Tentang Kita Part 10

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 10 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tentang Kita Part 9

“Berakhir liburan kita ya.. sedih deh” ucap gre.

Ya kami akan kembali ke jakarta siang ini. Tentu, bukan okta lagi yang menyetir kali ini agus yang menjadi supir kami. Kalian berpikir okta itu tidur karena obat tidur yang diberikan padanya? Salah besar! Gracia bilang dia yang akan mengeksekusinya.

Kupikir juga pagi ini okta sudah terlelap tapi lagi lagi salah. Dia masih riang gembira dan masih nyaman dengan tingkah lakunya yang gak ketolong itu.

Saatku tanyakan pada gre dia bilang ‘gue udah kasihin, sebotol bahkan tapi gak ngefek sama sekali!’ Aku sempat tidak percaya.

Aku sudah memberikan instruksi pada gre bagaimana obat itu bekerja. Aku memperhatikan okta yang sedang masuk mobil melalui jendela. Aneh kan?

“Semuanya udah kan? Gak ada yang ketinggalan lagi?” Ujar agus

“Sip. Jalan dah gus”

Mobilpun jalan meninggalkan pekarangan villa. Ini kenapa jadi aku bertiga duduk ditengah sih. Aku, arfi dan okta. Gustii~~ gak jauh jauh dari anak ini. Sedangkan iwan duduk dibelakang bersama belanjaan okta semua. Dia mau dagang apa dijakarta nanti belanjaannya banyak banget dan yang bikin heran adalah Kapan dia belanja sebanyak ini?

“Fii!! Top lane wey!!”

“Gue mati coeg! Lu aja sana. Jangan recall dulu tahan atas”

‘You have been slain’

Suara hape iwan

“Kan gue mati. Curang anjeng ngumpet dirumput”

“Awas gue udah idup nih. Gue mid solo”

Mereka heboh sendiri dengan salah satu game moba di hape. Aku melihat okta dia tertidur. Mobil kami memasuki jalan tol arah jakarta.

“Defeat”

“Ah! Bangke! Kalah. Udah ah gak mau main lagi banyak bocah!” Kesal arfi

“Apa coba malah pada di atas sama bawah mid nya kosong bego emang” ujar iwan

Jduk

“Aw.. arrghh” aku menoleh kesampingku. Okta sedang mengusap kepalanya yang kejedot sama jendela akibat mobil kami menginjak lubang dijalan.

“Sayang, gpp?” Iwan mengelus kepala okta.

“Sakit kak..” iwan mengelus ngelus kepala okta hingga ia tertidur kembali. Tubuh okta lunglai hingga kepalanya bersandar dibahuku.

“Beb, sini aku pangku biar okta tiduran kasihan kamu kejepit gitu”

Arfi lalu menarik tanganku bangun. Perlahan aku mengangkat tubuhku dan pindah ke pangkuan arfi membiarkan okta tidur seperti dikasur. Hmm

“Masih sakit selangkangan kamu?” Tanya arfi

“Masih, sedikit..”

Dia mengecup keningku. Lalu mengelus punggungku. Ini aneh, aku bukan pertama kalinya melakukan itu dan kurasa keperawananku juga sudah hilang entah kapan tapi arfi bilang ada bercak darah di sprey kasur

“Bobo ya kamu. Semalem kurang tidur kan”

“Kamu juga. Kan kamu yang lebih cape gerak terus” balasku dia hanya terkekeh.

Lagi, dia mengecup keningku. Hal yang membuatku selalu merasa hangat adalah saat dia memberikan kecupan dikeningku. Itu jauh lebih baik dibanding ciuman dibibir. Sungguh, aku merasa sangat disayangnya, menjadi berliannya yang selalu dijaganya.

Aku menyenderkan kepalaku dicaruk leher arfi. Kukecup sekilas rahangnya yang kokoh lalu ku pejamkan mataku.

***

Sore ini kami sudah sampai di jakarta dan kini kami berdua sudah di apartemen. Aku tidak tau bagaimana ketika ku buka mata sudah ada dikasur. Aku juga tidak tau bagaimana arfi melakukannya tanpa mengusik tidurku. Terakhir kuingat mobil kami baru memasuki gerbang tol arah jakarta. Setelahnya aku tertidur dan bangun sudah dikasur begini.

Wait, arfi kemana nih. Aku mencarinya diseluruh ruangan. Sayup sayup aku mendengar suara dari balkon. Oh disana rupanya, dia sedang menghubungi seseorang, saat aku muncul dia sudah selesai menghubungi seseorang itu

“Oh hay, sudah bangun.. hehe gimana tidurnya, nyenyak?” Tanyanya dengan senyum. Aku pun tersenyum dan berdiri disebelahnya bersandar pada pagar balkon

“Kenapa kamu gak bangunin aku?”

Dia menoleh

“Kamu kelihatannya cape banget, jadi aku gak tega banguninnya. Aku gendong aja kamunya”

“Kamu gendong aku pelan pelan banget kayanya sampai aku gak sadar gitu”

Dia hanya terkekeh

“Bukan aku yang pelan pelan tapi kamu nya yang kebo tidurnya”

Aku memanyunkan bibirku. Dan dia tertawa pelan selanjutnya dia mengelus puncak kepalaku

“Oh ya, aku mau ngomong sesuatu sama kamu” aku menoleh padanya

“Ngomong apa?”

Dia tersenyum dan beralih memandang jauh kedepan

“Besok kita akan pindah. Aku udah membeli rumah, yaa rumah sederhana sih tapi cukuplah buat kita berempat nanti”

“Beli rumah?” Tanyaku, dia menganggukkan kepala “kita mau tinggal sama siapa berempat?” Tanyaku lagi. Dia tersenyum menatapku

“Kamu, aku dan 2 orang calon anak kita” aku terdiam mendengar penuturannya.

Anak? Dia membicarakan anak? Entah kenapa rasanya aku ingin menangis namun kutahan sekuat tenaga. Bagaimana tidak, dia benar membuktikan ucapannya. Mungkin aku yang lebay tapi untuk orang sepertiku diperlakukan seperti ini oleh pria adalah hal yang belum pernah ku dapat.

“Kamu mau kan?” Tanyanya lagi. Aku mengangguk cepat. Tangannya meraih bahuku membawaku kepelukannya.

“Kamu kok nangis?” Aku langsung menghapus air mataku cepat

“Aku seneng aja, terharu juga sih..”

“Hehehe ini sebenernya plan aku udah lama sih. Uangnya aku tabungin terus baru sekarang aja kejalan rencana aku” jelasnya.

“Dari dulu? Kenapa kamu gak beli rumah dari dulu?” Tanyaku

“Hehe aku akan beli rumah setelah aku menemukan orang yang ku cintai. Dulu aku pernah mau beli rumah tapi batal”

“Kenapa batalnya, uangnya gak cukup” bodoh. Kalimat itu keluar begitu saja. Mana mungkin gak cukup arfi punya uang segunung. Dia salah satu pengusaha muda sukses di negara ini bahkan seasia dia terhitung pengusaha besar

“Bukan, uang gak masalah bagiku…” tuh kan benar. Julia bodoh!

“Aku waktu itu batal rumah karena angel menutup usianya. Yah, rencana itu batal begitu aja. Aku gak lagi berniat menjalin hubungan dengan siapapun saat itu. Aku menjadi workaholic, aku lakukan semua hal yang bisa buat aku melupakan kepergian angel” jelasnya.

Aku jadi penasaran kenapa angel bisa menutup usianya. Emang takdir sih, tapi apa yang membuatnya takdir itu bergaris padanya

“Umm.. maaf fi, kalo aku boleh tau angel meninggal kenapa?”

Dia memandang langit sore lalu menoleh padaku

“Kecelakaan, dia meninggal karena kecelakaan mobil ditol saat akan menuju ke bandara. Dia sangat excited karena impiannya hampir tercapai. Impiannya jadi model diinggris”

Aku masih diam melihatnya. Bisa kulihat wajah sendunya. Aku mengelus punggungnya memberikan ia kekuatan

“Setelah kepergiannya, hidupku berubah, aku lebih sering menyendiri, menyibukkan diriku dengan pekerjaanku, aku kehilangan tujuanku yang kutau aku ingin bekerja dan bekerja keras. Agar aku lelah dan tidak ada lagi waktu memikirkan angel, tapi semakin keras aku melupakannya semakin aku tidak tau jelas kemana arah tujuanku”

Dia menghembuskan nafasnya kasar

“Tapi saat diclub malam itu.. kamu, senyummu, membuatku mengingatkan ku padanya. Saat kamu menyalami tanganku. Aku enggan meraih uluran tanganmu karena kamu terlalu mirip dengannya. Dan saat kamu melakukan hubungan sama si tua bangka itu aku marah, sangat marah. Aku perlu waktu untuk memastikan kenapa aku bisa semarah ini. Ini sangat mengganggu pada akhirnya aku memutuskan untuk membawamu melepaskanmu dari si tua itu”

Aku tersenyum padanya. Dia meraih tanganku dan menuntunya untuk duduk dikursi balkon sedang aku duduk dipangkuannya. Langit sudah berubah menjadi gelap, matahari menyembunyikan dirinya berganti bulan yang cerah dan bintang bintang berkilauan menghiasi langit malam

“Oh ya, ada hal yang ingin aku tanyakan, aku tau angelo seperti apa dan banyak pelangganku yang punya keinginan sama denganmu tapi kenapa kamu dengan mudah membawaku pergi. Apa yang membuatmu mudah sampai angelo membiarkanku pergi denganmu?”

Dia tersenyum tipis

“Kurasa dia tau siapa aku. Dan dia tidak bisa menolak permintaanku. Bukan tidak bisa, aku yang membuatnya tidak bisa menolak…”

Aku terdiam mencerna ucapannya. Eh jangan jangan..

“Singkat cerita sebenarnya polisi sedang memburu angelo. Aku yang saat itu mengaktifkan gpsku dilacak oleh polisi. Kamu tau aku menerobos lampu merah saat itu juga polisi mengejarku. Saat sedang meeting hpku bergetar, kupikir pesan masuk ternyata gpsku berhasil terlacak. Well, akhirnya polisi datang dan menangkap bandar besar, angelo”

Aku terkejut mendengar ceritanya. Dia sudah merencanakannya sejak awal. Tapi muncul rasa ketakutanku bahwa jika angelo bebas dia akan mencariku lagi.

“Seharusnya kamu kena proses juga kan? Secara gps kamu menunjukkan kamu disana”

“Hehehe kamu ingat kita keluar club menggunakan mobil warna apa?”

Aku mengingat, mobil sedan.. putih. Iya putih

“Sedan putih kan?”

Dia mengangguk “aku awalnya kesana menggunakan mobil SUV hitam. Dan hp yang kugunakan bukan hpku yang sesungguhnya. Jadi kutinggalkan hp itu dan mobilku juga”

Enak banget dia ninggalin mobil gitu aja, ceritanya semakin menarik aku semakin penasaran dengan jalan pikiran arfi

“Mobil itu kan atas nama kamu. Kalo kamu tinggalin disana pasti polisi melacaknya menggunakan nopolnya”

Aku menggeleng “aku tidak bodoh julia. Mobilku sedanku memang sudah ada disana dari siang. Jadi saat aku pergi ke club malam itu kugunakan mobil SUV hitamku. Surat mobilnya ku tinggalkan disana dan itu mobil yang kubeli bersama angel dan atas nama angel juga nomor hp yg kugunakan saat itu juga atas nama angel.

So, jika polisi berhasil melacaknya polisi hanya menyimpulkan bahwa mobil itu berhantu. Selesai kan?”

Euh-.- dasar mafia. Aku memutar bola mataku malas. Tadi dia sedih karena kepergian angel sekarang dia seolah memanfaatkan kematian angel. Parapara

“Aku mengorbankan begitu banyak hal malam itu tapi siapa sangka aku mendapatkan hal besar juga malam itu juga.. yaitu kamu”

Aku terkekeh mendengarnya. Aku merapihkan rambut depannya yang sedikit berantakan. Dia menggenggam sebelah tanganku yang bebas dan menciumnya. Pandangannya beralih menatap mataku. Aku tau arti tatapan itu. Kudekatkan wajahku lalu aku merasakan bibir kenyal milik arfi menyentuh bibirku. Manis! Selalu manis. Dia melepas ciuman kami

“Makan keluar yuk, abis itu beres beres besok kan kita udah pindah” ujarnya. Aku mengangguk lalu bangkir dari dudukku dan kami keluar untuk makan malam

***

Pagi ini, lebih tepatnya hampir siang sih kami sudah membereskan barang barang untuk dipindahkan kerumah baru uhum! kami. Barangnya tidak terlalu banyak hanya baju baju dan peralatan makan selebihnya ditinggal. Kami sepakat untuk menyewakan apartemen ini, dengan begitu akan ada penghasilan tambahan untuknya.

“..iya pah, nanti arfi kirim alamat rumah arfi”

Itu dia arfi, biar kutebak dia sedang menghubungi orang tuanya. FYI nih kedua orang tuanya arfi sedang berada dinegri kincir angin. Mengurus bisnis katanya

“Kita jalan sekarang?” Tanyaku

“Tunggu dulu bentar ya” aku hanya mengangguk.

Tak lama terdengar suara motor yang berisik. Mereka saling berboncengan. Dari gestur tubuh aku mengenalinya meski mereka menggunakan helm, itu gracia berarti yang didepan agus. Satu motor lagi juga berpasangan cuma yah ini mereka memang yang aneh gak sulit untuk menebaknya siap lagi kalo bukan iwan dan okta.

Siapa lagi yang bertingkah gila seperti ini kalo bukan mereka berdua, iya iwan mengendarai moge dan okta duduk diatas tangki moge dengan kedua kaki dikedepankan. Jatoh aja sukurin lu! Ini juga iwan mau aja ngikutin mauannya okta.

“Gils, berisik banget anjoy motor lu fi”

Eh?

“Hahaha thanks ya udah bawain motor gue kesini”

Oh jadi motor yang dikendarai agus ini motornya arfi. Kalo dilihat lihat keren juga sih, motor pabrikan jepang dengan warna hijau yang mendominasi.

“Yaudah sesuai rencana ya, gue iwan agus naik motor ciway ciway naik mobil gue..nih”

Arfi memberikan kunci mobilnya pada gracia. Paling gak arfi masih waras dengan memberikan kunci mobilnya pada gracia bukan ke okta.

“Kamu sama mereka ya” ucap arfi memberikanku kecupan di keningku

“Kita tunggu digerbang jalannya bareng ya”

Kami pun berpencar. Aku mengikuti langkah gracia ke basement mengambil mobil dan dibelakangku ada okta mengikuti

“Mobil arfi yang mana jul?”

Lah kupikir udah tau dia. Aku menunjuk sebuah mobil sedan putih. Kamipun segera pergi meninggalkan area parkiran. Saat sampai gerbang benar saja para pria laknat sedang menunggu kami keluar

“Ayo jalan..” teriak okta dari jendela belakang. Wih keren berasa jadi presiden gini. Mobil kami dikawal dua moge euy! Mancap!

“Tadi gimana meeting soal proyek rumah impiannya gre?” Tanyaku

“Lolos jul.. okta yang mempresentasikan. Gue sempet ragu tapi cara dia presentasi tadi keren. Direkturnya langsung setuju dan pembangunannya mulai bulan ini. Kita juga dapet kontrak 3 tahun dan gue udah bentuk tim buat ngurusin proyek ini selama 3 tahun”

“Wih keren, berarti 3x konsep iklan dong ya?”

“Yaps, gue sendiri jadi ketua tim inti yang gue bentuk”

“Keren keren..”

Kulirik okta dibelakang dari spion dalam. Dia terlelap tidur, kelihatannya dia lelah dia juga belum ganti baju masih pakaian kantornya

“Kalian langsung dari kantor?” Tanyaku

“Iya, bareng bareng. Tapi tadi gue sama agus sempet ke basecamp dulu ambil motornya arfi”

“Basecamp?” Tanyaku heran

“Iya, lu belum pernah kesana emang? Arfi gak ngajak?”

Aku menggelengkan kepala. Arfi bahkan gak pernah cerita dia punya basecamp

“Kapan kapan minta arfi ajak kesana deh. Tempatnya bagus sejuk dan adem karena pinggir danau gitu”

“Oh ya? Boleh boleh..” jawabku.

Kami mengobrol sepanjang perjalanan. Tanpa dirasa mobil kami memasuki area perumahan yang cukup mewah. Kulihat rumah rumah disini. Ada satu rumah yang menarik perhatianku, rumah bergaya mewah dengan cat emas menghiasi dua buah pilarnya. Ini gak cape apa bersihin rumah segede gini, berapa pembantu rumah tangga yang bekerja dirumah itu ya.

“Ini rumahnya?” Aku menoleh pada gre lalu beralih pada rumah didepanku. Rumah lantai dua bergaya classi dengan cat krem mendominasi. Aku turun dari mobil dan memperhatikan rumah ini

“Gimana suka sama rumahnya? Aku yang design sendiri loh. Ayo kamu mau lihat dalemnya?” Arfi menggandeng tanganku tapi ku tahan. Dia menatapku heran

“Fi.. dimana sederhananya?” Tanyaku dan dia hanya tertawa.

Iya benar, apa yang sederhana kaya gini. Rumah lantai dua dengan pagar menjulang tinggi serta ada pos satpamnya yang bersiap jaga 24jam juga garasi luas dan terdapat taman dengan kolam diarea terasnya. Ini dia bilang sederhana? Apa arfi ada keturunan orang dubai ya?

“Kamu lucu sih, udah ayuk masuk sini” kali ini aku menurut. Dia menggandeng tanganku masuk meninggalkan teman teman kami diluar.
Klek

Begitu pintu terbuka terpampang jelas ruangan dalam rumah ini. Aku bersumpah bisa ngajak tim kesebelasan buat latihan disini. Luas banget coy!

“Kamar kita diatas, ayo deh aku tunjukkin” lagi arfi menggandengku ke atas.

Aje gile tangganya terbuat dari marmer men! Dan pegangan tangganya besi biasa kurasa sih cuma dibentuk sedemikian rupa hingga menjadi indah.
Aku dibuat kagum saat mencapai lantai dua rumah ini. Ini aku yang norak atau emang rumah ini terlalu mewah ya, terserahlah emang gitu nyatanya.

“Nah ini dia kamar kita.. gimana menurut kamu?”

Aku mengedarkan pandanganku ke seluruh penjuru kamar ini. Ada kasur dengan ukuran kingsize, gorden yang besar, meja make up, kamar mandi, tivi, dan masih banyak lagi.

“Bagus, sangat bagus.. aku belum pernah memasuki rumah semewah ini” ujarku. Arfi terkekeh

“Kamu mau tau apa yang sederhana dirumah ini?”

“Apa?”

“Hehehe alasan aku membeli rumah ini itu yang sederhana”

“hah? Alasannya apa?”

“Kamu, sederhana kan?”

Arfi membuka gorden jendela lalu membuka pintu kaca disana

“Sini deh..”

Aku berjalan menghampirinya. Dibalkon ini ada dua buah kursi santai dan meja kecil ditengahnya.

“Nah ini spot favorite aku kalo sore enak lihat matahari tenggelam”

Aku tersenyum. Lalu ikut duduk dikursi

“Aku gak tau harus ngomong apa, ini sangat mengagumkan arfi, aku belum pernah merasakan sebahagia seperti ini. Terima kasih fi”

Dia tersenyum. Senyumnya sangat menawan matanya menyipit jika tersenyum. Dia meraih tanganku lalu mengecupnya.

“Kita akan tinggal disini, ini tempat kebahagiaan kita” ujarnya. Dia berdiri meraih tanganku ikut berdiri lalu memelukku. Memelukku sangat erat

“Woy, gile gue cariin malah dimari lu peluk pelukkan”

Kami langsung melepas pelukan kami

“Kalo gak ditemuin nih dua makhluk lanjut nih wan ke adegan ranjang”

“Iye bener, kagak tau kita susah gotong gotong lemarinya, si empunya malah enak meluk meluk”

Yah itu dia iwan dan agus yang datang secara gaduh ini. Hih ganggu aja!

“Gitu aja ngeluh lu udeh tar gue traktirin makan sepuasnya pake duit sendiri sendiri” ujar arfi

“Mantap jiwah! Gak salah gue punya temen kaya lu”

Ya ya ya terserah mereka aja sih. Mereka emang aneh. Tapi kalo dipikir pikir lucu juga sih, kalo menurutku arfi tipe orang pendiam dan serius jika didepan orang banyak cuma karena bertemen dengan ‘mereka mereka’ ini jadi terkontaminasi juga

Sore hari suasana mulai tenang, mereka sudah pada pulang, tinggal kami berlima. Bisa berlima kan, ya karena selain aku dan arfi ada juga pembantu yang bekerja disini 3 orang. Itu tidak termasuk satpam ya.. satpam 2 jadi total 7 orang dirumah ini

“Kamu udah mandi?” Tanya arfi

“Belum, aku masak dulu. Kebetulan tadi gre bawain bahan makanan jadi aku masak aja”

“Masak apa?”

“Sayur sop sama semur daging” ujarku masih sibuk memasak. Arfi duduk dibangku meja makan

“Julia.. kamu pakai celana gak sih?” Aku menghentikan kegiatanku.

Ku tengok kebawah. Jelas saja dia menanyakan itu aku memakai kemeja putih kebesaran hingga ke paha tentu menutupi celana pendekku.

“Pake, kemeja kamu gedean. jadi celananya ketutup”

Aku melanjutkan kegiatanku. Setelah selesai aku menghidangkan masakanku dimeja.

“Masakan ini terlalu panas, gak mungkin kita bisa langsung makan. Gimana kalo kita mandi dulu, kamu setuju?” Ujar arfi. Tubuhku juga lengket

“Oke kita mandi dulu deh abis itu makan”

Arfi langsung meraih tanganku dan menariknya ke atas. Dia terus menggenggam tanganku sampai ke kamar

Klek

Satu hal baru kusadari. Saat dimeja makan dia menggunakan kalimat “kita mandi” yang artinya dia mengajakku mandi bareng. Wtf!

“Apa?”

“Katanya mandi, ayuk mandi”

Lalu arfi membuka baju dan celananya. Terlihatlah badannya yang cukup sixpack dan berotot itu. Lengannya yang keker dan bahunya yang.. ugh! Ingin sekali kugigit bahunya itu. Malam itu aku tidak bisa melihat bentuk tubuh arfi karena gelap baru kali ini terpampang jelas didepan mataku. Tadinya aku rasa aku dijebak olehnya tapi kupikir aku akan menikmati jebakannya

Aku tersenyum miring, lalu membuka kancing kancing kemejaku satu persatu. Terbukalah kemejaku dan kini aku hanya mengenakan bra hitam dan celana pendekku

“Tuh aku pake celana kan?” Ujarku mengerling nakal

“Itu gak akan lama..” secara tiba tiba arfi menggendongku dan mendudukkanku diatas westafel kamar mandi. Dia mencium bibirku lembut lalu beralih ke leher jenjangku tidak sampai situ kini dia sudah melepas bra yang ku kenakan dan mulai bermain disana.

“Sshhh… ahhrfii” desahku lolos begitu saja saat arfi mulai menghisap kedua payudaraku secara bergantian.

Dia lalu melepas celana pendekku, aku hanya menikmati perlakuannya saja. Arfi menatapku lekat saat sudah tidak ada sehelai benang pun yang menempel pada tubuh kami.

“Kamu milikku, hanya milikku”

Aku tersenyum lalu mencium bibirnya lembut. Dan begitulah, kami sempat bermain sebelum kami membersihkan diri kami. Dikamar mandi adalah hal yang belum pernah aku pikirkan untuk melakukan hal seperti ini dan jika ditanya aku tentu akan menolak tapi arfi mampu membutakan mataku seperti dia dengan mudahnya membuatku tergila gila padanya.

Dia seolah membuatku tidak perduli dimana pun kami berada dia dengan mudahnya membuatku pasrah menerima perlakuannya. Perlakuan yang lembut yang selalu memabukkanku

Setelah selesai beberapa kali ronde akhirnya kami berendam didalam bathup dengan posisi arfi dibelakang tubuhku

“Kamu tadi one shoot lagi?” Tanyaku

“Nggak kok..” aku sedikit lega mendengar jawabannya.

“Tapi semuanya aku masukin ke dalem” aku tersentak mendengarnya hingga aku menjauhkan tubuhku dan berbalik menatapnya

“Kamu serius?” Tanyaku dia hanya menganggukan kepalanya dengan senyum merekah.

“Kalo aku hamil gimana?”

“Artinya kamu akan jadi momy dan aku papahnya”

Ingin rasanya ku lelepin dia didalem bathup ini. Mudah sekali dia bicara, iya kalo dalam pernikahan sih bahagia tapi kami kan belum menikah, tunangan aja nggak. Air mataku mulai menetes

“Kita belum menikah arfi dan aku gak mau–”

“Kita akan menikah, dibelanda” ujar arfi memotong ucapanku. Aku terkejut mendengarnya

“Gak usah kaget. Orang tua aku menunggu kita disana. Mereka juga nanyain terus tapi akunya aja yang gak mau”

“kenapa? Kamu mau nunggu aku hamil dulu gitu”

“Ya nggaklah, kita berangkat tanggal 23 juli, dan melaksanakn pernikahannya 30 julinya” ujarnya menaik turunkan alisnya. Kenapa dia ini

“Masih lama 3 bulan lagi itu kan”

“Hehehe sabar dong, kan biar spesial di hari yang spesial, iya kan?”

Aku diam. 30 juli katanya, eh tunggu? Di hari ulang tahunku, dia tau dari mana hari ulang tahunku

“Kamu tau hari ulang tahunku?” Tanyaku dan dia terkekeh

“Tau lah, Arfi gitu loh.. udah ah sini gak usah nangis lagi” ujar arfi seraya menarik lenganku untuk bersandar pada dadanya yang bidang

“Arfi.. besok besok diluar aja ya”

“Mandi diluar gitu?”

Gedek gue gedek segedek gedeknya

“Bukan! Keluarinnya diluar”

“Kalo udah keluar ngapain diluar lagi”

Aku mencubit perutnya yang kotak kotak itu

“Aduh aduhh iyaiya ih gila tajem banget tuh kuku kaya piso”

“Biarin! Pokoknya besok diluar!” Ucapku memanyunkan bibirku.

Dia sih enak nembak nembak doang yang nanggung emang siapa nanti, mau taro dimana mukaku dihadapan orang tuanya arfi dengan keadaan perut melendung padahal yang bikin melendung kan anaknya sendiri

“Kalo gak mau diluar aku gak mau juga diajak main sama kamu” ancamku dia memanyunkan bibirnya

“Kan enakan didalem gitu”

“Arfiiiiiii…”

“Iya iya ih, gitu aja ngambek deh. Ah aku mah bisa apa kalo ratuku udah bersabda” ujarnya kurasa pipiku memerah dengan segeraku mengalihkan pandanganku

“Fi.. punya kamu berdiri terus ini, mau lagi ya?” Tanyaku polos

“Elah dia mah otomatis kalo didepannya ada yang begini beginian”

Aku membalik badanku menatapnya. Dia pun menatapku seolah bertanya ada apa? Aku mengerling nakal

“Mau lagi gak?” Tanyaku seketika wajahnya berubah cerah secerah cat tembok sekolah taman kanak kanak

“Mau kalo dikasih”

“Tapi diluar ya?”

Dia menganggukkan kepalanya cepat

“Janji?” Aku memberikan jari kelingkingku. Dia hanya tertawa

“ih kalo gak janji aku gak mau!”

“Iya iya”

Lali arfi menautkan jari kelingkingnya ke jari kelingkingku. Dan dia berdiri mengambil handuk untuk dililitkan ke tubuhnya. Aku hanya diam menatapnya

“Kenapa kamu?” Tanyanya

“Katanya mau lagi” ujarku

“Ya tapi gak disini julia masuk angin iya udah yuk pindah ke kamar”

Aku tersenyum

“Gendooooong” ucapku manja dan dia hanya terkekeh lalu mengangkat tubuhku dari dalam bathup.

Ini badanku yang enteng atau emang arfinya yang kuat ya. Gak usah dipikirin deh, udah tau kan apa yang akan terjadi selanjutnya, gak usah diceritain lagi^^ (alias gue males ngetik wkwk)

Bersambung