Tentang Kita Part 13

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 13 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 12

Pagiku terusik dengan suara gaduh diluar. Aku mengerjapkan beberapa kali mataku.

Tok tok tok

“Sebentar..” ucapku. Sekuat tenaga aku bangkit dan membukakan pintu. Pintu terbuka tanganku ditarik oleh seseorang sampai ke meja makan

“Sini makan gue masak banyak..”

“Masak banyak yang enak dikit” celetuk agus

“Kamu ngomong apa?” Mampus lu gus

“Aku makan banyak masakan penuh cinta” agus nyengir gak jelas ke gracia.

Aku tau gracia galak, bahkan sangat galak. Aku sempat bertanya sama agus kenapa dia gak memelihara anjing untuk berjaga dibelakang rumah lalu agus menjawab

“ngapain melihara anjing galak, gracia udah galak” bazeng! Pacarnya sendiri disamain sama gukguk. Terus kenapa mau sama gukguk, kelainan juga nih si agus hehehe

“Cukup jul?” Tanya gre yang menuangkan nasi goreng ke piringku.

Aku hanya menganggukkan kepala. Aku melihat lauk dimeja, ada sayur sop, ikan pedes, tahu goreng dan mataku berhenti dipiring agus yang duduk didepanku

Aku meringis melihat piring agus. Gimana nggak, agus makan nasi goreng dengan sayur sop gimana rasanya coba? Semua lauk dimeja ini ada dipiring agus. Sadar akan sesuatu aku harus berusaha survive dari sarapan pagi ini

“Nah dimakan..” aku melihat ke piringku.

Nice gre! Aku tidak berharap sarapan pagiku enak karena gre sudah menuangkan kuah sop di piring nasi gorengku. Gracia melangkah pergi ke dapur. Aku menatap agus

“Udah makan aja daripada lu yang dimakan ntar..”

Aku meneguk ludahku. Tak lama gracia kembali dengan semangkuk mie rebus ditangannya. BGST!! Ini mah dia bukan ngasih sarapan namanya tapi ngerjain orang!

“Makan jul, agus aja lahap tuh makannya”

Gelo sia weh! Ku cicip sedikit makanan didepanku. Ini apa namanya? Nasi goreng sop? Atau sop nasi goreng? Apapun itu yang jelas rasanya jauh dari kata enak, sungguh lebih baik makan nasi kecap sama kerupuk ada rasanya ini sih bikin pusing lidah. Nasi goreng asin dicampur gurihnya kuah sop, nah bingung kan sama rasanya?

Aku lihat gre dia memakan mienya dengan lahap. Tak butuh waktu berapa lama mie dimangkuknya sudah pindah ke perutnya.

“Gue tau gue cantik tapi jangan terkesima gitu, abisin aja makannnya enak kan?”

Mau sambit takut diusir, kalo diusir tinggal dimana? Aku berpikir bagaimana caranya agar aku lolos dari sarapan terkutuk ini. Ah! I have idea

“Enak gre, cuma gue gak lagi mau nasi goreng deh.. entah kenapa mual nih. Lu tau kan gue lagi mengandung”

Gre menatapku

“Mau gue masakin apa? Bilang aja.. jam masuk kantor gue masih lama kok”

Masakin apa aja yang penting rasanya manusiawi sayangnya gre gak bisa memasak secara manusiawi

“Lagi gak pengen gre.. nanti biar gue buat sendiri aja”

Gre menatapku menyelidik

“Masakan gue gak enak ya?”

Iya! Lu rasain sendiri nih, lu masak apa mau bunuh orang-batinku

“Ini enak banget! Tapi diperut gue nolak, ini gak nyaman gre gue gak makan untuk diri gue aja. Gue merasa enak tapi nyawa satu lagi didalam sini gak mau memakannya” ujarku sambil mengelus perutku yang masih rata. Gre tersenyum dia mengangkat piringku dan meletakkan didepan agus

“Abisin sayang.. julia gak bisa makan ini daripada mubazir lebih baik kami abisin” agus terkejut2

“Tapi gre–” agus hendak protes tapi gre menatapnya dengan tajam.

Diurungkan niatnya lalu dia memakan dengan wajah kesal. Maafin gue gus, dan maafin mama juga nak, itu semua mama lakukan agar kita selamat dari masakan tante gre yang lebih pantes disebut racun

“Lu makan roti aja nih jul.. isi perut lu ya jangan kosong”

Aku mengambil dua lembar roti lalu mengoleskannya dengan selai. Ini lebih manusiawi. Aku melihat agus yang sudah menghabiskan sop nasi gorengnya hehehe ngomong ngomong anak dalam kandunganku, dimana papahnya, apa dia sudah pulang

“Arfi dimana gre?”

“Dia udah pulang tadi pagi pagi buta” jawab agus aku hanya menganggukkan kepala.

“Jul.. ini dari arfi” gre memberikanku secarik kertas.

Ku buka kertas itu hanya ada tulisan dua buah nama disana yang pertama nama seorang laki laki ‘julio agatha’ dan yang kedua nama seorang perempuan ‘elaine agatha’ sama sama agatha belakangnya. Kulipat kembali kertas itu lalu kumasukkan ke saku ku

***

Beberapa hari berlalu, aku masih seperti biasa. Ditemanin oleh agus dan gracia yang sangat setia padaku tapi cukup berat juga cobaan hidup sama mereka, well.. ada sisi baik dan sisi burukkan? Seperti siang ini aku sedang menjaga toko roti milik gracia seperti biasa.

Roti di etalase hampir habis, aku sudah menyuruh pegawai disini untuk membuat roti yang hampir habis. Aku mengesap mocca ku

Tling

Aku berdiri melihat siapa yang datang

“Kak juliaaaaaa~ Okta kangen niiih”

Oh makhluk menggemaskan ini. Bukan bukan menggemaskan karena ingin mencubitnya tapi ini lebih ke ingin membuangnya kesebuah pulau

“Hallo, apa kabar okta?”

“Okta baik kak.. okta gak sendiri. Tebak okta sama siapa?” Aku tersenyum melirik kebelakang okta yang sudah berdiri seorang pria siapa lagi kalo bukan iwan

“Hmm gimana kalo aku salah menebak kamu aku kasih roti coklat ini gratis”

Dia sumringah senang “deal! Aku sama siapa?”

“Sama temen kamu kan?”

“Salah! Aku sama kak iwan.. yey! Roti coklat ini milikku” dia langsung merampas roti coklat dari tanganku dan duduk disebuah kursi

“Kopi hitam panas, sama coklat latte aja jul” ucap iwan. Aku langsung menulis pesanan iwan dan membawanya ke meja belakangku

“Well, tumben kesini, ada apa nih?” Tanyaku

“Nothing. Tadi emang gue nganter okta disekitar sini dan ya kami mutusin buat mampir kesini”

Aku hanya menganggukkan kepala.

“Gimana arfi?” Tanya iwan. Aku menatapnya

“Gue gak tau sejak kejadian beberapa hari lalu. Kami gk pernah kontekan atau bahkan ketemu”

“Oh ya? Dia jarang dikantor beberapa hari ini”

“Benarkah? Kemana dia?”

“I don’t know. I have a question to you”

Aku mengangkat sebelah alisku

“Apa itu?”

“Jika arfi ngajak lu balikan lagi? Gimana?”

Kutarik nafasku dalam. Ku pejamkan mataku beberapa saat.

“Tergantung..” iwan masih menatapku “jika dia benar benar akan berubah dan menyesali perbuatannya mungkin gue mau” sambungku

“Lo masih cinta dia?”

“Masih.. Sangat” ucapku lirih. Tak lama pegawai toko menghampiri kami membawa pesanan iwan. Iwan tersenyum padaku lalu mengambil dua gelas minumannya

Tling

Bel pintu berbunyi, bukan seseorang datang tapi seseorang baru saja keluar. Dia pengunjung misterius yang beberapa hari ini selalu datang dan duduk dipojok berjam jam lamanya. Bahkan dia memesan 10 roti dan hanya memakannya satu sisanya ia tinggalkan dimeja.

Aku tidak mengenalinya karena dia selalu berhoodie dan menutup wajahnya dengan masker dan kacamata hitam. Kupikir dia memiliki penyakit dan tidak ingin penyakitnya tertular, maybe

***

Setiap harinya aku selalu memperhatikan orang aneh ini. Dia selalu memakai hoodie yang sama dan masker yang sama. Gak bau apa dipake terus tiap hari, belum lagi keringat gak gerah apa dia pakai jaket setebal itu didalam ruangan. Ruangan ini memang AC . Awalnya aku tidak tertarik dengannya cuma rasa penasaranku terhadap orang ini tinggi.

Aku sempat melihat pergelangan tangannya saat akan memesan, ada jam tangan arloji. Aku tidak asing dengan arloji itu, arloji itu milik arfi tapi tidak ingin cepat mengambil kesimpulan aku menunggu beberapa hari sambil menemukan bukti kuat jika itu adalah arfi

Hari ini, jam sudah hampir menunjukkan waktu makan siang. Beberapa pegawai toko pergi keluar untuk istirahat sisanya disini karena istirahat kami bergantian. Orang itu tidak datang biasanya sebelum jam makan siang dia sudah duduk dimeja pojok sana dan pulang jam 3 sore tepat sejam sebelum toko tutup

Tling

Aku melihat ke arah pintu masuk. Dia pria berhoodie itu berjalan ke arah meja kasir dimana aku berdiri

“Silahkan..”

Seperti biasa dia hanya menunjuk ke arah buku menu dan aku mencatatnya. Tunggu, aroma parfum ini. Tidak salah lagi, dia arfiku.. dia berjalan ke meja pojok seperti biasa. Aku terus memperhatikannya tak lama seorang pegawai mengantarkan pesanannya. Bagaimana aku bisa membuktikan jika itu adalah arfi

Jam sudah menunjukkan pukul 3 sore tapi pria berhoodie itu belum beranjak dari duduknya. Dia sedang memainkan hapenya. Ah! Hape, ide yang bagus

“Karin, sini sebentar..” panggilku pada salah seorang pegawai disini

“Iya ada apa bu?”

“Boleh saya pinjam hp kamu buat hubungi seseorang teman saya?”

“Silahkan bu..”

Karin menyerahkan hapenya padaku. Ku ketik nomor arfi lalu ku geser tombol hijau disana dan benar tidak butuh waktu berapa lama arfi terlihat menempelkan hapenya dikupingnya. Kudengar dia berhallo hallo terus namun tidak ku jawab. Ku putus sambungan telponnya

“Kasih tau sama yang lain kita tutup lebih awal ya” ucapku pada karin seraya memberikan hapenya

Aku berjalan ke arah meja arfi lalu menggeser kursi dan duduk didepannya.

“Untuk apa kamu lakukan ini?” Tanyaku yang membuatnya terkejut

“Kamu gak perlu lakukan ini. Aku tau kamu arfi !” Lagi dia terkesiap dari duduknya. Lalu dia membuka kacamata hitamnya, hoodie serta maskernya

“Untuk apa kamu lakukan ini?” Tanyaku lagi

“Untuk aku bisa melihat kamu” jawabnya pelan. Hey, kemana suaramu yang keras itu saat seperti membentakku?

“Mau ngapain?”

“Mau minta maaf”

Aku menatapnya tidak percaya. Maaf katanya? Maaf apa yang dia lakukan hanya datang, memesan dan diam dipojok meja

“Gak ada orang yang minta maaf dengan menyembunyikan identitasnya” ucapku sinis

“Aku takut kamu gak mau maafin aku”

“Harusnya kamu takut melukai perasaanku jika kamu benar benar mencintaiku”

“Aku sudah mengerti semuanya julia.. aku minta maaf sama kamu. Aku mohon” dia menjatuhkan dirinya dan duduk bersimpuh dihadapanku.

Aku menatap matanya. Tidak kutemukan kebohongan disana maafnya tulus. Apa dia sudah menyadari kesalahannya.

“Kamu buang buang waktu fi..” aku bangkit dan berjalan keluar

“Rio kunci pintu toko dan besok datang jam 8 pagi!!” Teriakku

“Siap bukboss” balas teriaknya dari dalam. Aku melangkah keluar arfi masih mengikutiku sambil memohon agar ku maafkan tapi aku mengacuhkannya dan terus berjalan.

“Julia.. apa yang perlu aku lakukan supaya kamu mau maafin aku” ucapnya namun aku tidak membalasnya melainkan aku berjalan menyebrang jalan untuk sampai dihalte sebrang

“Juliaaaa!!!” Kudengar teriakan arfi belum sempat aku menoleh kebelakang sebuah benturan keras kurasakan.

Tubuhku terpental beberapa meter dan terguling. Namun anehnya aku tidak merasakan sakit apapun. Kubuka mataku perlahan, aku tidak percaya apa yang kulihat. Dia melindungiku, arfi melindungiku. Tidak! Jangan begini! Bukan begini caranya!

“Jhuli..aa.. maa..fiin.. aa.. kuuu” kesadarannya hilang setelah ia mengucapkan itu.

Aku menangis sejadi jadinya. Ambulance membawa arfi dan aku ikut didalamnya. Arfi dipasangi selang infus dihidung dan tangannya. Dia masih belum sadarkan diri, aku terus memegang tangannya.

Sampai dirumah sakit arfi dibawa bangsal ke ruangan ICU untuk diperiksa

“Maaf mba, tapi hanya dokter dan suster yang boleh masuk” ujar seorang suster menahanku.

Aku beralih duduk di kursi yang disediakan. Menahan air mata pun percuma, sekuat aku menutup mataku agar air mataku tidak tumpah ternyata sia sia.

Handphoneku berbunyi tanda panggilan masuk. Kulihat nama yang tertera disana lalu kuangkat panggilan itu

“Hallo gre..”

“…”

“Sorry, gue lagi di rumah sakit”

“…”

“Bukan gue, tapi arfi..”

“…”

“Mending lu kesini sama yang lain juga. Rumah sakit medika citra lantai 4”

“…”

Sambungan terputus. Kusandarkan kepalaku didinding belakangku. Mengingat semua yang terjadi, ternyata lebih sakit saat melihatnya terluka dan tidak berdaya seperti tadi.

“Maaf, anda siapanya pasien?”

Aku menoleh lalu berdiri

“Saya istrinya dok, gimana keadaan suami saya?”

Dokter itu menghela nafasnya. Tidak! Jangan katakan hal yang tidak ingin kudengar

“Pasien perlu istirahat. Pendarahannya cukup parah tapi kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Berdoa saja semoga tuhan menunjukkan keajaibannya. Saya permisi dulu”

Dokter itu berlalu meninggalkanku yang masih mematung mendengar penjelasannya. Kugerakkan sedikit demi sedikit kaki kaki ku untuk sekedar melihat arfi dari jendela pintu ruang ICU. Dia terbaring lemah, tubuhnya banyak selang infus. Air mataku kembali mengalir dipipiku, ini salahku. Andai ku memaafkannya tentu dia tidak akan begini. Tidak akan terluka seperti ini. Ini salahku fi

“Jul, gimana keadaan arfi?” Sebuah tepukan membuatku menoleh pada sumber suara. Ku gelengkan kepala,

“Kak arfi meninggal?”

Aku menatap sinis okta. Okta yang kutatap seperti itu langsung bersembunyi dibalik punggung iwan

“Arfi masih belum sadar. Dokter bilang dua sampai tiga hari dia akan mengalami keadaan seperti ini” jelasku

“Lu gak usah khawatir.. arfi kuat gue yakin itu” ujar gre mengusap punggungku. Seorang dokter datang menghampiri kami semua

“Permisi, kami harus memindahkan pasien ke ruang UGD”

Dokter dan beberapa pasiennya membawa arfi yang terbaring lemah ke ruang inap. Hatiku mencelos melihat wajah pucat arfi. Bibirnya yang merah yang selalu menjadi canduku kini berubah menjadi putih pucat, matanya yang selalu memandangku penuh cinta kini harus tertutup rapat, tangannya yang digunakannya untuk memelukku kini terpasang selang infus dan tak berdaya.

“Pasien bisa dijenguk tapi tidak boleh ada anak kecil dan tetap menjaga ketenangan” ucap seorang suster.

Kami memakai pakaian hijau, masker serta penutup kepala (gue kagak tau namanya apaan biasa dipake buat jenguk orang yang masuk UGD deh tuh tau yee kan)

Kami memasuki ruang dimana arfi terbaring. Aku menghampirinya, mengelus puncak kepalanya, ku genggam tangannya dengan sebelah tanganku yang bebas.

“Fi bangun.. ngambeknya kamu gak lucu. Aku maafin kamu kok.. bangun ya sayang..”

“Aku janji gak akan ngomel lagi saat kamu main ps sambil teriak teriak, kamu boleh kok geber geber motor kamu sesuka kamu aku gak akan protes..”

“Eh eh atau aku mau diajak mandi bareng terus setiap hari sama kamu aku janji fi.. bangun ya please arfi..”

Air mataku menetes kembali. Kini aku bersimpuh menggunakan lututku. Mencium tangan dinginnya arfi dan kuusapkan ke pipiku.

“Arfi buka mata kamu..” aku menangis tanpa dibansal arfi. Tiba tiba kurasakan pergerakan kecil dijemariku

“Julia.. arfi membuka matanya..” ujar gre, aku berdiri dan yang lain mendekat. Benar, matanya terbuka kecil. Dia berusaha seperti ingin mengatakan sesuatu tapi ia terlalu lemah untuk itu

“Gue panggil dokter dulu..” agus keluar hendak memanggil dokter. Tak berapa lama dokter datang dan memeriksa arfi

“Gimana dok keadaan temen saya?” Tanya iwan mewakili kami

“Ini sebuah keajaiban. Pasien hanya tinggal tahap pemulihan saja. Untuk itu saya meminta untuk tinggalkan ruangan dan biarkan pasien beristirahat”

Aku menoleh pada arfi. Tanganku masih setia menggenggam tangannya. Tidak rela rasanya jika kutinggalkan ia sendiri disini. Ku dekatkan wajahku padanya, ku kecup keningnya cukup lama lalu beralih ke bibirnya berharap bisa memberinya sedikit energi.

Kami meninggalkan ruang rawat arfi

“Jadi kita makan dulu atau gimana?” Tawar agus

“Lu gimana julia?” Tanya gre, aku hanya menggeleng “gue langsung pulang aja”

“Jul.. lu kan lagi hamil muda, masih bagus kandungan lu baik baik aja. Sekarang kita makan aja dulu ya”

Aku masih diam memandang kedepan kosong

“Aku tau sulit kak, percaya sama aku. Ka Arfi akan pulih dan bertingkah konyol sama seperti kak iwan dan bang agus” okta memegang bahuku. Aku tersenyum lalu mengelus perutku yang masih rata

“Adek, ajak mamanya makan dong. Hibur mamanya jangan sedih terus ya..” okta membungkukkan badannya dan berbicara sambil mengelus perutku. Aku tertawa kecil

“Ya.. kita makan aja dulu” ujarku

“Yoks!! Kuy kita makan, karena julia lagi sedih maka makan malam kita julia yang traktir”

Heh masih sempet sempetnya nih si agus jadi somplak lagi suasana begini juga

“Parah banget sih bang agus nih orang lagi sedih juga..” ucap okta menoleh padaku. Nah kali ini okta beneran

“Tapi okta mau ditraktir pizza kak, siapa setuju?” Baik kutarik kata kataku. Okta juga ikutan koplak yang sekarang malah bergelayut manja dilenganku

Kami memasuki mobil dan menuju restoran. Ditengah perjalanan hanya ada radio yang bersuara. Iwan sibuk menyetir, agus sibuk memainkan moba dengan gre, nah ini yang kusebut radio, siapa lagi kalo bukan okta. Dia terus mengomentari orang yang dilihatnya dijalan. Berbakat jadi nitizen nih orang

“..itu orang helmnya jelek banget sih kaya mukanya kusam gitu ih geli deh”

“Lah itu anak sama orang tuanya gak mirip. Ah hasil orang lain nih pasti parapara pasangan gak setia”

“Itu polisi pelanggaran deh kak, masa gak naik motor dia pake helm polisi jaman sekarang lebay ih”

Iwan disebelahnya hanya tersenyum sesekali mengelus kepala okta sambil terus menyetir. Sampai direstoran kami memesan makanan sesuai keinginan. Kami sesekali mengobrol disela kegiatan makan kami

“Julia yang bayar kan ya” ujar agus

Aku memandang agus, gre, iwan, dan okta. Mereka memalingkan wajahnya masing masing. Haaah

“Berbuat baiklah jul, siapa tau keinginan dan doa lu untuk arfi tercapai” ujar gre sok menasihatiku

“Iya. Kalo gak tercapai kalian yang gue makan satu satu” ucapku. Mereka langsung mengeluarkan dompet masing masing sambil bergidik ngeri

“Tunggu kak”

Kami semua menoleh pada okta

“Kak julia kan tadi diem aja artinya iya dia mau bayarin. Traktirannya kak julia itu gak ada hubungannya sama kesembuhan kak arfi..”

Aku masih menatap okta

“Kalo emang kak arfi sembuh dia akan sembuh, kalo memang nggak itu emang udah takdirnya kak arfi jadi gak ada pengaruhnya sama traktirannya kak julia, kak arfi–”

“Kalo emang minta ditraktir gpp gue juga gak keberatan tapi tolong jangan bawa bawa arfi disini” ujarku kesal

“Okta gak bawa bawa kak arfi. Seharusnya kita disini mendoakan kak arfi ikhlas bukan karena mau ditraktir kak julia. Lagipula aku yakin kak arfi akan pulih kok..”

“Kamu yakin banget sama ucapan kamu Ta?” Aku menatap sinis okta

“Kenapa nggak? Harusnya kak julia juga yakin kalo kak arfi akan sembuh. Lihat anak dikandungannya kak julia itu kan anak kak arfi, secara gak langsung ada gen nya kak arfi disana. Dia aja gpp meski terkena benturan keras jarang loh orang hamil terkena benturan dan bayi dalam kandungannya baik baik aja..”

Aku termenung diam

“Dan juga tadi dokter vonis kak arfi pendarahan parah tapi dia sadar meski gak lama.. itu artinya kak arfi kuat. Ah kalian aja gak yakin akan hal itu”

Aku tersenyum ke okta, apa yang dia katakan ada benarnya meski penyampaiannya masih agak sulit dimengerti

“Sekarang Okta haus ngomong panjang x lebar = luas. Okta pesen minum ya..” lalu okta memesan minum tak lama pesanannya datang.

“Nih kak billnya..” okta memberikan bill makan malam kami

Wtf! Abis nih tabungan gue sebulan!!

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48