Tentang Kita Part 24

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 24 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 23

Aku berada direstoran sebuah mall dijakarta. Menunggu seseorang yang sudah janjian denganku. Hmm sudah 10 menit berlalu sepertinya dia telat. Maklum sih, jakarta mungkin sedang macet macetnya jam segini. Aku mengesap coffe late ku

“Sorry telat, lama ya.. tanggerang – jakarta bukan perjalanan yang menyenangkan” ia membuka jaketnya menaruhnya dikursi lalu memesan minuman

“Jadi gimana kabarnya dia” Tanyanya mulai serius. Aku balik menatapnya

“Buruk, dia mencarimu kemana mana. Tapi kami masih mengawasinya, apa lu gak ada niatan untuk membicarakan ini semua baik baik?”

Helaan nafas panjangnya bisa kudengar. Ia mengalihkan pandangannya

“Belum saatnya, lu tau kan ini hal yang masih belum gue terima baik dari Iwannya maupun Gracianya. Gue belom bisa abis pikir sama mereka”

Aku terdiam mendengar ucapannya. Jika aku berada diposisinya mungkin aku tidak akan mau memperdulikan Gracia. Ya, orang yang bersamaku adalah Agus, dia selalu datang seminggu sekali mengajakku atau Arfi bertemu hanya sekedar menanyakan Gracia. Aku salut padanya, setelah apa yang dilakukan oleh Gracia padanya ia masih perduli pada Gracia. Hebat!

“Gue gak ingin emosi menguasai diri gue. Obrolannya jadi gak asik nanti, biarin sementara waktu gue pergi, kalo udah bisa gue terima keadaan ini gue akan membicarakan masalah ini”

Aku mengesap coffe lateku “oh ya btw jika masalah lu udah menemukan titik terang, apa lu akan memaafkan Gracia dan menerimanya kembali?” Agus hanya menatapku, senyum tipis diberikannya.

Aku tidak tau apa artinya tapi aku tidak ingin menanyakannya lebih dalam setidaknya untuk saat ini bukannya tadi dia juga bilang butuh waktu kan
Pesanan Agus datang, ia mengesap jusnya “anyway, si boss tau nih lu dateng menemui gue?”

“Daripada itu kenapa gak lo tanyain kabarnya setelah lo lama gak ketemu?” Agus hanya tertawa

“Dia selalu baik baik aja gue yakin banget. Selama ada lo dia akan selalu baik percaya sama gue” aku hanya menatapnya malas

“Gue gak akan pergi tanpa izinnya lo tau itu kan?” Lagi hanya tersenyum kecil

“Oh ya kerjaan lo disini gimana gus?” Tanyaku kembali

“Gue cuti dulu sementara waktu tapi kayanya gue udah lewat dari batas cuti gue deh haha.. yah nanti gue cari kerjaan lain aja deh” aku hanya menganggukkan kepalaku.

Meski Agus seorang pengacara tapi dia menjadi salah satu kesatuan pengacara dijakarta jadi memiliki kartu keanggotaan dan kasus yang ditangani pun bergantian dengan pengacara lainnya. Pokoknya begitu deh aku juga kurang paham tapi itu yang pernah dijelaskan oleh Gracia dulu saat aku tinggal bersamanya

“Ah iya, gue denger Okta masuk rumah sakit?”

“Iya, gue sempet syok dengarnya. Terlebih alasannya pun konyol lo tau kan Okta masih sangat muda”

Agus menyenderkan tubuhnya dikursi “tau banget gue, lalu gimana sekarang?”

“Udah mendingan semenjak ditanganin sama dokter bella, kenalan Arfi. Cuma tinggal nunggu siumannya aja sih gue rasa itu butuh waktu”

Agus tersenyum kecut “harusnya gue gak sepengecut ini meninggalkan masalah dan pergi menghilang. Payah!” Agus memalingkan wajahnya. Aku masih diam tidak bersuara. Ini memang rumit

“Gue mau besuk Okta malam ini, bisa lo atur waktunya?” Aku menganggukkan kepala

“Biar nanti gue kasih tau Arfi. Jam berapa lo mau besuk?”

“Nanti gue sms lo tapi pastinya diatas jam 7 malam”

“Jangan! Akan sulit mendapat izin dari rumah sakitnya, seinget gue jam segitu pasien dilarang menerima tamu dan dibiarkan istirahat”

Agus terlihat berpikir sejenak. Ia mengetukkan jarinya dimeja

“Jam 6 sore bisa?”

“Bisa..”

“Oke deh Jul, thanks ya udah mau bantu gue dan repot repot dateng kesini” Agus mengambil jaketnya bersiap pergi

“Lo mau balik sekarang?”

“Iyalah, nanti yang ada jadi cinta segitiga lagi. Hiii serem sih kalo harus urusan sama laki lo kemarin aja Iwan bisa mati ditangan Arfi kalo lo gak tahan tahan si Arfi, Jul” ucapnya dengan sedikit ledekan. Iya juga sih, Arfi kalo mukulin orang kaya mau membunuhnya, tanpa rasa kasihan bahkan sama sahabatnya aja dia begitu apalagi sama orang lain ya

“Yaudah deh Jul, minumannya biar gue yang bayar sebagai ganti ongkos lu”

“Yaelah Gus ini mah cuma 22ribu ongkos gue seratus ribu lebih bolak balik sini tau”

Agus tertawa, aku berdiri hendak melangkah

“Laki lo kan boss lagian gak ada toleransinya lo sama orang yang patah hati” aku hanya menatapnya malas yang ditatap hanya memberikan cengiran bodohnya. Kami sama sama berjalan keluar

“Gue ke parkiran dulu ya”

“Lo naik mobil Gus?”

“Lo pikir gue jalan kaki kesini” jawabnya, aku pikir dia naik kendaraan umum

“Kenapa lo gak nganterin gue aja”

“Gak usah manja lo pulang sendiri juga gak nyasar lagian nih gue nganterin lo pulang ntar ketemu Arfi aduh bengep muka gue. Kesayangannya gak boleh deket sama siapa siapa meski gue sahabatnya sekalipun hiii” Agus bergidik ngeri, segitu nyereminnya apa si Arfi perasaan dia biasa aja deh. Emang sih galak kalo lagi marah

“Udah ya byee~~”

“Eh… yah sialan si jangkung nih” gumamku.

Akhirnya aku memesan taksi online. Agus sialan udah mah gue disuruh kesini buat dia, sekarang dia ninggalin gue gitu aja. Lihat aja ntar lo… yaudah lihatin aja pokoknya btw taksi onlineku sudah dateng cepet banget. Aku tau ini pasti karna costumernya orang cantik sepertiku, oh iyalah jelas~~ hehe

***

Seorang pria tinggi berjalan dilorong rumah sakit sesekali ia mengecek hapenya melihat pesan teks yang dikirimkan untuknya

“334.. 335.. ah ini dia 337” gumamnya. Sedikit ia intip dari jendela pintu hanya untuk memastikan “benar itu dia Okta, kasihan dia” Pria itu masuk kedalam melihat dua orang temannya sudah berada didalam

“Wey geng, gimana kabar lu?” Ucapnya

“Gue baik tanpa lu sepertinya sekarang gue gak akan jadi baik baik aja” ujar temannya meledek

“Baguslah emang itu yang gue mau” mereka tertawa pelan bersama

“Gimana keadaan Okta?” Tanyanya kembali

“As you see, masih terbaring koma”

Mereka adalah Agus, Arfi dan Julia. Agus yang sudah memiliki janji untuk membesuk Okta lebih cepat 10 menit dari yang ia janjikan. Agus berjalan ke sisi dimana Okta berbaring

“Semoga dia baik baik aja, pastiin sama gue kalo dia ditangani oleh dokter yang tepat” Agus menatap Arfi, mereka saling menatap

“Gue udah berusaha, dokter kenalan gue disini pun berusaha untuk Okta, dari keadaan sebelumnya ini lebih baik. Tapi tetap dia butuh doa kita semua” ujar Arfi. Agus beralih menatap Okta

“Kapan lo mau selesaikan masalahnya Gus? Tanya Arfi kembali

“Sebelum Okta sadar”

Arfi terkejut dengan ucapan Agus. Pasalnya Arfi memiliki rencana menyelesaikan ini semua setelah Okta sadar

“Gue pikir setelah Okta sadar nanti baru akan–”

“Lo salah geng, akan lebih rumit kalo Okta udah sadar. Justru akan lebih baik kita selesaikan masalahnya antara gue, Gracia dan Iwan sebelum dia sadar”

Agus menggenggam tangan Okta. Ada kesedihan saat melihat Okta terbaring lemah disana itulah yang membuatnya ingin menyelesaikan masalah ini secepat mungkin. Arfi menepuk bahu Agus

“Gak usah dipaksa kalo lo belum siap Gus” Agus menyingkirkan tangan Arfi dibahunya berbalik menatap Arfi

“Ini masalah gue, Okta korban disini. Seharusnya yang terbaring disana itu diantara kita bertiga bukan dia.. gue gak ingin jadi pengecut lebih lama lagi dan lari dari masalah”

“Lo gak lari dari masalah geng, wajar lo butuh waktu untuk nenangin hati dan pikiran lo dan itu bukan tindakan seorang pengecut”

“Menjadikan dia korban disini atas perbuatan seseorang. Sungguh, gue merasa hina sekali. Geng, lo sahabat yang gue percaya, lo bisa temuin gue sama mereka kan?”

Arfi terlihat ragu namun ia tetap menganggukkan kepalanya “kapan lo mau ketemu?”

“Eh.. Okta sadar, dia gerakin tangannya” pekik Julia pelan membuat Arfi dan Agus menoleh padanya. Ya karena Julia sedari tadi menggenggam tangan Okta.

“Dia hanya menggerakkan tangannya, apa dia mendengar semua ucapan kita?”

“Gue rasa begitu, tapi gue berharap sih nggak”

Agus menghela nafasnya. Okta yang masih sesekali menggerakkan tangannya membuat senang Julia dan Arfi. Itu artinya harapan mereka melihat Okta siuman semakin dekat

“Permisi..” seorang dokter wanita masuk memeriksa keadaan Okta

“Keadaannya membaik, mungkin kini ia hanya perlu istirahat dan mengumpulkan tenaganya untuk bisa pulih kembali” ujar dokter wanita tersebut membuat Arfi, Julia dan Agus bernafas lega. Setelahnya dokter itu pamit pergi

“Kok dokter itu bisa tau kalo Okta udah menunjukkan pergerakan sih apa disini ada cctvnya?” Tanya Julia heran

“Aku sms dia barusan, nih” Arfi menunjukkan layar hapenya ke Julia, disana tertera nama ‘Dr. Bella’ membuat Julia menatapnya malas

“Ada berapa kontak wanita dihape kamu sih?”

“Entah, yang penting penting aja”

“Dan kepentingan kamu selalu berhubungan dengan wanita” Julia mendelik ke arah Arfi sedangkan Arfi hanya tersenyum lebar

“Coba tebak siapa yang sedang cemburu?”

Julia melototkan matanya “gak ada! Arfi jangan berisik kamu bisa diusir dari sini” Julia mengalihkan wajahnya menutupi pipinya yang merah namun Arfi terus menggodanya

“Ah kamu lapar gak? Kalo aku iya, Gus mungkin lo lapar? Gue bisa sms’in Natalia untuk mengantarkan makanan kesini” ucap Arfi membuat Julia menoleh cepat ke Arfi

“Kamu ketik satu kata ke dia aku gak mau tidur bareng kamu!”

“Aku gak akan mengirimkan apapun kalo kamu ngaku kamu cemburu” goda Arfi

“Nggak!”

Arfi terus menggoda Julia, sesekali Julia harus menahan suaranya agar tidak terdengar keras bisa menganggu Okta yang sedang beristirahat. Tanpa mereka sadari Agus memperhatikan mereka.

Bibirnya tertarik keatas kecil mengingat Gracia karena ia pun sering melakukan hal yang dilakukan oleh Arfi ke Julia kepada Gracia dulu. Ia tidak bisa menutupi kesedihannya, ia merindukan kekasihnya Gracia

Grek

Mereka menoleh ke arah pintu. Arfi dan Julia saling pandang lalu melirik ke arah Agus

“Nah geng, ini saatnya. Gue harap lo gak keberatan gue pinjem rumah lo”

****

Aku masih terdiam, ini akan menjadi lebih rumit. Diambang pintu sana berdiri Gracia dan Iwan yang datang secara bersamaan. Gracia yang melihat itu menatap Agus lalu berhambur ke pelukannya.

“Fi kita harus gimana?” Tanyaku. Arfi hanya mengindikkan bahunya

“Diem aja dulu bukan bagian kita ini”

Aku mengalihkan pandangannya ke Gracia yang kini memeluk Agus erat sambil menangis. Agus terlihat membalas pelukan Gracia pasti dia juga merindukannya. Lain sama Iwan yang sudah berada ditepi bansal Okta

“Tadi dia sempet menggerakan tangannya beberapa saat setelah itu dia kembali tidur. Ini berita baik, Bella bilang dia hanya tinggal pemulihan saja” ucap Arfi. Iwan tersenyum lalu mengelus puncak kepala Okta mengecupnya sesaat. Ah aku jadi haus kuambil air disudut ruangan lalu meneguknya. Namun airnya tidak enak membuatku mual

Hoeekk

“Eh kamu kenapa? Mual ya? Mau muntah, yuk aku anter ke kamar mandi”

“Aku gpp fi, ini airnya gak enak rasanya”

“Kamu minum air ini?” Aku menganggukkan kepala. Arfi menahan tawanya “kenapa sih?”

“Ini nih air buat pasien jelas aja kamu mual rasanya juga gak enak gak ada mineralnya tau” aku memperhatikan galonnya. Ah teledor sekali aku tidak melihat ada tulisan ‘khusus pasien’ disana. Arfi kembali terkekeh melihatku

***

Mereka berkumpul dirumah Arfi tepatnya sudah dari setengah jam yang lalu tanpa suara. Masing masing dari mereka sibuk dengan pikiran masing masing. Terlebih Gracia yang masih betah memandang Agus sedang yang dipandang hanya menatap lurus kedepan. Iwan yang terus menundukkan kepalanya serta tuan rumah pun tidak mengeluarkan suaranya

“Ehem.. jadi mau berapa lama lagi kita diam?” Arfi mengeluarkan suaranya

“Oke karena ini dirumah gue jadi gue yang duluan mulai, dilihat dari perkaranya gue mau denger dulu cerita dari Iwan..”

Iwan yang duduk disamping Arfi namun beda sofa pun mengangkat kepalanya lalu menghembuskan nafasnya

“Semua berawal sebelum kita pergi ke belanda, disitu gue mabuk, mabuk berat.. lo semua tau beban gue dikeluarga gue kaya gimana.. tanpa sepengetahuan Okta gue pergi ke bar. Gue lepaskan semua beban gue”

Semua diruangan itu menatap Iwan untuk melanjutkan ceritanya

“Gue pulang dari bar terlibat perkelahian. Gue gak sadar sama sekali. Saat itulah gue bertemu dengan Gracia..”

“Bentar deh, lo berantem diparkiran bar dan lo ketemu Gracia?” Ucap Arfi lalu beralih menatap Gracia “dan apa keperluan lo disana saat itu Gre?” Sambungnya, Gre hanya menunduk dalam

“Gue berniat melakukan hal yang sama.. saat itu gue dan Agus sedang dalam keadaan gak bagus. Disaat itulah gue melihat Iwan tergeletak dibawah, gue bawa balik kerumah selanjutnya hal yang gak gue inginkan terjadi” Gracia mulai meneteskan air matanya

“Jadi ini kecelakaan? Lalu kenapa keterusan?” Julia yang sedari tadi diam pun kini mulai membuka suaranya

“Gue hanya melakukan itu saat hubungan gue dan Agus gak lagi baik..” Gracia menatap Agus. Ia ingin bercerita secara jujur namun ragu Arfi yang melihat gelagat itu langsung membuka suaranya

“Kalo lo ingin cerita lo buka disini semua.. biar tau apa penyebabnya sampe ke akar permasalahannya”

Gracia menghembuskan nafasnya selanjutnya ia membuka pakaiannya menunjukkan bekas luka pukul dibahu, punggung dan perutnya

“Jelasin sama gue apa maksud lo” sargah Arfi. Ini membuatnya jenga dengan pandangan seperti ini. Belum lagi tatapan Julia yang tidak bersahabat dengannya

“Ini penyebab kenapa gue suka clubbing malam disaat hubungan gue gak lagi bagus sama Agus”

Arfi terlihat mengusap wajahnya kasar, Agus hanya mengalihkan pandangannya ke arah lain

“Gila! Gila! Gila!” Ucap Arfi menyandarkan tubuhnya disofa. Julia yang melihat itu menggenggam tangan Arfi memberikan ketenangan untuknya

“Gue emang kasar, gue akuin itu. Tapi semua untuk dia. Gracia ini keras kepala kalo dibilangin dan suka ngelawan itu yang bikin gue suka kalap”

Brakk

Semua terkejut saat Arfi menggebrak meja membuat beberapa minuman tumpah disana

“Tapi gak gini cara lo! Secara gak langsung lo juga yang bikin Gracia main dibelakang lo! Maksud lo baik mungkin tapi cara lo salah!” Bentak Arfi menggema ke seluruh ruangan

“Gue nyesel mukulin si Iwan kemarin kalo tau begini gue pun akan memukul lo juga Gus!”

“Arfi.. udah ih tenang ya..” Julia mengelus punggung Arfi

“Dia perempuan Gus, sekesel keselnya lo jangan sampai main tangan ke dia juga. Kalo begini lo sakit hati karena dia tidur sama temen lo sendiri? Lo nya aja yang bego juga main kasar segala ke perempuan, mana bisa terima dia meski maksud lo baik”

“Gue gak belain siapapun dan gak membenarkan siapapun. Semua ini emang ada jalannya. Lo yang kasar sama Gracia, lalu dia ketemu Iwan dan saat itu Iwan gak sadar juga mereka melakukan sampai ketauan sama kita lo salahin dia?”

“Lo juga salah Gus, lo lihat tangannya. Gracia mencoba bunuh diri saat lo pergi ninggalin dia! Gila! Dia juga punya perasaan yang sama kaya lo coy!”

“Dan lo juga Gracia, heh gingsul lo kan sadar saat Iwan mabuk kenapa lo mau?”

Gracia melihat Arfi lalu beralih menatap Agus “gue dikuasain nafsu saat itu, Iwan mengunci pergerakan gue saat itu. Otak gue berusaha menolak tapi sesuatu didalam diri gue menerimanya”

Dukk

Lagi Arfi memukul meja didepannya

“Edan coy! Yang satu tukang pukul, yang satu gila sex, yang satu nafsuan gak dikasih sama perempuannya mungkin..”

Arfi menarik nafasnya dalam berusaha menenangkan dirinya

“Dan lo wan, disaat lo sadar kenapa masih melakukannya? Lo tau kan ini salah, dan Gracia itu pacarnya temen lo! Kenapa lo masih tidur, jalan bahkan dinner sama dia!!”

“Gue lakuin itu supaya dia gak nangis terus! Gue lakukan itu semua karena Gracia selalu datang kerumah gue saat berantem sama Agus! Dan setiap dia datang dia selalu bawa luka pukul baru! Gue emang salah harusnya gue bicarakan ini sama kalian tapi Gracia menolaknya!”

“Gue emang terkesan manfaatin tubuh Gracia buat muasin nafsu gue! Tapi gue juga gak akan melakukan itu kalo Agus gak berbuat kasar sama Gracia!” Suara Iwan meninggi

“Lo udah nikmatin badan dia! Dan lo masih ingin dibilang pahlawan baginya. Lo bahkan menikmati lobang yang sama kaya gue!!” Kini Agus mulai bersuara keras

“Gue gak akan melakukan itu kalo aja dia gak dapet perlakuan kasar dari lo!! Lo egois Gus! Lo gak pernah dengerin dia! Gue gak tega sama dia dan asal lo tau setiap kali Gracia ngajak gue begitu gue selalu bikin diri gue gak sadar dengan cara minum wine!”

“Cukup!! Lo semua disini salah!!” Kini Arfi berdiri menatap kedua temannya secara sinis

“Kak…” panggilan lembut berasal dari arah pintu membuat semua yang berada disitu menoleh

“Gak usah teriak teriak, berisik udah malem tau!” Itu adalah adik perempuan Arfi ia berjalan ke arah mereka dengan santai

“Maaf bukan maksudnya nguping, tapi suara kalian kedengeran sampai kamarku. Ini mengganggu.. boleh aku berpendapat?”

Arfi kembali duduk Julia menggenggam tangannya erat. Ia takut Arfi akan lepas kontrol dan terbawa oleh emosinya

“Kamu mau berpendapat apa Rose? Silahkan”

Rose menatap satu satu wajah orang disana. Ia menatap heran pada Gracia yang melepas pakaiannya “kak, pake aja bajunya dulu..” tersadar ucapan Rose Gre langsung memakai pakaiannya kembali

“Ehem.. maaf jika anak kecil satu ini sok tau tapi sependengaranku tadi kalian ini bukan sedang diskusi dan menyelesaikan masalah”

“Kak Arfi sms aku suruh membereskan ruang tamu untuk kalian agar kalian bisa menyelesaikan masalah, kalo boleh tau sudah ada solusinya?”

Rose menatap satu satu orang disitu. Tidak ada yang bisa menjawab pertanyaan Rose satu pun

“Tidak kan, masalahnya agak sedikit complicated. Coba lihat alasan kak Gre melakukan hal yang salah, karena bang Agus juga memperlakukan hal yang salah bukan?” Rose menoleh ke arah Agus sedang yang ditatap hanya menganggukkan kepala nunduk

“Semua ini berakar dari bang Agus, perbuatan kak Gre dan bang Iwan daun dan batangnya sedangkan hasil perbuatan mereka adalah buahnya, mengerti kan maksudku?”

“Rose, bisa lebih ringkas gak ngejelasinnya langsung aja ke titik masalahnya” sargah Arfi yang mungkin sudah jengah dengan penjelasan Rose yang menurutnya berbelit belit

“Kakakku sayang, ini masalah complicated gak bisa sesimple itu menyelesaikannya, bukannya tadi kakak bilang sendiri harus diselesaikan dari akarnya” Rose tersenyum ke arah Arfi, ia menghembuskan nafasnya “teruskan..”

“Seperti tadi aku bilang akar masalah ini bang Agus, bang Agus mempeelakukan hal yang salah ke kak Gre, maksudku salah! ya, dalam beberapa hal”

Rose menjeda ucapannya ia menatap Agus dan Gre bergantian

“Kak Gre, kakak pasti gak asing dengan obat seperti ini kan?”

Rose mengeluarkan beberapa sample obat dari dalam saku jaketnya. Obat perangsang wanita dalam beberapa jenis

“Kamu dapet obat ini dari mana dek?” Tanya Julia melihat obat itu.

Sudah pasti bukan hal asing lagi bagi Julia obat seperti ini mengingat dia dulu pernah menggunakannya juga untuk klientnya. Sulit baginya membangkitkan gairah sex nya tanpa obat ini terlebih dalam semalam ia harus melayani 2 sampai 3 pelanggan

“Tanya sama bang Agus deh, merasa ketinggalan sesuatu saat pulang dari belanda?” Jawab Rose

Semua diruangan itu menatap Agus kecuali Iwan. Memang Iwan sudah banyak tau tentang kehidupan Gracia bersama Agus seperti apa

“Gus..”

“Oke oke gue jujur, gue gunain obat ini untuk Gracia. Nafsu gue emang besar untuk itu gue gunain ini supaya Gracia bisa ngimbangin nafsu gue”

Arfi menatap tidak percaya pada Agus. Dia pikir hanya Agus yang tidak bermasalah disini ternyata pikirannya keliru. Agus justru penyebab disini

“Dan karena terbiasa mengkonsumsi obat seperti ini kak Gracia tanpa bang Agus…… yah kalian bisa tebak kan apa selanjutnya yang terjadi”

Arfi menggelengkan kepalanya tidak menyangka separah ini teman temannya

“Lucu sih, awal cerita orang mabuk bertemu dengan orang pecandu obat rangsangan. Well, sama sama horny kan? Jika sudah begini siapa yang mau disalahkan?” Rose menyenderkan tubuhnya disofa “kalian yang semua salah! Solusinya hanya satu. Saling memaafkan”

“Nggak! Ini gue yang salah, gue salah sama lo Gus, oke saat mabuk mungkin bisa makluminlah, tapi saat sadar pun gue melakukannya. Gue minta maaf sama lo atas semua kesalahan gue, gue gak bermaksud selingkuh dengan Gracia, Gus. Lo boleh hukum gue” ujar Iwan berjalan menghampiri Agus dan duduk bersimpuh dibawahnya

“Katakan apa yang perlu gue lakukan untuk menebus kesalahan gue”

“Sudah sudah.. kalian terlalu banyak drama. Bang Iwan juga simpan maafnya untuk Okta juga nanti, karena dia korban dari perbuatan kalian semua. Bang Iwan salah karena tidak terbuka dengan sahabat bang Iwan yang lainnya dan memanfaatkan Gracia untuk melampiaskan nafsu bang Iwan.. meski bang Iwan melakukannya dengan kak Gre tapi perasaan dan pikiran bang Iwan berandai saat itu adalah tubuh Okta kan?”

“Ah iya, bahkan saat kami melakukan itu Iwan berkata ‘kakak mencintai kamu Okta’ begitu” Gre kembali bersuara

“See, ini bukan perselingkuhan namanya kalian kan tanpa menggunakan perasaan. Sedekat apapun kak Gre dengan Bang Iwan dia tidak bisa menghapus keberadaan bang Agus dalam hatinya”

Agus menoleh ke arah Gracia. Kembali Gracia meneteskan air matanya. Perlahan Agus menghapus air mata yang menetes dipipi Gre selanjutnya Gre berhambur memeluk tubuh Agus. Memeluknya dengan erat

“Maafin aku ya, udah ninggalin kamu” Ucap Agus, Gracia menggeleng kuat.

“Aku yang salah, ini salah aku mengkhianati kamu.. ini salah aku”

Mereka saling berpelukan setelahnya. Rose memijit kepalanya, ia merasa ditengah tengah orang aneh yang labil sebelumnya mereka saling lempar kesalahan kini mereka saling mengakui kesalahan

“Cukup! Kalian berdua juga salah! Hubungan kalian itu tanpa komunikasi yang baik! Kalian tau itu!” Rose berkata sedikit keras menghentikan perdebatan Agus dan Gre yang saling mengakui kesalahan diantara mereka

“Kak Gre gak pernah ngasih tau apa yang kak Gre mau dari bang Agus, bang Agus merasa perbuatannya selama ini juga benar dan diterima kak Gre dia lakukan terus itu masalah kalian!” Gre dan Agus saling pandang lalu tersenyum bersama. Lagi membuat Rose memijit kepalanya.

“Sabar ya dek, mereka emang begitu.. paling gak mereka udah baikan sekarang” Julia meletakkan tangannya dibahu Rose dibalas dengan senyum olehnya

“Terus gue gimana?” Semua menoleh ke arah Iwan. Iwan sedari tadi duduk bersimpuh tanpa bergeming hanya menyaksikan sepasang kekasih sudah berbaikan. Agus menatap Iwan dengan senyum

“Setelah yang diucapkan oleh Rose ini, gue sadar lo gak sepenuhnya salah. Kita semua salah…”

“Ehem.. gue, istri gue dan Adik gue nggak ya” Arfi memotong ucapan Agus

“Oke gue ralat, lo gak sepenuhnya salah, hanya kita bertiga yang salah lo, gue dan Gracia.. ya kan fi”

Arfi mengangkat alisnya satu lalu jempolnya ke udara

“Anggep ini gak pernah terjadi, selanjutnya gue akan ubah sikap gue” Agus mengambil botol obat perangsang itu, meremasnya dengan erat seketika pecahlah botol itu

“Gue akan terima Gracia apa adanya, gue gak akan maksain kehendak gue sama dia.. cukup bagi gue karena gue dia berbuat kesalahan”

Agus berbalik menatap Gracia “kita perbaiki semuanya, mulai dari awal. Kita juga harus memperbaiki komunikasi kita seperti yang diucapkan Rose” Agus memeluk kembali Gracia. Tangis Gracia pecah dipelukan Agus. Sebesar kesalahan apapun jika dihadapi dengan kepala dingin akan selesai

***

Aku bernafas lega mereka bisa berpelukan didepan mataku. Senyumku mengembang namun Iwan masih enggan sepertinya bangun dari duduknya yang bersimpuh itu

“Wan lo ngapain sih dibawah?”

Iwan menoleh kearahku “gue masih merasa bersalah Jul”

“Ya lo bersalah karena pernah bentak dia juga, sebagai hukumannya lo harus bersihin ini nih obat perangsang yang dilantai rumah gue, now!” Sargah Arfi.

Iwan hendak bangkit dengan misuh misuh gak jelas namun Agus menahannya. Ia bangkit berdiri lalu memeluk Iwan. Setelah sekian lama aku tidak pernah melihat mereka seperti ini lagi

“Gus, udah.. kaya homo kita pelukan lama lama gini” Agus melepas pelukannya

“Kenapa? Gue juga punya lobang kaya Gracia.. lo gak mau nyobain lobang gue” Iwan bergidik mendengar itu lalu ngibrit lari ke dapur. Melihat itu kami semua tertawa

Kini kami berada di taman belakang rumah Arfi. Agus dengan Gracia seperti pasangan baru mereka saling pelukan dan gandengan. Kemarin aja berantem dasar-_- tapi gpp itu membuatku senang setidaknya keadaan menjadi baik

“Fi..”

“Ya?”

“Rose ngapain itu?” Tanyaku melihat Rose duduk sendiri ditepi kolam sambil menatap layar hapenya

“Lagi vidcall kali dia”

“Sama pacarnya?” Arfi menoleh cepat ke arahku

“Emang Rose udah punya pacar?” Yeh dia malah nanya-_- yang yang jadi abangnya situ gimana sih. Aku menggidikkan bahuku

“Lihat yuk” kemudian Arfi menggandeng tanganku berjalan pelan kearah Rose yang sedang senyum senyum sendiri

“Ssttt…” Arfi menberi isyarat dengan menempelkan jari telunjuknya didepan mulutnya. Kalau dilihat seperti kurang kerjaan sih ini ngumpet dibalik pohonan menguping pembicaraan seseorang

“Nggak bisa sayang, mungkin minggu depan aku baru akan kembali ke belanda”

“Well, itu akan jadi waktu yang panjang tanpamu. Jaga diri kamu baik baik ya Dianaku”

“Cih.. Dianaku dia bilang” desis Arfi namun aku tidak memperdulikannya.

Ku tajamkan pendengaranku lagi, sepertinya aku berbakat menjadi detektif nih. Oke panggil aku Julia sang detektif yang memiliki keahlian menguping . Wah panjang sekali namaku

“Kamu jangan ganjen disana yaa, awas loh!”

“Bagaimana bisa? Harusnya aku ikut kamu ke indo menemui abangku, apa dia masih bodoh seperti dulu”

“Abangmu kena skandal disini tau”

“Really? Sudah sepintar itukah dia sekarang. Aku tidak sabar melihat wajah bodohnya saat kukalahkan ia dalam sebuah game fifa”

“Aww..” aku menoleh kebelakang Arfi meringis kakinya terkena duri tajam

“Kamu ngapain sih lagian”

“Aku mau geser ini pohonannya ganggu banget sih”

“Udah sih diem sini nunduk lagi dengerin Rose lagi ngomong tuh” tapi saat aku menoleh ke arah dimana Rose tadi berada ia sudah tidak ada. Loh kemana dia, apa dia hantu yang menyamar

“Kalian lagi ngapain heh 2 curut kebon?!”

“Wadaw..”

Jdug

“Aduh Arfi sakit ih”

Sebuah suara mengagetkan kami, Arfi yang kaget spontan mengangkat tangannya membuat daguku harus bertabrakan dengan sikutnya. Sakit sumpah! Aku menoleh kebelakang, lalu tersenyum seperti kuda liar melihat Rose sudah dibelakang kami berkacak pinggang menatap kami sinis

Arfi lebih berdiri lebih dulu dariku. Sialan aku yang jatuh gak dibangunin duluan. Suami laknat!

“Kamu udah punya pacar?”

“Emangnya kenapa?”

“Jawab dulu pertanyaan kakak”

“Kalo iya kenapa?”

“Kenapa kamu gak pernah cerita ke kakak?”

“Bukannya nggak tapi belum. Gimana mau cerita Octa kembali kesini kalian sudah ribut duluan kan?”

“Siapa pacar kamu?”

“Nanti juga kakak tau! Bye wleek”

“Heh!!” Namun Rose tidak menggubrisnya ia terus melangkah hingga hilang dibalik tembok

“Sudahlah fi, balik aja yuk ke mereka tuh” Arfi menggandeng tanganku menuju dimana Agus, Gracia dan Iwan mengobrol.

Sejenak aku melihat mereka seperti tidak ada masalah sebelumnya. Agus yang kembali membully Iwan dan Iwan hanya menatap malas ke Agus. Keadaan benar benar seperti semula. Kuharap akan seperti ini seterusnya.

Namun, aku belum bisa bernafas lega karena Okta masid di rawat dirumah sakit dan kami harus memikirkan cara bagaimana menjelaskan ke Okta nanti

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48