Tentang Kita Part 18

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 18 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 17

 

Ditempat lain seorang gadis duduk ditemani dengan segelas wine ditangannya. Sesekali ia mengesapnya untuk menghangatkan tubuhnya di cuaca dinginnya eropa.

“Kakak udah bilang kamu jangan minum wine sebelum usia kamu 20 tahun”

Gadis itu menoleh kebelakang lalu tersenyum kecut

“Dingin, cuma buat menghangatkan aja. Lagipula anak seperti kita mana bisa bedain yang salah dan benar? Bukankah kita berjalan dan belajar secara otodidak?”

Pria itu mengelus puncak kepala gadis itu

“Disaat orang tua tidak pernah mengajarkan hal buruk dan baik, bukan berarti kita gak bisa bedain baik dan buruk”

“Okey, sebutkan contoh kebaikan itu, ah! Aku tau.. menghamili seorang wanita lalu menikahinya?”

Pria itu tersenyum kecil menatap gadis berambut hitam didepannya

“Bahkan disaat melakukan keburukan pun ada kebaikan. Bertanggung jawab contohnya”

Gadis itu menenggak habis wine digelasnya dan ia hendak menuangkan kembali wine ke gelas, namun ditahan oleh pria itu

“Kamu gak boleh minum lagi.. baju hangat kamu udah cukup tebal. Kakak rasa minuman ini gak lagi kamu butuhkan”

Gadis itu menatap tajam pria didepannya. Ia urungkan niatnya lalu mengalihkan pandangannya. Pria itu menuangkan wine dikedua gelas di meja.

“For last..” ucap pria itu. Gadis itu menoleh lalu mengambil gelas dan mereka minum bersama

“Kamu gak boleh minum ini kalo gak sama kakak ya”

Gadis itu hanya tersenyum simpul “karena hanya kakak yang akan menjaga kamu” Gadis itu berucap mengikuti logat dari si pria yang biasa di ucapkan kepada gadis itu.

Pria itu tertawa membuat si gadis ikut tertawa

“Btw pernikahan kakak gimana? Papi mami tau?”

Si pria terdiam memandang gelas kosong didepannya. Tak lama ia memandang si gadis dengan senyum

“Akan tau, pasti tau. Dan kakak harap kamu datang di acara pernikahan kakak” gadis itu menuangkan wine ke gelas si pria

“Thanks” ucap si pria

“Aku pasti datang, karena suatu hari nanti kakak yang akan menjadi wali dipernikahanku”

Si pria mengelus puncak kepala gadis itu

“Pasti.. jangan khawatir. Kamu punya keluarga baru sekarang, dan mereka juga akan melindungi kamu”

“Temen temen kakak yang freak itu? Euh banget. Mereka itu berisik kak, lasak juga lagi” ucap si gadis membuag si pria tertawa

“Karena hanya mereka yang menemani kakak dan memberi arti beginikah rasanya punya saudara dan keluarga, saling berbagi, mengerti, memberi solusi bahkan konflik”

Si gadis menatap pria itu

“Mereka gak seburuk yang kamu kira kok meski yah, sifatnya aneh sih. Tapi kamu pasti suka berteman dengan mereka kakak yakin”

Si gadis hanya merenung mendengar ucapan si pria. Dia memandang kosong kebawah memikirkan ucapan dari pria yang ia panggil kakak tersebut.

“Kakak tidur dulu ya, kamu jangan terlalu larut. Kakak sayang kamu octa” pria itu mencium kening gadis itu dan melangkah pergi

“Kak, tunggu…”

Pria itu berbalik menatap gadis yang masih duduk dibangku bar kecil

“Ya?”

“Kalau octa udah lulus, boleh octa tinggal sama kakak dan kak julia di indo?”

Pria itu terdiam dan menatap adiknya ini tak lama senyum mengembang dibibirnya

“Gak usah izin dulu. Pintu rumah kakak terbuka untuk kamu” ucap pria itu membuat si gadis berdiri dan memeluk kakaknya

“Terima kasih kak”

“Eh ya btw kakak bukan tinggal di apartemen lagi, kakak punya rumah sendiri sekarang”

Gadis itu melepas pelukannya

“Beneran” pria itu mengangguk

“Ada kolam ikan koi nya, octa pasti suka dan itu kolam ikan khusus buat octa”

“ih makasih kak, octa gak sabar cepet lulus dan tinggal sama kakak”

Mereka saling berpelukan kembali sebelum mereka kembali ke kamar masing masing

***

“Beres, nah sekarang lo tinggal tunggu disini sampe acara akadnya selesai dan semua saksi bilang SAH!! deh” ucap gre.

Aku memandangi pantulan bayanganku di cermin. Hari ini hari sangat bersejarah bagiku, dengan mengenakan gaun putih panjang, mahkota bunga putih dikepalaku dan pernak pernik lainnya serba putih. Aku akan melangsungkan pernikahan dengan arfi. Jantungku berdegub sangat kencang, aku akan menjalani hidup baru dan kali ini hubungan yang sah.

“Gue keluar dulu bentar jul” aku tersenyum kecil lalu Gre berjalan keluar.

“Eh?!! Arfi!! Lu ngagetin aja sih!!”

Pekik Gre diluar sesaat setelah ia menutup pintu kamarku

“Gue mau ketemu Julia, Gre. Pleaselah sekali aja gue degdegan nih” bisa kutebak itu adalah suara Arfi diluar

“Gak bisa!! Lu harus ijob qobul dulu abis itu lu bisa ketemu setiap hari”

“Ayolah Gre, semenit deh..”

“Nggak!!”

“30 detik”

“Sekali nggak ya nggak Arfi!!”

“5 detik deh”

“Agussss!!!!”

Aku tertawa kecil. Aku dan Arfi memang tidak boleh bertemu sampai Arfi mengucapkan ijab qobul dan saksi mengatakan Sah. Oh ya meski kami melangsungkan pernikahan dibelanda kami tetap menggunakan syariat agama dan yang datang pun hanya kerabat dekat saja.

Andai saja ada satu keluargaku yang bisa ikut menyaksikan dihari pernikahanku ini. Kedua orangtuaku sudah tiada. Adik satu satunya yang kupunya pun ikut menyusul kedua orang tuaku. Sebenarnya adikku lebih dulu tutup usia disusul kedua orang tuaku. Tinggallah aku sebatang kara begini, agak sedih sih tapi kata Agus dan iwan, mereka akan menjadi saksi perwakilan keluargaku. Agak ganjil sih, tapi ya sudahlah mau diapain lagi.

Klek

Aku menoleh ke arah pintu. Ternyata octa, eh rose yang masuk menghampiriku. Dia tersenyum berdiri dibelakangku dapat kulihat dari pantulan cermin.

“Terima kasih kak udah ngembaliin keceriaan kak Arfi lagi. Octa titip kak Arfi sama kak Julia ya, oh ya kata kak Arfi setelah Octa lulus Octa boleh tinggal bersama kalian di indo”

Wah benar ternyata octa atau rose ini tidak sependiam yang kukira

“Sama sama kok. Kakak gak sabar juga nunggu Octa lulus dan tinggal bersama kami. Pasti seru, kuliah yang sungguh sungguh ya”

Octa menganggukkan kepalanya

“Oh ya kak, Aku belum pernah lihat kak Arfi bersungguh sungguh sama perempuan loh”

“Oh ya? Hehehe mungkin kali ini memang udah umurnya harus serius menjalin hubungan Ta..”

Octa menggelengkan kepalanya membuatku menautkan kedua alisku

“Aku pikir ada alasan lainnya deh, secara garis besarnya sih kak Arfi itu sangat…..”

Klek

Ucapan Octa terpotong saat pintu terbuka dan Gre menyembulkan kepalanya

“Emm.. Rose, udah mau mulai”

Rosa tersenyum lalu beranjak dari duduknya keluar dari kamarku. Jantungku berdegub kencang saat giliran Arfi mengucapkan ijab qobul. Karena menggunakan mic jadi suaranya bisa terdengar sampai kamarku

“Saya terima nikahnya, Julia Anantha binti Arjun Sugianta dengan mas kawin tersebut dibayar. Tunai!!”

“Sah?”

“Sah!!”

Aku menitikkan air mata saat para saksi berseru Sah. Artinya kini hidupku dimiliki oleh Arfi.
Klek

Okta dan Gre masuk

“Yuk kebawah temuin suami lo”

Aku berjalan keluar menuruni tangga. Okta disebelah kananku dan Gre disebelah kiriku. Aku melihat beberapa kerabat Arfi termasuk designer pakaian pengantinku disana. Arfi melihatku, pandangan kami bertemu, dia tersenyum lebar aku pun begitu. Aku duduk disebelahnya dan ritual selanjutnya adalah aku mencium punggung tangan Arfi menandakkan seorang Istri yang harus patuh kepada suaminya.

“Sekarang kita udah sah tau” bisiknya pelan.

Aku hanya mengangguk pelan. Arfi menanda tangani buku nikah begitu juga dengan aku. Selanjutnya kami bertukar cincin pernikahan dan berfoto bersama.

Acara dilanjutkan dengan aku dan Arfi duduk dipelaminan. Sebenernya kalo dipikir lucu juga sih, secara gitu dibelanda, dieropa cuy kami melangsungkan pernikahan ala ala indo juga. Kan aneh sih, lalu penghulunya, yang kutau ini adalah idenya Agus, penghulunya orang indo dan diterbangkan langsung dari sana kesini 5 hari sebelum hari ini.

Mereka merencanakan ini tanpa sepengetahuanku. Edan pisan euy kalian tapi kalian dabestlah

Setelah acara selesai dan aku yang masih duduk di pelaminan menunggu Arfi yang ke toilet.

“Wadadaw, gimana nih rasanya jadi Nyonya Juanto sekarang?” Aku tersenyum simpul

“Ekhem.. ya seneng sih, gimana yaa, susah dijelasinnya. Pokoknya aku tuh seneng banget, bahagia pastinya sih yaa” ucapku yang ku buat seaneh mungkin

“Eh, cabut yuk. Pangantennya gila” ucap Iwan

“Iyak, alay gini jadi penganten ya” Kali ini Agus menimpali

“Hahaha sesekali gue yang aneh gitu jangan cuma kalian aja dong” belaku

“Kalian ngapain ngumpul disini, kaya arisan aja” ucap arfi

“Kita lagi ngomongin lu”

“Ngapain ngomongin gue disini”

“Ya terus harusnya dimana dong?”

“Diperosotan sono”

Kami semua tertawa. Disaat sedang ngobrol ngobrol aneh datang salah satu kerabat Arfi juga menyalami kami semua

“Selamat ya Pak Arfi, semoga pernikahannya langgeng terus” ucap si tamu pria

“Terima kasih Pak”

“Wah istrinya cantik begini pantesan aja ya buru buru dinikahin takut diambil orang hahaha” ucap si tamu wanita yang kutau itu pasti istri dari si tamu Pria

“Jul, kayanya ada yang salah deh” bisik iwan ditelingaku

“Ya lu lagian ngapain berdiri disebelah gue sih”

“Tadi kan lagi ngobrol kita, kenapa jadi ayang beb gue yang disangka istrinya si Arfi”

“Kan gaun gue, Gre, Rose sama Okta sama wan”

“Istrinya muda sekali pak Arfi, usianya berapa tahun ini” Tanya si tamu wanita melihat Okta hanya diam saja dari tadi

“18 tahun”

Mereka berdua diam lalu tertawa kecil “wah muda sekali ya..” Arfi menoleh kepadaku dan Iwan memberi kode kalau ini ada yang salah. Dari tadi harusnya sadar. Dasar gak peka!

“Kak, aku laper yuk turun” Tanpa rasa bersalah Okta langsung menggandeng tangan Iwan yang berdiri disebelahku meninggalkan pelaminan

“Loh kok pergi? Itu tadi kakak dari istrinya pak Arfi?” Tanya si Tamu pria. Arfi menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal ku yakin

“Yang tadi itu bukan istri saya pak, Pak kimo salah sangka. Ini istri saya” Ucap Arfi mendekatiku.

Kedua tamu itu terdiam, lalu tersenyum kikuk, menyalamiku dan pergi. Aku menoleh ke Arfi begitu juga dengan Arfi dan kami sama sama tertawa melihat tamu yang barusan datang langsung pergi keluar

Malam harinya aku berganti pakaian. Hanya mengenakan dress putih biasa dan Arfi mengenakan kemeja dibalut celana hitam dan sepatu hitam. Gagah sekali gantengnya aku wkwk. Saat tamu sudah tidak ada dan saat semuanya sudah dibereskan kami sepakat untuk membuat acara kecil kecilan ditaman belakang rumah. Hanya kami berenam ditambah Rose.

“Oke kali ini gue jadi MC nya. Malam ini adalah malam pelepasan masa lajangnya dari salah satu sahabat kita yaitu Arfi, pelepasan lajang ya karena perjakanya udah dilepas duluan sama si tante” ucap Iwan

“WOY!!!” teriak Arfi dan aku hanya memberikan kepalan tangan diudara

“Hahaha bercanda bro bercanda. Oke jadi gak usah basi basa kita langsung aja mulai acaranya. Pengantin diharap maju kedepan”

Arfi menggandengku berjalan ke depan

“Oke sebelumnya gue mau ucapin makasih buat semua temen gue yang udah bantu gue. Iwan thanks banget atas acara dan tamu udangannya, Agus yah udah taulah pada ya, Gre dan Okta thanks banget udah bantu rias bidadari gue ini” Arfi melirikku,

“Gak lupa juga buat adik perempuan gue satu satunya. Sini dek..” Arfi memanggil Rose yang sedang duduk ditepian kolam. Rose berdiri ditengah aku dan Arfi

“Ini adik gue, dan orang satu satunya yang masih perduli sama gue dikeluarga gue. Dan gue mau kalian juga menerima adik gue seperti kalian menerima gue” ujar Arfi.

Aku menoleh ke Rose yang sedang menatap Arfi. Diantara teman teman Arfi tidak ada yang memberi tanggapan sama sekali sampai akhirnya Okta berdiri dan melangkah mendekat. Ia meletakkan tangannya dipundak Rose sambil tersenyum

“Rose udah aku anggep sahabat aku. Jadi kak Arfi gak usah ngomong begitu, kita semua mau kok jadi sahabatnya Rose tanpa diminta sekalipun”

Rose menatap Okta secara serius. Aku tidak dapat mengartikan tatapan Rose kepada Okta yang jelas Okta terus tersenyum

“Gue sependapat sama ayang beb gue fi, lu itu lebaynya kronis sih. Adik lu ya adik gue juga” ujar iwan

“Adik kita semua wey!” Teriak Agus yang duduk di ayunan tidak jauh dari kami

“Gue gak perlu bicara apapun gue geng, dan lu gak usah sampai bilang tolong terima adik gue bla bla bla.. kita udah terima kok dan udah dianggap juga sebagai adik gue. Selesai” ujar agus sedikit berteriak

“Tuhkan, kamu gak perlu khawatir lagi rose. Kamu gak akan merasa kesepian lagi” ujar Arfi memeluk adiknya.

Arfi melepas pelukannya dan tersenyum jahil “apalagi sebentar lagi Rose punya adik ipar yang gemes, yaa sekitar 7 bulanan lagi deh” ucap Rose menyindir dan mengedipkan matanya ke arahku. Arfi yang salah tingkah menggaruk kepala belakangnya

“Udah udah itu gak usah dibahas ah.. kecelakaan itu” kilah Arfi namun Rose malah tertawa

“Kecelakaan apa ke enakan kak?” Lagi rose menyaut membuat semua tertawa.

Arfi menatapku dengan wajahnya yang lucu seakan meminta bantuan. Aku hanya menatap ke arah lain.

“Aduh fi, lu itu enak jadi bahan bullyan sih ya” ujar agus masih tertawa

“Aku sering mengingatkan kakakku untuk tidak lupa mencabut colokan charger hp, laptop atau apapun itu karena dia pelupa..”

“Kak, harusnya kemarin itu kakak bawa seseorang saat berhubungan untuk mengingatkan kakak agar tidak lupa dicabut”

Aku hanya menggelengkan kepala mendengar ucapan Rose. Dia menoleh padaku tersenyum. Semua orang disini tertawa kecuali aku dan Arfi. Aku hanya tersenyum saja

“Kamu kuliah dibelanda cuma buat stand up comedy gitu?” Ucap Arfi. Aku berjalan ke bangku dan duduk disana

“Mau lihat bakatku yang lain?”

“Gue suka nih anak kaya gini cocok banget sama kita” ujar Iwan

“Hey tunggu, aku punya nama belakang Rosediana. Jangan menyebutkan kata suka sembarangan disini, kak”

Kali ini Iwan kena cela oleh Rose.

“Mampuy kamu Iwan” Ujar Gre disebelah kanannya

“Bercanda ya kak” ujar Rose mengangkat kedua jempolnya keudara. Iwan pun hanya tertawa, wajar saja karena baginya asal Okta tidak ngambek baginya guyonan seperti ini tidak masalah

“Aku punya cerita lucu saat aku masih kecil. Sedikit flashback ya, aku berjanji ini lucu dan kakak Julia harus dengar ini”

“Ceritakan dong” ujarku. Aku menyuruh Arfi untuk duduk disebelahku dan dia berjalan ke arahku lalu duduk disebelahku

“Saat kecil aku bermain sama teman teman sebayaku, aku menceritakan beberapa hal yang biasa ku lakukan dirumah bersama kakakku. Mulai dari memasak, mencuci pakaian, dan kak Arfi mengajarkan banyak hal padaku..”

Arfi mengangkat bahunya membanggakan dirinya

“Namun seorang temanku bertanya ‘Octa, kenapa kakakmu tidak mengajarkan kamu untuk berias, kulihat penampilanmu sangat biasa untuk anak perempuan yang punya kakak perempuan?’ What the hell..

Kami semua tertawa tidak terkecuali aku

“Anjir, nama lu kaya perempuan sih” Arfi hanya mendelik malas

“Tapi saat aku mulai memasuki sekolah menengah pertamaku, aku tidak lagi menyebut nama depan kakakaku, aku takut mereka mengira kakakku pernah pergi ke thailand dan lupa mengganti namanya”

Kami semua tertawa keras kecuali aku hanya tertawa kecil.

“Oke segitu aja, nanti aku gk dikasih uang jajan sama kak Arfi. Dia kalo ngambek jelek”

“Tidak tidak nona Rosediana, aku gak akan memotong uang jajanmu aku tau kamu butuh biaya lebih untuk membeli popok agar kamu tidak merusak kasurmu bukan?”

Rose membelalakkan matanya. Really?

“Kamu masih ngompol Rose?” Tanyaku spontan

“Nggak! Itu saat umurku masih kecil. Wajarkan namanya masih kecil” bela Rose

“Emang wajar kalo masih kecil, oh ya ngomong ngomong untuk anak kelas 3 SMP itu masih termasuk anak kecil gak ya?” Ujar Arfi mengetukkan jari didagunya

Kami semua tertawa kali ini tidak terkecuali aku. Rose yang ditertawakan seperti itu membuat wajahnya memerah. Aku berdiri menghampirinya, memotong kue pernikahanku dan meletakkannya dipiring kecil

“Setuju potongan pertama untuk Adik kita ini?” Ujarku mengangkat piring kue ke udara. Mereka mengangguk meski tidak semua karena masih ada yang tertawa. Tak lama mereka semua menghampiri kami

“Welcome to your new family, my lil sister” ujar Arfi memeluk Rose. Kami memeluk Rose secara bergantian. Acara kami lanjutkan hingga lewat tengah malam. Setelah waktu menunjukkan pukul 2 pagi kamu memutuskan untuk istirahat karena lusa kami akan flight kembali ke negara tercinta

**

Paginya Aku terbangun namun kesulitan untuk bangkit. Ku singkap selimutku. Sebuah tangan kekar diatas dadaku, pantes sesek nafas. Aku menggesernya pelan agar si empunya tangan tidak terusik. Ku ikat rambutku asal lalu berjalan ke lemari mengambil pakaian.

“Eengghhh…” Aku menoleh ke belakang.

“Fi, bangun udah jam 10 loh” bisikku dikupingnya. Ia membuka matanya sedikit

“Morning kiss dong”

Aku tersenyum lalu mengecup bibirnya

“Yuk bangun ah kita sarapan”

Tok tok tok

“Kak Arfi! Kak julia! Banguuunn!!!”

“Iyaaa, udah banguuuunn!!!” Teriakku tidak kalah keras

Pandanganku beralih ke Arfi yang sedang menutup telinganya

“Gila itu mulut atau toa, untung beton nih tembok kalo batako udah rubuh” ucapnya. Aku hanya mendelik ke arahnya

“Bangun yuk ditunggu yang lain. Kamu gk usah mandi cuci muka sama gosok gigi aja takut kelamaan” aku berjalan ke cermin hendak merapihkan rambutku. Kulihat dari pantulan cermin Arfi masih terdiam memandangiku

“Kamu kok malah bengong sih” ujarku kesal. Dia berjalan menghampiriku dan memelukku dari belakang

“Kamu tau satu hal yang selalu gagal ku lakukan” ujarnya

“Apa?”

“Menemukan kekurangan kamu” bisiknya dikupingku. Ia mencium pipiku dan membalikkan tubuhku menghadapnya. Tak berapa lama kurasakan benda kenyal dibibirku. Sedikit lumatan kecil Arfi memainkan lidahnya didalam mulutku, lidah kami saling bertemu. Aku mengalungkan tanganku dileher Arfi dan Arfi menghimpit tubuhku

“Kakkkkkk Juliaaaa… kak Arfiiiiii….!!!!! Cepetan!!!!!”

Teriakan Okta dari luar menghentikan kegiatan kami “iyaaa lagi pake baju!” Ucap Arfi sedikit keras

“Aku rasa aku gak perlu sarapan pagi ini fi”

“Kenapa?”

“Aku udah kenyang”

Arfi tertawa kecil lalu berjongkok dihadapanku

“Goodmorning dede, udah bangun belum sayang. Mamanya gak mau sarapan nih katanya kenyang karena bibir papah”

Aku tertawa kecil. Arfi berdiri

“Makan yuk biar dia sehat nih” Ucap Arfi seraya mengelus perutku. Aku menganggukkan kepala

“Aku cuci muka dulu, kamu pake baju jangan seneng telanjang kenapa sih nanti ada yang berontak nih disini” ucap Arfi menunjuk selangkangannya. Aku tertawa

“Gpp kan udah sah bisa kapan aja dan dimana aja” ujarku mengerling nakal

“Anjay, di parkiran yuk sekali kali”

“Kenapa gak di lift mall sekalian?”

“Live streaming dong, bikin situs aja sekalian kita” ujar Arfi lalu menghilang masuk ke dalam kamar mandi.

***

“Lama banget anjir pengantin baru gini nih” ujar Agus saat aku dan arfi sudah duduk dikursi meja makan

“Nikahnya baru kawinnya kan udah lama boy” Iwan menimpali

“Berisik ah lu pada. Biasa tadi gue vitaminan dulu ya gak beb” ujar Arfi menaik turunkan alisnya ke arahku. Aku hanya memutar bola mataku malas. Ngapain diucap coba-_-

Kami pun makan bersama. Setelah selesai makan kami masih berkumpul di meja makan seperti biasa.

“Bang Agus, lehernya kenapa deh digigit nyamuk ya?” Tanya Okta polos membuat kami semua menoleh ke Agus. Agus menaikkan kerah bajunya

“Ini alergi, gatel gitu” jawabnya

“Gre galak juga ya”

“Giginya gingsul sih jadi gitu tajem bro” Arfi ikut ikutan menimpali

Gre hanya menyengir bodoh aku hanya menggelengkan kepala.

“Padahal dingin loh biasanya gak pernah ada nyamuk kalo dingin” ujar Okta

“Itu bukan karena nyamuk, itu namanya kissmark. Biasa dilakukan sama sepasang kekasih kok”

Kami semua menatap ke arah Rose “kenapa? Bener kan?” Sambungnya.

Emang bener sih, yang jadi masalah adalah Rose tidak tau seperti apa sifat Okta.

“Kak, kok aku gak dibuat merah juga leher aku?”

Tuhkan, Tingkat keponya Okta mulai dewa

“Itu.. itu harus 20 tahun dulu sayang” Ujar Iwan

“Emang begitu ya Rose?” Tanya Okta

“Eh emmm…”

“Nggak juga, asal umur 17 tahun aja dan memiliki pasangan saling mencintai itu bisa dilakukan”

Aku merutuki akal pikiranku yang lambat. Harusnya aku bisa mengalihkan pembicaraan tapi Rose lebih cepat memotong ucapanku. Kulirik Okta disebrang meja makanku. Dia menatap Iwan kesal

“Kakak gak cinta aku!” Okta berlari keluar dari ruang makan. Aku menghela nafas dan Rose yang masih bingung dengan keadaan hanya diam. Iwan berlari keluar mengejar Okta.

“Rose, kalo bicara soal percintaan atau bertema dewasa jangan didepan Okta ya” ujar Gre

“Why gitu?”

“Okta umurnya baru 18 tahun jadi dia agak sensitif soal begituan terlebih Okta itu baru pertama kali pacaran rasa ingin taunya tinggi” jelas Gre, Rose hanya mengangguk paham. Tak lama Okta dan Iwan kembali mereka bergandengan tangan dan Okta tersenyum senang. Eh kenapa?

Rose berdiri menghampiri Okta

“Umur kamu masih 18 tahun?” Tanya Rose dan Okta hanya mengangguk masih dengan senyum

“Kita seumuran berarti. Btw kamu mau tau dari mana sepasang kekasih mendapatkan merah merah dilehernya diumur 18 tahun?” Mata Okta berbinar lalu mengangguk cepat

“Fi, tolonglah..” mohon Iwan menatap Arfi

“Jangan khawatir kak Iwan, Rose tau apa yang harus dilakukan kok”

Iwan menatap ragu lalu menganggukkan kepalanya dan duduk kembali dibangkunya

Rose merogoh kantongnya dan mengeluarkan… lipstik?

“Jadi saat pacar kamu a.k.a kak Iwan itu mau cium kamu suruh dia pake lipstik ini dibibirnya, begitu juga dengan kamu”

Plak

Iwan memukul jidatnya, kami menahan tawa sekuat tenaga

“Udahlah wan biarin aja anak usia 18 tahun berkreasi. Gak boleh dilarang, nanti menghambat kinerja otaknya” Ucap Agus

“Perasaan gue mengatakan kalo gue akan jadi korban disini” melas Iwan

“Terima aja, masih bagus adik gue bisa cari alasan dan keliatannya juga Okta percaya”

“Ade lu umurnya 18 tahun tapi otaknya udah cabul sih fi, tau tauan soal hal hal dewasa”

Arfi terkekeh “dia lama di eropa bro, you knowlah”

“Gak masalah tinggal dieropa lu nya aja punya pacar kelewatan lugunya” ujar Gre

“Kak! Sini..” Panggil Okta melambaikan tangannya. Entah pencerahan apa yang diberikan oleh Rose pagi ini kepada Okta yang kutau ini akan menjadi hal paling lucu

Okta menarik tangan Iwan keatas lalu Rose kembali duduk dikursinya. Kami semua tertawa keras

“Apa yang kamu katakan padanya Rose?” Tanya Arfi

“Nothing cuma pengalihan aja biar dia gak penasaran. Oh ya ada yang ingin aku sampaikan pada kalian” ujar Rose serius membuat kami berhenti tertawa

“Apa Rose?” Tanyaku mewakili semuanya

“Aku hanya memberi saran pada kalian Okta umurnya dibawah kalian bukan berarti dia tidak boleh mengetahui hal hal dewasa semacam itu. Ada baiknya jika kalian memberi arahan bukan menutupi darinya” jelas Rose

“Okta itu perempuan, dan kak Iwan lelaki terpaut umur mereka juga jauh. Yang jadi pertanyaanku adalah sampai berapa lama pertahanan kak Iwan untuk tetap menjaga Okta? Terlebih yang kutau mereka tidur sekamar. Okta tidak mengerti soal sex dan kak Iwan yang dikuasai nafsu nantinya, jika begitu siapa yang akan disalahkan?”

Kami merenung ucapan Rose

“Kalian semua yang salah. Seharusnya kalian beritahu yang sebenarnya sekaligus memberitahu resikonya. Semacam edukasilah..” Rose berdiri

“Kalian kan sudah dewasa, hal semacam ini harusnya keluar dari mulut kalian bukan dari anak berumur 18 tahun sepertiku” lalu Rose berlalu meninggalkan ruang makan. Aku menatap Arfi yang asik dengan pudingnya

“Adik lu benar fi, cepat atau lambat Okta pasti tau soal beginian” ujar agus

“Gak percuma lu buang biaya banyak buat adik lu sekolah dieropa, mungkin bagi dia ini hal kecil tapi hal seperti ini tidak terpikirkan oleh kita.. gue malu anjir” Sambung Agus menyenderkan tubuhnya dikursi

“Gue udah pernah bilang kan dari awal tapi kalian aja yang ngeyel dibilangin. Lagian 18 tahun itu bukan lagi usia anak kecil. Gue pernah bilang gitu ke Iwan tapi dia tetep kekeh ngasih tau hal semacam itu diusia Okta 21 tahun nanti”

Pantes pemikiran Rose seperti itu aku rasa memang karena mereka bersaudara tidak jauh seperti jalan pikirannya Arfi.

“Mejanya mau dibersihin kita pindah aja yuk” Arfi menarik tanganku keluar dari ruang makan begitu juga dengan Gre dan Agus

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48