebutuhan kita” ucapku meralat.

Memang semalam Arfi yang menyiapkan perlengkapan aku dan dia untuk disana. Btw Rose pun ikut ke bali bersama kami. Saat mendengar kami semua akan berangkat pagi ini kesehatannya langsung pulih. Ajaib memang Rose ini

Saat sudah didalam pesawat aku duduk disamping Arfi dekat jendela. Sebelah Arfi adalah Agus dan sebelahnya adalah Ferdi. Seharusnya aku duduk diantara Agus dan Ferdi namun Arfi menolak keras. Ia meminta untuk aku duduk didekat jendela katanya aku sedang hamil dan orang hamil harus dekat dekat dengan suaminya tidak boleh dekat dengan orang aneh seperti Ferdi.

Beberapa jam sudah kami lalui, akhirnya landed juga pesawat kami disalah satu bandara dibali. Dengan menggunakan mobil yang sudah dibooking Iwan kami diantar ke hotel tempat tujuan kami. Oh ya, karena insiden kemarin banyak para tamu undangan yang kecewa dan pulang.

Wah sayang sekali, mereka tidak bisa menikmati liburan ini. Disini hanya keluarga Okta, keluarga Iwan tentu, aku, Arfi, Rose, Agus dan Gre saja. Yaa kira kira hanya sekitar 20 orang saja padahal tempat yang dipesan lebih untuk 50 orang. Untungnya uangnya bisa dikembalikan meski hanya setengah

“Nah kalian boleh istirahat dulu, jam 8 malam nanti ke ballroom ya, gue adain acara disana”

“Oke Bro, ceritanya lo mau malem pertamaan nih?” Goda Agus. Agus ini kalo ngomong suka bener didepan kedua orang tua Okta saja ia berani berkata seperti itu. Bener bener deh

Langkahku berjalan ke arah balkon, bukan balkon sih soalnya ini seperti rumah penginapan gitu, Iwan membatalkan menyewa hotelnya jadilah kami disini. Rumah rumah yang tersusun sejajar di pinggir pantai

“Kamu mikirin apa kok bengong terus aku lihatin dari awal sih?”

Arfi menoleh ke arahku, menarikku dalam pelukannya mencium puncak kepalaku sekilas. Ada apa dengannya, kenapa aku merasakan kekhawatiran. Arfi jadi lebih sering diam melamun saat ku ajak bicara pun Arfi hanya menanggapinya biasa

“Fi, kamu mikirin apa sih, cerita dong”

Arfi hanya tersenyum menatapku. Aku berbalik badanku menatapnya lekat. Manik matanya mengisyaratkan sebuah kekhawatiran yang tidak bisa aku mengerti. Ku kecup bibirnya sekilas meyakinkan padanya aku tidak akan pergi kemana pun saat ia kesulitan

“Cerita dong ada apa?”

“Aku cuma takut..”

“Takut? Takut kenapa?”

“Julia, aku sayang sama kamu. Jangan pernah pergi dari aku. Apapun yang terjadi. Dan apapun yang orang ucapkan sama kamu tentang masa lalu kamu dulu aku tidak perduli, tolong jangan minder sama aku ya”

Aku hanya melihat Arfi. Sesuatu terjadi padanya aku yakin itu.

“Ada yang terjadi sama kamu?”

Arfi memalingkan wajahnya tanpa mau menatapku

“Dengar, apapun yang terjadi aku selalu disamping kamu. Kita akan membesarkan anak kita iya kan? Katakan, ada apa sama kamu?”

“Aku bertemu dengan orang tuaku, mereka membicarakan sesuatu tentang kamu…”

Aku menjauhkan sedikit tubuhku

“Orang tuaku bilang jika aku tidak menceraikan kamu maka namaku dalam keluarga akan dihapus”

Aku menutup mulutku, air mataku menetes. Kaki ku bergetar hebat seolah tak mampu menahan beban tubuhku. Aku berjalan mundur sedikit menjauh dari Arfi. Aku seperti tembok yang memisahkan antara Arfi dan orang tuanya

“Aku tidak ingin semua perjuanganku sia sia. Aku ingin memperjuangkan apa yang sepantasnya diperjuangkan dalam hidupku..” kini Arfi menatapku, menghapus air mataku lalu memelukku. Seketika aku menangis dalam pelukannya

“Maafin aku Fi, aku yang lancang mencintai kamu, aku seperti tembok pemisah antara kamu dan keluarga kamu” seketika Arfi melepas pelukannya menatapku tajam

“Kamu bicara apa? Kamu berharga dalam hidupku Julia, karena kamulah aku menemukan warna baru dalam hidupku”

“Tapi mereka ingin kita bercerai”

“Aku tidak akan melepaskan apa yang sudah aku dapat. Tentu aku tidak akan menuruti keinginan mereka. Aku laki laki Julia, aku berhak menentukan jalan hidupku sendiri”

Arfi menatapku lekat, ia kembali memelukku erat

“Aku sudah berjanji akan membesarkan anak kita. Aku sudah katakan pada mereka jika kamu akan segera melahirkan”

Aku mendongakkan kepalaku “lalu mereka bilang apa?”

“Mereka hanya diam, aku pergi dari sana setelahnya”

Aku memikirkan nasib anakku nantinya. Ia akan terlahir dengan kebencian kakek dan neneknya. Tapi aku tak perlu khawatir karena ada Arfi yang akan melindungi kami. Setidaknya aku bisa tenang jika memikirkan itu

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48