Tanpa Nama S2 Part 7

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22

Cerita Sex Dewasa Tanpa Nama S2 Part 6 – BanyakCerita99 – Cerita Sex Dewasa Bersambung – Cerita Sex Terbaru – Cerita Dewasa Terbaru – Cerita Bersambung

Cerita Sebelumnya : Tanpa Nama S2 Part 6

Akhirnya Tugas Datang

POV Dani

Matahari udah terbit sejak sejam yang lalu, hingga menerobos melalui jendela kamar Hari. Terangnya memantul dari lantai keramik putih. Si pemilik kamar masih tidur. Beberapa saat setelah mengerjapkan mata, barulah alam logika gue kembali ke dalam kepala.

Tadi malam gue dan Hari ketahuan bercinta ria di samping sofa, di lantai yang dingin. Erna dan Kenia sama-sama ngelihat dengan mata kepalanya sendiri. Setelah itu, kami berdua kabur tanpa suara dan masuk kamarnya Hari. Kami buru-buru tidur untuk mengurangi rasa malu akibat ketahuan.

Pagi ini, gue harus ngejelasin semuanya kepada mereka berdua. Gue pun pergi ke kamar mandi lebih dulu. Disana, gue melewati Erna dan Kenia yang lagi sarapan bubur ayam sambil nonton tivi.

“E-Ehm..” Gue berdehem.

Gue mencari-cari perhatian sekembalinya dari kamar mandi.

“Ken, cuci mangkoknya gih.” Erna bertitah pelan.

Kenia mengangguk. Situasi super canggung langsung tersebar seantero rumah. Gue harus membuka pembicaraan supaya kejadian semalam bisa diselesaikan dan muncul solusi untuk bersama.

“Semalem…” Kata gue.
“Kenapa sih?? Kenapa bisa??” Erna langsung memotong.

Gue menarik nafas panjang, dari hati lepaslah rasa syukur karena Erna masih mau bicara sama gue. Dulu, waktu SMA, gue pernah punya temen yang kalo marah gak pernah mau ngomong. Semuanya seakan harus bisa berkomunikasi lewat telepati. Siapa yang bisa bertelepati dengan frekuensi yang sama, maka dia bisa berbaikan. Kalau nggak, temen gue itu gak akan ngajak bicara lagi sampe lulus.

Jadi, pagi ini seenggaknya langkah pertama penyelesaian masalah terlewati dengan lancar.

“Ceritanya panjang.” Gue penuh percaya diri memulai penjelasan.

Gue menceritakan semuanya, sejak bagaimana Hari kehilangan Puri sebegitu sengsaranya. Lalu, kami melampiaskannya satu malam penuh bergumul berdua untuk melupakan kejadian di Tonga. Sejujurnya, setelah itu Hari gak mau mengulangi kejadian yang sama. Katanya itu salah, apalagi gue secara tersirat juga memiliki peran sebagai mantannya Eda.

Pertanyaan selanjutnyalah yang gue gak bisa jawab.

“Gue nanya, tadi malem kenapa bisa?” Erna jadi detektif.

Gue gak ngerti harus jawab bagian mananya. Kalau bagian yang gue meladeni maunya Hari, jelas gue masih pengen menikmati selangkangan. Gue cewek, pernah dibelai, dan masih haus belaian. Kali pertama gue dan Hari bergumul di kasur itu sangat berkesan. Dengan sangat jujur gue bilang kalau gue pengen lagi.

Tapi gak mungkin gue jawab begitu ke Erna. Bisa berabe. Jadi, gue mengambil sudut pandang yang lain. Sudut pandang Hari yang kenapa tiba-tiba bisa binal. Apalagi dia mampu bernafsu tinggi sama Erna yang hijaber. Padahal, Erna anak baik-baik, kami semua tau itu.

“Gue gak tau Hari kenapa bisa begitu.” Itulah jawaban pendek gue.
“Gue gak nanya Hari. Gue nanya elu, kenapa mau?” Erna belum puas.
“You know that reason.” Gue mengangkat bahu.

Yes, gue akhirnya berhasil ditelanjangi. Gue harap Erna bisa tau kalo gue memang lagi pengen bermain cinta. Pengen banget. Tapi bukan berarti gue jatuh cinta sama hari. Nggak. Kapal jet gue belum pernah lepas landas lagi hanya untuk menjatuhkan diri ke lembah terdalam bernama cinta.

Erna menghela nafas..

“Tetep ya, gue sumpah jijik sama yang begituan. Lain kali langsung cari kamar. Kunci!”

Erna berceramah layaknya orang sekuler. Gak cocok. Gue mengangguk, mengiyakan sesuatu hal bisa lebih baik untuk membuat situasi kembali cair.

“Soal Hari, gue udah tau penyebabnya.” Erna beralih topik.

Erna menoleh meja kecil di pojokan dinding. Gue melihat batu seukuran biji salak tergeletak bebas. Sebuah batu biasa, mirip batu kali yang ujung-ujungnya tumpul berwarna abu-abu kehitaman. Ukuran batunya pas dalam genggaman, apalagi buat orang-orang yang percaya sebuah batu bisa menahan rasa berak.

Itulah batu yang dilempar Erna jauh-jauh semalam.

“Menurut lu itu apa?” Erna menggedikkan kepalanya ke depan, matanya masih terpaku ke batu tersebut.
“Batu?” Gue bertanya balik.
“Liat lagi.” Balasnya.

Memang ada yang unik. Batu itu berukir huruf ‘Fy’. Sebuah ‘F’ huruf besar dan ‘y’ huruf kecil. Huruf-hurufnya berbelok halus tanpa sudut, tapi gak bersambung satu sama lain. Tanpa ditanya, gue langsung mencari ide tentang huruf itu. Tapi, huruf Fy yang gue ingat dari dulu sampe sekarang cuma ada satu, sebuah simbol persamaan kalkulus.

“Fungsi Y?” Gue bergumam heran.
“Entahlah. Ada lagi yang lu liat?” Jawab Erna.

Gue menggeleng.

“Kalo gue ngeliatnya benda itu berpendar sepanjang waktu.” Jelas Erna.

Erna mengatakan benda itu berpendar dan hanya bisa dilihat olehnya. Kami berdua sepakat bahwa memang kemampuan Erna sebagai perasa frekuensi-frekuensi yang gak kasat mata, dan itulah pembeda kami. Selain itu, batu itu bisa membuat Erna pusing, mual, dan lemas perlahan-lahan bila terlalu dekat. Batu itu juga yang diduga menyebabkan Hari menjadi binal semalaman.

“Kok bisa gitu?” Gue berbalik menjadi detektifnya sekarang.
“Gue mikir semaleman sampe gak tidur. Mungkin ada hubungannya sama pemilik batu ini dan kakak gue.”

Gue belum menangkap analisisnya Erna.

“Kita gak bisa jawab ini sendiri. Sebentar lagi Pur sama Laras sampe kemari.” Erna meneruskan.
“Pur sama Laras mau ke sini?”
“Mereka pasti lebih tau daripada kita.” Jelas Erna.

Usai diskusi yang penuh kemisteriusan ini, gue membeli sarapan sendirian buat diri gue dan Hari juga. Semalaman berpikir keras ternyata bisa membuat Erna lupa juga buat sekalian beliin kami berdua sarapan tadi.

Sepulangnya gue dari tukang bubur, Hari udah bangun. Dia juga udah dijelaskan baik-baik oleh Erna. Sebaliknya, Hari sungguh minta maaf soal apa yang semalam diperbuatnya sama Erna. Kalau gak dicegah lebih lanjut, Hari bisa beneran sembah sujud di kaki Erna.

Waktu gue tanya apa dia ingat semua kejadian, ya, dia lumayan ingat semuanya. Semuanya terekam jelas semalam, kata Hari. Dia bukan mabuk, bukan celeng, bukan juga khilaf. Dia bener-bener merasa seperti dalam masa birahi tertingginya sebagai manusia.

Satu setengah jam kemudian, Pur dan Laras muncul di depan rumah.

“ASTAGA!!” Pur memegang kepala dengan kedua tangannya.

Berbalik keadaan dengan Pur yang berisik, Laras gak bisa berkata-kata. Mulutnya hanya terbuka selebar-lebarnya.

“Kenapa sih?” Tanya gue.
“Iya, ada apa sih?” Kenia ikutan penasaran.

Gak ada jawaban selama lima menit gue dan Kenia bertanya. Pur dan Laras terus memandangi batu itu dari berbagai sudut dan posisi. Berkali-kali mereka mengagumi sebuah batu seukuran biji salak itu. Pur berkali-kali pula berganti posisi dari berdiri, duduk, berlutut, sampai jongkok.

“KALIAN NEMU DIMANAAA?!” Laras akhirnya mengeluarkan kalimat.
“Bukan nemu. Gue nyolong.” Erna menjawab lugas.
“DARI SIAPAAA????!” Laras menuju muka Erna.
“AAAAAAAAAK!!” Erna menjerit.

Laras sekejap meremas kedua bahu Erna. Dia juga mengguncang badan Erna sepenuh hati, seolah beribu jawaban bisa rontok dari kepala Erna semacam biji-biji kapuk. Laras lupa kalo dia makhluk yang kuat, sedangkan Erna inhuman kelas rendahan. Fisiknya Erna masih sama seperti cewek-cewek umum. Begitu diremas dan diguncang seorang alien, rasa sakitnya pasti setengah mampus.

Kami butuh waktu sebentar untuk menenangkan diri masing-masing. Selain itu, yang paling penting adalah bicara jauh-jauh dari batu satu itu. Kalau dekat-dekat, Erna bisa teler dan Hari bisa birahi lagi.

“Oke oke, pelan-pelan, tarik nafas…” Gue membimbing mereka.

Pur dan Laras masih tampak gak sabaran, tapi mereka mulai bisa meredam semangatnya yang membara. Erna dan Hari masih untungnya aman-aman aja. Kenia juga aman. Dia gak diguncang apa-apa selain mentalnya yang masih rapuh karena ditinggal orang tua.

“Sekarang coba jelasin.” Gue mendadak jadi semacam guru meditasi.
“Itu salah satu batu yang kami cari.” Kata Pur.
“Orangnya yang kami cari.” Balas Laras.
“Orangnya cantik.” Timpal Pur.
“Berbahaya.” Timpal Laras.
“Seksi.” Timpal Pur lagi.

Gue buru-buru menghentikan upaya tumpang tindih ucapan-ucapan mereka sebelum kalimat yang lebih ekstrim keluar. Ada bocah di sini. Kenia.

    

“Batu itu punya pacarnya kakak gue.” Erna menjelaskan.
“Batu itu bukan dari bumi.” Laras memotong.
“Pacar kakak lu seksi gak?” Tanya Pur.

Sebelum Pur mulai bertambah parah, gue melotot. Laras langsung mengerti. Dia mengeluarkan sapu tangan berwarna emas dari sakunya, lalu meyumpal rongga mulut Pur dalam-dalam sampai dia tahu kalau sekarang bukan waktunya bercanda.

Pur seketika juga mengeluarkan sumpalan sapu tangan dari mulutnya. Dia mau meludah, tapi malu sama tuan rumah.

“Gue gak bercanda. Kalo orangnya cantik, seksi, hidungnya mancung, dadanya agak rata…” Pur membelas diri
“Pur!” Laras menggertak.

Pur diam sebentar, lalu bicara lagi.

“Cewek itu namanya Rosi!” Pur akhirnya selesai dengan menggebu-gebu.
“ROSI? KOK TAU?” Erna mendadak meninggi.
“Rosi bukan manusia, bukan inhuman, dia makhluk bangsa Vanir.” Laras gantian menjelaskan.

Sebuah telepon dari hape Erna memotong diskusi kami sehingga mengharuskannya menyingkir sebentar untuk menerima telepon. Di sini, Laras menjelaskan siapa itu Rosi, atau lebih tepatnya apa itu Rosi dan bangsa Vanir. Laras menceritakan kalau bangsa Vanir hidup di Vanaheim, salah satu alam dunia lain selain Midgard dan Asgard.

Kami mendadak dijejali info soal mitologi bangsa Nordik. Sebelumnya, gue udah tau apa itu Asgard karena mereka udah ngejelasin beberapa hari lalu. Begitu pula konsep einherjar, meskipun kedua einherjar di depan kami ini masih misterius, menurut gue. Selebihnya, gue gak pernah baca soal mitologi dan belum sempat browsing. Gue masih buta mitos.

Akibatnya, begitu masuk kata-kata yang asing seperti Vanir, Vanaheim, dan semacamnya, mata gue langsung berputar menatap langit-langit rumah untuk membayangkan seperti apa konsep mitologi mereka.

“Yang perlu kalian inget, ada sembilan dunia di mitologi nordik, Asgard, Midgard, Vanaheim, Alfheim, Jotunheim, Nidavellir, Niflheim, Muspellheim, sama Helheim. Gue sama Pur dari Asgard dan kalian tinggal di Midgrad alias bumi. Ngerti gak?” Jelas Laras.

Gue, Hari, dan Kenia masih mengangguk.

“Selain sembilan itu, masih banyak dunia lain yang gak bisa dijangkau Heimdall.” Pur memotong.
“Rosi, dia dari suku bangsa Vanir, dari dunia Vanaheim. Paham sampe sini?” Kata Laras lagi.

Kami mengangguk lagi.

“Rosi nyuri batu rune punya raja Odin. Jadi kami ditugasin cari dia.” Sambung Laras.

Laras terus menjelaskan tanpa henti apa hubungan mereka berdua dengan Rosi. Panjang dan lebar. Inti yang bisa gue cerna dengan otak seorang makhluk Midgard adalah batu yang kami temui merupakan batu milik Rosi yang dicuri dari raja Odin. Bapaknya Thor. Semua itu barang-barang penting yang sewaktu-waktu bisa memicu Ragnarok katanya.

“Barusan nyokap gue yang nelpon. Udah waktunya giliran gue jaga.” Enrna memotong cerita Laras.

Sesuai permintaan, kini Laras dan Pur akan ikut ke rumah sakit untuk mengejar Rosi. Gue bisa membantu dari jarak jauh, sedangkan Hari gak boleh ikut beraksi kali ini. Dia rentan diguna-diguna Rosi. Kenia sendiri tetap dalam perannya sebagai anak bawang. Di samping itu, batu berjuluk rune yang dieja ‘eR-U-eN’ itu tetap harus jauh-jauh dari Erna.

Kami pun sepakat batu itu akan diambil alih Laras.

“Kakak gue pasti dateng sama pacarnya buat.., ya, tau lah.” Erna memastikan untuk kami.
“Oke, berangkat. Waktunya berburu lagi.” Pur jalan duluan.

Tiba-tiba, di saat yang bersamaan sebelum mereka berangkat, Hari ditelepon orang penting. Petinggi kami di A.T.C.U. bilang ada kekacauan mendadak di Mangga Dua Square. Mall itu diserbu kelompok bersenjata canggih sebelum waktu bukanya. Polisi sudah di tempat, tapi belum diperintahkan masuk. Kata bos kami, ada sepasukan di dalam mall sana yang punya bom, diduga berteknologi alien.

“Hammer Tech.” Hari sejalan dengan pemikiran gue.

POV Hari

Dua tugas muncul bersamaan. Erna bingung.

“Lu tetap ke rumah sakit, anter Pur sama Laras.” Dani meyakinkan.
“Biar gue sama Dani yang ke Mangga Dua kalo gitu.” Gue ikut meyakinkan.
“Aku ikut!” Kenia bersuara.

Gue awalnya dengan tegas menolak permintaan itu mentah-mentah. Mangga Dua Square pagi ini rawan menjadi arena baku tembak dan baku hantam. Seorang berpotensi inhuman bisa jadi target empuk.

Tapi Kenia dengan pintarnya membantah. Pertama, mereka bukan Roxxon yang kerjanya menculik inhuman. Kedua, Kenia gak gak akan aman sendirian di rumah. Ikut salah satu dari kami jelas bisa lebih aman, dan gak ada yang lebih nyaman dibanding ikut abangnya sendiri. Sepakatlah kami kalau Kenia akan ikut ke Mangga Dua Square.

Kendaraan tunggangan juga disepakati. Erna berangkat dengan motornya sendiri, sedangkan Pur dan Laras dengan motor dinas A.T.C.U. Kemudian, Gue, Dani, dan Kenia akan naik kereta sampai stasiun Kampung Bandan. Dari sana, hanya butuh beberapa langkah untuk sampai ke TKP.

“Hati-hati.” Dani menepuk pundak Erna.
“Lu juga.” Balas Erna.

Begitu para pengendara motor berangkat, kami pun bersiap-siap. Usai mandi singkat dan segala barang-barang agensi terangkum di dalam tas, kami keluar rumah. Kami bertiga berjalan cepat menuju stasiun Tanah Abang, berhimpitan dengan para penumpang commuter yang lain, lalu sampailah di Kampung Bandan dengan sedikit keberuntungan cepatnya jadwal kereta hari ini.

Kami berjalan ke arah kumpulan polisi. Masyarakat sekitar bahkan udah berkerumun seperti semut di luar garis batas polisi. Menurut gue, mereka terlalu norak dengan adegan seperti di film-film ini. Aktifitas di jalan raya pun sampai terhambat karena kumpulan manusia-manusia ini. Padahal, nyawa mereka bisa aja terancam peluru nyasar.

Gue selalu ingat pesan bos besar untuk tetap menjadi inhuman tanpa nama. Gue gak boleh menggunakan kekuatan inhuman sembarangan. Maka, dengan bermodal lencana A.T.C.U. dan beberapa bekal senjata sendiri, gue dan Dani diizinkan ikut briefing. Itu pun setelah opsi negosiasi mereka dengan para teroris gak berhasil.

Kenia diamankan di samping sebuah mobil barakuda.

“Biar saya yang pantau keadaan di dalam.” Dani berinisiatif.

Dani langsung mempersiapkan perangkatnya. Kamera-kamera lebah nan kecil terbang masuk ke dalam mall dari berbagai penjuru. Dari layar laptopnya, tampaklah bagian dalam mall. Setiap lantai telah dijaga oleh orang-orang bertopeng dan berompi anti peluru. Tangan mereka masing-masing menenteng senjata laras panjang dengan tipe yang tak dikenali polisi.

“Itu. Senjata rakitan. Gak terdaftar di Indonesia.” Tunjuk pemimpin operasi ke layar.
“Kita bisa masuk?” Gue bertanya.

Si pemimpin operasi gak langsung menjawab pertanyaan gue. Dia berpikir keras sambil menginstruksikan Dani untuk mengoperasikan kamera lebahnya agar terbang ke sana dan ke mari. Lima menit kemudian, barulah dia mengumpulkan kami semua dalam lingkaran.

Instruksinya, kami diizinkan masuk dari satu pintu kecil sebelah utara. Kami sebisa mungkin harus langsung naik tangga ke lantai paling atas, kemudian menyergap sebanyak mungkin orang. Kalau dibutuhkan, tindakan tanggap boleh dilakukan. Itu artinya akan ada kemungkinan tembak menembak hari ini.

Kami berkumpul, berdoa. Gue sendiri berdoa lebih banyak dibanding orang lain. Gue gak mau mati segera setelah berkegiatan mesum malam tadi. Gue maunya mati nanti, setelah lewat usia 70 tahun.

Dengan langkah ringan dan sebisa mungkin tanpa suara, kami mulai bergerak menuju pintu utara. Dua puluh orang anggota densus 88 anti teror diturunkan dari pihak kepolisian. Dari pihak A.T.C.U., hanya gue. Dani beroperasi dari luar seperti sebelum-sebelumnya. Kami harus efektif.

BERSAMBUNG

Part 1Part 2Part 3Part 4Part 5
Part 6Part 7Part 8Part 9Part 10
Part 11Part 12Part 13Part 14Part 15
Part 16Part 17Part 18Part 19Part 20
Part 21Part 22