Tentang Kita Part 26

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 26 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 25

Aku mengerjapkan mataku berulang kali menyesuaikan cahaya matahari yang masuk dari jendela. Loh tunggu, siapa yang membuka gordennya. Aku terduduk dikasurku, kemana Arfi?

Ku ikat rambutku asal, lalu berjalan keluar kamar. Rumahku hening sekali seperti tidak ada penghuninya

“Arfiii…” namun tidak ada jawaban

“Rosee…”

Hey, pada kemana mereka, mereka tidak sedang merayakan satu hari tanpa Julia kan? Oh itu konyol sekali tapi sungguh kemana mereka pergi

Aku menemukan sebuah note tertempel dikulkas

“Aku pergi kerumah sakit, Rose memaksaku menemui Okta pagi ini karena dia siuman. Kamu dirumah dulu, aku udah masakin buat kamu. Dari suamimu terganteng. Arfi”

Heh? Pede banget dia, apa dia sudah sembuh? Dan lagi kenapa Rose memaksanya pergi apa dia gak tau kakaknya sedang demam. Pusing memikirkannya aku berjalan ke meja makan.

Coba lihat apa yang dimasak oleh Arfi untukku. Nasi goreng, tapi nasi goreng berwujud hitam. Entah bagaimana dia memasaknya sampai hitam gini. Aku membuang masakan aneh yang ia sebut nasi goreng ini jika ditanya aku akan bilang sudah habis beres kan.

“Bubur ayam kayanya lebih layak untukku”

***

Siang ini tidak ada yang bisa kulakukan. Arfi pergi bekerja setelah mengantar Rose kerumah sakit. Btw Rose masih di rumah sakit kutanya bagaimana dia hanya menjawab ‘nanti juga tau’ menyebalkan sekali.

Baiklah skip soal Rose si anak menyebalkan itu. Oh ya aku sudah memperingatkan Arfi untuk istirahat dirumah hari ini tapi dia bilang ‘aku sudah sehat, semalem kan udah minum obat dan vitamin dari kamu’ ah iya semalam memang dia melakukan rutinitasnya, maksudku ia mendapatkan vitamin yang ia maksud dariku

“Rose pulangg!!!”

Cah gendeng emang nih anak teriak teriak segala

Grekk

Aku menoleh ke arah pintu dan masuklah seorang princess menemui sang ibu ratu. Kok jadi lebay gini sih

“Kenapa kamu senyum senyum gitu?”

“ih kakak galak banget sih. Aku ganggu ya?”

Banget! Pergi sana! Dan jangan kembali! Kaya mainan anak kecil jamanku dulu hehe

“Gimana Okta hari ini sadar?” Rose mengangguk dengan senyumnya

“Dan coba tebak berita baik apa yang aku dapat”

“Apa?”

“Aku hampir membunuh Okta!”

Dasar anak dajal! Hampir membunuh dia bilang berita baik? Aku menoleh cepat ke arahnya. Dia hanya memasang senyum lebarnya. Baik aku harus menjaga jarak dengannya mulai saat ini

“Pasti kakak terkejut ya? Hahahaha”

Ketawa aja lu terus. Aku curiga mungkin orang tua Arfi hanya melahirkan Arfi dulu lalu Arfi kesepian dan mereka mengadopsi bayi siluman pohon mangga dan diberi nama Octa Rosediana . Oke itu gak lucu sama sekali

“Bagian itu bercanda kakak, yang bener itu Okta bisa berbicara kembali. Tapi kita belum bisa bicara terlalu berat”

Emang si Okta amnesia gitu menurut L?

“Aku punya metode setelah nanti Okta benar benar pulih. Aku keluar dulu ya kak, good afternoon kakak”

Aku memijit keningku. Rasanya ada yang salah dengan anak itu entah mungkin dia pernah menelan something saat masih kecilnya membuatnya jadi seperti itu. Baik, sedikit deskripsi tentang Rose ini, dia anak yang baik, cerdas dan jutek.

Oke dia jutek itu pasti seperti kakaknya tapi ia juga mampu memberi tawa bagi orang terdekatnya. Ia juga perduli meski wajahnya selalu datar. Oke hanya itu yang bisa aku jelaskan tentangnya

Arfi tidak menghubungiku kurasa ia sibuk sekali. Waktu pun sudah lewat jam makan siang. Ku nyalakan pendingin ruangan kamarku. Tidur bukan hal buruk, aku mengantuk karena semalam aku kurang tidur.

Ya ada yang mengusik tidurku malam tadi. Kalian tau kan? Aku tidak ingin dibilang istri durhaka karena mengabaikan suami tapi disini suaminya yang gak tau diri dan gak tau waktu. Sudahlah aku mau tidur dulu.

Malam ini kami berkumpul dimeja makan. Sesekali aku mengunyah makananku. Arfi selalu tersenyum melihatku oh ya dia benar benar sehat. Ajaib memang padahal sehari sebelumnya ia seperti ingin mati. Tubuhnya demam dan menggigil kedinginan tapi kini…

“Arfi aku lagi makan, ngapain sih colek colek” Arfi hanya memberikan cengiran bodohnya aku melanjutkan makanku. Tidak lama aku merasa geli didaerah pahaku

“Arfi.. kamu jail banget sih”

“Kurang tuh kak semalem” ujar Rose

“Loh kok kamu tau Rose?”

“Aduh kakakku tersayang istri kakak ini gak bisa menahan desahnya, ah! Bukan desah tapi teriakannya”

Bagus Arfi kamu buat aku malu terus. Dan mulut kurang ajar ini emang selalu mengeluarkan suara suara laknat saat bermain dengan Arfi dan kurang ajarnya Arfi ia selalu berhasil membuatku mengeluarkan suara laknat meski sudah kutahan tahan

“Ini makannya udah belum? Aku mau beresin”

Arfi dan Rose kompak mengangkat piringnya. Ini kok jadi kaya gue pembantu disini. Ku ambil piring mereka lalu membereskan meja makan sendiri! Ingat sendirian, 2 makhluk laknat itu pergi meninggalkan ruang makan. Hah!

***

“Nih pak uangnya, terima kasih ya” aku memberikan uang seratus ribuan kepada supir taksi. Aku memasuki kantor tempat dulu aku bekerja. Mana lagi kalau bukan kantor Arfi. Semua karyawan disini masih mengenalku baik, mereka menyapaku dan aku hanya membalasnya dengan senyuman

“Wah udah besar sekarang perutnya ya”

Aku menoleh ke belakang. Oh Irwan, laki laki yang dulu penyebab Arfi salah paham dengannya. Aku tidak berniat membalas ucapannya hanya tersenyum lalu memijit tombol nomor 12 di lift

“Gimana kabar lu Julia sekarang?”

Aku menoleh ke samping “As you see, i’m fine”

“Sukur deh, btw gue denger karena gue kalian pernah ribut ya?”

“Gpp, salahpaham biasa. Itu bukan salah lo juga sih”

Ting

Pintu lift terbuka namun saat hendak melangkah aku terdiam melihat seseorang didepanku

“Kamu ngapain kesini?”

Aku mengangkat rantang yang kubawa dengan tangan kananku “mau ngajak lunch bareng aja”

Arfi menatap sinis ke Irwan bisa kulihat itu, selanjutnya ia memeluk pinggangku possesif. Haha! Ia masih ingat dengan kejadian yang dulu sempat terjadi padaku dan Arfi

“Kita keruanganku yuk, aku juga kangen kamu”

Arfi menggandeng tanganku. Beberapa karyawan menyapa kami namun hanya aku yang membalas mereka. Arfi? Jangan harap! Dia sombong! Dia hanya mengangguk kecil pada setiap karyawan yang menyapanya. Ck!

“Kamu bawa masakan apa?”

“Aku buatin kamu ikan bakar, kamu pasti suka soalnya aku pake racun bikinnya”

“Oh ya? Kamu selain cantik ternyata kamu jahat juga ya. Aku semakin cinta jadinya” aku tertawa keras mendengar ucapan Arfi yang ngawur. Kami biasa bercanda seperti ini setelah ini Arfi pasti akan meledekku

“Ini enak banget, kamu harus coba ini” Arfi menyuapkan sesendok ke mulutku “gimana enak kan?” Aku mengangguk. Ternyata aku berbakat juga masak ikan bakar padahal ini hanya coba coba aja hehehe

“Enak banget ya, aku jago masak ternyata padahal ini aku masak coba coba aja sih”

“Nice girl! Bumbunya juga berasa ini sih aku kira kamu emang udah jago”

“Belum, it’s first time kamu beruntung bisa nyobain ikan bakar pertamaku”

“Besok tikus goreng tepung boleh gak?”

“Kecoa tumis sama sayur cicak juga aku masakin buat kamu kalo kamu mau abisin”

Kami sama sama tertawa tanpa merasa jijik. Kalo diomongin mah emang gak jijik coba jika aku membayangkan Arfi benar benar melahap tumis kecoa dan sayur cicak tidak perduli sebaik apa dia aku akan gugat ia cerai saat itu juga. Hiii~

Grekk

“Sorry ogut ganggu makan siang kalian.. gue mau ngasihin ini nih”

“Awwpaawwnn tuwwhh”

“Ditelen dulu sayang baru ngomong”

Arfi menelan makanannya lalu beralih menatap Iwan

“Apaan ini?”

“Proposal kemarin yang kita ajuin sama PT. Jati mulya itu. Mereka setuju kerja sama dengan kita kontraknya udah gue terima tinggal lo tanda tanganin disini nih”

Aku menyingkirkan alat alat makan dimeja Arfi memberi ruang untuk Iwan meletakkan berkasnya. Setelah Arfi menandatangani beberapa berkasnya Iwan pamit keluar membawa berkasnya lagi

“Tumben kamu gak bercanda kaya orang aneh sama Iwan”

“Aku gak merasa ada masalah sama dia sejak kejadian itu emang Iwan jadi lebih bersikap kaku ke aku”

“Wajar sih, mungkin dia masih canggung karena masalah kemarin”

“Yaaww twapii kwan mwasalahnywa wudah sewlesaiw”

Aku terkekeh melihat Arfi yang berusaha menyelesaikan ucapannya dengan mulut penuh makanan

“Ditelen dulu sayang, kebiasaan ih kaya anak kecil”

Arfi menelan semua makanan dimulutnya. Dia terlihat lucu saat seperti itu bahkan dia tidak terlihat seperti yang orang orang katakan tentangnya bahwa Arfi adalah atasan yang tegas dan dingin

“Kamu gak makan?”

“Aku udah makan dirumah sebelum kesini” Arfi hanya menganggukkan kepalanya. Lalu kembali menatapku. Aku tau arti tatapannya itu

“Dia juga udah makan kok. Aku minta dibeliin bubur ayam perempatan sama bi Imas pagi, siangnya makan lontong sayur”

Arfi tersenyum “susu juga udah kamu minum?”

“Udah pak boss. Aku rasa aku akan diet setelah melahirkan. Badanku gemukan timbanganku naik 5 kilo”

“Gpp aku suka kok kamu makin seksi jadinya” ucap Arfi menaik turunkan alisnya disertai cengiran khasnya. Aku hanya menatapnya datar

“Ini udah kan, aku beresin yaa”

Arfi mengangguk “kamu mau minum atau sesuatu gitu?” Ucap Arfi. Aku mengetukkan jariku didaguku memikirkan apa yang aku mau. Sepertinya tidak ada untuk saat ini

“Enggak deh, nanti aja. Aku pulang ya bentar lagi”

“Kamu sama pak Min?”

“Nggak, dia kan mudik kamu lupa ya?”

“Astaga aku lupa, ini pasti karena kamu yang selalu memenuhi pikiranku jadi aku lupa deh”

“Gombal banget sih” aku telah selesai membereskan peralatan makan Arfi. Setelah itu aku bersiap pulang

“Aku pulang dulu ya, nanti pulangnya jangan malem malem kamu”

“Kamu pulang bareng aku aja sih. Bentar lagi juga aku pulang”

“Kamu pulang jam berapa?”

“Jam 4 sore”

Aku menoleh ke arah jam dinding yang tertempel diruangan kantor Arfi. Jam menunjukkan pukul 1 siang dan Arfi pulang jam 4 sore. Apanya yang sebentar lagi

“Ini masih jam 1 kamu pulang jam 4 kan. Masih 3 jam lagi”

“Ya udah kamu tidur aja disitu. Aku gk mau ambil resiko kamu pulang sendirian nanti”

Halah lebay, tadi aja aku kesini sendiri. Semenjak kehamilanku membesar Arfi jadi lebih protektif padaku. Arfi meraih tanganku menuntunku ke sofa panjang di sisi ruangan Arfi

“Aku gak mau kamu kenapa napa, lebih baik aku lihat wajah bosan kamu disini menungguku daripada aku gak tenang kepikiran sama kamu terus” ia mengelus pipiku berjongkok didepanku

“Udah ya kamu berbaring aja disini, kalo bosan atau kamu mau sesuatu bilang aku biar aku suruh sekretarisku atau OB membelikan apa yang kamu mau”

Aku tersenyum senang melihat perlakuan Arfi padaku. Dia benar benar menyayangiku. Aku mencium bibirnya sekilas

“Terima kasih ya sayang”

Arfi mengeritkan dahinya “untuk apa?”

“Untuk semua perhatian kamu ke aku”

Ia tersenyum lalu menganggukkan kepalanya kemudian ia berjalan ke meja kerjanya kembali

“Suhu ruangannya pas?” Tanyanya kembali aku menganggukkan kepala dia tersenyum lalu melanjutkan kerjanya. Aku baringkan tubuhku disofa panjang sambil memperhatikan Arfi kerja. Wajahnya terlihat serius sesekali ia menautkan alisnya menatap beberapa berkas ditangannya dan beralih ke layar laptopnya

“Hallo, Sisil tolong beritahu semua orang kantor jika ada yang ingin keruangan saya bilang sama sekretaris saya terlebih dahulu agar sekretaris saya yang menelfon saya”

“….”

“Sisil, saya gak bercanda. Saya bisa membedakan mana kamar saya mana ruang kantor saya. Pokoknya sampaikan pesan saya tadi ke sekretaris saya”

“….”

“Ya saya gak mau ganggu istirahat siang istri saya. Udah ya gila saya meladeni kamu”

Arfi terlihat menutup telfonnya dengan kesal disertai gumaman kecilnya. Aku terkekeh melihatnya. Ia melanjutkan kembali pekerjaannya. Mataku mulai berat, tidur siang gpp beberapa jam gak masalah kurasa. Suhu diruangan ini dingin membuatku ingin memejamkan mataku.

Sebelum ku tutup rapat mataku aku melirik ke arah Arfi yang sedang melihatku ia tersenyum ke arahku. Senyumnya lembut aku merasa beruntung karena bisa melihat senyumnya. Arfi bukan tipe orang yang mudah tersenyum bisa dibilang ia orang yang seriusan. Hey, apa ini, selimut? Seseorang menyelimutiku. Mataku terlalu berat untuk melihat siapa yang memberikanku selimut. Kurasakan kecupan lembut dikeningku tak lama ku dengar bisikan

‘Have a nice dream, babe’

***

Sudah 2 minggu Rose bolak balik ke rumah sakit setiap harinya. Entahlah dia memang perduli dengan Okta atau menginginkan hadiah dari Gracia. Apapun itu aku harap Okta bisa pulih serta dari depresinya

“Kamu aku cariin malah disini..”

Aku menoleh ke sumber suara

“Ikut aku yuk?” Ajaknya, aku mengeritkan alisku

“Yuk ikut aja, kita jalan jalan udah lama juga”

“Sunmori?” Arfi hanya memberikan cengiran khasnya. Bukan tidak tau kebiasaannya setiap minggu pagi jika tidak ada halangan ia akan menyempatkan berkendara dengan motor besarnya.

Dia selalu mengajakku setiap kali ia mau sunmori namun hanya terkadang aja aku mau. Percayalah daya gravitasi kasur lebih besar diminggu pagi itu yg membuatku menolak keinginannya. Jika sudah begitu jadilah ia pergi sendiri hehehe

Kali ini aku terpaksa ikut padahal aku lebih suka dirumah memberi makan ikanku dikolam tapi kasihan Arfi jika harus kutolak setiap ia mengajakku belum lagi cerita yang akan ia bawa setelah pulang sunmorinya membuatku panas.

Remaja seumuran Arfi memang jarang sudah ada yang menikah itu sebabnya ia selalu digoda oleh perempuan perempuan senayan sana. Tapi tidak minggu ini, biar kutunjukkan pada mereka siapa pemilik pria yang mereka goda

“Udah siap?” Aku menganggukkan kepala

“Yuk..”

Aku menaiki motor Arfi. Astaga ini agak kurang masuk akal sih, diusia kehamilanku yang mulai membesar seperti ini malah diajak motoran sama suaminya. Suaminya juga dableg sih huft! Eh tapi kok seru juga ya, karena cuaca mendung jadi adem gitu. Arfi pun mengendarai motornya dengan kecepatan sedang tidak seperti awal awal dulu kagak sans aku harus memeluk pinggangnya karena takut jatuh

Setelah sampai ditempat biasa Arfi dan kawan kawannya berkumpul aku mengedarkan pandanganku. Masih sepi hanya ada dua motor disini

“Duduk disana yuk” ajak Arfi. Aku mengekor dibelakangnya tiba tiba aku menabrak tubuhnya yang berhenti mendadak. Dia ini apa apaan sih. Dia berbalik menatapku heran

“Helmnya lepas sayang, taro dimotor aja tuh..”

Ow.. ya ampun aku sampai gak sadar begini sih. Aku berusaha melepas kunci helmnya dibawah daguku. Ini kok susah sih

“Arfii ini gimana lepasnyaaa”

Arfi tersenyum lalu membantuku melepaskan kuncian helmku. Aku bisa bernafas lega setelah helmnya terlepas dari kepalaku. Udaranya masih sejuk sekali. Arfi menggandeng tanganku lalu kami duduk bersama di spot depan caffe sederhana

“Kamu mau apa?”

“Aku air putih aja deh”

“Disini ada jus loh”

“Mangga deh”

Arfi menatapku malas aku memberikan cengiranku. Hehe kenapa? Dia kan yang nawarin tadi sayang kalo ditolak wkwk

Suara motor besar lainnya datang aku memperhatikan motor itu. Loh itu bukannya motornya Iwan. Ia memarkirkan motornya tepat disebelah motor Arfi lalu berjalan menghampiri meja kami

“Bro..” ujar Iwan, mereka saling bersalaman lalu tatapan Iwan beralih padaku, aku hanya tersenyum

“Boleh gue duduk disini?” Tanya Iwan, Arfi malah tertawa

“Siapa yang larang cuy?”

Iwan menarik satu bangku untuk dia duduk lalu memesan minuman untuknya

“Fi, pulang dari sini lo mau nolongin gue?”

“Apa?”

“Jengukin Okta dong, kasih kabar ke gue gimana kemajuannya dia”

“Kemarin kan gue kasih nomer ade gue, lo gak nanyain sama dia? Dia tiap hari kesana loh”

“Udah, cuma ade lo selalu jawab begini ‘lihat aja nanti’ gitu melulu”

Aku dan Arfi terkekeh mendengar Iwan menirukan bahasa Rose. Kami saling mengobrol satu sama lain tidak terasa parkiran mall sini sudah penuh. Banyak juga teman teman Arfi yang menyapaku. Dari semua teman Arfi ada yang membuatku paling kesal. Namanya Donie dia mengira aku adalah kakaknya Arfi. Sial!

“Udah mau muter nih, aku beli aqua dulu kesana ya, kamu tunggu sini bentar” aku mengangguk patuh.

Aku jadi duduk sendirian karena Iwan sudah bergabung teman kawanannya. Aku memperhatikan Arfi yang membeli air aqua disana. Ada yang menganggu pemandanganku, ya dua gadis centil menghampiri Arfi diwarung sebrang. Arfinya diem aja tapi dua gadis kecentilan ini terus berusaha mencari perhatian Arfi. Tidak bisa dibiarkan aku harus kesana

“Ehem..” kedua gadis kecentilan itu menoleh padaku. Mereka menatapku tidak suka. Hey, apa salahku? Kalian yang salah menggoda milikku

“Lo berdua ngapain godain ini cowok?”

“Apa urusannya sama lo?”

“Heh tante hamil gak usah ganggu kita ya, mending balik ke suami lo” ujar gadis yang satu lagi. Ini sih kurang ajar namanya. Aku menatap Arfi yang masih diam saja melihatku

“Justru gue mau balik ke suami gue makanya gue kesini, lo berdua ngapain?”

Mereka saling pandang sejurus kemudian Arfi menggandeng tanganku pergi. Aku menoleh kebelakang sambil menjulurkan lidahku pada mereka yang masih menatap heran. Rasain! Emang enak!

“Udah siap sayang?”

“Siap!”

Arfi menstarter motornya. Sumpah jika kalian berada disini tanpa alat peredam telinga sudah pasti kuping kalian budek sebelah atau lebih parahnya dua duanya kuping kalian bermasalah. Berisik banget disini oi gile cuy!

Selama kegiatan yang biasa Arfi sebut sunmori ini aku mampir ke sebuah dealer motor. Haaahh.~ yaps, Arfi ingin menambah unit motornya, dia bilang ingin punya motor Naked padahal motornya yang ini masih bagus menurutku

“Weh pak boss mampir nih, silahkan boss cari apa nih?” Sapa salah seorang karyawan dealer motor sini. Rupanya dealer yang kami kunjungi ini dealer motor second. Padahal aku yakin Arfi mampu membeli yang baru meski harganya selangit untuk ukuran kendaraan roda dua.

“Gue lihat lihat bentar ya, pengen yang Naked nih bro..” sambil menggandeng tanganku Arfi mengajakku masuk lalu berkeliling showroom

Aku melihat satu motor yang menurutku unik. Aku suka motor itu karena menurutku jika aku dibonceng dibelakangnya tidak menyiksa seperti motornya yang ini

“Sst.. fi”

“Ya kenapa sayang?”

“Yang itu bagus deh”

Pandangan Arfi mengikuti jari telunjukku menunjuk ke sebuah motor. Ia menghampirinya

“Yang ini berapa Cong?”

Hah? Apa dia bilang? Cong? Pocong gitu?

“Wih barang bagus nih boss tahun 2016 km baru 300an, ya buat lu gue kasih 255juta aja”

Wtf! Itu duit semua isinya? Aku langsung kehilangan selera dengan motor itu

“Diskonlah gila, gue udah berapa kali beli disini kan”

“Hahaha okeoke lempengin deh 250 gimana? Masih oke bro, asesorisnya udah banyak ini juga sih”

“Kurangnya 5juta doang, gini 235 deh gimana?”

“Belom bisa boss, gini aja deh 245 terima beres sama surat balik nama gue urus”

Arfi terlihat berfikir, kalo aku sih mending gak usah. Mendingan beli mobil enak adem pake AC. Ujan gak keujanan panas gak kepanasan

“Oke deal. Storingin aja ya kerumah gue?”

“Beres itu mah, ayo bikin notanya dulu”

Beberapa karyawan showroom langsung mempersiapkan motor yang Arfi ingin beli. Aku ikut duduk disebelah Arfi melihat transaksi yang ia sedang lakukan

“Sip udah gue transfer lunas”

“Boss kita yang satu ini emang paling dabest dah lihat, gak pake lama langsung bayar”

“Hahaha sanslah sama gue. Ini juga pilihan istri gue pas gitu ya gue mau motor naked eh doi mau yang itu”

“Emang bisa gitu boss kalo yang bagus maunya juga barang bagus bagus hahaha”

Aku sungguh tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Tak lama orang yang dipanggil Cong ini menyalami Arfi dan aku pertanda transaksi sudah selesai dan kami bersiap pulang

“Kapan kira kira sampai rumah gue Cong?” Tanya Arfi saat kami sudah diatas motor

“Sore paling telat malem deh”

“Alamatnya udah kan?”

“Beres, gak mau difoto dulu nih?”

“Norak ah beli cuma segitu aja. H2 nya gue tunggu ya”

Apalagi tuh H2, merk motor jugakah?

“Haha siap siap bossque”

Kami pun meninggalkan area showroom. Selama diperjalanan kami tidak berbincang apapun. Eh tapi ini bukan jalan kerumah deh, Arfi mau kemana nih. Aku menepuk pundaknya dan ia pun menoleh membuka kaca helmnya

“Apa?”

“Kita mau kemana?” Ujarku sedikit berteriak karena jika tidak gitu Arfi hanya akan berkata ha .. ha.. ha… karena harus bersaing suara dengan suara knalpot motornya

“Ke rumah sakit kan jenguk Okta” jawabnya juga sedikit berteriak. Aku tidak lagi membalas ucapannya. Iya juga ya aku lupa begini jadinya

Sampai dirumah sakit kami menelusuri lorong menuju dimana ruang rawat Okta. Arfi yang kerepotan membawa dua helm sekaligus ditangannya mendengus kesal padaku pasalnya aku tidak ingin menenteng helmku sendiri hehehe aku sudah bilang untuk menaruhnya di motor tapi dia bilang ‘gak! Ini mahal helmnya.

Bisa ditilep orang bahaya’ padahal motor sama helmnya kan mahalan motornya kenapa gak sekalian motornya dibawa masuk juga biar GG sekalian wkwk

“Permisi..”

“masuk, Oh kak Julia apa kabar udah lama kita gak ketemu”

“Julia doang yang disapa gue nya kagak”

“Emang ini siapa ya?”

“Butiran debu.. baru gue kesini dan lihat lo udah sadar langsung nyela gue”

Kami semua tertawa. Ya Okta sudah sadar namun kondisinya masih lemah, selang infus masih ada ditangannya. Wajahnya tidak lagi sepucat kemarin saat ia tidak sadarkan diri. Aku senang melihat Okta sudah bisa duduk meski masih bersandar dibansalnya

“Kamu udah sarapan Ta”

Okta hanya menepuk nepuk perutnya pertanda sudah gendut

“Ade gue suka kesini Ta?”

“Dia lagi ke toilet kak, nanti juga kesini. Rose orangnya baik loh kak selama Okta disini dia nemenin Okta terus, Okta jadi gak bosen disini. Gak jarang dia juga nginep disini”

Oh jadi ini alasan Rose gak pulang beberapa kali. Aku begitu peduli sering kali aku menghubungi Rose saat jam 10 aku belum melihat ia dirumah tapi dia selalu menjawab kalau ia nginep dirumah temannya. Arfi? Maneh mah sa bodo teuing sama adiknya sendiri juga. Gelo pisan si Arfi teh

“Bagus kalo gitu Ta, kami kangen kamu loh kapan kamu boleh pulang?” Tanyaku

“Doain aja kak, seminggu lagi mudah mudahan Okta keadaan Okta membaik seminggu kedepannya jadi Okta boleh pulang deh”

Aku mengangguk sambil tersenyum

“Kemarin juga kak Gracia kesini jenguk Okta, katanya kangen Okta. ih Okta ngangenin kali ya semua kangen Okta”

Aku terdiam setelah Okta bilang bahwa Gre kemarin membesuk Okta dan bertemu dengannya. Lalu pandanganku beralih ke Arfi yang tidak jauh berbeda denganku menatap heran

“Eum.. Sorry, Gracia bener bener dateng kesini?” Tanya Arfi. Aku tau ada keraguan saat Arfi bertanya seperti itu

“Iya, kenapa emang kak?”

“Gpp sih, bukannya gue mau gimana ya, kan lo sama Gra–”

“Masalah itu ya, Okta udah maafin mereka kok. Okta udah tau semuanya. Setiap manusia pasti ada khilafnya, dan kekhilafan itu bukan disengaja. Itu yang membuat Okta menerima permohonan maaf kak Gre” ujar Okta memotong ucapan Arfi

“Ah padahal Okta kangen seseorang, tapi kata dokter pribadi Okta, Okta belom boleh ketemu sama dia..”

Aku menaikkan alisku satu “dokter pribadi? Siapa deh?”

Okta hanya menunjuk menggunakan dagunya aku pun mengikuti arah yang ditunjukkan Okta

“Udah ngobrolnya?” Seseorang bersandar ditembok pembatas antara ruangan ini dan ruangan sebelah. Siapa lagi kalo bukan Rose

“Kakak gak sadar kalo kamu ada disini” ucap Arfi menatap heran pada adiknya. Rose berjalan menghampiri kami

“Cocok ya kalo Rose jadi penyusup”

“Bukan, lu mah gak ada bau bau manusia nya”

“Dih, emang nya Rose jurik!”

Kakak adik itu pun tertawa, begitu juga dengan Okta yang tertawa. Aku merasa paling menjadi orang bener disini satu satunya.

“Hahaha Okta gak ngerti kalian bercanda apa” Arfi dan Rose pun menghentikan tawa mereka. Kalo gak ngerti ngapain ketawa Okta! Gak sadar selama 2 minggu gak bikin otaknya jadi lempeng juga ya-_-

Arfi dan Rose menatap Okta kemudian mereka tertawa kali ini lebih keras. Aku yang melihat mereka tertawa jadi terbawa tertawa juga

“Eh kamu ngetawain apa?” Aku langsung terdiam menatap Arfi

“Aku ngetawain kalian tau”

“Ada yang lucu emang?” Kali ini Rose bersuara

“Gak ada sih”

“Gak ada yang lucu kok ketawa sih Kak?” Tanya Okta

“Gak tau, ketawa aja pokoknya” mereka bertiga saling pandang detik selanjutnya malah tertawa lagi. Aku pun ikut tertawa. Pokokna mah gelo pisan orang disinilah

Jam sudah menunjukkan pukul 1 siang. Aku dan Arfi pamit pulang membiarkan Okta beristirahat. Rose bawa mobil sendiri selain itu sore ini juga ia akan kembali kesini. Niat nih si Rose emang

“Udah siap?”

“Yaps”

Arfi melajukan motornya keluar area rumah sakit. Dijalan aku menepuk pundak Arfi lalu ia membuka kaca helmnya menoleh padaku

“Kenapa?”

“Beli rujak dulu!”

Arfi tidak menjawab ucapanku ia hanya mengangkat jempolnya. Ia menepikan motornya saat ada tukang rujak sedang mangkal

“Rujak ulek bang, dua ya.. gak pedes bang tapi cabenya 5 ya”

Aku merasakan tepukan pelan dipundakku

“Neng gimana caranya gak pedes cabenya 5 gitu?”

Aku mendengus “berisik deh, kamu mau?” Arfi menggeleng cepat. Oh ya Arfi ini tidak suka pedas. Lemah memang si Arfi ini jika sudah makan pedas mukanya akan memerah, keringatnya seperti ladi GBK 10 putaran. Apa pun makanan ia akan lahap tapi saat bertemu dengan yang pedas ia tidak akan memakannya

Sampai dirumah aku langsung memindahkan rujaknya kepiring lalu membawanya ke ruang tengah.
“Mau kamu?” Tawarku pada Arfi yang sedang menonton tivi

“Nggak deh”

“Sambelnya aku pisahin kok”

Tanpa ba bi bu ia mencomot mangga lalu memasukkan semua kemulutnya satu lahap. Gile-_- muat aja itu mulut potongan mangga masuk semua

“Eh ya fi, tadi kamu beli motor apa?”

“Oh itu, kawasaki Z1000. Kamu suka itu kan?”

“Nggak juga, tapi jok belakangnya aku lihat lebih manusiawi deh dibanding punya kamu yang ini”

Arfi malah terkekeh mendengar jawabanku “ya jelaslah itu motor naked yang punya aku sekarang kan sport” aku masih bingung dengan beda kedua motor yang Arfi sebutkan tapi aku tidak ingin menanyakan lebih lanjut bisa bisa ia menjabarkan dari A sampai Z yang malah membuatku makin bingung. Jadi aku menganggukkan kepala saja

“Kamu beli motor segitu mahal padahal kalo beli mobil lebih enak ujan gak keujanan panas gak ke panasan”

“Hobby aku itu emang motoran jadi sensinya enak aja gitu. Lagian motor juga kalo ujan gak kepanasan kalo panas gak keujanan kan”

“Hmm iya juga sih…” eh tunggu.. apa dia bilang barusan, aku menoleh ke arah Arfi

“Yaiyalah mana ada panas keujanan terus ujan kepanasan sih ada ada aja kamu ih!”

Arfi malah tertawa mendengar jawabanku

“Lucu banget sih kamu, kamu makin bulet aja pipinya jadi gemes”

Arfi mencubit kedua pipiku.

“Arfii sakit ih”

“Sini sini kakak Julia dede Arfi pangku”

Aku pun menurut lalu pindah kepangkuan Arfi. Ini yang paling menyenangkan bagiku duduk dipangkuan Arfi lalu ia membelai halus rambutku. Aku bisa merasakan kasih sayang Arfi. Ia mengelus perutku yang mulai membesar

“Fi aku mau bubur kacang ijo, nanti sore kita beli yuk”

“Yuk, sama si Zio ya?”

Aku menoleh cepat pada Arfi

“Zio siapa?”

“Itu motor yang lagi otw kesini, aku namain Zio”

“Ini yang diperut kagak dikasih nama, motor aja lu kasih nama” protesku pada Arfi. Btw Arfi itu selalu menamai motornya yang ada digarasi itu ia beri nama Zetty

“Gak boleh mendahului tuhan, nanti aja setelah dia lahir baru dikasih nama”

“Anak ini juga kan akan lahir”

“Kata siapa?” Aku membulatkan mataku mendengar ucapan Arfi yang menahan tawanya

“Maksud lo, lo nyumpahin gue keguguran gitu?”

“Kalo keguguran kan bisa bikin lagi, stok bahan bakunya masih banyak kok”

“Heh! Lo mah enak tinggal crot aja gue nih yang ngandung bawa bawa kemana mana. Masa iya gue harus ngulang lagi dari awal kandungan gue. Gelo pisan maneh weh”

Arfi tertawa keras mendengar ucapanku. Kucubit perutnya biar rasa dia

“Aduh aduh.. iya ih becanda doang juga. Lagian aku udah nyiapin nama buat anak kita”

“Kalo laki namanya Julio Agatha kalo perempuan namanya Elaine Agatha?”

Arfi menatapku “kok kamu tau? Kamu bisa baca pikiranku ya?”

Aku memutar bola mataku malas beranjak dari pangkuannya, meraih dompetku lalu mengambil sesuatu dari dalamnya

“Nih siapa yang nulis ini aku tanya?” Aku memberikan secarik kertas padanya. Ia membuka lipatan kertas itu lalu nyengir ke arahku. Aku hanya memutar bola mataku malas

“Kamu masih simpen aja tulisan aku, ini kan udah lama banget”

“Iyalah, itu kan nama anak ini dari bapaknya” aku sengaja menekan kata bapaknya agar ia merasa tersindir dengan ucapanku tapi bukannya tersindir si Arfi malah nyengir lagi

“Sini ah duduknya aku pangku lagi”

Aku menurut saja lalu pindah ke pangkuannya

“Kamu cantik banget sih” ucapnya

“Iya dong jelas aku gitu loh”

“Gak jadi deh” aku tertawa mendengarnya

“Cium aku fi”

“Of course”

Aku merasakan bibir lembut Arfi dibibirku. Tanpa lumatan tapi penuh kasih sayang. Terima kasih tuhan kau berikan anugrah terindah dalam hidupku. Aku tersenyum dalam ciuman kami

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48