Tanpa Nama S2 Part 9

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 9 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 8

Pamer

POV Hari

“Kenia??” Gumam gue cukup keras.
“Oh, kenal rupanya.” Bos mereka mendengar ucapan gue.

Gue gak membalas lagi. Gue sadar gumamam tadi bisa memperparah keadaan. Mental para densus kini juga pelan-pelan menciut. Senjata-senjata mereka yang tadi teracung perlahan diturunkan. Selain itu, gak ada satu komunikasi pun yang bisa terhubung dari luar sana.

“Jawab gue, monyet! Kalian saling kenal?” Si bos menggertak.

Gue membalas dengan hanya sebuah anggukan. Kenia di seberang sana hanya bisa menahan tangisnya. Hidungnya berkali-kali menghisap apa yang semestinya keluar dari hidung. Kenia, menurut gue, bahkan terlalu takut untuk bisa menangis di hadapan orang yang menyanderanya.

Bagaimana Kenia bisa sampai di tangan musuh kami. Padahal, sejak kami sampai tadi, Kenia tetap berada dalam pengawasan di dekat mobil barakuda. Berbagai macam teori melintas satu demi satu, mulai dari adanya mata-mata di antara kepolisian, sampai sesuatu yang berbau mistis.

Mistis tetaplah mistis. Hampir mustahil untuk bisa terjadi saat ini. Akan tetapi, setelah banyak yang gue lalui, hal-hal mistis bisa masuk perhitungan gue yang paling terakhir. Setan misalnya, atau inhuman.

“Hahaha, kalo gitu gue simpen lo buat yang terakhir.” Tunjuk si penyandera ke gue.

Masing-masing anggota kami mulai lemas usai senjata mereka dilucuti dan tangannya diikat. Sebagian lagi mulai banyak berdoa. Selanjutnya, bos mereka menyuruh salah satu rekan kami untuk memisahkan diri. Kami tahu kami akan jadi kambing-kambing percobaan yang akan dipertontonkan, dan kami gak sanggup berontak sekarang.

Kami digiring berjalan menghadap sebuah kios dan bersandar pada kios lainnya. Tak lama kemudian, tembok rapuh dibobol dengan sebuah pistol gajah. Dari sini, kami tau senjata yang mereka pakai sudah modifikasi. Seenggaknya, proyektil peluru-peluru mereka merupakan campuran barang alien.

Langit biru yang berawan menyilaukan pandangan kami. Inilah dia, pertunjukan mereka mau dimulai. Gue jelas gak bisa berdiam diri. Gue harus menyusun rencana melarikan diri.

“Maju lo!” Seorang musuh menggiring seorang rekan kami, si Alap.

Helm, masker, dan sarung tangannya udah dilucuti. Dia digiring menuju ujung tembok yang hancur. Satu langkah lagi, maka dia akan terjun bebas ke tanah. Gue yakin di bawah sana, para penolong belom siap dengan balon-balon udara atau trampolin.

“Please.. Please.. Ampun..” si Alap menciut.

Seorang musuh kami yang lain ikut datang dengan mengacungkan senjata yang gak lazim. Ujungnya mekar seperti terompet dengan polesan perak. Beberapa kabel terhubung antar komponen. Benda itu terlihat seperti belum selesai dirakit atau mungkin masih berupa prototype.

“Ampun.” Rekan kami memelas.

Bukan pengampunan, tapi sebuah tonjokan diterima dihidung si Alap. Beruntung dia gak berhidung mancung, so, gak akan merasakan sakitya patah tulang hidung. Sayangnya, mereka belum puas sampai situ. Si Alap ditendang jauh ke depan.

Dia terjun! TERJUN BEBAS!

Teriakannya menggema sampai seantero gedung, disusul suara histeris masyarakat yang ada di bawah sana. Sedetik kemudian, pelatuk senjata berbentuk terompet ditarik. Gelombang berwarna ungu dan merah muda terpancar lagi. Setelah itu, entah apa yang terjadi pada rekan kami.

“HAHAHAHA.” Si bos ketawa keras.

Gue memandangnya penuh dendam. Lalu, muka gue ditonjok.

“Kalian mau tau teman kalian kenapa?” Tanya si bos.

Gak ada jawaban.

“Teman kalian gak sampai ke tanah, hebat kan?”

Menyimak pernyataan tersebut, gue tau rekan kami bukan secara tiba-tiba punya kemampuan terbang. Dia pasti terbakar, hangus, lenyap, bisa jadi atau gosong menjadi abu. Jangan sampai lupa, mereka punya niatan ingin pamer di depan masyarakat umum.

“Kalian pikir kami bakal ketangkap abis ini? Nggak! Kita bakal menghilang!” Si bos berceramah.

Selama musuh kami berceramah, gue melirik ke seorang rekan di sebelah kanan. Dia rupanya diam-diam menggenggam silet untuk berusaha melepas ikatan. Sesaat gue bisa memprediksi bahwa kami punya harapan selamat. Kemudian, gue memberi kode lirikan mata padanya untuk meneruskan pekerjaan, saling mengoper silet kepada rekan lainnya, sementara gue mengulur waktu si bos.

“Kalian gak akan pernah menang.” Gue memotong ceramahnya.
“Apa kata lo tadi?” Si bos tersinggung.

Gue tersenyum sinis.

“Pernah denger Avengers? Oh, pasti tau kan, orang-orang hebat. Punya kekuatan super.” Gue menatapnya dalam-dalam.

Gue mengintimidasinya dengan menyebut organisasi Avengers. Bagaimana Avengers bisa menghadapi musuh-musuh yang turun dari langit, membuat robot dengan kecerdasan buatan, meluluhlantakkan Negara Sokovia dalam hitungan jam, dan menghancurkan bandara di Jerman.

Belum puas, gue juga menyebut organisasi A.T.C.U., organisasi di bawah PBB dan di bawah Sokovia Accords. Mereka merupakan tim tanggap setelah orang-orang S.H.I.E.L.D. menghilang. Mereka bisa mengendus ancaman dari jarak sejauh apapun dan dari negara manapun.

Inilah dia pertunjukkannnya. Gue menyebut bahwa beberapa anggota A.T.C.U. merupakan inhuman yang teregristrasi dalam Sokovia Accords. Gue pun yakin, dia udah tau kalo guelah inhumannya. Gue udah menunjukkan kekuatan sejak tembak menembak di tangga darurat. Toh, ini cuma strategi mengulur waktu.

“Gue tau lo inhuman. Inhuman lemah.” Balas si bos.

Kenia menoleh.

“Inhuman lemah yang gak bisa nolongin temannya sendiri.” Si bos balik melawan perang psikis ini.
“Masa? Liat lagi. Liat sama mata lo sendiri.” Gue membalas.

Kepala gue bergedik ke arah lubang di tembok yang mereka buat. Secara tersirat, gue menyuruhnya melihat korban pertunjukkannya tadi, si Alap. Gue berupaya bermain dalam otaknya untuk meyakinkan bahwa rekan kami belom mati.

Dia pun masuk perangkap. Si bos berjalan ragu ke panggung eksekusi. Dia menyodorkan kepalanya untuk memastikan korban pertamanya memang hilang. Memang begitu kan kenyataannya.

“SEKARANG!”

Gue memberi teriakkan lantang. Seluruh anggota densus 88 yang tersisa serentak berdiri dengan tangan yang sudah lepas dari ikatan. Mereka masing-masing menyergap dan berkelahi jarak dekat satu lawan satu dengan musuh kami. Pun, mereka tahu harus sebisa mungkin berusaha menjatuhkan senjata yang dipegang musuhnya pada kesempatan pertama.

Gue ikut berdiri dengan tangan masih terikat, menarik Kenia menjauh dari zona perkelahian. Kami lalu berdua, berlarian di antara kios-kios. Sayangnya, kami telat bersembunyi. Si bos melihat kami kabur.

“Kita harus keluar dari sini.” Gue membimbing Kenia.
“Mau ke mana, Hah?!” Si bos mengejar kami.

Kami berlarian di antara lorong-lorong, mencari jalan menuju tangga darurat. Pistol si bos teracung berkali-kali. Beberapa kali pula lesatan peluru hampir mengenai kami. Semakin banyak kami berlari, semakin banyak kios yang pintunya bolong. Kadang kami mendengar bunyi kaca pecah dari dalam kios yang tertembak.

“Kak…” Kenia gemetaran.
“Tenang, Ken. kita pasti selamat.” Gue meyakinkan.

Sekarang kami hampir sampai di tangga darurat. Kami tinggal berlari lurus menuju pintu tangga darurat tersebut. Tapi, si bos juga langsung muncul dari arah belakang. Dia menembak berkali-kali. Gue menegakkan tangan gue, berusaha menahan energi kinetik peluru yang jalurnya tepat mengarah kepada kami.

Fokus gue ada pada si bos, sementara Kenia berlari di depan menuju tangga darurat. Kami pasti akan lebih aman setelah sampai sana. Akan tetapi, tepat di depan tangga darurat, musuh-musuh yang tadinya tertangkap di lantai bawah seketika datang.

“HAHAHA!” Si bos beruara lantang.

DORR!! DORR!! DORR!!

Tiga tembakan pertama mengenai badan Kenia. Dia seketika rebah gak berbaya, tertopang dengan badan gue yang masih berdiri. Gue langsung memasang kuda-kuda untuk bertahan dari banyaknya tembakan yang berkelanjutan di dua sisi. Tangan gue teracung. Sementara itu, darah Kenia bercucuran dengan sangat deras, disusul muntah darah. Matanya semakin sayu menatap mata gue.

“Nggak!! Nggak boleh!! Kamu gak boleh mati.” Gue gantian gemetaran.
“Minyak.. ikan.. Minyak…” Kenia meracau.

Gak ada minyak ikan. Gue gak bawa minyak ikan. Benda ajaib pemberian Lina itu teringgal di rumah. Tertutup rapat di atas lemari di kamar nyokap. Gak ada harapan sama sekali. Gue pun gak berdaya.

Dentingan selongsong peluru berbunyi nyaring berbenturan dengan lantai. Kenia merogoh rompi dan celana gue. Dia mencari di setiap kantong yang ada, berburu dengan waktu dan darah yang semakin habis dari dalam tubuhnya. Gue berpasrah diri. Gue pun gak bisa bergerak, kedua tangan masih terbentang keras menyerap energi dari rentetan tembakan.

“Ini…” Kenia menemukan sesuatu.

Kenia menemukan dompet gue. Dia mengeluarkan dompet gue, mencari sesuatu di sana.

Ada minyak ikan! Secara ajaib, ada satu kapsul minyak ikan terbungkus kertas di salah satu bagian dompet yang jarang gue jamah. Kenia pasti menyembunyikannya di sana entah sejak kapan. Kemudian, secepatnya, Kenia menjatuhkan dompet gue, lalu menelan kapsul minyak ikan itu bulat-bulat.

Kenia terjatuh, badannya masih bersimbah darah.

“Nyari mukjizat, Hah?” Si bos berbangga di ujung lorong.

Gen inhuman dalam diri Kenia gak terekspresi.

Selesai udah. Kenia meregang nyawa.

Gue marah, tapi gak bisa berbuat apa-apa.

Seseorang menyentuh kepala gue dari belakang. Rambut gue dijambak kuat-kuat. Inilah saatnya gue melakukan perkelahian jarak dekat yang membabi buta. Gue menepis jambakan itu, lalu mundur beberapa langkah. Tangan kiri gue terangkat untuk menahan sisa-sisa peluru yang masih bisa mereka tembakkan.

Gue maju, mereka maju. Perkelahian jarak dekat adalah favorit gue sejak beberapa waktu belakangan. Gue bisa menyerap setiap energi dari pelepasan ikatan trifosfat dari sel tubuh lawan sesuka hati. Telapak tangan, siku, dada, dan lutut adalah bagian-bagian yang paling mudah didekati.

Dengan lihai gue berhasil menjatuhkan genggaman pistol-pistol mereka. Satu demi satu tangan mereka lemas. Kemudian, kaki-kaki mereka menjadi target selanjutnya. Otot mereka pun fatik dalam waktu singkat. Gue menang. Gue gelap mata. Gue membunuh mereka semua sampai mati lemas.

Enam orang tewas di tangan gue selama kurang dari 10 menit.

Gue dan si bos kini berhadapan dari ujung lorong ke ujung lainnya. Gue bersumpah akan membunuhnya hari ini!

Kami saling berlari. Perkelahian satu lawan satu merupakan hal klasik dalam film-film. Apalagi kalau berhadapan secara terbuka. Di film masa kini, biasanya salah satu pihak memiliki strategi licik yang kapan pun bisa dimanfaatkan untuk mendapatkan kemenangan.

Buat gue, kecurangan gak berlaku untuk kali ini.

Sambil berlari, jarak antar kami berdua tinggal beberapa meter. Lalu, tiba-tiba gemuruh langkah kaki bala bantuan densus 88 anti teror memenuhi lantai teratas mall ini. Dalam keadaan tercengang, langkah kaki gue berhenti.

Densus 88 menyisir ruangan untuk membantu rekan-rekannya yang sedang berkelahi. Sepersekian detik kemudian, si bos bunuh diri dengan menodongkan pistol ke mulutnya sendiri.

“Lewat sini.” Gue dibisiki seseorang.
“Kenapa nih?”
“Di depan banyak wartawan.” Bisiknya lagi.

Gue diajak kabur dari TKP oleh seorang anggota densus yang baru datang. Dia masih memakai helm dan masker sehingga gue gak bisa melihat wajahnya. Gue gak bisa berpikir jernih, sementara itu, gue terus dibimbing kabur tak terdeteksi hingga sampai basement.

“Keluar lewat kanan, ikutin rel kereta sampe pinggir kali. Temen lu nunggu di sana.” Katanya.
“Adek gue gimana?”
“Jemput di RSCM ntar.” Perintahnya.

Rupanya benar, Dani telah menunggu dengan sebuah motor di tempat yang dijanjikan anggota tersebut. Gak ada pembicaraan di antara kami berdua. Dani terus fokus mengemudi dengan gue yang menangis di jok penumpang. Kami langsung ke RSCM.

    

POV Erna

Gue meniriskan mie rebus, menyajikannya dalam sebuah mangkuk kecil. Gue berjalan dengan aroma mie rasa kari ayam yang menggoda. Kemudian, gue duduk di sofa.

“Tumben pulang.” Gue ngeledek kakak gue.
“Berisik nian lah kau.” Kakak gue jutek.
“Seorang Erwan nan gagah, takluk di tangan alien.”

Gue memutar-mutar garpu menghadap langit-langit. Kakak gue duduk di bawahnya sambil memencet remot tivi sembarangan.

Sore ini kami berdua ada di rumah, minus nyokap yang memutuskan berjaga sampai besok. Nyokap gue bertitah harus menceritakan semuanya ke kakak gue. Jadilah kami sekarang di rumah, di tempat yang aman tanpa telinga-telinga lain.

“Cerita, Na. Please.” Kakak gue memohon.
“Ntar, gue makan dulu. Laper.”

Tiba-tiba hape gue bergetar. Dani menelepon. Suaranya lemah dan banyak sekali suara berisik di seberang telepon sana. Kabar selanjutnya yang gue dengar adalah Kenia wafat.

“Kak, gue pergi dulu.” Gue berlari mengambil kunci motor.
“Lu janji mau cerita.” Kata kakak gue.
“Iya, ntar. Sekarang adeknya temen gue meninggal.”

Kakak gue berhenti bicara.

“Tunggu gue ntar malem, atau besok.” Gue berjanji.

Gue mulai merasa kasihan dengan betapa depresinya kakak gue. Selain itu, nyokap udah menyuruh gue untuk jujur. Semoga dengan cerita nanti, semua hal tetap bisa baik-baik aja di keluarga ini.

Selama perjalanan di atas motor, gue membayangkan kenapa kejadiannya bisa sampai begini. Kenia ikut kakaknya karena merasa akan lebih aman daripada ditinggal sendiri di rumah. Tapi kejadiannya sekarang dia malah tewas akibat ikut kakaknya.

Bukan salah kakaknya, pikir gue. Ini pasti takdir. Hari pasti lebih terpukul dari pada gue. Dia kehilangan dua anggota keluarganya dalam waktu seminggu. Apalagi, dua-duanya didalangi oleh perusahaan pengembang untuk menandingi alien. Hari harus ditenangkan, apalagi urusan mentalnya. Gue harus mengenyampingkan kejadian dia nyaris memerkosa gue. Itu juga bukan salahnya. Tersangka asli udah ditangkap dan dibawa ke Asgard.

Gue langsung memeluk Dani sesampainya di RSCM. Ramai sekali di sini, didominasi wartawan dan keluarga polisi korban kejadian terorisme.

“Hari mana?” Tanya gue.
“Di dalam.” Dani menunjuk kamar mayat.

Gue gak berani masuk sana. Ini waktunya Hari untuk dibiarkan menyendiri, atau berdua dengan Kenia secara tersirat. Sebagai gantinya, gue meminta kronologis kejadian di sana.

Dani bercerita kalau dia kehilangan Kenia yang tadinya diamankan di mobil barakuda. Selanjutnya, ada anggota densus yang dilempar terjun bebas dari lantai atas, ditembak, lalu menjadi abu. Terakhir, seorang anggota densus bermasker dari kelompok yang baru datang menyuruhnya pergi dengan motor pinjaman untuk menunggu Hari keluar dari arah berbeda.

Dani sadar konsekuensinya kalau mereka sebagai wakil A.T.C.U. akan dicari kepolisian untuk dimintai keterangan. Tapi, itu masalah nanti. Dani lebih khawatir kalau petinggi A.T.C.U. yang menelepon. Tanpa disuruh, gue ikut mencarikan alasan yang logis untuk laporan.

Dani merogoh sakunya. Dia menunjukkan sebuah selongsong peluru dalam plastik ziplock. Selongsong tersebut memiliki watermark yang terbaca jelas.

“Gue udah yakin siapa dalangnya.” Kata Dani

Dugaan kami tadi pagi benar. Hammer Tech merupakan pelaku dibalik kejadian ini.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22