Tentang Kita Part 14

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 14 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 13

Pagi harinya aku datang menjenguk arfi. Tentu setelah izin dengan gre bahwa aku tidak bisa jaga toko hari ini. Dia mengerti dan mengizinkanku. Aku berjalan di lorong rumah sakit dan menuju ruangan dimana arfi dirawat.

Sampai disana seperti kemarin aku memakai atribut untuk besuk pasien. Ku geser tirai yang menutupi dan aku terdiam melihat apa yang kulihat didepan mataku. Seorang wanita muda berdiri disebelah pria sambil mereka tautkan tangan mereka. Aku masih diam ditempat, mereka memandangku

“Maaf..”

Aku masih diam ditempat

“Mba.. siapa ya?”

Dia bertanya padaku siapa? Bukannya harusnya aku yang bertanya pada mereka. Mereka ini siapa? Dan kemana arfiku

“Mas ini selingkuhan kamu ya?” Ujar si wanita pada si pria.

Oke aku luruskan. Aku berniat menjenguk arfi diruangan yang sama tapi yang kudapat adalah seorang pria gemuk berewok dan wanita kurus yang kini terlibat perang mulut karena si wanita menganggapku adalah selingkuhan dari si pria bewok ini

Teuing ah sama mereka kulangkahkan kaki ku keluar menuju lobby

“Sus, pasien bernama arfi dirawat diruang mana ya?”

“Sebentar ya bu..”

Kemarin manggil mba sekarang bu. Besok apa, nek gitu?

“Ruang mawar nomor 13 lantai 3 mba”

Kan jadi mba lagi gak jelas juga nih rumah sakit isinya suster begini semua

Setibanya aku didepan ruang mawar jantungku berdetak kencang. Ku dorong perlahan pintu dan ku langkahkan kakiku masuk. Saat sudah berada didalam aku hanya melihat bansal yang kosong dengan selimut berantakan diatasnya

Aku berkeliling ke seluruh ruangan mencari keberadaannya. Apa susternya salah orang kali ya, ada berapa arfi yang dirawat dirumah sakit ini. Eh tunggu, ini handphone arfi tergeletak di nakas. Hpnya aktif namun ke lock. Ku coba membukanya, kutuliskan namaku

“Julia anantha..” lalu ku tekan tombol ‘OK’ .

Eh? Hpnya ke unlock itu artinya dia tidak pernah mengganti pasword lock key pada hpnya. Ku pandang ke luar jendela

“Arfi aku jenguk kamu, kamu malah gak ada. Padahal aku kangen kamu..”

“Kamu udah pergi ya.. tapi hapenya ditinggal gini, simpen deh nanti titip iwan biar dibalikin pasti lupa tuh anak..”

Aku sedari tadi hanya bermonolog sendiri menyimpan hapenya dalam tasku. Aku masih memandang bansalnya aroma parfumnya masih bisa tercium olehku.

“Aku mau ketemu kamu fi, mau peluk kamu, aku kangen banget sama kamu..”

“Aku juga…”

Aku terdiam mendengar suara yang familiar dikupingku. Kubalikkan tubuhku, dia disana berdiri satu meter dibelakangku tadi. Matanya, alisnya, bibirnya seluruh wajahnya terpahat sempurna dimataku. Terus kupandangi dia, dia berjalan mendekat. Dia menandangku seolah meminta izin agar aku mengizinkannya memelukku.

Ku tabrak tubuhnya dengan pelukan hingga tubuhnya terhuyung dan terjatuh duduk dibawah. Aku masih terus memeluknya, menumpahkan rasa rinduku selama ini. Aku tidak perduli jika setelah ini dia akan mengecapku freak atau aku akan dilabrak oleh tunangannya yang kuingin sekarang hanya memeluknya. Mencium aroma tubuhnya dalam dalam.

“Julia, aku–”

“Sebentar arfi.. sebentar lagi” potongku yang masih memeluknya. Dia membalas pelukanku erat. Lama kami dalam posisi seperti ini akhirnya aku melepaskan pelukanku.

“Kenapa dilepas?”

“Nanti tunangan kamu marah. Aku gpp cuma sebentar sekedar lepas kangen aja”

“Tunangan? Siapa?

“Cewek yang kemarin diapartemen kamu”

Dia malah tertawa “meisha? Dia mah cewek begini” dia menggesekkan jarinya didahi. Aku masih menatapnya menyelidik

“Udah kamu gk usah pikirin itu. Duduk diatas kek dibawah gini kaya mau ngaji” ujarnya berdiri mengajakku duduk di sofa

“Jadi kamu udah sembuh?” Dia menoleh padaku

“Harusnya sih masih dirawat. Tapi gak tau deh tiba tiba aku pulih gitu aja”

Apa yang dibilang okta bener ya arfi ini kuat atau memang dia sejenis titan. Ah biarin deh yang penting dia sudah pulih

“Mungkin semalam itu ada yang janjiin sesuatu deh..” ucapnya menatapku meledek. Aku menyadari satu hal, apa artinya dia sudah sadar sejak kemarin malam

“Kamu udah sadar dari kemarin malam?”

“Indra pendengaranku aja saat itu yang bisa kugunakan selebihnya aku seperti lumpuh” jelasnya

“Engg..” arfi menatap kebawah ke arah perutku

“Dia baik baik aja didalam sana. Dia akan tumbuh sehat dan kuat” ucapku. Arfi menundukkan kepalanya lalu beralih menatapku

“Maaf.. aku minta maaf sama kamu”

“Maaf? Untuk apa fi kamu minta maaf?”

“Semuanya. Hanya itu yang bisa aku ucapkan sama kamu. Aku tau semua gak akan kembali seperti semula meski aku menginginkan itu.. jika aku punya kesempatan memutar balik waktu tentu aku akan menjaga ucapanku”

Aku menatap wajah samping arfi. Dia menatap kosong kebawah

“Kamu emang gak punya kesempatan untuk itu” ucapku

Arfi menunduk dalam

“Tapi kamu punya kesempatan untuk memperbaiki segalanya..”

Dia menoleh cepat menatapku. Aku tersenyum lebar

“Termasuk kamu?” Aku menganggukkan kepala.

Lalu dia bersorak senang lalu sujud dilantai. Aku tidak percaya dia melakukan itu, maksudku dia orang yang kemarin baru saja hampir koma dan kini bertingkahnya seperti orang gila gini. Kini dia beralih menatapku kedua sudut bibirnya tertarik keatas

“Terima kasih kamu udah memberi aku kesempatan lagi.. aku akan ingat kebodohanku” ucapnya aku tersenyum senang

Aku merentangkan tanganku lalu dia memelukku erat

“Tapi kamu berhutang cerita sama aku” ucapku disela pelukan kami

“Apa?”

“Siapa meisha?”

Dia melepas pelukannya dan menatapku

“Dia cewek yang berpura pura menyewa apartemenku. Kami sebelumnya emang saling kenal tapi aku gak suka sama dia. Cantik sih, tapi bukan seleraku dia menyukaiku sudah lama”

Ceritanya sedikit gak masuk akal sih ya. Tapi aku tertarik akan ucapannya satu hal

“Selera? Artinya cantik aja gak cukup ya bagi kamu. Kalo aku menilai dia lebih cantik dari aku”

“Emang iya aku akui sih..” aku menatapnya malas

“Tapi tetep lebih baik kamu. Dia modal cantik aja tapi rata”

“Rata? Maksud kamu?” Tanyaku

“Iya rata gitu badannya lempeng aja kaya tiang. Kalo kamu kan… wooow” dia menaik turunkan alisnya menatap kedua gundukan didadaku.

“Yeeh itu mah lu nya aja yang mesum” aku melempar wajahnya dengan tisu

“Bukan aku yang mesum itu kan selera. Lagian kan dadaku udah rata masa aku nyari perempuan yang rata juga kalo beradu gak ada empuk empuknya dong..” jelasnya. Aku menatapnya malas dia yang kutatap hanya memberikan cengiran bodohnya

“Udah ah biarin aja sih meisha itu..” dia bersimpuh didepanku lalu mengelus perutku

“hallo sayang, cepet keluar ya papah gak sabar nih mau main sama kamu. Jangan nakal nakal didalam ya” aku tersenyum melihatnya. Dia menempelkan kupingnya diperutku

“Sayang, denger papah kan? Papah sayang kamu jadilah anak yang kuat yaa” lalu dia mendongakkan kepalanya menatapku

“Boleh aku sentuh dari dalem gak?” Tanyanya aku mengangguk sambil tersenyum.

Dia mengangkat sedikit bajuku dan memasukkan tangannya. Agak sedikit geli saat kulit perutku menyentuh kulit tangannya. Eh tapi ini lama lama tangannya ke atas sih

Tuk

“Aduh.. kok aku dijitak sih” dia langsung terjatuh dan duduk dilantai

“Perut aku dibawah arfi ngapain tangannya keatas atas gitu”

Dia hanya nyengir gak jelas “bawaan bayi beb” jawabnya asal

“Aku yang hamil bukan kamu!”

“Yah dikit sayang, kan udah lama. Btw celana kamu bagus warna biru muda gitu”

Aku terdiam, celana dia bilang? aku kan pake rok. Bazeng! Celana lain rupanya yang dia maksud.
Brakk

“Weyy!!! Buset deh masih pagi oii!!”

“Waduh baru pulih langsung aje”

Kedua makhluk bernama agus dan iwan membuat rusuh satu ruangan. Untung aja arfi sendiri dirawat disini. Aku merapihkan pakaianku sedangkan arfi masih duduk sila diantai

“Udah baikan lu berdua?” Tanya iwan

“Udahlah, kita udah balik mesrah malahan ya gak beb?” Ucap Arfi beralih melihatku. Aku hanya menjulurkan lidahku keluar

Bruak

Buset dah ini juga dua perempuan masuk kagak sans banget

“Fi obatnya udah gue tebus nih.. lah arfinya mana”

“Noh dibawah..”

“Ngapain lu duduk dibawah?”

“Nah itu dia duduk dibawah abis dapet obatnya”

Agus mengangguk membenarkan ucapan gre “bener yang, kamu gak usah nebus obat arfi dia udah dapet obat jilat”

“Obat jilat? Apaan tuh?” Tanya gre bingung.

Aku juga tidak mengerti apa yang di maksud iwan. Jika dilihat posisi ku dan arfi tadi sebelum mereka datang itu arfi duduk dibawah dan aku dibangku, terus hubungannya sama jilat apa?

“Itu yang jilat jilat mesrah yang bikin geli” agus menaik turunkan alisnya. Gre terlihat mengerti pun menimpali

“Yee itu obat cair ini obat pil nya” gre memberikan obat ke arfi

“Lu pada sagne sih pikirannya orang gue tadi abis ngobrol sama anak gue” ucap arfi

“Ngobrol apa ngobrol lu. Jelas sih julianya ngangkang gitu kepala lu juga nunduk gitu”

Oh aku mengerti sekarang. Mereka pikir kami sedang bero*al se* begitu. Gila aja dirumah sakit gini

“Mau ngelak apa lagi lu?” Arfi hanya mendengus kesal “terserah lu pada deh”

“Tapi gue seneng boss kita bisa bersuara lagi. Wkwk kemarin dia diem aja galau” agus merangkul arfi

“Iya dikantor juga kerjaannya ngamuk terus gak jelas. Nah sekarang lu jagain tuh nyonya anantha jangan nyakitin dia lagi, jadi kalo lu sakit lu bisa jilat jilat supaya cepet sembuh”

“Eh omongan lu udah bagus wan, kenapa ujungnya kesitu sih” mereka pun tertawa. Aku hanya diam melihat mereka tertawa

“Julia kok diem aja?” Tanya gre

“Dia nanggung deh gue rasa makanya diem aja. Kita keluar yuk biar mereka lanjutin”

Mereka tertawa lagi disini jadi aku dan arfi yang bahan ledekan dan anehnya kami tidak membalas ledekan mereka. Tapi tatapanku tertuju pada okta yang sedang memperhatikan mereka bicara. Perasaanku tidak enak, aku berdiri mendekati gre

“Eh julia jangan berdiri.. nanti rembes”

Ah elah si agus gue tendang juga nih mulutnya. Eh ntar aku diusir lagi, lah kan udah baikan sama arfi jadi bisa tinggal serumah lagi deh hehehe

“Eh kalian ngomongin apa sih kok jilat jilat..” tanya okta membuat mereka terdiam

“Aku juga mau dong dijilat, kak nanti jilatin okta yaa” ujar okta menarik narik tangan iwan. MAMPUS!

“Eh.. engg gak gitu sayang, maksudnya jilat permen”

“Permen apaan orang tadi katanya kak julia nganggang terus kak arfi nunduk. Aku mau kaya gitu kak!” Seru okta. Kulihat arfi menahan tawanya

“Bukan gitu Ta, maksudnya itu kak arfi tadi–”

“Oh okta ngerti nanti kalo kak iwan sakit kak iwan jilatin okta aja ya biar sembuh biar ada obat cairnya” ucapan gre terpotong oleh okta.

Benerkan perasaanku bilang tadi gak enak nih

“Eh? Emmm.. iya sayang hehehe” ucap iwan tertawa meringis

Tawaku dan arfi pecah seketika

“Mampus lu wkwk jilatin kakak wkwkwk” arfi tertawa keras begitu juga denganku.

Tawaku berhenti namun tidak dengan arfi. Dia masih menertawakan iwan. Aku menatapnya, sudah lama sekali aku tidak melihat tawanya seperti ini. Aku tersenyum senang. Kuharap sebesar apapun rintangannya kami tidak akan berpisah lagi

***

“Anjirr!! Stiknya rusak bang*at ah!!”

“Arfii!! Kasar banget sih ngomongnya”

Yang kutatap tidak menghiraukan teriakanku. Yap, sore ini aku dan arfi sudah kembali kerumah, sebenarnya sih dari siang. Lihat dia, seperti tidak pernah sakit atau terluka meski didahinya ada perban dan beberapa bekas suntik ditangannya tapi dia bertingkah layaknya orang sehat. Aneh juga sih makan apa dia ini dulunya

Arfi meletekkan stik psnya dan duduk disampingku. Dia menatapku dengan senyum

“Kenapa kamu?”

Dia hanya menggelengkan kepalanya masih dengan senyumnya yang aneh. Apa ada yang salah dengannya atau akibat benturan keras kemarin otaknya sedikit terganggu

“Aku gak nyangka..” tiba tiba dia membuka suaranya

“Gak nyangka? Gak nyangka kenapa?”

“Demi dapat maaf kamu aku harus rela terluka separah ini, sejak kamu adalah penguasa pikiranku, kamu rampas seluruh hatiku dan jahatnya kamu gak ngebiarin aku ngelupain kamu sedetikpun saat itu..”

“..ini adalah hal yang tidak ingin dilupakan olehku kesalahan fatal terburukku. Bukan hanya ke kamu, tapi akibat tindakanku kemarin yang bikin kamu pergi baru kusadari kesalahanku”

“Aku sempat berpikir untuk hidup tanpa kamu 3 hari ku mencoba ternyata sulit. Ada yang hilang dariku, kupikir aku bukan sekedar mencintaimu tapi aku juga menggantungkan hidupku padamu. Aku terbiasa melihatmu, menyapamu, memelukmu dan saat itu tidak lagi kulakukan aku layaknya pecandu narkoba. Tubuh dan pikiranku berpisah, apapun yang kulakukan, dimana pun aku berada, dengan siapa aku tapi pikiranku tertuju satu hal..”

Arfi menatapku lalu meraih kedua tanganku

“Kamu.. julia anantha. Kesalahanku bukan hanya berdampak padamu. Tapi ke aku juga, itu sangat menyiksa untuk pertama kalinya dalam hidupku. Aku tidak ingin merasakan itu lagi”

Arfi bernajak menuju laci meja dan kembali membawa sebuah kotak. Dia mengeluarkan isi dari kotak itu

“Ini untuk kamu” dia memakaikan cincin permata dijari manisku. Aku terharu dengan ucapan dan perbuatannya. Seakan lupa apa yang pernah dia lakukan padaku

“Kamu ngelamar aku?”

Dia menggelengkan kepalanya

“Ini bukan tanda apa apa julia. Aku hanya ingin kamu memakai ini”

Setelah memakaikan cincin dijari manisku dia mengecupnya sebentar. Aku beranjak sedikit untuk memeluknya dia menyambut pelukanku. Hal yang biasa kami lakukan tapi entah kenapa ini selalu ku rindukan

“Aku sayang kamu julia”

“Aku juga sayang kamu fi”

Kami melepaskan pelukan kami. Lalu dia meletakkan kepalanya dipangkuanku. Aku mengelus puncak kepalanya

“Seharusnya aku larang kamu melakukan ini tapi entah kenapa aku gak bisa dan gak mau”

“Loh kenapa?”

“Setiap kali kamu menyentuh aku membuatku jatuh cinta padamu julia, yang kubisa lakukan adalah membuatmu terus disisiku agar aku bisa merasakan sentuhan kamu terus”

Aku tersenyum lebar, kurasa pipiku memanas. Malam ini arfi membuat ruangan ini penuh cinta, ku kecup keningnya sebentar lalu dia membalikkan badannya menghadap perutku

“Hallo dede, lagi apa? Jangan nakal nakal ya didalam hehehe oh ya kalo kamu laki kamu harus mirip papah ya, kalo kamu cewek kamu harus mirip mamah ya. Jangan terbalik loh”

Aku terkekeh mendengarnya. Emang bisa nentuin bentuk fisik bayi dari dalam kandungan ya

“Eh ya arfi.. kita gimana?” Tanyaku

“Kita akan menikah julia dibelanda”

“Belanda?” Aku terkejut arfi menganggukan kepala “tempat orang tua kamu?”

“Untuk apa? Kita bisa sendiri.. jangan pikirin mereka. Karena merekalah membuatku begini dan parahnya mereka juga membuatku melukai kesayanganku”

Aku masih terdiam. Kenapa harus dibelanda sih? Kan disini bisa

“Kalo gitu kenapa gak disini aja?”

“Hehe mana bisa julia, kamu sebatang kara dan aku tanpa orang tua. Kalo dibelanda sih bebas”

“Terus surat nikahnya? Saksinya?”

Arfi bangkit dari pangkuanku. Dia mencubit gemas pipiku

“Cerewet deh.. semuanya udah aku atur gendut”

Gendut dia bilang? Aku menangkup kedua pipiku, apa aku terlihat gendutan sekarang

“Gemes ih! Udah tua masih aja lucuk kamu” lagi arfi mencubit pipiku kini keduanya dia mengunyeng ngunyeng pipiku

“Arfiii sakit ih!”

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48