Tentang Kita Part 28

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 28 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 27

“Bayinya sehat, diseringin aja ya minun susunya itu bagus untuk perkembangannya” Aku hanya tersenyum melihat dokte Shinta menatapku.

“Kak Arfi pasti seneng nih denger kabar baik ini” ujar Rose, lagi aku hanya tersenyum lalu menatap layar usg disampingku. Air mataku hampir menetes betapa bahagianya aku kini melihat calon anakku sehat didalam kandunganku

“Oh ya Julia, vitamin kemarin udah habis? Harusnya udah habis ya kalo kamu minumnya rutin” aku sedikit meringis karena dokter Shinta ini terkenal dokter kandungan yang agak sedikit Galak

“Tinggal sekali minum lagi sih” ucapku pelan lalu Shinta menatapku menaikkan alisnya satu. Ia menghela nafasnya kasar lalu berjalan menuju mejanya menulis sesuatu disana

“Ini aku kasih lagi vitamin diminumnya setelah vitamin yg dirumah habis”

Aku mengambil resep yang diberikan Shinta padaku

“Check up selanjutnya vitamin ini harus udah habis ya!” Aku tersenyum kikuk melihat Shinta menatapku sinis.

“Hasil usg nya aku print sebentar ya, biar Arfi juga lihat ini” Shinta keluar ruangannya. Rose duduk menghampiriku

“Kak, dokternya galak ya?”

“Iya, tatapannya juga selalu sinis gitu”

“Heem, aku denger kalo cewek jutek gitu karena kelamaan jomblo Kak”

“Eh apa iya? Mungkin karena galak kali jadi gak ada yang mau ya..”

“Kalian ngomongin apa?”

Aku dan Rose sama sama terkejut lalu menoleh ke belakang perlahan. Aku meneguk ludahku saat melihat Shinta menatap kami sinis. Lebih sinis dari sebelumnya. Bagaimana bisa aku tidak menyadari kehadirannya padahal jelas jelas pintu ruangannya harusnya bunyi saat ada yang membukanya. Tidak kali ini, apa Shinta ini keturunan Nyai ya..

“Ini hasil Print usg nya, 2 bulan dari sekarang check up lagi ya!”

Aku hanya mengangguk, berdiri dari tempatku dan mengambil amplop coklat yang kutau itu adalah hasil usg ku

“Terima kasih ya Dok” ujarku dengan senyum. Saat akan keluar pintu terbuka lebih dulu dari luar. Seorang anak kecil berumur 5tahunan berlari ke arah Shinta

“Mamaa…”

Aku diam menatap Shinta yang sudah menggendong anak itu. Anak itu manggil Shinta mama?

“Kalian kenapa diam didepan pintu?” Tanyanya

“Eh.. eum, gpp anak kamu lucu. Aku pergi dulu ya byee~~” tanpa menunggu jawaban Shinta aku menarik tangan Rose keluar

“Ternyata dia seorang ibu, Kak”

“Iya, dan dia gak jomblo”

Aku dan Rose sama sama merutuki ucapan kami yang berasumsi bahwa Shinta itu jomblo. Jika dipikirkan memang mustahil Shinta jomblo karena jika dilihat wajahnya cantik meski sedikit agak judes. Tapi masih tetap cantikan aku lah hmm

***

Aku sedang sibuk menyiapkan makan malam didapur. Kudengar suara pintu terbuka lalu tertutup. Itu pasti Arfi.

“Sayang, i’m homey”

Tuhkan bener, siapa lagi coba kalo bukan Arfi yang pulang langsung berteriak kaya gitu

“Berisik Kak!!”

Nah tuh ada yang protes kan, sebentar lagi mereka akan perang mulut nih

“Siapa yang manggil kamu! Kakak manggil bidadari cantik Kakak!”

Hehehehe bidadarinya didapur nih sini dong

“Gak usah teriak! Dirumah ini semua manusianya punya kuping!”

“Emang situ manusia?”

Yah begitulah perdebatan aneh kakak beradik. Yang seharusnya gak usah didebatin tapi ini malah didebatin yang pada akhirnya salah satu dari mereka akan mengalah

“Hallo sayang, kamu aku cariin malah disini”

Arfi memeluk pinggangku dari belakang lalu mengecup pipiku singkat

“Masak apa sih?”

“Semur daging sama tumis kol nih”

“Aduh, harusnya kamu gak melakukan semua ini tau. Kan bisa si Bibi yang ngerjain”

“Aku kan mau masakin kamu. Kamu mandi gih, aku ada sesuatu buat kamu”

“Oh ya? Apa tuh?”

“Makanya kamu mandi dulu selesai makan nanti aku kasih tau”

Arfi mengecupi pipiku lalu menenggelamkan wajahnya dileher belakangku

“Woy woy woy.. lihat tempat kenapa sih!”

Arfi melepaskan pelukannya

“Situ yang harusnya lihat tempat hobby banget merusak suasana sih”

“Lah ini kan dapur coy! Tempat umum yakali ah”

“Eh tapi ini kan–”

“Sstt..!! Kalian berisik banget sih. Dikit dikit berantem. Rose naik ke atas sana dan Arfi kamu mandi sana! Kalo udah siap makan malamnya kalian aku panggil!!” Ujarku berteriak namun kedua makhluk ini hanya diam menatapku

“Lihat apa kalian? Cepet!!!”

Mereka berlari bersamaan. Arfi menuju kamar mandi dan Rose berlari keatas. Hah! Harus banget apa narik urat dulu untuk memisahkan Kakak beradik ini. Mereka memang bukan berdebat secara serius bahkan aku sering kali mendiamkannya karena menurutku mereka lucu jika berdebat namun ada kalanya aku merasa jenga karena mereka berisik

Aku masuk ke kamar menemui Arfi yang sedang asik dengan PS nya. Setelah makan ia langsung ke kamar katanya ada game yang mau ditamatin

“Arfi..” panggilku tapi dia masuk belum menoleh padaku

“Fi..” dua kali dan dia masih asik dengan gamenya

“Arfii!!!”

“Astaga! Iya apa sayang? Kamu mau sesuatu?”

Aku menatapnya tajam. Ia langsung membereskan PS nya dan menghampiriku

“Ada apa sayang?”

“Nih”

Aku memberikan amplop coklat padanya. Ia membuka amplop itu lalu melihat isinya. Awalnya alisnya menaut tapi tidak lama kemudian ia tersenyum lebar

“Ini anak kita?”

Aku menganggukkan kepala seketika Arfi memelukku erat. Lama ia memelukku akhirnya ia melepaskan pelukannya

“Makasih ya sayang” Lagi Arfi memelukku namun hanya sebentar ia beralih mencium keningku, kedua pipiku dan bibirku. Aku menatap matanya ada bulir kristal yang akan menetes disana

“Kamu nangis?”

Arfi langsung mengusap matanya

“Aku bahagia aja, aku akan jadi papah sebentar lagi dan kamu jadi Mamah, aku seneng banget” Arfi memelukku kembali kemudian ia berjongkok didepan perutku

“Hallo dede, hehe ini papah kamu denger kan? Dede yang sehat ya? Jangan nakal didalem jangan bikin mamah mual mual terus yaa.. kasihan mamahnya…..” Arfi terus berceloteh sambil mengelus lembut perutku yang kian membesar ini

“Fi, kamu gak ingin tau jenis kelamin anak kita?”

“Gak usah, itu akan jadi surprise nantinya. Aku gak sabar nunggu dia keluar” aku tersenyum senang melihat Arfi yang tersenyum lebar.

“Bobo yuk Fi, aku ngantuk nih”

“Yuk”

Kami berbaring bersama dengan posisi aku menyandarkan kepalaku dipundak Arfi. Menikmati perlakuan lembutnya yang masih mengelus perutku

“Fi, Iwan jadi nikahin Okta?”

“Jadi sih kayanya. Aku denger tadi dia udah kerumahnya Okta ngelamar gitu”

Aku hanya diam menyandarkan kembali kepalaku

“Julia..”

“Ya?”

“Kamu iri gak sih dengan mereka?”

Aku mendongakkan kepalaku menatap Arfi yang menatap lurus kedepan

“Iri? Kenapa?”

“Seperti Iwan, dia datang melamar Okta kerumahnya meski Okta masih dirumah sakit. Orang tua mereka setuju dengan hubungan mereka.. nggak seperti kita” ucap Arfi lirih.

Aku tau Arfi berharap kedua orang tuanya bisa menerima hubungan kami. Apalagi saat ini aku akan segera melahirkan beberapa bulan lagi. Dimana seharusnya orang tua menantikan kehadiran seorang cucu dari pernikahan anaknya. Sepertinya itu tidak akan terjadi padaku dan Arfi

“Nggak”

“Hah? Maksud kamu?”

“Aku gak pernah iri sama Iwan dan Okta atau siapapun. Mereka punya jalannya sendiri bertemu dengan jodohnya lalu menikah. Lain denganku atau kamu, kita punya jalannya sendiri” aku meraih tangan Arfi yang berada diatas perutnya lalu menggenggamnya

“Meski Okta terlihat baik baik aja tetapi aku yakin kesalahan yang diperbuat oleh Iwan gak akan mudah hilang dari ingatannya. Terlebih ia dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Kamu tau kan?”

“Jadi maksud kamu…”

“Iya, aku belum tentu bisa memaafkan seperti yang dilakukan oleh Okta ke Iwan jika itu terjadi pada kita.. jika itu terjadi pada kita apa kita akan berjodoh? Nggak kan. Itu lah maksudku masing masing punya jalannya dan perjuangannya”

Arfi menatap mataku dalam. Aku memberikannya senyuman terbaik yang ku punya. Sorot matanya mengatakan ia ingin berada dikeluarganya. Ia merindukan kedua orang tuanya dan menginginkan orang tuanya hadir saat aku melahirkan cucu pertama untuk keluarganya Arfi

“Ini perjuangan kita, aku akan terus menggenggam tangan kamu apapun yang terjadi” aku tersenyum padanya.

Tatapannya yang lembut yang membuat jantungku berdebar. Ku dekatkan wajahku hingga bibirku menyentuh benda kenyal milik Arfi.

“I love you”

“I love you too…”

Lalu kami berbaring kembali dan kali ini aku benar benar terpejamkan mataku. Hari ini aku merasa sangat lelah, entah efek hamil atau memang kegiatanku banyak. Yah, aku gak tau.. yang jelas malam ini aku ingin tidur dengan nyenyak dipelukan Arfi

***

Aku sedang berjalan memilih beberapa perabotan rumah. Seperti yang kalian tau rumahku masih sangat sedikit barang barang. Paling tidak aku perlu lemari pajang, gorden dan assesories lainnya. Hmm lemari buku juga boleh tuh

“Fi.. kita perlu laci seperti ini gak?”

“Perlu sayang, kan buat simpen simpen apa gitu. Aku juga beli kaya gini tapi lebih besar buat nyimpen dokumen kerjaku”

Aku menganggukkan kepala. Beberapa pegawai membawa laci yang kumaksud untuk dikumpulkan dikasier. Barangnya langsung mereka masukkan ke truk dan dikirim kerumah

“Kamu perlu kitchen set kaya gini gak?”

“Boleh sih, tapi perlengkapan dapur kita masih sedikit”

“Itu sih gampang, yang penting ada dulu ya..”

Arfi memesan kitchen setnya. Padahal dirumah udah ada kitchen set hanya saja kecil dan itu didapat saat Arfi membeli rumah itu

“Kalo kita masang kitchen set berarti manggil tukang dong, Fi?”

“Iyalah, gampang itu mah diatur sehari juga kelar”

Selesai membeli perlengkapan kami memutuskan untuk segera membayarnya

“Semuanya jadi 151juta pak”

“Oh ya saya bayar pakai debit, bisa?”

“Bisa pak..”

Arfi menyelesaikan pembayarannya. Tiba tiba ada yang menepuk bahuku. Aku menoleh ke belakang

“Belanjaa buuuu..”

Oh rupanya Savira ia ikut mengantri dibelakangku segera ingin membayar

“Gue bukan belanja tapi beli perlengkapan buat rumah gue”

“Oh rumah baru, widiw kehidupan lo makin membaik ya.. syukur deh gue jadi seneng”

“Hehehe iya, lo gimana?”

“Ya gue sih bersyukur aja. Hidup kan harus disyukuri”

Aku meneliti ucapan Savira. Ada yang disembunyikan olehnya aku tau itu. Kulirik belanjaannya, banyak sekali ia membeli mie rebus

“Vir, lo beli mie banyak banget?”

“Hahaha eh laki lo udah tuh, gue juga mau bayar nih anak gue belom makan dirumah”

Aku mengangguk lalu menghampiri Arfi yang sudah menungguku

“Udah? Yuk pulang”

“Ntar deh Fi, bisa gak aku minta tolong sama kamu?”

Arfi menatapku serius “bisa, tolong apa sayang?”

Aku memperhatikan Savira yang masih belum menyelesaikan belanjaannya. Kulihat ia mengurangi jumlah mie rebus yang ia beli.

“Kamu tunggu sebentar disini”

Aku melangkah cepat ke arah kasir dimana Savira sedang membayar sisa mie rebus yang ia beli

“Mba, mie rebusnya tolong dimasukkan kembali, biar saya yang bayar” ucapku pada Mba kasir yang sedang melayani Savira

“Eh gak usah Jul, ini sih duit gue yang kurang. Gue gak tau harganya naik hehehe segini juga cukup kok”

Aku hanya menatap Savira lalu mengeluarkan uangku. Alasannya terlalu bodoh. Kalaupun mie rebus itu naik harganya gak sampai lima ratus rupiah kan?

“Jadi berapa semuanya , Mba?”

“23ribu rupiah Bu”

Aku mengeluarkan uang lima puluh ribuan setelahnya aku mengambil plastik belanjaan yang penuh mie rebus itu

“Nih, lo bawa pulang deh ya.. lain kali bawa uangnya yang cukup makanya”

“Ahahaha iya iya, btw thanks banget ya. Lo tau kebiasaan gue suka lupa bawa uang lebih” Savira tertawa didepanku aku hanya menatapnya tersenyum kecil

“Ya udah deh, gue balik dulu suamin gue nungguin tuh” ujarku, Savira hanya mengangguk dan kami berpisah.

“Maaf ya bikin kamu lama nunggu”

“Sanslah, aku juga udah selesai tuh aku menang. Dewa gitu loh”

Aku hanya menatap Arfi datar “yuk pulang..” ajaknya

“Fi tunggu deh, aku tadi kan mau minta tolong sama kamu”

“Oh iya, kamu mau tolong apa?”

“Ikutin temen aku yang tadi yuk”

“Yaelah gitu doang, yaudah yuk”

Aku dan Arfi langsung bergegas menuju parkiran agar tidak kehilangan jejak Savira. Beruntung saat mobil sudah keluar area parkiran aku melihat Savira masih menunggu kendaraan umum. Tak lama kendaraan umum pun datang lalu Savira masuk kedalamnya

“Ikutin, Fi..”

“Iya iya sans atuh”

Cukup lama aku mengikuti Savira pergi, angkot yang membawa Savira berhenti disebuah pasar.

“Kita parkir disana aja ya, abis itu kita turun ngikutin temenku”

“Oke”

Setelah memarkirkan mobil aku turun bersama Arfi dan mengikuti Savira pergi. Dengan jarak yang cukup aman aku mengikutin Savira berjalan. Firasatku mengatakan ada yang tidak beres dengan ini.

Gang yang ku lalui begitu sempit bahkan kurasa motor pun tidak akan muat masuk ke jalan sini. Jalannya kotor beberapa sampah berserakan.

Savira menghentikan langkahnya didepan sebuah rumah yang menurutku tidak pantas disebut rumah. Aku melihat anak kecil keluar menyambut kepulangan Savira. Ah! Anak itu, benar itu anak Savira itu berarti ini benar rumah Savira.

Satu hal yang tidak kuketahui tentang Savira adalah ia pandai menyembunyikan segala sesuatunya, beban hidupnya, kesedihan dan kesulitannya. Senyum yang selama ini kulihat adalah senyum palsu, tawanya yang riang itu berarti ia menutupi kesedihan akan hidupnya, aku selalu bercerita padanya tentang kesulitanku tapi Savira sekalipun tidak pernah menceritakan kesulitannya padaku. Kupikir Savira adalah sosok yang selalu ceria dan ia lebih baik nasibnya dibanding aku, ternyata aku salah

Aku berjalan perlahan menghampiri Savira yang sedang memeluk anaknya. Kutepuk bahunya pelan, ia sedikit terkejut lalu berbalik menatapku

“Loh, Julia kok lo disini?”

“Gue mencari seseorang, tapi malah kesini”

“Oh ya? Nyari siapa? Kali aja gue kenal”

“Gue nyari lo”

“Gue? Oh.. ya bentar gue ambil uangnya dulu”

Aku menahan tangan Savira saat akan berbalik badan

“Gue kesini bukan mau bahas uang. Ada yang lebih penting dari itu”

Savira menatapku. Senyumnya yang biasa ia berikan padaku hilang seketika. Wajah seriusnya kini dapat kulihat

“Tolong, lo jujur sama gue, oke gak usah semuanya paling gak gue tau keadaan lo. Vir, lo temen gue, sahabat gue. Gue sedih lihat lo begini”

Savira menundukkan kepalanya lalu menatapku kembali

“Ceritanya didalem aja yuk, masuk dulu”

Savira membukakan pintu untukku. Aku masuk kedalam, eh tunggu deh.. ada yang kurang. Aku menoleh kebelakang. Loh? Arfi kemana?

“Bentar, Vir.. laki gue kemana”

“Itu laki lo jongkok dibawah..”

Aku mengikuti pandangan Savira. Kulihat Arfi sedang memainkan ponselnya dimiringkan. Anak ini game addict banget sih

“Arfi! Sini dulu masuk!”

“Bentar sayang.. Yeah! Win streak coy! Heheh”

Arfi melangkah masuk ke dalam dan duduk disebelahku. Aku memperhatikan keadaan rumah Savira. Rumahnya hanya beratap genteng tanpa plapon sama sekali. Beberapa ember berada dibawah kutebak ember ini digunakan untuk menampung air hujan yang bocor

“Dirumah gue cuma ada air putih nih, maap maap yaa”

“Gpp santai aja kali Vir”

“Jadi ada apa nih lo kerumah gue, eh maksud gue kalian”

“Vir, kan tadi lo yang janji mau cerita”

“Oh iya ya hehe maap lupa, udah tua sih” Savira memberikan cengirannya. Ia tidak berubah sama sekali bahkan dikeadaannya yang seperti ini ia masih bisa tertawa seperti itu

“Jadi gini, singkat ceritanya suami gue di phk dan tempat Angelo ditutup kan, lo tau bisnis kaya gitu mah pasti terciduk juga. Nah semenjak Angelo bangkrut gue gak ada kerjaan. Alhasil gue kerja serabut jadi tukang cuci baju dan lain lain”

Aku diam memperhatikan Savira. Ia terlihat lesu menarik nafasnya dalam

“Sekarang suami lo kerja apa?”

“Supir angkot, biasanya sih udah pulang sekarang”

“Gak nyari kerja ditempat lain lagi Vir suami lo?”

“Waktu itu gue sempet minjem uang sama bank, nah suami gue coba buka usaha percetakan. Yah namanya belom rejeki bangkrut juga. Rumah gue disita, uang sisa kerjaan gue cuma bisa kebeli rumah ini aja”

Aku menatap Savira. Ia masih terlihat tegar menghadapi masalah dalam hidupnya tanpa air mata

“Permisi…”

Sebuah suara membuat kami menoleh ke arah pintu. Masuklah seorang pria bertubuh lumayan tinggi, memakai topi dan handuk dilehernya. Aku dan Arfi berdiri menyalami pria ini yang bisa kutebak ia adalah suami Savira

“Kamu kok gak bilang ada tamu, aku kan bisa beli sirup tadi sebelum pulang”

“Eh, gpp.. eum,..”

“Oh ya, nama saya Fahrie..”

“Julia.. dan ini suami saya Arfie”

Kami saling bersalaman selebihnya kami kembali duduk dan mengobrol bersama. Setelah berbincang cukup lama aku memutuskan untuk pamit sebelum pamit aku memberikan sejumlah uang pada Savira

“Eh gak usah Jul, lo apaan sih..”

“Gak usah Geer gue bukan ngasih lo tapi ini tuh buat anak lo”

“Yeee anak gue mah dikasih marebu juga udah girang”

“Marebu buat apaan? Beli mie rebus? Lo tega banget anak lo dikasih makan msg mulu. Ambil deh ya”

“ih lo mah Jul, papah ini gimana?”

Savira menoleh ke arah Fahrie. Lalu Fahrie melirik ke arah Arfi

“Ini rejeki lo Savira, gak usah ditolak oke. Ambil deh ya..”

Akhirnya Savira mengambil uang yang kuberikan padanya

“Banyak banget Jul ini”

“Gpp, santai aja sama gue kaya sama siapa aja sih lo”

“Iya sih ini mah gue inget duitnya lupa orangnya bisa bisa sih”

“Gue getok lo Vir, mulut gak bisa amat dijaga sih”

“Hahaha kagak canda doang elah lu baperan amat ibu hamil sih”

Aku pun tertawa melihat Savira tertawa. Paling nggak ada rasa lega saat melihat Savira tertawa lepas

“Oke deh gue pamit dulu Vir, udah mau malem soalnya”

“Siap siap mau kerja ya?”

Aku mendelik padanya “Sialan lo udah ah gue balik bisa gila gue disini lama lama sama lo” aku bangkit lalu berjalan keluar bersama Arfi

“Kapan kapan main lagi ya.. eh jangan deh, kita meet up aja. Disini sumpek lo gak betah ntar”

“Lebay lo Vir, oke kapan kapan gue berkunjung lagi deh”

“Sip.. dek, salim dulu dong sama tante dan kakak ini”

Anak laki laki itu menghampiri aku dan Arfi lalu mencium tangan kami. Oh ya, anaknya Savira ini bernama Theo wirawan. Setelah Theo mencium tanganku aku menghampiri Savira lalu menjitaknya pelan

“Aduh, apaan sih lo?”

“Lo yang apaan, gue disebut tante suami gue disebut kakak”

“Fakta coy! Laki lo mah masih berondong keliatan dari face nya”

“Kurang ajar, gue kalo marah bisa muntah emas batangan nih”

Dengan segera Savira mengurut tengkuk leherku

“Eh apaan sih?”

“Biar lo muntah kan lumayan tuh emas batangan dijual bisa kaya gue”

Ditengah tengah perdebatanku dengan Savira yang sangat tidak berfaedah aku mendengar bisik bisik antara Arfi dan Fahrie

“Saya baru lihat Savira bertingkah seperti ini malahan”

“Sama, mereka bercanda seolah usia mereka masih muda aja”

“Iya, padahal kan–”

“Padahal apa?” Ujarku bersamaan dengan Savira. Arfi maupun Fahrie hanya menggelengkan kepalanya cepat

“Yaudah deh Vir, gue pamit dulu yaa..”

“Oke kabarin gue kalo udah dirumah ya” ucapan yang sama saat aku dan Savira dulu bekerja ditempat Angelo.
Aku dan Arfi berjalan menyusuri gang yang tadi kami lalui. Begitu sampai dimobil Arfi langsung melajukan mobilnya menuju rumah

Sampai dirumah kami disambut oleh Rose yang membukakan pintu

“Kalian kemana aja, lama banget deh”

“Kenapa? Kamu kangen sama Kakak?”

“Idih iuh.. nih ada undangan tau. Tadi orangnya langsung datang nunggu kalian berdua”

“Undangan apa?” Tanyaku

“Undangan pernikahan Kak”

“Dari siapa?”

“Nih baca aja sendiri” Rose memberikan undangan itu padaku. Arfi mendekatkan duduknya padaku

“Kepada Arfi dan Julia ditempat.. wah kita jadi tamu spesial”

“Iya nih, dari siapa sih” aku membalik surat undangan itu

“Firgiawan Pratama dan Okta”

Aku dan Arfi saling tatap

“What??!!!!”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48