Tentang Kita Part 19

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 19 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 18

“Kamu tadi kenapa diem aja, sariawan?” Tanya Arfi saat kami sudah berada dikamar

“Aku mau bilang apa? Untuk hal semacam ini aku gak berani berpendapat..”

“Kenapa? Karena Kamu merasa kamu melakukan kesalahan itu?”

Aku terkekeh mendengarnya

“Nggak juga, aku pikir untuk hal semacam itu masing masing pasangan memiliki jalannya tersendiri. Aku gk bisa bilang cara Iwan salah atau Iwan benar”

“Menurut kamu Rose salah bilang begitu?”

“Kamu bercanda? Aku baru melihat anak berusia 18 tahun sepandai tadi. Dia gak salah, justru aku pikir dia mengkhawatirkan Okta”

Arfi terkekeh lalu mengulurkan tangannya meraih tanganku

“Sini aku pangku” aku berdiri lalu pindah ke pangkuan Arfi

“Kamu tau Rose pernah bertanya kenapa kamu bisa hamil sebelum aku nikahin kamu”

“Kamu cerita semuanya?” Arfi mengangguk

“Aku cerita semuanya, termasuk aku yang gak paham apa artinya ‘keluar diluar’ aku pernah cerita kan soal aku yang gak tau istilah begitu”

Aku mengangguk

“Ya itu dia, Rose gak mempermasalahkan itu karena usia kamu dan aku juga sudah cukup dibilang matang. Pembicaraan dimeja makan barusan sepertinya kamu benar, Rose mengkhawatirkan Okta”

Aku hanya menganggukkan kepala. Ada sesuatu mengusikku. Ku buka sedikit pahaku ku selipkan jariku didaerah selangkanganku. Gatel euy

“Kamu ngapain sih beb”

“Gatel”

“Bilang gitu, tuh udah. Bisa gak garuknya” Arfi melebarkan kedua pahaku. Aku merutuki diriku kenapa tanganku tidak sampai kebawah selangkanganku lagian kenapa gatelnya disitu sih

“Ck, sini deh aku garukin. Mana”

Tanpa permisi nih anak langsung aja merogoh selangkangan orang. Eh tapi kok langsung ketemu sih. Ini gatel apa emang lagi mau nih si pussy hehe

“Gatelnya udah ilang fi, tapi jangan berenti garuknya”

Arfi hanya tertawa “gatel apa pengen buk?”

“Tadi gatel, kamu garukinnya nyenggol nyenggol sih”

“Ya orang gatelnya disitu, kayanya mau numbuh bulu deh. Punya kamu kan botak”

Anjay -_-

“Enak aja. Tapi emang enak sih, iya disitu fi enak. Jangan berenti ya”

“Hmm dia sagne. Dari dalem aja biar makin berasa”

Aku langsung membuka seleting celanaku menurunkannya sedikit agar tangan Arfi bisa masuk. Ia langsung memasukkan tangannya bermain dibagian sensitifku

“Iya disitu fi, enak. Jangan berenti yaa” ucapku menyenderkan tubuhku didada bidang Arfi

“Malah sange nih orang”

Aku tidak membalas ucapan terakhir Arfi. Bukan sange tapi enak bikin ngantuk. Aku memejamkan mataku dan tak lama aku tertidur sambil menikmati udara yang sejuk dan jari Arfi yang bermain dibawah sana

***

Pagi sekali kami sudah berada dibandara internasional dibelanda. Udara disini dingin sekali sampai nafasku berembun meski sudah memakai pakaian hangat. Rose mengantar kami sampai bandara, kuperhatikan dia meski terlihat tegar namun tidak bisa disembuyikan kesedihan harus melepas kakak tersayangnya kembali ke negara asal

“Kamu belajar yang baik ya selagi gak ada kakak”

“Udah bisa juga kan, Rose tagih janji kakak ya begitu Rose lulus nanti”

“Kamu liburan juga kerumah aja ya”

Mereka terus mengobrol melepas rindu yang akan datang sementara aku memperhatikan tingkah Gre yang tidak biasa. Ia terlihat pucat dan beberapa kali mual meski tidak muntah.

“Gre, apa lu lagi sakit?”

Gre menggelengkan kepalanya “Gue cuma kurang enak badan aja. Mungkin kedinginan”

Aku menatap Agus disebelah Gre, ia menganggukkan kepalanya

“Masih ada waktu, perlu gue anter ke…”

“Gue gpp Julia, thanks”

Ucapanku terpotong oleh Gre dengan nada sedikit sinis. Aneh sekali, pagi tadi dia masih baik baik saja. Aku tersenyum lalu kembali duduk. Tak lama suara pemberitahuan melalui speaker terdengar, Arfi menghampiri kami

“Kita flight sekarang, yuk”

Kami bersiap menaiki pesawat yang akan membawa kami ke negara asal, eh tapi entahlah negara mana dulu tujuan transit kami. Saat sudah dipesawat aku duduk disebelah Arfi dan sebelah Arfi ada pasangan Iwan dan Okta.

“Fi, Gre tadi bersikap aneh deh”

Arfi menoleh padaku “aneh gimana?”

“Dia sering mual mual tapi gak muntah, lalu emosinya juga seperti nggak terkontrol gitu”

Arfi menautkan alisnya menatapku “menurut kamu dia hamil?”

“Entahlah, saat ku tanya dia bilang hanya karena kedinginan”

“Bisa jadi, mungkin dia sedang ada alergi atau semacamnya gitu kan”

Aku mengangguk paham. Tak lama pesawat kami lepas landas

***

23 juni 2018 || 07 : 00 Jakarta, Indonesia

Hari baru menjalani hal baru, rutinitasku masih sama seperti sebelumnya. Membuat sarapan pagi, membereskan rumah, lebih ke kamar sih meski rumah ini memiliki asisten rumah tangga tapi aku tidak mengizinkan siapapun masuk ke kamarku dan Arfi. Oh ya satu hal lagi, orang tua Arfi sempat datang kesini lusa lalu, tidak ada perbincangan serius diantara kami dan orang tua Arfi.

Tapi nampaknya Orang tua Arfi terlebih Om bram belum menerimaku. Well, wajar sih, mungkin dimatanya aku perempuan yang akan memanfaatkan kekayaan anaknya dengan cara instan

Ting

Aku mengeluarkan bubur dari microwave lalu menuangkannya di kedua mangkuk. Btw, ini si Arfi kemana ya, kuletakkan panci ukuran sedang itu di westafel dan pergi mencari Arfi. Saat menuruni tangga suara gaduh terdengar dari samping rumah. Buru buru ku langkahkan kaki menuju sumber suara

Ternyata itu suara motor Arfi. Memang Arfi pecinta motor besar atau biasa disebut MoGe. Aku menghampirinya yang sedang berdiri disamping motornya, sesekali ia menggas motornya membuatku harus menutup kupingku

“Fi, sarapan dulu…”

Namun ia tetap asik menggeber motornya, kesal karena tidak didengar ku lepas sendalku lalu ku pukulkan ke pantatnya

“Astaga.. kamu ngagetin aja deh” ia mematikan motornya

“Ngagetin apaan dari tadi aku panggilin kamu aja gak denger” Arfi hanya nyengir gaje

“Maaf beb, abis kangen nih sama si Trixie”

Tunggu, dia pernah sebut nama itu. Oh ya! Aku ingat, saat masih dibelanda minggu lalu ia bilang ingin cepat kembali ke indo hanya karena kangen dengan trixie, kupikir nama seseorang aku yang saat itu belum tau bahwa trixie itu nama motornya ngambek abis abisan. Teganya ia kangen sama orang lain setelah hari pernikahan kami.

“Jadi ini yang kamu kangenin?” Arfi mengangguk masih dengan cengirannya yang bodoh

“Gimana? Bagus gak?”

Aku memperhatikan motor Arfi. Agak sedikit berbeda dari sebelumnya

“Kamu modif atau gimana? Kok beda sih?”

“Nggak, yang sebelumnya itu zx636 tapi aku jual dan ganti sama yang ini zx10r”

“Cuma beda model doang” ucapku malas

“Bedalah, 636 itu Cc nya 636cc, nah ini 1000cc. Lebih kenceng ini dong” balas Arfi sambil mengelus ngelus motornya. Hih lebay!

“Ini tuh aku beli waktu kamu ninggalin aku. Jadilah aku galau dan jadi juga aku beli ini deh” ucapnya lagi.

Aku hanya menganggukkan kepala. Sekali lagi aku memperhatikan motornya, spakboard belakangnya udah gak ada pasti nyiprat nih kalo jalanan becek, suara knalpotnya pun cukup membangunkan orang seRT kurasa.

“Berapa duit kamu beli ini?” Tanyaku

“430juta sama surat suratnya ya totalnya 457jutaan deh”

Aku membelalakkan mataku.

“Ya tuhan, kamu buang uang hampir setengah milyar cuma buat kendaraan roda dua?”

Arfi mendelik padaku

“Yeee biar pun mahal tapi bagus tau. Itu belum termasuk modif, aku baru ganti exhaustnya full system sama velg doang”

“Mahal?”

Arfi menggelengkan kepala “karena aku beli di bengkel langgananku jadi agak miring harganya, exhaustnya 34juta Full sistem sama velgnya 16 juta deh kemarin kalo gak salah”

Aku menggelengkan kepala saja. Aku tidak ingin melarang yang menjadi kesukaannya asal ia mampu dan kebutuhan kami tercukup ku pikir itu fine fine aja

“Oh ya beb, hari ini aku mau ajak kamu jalan jalan yuk naik si ini nih kalo kamu mau sih”

Aku menoleh lalu menganggukkan kepala

“Serius?”

“iya, kenapa gitu?” Tanyaku heran

“Biasanya perempuan gak mau diajak naik motor, panaslah, ini itu alasannya”

“Berlebihan ah, aku bukan kaya perempuan norak gitu deh”

“Kan biasanya aku bilang”

Aku terkekeh “lagian kalo pun aku matre aku gak akan nolak diajak jalan naik motor sama kamu. Motornya juga harganya setengah milyar gini” kini giliran Arfi yang tertawa

“Udah yuk ah sarapan ke atas dulu”

Aku berjalan lebih dulu disusul oleh Arfi. Setelah sarapan aku bersiap karena Arfi mengajakku riding pagi ini. Aku mengenakan celana jeans, kaos yang dibalut jaket

“Sip. Sempurna..” aku langsung keluar kamar dan kebawah menemui Arfi

“Nih helm kamu..” Arfi memberikan helm padaku

“Emang kita mau jalan jauh ya?”

“Mau jauh, mau deket harus safety riding beb. Udah cepet pake”

Aku memakai helm dikepalaku. Agak sempit sih dengan sedikit usaha akhirnya kepalaku berhasil masuk ke dalam helm(?)

“Arfi kok gelap sih” ucapku

“Visornya dibuka sayang”

“Yang mana, aku gak lihat apa apa disini” kudengar Arfi tertawa kecil

“Nah tuh udah bisa lihat kan?”

Oh visor itu kaca helm ya. ih norak banget sih gue. Arfi memakai helmnya, dan dia memakaikanku sarung tangan di kedua tanganku tidak lupa dia mengunci helmku

“Sip, yuk jalan”

Aku menahan tangan Arfi “aku belum pake sepatu” ucapku menaikkan satu kaki ku. Arfi tertawa,

“yaudah kamu duduk aku yang pakein sepatunya”

Aku duduk dan Arfi memakaikan sepatu dikedua kakiku. Dia begitu telaten, baik dan perhatian. ih makin sayang deh

“Selesai, yuk jalan”

Aku duduk dijok belakang motor Arfi. Keputusanku memakai baju yang sedikit panjang kebawah adalah pilihan yang tepat. Karena jok belakang motor ini agak sedikit tinggi membuatku jadi bungkuk jika aku memeluk Arfi didepanku. Arfi mengajakku jalan ke daerah selatan kota Jakarta.

Aku cukup senang karena cuaca disini belum menunjukkan matahari, agak mendung sih. Mataku menangkap sesuatu yang menggiurkan, ku buka kaca helmku dan menepuk bahu Arfi beberapa kali

“Kenapa sayang?” Tanya Arfi sedikit menoleh ke samping

“Aku mau itu..” tunjukku pada penjual permen gula.

Tanpa menjawab Arfi membelokkan motornya dan berhenti didepan tukang permen gula. Aku langsung turun dan membeli permen gula, selesai membeli aku kembali menaiki motornya Arfi

“Udah?” Aku menganggukkan kepala. Arfi melihat ke arah plastik yang ku genggam

“Banyak banget kamu mau jualan?”

“Kita mau kemana sih?” Aku balik bertanya

“Kita ke sencit, tadi Iwan bilang udah disana sama Gre dan Agus”

“Oh mereka motoran juga?”

Arfi mengangguk, menutup kaca helmnya dan kembali menjalankan motornya. Sampai di senayan aku bertemu dengan Gre yang sedang memakan lontong sayur

“Hoii” ku tapuk bahunya mengagetkannya

“Eh! Kon*ol kon*ol… ngagetin aja lo!” Lah dia latah, jorok lagi latahnya

“Kaget mah kaget aja latahnya jangan isi celana dong buk” ucapku meledek

“Yee lu rese lagian ngagetin segala, udah sarapan belom lu?” Aku mengangkat kantong plastik yang ku pegang

“Lu sarapan pake permen gula, mau pake nasi?”

“Pake lontong sayur! Gue udah sarapan mbak, ini mah maunya si dede nih” ucapku menepuk nepuk perutku

Gre mengembalikan mangkok lontong sayur dan membayarnya

“Oh ya Julia, gue mau nanya sesuatu tapi jangan bilang siapa siapa ya?”

Aku menatapnya heran lalu mengangguk

“Waktu lu baru hamil, lu mual mual juga?” Tanyanya. Dahiku mengkerut, tumben Gre menanyakan hal ini

“Waktu gue periksain itu usia kandungan gue masih 2 minggu dan gak mual mual. Jalan sebulan baru deh mulai mual” jelasku dan Gre menganggukkan kepalanya

“Ada apa lu nanyain gini, Gre” Gre hanya menatapku dengan tatapan yang sulit kuartikan

“Atau lu jangan jangan…”

“Yuk ah kesana” ujar Gre memotong ucapanku.

Aku hanya melongo ditempat memandang punggungnya menjauh. Ada sesuatu yang disembunyikannya, memang aku belum lama mengenal Gre tapi kuyakin ia sedang menutupi sesuatu. Apa ia sedang hamil? Tiba tiba seseorang memberikanku helm membubarkan lamunanku

“Kamu dipanggilin diem aja, yuk kita mau riding ke panahan” Aku mengambil helm dari tangan Arfi dan memakainya.

Saat dimotor Arfi aku melihat Gre diboncengan motor Agus. Wih Agus juga motor besar sepertinya suara motornya tidak beda jauh dari suara motor Arfi

“Beb kapan kapan aku nambah unit ya” Ucap Arfi

“Iya iya”

Aku tidak memperdulikan ucapan Arfi, yang ku memperhatikan Gre seperti menahan mual. Perasaanku mengatakan ia tidak sedang sakit

“Pegangan beb” ujar Arfi. Aku berpegangan pada pinggang Arfi motor pun melaju

Setelah berjalan jalan bersama teman teman Arfi lainnya, kami sampai pada tempat makan yang sederhana namun banyak perkumpulan motor gede

“Okta gak ikut wan?”

“Dia ada acara sama temennya fi” Arfi mengangguk lalu berlalu melewati kami. Saat Iwan berjalan masuk kutarik tangannya

“Eh? Apa apaan lu Jul” ujar Iwan kesal

“Gue perlu ngomong sama lu” ucapku tegas. Iwan menatapku heran lalu kutarik tangannya agar menjauh dari kerumunan

“Lu lihat gelagat Gre gak?”

“Gelagat? Kenapa emang dia?”

“Sejak dari bandara dibelanda minggu lalu dia terlihat gak baik baik aja, maksud gue seperti…”

“Hamil?” Tanya Iwan memotong ucapanku. Aku mengangguk ragu “iya baru perkiraan gue aja sih”

“Wajar aja Jul kalo doi hamil mah, lo tau kan Agus sama Gre gimana.. Asal si Agus gak ninggalin Gre menurut gue fine sih. Dah ah gue mau makan laper” Iwan berlalu dan aku mengikutinya. Didalam Arfi melambaikan tangannya, aku menghampirinya

“Kamu ngobrol apa sama Iwan?” Tanyanya dengan nada yang sulit kuartikan

“Aku….”

“Udah makan aja dulu” ujarnya ketus memotong ucapanku. Eh dia ini kenapa?

Selesai makan pun Arfi membayar lalu meninggalkanku keluar begitu saja. Aku mengejarnya keluar

“Fi..” panggilku yang dihiraukan olehnya. Ia terus berjalan ke arah motornya, ah aku melupakan sesuatu helmku tertinggal dimeja. Saat kubalikkan badanku Iwan memberikan helmku

“Ini helm lo kan? Lain kali jangan teledor neng” ucapnya tersenyum

“Hehe thanks ya” aku mengambil helmku

Brummm!!

Aku terkejut saat Arfi menghampiriku sambil menggeber motornya

“Ayo naik cepetan keburu panas” ujarnya ketus.

Dia ini kenapa sih, cemburu sama Iwan? Belum siap ku naik diatas motornya Arfi langsung menjalankan motornya dengan sangat tidak santai. Di perjalanan pun tidak ada obrolan sama sekali, aku hanya memeluk pinggang Arfi erat karena ia mengendarai motornya dengan kecepatan yang terbilang cukup kencang

Brukk

Arfi melempar helmnya ke sofa lalu ia naik ke atas. Entah kenapa aku merasa bersalah tapi aku tidak tau dimana letak salahnya aku. Ku berikan waktu agar emosi Arfi meredam setelahnya baru kutanyakan apa salahku, aku mengerti Arfi memang orang yang keras dan emosian biar begitu ia tidak akan bersikap seperti itu jika tidak ada kesalahan dimatanya yang kuperbuat

***

“Fi.. makan dulu yuk, aku udah masakin buat kamu” aku mengelus rambutnya. Sejak siang tadi ia hanya tidur dikamar

“Sayang…” panggilku lagi, dia terbangun lalu menatapku.

Aku memasang senyum terbaikku berharap bisa meruntuhkan sedikit emosinya. Dia beranjak dari kasur lalu pergi meninggalkanku. Hey, dia kenapa? Separah itukah kesalahanku.

Kami makan tanpa suara, Arfi hanya diam dan menghabiskan makanannya. Setelah selesai aku membereskan bekas makan kami lalu ku susul Arfi yang sedang duduk disofa ruang tamu

“Fi.. aku ada salah ya sampai kamu diemin gini?”

Arfi menoleh padaku lalu kembali menonton tivi. Aku menghela nafasku

“Bukan kamu yang salah, tapi aku” ujarnya pelan

“Kamu? Kamu salah apa?” Ia menoleh menatapku

“Kesalahanku adalah aku tidak bisa toleransi pada perasaanku sendiri”

“Aku gak ngerti, tapi apapun itu aku minta maaf sama kamu”

Arfi membalik badannya menghadapku “bagaimana bisa kamu minta maaf tanpa kamu tau kesalahan kamu?” Arfi menatapku lekat

“Kamu ngobrol apa sama Iwan tadi pagi? Aku pikir kamu bersamaku masuk kedalam”

“Kamu cemburu?”

“Apa pertanyaan dijawab dengan pertanyaan juga?” Ucapnya dengan penuh penekanan. Jantungku berdegub kencang, Arfi yang menatapku seperti ini membuatku takut

“Aku tadi nanyain soal Gracia, kamu lihat sesuatu yang salah sama Gracia?”

“Untuk apa kamu tanyakan itu, penting?” Nadanya ketus sekali. Aku meremas celanaku sendiri mengalihkan pandanganku

“Ti.. tidak.. ah.. bukan gitu, aku hanya…” sial disaat seperti ini lidahku keluh sulit sekali mengeluarkan kata kata. Aku melirik Arfi pandangannya masih sama menatapku tajam

“Hanya apa?” Nadanya tidak ketus lagi namun penuh penekanan.

Aku seperti terpojok disini. Ingin sekali kujelaskan padanya namun lidahku kaku tanganku gemetar, oh my god hanya dengan tatapan saja membuatku merasa sangat salah

“Aku, cuma bilang sama Iwan apa dia… melihat gelagat aneh pada Gracia sejak kita kembali ke sini.. hanya itu” sekuat tenaga aku keluarkan suaraku namun kuyakin hanya terdengar seperti suara nyamuk. Ku beranikan diri mengangkat kepalaku menatap Arfi

“Kenapa harus ngomong berdua?” Arfi kembali bertanya, baik. Aku tau kesalahanku kini. Dia cemburu padaku.

“Aku.. aku..” aku mengepalkan tanganku diatas pahaku. Ku tertunduk dalam, air mataku menetes. Dia menarik nafasnya panjang, lalu menyenderkan tubuhnya di sofa

“Jika memang benar apa yang kamu ucapkan kenapa kamu harus bicara berdua saja?” Lagi dia menekanku dengan pertanyaan yang membuatku semakin terpojok. Julia bodoh!

“Maafin.. maafin aku..” ucapku lirih bahkan tanpa suara. Arfi menampik kedua pipiku lalu mengangkat kepalaku menatapnya

“Aku tidak suka disituasi seperti ini, aku merasa bersalah membuat kamu menangis julia, aku mencintai kamu. Tolong jangan buat aku bertanya tanya dengan sikap kamu”

Aku masih menatapnya dengan air mataku yang membasahi pipiku. Ia menghapus air mataku. Tidak ada lagi nada ketus dan tatapan sinisnya yang ada hanya tatapan lembut seperti Arfi yang kukenal

“Kamu bertanya soal Gracia sama Iwan tapi kamu gak bertanya soal Gracia padaku? Apa aku tidak pantas untuk mengetahui apa yang menjadi pikiranmu sehingga kamu bertanya pada seseorang diluar sana tanpa sepengetahuanku? Memangnya kenapa jika kamu bertanya disaat ada aku disana?”

Kali ini air mataku keluar dengan deras. Dia benar, kenapa begitu bodohnya aku bersikap

“Sudahlah, berhenti menangis. Maafin aku yang bikin air mata kamu menetes”

Saat ia hendak berdiri ku tahan tangannya. Ia menatapku

“Aku yang salah, aku yang minta maaf sama kamu” kupeluk tubuhnya dari samping dan menangis dipundaknya. Ia belum melakukan apapun yang kudengar hanya helaan nafasnya kasar

“Jangan ada privasi diantara kita”

Aku menganggukkan kepala cepat dipundaknya “maafin aku fi.. maafin aku” seharusnya ini adalah kesalahan kecil, lain dengan Arfi apa yang aku perbuat tadi pagi tidak hanya membuatnya cemburu tapi membuatnya juga merasa tersisih. Akan ku ingat kesalahanku yang satu ini agar tidak lagi kuulang suatu saat nanti

“Udah jangan nangis ya, lain kali jangan begitu”

Aku mengangguk melepas pelukanku. Ku angkat jari kelingkingku, ia menatapku heran

“Janji kelingking” ucapku membuatnya terkekeh kecil tak lama ia menautkan jar kelingkingnya dijari kelingkingku. Ia memelukku erat

“Buatlah aku bahagia bersama kamu, rasa sakit, kecewa tidak akan sesakit saat kamu pergi ninggalin aku” ujarnya. Aku memeluk tubuhnya makin erat

“Ngomong ngomong soal Gre, kamu pasti mengira dia hamil kan?” Ucapnya tiba tiba melepas pelukanku. Merusak moment aja sih

“Iya..”

“Aku juga udah merhatiin sejak di airport belanda. Ya tapi mau diapain, palingan ulahnya Agus”

Aku diam menatap Arfi

“Kenapa?” Ia mengangkat alisnya sebelah. Aku merentangkan tanganku “mau peluk” ucapku manja Arfi hanya terkekeh

“Kemauan dede bayinya?”

“Bukan, kemauan mamahnya.. sini ih peluk lagi. Kan kangen”

Arfi tersenyum dengan segera ia memelukku “kita kan ketemu terus seharian ini”

“ih! Kamu diemin aku seharian”

“Aku diemin kamu dari jam 1 siang, sekarang kan jam 7 berarti 6 jam aku diemin kamu, sehari kan 24 jam”

Aku melepas pelukanku menjauh darinya

“Yaudah kalo gak mau peluk!”

Arfi mendekat padaku, menjawil daguku

“Gak usah pegang pegang!” Ujarku ketus. Ia meraih tanganku

“Sini aku pangku”

Aku pun pindah ke pangkuan Arfi tapi aku masih melancarkan aksi ngambekku.

“Sayang, mamahnya ngambek tuh. Masa papah yang cemburu dia yang ngambek” ujarnya mengelus perutku

“Apaan sih! Ngaduan! Nanti kalo anak kita lahir terus dia jadi benci sama aku itu karena kamu!” Ujarku ketus

“Tuhkan, mamahnya galak sama papah, ih serem tau. Nanti kalo dede lahir jangan nakal nakal sama mamah ya, mamah kamu cantik tapi galak”

Aku memukul pundak Arfi tak bisa kusembunyikan pipiku memerah seperti kerang rebus kuyakin. Arfi beralih menatapku tersenyum kualihkan pandanganku ke depan

“Manja banget sih kamu”

“Biarin!”

“Kalo aku makin sayang gimana? Eh aku udah gak bisa makin sayang sama kamu, udah mentok”

“Gombal terus kamu tuh”

“Biarin, bikin pipi kamu merah itu asik tau”

“arfiiiii” aku mencubit perutnya

“Aduh aduh.. ih galak banget sih kamu jadi gemes deh”

“Bodo!”

“Hehehe eh ya kita belanja yuk, isi kulkas udah mau abis tuh”

“Yuk, sekalian beli susu aku ya”

“Iya” dia menjawil hidungku “untung susuku gak akan abis dan emang gak ada yang jual juga sih cuma satu satunya yang sebenernya ada dua”

Aku menautkan alisku mencerna ucapannya. Seketika aku sadar saat melihat arah pandangan Arfi

“Mesum!”

Tawanya pecah, lalu aku berdiri hendak menuju kamar mengganti pakaianku.

***

“Kamu biasanya minum susu yang kalengan apa yang dus nih” tanya Arfi

“Dus aja fi, takut kebanyakan kalo yang kalengan” balasku. Ya kami sudah berada disupermarket terdekat, trolli kami sudah hampir penuh dengan belanjaan kebutuhan untuk sebulan kedepan

“Oke.. dua cukup?” Aku mengangguk. Arfi meletakkan dua kardus susu ditrolli.

“Fi, beliin aku es krim dong” Arfi menoleh padaku yang sedang memilih minuman kaleng. Ia mengambil satu

“Beli aja sayang, aku juga mau buat iseng main PS dirumah”

Aku langsung mengambil beberapa jenis es krim dari sana. Hmmm.. 4, 5, 6 ah kurang. Ku ambil lagi es krim disana. 19, 20 yap! Cukup. Aku tersenyum setelah menghitung jumlah es krim yang ku ambil

“Buset, kamu mau…” aku berikan Arfi tatapan tajam saat ia hendak protes

“Hehe maksudku, kamu harus coba yang ini, rasanya enak loh” ia mengambil salah satu jenis es krim juga

“Aku gak suka karamel” ujarku ketus

“Ah, Engg.. aku yang suka hehe buat aku ini hehehe”

“Ya udah kamu satu aja, aku yang ini semua”

“Loh tapi kan…” lagi aku memberikan tatapan tajamku dan dia kembali nyengir dengan bodohnya

“Eh hehe iya gpp, aku satu cukup kok makannya aku cicil selama sebulan”

Aku berbalik menahan tawaku. Jika aku tertawa didepan Arfi ia akan protes nanti karena jumlah es krim yang kuambil sangat banyak

Setelah menbayar, kami berjalan menuju parkiran dengan Arfi membawa dua plastik besar berlanjaan dan aku mengemut es krim ditanganku

Mataku menangkap seseorang yang tidak asing bagiku. Seorang gadis berambut panjang memakai dress kuning kontras dengan cahaya remang remang dibasement

“Kenapa kamu diem?”

Aku tidak menghiraukan pertanyaan Arfi. Kini gadis itu berjalan ke arah kami

“Eh ada Arfi dan… Emm siapa ya ini”

Kan nyebelin nih orang dateng dateng, aku menggigit es krimku setengah

“Belanjaannya banyak tuh, pasti Arfi yang bayar semuanya kan. Ckck parasit”

Emosiku tersulut, apa apaan dia apa dia tidak tau aku sudah menikah dengan Arfi. Arfi menarik tanganku kebelakang tubuhnya

“Gue gak ada waktu ngeladenin lu farin.. ayuk beb kita pergi”

Saat hendak melangkah farin menarik tangan Arfi. Tidak bisa ditoleransi, dia boleh berkata apapun tentangku tapi tidak dengan menyentuh Arfiku!

Ku hentakkan tangannya, ia terlihat kaget dengan perlakuanku

“Lo apa apaan sih” teriaknya

“Lo yang apa apaan! Dia punya gue! Gak usah lo pegang pegang dengan tangan kotor lo!”

Dia melangkan tamparan ke pipiku. Sialan! “Siapa yang kotor lo atau gue, pelacur!”

Ku layangkan tanganku ke arah pipinya.

Bugh

Ia tersungkur memegang pipinya, darah segar keluar dari sudut bibirnya. Aku menatapnya penuh emosi. Ingin sekali ku injak mukanya dengan sepatuku ini

“Awas lo!” Ancamnya lalu pergi. Aku berbalik melihat Arfi terdiam menatapku

“Kenapa kamu?” Tanyaku. Dia menggeleng kuat. Kenapa sih, aneh banget dia. Kami pun berjalan ke mobil Arfi dan pulang

Sampai dirumah Arfi hanya diam tidak seperti biasanya. Ia menuruti perintahku tanpa protes tidak seperti biasanya

“Fi, kamu kenapa sih diem aja? Kamu marah mantan kamu aku pukul kaya tadi?” Iya, aku membalas tamparan Farin dengan menonjok pipinya sampai ia tersungkur

“Bukan, aku gak tau kamu punya tenaga seluar biasa kaya tadi” ujarnya memegang kedua pipinya

“Hahaha.. itu kelepasan aja abis dia ngeselin. Makanya kamu juga jangan nyebelin jadi orang!” Ucapku.

Dia mengangkat kedua jari telunjuk dan tengahnya membentuk piss ke udara. Aku tertawa melihatnya seperti ini. Apaan sih dia ini lebay

***

Malam hari aku bermalas malasan dikasur, entah kenapa aku sangat merasa lelah meski melakukan hal kecil sekalipun

Klek

Arfi masuk ke kamar lalu menyalakan tivi

“Kamu cepet banget mandinya” ucapku

“Aku gak mandi, cuma cuci muka aja. Lengket sih”

Ia mengambil pakaian dari lemari dan berbalik menghadapku. Tatapanku tertuju langsung padanya, lengannya yang kekar, otot perutnya yang sixpack dan.. oh my god

“Fi sini deh” ujarku

Arfi yang hendak memakai baju menghampiriku

“Kenapa sayang?”

“Sini deketan lagi..” ia mendekatkan wajahnya tanpa menunggu lama ku cium bibirnya dan ku kalungkan tanganku dilehernya.

Ia yang terkejut serangan dadakanku sedikit berontak namun ku tahan kepalanya dengan tanganku. Ku tau ia tersenyum dalam ciuman kami, ia langsung mendorong tubuhku ke kasur

“Nakal ya sekarang..” aku tersenyum

“Pengen?” Aku menganggukkan kepala

“Tapi pelan pelan ya, ada yang hidup disini” ujarku mengelus perutku.

Ia tersenyum lalu mencium bibirku. Ciuman kami memanas saat Arfi melumat bibirku. Ia menindihku tapi lututnya menahan beban tubuhnya agar tidak menindih perutku. Aku balikkan tubuhku menjadi aku diatas tubuhnya

“Kamu pegel nanti kalo nahan terus”

“Emang gpp ya kita berhubungan gini kan ada dede nya”

“Gpp, asal jangan kasar aja ya.. jangan terlalu banyak juga muntah didalemnya”

Arfi tersenyum, aku mencium bibir Arfi lalu turun ke rahangnya, lehernya dan dadanya. Beberapa kutinggalkan tanda cinta disana

“Sshh..” desah Arfi. Aku kembali mencium bibirnya, ia melumat bibirku lembut

“Udah on belum?”

“Dari tadi, sakit nih ke dudukan kamu”

Aku turun dan melepas celana yang Arfi kenakan. Keluarlah junior Arfi yang mengacung tinggi. Aku kembali menduduki perutnya tapi tanganku meraba junior Arfi

“Sshhh.. enak sayang”

“Mau aku isep gak sayang?” Bisikku ditelinganya.

Ia mengangguk cepat. Aku turun dari tubuhnya, ku elus junior Arfi yang sudah menegang keras. Perlahan kumasukkan kepala junior Arfi kemulutku

“Aw… ngilu beb”

“Maaf maaf.. kegedean sih”

Ku coba kembali memasukkan junior Arfi kemulutku

“Sshh… aaahh…”

Ku maju mundurkan kepalaku sambil sesekali menghisap juniornya, mulutku tidak dapat menampung semua junior Arfi hanya setengah yang dapat masuk ke mulutku. Ku jilati ujung lubangnya didalam mulutku, desahan Arfi membuatku semakin liar mengulum batangan juniornya

“Beb, aahh… enhaakkk terusss”

Ku lepas juniornya dari mulutku, ku kocok sambil ku jilati ujung lubangnya

“Beb aku mau keluarrrhh..”

“Keluarin dimulutku ya”

Ku masukkan kembali junior Arfi ke mulutku dan kembali ku gerakkan kepalaku naik turun

“Sshhh… ahhh.. ahhh.. ahhh shayanghhh.. ahhh”

Aku jilati sisa cairannya dibatang juniornya, rasanya tidak buruk menelan cairan laki laki. Ini pengalaman pertama kalinya bagiku meski pekerjaanku dulu kotor tapi aku tidak pernah mau oral bahkan sampai menelan cairan laki laki.

Kulihat Arfi lemas dengan nafas memburu

“Cape?” Tanyaku. Arfi menggelengkan kepala

“Kapan aku puas cuma sekali sama kamu?” Aku tersenyum dia bangkit duduk menghadapku melepas pakaianku menyisakan bra dan CD ku

“Boleh aku lakukan seperti yang kamu lakukan?” Aku tersenyum jahil

“Emang bisa?”

“Aku pernah nonton blue film dulu. Kalau hanya menjilat jilat aja aku bisa kok. Beberapa titik sensitif wanita pun aku tau”

“Wow, kalau begitu buat aku meneriaki nama kamu sayang”

Ia mencium bibirku lalu membimbingku untuk tiduran. Arfi mencium leherku, terus turun di kedua buah dadaku, ia meremasnya lembut yang masih terbungkus Bra. Ku angkat dadaku sedikit untuk memberikan ruang tangannya membuka pengait bra ku

Klik

Arfi membuat Bra ku, terpampang jelas kedua buah dadaku diwajahnya. Ia meremas lembut ke dua buah dadaku

“Kamu narkotika yang legal bagiku sayang” ucapnya lalu menghisap salah satu putingku

“Asshhh…”

Ia memainkan lidahnya diputingku. Lalu bergantian kesebelahnya begitu terus. Menciumi lembut kedua dadaku lalu ciumannya turun ke daerah kewanitaanku. Arfi membuka CD-ku dan sekarang aku tanpa sehelai benang ditubuhku. Ia mendekatkan wajahnya ke selangkanganku.

“Ahhsshhh Arhfiiihh..”

Aku mendesah Saat lidahnya menyentuh bibir kewanitaanku. Ia menjilatinya terus, sesekali ia menghisap bagian paling sensitif yang berada diatas kewanitaanku. Sesekali aku mengangkat pinggulku, ku jambak pelan rambut Arfi yang masih bermain disana

Desahanku semakin menggila saat Arfi mulai memasukkan kedua jarinya kedalam kewanitaanku sambil ia terus menjlatinya

“Sshhh… Arfiiihhhh aku mau keluargghhh”

Ku remas sprei kasurku kuat kuat. Aku sampai pada puncakku. Arfi naik ke atas tubuhku

“Kamu hebat sayang” ucapku dengan nafas yang tersenggal

“Mau?” Tanyanya, aku mengangguk lalu Arfi memberikan kedua jarinya untuk kuhisap. Jari yang penuh dengan cairanku sendiri. Kuhisap kuat kuat kedua jarinya. Arfi pun ikut menghisapnya, lalu bibirnya turun ke bibirku, kami melakukan ciuman panas kembali

Disela ciuman kami Arfi menggesek gesekkan batangannya di kewanitaanku membuat nafsuku kembali naik

“Masukin sayang..”

Arfi mengangkat pinggulnya sedikit lalu diarahkan juniornya kelubang milikku

“Sshh…” ku memejamkan mataku menahan rasa sedikit perih saat Junior Arfi memasuki kemaluanku

“Siap untuk hidangan utama” ucap Arfi. Aku menciumnya lalu menganggukkan kepala. Arfi mulai menggerakkan pinggulnya dengan tempo sedang

“Sshh.. ahh.. ahh.. enak shayanghh.. faster baby faster…” racauku

Arfi mulai mempercepat tempo gerakannya. Ku tarik kepala Arfi menuju dadaku. Ia menghisapnya kuat membuatku semakin gila

“Ohh..sayaanghhh.. jangan berhenti, terusshh ahhhArfiiiii”

Bawahku berkedut pertanda aku akan sampai

“Arfiihh fasterr.. aku hampir sampaii ahhh”

“Samaa.. tahan sayang, biar barengghh”

“Uughh.. ohh.. ahhhh”

Desah kami bersama, dan kami sama sama mencapai puncak kedua kami. Aku ambruk diatas tubuhku namun ia masih manahan pinggulnya dengan kedua lututnya. Nafasku masih belum teratur namun kurasakan pergerakan disana, Arfi bermain dengan kedua buah payudaraku, ia menghisapnya yang satu sedangkan satunya ia pilin putingnya

Ia terus melakukan itu secara bergantian membuat nafsuku terpancing kembali. Arfi mengeluarkan juniornya dari lubangku. Dapat kurasakan sesuatu merembes keluar dari bawah sana. Ia menggesekkan juniornya dibibir kewanitaanku

“Kamu nakal banget sih” ucapku lalu ku balikkan tubuhnya dan aku duduk diatas perutnya. Kuarahkan juniornya ke dalam lubangku. Sekali gerakan kewanitaanku melahap semua junior Arfi

“Kamu nafsuin banget sih sayang..” ia duduk memeluk tubuhku. Aku mulai menggerakkan pinggulku, tidak tinggal diam Arfi mulai menghisap kedua payudaraku membuatku semakin bernafsu

“Mmhhh ehnakkhh sayang terus” ucapnya. Aku terus menggerakkan pinggulku

“Yang ini.. dikeluarin.. diluarrhh yaahh shayanghhh”

“Shh.. ahh..”

Desahan kami mengisi kamar kami. Sesekali kami berganti posisi dengan aku yang menungging dan ia memasukkannya dari belakang

“Shayanghh aku mau keluarrhh” ucapku

“Keluarin aja sayang” Arfi mempercepat tempo gerakannya

“Ahh.. ohh emmm… aahhhhh” desah panjangku menandakan aku sampai pada puncakku. Tak lama Arfi pun sampai pada puncaknya. Ia mencabut batangannya dari lubangku, aku berbalik dan langsung menghisap juniornya

“Emmmhhh… shhhhh… ahhhhhh shaynghhh”

Mulutku terasa penuh dengan cairan kental milik Arfi. Aku menelan semuanya lalu kubersihkan batang junior Arfi

Setelah bermain beberapa ronde, kami tiduran masih tanpa sehelai benang ditubuh kami. Arfi mencium keningku

“Terima kasih ya sayang” ucapnya aku tersenyum “bobo sini aku peluk” aku mendekatkan tubuhku lalu Arfi memelukku

“Goodnight, have a nice dream my queen” lalu ia mencium puncak kepalaku. Tunggu, my queen dia bilang? Kaya di ff sebelah hehe

Malam ini sangat lelah, tubuhku sangat butuh istirahat belum lagi efek berhubungan dengan Arfi membuatku pegel pegel diseluruh tubuh tapi itu mengasikkan. Arfi mengelus puncak kepalaku, tak lama aku tertidur pulas

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48