Tentang Kita Part 11

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 11 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 10

Sudah beberapa hari kami tinggal di rumah kami. Jarak dari rumah ke kantor pun tidak seberapa jauh karena kami melewati jalur alternatif ya sekitar 20 menit sudah sampai kantor.

Tapi yang membuatku malas adalah saat jam makan siang tiba arfi selalu mengajakku pulang dan memintaku memasakan makan siang untuk kami. Katanya masakanku lebih nikmat meski aku hanya memasak telur mata sapi untuknya.

Pagi ini hari sabtu, dan kemarin arfi bilang orang tuanya landed jumat kemarin. Arfi berniat mengajakku menemui kedua orang tuanya. Aku bergegas bangun dan bersiap siap, sabtu ini tidak ada jadwal bermalas malasan sepertinya, memang kami jadwal menemui orang tua arfi itu malam hari namun menemuinya ini yang jauh, disukabumi coy!

Bukan karena orang tua arfi tinggal disana tapi mereka hanya singgah di indo untuk urusan bisnis mereka disini. Huh sibuk sekali sepertinya ya

“Fiii banguun oii !” Aku sedikit berteriak namun yang dipanggil masih menutup matanya rapat.

“Arfiiii… banguun katanya mau ketemu mami papi hari ini” tidak ada pergerakan sedikitpun dari empunya nama.

Jika begini aku hanya punya satu cara untuk membangunkannya. Kuraih sebelah tangan arfi lalu kuletakkan disebelah dadaku, kugerakan perlahan tangannya dan tanpa menunggu lama jari jarinya mulai bergerak mengelus dadaku. Aku tersenyum lalu menjauhkan dadaku dari tangannya dan gotcha! Dia membuka matanya

“Kok udahan..” suaranya serak khas bangun tidur

“Mesum banget sih kamu dibanguninnya harus kaya gitu dulu. Ayo bangun! Mandi! Mau ketemu papi mami kan?”

Dia beranjak dari kasurnya malas lalu menuju kamar mandi sambil bergumam tidak jelas

Setelah semua siap kami bergegas ke tempat yang dituju setelah arfi membuat perjanjian dimana tempat kami akan bertemu. Ini sudah jam 10 pagi ya kira kira jakarta sukabumi bisa 4 jam perjalanan mungkin. Artinya sekitar pukul 2 sore kami baru tiba disana.

“Ngelihat kamu pakai dress aku jadi berpikir satu hal” ucap arfi

“Apa?”

“Dress kamu warna hitam, aku menyimpulkan bahwa hitam gak selalu buruk. Buktinya kamu meski pakai dress hitam tetep terlihat cantik dan menawan”
Aku tertawa kecil mendengarnya

“Apaan sih jayus deh kamu”

“Aku beneran kok gak bohong ciyus deh”

“ih dasar alayers”

Selama diperjalanan kami terus bercanda dengan arfi yang selalu membuat jokes jokes receh yang jauh dari kata lucu tapi anehnya aku tetap tertawa meski tidak lucu sama sekali.

“Nah udah sampai yuk kita let’s go” ujar arfi sumringah. Entah kenapa perasaanku tidak enak, rasa takut dan khawatir bercampur aduk. Aku sendiri tidak tau mengapa

“Meja reservasi atas nama juanto” ujar arfi kepada salah satu pelayan disini. Pelayan itu membimbing kami sampai lantai dua

“Silahkan tuan, ini ruangan makannya”

“Terima kasih”

Kulihat arfi memberi tips pada pelayan itu lalu ia pergi. Arfi membuka pintu tersebut. Didalamnya terdapat meja bundar dengan 4 kursi, sebuah pengiring musik jazz, dan piano. ini mengagumkan tapi pandanganku langsung tertuju pada kedua orang paruh baya disana yang sedang mencicipi hidangan pembuka

“Hallo pi.. mi.. maaf arfi telat jalanan sedikit padat tadi” arfi menyalami kedua orang tuanya begitu juga denganku

“Hallo, siapa gadis ini fi?” Tanya mami arfi. Aku hanya tersenyum membiarkan arfi mengenaliku pada kedua orang tuanya

“Oh ya, ini julia mi, pi.. yang sering arfi ceritain”

Arfi menceritakanku?

“Baik baik, duduk dulu. Papi sudah memesankan makanan untuk kalian” ujar pria paru baya yaitu papinya arfi

Tak lama pesanan datang, selama makan aku hanya tersenyum dan menjawab dengan lembut jika ditanya. Aku masih kaku dan sangat awkward disini. Tak lama semua makanan kami habis, kami masih mengobrol ngobrol santai dimeja. Sesekali aku melihat arfi tertawa lalu memakan pudingnya

“Kamu punya selera yang tinggi fi untuk memilih seorang gadis..” ujar papinya arfi. Dan arfi hanya tersenyum bangga

“Namun kamu tidak cukup pintar dalam memilih seorang pendamping..”

Aku terkecat mendengar ucapan papinya arfi.

“Maksud papi?”

“Papi bersumpah kamu tau maksudnya papi. Selain itu kamu akan tunangan dan menikah dengan meisha anak rekan bisnis papi”

Kurasakan jantungku tidak bergerak, tenagaku hilang entah kemana. Sendok yang kugenggam jatuh kepiring. Tubuhku kaku hanya menatap puding didepanku

“Arfi gak akan menikah dengan siapapun kecuali dengan julia pi !”

Suara arfi meninggi

“Fi.. sabar dulu, dengerin penjelasan papi kamu dulu dong nak” ucap mami arfi menenangkan

Papinya arfi atau om bram ini melipat tangannya diatas meja lalu menatap arfi tajam

“Kami tau siapa dia nak, dia cuma gadis kesayangan angelo bukan? Ini tidak seharusnya, dia ini hanya akan menggrogoti hartamu”

Dadaku terasa sesak, air mataku mengalir deras, segitu rendahkah aku dimata mereka

“Hey gadis muda, berapa yang kau mau? 1 milyar, 2 milyar atau 1 triliun katakan! Berapapun akan kuberikan tapi tinggalkan anakku. Bukankah harta yang kau cari dari anakku?”

Aku mengangkat kepalaku sedikit. Kulihat om bram menatapku lalu dia mengambil sesuatu dari tasnya

“Ini ambil.. 1 triliun cukup. Simpan air matamu, jalang!!”

Brakkk

Aku tersentak saat arfi memukul meja dengan keras lalu meraih tanganku

“Kita pulang julia..”

Aku melangkah mengikuti langkah arfi

“Arfii kamu mau kemana nak” panggil mami arfi atau tante shania namun arfi terus menarik tanganku mengganggamnya erat

“Arfi stop!! Jika kamu berani keluar dari ruangan ini dan membela gadis itu. 60% saham papa diperusahaan kamu akan papa tarik semua”

Arfi menghentikan langkahnya didepan pintu. Kulihat ia memejamkan matanya lalu terus berjalan keluar tanpa mengindahkan panggilan panggilan dari orang tuanya

Diperjalanan arfi hanya diam. Dia mengendarai mobilnya dengan kecepatan kencang seakan melampiaskan emosi dan kekecewaannya. Matanya yang menatap sinis membuatku enggan berbicara dengannya.

Selain itu hatiku pun sakit oleh ucapan kedua orang tua arfi. Pandanganku teralih keluar jendela ucapan om bram masih terngiang dikupingku. Lagi, aku meneteskan air mataku.

Mereka benar, membuatku sadar dalam berpikir siapalah aku yang mengharapkan cinta yang suci untuk diriku yang kotor. Hatiku sakit, tuhan.. inikah akhirnya? Jika iya, terima kasih tuhan paling tidak kau pernah mengenalkan cinta dan lembutnya kasih sayang meski tidak berlangsung lama.

Jika suatu hari memang aku harus meninggalkan arfi dan kembali ke kehidupan lamaku, aku rela.

***

Sudah seminggu sejak kejadian aku dan arfi bertemu kedua orang tuanya arfi tampak berubah tapi tidak menghilangkan perhatiannya kepadaku. Hanya saja dia bersikap agak sedikit dingin, kembali menjadi workaholic, dan bicara padaku pun jika ada yang penting saja. Tidak ada lagi bercandaan, atau jokes jokes receh darinya.

Jika saat itu aku malas mendengar jokes recehnya kini aku merindukan jokes recehnya. Sangat merindukannya

Seperti malam ini dia terlihat sedang serius didepan layar laptopnya. Sejak pulang kerja lalu kami makan malam dan dia menyibukkan diri dengan pekerjaannya. Aku hanya menghela nafasku. Ini tak lagi sama, aku tidak lagi merasakan kenyamanan disini. Aku melangkahkan kaki menuju ruang kerja arfi

“Fi bobo yuk, udah hampir tengah malam nih..” ajakku namun dia tampak serius menatap layar laptopnya sembari jari jarinya menari lincah diatas keyboard

“Kamu duluan aja.. aku masih sibuk” ujarnya tanpa menatapku.

Aku menghela nafas lalu mengganggukkan kepala. Jawaban biasa yang kuterima sejak seminggu lalu.

Aku sengaja tidak menutup pintu kamarku. Posisi pintu kamar langsung berhadapan dengan ruang kerja arfi yang terbuka. Ku rebahkan tubuhku sambil memperhatikan dia disana. Wajahnya tampak lelah, kantung matanya sudah membesar, aku tidak tega melihatnya. Apa yang harus kulakukan kini melihatnya seperti itu hatiku sangat sakit.

Terlebih diacuhkan olehnya, jika boleh jujur aku ingin dia menjadi obat sakit hatiku atas ucapan orang tuanya seminggu lalu. Namun, sekali lagi ekspetasiku terlalu tinggi. Aku tidak tau apa yang arfi rasakan dia mengacuhkanku, menyibukkan dirinya sendiri.

Pipiku mulai basah, segera kuhapus air mataku lalu berbalik badanku. Ku pejamkan mataku meski sulit paling tidak hanya itu yang bisa kulakukan agar air mataku tidak lagi menetes

***

Pagi yang cerah. Langit biru dihiasi oleh awan putih bagai lukisan diatas kanvas. Aku terus memperhatikan langit yang cerah pagi ini dari dalam jendela mobil. Sayang, tak secerah perasaanku saat ini, terombang ambing diatas sebuah kapal kayu dilautan lepas

“Nanti aku lembur”

Ucapnya disebelahku, dia arfi kami masih berangkat ke kantor bersama. Setidaknya itulah yang masih kami lakukan bersama saat ini. Aku menganggukkan kepala lalu beralih lagi melihat keluar jendela.

Saat sampai dikantor beberapa karyawan menyapa kami dan aku hanya membalas dengan senyum dan anggukan

“Fi, kebetulan lu dateng.. siang ini lu sibuk? Kalo nggak kita perlu evaluasi deh soal proposal….” entah aku tidak mendengar lagi apa yang mereka katakan.

Aku berjalan melalui mereka, namun masih bisa kudengar iwan bertanya pada arfi ada apa namun selebihnya aku tidak mendengarnya karena aku sudah masuk ke lift

Jam kerja sudah berakhir, aku bersiap untuk pulang. Saat sampai lobby aku bertemu dengan irwan, dia salah satu staff disini menjabat sebagai HRD diperusahaan ini

“Murung aja buk, kenapa sih?” Tegurnya dengan tertawa tengilnya.

Aku yang tidak berniat meladeninya hanya berlalu melewatinya sambil tersenyum tipis. Langkahku terhenti saat sudah sampai lobby. Hujan begitu deras, ah! Kenapa cuaca mudah sekali berubah. Jika biasanya akan ada mobil sedan putih dilobby dan seseorang yang menungguku disana tapi tidak kali ini, bukan. Sudah seminggu ini aku tidak pulang bersamanya

Tin tin

Suara klakson mobil menghentikan lamunanku. Kaca mobil diturunkannya

“Kak, pulang sama siapa?” Itu okta

“Pulang sendiri”

“Kaya jomblo aja.. sini aku anter deh” sialan anak ini gak tau lagi badmood apa

“Rumah kita gak searah, kamu kejauhan nanti” ujarku berusaha menolaknya halus

“Lebay! Buruan naik nanti hujannya makin deres”

Gak beres ni anak kan naik mobil kenapa harus takut hujannya deres sih? Aku melangkahkan kakiku menuju mobil okta dan masuk kedalamnya

“Makasih ya..” ujarku

“Gak ada yang gratis kak.. aku nyalain argonya dulu ya” balasnya sambil tertawa lalu melajukan mobilnya. Lah banting stir jadi supir taksi dia

Diperjalanan okta terus saja mengoceh dari hal yang tidak penting sampai yang sangat tidak penting sama sekali. Aku hanya menimpalinya dengan senyum dan terkadang aku tertawa jika itu memang lucu

“Kak arfi lembur lagi ka?”

“Iya, dia ada evaluasi dari siang sih katanya”

Okta hanya menganggukkan kepala. Okta fokus menyetir dan aku memperhatikan jalan didepanku, eh tunggu deh.. aku baru menyadari satu hal

“Okta kamu gak ngebut lagi seperti waktu kita ke puncak?”

“Nggak ah kak, ini mobil pribadi aku. Nanti kalo lecet atau kecelakaan kan aku yang rugi. Kalo kemarin kan mobil orang”

Bazeng nih anak bener bener. Meski mobil orang kan tetep aja bisa kecelakaan, kalo kecelakaan bukan cuma mobilnya doang yang lecet tapi seisi mobilnya juga bisa lecet lecet. Aku ingin membuka mulutku namun ku urungkan. Percuma berdebat dengan okta gak akan menang

“Terima kasih ya okta.. kamu pulangnya hati hati” ujarku saat mobil sudah berhenti didepan rumahku

“Iya kak..”

“Kalo udah sampai rumah kamu hubungi aku ya”

“Kangen ya kak, baru ketemu hehe okta emang ngangenin sih”

Pengen jedotin pala aja rasanya ke dashboard mobilnya nih. Kok ngeselin banget sih ya harus pake rumus apa ngomong sama orang satu ini. Tak mau ambil pusing aku langsung keluar dari mobil

“Nanti kalo udah sampai rumah kabarin aku. Biar mastiin kamu udah dirumah aja” ujarku kembali

“Ciee~~ sayang banget sama okta kayanya. Iya deh kakak julia tersayang kuuuuu” lalu dia mengkiss bye ku berulang ulang dari dalam mobil. Terserahlah mau dia bilang apa

Mobil okta melaju dan aku masih berdiri ditempat yang sama sampai mobil okta hilang dari pandangan. Aku tersenyum sedikit ‘lucu juga anak itu’ batinku lalu melangkah masuk

Selesai bersih bersih aku menonton tivi diruang keluarga. Bosan acara tivi seperti itu saja aku memutuskan untuk pergi tidur. Ku lirik jam, ini udah jam 11 malam dan arfi belum pulang bahkan dia tidak mengabari apapun padaku. Mungkin dia sibuk, begitu pikirku berusaha positif karena aku tidak ingin memperburuk keadaan

***

Triiiinng triiingg

Aku terbangun karena alarm yang kupasang semalam sebelum aku tidur. Aku mendengar suara dari kamar mandi, ah rupanya arfi sedang mandi. Pulang jam berapa dia semalam. Aku memilih mandi menggunakan kamar mandi luar

Setelah selesai mandi dan berpakaian aku makan di meja makan bersama arfi. Tapi dia masih makan dalam diam.

“Fi.. semalam kamu pulang jam berapa?”

Dia melirik arlojinya lalu beralih menatapku

“Jam 2 pagi..” aku hanya ber’oh’ ria. Kami makan saling diam hanya suara dari sendok dan piring kami yang beradu

“Hari ini aku ke luar kota. Kemungkinan aku pulang lusa” ujarnya membuatku terdiam. Lusa?

“Fi.. aku kangen kamu” ucapku menahan air mata yang akan menetes. Dia menghela nafasnya

“Aku harus melakukan ini, perusahaanku kehilangan 60% sahamnya dan aku yakin kamu tau itu” ujarnya bangkit dari duduknya meninggalkanku.
Blam

Aku menangis sejadi jadinya, begitu sakit hatiku, sesaknya dadaku seperti banyak udara yang masuk menghimpit seluruh rongga paru paruku. Segera ku hapus air mataku dan bergegas berangkat kerja.

Ditengah perjalanan aku bertemu dengan irwan. Karena aku menggunakan kendaraan umum jadi harus naik turun berkali kali

“Hay hallo, mau bareng?” Tawarnya aku menggelengkan kepalaku

“Masih jauh loh.. Kasihan kamu jalan gitu gak ada angkot pula” ucapnya lagi sambil memberikan ku helmnya.

Ku tengok kanan dan kiri lalu beralih ke jam tanganku. Benar, ini udah hampir jam masuk kantor. Tidak ada pilihan lain ku ambil helm yang diberikan irwan lalu duduk dibelakangnya

“Siap?”

“Yap”

Irwan melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Tidak butuh waktu berapa lama kami sampai dikantor. Ku tinggalkan irwan tanpa ucapan terima kasih dan masuk ke kantor.

“Oii sedih amat mukanya..”

“Iya nih, asisten bos kita murung. Ada apaan sih? Lamarannya dipending ya? Hahaha”

Aku hanya menanggapi ledekan mereka dengan senyum sesekali menimpalinya “lagi pms coy! Mau gue makan lu?”

“Hiii serem ah, dipotong potong direbus kali badan gue” ujar rica bergidik ngeri. Rica satu devisi denganku dan satu lagi vivi

“Yakali ah mitos cewek pms makan orang mah” ucap vivi

“Mau coba?” Tantangku sambil mengambil sebilah pisau buah yang tergeletak dimejaku. Eh tunggu, siapa yang ninggalin buah lengkap dengan pisaunya disini

“Eh.. kan gue bilang mitos bisa iya bisa nggak kan hehe kalo ke lu kayanya yang iya deh..” ujar vivi bergidik ngeri sambil mengangkat tangannua membentuk piss

Tidak ada obrolan obrolan jayus lagi kami disibukkan oleh pekerjaan. Benar kata arfi menurut data yang ku kumpulkan hampir 59% saham perusahaan ini hilang. Om bram benar benar menepati ucapannya.

***

Dua hari sudah berlalu. Hariku sepi dan hampa tanpa arfi tanpa jokes nya yang receh. Tanpa tingkahnya yang konyol dan ngeselin dan tanpa perlakuan mesumnya. Aku merindukan semuanya. Tak jarang aku menangis dalam diam. Kurasa air mataku sudah habis.

Aku menatap langit mendung yang akan turun hujan. Ah! Sial aku lupa bawa payung. Pulang dengan siapa aku nih. Menghubungi arfi sangat tidak mungkin, okta.. ah tidak jangan dia terlalu jauh lagipula dia sudah pulang lebih dulu dibanding aku.

Tin tin

“Hallo, belum pulang?”

Pertanyaan bodoh. Jika aku sudah pulang ngapain disini kocak! Eh aku jadi sensian

“Mau bareng?” Tanyanya kembali. Aku diam masih belum memberi respon

“Lu banyakan diemnya deh. Nih ambil cepet keburu hujan ntar nih” lalu dia memberiku helmnya seperti beberapa hari yang lalu.

Aku memakainya dan menaiki motornya.

Sejam lamanya perjalanan aku sudah sampai didepan rumahku.. Ehem rumah arfi maksudnya. Aku turun lalu memberikan helmnya

“Bilang apa?”

“Makasih bang” ujarku

“Sialan! Emang gue abang ojek! Udah ah gue balik dulu byee~” ujarnya sewot lalu memutar balikkan motornya.

Aku membalikkan badanku dan kulihat dia berdiri diteras rumah. Loh dia sudah pulang. Dengan segera ku buka pagar lalu berlari kearahnya. Aku merindukannya, ingin memeluknya. Begitu sudah dekat aku langsung memeluknya dengan erat

“Aku kangen kamu fii.. kangen bangeet sama kamu. Aku kesepian sendiri dirumah fi aku cinta kamu..”

Racauku sambil memeluknya mungkin kini bahunya sudah basah karena air mataku

“Begini cara kamu menutupi kesalahan kamu?”

Aku terdiam. Lalu kulepaskan pelukanku

“Apa maksud kamu?” Tanyaku tidak mengerti

“Begini tingkahmu saat tidak ada aku disampingmu?”

Oh aku mengerti

“Hehe kamu cemburu ya, tadi aku dianter pulang sama si irwan karena cuaca kan mau hujan.. dan aku gak mungkin hubungi kamu buat jemput aku. Biasanya sih aku naik kendaraan umum” jelasku

“Kenapa harus sama irwan?”

“Aku gak tau sih, mungkin cuma dia aja yang belum pulang. Aku juga pernah dianter okta pulang”

“Kenapa kamu mau? Dia itu laki laki julia!” Nada bicaranya meninggi. Namanya aja irwan ya pasti laki kalo iwin tuh perempuan baru

“Ya kan dia anter aku pulang doang sayang. Itu juga gak sengaja bukan kita janjian”

“Kamu mudah sekali menerima ajakan laki laki lain. Apa ini sifat aslimu? Ah aku lupa dengan mudahnya juga aku membawamu dulu. Benar kata papahku…”

Aku masih mencerna ucapannya. Segitu cemburunyakah dia padaku

“Sekali pelacur tetap pelacur..”

Seperti tersambar petir, kerongkonganku seperti tertohok besi besar seketika tubuhku melemas. Aku tidak percaya dia mengucapkan itu padaku. Saat itu juga aku tau harga diriku dimatanya sudah tidak bernilai lagi. Aku menatapnya dengan air mataku yang sudah deras mengalir dipipiku

“Arfi… kamu…” ucapku bergetar

“Terima kasih…” sambungku lalu ku berlari keluar tanpa memperdulikan dia yang memanggil namaku.

Aku terlalu sakit untuk menerima ini semua. Aku tidak pernah meminta dia membawaku. Dia yang mengenalkanku pada lembutnya kasih sayang, menyanjungku tinggi tanpa melihat latar belakangku, dan memberikanku mimpi mimpi indah. Namun itu semua hanya mimpi. Mungkin inilah bagianku dimana aku terbangun dari tidur lelap panjangku

Aku terus berjalan tanpa tujuan. Air mataku kini sudah mengering. Ada rasa takut juga berjalan sendirian ditempat sepi begini. Siapa saja tolong aku!

Tin

Tiba tiba mobil berhenti disebelahku. Oh ini saatnya aku kembali ke kehidupanku seperti semula dan mengakhiri mimpi indahku. Kaca mobil diturunkan

“Mau kemana mba?” Tanya seorang pria dari dalam mobil. Aku masih diam menundukkan kepala

“Wey, mau kemana lu malem malem” lagi kudengar suara seorang perempuan kini. Mungkin otakku sudah rusak sekarang

“Woyy!!” Sebuah tepukan dibahuku membubarkan lamunanku. Ku toleh dia

“Gue tanya malah diem aja. Gue disini mba bukan ditanah”

Aku langsung berhambur memeluk orang yang sedari tadi menyapaku. Dia adalah gracia, itu artinya suara lelaki tadi itu agus

“Lu kenapa deh? Masuk masuk yuk..” gracia menuntunku masuk ke mobilnya. Lalu mobil pun melaju

Sampai dirumah gracia aku masih melamun mengingat ucapan arfi yang sangat menyakitkan. Andai aku tidak pernah mencintai arfi tentu tidak akan sesakit ini

“Nih minum, sekarang lu ceritain sama kita apa yang terjadi” gracia memberikanku segelas air. Aku meneguknya, aus coy!

“Jadi gini gre…….” aku menceritakan semua dari awal aku bertemu, latar belakangku dan sampai kejadian barusan yang ku alami

“Arfi bilang begitu ke lu jul?” Tanya agus. Aku menganggukkan kepala

“Bajingan juga dia.. biar gue hajar dia nanti kalo ketemu. Iwan harus tau ini”

Aku menahan agus.

“Udahlah gpp, gue gak mau banyak pihak yang terlibat dalam masalah gue”

“Bukan begitu julia, ini udah kelewatan. Harga diri loh jatuhnya” kali ini gre ikut berkomentar

“Gpp, mungkin emang ini pantes gue terima untuk orang seperti gue”

“Gak! Lu udah jadi temen gue, temen kita semua! Gue gak terima temen gue direndahin gini” ujar gracia lagi

Aku terus membujuk agus dan gracia agar tidak memperkeruh urusanku dengan arfi. Akhirnya mereka mau mendengarkanku tapi mereka akan tetap buat perhitungan dengan arfi. Terharu sih ya punya temen seperti ini

“Yaudah jul, lu sekarang tinggal sama kita aja”

“Thanks ya, untuk sementara aja. Nanti gue akan cari kontrakan”

“Yang suruh lu keluar dari sini siapa?” Agus menyaut

“Gue gak enak sama kalian”

“Alah lu bondol emang gue makanan apa, udah deh gak usah banyak cingcing congcong. Lu kabur dari sini gue tuntut lo. Noh lihat agus kan pengacara” ancam gracia. Iya agus emang pengacara tapi emang ada pasalnya orang nyari kontrakan bisa dituntut. Btw gak usah bawa bawa bondol dong mentang mentang si gre rambutnya panjang >.<

“Nurutin aja jul. Kamar disini ada 4 seterah lu mau yang mana. Atas 1 bawah 2 dan gue sama gre 1 diatas.. atau lu mau tidur diluar juga boleh..” timpal agus

“Gue dipelapon aja boleh gak?” Balasku2

“Jangan! Ntar rubuh jatohnya kekamar gue. Kalo gue lagi ena ena sama agus gimana? Kan bahaya rahasia negara terbongkar” ujar gracia berlebihan. Lalu kami tertawa bersama. Setidaknya itu bisa membuatku melupakan kesedihanku sementara

“Ini kamar lu jul, luaskan? Tadi gue udah suruh si bibi bersihin” gre menunjukkan kamae untukku

“Thanks u ya gre..” ucapku

“Yops, sama sama. Istirahat gih, besok lu gak usah masuk kerja. Kerja ditempat laki gue aja ntar gue ngomong sama dia”
Aku terharu lalu memeluk gre disebelahku

“Udah meluk meluknya tepos nih dada gue keteken ntar” aku melepaskan pelukanku lalu nyengir bodoh didepan gre. Setelah berbincang sedikit akhirnya gre meninggalkanku dan aku merebahkan tubuhku dikasur. Tak berapa lama aku pun terlelap

Aku terbangun, hey apa ini sudah pagi? Kulirik jam dinakas. Jam 2 pagi. Kerongkonganku kering aku perlu sebuah cairan yang disebut air atau ini yang dinamakan haus. Hehe

Ku ambil air didapur dan meminumnya hingga habis. Tunggu, tivi ruang tengah masih menyala tapi suara suaranya aneh nih. Bukan hantu tapi lebih ke film… siapa yang nonton film ‘anu’ ditengah malem gini. Kulangkahkan kaki pelan.

Saat mataku berhasil menangkap hal objek yang membuatku memutar bola mataku malas langsung ku balikkan badan dan berjalan ke kamarku lagi. Aku lupa ini rumah gre dan agus dan kalian ingat kejadian dipuncak? Itulah yang mereka sedang lakukan maksudku mereka melakukan hal semacam itu di sofa? Kaya gak ada tempat lain aja.

Baik, mereka pasangan termesum, terhorny, tergila dan ter ter lainnya deh. Tapi mereka juga yang terbaik. Sekembalinya aku dikamar aku merebahkan lagi tubuhku dan memejamkan mataku lagi

Pagi ini aku sudah berada disalah satu perusahaan besar dijakarta. Hari ini adalah hari terakhirku, aku menemui kepala HRD langsung

“Permisi pak, saya mau mengajukan pengunduran diri saya.. ini surat suratnya”

Aku memberikan berkas berkasku

“Loh tapi kenapa bu? Bukankah ibu direkrut langsung oleh pak arfi”

“Alasan privasi. Saya harap bapak mengerti”

Dia hanya memandangku sekilas lalu beralih melihat surat suratku.

“Baik jika itu yang ibu julia mau, saya akan proses surat pengunduran diri ibu”

Aku tersenyum lalu berbalik. Saat berbalik ada yang menatapku heran

“Lu mau mengundurkan diri?” Tanya iwan

“Begitulah.. sekalian nih gue kasih berkas yang udah gue selesain lu tinggal jalanin aja. Semuanya lengkap udah selesai gue kerjain” jelasku, iwan menatapku lekat

“Gak! Lo harus jelasin sama gue”

“Eh?!!”

Dia menarik tanganku sampai keruangannya

“Sekarang lu duduk”

Aku duduk didepan iwan menatapnya malas. Kenapa lagi sih ribet banget deh

“Ada apa? Kenapa tiba tiba?” Tanyanya

Aku menghela nafasku

“Sesuatu yang salah..”

Iwan mengeritkan dahinya “arfi?” Tanyanya. Aku menggeleng “terus apa?”

“Gue.. gue yang salah”

“Ya tapi kan julia lu gak harus keluar juga. Lu salah apa emang? Kerja lu fine fine aja”

“Pribadi..”

“Kalo lu punya masalah pribadi jangan dibawa bawa ke kantor jul.. profesional dikitlah” ucapnya mendikte aku menatapnya tajam

“Lu gak ngerti wan..” iwan menatapku

“kalo lu mau tau lu bisa langsung tanyain boss lu” sambungku lalu meninggalkan iwan diruangannya.

Aku berjalan menuruni tangga hingga lobby. Tak jarang aku masih disapa pegawai disini dan seperti biasa aku hanya membalasnya dengan senyum

Sampai dilobby aku melihat sosoknya. Dia menatapku, tatapan lemah tidak seperti kemarin. Dia terus menatapku. Langkahku menuntunku untuk terus mendekat namun tidak ada sedikit hatiku untuk menyapa atau membalas tatapannya.

Saat hampir dekat ia mengangkat tangannya dia pikir aku akan menghampirinya. Salah! Dia salah! Aku hanya melewatinya, hatiku sudah hancur dibuatnya, yang ingin kulakukan saat ini hanya keluar secepatnya dari tempat ini

Aku memasuki taksi yang sengaja kusuruh menungguku.

“Jalan pak..”

Mobil melaju kulihat arfi masih diam ditempat yang sama. Dia membalikkan badannya melihat kearah taksi yang ku naiki

Ku pejamkan mataku sekuat tenaga kutahan air mataku agar tidak menetes. Rasanya percuma meneteskan air mata hanya untuk seorang pria seperti dia. Jauh dilubuk hatiku aku masih mencintainya. Ponselku berdering tanda ada panggilan masuk. Aku tidak berniat mengangkatnya begitu aku melihat nama yang menelponku.

Dia arfi, arfi menghubungiku? Apa yang dia mau? Memperbaiki hubungan ini? Tidak, aku belum bisa menerimanya bahkan melihatnya barusan saja membuat hatiku kembali teriris.

Bersambung

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22Part 23Part 24Part 25
Part 26Part 27Part 28Part 29Part 30
Part 31Part 32Part 33Part 34Part 35
Part 36Part 37Part 38Part 39Part 40
Part 41Part 42Part 43Part 44Part 45
Part 46Part 47Part 48