Tentang Kita Part 29

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 29 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 28

Aku sudah mengitari mall ini hampir dua jam dan aku belum menemukan yang kucari. Ini sulit memang, harus mencari dress yang serasi dengan pakaian lelakinya maksudku, aku mencari dress yang sepasang dengan pakaian yang akan digunakan juga oleh Arfi.

Ya untuk apalagi kalo bukan menghadiri pesta pernikahan Iwan yang akan diadakan 3 hari lagi. Aku mendesah pelan, ini merepotkan padahal diundangannya aku, Arfi dan kerabat dekat seperti Gre dan Agus juga dalam daftar tamu spesial namun urusan pakaian kami disuruh mencari sendiri. Payah

Hape disaku ku bergetar tanda panggilan masuk. Kulihat nama yang tertera disana.. Oh Arfi rupanya

“Hallo..”

“Kamu dimana? Cepet share lokasi aku nyusul sekarang”

Astaga! Tanpa ucapan Hallo atau basa basi lainnya dia langsung berteriak terburu buru seperti sedang dikejar anjing tetangga

“Iya nanti aku share”

“Cepet jangan lama”

“Iy–” tut “tuhkan songong nih orang main dimatiin aja” monologku.

Aku langsung membuka aplikasi chat dan menshare lokasiku. Beres, sambil nunggu Arfi aku melangkah menuju sebuah restoran jepang disana. Hmm rasanya sudah lama juga tidak makan Ramen kesukaanku

Disaat aku sedang menikmati ramen panasku tiba tiba seseorang duduk didepanku secara kasar. Ia menatapku tajam aku yang melongo hendak memasukkan mie ku ke dalam mulut jadi ku urungkan

“Kenapa?”

“Kamu nanya kenapa? Julia, bisa gak sih kamu khawatirin diri kamu sendiri. Aku kan udah bilang nyarinya nanti aja sepulang aku kerja, kamu itu bandel banget sih!”

Aku menyenderkan tubuhku menatap Arfi yang masih menatapku dengan kesal

“Aku gak bisa konsen kerja kalo kamu begini tau gak, tolonglah kamu itu khawatirin diri kamu sendiri, kamu lagi hamil tua jalan jalan sendiri gitu tanpa sopir dan seseorang yang menemani kamu, kamu seperti gak menghargai aku tau gak dan menganggap ini enteng”

“Aku menghargai kamu Arfi, aku cuma bosan mau keluar aja.. sehari harinya kan aku dirumah aja”

“Kamu gak menghargai aku Julia, kamu gak menghargai rasa khawatir aku ke kamu. Tolonglah Julia, aku juga banyak yang harus dipikirkan gak cuma kamu misalnya kerjaan aku, kamu ngerti gak sih?”

Aku menunduk dalam. Ini pertama kalinya Arfi semarah ini padaku. Ia tidak membentak atau pun mengeluarkan suara keras namun kata katanya cukup membuatku merasa sangat bersalah padanya

“Aku gak bisa memikirkan hal lain saat tau kamu keluar rumah sendirian. seberapa kalipun kamu membuatku percaya kalau kamu bisa jaga diri kamu tanpa aku itu akan percuma. Dan itu gak akan bisa menghilangkan rasa khawatirku sama kamu”

Aku meremas rok yang kukenakan kurasa air mataku akan menetes. Aku tidak berani untuk sekedar mengangkat kepalaku menatap Arfi. Kurasakan tanganku digenggam olehnya perlahan ku angkat kepalaku melihat Arfi. Sorot matanya tidak lagi tajam seperti tadi kali ini ia menatapku lembut seolah memohon padaku

“Sejak kamu penguasa hati dan pikiranku, aku gak bisa memikirkan hal lain selain kamu. Satu satunya cara mengalihkan pikiranku dari kamu adalah memastikan kamu aman dan itu adalah saat aku tau kamu dirumah”

Air mataku tidak lagi bisa kutahan. Arfi memindahkan posisi duduknya disebelahku, ia memeluk tubuh sampingku

“Maafin aku ya tadi kasar sama kamu, aku gak bermaksud gitu. Aku emang agak kesel sama kamu. Aku tuh gak bisa ngebiarin kamu sendirian diluar”

Hape Arfi berdering ia melepas pelukannya lalu mengangkat telfon masuk

“Ya..”

“…”

“Maaf, saya lagi diluar gak dikantor”

“…”

“Bapak bisa menghubungi sekretaris saya jika mau, selanjutnya kita akan adakan meeting”

“…”

“Sekali lagi saya mohon maaf, mungkin next time kita bisa adakan kembali kerja sama lainnya

“…”

“Baik pak..”

Arfi menaruh hapenya dimeja. Ia menghembuskan nafasnya kasar. Aku tidak tau apa yang terjadi yang kutau ini buruk. Ia kembali meraih hapenya dan menghubungi seseorang

“Hallo Natalia.. kontrak kerja dengan Pak Herawan dibatalkan, saya mohon maaf. Untuk berkas dan proposalnya dicancel aja, lanjut ke proyek ke perumahan Cendana aja yang udah kontrak dengan kita ya”

“…”

“Ini perintah Natalia”

“…”

Arfi kembali menaruh hapenya di meja lalu menoleh menatapku. Aku yang ditatap seperti itu menundukkan kembali kepalaku

“Kamu gak lanjut lagi makannya?”

Aku menggelengkan kepalaku. Bagaimana bisa nafsu makanku sudah hilang sejak awal bahkan aku belum mencicipi sedikitpun mie ramenku

“Kenapa?”

Aku menggelengkan kembali kepalaku

“Hey, aku lagi ngomong sama kamu bukan sama rambut kamu”

Aku sedikit mengangkat kepalaku melihat Arfi yang menatapku. Ia mengambil beberapa lembar tissu lalu mengusap air mataku

“Kamu jelek kalo nangis, udah kan gini jadi cantik” ia menyelipkan rambutku dibelakang telingaku lalu mengecup singkat keningku. Itu membuatku semakin berani menatapnya

“Fi..”

“Ya?”

“Maafin aku yaa”

Ia hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Selanjutnya ia memesan makanan pada salah satu pelayan

“Ada yang bisa– Loh kalian kan?”

Aku menoleh ke arah pelayan itu

“Oh Fahrie yaa? Kerja disini sekarang?” Tanya Arfi

“Nggak, saya gantiin temen aja yang kebetulan gak masuk hari ini. Part timelah gitu”

Arfi hanya mengangguk lalu memesan pesanannya. Fahrie mencatatnya lalu berlalu pergi

“Kontrak kerja kamu batal ya?”

Arfi hanya menoleh padaku sekilas lalu mengalihkan pandangannya ke depan

“Iya”

“Gara gara aku ya?”

Arfi menghembuskan nafasnya “bukan karena kamu, karena kekhawatiranku. Andai aja aku bisa percaya sama kamu kalau kamu bisa jaga diri kamu baik baik aja tanpaku ini gak akan terjadi, tapi sayangnya aku gak akan pernah bisa melakukan itu”

Aku kembali menundukkan kepalaku meremas bagian ujung rokku. Ini semua karenaku, andai saja aku mau bersabar sedikit menunggu Arfi pulang tentu gak akan seperti ini dan Arfi akan mendapat kontrak kerjanya

“Hey, udah dong jangan nunduk terus. Sepatu kamu lebih menarik dibanding aku apa?”

Aku mengangkat kepalaku Arfi tersenyum melihatku

“Udahlah gpp, lain kali jangan gitu ya.. kamu bisa bantu aku dengan tidak membuat aku khawatir terhadap kamu itu cukup bagiku”

“Kamu khawatir karena aku sedang hamil ya?”

Arfi menatapku, apa aku salah berucap?

“Hamilnya kamu bukan satu satunya alasanku. Tapi alasan utamaku adalah kamu. Ya kamu, Julia Anantha. Apalagi coba? Ya mungkin kehamilan kamu juga tapi lebih utama itu kamu”

“Udah ah gak usah dibahas lagi, aku udah disini. Kamu makan aja abisin selesai ini kita cari baju buat pernikahannya Iwan”

Tak lama pesanan Arfi datang yang mengantarkannya Fahrie. Arfi menyelipkan uang yang aku tidak tau berapa nominalnya namun dari raut wajah Fahrie yang terkejut kurasa nominalnya cukup besar untuk sekedar dibilang uang tips

“Maaf, saya terbiasa bekerja loh. Ini jumlah uangnya sama seperti tagihan makannya nanti”

“Gpp bro, sans aja. Itu tips dari saya”

“Yah tapi… emm oke deh makasih ya tipsnya. Tapi lain kali saya minta jika memberi tips sewajarnya aja. Kalo memang jumlahnya besar saya terbiasa menebusnya dengan kerja bukan dengan cuma cuma” ujar Fahrie. Arfi menatapnya beberapa detik

“Oke saya ingat itu untuk lain kali” ujar Arfi tanpa menatap Fahrie lalu Fahrie pamit dan berlalu dari hadapan kami

“Kamu marah ya sama Fahrie itu?”

Arfi melihatku dari ekor matanya

“Maksudku, kamu gak senang dengan ucapan yang Fahrie katakan barusan” aku berusaha meralat ucapanku sebelumnya karena taku Arfi akan salah paham

“Nggak, aku justru suka dengan lelaki seperti Fahrie itu. Pekerja keras. Justru aku yang merasa bersalah karena memberi tipsnya berlebihan” ia melahap mie ramennya dan mengunyahnya

“Kok jadi kamu yang merasa bersalah?”

“Iyalah, tindakanku barusan itu bisa diartikan merendahkan harga dirinya. Itu makna dari ucapan Fahrie barusan. Itu artinya Fahrie itu tipe pekerja keras ia gak mau dapat uang dengan cuma cuma dan yang kutau tipe orang seperti Fahrie itu orang yang jujur”

Aku menganggukkan kepala lalu mengambil sumpitku dan memakan ramenku. Rasanya sih pasti kurang enak karena sudah dingin yah, tapi mau diapain lagi anggap saja ini bayaran karena aku ceroboh membuat Arfi mengkhawatirkanku.

***

Sore hari yang cukup cerah menurutku sinar matahari yang tidak terlalu terik cukup membuatku ingin keluar rumah. Ah bukan, aku hanya keluar sampai teras rumah karena jika aku tidak ingin membuat Arfi khawatir cukup saja kemarin aku mengacaukan pekerjannya karena aku membuatnya khawatir.

Aku menyirami tanaman diteras rumahku. Tidak banyak jenisnya memang beberapa saja yang menurutku bagus. Disaat aku sedang menyirami tanaman Iwan datang dengan motornya

“Sibuk nih?”

“Nggak, ada apa?”

“Arfi belum pulang, Jul?”

“Belum sih, macet mungkin. Kenapa Wan?”

“Ah nggak sih, gue mau jual motor gue, mau nawarin dia kali aja minat”

“Jual motor? Yang mana?” Jelas aku bertanya seperti ini karena baik, Iwan, Arfi atau Agus memiliki motor lebih dari satu

“Yang mana aja yang dia minatin, harganya cocok ya gue jual”

“Motor apa yang lu jual emangnya, eh btw duduk dulu, bentar gue suruh si Bibi buatin minum. Mau minum apa?”

“Cocktail ada? Atau tequila deh”

“Gak ada! Pertamax pake es disini adanya” Iwan hanya tertawa lalu kami duduk bersama diteras. Berbincang seputar pernikahannya yang akan ia laksanaka dalam waktu dekat ini. Bukan dekat lagi, depan mata malahan. Tepatnya lusa

“Emang kenapa lu mau jual motor?”

Iwan menghembuskan nafasnya “lo tau kan gue mau nikah, dan tabungan gue udah habis buat biaya pernikahan lusa. Buat jaga jaga aja gue harus punya uang lebih. Itu sebabnya gue jual motor gue”

“Gue gak tau kalo Arfi sih, lo udah nawarin ke temen lo yang lain?”

“Udah, kok. Harapan gue cuma Arfi, kemarin gue udah jual semua assesories motor gue. Dapetnya lumayanlah, dan satu motor gue juga udah kejual. Tinggal dua lagi motor gue nih”

“Lo gak mengajukan pinjaman ke kantor wan? Setau gue bisa kan, dengan syarat tertentu dan bayarnya dicicil. Arfi juga kan pasti ngeringaninlah kalo tau keadaann lo”

“Gak deh Jul, gue mau usaha sendiri. Lagipula gue udah merasa gak pantes minta bantuan sama sahabat gue termasuk ke Arfi. Gue udah cukup mengecewakan mereka”

Aku terdiam beberapa saat mendengar ucapan Iwan. Iwan mengesap tehnya sedikit

“Kalian kan temen, biar gimana pasti dibantu sih. Gue yakin Arfi juga gak akan ngebiarin lo kesusahan deh”

“Thanks, tapi kali ini gue mau usaha sendiri dulu Jul. Sampein aja sama Arfi kalo gue jual motor gue kalo dia minat hubungi gue. Gue balik dulu deh mau kerumah Okta juga”

“Eh tunggu, lo jual motor apa?”

“1199 tahun 2015 sama itu tuh ER6 facelift tahun 2017”

Aku menganggukkan kepala. Iwan berjalan ke arah motornya

“Eh wan harganya berapa?”

“1199 gue lepas 720Juta, ER6 127Juta aja itu buka harga gue, bisa nego bilangin gitu oke”

Aku mengacungkan jempolku ke udara lalu Iwan pergi meninggalkan pekarangan rumahku. Aku yang masih duduk diteras hanya membayangkan motor seperti apa yang harganya hampir seharga mobil seperti itu. 620juta jika beli mobil bisa dapat mobil kira kira Honda CRV atau bisa juga digunakan untuk beli rumah.

Meski rumah sederhana itu lebih baik dibanding hanya memiliki kendaraan roda dua. Yah, aku tidak paham dengan jalan pikiran mereka, Arfi bilang sih ini hobby dan laki laki harus punya hobby

Malam harinya aku makan malam bersama Arfi. Hari ini Arfi lenbur jadi pulangnya agak telat jadilah kami jam 8 baru makan malam

“Lain kali gak usah nunggu aku pulang, kamu harus makan biar minum vitamin ya”

“Minum vitamin kan mau tidur, lagipula aku udah minum susu tadi juga”

Arfi hanya menatapku lalu menyingkirkan anak rambut dikeningku dan mengecupnya.

“Aku sayang kamu”

Aku hanya tersenyum, sentuhan kecil dan ucapan sayangnya selalu menjadi hal paling baik yang kuterima. Sejak kami menikah, Arfi banyak mengalami perubahan. Ia jarang memggunakan emosinya lebih menekan amarahnya meski tidak jarang kami berdebat tapi Arfi selalu mengalah padaku.

Bukan aku yang menang, tapi saat keadaan membaik dan emosiku menurun Arfi akan mengajakku berdiskusi berdua yang pada akhirnya aku yang salah mengerti. Ku raih tangannya yang sedang menggenggam sendok. Ia sedikit terkejut selanjutnya aku mencium punggung tangannya dan tersenyum menatapnya yang menatapku heran

“Aku mau belajar jadi istri yang baik, jadi setiap kamu pulang atau pergi bekerja aku akan mencium tangan kamu” ucapku. Arfi tersenyum senang, senyumnya melebar membuat matanya tak terlihat

“Habisin makannya, kita duduk di balkon. Udah lama kan? Mumpung anak rese gak ada dirumah”

Aku menganggukkan kepalaku lalu menghabiskan makananku.

Seperti biasa, kami duduk dibalkon memandang langit malam ini meski langit sedang tidak ada bintang tapi ini adalah spot favorite aku maupun Arfi. Sudah lama kami tidak seperti ini, dengan aku yang duduk dipangkuan Arfi dan Arfi memeluk tubuhku dari belakang tapi kali ini ia tidak memelukku melainkan mengelus perutku yang membesar

“Kamu udah jarang ngidam lagi”

“Kamu mau aku ngidam?”

“Ya kan biasanya kamu ngidam aneh aneh, mangga muda dari pohonlah, sate padang subuh subuhlah, lebih parahnya ngidam salak yang dipuncak tengah malem”

Aku meringis mendengar ucapan Arfi. Jika dipikir ia juga sih permintaanku selalu aneh tapi belakangan aku jarang menginginkan sesuatu seperti itu. Mungkin bayi dalam kandunganku kasihan melihat ayahnya yang tersiksa seperti itu hehehe

Aku mengubah posisi dudukku menjadi miring agar bisa menatap Arfi. Ku elus pipinya lalu ku kecup sekilas

“Kamu jangan ganteng ganteng dong”

“Loh kenapa gitu?”

“Nanti jadi banyak yang suka sama kamu”

Arfi terkekeh lalu menjawil hidungku

“Biarin aja banyak yang suka sama aku yang penting aku gak suka mereka”

“Nanti kamu tergoda lagi, apalagi dikantor kamu banyakan perempuan montok montok lagi, heran deh dapet dari mana sih karyawan perempuan kaya gitu” aku melipat kedua tanganku didada

“Ngidamnya jadi berubah cemburuan dan posesif nih kayanya hehehe” aku hanya melirik Arfi tanpa mau membalas ucapannya aku masih melancarkan aksi ngambekku. Entah kenapa aku menjadi lebih posesif dengan Arfi sekarang

Cup

Arfi mencium pipiku membuatku menoleh ke arahnya. Ia hanya tertawa

“Godaan itu memang datang dari mana aja aku tau itu. Tapi masalahnya godaan mana yang lebih besar. Godaan dirumah lebih besar dibanding diluaran sana. Aku ngomong apa sih ya..”

Lah dia yang ngomong dia yang bingung. Aku masih diam melipat tanganku didepan dadaku. Tiba tiba ia melingkarkan tangannya memeluk pinggangku

“Aku sayang kamu, kamu alasan aku pulang kerumah. Dan hal yang aku miliki paling indah. Aku memang suka menganggumi bentuk tubuh wanita lain tapi itu hanya dimata dan itu terjadi karena aku lelaki. Wajar aja. Tapi ke kamu, berapa kali pun aku sama kamu melakukannya entah kenapa aku selalu ingin” Arfi mencium pipiku lali turun ke leherku

“Karena aku mencintai kamu, hal berulang kali pun akan terasa nikmat bagiku”

Aku tersenyum menatap Arfi. Ku kecup bibir segarnya melumatnya sedikit. Ku kalungkan tanganku dilehernya memperdalam ciuman kami. Lama kami berciuman aku melepasnya lebih dulu.

“Oh ya, tadi Iwan datang kesini”

“Ngapain?”

“Dia bilang mau jual motornya”

Arfi menautkan kedua alisnya

“Iya tadi dia nunggu kamu, tapi kamu lembur jadi dia titip sama aku bilangin ke kamu. Dia buru buru juga tadi sore mau kerumah Okta, dikantor gak ketemu emang?” Lanjutku

“Nggak, dia ngurus proyek buat iklan keluar. Motor apa?”

“Eum.. 1199 sama ER6 facelift gitu katanya. Dia juga cerita tabungannya udah habis buat biaya pernikahannya. Jadi dia jual motor buat jaga jaga aja. Buat Rest money dia juga kali Fi”

“Dia bilang gak berapa duit dia jual motornya?”

“Yang 1199 itu kalo gak salah 720 juta deh, kalo yang ER6 itu 127jutaan deh, kamu coba hubungin dia aja kalo mau detailnya”

Arfi menyandarkan tubuhnya menghela nafasnya “padahal kalo dia mau, dia bisa pakai uangku dulu gak harus jual motornya kaya gitu. Apa dia udah gak anggep aku temennya lagi?”

“Aku juga udah bilang ke Iwan kenapa gak pinjam uang kantor dulu, tapi dia gak mau, dia bilang dia mau berusaha sendiri karena pernah mengecewakan sahabatnya gitu sih”

“Aku tau dia habis hampir 1M lebih untuk biaya pernikahannya. Bahkan biaya pernikahan dia lebih mahal dibanding biaya perniakahan kita”

“Tapi aku seneng, aku selalu mengimpikan jika aku menikah suatu saat nanti pernikahanku itu diadakan secara sederhana. Eh kebeneran deh jadi seneng”

Arfi tersenyum melihatku “menurut kamu gimana?”

“Kamu bisa bantu Iwan dengan mendukung keinginannya. Ingat gak saat kamu memberi tips ke Fahrie. Aku rasa Iwan dan Fahrie sama. Sama sama ingin berusaha untuk mendapat apa yang ia inginkan, selain itu mungkin juga ia ingin menunjukkan pada Okta dengan usahanya tanpa bantuan siapapun”

“Kamu bener, tapi kemahalan kalo panigale 720 juta sih”

Aku memiringkan kepalaku “dia jual 1199 Arfi bukan panigale” ucapku mengoreksi ucapan Arfi

“Panigale sama 1199 sama aja sayangku, itu tuh tipenya, lengkapnya Ducati panigale1199”

Aku menganggukkan kepalaku “hebat juga pabrik motor Ducati bikin motor panigale sampe 1199 gitu, berarti ada Ducati Panigale 1198 1197 juga ya Fi?”

Aku menupuk jidatnya lalu mengusap wajahnya kasar

“Bukan sayang, 1199 itu Cc nya, bukan nomer urut motornya kaya motor aku Z1000 itu berarti Cc nya 1000Cc”

“Oh aku ngerti, berarti motor kamu ZX10 Cc nya 10 ya?”

Arfi kembali mengusap wajahnya lalu menatapku. Kenapa? Apa aku salah?

“Nggak sayang bukan gitu, udah ah jadi bahas Cc motor gini, aku ingin bantu dia cuma kan sebentar lagi kamu melahirkan butuh uang juga, harus juga ngadain selametan, itu kan butuh biaya juga. Harga motor Iwan gak murah juga

Aku tersenyum menatapnya “jangan melebihi yang maha kuasa sayang, kita boleh berencana tapi tetap tuhan yang mentakdirkan. Lagipula rejeki sudah ada yang mengatur. Kalo kamu memang bisa why not? Siapa tau memang rejekinya Iwan itu melalui kamu kan”

“Bener juga, Ya deh aku coba tanya sama Iwan besok dikantor. Pengen juga naikin motor Italy kan hehe”

“Nah gitu dong, jadi kamu beli yang mana?”

“Yang 720 juta, aku coba nego deh 650 dikasih gak. Kalo yang 127juta dijadikan Rest money kurang deh”

“Hehe aku bangga sama kamu, kamu ganteng, baik, dan berpikir luas. Sayang banget sama kamuu” aku memeluk erat Arfi

“Udah dong meluknya, ini keteken kan”

Aku segera melepas pelukanku “keteken apa?”

“Keteken sama susu dua gelas kamu tau”

“Hehe tapi suka kan? Mau minum susunya gak?”

“Gak ah, nyedot aja mau nya”

“Yaudah yuk ke kamar..”

“Bentar deh, kita main apa pake mulut aja”

“Mau nya kamu?”

“Aku mah apa aja enak, ya gimana kamu aja lagi mood nggak?”

“Hehe.. si M kangen sama si P tau”

Arfi tersenyum lebar. Bukan tidak tau meski Arfi begitu aku yakin ia juga ingin bermain dibawah sana. Selain itu aku juga ingin karena sudah lama juga tidak bermain melalui bawah hehe tanpa menunggu lama Arfi menggendong tubuhku membawaku ke kamar lalu membaringkanku disana. Mulai dari berciuman hingga tubuh kami sudah tidak mengenakan sehelai kain pun

“Udah siap?”

Aku menganggukkan kepalaku. Kurasakan sesuatu yang keras dan besar melesak masuk kedalam menerobos pertahananku. Setiap kali berhubungan dengan Arfi hal yang tidak kumengerti adalah aku seperti melakukannya untuk pertama kalinya meski tidak sesakit pertama kalinya dan tidak ada lagi darah yang keluar.

Beberapa menit kemudian rasa sakit yang kurasa berubah menjadi nikmat. Arfi bermain dengan tempo yang lembut dan tidak secepat saat aku belum mengandung. Sebagai gantinya ia menciumi leherku, bibirku, dan dadaku tapi kedua tangannya menahan beban tubuhnya agar tidak menindih tubuhku.

Itu cukup untuk membuatku selalu mendesah dan meneriakan namanya berulang kali

***

Dua orang Pria dewasa sedang duduk ditemani oleh coffe dimeja bundar mereka. Diantara mereka belum ada yang membuka ucapan apapun hanya keheningan yang melanda

“Ehem.. Jadi, gimana Wan?”

“Yaa gitu, sesuai rencana awal. Gue akan adakan pernikahan dibali. Okta yang minta, gue udah sewain hotel semuanya selama 3 hari”

Pria tersebut adalah Iwan dan lawan bicaranya adalah Arfi

“Hmm.. Oh ya, untuk urusan dokumentasi gimana?”

“Itu udah, masalahnya bagian edittingnya yang gak ada. Katanya orang yang ngedit lagi sakit dan satunya lagi bertugas”

“Gak masalah. Lo terima aja. Mentahnya ambil, gue punya orang yang cukup handal untuk bagian editing”

“Tapi–”

“Gak usah nolak, ini inisiatif gue”

Iwan terdiam menatap Arfi beberapa detik selanjutnya ia tersenyum samar

“Thanks Fi..

“Sama sama” Arfi pun menghesap kopi hitamnya yang masih mengepul asap

“Btw, lo jadi jual motor?”

“Jadi, lo minat?”

“Gue lihat barangnya dulu bisa kan?”

“Hahaha bisa bro, kapan mau lihatnya?”

“Nanti pulang kerja deh gue sama Julia mampir sekalian gue mau makan malem diluar. Lo gak sibuk kan malem?”

“Oh siap bro, Nggak kok sans aja. Chat aja kalo mau dateng

Arfi hanya menganggukkan kepalanya

“Btw gue harus balik ke kantor nih, Isabel udah sms gue ada proyek yang harus gue diskusiin”

“Oke bro siap”

Iwan berpamitan pada Arfi lalu pergi. Arfi hanya menatap layar ponselnya yang menampilkan fotonya bersama kedua sahabatnya. Ingatannya berputar ke masa bujangnya dimana mereka menghabiskan waktu dengan tawa dan canda tanpa beban.

Dimasa lalunya Arfi dan kedua sahabatnya itu Agus dan Iwan sangat kompak, dari mulai mereka menjajaki bangku SMA sampai kuliah dan dijurusan yang sama namun berbeda dengan Agus, ia mengambil jurusan hukum. hingga kini Arfi membangun sebuah perusahaannya dan ia sendiri menjadi presiden direkturnya.

“Ini foto udah 7 tahun lalu, waktu berlalu dengan cepat. Gue sendiri merindukan moment kaya gini, kalian bagaimana?” Lirihnya pelan

Ia menghabiskan kopinya lalu beranjak dari sana.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48