Tentang Kita Part 17

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 17 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 16

“Jadi gimana? Berapa hari selesai?”

“Karena permintaan darimu, 3 hari paling lama”

“Baik, saya percayakan anda. Kalau begitu saya pamit dulu”

“Silahkan, senang melayanimu”

Aku dan arfi keluar dari sebuah butik dan memasuki mobil

“Fi, kok dia bisa bahasa indo sih?” Tanyaku sambil memasang seatbelt

“Dia itu orang indo, sempet ada konflik antara dia dan mamiku akhirnya dia mutusin untuk berkarier sendiri” aku hanya menganggukkan kepala

“Tapi dia designer yang cukup hebat. Aku percayakan dia untuk hari pernikahan kita nanti” arfi melajukan mobilnya “oh ya, kita makan dirumah aja ya, sekalian mau ngenalin ke okta temen temen aku” sambungnya

“Eh ya fi nama panjang okta siapa?”

Arfi tidak menjawab, dia mengeluarkan dompetnya dari saku dan mengambil foto didalamnya lalu memberikan padaku. Sebuah foto anak perempuan kecil yang sedang tersenyum

“Ini siapa fi?”

“Coba balik fotonya ada tulisannya”

“Octa rosediana” arfi mengangguk

“Sebenarnya aku biasa manggil adikku itu dengan sebutan rose, tapi saat dia beranjak dewasa dia menolak dipanggil seperti itu. Menurutnya terlalu kekanak kanakan” ucap arfi terkekeh

“Aku memikirkan nama panggilan lain untuk octa supaya gak keliru karena kita punya dua okta sekarang” ucapku.

Oh ya jika aku sebut dengan octa berarti aku sedang menyebut nama dari adiknya arfi jika okta berarti aku sedang menyebut okta si aneh. Well, cuma beda huruf K dan C aja sih

***

Malam ini kami berkumpul bersama dimeja makan untuk makan malam. Semua tidak terkecuali octa, iya octa bukan okta ya. Acara makan malam ini sangat tenang, terlebih kedua insan disana, iwan dan okta. Mereka memakan makanan mereka tanpa suara sedikit pun hanya suara sendok dan piring yang beradu.

Mungkin mereka canggung atau jaga imej didepan octa, karena ku dengar dari gre mereka berempat saat aku dan arfi pergi berusaha mengajak ngobrol adiknya arfi si octa ini.

Namun naas, ditolak mentah mentah, bahkan octa terlihat tidak antusias sama sekali. Bahkan saat mereka menonton tivi diruang tivi pun octa ikut gabung tapi tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Kasihan sekali mereka

“Ekhem.. oke jadi gini gue mau ngenalin ke kalian ini adik gue, namanya octa rosediana” ujar arfi, semua mata tertuju pada octa yang ditatap hanya memakan pudingnya cuek

“Octa..” lagi arfi bersuara,

“Ck.. hallo, namaku octa, octa rosediana” octa berdiri dan memperkenalkan dirinya dengan sedikit senyum. Senyum yang dipaksakan kurasa selebihnya ia kembali duduk dan memakan pudingnya

“Hay octa, nama kita sama hehe namaku juga okta” ujar okta ceria

Baik kita lihat reaksi octa yang duduk disebelahku. Kulirik sedikit, ia hanya melirik okta yang posisi duduknya berhadapan dengannya.

“Udah tau..” ucapnya tanpa menoleh ke arah okta.

Ck! Persis, perisi banget kaya kakaknya cuek dan dingin. Tapi apa nanti dia juga akan menunjukkan sifat aslinya ya sama seperti kakaknya

“Jutek banget sih..” gumam okta disebrang sana. Aku hanya terkekeh geli

“Oh ya, karena disini ada dua okta jadi kamu dipanggil rose ya..” ujar arfi. Seketika octa menatap arfi tajam, dia meletakkan sendoknya

“Gak!” Gretaknya, namun arfi malah tersenyum

“Okta disana gak punya dua nama, kamu kan ada dua nama. Jadi kamu yang dipanggil rose. Rose kan nama kamu juga”

Octa tidak bergeming ia malah menatap tajam okta disebrangnya. Okta yang ditatap seperti itu langsung mendekatkan posisi duduknya ke iwan

“Rose itu kan bunga, bunga itu indah. Menghiasi taman, banyak kupu kupu warna warni artinya rose itu memberi warna ke semua orang terdekat rose”

“Tapi bunga juga bisa mati!”

Lagi arfi tersenyum dan mengelus kepala octa “tidak dengan rosenya kakak. Dia akan selalu tumbuh disini” arfi menunjuk dadanya “karena setiap hari akan diberi pupuk cinta dan disirami kasih sayang”

Sungguh aku tidak akan percaya jika tidak melihat ini. Arfi menunjukkan sifat romantisnya. Aku saja belum pernah diperlakukan seperti itu. Bagaikan tersihir secara mendadak octa tersenyum lembut dan dengan manjanya ia menganggukkan kepalanya.

“Gitu dong nurut sama kakak, kalo nurut harus apa?”

“Harus peluk!” Seru octa atau sekarang boleh kusebut rose. Secara tiba tiba rose berdiri dan memeluk arfi yang masih diposisi duduknya

“Gimana rose kuliahnya?” Tanya arfi,

“Lancar! Lusa aku ada ujian besok aku mau kumpul proposalnya”

Mereka terus mengobrol dengan rose sekarang duduk dipangkuan arfi

“Demi apapun, gue gak akan percaya kalo gak lihat ini secara langsung jul” bisik gre disebelah kiriku

“Sama gue juga..”

“Dari tadi kita ajak ngobrol dia diem aja deh beb, sekarang sama pawangnya langsung jinak”

Aku hanya terkekeh mendengar celotehan mereka. Pandanganku beralih pada octa.. eh maksudku rose, tatapan kami bertemu, aku tersenyum tapi tidak dengan dia. Ia membisikkan sesuatu ke arfi membuat arfi terkekeh entah apa yang di bicarakannya

“Iya.. itu kakak julia yang dulu kamu sempet tuduh maling diapartemen” ucap arfi, seisi meja menatapku sambil menahan tawa.

“Hahahaha muka lu persis sih kaya maling panci” tawa gre pecah

“Anjir.. lu pake sarung buat nutupin muka lu sampe lu dituduh maling jul?” Kali ini iwan meledekku, ku lempar saja ia dengan kacang

“Tapi cocok sih emang sama tampang”

Ini lagi si bazeng agus ikut ikutan ngeledek. Aku hanya diam sambil memakan pudingku kesal. Kurasakan belaian tangan dikepalaku

“Gak usah kesel gitu ah”

Cup

Arfi mencium puncak kepalaku

“Wooo.. jadiin ftv nih, judulnya maling cintaku” ujar iwan membuat seisi meja tertawa tak terkecuali rose.

Eh? Tawanya manis ada lesung pipitnya dan matanya sama seperti arfi merem jika tertawa. Ia menghampiriku semua terdiam

“Maaf soal itu” ucapnya sambil meraih tanganku dan menciumnya. Istilahnya salimlah gitu “kata kakak arfi harus sopan sama yang lebih tua” rose menoleh ke arfi

“Kata kak arfi dia akan menikah sama wanita yang usianya lebih tua. Jadi octa.. eh rose harus sopan”

Aku menoleh ke arfi dengan tatapan tajam ia hanya mengalihkan pandangannya lalu pandanganku teralih pada rose

“Kakak usianya berapa emang?” Tanya rose kepadaku

“Usia kakak…” ucapku menggantung entah kenapa aku merasa diperhatikan. Semua orang yang ada diruang makan ini melihat kearahku

“Ah.. usia kakak 26”

“Ahahahahaha!!!” Tawa iwan pecah di ikutin dengan tawa lainnya

“Gila arfi, doyan sama yang tua..”

“Aje gile ini si arfi yg seleranya tua apa si julia yang demennya berondong ya”

Mereka terus meledekku, tidak! Bukan hanya aku tapi arfi juga. Kulihat rose yang menatap orang disini heran

“Ayuk beb keluar disini sedeng semua, ayuk dek keluar juga” arfi menarik tanganku dan rose keluar dari ruang makan

***

Segelas teh hangat cukup menghangatkan tubuh dimalam ini.

“Gak kerasa 2 hari lagi kita nikah ya”

Aku terkekeh mendengarnya

“Kita aja baru pacaran beberapa bulan.. eh tapi kita pacaran gak sih?” Tanyaku meledek arfi hanya mendelik ke arahku

“Gak usah pacaranlah langsung nikah aja..”

“Hoo udah jadi dede baru dinikahin ya?” Lagi arfi mendelik ke arahku

“Biarin si.. yang penting cinta” ketusnya, aku malah tertawa kecil

“Kamu cinta aku emangnya?”

“Ngeselin banget sih nih si tante, jangan sampe teh ini gue minum”

Aku tertawa, tapi seketika aku tersadar sesuatu, tunggu dia bilang apa?

“Kamu bilang aku apa? Tante?”

Arfi meletakkan gelas tehnya

“Iya emang bener kan?” Aku memutar malas bola mataku

“Jadi kamu apa? Seorang anak muda yang doyan sama tante tante begitu?” Ucapku ketus dia malah tertawa

“Tantenya menggoda sih goyangannya bikin nagih”

Aku mencubit bahunya pelan. Mesum sekali otaknya sih. Jika aku ceritakan pada orang lain sifat asli arfi mereka tidak akan percaya, karena hanya didepan aku atau mungkin beberapa orang saja arfi bersikap seperti ini

“Sini ah duduknya aku pangku..” ujarnya meraih tanganku untuk duduk dipangkuannya

“Aku kangen kamu tau”

“Idih, setiap hari kan ketemu.. tiap jam malah”

“Kangen aku itu sampai ke arwah aku” aku terkekeh mendengarnya

“Mana ada sih, berlebihan banget kamutu, dasar berondong lebay”

“Gpp ah asal berlebihannya mencintai kamu” ujarnya memeluk erat perutku dan membenamkan wajahnya di curuk leherku. Gak bisa nih, kalo diterusin bisa keterusan (?)

“Geli arfi ah..” ujarku melepaskan pelukannya, dia hanya memanyunkan bibirnya. Ku kecup sekilas benda merah mungil itu

“Eh fi, aku jadi pengen sesuatu” tiba tiba saja tubuh arfi menegang, ia menatapku takut takut

“Hehehe nggak aneh kok, aku mau minum susu putih aja tapi bukan susu hamil”

“Haaah.. bentar aku suruh pelayan buatin dulu ya”

“Kamu yang buat”

Arfi menatapku cepat. Kenapa sih dia ini,

“Aku gak bisa, pelayanku aja ya”

Aku menggeleng kuat “dedenya mau hasil buatan tangan kamu” ujarku mengelus perutku yang belum terlihat besar namun sudah mengeras

“Iya iya aku buatin tunggu disini ya” arfi berjalan keluar dan aku menunggunya. Tidak butuh waktu berapa lama arfi kembali dengan segelas susu putih. Aku segera meminumnya,

“Kenapa? Gak enak ya? Mau aku buatin yang baru?”

Aku masih diam dengan wajah seperti memakan makanan asam yang ku buat buat

“Tunggu deh, aku buat baru pasti ada yang salah nih” aku menahan tangannya saat ia hendak berbalik badan

“Ini enak berondongku sayang, kamu buatnya pake cinta?” Ujarku tersenyum.

“Emang gak terasa ya ada jeli jelinya?” Tanyanya, aku yang terheran melihat ke bawah gelas susuku.

Tidak ada apa apa, aku meminumnya lagi hingga habis. Tetap tidak ada jeli seperti yang ia bilang. Aku menatap arfi dia hanya terkekeh geli

“Gimana udah berasa?”

“Berasa apa sih, aku gak ngerasain apa apa selain susu”

Arfi malah tertawa dia mendekatkan wajahnya “tadi aku campur sama air mani’ aku tau” bisiknya aku terbelalak

“Serius? ih jorok banget sih kamu!”

Dia malah tertawa keras, jadilah aku mencubiti perutnya

“Aduh.. aduh.. sakit tau, iya iya aku becanda doang tadi ih kamu mah jahat sama aku kaya istri tiri”

“Istri? Siapa yang mau jadi istri kamu? Pede banget sih” ujarku ketus. Arfi menghentikan tawanya

“Tapi kita kan akan menikah”

“Aku gak pernah bilang mau jadi istri kamu, kamu juga gak pernah bilang mau jadiin aku istri”

Arfi berlari masuk kedalam dan kembali membawa setangkai bunga plastik apa apaan nih orang. Dia bersimpuh didepanku

“Julia anantha, maukah kamu menjadi pendamping hidupku, menjadi yang terakhir dalam hidupku, berjanjilah padaku seorang julia anantha tidak akan meninggalkanku meski dalam keadaan tersulitku”

Aku tersenyum melihatnya yang entah kenapa bagiku justru lucu. Dia bersimpuh sambil menggenggam bunga plastik ditangannya. Aku mengambil bunga plastik dari tangannya

“Kok bunganya plastik sih..”

Dia berdiri “ini mewakili cintaku, bunga ini gak akan layu meski tidak disiram dan warnanya tidak akan pudar sama seperti perasaanku ke kamu”

Aku mencubit pipinya pelan dan tertawa kecil “belajar dari mana sih gombal begini”

“Aku aja bingung semenjak aku punya perasaan sama kamu aja jadi otakku gak pernah ke abisan kata kata romantis kaya tadi”

“Biasa aja sih gak romantis juga, tapi untuk ukuran orang cuek kaya kamu yang barusan itu bisa dibilang cukup romantis juga”

Dia mengerucutkan bibirnya membuatku gemas melihatnya

“Jadi mau gak?”

“ih jadi situ yang galak sih”

“Aduh iyaiya deh, jadi apakah kamu mau jadi pendamping hidupku?”

Aku tersenyum jahil. Kuperhatikan bunga plastik ditanganku

“Tadi kamu bilang bunga plastik meski gak disiram dia tidak akan layu sama seperti perasaan kamu kan?”

Arfi mengangguk tersenyum

“Artinya kalo aku gk balas perasaan kamu dan ninggalin kamu suatu saat nanti kamu akan tetap mencintai aku?”

Dia menatapku, aku hanya terkekeh melihatnya. Hal selanjutnya sungguh membuatku ingin tertawa keras

“Aaahh juliaa mah jahaaat.. masa aku mau ditinggalin~~ nggak mauuu~~ kan aku sayang juliaa~~~”

Dia merengek rengek dengan wajah yang dibuat buat. Aku ingin tertawa namun ku tahan

“ih arfi, gak pantes tau kamu udah tua apaan sih merengek rengek gitu”

Ia malah duduk dibawah seperti anak kecil yang ngambek tidak dibelikan balon

“Arfi ih bangun.. kamu kenapa sih” ucapku sambil tertawa. Lucu sekali sih dia ini

“Makanya mau yaa~” ucapnya manja. Aku jongkok menangkup kedua pipinya arfi. Ku cium pipinya, keningnya dan terakhir bibirnya

“Kalo aku gak mau aku gak akan melakukan ini sama kamu” ucapku mengedipkan sebelah mataku. Wajah kamu berdekatan saling pandang. Bibirku tidak lepas dari senyum yang terus mengembang

“cium cium cium cium…” aku menoleh ke arah sumber suara. Loh dari mana mereka masuk? Siapa lagi kalo bukan agus, gracia, okta, dan iwan.. eh ada rose juga yang tersenyum kearahku

“Heh! Ngapain lu pada ganggu aja masuk masuk gak permisi lagi”

“Heh ada juga lo punya kamar harusnya dikunci atau minimal ditutup pintunya” seru gre

Semua menyoraki arfi “udah bertingkah kaya anak orok lagi gak cocok sama muka lu” ujar agus

“Seumur umur gue baru lihat si arfi, kaya begitu untung gue sempet rekam nih kan lumayan gue share di group kantor” kali ini iwan menimpali

“Hahaha kelakuan boss yang terkenal cuek tapi berhati orok” gre tertawa

“Lanjutin dong adegannya, cium cium cium..”

“Nggak! Keluar sono lu pada!!” Seru arfi

“Wah macem macem, gue sebar nih video lu yang tadi”

“Nggak takut gue!”

Iwan benar benar menunjukkan hapenya “sekali klik lu diketawain satu kantor nih” wajah arfi menegang. Ku tangkup kedua pipi arfi menghadapku

“Ini gak berat kok, kamu mau kan? Aku gak mau lelakiku yang terkenal gagah dijatuhkan harga dirinya karena keisengan temen kamu”

Arfi mengerucutkan bibirnya “mereka lasak banget sih” ujarnya pelan. Aku mengelus pipinya dengan jariku

“Kamu juga yang salah kenapa gak ditutup pintunya tadi” arfi memalingkan wajahnya.

Ku tangkup lagi kedua pipinya aku tersenyum menatapnya. Arfi mendekatkan wajahnya ke wajahku detik berikutnya kurasakan bibirku bersentuhan dengan benda kecil yang kenyal milik arfi. Kami berciuman, aku tidak ingin melakukan ini tapi karena kecerobohan arfi juga yang membuatku terpaksa harus melakukan ini

“Nice! Tadi dapet video anak kecilnya, sekarang foto ciumannya”

“Gue mah gue rekam coy! Detik detik romansa percintaan”

Kami melepas ciuman kami dan menatap mereka. Sepertinya salah ini, mengikuti kemauan mereka. Ah apalagi ini sekarang. Arfi bangkit berjalan ke arah iwan hendak merampas hp iwan

“Udah gue hapus foto dan videonya” ujar arfi bangga, namun iwan masih tersenyum jahil

“Di gue udah, di agus, gre dan okta belum”

Seketika itu juga gre dan agus berlari keluar dan dikejar oleh arfi

“Woy jangan lari lo pasangan laknat!”

Iwan ikut berjalan keluar, okta yang diam menatapku heran

“Kamu gak ikutan lari Ta?”

Okta menggelengkan kepalanya “okta harus ikut lari juga ka?” Aku tersenyum, ini waktunya pembalasan dari seorang julia anantha

“Gak usah, kamu ke kakak kamu aja terus minta dia cium bibir kamu. Kamu belum pernah ciuman kan?” Okta hanya menggeleng

“Kalo ciuman itu tanda sayang, makanya minta kakak kamu cium bibir kamu gih”

“Kakakk!!!! Okta mau dicium bibirnyaa!!!!!!” Teriak okta dan berlari keluar, astaga aku sampai menutup kupingku. Suaranya menggelegar ke penjuru ruangan ini. ya ampun gak ketolong itu anak

Aku bersandar dipagar balkok kamar. Pandanganku tertuju pada rose yang masih berdiri beberapa meter didepanku. Dia berjalan menghampiriku dengan senyumnya yang mengembang

“Kak julia, Terima kasih..” ucapnya pelan lalu membalikkan tubuhnya dan berjalan keluar. Aku tidak mengerti ucapan terima kasihnya untuk apa

Brukk

Aku melihat ke taman dibawah. Ya ampun agus sama arfi jadi tindih tindihan gitu sih

“Kesiniin hapenya” seru arfi namun agus mengoper hapenya ke gracia.

Jadilah gracia yang lari dan arfi mengejarnya masuk ke dalam rumah. Tidak ketinggalan iwan yang dikejar okta karena okta ingin minta dicium bibirnya

“Nanti ya sayang, kalo umur kamu udah 21 tahun oke”

“Gak mau!! Okta mau nya sekarang!! Kata kak julia cium dibibir itu tandanya sayang. Kakak gak sayang aku!!”

Iwan menengok keatas. Aku hanya melambaikan tanganku dia menatapku kesal lalu kembali berjalan masuk yang masih dikejar okta

“Kakakkkkkk!!!!!!”

Ya ampun, ini anak siluman toa kali ya sampe kedengaran keatas gitu teriakannya. Lah itu agus ngapain tiduran dirumput gitu. Ck ah! Gak ada abisnya mikirin mereka dengan segala sikap aneh mereka. Lebih baik mikirin ucapan terima kasihnya rose barusan. Untuk apa dia terima kasih padaku, mungkin nanti akan kutemukan jawabannya.

***

“Hah!!”

Aku menutup buku novelku, lalu menatap orang disebelahku

“Dapet video dan fotonya?”

Arfi menoleh padaku, dia menatapku dengan tatapan yang sulit ku artikan

“Gak dapet?” Tanyaku ulang

Arfi menggelengkan kepalanya “Harusnya dapet hapenya dan aku bisa hapus video dan fotonya” arfi menoleh padaku

“Terus?”

“Gre masukin hapenya ke behanya, ya aku susahlah ngambilnya gimana coba”

Aku tertawa kecil lalu meraih kepalanya untuk tiduran dipangkuanku

“Dia curang banget beb, masa iya aku ambil hapenya gitu aku raba raba begitu? Kan gak mungkin, ada gilanya tuh gracia”

“Nanti kamu jadi pelecehan kamu” arfi mendelik ke arahku

“Bukan soal itu alasan pertama banget kan aku punya kamu masa aku pegang pegang orang lain, punya temenku juga lagi dia kan”

Ada perasaan senang saat arfi mengatakan hal tersebut

“Lagian punya gre sama kamu juga gedean kamu” lanjut arfi, oke bagian ini menyebalkan. Aku jitak kepalanya pelan

“Merhatiin aja kamu fi”

“Keliatan beb kan nyeplak dibaju”

Lagi, ku jitak kepalanya kali ini agak sedikit keras

“Jadi gimana video dan fotonya” ujarku

“Pasrahlah beb, biarin aja lagian ciumannya sama kamu ini” arfi memiringkan tubuhnya menghadapkan wajahnya ke perutku

“Hallo sayang, udah makan banyak belum dede. Sehat ya diperut mamah jangan nakal” arfi mencium perutku

“Kemarin waktu di indo saat aku cek up kata dokternya bayi kita sehat, tapi emang belum ada pergerakan apapun sih” ucapku

“Gpp yang penting sehat lagian baru beberapa bulan juga kan” arfi mencium perutku sesekali

“Sebenernya ada yang mau aku omongin sama kamu sih” arfi bangkit dari pangkuanku dan menatapku

“Apa?”

“Aku mau minta maaf sama kamu, Harusnya kamu begini setelah kita nikah, jujur itu adalah hal pertama yang aku lakukan dan aku gk punya banyak pengetahuan soal begituan. Well, entah ini kecelakaan atau bodohnya aku sama aja, kamu juga yang harus membayarnya” arfi menatapku dengan tatapan bersalah. Tangannya menggam tanganku

“Anggaplah aku ini anak remaja yang baru bercinta, nafsu masih diubun ubun, sejujurnya aku tuh gak tau yang kamu bicarakan soal janji keluarin diluar tuh gimana aku gak ngerti julia.. setau aku ya udah berhubungan, enak, mau lagi gitu. Saat itu aku anggap kamu punya aku dan aku sanggup bertanggung jawab jika kamu sampai hamil. Tapi pikiranku baru kebuka, aku bodoh julia, edan sia! Aku susumbar bilang memperlakukan kamu seperti wanita tapi sebenarnya aku gak jauh lebih baik dari client client kamu sebelumnya, Stupid fuckin boy!”

Hatiku sakit melihatnya seperti ini. Hey, kenapa dia merasa bersalah, andai dia katakan jika dia tidak tau apa apa soal berhubungan intim tentu aku akan memberitahunya, disisi lain aku merasa senang aku yang pertama baginya, Arfi muda, pengusaha, wanita mana yang tidak ingin bersamanya? Lain dari itu perasaan bersalah selalu menghampiriku, arfi bukan yang pertama bagiku.

“Untuk itu, apapun, siapapun, dan kapanpun.. halangan itu datang aku gak akan melepaskan kamu. Perlu kamu tau aku merasa bangga orang yang kucintai mengandung anakku. Siapa yang gak bangga coba, punya calon istri baik, cantik, seksi bisa masak, nurut dan mau aja lagi aku hamilin juga ya kan? haha Kalo ada yang bilang kamu itu pelacur kotor gak pantes dinikahin aku nuklir kepalanya sini beranian dia menghina istri gue, yang ngerasain bahagianya kan aku, setiap orang punya masa lalu suram dan setiap orang juga gak mau punya masa lalu suram. Pokoknya siapa yang menghina istri gue nanti apalagi bawa embel embel PSK gue tetesin sambel ke matanya, maknyos dah tuh. Gak ada urusannya gue mau nikah sama PSK kek PS2 kek PS3 kek PSP kek terserah gue. Yang bahagia kan gue……”

Arfi terus mengoceh ria didepanku, aku memperhatikannya tersenyum. Sesekali dia tertawa karena guyonannya sendiri membuatku tersenyum kecil. Dihadapanku seorang pria dengan usia terpaut 3 tahun dibawahku tidak pernah kusangka akan berbicara seperti ini. Air mataku menetes, terharu. Jelas!

“… iya gak sayang? Loh, kamu kok nangis sih?” Aku buru buru menghapus air mataku dan menggelengka kepalaku

“Kamu kenapa? Aku salah ngomong ya?” Arfi mendekatkan duduknya kepadaku.

Aku langsung memeluknya, tangisku pecah dibahunya. Aku terus memeluknya erat dia membalas pelukanku, mengusap punggungku. Setelah tenang, aku melepaskan pelukanku namun aku masih sesegukan

“Kamu kenapa nangis? Jelek tau kalo nangis idungnya merah kaya badut kfc” ujarnya

“Mcd kali, kfc mah kakek kakek”

“Apalah itu ayam juga yang dijual, eh sekarang aku udah gak pernah beli ayam gituan lagi tau” serunya dengan wajah yang menggemaskan matanya melebar yang sebenarnya tidak lebar juga karena ukuran mata standar arfi itu kecil saat dia melebarkan matanya dia hanya akan terlihat membuka mata biasa hehehe

“Kenapa emang?”

“Karena aku udah punya dada sama paha yang lebih enak sekarang wiwiwiwiw” ujarnya sambil tertawa. Aku memukulnya dengan bantal

“Mesum banget sih kamu nyebelin”

“Loh aku apa adanya. Hahaha tapi kalo ukuran ayam ini mah ayam petelor, mau tau gak kenapa?”

“Kenapa?”

“Karena ayamnya udah tua! Hahahaha”

Lagi, aku memukulnya dengan bantal secara bertubi tubi. Dia ini nyebelin banget sih tua tua juga doyan. Tapi tidak bisa dipungkiri aku tersenyum dengan candaannya yang mesum itu

“Kamu itu mesum terus sih, bisa gak sehari gak mesum” ucapku

“Bisa! Kalo gak sama kamu aku gak akan mesum tapi sayangnya aku gak akan biarin walau hanya sehari tanpa kamu hahahaha”
Cup

Dia mencium pipiku tiba tiba, aku yang belum siap dengan perlakuannya hanya membelalakkan mataku. Kurasa pipiku memerah sekarang

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48