Tentang Kita Part 22

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 22 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 21

Dirumah malam harinya aku bersama Arfi sedang bersantai setelah mengalami kejadian yang cukup berat hari ini. Arfi tiduran dipahaku dan aku bersandar ditempat tidur sambil mengelus kepala Arfi.

“Julia…”

Aku menoleh kebawah “Apa sayang?”

“Kalau aku ada salah, katakan. Atau hal yang gak kamu suka dari aku entah itu sikap atau perbuatan katakan aja” ku tatap manik mata Arfi aku bisa melihat rasa ketakutan kehilangan yang dalam disana. Aku tersenyum menatapnya lalu mengecup sekilas keningnya

“Manusia gak ada yang sempurna, aku pun sama. Tapi bagaimana kita mensikapi kekurangan dari pasangan kita sendiri”

Arfi bangkit tiba tiba lalu menatapku “aku gak ingin kehilangan kamu dan membuat kamu pergi lagi karena sikap dan kesalahanku”

Aku menangkup kedua pipinya lalu tersenyum “sejauh apa aku pergi, hatiku selalu tertinggal disini. Jika aku pergi hanya ragaku bukan hati dan jiwaku”

“Akan lebih baik jika kamu terus bersamaku sepanjang hari. Aku tidak lagi terbiasa dengan kesendirian saat ada kamu disampingku”

“Bagaimana aku tanpa kamu? Jauh lebih buruk dari mati aku hidup tapi jiwaku bersama kamu”

“Aku mencintai kamu Julia..”

“Kamu gak merasakan itu sendiri sayang”

Aku merentangkan tanganku lalu Arfi memelukku erat, sangat erat.

“Mau bobo?” Tanyaku

“Mau nyucu..”

Aku melebarkan mataku sambil tersenyum

“Hehehe gak sayang, bercanda kok”

Aku membaringkan tubuhku dikasur

“Apa kamu bisa bercanda soal itu?”

Arfi ikut membaringkan tubuhnya disebelahku

“Gak sepenuhnya, tergantung suasana aja”

“Terdengar egois sih, bagaimana jika aku yang ingin?”

“Dengan senang hati” Arfi tersenyum lebar

“Hey, kemana suasana yang kamu bicarakan”

“Adalah hal baik jika aku bisa melayani istri sebaik kamu, bukannya kita saling mengerti?”

Aku tertawa mendengarnya. Dasar labil, ku kalungkan tanganku dileher Arfi dan menariknya mendekatkan wajahnya ke wajahku

“Udah lama kan” ku kecup bibirnya sekilas

“Kemari sayang, lebih dekat. I have the best place for you to sleep” Arfi tersenyum lalu mencium bibirku lembut. Aku cukup bahagia dengan hidupku saat ini, merasa dicintai dan mencintai adalah dua hal yang sangat didambakan setiap makhluk hidup didunia ini. Kini itulah yang kurasakan.

***

Sore ini aku sedang bersiap karena Arfi mengajakku pergi dinner sepulang kantornya. Ini akan jadi hal yang menyenangkan kami sudah lama tidak memiliki quality time bersama

Klek

“Kak, Rose pergi dulu ya..”

“Oh oke, temennya udah jemput?”

“Udah dibawah kak, Rose bawa kunci kok. Have fun ya kak sama kak Arfi” ucapnya mengedipkan satu matanya lalu menutup pintu kamarku. Kulihat dari jendela sebuah mobil sedan hitam dan Rose memasukinya. Aku kembali berhias diri. Simple aja sih kugunakan Dress hitam selutut lalu anting, dan kalung yang diberikan oleh Arfi. Perfect!

Sambil menunggu aku turun kebawah melihat kolam ikan yang baru dibuatkan oleh Arfi. Aku senang memelihara ikan memang itu sebabnya taman dibelakang dibuat kolam ikan seluas 3×4 meter. Cukuplah buat beberapa ekor ikan koi

“Non, Den Arfi sudah menunggu diluar”

“Baik bi, saya kesana sebentar lagi” kuraih tasku lalu berjalan keluar. Mobil vellfire terparkir rapih diteras segera ku hampiri

“Sore non, Den Arfi menyuruh pak min jemput non, beliau menunggu disana.. mari non”

Aku menautkan alisku selanjutnya aku masuk ke dalam mobil. 30 menit perjalanan aku sudah sampai di restoran yang Arfi pilihkan untuk dinner kami namun aku tidak menemukan dia. Restoran ini terlihat sepi sekali padahal ini adalah jam buka restoran seharusnya sudah 3 jam lalu.

“Hay..” aku terkejut lalu menoleh ke belakang. Seorang pria mengenakan kemeja putih dibalut blazzer hitam, sepatu vantouvel hitam, celana jeans biru gelap dan rambutnya pun rapih

“Kok kamu bengong.. yuk kemeja kita. Aku udah siapkan semuanya”

Dia Arfiku, menggandeng tanganku menuju suatu tempat. Alunan musik jazz santai memasuki indra pendengaranku. Oh ya ampun aku tidak tau Arfi seromantis ini. Kami dinner tengah kolam ikan koi dimana pinggiran kolamnya ada air mancurnya, lampu lampu menghiasi diatasnya, dan juga alunan musik jazz yang membuat suasana menjadi tambah romantis. Oh apa ini, sebuah bunga mawar merah dimeja

“Ini untuk kamu”

“Aku gak tau kalo kamu seromantis ini” Arfi tersenyum memandangku

“Spesial malam ini untuk kamu. Terindah dimataku, adalah ciptaan terbaik tuhan didunia ini”

Aku terkesan dengan caranya, sungguh ini bukan Arfi yang kukenal. Dia menjadi seperti lebih dewasa dibanding aku. Kami menghabiskan malam bersama dengan bahagia, Arfi benar memanjakanku malam ini. Dia memberiku banyak kejutan yang belum pernah ku bayangkan

“Tunggu sebentar ya, jangan kemana mana” Arfi pergi meninggalkanku. Tak seberapa lama ia kembali

“Julia.. Happy brithday” bersamaan Arfi mengucapkan itu suara lonceng brrbunyi pertanda sudah jam 12 malam. Hari ini tepat tanggal 30 juli hari kelahiranku Arfi membuatnya sangat spesial aku sampai menitikkan air mataku

“Ini sebagian kecil dari ucapan terima kasihku karena kamu hadir dalam hidupku dan sebentar lagi kita akan memiliki anugrah terindah ditengah tengah kita” untuk kedua kalinya selain cincin pernikahan Arfi memakaikan kembali cincin permata kecil yang sangat indah dijari manisku

“Selamat ulang tahun sayang” beberapa pelayan mengantarka kue besar bertuliskan namaku dan diatasnya terdapat lilin bernomor 27. Ya usiaku kini 27 tahun, padahal saat brithdaynya Arfi aku hanya memasakkannya masakan kesukaannya dan kami menghabiskan malam dirumah tapi ini brithdayku Arfi membuatnya sangat berkesan seumur hidupku2

“Aku mau mendatangi suatu tempat bersejarah untuk kita, dimana kita memulainya sampai saat ini”

Arfi memelukku, kubalas pelukannya dengan erat “aku mencintai kamu fi” tanpa membalas ucapanku ia melepas pelukan kami lalu mencium keningku. Ini adalah malam terbaik dalam hidupku, pria yang usianya jauh lebih muda dibandingkan aku mampu membuatku menggantungkan hidupku padanya

***

Arfi menutup mataku dengan kain dan menuntunku ke suatu tempat sejak dari restoran tadi aku tidak bisa membuka mataku

“Oke sampai, sebentar ya aku buka dulu kainnya”

Sreet

Loh, ini kan apartementnya Arfi. Oh aku mengerti sekarang

“Kita memulainya dari sini, itulah alasanku gak mau menjual apartement ini”

“Disofa itu aku terbiasa tiduran dipangkuan kamu dulu saat aku pulang kerja hehehe dan disana kita makan pagi dan malam” Arfi menggandeng tanganku menuju kamar tidur kami yang dulu

“Nah disofa ini, aku tidur disini setiap hari yang setiap aku bangun selalu ada selimut padahal aku tidur gak pake selimut ekhem..” Aku tersenyum lalu berjalan tepi kasur lainnya

“Disini juga kita tidur untuk pertama kalinya sambil pelukan” ucapku membuat Arfi tersenyum “gak cuma pelukan tapi tangannya masuk masuk juga” sambungku lalu Arfi tertawa

“Iya dulu aku canggung banget dideket kamu rasanya aku bingung mau ngomong apa”

“Oh ya? Sekarang malah kelebihan ngomongnya.. ah sini deh kamu” aku menarik tangan Arfi ke dapur

“Dan dibar kecil ini, untuk pertama kalinya kita berciuman” ucapku

“Kamu tau spot yang paling kusuka dulu”

“Dimana?” Tanyaku. Arfi menggandeng tanganku menuju balkon

“Disini, the best place ever! Kamu duduk dipangkuanku kita menikmati malam bersama” Arfi menarik lembut tanganku untuk duduk dipangkuannya

“Aku sayang banget sama kamu, aku mencintai kamu Julia, tempatku pulang dan jadilah selalu penghias sangkar maduku” ucapnya membelai rambutku. Ku cium bibirnya dengan lembut sedikit melumatnya merasakan cintanya

“Kamu kenapa selalu cium aku saat aku mengungkapkan perasaanku”

“Aku gak tau harus bilang apa ke kamu, apa yang kamu ucapkan itu juga yang aku rasakan. Saat kamu ucapkan kata cinta aku membiarkan kamu merasakan hembusan nafasku, ku hirup juga dalam dalam nafas kamu agar menjadi nafasku adalah nafasmu” Arfi tersenyum mencium pipiku

“Tempat ini memang hebat, penuh cinta bagiku kamu tau tempat ini selalu penuh kenangan dimana aku menemukan cintaku”

“Dan tempat ini juga aku selalu menunggu seseorang pulang dari kerjanya untuk sekedar keluar karena si empunya apartement mengurungku didalam tidak membiarkan ku keluar sama sekali seharian penuh kecuali bersamanya”

Arfi tertawa mendengar ucapanku membuatku juga tertawa “hal paling lucu adalah aku diculik sama laki laki yang umurnya jauh lebih muda dibanding aku”

“Tentu! Akan selalu posesif ke kamu. Banyak orang mencari keberuntungan diluar sana dan aku sudah menemukannya”

“Hmmm.. Jadi yang jatuh cinta pertama itu kamu duluan ya?”

Arfi memanyunkan bibirnya. Gemash!

“Bukannya seorang wanita selalu menunggu pria nya ya”

“Hehehe aku rasa aku jatuh cinta sama kamu saat kamu mencium bibirku pertama kalinya”

“Baik, aku akui memang aku lebih dulu mencintai kamu. Rasanya sudah gila aku jika tidak bisa mencintai seseorang yang sempurna seperti kamu”

“Hahaha belajar gombal dari mana?”

“Aku gak gombal, keluar begitu aja saat aku lihat senyum kamu” aku tersenyum saja. Sungguh, rasanya malam ini aku selalu tersenyum. Benar kata orang cinta membuat gila. Buktinya aku selalu tersenyum sepanjang malam bersamanya

“Berapa bulan lagi dia keluar?”

“Sekitar 6 sampai 7 bulan lagi, kamu tau gak bayi kita itu kuat banget katanya padahal peranakan aku biasa aja”

“Oh ya? Wah dia akan jadi anak perkasa”

“Iya dokter aja bilang bayi kita sehat tanpa konsumsi vitamin atau apapun cuma susu hamil biasa”

“Oh jelas, siapa dulu yang buat.. Arfi si son of zeus! Si anak dewa pasti ini cucunya dewa nanti yang akan keluar” dia mulai mengkhayalnya deh tapi aku tersenyum aja. Pikiranku melayang dimana saat aku pertama kali bertemu dengannya, waktu berjalan dengan aku selalu disampingnya sampai saat ini

“Julia..”

“Apa sayang?”

“Aku lagi mikirin Okta, aku kasihan sama dia”

Aku menghela nafas “tapi kamu dikantor sama Gracia gimana?”

“Gak ada masalah. Kamu cukup profesional”

Aku cukup lega mendengarnya, seseorang yang memiliki masalah biasanya akan sulit membedakan masalah pribadi mereka

“Lagipula aku dengan Gracia gak ada masalah hanya saja aku kesal karena dia lah sahabatku jadi berantem”

Aku memeluk Arfi mengelus punggungnya untuk menenangkannya

“Biarkan mereka menenangkan pikiran mereka, begitu juga dengan Agus. Setelah itu kita akan menyelesaikan masalah mereka karena hanya kamu dan aku yang tidak terlibat”

Arfi mengusap wajahnya gusar “sepertinya akan sulit dan butuh waktu lama. Sementara itu masalah dibiarkan terlalu lama akan tumbuh benih kebencian dihati mereka masing masing”

“Aku tau dimana Agus” ucapku. Arfi langsung menoleh cepat padaku

“Dia pergi ke medan, kerumah orang tuanya. Beberapa waktu lalu dia menelfon kerumah kebetulan aku yang angkat. Jadi dia hanya menitipkan Gre sama kita”

“Konyol, sebodoh itukah Agus sampai diperbudak oleh cintanya sendiri”

Aku mengusap wajah Arfi “kamu bisa bilang begitu karena kamu gak berada diposisi mereka. Begitulah orang yang memiliki cinta bahkan bisa mengalahkan logika mereka sendiri. Mungkin Agus memiliki alasan lain dan aku yakin Agus memaafkan Gracia”

Arfi menatapku “entah, yang kuinginkan hanya sahabat sahabatku kembali”

Aku memeluk Arfi erat, kutau ini masalah yang rumit memang sulit menekan ego dan saling memaafkan dalam waktu singkat. Kesalahan Gracia dan Iwan merupakan kesalahan yang sulit untuk ditoleransi.
Tok tok tok

“Bentar ya, aku buka pintu dulu” aku beranjak dari pangkuan Arfi untuk membuka pintu

Tok tok tok

Ini orang gak sabaran banget sih, gak tau ada bel apa pake ketok ketok segala sih!

“Ya, ada ap–”

Aku terdiam begitu melihat siapa yang datang. Tubuhku kaku melihat orang yang mengetuk pintu apartement. Tatapan tajamnya seolah menusuk mataku. Aku tidak tau apa yang terjadi sekarang. Ini bukan jam normal untuk bertamu, yang kutau jika seseorang datang kesini itu artinya dia ada dalam masalah

Author POV

Julia terdiam melihat siapa yang datang diapartement mereka. Dua orang yang tidak asing lagi berdiri diambang pintu menatap Julia tajam. Seorang wanita tersenyum kecut dan seorang pria memandang marah padanya. Disaat yang bersamaan Arfi datang

“Siapa say–” ucapan Arfi terhenti saat ia melihat dengan jelas siapa dua orang tersebut. Mereka adalah orang tua Arfi

“Ada apa kalian kesini?” Tanya Arfi dingin namun pria paruh baya yang tidak lain adalah papahnya Arfi tertawa keras

“Kami keapartement kami, justru kami yang bertanya kalian sedang apa disini?”

Arfi mengepalkan tangannya menatap benci pada papahnya. Hal yang ia lupakan adalah ia lupa membalik nama kepemilikan apartement menjadi namanya sendiri. Pria paruh baya itu mendorong tubuh Julia hingga ia menabrak tembok dibelakangnya

“Aww..” pekik Julia, melihat itu Arfi dengan sigap menghampiri Julia

“Kamu gpp?” Julia hanya menggelengkan kepalanya

“Kelihatannya kamu memang memiliki kesetiaan yang tinggi pada wanita kotor itu. Hey gadis muda.. apa yang kau berikan pada anakku? Keperawanankah? Kau masih memilikinya setelah bekerja dengan Angelo?”

Mendengar itu Arfi berdiri hendak menghampiri papahnya. Namun Julia menahannya, sekuat tenaga ia berdiri. Ia tidak ingin terjadi keributan disini

“Nak, dengarkan papahmu ya, turuti kemauannya” ujar wanita paruh baya yang tidak lain adalah mamahnya Arfi

“Saya tidak akan menarik ucapan saya, kalian orang tua saya seharusnya tau sifat anaknya, oh ya saya lupa bagaimana kalian bisa tau bukankah kalian terlalu sibuk dengan bisnis kalian?”

“Jaga ucapan kamu anak kurang ajar!!” Ujar papah Arfi dengan keras

“Saya mengatakan apa yang benar! Coba tebak, dimana adik saya kuliah?!” Ucap Arfi dengan lantang

Kedua orang tua Arfi hanya terdiam. Mereka saling pandang

“Octa sudah kuliah? Ia kuliah dimana sayang?” Ucap lembut Mamahnya Arfi

“Huh! Pertanyaan yang seharusnya tidak keluar dari mulut kalian. Seperti ini kalian sebut orang tua? Kalian harusnya malu dengan diri kalian” Arfi menghampiri Julia lalu menggandengnya.

“Kita pergi dari sini. Maafin aku yang gak bisa melindungi tempat penuh kenangan kita”

Arfi menggandeng Julia keluar tanpa pamit dan menghiraukan panggilan dari kedua orang tuanya

“Tetap berjalan, jangan menoleh ke belakang” ujar Arfi saat mereka masuk ke dalam lift

***

Sampai dirumah mereka Arfi tidak membuka mulut sama sekali. Ia terdiam lalu naik ke atas menuju kamarnya. Julia yang melihat itu hanya menghembuskan nafasnya kasar. Ada perasaan bimbang dihatinya haruskah ia tinggalkan Arfi tapi rasanya itu tidak mungkin karena mereka sudah menikah dan Julia mengandung anak mereka. Julia memutuskan menghampiri Arfi

“Fi.. kamu baik baik aja?” Ucapnya saat melihat Arfi terduduk ditepi kasur sambil menundukkan kepalanya lalu menoleh ke arah Julia. Tatapan yang sulit diartikan baginya namun ia tau ada kebimbangan disana, rasa takut dan cemas

“Katakan sesuatu yang bisa membuatku lebih tenang saat ini, aku membutuhkan itu”

Julia sedikit menjauh lalu ia meraih kepala Arfi untuk tidur dipangkuannya. Arfi menurut tatapannya keatas namun masih kosong Julia yang mengerti keadaan sang suami hanya mengelus puncak kepalanya lembut dan membiarkan Arfi menenangkan dirinya

“Apa kamu gak ingin mengatakan sesuatu untukku?” Ucap Arfi, Julia tersenyum manis. Ia tau suaminya membutuhkannya saat ini, sangat membutuhkannya

“Melihat semua yang terjadi bukankah kita pernah berjanji akan menghadapinya bersama. Aku akan selalu dibelakangmu, menjadi penguatmu, jangan khawatirkan itu. Saat mereka mengenalku akan ada namamu didepan namaku”

Arfi tersenyum menatap manik mata Julia ia mengelus pipi Julia. Mereka sama sama tersenyum

“Jika ada alasan untukku memperjuangkan sesuatu tentu itu hanya kamu” ucap Arfi sambil bangkit untuk duduk lalu menatap Julia dan menggenggam kedua tangannya

“Ini adalah rumah kita, gak akan ada yang bisa melukai kamu disini, gak ada yang bisa mengambil kamu dari aku, karena kamu adalah impianku yang menjadi kenyataan. Kamu tau saat aku melihat kamu tersenyum aku hidup untuk itu dan saat aku mencium bibir kamu aku pun rela mati untuk itu”

Julia tersenyum senang mendengarnya, sesekali mengusap air matanya yang akan jatuh

“Kamu ini bodoh, kamu berkata seperti itu seakan hanya aku menjadi alasan bahagiamu padahal kamu juga adalah alasan bahagiaku”

Arfi sedikit merengut dikatain bodoh oleh Julia ia memanyunkan bibirnya

“Sini peluk kakak Julia, uuuhh sayang dede Arfiii” ucap Julia merentangkan tangannya Arfi yang masih kesal namun tetap memeluk Julia.

Mereka saling berpelukan menyalurkan kasih sayang mereka. Tak berapa lama Arfi melepas pelukannya lalu ia jongkok didepan Julia mengelus perut Julia yang mulai membesar

“Hallo dede, ini papah.. dede kapan keluarnya sih kok betah banget diperut mamah kan papah mau main sama dede, mau bercanda sama dede, nanti kita jalan jalan yaaa” ucap Arfi membuat Julia terkekeh

“Aku diajak gak jalan jalan?” Tanya Julia

“Gak boleh ini quality time kami berdua tauk!”

“ini kan aku yang melahirkan masa aku yang dilupakan sih”

“Kamu gak akan hamil kalo gak karena aku kan?”

“Tapi kan aku yang merasakan sakitnya melahirkan”

Arfi terdiam seketika memandang Julia

“Kamu gak di operasi aja melahirkannya biar kamu gak merasakan sakit”

Julia tersenyum lalu mengelus sebelah pipi Arfi. Ia tau suaminya mengkhawatirkannya

“Aku baik baik aja, lagian kan sebelum melahirkan nanti diperiksa dulu kuat atau nggak aku nya melahirkan secara normal” Arfi masih menatap Julia khawatir.

Ia tidak ingin Julia merasakan sakit terlebih melahirkan itu adalah hal diantara hidup dan mati. Arfi mencintai Julia ia tidak ingin terjadi hal buruk pada Julia

“Bobo yuk, aku ngantuk nih” Arfi berdiri lalu berjalan ke sisi kasur di ikuti Julia berjalan ke sisi kasur lainnya

Mereka terbaring bersama saling berpelukan. Seperti biasa Arfi memeluk Julia dari belakang tiba tiba Julia bangun dan berdiri membuat Arfi heran

“Kenapa?” Tanya Arfi

“Aku ganti baju dulu, sebentar ya” Julia mengambil pakaian tidurnya dan melepas pakaiannya yang sekarang ia kenakan.

Melihat itu Arfi terpaku memandang tubuh Julia yang hanya menggunakan daleman. Pandangannya beralih ke perut Julia yang kian membesar ia tersenyum senang lalu menghampiri Julia dan mengelus perut Julia

“Dia makin besar” ucap Arfi tersenyum

“Dia juga sehat dan kuat” ujar Julia

“Tentu, untuk itu aku harus menjaga keduanya agar tetap sehat” balas Arfi masih dengan senyum

“Oh ya Arfi, lain waktu belikan aku pakaian dalam ya, dadaku sesak ini sudah kekecilan kayanya” Arfi mendongakan kepalanya

“Oke, besok kita pergi. Kalau begitu malam ini kamu gak usah pakai daleman. Itu mengganggu kan?” Julia tertawa mendengar ucapan Arfi

“Itu sih maunya kamu ya biar bisa pegang pegang?” Ucap Julia terkekeh Arfi hanya tersenyum lebar. ia melepas dalamannya lalu berbaring disebelah Arfi

“Ada apa? Tidur sini sebelah aku” Ucap Julia lalu Arfi ikut terbaring memeluk Julia. Posisi mereka masih tetap sama dengan Arfi memeluk tubuh Julia dari belakang

“Aku boleh pegang?” Bisik Arfi

“Setelah kamu merasakan aku kamu masih izin untuk itu?” Julia terkekeh “pegang aja, ini punya kamu” sambung Julia. Julia merasakan geli dikedua buah dadanya

“Ia lebih besar sepertinya, apa ini faktor kehamilan juga?” Ucap Arfi

“Aku rasa itu karena kamu yang setiap hari terus merangsangnya”

“Begitu? Kalau begitu aku perlu merangsangnya setiap hari”

“Kamu ingin punyaku sebesar apa?”

“Hey ini punyaku bukan punyamu”

“Kalau begitu besok kita pergi ke dokter untuk memindahkan ini ke dadamu ya” Arfi tertawa mendengar ucapan Julia

“Kamu yang melahirkan aku yang menyusui begitu? Itu konyol tau”

Mereka tertawa bersama seperti tidak ada masalah apapun

“Have a nice dream sayang, love you” bisik Arfi lalu mengecup pipi kanan Julia

“Have a nice dream too sayangku”

Mereka tidur saling berpelukan. Hingga pagi nanti menjelang

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48