Tentang Kita Part 3

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 3 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 2

***

Sampai diapartement arfi aku langsung mendaratkan bokongku disofa. Pinggangku rasanya mau remuk. Seharian duduk dijok mobil itu bukan hal menyenangkan pulang pergi jakarta-bandung hampir memakan waktu 10 jam dan itu ku habiskan dengan duduk dijok mobil.

Si pria batu itu tidak ingin berhenti sejenak sekedar meregangkan otot otot yang kaku. Ah apaan dia ini(?)

“Hey kau, mandi sana?” Ucap arfi yang baru saja keluar dari kamar mandi.

Aku terpaku melihat tubuh atletisnya otot dilengannya juga tidak kalah keren dengan rambutnya yang masih setengah basah itu membuatnya terlihat seksi. Mikir apa aku barusan tanpa sadar aku menampar nampar pipi ku sendiri.

“Heh kau kenapa? Apa hobymu menyakiti diri sendiri?” Bukan fi hoby ku yang baru adalah menganggumi bentuk tubuhmu-*eh?

Aku terkesiap dan lari menuju kamar mandi segera jika berlama lama disana bisa bisa aku mimpi buruk lagi nanti malam dan meracau tidak jelas yang makin jelas yang akan membuat arfi mengerti apa sebenarnya mimpiku. Hmmm

***

Jam menunjukkan 02.34 dini hari. Aku terbangun dari tidurku hanya karena ingin pergi ke kamar kecil. Susah payah aku bangkit dan menuju toilet. Selesai dengan urusanku langkahku terhenti disaat aku menemukan arfi yang tertidur disofa kamar.

Tubuhnya yang tinggi terpaksa meringkuk agar muat disofa yang hanya sepanjang satu meter lebih itu. Kulihat dia kedinginan dengan segera mengambil selimut dan menutupi tubuhnya dengan selimut.

Jika diperhatikan wajahnya saat tidur lebih kalem dan terlihat tampan. Alis matanya yang sedikit tebal dan bibirnya yang merah menjadi daya tariknya tersendiri. Aku terus memperhatikan wajahnya. Senyum selalu menghiasi wajahku saat menatap wajahnya belum lagi apa yang dia perbuat untukku belakangan ini.

Sedikit keberanian ku kecup keningnya sekedar untuk ucapan terima kasih untuknya atas apa yang dia perbuat untukku selama ini. Ku rapihkan poni rambutnya dan ku tarik selimut hingga menutupi lehernya.

‘Sleep well have a nice dream’ bisikku dikupingnya setelahnya aku kembali ke kasur untuk tidur.

Aku masih menatap arfi yang tertidur disofa. Saat ku tawari tidur bersamaku dia hanya menjawab ‘didalam diriku aku punya tembok batasan jika terus tergoda tembok itu juga akan runtuh’ semula aku tidak mengerti maksudnya.

Lalu untuk apa dia menebusku dengan harga yang kuyakin sangat fantastis. Kenapa aku bilang begitu, karena aku tau siapa tuan Angelo itu dia tidak akan mudah melepas asetnya. Entah apa yang arfi tawarkan padanya aku dengan mudah dibawanya meski dulu perjanjiannya hanya satu bulan.

Oh ya, ngomong ngomong soal tuan angelo dia kini hidup dipenjara terjerat kasus sebagai germo dan pengedar obat obat terlarang serta miras. Entah berapa tahun dia mendekam disana aku tidak tau pasti. Sudah sepantasnya dia dapatkan hukuman itu.

Nasibku masih beruntung aku bertemu dengan arfi beberapa minggu sebelum polisi menciduk tempatku bekerja. Untuk saat ini hidupku jauh lebih baik, tidak ada air mata setiap malamnya, rasa sakit dan pulang dalam keadaan mabuk. Aku selalu tersenyum membayangkannya. Apakah ini rasanya menjadi wanita yang dihormati oleh pria? Ku harap hidupku akan terus beginu. Ah iya, Lebih baik aku kembali tidur sebelum pagi

***

Mataku mengerjap berkali kali menyesuaikan cahaya yang menerobos gorden jendela.

‘Jam berapa ini’ ucapku dalam hati.

Aku bangun dari tidurku melihat jam. Sudah jam 8 ternyata pandanganku beralih pada sofa kamar. Arfi masih tidur dengan posisi kaki berlawanan arah dan tangan yang.. ah sudahlah aku tidak bisa mendeskripsikan posisi tidurnya. Ancur.. ancur bangget pokoknya mah. Selimutnya pun sudah jatuh kelantai kurasa dia bermimpi smack down dan dia berkelahi dengan jhon cena.

Jika memang tidur dia lasak, terakhir dia tidur denganku tenang aja bahkan dari malam sampai pagi posisi kami tidak berubah. Ah sudahlah pusing bagiku arfi seperti rumus logaritma susah dipahami lebih baik aku mandi dan menyiapkan sarapan.

Aku dan arfi sedang menikmati sarapan kami. Perlu kalian catat membangunkan boss besar ini diperlukan teriakan yang dahsyat untung saja aku punya pasokan teriakan yang cukup. Jika tidak cukup juga maka selanjutnya gayung dan air bertindak. Untung tidak sampai sana aku bertindak dia sudah bangun tentu dengan ngedumel gak jelasnya

“Mulai sekarang kau adalah tanggung jawabku” ucap arfi memecah keheningan

“Maksudmu?”

“Kau adalah tanggung jawabku. Jadi apa yang kau lakukan harus seizinku dulu”

Aku menautkan kedua alisku. Sifat nyebelin dan bossinya keluar

“Alasan apa aku harus menurutimu?”

“Alasan karena hanya aku yang bisa kau andalkan saat ini”

Aku hendak membuka mulutku tapi arfi menyuapkan sesendok nasi goreng. Menyebalkan sekali

Selesai acara makan pagi kini aku menamani si menyebalkan ini ke taman kota. Satu hal lagi yang ku tau dari arfi dia menyukai photograph. Sesekali dia membidik dan memotret bidikannya. Raut wajahnya bermacam macam jika dia terlihat merengut kutebak hasilnya tidak bagus makan tombol delete adalah solusinya tapi jika dia tersenyum senang maka hasilnya pasti memuaskan.

Dan tidak hanya itu aku pun tidak luput dari bidikan lensa kameranya, tapi dia memotretku saat aku sedang mengalihkan pandanganku atau istilahnya candid. Dia memotretku tanpa sepengetahuanku tapi tanpa sepengetahuan dia juga aku tau dia sedang mengarahkan kameranya padaku jadilah aku pura pura tidak tau kalau aku sedang jadi objek candid nya. Ide jahil muncul dikepalaku sambil sedikit berpose aku memancing arfi agar ia membidikkan kameranya padaku.

Yaps. Dia menggeser kameranya saat kuyakin akulah sasaran kameranya aku menoleh langsung padanya yang sedang mengarahkan kameranya padaku. Hahaha lucu dia seolah salah tingkah dan berusaha membersihkan lensa kameranya yang ku yakin tidak ada debu sama sekali. Aku mengalihkan pandanganku tapi kulirik arfi dari ekor mataku dia terlihat manyun seperti kecewa tidak mendapat gambar yang bagus hahahaha jadi gemas

Puas dengan memotret arfi mengajakku lunch disebuah restoran jepang. Ah padahal kan udah bayar kenapa harus masih repot memanggang dagingnya tapi kata arfi itulah seni makan direstoran jepang

“Habiskan ya aku sudah pesan banyak nih” heh siapa yang suruh pesan banyak

“Aku gak janji ya” ucapku yang dihadiahi tatapan tajam oleh arfi.

Aku hanya nyengir kuda saja cari aman atau ancamannya aku yang disuruh bayar makan siang ini

***

Malam harinya aku hanya bersantai sambil menonton tivi. Sejujurnya bosan juga sejak pulang tadi arfi sibuk dengan pekerjaannya karena besok ia harus masuk kerja kembali. Dan aku hanya menatap datar tivi didepanku.

Tidak ada yang menarik diacara tivi ini, meski berkali kali pindah saluran tetap saja tidak ada yang menarik. Acara kontes dangdut, sinetron, atau acara pencarian bakat. Oh god help me!

Krek

Arfi yang baru keluar dari ruangannya langsung menidurkan kepalanya dipangkuanku. Eh?!

“Pijit tengkuk leherku dong cepat!” Ucapnya.

Ada palu gak sih? Lumayan nih kalo digetok sedikit kepalanya. Sabar sabar biar ngeselin dia ini penyelamatmu julia. Aku menuruti permintaannya memijit tengkuk lehernya dengan lembut.

“Arfi gak ada yang bisa kita lakukan, aku bosan” alih alih menjawab ucapanku arfi malah bangkit tibatiba dan menatapku menyelidik.

“Kenapa?” Tanyaku lagi

“Kau mau melakukan apa denganku?”

Aku terkekeh melihat wajahnya yang penasaran. Kalau aku goda sedikit jadi seru nih. Aku memilin ujung rambutku dan tersenyum nakal

“Sesuatu yang mengasikkan. Kamu tau kan arfi aku juga punya keinginan” ucapku sedikit berbisik ditelinganya.

Dia langsung menjauhkan tubuhnya dariku dan menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan

“Berhentilah melakukan itu julia. Jika kau pikir aku akan melakukan itu tanpa ikatan kau salah besar. Apa seperti ini kau tingkahmu dulu sebelum bertemu denganku?”

Aku langsung menarik tubuhku menjauh. Jantungku berdetak kencang perasaanku mengatakan akan ada yang menjatuhkan harga diriku. Arfi bangkit dari duduknya dan berjalan meninggalkanku. Sebelum jauh dia berbalik ke arahku

“Aku memperlakukanmu seperti wanita bukan jalang jadi bersikaplah seperti wanita. Ini apartementku bukan club dimana aku menemukanmu” ucapnya lalu pergi menghilang

Kerongkonganku tertohok, sulit aku bicara kembali bahkan nafasku tersenggal seperti habis lari maraton. Ini bukan sekedar direndahkan harga diriku. Paru paruku kesulitan menyerap udara. Tatapan arfi barusan mengingatkanku pada tatapan saat pertama kali aku bertemu dengannya.

Tatapan merendahkan, apa yang kulakukan arfi berusaha menghormatiku sebagai perempuan dan aku bersikap sebaliknya didepannya. Setelah itu ku tau aku salah besar

***

Jam menunjukkan pukul 8 malam aku yang baru selesai menjalani pemeriksaan kesehatan juga sudah selesai hanya tinggal menunggu hasilnya. Dengan diantar arfi aku akhirnya mengecek kesehatanku disini. Dokter itu tau latar belakangku dan apa profesiku sebelumnya dia berjanji itu akan menjadi rahasia antara aku dan dia. Semoga saja itu benar.

“Oke ini hasilnya, sebelumnya gue mau nanya deh gadis ini siapanya lo fi?”

Aku yang duduk berdampingan dengan arfi menoleh sedikit padanya

“Gak ada urusannya sama lo bel, cepet kasih tau gimana hasilnya” ucap arfi dingin.

“Hahahaha okeoke nih hasilnya baik. Dia bersih gak ada sel sel maupun bakteri bakteri didalam peranakannya. Cuma…” ucap dokter itu menggantung membuat arfi memajukan duduknya

“Ada sedikit kandungan narkotika didalam darahnya. Hanya sedikit dan dosisnya gak banyak kok”

Aku membulatkan mataku. Saat aku hendak melirik arfi dia sudah menatapku tajam

“Don’t worry about that bisa hilang itu kok. Nanti gue kasih resep obatnya buat ngilangin dosis narkotikanya” ucap dokter itu mengedipkan satu matanya padaku.

Tapi ku lihat arfi masih tetap pada raut wajah kesalnya

Aku dan arfi keluar dari rumah sakit setelah menebus obat yang diberikan oleh dokter tadi. Sekarang kami sedang dalam perjalanan pulang tanpa ada suara dan keheningan menemani perjalanan kami.

Tidak butuh waktu lama kami sampai diapartement. Aku melihat arfi yang duduk disofa dengan tatapan kosong. Aku masih tidak berani menyapanya ku putuskan untuk pergi ke kamar

“Duduk!!”

Aku tercekat mendengar suara bentakan Arfi

“Aku bilang duduk kesini!!”

Lagi suaranya menggema seluruh ruangan. Aku yang takut hanya berjalan menunduk dan duduk disamping arfi

“Apa yang kau konsumsi?” Tanyanya aku hanya diam. Sejujurnya aku tidak tau obat apa itu. Dapat ku dengar arfi menghela nafasnya kasar

“Apa yang kau konsumsi julia!!! Jawab!!!” Bentaknya kali ini lebih keras dari sebelumnya.

Aku yang terkejut sempat menjatuhkan kantung plastik berisi obatku. Tanpa sadar air mataku menetes, eh? Entah kenapa rasanya aku begitu takut padanya. Isak tangisku pun tak bisa ku sembunyikan lagi

“Diam disini! Jangan kemana mana!” Ucapnya lalu beranjak pergi meninggalkanku tak berapa lama dia kembali dengan dua gelas teh panas.

Hah? Dia mau mengguyurku dengan teh panas. Aku semakin takut menjauhkan tubuhku darinya

“Kenapa kau menjauh? Ini teh mu. Maaf soal tadi seharusnya kita bisa bicarakan ini dengan sedikit santai”

Aku memposisikan lagi diriku ke posisi semula. Aku mengesap tehnya sedikit. Tidak panas apa teh itu masih mengepul asapnya dan dia sudah meminumnya meski hanya sedikit kan tetap saja panas. Aku masih memperhatikannya dalam diam.

Tiba tiba dia mengeluarkan sebuah bungkus… rokok? Arfi mengeluarkannya satu dan membakarnya. Ia mengisap rokok itu dalam dalam dan mengeluarkan asapnya melalui hidungnya.

Entah keberanian dari mana aku mengambil rokok dari tangannya arfi dan memitirkan diasbak hingga rokok itu mati. Arfi yang terkejut hanya diam menatapku

“Kau ini kenapa?” Tanyanya. Kenapa dia bilang? Dia barusan sedang merusak paru parunya dan dia tanya kenapa?

“Aku tidak suka pria perokok” jawabku tanpa sadar. Arfi mengeritkan dahinya seketika aku sadar jawabanku salah

“Lalu?”

Strike kau bodoh julia. Memangnya siapa dirimu baginya?

“Aku tidak suka aroma rokok dalam ruangan” jawabku lagi.

Mendengar jawabanku arfi mengambil semua bungkus rokoknya dan berjalan ke arah balkon. Dia pasti merokok disana ini pertama kalinya aku melihat arfi merokok. Ku dengar rokok dapat membuat bibir seseorang menjadi hitam dan tidak segar lagi dan itu yang tidak aku inginkan dari arfi. Eh? Kenapa aku perduli padanya?

Tak lama arfi masuk kembali dan duduk disampingku kembali

“Cepet banget kamu ngerokoknya” ucapku

“Aku buang semua rokoknya bukannya kau tidak suka aroma rokok barusan kau bilang”

Aku terkejut mendengar jawaban arfi. Kenapa dia begitu peduli padaku. Arfi menarik nafasnya dalam dan menghembuskannya perlahan

“Jawab pertanyaanku julia, apa yang kamu konsumsi?” Ucapnya lembut dan tersenyum

“Aku tidak tau arfi. Sejujurnya aku gak mengerti obat apa itu yang ku tau saat aku mengkonsumsinya tubuhku panas dan gairahku memuncak” jawabku.

Arfi memalingkan wajahnya ke depan sebentar lalu menoleh padaku lagi dan menggenggam tangan kiriku

“Jangan sentuh obat itu lagi. Apapun jenisnya. Sekarang kamu adalah tanggung jawabku. Kita bukan orang asing lagi”

Aku diam menatapnya. Pertama dia menggunakan bahasa kamu bukan lagi kau, kedua dia bicara padaku dengan senyum dan ketiga dia sangat perduli padaku. Kamu membuatku benar benar tersesat dalam perasaan ini arfi

“Sekarang masaklah sana aku lapar kita makan bersama nanti” titahnya.

Melepaskan genggamannya dan bersanda pada sofa. Cepat sekali dia berubah langsung ke dalam mode menyebalkan mode romantisnya hanya berlangsung 5 detik. Payah! Loh kok jadi ngarep sih? -_-

Baru beberapa langkah aku berjalan arfi kembali memanggilku

“Julia…”

Aku menoleh padanya dia hanya menatapku datar dan lembut

“Ada apa?”

“Ada perintah lain? Kalo ya cepat katakan biar aku kerjakan” sambungku lagi. Dia hanya terkekeh

“Tidak ada. Gih sana” dia mengibaskan tangannya. Cih ngusir!

Acara makan malam kali ini tidak lagi ditemani oleh keheningan Arfi beberapa kali menanyakan sesuatu yang membuatku ingin sekali memuntahkan isi mulutku ke mukanya

“Aku baru membeli pengharum kamar mandi yang baru”

“Oh ya? Memang yang lama kenapa fi?”

“Harumnya tidak cukup menghilangkan bau saat kamu selesai dengan urusan kamar mandi”

You say what?!

“Arfiii!!!!” Aku berteriak keras

“Heh jangan teriak teriak ini udah malam nanti di ikutin loh”

Apa? Dia masih percaya mitos seperti itu. Uh ngeselin banget emang kurasa makanan yang ku makan ini tidak akan menjadi daging karena sudah terbakar lebih dulu sebelum dicerna oleh tubuhku hemm!!

Tapi seenggaknya ini jauh lebih baik dibanding beberapa waktu lalu. Aku jadi lebih sering melihat senyum arfi kadang tertawa meski yang jadi bahan tertawaannya adalah aku. Bahkan aku tidak percaya jika tidak mengalaminya sendiri.

Maksudku pria yang kutemui hampir 2 bulan yang lalu adalah pria es batu dan pria yang sama kini lebih sering tertawa. Kurasa dia memiliki dua kepribadian ganda.

What ever apapun itu aku cukup senang dengan kemajuannya. Sebenarnya ada hal yang ingin aku tanyakan padanya. Sempat aku tanya namun dia malah menjawab jangan dibahas dia tidak ingin membahas kenapa dia menebusku dan siapa itu farin. Karena aku tidak ingin merusak moodnya lagi jadi kuputuskan mengurungkan niatku.

Karena jika sampai moodnya rusak arfi akan kembali ke mode dingin dan aku akan berakhir di depan sofa sendirian menonton acara kontes dangdut yang tidak ada habisnya atau menonton acara salah satu nama medsos yang menurutku sangat amat garing

Beberapa kali aku sudah menguap. Jam pun menunjukkan pukul 11 malam. Aku mematikan tivi kulihat arfi diruang kerjanya masih berkutat dengan laptopnya. Wajah seriusnya bikin gemas tapi rasa kantukku tidak lagi bisa kutahan. Segera aku menuju kamar tidur dan menyelimuti tubuhku hingga leher.

Tak butuh waktu berapa lama aku pindah ke alam mimpi. Saat akan tertidur pulas aku merasakan ada yang mengecup keningku

‘Sleep well have a nice dream’

Bisiknya. Sedikit ku buka mataku. Aku melihat sileut seorang lelaki yang berjalan menutup kembali pintu kamar. Aku tersenyum, tapi sepertinya kata kata itu tidak asing bagiku. Sudahlah aku terlalu lelah untuk memikirkannya

***

Pagi ini aku disibukkan dengan membersihkan seluruh ruangan apartement ini. Mulai dari kamar tidur ku ganti sprey dan gordennya, membersihkan debu debu dimeja serta mengumpulkan pakaian pakaian kotor arfi dan aku untuk aku cuci. Beralih ke ruang tengah berganti juga senjataku.

Jika tadi hanya menggunakan kemoceng dan kain basah kini aku menggunakan pembersih debu. Lumayan menghemat tenaga, tidak perlu waktu lama karena ku rasa debu disini berkapasitas minimum mengingat apartement ini cukup tinggi dari lantai dasar.

Aku beralih ke ruang kerja arfi. Disana banyak file file dimeja dan rak rak buku yang kuyakini dokumen kerjanya. Harus ekstra berhati hati ini sih. Sebenarnya arfi ingin menyewa pembantu rumah tangga tapi aku menawarkan diri untuk membersihkan semua dan mencuci pakaian sehari hari kami.

Yah hitung hitung latihan jika aku menjadi ibu rumah tangga bagi arfi kan — eh gimana?

Sedikit demi sedikit aku membersihkan debu disana. Saat aku membereskan buku buku disana beberapa lembar foto jatuh dari selipan buku itu. Ku pungut satu satu foto itu. Mataku melotot melihat foto itu satu satu ku lihat foto itu.

Satu pertanyaanku ‘siapa dia? Dan kenapa dia mirip sekali denganku’ perbedaan diantara kami hanya model rambut saja jika wanita difoto berambut panjang sepunggung kira kira dan aku memiliki rambut pendek sebahu. Tapi suer aku seperti bercermin jika melihat wanita yang berada dalam foto ini. Ku simpan dikantongku satu selebihnya ku selipkan kembali ke buku seperti awal

Selesai bersih bersih aku memilih beredam. Mungkin ini bisa membuat pikiranku lebih tenang. Entah kenapa aku penasaran siapa wanita di foto tersebut. Ingin kutanyakan pada arfi pasti dia enggan menjawab seperti biasa dia belum menerima keadaanku sepenuhnya. Maksudnya dia belum terbuka semuanya padaku. Sepertinya dia memiliki masa masa sulit dulu

Krek

Aku mendengar suara pintu luar terbuka. Ah arfi sudah pulang rupanya cepat sekali dia. Kusudahi urusan berendamku dan segera keluar menemuinya. Setelah berpakaian aku mencari keberadaan arfi.

Dimana dia kupingku tidak salah dengar deh perasaan tadi atau aku yang sedang menanti kedatangan arfi saja ya. Saat melangkah hendak ke dapur tubuhku bertabrakan dengan seorang wanita

“Aduh..” ucapnya mengaduh.

Reflek aku membantu membangunkannya. Dia yang menatapku menolak bantuanku.

“Siapa kamu? Kenapa kamu disini? Maling ya?”

Kurasa dia belum pernah makan tahu gejrot ekstra pedas ya mulutnya enteng banget

“Heh kamu yang siapa main nyelonong aja masuk kedalem. Kamu kali yang maling”

Dia melotot ke arahku. Kulihat ia mengambil sesuatu didalam tasnya. Aku terkesiap takut takut dia menghubungi polisi dan melaporkanku pada pihak berwajib. Eh tapi kan dia yang masuk kemari tanpa izin kok jadi aku yang takut sih

“Hallo kak.. ke apart deh sekarang. Ada orang gak dikenal nih”

“…”

“Apaan sih kakak malah ketawa udah cepetan nih okta diancem nih sama malingnya”

What the..

Heh gadis manja apa yang dia katakan pada orang disebrang sana. Kakak? Siapa kakaknya? Apa arfi menjual apartementnya selagi aku tidur tadi? Gak beres nih. Aku masih bersedekap dada memperhatikan wanita didepanku yang bisa kutau umurnya jauh dibawahku

“Minggir…” ucapnya berlalu melewatiku.

Hih ingin banget rasanya ku sedot bibirnya menggunakan vacum cleaner. Aku melangkah hendak menuju ke kamarku

“Heh.. Mau kemana? Keluar sana kamu masih orang asing disini”

Gadis ini benar benar membuatku geram

“Wahai gadis muda aku ini bukan orang asing. Aku sudah tinggal disini hampir 2 bulan”

Dia membulatkan matanya

“Nggak!! Aku gak percaya sama kamu. Kamu mau nyulik aku kan. Cepat keluar atau aku teriak”

Dia kira aku takut dengan gertakannya

“TOLOOOOOOOOOONGG!!!!”

Astaga suaranya menggelegar sekali seperti suara knalpot motor ber’Cc besar. Aku sampai menutup kupingku. Ku yakin suaranya bisa terdengar sampai lobby

“Masih gak mau keluar?” Tanyanya. Aku masih berpegang teguh pada pendirianku

“TOLOOOOONNNGG!!!!”

Tanpa aba aba aku langsung lari ngibrit keluar dan menutup pintu dengan kasar. Siapa sih gadis itu menyebalkan sekali. Gaya bicaranya yang sok sekali. Apa aku salah masuk apartement ya, tapi tidak ah dari pagi aku belum keluar. Aku menyenderkan tubuhku di dinding lorong apartement

“Hoi ngapain kamu diluar” aku langsung menoleh ke sumber suara. Reflek aku berlari dan memeluknya

“Arfi didalam ada wanita gila. Aku diusir fi”

Tidak ada pergerakan dari arfi. Sadar perbuatanku aku langsung melepas pelukanku dan mundur beberapa langkah. Arfi hanya menatapku datar tapi dia menarik tanganku masuk ke dalam takut takut gadis itu akan berteriak lagi aku bersembunyi dibalik punggung arfi. Aku mengintip dari balik punggungnya arfi

“Kakak..”

Gadis itu langsung memeluk arfi begitu sadar kehadiranku dibelakang punggung arfi dia langsung melepas pelukannya.

“Kak.. dia siapa?” Arfi menoleh kebelakang

“Kenapa emangnya?”

“ih kakak aku nanya dia siapa?”

“Kamu nanya dia siapa atau siapanya kakak?” Ucap arfi menjawil hidung wanita itu. Wanita itu hanya merengut

“Oke gini.. Okta ini julia dan julia ini okta adik aku. Salaman dong”

Aku enggan menjulurkan tanganku padanya. Begitu juga dengan dia yang menatapku sebal

“Nggak mau!!”

“Nggak mau!!”

Ucap kami bersamaan

“Kompak sekali kalian. Jangan jangan kalian…”

“Nggak!!”

“Nggak!!”

Ucap kami bersamaan lagi. Arfi hanya terkekeh dengan sikap kami. Hih dia ini apa apaan sih

“Okta jangan begitu jaga ya sikap kamu. Dia ini teman kakak dan dia udah nemenin kakak udah lama dia tinggal disini. Bantu bantu kakak juga” jelas arfi. Rasain tuh ArfiTeamJulia yey!

“sekarang ayo salaman sama temen kakak. Dia lebih tua dari kamu loh”

Gadis yang disebut okta ini mengulurkan tangannya aku menyambutnya meski dengan hati dongkol

“Ayo bilang apa?” Ucap arfi

“Maafin okta ya kak jul tadi nyelonong wae” eh? Seriusan dia langsung berubah

“Oh ya gpp maafin aku juga tadi marah marah ya” jawabku

“Iya kakak emang cocok jadi pemarah mukanya pas jadi peran antagonis” aku melotot kembali tapi kini ke arah arfi yang sedang menahan tawanya

“Eh kak arfi ketawa?” Ucap okta. Loh kenapa kalo arfi ketawa emang salah ya?

“Kakak kan manusia juga”

“Aku sampai lupa loh kapan kakak terakhir ketawa begini. Apa jangan jangan kakak ini sedang jatuh cinta ya sama kak jul..”

Aku menoleh cepat ke arah okta begitu juga dengan arfi yang menghentikan tawanya. Apa yang diucapkan okta itu benar ya?

“Hentikan okta..” ucap arfi datar dan dingin. Okta menghentikan leluconnya aku yang sedari tadi diam memilih untuk duduk disofa

“Kalian sudah makan siang?” Tanya arfi. Aku dan okta kompak menggelengkan kepala

“Oke aku pesankan makanan dulu kalian tunggu sini”

Arfi memesan makanan dan tidak butuh waktu lama makanan kami sampai. Karena order makanannya berada diresto dekat dekat sini. Selesai makan okta langsung pamit padaku dan arfi. Sepeninggal okta aku pergi ke balkon sekedar menikmati sejuknya angin karena cuaca tidak sedang panas.

Arfi menyusulku dan mendaratkan bokongnya dikursi sebelahku dengan segelas teh hangatnya. Jika kaum lelaki biasa minum kopi dia malah senang minum teh hangat

“Aku boleh nanya sesuatu sama kamu?” Tanyanya. Aku menoleh lalu menganggukkan kepala

“Kenapa kamu bisa bekerja disana. Maksudku diclub sana?” Tanyanya. Aku memalingkan wajahku ke depan menatap langit yang mendung

“Maaf jika pertanyaanku mengganggumu. Kamu boleh jawab boleh juga tidak” lanjutnya lagi. Aku menoleh padanya dan tersenyum. Mungkin ini saatnya aku membuka diri

“Long story. Aku ingin mengubah perekonomian keluargaku. Saat itu ayahku sedang sakit parah. Aku memutuskan ke kota untuk mencari kerja..” ku tolehkan wajahku padanya dan tersenyum. Dia masih menatapku

“Namun suatu kejadian membuatku merasa aku tak perlu lagi menjaga kehormatanku”

“Suatu kejadian?” Tanyanya

“Ya.. aku sempat bekerja disebuah toko. Toko itu dimiliki oleh sepasang suami istri. Beberapa bulan aku bekerja disana dan aku mulai rajin mengirimi uang ke keluargaku”

“Lalu?” Tanyanya lagi. Aku tertawa sedikit

“Pada suatu malam ada seseorang yang masuk ke kamarku. Dia mencekikku membuatku sulit mengeluarkan suara dan menyuntikkan sesuatu padaku hingga paginya aku sadar aku telah kehilangan kehormatanku..”

“Siapa yang melakukannya?” Tanyanya

“Suami dari pemilik toko itu. Aku dapat mengenali matanya sesaat sebelum aku benar benar pingsan malam itu.. setelah kejadian itu aku putuskan untuk meninggalkan kostanku”

“Tanpa arah aku terus berjalan menyusuri jalan terus menangisi nasibku hingga aku kehilangan kesadaran. Setelahku sadar aku berada disebuah kamar. Disaat itulah aku bertemu dengan tuan angelo..”

“Tunggu, jangan sebut dia tuan panggil saja angelo” ucapnya memotong ceritaku. Aku melihat ke arah arfi tatapannya seperti orang kesal. Hey, kan aku yang punya masalah kenapa jadi dia yang kesal

“Lanjutkan..” lanjutnya

“Awalnya aku menolak tawaran tuan.. maksudku angelo tapi ku dapat kabar ayahku menutup usia. Aku sedih dan terpuruk saat itu. Adikku dan ibuku pun ikut terjangkit penyakit karena lingkunganku yang kotor.. Tanpa pikir panjang aku mendatangi kembali tuan.. maksudku angelo”

Dapatku lihat Arfi mengepalkan tangannya dan dia memicingkan matanya. Ku ulurkan tanganku untuk mengelus punggung tangannya dan tersenyum.

“Bisa kulanjutkan?” Tanyaku dia hanya mengangguk

“Angelo menerimaku dengan senang hati. Jujur ini adalah hal terberat bagiku. Jika saja adik dan ibuku tidak sakit aku tentu tidak akan pernah kembali ke sana.. aku tidak punya pilihan ku serahkan diriku untuk mereka mereka yang membutuhkanku”

“Ini salah. Bahkan setiap aku mengirimi uang aku selalu menangis membayangkan uang yg mereka terima bukan uang halal. Itu tidak masalah asalkan aku tidak kehilangan ibu dan adikku.. clientku selalu puas saat bersamaku membuat angelo senang denganku sampai aku menembus dengan nominal fantastis setiap malamnya. Semakin rajin aku mengirimi uang ke kampungku namun takdir berkata lain”

Aku mengusap sedikit air mataku.

“Adik dan ibuku tetap pergi meninggalkanku. Dan uang yang selalu ku kirim tidak sama sekali pernah mereka terima. Karena aku tinggal dikampung jadi disana tidak ada mesin Atm. Uang yang ku kirim diterima oleh pengurus RT disana dan tidak pernah diberikan sedikitpun kepada keluargaku..”

“Tunggu, saat kita kesana kenapa kamu gak menuntut RT sana?” Tanyanya aku menoleh padanya

“Terakhir kabar yang kuterima rt nya sudah dipenjarakan karena korupsi uang warga..” arfi hanya mengangguk

“Lalu kenapa kamu masih bekerja disana? Bukannya kamu bilang kamu bekerja disana untuk memenuhi keluargamu saja?” Tanyanya aku terkekeh

“Ini kota metropolitan arfi. Tanpa uang aku bisa apa? Lagipula angelo tidak akan melepaskanku dengan mudah. Sampai akhirnya aku…” ucapku menggantung

“Apa?”

Aku menoleh padanya tersenyum

“Aku bertemu denganmu. Doaku terjawab meski aku tidak yakin tuhan mengabulkan doaku. Walau aku suatu saat nanti akan kembali ke profesi lamaku karena aku tidak punya siapa siapa lagi sekarang. Siapa yang akan memenuhi–”

“Kamu gak akan kembali ke profesi lamamu” ucap arfi memotong ucapanku. Aku menoleh padanya cepat

“Dengar, kamu wanita bodoh yang pernah kutemui. Kehormatan bagi wanita sangat mutlak tapi kamu merelakannya karena uang” ucapnya lagi

“Kamu gak akan ngerti arfi posisi aku saat itu–”

“Aku mengerti jadi mulai detik ini kamu akan tinggal bersamaku untuk kebutuhanmu biar aku yang urus” ucapnya lagi memotong ucapanku.

Aku menghela nafas panjang dan menyenderkan punggungku dikursi

“Maaf.. aku gak bisa nerima bantuan kamu lebih dari ini. Aku berterima kasih sama kamu tapi aku tidak biasa menjadi parasit bagi kehidupan orang terlebih aku wanita kotor yang–”

“Apa pendidikan terakhirmu?” Lagi dia memotong ucapanku

“SMA jurusan ips” jawabku cepat

“Ijazah dan surat keterangan lulus masih ada?”

“Selalu ku simpan” jawabku mantap. Arfi mengambil ponselnya dari sakunya menghubungi seseorang

“Hallo wan.. tolong mulai besok tutup lowongan untuk bagian sekretaris”

“…”

“Yaa, gue udah dapet calonnya dan langsung dibawah pengawasan gue”

“…”

“Oke thanks bro”

Arfi memutuskan sambungan telponnya dan menatapku

“Besok kamu ikut aku ke kantor. Langsung trainning dibawah pengawasanku” aku membulatkan mataku tidak menyangka ini akan terjadi

“Kamu bisa mengetik dikomputer kan? Membuat table dan laporan laporan?” Tanyanya aku menganggukkan kepala. Jika hanya itu aku masih bisa

“Cocok”

Apanya yang cocok coba

“Tapi fi..”

“Gak ada tapi tapian julia.. tiga alasan”

“Tiga?”

“Satu aku tidak ingin kamu jadi wanita bodoh yang menyerah sama dunia. Kedua jangan kembali ke profesi lamamu dan ketiga..” arfi menggantung ucapannya dia mengesap tehnya dan menatapku dengan Tatapan lembut

“Jangan anggap dirimu tidak punya siapa siapa lagi. Mungkin bagimu kamu sudah tidak berharga lagi tapi tidak dengan orang lain. Mungkin kamu masih berharga untuk orang lain” ucapnya dia langsung beranjak dan meninggalkanku sendiri yang masih mematung.

Apa makna ucapannya barusan berharga untuk orang lain? Maksudnya aku berharga untuknya atau ada artian lain

Malam telah tiba. Aku yang sudah sangat mengantuk akhirnya aku memutuskan untuk tidur saat akan memasuki kamar aku melewati ruang kerja arfi. Kulihat dia tertidur didepan laptopnya yang sudah tertutup. Ku hampiri dia

“Fi.. bangun, pindah yuk ke kamar”

“Emm..”

“Hey.. ayoo bangun”

Dia bangkit dan berjalan menuju kamar dengan mata yang masih tertutup. Aku yakin jika lampu mati dia akan lebih terlihat seperti vamfir ketimbang manusia. Ku ikuti langkahnya dan dia menjatuhkan tubuhnya dikasur. Jika aku tidur sekasur dengannya paginya pasti arfi akan marah padaku.

Oke, disofa tidak buruk paling tidak sofanya empuk juga

Saat ku tarik selimut untuk menutupi tubuhku selimutnya tertahan aku mengangkat kepalaku melihat arfi yang sedang menatapku

“Kamu mau ngapain?” Tanyanya

“Mau kondangan” jawabku ngasal.

Udah tau selimutan mau ngapain lagi emang segala nanya-_- duh. Mendengar jawabanku arfi malah menatapku. Mungkin jayus baginya. Ya memang jayus sih

“Mau tidurlah aku”

“Kenapa disini?” Aarrgghh ini orang kok ngeselinnya gak abis abis sih

“Kalo aku bisa tidur melayang aku mending tidur diluar tuh sambil melayang”

Lagi arfi menatapku datar. Sesekali kayanya aku harus nendang kepalanya dia ini. Perlu.. perlu banget nih

“Tidurlah dikasur, aku bisa tidur diluar”

“Arfi kenapa diluar biasanya disini?” Tanyaku

“Sofanya tidak cukup panjang. Badanku lagi sakit sakit sekarang”

Ia hendak berbalik dan keluar namun kutahan lengannya. Ia menoleh padaku

“Diluar gak dingin aku yakin kamu gak akan tidur dengan nyenyak tidurlah bersamaku ya. Please” ucapku memohon. Aku tidak ingin dia terus berkorban untukku

“Itu lebih baik. Aku tidak ingin terjadi sesuatu nantinya jika tidur denganmu” ah kan dia alasannya kesitu pasti

“Aku pastikan tidak akan terjadi apapun” ucapku meyakinkannya dia hanya menaikkan alisnya satu

“Bahkan saat kamu terlelap. Aku tidak yakin itu” ujarnya sambil berusaha melepaskan tanganku

“Aku mohon fi.. nanti kamu sakit kalo kurang tidur atau biar aku yang tidur diluar kamu disini ya” aku langsung berbalik mengambil selimut guling dan bantal tapi arfi menghalangi pintu keluar kamar

“Tidurlah julia..” ucapnya sambil merebut selimut dan gulingku. Aku menghindarinya

“Juliaa..”

“Arfii..”

“Aarrghhh.. okey okey aku tidur sama kamu tapi harus ada pembatas ditengahnya” hih dia ini kenapa sih takut banget emangnya bisa ya orang melakukan itu sambil tertidur (?)

“Okey no prob” jawabku

Akhirnya aku dan arfi tidur dikasur yang ditengahnya ada guling diantara kami(?) Gak sekalian bikin tembok aja ya. Tidak lama aku mendengar dengkuran halus. Sedikit ku angkat kepalaku untuk melihat arfi. Ku singkirkan guling diantara kami(?) Lalu ku elus wajah tidur arfi

Sangat damai wajahnya. Dia tidak terlihat sini atau judes saat tidur. Aku tersenyum memandangi wajahnya. Pergerakan tanganku mengganggu tidurnya. Tangan kirinya bergerak membuatku yang sedang memandangi wajahnya dengan satu tangan penopang kepalaku jatuh alhasil kepalaku terjatuh dipundaknya.

Tangan kiri arfi seperti memelukku entah sadar atau tidak ku lihat ia masih mendengkur halus. Kubiarkan saja daripada harus kusingkirkan tangannya yang nantinya akan membuatnya terbangun. Aku tidak ingin mengganggunya sungguh.

Rasa kantukku kembali menyerang aku pun tertidur dengan posisi kepalaku dipundak arfi dan tangan kiri arfi dipunggungku. Nyaman sekali andai setiap malam bisa seperti ini hehehe

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48