Tentang Kita Part 21

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 21 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 20

Aku menunggu Arfi diteras rumah sudah hampir setengah jam lebih tapi ia belum terlihat batang…. hidungnya(?)

Seorang ibu tengah menggendong anaknya beristirahat dibawah pohon sebrang jalan rumahku. Anaknya yang satu merengek kehausan, sekitaran umur 5 tahunan dan satu lagi juga sedang menangis dalam gendongannya.

“Biii…!” Teriakku

“Iya non, ada yang bisa bibi bantu?”

“Bi, tolong beri makanan, minuman untuk ibu disebrang sana ya”

“Baik non,” si bibi berlalu aku beralih ke pak norman supir pribadi aku dan Arfi

“Pak, bilang sama ibu disana tolong tunggu ya”

“Baik non”

Pak norman menghampiri ibu disebrang jalan sana. Ia terlihat berbincang sebentar. Tak lama bi sumi datang membawa bungkusan yang kusuruh. Aku menyuruhnya menunggu sebentar, aku berlari ke kamar, mengambil amplop dan dompetku. Ku ambil beberapa lembar uang ratusan ribu dan kusisipkan diamplop tersebut setelahnya aku turun kembali menemui bi sumi

“Nih bi, kasih juga amplopnya, kalo ditanya dari siapa bilang aja dari orang baik oke” bi sumi mengangguk lalu pergi ke ibu disebrang sana. Memberikan makanan, dan uangnya. Ibu itu terlihat menangis. Aku berjalan ke pos satpam rumahku, memperhatikan ibu ibu itu lebih dekat namun aku bersembunyi dibalik temboknya

“Terima kasih tuhan, siapa pun itu orang baik yang kau utus tolong agar ia selalu dalam perlindunganmu, jangan biarkan air matanya menetes akan cobaanmu tuhan”

Aku mengaminkan doanya dalam hati dan meneteskan air mataku. Lalu ia beranjak pergi dari sana

“Saat aku kecil aku sering mendengar dongeng tentang malaikat yang hidup dibumi, aku pikir itu hanya ada dalam dongeng tapi hari ini aku melihat sendiri malaikat itu meski tidak bersayap”

Aku menghapus air mataku, lalu menoleh ke samping

“Kamu kok pulang gak bilang bilang sih?” Ujarku

“Gak bilang atau kamu yang gak sadar, tuh mobilku udah disitu masa kamu gk lihat aku tadi lewat sini” Arfi menunjuk mobilnya yang sudah terparkir digarasi

“Yaudah yuk masuk, aku udah buatin kamu teh” Aku dan Arfi masuk kedalam rumah

Arfi sudah selesai mandi, seperti biasa aku dan Arfi menghabiskan sore hari dibalkon sambil meminum teh hangat. Kaya orang tua aja ya

“Fi, aku mau nanya satu hal sama kamu”

“Apa?” Arfi mengesap tehnya

“Kamu masih suka minum bir?”

“Tumben kamu nanya gitu”

Aku berdiri lalu duduk dipangkuannya “denger, mulai hari ini Arfiku gak boleh berteman dengan yang namanya alkohol, rokok apalagi pergi ke diskotik. Janji?” Arfi tersenyum lalu mengangguk

“Aku janji”

“Jangan buat janji yang gak bisa kamu tepatin ya”

“Siap!” Ujarnya seraya memberi hormat padaku. Aku tersenyum lalu mengecup bibirnya sekilas

“Aku gak suka bau alkohol dari mulut kamu, dan rokok bikin bibir kamu jadi hitam, lalu diskotik itu banyak perempuan yang bisa merusak kamu, perjudian dan masih banyak lagi”

“Hafal banget sih kebiasaan kebiasaan diskotik” ucapnya terkekeh

“Kan kan…”

“Hehehe iyaiya sayang, aku mah penurut apalagi kalo dibilangin sama yang lebih tua” dia sengaja menekan kata tua dibelakangnya

“Hih!” Aku menggigit pipinya hingga meninggalkan bekas disana

“Wadaw wadawww… gile sakit amat, gak sadar apa giginya caling gitu”

“Biarin! Ngeselin sih”

“Kurang daging apa?”

“Emang kurang, kenapa?”

“Beli sana makan abis itu jangan orang digigitin”

“Ngapain beli, beli bisa abis enakan ini daging gak abis abis” ujarku menaik turunkan alisku

“Oh mau, nih aku kasih dengan senang hati”

“Sampe putus gpp?”

“Gpp asal siap aja gak ngerasain goyangannya lagi”

“Ah jangan masa pake botol sih gue ntar”

Kami tertawa bersama. Suara ketukan pintu menghentikan tawa kami. Arfi membukakan pintu kamar

“Den, ada tamu dibawah. Perempuan..”

“Oke bi, nanti saya turun. Suruh tunggu aja”

Bibi pun pamit pergi

“Siapa sayang?”

“Gak tau ada tamu. Yuk temuin” Arfi menggandeng tanganku

Langkah kami terhenti saat tau siapa tamunya

“Ngapain?” Ujar Arfi dingin. Gre menoleh, matanya sembab merah sepertinya ia menangis sepanjang malam

“Kalian tau Agus dimana?” Aku dan Arfi saling menoleh

“Gue gak tau” jawab Arfi ketus

“Fi, Jul, gue mohon sama lo berdua percaya sama gue. Gue ama Iwan gak ada apa apa selain berteman biasa”

“Gre, gue ingin percaya tapi sulit”

“Julia…” aku menoleh lalu membuang pandanganku ke arah lain. Memang sulit mempercayai Gre mengingat Agus mempunyai bukti mereka dinner bersama belum lagi foto Iwan mencium Gre. Itu cukup memberi alasan kenapa Agus pergi

“Karena lo semua hubungan persahabatan kita semua rusak! Agus jadi benci Iwan, dan sekarang Agus entah kemana. Lalu lo mau ngapain lagi kesini Gre?”

Air mata Gre tumpah mendengar ucapan Arfi “oke kalo itu mau kalian, paling nggak hukum gue aja jangan sampai persahabatan kalian rusak karena gue”

“Justru lo yang ngerusak! Gimana ceritanya sih jangan rusak karena lo! Lo udah ngerusak semuanya Gracia!!”

“Arfi, udah jangan emosi ya” aku mengelus punggung Arfi meredakan emosinya

“Gue akan cari Agus sendirian! Dan akan membuktikan sama lo semua kalo gue benar!”

Gre keluar tanpa pamit dan menutup pintu secara kasar. Arfi menghempaskan tubuhnya ke sofa. Aku memegang pundaknya, kutau jika sudah begini Arfi akan sulit mengendalikan emosinya terlebih berkaitan dengan hubungan persahabatannya.

“Julia…”

“Yaa..”

Secara tiba tiba Arfi memelukku sangat erat

“Aku sayang kamu” ucapnya, aku mengelus punggungnya kembali

“Aku juga sayang sama kamu”

Arfi melepas pelukannya menangkup kedua pipiku dengan tangannya dan menempelkan keningnya dikeningku

“Aku gak mau kehilangan kamu, kalo kamu mau apa apa bilang ke aku, tas, baju, mobil bahkan rumah bilang ke aku, aku akan penuhi semuanya tapi jangan khianatin aku”

“Arfi, dengerin aku. Aku gak butuh semuanya. Aku cuma butuh kamu disamping aku, menjaga aku itu udah cukup kedengarannya bullshit emang tapi ini yang aku rasain”

Arfi mencium bibirku, melumatnya dan bertukar saliva. Ciuman yang awalnya lembut mulai memanas. Arfi mulai menciumi leherku terus turun ke dadaku

“Ehem!!”

Kegiatan kami terhenti. Kami sama sama menoleh ke arah sumber suara

“Ada tamu kali, gak sambut nih”

Eh?

Gadis itu berjalan lalu duduk menatap kami

“Ini emang rumah kalian, tapi etika tetep harus ada dong, bedain privasi sama publikasi. Pintu kebuka, kalian malah kissu kissu untung Rose yang dateng gimana kalo orang lain, threesome kalian”

Edan! Ni anak dateng dateng lagaknya kaya sutradara film xxx. Eh kok dia tau threesome sih?

“Kok kamu di indo gak ngasih tau sih?”

“Suprise aja” jawabnya enteng

“Kamu bisa tau rumah sini Rose”

“Siapa yang gak kenal Arfi, ka Julia..”

“Udah ya, Rose cape mau tidur nih 20 jam perjalanan disambut adegan kissing gak toleransi sama jomblo” dia langsung naik ke atas tanpa permisi membuat aku dan Arfi bengong disofa

“Adik ipar lu tuh Julia”

“Lah, adik kandung lu juga fi”

Kami sama sama tertawa dan menyusul Rose keatas. Takut takut dia memilih salah kamar kan bisa bahaya ada barang barang yang… ah sudahlah hehe

**

“Jadi, kamu libur berapa hari?” Rose meletakkan gelas tehnya. Aku dan rose sedang berada dibalkon menikmati teh disore hari

“sebulan kak, tapi kayanya 3 minggu aku disini seminggu buat perjalanan pulang”

Aku menganggukkan kepala mengerti

“Oh ya kak, Perempuan yang rambutnya agak pirang tadi siang namanya kak Gre kan kalo gak salah ya?”

Aku mengangguk “kenapa emang dek?”

“Gpp, aku cuma ketemu dia digerbang aja tadi. Dia terlihat buru buru”

“Oh ya, dia memang tadi sempat kesini”

“Ada apa? Sedang bertengkar kalian?”

“Hanya kesalah pahaman, mungkin”

Aku mengesap tehku, Rose menatapku tersenyum

“Tidak ada kesalah pahaman yang tidak mungkin kak, itu pasti. Air matanya menetes, sulit dijelaskan namun dari wajahnya sepertinya ia tidak tau harus berjalan kemana”

Aku terpaku ucapan Rose. Ah! Aku lupa Rose ini sedang melanjutkan study psikolog tentu mudah baginya membaca apa yang terjadi pada seseorang hanya dengan melihat raut wajahnya saja

“Dia hanya sedang bingung, banyak tekanan dan dia juga sedang mengalami kesedihan mendalam, aku pikir dia lebih baik menyendiri”

Rose meletakkan gelas tehnya dimeja kecil diantara kami

“Kupikir yang terjadi adalah dia sedang dalam kebohongan besar. Matanya terlihat kosong namun pikirannya jauh melayang, begitu pun hatinya”

Aku tidak bisa berkata apa apa lagi, aku memperhatikan Rose yang memandang jauh ke langit

“Kita tidak tau apa yang terjadi padanya dan suasana hatinya. Aku merasa kami sedang menekannya”

“Tekanan paling besar datang dari dirinya sendiri, aku pernah bertemu seseorang yang sedang menutupi sesuatu, persis seperti yang dilakukan Gracia”

Aku diam memandang teh dipangkuanku. Sejauh itukah Rose mengetahui situasinya hanya sekali berpapasan dengan Gre tadi. Dan paling penting, jika memang benar apa yang sedang kamu tutupin dari kami Gre, bukan kamu.

Tapi kalian, sejauh apa hubungan kalian Gre, Iwan. Beginikah cara berteman kalian. Bukan tidak tau jika bersamaku Arfi selalu memikirkan temannya, pandangan dan senyumnya tidak lepas seperti tanpa masalah. Aku mencengkram kuat gelas ditanganku. Tiba tiba sepasang tangan menggenggam tanganku

“Jangan khawatir kak, kak Arfi tau yang harus ia lakukan. Memang hanya orang yang menyayanginya tulus saja akan merasakan perbedaan sikapnya meski ia tersenyum. Tapi percayalah, hubungan pertemanan tidak akan mudah rusak jika kak Arfi ada didalamnya”

Rose tersenyum jongkok dihadapanku. Apa yang dia katakan benar, namun bagaimana dengan Agus? Apa dia akan menerima semuanya jika memang itu benar? Aku menarik nafasku dalam dan tersenyum

“Oh ya, usianya sudah berapa bulan? Apa dia cowok?” Ucap Rose melirik perutku

“Oh, dia sudah 3 bulan, aku belum usg. Soal jenis kelamin kami gak mau mencari tau biar dia surprise nanti ketika lahir” Rose tertawa

“Jika dia laki akan kuajarkan bagaimana cara mendribble bola basket, tapi jika dia perempuan dia tidak akan dapat apa apa dariku”

“Loh, kenapa?”

“Karena aku sulit menggunakan make up, yah aku lemah disitu jika harus menghafalkan banyak jenis alat perias wajah”

Aku tertawa begitu juga dengan Rose. Rose mengingatkan aku saat usiaku masih remaja, aku tidak suka bermake up, menurutku itu berlebihan. Tapi kuyakin Rose gadis yang cantik suatu saat dia akan mengerti caranya berias diri

***

Siang ini aku sedang dalam perjalan menuju rumah Gre. Arfi menghubungiku untuk segera ke sana. Sesuatu terjadi katanya, itu pasti hal buruk karena Agus juga disana terlebih Arfi bilang Iwan nggak dikantor hari ini

“Kak Arfi udah disana kak?” Tanya Rose. Aku memang bersama Rose kesana karena supirku sedang pulang kampung dan Arfi tidak mengizinkan aku menyetir sendiri

20 menit perjalan aku sampai dirumah Gre, Agus sudah duduk diteras rumah Gre sambil merokok. Ini pertama kalinya aku melihat ia merokok

“Hay, kenapa gak masuk?”

“Gue gak mau ganggu”

Aku hanya mengeritkan dahiku. Gak lama mobil Arfi masuk ke halaman rumah Gre, ia terlihat buru buru menghampiri Agus

“Gimana?”

“Pegawai lo ada disini”

“Gue gak pernah satuin mereka dalam satu devisi”

“Mereka gak satu devisi tapi satu niat dan gue yakin itu”

“Lo udah hubungin Okta?” Agus berdiri menatap Arfi didepannya. Aku sebenarnya tidak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan

“Gue gak sepicik itu. Okta sakit semenjak terakhir kita kesini” Agus melirik Rose disebelahku “seorang gadis muda membuat gue untuk gak melakukan itu, jadi.. beritahu dia secara pelan dan gue rasa adik lo bisa melakukan itu”

Agus berjalan masuk ke dalam lalu kami mengikutinya menuju lantai dua rumah Gre, langkahku terhenti dibelakang saat mendengar suara yang tidak asing. Maksudku suara yang seharusnya dilakukan oleh pasangan didalam kamar

Bruakk

“Anjing!!”

Bugh!!

“Kakak!!”

“Bangsat lo wan!”

Aku hanya terdiam beberapa langkah diluar pintu kamar Gre, terpaku memandang Arfi yang sedang memukuli Iwan hingga terjatuh.

“Kak udah kak! Kendaliin emosi kakak… bang Agus hentikan kak Arfi dong” teriak Rose namun Agus hanya memandang nanar pada Gre yang tidak memakai sehelai benang pun ditubuhnya

“Gus–”

“Gue gpp, lebih baik lo hentikan suami lo sebelum dia jadi menghilangkan nyawa temennya”

Agus berbalik keluar namun Gre berlari mengejarnya. Ku dengar mereka terlibat cek cok ditangga

“Lo sadar apa yang lo lakuin? Lo nidurin pacar temen lo sendiri! Pacar sahabat lo sendiri! Brengsek lo!”

“Arfii…” Arfi menghentikan pukulannya diwajah Iwan. Iwan tergeletak gak berdaya dibawah

“Rose, keluar dulu ya biar aku yang urus” Rose pun keluar lalu ku hampiri Arfi

“Bangun lo anjing! Lawan gue! Beraninya lo main belakang hah! Bangsat lo emang!”

Bugh

Arfi menendang wajah Iwan

“Arfiii!! Cukup!! Kamu bisa bunuh dia tau gak!”

“Biarin! Orang kaya gini pantes mati!!”

Braakk

“Arfii!! Udahh!!” Aku berusaha menahan tangan Arfi untuk memukul Iwan

“Apa? Kamu gak lihat bajingan ini merusak semuanya? Dia gak cuma merusak hubungan sahabatku aja tapi dia juga merusak persahabatan kita semua! Dipenjara pun aku rela hanya untuk membunuh orang kaya gini”

“Siapa kamu yang berani menentukan mati atau hidupnya seseorang?”

Arfi menatapku. Tatapan penuh emosi dan nafasnya memburu

“Dia sahabat kamu, dia juga pernah nolong kamu. Bukan hak kamu menghukum dia atas kesalahannya”

“Arfi.. bener, Ju..lia. gu..e emang pantes.. mati” ucap Iwan berusaha bangkit meraih sprey untuk berdiri

“Tapi.. gue.. gak akan rela mati ditangan.. Arfi, gu..e akan mati.. ditangan Agu..ss”

“Kamu lihat? Dia ngomong aja susah wajahnya udah babak belur gitu, dia sahabat kamu fi.. hanya karena satu kesalahan yang dia perbuat kamu menghukum dia segininya yang bahkan ini bukan urusan kamu”

“Aku cuma bela temen aku, kenapa jadi aku yang keliatannya salah sih?”

“Dia juga temen kamu kan? Kamu yang harusnya berperan nengahin disini tapi kamu ambil menghakimi juga”

“Aarrgghh…” brakk

Arfi keluar sambil memukul pintu. Aku hanya menghela nafas panjang. Ini adalah masalah serius, sebelumnya kudengar cerita dari Arfi gak ada yang bisa menghancurkan hubungan persahabatan mereka, mereka selalu kompak dan saling melindungi satu sama lain. Tapi kini yang merusak itu adalah orang dalamnya sendiri

“Thanks..”

“Simpan ucapan lo, lebih baik lo pake baju dan turun ke bawah..” saat aku ingin beranjak Iwan terjatuh lagi. Ini pasti buruk, apa yang harus aku lakukan

***

Berat juga badannya Iwan meski ia bisa berjalan aku yakin kedua kakinya belum bisa menopang bobot tubuhnya sepenuhnya

“Brengsek!! Sekarang lo sentuh istri gua!!”

“Berhenti Arfi! Udah cukup!” Aku menghentikan Arfi yang hendak akan memukul Iwan karena aku menuntun Iwan berjalan

Iwan duduk disofa ruang tamu. Gre sudah mengenakan pakaiannya dan Agus…. loh Agus mana

“Agus mana?”

“Dia diluar, sama Rose” aku menganggukkan kepala.

Arfi masih menatap Iwan penuh benci sedangkan Gre terlihat sangat khawatir dengan keadaan Iwan yang penuh luka diwajahnya. Aku keluar hendak memanggil Agus, kuharap masalah ini selesai meski perpisahan adalah jalan keluarnya

“Jadi sebenarnya, apa yang terjadi sama abang abang ini?” Tanya Rose

“Dia pengkhianat!!” Teriak Arfi

“Arfii!!”

Arfi terlihat mengumpat dan menyandarkan tubuhnya kembali di sofa

“Baik, aku masih belum mengerti persoalannya dimana. Bagaimana kita mulai dari kak Gre dan bang Iwan dulu”

“Pengkhianat ditanya akan selalu berbohong!” Gumam Arfi

“Aku ingin mulai dari kak Gre dulu, kenapa ini bisa terjadi? Maksudku kakak tau hubungan kakak dengan bang Agus, lalu kenapa ini terjadi, tolong jawab jujur”

Gre terlihat ragu mengatakannya, ia melirik ke arah Agus yang terlihat acuh. Air matanya menetes dapat kulihat itu

“Ini terjadi tanpa kesengajaan, dimana saat itu aku sama Iwan mabuk saat dibandung, aku sama sekali gak sadar saat itu.. dan itu terjadi begitu aja” ucap Gre sambil menangis

“Ini bukan jawaban yang ingin kudengar, kakak tau itu sebuah kesalahan lalu kenapa berlanjut sampai saat ini? Apa kakak sekarang sedang mabuk juga?”
Gre tidak menjawab ia hanya menangis

“Gimana kalo kalian jujur aja? Kedekatan kalian memang sudah terjalin sejak 3 bulan lalu?” Ujar Agus dengan tenang.

Aku tau meski ucapannya tenang hatinya sakit dan kecewa, bahkan malam terakhir saat ia pergi lebih dulu ia sempat meneteskan air mata

“Lo bajingan wan! Lo… aarrgghhh”

Aku menggenggam tangan Arfi berusaha menenangkannya

“Bisa kita lanjut gak?” Rose melirik ke arah Iwan

“sekarang bang Iwan, bisa menjawab pertanyaanku lebih jujur dari kak Gre? Mungkin bang Iwan lebih menghargai sahabat kakak disini jadi bisa lebih jujur” ucap Rose menyindir Gre

Iwan hanya terdiam menahan sakit dibibirnya saat ia ingin bicara

“Bagi gue ini percuma, apapun yang dijelaskan akan berakhir sama. Mereka berkhianat dibelakang gue. Sangat gue sesali adalah yang melakukan itu orang yang gue anggep saudara, andai orang lain mungkin rasanya gak akan sesakit ini” ucap Agus pelan

“Lo buat dua lubang dihati gue wan, pertama lo rebut pacar gue kedua lo khianatin gue. Lo lakukan itu, dan gue salut lo tau betul kelemahan gue yaitu gue gak akan pernah mau membalas perbuatan orang yang gue ucap saudara dari mulut gue sendiri dan gue gak serendah itu menjilat ludah gue sendiri”

Aku menghela nafas panjang, tanganku digenggam erat oleh Arfi ia terlihat memejamkan matanya menahan emosi. Aku tau dia adalah orang yang sangat perduli dengan teman temannya

“Maaf..” lirih Gre.

Tangisnya pecah saat itu juga, Agus menghampirinya lalu memeluknya erat dan mengecup kening Gre

“Aku udah maafin semua kesalahan kamu, gak usah nangis lagi. Aku tetap mencintai kamu setidaknya untuk saat ini namun dalam hal ini beri aku waktu sendiri untuk menyembuhkan lukaku”

Gre terlihat memeluk Agus erat seakan tidak ingin melepaskan Agus. Aku gak tau dimana pikiran Gracia saat itu, jika memang dia mencintai Agus sebesar ini kenapa dia tega mengkhianati Agus? Gak logis gitu loh

“Jangan tinggalin aku..” lirih Gracia

Agus menggeleng “aku gak ninggalin kamu. Tapi kamu yang ninggalin aku, lepasin pelukan kamu dari aku karena aku gak ingin menyakiti sahabat aku, aku tau sahabat aku ia tidak akan mau melakukan itu tanpa perasaan”

Lagi, Agus menyindir Iwan. Wah ini sih edan, aku gak tau bagaimana selanjutnya hubungan persahabatan mereka. Aku cukup salut sama Agus ditengah seperti ini ia masih mengakui Iwan sebagai sahabatnya

“Aku gak mau kehilangan kamu..”

“Aku percaya itu, sebelum kamu melakukan ini. Aku pikir kamu akan baik baik aja tanpa aku. Lebih baik kamu pikirkan bagaimana caranya kamu menjelaskan sama Okta soal ini”

Benar juga, bagaimana nasibnya Okta jika tau si Iwan selingkuh sejauh ini ckckck . Agus beranjak lalu menghampiri Arfi dan aku

“Gue titip Okta sama kalian, sepertinya gak ada orang yang bisa gue lebih percaya selain kalian berdua, dan juga…” Agus menoleh ke arah Rose

“Penasihat muda kita ini”

“Lo mau kemana Gus?” Tanya Arfi

“Gue pergi ke suatu tempat yang gak ada dipeta dan jangan halangi gue. Gue gak akan lupa sama lo dan Julia, tiba saatnya gue akan kembali dan hanya akan menemui kalian berdua”

“Gus.. lo boleh hukum gue, pukul gue sepuas lo tapi jangan pergi, jangan tinggalin kita” kali ini Iwan yang berbicara.

Ngilu banget lihat Iwan berbicara seperti itu dilihat dari bekas lukanya yang cukup parah. Btw Arfi kejem juga ya kalo udah marah kok jadi takut

Agus berjalan keluar menghiraukan ucapan Iwan tapi Iwan berusaha mengejarnya sampai keluar entah tenaga dari mana dia kumpulkan mungkin saat diam saja dia sedang mengumpulkan energi

Arfi pun bangkit dan mengejar mereka begitu juga dengan aku. Yaiya gimana gak ikut orang tanganku dipegang Arfi jadilah aku ketarik juga. -_-

Diluar pandanganku sangat miris. Iwan memeluk Agus dari belakang. Kok kaya gay sih mereka. Mereka sedikit cekcok mulut

“Kamu gak berusaha melerainya?” Tanyaku yang melihat Arfi hanya melihat dari jauh

“Gak usah. Mereka cukup dewasa. Itu udah menjadi keputusan Agus aku gak bisa mengubahnya”

“Aguss!!”

Buset deh neng, gak usah teriak sebelah kuping juga kali. Sekarang Gre berusaha mengejar Agus yang sudah berjalan ke mobilnya. Hasilnya percuma Agus sudah melajukan mobilnya pergi meninggalkan Gre yang menangis duduk dijalan

“Ayo kita pulang, dek kita pulang sekarang”

Kami akhirnya memutuskan pulang.

“Kenapa lo gak cegah Agus pergi fi? Kenapa?!” Ujar Iwan saat kami melewatinya

“Lo cukup kuat untuk melakukan itu” sambungnya lagi

“Tapi gue gak cukup kuat mengkhianatinya”

Arfi berjalan melewati Iwan begitu saja. Aku berusaha membangunkan Gre yang menangis dijalan. Kan kaya glandangan gini kasihan

“Udah Gre gak usah ditangisin. Kesalahan lo cukup fatal, biarkan Agus sendiri tadi kan dia udah bilang gitu. Lo gak sekedar menjalin hubungan tapi lo juga berhubungan itu letak kesalahan–”

“Lo tau apa tentang gue?” Aku terkejut saat Gre menghempaskan tanganku cepat lalu dia berdiri

“Gak usah sok nasihatin gue seolah lo udah bener, gue cuma melakukannya sama Agus dan Iwan tapi lo… lo setiap malem dengan orang yang berbeda sebelum ketemu Arfi. Kenapa lo malah nasihatin gue seolah–”

Plakk

Tamparan keras mendarat dipipi Gre membuat pipinya terlihat memerah. Ia memegang bekas tamparan itu. Yang melakukannya bukan aku, tapi Rose

“Udah cukup. Jangan paksa gue melakukan lebih dari itu. Wanita hina yang menangisi kepergian kekasihnya atas kesalahannya sendiri. Dimana letak pikiran lo. Ah! Cukup aneh membahas pikiran didepan wanita kaya lo karena jika memang lo punya pikiran tentu gak akan melakukan hal ini”

“Bajingan!!” Aku menarik Rose berusaha melindunginya saat Gre bersiap menampar Rose.

Kupejamkan mataku tapi kenapa gak terjadi apa apa. Ku buka mataku perlahan ternyata Arfi menahan tangan Gracia

“Inikah sosok Gracia sesungguhnya. Harusnya lo malu sama diri lo sendiri. Coba lihat, siapa yang lebih rendah dari jalang? Jalang ini gak pernah mengkhianati gue dan melakukan hal seperti yang lo lakukan saat memiliki hubungan sama gue, tapi lo? So nona Gracia siapa yang lebih rendah, lo atau istri gue?”

“Kita pulang sekarang..”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48