Tentang Kita Part 2

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 2 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 1

Sudah hampir 3 minggu aku terus bersama arfi. Kebiasan kebiasaannya sudah aku mengerti seperti saat dia pulang kerja ku buatkan dia teh hangat dia yang memintaku. Dan dia juga tidak suka jika apartementnya berantakan padahal yang berantakin kan dia.

Hal aneh yang tak kalah dari itu selama hampir 3 minggu aku selalu dikurungnya sampai dia pulang kerja kembali. Dia juga selalu menyuruhku memasak untuk kami menyiapkan air hangat untuknya mandi dan menggaruk punggungnya saat dia kesulitan tidur. Aku lebih terlihat seperti pembantu rumah tangga ketimbang wanita penghibur.

Tapi ku akui lebih baik begini daripada aku harus kembali ke pekerjaan lamaku. Haah tinggal seminggu lagi aku akan menjalani rutinitas lamaku. Sedih rasanya

Aku menoleh ke arah pintu arfi yang baru pulang terlihat kelelahan. Rambutnya acak acakan dasinya sudah kendur dan jasnya yang sudah dilepasnya.

“Hey sini duduk. Kamu kelihatan lelah sekali. Ini ada teh jahe kamu pasti suka” ucapku.

Tanpa ba bi bu arfi duduk disampingku mengadahkan kepalanya menatap langit langit.

“Mau ku pijit?” Tawarku. Dia menggelengkan kepalanya masih menatap langit langit.

“Aku buatkan air hangat dulu untuk mandimu ya” sudah kebiasaanku setiap harinya. Sudah seperti rutinitasku membosankan memang tapi biarlah paling tidak aku bisa merasakan hidup normal meski tidak akan lama lagi.

“Tunggu…” arfi menahan pergelangan tanganku. Aku menoleh psdanya yang menatapku

“Boleh ku pinjam pahamu?” Tanyanya.

Aku hanya mengeritkan alisku. Dia menarik tanganku sampai aku terduduk kembali. Tanpa izinku dia langsung menyandarkan kepalanya dipangkuanku dengan wajahnya yang menghadap perutku. Aku terdiam. Ini adalah pertama kalinya aku bersentuh kontak langsung dengan arfi. Dia memejamkan matanya kubiarkan dia tertidur dipangkuanku.

Aku mengusap lembut wajah sampingnya. Dia tampan juga wajahnya kalem. Aku memang menyukainya tapi siapalah aku hanya wanita kotor yang tidak pantas dicintai. Selain itu dia juga kan punya kekasih. Eh tunggu, aku lupa menanyakan hal itu akan ku tanyakan itu setelah ia terbangun nanti.

Arfi menggeliat sedikit membuat ku terkejut dari lamunanku. Dia memeluk pinggangku erat.
Eh?!

Aku terdiam. Ku yakin wajahku memerah kali ini. Arfi membuka matanya tiba tiba dan menatapku

“Kenapa berhenti?” Tanyanya. Aku masih diam

“Kenapa kamu berhenti mengelusku? Ayo lakukan lagi aku hari ini cukup lelah” aku hanya mengganggukkan kepala dia kembali terpejam dan aku kembali mengelus wajah sampingnya.

Setelah kurang lebih sejam akhirnya arfi bangkit dan dia sedang mandi sekarang. Aku sendiri sudah rapih dengan menggunakan dress hitam selututku. Arfi yang menyuruhnya katanya dia akan mempertemukanku dengan seseorang. Entahlah aku tidak tau siapa aku manut aja jika titahnya sudah turun.

Dan sekarang aku disini. Sebuah restoran mewah dan classi. Ini pertama kalinya aku dibawa kesini oleh pria berjas disana.

“Kita mau ngapain disini?” Tanyaku.

Dia hanya mendelik padaku. Aku kembali bungkam. Tak lama seorang wanita dan pria paruh baya datang menghampiri kami. Arfi berdiri dari duduknya begitu juga aku. Kami bersalaman dan kembali duduk

“Mah.. pah.. arfi mau ngenalin seseorang sama mamah dan papah” ucap arfi.

Dapat ku lihat raut wajah terkejut dari dua orang paruh baya didepanku ini. Aku belum bisa mengerti disituasi apa aku ini

“Kenalin mah pah namanya julia. Julia anantha. Dia kekasih arfi mah pah”

Uhuk uhuk

Aku tersedak minumanku. You say what?!

“Cantik juga yaa.. udah lama kenal sama arfi?” Aku yang ditanya hanya melirik arfi meminta bantuan.

Dasar patung dia tidak peka apa yang ku maksud dia malah santai minum wine nya.

“..emm-”

“Hampir setahun mah arfi menjalin hubungan sama julia” ucap arfi memotong ucapanku.

Uhuk

Kali ini papah arfi yang tersedak minumannya.

“Kamu bilang hampir satu tahun? Kurang ajar kamu ya gak ngenalin ke papah mamah gadismu ini” ucap pria paruh baya itu tersenyum.

Aku mencolek arfi tentu tanpa sepenge tahuan kedua orang tua nya arfi tapi dia malah menghempaskan tanganku. Hih!

Setelah jamuan makan yang bagiku sangat membingunkan ini akhirnya aku dan arfi berpisah dengan orang tuanya. Sampai dimobil aku langsung membrondong arfi dengan berbagai macam pertanyaan

“Apa kamu udah gila arfi? Bagaimana kalau orang tuamu menganggap ucapanmu serius?”

Arfi hanya menatapku datar dan kembali fokus pada kemudinya. Aku mengerang frustasi

“Arfi!! Denger aku gak sih?!!”

“Berisik!!!” Bentaknya.

Aku diam air mataku ingin menetes. Lemah sekali aku ini baru dibentak gitu aja mataku memanas. Ku palingkan wajahku keluar jendela.

“Ada apa emang? Kamu keberatan jika menikah denganku?”

Aku menoleh ke arfi. Bodoh sekali ucapannya ini

“Aku wanita kotor apa keluargamu akan menerimaku? Lebih baik kamu kembali-”

“Nanti apartement akan ku jelaskan” ucapnya memotong pembicaraanku. Setelahnya tidak ada lagi pembahasan diperjalanan kami.

Saat sampai di apartement arfi menarikku dan mendudukkan ku disofa. Arfi mengusap wajahnya gusar. Ada apa dengan dia? Dia menatapku tajam lalu dia beranjak dan menuju dapur. Arfi mengambil botol anggur dan langsung menenggaknya.

“Hey!! Ada apa denganmu!! Hentikan arfi!!” Aku berusaha merebut botol minumnya dan membuang ke lantai.

“Kamu kenapa? Mau cerita?” Tawarku.

Dia hanya menatapku detik berikutnya dia pergi keluar dan mengunci pintu dari luar.

Sungguh aku tidak mengerti ini. Sebentar dia mengajakku menikah dan mengenalkanku pada kedua orang tuanya serta berkata jika aku dan dia memiliki hubungan hampir satu tahun. Lalu sekarang dia seperti terlihat gusar, dan frustasi. Apa yang menjadi bebannya.

Aku membereskan pecahan botol yang barusan aku lempar. Membersihkan lantainya tapi anggur tidak akan dengan mudah hilang aromanya. Aku ke kamarku mengambil parfume. Ini parfume mahal hanya pada client kelas elit saja baru aku gunakan parfume ini. Tapi sudahlah aku tuangkan isinya ke lantai agar aroma anggur berganti menjadi aroma violet.

Setelah beres beres aku kembali ke kamar mengganti pakaianku dan tidur.

Setelah aku berganti pakaian aku menonton tivi sebentar. Sebuah berita yang sukses membuatku membulatkan mataku. Sebuah tempat prostitusi terciduk oleh polisi dan mereka menutup tempat itu. Beberapa pendiri dan penjaga serta wanita wanita malam sana ikut mereka giring ke kantor.

Tidak lain itu adalah tempatku bekerja. Jika mereka menutupnya maka aku harus kemana? Sedangkan waktuku bersama arfi hanya tinggal seminggu lagi. Apa aku harus kembali ke kampung halamanku. Ah tuhaaan berat sekali hidupku ini.

Dengan langkah gontai aku beranjak dari sofa menuju kamarku. Ku baringkan tubuhku dan menutupinya setengah tubuhku dengan selimut. Baru aku akan terpejam gerakan kecil membuatku terkejut. Sebuah tangan melingkar dipinggangku memelukku dengan erat. Aku sedikit menolehkan wajahku. Ah! Itu arfi. Dari mana dia aku tidak mendengar suara pintu terbuka maupun tertutup. Dia terus memelukku. Aku berusaha melepas pelukannya

“Jangan khawatir. Aku tidak akan melakukan lebih dari ini” ucapnya membuatku menghentikan gerakanku.

Tidak berapa lama dapat ku rasakan dengkuran halus dileher belakangku. Arfi sudah tertidur. Meski tidak yakin rasa kantukku lebih besar dari rasa khawatirku. Entah mengapa aku tidak ingin arfi melakukan itu hanya karena sebatas dia clientku.

Ada perasaan yang mendorongku untuk menginginkan aku lebih dari itu dimata arfi. Berulang kali aku berusaha hilangkan pikiran itu tapi selalu gagal. Entahlah aku bingung dengan perasaanku sendiri. Tanpa disadari aku terlelap menyusul arfi ke alam mimpi.

***

Sshhh

Ahhh

Desahanku terus keluar dari mulutku seiring gerakan arfi yang berada diatas tubuhku. Gairahku terbakar saat arfi mulai bermain dengan buah dadaku.

“Faster babe… please” ucapku meracau

“As you wish dear”

Dan benar saja arfi mempercepat gerakannya dan itu membuatku mendesah lebih keras. Ini nikmat sekali aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Ku rasakan dibawah sana berdenyut ku rasa aku akan sampai..

“Hey.. wake up”

Tahan arfi sebentar lagi aku akan merasakan sesuatu yang lama ingin kurasakan. Aku membuka mataku sedikit ku lihat arfi meracau tidak jelas aku tidak dapat mendengarnya.

“Aaaarrrrgghhhh”

“Wooooyy!!! Banguuunn..!!!” seseorang berteriak.

Ku buka mataku lebar lebar. Wajah arfi tepat didepan wajahku hanya berjarak beberapa centi saja. Sontak aku mendorongnya menjauh.

“Kau ini kenapa, teriak teriak seperti orang diperkosa, faster faster apa? Pulpen? Kau mimpi apa sampai menarik narik bajuku”

Aku masih diam menatap arfi yang kesal. Itu semua hanya mimpi? Ku periksa pakaianku. Iya semua masih lengkap. Demi sayur bayam yang dimasak kematengan ini sangat memalukan aku meracau dalam tidurku seolah aku melakukan itu dan orang yang ada dalam mimpiku kini sedang menatapku heran. Oh God!

“Pergilah mandi. Aku menunggumu dimeja makan”

“Arfi, tunggu dulu..” ia menoleh padaku

“Apa yang kamu dengar saat aku mengigau tadi?” Tanyaku. Ia hanya menaikkan alisnya satu

“Kau seperti orang gila berteriak faster faster.. kau sedang jualan pulpen ya?” Jawabnya.

Pulpen? Faster yang ku maksud bukan itu. Dari jawabannya dapatku ketahui pria didepanku ini belum pernah menyentuh wanita sama sekali atau dia memiliki bahasa dan cara lain?

Aku menghela nafas lega. Untung saja arfi bodoh soal itu

“Tapi kau menyebut nyebut namaku?”

Aku melotot mendengar lanjutan ucapannya.

Aku harus jawab apa? Apa aku harus jawab

‘aku bermimpi making love sama kamu dan aku mencapai klimaksku’ lalu mendengar jawabanku dia akan langsung menciumku dari leher turun ke dada lalu kami melakukan hal hal seperti dalam mimpiku.

Shit! Tinggal bersama arfi membuatku selalu berfantasi liar.

Lamunanku tersadar saat arfi menjentikkan jemarinya didepan wajahku “ah! Aku bermimpi berjualan pulpen faster denganmu iya hehehe” jawabku ngasal bin ngaco disertai cengiran bodoh ku harap arfi percaya dengan jawabanku. Dia hanya mendelik ke arahku

“Mandi cepat sana!! Kau sudah gila..” dan dia pun pergi meninggalkanku.

Aku gila karenamu arfi– eh gimana? Kan kan, aku memukul mukul kepalaku. Otakku gak beres harus segera berendam kalo begini.

Setelah semuanya beres aku duduk dan makan di meja makan bersama arfi. Tidak ada pembicaraan selama kami sarapan seperti biasa arfi yang pendiam dan aku yang masih segan membuka omongan lebih dulu.

Selesai makan ku hampiri arfi yang sedang duduk dibalkon apartementnya. Aku hendak meminta satu permintaan padanya ku harap dia mengabulkannya.

“Ehem.. boleh aku duduk disini?” Tanyaku takut takut aku mengganggu waktu santainya.

Arfi hanya menganggukkan kepalanya. Aku yang masih menunduk takut. Hatiku cemas apa arfi akan mengabulkan keinginanku mengingat hanya tinggal beberapa hari lagi aku bersamanya. Dan tempatku bekerja sudah ditutup.

Tabunganku yang sekarang pun tidak cukup untuk membeli rumah dikawasan sini mengingat aku baru bekerja 3 minggu ditempatku bekerja. Bodohnya aku malah membeli apartement bukan membeli rumah. Mana apartementnya masih nyicil lagi jika tabunganku habis maka apartementku akan diambil alih. Menyewakannya bukan ide yang bagus. Hampir setiap orang disini memiliki apartement

“Apa yang kau inginkan?”

Lamunanku dibubarkan oleh pertanyaan arfi. Aku masih enggan menjawabnya

“Hey, kau ini kenapa sih? Dari pagi bersikap aneh begini” ujar arfi seraya dia menatapku

“Begini.. kamu tau kan tempat kerja ku kini sudah ditutup. Aku tidak punya tempat tinggal lagi. Tabunganku belum cukup untuk membeli rumah. Jadi last day kontrakku sama kamu bisakah kamu anterin aku ke kota asalku?” Cepat dan ku yakin tidak jelas. Aku gugup saat akan bicara dengannya

“Dimana kota asalmu?”

“Bandung”

“Kau tinggal bersama orang tuamu?” Aku menggeleng menjawab pertanyaan arfi.

“Lalu?”

Aku menghela nafas panjang “aku tinggal sendiri orang tuaku sudah meninggal 2 tahun lalu” jelasku

“Kau tidak punya saudara?”

“Tidak. Adikku juga meninggal 3 bulan lalu karena penyakit DBD” ucapku

“Aku tidak punya siapa siapa. Paling tidak aku bisa tinggal dirumah orang tuaku”

Arfi mengangguk paham. Dia kembali melanjutkan membaca bukunya. Paling tidak aku lega dia mau mengantarku ke kota asalku yang bisa dibilang tidak dekat dari kotaku sekarang.

***

Hari terakhir arfi benar benar menepati janjinya. Kami sedang dalam perjalanan menuju kota asalku. Entah sudah berapa lama aku tidak kembali. Apa yang mau kubawa kesana? Kehormatan yang hilang. Itu tidak lucu ku harap aku tidak bertemu dengan ghandi. Hanya dia yang pernah bertemuku di club dan ku rasa dia tau apa pekerjaanku.

Mobil arfi berhenti tepat disebuah rumah tua yang hampir roboh. Oh tidak lelah diperjalanan kini aku harus lelah dengan membersihkan semua ini. Aku turun dari mobil arfi dan berjalan memasuki rumahku. Berdebu dan kotor bahkan ini tidak bisa disebut sebagai tempat tinggal.

“Kau serius ingin tinggal disini?” Tanya arfi yang mengekoriku.

“Yups” jawabku berusaha ceria.

Sebenarnya aku tidak yakin dengan jawabanku tapi hanya itu jawaban yang ku punya. Atap rumahku sudah bolong dan banyak bangkai tikus disini juga sampah sampah. Ku yakin warga sini menjadikan rumahku ini tempat sampahnya. Warga sini memang mengucilkan keluargaku.

Ku persilahkan arfi duduk. Hanya ada bangku plastik yang tersisa setidaknya hanya itu barang yang manusiawi. Aku keluar untuk membeli teh seduh dan gelas plastik karena dirumahku sudah tidak ada barang apapun lagi. Setelah membeli semuanya aku kembali berjalan kerumahku yang tidak seberapa jauh.

Aku curiga beberapa pemuda mengikutiku dari belakang. Ku percepat langkahku bukan tidak mungkin kejahatan terjadi karena tempat ini sepi dan hanya ada pesawahan kanan kiri. Tidak ingin terjadi hal buruk aku berlari secepat yang ku bisa.

Lelah kaki ku rasanya ingin copot. Baik itu lebay ku akui itu. Paling tidak aku terbebas dari niat jahat orang lain. Saat akan masuk langkahku terhenti mendengar ucapan seseorang dibelakangku

“Heh?! Untuk apa kau kembali kesini pelacur!! Kami sudah tau apa pekerjaanmu dikota!!”

“Jangan nodai kampung kami dengan kembalinya kau kesini? Mau menggoda warga kampung sini hah?!!”

Aku berbalik dan menatap segerombolan warga disana.

“Apa maksud kalian? Aku kesini karena aku ingin pulang kerumah orang tuaku” jawabku. Mataku menghangat tapi masih bisa ku tahan

“Untung saja pak romli dan bu santi udah meninggal andai mereka masih hidup tentu mereka akan tau seberapa bejatnya anak perempuan mereka”

Hatiku seperti tertusuk belati menembus dadaku. Air mataku sudah tak lagi bisa ku tahan

“Kalian bicara apa?” Ucapku berusaha menghindari fakta

“Gk usah pura pura julia. Anakku ghandi bercerita padaku kau bekerja di club dikota dan memuaskan birahi para pria hidung belang disana”

Kaki ku tidak bisa lagi menopang berat tubuhku. Aku bersandar pada dinding belakangku.

“Ada apa dengan kalian? Kalian punya masalah?”

Tiba tiba arfi keluar membuat semua warga bungkam.

“Eh dia kan pengusaha muda sukses itu kan. namanya siapa yaa aku lupaa..”

“Arfi juanto anak dari bram juanto itu. Apa hubungannya dengan pelacur disana”

“Oh si pelacur ini menggoda pengusaha muda itu. Huh akan lebih baik jika dia menikahi anakku saja”

Samar samar ku dengar ocehan ocehan beberapa warga disana. Namun aku tidak tau lagi apa yang mereka diskusikan yang ku tau pasti aku tidak akan dibolehkan tinggal kampung ini lagi

“Kalian ada masalah apa?” Tanya arfi pada warga disana

“Kami tidak ingin kampung kami tercemar oleh busuknya wanita disana” ucap seorang warga

“Kalian tau dari mana wanita ini busuk seperti yang kalian tuduhkan padanya?” Tanya arfi kembali.

Sudahlah fi jangan dilanjutkan bawa aku pergi saja. Itu pun kalau kamu mau.

“Anakku ghandi dia sempat merantau ke kota dan dia melihat gadis bejat itu bekerja diclub sana sebagai P*K” saut ibu ghandi.

Ghandi temanku hanya aku tidak terlalu akrab dengannya karena perbedaan status ekonomi

“Tanyakan pada anakmu kenapa dia bisa tau gadis ini bekerja di club jika bukan anakmu juga ada disana? Anakmu juga bejatkan berada dilingkungan yang banyak P*K nya” saut arfi. Mataku terbelalak sempurna aku tidak mengerti kenapa arfi melakukan itu

“Dengar semuanya yang ada disini. Saya arfi juanto datang kesini hanya memenuhi keinginan istri saya yang tidak lain adalah dia julia anantha”

Kali ini aku benar benar seperti dikejutkan oleh alat kejut jantung

“Dia merindukan orang tua nya. Kami hanya bermain sebentar setelah itu kami pulang. Kami sudah menikah 1 tahun lalu dan dia bukan P*K yang bekerja di club tapi saat itu dia sedang menemani saya berurusan bisnis dengan client yang kebetulan kami janjian diclub sana. Hanya itu jadi dengar ibu ibu berbaju biru sebelah sana..” ucap arfi lantang

“Sekarang kau bisa lihatkan siapa yang bejat disini. Istriku atau anakmu yang bermain ke club?” Wtf arfi jawaban apa itu. Ku lihat ibu ibu itu menunduk malu. Tunggu, dia bilang kesini sebentar itu artinya dia…

“Ayo kita pulang sayang” arfi menghampiriku yang masih setia menyandar pada dinding.

Detik berikutnya jantungku hampir pecah didalam. Dia mencium dahiku dan menggandeng tanganku menuju mobilnya. Apa ini bagian dramanya juga? Jika iya, betapa tidak beruntungnya aku– eh maksudnya?

Perlahan warga membubarkan diri. Dan arfi melajukan kembali mobilnya meninggalkan kampungku. Selama diperjalanan kembali hanya hening melanda.

“Umm.. arfi” ucapku. Dia hanya melirikku dari kursi kemudinya

“Terima kasih” pandanganku lurus tanpa melihatnya. Ku lirik dari ekor mataku dia menoleh padaku

“Begitukah caramu berterima kasih?”

Aku menoleh padanya. Perasaanku tidak enak pasti dia akan meminta sesuatu yang merepotkanku nantinya. Dia meraih tanganku menggenggamnya aku masih memperhatikan apa yang akan dia perbuat

“Tolong garukin punggungku dong. Merk kemeja ini bikin gatel deh” aku memutar malas bola mataku.

Mau tidak mau aku melakukan yang dia inginkan. Jika aku punya nyawa dua sudah aku tabrakan mobil ini ke tembok.

Ku pikir dia akan berkata ‘tidak masalah sebagai imbalannya aku ingin kau menikah denganku’ ah sial lagi lagi aku berfantasi.

Bersambung