Tentang Kita Part 25

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 25 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 24

Siang ini aku menemani Rose ke bandara, dia bilang ia akan menjemput temannya. Sudah setengah jam lebih belum datang juga temannya. Sedari tadi Rose gusar berulang kali ia menghubungi temannya namun hasilnya selalu nihil

“Hapenya mati lagi hih!” Rose membantin hapenya di meja tempat kami menunggu. Kasihan juga hapenya jadi korban begini tanpa tau apa salahnya. Poor hape Rose

“Aku beli minum dulu kesana ya, bentar” Ujarku sambil menunjuk ke sebuah tempat dimana ada vending machine

Rose mengangguk aku beranjak dari dudukku. Sampai disana aku melihat minuman apa yang tersedia sana

“Hmm, teh enak tapi pengen yang rasa buah… ah ini aja deh” aku mengeluarkan uan sesuai nominal yang tertera dimesin tersebut lalu memasukkan uangku memencet tombol minuman disana dan…

Grakk

Woy! Selow wae atuh gak usah dibanting banting juga(?) Minuman itu jatuh ketempat aku bisa mengambilnya. Ku buka lalu kuteguk minuman itu. Ah~~segar banget. Rose perlu minuman seperti ini kayanya, aku akan belikan Rose satu

Saat aku berjalan kembali ke tempat Rose aku melihat dia sudah terlibat cekcok mulut dengan seorang pria tegap. Kuperhatikan sambil berjalan pelan mendekatinya

“Maaf, abis aku tadi laper makan dulu disana deh”

“Apa!!” Sungguh saat Rose teriak seperti itu orang yang berlalu lalang sekitarnya menutup kupingnya. Sungguh aku gak bohong

“Aku nungguin kamu dari tadi kamu malah enak enakan makan”

Aku menghentikan langkahku saat sudah berada disebelah Rose namun dia sepertinya belum menyadariku berbeda dengan pria dihadapan kami ia tersenyum melihatku

“Apa kamu senyum senyum!!” Astagah-_- aku bahkan sampai menutup kupingku sebelah karena teriakan Rose barusan

“Itu.. ada temen kamu” ujar pria tersebut. Rose menoleh ke arahku dengan tatapan garang lalu beralih ke pria itu

“Dia bukan temen aku! Dia kakak ipar aku!” Ya ampun ini anak awalnya kalem jadi doyan teriak teriak gini sih

“Oh, ya ampun” pria itu langsung menyalami dan mencium tanganku. Berasa tua banget deh gue-.-

“Makanya diundang tuh dateng! Sibuk terus sih!”

Daripada diusir mending aku segera ambil tindakan “Emm mendingan ngobrol ngobrolnya kita lanjut aja yuk dirumah” Rose langsung menggandeng tanganku pergi meninggalkan pria itu namun dia mengekor dibelakang kami

Sampai diparkiran pun mereka berdua masih saja berdebat. Memperebutkan siapa yang menyetir, pria yang kini diketahui bernama Ferdi ini menawarkan dirinya menyetir mobil Rose namun itu ditolak mentah mentah olehnya terjadilah perdebatan part 2 -_-

“Stop!!” Teriakku yang tidak tahan dengan perdebatan mereka “biar gue yang setir!” Aku merampas kunci mobilnya dari tangan Rose lalu berjalan ke arah pintu kemudi

“Kalian mau masuk atau gue tinggal” ujarku dingin sambil membuka kaca jendela sedikit. Mereka terlihat panik lalu berhambur masuk ke dalam. Nah kaya gini kan enak harus banget apa pake marah dulu gitu

***

Sampai dirumah aku melihat Arfi tiduran dibawah

“Kamu ngapain tidur dibawah fi?”

Arfi mendongakkan kepalanya “ganti oli motorku nih” aku hanya ber’oh’ saja lalu masuk kedalam. Arfi kalau sudah bersama motornya seperti memiliki istri kedua asik banget daripada aku kesal dicuekin mending masuk kedalam. Btw Rose sedang mengantar temannya si ferdi itu, jadi aku diturunkan depan rumah sedangkan ia mengantar temannya

Hari ini masak apa ya, yang ringan aja deh seperti mie rebus contohnya. Ah ini sih keringanan tapi gpp deh, lagipula Arfi pemakan segalanya asal enak pasti dihabisin juga beruntung aku memiliki suami yang gak rewel seperti Arfi

“Juliaaa… kamu dimana sayaaaangg ~~”

Tadi adiknya sekarang kakaknya, mereka hoby teriak teriak ya atau keluarga keturunan tarzan kali

“Aku didapur.. sini aja sih gak usah teriak!”

Tak lama aku merasakan kedua tangan melingkar diperutku

“Masak apa sih?”

“Masak mie”

“Aku kangen kan” Arfi mulai menciumi leherku

“Fi.. udah aku lagi masak buat makan siang kita” Arfi tidak menghiraukan ucapanku. Ia terus menciumi pipiku

“Arfiii..”

“Hehehe maaf ya, yaudah kamu masak aja aku begini terus gpp kan?”

“Aku susah masaknya dong kalo kamu kaya gini terus”

“Biarin, gpp kan aku kangen”

Kubiarkan saja Arfi memelukku sementara aku mengaduk mie rebus sesekali memasukkan telur kedalamnya

“Wey wey wey.. ini dapur apa kamar sih”

Arfi melepas pelukannya, aku membalik badanku melihat siapa yang datang

“Kamu suka ganggu moment deh?” Tanya Arfi pada Rose. Rose duduk dimeja makan menuangkan minumannya lalu meminumnya

“Ganggu apa? Ini dapur bukan kamar kalian.. apa jadinya jika aku datang terlambat?” Alis Rose terangkat meledek kami.

“Makan dulu Rose, tapi cuma mie rebus doang” ujarku

“Really? Ini bagus disana aku susah makan mie percayalah”

Akhirnya kami makan bersama di meja makan. Sesekali Arfi menjaili Rose dengan meledeknya seperti ingin menyuapinya makan, atau sekedar mengingatkan makan dikunyah jangan disimpan dimulut. Tentu itu membuat Rose kesal menatap kakaknya malas

“Btw fi, malem nanti kita jadi jenguk Okta?”
“Tentu, Bella ngasih tau aku Okta semalam siuman mudah mudahan malam ini juga..”

Aku sedikit terkejut mendengarnya sekaligus senang. Senyumku mengembang meski ngeselin Okta membawa keceriaan bagi teman temanku dengan caranya sendiri

“Rose ikut kak”

“Boleh aja.. kamu yang setir ya”

“Loh kok Rose sih, kan kakak laki laki sendiri” Arfi meletakkan piring makannya ditempat cucian piring lalu menghampiri kami

“Malam ini kakak mau coba sex in car”

Aku yang mendengar itu langsung menoleh cepat ke arah Arfi tidak berbeda jauh denganku Rose pun melakukan hal sama

“Arfii!!” Sial! Aku kalah cepat dengannya saat aku bersiap untuk mencubitnya ia sudah berlari ke atas sambil tertawa keras

“Upload ke fake taxi aja sekalian kak, judulnya sex with pregnant wife”

Oke ini membuatku harus menarik ucapanku yang mengatakan jika Rose itu yang paling baik diantara kami. Ternyata aku salah alias ABANG ADEK SAMA AJA ISI KEPALANYA!!

***

Malam ini kami membesuk Okta. Sukurnya Okta kini sudah bisa dipindahkan ke ruang rawat biasa sebelumnya ia berada di ruang UGD. Kami semua bernafas lega terlebih Iwan. Oh ya, Gracia dan Agus pun ikut datang menjenguk Okta.1

“Hallo guys sorry telat”

Aku menoleh ke arah sumber suara. Loh? Pria ini kan…

“Kebiasaan banget sih! Telat melulu!!”

“Aduuu duuuuhh.. jakarta macet my Diana ku sayang”

Rose melepas jewerannya dikuping pria itu. Pria itu adalah Ferdi teman Rose yang kemarin dijemput di bandara. Tunggu deh, ada yang salah perasaan

“Heh! Lo siapa manggil ade gue Diana pake sayang sayang lagi”

Ferdi menatap Arfi beralih mengambil tangannya hendak memberi salam

“Eh eh eh apa apaan lo.. dia siapa sih” Arfi menarik tangannya

“Perkenalkan bang, saya Ferdiansyah Pratama” oh namanya Ferdiansyah Pratama, nama belakangnya sama seperti Iwan ya atau jangan jangan mereka kakak adik. Disini aku, Gracia dan Agus masih diam melihat orang orang didepan kami

“Apa hubungannya sama ade gue?” Arfi masih menatap sinis Ferdi didepannya

“Saya pacarnya bang” ucapnya dengan enteng sambil nyengir

“Whatt?!!!”

Astaga, yang punya ade aja gak kaget ini dua makhluk kenapa malah yang teriak. Siapa lagi kalo bukan Agus dan Gracia kalo sebelumnya mereka pasangan yang hampir pisah kini mereka pasangan yang hampir membuat kami diusir dari rumah sakit ku rasa

“Oi kenapa jadi lu berdua yang kaget?”

“Gpp geng, gue terkejut aja” aku menatap malas ke arah Agus lalu beralih ke Arfi yang sudah duduk disebelahku

“Ini laki laki kemarin yang aku sama Rose jemput fi” Arfi menoleh ke arahku

“Aku tau, Adikku gak akan melakukan hal tanpa alasan terlebih ke laki laki adikku kan jutek orangnya”

“Kaya siapa?”

Arfi menoleh ke arahku cepat “aku gak jutek kok” mendengar jawabannya aku hanya menaikkan alisku sebelah

“Seyakin apa kamu?”

“Aku tuh bukan jutek cuma pendiem aja”

“Percaya deh” ucapku sambil terkekeh dan Arfi hanya menatapku malas. Tatapanku beralih ke Iwan dan Ferdi yang terlihat sudah akrab

“Eh fi, Iwan akrab banget sama Ferdi itu deh” Arfi menoleh ke arah dimana Iwan duduk

“Samperin yuk” Arfi menggandeng tanganku menghampiri Iwan

“Lo kenal lama wan sama dia?” Iwan menatap Arfi bersamaan dengan Ferdi

“Lama, dari orok”

“Hah? Jangan bilang dia..”

“Iye dia adik gue, yang gue bilang saat gue disulawesi itu.. gue ke jakarta dia ke belanda sekolah disana sampai kuliah begini nih”

Aku menoleh ke belakang karena mendengar suara gemuruh langkah kaki cepat

“What?!!”

Astajim-.- pengen rasanya gue jedotin nih berdua makhluk lebaynya gak ketolongan deh

“Gus, Gre gak usah teriak teriak kek.. pengeng nih kuping gue” ucapku mereka hanya nyengir. Yaelah mendingan lu berdua berantem deh gak rusuh kaya gini

“Tau lo berdua gak toleransi sama orang sedih apa”

“Oh ya bang, kak Okta kaya gimana sih” Tanya Ferdi

“Kan sering gue kirimin fotonya ke lo”

“Mana percaya gue foto cewek yang lo kirim itu cakep banget. Emang mau cewek secakep itu mau sama lo?”

Kami semua tertawa namun sesaat sadar suara langsung kami tutup mulut kami bersamaan

“Ini anak dateng dateng langsung nyela gue, gue tendang balik ke belanda lo”

Ferdi hanya tertawa kecil. Ini jam berapa sih, lama banget. Kami menunggu sampai jam 8 malam karena Okta sedang menjalani pemeriksaan rutin setiap malamnya guna untuk memulihkan kesehatannya. Tatapanku beralih ke Ferdi yang menatapku dengan senyum senyum gak jelas

“Kenapa?” Tanyaku dia hanya menggelengkan kepalanya

“Kakak cantik, disini cewek yang paling cantik kakak doang, manis” ujarnya. Aku sih hanya diam namun orang disebelahku ini ku yakin sudah panas mendengarnya

“Wan mending lo tendang beneran ade lo deh sebelum nanti gue yang tendang bukan ke belanda lagi sampe ke roma nih anak” ujar Arfi

“Eh tengil, lo belom dapet izin pacaran sama ade gue udah ngerayu bini gue sekarang” Arfi menatap sengit ke arah Ferdi. Aku ingin tertawa namun kutahan

“Bukan ngerayu, ini kejujuran. Daripada kakak yang disana.. dia juga cantik tapi kurang seksi, seksian kakak ini” lagi dia menunjukku membuat Arfi berdiri namun kali ini Ferdi langsung ditarik oleh Rose pergi. Mereka terlibat cekcok sedikit dilorong. Oh tuhan, satu lagi orang aneh yang akan menjadi orang baru disini

“Permisi.. pasien sudah bisa dijenguk, silahkan” seorang suster keluar dari ruang rawat Okta. Iwan segera berjalan ke dalam diikuti oleh kami dibelakangnya

Aku melihat Okta sudah sedikit membaik. Kulitnya tidak lagi pucat, tidak lagi terpasang alat bantu pernafasan dihidungnya menandakan ia sudah bisa bernafas normal. Hanya selang infus masih menempel ditangan kirinya

“Hay sayang, kakak dateng lagi nih.. kamu kapan sadarnya dong, bangun dong kita semua kangen kamu loh” ujar Iwan sambil menggenggam tangan Okta.

Matanya mulai berair, pasti! Sudah biasa jika kami membesuk Okta pasti Iwan meneteskan air matanya. Aku bisa memahaminya rasa rindu, cinta, bersalah dan penyesalan menjadi satu.

“Fi kalo aku berada diposisi seperti Okta apa kamu akan seperti Iwan juga?” Tanyaku menoleh ke arah Arfi

“Apa maksud kamu? Tentu aja nggak”

“Nggak?” Aku memiringkan kepalaku masih menatap Arfi

“Iya nggak, karena kamu gak akan mengalami hal seperti Okta, aku akan menjaga kamu terus bila perlu 24 jam sehari” aku cukup terkesan dengan jawabannya beralih menatap Iwan masih disana

“Bro, gue pulang duluan ya, gue harus nganter Gre dulu soalnya”

“Oke deh hati hati ya dijalan”

“Gue duluan ya Julia” ujar Gre aku hanya membalasnya dengan senyum

“Kita mau pulang juga fi?”

“Nanti aja kita–”

“Sayang.. kamu sadar, ucapin sesuatu sayang”

Aku dan Arfi menghampiri Iwan “kenapa wan?”

“Tadi Okta menggenggam tangan gue fi, dia gerakin tangannya..”

“Sayang, bangun dong kamu udah tidur lama banget loh. Kamu ngambek ya sama aku, maafin aku yaa.. aku gak akan mengulangi kesalahanku lagi, bangun kamu dong—-” aku hanya menatap Iwan yang sudah meneteskan air matanya sambil menggenggam tangan Okta. Ia berkali kali mencium kening Okta. Aku merasa sebelah tanganku digenggam aku menoleh ke arah kanan. Tatapan Arfi menatap lurus ke arah Iwan dan Okta. Tak lama orang tua Okta datang, kami langsung bersalaman dengan mereka

“Gimana keadaan Okta wan?”

“Tadi dia gerakin tangannya bu”

“Syukurlah sedikit sedikit dia mungkin bisa pulih” Iwan hanya tersenyum nanar

“Kami ucapkan terima kasih sama kalian terutama Iwan yang dengan setia mau menemani Okta disaat keadaan seperti ini” ucap ayah Okta beralih menatap Iwan. Iwan hanya tersenyum tipis. Sangat tipis sekali

Lama disana akhirnya aku dan Arfi memutuskan untuk pulang. Rose? Rose udah pulang sejak Ferdi merayu aku tadi katanya sih jadi dia diantar Ferdi kerumah duluan

Jalanan jakarta segang mungkin karena sudah malam. Diperjalanan aku maupun Arfi tidak membuka suara sama sekali. Aku hanya menatap keluar jendela mobil

30 menit perjalanan akhirnya kami sampai dirumah. Aku langsung menuju kamar, bersih bersih dan ganti baju lalu membaringkan tubuhku dikasur. Tak lama Arfi ikut membaringkan tubuhnya dikasur sebelahku. Ia sudah berganti pakaiannya dan juga bersih bersih.

Ia menatapku dari samping ku tolehkan wajahku menghadapnya

“Ada apa?” Dia hanya menggelengkan kepalanya lalu menatap langit langit kamar aku mengikuti pandangannya. Lagi, tanganku digenggam dibalik selimut oleh Arfi. Ia menggenggam tanganku erat seakan aku akan pergi meninggalkannya

“Julia…”

“Ya?”

“Aku sayang kamu”

Aku menoleh ke arahnya “kamu kenapa? Ada masalah?” Aku sedikit mengangkat kepalaku agar bisa menatap wajahnya. Kembali dia menggelengkan kepalanya

“Ada apa sih? Tadi di rumah sakit juga menggenggam tanganku erat banget”

“Emang gak boleh?” Tanyanya ketus menatapku. Aku mengecup bibirnya sekilas

“Bukan, kamu kaya gitu seolah aku akan ninggalin kamu. Kamu khawatir akan itu?” Arfi mengalihkan pandangannya ke atas

“Aku gak mau kehilangan kamu, apapun yang terjadi aku akan menjadi pelindung bagi kamu dan calon anak kita” ucapan biasa yang sering ku dengar dari Arfi tapi bisa membuatku selalu tersenyum

“Kamu khawatir aku mengalami apa yang Okta alami?”

“Ya, dan yang aku khawatirkan adalah diriku sendiri melihat apa yang terjadi bisa dibilang Iwan juga penyebab Okta berada dirumah sakit seperti saat ini”

Aku menyandarkan kepalaku didadanya, ia mengelus lembut kepalaku. Bagaimna bisa aku membayangkan jika itu terjadi padaku dan Arfi yang melakukan seperti yang dilakukan Iwan.

Mungkin kamu gak akan melihat aku terbaring dirumah sakit lagi tapi sudah…. kupikir Iwan beruntung karena Okta masih bisa diselamatkan bagaimana denganku nanti, apa Arfi akan seberuntung Iwan jika dia benar benar melakukan seperti yang Iwan lakukan

Aku mengangkat kepalaku beralih menatap Arfi. Matanya yang coklat dan bulat sangat indah dipandang, wajahnya yang terkesan tegas ini selalu menjadi hal terindah yang pernah kulihat. Entah seperti apa aku harus menggambarkan kebahagianku.

Ku cium bibirnya, menikmati setiap inci bibirnya dalam ciumanku, kucurahkan seluruh cintaku untuknya agar ia tau aku hanya ingin dimiliki olehnya. Kulepas ciumanku, kutarik nafas dalam lalu membelai wajahnya. Air mataku menetes begitu saja

“Kamu kok nangis sayang?”

Aku menggeleng kuat, mengadahkan wajahku keatas agar air mata ini tidak lagi menetes lalu menatapnya kembali

“Kamu ganteng” ucapku

“Kamu menangis karena lihat aku ganteng gitu?” Aku terkekeh melihat wajahnya yang keheranan itu

“Bukan sayang, aku gpp kok cuma bahagia aja.. bobo yuk”

“Yuk, peluk dong” aku tersenhum lalu mencari posisi ternyamanku disamping Arfi setelah itu aku memeluk tubuh Arfi. Ku hirup aromanya dalam dalam cukup membuatku untuk tertidur dengan cepat

“Have a nice dream Julianya Arfi…” aku terkekeh mendengarnya. Dia ini alay sekali

“Have a nice dream too Arfinya Julia.” Baik aku juga ikutan kealayannya kan. Biarin deh, yang penting aku bahagia. Salah Satu hal yang membuatku bahagia Arfi selalu menbuatku seperti seumuran dengannya meski umur kami terpaut lumayan jauh. Aku tersenyum dalam pelukannya lalu pergi ke alam mimpi

***

Klek

Aku berjalan menghampiri seseorang yang tengah terbaring dikasur. Matanya tidak terpejam, tubuhnya tertutup selimut hingga leher, oh lihat dia sungguh seperti bayi besar bukan?

“Ini aku buatin teh dengan potongan lemon didalamnya” dia tersenyum lalu terduduk menyender disandaran kasur meraih teh yang kubuatkan untuknya

“Terima kasih ya, ini nikmat” ucapnya setelah meneguk teh yang kuberikan. Kuletakkan gelasnya dinakas

“Kamu istirahat aja ya hari ini, kamu tuh kecapean kerja”

Pria didepanku ini adalah seorang pekerja keras. Ia senang bekerja sampai lupa kesehatannya sendiri. Ku elus keningnya dengan lembut. Suhu tubuhnya tinggi, ku baringkan tubuhnya lalu kembali ku tutupi selimut tubuhnya

“Kamu mau kemana?”

“Aku mau bikin bubur buat kamu”

“Nanti aja, temenin aku dulu sini”

Sungguh, aku tidak tega dengannya. Suaranya yang tegas kini berubah menjadi lemah. Aku kembali duduk ditepi kasur, ia berusaha meraih tanganku

“Sini, deketan sama aku. Peluk aku”

Tanpa berkata lagi aku masuk kedalam selimut dan memeluknya. Suhu tubuhnya sangat tinggi bisa kurasakan itu. Bahkan dibalik selimut tebal seperti ini pun ia tidak merasa gerah sama sekali aku yang baru beberapa menit saja sudah merasa gerah. Tapi biarlah ini untuknya, aku terus memeluknya hingga ia tertidur dalam pelukanku

Klek

“Kak Julia, dibawah ada tamu” aku menoleh ke arah pintu

“Siapa?”

“Siapa lagi kalo bukan orang orang freak itu” oh aku tau siapa tamuku. Itu pasti mereka, siapa lagi kalau bukan geng koplak alias Agus, Gracia dan Iwan. Harusnya ada Okta juga tapi masih dalam masa pemulihan dia

“Suruh tunggu dulu ya Rose, bilang kakak lagi nemenin Arfi tidur sebentar”

Rose mengangguk lalu menutup pintu kembali. Aku bangun dengan perlahan agar tidak mengganggu tidurnya. Ia tertidur pulas sekali. Ku tarik selimut hingga lehernya. Ku kecup pipi dan keningnya lalu beranjak dari sana menemui orang orang yang menjadi tamuku

“Hay.. maaf buat kalian nunggu, ada apa?”

“Gak ada Jul, emm kita mau nengokin Arfi katanya sakit ya?”

“Demam aja, kecapean dia mungkin belakangan ini dia sering lembur”

“Wow, lembur dikantor atau dikamar?”

Aku mendelik ke arah Agus

“Oh ya Julia, gue bawain ini” Gracia menyerahkan bungkusan padaku

“Apa nih Gre?”

“Vitamin untuk bumil. Tapi sebelum diminum lo konsul dulu sama dokter kehamilan lo oke”

Aku menyimpan vitamin yang diberikan Gracia. Lalu kembali menemui mereka

“Btw kalian sudah ke rumah sakit?”

“Udah, dan entah ini kabar baik atau buruk”

Aku menatap Iwan yang sedari tadi diam

“Okta tadi sadar, tapi histeris begitu melihat gue” ucap Iwan lirih. Aku menarik nafasku dalam

“Mungkin dia syok Wan, lo yang sabar aja ya”

“Gak cuma itu Jul, saat melihat Gre pun dia melempar semua barang yang ada didekatnya ke arah Gre”

Aku terdiam sejenak lalu menatap Gracia yang duduk didepanku. Tak lama Rose datang membawa nampan

“Nih diminum dulu, maaf ya lama aku kehabisan sirup” Rose meletakkan gelas gelas diatas meja lalu duduk bersama kami

“Dek, kamu psikolog kan?” Tanyaku, Rose menoleh ke arahku lalu mengangguk “kenapa kak?”

“Okta mengalami depresi berat sepertinya apa kamu bisa membantu?”

Rose menatap orang disini satu satu lalu menatapku kembali

“Biarkan dia tenang dengan sendirinya. Jangan ganggu meski sudah sadar, maaf jika aku harus berkata seperti ini”

“Jika nanti Okta sadar tolong orang yang pernah menyakitinya jangan dulu menunjukkan wajah dihadapannya. Itu perlu proses”

Iwan menghembuskan nafasnya kasar

“Biar aku bantu sebisaku ya”

“Tolong ya, berapa pun akan ku bayar dia begitu juga karena ku” Ujar Gre kini

“Maaf nona, aku melakukan ini karena dia temanku jadi aku membantu temanku bukan untuk kalian” ujar Rose dingin lalu beranjak dari duduknya pergi kekamarnya

“Dengerkan, gue rasa Rose ada benarnya juga. Sementara waktu kalian berdua jangan menunjukkan wajah kalian dulu deh”

“Gue bisa terima itu, apapun gue lakukan untuk kesembuhan Okta sekalipun gue harus melakukan selamanya”

“Gak akan selamanya kok! Beri aku waktu sebulan setengah. Dia akan kembali normal. Ini biasa terjadi pada orang depresi” aku mendongakkan kepalaku ke atas. Rose berbicara menatap kami ke bawah. Tidak sopan!

“Oh ya nona berbaju ungu disana. Akan kupikirkan tawaranmu itu, kamu mau melakukan apapun kan?”

Hah, tadi sok jual mahal sekarang malah nanyain tawarannya Gre juga. Tapi kelihatannya Gre gak ambil pusing dengan itu buktinya dia langsung menggangguk cepat

“Oke, jika Okta sudah ada kemajuan akan kupikirkan hal apa yang harus kudapatkan darimu.. bersiaplah nona, see youu~”

Rose benar benar pergi dari sana. Tak lama terdengar suara kamar ditutup. Oke dia sudah benar benar masuk ke kamar. Tapi apa maksudnya bersiaplah katanya, aku yakin ada maksud tersendiri dia mengucapkan begitu.

Aku melihat Gre, dia tersenyum senang mungkin karena Rose ingin membantunya. Tidak jauh berbeda Iwan senyumnya lirih. Yah, aku pun belum tau reaksi Okta saat melihat aku dan Arfi nanti. Oh ya kelupaan

“Bagaimana reaksinya saat melihat Agus?”

“Justru Agus yang nenangin Okta, gue sama Gre keluar ruangan”

Jawaban dari Iwan sudah membuktikan Okta hanya akan bereaksi dengan orang yang mengecewakannya. Masih jadi pertanyaanku adalah bagaimana bisa Okta tau masalah ini. Yah apapun itu nasi sudah menjadi bubur ini masalah yang cukup rumit.

Persoalan Okta biar ku serahkan pada psikologi sombong tadi. Aku berharap dia gak minta macem macem sama Gre, tapi apapun itu kuyakin Gre akan menyanggupi semuanya

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48