Tentang Kita Part 27

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 27 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 26

“Pake susu gak kang?”

“Pake Mang, kalo gak pake susu kurang nikmat atuh mang”

Hmm.. si Arfi mulai toxic nih penjaga burjonya pun hanya tersenyum senyum. Ya aku dan Arfi kini berada di kedai burjo pinggir jalan. Malam ini agak dingin angin sedari tadi berhembus sangat kencang.

Sebenarnya Arfi sudah tidak mau diajak keluar karena udara sedang dingin dan dia tidak ingin aku jadi sakit tapi aku bersikeras untuk tetap keluar makan burjo ditempatnya. Alhasil jadilah aku memakai jaket tebal miliknya. Jaket ini kupakai saat ke belanda dulu, kini aku pakai di indonesia, sedikit aneh memang aku jadi seperti astronot besar dijaket hmm

“Abis ini mau makan apa lagi?”

“Ayam geprek pedes enak kali ya”

Arfi menatapku serius aku masih santai menghabiskan burjoku

“Emang gpp sama bayinya?”

Please deh, aku makan cabe bukan berarti cabenya juga masuk ke perut bayinya

“Gak ada masalah sayang, gpp ya?” Akhirnya Arfi mengangguk namun dari tatapannya masih ada keraguan disana

Setelah selesai memakan burjo aku dan Arfi mencari penjual ayam geprek. Katanya sih ada bazar makanan disekitar sini jadilah aku menentukan destinasi kesana

“Ayuk naik”

Aku masih diam ditempat. Jujur, aku terlihat seperti astronot asli dibanding ibu ibu hamil. Penampilanku memakai jaket tebal dengan perut yang melembung besar, serta helm kebesaran dikepalaku.

Aku mengambil hpku lalu mengambil beberapa foto selfie ku sendiri dengan background spanduk bubur kacang hijau dibelakangku agar nanti aku posting ke media sosialku dengan caption

“astronot mampir ke burjo sebelum ke bulan” lumayan

Krekk

“Eh..?!!”

Krukk

Tadi itu Arfi membuka kaca helmku dengan cepat aku menutupnya kembali. Dapat kulihat Arfi kebingungan melihatku sampai ia lepas helmnya

“Kamu kenapa sih?” Tanyanya

“Jangan buka kaca helmku, kamu pakai helmnya lagi cepet!” Teriakku dari dalam helm. Arfi celingukan ke kanan, kiri dan ke belakangnya. Mungkin dia kira ada polisi sedang berjaga karena memang kami berada dipinggir jalan

“Kamu pakai helmnya nanti kamu bisa mati disini gak ada oksigen!” Ucapku kembali yang membuat Arfi menatapku sambil menaikkan alisnya sebelah. Tidak jauh berbeda dengan orang orang yang berlalu lalang melewati kami menatapku aneh

“Kamu kira kita diluar angkasa apa”

“Lihat penampilanku seperti astronot kan?”

Arfi memperhatikan penampilanku dari atas hingga bawah lalu ia menahan tawanya setelah itu Arfi memakai helmnya kembali lalu menstarter motornya

“Ayuk naik cepet, keburu ada monster alien bulan menyerang!”

Hahaha! Aku segera menaiki motornya dan duduk memeluk Arfi dibelakangnya

“Geura atuh sayang, dibelakang udah ada yang nembakin tuh” ujarku menepuk nepuk pundak Arfi

“Oke, sistem sudah menyala, kondisi mesin oke prepare to launch!!”

Arfi menggas motornya jalan, dijalan pun tidak hilang kegilaan kami seperti saat ini jalan agak sedikit ramai

“Awas fi, banyak alien!” Teriakku

“Slow down ini mudah, minggir kalian para alien bodoh!”

Aku tentu tertawa mendengarnya sambil Arfi menyalip beberapa kendaraan. Tak jarang beberapa dari penggendara bermotor menatap kami heran pasalnya kami berteriak teriak alien dan sejenisnya dijalan.

Ini menyenangkan sekali, tapi cocok karena menurutku motor yang Arfi gunakan seperti motor luar angkasa bentuknya. Kalian bisa search digoogle motor Arfi itu, tulis saja Z1000. Nah gimana menurut kalian jika sudah lihat, seperti alien kan? Haha

***

Brug

Aku meletakkan semua belanjaanku dimeja lalu menyandarkan tubuhku disofa. Makanan yang kubeli banyak sekali aku harus makan dari mana dulu nih. Hmm bagaimana jika dari cemilan yang membuat viral, kalian tau apa? Yaps, es kepal mi*o

“Fi kamu mau?” Tawarku saat Arfi lewat didepanku. Dia hanya mengibaskan tangannya diudara pertanda ia sudah kenyang dan tidak mau membantuku menghabiskan makanan ini

“Hallo, Rose pulang!!”

“Rose!!”

“Astaga kakak! Kenapa teriak sih?” Sewotnya aku hanya memberikan cengiran bodohku

“Kamu mau gak? Ayuk abisin bareng sama kakak”

Rose duduk disampingku lalu membuka salah satu bungkusan dimeja

“Aku mau ini ya” ujarnya mengangkat kotak sushi ke arahku

“Yaudah makan aja, saosnya ada diplastiknya tuh”

Dan malam itu kami menghabiskan semua makanan yang aku beli dibazar makanan

“Kak, Rose kenyang banget”

“Sama, kakak juga nih udah gendut gini”

“Itu mah gendut bukan karena kekenyangan tapi karena hasil” ia menekan kata hasil di akhir ucapannya. Aku terkekeh sendiri

“Wih, udah abis makanan segitu banyaknya?”

“Udah, dibantuin Rose nih”

Arfi duduk didepanku tersenyum. Ada apa dengannya kenapa dia senyum begitu

“Kamu kenapa?”

“Gpp kok, Btw gimana keadaan Okta dek?” Ucapnya mengalihkan pandangan ke arah Rose. Ah sumpah aku kekenyangan sekali. Anakku akan menjadi obesitas begitu ia lahir. Ah tidak! Aku harus menekan nafsu makanku agar anakku tidak terlahir gendut berlebihan

“Jauh lebih baik! Bahkan dia…..” aku ikut menoleh ke arah Rose yang menggantung ucapannya

“Dia apa?”

“Nanti aja, btw besok ke rumah sakit ya. Sore jam 3an kalo bisa kakak sama kak Julia” ujarnya lalu bangkit naik ke atas menuju kamarnya. Aku dan Arfi saling tatap selanjutnya Arfi berjalan ke arahku

“Tidur yuk”

“Gendong” ia tersenyum lalu mengangkat tubuhku.

Hey, apa dia gak merasa keberatan? Padahal timbanganku naik sampai 5 kilo. Oh ya aku lupa, Arfi sering fitnes itu yang membuat tubuhnya keker dan berotot seperti ini. Meski tubuhnya tidak seperti olahragawan tapi aku suka dengan lengannya dan bentuk perut serta dadanya yang kotak kotak. Menurutku sangat seksi jika ia sedang bertelanjang dada

Arfi membaringkan tubuhku dikasur dengan lembut. Ia menyelimutiku begitu juga dengan tubuhnya aku menyandarkan kepalaku di dadanya spot favoriteku saat akan tidur seperti ini

“Arfi lepas baju kamu dong”

“Mau ngapain emang?”

“ih gpp aku mau pegang pegang aja dada kamu”

“Nanti gantian ya?” Aku menatapnya sebal lalu melepas paksa bajunya

“Iya iya ini aku lepas, elah ya gak sabaran banget sih neng” Arfi melepas kaos yang dikenakannya aku pun tersenyum

“Yaudah sini tiduran lagi aku mau senderan lagi”

Arfi membaringkan tubuhnya lalu aku menyenderkan kepalaku di dadanya. Sedikit ku kecup dadanya

“Sshh.. atuh ah geli sayang”

Aku tidak menghiraukannya. Aku hirup dalam dalam aroma tubuhnya. Ah, wangi sekali aroma tubuhnya. Ke jilat kecil puting dadanya Arfi membuatnya tersentak

“Atuh ah sayang, harusnya mah aku yang ngisep bukan kamu”

“Berisik! Ganggu banget sih. Diem aja kenapa!”

“Eh? Hehe iya iya lanjut lagi aja deh gpp”

Aku melanjutkan kegiatanku. Memang enak mainin tubuhnya Arfi selain kekar tubuhnya itu gemesable. Ku sedot putingnya kuat kuat membuat Arfi mendesah. Entah kenapa aku ingin memainkan tubuhnya ku jilati area dadanya. Mengecup dadanya hingga meninggalkan bekas disana. Puas bermain dengan dadanya kini beralih turun ke bagian perutnya terus turun hingga ke bagian…

“Punya kamu tegang gini”

“Iyalah kamu sih mancing mancing”

Aku terkekeh pelan “iya deh aku tanggung jawab”

Ku tarik celana boxer Arfi. Oh my lord rupanya ia tidak menggunakan celana dalam lagi kini terpampang jelas kepunyaan Arfi berdiri tegang menantang(?) Ku elus perlahan membuat Arfi mendesah lalu ku masukkan ke dalam mulutku. Aku tidak ingin berhubungan malam ini hanya saja aku ingin menikmati semua bagian tubuh Arfi. Tidak semua sih hanya di titik tertentu saja

“Sshh.. shayaangghh”

Ku masukkan lebih dalam kepunyannya kedalam mulutku

“Uhuk.. uhuk..”

“Eh? Kamu kenapa? Keselek ya?”

“Gak, aku tadi coba masukin ke mulutku semuanya tapi gak muat”

“Ya jangan dipaksa atuh kalo gak muat mah, masih mau lagi atau nggak?”

“Emang gpp? Tapi aku gk ingin berhubungan loh”

“Gpp, pake mulut aja juga enak punyaku bersih kok sans”

Arfi tersenyum menatapku lalu ku lanjutkan kegiatanku mengulum kepunyaannya yang besar. Oke aku masukkan ke daftarku Arfi bukan sekedar baik tapi dia sangat pengertian, mungkin dia mengerti hasrat berhubungan wanita hamil tidak selalu terbakar nafsu

“Umm… shayanghh”

Aku terus menjilati bagian ujung kepunyaannya. Tanganku meremas dua buah zakarnya.
“Terus shayaangh sedikit lagiihh”

Aku mempercepat kulumanku bagian dari kepunyaannya yang tidak muat masuk ke mulutku, aku gunakan tanganku untuk mengocoknya

“Aku mau kheluarrhh”

Ku lepas kulumanku beralih aku mengocoknya. Ku jilati ujung lubang kepunyaannya tak lama cairan Arfi keluar beberapa kali hingga mengenai wajahku. Arfi langsung bangkit, mengambil beberapa lembar tissu dinakas lalu mengelap wajahku

“Tuhkan nakal sih main main, kena tembak tuh jadinya”

Aku masih diam menerima perlakuannya. Setiap kali aku menatap wajahnya secara dekat jantungku selalu berdebar kencang

“Aku udah bersihin muka kamu pake tisu basah wangi. Yuk tidur”

Aku membaringkan tubuhku disebelah tubuh Arfi. Ia memeluk tubuhku dengan sebelah tangannya lalu mengecup keningku

“Terima kasih ya”

“Untuk apa?”

“Yang tadi, tadi itu enak”

Aku menjawil hidungnya “dasar kamu mah. Enakan mana mulut sama lubang”

“Apa aja enak asal kamu yg ngelakuinnya mah”

Aku mencubit gemas perutnya. Dia hanya tertawa. Eh tunggu, apa ini?

“Arfi kamu gak pake lagi celananya?”

“Nggak usah, kali aja tengah malem kamu ngidam kan tinggal sedot aja”

Aku menatapnya malas “iya aku ngidam nih, mau gigit”

“Jangan, nanti putus gimana hancur sudah masa depan aing”

“Hahaha iya kali gue gigit sampe putus ntar gue main pake apaan? Pake terong gitu?”

“Hahaha.. udah ah tidur yuk besok aku kerja soalnya”

Aku kembali membaringkan kepalaku didadanya. Ku turunkan tanganku masuk ke dalam selimut

“Tuhkan, mulai lagi deh..”

“Hehehe pegang pegang aja beb, gpp kan?”

“Gpp, pegang aja itu punya kamu kok”

Kaya kenal deh kata kata itu. Tapi biarin ah remes remes ini enak. Aku memejamkan mataku sementara tanganku masih menggenggam kepunyaan Arfi yang sudah tegang kembali. Ku dengar dengkuran halus rupanya Arfi sudah tidur tapi tidak dengan juniornya yang masih berdiri tegak. Ah sudahlah aku mengantuk, ku susul Arfi ke alam mimpi~~

*

Aku mengerjapkan mataku berkali kali menyesuaikan cahaya yang masuk ke mataku

“Eh ini jam berapa?” Aku menoleh ke arah jam dinding yang tertempel diatas tempat tidurku.l

“Yaampun, jam 10? Gelo pisan aing teh baru bangun jam segini”

Sedari tadi aku hanya bermonolog sendiri lalu bergegas bangun dari tempat tidurku mencari seseorang

“Rose, Arfi udah pergi ya?” Tanyaku pada Rose yang sedang memakan cemilannya sambil menonton tivi diruang tengah

“Hmm udah ke jepang kali kak” ujarnya tanpa menoleh ke arahku

“Hah?!! Arfi ke jepang??!! Kok gak ngasih tau”

Aku yang panik langsung naik ke atas menuju kamarku mengambil ponselku lalu menghubungi Arfi

“Hallo, Arfii!!”

“Aduh, apa sih kamu pake teriak segala”

“Biarin! Kamu ke jepang kok gak ngasih tau aku!”

“Hah? Kamu masih tidur ya?”

Aku terdiam sejenak. Memang salahku yang tidak bisa bangun pagi. Hal yang masih sulit aku lakukan adalah bangun pagi dan membuatkan Arfi sarapan. Jika aku bangun itu pun karena dibangunkan oleh Arfi.
“Julia.. kok diem sih?”

Aku menghapus air mataku yang hampir menetes

“Gpp, kamu hati hati ya di jepangnya. Aku setia kok nungguin kamu”

“Kamu kenapa sih? Jepang apa sih?”

“Loh kamu kan lagi dijepang bukannya?”

“Jepang? Aku dikantor Julia, ngapain aku ke jepang?”

Aku terdiam sejenak. Loh tadi kata Rose bukannya Arfi… ah sial! Aku ditipu sepertinya ini. Aku mendengar suada cekikikan dari arah pintu tanpa melihat aku sudah tau itu pasti ulah si anak belanda ini hmm!

“Aku bangun tadi, lalu aku nanya Rose katanya kamu ke jepang”

Bukannya menjawab aku malah mendengar suara kekehan Arfi

“Kamu kok makin tua makin lucuk sih, jadi gemes deh”

Gak usah disebut juga tua nya cuk!

“Apaan sih! Kamu mah nyebelin gak mau tau aku kamu pulang beliin aku biskuit coklat!”

Arfi malah tertawa keras disebrang sana

“Jadi aku sih? Yang bohongin kamu siapa emangnya? Lagian tadi pagi kamu aku bangunin susah, kebo banget sih kamu jadi aku berangkat deh”

Arfi membangunkanku? Kenapa aku tidak sadar sama sekali. Istri macam apa aku ini suami pergi bekerja aku malah enak enak tidur

“Sayang, kamu kok diem? Iya iya aku beliin biskuit coklat deh. Mau berapa bungkus?”

“Arfi… gak usah beliin apa apa. Aku cuma mau kamu pulang nanti”

“Ya iya aku akan pulang nanti sayang, kenapa kangen ya? Eh? Tapi bener gak mau biskuit coklatnya?”

“Gak usah Fi, aku tunggu kamu pulang aja ya dirumah. Kamu mau aku masakin apa?”

Arfi terkekeh disebrang sana “kita kan nanti mau jenguk Okta sama Iwan. Jadi kamu gak usah masak ya, kita makan diluar aja ya”

“Hmm.. oke deh, kamu kerjanya hati hati ya”

“Iya sayang, bye muuachh”

Sambungan telfon terputus. Aku masih menatap layar ponselku yang menampilkan wallpaper fotoku dengan foto Arfi yang kuambil saat kami dibelanda.

Lebih baik aku mandi sambil memikirkan hal apa yang akan aku lakukan untuk menutupi rasa bersalahku pagi ini. Bukan hanya pagi ini, hampir setiap pagi bahkan. Aku harus belajar menjadi istri yang baik untuk Arfi mulai saat ini. Harus! Semangats!

**

Sorenya aku dan Rose berada dirumah sakit. Arfi bilang aku disuruh duluan olehnya jadi ia bareng sama Iwan

“Dek, bentar.. cape Kakak”

“Ya tuhan Kak, baru juga 5 anak tangga”

“Ya tapi Kakak cape tau kan tadi jalan dari depan” aku terduduk ditangga sedangkan Rose menyandarkan badannya ditembok menatapku malas

“Eh loh kok kalian masih disini” ujar seseorang, aku menoleh ke arahnya

“Ini nih Kak, Kak Julia cape katanya baru naik 5 tangga doang”

Aku mendelik ke arah Rose. Ngaduan banget sih anak ini huh!

“Aku kan tadi jalan dari gerbang sana sampai sini. Mungkin efek hamil kali aku jadi cepet lelah”

“ih apa deh, itu mah bukan efek hamil kali Kak, efek tua jadi tulangnya udah osteoporosis”

Wah, ngeselin nih anak lama lama

“Siapa yang bilang gue tua? Ayuk naik lagi yang paling belakang mukanya jelek”

Aku berjalan cepat menaiki tangga rumah sakit. Tidak sampai 5 menit sudah sampai diatas. Tunggu, aku benar benar lelah sekali.
“Tuhkan cape lagi, udah deh ngaku aja emang tua Kakak tuh” aku mendelik ke arah Rose. Sungguh, jika bukan adiknya Arfi sudah aku lempar ia dari sini

“Udah udah, yuk temuin Okta sekarang” akhirnya Arfi meleraiku saat aku menatap Rose tajam tapi yang ditatap malah memberikan cengiran khasnya.
Saat akan melangkah tanganku ditarik kebelakang

“Kak, jangan sok marah deh, mukanya jadi lucu udah bulet merah lagi” Rose berjalan melaluiku meninggalkan aku yang masik terpaku sambil memegang pipiku sedikit mencubitnya. Rose benar, pipiku makin tembem, pantas ia bilang wajahku makin bulat

“Sst.. ayuk atuh ngapain diem disitu neng” ujar Arfi menyembulkan kepalanya dari ruangan rawat Okta

Didalam Okta sudah sadar namun Iwan sepertinya enggan mendekatinya meski Okta terlihat biasa saja bahkan sempat ia menegur Iwan selebihnya ia banyak bicara dengan Rose

“Wan, gih…”

Arfi membisikan sesuatu seraya memberi isyarat untuknua agar mendekati Okta. Iwan terlihat menarik nafasnya lalu melangkah mendekati bansal Okta

“Okta…”

“Apa Kak?”

Mereka hanya saling tatap Iwan masih enggan membuka suaranya. Pundaknya bergetar aku bisa lihat itu dari belakang

“Maafin aku…” lirihnya

“Maaf? Gak usah minta maaf ah kak”

Aku sedikit terkejut dengan ucapan Okta, Arfi pun tidak jauh berbeda denganku. Ia menggenggam tanganku erat. Aku tau Arfi berharap masalah ini cepat berakhir meski berat

“Kalo kamu gak bisa maafin aku gpp, aku tau kesalahanku sulit dimaafkan, untuk itu aku gak akan menampakkan wajahku depan kamu lagi, semoga kamu–”

“Nikahin aku, Kak…”

****

Kami semua terdiam mencerna ucapan Okta secara spontan ini

Brug

“Eh eh eh si Iwan pingsan itu.. aduh”

Arfi yang panik menghampiri Iwan yang pingsan begitu juga denganku lain berbeda dengan Rose yang hanya duduk santai disamping bansal Okta

“Rose panggilin tim medis dong atau apa kek ini pingsan temen gue” ujar Arfi

Grek

“Nah tuh udah dateng medisnya..”

Beberapa suster datang melihat Iwan pingsan mereka membawanya ke ruangan entah kemana Iwan dibawa

“Dasar lelaki lemah, diajak nikah malah pingsan..”

“Padahal baru diajak nikah gimana setelah nikah nanti”

“Malam pertama ngelihat aku tanpa baju besoknya aku menjanda mungkin”

Obrolan unfaedah dua anak manusia dibelakangku yang akhirnya mereka tertawa bersama. Gelaseh bisa bisanya mereka tertawa tapi kalo dipikir lucu juga. Setelah menikah Iwan meninggal, kan gak lucu besoknya ada berita seorang pria meninggal karena melihat tubuh polos istri hahaha! Gak lucu banget tapi gokil gimana ya…

“Kamu mikirin apa?”

“Eh? Ah.. engg.. enggak kok”

“Kak Julia lagi ngebayangin bang Iwan meninggal setelah malam pertama tuh”

Sial! Aku curiga sebenarnya Rose ini dibelanda kuliah jurusan perdukunan bukan psikologi

“Naon sih ah.. suka ngaco kamutu kalo ngomong”

Rose hanya tertawa. Pandanganku beralih ke Okta yang hanya menatap kosong ke jendela luar. Aku menghampirinya

“Kamu kenapa dadakan minta nikah sama Iwan? Nikah itu gak semudah yang dipikirkan loh, Ta..”

“Tidak sesulit menyembuhkan luka dihati kan, Kak?” Balasnya tanpa menoleh.

Aku hanya diam tapi dari raut wajah sampingnya bisa kulihat kesedihan mendalam dihatinya. Kupikir setelah ini ia tidak akan mau memaafkan kesalahan Iwan Tapi entah kenapa ia malah berbuat sebaliknya

“Dalam hati Okta hanya ada Kak Iwan, Okta cinta sama Kakak Iwan. Okta hanya ingin sama Kak Iwan, agar Okta bisa memenuhi semua keinginan Kak Iwan, selain itu Okta punya banyak waktu sama Kak Iwan. Okta bisa tau apa yang dilakukannya” ujar Okta kembali.

Kami semua diruangan ini terdiam. Alasan yang menurutku kurang spesifik tapi aku mengerti Okta bukan orang yang pandai menyampaikan apa yang sedang ia rasakan dan menuangkannya ke dalam kalimat

“Kalo itu keputusan lo, gue cuma bisa dukung kalian. Tapi gue harap lo udah mikirin semua baik buruknya”

“Kak Arfi gak usah khawatir. Setelah menikah nanti Okta akan memiliki duniaku sendiri bersama Kak Iwan”

Aku melirik ke arah Rose. Apa yang dilakukan anak ini hingga membuat pikiran Okta mudah berubah. Bagi kami Okta sendiri adalah orang yang sulit diubah keinginan dan pikirannya. Tapi apapun itu selama positif aku menyukai tindakannya.

Kembali ke Okta, apa dia sungguh sungguh dengan kalimatnya barusan, maksudku anak berumur 18 tahun beranjak 19 tahun membicarakan pernikahan. Yaaa walau secara fisik Okta seperti berumur 20+ tapi pikirannya masih seperti anak seumurannya

Klek

“Kita akan menikah, ya! Kita pasti menikah!”

“Terima kasih Kak”

“Nggak, aku yang harusnya berterima kasih sama kamu”

Okta hanya mengangguk senyum menatap Iwan. Tatapannya beralih padaku, tepatnya ke perutku yang membuncit

“Kak Julia udah lama gak ketemu jadi gendut gitu. Makanya kalo makan jangan banyak banyak tau. Serakah sih pasti berat kan bawa perut sebesar itu”

Aku hanya melongo dengan ucapan Okta. Kan baru ku bilang pikirannya terlalu polos Okta ini

“Istri gue hamil Okta, bukan kebanyakan makan”

“Hoooo… Okta gak mau hamil ah, nanti gendut gitu kaya Kak Julia, jadi jelek”

What the… ngeselinnya balik lagi ini anak. Oh baru sadar kenapa Okta bisa cocok dengan Rose. Mereka sama sama nyebelinnya. Rose terlihat menahan tawanya, aku mendelik padanya

“Sabar ya Wan, pernikahan gak merubah apapun” Ujar Arfi

“Sans, lama lama dia juga akan mengerti kok” ujar Iwan tersenyum

“Kak, emang kalo nikah Okta bisa buncit gitu ya kaya Kak Julia?”

“Okta! Itu namanya hamil. Hamil itu ada bayi nya. Artinya Kak Julia ini sebentar lagi punya bayi, Ngerti?” Ucap tegas Rose yang sedari tadi diam saja. Okta menganggukkan kepalanya nampak berpikir menatapku kembali

“Kak! Setelah nikah bikin Okta kaya Kak Julia ya, biar kita punya bayi”

Iwan hanya tersenyum dan mengangguk. Aku menarik tangan Arfi keluar

“Ada apa?”

“Aku mau makan”

“Kamu laper?”

“Nggak, haus”

Arfi menautkan alisnya keheranan

“Iyalah aku laper! Yuk ah makan. Abis itu kita pulang!” Ujarku ketus berjalan meninggalkan Arfi

Setelah mobil meninggalkan area rumah sakit aku masih enggan membuka suara. Kesal! Jelaslah masa aku dibilang gendut dan jelek. Apa apaan sih Okta ini!

“Kamu murung aja”

Aku masih diam menatap keluar jendela mobil

“Sayang..”

“Diem deh kamu! Aku lagi kesel”

“Kesel kenapa?”

Aku langsung menatap Arfi yang sedang menyetir dengan tanganku dilipat didada

“Aku dikatain jelek dan gendut sama Okta kamu diem aja!”

“Terus aku harus apa?”

“Oh kamu setuju dengan ucapan Okta?”

“Nggak gitu sayang..”

“Udah ah aku kesel, emang aku gendut jelek lagi.. Julia gendutt~~”

Arfi malah terkekeh mendengar ucapanku. Aku makin kesal dibuatnya

“Kamu mau makan apa jadinya?”

“Gak jadi! Aku mau pulang aja mau diet!”

“Tapi kan kamu lagi hamil”

“Nggak! Aku mau pulang aja! Aku gak laper”

“Gimana kalo makan pecel lele kesukaan kamu?”

“Nggak!”

“Sop kambing?”

“Nggak!”

“Sate?”

“Nggak Arfi! Nyebelin banget sih!”

“Martabak keju?”

“Yaudah”

“Yaudah apa?”

“Beliin! Tadi kamu nawarin kan?”

“Dietnya gak jadi?”

“Aku kan lagi hamil! Kamu tega anak dalam kandungan kita tidur kelaparan nanti malam!?!”

Arfi terlihat menghela nafasnya. Mungkin sifatku nyebelin baginya entahlah aku tidak bisa mengatur emosiku terlebih sejak usia kehamilanku membesar aku jadi sering moodyan. Moodku dengan mudah berubah bahkan bisa memburuk. Jika moodku sudah buruk sasaran paling empuk adalah Arfi. Poor Arfi~~

***

Aku sedang memilih beberapa perlengkapan bulananku. Seperti parfum, sabun, shampoo dan kebutuhan rumah lainnya. Tidak luput juga makanan instan seperti Mie instan, nugget, sossis seperti itu harus ada di kulkas. Karena aku maupun Arfi sama sama suka makan iseng diluar jam makan malam

“Aku ambil ini boleh gak?”

Aku menoleh ke sumber suara melihat Arfi yang sudah menenteng 3 kaleng minuman

“Itu ada alkoholnya gak?”

“Gak ada. Nih zero alcohol”

“Ya udah jangan banyak banyak ya” ujarku memperingati. Karena jika tidak begitu ia akan mengambil banyak minuman jenis seperti itu biar gimana minunan berkarbonasi seperti itu tidak sehat untuk kesehatan

“Kamu udah beli tissue?”

“Semua udah kok, kamu mau apa lagi? Salmon mau?”

“Salmon mau diapain? Mendingan makanan ringan aja seperti samyang gitu”

“Bukannya kamu gak suka pedes?”

“Kita makannya berdua sambil nonton film, aku punya film bagus deh baru aku beli”

“Bajakan ya?”

“Hehehehe iya..”

Aku mendengus lalu mendorong trolli belanjaanku ke kasir

“Apa jadinya sih pengusaha beli kaset film bajakan”

“Gpp sih, daripada aku harus ke mall beli yang veris ori-nya. Males ah”

Oh ya FYI nih, Arfi itu bukan orang yang suka dengan tempat tempat keramaian. Memang anaknya teh introvert gitu. Jadi dia gak akan betah dengan tempat tempat ramai seperti mall

Setelah membayar seluruh belanjaan kami, kami memutuskan untuk langsung pulang. Karena yaa~ Arfi mengajak nonton film nanti dirumah. Aku tau itu alibinya karena seperti yang kubilang ia tidak terlalu suka tempat ramai.

Arfi itu orang yang lebih memilih seharian dirumahnya melakukan sesuatu dibanding pergi ke mall atau tempat rekreasi lainnya yang banyak pengunjungnya. Pantes saja uangnya banyak jarang ia gunakan sih wehehehe

“Loh? Julia kan?!”

Langkahku terhenti begitu pun Arfi yang menenteng semua belanjaan kami. Kutoleh ke sumber suara seorang wanita menghampiriku

“Apa kabar? ih kemana aja sih kangen kan”

Oh ternyata Savira. Dia adalah temanku dulu selagi aku bekerja ditempat Angelo. Tapi nasib Savira ini lebih beruntung dibandingkan aku karena dia bukan perempuan malam sepertiku. Dia hanya menyajikan minuman dan makanan dilobby. Dari semuanya hanya Savira tempatku curhat itu pun jarang karena perbedaan waktu kerja kami

“Gue baik, gimana kabar lu?”

“Seperti yang lu lihat, gue baik”

Aku menoleh ke bawah melihat seorang anak seumuran 5 tahunan kira kira menggandeng tangan Savira

“Dia anak gue, usianya 5 tahun.. Dek, salim dong sama temen Mamah”

Anak itu berjalan menghampiriku. Aku berjongkok didepannya mengulurkan tanganku. Ia meraih tanganku lalu menempelkan dijidatnya setelahnya kembali ke gandengan Savira. Aku tersenyum melihatnya

“Eh btw lo lagi isi Jul?”

“Iya nih.. doain ya semoga lancar nanti”

“Sip deh, ini suami lo?”

Aku menoleh ke Arfi sebentar. Arfi sudah memasang wajah betenya hehe lucuk

“Iya ini laki gue”

“Oh hallo, Savira..”

Savira berusaha menyalami Arfi. Arfi menaruh belanjaan satunya dibawah lalu menyambut salaman Savira

“Arfi..”

Singkat, padat, jelas dan sedikit senyum. Aku maklum dengan sifatnya yang selalu begitu jika bertemu dengan orang baru

“Kita udah lama gak ketemu, gimana kalo kita makan dulu?” Tawarku ke Savira

“Gue sih mau banget, tapi suami gue udah nunggu disana tuh. Dia kerja disini sekarang, Jul”

“Oh, oke deh kalo gitu next time aja ya”

“Btw tukeran nomer kali kita kalo mau next time. Nomer lo gak aktif terakhir gue hubungin”

Aku terkekeh lalu Savira memberikan hapenya padaku. Kutuliskan nomerku dihape Savira dan mengesavenya

“Oke deh.. eh tunggu, apaan nih namanya Julia cantik? Gak salah?”

“Nggak, emang gitu kenyataannya kok”

Savira hanya menatapku malas

“Yaudah deh see you yaa next time byee~~”

Setelah berpisah dengan Savira aku dan Arfi pulang kerumah. Sampai dirumah aku membereskan semua belanjaanku. Setelah beres aku menemui Arfi diruang tengah yang asik dengan hapenya

“Kamu main game apa?”

Victory!!

“Kaya biasa.. Moba hehe”

Aku hanya mengangguk pelan

“Mau aku buatin samyang sekarang?”

“Gak, nanti aja. Kamu istirahat dulu. Tadi kan abis banyak jalan. Aku bisa bikin sendiri kok”

Aku tersenyum betapa bahagianya aku memiliki suami pengertian seperti Arfi. Namun, tidak lama senyumanku hilang mengingat ia akan memakan samyangnya berdua denganku

“Aku aja deh yang buat samyangnya”

“Loh kenapa emang?”

“Gpp, aku ingin jadi istri yang baik aja”

Arfi mencium keningku lembut

“Baik anet sih istriku”

Aku hanya tersenyum. Alih alih menjadi istri baik didepannya selain itu Arfi memang tidak berbakat urusan dapur. Aku hanya tidak ingin samyang yang masuk ke lidahku rasanya seperti percobaan bahan kimia.

Iuuhh~ aku pernah sekali membiarkan Arfi memasak didapur dan hasilnya sama sekali jauh dari rasa kemanusiawian. Padahal hanya masak mie rebus, hampir memakan waktu 1 jam dan begitu jadi aku cicipi masakannya. Benar benar rasa yang sangat jauh dari akal sehat dan aku tidak ingin itu terulang kembali

“Kamu mau nonton film apa dulu?” Tanya Arfi

“Emang belinya berapa?”

“Satu”

Aku menatapnya malas. Selanjutnya aku beranjak dari sofa menujur dapur

“Aku masak samyangnya, kamu setel aja filmnya. Jangan play dulu” ujarku dari dapur

“Yaaa..” balasnya. Dan aku mulai membuatkan samyang. Sedikit aja sambelnya karena Arfi gak akan habis jika makan pedas meski makannya berdua denganku. Arfi itu hanya strong diranjang memang.

“Sayang filmya mau mulai!”

“Ya aku kan belum selesai”

“Yaudah buru selesaiin”

Songongnya mulai keluar nih anak. Aku segera menyelesaikan samyangnya dan berjalan ke ruang tengah. Rupanya Arfi sudah mematikan lampu ruang tengah. Jadi ala ala bioskop gini

“Nih samyangnya, btw ini film apa?”

“Jurassic world”

“Loh ini kan udah ada dibioskop dan kita pernah nonton juga”

“Justru itu filmnya seru makanya aku beli biar kita gak bolak balik ke bioskop”

Yakali ah bioskop ngestay film berbulan bulan-_- pikiran Arfi lainnya ini sih. Oh ya, aku juga sebenarnya suka dengan film drama tapi bukan drakor ya. Semenjak bersama Arfi tontonanku harus berubah genre menjadi Thriller/horror .

Yaps, itu selera film Arfi. Aku pernah dua kali mengajak nonton film beda dengan genre kesukaannya yang terjadi adalah ia tidur yang kedua lebih konyol pandangannya kedepan menatap layar tapi kupingnya tersumpal earphone.

“Mampus! Gile itu godzilla kagak kenyang apa makan orang terus”

Dan satu lagi aku harus terbiasa juga dengan komentar komentar aneh Arfi saat ia nonton film. Yang lebih anehnya ia hanya seperti ini jika menonton dirumah. Malam ini sepertinya kegiatanku hanya nonton film bersama Arfi setelah kami pergi tidur

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48