Tentang Kita Part 16

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 16 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 15

Suasana kamarku seperti kapal pecah, setelah ngerujak berjamaah masing masing dari kami sibuk sendiri, ada yang tidur dilantai, jungkir balik disofa kepala dibawah dan kaki diluruskan keatas, ada juga yang… Itu si gre sama okta ngapain sih, ku perhatikan ulah mereka mataku memicing supaya bisa melihat jelas apa yang sedang mereka lakukan

“Beb okta sama gre ngapain sih tengkurep berduaan gitu?” Tanyaku pada arfi yang baru saja datang membawa susu

“Oh.. tuh anak dua ngadu semut, satu semut merah satu semut hitam. biasa orang waras mah gitu jangan dipikirin” arfi beralih memberikanku susu namun aku menolaknya

“Kamu harus minum ini sayang, biar dede bayinya sehat” bujuk arfi namun aku tetap tidak mau meminumnya

“Nanti aja arfii.. taro dulu disitu susunya masih panas” ucapku. Arfi menghela nafasnya lalu menaruh gelasnya dinakas. Ia beralih duduk disisiku dan menuntun kepalaku bersandar dipundaknya.

“Minggu ini aku akan sibuk dengan pekerjaan, aku kejar supaya seminggu ini bisa beres. Minggu terakhir bulan ini kita akan flight ke belanda buat siap siap disana”

Aku mendongakkan kepalaku melihat arfi. Dia tersenyum manis padaku, bibirnya yang merah terpahat indah disana. Ku sandarkan kepalaku dipundaknya lagi, arfi meraih sebelah tanganku dan kurasakan kecupan singkat dipuncak kepalaku

“Bagaimana dengan orang tua kamu, papi tau aku siapa dan angelo”

Arfi tersenyum remeh.

“Persetan dengan mereka.. apapun itu aku hanya ingin kamu terus disampingku apapun yang terjadi. Teruslah dibelakangku menjadi penguatku untuk hadapi semuanya” ucapnya.

Aku mengeratkan genggaman tangannya. Aku tau ini berat bagi arfi, banyak yang ia korbankan untukku. Dan aku hanya bisa menebusnya dengan kesetiaanku

“Yaaahh semut okta matiii..” teriak okta sambil menghentak hentakkan kakinya.

“Ya lagi semut hitam mah gak bisa berantem tau” kini gre yang berbalik badan menjadi telen”tang”

Aku terdiam, pandanganku beralih pada dua makhluk yang tidak kalah anehnya. Iwan masih asik tidur dibawah sambil guling gulingan, agus masih sama kakinya keatas. Lalu kulihat arfi

“Fi..” panggilku.

Ia masih terdiam seperti melihat sesuatu. Ku ikuti arah pandangan arfi. Pantes dipanggil gak bergeming, lagi melihat segitiga biru muda dan segitiga hitam ya. Ku tiup sebelah kupingnya

“Aduh, eh iya kenapa beb?”

“Kenapa kenapa! Ngeliat apa kamu?”

“Gak.. gak.. lihat apa apa beb bener”

“Bohong? Aku gak kasih jatah nih”

Aku terlihat meneguk ludahnya.

“Anu.. itu lihat gre sama okta, eh tapi bukan aku yang salah mereka tuh yang buka warung sembarangan”

Aku menatap arfi sebal lalu beralih ke dua makhluk dibawah sana. Segera ku tutup mata arfi, mengajaknya berdiri dan keluar

“Kamu kenapa sih?”

“Masih nanya lagi kamu. Tuh lihat didalem gre sama okta malah makin lebar aja”

Arfi menyingkirkan tubuhku dan hendak membuka pintu kamar

“Kamu buka gak aku kasih jatah setahun”

“Eh iya nggak, tadinya suruh lihat”

Emosiku memuncak

“Arfiiiiii..!!” Kucubit pinggangnya dengan kuku ku yang tajam biar rasa dia

“Aduh aduh iya iya udah nggak.. ampun beb.. nggak lagiii.. aw sakiit” rintihnya. Aku tersadar akan perlakuanku lalu mengelus bagian yang barusan kucubit

“Maaf ya, kamu sih nyebelin. Ngapain lihat lihat punya okta sama gre”

“Yee kan mereka aja yang buka, aku mah cuma nengok terus mataku otomatis ngelihat”

Aku melototkan mataku

“Eh.. suer deh aku gak lagi deh besok besok buang muka aku”

“Tiap hari juga lihat punyaku, apa bedanya sama sama rata kok sama segaris sama sama lobang juga isinya”

“Buat pengalaman aja beb” ucapnya pelan namun masih bisa kudengar

“Oh jadi pengalaman ya? Nanti jajan juga alasannya pengalaman begitu? Bagus! malam ini aku gak mau tidur sama kamu!” Ujarku berlari kelantai bawah menghiraukan panggilan arfi. Biarin ah lagi kesel juga.

***

Seminggu sudah berlalu, di weekend ini aku dan arfi sedang packing barang barang yang akan kami bawa ke belanda nanti. Pekerjaan arfi pun telah selesai tapi bukan arfi yang menyelesaikannya melainkan dua asisstennya gre dan iwan. Lalu arfi? Entahlah aku merasa paling egois disini, aku tidak bisa jauh dari arfi.

Aku terlalu manja bahkan aku tidak bisa membiarkan arfi pergi bekerja full day, ia akan pulang saat aku menelfonnya, tentu aku harus merengek dan memohon agar ia mau menemaniku dirumah.

“Selesai yey! Aku cape beb” ujarku. Arfi hanya merengut

“Cape ngapain semua gue yang beresin” gumam arfi tapi aku masih bisa mendengarnya.

Hihihi iya sih, dari tadi aku hanya memilih pakain dan barang yang ingin kami bawa semua arfi yang memasukkan ke dalam koper

“ih gak ikhlas banget sih..”

Arfi menoleh padaku lalu tersenyum mengelus pipiku “gpp kok sayang. Kita keluar yuk makan siang” aku menimang nimang mengetukkan telunjukku ke daguku

“Ah fi! Kita ke ancol yuk, makan di bandar jakarta..” arfi mengangguk

“Yuk, mandi dulu kamu dari pagi belum mandi” aku mencium ketiakku. Astaga bau mayat kecoa nih ketek-_-

“Gendoooong~~~”

“Iya iya..”arfi menggendongku lalu membawaku ke bathup setelah ia melepas semua pakaianku.

“Yaudah kamu mandi dulu deh, aku masih mau masukin baju di koper tuh tinggal satu lagi” aku mengangguk dan arfi pun keluar. Aku membersihkan diriku

Setelah selesai dengan urusan kamar mandi aku keluar tapi aku tidak menemukan arfi dikamarku. Mungkin dia diruang tamu gitu pikirku. Ku buka handuk yang membelit tubuhku. Kutatap tubuhku tanpa sehelai benang pun dipantulan cermin

“Gila.. makin lebar nih badan”

“Perut, pinggul, sama dada makin gede. Apa orang hamil begini ya atau gue yang kebanyakan makan”

Klek

“Beb kamu udah mandinya”

Aku menoleh ke pintu disitu arfi menyembulkan kepalanya. Ia masuk menghampiriku

“Kenapa kamu sakit?”

“Aku gpp fi, cuma ngelihat badanku jadi mekar gini ya” aku berbalik kembali menatap tubuhku dicermin.

Arfi pun mengikuti arah pandangku menatap tubuhku dicermin. Aku sudah tidak canggung atau malu lagi didepan arfi meski tanpa sehebali benang pun. Ya iyalah buat apa juga malu udah sering juga

“Menurutku tubuh kamu ideal. Aku suka” ia kini memelukku dari belakang. Dadanya yang bidang langsung menempel dengan punggungku membuat gesekan gesekan kecil yang geli

“Cuma aku gak percaya diri aja fi, gimana nanti kalo baju pengantinku gak muat sama lingkar pinggangku”

Arfi terkekeh “badan kamu masih ramping julia, kita kan kesana dulu fiting baju dulu dong”

Benar juga sih. Arfi melepas pelukannya lalu berjalan kedepan berjongkok didepanku.

“Hallo dede, gimana didalam sana? Jangan nakal sama mamah ya..”

Arfi terus mengoceh sesekali menempelkan kupingnya di perutku. Aku tersenyum melihatnya. Arfi mencium perutku sesekali, maksudnya dia sih mencium perutku cuma dia ini terlalu ke bawah nyiumnya hampir mendekati area sensitifku. Arfi bangkit lalu menatapku

“Kamu pake baju gih, nanti aku khilaf repot kan” ujarnya. Namun aku tidak mengindahkan peringatannya justru aku malah tersenyum

“Khilaf bareng yuk” ujarku mengerlingkan mataku.

Arfi tersenyum lalu mulai mencium bibirku lembut kedua tangannya kini sudah berada di dua buah dadaku, mengelusnya dan memilin putingnya sesekali

“Sshhh..” desahku disela ciuman kami

Arfi melepas ciuman kami. Dia tersenyum menatapku

“Mau berapa ronde?” Tanyanya

“20 juga gpp..”

“Buset.. ledes punya gue yang ada”

“Hahaha lecet juga punya gue”

Kami tertawa namun arfi menarikku kekasur dan menindih tubuhku. Ia menciumi leherku, turun ke dua buah dadaku.

“Ahh..shhhh..fiiihh”

Ku buka lebar lebar pahaku memberi ruang untuk arfi. Sebelah tangannya kini bermain dikewanitaanku. Entah sejak kapan arfi sudah tidak mengenakan pakaian apapun. Bisa kulihat juniornya berdiri tegak menantang

“Siap untuk hidangan utama?” Arfi mengelus elus kewanitaanku menggunakan juniornya.

“Masukhiin shayangghh..”

Arfi memasukkan juniornya sedikit lalu mencabutnya lagi negitu terus sampai membuat kepalaku pusing menahan nafsu(?)

“Arfiiiihhhh…” dia terkekeh.

Lalu dengan perlahan dia memasukkan semua juniornya ke dalamku. Lagi, aku merasa ngilu dibagian dalam kewanitaanku setiap kali berhubungan dengan arfi. Ia mulai menggerakkan pinggulnya dan aku mengikuti irama goyangannya. Desahku menggema diseluruh ruangan ini.

***

Aku masih terduduk didepan meja rias. Rasanya ini seperti mimpi, ah tidak aku pernah bilang ini jauh dari yang pernah aku impikan. Seorang berkuda putih lengkap dengan baju perangnya dengan gagah menghampiriku dan menyelamatkanku dari mimpi burukku. Ah jadi dongeng sih, nanti ngantuk

Klek

“Stt.. udah belom, kalo udah yuk berangkat sekarang” ujar gre menyembulkan kepala, aku hanya mengangguk.

Ku pejamkan mataku ku tarik nafasku dalam menyemangati diriku sendiri jika memang ini tidak berjalan dengan mulus yang perlu kulakukan percaya padanya, ya percaya pada arfi

Kulangkahkan kaki keluar dan kulihat mereka sedang berkumpul diruang tamu menungguku.

“Wah pengantin keluar juga akhirnya..” ujar agus

“Gue sampe lumutan nungguin, btw lu nikah begini aja nih cuma pake kemeja sama celana jeans?”

Okta menyikut tangan agus “nikahnya dibelanda kak, kalo disini kita yg ada gagal liburan dong”

“Nahtuh pacar gue pinter kan” iwan membanggakan okta

“Yuk ah cabs, ntar kita bisa telat”

Kami menyudahi obrolan absurd ini dan melanjutkan hijrah kami ke negara tetangga(?) Eh bukan bukan terlalu jauh dibilang tetangga. Ralat, kami melanjutkan perjalanan kami menuju kebahagian. Eh gimana? Ya begitulah pokoknya hehehe

Sampai dibandara ternyata pesawat yang akan kami tumpangi delay beberapa jam akibat kondisi cuaca buruk

“Udah buru buru malah delay, ah gue lari juga nih”

“Gih sono sanggup lo sampe ke belanda?”

“Ya kagak sampe pintu depan aja situ”

“Punya temen kok dungu sih”

Iwan dan agus masih saling berbincang bincang tentang hal aneh yang siapa saja jika mendengarkan tentu mereka akan menjauhi kedua makhluk ini. Berbeda dengan arfi sejak turun dari mobil sampai sekarang ia menggenggam tanganku erat.

Aku tau ia juga merasakan seperti apa yang kurasakan. Wajahnya terlihat kaku dari biasanya dan akan tersenyum jika aku menatapnya. Beralih pada dua makhluk lain, loh? Kemana mereka ku edarkan pandanganku namun belum kutemukan juga batang hidungnya mereka padahal bandara tidak terlalu ramai juga seharusnya mudah ditemukan dua orang itu

Beberapa jam kami menunggu akhirnya pesawat yang akan membawa kami tiba. Saat dipesawat aku duduk disebelah arfi yang memang sudah disediakan lalu disebelahnya ada pasangan agus gre dan belakang iwan okta. Selama perjalanan mereka tidak ribut karena gre yang takut ketinggian dan okta yang sudah mual mual.

Herannya kami sudah merencanakan ini lalu kenapa gre baru bilang takut ketinggian saat pesawat sudah berada diatas awan.

Aneh? Iya emang aneh lebih ke unik menurutku, saat ditanya alasannya simpel “gue mau nyobain naik pesawat sebelumnya gue belom pernah”

duh! Pesawat kan di atas gre, terbang! Yang namanya terbang pasti tinggi! Gak ngerti lagi deh, berbeda denganku, jujur aku juga belum pernah merasakan bagaimana naik pesawat. Ada rasa takut saat itu, tapi saat melihat gumpalan awan dari jendela aku melupakan rasa takutku, bahkan aku mengambil beberapa foto selfie dan beberapa foto aku bersama arfi.. yang lagi tidur.

Beberapa saat pesawat lepas landas matanya langsung terpejam jadilah aku mengambil fotoku dengan dia yang sedang membuka lebar mulutnya. Biarkan ini akan jadi hadiah pernikahan yang gak akan dia lupakan hehehe

Perjalanan lama kami tempuh, kami beberapa kali transit di bandara bahkan karena cuaca ekstrem terpaksa pesawat mendarat darurat demi keselamatan dan akhirnya kami sampai. Negri kincir angin, aku mengedarkan pandanganku begitu melihat keluar bandara. Udaranya dingin, bahkan 3 kali lipat dinginnya bandung saat hujan.

Sampai Nafasku mengeluarkan uap, tapi aku masih aman. Tentu saja, arfi membawakanku shall dan pakaian hangat dan saat kami transit dibandara sebelumnya kami mengganti pakaian kami. Bahkan pakaian hangat kami tidak menutupi rasa dingin ditubuhku.

Tak lama sebuah mobil travel menghampiri kami. Seseorang keluar dari dalam dan membukakan pintu untuk kami. Kami semua masuk dan mobil kembali berjalan. Sungguh indah pemandangan kota Amsterdam malam hari, lampu lampu menghiasi seluruh jalan dan bangunan bangunan disini.

Aku masih menikmati pemandangan yang menurutku sayang untuk dilewatkan, sesekali ku abadikan gambarnya. Tidak sampai situ mobil kami berhenti disebuah persimpangan, aku memperhatikan kedepan lampu merah menyala disana. Bukan itu yang membuatku heran, lampu merah memang menyala dan menandakan berhenti namun disini hanya mobil kami yang menggunakan jalan ini ku toleh kanan kiri tidak ada mobil selain kami. Ah! Andai negaraku displin seperti ini

Mobil memasuki area rumah yang cukup besar. Hal yang tidak bisa lepas dari negri kincir angin ini adalah nuansanya yang klasik. Seperti rumah ini, bangunan kokoh dengan kedua pilar besar didepannya dan tangga besar didepannya menuju pintu utama tidak ketinggalan pintu utama yang besar dengan kedua jendela besar disisi kanan dan kirinya.

Ini mengingatkan aku pada satu bangunan di ibu kota. Ah! Fatahilah! Yap, museum fatahilah yang memang bangunan peninggalan belanda.

“So, selama disini kita tinggal dirumah ini geng, gue harap sih kalian betah” ujar arfi namun kami masih belum ada yang bersuara pasalnya kami masih memperhatikan interior rumah ini. Lantai satu ke lantai duanya tinggi sekali, kurasa aku bisa bermain trampolin disini dan melompat lompat tanpa menyentuh atap lantai duanya

“Ekhem…”

Kami tersadar

“Ah! Iya geng, bagus kok yakin sama gue deh”

“Hmm fi.. toilet dimana ya?”

“Dari sini lurus aja, mentok ke kanan, pintu sebelah kiri itu toiletnya”

Gre berjalan menuju toilet sedangkan aku melangkah menuju sebuah ruangan. Terdapat meja persegi panjang dengan beberapa kursi disisi kanan dan kirinya lalu dua buah kursi besar untuk bagian kecilnya. Lilin dihias ditengah meja dan peralatan makan sudah tersedia disana. Sedangkan sisi kiri dari ruangan ini adalah tiga buah jendela besar lengkap dengan gordennya. Ini adalah ruang makannya.

“Pelayan disini sudah terbiasa menggunakan bahasa indo, jadi gak perlu repot untuk bicara dengan mereka meski pelafalan mereka masih kaku sih..” ujar arfi dibelakangku. Aku menghadapnya

“Ini rumah kamu?”

Arfi hanya menggaruk tengkuknya yang kurasa tidak gatal

“Ini warisan dari nenekku sebenarnya. Adikku yang tinggal disini, dia masih study”

“Adik?” Heranku, memang selama denganku arfi tidak pernah menceritakan soal anggota keluarga lainnya

“Iya, nanti aku kenalin deh, mungkin sekarang dia lagi diluar atau nginap dirumah temannya” aku hanya mengangguk.

Arfi menggandeng tanganku ke ruang tengah dimana mereka teman teman kami berkumpul

“Lega banget geng, gue rasa cukup buat main bola disini” canda agus arfi hanya terkekeh

“Rumah ini 2 tingkat. Ada 4 kamar dilantai 2 semua. Kalian bebas pilih mau yang mana..” jelas arfi

“Geng gue rasa gue gak akan nonton tivi disini deh”

“Kenapa wan?”

“Gue gak ngerti bahasanya kan hahaha” dan kami semua mengiyakan ucapan iwan. Kami melupakan sesuatu sebelum kesini, kursus bahasa belanda.

Diruang tengah kami saling bercanda melepas lelah selama perjalanan. Tidak lama seorang pelayan datang pada kami

“Maaf mengganggu tuan, kamar tamu sudah kami siapkan. Mari biar kami antar”

Lalu kami semua keatas menaiki tangga. Barang kami sudah lebih dulu dibawakan oleh pelayan rumah ini. Wah aku rasa aku akan betah disini.

“Terima kasih bertha” ucap arfi pada pelayan itu dan ia hanya membungkukkan badannya lalu pergi

“Jadi ini kamar kita, nah kalo pagi jendela itu dibuka sinar matahari langsung masuk kesini, kamu juga bisa melihat sunset atau sunshine dari sini”

Aku masih memperhatikan sekeliling. Serasa kamar kerjaan deh ini. Ada kasur dengan ukuran king size, meja rias besar, lemari pakaian besar, luas sekali. Luas dari kamar ini jika aku perkirakan seluas rumahku yang dulu. Tidak dua kali lipatnya, benar aku yakin itu.

“Kamu mandi aja dulu. Abis itu kita makan malam. Kamar mandinya disana” arfi menunjuk sebuah pintu dibelakangku

“Kamu gak mandi fi?”

“Nanti aja, aku mau tiduran dulu”

Aku pun bergegas mandi. Kamar mandinya aja seluas ini, percayalah kamarku tidak jauh lebih luas dari kamar mandinya. Peralatan mandinya sudah lengkap bahkan. Aku melepas semua pakaianku. Ku buka kran airnya namun baru beberapa saat aku menutup kembali kran air itu.

“Dingin banget gile, gimana mandinya nih”

“Sayang mandinya udah belum? Kok gak ada suaranya, kamu ketiduran didalem?” Suara arfi dari luar.
Klek

“Sstt.. arfii” ku sembulkan kepalaku dari pintu

“Kenapa?”

“Airnya dingin banget”

“Kran yang air hangetlah sayang”

“Yang mana aku gak tau. Sini dulu kek”

Arfi bangkit dari tidurannya berjalan kearahku

“Yaudah awas biar aku tunjukkin” namun aku masih diam menatap arfi didepanku. Ia mengeritkan dahinya

“Kenapa? Kamu malu telanjang didepan aku? Kan udah sering” ujarnya menatapku datar.

Benar juga. Aku pun membuka pintu kamar mandinya lebar lebar. Arfi masuk dan menunjukkan padaku kran air hangat yang ia maksud

“Nah udah, tinggal tunggu penuh deh. Tapi jangan lama lama ya berendamnya nanti sakit ini udah malem soalnya” ujar arfi berjongkok. Ia menatapku dengan senyum

“Ke..kenapa?” Tanyaku, dia hanya menggelengkan kepala

“Gpp, aku sayang kamu, btw bulu anu kamu tumbuhnya diatas doang dikit lagi jadi keliatan meski kamu berdiri..” seketika pipiku memanas.

Bisa bisanya lagi gini malah merhatiin bulu, lah selama ini kemana aja tong? Kagak lihat lihat emangnya situ main tubruk aja sih

Arfi berdiri lalu mencium pipiku “udah mandi sana jangan kelamaan telanjangnya” ucapnya berlalu sambil sedikit mencolek bokongku.

“ih mesum!!” Ujarku sedikit berteriak arfi hanya tertawa lalu menutup pintunya.

Aku mematikan kran karena memang sudah penuh dan mencelupkan diriku didalam bathup. Ah ini lebih baik

Setelah beres dengan bersih bersih aku menuju ruang makan. Disana sudah ada agus dan okta, arfi dan iwan yang sedang berdiri menandang keluar jendela sambil berbincang

“Gre kemana gus?”

“Oh, ntar lagi juga turun dia..”

Tak lama gre datang sambil menenteng handphonenya dan duduk disebelah agus secara tidak santai

“Gila yang gue kesini sampe nyari di map eh kagak ketemu akhirannya gue nanya nanya tuh sama pelayan sana.. tadi nyasar gue yang ke belakang belakang aduh aus banget nih gue..”

Lebay sekali si gre ini padahal dari tangga turun tadi hanya tinggal belok kiri lurus sedikit lalu ketemu kok ruang makan ini. Dia bilang apa tadi? Pake map? Yakali dimap nulisnya ‘ruang makan rumah arfi dibelanda’ kita tinggalkan saja gre dengan keunikannya karena sekarang saatnya makan.

Beberapa pelayan keluar dari dapur masing masing dari mereka membawa nampan berisi makanan dan meletekkan makanan makanan itu dimeja.

Kami menyantap makanan kami. Masakannya biasa kok aku kira akan dimakanannya ala belanda ternyata nggak juga. Buktinya ada sayur asem, hebat! Sayur asem sudah memasuki dataran eropa. Tapi masakan ini semua atas permintaan arfi. Harusnya arfi jadi duta sayur asem nih. Cocok!

Selesai acara makan malam kami memutuskan untuk kembali ke kamar masing masing mungkin karena lelah. Sesampainya dikamar aku berganti pakaian menjadi pakaian tidur.

“Wih, tutup mata ah nanti bisa bintitan” ujar arfi menutup wajahnya dengan kedua tangannya namun jari jarinya dibuka lebar lebar.

Aku tidak menanggapinya, kucari pakaian tidurku dilemari. Saat sedang mencari pakaian tidur sepasang tangan memelukku dari belakang

“Begini aja ya tidurnya, aku juga cuma celana pendek gak pake baju”

“Nanti sakit fi, kata kamu suhu disini dingin. Kamu pake bajunya ah nanti sakit besok kan mau fiting baju katanya”

“Nggak akan, hangat kok. Begini aja hangat”

Aku menghembuskan nafasku. Percuma berdebat dengannya aku selalu kalah. Ku balikkan tubuhku menghadapnya, dia tersenyum menatapku. Ku cium sekilas bibirnya

“Yuk tidur” ujarku berjalan kekasur

“Hehehe ibu hamil seksi banget sih kalo cuma pake pakaian dalam”

Aku memutar bola mataku malas. Arfi menyelungsup ke dalam selimut dan langsung memelukku dari belakang

“Jangan aneh aneh ya aku cape malam ini” ujarku padanya

“Siap buboss” ucapnya tapi ia tetap mencium pundakku.

Sesekali kurasakan dia menghisapnya mungkin meninggalkan tanda disana. Hasratku tidak bangkit mungkin malam ini aku terlalu lelah

“Fi, kamu yakin dengan semua ini” tanyaku. Dia menghentikan gerakannya

“Kita pernah bahas ini julia, dan aku sudah sering mengatakannya sama kamu aku tidak akan mundur dan mengulangi kesalahanku”

Ia mengeratkan pelukannya membenamkan wajahnya dipunggungku

“Aku sayang kamu fi, maafin aku yang kadang masih berpikir apa aku pantas untuk kamu. Jauh dilubuk hatiku, aku hanya tidak ingin membuat kamu menderita dengan mengorbankan segalanya untukku”

“Why not julia? Kebahagiaan pantas diperjuangkan, perlu pengorbanan. Demi mendapat sesuatu yang besar harus berkorban sesuatu yang besar juga kan?”

“Please julia, jangan berpikir kamu pantas atau tidak untukku. Aku mencintai kamu dan tidak ada yang tidak pantas untuk dicintai”

Terharu. Iya jelas aku terharu dengan apa yang ia ucapkan. Aku mengelus pergelangan tangannya yang melingkar diperutku

“Bukti nyata cinta kita adalah dede bayi diperut kamu, calon anak kita. Kamu cukup menjaganya biar aku yang melindungi kalian, melawan siapa pun yang menentang kita dan tidak ada yang bisa mengambil kamu dari sisiku”

Ku geser sedikit posisi tidurku hingga bisa menoleh kepadanya. Ku cium pipinya singkat

“I love you my tiger..” ucapku.

Dia tersenyum lebar lalu mencium pipiku. Aku kembali ke posisi semulaku dan arfi kembali memelukku. Ia benar, mungkin hanya perasaanku saja namun akan sangat egois jika aku berpikir pantas atau tidak aku bersanding dengannya sedangkan arfi sedang berjuang untukku, maksudku untuk kami, aku dan bayi diperutku.

“Julia.. boleh pegang gak?” Bisiknya disebelah kupingku.

Aku terkekeh, tangan kiriku meraih pengait braku dibelakang, satu gerakan dua jari cukup membuka pengaitnya lalu aku melepasnya dan beralih meraih tangan arfi dengan sebelah tanganku meletakkannya didadaku. Ia terkejut bisa kurasakan gestur tubuhnya yang menegang

“Pegang aja, gak usah izin udah biasa kan. Ini punya kamu”

“Yee, tetep aja gak sopan harus izin dulu” ujarnya dengan suara sok manja. Aku terkekeh dibuatnya, kutoleh sedikit wajahku lalu mencium pipi kanannya

“Iya deh iya bossque”

“Kalo yang bawah?” Tanyanya kembali

“Nanti tangan kamu basah kalo yang bawah”

“Gpp, yang penting kamu gak terganggu” aku terkekeh lagi

“Aku mah enak, ya udah sih pegang aja mau aku lepas juga?”

“Gak usah aku aja yang lepasin sendiri, biar ada usahanya sedikit” ucapnya tertawa pelan, aku pun tertawa kecil.

Dengan perlahan dia menurunkan CD ku dibawah sana jadilah aku sekarang tanpa sehelai benang pun terbungkus didalam selimut. Arfi mulai mengelus elus bagian kewanitaanku, sebelah tangannya ia gunakan untuk mengelus dadaku.

Aku menikmati perlakuannya, terlebih saat bulu bulu halus dirahangnya menyentuh kulit pundakku. Namun aku sangat lelah malam ini, perlahan aku terlelap dan pergi ke alam mimpi membiarkan arfi mengelus elus apa saja yang ia mau

***

Matahari menyilaukanku yang masih terbaring ditempat tidur. Sayup sayup aku mendengar efek suara game hape. Kubalik badanku ternyata sudah tidak ada arfi, kemana dia? Aku bangun dan memakai pakaianku. Kulihat keluar jendela kamarku yg langsung menghadap taman dibawahnya. ada okta dan iwan sedang push up. Maksudku iwan push up okta duduk diatasnya, wah kuat juga si iwan.

“Victory”

Suara efek game itu lagi ngomong ngomong dari mana asal suaranya. Kutelusuri ruang kamarku. Aku berhenti sejenak didepan pintu kamar mandi

“Fi, kamu didalam?”

Tidak ada jawaban, aku mencoba mengetuk pintunya

Tok tok tok

“Fi…”

Klek

Pintu terbuka arfi menyembulkan kepalanya dari dalam

“Mandi sini beb”

Ia langsung menarik tanganku “eh?”

“Jam 10 kita harus fiting baju, biar lebih efisien kita mabar aja” ucapnya sambil membuka kaos dan boxernya

“Main bareng? Ngga nggak deh fi makin lama yang ada”

“Mesum tuh, mabar tuh mandi bareng. Udah cepetan buka baju kamu tuh aku udah isi air hangetnya” tanpa sehelai benang arfi langsung berendam di bathup. Aku pun mengikuti jejaknya. Perasaanku tidak enak tapi anehnya aku menurut saja

Selesai mandi, kami berkumpul diruang tengah. Indra pengelihatanku menangkap orang asing yang duduk sendirian dengan angkuh disana. Seorang wanita yang bisa ku nilai ia cukup fashionable dari caranya berpakaian. Dia menatapku sinis, heh? Aku punya salahkah?

“Dia siapa gre?” Tanyaku saat aku sudah duduk disofa sebelah gre

“Dia itu–”

“Hallo, udah sampai kamu rupanya. Sini” arfi yang baru turun langsung menyapa wanita ini

“Udah lama kali” ujarnya ketus dan arfi hanya tertawa sambil mengacak rambut wanita ini gemas. Dia siapa sih hih! Aku terus menatap mereka berdua. Aku tidak suka dengan perlakuan manis arfi padanya. Tidak boleh! Arfi milikku!

Apa yang selanjutnya terjadi membuat hatiku memanas. Arfi mencium pipi wanita itu lembut dan gadis itu membalas ciuman dipipi arfi juga. Cukup! Bisa bisanya ia lakukan itu dihadapan wanita yang ia janjikan cincin pernikahan. Aku berjalan ke arah mereka lalu menarik tangan arfi sedikit menjauh dari wanita itu.

“Kamu apa apaan sih!!”

Arfi menatapku heran “apaan kenapa?”

Jduakk

Suara pintu dibuka secara kasar menyita perhatian kami semua. Iwan nampak kelelahan. Keringat bercucur diseluruh tubuhnya. Dia ini abis ngapain?

“Kakak istirahat dulu deh, aku juga mau minum” ujar okta berjalan melewati kami semua.

Dia tidak tau ya keadaan lagi memanas. Okta kembali membawa dua buah botol minum, tunggu itu bukan air putih deh kayanya

“Nih kak” iwan langsung menenggak minumannya sedetik kemudian ia menyemburkan kembali minumannya

“Ini bir bukan air putih oktaaaaa!!!” Teriak iwan.

“Heh!! Gak sopan banget sih! Nyebut nyebut nama orang sambil teriak teriak!!”

Kami terdiam. Tunggu, sepertinya ada yang salah. Aku memperhatikan wanita itu. Dia membereskan barangnya dan berjalan ke arah aku dan arfi

“Kak kalo punya tamu yang beneran sedikit kek. Aku keatas dulu mau belajar, lusa ada ujian” ia berlalu melewati kami. Tunggu, kak? Kalo begitu…

“Okta…”

Ia menoleh kebelakang, “Ya?” Sahutnya, aku tidak menjawabnya tapi tersenyum kearahnya begitu juga dengannya tapi dia hanya tersenyum tipis, sangat tipis sebelum ia melanjutkan langkahnya. Aku beralih menatap arfi dengan cengiran bodohku

“Udah inget hem?” Aku hanya mengangguk

“Okta udah nambah gede, banyak berubah jadi aku gak ngenalin tadi”

“Bukan okta yg nambah gede tapi kamunya aja yang pikun. Udah yuk ketempat fiting baju nanti telat”

Arfi menarik tanganku keluar. Aku melihat semua orang di ruang tengah membantu iwan sesekali menjahili iwan. Ya biarkan saja deh

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48