Tentang Kita Part 23

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 23 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 22

Hoeekkk hoeekkk

Pagiku buruk, selalu begitu. Beberapa hari ini pagiku selalu buruk. Aku merasa mual dan mengeluarkan semua isi perutku dipagi hari

“Sayang, kamu kenapa?” Arfi yang datang mengurut leherku. Aku berbalik memeluknya

“Kamu mual ya? Kita ke dokter ya” aku tidak membantah ucapan Arfi. Usia kandunganku menginjak 4 bulan dan aku baru merasakan keanehannya sekarang

Begitu dirumah sakit, aku memeriksakan kandunganku. Bayiku sehat, dia aktif didalam setidaknya itu yang dikatakan dokter karena aku tidak merasakan pergerakan apapun

“Lihat deh, dia masih sangat kecil.. dia calon anak kita” bisik Arfi disebelahku sambil memegang tanganku. Aku tersenyum melihat layar usg disebelah kiriku

“Selamat ya, dia sehat terus kok dari terakhir kali kalian periksain kesini dia makin membesar. Ini kabar yang bagus bukan?” Ucap dokter kandungan yang bernama Shinta, dia juga teman Arfi. Huh! Kenapa sih temennya banyakan wanita-_-

“Eh shin, lu gak punya obat buat ngilangin mual mualnya gitu?” Ujar Arfi

“Itu wajar terjadi sama ibu hamil diusia kehamilannya 4 bulan”

“Tapi istri gue kalo makan langsung muntah baru 2 suap”

Shinta menatapku yang terbaring dibansal lalu beralih ke Arfi

“Tapi susu kemarin gue kasih masih ada kan?”

Arfi mengangguk. Shinta berjalan ke arahku dia tersenyum

“Minum susu aja kalo emang gak bisa masuk makanan. Gak harus sekaligus seteguk seteguk aja gpp”

Selesai cek up kandunganku, kami memutuskan untuk pulang. Sebenarnya Arfi mengajakku ke suatu tempat namun aku menolaknya. Aku hanya ingin pulang, tubuhku terasa lemas karena memang beberapa hari belakangan ini nafsu makanku sangat turun bahkan mencium aroma masakan saja aku bisa mual

Aku duduk dikasurku sambul bersandar begitu sampai dirumah

Klek

Aku menoleh ke arah pintu

“Kamu mau apa? Makanan? Atau minuman biar aku beliin” tawar Arfi tapi aku menggelengkan kepala

“Arfi sinian, mau peluk” Arfi memelukku entah kenapa aku ingin didekatnya sekarang. Ku cium pipi kirinya membuat dia terkekeh

“Manja banget sih” aku tidak memperdulikan ucapannya. Aku menyandarkan kepalaku dibahunya menghirup dalam dalam aroma tubuhnya. Ku buka kancing kemejanya satu persatu, Arfi menahan tanganku

“Kamu gak usah kerja hari ini, temenin aku” ujarku mengeratkan pelukanku dilengannya. Arfi menoleh padaku tersenyum

“Ini sih bukan bawaan bayi ya tapi emang mamahnya yang manjaan” ucap Arfi. Ia meraih hapenya dinakas dan menghubungi seseorang aku masih betah memeluk lengannya

“Hallo Vivi, hari ini gue gak bisa masuk. Kerjaan gue lo handle dulu ya berdua sama Kevin”

Wanita lagi hih!

“….”

“Hmm.. nanti gue kirim lewat email deh ya”

“….”

“Oke thanks yaa..”

Arfi meletakkan hapenya dinakas lalu mengelus puncak kepalaku lalu melepas pelukanku. Ia berjalan ke lemari mengambil laptopnya lalu melakukan sesuatu disana. Aku yang melihatnya hanya merengut kesal. Bisa bisanya dia masih mementingkan pekerjaannya dibanding istrinya. Aku berbaring dan memunggunginya. Kzl!

“Sayang, kamu udah bobo” ucap Arfi pelan dikupingku. Aku menoleh padanya

“Ngapain?!” Ujarku ketus dapat kulihat wajahnya terkejut selanjutnya dia tersenyum

“Tadi aku kirim email dulu sayang, biar Vivi bisa handle kerjaan aku hari ini” ucapnya lembut namun aku masih sebal dengannya

“Gak usah! Kamu kerja aja sana! Aku gak butuh kamu! Kamu lebih pentingin kerjaan dibanding aku!”

Aku menutup seluruh wajahku dengan selimut. Kurasakan sesuatu menyentuh kulit tubuhku, ku toleh belakang

“Ngapain kamu?”

“Mau meluk kamu”

“Peluk aja laptop kamu tuh!” Aku berbalik lagi namun sepasang tangan memelukku dari belakang. Aku tau itu Arfi, dia menciumi leher belakangku

“Shhh.. Arfii” Arfi terkekeh kali ini aku tidak menolak pelukannya

“Peluk lebih erat dong” ujarku

“Maafin aku tadi ya, jangan marah lagi ya” Arfi mengecup pipiku sekilas aku berbalik menghadapnya

“Mau peluk” aku merentangkan tanganku membuat Arfi terkekeh detik berikutnya ia memelukku.

Aku dapat merasakan kasih sayang Arfi begitu besar padaku seringkali aku membuatnya kerepotan karena permintaan dan ulahku yang aneh aneh. Sejujurnya aku nggak tega jika dia harus menuruti keinginanku yang aneh aneh

“Aduh duh..”

“Eh? Kamu kenapa? Sakit ya? Keteken ya perut kamu.. maaf maaf yaa, mana yang sakit” Aku terkekeh melihat wajah panik Arfi. Dia yang melihatku tertawa kecil mengerutkan dahinya

“Aku gpp sayang, cuma dada ku jadi agak sensitif” Arfi menatapku malas mendengar ucapanku.

Ku cubit kedua pipinya gemas ia meringis kesakitan sambil mengelus elus kedua pipinya membuatku makin gemas melihatnya ku acak rambutnya asal

“Kamu jadi kaya mamah aku aja deh ah” ia menjauhkan kepalanya dari tanganku “abis kamu lucu fi, gemesin banget sih.. sini cium dulu” Arfi tersenyum lalu mendekatkan wajahnya

Aku mencium bibirnya, Arfi melumat bibirku dengan lembut. Aku tersenyum dalam ciuman kami

“Fi..”

“Hmm” aku menatap manik mata Arfi. Matanya tajam penuh dengan kelembutan saat menatapku, pandangan yang selalu mencurahkan kasih sayang untukku. Betapa beruntungnya aku dimilikinya

“Kenapa?” Tanya Arfi lagi melihatku yang tidak membuka suara lagi

“Aku mau..” Arfi mengerutkan alisnya, ku sentuh bibirnya dengan telunjukku membelai pipinya lembut lalu Arfi tersenyum

“Emang gpp?” Tanyanya. Aku tau ia mengkhawatirkanku dan anak dalam kandunganku

“Gpp, dokter Shinta juga bilang itu legal kok” Arfi tertawa pelan dengan jarak sedekat ini aku bisa merasakan hembusan nafasnya.

Ia lalu membaringkan tubuhku perlahan, mencium bibirku kembali dengan lembut, ku kalungkan kedua tanganku dileher Arfi guna memperdalam ciuman kami. Ciuman Arfi perlahan turun ke leherku, kurasa ia meninggalkan bekas disana. Puas menciumiku ia mulai membuka kaos yang ku kenakan.

Arfi meremas dadaku dengan lenbut sambil mencium kembali bibirku. Desahanku beberapa kali lolos begitu saja dari mulutku

“Love you..” bisiknya dikupingku

“I love you too…”

Kami sama sama tersenyum, kurasakan sesuatu masuk secara perlahan dibawah sana. Bahkan saat sedang dikuasai oleh nafsu pun Arfi tetap memperlakukanku dengan lembut, ia juga menahan beban tubuhnya saat diatasku agar tidak menindih tubuhku. Aku memang menginginkannya, merindukan sentuhan lembutnya yang memabukkan dan siang itu kami melakukannya kembali

***

Klek

“Ini ketoprak yang kamu mau” Arfi duduk ditepi kasur sambil menenteng bungkusan berisi ketoprak yang aku inginkan. Aku menatapnya sebentar lalu Arfi menghembuskan nafasnya

“Yang diperempatan, cabenya langsung dari pohon dipetik 4 buah, tahunya tanpa kulit. Udah ya mau makan sendiri apa aku suapin?” Aku terkekeh menahan tawaku. Wajahnya terlihat kelelahan

“Suapin dong, sayang aku kan?”

Arfi mengangguk lalu keluar kamar dan kembali membawa piring dan sendok. Membuka bungkus ketopraknya lalu menyuapkan satu suapan ke mulutku

“Enak?” Aku menganggukkan kepala. Lagi Arfi menyuapkan ketoprak ke mulutku begitu terus hingga habis setengah

“Udah fi.. aku kenyang”

“Sedikit lagi sayang”

“Aku kenyaaaangg” Arfi menghembuskan nafasnya lalu meletakkan piringnya dinakas selanjutnya ia memberikanku segelas air putih. Uh suami yang baik banget sih. Aku tersenyum menatapnya, rambutnya mulai memanjang terlebih rambut cambangnya mulai melebihi kupingnya, kalo dilihat jadi kaya anak band metal

Klek

Aku menoleh ke arah pintu. Rupanua Rose yang masuk membawa segelas susu putih yang kutebak itu pasti untukku

“Kak, susunya diminum nih masih anget biar dedenya gak kedinginan”

Aku tersenyum lalu mengambil susu itu dan meminumnya sedikit. Ku perhatikan kedua kakak beradik ini

“Kenapa kamu lihatin aku begitu?” Tanya Arfi

“Kalian kembar ya? Kok mirip banget sih”

Mereka saling pandang “kak Julia ngaco ah” ujar Rose mwmbuatku tertawa pelan

“Beneran, selain wajah kalian memiliki mata, alis dan bibir yang hampir serupa, selain itu rambut kalian juga mirip..” lagi mereka saling pandang

“Kok gue jadi berasa diperempuanin sih sama bini gue sendiri” aku tertawa mendengarnya sedangkan Rose hanya diam menatapku. Disela ku tertawa suara bel rumah berbunyi

“Biar Rose aja yang buka” ia langsung beranjak dari duduknya pergi membukakan pintu

“Fi udah nih susunya”

“Abisin dong sayang”

“Gak mau, aku maunya peluk” aku merentangkan tanganku setelah meletakkan gelas susuku dinakas

“Mulai deh manjanya” Arfi beralih ke sebelahku tanpa menunggu lama aku langsung memeluknya dengan erat

Klek

“Aduh.. Maaf Rose ganggu.. ada tamu dibawah kak” aku melepas pelukanku

“Siapa?”

“Bang Iwan”

Aku menoleh ke Arfi tatapannya berubah menjadi tajam. Ku eratkan genggaman tanganku padanya. Jika sudah begini aku takut padanya, Arfi bukan orang yang mudah mengontrol emosinya

“Aku kebawah dulu ya” saat Arfi akan beranjak aku menahan tangannya

“Aku ikut” Arfi menatapku sekilas lalu mengangguk

Dibawah Iwan sudah duduk disofa ruang tamu ditemani segelas teh yang dibuat oleh Rose

“Ngapain lu kesini lagi?” Ujar Arfi ketus

“Fi, gue butuh bantuan lo” ujar Iwan. Arfi menatap Iwan dalam

“Butuh bantuan gue?”

“Oke kesalahan gue emang fatal, gue tau gue gak patut dimaafin sama kalian. Tapi please kali ini aja tolongin gue..”

Arfi masih menatap Iwan sinis tatapannya tidak lagi penuh amarah seperti dulu tapi disana masih ada rasa kecewa aku yakin itu

“Julia..” aku menoleh ke Iwan yang menatapku seolah memohon lalu aku beralih ke Arfi

“Gue…” hape Iwan berdering. Ia beranjak menjauh mengangkat panggilan masuk

“Apa?! Okta dirumah sakit?? Dimana rumah sakitnya!! Kirimin gue lewat sms!!” Aku dan Arfi terkejut saat mendengar Okta dirumah sakit. Apa yang terjadi dengannya. Kenapa masalah ini semakin rumit. Apa Okta sudah mengetahui semuanya? Iwan berbalik “gue harus pergi”

“Wan..” panggil Arfi, Iwan berbalik

“Apa?”

“Gue ikut”

***

Aku tidak melepas genggamanku pada Arfi. Kami bertiga berjalan dilorong rumah sakit menuju ruangan tempat Okta dirawat. Sampai disana sudah ada beberapa teman Okta dan kedua orang tua Okta

“Iwan.. Okta wan…Okta..” seorang wanita paruh baya memeluk Iwan dalam tangisnya. Itu pasti ibunya Okta, aku mendongakkan kepalaku melihat sebuah tulisan diatas pintu ruang rawat Okta yang bertuliskan UGD. Apa yang terjadi dengan Okta, kenapa dia bisa sampai dirawat diruangan ini

“Nak, kami gak tau apa yang terjadi pada Okta, dia menjadi pemurung dan berdiam diri saat kami tanyakan, ia tidak ingin makan dan tadi sore kami kekamarnya ia sudah tergeletak dilantai dengan mulur berbusa” ujar seorang pria paruh baya Ayahnya Okta

“Bagaimana keadaan Okta?” Ucap seseorang disebelahku secara tiba tiba

“Ngapain lu kesini?” Ujar Arfi ketus

“Arfi..” ucapku memperingatkannya.

Arfi menghembuskan nafasnya kasar. Wanita itu adalah Gracia, dia juga datang. Aku hanya tidak ingin terjadi kegaduhan disini terlebih kurasa kedua orang tua Okta tidak tau apa yang terjadi sebenarnya

Dokter keluar dari ruang rawat Okta kami semua berdiri

“Gimana keadaannya dok?”

“Pasien mengalami koma. Untuk sementara waktu tidak bisa dibesuk dulu kami akan menjalani perawatan intensif untuk pasien”

Kulihat Iwan bersandar pada tembok lemas, kakinya gemetar dan matanya mengeluarkan air mata. Ada penyesalan terdalam disana. Aku menoleh ke Arfi yang duduk disebelahku

“Kenapa?” Tanyanya, aku hanya menggelengkan kepala.

Pandanganku beralih pada Gre yang duduk didepanku. Keadaannya tidak lebih baik dari Iwan, kantung matanya yang besar dan menghitam menandakan ia kurang istirahat. Matanya memerah dan menangis tanpa suara.

Masalah ini semakin sulit terlebih Arfi yang biasanya menjadi penengah disaat teman temannya memiliki masalah pun kini hanya diam acuh. Ku hampiri Gre mengelus punggung belakangnya, ia menoleh padaku sekilas

“Ini salah gue, gue yang bikin Okta begini.. kalo aja waktu itu gue nggak–”

“Ssttt… iya iya gue tau gak usah diomongin disini. Kayanya orang tua Okta belum tau soal ini.. Nanti gue coba bicarain ini sama Arfi kita cari solusinya sama sama”

Gre menatapku lalu memelukku “Thanks ya lo mau bantu gue. Gue terpuruk kalian jauhin gue semua, kalo emang kalian gak menerima maaf gue paling gak terima penyesalan gue”

Gre melepas pelukannya aku menatapnya. Rasa penyesalan yang mendalam terlihat jelas dimatanya, sorot matanya yang dulu lembut bahkan Gre memiliki mata yang indah saat tersenyum menurutku tapi kini mata itu penuh dengan air mata, ia menangis namun tidak ada lagi air mata yang keluar disana

“Tenangin diri lo dulu, semua masalah pasti ada jalan keluarnya. Sekarang kita mikirin Okta dulu, gue rasa itu lebih penting saat ini”

“Okta udah tau semua ini?” Ucap seseorang dengan suara yang familiar bagiku. aku mendongakan kepalaku melihat Arfi yang menatap Gre dingin.

Ku edarkan pandanganku ke sekeliling. Orang tua Okta berada cukup jauh dari kami. Serta Iwan yang masih duduk dibawah menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Gre menganggukkan kepalanya

“Kalian menceritakannya?” Suara Arfi meninggi dan lagi Gre menganggukkan kepalanya. Aku sempat tidak percaya dengan pengakuan Gre, kenapa dia memberitahukan ini pada Okta, baik Okta memang sudah tau sejak malam terakhir dirumah Gre, tapi saat itu kan Iwan gak ngaku kalo dia selingkuh sama Gre. Aduh jadi rumit gini

“Kami pikir kejujuran akan membuat masalah menjadi kondusif” ujar Gre pelan. Arfi menggelengkan kepalanya

“Sebodoh itu pemikiran kalian? Ah ya kalo tidak bodoh tentu kalian tidak dalam masalah serumit ini”

“Arfi..!” Ucapku memperingatkannya aku takut bila orang tua Okta sampai mendengar pembicaraan kami. Kulirik Iwan menghampiri kami

“Ikut gue fi” Awalnya Arfi tidak ingin menuruti kemuan Iwan namun aku memberinya kode untuk mengiyakan ajakan Iwan akhirnya dia pergi bersama Iwan.

Ku tarik nafas dalam dalam lalu menghembuskannya. Ini pasti masalah rumit, satu hal yang mengganjal pikiranku adalah apabila Okta sadar nanti apa dia akan menceritakan semua masalah ini pada kedua orang tuanya. Kulihat Gre disebelahku, tatapannya kosong ke bawah rambutnya yang berantak dan ada bekas sayatan ditangannya. Heh? Apa dia coba bunuh diri?

“Gre, kasih tau sama gue kalo itu bukan bekas sayatan diurat nadi lo” Gre menganggukkan kepalanya.

Ini sih gila namanya, kenapa kalian gak mati aja sekalian berdua. Apa apa bunuh diri selemah itu kalian menghadapi dunia, ah payah! Banyak orang yang tidak menciptakan masalah tapi hidupnya dalam masalah seperti contohnya hidupku dulu sebelum kenal Arfi. Tapi aku tidak selemah itu sampai berpikir menghabiskan nyawaku sendiri

Gak lama Arfi bersama Iwan datang “ayo kita pulang” Arfi meraih tanganku

“Tunggu, Gre gimana?” Arfi menatapku

“Ada Iwan, bukannya dia yang bertanggung jawab atas dia sekarang?” Ujar Arfi dingin. Kulihat Iwan, astaga itu kenapa muka jadi biru biru begitu, bibirnya berdarah dan sebelah matanya sembab. Ini pasti mereka berkelahi tadi.

***

Sampai dirumah aku meminum jus jambuku, diperjalanan aku meminta Arfi untuk membeli jus jambu dulu untung aja masih ada yang buka karena ini hampir tengah malam

“Kamu tadi berantem sama Iwan?” Arfi menoleh padaku lalu menggelengkan kepalanya

“Kok Iwan mukanya jadi bengep bengep gitu”

“Sejak kapan kamu perduli sama Iwan?” Eh? Aku tercekat mendengarnya apalagi ia kini menatapku sinis “aku gak berantem sama dia, tapi dia yang minta aku mukulin dia” sambungnya. Lah kocak juga, baru tau aku ada orang yang minta dipukulin

Ku habiskan jusku, lalu menyusul Arfi ke kasur. Meski terlihat acuh tapi ia tetap memikirkan temannya, terbukti sekarang pandangannya kosong kedepan bahkan saat aku sudah disisinya sekalipun

“Fi..” Arfi menoleh padaku mengecup lembut puncak kepalaku

“Bobo yuk, aku ngantuk” Arfi membaringkan tubuhnya yang semula dia duduk bersandar kini ia sudah terbaring. Aku meletakkan kepalaku diatas dadanya mendengar detak jantungnya adalah lagu pengiring tidur bagiku. Tangan sebelahnya memelukku yang sebelahnya menggenggam tangan kiriku.

“Goodnight have a nice dream dear” bisiknya. Aku mendongakkan kepalaku sedikit usaha ku kecup bibirnya sebentar

“Goodnight too my tiger” ia tersenyum, kembali ku sandarkan kepalaku didadanya dan memejamkan mataku

***

Seorang pria terus menggenggam tangan pasien wanita yang terbaring dibansal. Tangannya terdapat selang infus serta dihidungnya pun tak luput dari infus. Wajah wanita tersebut pucat, bibirnya pucat dan matanya yang menghitam terpejam rapat

“Sayang.. bangun, maafin aku. Aku janji gak akan bohongin kamu lagi apapun yang kamu mau pasti aku turutin” Pria itu terus menatap nanar wanitanya yang terbaring lemah.

Pria itu bernama Iwan, air matanya menetes melihat wanitanya tak kunjung membuka matanya. Ini adalah hari ketiganya setelah ia dirawat dirumah sakit ini. Seorang pria masuk lalu menghampirinya

“Gimana keadaannya?” Tanya pria tersebut. Iwan menggelengkan kepalanya. Pria itu berjalan kesisi lain bansal tersebut menatap wanita yang sedang berbaring lemah disana

“Dia dalam keadaan pemulihan, kekebalan tubuhnya sedang berjuang melawan sisa racun ditubuhnya untuk itu ia perlu istirahat.. bersabarlah”

Pria yang menghampiri Iwan menatap nanar sahabatnya. Tatapannya begitu dingin namun terdapat kehawatiran disana

“Fi.. thanks” ucap Iwan lirih. Pria tersebut tidak lain adalah Arfi

“Nope! Gue lakukan ini untuk Okta” Arfi menoleh kembali ke Okta lalu membelai lembut poni Okta “saat lo pukul gue karena gue ninggalin Julia saat itu juga gue sadar sebrengsek apa gue”

“Dan kemarin gue harusnya mukul lo lebih keras lagi karena lo udah lebih brengsek daripada gue. Setelah Okta sadar nanti, gue harap dia memaafkan kesalahan yang lo perbuat”

Arfi pergi meninggalkan Iwan yang termenung dengan ucapan Arfi. Ia mengecup kening Okta. Ia tidak berharap Okta akan menerimanya kembali cukup hanya melihatnya tersenyum dan kembali ceria sudah cukup baginya meski ia tidak akan menunjukkan wajahnya kembali didepan Okta jika Okta menginginkan itu

Dilain tempat Julia sedang bersiap untuk pergi kesuatu tempat yang sudah ia janjikan dengan seseorang. Menggunakan kacamata hitam, jaket dan topinya ia keluar rumah menggunakan taksi online yang sudah dipesannya. Didalam mobil ia menghubungi seseorang

“Hallo fi, aku udah dalam perjalanan. Kamu ada waktu buat nyusul?”

“…”

“Oke deh gpp, nanti aku sampaikan apa yang aku bicarakan

“…”

“Love you too”

Ia menaruh kembali hapenya ditas

***

Dikantor Arfi disibukkan oleh beberapa dokumen dan berkas yang perlu ia tanda tangani dan ia perhitungkan. Sesekali dahinya mengkerut lalu mengecek agendanya. Ditengah kesibukannya pintu ruangannya diketuk 3 kali

“Masuk..”

Masuk seorang wanita berambut panjang, kulitnya putih dan cantik. Ia adalah Gracia salah satu sekretaris dikantor Arfi. Gracia atau biasa dipanggil Gre duduk dikursi depan Arfi

“Ada apa?”

“Gimana keadaan Okta?”

“Bahkan gue gak inget kapan lo pernah besuk dia dan sekarang lo nanya keadaannya?”

“Fi, gue udah besuk dia tapi suster sana bilang ia dipindahkan ke rumah sakit lain”

“Sudah cukup lama ia dipindahkan, lalu kenapa baru sekarang lu tanyain dia?”

Gracia membuang pandangannya ke arah lain menghindari tatapan Arfi. Ia hembuskan nafasnya lalu beralih kembali menatap Arfi

“Gue mohon kasih tau gue dimana dia dirawat”

“Gimana kalo lo nanya Iwan?” Gracia cukup terkejut dengan pernyataan Arfi

“Gue gak pernah berhubungan lagi dengannya sejak itu”

“Kalo begitu lo gak akan dapet apa apa dari gue. Pintu keluarnya sebelah sana, silahkan nona Gracia..”

“Fi, gue mohon..” tangan Gracia mencengkram pergelangan tangan Arfi.

Ia melihat banyak goresan dikulit tangan Gracia ‘apa Gracia juga mencoba membunuh dirinya. Apa yang harus gue katakan sama Agus nanti kalo terjadi apa apa sama Gracia.. astaga gue harus apa’ batin Arfi. Gracia menatap Arfi memohon. Arfi menarik nafasnya lalu disandarkan tubuhnya dikursinya

“Oke. Pulang kantor lo ikut gue”

Sedikit senyum terukir dibibir Gracia memperlihatkan gigi gingsulnya yang manis

“Thanks ya.. eum..” Arfi menatap Gracia menunggu ia meneruskan ucapannya

“Julia bilang kalo lo dan Jul–”

“Ya gue akan selesaikan masalah kalian. Bukan! Gue cuma penengah kalian aja”

Gre kembali tersenyum namun kali ini sangat tipis. Selanjutnya ia pamit keluar dari ruangan Arfi. Helaan nafas terdengar dari Arfi, ia memijit keningnya entah apa yang harus ia lakukan. Ini begitu rumit baginya

“Padahal gue orangnya gak suka repot tapo kenapa gue selalu direpotin sih” monolog Arfi sambil menyenderkan tubuhnya dikursi kebesarannya

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48