Tentang Kita Part 15

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 15 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 14

Aku disibukkan dengan pekerjaan dapur. Malam ini arfi ingin aku memasak untuknya, untuk kami sih sebenarnya. Selesai mandi dan bersih bersih aku memasak untuknya. Masakan sederhana seperti sop daging, tumis kangkung, tahu? Bukan, maksudku tahu goreng hehe garing yah..

“Sibuk banget. Aku bisa bantu apa nih?” Suara arfi membuatku menoleh sebentar ke arahnya

“Duduk aja disana..” ucapku yang sudah beralih memotong daging dan memasukkannya ke kuah sop

“Yah, aku mau bantu sih..” aku menoleh padanya.

Kulihat tubuhnya yang hanya menggunakan singlet dan celana pendek serta rambutnya yang masih basah sehabis mandi itu seksi sekali menurutku

“Fi kamu kan abis sakit kenapa mandi?” Ujarku sambil memotong wortel kecil kecil

“Aku udah sembuh total kok, kan ada obatnya disini lengkap malah. Obat, vitamin, suplemen, dan susu. Lengkapkan” dia menekan kata “susu” nya

“Mesumnya kamu gak hilang hilang deh fi” dia terkekeh

“Gimana bisa hilang kalo yang dilihat tiap hari kaya begini” ujarnya sambil memandangiku.

Iya juga sih, aku hanya memakai daster diatas lutut membuat lekuk tubuhku terlihat jelas. Detik berikutnya dia memeluk tubuhku dari belakang dia mulai menciumi leherku satu tangannya dia gunakan untuk mengelus perutku dan satunya lagi mengelus dadaku dari luar. Aku menikmati sentuhannya

“Sshh.. arhfiii..” desahku lolos begitu saja saat tangannya mulai melungsup masuk dari bawah mengangkat bawah dasterku hingga perut

“Kamu tau sejak kenal kamu aku mulai menyukai warna pink, biru muda, hitam dan krem” ucap arfi berbisik dikupingku.

Sekuat tenaga ku tarik kembali alam bawah sadarku. Tidak boleh aku sedang masak sekarang ada waktunya tapi aku terlalu larut menikmati perlakuannya yang sudah lama tidak kurasakan. Tangannya menelungsup masuk ke dalam CD ku dan bermain disana

“Udah basah sayang..”

“Arfiiiihh.. akuuh laghiii.. masakkh”

Dia melepas semua sentuhannya. Membalikkan tubuhku menghadapnya detik berikutnya ia mencium bibirku lembut. Ah ini memabukkan sekali, aku tidak sabar untuk melanjutkan ke sesi berikutnya tapi tidak saat ini. Aku melepas ciuman kami

“Makan dulu ya, biar ada tenaga buat olahraga malemnya” ucapku mengedipkan mataku satu. Dia tersenyum

“Kamu nakal ya..”

“Aku akan selalu menjadi wanita nakal kamu arfi” dia kembali mencium bibirku sejenak

“yaudah masak dulu yang enak. Malam ini aku mau yang enak enak” ucapnya berbalik lalu berjalan ke arah meja makan dibelakangnya

Kami menghabiskan makan malam kami dengan diselingi oleh obrolan random. Sesekali kami membahas soal pernikahan yang akan kami langsungkan dalam waktu dekat ini. Aku tidak bisa berkutik saat arfi bersikeras untuk menikahiku meski akan menentang kedua orang tuanya.

Alasan paling kuat baginya adalah isi dari perutku yang menurutnya akan membuat orang tuanya menerimaku. Ini sulit bagiku, imejku dimata orang tuanya tentu akan buruk. Aku perempuan dan Om bram selaku orang tua arfi tau siapa aku dan dari mana aku. Apa dia akan percaya ini adalah hasil dari arfi anaknya. Sungguh memikirkannya saja membuatku pusing

“Rasanya udah lama kita gak kaya gini” ujar arfi saat kami sedang berbaring ditempat tidur

“Oh ya? Meisha bagaimana?”

Arfi menoleh cepat kepadaku dan menatapku intens

“Aku gak pernah tidur sama dia. Kamu pikir aku bajingan begitu?”

Aku senyum dan mengelus pipinya lembut “nggak gitu, tadi aku bercanda aja” telunjukku menelusuri wajahnya dan berhenti dibibirnya yang merah

“Kamu gak pernah ngerokok fi?”

“Belum, pernah nyoba tapi batuk jadi bahan tawaan temen temenku”

Aku terkekeh, ini pertama kalinya aku menemukan seorang lelaki yang belum pernah merokok eh ralat maksudku pernah tapi bukan perokok aktif hanya mencobanya. It’s okeylah

“Jangan pernah merokok ya. Bibir kini sekarang bukan cuma milik kamu tapi milikku juga. Jangan rusak cita rasanya dengan merokok ya”

Dia mengangguk tersenyum “mau merasakan cita rasanya?”

Lagi, aku tersenyum “Of course..” lalu aku mencium bibirnya, dia melumat bibirku lembut. Dia membalikkan tubuhnya kini menjadi diatas tubuhku tanpa melepas ciuman kami

“Boleh aku tagih janji kamu yang tadi?” Tanyanya. Aku memang menjanjikan sesuatu yang…. yah kegiatan orang dewasalah hehehe

“Aku akan berikan. Tapi pelan pelan ya disini ada yang hidup” ucapku menepuk nepuk pelan perutku dia tersenyum

“Permainan lembut yang selalu kamu mau sayang” ucapnya. Dan malam itu kami melakukannya. Arfi bermain sangat lembut dan hati hati tapi tetap saja mampu membuatku melayang

Setelah hampir memakan waktu dua jam kami sudahi permainan kami. Kini kami berpelukan dengan posisi favoriteku yaitu dia memelukku dari belakang tanpa sehelang benang pun ditubuh kami

“Julia?” Panggilnya

“Ya?”

“Aku sayang kamu” bisiknya tepat dikupingku

“Aku juga sayang kamu”

“Kalo aku nanti jadi miskin apa kamu masih tetap disini bersamaku?”

“Sekalipun beratap gubuk, dan lantai tanah pun aku akan tetap bersama kamu”

Dia mengeratkan pelukannya “Kamu tau mungkin ini terdengar jahat tapi aku memang sengaja melepaskan benihku didalam”

Aku terdiam sementara

“Artinya kamu mengikatku begitu?”

“Ya, aku bukan lelaki bajingan yang takut bertanggungjawab. Aku membuktikan padamu bahwa aku bukan lelaki yang kamu temui diclub dulu. Jika memang aku belum bisa bertanggungjawab tentu aku tidak akan berani melakukan itu”

Aku tertegun dengan ucapannya. Lagi, arfi membuatku menemukan seseorang yang berbeda meski harus kuakui caranya salah tapi dia berani menebus kesalahannya.

“Kamu buat hidupku lebih berwarna. Klise memang tapi itulah yang kurasakan. Kamu tau aku gak pernah perduli apa latar belakang kamu saat melihat manik matamu pertama kalinya aku tau kamu tidak ingin melakukan pekerjaan kotor seperti itu. Aku menemukan ada ketulusan disana..”

“Ternyata lebih dari itu, kamu jauh lebih baik, bahkan aku belum pernah merasa nyaman secepat ini dengan seorang wanita”

Aku masih terdiam tidak berniat membuka suaraku sedikitpun. Jika dia bisa menggambarkan aku seperti itu dalam kehidupannya bagaimana denganku? Kehidupanku yang jauh dari layak dan aku merasa kotor secara tiba tiba berubah menjadi wanita normal yang diperlakukan bagai permata oleh seorang pria tanpa dibayar dengan nominal

“Julia, kamu membuatku kembali menemukan alasanku. Kamu lentera kecilku dalam lorong, kamu gak seterang matahari namun kamu mampu membuatku menemukan jalanku kembali”

Kuhapus air mataku dengan cepat. Harusnya aku yang bilang begitu sama kamu fi

“Terima kasih fi.. aku sangat beruntung bisa hidup bersama kamu. Hidup seperti ini tidak pernah ada dalam bayanganku. Aku bahkan tidak pernah bermimpi akan ada pria yang menerimaku setelah tau pekerjaanku”

“Jangan bilang begitu. Meski suatu saat nanti aku dikenal menikahi seorang pelacur aku gak merasa keberatan. Kebahagiaan itu tidak melulu ditemukan ditempat baik, contohnya aku, aku bisa menemukan kamu wanita baik yang kucintai meski aku menemukan kamu bukan ditempat yang baik”

Aku langsung membalikkan tubuhku dia sedikit terkejut lalu aku memeluknya erat. Menumpahkan semua bahagia dan haruku. Dia yang semula terkejut mulai membalas pelukanku mengusap lembut punggungku.

“Aku mencintai kamu fi, aku hanya takut pandangan mereka ke kamu itu menjadi buruk setelah menikahiku. Aku tidak ingin menjadi benalu dalam hidup kamu” ucapku terisak

“Apa yang mereka lihat belum tentu itu yang kurasakan. Aku lebih baik dipandang buruk tapi aku lebih hidup bersamamu dibanding aku dipandang baik tapi sebenarnya aku mati” ucapnya lalu beralih mencium keningku lembut. Aku pun berhenti terisak lalu kupandang dia dengan senyumnya. Dia pun menjawil hidungku

“kok jadi cengeng gini sih kesayangannya aku” ledeknya. Aku mencubit perutnya yang kotak kotak pelan

“Aduh, jadi galak deh.. tapi gemes” ujarnya lagi

“Fii…”

“Iya?”

“Aku mau sate padang..” senyum dibibir arfi luntur. Ada apa? Ini wajarkan seorang ibu hamil menginginkan sesuatu yang mereka biasa sebut ‘ngidam’

“Kenapa? Gak wajar ya aku minta sate padang?” Tanyaku

“Permintaan kamu wajar beb, tapi waktu permintaannya yang gak wajar”

Aku mendongakan kepalaku melihat jam tertempel didinding atas kasur kami. Pantas dia bilang begitu, ini sudah hampir jam 2 pagi. Aku berniat mengurungkan permintaanku tapi entah kenapa aku menginginkannya

“Pasti masih ada fi.. kan tukang sate padang keluarnya malem” ujarku berusaha membujuknya

“Ya tapi kan-”

“Ini permintaan bayinya. Aku juga kasihan sama kamu keluar jam segini tapi dia yang mau bukan aku” aku sambil mengelus perutku. Dia menghela nafasnya

“Iya iya aku cariin kamu tunggu ya”

Arfi turun dari kasur dan memakai pakaiannya. Setelah dia hendak keluar aku menahannya

“Fii, kalo ada tukang sate padangnya jangan dibungkus tapi suruh abangnya kesini aja bakar satenya ya..”

Arfi terkejut

“Apa? Kamu gii–”

“Arfi junior yang mau bukan aku” ucapku memanyunkan bibirku

“Arrgghh iyaiya..”

“Kalo gak mau gpp.. aku bisa cari sendiri” ujarku ngambek lalu beranjak dari kasur

“Jangan! Iya iya maafin aku ya sayang. Kamu diem disini tunggu aku biar aku yang keluar”

Aku tersenyum memangguk. Dia mencium bibirku sekilas lalu keluar dari kamar.

Lama aku menunggu akhirnya ku dengar deru suara mesin mobil memasuki pekarangan yang kutebak itu arfi. Aku bergegas memakai pakaianku lalu turun kebawah. Dibawah arfi sudah bersama tukang sate padang seperti yang kuinginkan. Ku hampiri gerobak abangnya dan memesan sesukaku

“30 tusuk bang, lontongnya dipisah ya” ucapku

“Neng situ kaya sundel bolong”

“Sundel bolong yang kaya gue, udah buruan bikinin”

Aku lalu melangkah masuk dan duduk dikursi teras.

“Kamu udah pesen?”

“Udah fi.. makasih yaa udah mau menuhin keinginan aku”

“Sama sama sayang”

Tak lama pesananku datang. Aku yang melihat pesananku sebanyak itu mendadak kehilangan selera makanku. Kucicipi satu tusuk satenya. Benar, aku sudah kehilangan selera makanku.

“Fi..” panggilku setelah arfi kembali dari membayar tukang sate padangnya

“Kenapa sayang?”

“Ini buat kamu abisin deh. Enak loh”

“Lah tadi kamu yang mau katanya kok jadi aku?”

“iya tadinya tapi selera makanku hilang setelah lihat abangnya mukanya jelek”

Arfi mengertikan dahinya “apa urusannya sama satenya”

“Aku gak tau, tiba tiba aku ingin lihat kamu yang makan satenya langsung sekaligus tiga tusuk setiap lahap”

“Apa??!! Kamu gila yaa?”

Entah kenapa aku merasa sedih dikatain begitu. Hal yang harusnya biasa ini menjadi hal yang tidak aku sukai dan anehnya aku tidak suka dibantah. Aku memasang wajah sedihku

“Tuhkan kamu kasar sama aku..”

“Eh.. iya iya nggak.. nih aku makan ya tiga tusuk sekaligus. Senyum dong”

Arfi melahap tiga tusuk sekaligus tiap lahap. Aku yang melihat itu kembali tersenyum senang hingga arfi menghabiskan semuanya tanpa tersisa

***

Disebuah kantor periklanan dijakarta terlihat seorang sedang duduk dikursi kebesarannya. Ya, arfi berada dikantornya tepatnya diruangannya. Dia menatap serius berkas berkas yang tergeletak dimejanya, sesekali melirik layar laptopnya serta menanda tangani beberapa berkas.

Tubuhnya terasa capek terlebih saat semalam ia habis merasakan disiksa secara batin membuatnya lelah meski jam masih menunjukkan pukul 10

“Ngantuk banget gue, pesan kopi deh”

Arfi meraih telepon dimejanya dan menghubungi seseorang disana. Selesai menelpon ia menyenderkan tubuhnya disandaran kursi.

Tok tok

Grek

“Oi fi, wey lemes banget kayanya. Kan gue bilang lu jangan masuk dulu masih pemulihan kali lu” ujar temannya yang main selonong masuk keruangannya.

“Bukan soal pemulihan wan, lo tau kan si julia lagi isi, mintanya mulai macem macem” ujarnya kepada temannya yang dipanggil wan.

“Hahaha mamam tuh, emang doi minta apaan?”

“Sate padang jam 2 pagi, udah gitu gue yang disuruh ngabisin lagi 30 tusuk. Terus gue harus mandi pake sabun bayi biar boleh tidur bareng doi. Gile kan tuh”

Bukannya mendapat simpati tapi malah mengundang tawa iwan

“Hahahahaha… lu rasain dah tuh” iwan terus tertawa membuat arfi menatapnya malas.

Tak lama ketukan pintu terdengar, masuklah seorang wanita yan bernama natalia. Dia pegawai baru disini yang merangkap menjadi pengganti julia

“Terima kasih nat, kamu boleh keluar”

Lalu natalia keluar dari ruangan arfi

“Eh fi kapan lu nikahin si julia btw, jangan kelamaan ntar perutnya makin gede. Apa pendapat orang tentang dia ntar”

Arfi merenung sejenak mendengar ucapan iwan. Tiba tiba senyumnya mengembang beralih menatap iwan

“Kenapa lu senyum senyum? Naksir sama gue?”

Seketika arfi memasang wajah jijiknya “najis banget gak ada yg bisa gue raba dari lu.. 2 minggu lagi gue melaksanakan perniakahan gue dibelanda. Lu agus okta sama gre ikut ya sebagai saksi gue”

“Nah gitu dong, siap boss sekalian holiday ya nginep dirumah lu kan?”

“Yoi.. makanya mulai hari ini gue mau selesaiin tender rumah impian nih.. kalo udah terlaksanakan gampang tinggal bawahan nerusin”

“Sip. Ntar gue kasih tau gre supaya dia cepet ngerjain proyeknya”

Disela obrolan mereka hp arfi berdering tanda ada panggilan masuk

“Hallo..”

“…”

“Boleh.. kamu mau makan apa?”

“…”

“Hah? Kamu gak salah?”

“…”

“Eh eh.. iyaiya sekarang aku pulang sayang. Jangan sedih aku pulang nih.. tunggu 30 menit lagi aku sampai”

Arfi bergegas mengambil jasnya dan keluar ruangan meninggalkan iwan. Iwan yang ditinggal hanya menatapnya bingung. Tidak lama arfi menyembulkan kepalanya

“Wan, lu handle dulu ya.. gue janji liburan ke belanda biar gue yang tanggung oke”

Arfi langsung pergi tanpa menunggu persetujuan dari iwan. Iwan yang melihat arfi seperti itu hanya geleng kepala

“Kawan gue baru jatuh cinta lagi.. seneng sih lihatnya, tapi ya nggak gue juga jadi babu.. bazeng ah!” Keluh iwan namun senyum tidak lepas dari bibirnya.

Pasalnya iwan adalah teman lama arfi sejak mereka duduk dibangku sekolah menengah pertama hingga saat ini.
Klek

“Wah iya kakak disini. Lunch yuk kak, kak julia nelpon aku dia undang kita makan siang bareng” ujar okta yang baru datang

“Julia? Tadi arfi baru nerima telpon dari julia deh kayanya”

“Ah udah deh gak usah bahas itu ini kak julia suruh aku cepetan. Yuk ah”

Okta menarik tangan iwan keluar dari ruangannya. Lagi tanpa persetujuannya dia harus menerima ulah dari orang orang sekitarnya seolah dia ini tidak ada harga dirinya. Poor iwan

**

Disinilah mereka berenam berkumpul diatas tooftop rumah arfi ada sebuah spor untuk barberque lengkap dengan peralatan memanggang dan sebuah saung untuk berkumpul menikmati makanan atau sekedar bercengkrama.

Terlihat wajah pria berdasi yang sudah berantakan kemejanya sedang mengipasi ikan bakar diatas tungku. Wajahnya yang terus ditekuk menandakan ia tidak menyukai kegiatan ini

“Kak bumbunya, jangan kebanyakan nanti asin” ucap seorang gadis berkulit putih dengan tinggi hampir setiang listrik, ralat tinggi 172cm. Angka yang cukup fantastis untuk tinggi badan seorang wanita

“Taro aja situ sih..” jawab si pria masih dengan nada ketusnya

“Bakarin yang enak ya kakaaa~~ ” ledek gadis jangkung itu bernama okta

“Berisik!”

Okta pun pergi meninggalkan si pria itu. Pria bernama arfi tersebut hanya mendumel saja pasalnya ia harus memenuhi keinginan kesayangannya yang sedang hamil muda untuk membakar ikan.

Dengan berat hati ia jalani padahal jika mau ia bisa membelikan 10 ekor ikan bakar namun kesayangannya tidak menginginkan itu melainkan ia ingin makan ikan bakar dengan masakan tangan arfi

***

“Makasih sayang.. ini pasti enak” ucapku memuji masakan arfi. Yang dipuji masih menekuk wajahnya. Ah biarlah sekarang yang penting makan dulu

“Sering sering jul ngidam kaya gini. Kita kan yang jadi enak ya gak guys?”

“Tul tuh.. kan gue jadi gak usah repot ngeluarin duit lagi buat makan siang”

Aku tersenyum arfi yang duduk disebelahku hanya memanyunkan bibirnya. Ke sentuh pundaknya dia menoleh padaku memberikan tatapan yang entah apa aku tidak mengerti

“Kamu manyun aja sih..”

Arfi tidak menghiraukanku dia beralih mengambil bagian makanannya dan memakannya. Hehehe lucu banget sih dia

Cup

Bisa kulihat ia terkejut atas perlakuanku lalu menoleh ke arahku. Aku tersenyum manis, dia menatapku dengan senyum. Ini yang kusuka, matanya mengecil saat dia tersenyum. Ku elus pipi kanannya arfi mendekatkan wajahnya padaku

“Kamu tau, masakan ini harusnya rasanya biasa aja tapi karena orang spesial yang masak ini jadi rasanya luar biasa” ucapku.

Dia terkekeh kecil, wajah kami sangat dekat hingga hidungku menempel dihidungnya dan mata kami saling pandang dengan senyum

“Kok gombal sih?” Dia tertawa kecil

“Aku gak gombal, aku cuma mengatakan apa yang kurasakan”

“Enak rasanya?” Aku mengangguk

“Itu gak gratis tau” ucapnya sambil mengelus bibirku dengan ibu jarinya. Aku tersenyum kecil, ku pejamkan mataku tak lama kurasakan benda kenyal dibibirku. Hanya menempel tanpa lumatan

“Cukup! Gue gak bisa diginiin”

Kami melepas ciuman kami. Astaga! Aku lupa jika ada mereka disini. Bahaya juga nih saya-_-

“Hehehe sorry gus, kebawa suasana gue” ucap arfi nyengir

“Tau lo untung gue berhasil mengamankan doi dari adegan yang tidak sepantasnya dilihat!” Ucap iwan sambil menutup kedua mata okta tapi okta masih asik mengunyah makanannya

“Kebawa suasana apaan, pantes gak ada suaranya taunya masah kissu kissu kalian” racau gre menatap kami kesal wkwk

“Eh ini kan rumah gue, bebas ajalah ngapain kek lagian cuma kissu kissu doang gak kaya lu sama agus waktu dipuncak kan” ucapku membuat gre dan agus menggaruk kepalanya yang kuyakin tidak gatal sama sekali

“Kalian bicarain apa sih?” Ujar okta yang matanya sudah kembali melihat(?)

“Ikan ini enak, kamu harus coba” ucap iwan lalu mengangkat satu ekor ikan dan memindahkannya ke piring okta. Okta hanya bingung menatap iwan lalu kami bersikap seolah tidak terjadi apa apa

“Eh lain kali kalo mau begitu paling tidak gak didepan dia nih.. gue yang repot ntar” bisik iwan agar okta yang disebelahnya tidak mendengarnya

Aku hanya mengacungkan jempolku lalu melanjutkan makan siangku. Disela makanku, perutku mual langsung saja aki berlari ke kamar mandi

“Hoeeekk…”

“Sayang kamu gpp? Sakit ya? Atau masakannya gak enak ya?” Ucap arfi khawatir

“Aku gpp fi, entah kenapa perutku mual dan sedikit pusing”

“Aku anter ke kamar yuk, kamu istirahat aja” arfi merangkulkan tanganku dipundaknya

“Istirahat ya sayang” ucap arfi lalu mengecup keningku

“Lo sakit jul?” Tanya gre yang sudah diambang pintu kamar

“Gue gpp, cuma mual aja efek hamil kali gue gre”

“Wah, ini mah masakannya yang gak beres. Masaknya gak ikhlas sih” ujar agus dan akhirnya mereka semua masuk ke kamarku.

“Bacot lu gue tendang dua kaki gue yang jatoh kan” ucap arfi membuatku tertawa kecil. Aneh ih dia. Mereka akhirnya saling melempar celetukan celetukan aneh tapi lucu

“Fi..” arfi menoleh padaku

“Aku mau rujak sayang” arfi tersenyum mengelus puncak kepalaku

“Tunggu sini ya, aku beliin dulu..” arfi beranjak dari duduknya tapi aku menahannya

“Kenapa sayang?” Aku diam menatapnya

“Rujak yang buahnya langsung dari pohonnya masing masing, kendondong, bangkuang, mangga muda sama nanas ya”

“Hah? Astaga.. tidak lagi” arfi menghela nafasnya kasar aku hanya memberi tatapan memohon

“Iyaiya aku cariin ya kamu dirumah aja” arfi beralih menatap iwan dan agus. Mereka yang ditatap bergegas bangkit tapi kalah cepat arfi menutup pintu kamar dan menguncinya

“Kalian harus bantuin gue” ujar arfi

“Waduh, gue harus balik ke kantor fi”

“Gue ada client fi sorry aja nih”

“Gak ada! Gue tau lu boong agus client apaan. Lu juga wan, lu kerja sama gue juga udah tenang aja”

“Eh fi itu kan bini lu kenapa jadi kita yang repot sih”

“Gue minta tolong iwan. Nanti kalo bini lu pada bunting gue bantuin juga deh saat ngidamnya” ujar arfi memohon

“Oke kita buat kesepakatan kalo ada pohonnya lu yang manjat kita yang jaga dibawah”

Arfi menimang nimang kesepatakan ia terlihat berpikir

“Mau gak?”

“Iya iya oke deal!”

Akhirnya mereka bertiga keluar mencari apa yang kumau. Kusandarkan tubuhku, berpikir apa yang akan terjadi jika perut ini membesar. Ada sedikit perasaan malu saat melihat mereka, ya mereka gracia dan okta yang kini sedang ngobrol diatas kasurku juga. Bodoh rasanya aku sebagai wanita bisa sampai hamil diluar nikah seperti ini.

Arfi selalu bilang jangan malu karena ia akan bertanggungjawab dan rencananya 2 minggu dari sekarang akan menikahiku. Aku mengadahkan kepalaku, memang hidupku jauh lebih baik dari sebelumnya bahkan sangat jauh lebih baik tapi hamil diluar nikah seperti ini juga bukan keinginanku.

Ku tarik selimutku karena AC diruangan ini sepertinya sudah bekerja maksimal. Suhu diruangan ini juga mulai dingin. Kubaringkan tubuhku, mungkin arfi akan memakan waktu lama kuputuskan untuk memejamkan mataku sejenak

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48