Tentang Kita Part 1

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 1 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sex Dewasa Tentang Kita Part 1

Tatapan kosong menatap lampu lampu kendaraan dibawah sana. ditemani segelas anggur ditanganku sedikit menghangatkan tubuhku dari dinginnya malam ini.

sesekali ku lirik jam dipergelangan tanganku. Aku tersenyum kecut mengingat beberapa jam kedepan lagi apa yang akan aku lakukan.

Aku beranjak dari tempatku dan bersiap untuk pergi “bekerja”

Langkahku terhenti saat sebuah mobil berhenti didepanku. taksi online yang kupesan telah tiba.

Uh.. aku benci keadaan seperti ini. tatapan dari supir taksi yang ku tumpangi ini menatapku. tidak bukan menatapku lebih ke bagian dada dan pahaku. ku akui pakaian ku malam ini memang sangat terbuka menurutku tidak heran jika tatapan setiap lelaki akan menatapku seperti anjing liar melihat mangsanya.

“kau tau nona, kau tak perlu membayar dengan uang untuk perjalananmu ini”

aku menatap supir itu melalui spion dalam.

“Oh ya? tapi kurasa tuan angelos tidak akan setuju. Aku teman kamarnya malam ini”

Aku dapat melihat raut wajah terkejutnya. aku terkekeh dalam hati tidak tau siapa aku. paling tidak aku bisa mengandalkan kata kata itu yang sebenarnya aku muak mengucapkannya

setelah sampai pada tujuanku. aku segera melangkahkan kaki menuju ruangan boss besarku

krek krieet

“oh hallo julia, malam ini kau sangat beruntung” ucap pria gendut paruh baya didepanku.

aku tersenyum kecil senyum yang kupaksakan lebih tepatnya. satu satunya keberuntungan adalah bisa keluae dari tempat ini dan menjalani hidup normal

“kau datang ke kamar 54 sekarang. layani mereka dengan baik. mereka adalah partner terbaikku” titahnya.

aku langsung beranjak dari tempatku menuju toilet untuk melakukan persiapan yang ku perlukan. sedikit parfum ku semprotkan dileher dan tubuhku. serta lipstik merah menghiasi bibirku. tidak lupa senyum palsu. perfect!

Saat sudah didepan pintu bernomor 54 aku kembali mematung. kaki ku terasa berat. pikiranku melayang dimana aku akan mendapatkan sesuatu yang menyakitkan sebentar lagi. Air mataku ingin keluar tapi ku tahan. aku memejamkan mataku memantapkan hatiku bahwa inilah jalan setan yang kupilih sebagai penopang hidupku

jgrek

aku melihat dua orang pria duduk dimeja bulat. Yang satu menggunakan kemeja biru dan dasi putih serta celana bahan hitam tak lupa sepatu vantouvelnya. pria satunya lagi terlihat lebih santai hanya menggunakan blazer dengan kaos daleman warna putih dan celana jeana serta sepatu runningnya. mereka tidak terlihat sedang bisnis.

“Ah ini dia hidangan utamanya. Aku sengaja menyiapkan ini spesial untukmu” ucap pria berkemeja disana.

sedangkan pria yang satunya hanya menatapku dari atas sampai bawah. tatapannya datar berbeda dengan kebanyakan pria lainnya yang jika melihatku akan langsung menerkamku.

“Oke, aku rasa cukup. kontrak yang kita sepakati dengan pembagian saham sebesar 25% pertahunnya” ucap pria yang menggunakan blazzer.

aku tidak tau pria itu namanya siapa yang jelas aku beru pertama kali melihatnya. ia cukup tampan, cool dan terlihat lebih muda dibanding aku

Aku hanya menatap mereka yang bersalaman. setelahnya mereka saling bersulang. baik ini dia bagianku. ku rasakan debaran jantungku semakin keras. aku tidak melepaskan tatapanku pada pria yang menggunakan blazer itu. dia terlihat santai

“Julia, kemari sini”

aku menghampiri pria yang berkemeja. namanya adalah pak theo. kalo yang dimaksud tuan angelo adalah pak theo ya memang ia sering kesini dan ku tau dia juga pemasok minuman keras disini. tapi pria ini. siapa dia?

“Dia adalah yang terbaik disini. kau boleh bersamanya malam ini aku siapkan khusus untukmu sebagai tanda jadi kerja sama kita” ujar pak theo.

pria disana menatapku datar. heh dia homo ya?

“julia, malam ini kau bersamanya dulu setelahnya pergi ke kamar 13 aku menunggumu disana setelah bersama pak arfi” ujar pak theo kembali aku hanya bisa tersenyum.

pria disana hanya meminum anggurnya. mengacuhkan penjelasan dari pak theo. dapat ku ketahui sepertinya derajatnya lebih tinggi dia dibanding pak theo sebelumnya belum pernah ada yang mengacuhkan omongan pak theo disini

“kenapa kau tidak coba berkenalan dulu padanya julia” ucap pak theo sambil meremas bokongku. pelecehan yang sudah biasa. haaah

“hay, aku juliaa..” aku mengulurkan tanganku dia hanya menatap uluran tanganku dan kembali memalingkan wajahnya ke jendela. aku belum pernah merasa direndahkan seperti ini. ingin ku cakar wajahnya

“sepertinya tuan arfi tidak tertarik denganmu. boleh aku mencicipinya lebih dulu?” pak theo bersuara.

Pria yang ku ketahui bernama arfi hanya mengibaskan tangannya tanpa menatap kami

tanganku langsung ditariknya menuju sofa panjang yang ada dalam ruangan tersebut. dengan agresif pak theo menciumi bibirku, pipiku dan leherku. tidak cuma itu tangannya kini sudah masuk kedalam bagian dadaku.

Aku menatap arfi disana dan dia pun menatapku. tubuhku dibaringkan oleh pak theo dan ia kembali menciumi leherku. ku yakin ada bekas merah disana. ciuman itu semakin menurun kebawah saat akan terbuka bagian dadaku aku menahannya.

“kenapa? kau malu? hahaha setelah ini dia juga akan melihat tubuh polosmu” ucap pak theo. benar juga.

aku tidak lagi menahan tangan pak theo ku pasrahkan tubuhku malam ini. Dengan penuh nafsu pak theo mencium serta mengisap payudara ku. aku kembali menatap arfi. dia menatapku tapi tatapan iba yang ku dapat. apa dia iba padaku.

ini sungguh memalukan. aku terbiasa melakukan ini tapi hanya ada aku dan clientku. tapi ini ada seseorang yang sedang menonton percintaan kami. Air mataku menetes aku kembali menangisi nasibku. Ditengah cumbuan pak theo arfi beranjak ke arah kami.

Aku sudah siap dengan apa yang akan ku dapatkan. dua orang tidak buruk aku pernah langsung dengan tiga orang secara bergilir. Arfi mencengkram tanganku tiba tiba membuat pak theo menghentikan cumbuannya padaku dan menatap arfi

“Dia untukku kan?” ujarnya

“Apa kau sudah terangsang?”

Arfi hanya diam. dia beralih menatapku.

“Lepaskan dia” ucap arfi yang membuatku terkejut. pak theo bangkit dari tubuhku.

“Apa maksudmu?” ujar pak theo

arfi hanya membalikkan tubuhnya berjalan ke arah meja dan memberikan cek yang entah berapa nominalnya

“ini maksudku” sambil memberikan cek pada pak theo.

“oww.. baik dengan ini aku bisa membeli yang jauh lebih baik dari jalang ini” ujar pak theo. cih!

Arfi menatapku

“pakai pakaianmu. aku menunggumu dilobby sekarang!” titahnya.

Ah sial aku sempat berpikir arfi adalah sosok malaikat penyelamatku malam ini. tapi kurasa pikiranku keliru. aku segera mengenakan pakaianku. ku lihat pak theo sudah tidak ada diruangan ini.

Begitu sampai dilobby aku melihat arfi yang sedang duduk membelakangiku. aku duduk disebelahnya sepertinya dia tidak sadar kehadiranku.

“Terima kasih” ucapku. Arfi hanya melirikku sekilas

“untuk apa?”

“untuk yang tadi”

“aku tidak melakukannya secara gratis”

Holly shit!

“baik, jadi apa yang harus aku lakukan untukmu”

“aku menebusmu tidak murah”

“ya aku tau. jadi apa yang harus ku lakukan?”

arfi menatapku. ini pertama kalinya aku menatap matanya secara dekat.

“Hal yang harus kau lakukan adalah temani aku sampai aku selesai membaca majalah ini. pesan apapun minuman yang kau mau”

‘What?!!?’

aku membelalakkan mataku. apa yang ku dengar barusan bukan seperti seseorang yang telah membeliku.

“apa ada yang salah?” tanya arfi tanpa menatapku

aku hanya menggelengkan kepala. aku menyandarkan tubuhku pada sofa. helaan nafasku keluar begitu saja. sebenarnya apa yang dia inginkan dariku.

arfi menutup majalahnya.

dia berdiri dan beranjak tentu aku mengikutinya biar gimanapun dia adalah tuanku malam ini.

langkah arfi terhenti saat sampai didepan pintu dia berbalik dan menatapku. tatapan seperti biasa tatapan yang seolah melucuti pakaianku saat itu juga.

“kau milikku selama sebulan kedepan. jadi selama sebulan kedepan kau tak perlu repot repot kembali kesini”ujarnya langsung berbalik badan meninggalkan ku yang masih mencerna ucapannya.

Aku tidak tau dia siapa. beberapa yang ku tau adalah dia orang kaya dan dia gila! tarifku semalam 20juta dan dia membeliku selama 30hari? Dan barusan dia hanya menyuruhku menemaninya membaca majalah.

Oh god makhluk seperti apa dia ini. perasaanku mulai tidak enak dengan orang ini.

***

Aku mengulet saat terbangun dipagi hari. tidur nyenyak sekali malam ini. Aku tidur diapartement arfi dia yang memintaku karena aku lelah berdebat dengannya aku putuskan untuk mengikuti kemauannya. Tapi sepertinya dia tidak tidur bersamaku malam tadi. Aku mendengar suara pintu luar ditutup dan dikunci sebelum aku benar benar ke alam mimpi

tunggu

Aku langsung beranjak dari kasur untuk memastikan sesuatu. Dugaanku benar dia menguncinya dari luar artinya aku harus diam disini menunggunya entah kapan dia pulang. menonton tivi bukan ide yang buruk sepertinya

Jam sudah menunjukkan pukul 10 pagi. aku menuju dapur untuk melihat apa yg bisa aku masak. Sial! ini seperti penjara kulkasnya hanya berisi minuman soda tanpa ada makanan apapun bahkan mie instan pun tidak ada. dia ini makhluk macam apa sih

krek

“sedang apa kau?” aku terkejut baru saja aku mendengar suara pintu dan dia kini sudah berada diambang pintu dapur.

“Aku sedang mencari bahan makanan. ada yang bisa ku masak?”

Arfi hanya menatapku datar. kenapa dia apa aku terlihat aneh? Oh my! aku masih mengenakan piyama tipis dan aku tidak menggunakan pakaian dalam.

“Mandilah, ganti bajumu, kita cari makan diluar” ucapnya sambil berbalik meninggalkanku.

Disinilah kami. bukan sebuah restoran mewah memang. makanannya pun masakan tradisional. Arfi bilang dia berjiwa cinta tanah air entahlah dia yang terlaku cinta tanah air atau dia pelit. Melihat cara pakaiannya dan kendaraan yang dia gunakan sangat tidak cocok kami berada disini

“kau tidak makan?”

aku menoleh padanya. Aku mengambil sendok dan mencicipi salah satu masakan

“rasanya enak bagiku. tapi jika kau tidak suka ya itu masalahmu” kembali dia menyantap makanannya dengan rakus.

uh ingin sekali aku menumpahkan semua sayur diatas meja ke mukanya. Mau tidak mau aku harus memakannya

**

Diperjalanan aku tidak berniat membuka suaraku. hanya ada musik yang terdengar. tiba tiba arfi membelokkan mobilnya ke sebuah restoran. serius dia ingin makan lagi setelah 3 piring dia habiskan tadi?

“cepat turun” ucapnya. dia turun lebih dulu. aku mengikutinya dari belakang. apa yang dia mau sebenarnya

“pesan apapun yg kau mau. aku menunggu dimeja sana. jangan lupa dibungkus aja makan di apartemenku”

mendengar itu mataku langsung berbinar. Aku menatapnya memastikan ucapannya

“Cepat sebelum aku berubah pikiran” aku terkecat langsung menuju meja pemesanan.

bukan aku rakus tapi tadi makan sebelumnya aku hanya menghabiskan 3 suap saja. aku tidak suka masakan sunda padahal aku juga ada darah sundanya. Perduli apa yang penting perutku kenyang dengan makanan manusiawi bagi standar lidah dan lambungku hehe

**

Kenyang juga akhirnya. Aku menghabiskan 3 burger 2 porsi kentang goreng dan 1 porsi pasta. Aku memperhatikan sekeliling aku lupa saat aku makan aku tidak melihat dimana arfi berada. Aku berkeliling mencari keberadaannya. Saat akan membuka pintu kamar mandi aku mendengar suara suara tidak asing bagiku. Tunggu.. ku tajamkan pendengaranku.

Tidak salah lagi dia sedang melakukan itu.

Kreek

Pintu terbuka tiba tiba. Aku terkejut bukan main arfi menatapku menyelidik. Alisnya terangkat satu. Aku menelan ludahku

“Apa yang kau dengarkan?” ucapan arfi membubarkan lamunanku. Arfi menatapku dengan tajam. Oh tidak apa yang harus ku jawab

“Apa aku ganggu kesenangan kamu?” Hanya itu yang bisa aku ucapkan. Dia mendekatkan wajahnya padaku.

“Menurutmu apa yang ku lakukan didalam?” Tanyanya. Aku meneguk ludahku.

“Kau.. sedang… memuaskan dirimu… sendiri…” ucapku terbata tanpa berani menatap matanya.

Heran. Ini pertama kalinya aku tidak berani menatap seorang pria. Dia mendekatkan wajahnya ke wajahku. Dapat ku rasakan deru nafasnya aku memejamkan mataku. Aku sudah siap apa yang akan arfi lakukan padaku.

“Kita ke dokter siang ini untuk mengecek kesehatanmu” ucapnya berbisik dikupingku selanjutnya dia pergi meninggalkanku.

No prob aku sering mengecek kesehatanku dan hasilnya selalu baik. Aku melakukan itu dengan bersih dan selalu menggunakan pengaman pada client client ku. Mungkin dia akan mencobaku oleh sebab itu dia ingin memastikan aku bersih.

Sesuai janji siang ini aku dan arfi sudah berada dirumah sakit. Dia bilang punya kenalan dokter kesehatan disini. Aku sih manut aja cuma bingung aja kenapa sudah berjalan hampir 10 hari dia baru mengecek kesehatanku.

“Selamat siang pak. Ada yang bisa dibantu?” Tanya suster saat kami sudah sampai loby

“Dokter shinta. Dia ada diruangannya?”

“Maaf pak. Dokter shinta hari ini izin ada urusan keluarga”

“Apa?!!”

Aku terkejut saat arfi berteriak

“Saya sudah membuat janji dengannya kemarin”

“Maaf pak atas nama siapa ya?”

“Julia”

“Benar pak. Memang ada jadwal pemeriksaan dokter Shinta pada pasien bernama julia tapi disini dialihkan pada dokter Anton pak sehubung dokter Shinta tidak bisa datang dijam yang dijanjikan”

Aku melihat arfi mengerang frustasi. Aku mengusap pundaknya dia menatapku. Sebisa mungkin aku berusaha memberinya ketenangan.

“Dicancel aja” ucap arfi langsung menarikku keluar rumah sakit. Dia menghubungi seseorang

“Dimana kau?”

“…”

“Aku sudah datang hari ini dijam yg kita janjikan kemarin”

“…”

“Apa kau pikir aku rela dia disentuh pria lain lagi? Aku menghubungimu agar kau bisa memeriksanya karena kau dan dia sama sama wanita”

Aku menoleh cepat ke arah arfi. Apa yang dikatakannya benar?. Aku tidak percaya jika tidak mendengar langsung. Aku tidak lagi mendengar ucapan arfi dengan seseorang disana. Ucapannya yang singkat mampu membuat pikiranku penuh tanda tanya.

“Ayo kita ke mall dekat sini. Kita beli pakaian untukmu. Selain itu ada yg ingin aku bicarakan”

Arfi menarik tanganku. Dia menggandeng tanganku sepanjang perjalanan. Dia ini apa apaan sih. Didalam perjalanan aku masih disibukkan dengan pikiranku. Memikirkan apa yang arfi ucapkan pada temannya beberapa waktu lalu.

Apa maksudnya dengan tidak membiarkanku disentuh oleh lelaki lain. Inikah alasannya menebusku dari pak theo malam itu. Tapi kenapa?

“Gak usah lirik lirik begitu” aku terkesiap dan mengalihkan pandanganku ke depan.

Sebisa mungkin menutupi kegugupanku yang tertangkap basah sedang memperhatikan wajah sampingnya.

“Kita sampai. Cepat turun”

Aku segera turun dari mobil dan mengikuti langkahnya. Didalam mall arfi langsung mengajakku ke toko baju.

“Dengar, kau beli pakaian untuk dirumah dan untuk berpergian. Pilih pakaian yang tertutup jangan yang kurang bahan. Aku menunggu disana” dia menunjuk spot dimana para pria menunggu para wanita berbelanja. Aku menganggukkan kepala dan melangkah masuk ke dalam.

Setelah beberapa potong pakaian rumahan dan untuk berpergian aku ke meja kasir.

“Semua jadi empat belas juta tujuh ratus”

Aku membelalakkan mata. Aku harus bayar dengan apa. Aku menoleh kebelakang mencari keberadaan si empunya titah. Dia menghilang kemana dia lalu siapa yang akan membayar ini.
Melihat gelagat tidak beres padaku segera aku memutar otak.

“Maaf mba, disini toilet dimana ya”

“Mba keluar lalu belok kanan lurus dipojok itu toiletnya mba”

Tanpa berkata lagi aku langsung ngibrit. Sebenarnya tujuanku bukan toilet melainkan untuk melarikan diri dari mba kasir. Arfi sialan dia yg menyuruhku belanja tapi dia yang pergi. Memang dia tidak bilang akan membayar semua belanjaanku tapi kan itu perintah dia.

Dengan lesu aku berjalan sendiri menuju rumahku. Mungkin ini perpisahanku dengan arfi. Si pria nyebelin yang rela membuang uangnya hanya untuk hal hal aneh.
Tin tin

Aku menoleh kebelakang sebuah mobil sedan menuju ke arahku. Tidak aku belum siap untuk ditawar. Aku melepaskan heelsku dan bersiap lari. Tapi mobil itu tetap mengikutiku kini malah mengklakson lebih keras. Aku berusaha menengok ke belakang seketika ku hentikan lariku. Aku berbalik dan mobil itu sudah ada disampingku

“Kau gila ya lari lari malam malam begini kaya banci saat dirazia aja” semprotnya padaku. Sialan aku dibilang banci aku kan cantik begini

“Cepat masuk!!” Bentaknya. Aku langsung menuju pintu samping kemudi

“Tadi kau kemana bodoh?”

“Kamu yang bodoh aku ditinggal sendiri. Kamu sengaja ya bikin malu aku?”

“Aku tadi ke toilet. Saat kembali aku mencarimu dan kau gak ada. Kasir bilang kau ke toilet”

Aku diam mendengar penjelasannya. Harusnya aku menghubunginya dulu. Julia bodoh

“Kau lapar?” Tanyanya.

“Tidak sama sekali” jawabku. Jika aku jawab lapar maka dia akan mengajakku ke tempat makan yang tidak sama sekali aku sukai masakannya

Kriuukk

“Perutmu tidak bisa mengikuti lidahmu”

Memalukkan sekali kenapa keadaan mobil sunyi jadi terdengar kan suara perutku. Berlari beberapa meter saja sudah lapar lagi dasar payah

“Aku tidak lapar. Aku ingin diet” ucapku

“Aku tidak akan mengajakmu makan ke tempat yang menunya kau tidak sukai. Kau mau makan dimana?”

Baik sekarang aku lapar. Dia ada benarnya lidahku ingin diet tapi perutku tidak

“Bisa kita ke steak41 aku ingin makan daging”

Arfi mengangguk kepala. Sungguh? Dia tidak berdebat seperti beberapa hari lalu saat aku menentukkan sesuatu? Oh ini baru manis senyumku mengembang membayangkan sebuah beef steak masuk ke tenggorokanku. Eh tapi tunggu aku harus memastikan sesuatu

“Tapi kamu yang bayar” ucapku. Arfi hanya menoleh padaku sekilas

“Kau yang menentukkan kau yang bayarlah” jawabnya dengan sangat enteng. Gusti~ nampol orang sekali boleh gak sih?

“Tidak jadi. Aku bisa masak mie instan dirumah” ya setidaknya aku tidak kelaparan malam ini.

Arfi terkekeh mendengar jawabanku dia tersenyum dapat ku lihat dari wajah sampingnya

“Bodoh. Aku tidak ingin terkena usus buntu jika makan mie instan” aku mendelik padanya

“Yang bilang masakin kamu siapa? Terlalu percaya diri kamu itu ih”

Dia tertawa sekilas dan mengacak rambutku. Aku tertegun mendapat perlakuan barusan darinya. Selama aku pindah ke kota belum pernah ada yang memperlakukan aku seperti itu. Pikiranku kembali teringat saat arfi menghubungi seorang temannya dan membatalkan janji cek kesehatan dengan seorang dokter lelaki

“Baik, kita sampai cepat turun”

Aku turun tapi tanganku tertahan.

“Ini tidak gratis. Malam nanti aku akan meminta imbalan padamu. Bersiap siaplah” ucapnya.

Kenapa dia kau tidak melakukan itu dari awal sih! Moodku kembali turun hatiku mencelos ku pikir arfi berbeda dengan pria lain tapi lagi lagi hanya pikiranku saja.

***

Pagi pagi sekali aku mendengar ketukan pintu yang gak selow sekali. Aku berusaha bangkit dari tempat tidurku. Eh tunggu, arfi tidak ada itu artinya pintunya terkunci. Ah sial aku terkunci lagi.

Ketukan dipintu semakin keras. Tangannya batu atau besi sih sekeras itu kan ada bel apa dia bodoh ya

“Arfii!! Keluar kamu!! Ini aku farin!! Buka pintunya!!”

Orang gila berteriak teriak didepan pintu apartement orang lain. Aku harus apa ini. Sembari aku memikirkan sesuatu aku duduk disofa.

“Arfi kalo kamu gak keluar aku dobrak pintunya”

Coba saja jika bisa.

Druaakk druakk

Aku penasaran dengan wanita ini. Tadi mengetuk pintu kelewat kencang sekarang dia berusaha mendobrak pintu apartement.

“Arfiiiii!!!!”

Arrrgghh berisik sekali sih

“Arfinya gak ada!!!” Teriakku tidak kalah keras.

Diam tidak ada suara lagi dari luar. Mungkin dia sudah pergi. Saat aku beranjak dari sofa menuju kamar mandi wanita itu kembali berulah

“Heh jalang! keluar kau dari apartement kekasihku! Kau apakan kekasihku hah!!”

Ingin sekali aku sumpal sabun cuci mulutnya. Jelas jelas arfi yang mengunciku didalam kenapa disini seolah aku pelakunya? Tapi tunggu. Dia bilang kekasihnya, Arfi punya kekasih? Seketika aku termenung diam. Aku gelengkan kepala ku keras lalu menuju kamar dan menguncinya.

Aku menghubungi arfi saja biar dia yang urus wanita gila diluar sana bukankah dia bilang tadi dia kekasihnya.

“Hallo arfi.. dimana?”

“…”

“Heh arfi..”

“…”

“Kamu lagi dimana arfi? Di apartement ada tamu mu nih”

“Siapa?”

Akhirnya bersuara juga. Aku tarik nafas dalam

“Farin. Dia mengaku kekasihmu. Dia terus berteriak teriak diluar sana”

“…”

Diam lagi. Dia bisu ya atau stroke

“Hey.. Arfi-”

“Diemin aja. Jika mengganggu hubungi keamanan suruh bawa wanita itu keluar”

Tut

Dia memutuskan sambungan teleponku. Dia ini menyebalkan sekali sih bisa bisa nya santai dalam keadaan seperti ini. Daripada repot harus menelpon keamanan ku biarkan saja dia berteriak sesuka hatinya diluar. Lebih baik aku mandi.

Oh ya ngomong ngomong kalian mau tau imbalan yang dimaksud arfi atas traktirannya semalam? Ku yakin kalian takkan mengerti jalan pikirannya.

Menurut kalian apa yang diminta lelaki pada wanita “malam” sepertiku saat dimintai imbalan? Jika kalian berpikir sesuatu yang “jorok” maka kalian salah besar. Aku juga berpikir begitu tapi ternyata dia hanya memintaku menemaninya bermain ps semalam. Aneh kan(?) Ya memang aneh dia. Ceritanya sudah ya aku mau mandi dulu. Byee~~

Bersmabung